10. Doli-doli merupakan alat musik yang berupa empat bilah kayu lunak yang berasal dari daerah Pulau Nias, Sumatra Utara. 11. Dog-dog merupakan alat musik seperti genderang yang berasal dari daerah Jawa Barat. 12. Druri Dana merupakan alat musik yang berupa bambu yang dikerat seperti garpu penala yang berasal dari daerah Pulau Nias, Sumatra Utara. 13. Floit merupakan alat musik yang berupa seruling bambu yang berasal dari daerah Maluku.
14. Foi Mere merupakan alat musik yang mirip seperti serung yang berasal dari daerah Flores, Nusa Tenggara Timur. 15. Gamelan Bali merupakan alat musik gamelan yang berasal dari daerah Provinsi Bali. 16. Gamelan Jawa merupakan alat musik gamelan yang berasal dari daerah Jawa.
17. Gamelan Sunda merupakan alat musik gamelan yang berasal dari daerah Provinsi Jawa Barat. 18. Garantung merupakan alat musik yang berupa bilah-bilah kayu yang digntung yang berasal dari daerah Tapanuli, Sumatra Utara. 19. Gerdek merupakan alat musik seperti seruling tempurung yang berasal dari daerah Kalimantan. 20. Gonrang merupakan alat musik yang bentunya mirip seperti kendang yang berasal dari daerah Simalungun, Sumatra Utara.
21. Hapetan merupakan alat musik sejenis kecapi yang berasal dari daerah Tapanuli, Sumatra Utara. 22. Kecapi merupakan alat musik yang bentuknya seperti gitar kecil yang terdiri dari dua dawai yang banyak ditemukan diberbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia. 23. Keloko merupakan alat musik yang bentuknya seperti terompet kulit kerang yang berasal dari daerah Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. 24. Kere-Kere Galang merupakan alat musik sejenis rebab yang berasal dari daerah Gowa, Sulawesi Selatan.
25. Keso-Keso merupakan alat musik sejenis rebab yang berasal dari daerah Gowa, Sulawesi Selatan. 26. Kinu merupakan alat musik yang bentuknya serupa dengan seruling yang berasal dari daerah Pulau Roti. 27. Kledi merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup yang berasal dari daerah Kalimantan. 28. Kolintang merupakan alat musik yang berupa bilah-bilah kayu yang tersusun di atas kotak kayu yang berasal dari daerah Minahasa, Sulawesi Selatan.
29. Lembang merupakan alat musik serung panjang yang berasal dari daerah Toraja, Sulawesi Selatan. 30. Nafiri merupakan alat musik yang dimaunkan dengan cara ditiup yang berasal dari daerah Maluku. 31. Popondi merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup yang berasal dari daerah Toraja, Sulawesi Selatan. 32. Rebab merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara digesek yang berasal dari daerah Jawa Barat.
33. Sampek merupakan alat musik sejenis gitar yang berasal dari daerah Kalimantan. 34. Sasando merupakan alat musik yang dimainkan dengan dipetik yang berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur. 35. Seluang merupakan alat musik seruling bambu yang berasal dari daerah Minangkabau, Sumatra Barat.
36. Siter atau Celempung merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik yang berasal dari daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah. 37. Talindo merupakan alat musik yang dimainkan dengan dipetik yang berasal dari daerah Sulawesi. 38. Talempok Pacik merupakan alat musik seperti gong kecil yang dimainkan dengan cara dipukul yang berasal dari daerah Sumatra Barat. 39. Tifa merupakan alat musik genderang kecil yang berasal dari timur Indonesia.
40. Toto Buang merupakan alat musik sejenis telempong yang berasal dari daerah Maluku. C. Teknik Memainkan Alat Musik Tradisional 1. Bentuk Tabung Merupakan bentuk umum alat musik yang berbahan dasar bambu, tetapi dalam perkembangannya bentuk tersebut dapat digantikan dengan bahan kayu atau logam. Contoh intrumen ini adalah angklung, calung, kentongan/kul-kul, suling/saluang. Cara memainkannya ada yang dipukul, digoyang atau ditiup. 2. Bentuk Bilah Merupakan bentuk lempengan dari logam atau kayu yang memerlukan wadah gema sebagai ruang resonansi. 3. Bentuk Pencon Merupakan lingkaran yang bawahnya berlubang atau berongga dengan bagian atasnya terdapat tonjolan di tengah. Pada umumnya alat musik ini berbahan logam atau kuningan yang dimainkan dengan cara dipukul.
Evaluasi 1. Cobalah cari video di internet cara memainkan alat musik Tradisional yang ada di daerah kalian 2. Sebutkan bagaimana cara memaikan alat musik tersebut 3. Cobalah kalian membuat alat musik sederhana dengan lagu daerah dan rekam hasil latihan
SENI TARI PENERAPAN POLA LANTAI PADA GERAK TARI seni tari adalah suatu gerakan semua bagian tubuh atau hanya sebagian saja yang dilakukan dengan ritmis serta pada waktu tertentu untuk mengungkap pikiran, perasaan, dan tujuan dengan iringan musik atau tanpa iringan musik. Dalam hal ini, penari yang menggunakan iringan musik, maka gerakannya akan mengikuti irama dari musik yang dibawakan. Dengan kata lain, pengiring penari yang memainkan musik akan mengatur setiap gerakan penari supaya makna dan tujuan dari tarian yang dibawakan tersampaikan kepada penonton tari-tarian. Gerakan-gerakan yang ada di dalam seni tari berbeda dengan gerakan yang dilakukan setiap hari, seperti berjalan, berlari, dan sebagainya. Gerakan pada seni tari ini bisa dikatakan sebagai gerakan yang yang sangat elastis ekspresif. Selain itu, pada seni tari, setiap gerakannya juga berpola sangat ritmis. Setiap gerakan seni tari ini merupakan gerakan-gerakan kombinasi yang berasal dari unsur-unsur tari itu sendiri. Unsur tari terbagi menjadi tiga yaitu, unsur wiraga (raga), unsur wirama (irama), dan unsur wirasa (rasa). Oleh sebab itu, ketika kita sedang menonton dan menikmati suatu tarian yang dibawakan oleh seorang penari atau sekelompok penari pasti akan merasakan sebuah “rasa” atau “makna” melalui gerakan-gerakan yang beririama yang dibawakan oleh penari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), seni tari adalah seni yang mengenai tari-menari (gerak-gerik yang berirama). Sementara itu, tari dalam KBBI berarti gerakan badan (tangan dan sebagainya) yang berirama, biasanya diiringi
bunyi-bunyian (musik, gamelan, dan sebagainya). Dari kedua pengertian seni tari dan tari dapat disimpulkan bahwa unsur tari adalah gerakan itu sendiri. Ketika penari sedang menampilkan suatu tarian, makai ia atau mereka (jika berkelompok) harus memerhatikan tenaga, waktu, dan ruang. Ketiga hal itu harus diperhatikan karena akan memengaruhi gerakan dan suasana dari tarian yang ditampilkan. Penari harus memerhatikan arah, baik itu menghadap ke depan, ke belakang, serong ke kiri atau ke kanan, dan bisa juga melakukan terhadap semua arah tarian. Selama menentukan arah harus melihat juga apakah ruang atau panggung supaya gerakan tarian dapat dilakukan dengan maksimal. Tari yang sangat mementingkan gerakan pasti membutuhkan tenaga yang cukup untuk membawakannya, seperti gerakan meloncat, duduk, menggerakkan tangan, dan sebagainya. Selain itu, tenaga dalam seni tari bisa menentukan kreativitas dari penari itu sendiri. Namun, setiap seni tari yang ada pada suatu daerah atau negara terutama tari-tarian yang ada pada setiap daerah di Indonesia harus dilestarikan agar tidak hilang dan akan terus ada, sehingga anak cucu kita nanti masih bisa kebudayaan Indonesia. Jadi, bagi para generasi muda, selalu bersemangat untuk melestarikan tari-tarian Indonesia. A. Unsur Pendukung Tari Tradisional 1. Pola Lantai Tari Tradisional a. Pola lantai horizontal Pola lantai horizontal dilakukan dengan penari yang membentuk garis lurus menyamping. Contoh tarian yang menggunakan pola lantai horizontal adalah tari Saman dari Aceh. Gambar 1. Pola Lantai Horizontal
b. Pola lantai vertikal Dalam pola lantai vertical, penari akan berbaris membentuk garis lurus ke belakang. Pada pola lantai vertikal, tari yang ditampilkan adalah tari Bedhaya Ketawang dari Jawa Tengah. Gambar 2. Pola Lantai Vertikal c. Pola lantai diagonal Pada pola lantai diagonal, para penari akan berbaris membentuk garis menyudut ke kanan maupun ke kiri. Contoh tarian yang ditampilkan dengan pola lantai diagonal adalah tari Jaipongan dari Jawa Barat. Gambar 3. Pola Lantai Diagonal d. Pola lantai garis lengkung Pada pola lantai garis lengkung dilakukan dengan gerakan melengkung cembung, cekung, atau lingkaran. Pola tersebut
dibuat agar tercipta pertunjukan yang indah. Pola tersebut juga memudahkan penari dalam penguasaan panggung. Tarian yang menggunakan pola garis lengkung adalah tari Piring dari Sumatra Barat. Gambar 4. Pola Lantai Garis Lengkung A. Fungsi Pola Lantai Pola lantai telah menjadi suatu hal penting yang perlu diperhatikan, dalam penampilan seni tari tradisional maupun tarian kreasi baru. Tidak hanya untuk menempatkan posisi dan formasi penari untuk memper indah tarian, tetapi pola lantai juga memiliki makna tersendiri, sesuai dengan tema dari penampilan tarinya. Pola lantai memiliki beberapa fungsi, antara lain: 1. Memperjelas dan menata gerakan-gerakan penari. 2. Membantu memperkuat dan menonjolkan tokoh penari dalam peranan tertentu. 3. Menghidupkan karakteristik gerak tari dari keseluruhan pertunjukan/pementasan. 4. Membentuk suatu komposisi, untuk menyesuaikan dengan bentuk ruang pertunjukan tari, sehingga penyajian tari menjadi lebih indah, menarik dan dinamis.
B. Tata Rias Dan Busana Tari Tradisional Tata rias dan tata busana merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan untuk penyajian suatu garapan tari. Tata rias dan tata busana harus diperhaikan dengan cermat dan teliti. Dengan tata rias dan tata busana yang tepat dapat memperjelas karakter dan sesuai dengan tema yang disajikan. Dalam memilih desain pakaian dan warna membutuhkan pemikiran dan pertimbangan yang matang karena kostum berfungsi untuk memperjelas pemeranan pada tema cerita. Tata rias merupakan cara untuk mempercantik diri khususnya pada bagian muka atau wajah. Tata rias pada seni pertunjukan diperlukan untuk menggambarkan/menentukan watak tokoh di atas pentas. Tata rias adalah seni menggunakan bahan-bahan kosmetika untuk mewujudkan wajah peranan dengan memberikan dandanan atau perubahan pada para pemain. Sebagai penggambaran watak di atas pentas selain acting yang dilakukan oleh pemain diperlukan adanya tata rias sebagai usaha menyusun hiasan terhadap suatu objek yang akan dipertunjukan. Tata rias merupakan aspek dekorasi, mempunyai berbagai macam kekhususan yang masing-masing memiliki keistimewaan dan ciri tersendiri. Dari fungsinya rias dibedakan menjadi delapan macam rias yaitu:
1. Rias aksen, memberikan tekanan pada pemain yang sudah mendekati peranan yang akan dimainkannya. Misalnya pemain orang Jawa memerankan sebagai orang Jawa hanya dibutuhkan aksen atau memperjelas garis-garis pada wajah. Gambar 5. Rias Aksen 2. Rias jenis, merupakan riasan yang diperlukan untuk memberikan perubahan wajah pemain berjenis kelamin laki-laki memerankan menjadi perempuan, demikian sebaliknya. Gambar 6. Rias jenis 3. Rias bangsa, merupakan riasan yang diperlukan untuk memberikan aksen dan riasan pada pemain yang memerankan bangsa lain. Misalnya pemain bangsa Indonesia memerankan peran bangsa Belanda.
Gambar 7. Rias Bangsa 4. Rias usia, merupakan riasan yang mengubah seorang muda (remaja/pemuda/pemudi) menjadi orang tua usia tujuh puluhan (kakek/nenek). Gambar 8. Rias usia 5. Rias tokoh, diperlukan untuk memberikan penjelasan pada tokoh yang diperankan. Misalnya memerankan tokoh Rama, Rahwana, Shinta, Trijata, Srikandi, Sembadra, tokoh seorang anak sholeh, tokoh anak nakal.
Gambar 9. Rias tokoh 6. Rias watak, merupakan rias yang difungsikan sebagai penjelas watak yang diperankan pemain. Misalnya memerankan watak putri luruh (lembut), putri branyak (lincah), putra alus, putra gagah. Gambar 10. Rias Watak 7. Rias temporal, riasan berdasarkan waktu ketika pemain melakukan peranannya. Misalnya pemain sedang memainkan waktu bangun tidur, waktu dalam pesta, kedua contoh tersebut dibutuhkan riasan yang berbeda. Gambar 11. Rias Temporal
8. Rias lokal, merupakan rias yang dibutuhkna untuk memperjelas keberadaan tempat pemain. Misalnya rias seorang narapidana di penjara akan berbeda dengan rias sesudah lepas dari penjara. Gambar 12. Rias jenis Tata Busana Busana (pakaian) tari merupakan segala sandang dan perlengkapan (accessories) yang dikenakan penari di atas panggung. Tata pakaian terdiri dari beberapa bagian: 1. Pakaian dasar, sebagai dasar sebelum mengenakan pakaian pokoknya. Misalnya, setagen, korset, rok dalam, strapless Gambar 13. Pakian Dasar 2. Pakaian kaki, pakaian yang dikenakan pada bagian kaki. Misalnya binggel, gongseng, kaos kaki, sepatu.
Gambar 14. Pakian kaki 3. Pakaian tubuh, pakaian pokok yang dikenakan pemain pada bagian tubuh mulai dari dada sampai pinggul. Misalnya kain, rok, kemeja, mekak, rompi, kace, rapek, ampok-ampok, simbar dada, selendang, dan seterusnya. Gambar 15. Pakian tubuh 4. Pakaian kepala, pakaian yang dikenakan pada bagian kepala. Misalnya berbagai macam jenis tata rambut (hairdo) dan riasan bentuk rambut (gelung tekuk, gelung konde, gelung keong, gelung bokor, dan sejenisnya). Gambar 16. Pakian kepala
5. Perlengkapan/accessories, adalah perlengkapan yang melengkapi ke empat pakaian tersebut di atas untuk memberikan efek dekoratif, pada karakter yang dibawakan. Misalnya perhiasan gelang, kalung, ikat pinggang, kamus timang/slepe ceplok, deker (gelang tangan), kaos tangan, bara samir, dan sejenisnya. Gambar 17. Perlengkapan Tata rias dan busana ini berkaitan erat dengan warna, karena warna di alam seni pertunjukan berkaitan dengan karakter seorang tokoh yang dipersonifikasikan kedalam warna busana yang dikenakan beserta riasan warna make up oleh tokoh bersangkutan oleh karenanya warna dikatakan sebagai simbol. Dalam pembuatan busana penari, warna dapat juga digunakan hanya untuk mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan keindahannya saja dalam memadukan antara yang satu dengan lainnya. Dalam pembuatan kostum, warna menjadi syarat utama karena begitu dilihat warnalah yang membawa kenikmatan utama. Di dalam buku Dwimatra (2004: 28 – 29) warna dibedakan menjadi lima yaitu, warna primer, sekunder, intermediet, tersier, dan kuarter. 1. Warna primer yaitu disebut juga warna pokok/warna utama, yang terdiri dari warna merah, kuning, dan biru.. Warna merah adalah simbol keberanian, agresif/aktif. Pada dramatari tradisional warna tersebut biasanya dipakai oleh raja yang sombong, agresif/aktif. Misalnya: Duryanada, Rahwana, Srikandi. Warna biru mempunyai kesan ketentraman dan memiliki arti simbolis kesetiaan. Pada drama tradisional warna tresebut
dipakai oleh seorang satria atau putri yang setia kepada Negara dan penuh pengabdian. Misalnya; Dewi Sinta, Drupadi. Warna kuning mempunyai kesan kegembiraan. 2. Warna sekunder adalah warna campuran yaitu hijau, ungu, dan orange. 3. Warna intermediet adalah warna campuran antara warna primer dengan warna dihadapannya. Misalnya warna merah dicampur dengan hijau, biru dengan orange, kuning dengan violet. 4. Warna tersier adalah campuran antara warna primer dengan warna sekunder yaitu warna merah dicampu orange, kuning dengan orange, kuning dengan hijau, hijau dengan biru, biru dengan violet, violet dengan merah.
5. Warna kuarter yaitu percampuran antara warna primer dengan warna tersier, dan warna sekunder dengan tersier yang melahirkan 12 warna campuran baru.. 6. Warna netral yaitu hitam dan putih. Warna hitam memberikan kesan kematangan dan kebijaksanaan. Pada drama tradisional biasa dipakai oleh satria, raja, dan putri yang yang bijaksana. Misalnya Kresna, Puntadewa, Kunti. Sedangkan warna putih memberikan kesan muda, memiliki arti simbolis kesucian. Di dalam drama tradisional warna tersebut dipakai oleh pendeta yang dianggap suci. Warna-warna tersebut di atas dapat digolongkan menjadi dua bagian sesuai dengan demensi, intensitas, terutama bila dikaitkan dengan emosi seseorang yang disebut dengan warna panas dan warna dingin. Warna panas yaitu merah, kuning, dan orange. Warna dingin terdiri atas hijau, biru, ungu, dan violet.
Dalam pembuatan pakaian tari warna dan motif kain menjadi perhatian dan bahan pertimbangan, karena berhubungan erat dengan peran, watak, dan karakter para tokohnya. Warna sebagai lambang dan pengaruhnya terhadap karakter dari tokoh (pemain). Penggunaan warna dalam sebuah garapan tari dihubungkan dengan fungsinya sebagi simbol, di samping warna mempunyai efek emosional yang kuat terhadap setiap orang. Warna biru memberi kesan perasaan tak berdaya (tidak merangsang), terkesan dingin. Warna hijau memberi kesan dingin. Warna kuning dan orange memberi kesan perasaan riang, menarik perhatian. Warna merah memberi kesan merangsang, memberi dorongan untuk berpikir (dinamis). Warna merah Jambu mengandung kekkutan cinta. Warna Ungu memberi kesan ketenangan. Demikian juga busana yang digunakan secara visual menunjukkan tokoh tersebut jahat. Tokoh raksasa pada epos Ramayana misalnya, digambarkan dengan riasan wajah yang merah menyala dengan bagian mulut penuh taring. Tata busana yang digunakan panjang dan menyeramkan. Karakter tokoh baik pada epos Ramayana biasanya menggunakan riasan cantik seperti riasan pada Pregiwa sebagai istri Gatot Kaca. Tata rias dan tata busana tampak cantik dan bersahaja. Tata rias dan busana juga dapat menunjukkan tokoh lucu. Epos Ramayana ditunjukkan pada tata rias dan busana Punakawan yaitu Semar, Petruk, Bagong, dan Gareng. Tata rias dan busana pada tari tradisional tidak hanya bersumber pada epos Ramayana tetapi juga tarian lepas yaitu tarian yang tidak berhubungan dengan cerita Ramayana. Tokoh dan karakter dapat dijumpai juga pada tari tentang fauna seperti Tari Merak. Tata rias pada tari Merak yang digunakan memperlihatkan seekor burung Merak yang indah. Tata busana yang digunakan merupakan perwujudan dengan sayap dan tutup kepala sebagai ciri khas yang menunjukkan perwujudan burung Merak. Ada juga tata rias dan tata busana tari Kijang dari Jawa Tengah, tari Burung Enggang dari Kalimantan, tari Cendrawasih dari Bali, tari Kukilo dari Jawa Tengah.
C. Properti Tari Tradisional Dalam menari, ada banyak faktor-faktor yang harus disiapkan. Salah satunya adalah properti tari. Properti tari adalah segala macam kelengkapan dan peralatan dalam penampilan atau peragaan dalam sebuah tari. Properti tari yang digunakan tergantung makna ataupun karakter yang diperankan si penari. Dengan menggunakan properti tari, si penari dapat dengan mudah menggambarkan karakternya. Properti tari sangat beragam bentuknya, tergantung tari apa yang akan dibawakan, misalnya selendang, kris, topeng, sapu tangan, payung, dan lain-lain. Pengertian Properti Tari. Properti yang digunakan untuk sebuah pertunjukan tari. Properti tari pada dasarnya difungsikan untuk memberikan keindahan bentuk dalam pertunjukan tari. Hal ini diharapkan pertunjukan tari nantinya akan terlihat lebih sempurna. Penggunaan properti tari haruslah mempertimbangkan jenis, bentuk, fungsi, dan ketepatan. Hal itu dimaksudkan karena dalam penggunaan properti tari, seorang penari membutuhkan penguasaan dan juga keterampilan. Contoh properti tari di antaranya adalah selendang, keris, topeng, topi, payung, piring, pohon-pohonan, panah, tombak, dan masih banyak lagi. Keterampilan seorang penari atas properti tari yang digunakannya, telah menjadi salah satu teknik tari yang dibutuhkan dalam format garapan tari yang berkualitas. Lalu, apa fungsi properti pada sebuah tarian? Fungsi Properti Tari 1. Menggambarkan tema dari tarian yang dibawakan 2. Memperbagus gerakan 3. Meningkatkan karakter dan gerakan penari 4. Ciri khas perlengkapan dari suatu tarian. 5. Menambah nilai estetika (keindahan), dan daya tarian pada tarian. 6. Membantu memperkuat karakter dalam sebuah tarian. 7. Media pembantu dalam dalam penyampaian makna maupun pesan dari tari yang ditampilkan. Penggunaan Properti Tari Pada Tarian Tradisional Nusantara Penggunaan properti tari juga sering kita jumpai dalam tarian-tarian adat daerah atau tarian tradisional di Indonesia. Misalnya, pada tari Piring atau tari Piriang. Properti yang digunakan tari piring adalah piring. Tari piring merupakan salah satu tarian
tradisional yang berasal dari Minangkabau. Dalam pertunjukannya, para penari akan mengayunkan piring-piring yang dipegangnya, dengan mengikuti gerakan teratur maupun cepat tanpa terlepas dari tangan mereka. Tari Topeng Betawi merupakan tarian tradisional masyarakat Betawi di Jakarta. Sesuai dengan namanya, tari ini menggunakan topeng sebagai properti tari ciri khasnya. Selain contoh di atas, masih banyak sekali contoh properti tari yang digunakan dalam tarian tradisional di setiap daerah yang ada di Indonesia. Beberapa daftar contoh properti tari dalam tarian tradisional Indonesia adalah sebagai berikut: 1. Tari Pakarena merupakan tari klasik asal Sulawesi Selatan, properti tari yang digunakan adalah kipas. 2. Tari Caci asal Nusa Tenggara Timur, properti yang digunakan adalah cambuk sebagai senjata dan perisai untuk pelindung diri. 3. Tari Jaran (Kuda) asal Pulau Jawa, properti yang digunakan adalah kuda kepang (ebeg), yang biasanya terbuat dari bambu. Tari Baksa Dadap asal Kalimantan Selatan, properti tari yang digunakan adalah panah.
4. Tari Saureka-reka asal Maluku, properti yang digunakan adalah bilah pohon sagu. 5. Tari Kancet Papatai asal Kalimantan Timur, properti yang digunakan adalah mandau dan perisai. 6. Tari Payung asal Sumatera Barat, sesuai dengan namanya properti yang digunakan adalah payung yang mencerminkan suatu sikap melindungi dan selendang sebagai simbol penerimaan cinta sekaligus janji suci dalam kesetiaan.
D. Tata Iringan Tari Tradisional Iringan tari tradisional adalah musik yang mengiri tari sehingga membuat tarian menjadi lebih hidup serta berwarna ketika dipergelarkan. Musik adalah unsur pelengkap tari yang sangat penting dan hampir tidak dipisahkan kembali. Sejatinya, unsur utama tari adalah gerak, namun hari ini rasanya bagaikan sayur tanpa garam jika suatu tarian tidak diiringi oleh musik. Terkadang pada suatu kasus tertentu seperti pada musik kreasi, justru malah tarian yang menjadi unsur penguat dan musik, terutama musik vokal berupa lagu adalah panggung utamanya. Namun demikian, pada masa lalu sebetulnya kebanyakan musik hanyalah pelengkap dalam berbagai kegiatan masyarakat tradisional. Salah satu fungsi utama musik di masa lalu tentunya adalah sebagai iringan tari tradisional. Semenjak keahlian musik mulai diperhatikan, musik kemudian dapat berdiri sendiri dan bahkan menjadi media seni yang paling mainstream di dunia. Pada kesempatan kali ini kita akan berfokus pada musik sebagai iringan tari tradisional. Mengapa? Karena musik sebagai iringan tari tradisional memiliki kebutuhan khusus yang harus dipenuhi agar mampu mengangkat keindahan tarian yang disajikan. Menyangkut hal ini, kita dapat memulainya dari jenis musik iringan terlebih dahulu yang akan dijelaskan pada uraian di bawah ini
a. Jenis Musik Iringan Jenis musik iringan tari pada dasarnya hanya dibedakan atas dua bentuk iringan yaitu pentatonis dan diatonis. 1. Pentatonis merupakan iringan yang bersumber pada alat-alat musik tradisi, 2. sedangkan diatonis bersumber pada alat-alat musik modern. Namun demikian seiring berjalannya waktu, kedua jenis notasi musik ini sering berdampingan untuk mengiringi tarian. Maksudnya, setiap musik iringan tari pada akhirnya memiliki dua notasi tersebut. Iringan tari hampir di semua negara hanya menggunakan kedua notasi iringan tersebut, yang membedakan hanya alat musik yang digunakannya saja. a. Respon Gerak Perbedaan penggunaan alat musik akan berdampak pada bunyi yang dihasilkannya pula. Perbedaan bunyi tersebut akan berakibat pada respon gerak tari yang ditimbulkan. Terdapat dua jenis respons gerak terhadap musik iringan, yakni:
1. Respon gerak yang berlawanan dengan iringan, yaitu respon gerak yang dilakukan dengan gerakan dinamis dan penuh kekuatan, sementara musik yang digunakan mengalir dan lembut. 2. Respon gerak yang sesuai dengan iringan, yakni gerak yang dilakukan mengikuti dinamika iringan tersebut. Jika iringan dilakukan dengan musik mengalir, maka gerak yang dilakukan juga akan mengalir. Jika musik yang digunakan menghentak gerak yang dilakukan juga akan dinamis dan penuh dengan energi (Tim Kemdikbud, 2017, hlm. 90). b. Jenis Tari Iringan Berdasarkan Bentuknya Selain dibagi berdasarkan notasi musiknya, jenis tari iringan juga dapat dibagi berdasarkan bentuknya. Ada beberapa macam bentuk iringan yang digunakan untuk mengiringi Taian, yakni iringan tari internal dan iringan tari eksternal. 1. Iringan Tari Internal Ada iringan tari yang terjadi karena gerakan-gerakan penari itu sendiri misalnya suara tepukan tangan ke tubuh, hentakan kaki ke lantai, serta bunyi-bunyi lain yang timbul disebabkan oleh pakaian atau perhiasan yang dikenakannya. Beberapa contoh iringan internal pada tari tradisional, misalnya, iringan musik tari Saman dengan tepukan tangan ke tubuh dengan selingan nyanyian, tari Belian dengan gemerincing gelang-gelang logam yang dikenakan penari, bunyi piring-piring dengan logam yang dikenakan pada tari lilin, serta pada tari Gending Sriwijaya yaitu jentikan-jentikan kuku logam yang dikenakan penari. Musik Iringan tari seperti ini dalam istilah musik tari disebut sebagai iringan tari internal. 2. Iringan Tari Eksternal Ada pula Iringan tari yang dilakukan oleh orang lain, baik dengan kata-kata, nyanyian maupun dengan orkestrasi musik yang lebih lengkap. Jadi, iringan tari tidak lagi dilakukan oleh penari sendiri, akan tetapi dilakukan oleh orang lain atau lebih dikenal dengan pemusik. Pemusik bisa menggunakan macam-macam alat musik orkestrasi atau gamelan yang lebih lengkap atau dengan kata-kata, nyanyian
maupun vokal lainnya. Iringan tari semacam itu disebut iringan tari eksternal atau iringan tari yang dilakukan oleh orang lain atau luar. c.Fungsi Musik Iringan Pengetahuan tentang iringan tari penting karena dapat membantu menentukan dan memilih atau membuat iringan sesuai dengan tema yang diinginkan. Iringan tari juga akan membantu dalam melakukan eksplorasi gerak. Iringan di dalam tari merupakan satu kesatuan. Melalui iringan tari suasana dapat dibangun. Iringan tari juga memberi irama pada setiap gerak yang dilakukan. Pengetahuan tentang iringan tari semakin banyak akan semakin baik sehingga memiliki banyak pilihan. Musik sebagai pencipta suasana. Musik dapat dipilih sesuai dengan suasana yang yang dibutuhkan oleh tari. Iringan tari sebagai penciptaan suasana dapat berlawanan dengan suasana tarinya. Di dalam tari tradisi lebih banyak dipergunakan musik pengiring yang memiliki sifat atau watak yang sama dengan sifat atau watak tarinya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa fungsi musik iringan adalah: 1. Memberi irama pada setiap gerak tari yang dilakukan. 2. Memastikan tari sesuai dengan tema yang diinginkan. 3. Membantu melakukan eksplorasi gerak. 4. Melalui iringan tari, suasana tari dapat dibangun. d. Membuat Musik Iringan Di samping pertimbangan ritmis dan suasana rasa, iringan tari juga dipilih berdasarkan gaya dan bentuknya. Di dalam tari-tarian tradisi di Indonesia, pelaksanaannya selalu diiringi oleh musik-musik daerah yang bersangkutan, yang memiliki bentuk dan gayanya yang khas, musiknya selalu tampak serasi dengan gaya dan bentuk tariannya.
Ketika kaita mendengar gamelan Jawa, Sunda, Bali serta musik Melayu dari daerah Sumatra, akan terbayang gaya tarian masing-masing. Ada hubungan erat antara gerak tari dengan ekspresi tarinya. Pada tari dengan gaya gerak klasik, kerakyatan atau yang bersifat kedaerahan memiliki iringan musik sendiri yang lebih sesuai. Hubungan tarian dengan musik pengiringnya dapat terjadi pada aspek: 1. bentuk, 2. gaya, 3. ritme, 4. suasana, atau 5. gabungan dari aspek-aspek itu. Dengan demikian, banyak cara yang dapat dipakai untuk mengiringi sebuah tarian. Hal terpentingnya adalah semua cara yang dipakai, dasar pemilihannya harus dilandasi oleh pandangan penata iringan dan maksud penata tari dengan demikian iringan dan tari selalu menyatu. Begitu pula saat kita membuat musik iringan, kelima aspek di atas adalah acuan utamanya. Iringan tari dipilih untuk menunjang tarian yang diiringinya, baik secara ritmis maupun emosional. Dengan perkataan lain, sebuah iringan tari harus mampu menguatkan atau menegaskan makna tari yang diiringinya agar selalu selaras seirama serta serasi.
MENAMPILKAN TARI TRADISIONAL A. Pengertian Tari Tradisional Dalam mempelajari apa itu tradisional, hal pertama yang harus kamu pahami tentu saja pengertian tari tradisional itu sendiri. Secara bahasa, tari tradisional merupakan gabungan dari dua kata yaitu “tari” dan tradisional”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata tari diartikan sebagai sebuah gerakan badan bisa tangan maupun yang lainnya secara berirama dan biasanya diiringi oleh bunyi-bunyian seperti musik, gamelan, dan lain-lain. Sedangkan tradisional diartikan sebagai sebuah sikap, cara berpikir, dan bertindak yang selalu memegang teguh norma-norma atau adat kebiasaan yang sudah ada secara turun-temurun. Secara umum, pengertian tari tradisional adalah suatu tarian yang ada di daerah tertentu yang kemudian berkembang sekaligus dilestarikan secara turun-temurun di daerah tersebut dari satu generasi ke generasi yang lainnya. Karena berkembang di daerah tertentu, tari tradisional umumnya memiliki corak atau ciri khasnya sendiri yang menonjolkan kearifan lokal di daerah di mana tarian berkembang.
TARI JAPIN RANTAUAN Macam Macam dan Petunjuk Gerak *Ragam 1(step 4 serong) posisi badan berdiri tegak kedepan angkat kaki kanan kedepan hingga membentuk siku siku letakan tangan kanan lurus kebawah disamping kanan membentuk siku siku 35 derajat dengan jari tangan mengarah kedepan dan telapak tangan kebawah letakkan tangan kuri ke atas membentuk siku siku 35 derajat dengan telapak tanangan keatas sejajar bahu dan jari tangan menyerong kekiri langkahkan kaki kanan kesamping kanan ganti posisi tangan, tangan kanan keatas dan tangan kirivkebawah dengan ketentuan seperti diatas posisi badan serong kanan langkahkan kaki kiri kebelakang kaki kanan dengan menekukkan kedua kaki seperti membentuk huruf "O" agar terlihat lebih indah gantilagi posisi tangan posisi badan serong kiri angkat kaki kiri dn lakukan kembali kesamping kiri seperti ketentuan diatas *Ragam 2 (sisit) angkat kaki kanan menyerong kekiri membentuk siku siku 90 derajat ayunkan kaki kanan dan tangan kanan kesamping kiri dan angkat kaki kiri kebelakang membentuk 90 derajat letakkan kaki kiri di bentuk semula
kembali kedepan dan mengangkat kaki kiri agak sedikit lambungkan keatas lakukan kembali kesamping kanan dengan ketentuan seperti diatas *Ragam 3 (step 4 putar) angkat kaki kanan kedepan membentuk siku siku tangan kiri letakkan didepan dada (jaraknya 1 jengkal) tangan kanan letakkan disamping kanan seperti ketentuan sesudahnya kedua tangan dikepalkan posisi badan agak miring sesuai kaki yang diangkat balik badan kebelakang dengan melangkahkan kaki kanan kebelakang langkahkan kaki kiri dan seterusnya hingga berputar dan sesuaikan posisi tangan sesuai keterangan diatas lakukan lagi putaran kekiri *Ragam 4 (makjus) posisi badan arah kedepan dan sedikit miring kekanan kedua tangan kesmping kanan kaki kiri merapat pada kaki kanan dan jinggitkan, kedua kaki ditekuk serongkan kaki kekanan dan kekiri dan ayunkan kedua tangan dengan arah yang sama letakkan kaki kanan kebelakang kaki kiri dan ditekuk keduanya letakan kedua tangan dipinggang dengan telapak tangan menghadap luar posisi badan miring kekanan langkahkan kaki kanan sambil ayunkan tangan kanan kesamping kanan pada saat itu pula angkat sedikit kebelakang kaki kiri letakkan kembali kaki kiri, balik badan dan letakan kaki kanan kesamping kanan letakab lagi kedua tangan dipinggang seperti diatas lakukan kembali berulang kali sesuai ketentuan diatas *Ragam 5 (lngkah 5) langkahkan kaki seperti angka 8 langkah kedua kaki ditekuk posisi badan sedikit miring berdasarkan kaki yang dilangkahkan
kedua tangan disesuaikan dan dikepalkan *Ragam 6 (goyang bahu) a). goyang bahu posisi duduk duduk berselimpuh dengan lutu kaki kanan berdiri letakan tangan kanan diatas lutut kanan letakan tangan kiri diatas paha kiri putarlah bahu secara melingkar posisi badn tetap, tetapi hentakakn badan sedikit mengiringi putaran bahu agar terlihat lebih indah b) .goyang bahu posisi berdiri letakkan kaki kiri ke serong kiri seperti huruf "T" dan kaki kanan mengikuti tekukkan kedua kaki letakan tangan dipinggang dan tangan kiri diatas paha goyangkan bahu seperti ketentuan diatas EVALUASI 1. Carilah video tarian berdasarkaan unsur pendukung tari tradisional 2. Cobalah amati dan analisis unsur apa saja yang kalian dapatkan dalam video tari tersebut 3. Carilah unsur pendukung tari tradisional dan buatlah kliping tari tradisional yang ada di Indonesia 4. Cobalah mempraktikan tarian yang kalian amati lewat video 5. Cobalah mengkreasikan tarian yang telah kalian amati
SENI TEATER MERANCANG PEMENASAN PANTOMIM Seni pertunjukkan pantomim merupakan jenis tontonan yang terkenal pada era 70-an. Salah satu tokoh yang mengenalkan seni ini adalah Charles Spencer Chaplin atau Charlie Chaplin. Ia merupakan seorang Amerika yang mempopulerkan pantomim melalui filmnya. Adegan yang ditunjukkan bukan monolog atau dialog melainkan gerakan yang tidak menggunakan kata-kata untuk berkomunikasi. Pantomim adalah seni pertunjukkan gerak-gerik seseorang yang sedang beraktivitas tanpa memberikan suara sehingga isi cerita hanya melalui ekspresi dan gerak tubuh. Menurut Purnomo dalam buku Seni Budaya Kelas VIII (2017) pantomim adalah pertunjukan teater tanpa katakata yang dimainkan dengan gerak dan ekspresi wajah biasanya diiringi musik. Pantomim memiliki ciri-ciri berupa kesan lucu, humoris, dan untuk menghibur sehingga semua unsur yang akan ditampilkan bersifat komika. Pengolahan ekspresi wajah sangat penting sebagai alat komunikasi. Sukses atau tidaknya pertunjukan pantomim dapat dinilai dari seberapa baik pementasan dipersiapkan. Hal ini karena sifat dari pertunjukan pantomim itu sendiri dimana pemain hanya memanfaatkan gerak tubuh dan ekspresi saja untuk menyampaikan isi cerita yang akan dibawakan. Sehingga, pertunjukan pantomim membutuhkan komponen-komponen pendukung untuk membantu memperjelas maksud sang pemain, seperti riasan, musik, kostum, hingga properti. Proses Merancang Pementasan Pantomim Pantomim bukan pertunjukan teater yang membutuhkan dialog melainkan gerak-gerik tubuh. Oleh karena itu, penting untuk memerhatikan faktor pendukung lainnya yang dapat mempermudah pemain dalam mengekspresikan isi cerita.
Menurut Purnomo pantomim terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan: 1. Rancangan rias Pemain pantomim memiliki ciri khas yang terletak pada riasannya, yaitu seluruh wajah yang dibaluti bedak putih dan warna hitam pada beberapa bagian wajah. Warna hitam ini bertujuan untuk memberikan gambaran karakter pada masing-masing pelaku, biasanya terletak pada mata, bibir, dan hidung. Selain bedak putih dan garis hitam, penggunaan alat rias lain contohnya lipstik, pemerah pipi, dan pensil alis. 2. Rancangan kostum Idealnya pemain pantomim mengenakan baju klasik bewarna hitam putih dengan garis horizontal dengan kerah boat neck dan lengan tiga per empat. Sementara pakaian bawahnya mengggunakan celana bewarna gelap, tali selempang hitam, dan sarung tangan bewarna putih. Namun, pemain tidak harus mengenakan pakaian tersebut melainkan bisa mengenakan kaos ketat yang sederhana. Fungsinya untuk membantu memperjelas gerakan dari pemain. Hal ini karena kunci utama pantomim adalah gerakan tubuh. 3. Rancangan musik Musik merupakan faktor penting pada hampir semua pertunjukan teater. Pada pertunjukan pantomim, musik berfungsi untuk memperjelas suasana yang sedang diceritakan misalnya gembira, sedih, saat di jalan raya, ataupun suara orang tidur. Elemen ini sangat membantu penonton dalam mengartikan gerakgerik dari pemain. 4. Rancangan properti Penyampaian informasi dari pemain kepada penonton dapat dibantu dengan menambahkan properti saat melakukan aktivitas, misalnya kursi untuk memperjelas bahwa sedang menunggu seseorang. Penggunaan properti ini sangat penting karena melakukan gerakan tanpa ada properti yang dibawa akan memberikan kesan kosong pada panggung. Hal Yang akan kita pelajari adalah: 1. Mengidentifikasi bentuk pementasan pantomim 2. Rancangan pertunjukan Pantomim 3. Property pementasan
4. Sikap tanggung jawab 5. sikap disiplin dalam merancang property 6. pementasan pantomim 1. Bentuk Pementasan Pantomim Pantomim adalah Sebuah pertunjukan seni gerak yang memiliki alur cerita tertentu namun tidak menggunakan suara untuk menyampaikan pesannya atau berkomunikasi dengan sesama pemain. Biasanya pantomim ini menggunakan make up muka berwarna putih tebal dengan sedikit asesoris bentuk mata dan mulut berwarna hitam. Pantomim ini biasanya diiringi efek-efek suara seperti benda jatuh, tepuk tangan, tertawa dan lainlain lain, namun sama sekali tidak menggunakan kata-kata. 2. Bentuk pementasan pantomim Biasanya tunggal dan kelompok. Pementasan tunggal akan mencertitakan alur cerita yang menceritakan kehidupannya sendiri atau aktifitas penting yang dilakukannya. Penekanan point untuk pementasan tunggal ini adalah cerita yang urut dan teratur agar bisa difahami oleh penonton saat pementasan. Untuk pementasan kelompok, cenderung memiliki alur cerita yang tidak beruruttan, namun kedua pemain pantomim harus saling berkomunikasi, lagi-lagi
tidak menggunakan kata kata, hanya melalui gerakan saja. Walupun dimainkan secara berkelompok, namun alur cerita harus dilakukan secara bergantian, tidak bisa berbarengan kecuali adegan tersebut harus dilakukan bersamaan. Contoh, jika pemain A bertanya, maka pemain B tidak boleh melakukan gerakan, namun jika sudah mulai menjawab maka pemain B harus bergerak untuk menyampaikan jawabannya, lagi lagi tidak boleh menggunakan kata-kata. 3. Rancangan Pertunjukan Pantomim Merancang pertunjukan pantomim harus dilakukan adalah sebagai berikut: Pertama pembentukan panitia, dalam sebuah pementasan tanpa panitia tidak akan mungkin jalan, maka harus dibentuk panitia terlebih dahulu sehingga pementasqan bisa dilakukan. Panitia terdiri dari Ketua, sekretaris, bendahara dan seksi pementasan. Untuk seksi pementasan memang harus dibagi menjadi beberapa yaitu seksi rias, musik, kostum dan property. Kedua merancang tata rias. Tata rias yang biasa digunakan adalah makeup wajah putih, dan bagian mata dan mulut ditegaskan dengan make up berwarna hitam. Bisa menggunakan bedak atau cat tembok atau cat berbahan dasar air, supaya tidak merusak wajah. Namun itu tidak disarankan, lebih baik menggunakan bedak putih di kasih air agar bisa lebih pekat. Namun menurut pengalaman, menggunakan bedak berulang juga akan tercipta warna putih pekat. Untuk bibir bisa ditegaskan dengan warna merah atau hitam, dengan menggambar bentuk bibir lancip atau bahkan melebar, tidak umum seperti bibir orang normal. Pipi bisa dikasih tompel dan asesoris lainnya. Merancang kostum. Untuk kostum biasa digunakan adalah kaos bergaris dan menggnakan celana yang berselempang. Namun bisa juga menggunakan kostum lainnya, tidak harus bergaris. Rancangan musik. Merancang musik memang penting untuk mendukung suasana. Termasuk merancang efek-efek musik seperti benda jatuh, suara langkah kaki, suara telpon, suara kendaraan dan lain-lain. Ini sangat penting agar apa yang disampaikan oleh pemain pantomim bisa tersampaiakan secara cepat.
Merancang property. Apa yang harus disiapkan dalam urusan property. Property adalah kelengkapan pendukung seorang pemain pantomim untuk mendukung cerita yang dilakonkan. Namun untuk property yang ukurannya besar dan tidak memungkinkan naik ke panggung maka hanya akn diwakili efek suara. Misalnya sepeda, sepeda motor, mobil dan lain-lain. 4.Sikap Tanggung Jawab dan disiplin dalam merancang sebuah pementasan Pantomim Berhasil dan tidaknya suatu pementasan memang tergantung pada tanggung jawab masing masing panitia. JIka panitia kurang disiplin dalam menyiapkan property maka hal ini tidak akan terjadi pementasan yang bagus. Maka dip[erlukan koordinasi yang terus menerus sehingga apa yang dibutuhkan segera bisa disiapkan. Jangan sampai pas pentas property tidak tersedia. Ini akan menggagalkan acara pementasan. Maka sikap tanggung jawab inilah yang dibutuhkan untuk suksesnya pementasan pantomim. Antar panitia harus saling membantu jika masih ada yang diperlukan, jangan kemudian melepas tanggung jawab kebersamaan jika tugasnya sudah selesai, lantas tidak mau membantu yang lainnya. Pementasan ini adalah tanggung jawab bersama yang dikerjakan saling membantu dan mengisi kekurangan. 5. Pementasan pantomim Dalam pementasan pantomim adalah bagian paling penting, jangan sampai gagal. Maka yang harus dilakukan adalah persiapan sebelum naik panggung. Minimal satu jam sudah harus siap di belakang panggung. make up harus sudah siap, jangan sampai terlalu mempet waktu saat mau pentas dan persiapan. Biasanya ada gladi bersih yang dilakukan H-1 artinya sehari sebelum pementasan sudah harus latihan terlebih dahulu dan tahu apa yang harus dilakukan sehingga saat pentas tidak bingung harus seperti apa. Luas panggung menjadi hal paling penting jika kita mau melakukan pementasan. Jika sudah pentas maka jika menemui gerakan yang terlupakan maka harus improv saja. Gerakan Improvisasi adalah gerakan sebenarnya tidak ada dalam latihan namun bisa diadakan saat lupa gerakan awal latihan, atau bisa bisa menambahi dan memodifikasi gerakan diluar gerakan latihan.
Terakhir adalah evaluasi. Tujuannya adalah mengetahui kekurangan dan kelebihan dari pementasan yang telah lalu sehingga jika nantinya akan diadakan pementasan maka sudah tidak bingung lagi. 6. Apa saja yang harus dievaluasi: 1. Pementasan, bagaimana alur cerita dan endingnya. 2. Kesiapan property 3. Kostum dan asesorisnya 4. Musik pengiring dan efek musiknya. 5. Tanggung jawab masing-masing panitia terhadapa kinerjanya Setiap pementasan mempunyai kesan dan karakter yang berbeda. Hal ini ditentukan oleh keberhasilan kita mewujudkan pementasan yang telah kita rancang dan persiapkan dengan waktu yang panjang dan pengorbanan berupa waktu, tenaga, hingga biaya. Sebaiknya pementasan yang dirancang dapat terlaksana dengan sukses. Berikut contoh Pantomimer Marcel Marceau sedang beraksi dalam pementasan pantomim :
Berikut contoh Pementasan pantomim dengan musik berjudul Don Juan : Kesuksesan ditentukan oleh ketekunan dan keseriusan kalian dalam proses menyiapkan pementasannya. Pelaksanaan pementasan Pantomim harus dikelola dengan manajemen pertunjukan yang baik. Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pementasan pantomim yaitu : 1. Persiapan seluruh panitia penyelenggara 2. Pemanggungan 3. Publikasi 4. Dokumentasi Kepanitiaan yang telah disusun sebaiknya melaksanakan tugasnya sesuai dengan kemampuan dan tugas pada bidang kerja masing-masing, jangan sampai ada yang tidak sesuai. Rasa tanggungjawab dan rasa memiliki pada produksi pementasan yang akan dipentaskan harus terus ditanamkan dalam pribadi semua kepanitiaan. Semua panitia mempunyai satu tujuan yaitu mensukseskan pementasan pantomim. Berikut contoh Pantomer Mixi Imajimime theatre Indonesia : Wanggi Hoediyanto ketika mementaskan pantomim “Memperebutkan Air” pada peringatan Hari Air Sedunia di BCCF, Bandung :
Pemangungan adalah proses akhir dari persiapan perancangan dan latihan panjang yang telah dilalui. Hal penting dalam proses pemanggungan yaitu menyiapkan panggung dengan baik agar proses pementasan berjalan dengan baik pula. Pemanggungan berurusan dengan hal-hal yang bersifat teknik seperti teknik pemasangan setting, teknik penggunaan alat-alat/properti, teknik sound system, dan teknik penataan lampu. Berikut contoh Teater pantomim Sena Didi Mime Jakarta mementaskan pantomim berjudul “Sapu di Tangan” di pendopo Rumah Buku Dunia Tera, Dusun Tingal, Wanurejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah :
Kehadiran penonton untuk mengapresiasi pertunjukan ditentukan oleh usaha dalam melakukan publikasi. Publikasi adalah penyebaran informasi dan berita tetang pementasan. Cara untuk mempublikasikan pementasan yaitu publikasi yang dilakukan dari mulut ke mulut. Semua pendukung memberitakan tentang pementasan yang akan dilaksanakan pada orang-orang terdekat, keluarga, dan teman. Publikasi yang dilakukan dari mulut ke mulut bersifat terbatas. Publikasi umum yang bisa menjangkau kalangan lebih luas dilakukan melalui media massa, koran, majalah, radio, dan televisi. Media poster, baliho, pamflet dan spanduk juga sebagai media publikasi pementasan pantomim di tempat-tempat umum yang strategis. Berikut contoh pementasan pantomim anak – anak : Pantomim merupakan karya seni pertunjukan. Karakteristik seni pertunjukan adalah terikat oleh ruang dan waktu, artinya karya pertunjukan tidak abadi, hanya bisa dinikmati saat pertunjukan sedang berlangsung. Cara agar bisa abadi pertunjukan harus didokumentasikan. Meskipun cita rasanya tidak sama seperti saat pementasan berlangsung. Namun, kita bisa mengabadikan saat berkreasi seni. Berbagai media dokumentasi bisa digunakan seperti kamera fotografi dan kamera video. Berikut contoh Pentas pantomim komunitas
Sapen Mime mementaskan pantomim berjudul TITANIC, di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta, 23 April 2015 : Mengevaluasi pertunjukan pantomim dilakukan untuk memahami dan mengoreksi proses yang telah pantomer lakukan. Apa yang telah dirancang kemudian menjadi pementasan. Ketika evaluasi, kalian dapat mengetahui tingkat keberhasilan dan kegagalan dari rancangan pementasan yang telah kalian buat. Perlu keterbukaan dan mau saling menerima kritik diantara semua pendukung pementasan. Hal ini sangat baik untuk pelaksanaan pementasan selanjutnya sehingga kalian dapat belajar dari kegagalan dan melanjutkan keberhasilan yang telah dicapai supaya lebih sukses. Pementasan pantomim merupakan muara akhir dari sebuah perjalanan panjang dalam proses teater berupa pantomim. Sebaiknya dipersiapkan segala macam keperluan dan hal-hal yang bersifat teknik, seperti sound system, setting, properti dan panggung untuk keberhasilan pementasan. Keindahan proses teater lebih terasa apabila pementasan diakhiri oleh proses perenungan dan evaluasi bersama pada pertunjukan untuk keberhasilan pementasan pantomim selanjutnya. Kegiatan pementasan pantomim dan mengevaluasi pementasan mengandung hal penting, yaitu kalian dapat memahami karakteristik dan kecenderungan pribadi diantara teman.
Pemahaman pada kondisi dan saling mengisi merupakan modal yang sangat penting dalam hidup bermasyarakat. Mementaskan pantomim yang baik memerlukan pemikiran, tenaga, waktu, dan ketekunan dalam melakukannya. Dengan pementasan pantomim kalian bisa saling bekerja sama, toleransi, dan menikmati keindahan dalam kebersamaan EVALUASI 1. Buatlah naskah pantomim untuk ditampilkan ddepan kelas 2. Buatlah rancangan pementasan 3. Buatlah kepanitian untuk menyiapan penampilan didepan kelas 4. Buatlah pementasan pantomim dengan perorangan atau kelompok