The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tugascerpen312, 2023-10-17 02:50:22

Antologi Cerpen

Antologi Cerpen

39 When, We Were YoungAlessandra Putri Brahmana Aku terdiam duduk di depan meja belajar. Sudahduajam berlalu, dan yang kulakukan hanyalah terus melamun dengan sepasang earphone yang menyumbat telingaku. Hujan deras di luar mengguyur kota yang terkenal dengan sebutan kota kembang atau kota mode, Bandung. Beruntung, kunyalakan volume dengan cukup keras hingga membuat suara hujan yang berisik itu tersamarkan. Sedikit.. “Somewhere only we know” oleh Keane, mengalunpelan. Mengiringi malamku yang rasanya kelabu. Sembari lagu mengalun, aku menatap sebuah ringnotetebal yang tergeletak di atas meja belajar setiap hari. Sebuah buku kenangan, namun bukan diary. Bukudengan judul “When, we were young” yang kutulis sendiri dengan spidol berwarna-warni. Bukuku semasa SMA, sebuah catatan kecil menariktentangku dengan seorang perempuan yang sangat ambisius terhadap suatu hal.


40 Sekarang, akan kuceritakan siapa perempuan itu. Bernostalgia sedikit mungkin tidak masalah, akupuntakbermaksud melupakannya sama sekali. Walaupun pedih.. *** Jeha Maheswari, atau kerap dipanggil dengan sebutanJeha. Gadis yang baru saja menduduki bangku kelas 12itu terlahir dari keluarga sederhana, ayah Jeha bekerjasebagai petani sedangkan sang ibu menjadi bidandi tempat ia tinggal, desa Batununggal, namanya. Sebuahpemukiman yang bertempat di daerah Lembang. Ia mempunyai adik kembar namun tak identik, yanglelaki bernama Jaka, yang perempuan bernama Jihan. Keluargautuh yang sederhana, dilengkapi dengan kehangatan, kenyamanan serta hal yang lain di dalamnya. Suatu saat, hal yang tidak diinginkan terjadi. kedua orang tuanya dipaksa gugur oleh keadaan. Adanya suatuinsiden pada saat kedua orang tuanya hendak berpamitanuntuk berangkat bekerja, berakhir dengan dia dankeduaadiknya yang ditinggal pergi oleh keduanya, sangat jauh, hingga tak bisa mereka jamah keberadaannya lagi. Sampai disaat, ia dan kedua adiknya diminta untuktinggal bersama oleh pamannya yang berada di perkotaan, meski diawali dengan keraguan tetapi akhirnya dia mengangguk setuju dengan tawaransangpaman. ***


41 Hari berganti hari, tanpa sadar waktu berputar begitucepat. Tak terasa, sudah kurang lebih 4 bulan ketiganyatinggal bersama dengan sang paman. Disana, ia bersekolah disalah satu sekolah ternama di kota Bandung. Berkat kecerdasan yang ia miliki itupunyang menghantarkannya ke dalam gerbang kesuksesan, baik untuk sekarang ataupun masa yang akan datang. Alih-alih dibanggakan justru kecerdasan itu lah yangmengundang banyak mata memandangnya denganpenuhkeirian terutama seorang perempuan yang bernama Zora. Seorang anak tunggal dari salah satu keluarga terpandang yang sering kali dianggap sebagai sosokyang sangat ambisius. Ia rela melakukan apapun demi mendapatkan apa yang ia mau, nilai yang sempurnasalah satunya. Bukan tanpa alasan, melainkan tuntutansang orang tua yang mengharuskannya untuk selalumendapatkan nilai sempurna. Tanpa tahu bagaimanausaha yang ia lakukan secara mati-matian di belakang, yang mereka inginkan hanyalah hasil yang sempurnadarinya. Tidak jarang, ia dibandingkan dengan oranglainjika pencapaian yang ia capai tidak sesuai dengankemauan keduanya. Karena tuntutan itu pun yangmenjadikan Zora sebagai pribadi yang sangat ambisius, karena sedari kecil ia sudah dipaksakan untuk selalumenjadi sempurna. *** Tangisan semesta di luar sana membuat langit gelapgulita. Bintang-bintang tertutup awan, rintikan hujan


42 mulai turun membasahi bumi, sepertinya langit sedangbersedih hari ini. Dedaunan juga gugur dan berterbanganmengotori halaman SMAN 1 Bandung. Zora kesusahan untuk menuju ke arah parkiran yangbegitu jauh dari tempat ia berdiri. Perempuan itu berdecak kesal karena tidak membawa payung, padahal tidak ada ramalan hujan akan turun hari ini. Sambil menunggu hujan reda, Zora memperhatikanorang-orang yang lewat disekitarnya berlarian kesana- kemari sambil membawa payung di genggaman masing-masingdantertawa bersama teman-temannya. Sudah 20 menit Zora menunggu, tapi hujan tak kunjungberhenti. Mata perempuan itu menelusuri setiap sudut sekolah yang sudah mulai sepi tanpa ada seorangpun, hanya tersisa dirinya dan juga rintik hujan kala itu. “Hai! kenapa ngga pulang?” tanya seseorang menepukpundak Zora, hal itu membuat ia terkejut. “Hujannya deras, jadi aku ngga bisa pulang.” Gadis itu terkekeh pelan lalu memberikan sebuahpayung berwarna biru kepada Zora, “Ini buat kamu!”Zora menatap payung tersebut cukup lama, “Serius?Lalu kamu pulangnya pakai apa?” Ia memperlihatkan satu payung berwarna kuning, “Akupunya dua, jadi payung itu buat kamu, di ambil ya?


43 Sepertinya hujan tidak akan reda hari ini, apalagi hari sudah semakin gelap.” Zora hanya berdeham, lalu mengucapkan kata terimakasih. “Nama kamu siapa?” tanya Zora menghentikanlangkahnya, menatap ke arah belakang. Ia penasaranakan nama gadis yang sudah memberinya payung. Ditengah-tengah gerimis hujan perempuan berambut sebahu itu memperkenalkan dirinya kepada Zora, “ JehaMaheswari, kamu?” “Aku Zora Zabrina”, setelah memperkenalkan diri, Jehalangsung pergi meninggalkan sekolah begitu pula dengan gadis bernama Zora. Zora menatap punggung Jeha yang semakin menjauhdari pandangannya, “Semoga kita bertemu kembali lagi, Jeha!” Teriakan Zora membuat Jeha terdiam. Perempuanitu memilih terdiam, enggan menjawabnya. *** Perempuan yang sekarang duduk di kelas 12 itu mulai memarkirkan sepedanya ke dalam halaman depanrumahnya. Ia membawa langkah kakinya memasuki rumah, mengganti seragam sekolahnya menjadi pakaiansantai ala rumahan, kemudian kembali ke arah dapur untuk memasak makan siang untuk kedua adiknya, danmulai memanggil mereka untuk segera makan siang.


44 “Jaka, Jihan! Ayo makan siang dulu!” Ia menata duapiring di atas meja, satu untuk Jaka dan satu untukJihan. Suara tarikan kursi pun mulai terdengar, kedua anakituikut duduk di kursi sisi kanan dan kiri meja makantersebut. “Udah pada cuci tangan?” Jeha membawa dua gelas berisi air putih, lalu diletakkan dihadapan kedua adiknya. Pertanyaan Jeha dibalas anggukan oleh dua anaktersebut, kemudian yang terdengar hanya suara dentingan antarasendok dan piring. Jeha tersenyum, memandangi keduaadiknya tersebut makan dengan cukup lahap. *** Keesokan harinya, bu Irma selaku guru Bahasa Indonesia menyuruh siswanya untuk bekerja kelompokmembuat tugas yang akan dikumpulkan minggu depan. Semua orang sudah mendapatkan kelompok kecuali Jeha, ia masih diamkarena tidak ada satupun orang yang mengajaknya untukbergabung. “Jeha, mana kelompok kamu?” tanya bu Irma menatapJeha yang sedang mencatat materi di buku tulis, perempuan itu lalu mengangkat kepalanya.


45 “Saya mau mengerjakan sendiri bu” balas Jeha. Semuasorot mata tertuju padanya sambil berbisik-bisik. “Kamu yakin bisa mengerjakan itu sendiri?” tanya buIrma, ia tahu Jeha pintar namun perempuan paruhbayaitu kasihan jika Jeha kelelahan mengerjakan tugas-tugassendirian. Jeha tersenyum, “Bis- “ “Bu!, biarkan Jeha masuk kedalam kelompok saya”selaseorang murid perempuan, yang tidak lain dan tidakbukan adalah Zora. Perkataan Zora pun disambut dengan sinisan beberapatemannya yang sekelompok dengannya, “Zor, yakin mau ajak dia gabung?” tanya salah satutemannya dengan berbisik. “Bagaimana Jeha? Apakah kamu mau bergabungdengankelompok Zora?” tanya bu Irma, kembali pada Jeha. “Iyabu, saya mau bergabung” jelasnya. Setiap ada kerja kelompok tidak ada yang mau sekelompok dengan Jeha, sekalinya dapat kelompok, Jeha selalu dimanfaatkan, bahkan ia selalu mengerjakantugas itu seorang diri, dan yang lain hanya menumpangnama. Seperti yang ia alami sekarang, teman sekelompoknyalangsung meminta Jeha untuk mengerjakan tugas kelompok itu seorang diri.


46 “Kerjain!, Kita mau ke kantin.” pinta Rebecca, temansekelompoknya. “Yuk kita pergi! Lagi pula kan sudah ada Jeha” sahut yang lain, “Ngga!, kita tetap disini, ini kan tugas kelompok, bagaimana bisa Jeha yang mengerjakan seorang diri?”balas Zora kepada yang lain. “Udahlah Zor, ngga usah pura-pura, mending kita kekantin sekarang.” “Kalau kalian mau pergi silahkan, aku disini akanmenemani Jeha.” jawaban dari Zora pun dihadiahi dengan kekehan oleh yang mendengar, “Yaudah ayo kita pergi, biarkan mereka saja yangmengerjakan.” ucap salah satu diantaranya sembari berjalan meninggalkan kelas. Tidak membuang-buang waktu, Jeha yang ditemani Zorapun langsung mengerjakan tugas yang diberikan olehbuIrma. Disela-sela kegiatan mereka Jeha berucap, “Makasih ya sudah mau menemaniku untuk mengerjakan ini, biasanya aku selalu sendirian, tetapi sekarang ada yang menemaniku.” Zora yang mendengar itu pun tersenyum, “Tugas kelompok masa dikerjakan sendirian? Sudahtanggung jawabku juga untuk ikut mengerjakan” balasZora. Keduanya pun kembali menyelesaikan tugasnya,


47 sampai bel pulang berbunyi mengundang keramaianuntuk menyambut sepi setelahnya. Terik matahari begitu menyengat. Setelah bel berbunyi, Jeha bergegas untuk merapihkan tasnya dan bersiap-siapuntuk pulang. Saat tengah bersiap-siap, Jeha dikejutkan oleh Zorayangtiba-tiba muncul dihadapannya dengan senyumyangmerekah. “Eh Zora, ada apa?” tanya Jeha. “Tidak, aku hanya ingin mengajak kamu pulang bersama, apakah kamu mau?” “Tentu, aku mau!” Mereka pun bergandengan menyusuri kota Bandungbersama. “Hahahaha, cape banget!” Suara Zora yang menggelegar diantara desah napas terputusnya mengudara di sore hari, bersahutan dengansuara kendaraan dan percakapan orang-orang disekitar. Zora membungkuk, bertumpu pada kedua lutut masihdengan tawa yang tersisa, napasnya tersenggal. Jehadihadapannya tak kalah kacau, perempuan itu tertawaterbahak sembari memegangi perut serta pinggang. “Ya ampun, itu sedikit lagi kita bisa kena gigit.” “Kamu sih, gaya-gayaan ngeganggu anjing liar, dikejarkan?” Zora tertawa, menampar bahu Jeha pelan.


48 “Lah, dia duluan yang gangguin aku. Kesel lah, yaudahaku isengin.” Zora menggeleng, tak habis pikir. “Istirahat dulu atuh, minum apa kek, aku juga capek.”Tawaran Jeha terdengar menggoda. Maka dari itu, Zoralangsung berjalan mengikuti pemudi itu yang melenggang pergi begitusajadengan santai. Jeha membawanya pada seorang lelaki paruh baya yangsedang berdiri di samping gerobaknya. Lelaki itutersenyum sopan. “Pak, pesen es cendolnya dua gelas ya!Diminum di sini.” Lalu mereka duduk di kursi kayu di samping gerobak, tepat di bawah pohon, terasa sejuk. “Makasih, ya!” Zora berucap pelan sembari meluruskankakinya yang terasa pegal karena dipaksa berlari jauh. Bisa dia lihat melalui ekor matanya, Jeha menatapnyakebingungan. “Makasih buat apa?” “Buat ajak aku keliling Bandung, padahal aku yangajakkamu untuk pulang bareng, jadi aku yang diajak berkeliling.” Jeha tersenyum, “Sama-sama.”


49 “Dan, maaf juga Jeha. Jujur, dulu aku sangat iri padamukarena kamu selalu berusaha rebut posisiku di kelas, dulu aku selalu ranking 1, tetapi semenjak kamu datangposisiku tergeser, dan berubah menjadi kedua.” Senyum Jeha pun memudar setelah mendengar apa yangdiutarakan oleh Zora. “Zor, aku ngga bermaksud..” Zora yang mendengar itupun langsung menyela, “Bukan salahmu Jeha, samasekali kamu tidak bersalah. Yang seharusnya memintamaaf, tidak lain adalah orang tuaku karena mereka selalumenuntutku untuk menjadi sempurna, tanpa melihat proses yang ku lalui, Yang mereka ingin, hanya kesempurnaan.” Zora menuturkan apa yang ia rasa dengan perasaan getir. Jeha yang mendengar itupun sontak langsung memelukZora dan langsung menenangkannya. Jeha berucap, “Maafkan aku jika aku membuat kamu susah Zor, bukantanpa alasan, selama ini aku berusaha mendapatkanyangterbaik untuk mempertahankan beasiswaku di sekolahini, kedua orang tuaku sudah lama meninggal, dan saat ini aku tinggal bersama pamanku yang sudah mulai sakit- sakitan, dan kedua adikku yang masih kecil. Itulahmengapa aku ingin berusaha yang terbaik, aku ingin membuat orang tuaku bangga diatas sana denganpencapaianku, sekaligus setelah lulus nanti aku inginlangsung bekerja untuk menghidupi kedua adikku, sekaligus pamanku.” Ungkapan demi ungkapan yang


50 Jeha ucapkan membuat keduanya semakin mengeratkanpelukannya guna menguatkan satu sama lain. *** Dalam keadaan apapun, baik sedih, senang, waktuterusberjalan pada jalurnya. Seolah hilang ditelan bumi, setelah pergi bersama kalaitu, Zora tidak menampakan dirinya lagi di hadapanJeha. Jeha sudah berusaha mencari keberadaannya baiklewat teman dekat Zora yang lain, hingga ke guru sekali pun. Tetapi, nyatanya tidak ada yang tahu kemana Zora pergi. *** Hari kelulusan pun tiba, semua dirayakan, perasaanbahagia, lega semuanya bersatu padu menjadi satu. Tapi tidak dengan Jeha, yang masih dilanda perasaan sedih, dan kehilangan atas hilangnya Zora kala itu. Kemanapun kamu pergi, aku selalu mensyukuri hari dimana kita bertemu saat itu. Saat hujan menyertai, danhanya ada aku dan kamu saat itu. Aku senang bisa berkenalan dengan mu, Zora. Dimana pun kamu berada, kemana pun takdir membawamu pergi, semoga kebahagiaan selalu berpihak padamu, ya? *** Kota kembang yang penuh dengan kenang. Sesingkat apapun kamu menulis cerita di kota ini, harumnya takakan pernah hilang, memorinya tidak akan pernahpudar,


51 dan rasanya tidak akan pernah punah. Kau tahu betapaistimewanya Bandung? Jika kau poleskan ceritamudi tempat ini, kau pasti akan merasakan. Sekilas hanyaditemani hujan dan dinginnya malam, tapi kamu tahu?Seberapa banyak orang yang sedang melukis memori pada malam dingin itu, mereka menyusuri gelapnyamalam memecahkan celengan rindu, sebelumakhirnyamenabung rasa rindu lagi. Ia mungkin tak kunjung pulang, karena sibuk untukmemoles kenang. Tak apa, karena tempat berpulangnyahanya sang pujangga yang berakhir dengan kenang.


52 PUDARSyifa Aulia Purwanto Matahari tepat di atas kepalaku, menunjukan waktusudah siang Upi, Kakang dan Umay pergi ke kantinuntuk membeli makanan dan minuman, mereka ber-3pergi ke kantin untuk membeli makanan dan minuman, Setelah mereka membeli makanan dan minuman, merekamereka mencari tempat kosong untuk mereka tempati. Beberapa saat pun berlalu, saat suasana sedang heningKakangmembuka topik “Pi, May tau ga sih?” tanya Kakang. ”Nggak lah, orang belum di kasih tahu” jawab Upi. “Aku ngerasa negara kita budayanya makin pudar” ucapKakang.


53 “Iya sih aku juga ngerasa gitu, setau aku ada 1 sukuyangmasihmempertahankan budayanya, tapi.., aku lupa sukuapa”jawabUmay. Karena mereka lupa nama suku tersebut mereka semuamencobamengingat, saat sudah beberapa menit mereka berpikir Upi tibatiba menggebrak meja, “AKU INGET AKU TAU, ITU SUKUBADUYKAN?”ujarUpi dengan semangat. “O IYA YA BENER PI BENER!!” jawab Umay. “Coba May jelasin soal suku Baduy” ucap Kakang. “Jadi gini Pi, May suku Baduy itu di bagi jadi 2 yaitusukuBaduyluar dan suku Baduy dalam mereka itu survive denganmemanfaatkan sumber daya alam. Suku Baduy itubudayanenekmoyang,mereka juga masih menyembah arwah nenekmoyangdansuku itu masih melakukan perjodohan” jawab Umay“Unik ya! budaya mereka” ujar Upi.


54 “Keren sih, mereka tetap mempertahankan budaya mereka, UmayUmay bedanya suku Baduy dalam dan luar itu apa sih?”tanyaKakang. “Setau aku sih perbedaannya itu ada dari baju kesehariankalaubaju Baduy dalam itu dominan putih karena melambangkankesucian kalau yang luar dominan hitamatau birutua”jawabUmay. “Kayaknya lanjut pulang sekolah saja deh.., bentar lagi bel masuk”ujar Kakang. “Oke siapp” jawab Umay dan Upi. Akhirnya mereka berpisah dan kembali ke kelas masing-masingBeberapa jam pun berlalu. TRINGGGG…, bel pulang berbunyi. Upi dan Umay merapihkan barang barang mereka dankeluarkelasuntuk menghampiri kelas Kakang,


55 “Nyariin Kakang ya?, Kakangnya lagi isi ember buat ngepel,”ujarteman kelas Kakang. “Oooh, lagi piket yaudah kita tunggu aja” jawab Upi. Tak lama kemudian kakang datang dengan membawaemberyangberisikan air, “Eh kalian,sabar ya, aku mau piket dulu” ujar Kakang. “Iyaaaa” jawab Umay. Setelah beberapa menit kemudian, Kakang keluar dari kelasnyauntuk pulang, “Ayo kita pulang!” ucap Kakang dengan semangat. “Yoi, gass!” jawab Upi dan Umay dengan semangat. Mereka mengambil sepeda masing-masing untukpulang. Saatdiperjalanan, “Sore mau main gak?” tanya Umay.


56 “Boleeeh,” jawab Upi. Mereka melanjutkan perjalanan masing-masing. Jalur rumahUpi,Kakang, dan Umay berbeda. *** Beberapa jam berlalu, sore pun tiba, mereka ber-3pergi kelapangan untuk bermain. “Kita mau main apanih?” ujar Kakang. “Gimana kalau kita lanjut pembahasan kita pas istirahat ajagimana?” jawab Upi. “Boleh boleh…,” jawab Kakang dan Umay. “Kalian tau gak waktu itu suku Baduy dalampernahmembakar3unit motor loh?” ucap Umay “Iyakah?” jawab Kakang. “Itu karena apa may?, kok bisa dibakar begitu?” tanyaUpi


57 “Jadi gini, kan suku Baduy dalam itu tidak diperbolehkanmenggunakan peralatan elektronik atau kendaraan,”jawabUmay.“Oh…, jadi gitu,” jawab Upi. “Nah, karena itu mereka harus mentaati aturan disana,”ucapKakang. “Iya.., gitu bener Kang,” jawab Umay. “Suku Baduy itu asli banten ya?” tanya Upi “Yup!! Betul mereka itu asli banten dan populasi merekaitubanyak,” jawab Umay. “Terus ada apa lagi May?” tanya Upi “Mau aku jelasin adat istiadatnya?” tanya Umay “Boleh tuh!” jawab Kakang dan Upi.


58 “Mereka ada tradisi puasa 3 bulan namanya kawulu, terusmerekajuga tidak mempunyai lahan khusus makam” ucapUmay. “Oh.., gitu…” jawab Upi. Setelah mereka berbincang waktu maghrib pun tiba, akhirnyamereka pulang dan pergi ke masjid untuk solat maghribberjamaah.


59 J-CROSS Hanna Putri Nisrina 2003, Terdengar teriakan dua orang anak kembar sedangbermain bersama dan diperhatikan oleh kedua orangtuamereka. Jio dan Jea, itu adalah nama dari anak kembar yang sedang bermain dengan ceria di ruang keluargarumah mereka. Rumah mereka terbilang sederhana jikadisandingkan dengan rumah-rumah lainnya. Jio dan Jea saat itu masih berusia 18 bulan, mereka tumbuh dengan baik karena mereka selama itu dikelilingi oleh kasih sayang dari orang-orang disekitar mereka, terutama orang tua mereka. Bahkan, merekasampai diberi julukan J-Cross, tentu saja itu karena nama depan mereka J dan mereka kembar tak identik. Tapi, bahkan julukan mereka tak tahan terlalu lama karena mereka harus meninggalkan satu sama lain,


60 karena orang tua mereka berpisah. Kala itu, Jio danJeahanya bisa menangis secara terus-menerus sebabtaktahu bagaimana cara mengekspresikan kesedihanyangmereka alami. *** Tahun ini, hari ini, tepat pada tanggal 20 februari 2022, Jio merayakan ulang tahunnya yang ke-18 bersama teman dan ibunya di Korea Selatan, tempat dimana diaberada sejak berpisah dengan Jea dan ayahnya. “Weey... selamat ulang tahun, bruhh!. Weyeatebe yoo!!”ucap Arno, teman yang memang sangat dekat denganJio. Sejak ia dan ibunya meninggalkan tanah air, dia menjalankan pendidikan di sekolah internasional. Ibunyamenikah lagi 13 tahun lalu dengan seseorang asli Koreayang selalu mendukung secara mental maupun fisik. Jiomenjadi anak yang selalu menuruti perintah ibunya, perawakannya juga tampan, tinggi, senyumyangsangat manis, dan memiliki semua yang menjadikan ia sebagai tipe ideal bagi perempuan yang berada disekitarnya.


61 Bahkan, ketika dia sedang jalan-jalan santaipun, diasempat ditawari untuk mengikuti casting oleh staf dari perusahaan-perusahaan besar di Korea selatan. Tapi sayangnya, dia tidak terlalu ambis untuk mengejar prestasi-prestasi yang ada di sekolahnya. Dan untungnya, dia bukan tipe anak yang “terlalu aktif” di lingkungansekolahnya. Dia hanya mempunyai sifat yang mungkindimiliki oleh sebagian besar orang di dunia, malas. “Selamat ulang tahun, sayang!” Ibunya memberi ucapanselamat dengan memberi pelukan yang hangat kepadaJio. Jio hanya membalas dengan senyumannya. Kalau ada yang bertanya-tanya tentang dimana ayahnyaitu, jawabannya adalah... “Ayahku sedang berada di luar kota.” Yapp, betul sekali!Ayah Jio memang jarang sekali pulang ke rumah. Palinghanya sebulan sekali berada di rumah. *** Jakarta, 20 Februari 2022


62 “Happy birthday to you.... happy birthday, happy birthdayyy... happy birthday to you..” Nyanyian selamat ulang tahun itu terdengar menggelegar dan menggemadisetiap ujung ruangan. Jea merayakan ulang tahunnyadengan keempat sahabatnya, mereka sudah melakukanrutinitas ini sejak mereka berada dibangku SMP. Walauhanya berlima acara yang sudah menjadi rutinitas itumembuat mereka sangaatt bahagia, karena mereka membuat acara itu meriah dengan banyaknya aksesorisyang ditempel di dinding maupun di tubuh mereka. “Cielaah..., udah 18 tahun aja niii! Semoga kedepannyasemakin sukses ya gurll!!” “AAMIINN...” Satu persatu sahabatnya mengucapkan ucapan selamat ulang tahun, lalu di amin kan dengan heboh oleh mereka. Jea, seperti namanya, dia sangat baik juga cantik, matanya memiliki warna yang indah, dan yang palingutama, dia merupakan anak yang sangat unggul dalam


63 prestasinya. Saat ini, mungkin Jea sudah memiliki puluhan medali, piala, juga sertifikat yang akan sangat mempengaruhi dalam pendidikan dan karirnya dimasadepan. Jea tinggal di rumah hanya berdua denganayahnya, tetapi karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan ayahnya jarang pulang. Jea menjadi kesepian karena hanya dirinya seorang yang ada di rumah yang tidak terlalu besar itu. *** Jakarta hari ini. Seperti biasa, panas, berdebu, danmacet. Huhh....., sungguh melelahkan jika harus berangkat mulai jam segini. Tin tinnn tin tinnn “IHH! APASIH! MACET BANGET!” Jea hampir mengumpat saking macetnya Jakarta padasaat jam makan siang. Ini juga kesalahannya karena


64 terlalu mepet berangkatnya. Jea menjadi terburu-burusaat jalanan sudah menjadi lebih lenggang. “Maaf pak, saya telat.” Jea menyesali perbuatannya dan langsung menujukesuatu ruangan. Rasanya sangat menegangkan baginya, sebab ini adalah hari penentuan untuk dinyatakanlolosatau tidaknya menuju tahap terakhir. Sudah hampir 1bulan ini Jea mempersiapkan dirinya untuk mengikuti seleksi pertukaran pelajar yang dari dulu ia damba- dambakan. Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggupuntiba. Jea sudah berhasil melewati tahap-tahap yangmeribetkan itu. Dan Jea harus meninggalkan sahabat- sahabatnya untuk beberapa waktu, yang pastinya tidakakan sebentar. Ia harus meninggalkan tanah air selamakurang lebih 6 bulan. *** “Waah!! Ini Korea Selatan tooh,” ucap Jea dengantakjub.


65 Ia baru saja menginjakkan kakinya di Seoul, Ibu kotaKorea Selatan. Setelah itu, ia langsung menuju ke tempat dimana ia akan tinggali selama 6 bulan kedepan. Selamaperjalanannya menuju dorm, Jea tak henti-hentinya menggumamkan kata takjub. Kata kunci streetfood, membawa Jea ke sebuah daerahbernama, Hongdae. Sesampainya disana, ia sibukmencicipi makanan-makanan yang terlihat menarikdimatanya. Dia pergi kesana hanya seorang diri. Dandengan sedikit kemampuan bahasa Koreanya yangdiadapat dari drama korea, dia jadi bisa memberanikandiri, walau hanya sedikit. Saat sedang mengantre, Jea mendengar dengan sayup- sayup, ada yang melakukan pembicaraan menggunakanbahasa Indonesia. “Mmm.. Hai! Kalian orang Indonesia?” “Haii! Bukan. Karena memang aku sekolah yangmemang bahasa sehari-harinya bahasa Korea danIndonesia. Salam kenal! Aku Arno!”


66 “Kita? Oh, hai juga! Ibuku orang Indonesia, jadi akubiasa bicara pakai bahasa Indonesia. Aku Jio!” Jio? Jea berpikir, seperti pernah mendengar nama itu. Namun pikiran itu langsung ia hiraukan, sebab ia lebihtertarik dengan pertanyaan yang akan ia lontarkan. “Kalau aku mau nyobain makanan khas Korea itu, dimana ya?” “Hmm.. AYOKK! KITA KESANA SEKARANGAJA!!” balas Jio. *** Berawal dari kata kunci streetfood, Jea menemukanteman barunya di Korea Selatan. Teman-teman barunyalelaki, tapi entah kenapa Jea langsung bisa merasa nyaman berada didekat mereka. “Ini namanya Galbi-Tang,” jelas Arno sesaat setelahsampai di restoran.


67 “ENAK! Rasanya mirip sama masakan di Indonesia, kalau di Indonesia namanya Sop Iga.” “Iya! Ibuku juga pernah bilang kayak gitu,” responJio. Sop Iga menjadi menu makan malammereka hari ini. Mungkin ini makanan berat pertama mereka dan makanan berat pertama Jea di Korea Selatan. Tapi, makanan ini bukanlah makanan berat terakhir yangmereka makan. Mereka melanjutkan sampai memakanTteok-bokki di tenda oranye yang biasanya berada di pinggir jalan pada saat musim dingin. “Kalian suka dengerin lagu K-Pop gitu ga sih? Akusendiri soalnya ngambil pertukaran pelajar ini salahsatunya gara-gara aku hobi dengerin lagu K-Pop samanonton drakor, hehe.” “JIO NII! Dia penikmat banget kalo masalah kayakgituan. Kalo lagi istirahat, DIMANA PUN! Pasti kalongga lagi dengerin New Jeans, nonton drakor yanglagi on going,” jawab Arno yang langsung nyerocos.


68 “APASIH, NO! Tapi emang gitu sih kebenarannya. EH!, TAPI GUE GA CUMA DENGERIN NEWJEANSYA! Kamu nge stand grup apa? Terus lagi nonton drakor yang mana nih?” jelas Jio dengan semangat. Dia kalausudah masuk dengan pembicaraan seperti ini sudahpasti semangatnya langsung membara. Pembicaraan itu terus berlangsung sambil mengunyahTteok-Bboki yang sangat kenyal. Pembicaraan merekamenjadi melebar kemana-mana, hingga akhirnya merekabertukar social media yang mereka miliki. Setelahselesai memakan itu, mereka berjalan menuju rumahJio. Karena Jio bilang ibunya memasak sesuatu yang enakmalam ini. “AYO MASUK!” ajak Jio setelah pintunya terbuka. “Jea?” Deg


69 Kata itu memasuki indra pendengaran Jea. Jea terkejut dengan amat sangat, bagaimana bisa ibu Jio memanggil namanya padahal dia sama sekali belummemperkenalkan diri. Dengan sangat tiba-tiba, ibuJiomemeluk Jea sambil menangis terharu. “Kamu Jea kan?” tanya Luna-ibu dari Jio dan Jea “Ya, itu saya. Kok tante bisa tahu nama saya?” “Ini ibu kamu sayang..” jelas Luna. Luna menunjukkanfoto dia bersama dengan kedua anak kembarnya itu, saat mereka masih kecil. “Maksud ibu?” tanya Jio dengan ekspresi yang samadengan Jea, bingung. Luna menjelaskan tentang semua-muanya yang menurutnya bisa membantu mengatasi rasa kebingungananak kembarnya. Acara makan malamyang tadinyaakandigelar di apartment mewah milik ayah tiri Jio, menjadi acara penjelasan yang dinanti-nanti oleh Luna dan


70 mungkin oleh Jio, juga Jea. Luna sebenarnya masihberhubungan dengan mantan suaminya, untuk sekadar ingin tahu tentang pertumbuhan Jea. “Ibu. Aku pamit dulu ya! Jio, besok ketemu lagi ya!”Jeameninggalkan apart itu dengan perasaan yang lega. Setelah tadi ia, saudara kembarnya, dan ibunya menggelar acara menangis dan juga acara makanmalamyang entah bagaimana terasa sangat spesial malamitu. Kalau Arno, dia sudah pulang sejak Luna ingin memberi penjelasan. *** Gyeongbok-gung / Istana Gyeongbok Jio, Jea, dan Arno memasuki area istana itu denganpakaian raja dan ratu ala dinasti Joseon. Joseon adalahdinasti yang pernah berkuasa di Korea antara 1397-1897dan paling sering diadaptasi dalam filmserta dramakorea bertema kerajaan. Jea tentu saja merasa sangat familiar dengan tempat ini.


71 “Foto dulu yuk!” ajak Arno. Setelah berfoto, mereka melanjutkan perjalanan merekauntuk mengelilingi seluruh area istana Gyeongbok. “Kalau di Indonesia, ada yang kayak gini ga?” tanyaJiodengan rasa penasaran. “Hmm, setauku ada banyak sih. Salah satunya ada Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kalian belumpernah mengeksplor Indonesia ya?” tanya Jea, yanglangsung dijawab gelengan oleh kedua insan yangberada di samping kanan dan kirinya. “Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di KotaYogyakarta. Keraton ini didirikan oleh Sri SultanHamengkubuwana I pada tahun 1755 sebagai Istana/Keraton Yogyakarta yang baru berdiri akibat perpecahan Mataram Islam dengan adanya Perjanjian


72 Giyanti. Total luas wilayah keseluruhan keraton yogyakarta mencapai 184 hektar, yakni meliputi seluruharea di dalam benteng Baluwarti, alun-alun Lor, alun- alun Kidul, gapura Gladak, dan kompleks MasjidGedheYogyakarta. Sementara luas dari kedhaton (inti keraton) mencapai 13 hektar. Walaupun Kesultanan Yogyakartasecara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1945, kompleks bangunan keratonini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultandanrumah tangga istananya yang masih menjalankantradisi kesultanan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museumyangmenyimpan berbagai koleksi milik kesultanan,” Jeamenghela napasnya panjang sehabis ia menjelaskandengan penjelasan yang hampir lengkap itu. “Waww. Daebak!!” Seru Jio dan Arno.


73 “Kapan-kapan main ke Indonesia lah kita, ya nggakJi?Nggak cuma pakai bahasanya doang nantii kita.” Dandibalas oleh anggukan Jio yang terlihat sangat antusias. “AYO!! Kalian harus banget sih, mengeksplor Indonesia. Karena disana beragam banget. Mulai dari bahasa- bahasa daerahnya, makanan khas dari setiap daerah, danmasih banyak lagi. Nanti ke istana Yogyakarta juga! Aku bakal jadi pemandu kalian!” Meski Jea anakyangsangat rajin belajar, tapi ia tak pernah absen pada setiapliburan sekolah, ia pasti jalan-jalan untuk lebih mengetahui tentang tanah airnya. *** 6 bulan sudah Jea berada di Korea Selatan. Ia jadi bisalebih tahu tentang negara asal biasnya, karena selamadisana, ia selalu berkeliling dengan Jio dan Arnosetiapada kesempatan. Pertukaran pelajarannya pun berjalandengan lancar, sampai-sampai Jea diberi penghargaanuntuk siswa teraktif selama masa pertukaran pelajar itu.


74 Kini, Jea sedang membereskan barang-barang yangakandia bawa pulang ke tanah airnya. Karena dia kemarinmembeli oleh-oleh yang banyak, ia sampai harus membeli tas tambahan untuk oleh-olehnya itu. Danakhirnya, kini Jea berdiri di tempat yang akan membawanya terbang kembali menuju tanah air. “Jio, Arno! Nanti kita ketemu lagi ya, kalau ada kesempatan main-main ke Indonesia!” ucap Jea sambil menahan tangisannya. “Ibu... Aku pamit ya,” Jea mengatakan itu sambil memeluk ibunya dengan sangat erat, diiringi dengantangisannya yang langsung meluruh dengan deras. “SAMPAI JUMPA NANTI!” itu adalah kata terakhir yang Jea ucapkan kepada teman-teman dan ibunya


75 BIODATAHaloo, aku Leandhra Vaustine Wiedyasesari, lahir di Serang, 2 September 2009. hobi aku dengerin musik, specially taylor swift & the 1975 soongs!! @lleoann.e on instagram. Haiiii….. Nama kuIqlimaMumtaz, aku lahir di kotaCilegon pada tahun2008bulan Desember tanggal 30, aku anak terakhir dancewek sendiri dr 5bersaudara 4 cowoksemua. Hobi aku berenang. Makanankesukaan ku bakso, pizza, burger, seafood, makasihhh.


76 Helloww nama aku Endah Dwi Lestari, aku lahir di kota Cilegon tanggal 13 Oktober 2009, hobi aku dengerin musikk yang galaww kaya backburnerr. Kenalan yuuk di ig akuu hihiy @duwiwiwiww Holaaa! Nama saya AureliaEmira Zaidi. Anak keduaa, dari empat bersaudara. Lahirdi kota Cilegon, pada 29April 2009 :>!. Hobi sayaa, mendengarkan musikdanberolahraga.


77 Halooooo nama ku Riffa Raisya Rahman aku lahir di kota Cilegon tahun 2008 bulan Desember tanggal 01 Hi! Aku Alessandra Putri Brahmana, akrab disapaSandra. Lahir di Bandung, 02 Desember 2008. Hobiku, membaca sembari mendengarkan musik! Akhir-akhir ini, akujugamula tertarik denganhal yang berbau seni. Mottoaku adalah,” It’s fine tofake it until you makeit, until you do, until it true”(Taylor swift). Yukkitamutualan ig! @ssanpb


78 Hellourr! Namaku Hanna Putri Nisrina, biasa dipanggil Hanna. Tapi, kalo nulis nama aku jangan Hana! N in my name is double, okayy. Aku lahir di Cilegon, tanggal 18 Desember 2008. Hobiku adalah mendengarkan musik dan menonton drama. Kalauingin lebih tahu tentang aku, bisa follow di @hannanisrina18“Tetaplah belajar sampai Seoul to LA. P, nama sayaSyifa AuliaPurwanto, saya lahir di kab. Lebaktanggal 3Febuari 2009, hobi sayadengerinmusikdanmain game.


79


Click to View FlipBook Version