PB 7
TEORI KRITIS KOMUNIKASI MASSA:
LITERASI MEDIA DAN DIGITAL
www.rumahperubahan.co.id
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
KOMPETENSI
DASAR
Mahasiswa mampu menjelaskan :
1. Pentingnya literasi media dan literasi digital
2. Definisi literasi media dan literasi digital
3. Prosedur menjalankan pendidikan literasi media dan
literasi digital
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
• Mengapa literasi media dan
literasi digital penting?
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Technology Disruption
1. Robot dan teknologi
komputer dan digital yang
menggantikan pekerjaan
manusia
2. Rekayasa genetika
3. Keberagaman sumberdaya
energy terbarukan
EFEK NEGATIF DIGITAL
1. kejahatan dan penipuan
karena digital
2. HOAX
3. Pelanggaran Etika
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Mengapa (digital) media literacy?
• Technological disruption
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Penggunaan digital di
Indonesia
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Definisi literasi
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Berbagai Konsep Literasi
• Literasi huruf dan angka
• Literasi teknologi
• Literasi informasi
• Literasi media
• Literasi digital
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Technological literacy
Literasi teknologi : kesadaran akan potensi bahaya perkembangan
teknologi bagi lingkungan dan kemanusiaan sekaligus munculnya
ketakutan ketidapdedulian terhadap teknologi yang dapat melemahkan
tenaga kerja dalam persaingan ekonomi (Waks, 2006)
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Information literacy
Information literacy muncul karena tuntutan di era informasi, orang harus
melek informasi; dalam bidang pendidikan siswa hendaknya terbiasa
memanfaatan perpustaaan untuk mendapatan informasi
Information literacy:
a. Mengenali kebutuhan informasi;
b. Mengidentifikasi informasi apa yang diperlukan;
c. Menyusun strategi mencari informasi;
d. Mengakses informasi;
e. Membandingkan dan mengevaluasi informasi yang diperoleh dari
berbagai sumber;
f. Mengelola, menerapkan dan mengkomunikasikan informasi;
g. Mensintesa dan “membuat” informasi baru. (adapted from Town, 2000:
17-18)
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Media literacy
• Media literacy has developed from the critical evaluation of mass
media, and is a major educational and research activity in both the
US and Europe.
• The Alliance for a Media Literate America offers the following
definition on its website: Within North America, media literacy is
seen to consist of a series of communication competencies,
including the ability to ACCESS, ANALYZE, EVALUATE and
COMMUNICATE information in a variety of forms including print and
non-print messages.
• Interdisciplinary by nature, media literacy represents a necessary,
inevitable and realistic response to the complex, ever-changing
electronic environment and communication cornucopia that
surrounds us. (http://www.amlainfo.org/home/media-literacy)
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Digital Literacy
• Literasi digital adalah kesadaran, sikap dan kemampuan individu
untuk menggunaan alat dan fasilitas digital untuk mengidentifikasi,
mengelola, mengintegrasikan, mengevaluasi, menganalisa dan
mensintesa sumberdaya digital, mengkonstruksi pengetahuan baru,
berkreasi dengan media dan berkomunikasi dengan orang lain
dalam konteks khusus, untuk melakukan tindakan konstruktif; dan
berefleksi terhadap proses tersebut
• Literasi digital tidak hanya membutuhkan ketrampilan berinternet
tetapi juga sikap dan perilaku yang beretika
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Literasi media
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
MEDIA LITERACY
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Media massa sebagai agen
sosialisasi
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Media Literacy
• Hal terpenting dalam literasi media adalah kemampuan individu
untuk memahami, menganalisis, dan mengevaluasi berbagai bentuk
media secara kritis (Aufderheide, 1993; Rubin, 1998).
• Menurut Kellner & Share (2005, hal. 376), literasi media adalah
proses pemberdayaan dengan "meningkatkan kemampuan individu
untuk menginterpretasi pesan-pesan dari media menurut pemikiran
mereka sendiri dan untuk membentuk identitas", yakni dengan
mendekonstruksi pesan media melalui analisis kritis (Kellner &
Share, 2005, hal. 374).
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Pendidikan Literasi Media
• Pendidikan literasi media didefinisikan sebagai program pendidikan
yang dirancang untuk menumbuhkan kapasitas individu, dengan
tujuan utama membantu individu untuk membentuk dan
mempertahankan "sikap otonomi kritis terhadap isi media"
(Aufderheide, 1993, hal. 79).
• Secara khusus, intervensi literasi media memberikan pengetahuan
dan keterampilan tentang isi, simbol-simbol, serta kepentingan
media (lihat Kellner & Share, 2005).
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
SASARAN (KHALAYAK)
• Sebagian besar media literasi berfokus pada bagaimana pendidikan
literasi media dapat melindungi khalayak (khususnya remaja dan
anak-anak), dari potensi negatif atau antisosial isi media, seperti
kekerasan, citra tubuh yang terdistorsi, dan konsumsi tembakau dan
alkohol (Anderson, 1983, Potter, 2004 ).
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Elemen Media Literacy
• Ketrampilan dan berfikir kritis yang memungkinkan penonton
untuk mengembangkan sikap bebas dalam memberikan penilaian
terhadap isi media
• Pemahaman terhadap proses komunikasa massa
• Kesadaran akan dampak media terhadap individu dan
masyarakat
• Strategi untuk menganalisis dan mendiskuikan media
• Pemahaman isi sebagai teks yang dapat mempengaruhi
budaya
• Kemampuan untuk menikmati, memahami dan menghargai isi
media dari berbagai sudut. Penonton dituntut tidak hanya bisa
menikmati pesan media, tetapi juga bisa mengkritiknya
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Literasi digital
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Tingkatan Literasi Digital
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Level 1. Kompeten Digital
1. Perumusan permasalahan : merumusan masalah dengan jelas
masalah yang harus dipecahkan atau tugas yang ingin dicapai dan
tindakan yang harus dilakukan
2. Identifikasi : mengidentifikasi sumber daya digital yang dibutuhkan
untuk memecahkan suatu masalah atau berhasil menyelesaikan
suatu tugas
3. Akses : mencari dan memperoleh sumber digital yang dibutuhkan
4. Evaluasi : menilai objektivitas, akurasi dan keandalan sumber daya
digital dan relevansinya terhadap masalah atau tugas
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Level 1. Kompeten Digital
5. Interpretasi : memahami makna yang disampaikan oleh sumber
digital
6. Pengorganisasian: mengatur dan menetapkan sumber daya digital
dengan cara yang memungkinkan pemecahan masalah atau
keberhasilan pencapaian tugas
7. Pengintegrasian: mengintegrasikan sumber daya digital sedemiian
rupa dalam kombinasi yang relevan dengan masalah atau tugas
8. Analisis : memeriksa sumber daya digital dengan menggunakan
konsep dan model yang memungkinkan pemecahan masalah atau
mencapai keberhasilan tugas
9. Sintesis : menggabungkan sumber daya digital dengan cara baru
yang memungkinkan tercipta solusi masalah atau keberhasilan
pencapaian tugas
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Level 1. Kompeten Digital
10. Kreasi : membuat objek pengetahuan, unit informasi, produk
media atau lainnya output digital baru yang akan berkontribusi
terhadap pencapaian tugas atau
11. Komunikasi solusi masalah untuk berinteraksi dengan orang lain
yang relevan saat menangani masalah atau tugas
12. Diseminasi menyajikan solusi atau keluaran ke pihak yang relevan
lainnya
13. Refleksi: mempertimbangkan keberhasilan proses pemecahan
masalah atau pencapaian tugas, dan merefleksikan perkembangan
seseorang sebagai orang yang terpelajar secara digital
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Level 2. Digital Usage
• The application of digital competence within specific professional or
domain contexts
• Users draw upon relevant digital competences and elements specific
to the profession, domain or other life-context.
• Each user brings to this exercise his/her own history and
personal/professional development.
• Digital usages are thus shaped by the requirements of the situation.
• The drawing upon digital competence is determined by the
individual’s existing digital literacy and the requirements of the
problem or task.
• Digital usages are therefore fully embedded within the activity of the
professional, discipline or domain community.
• They become part of the culture of what Wenger has called
“communities of practice”:
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Level 3. Digital Transformation
• The ultimate stage is that of digital transformation, and is achieved when
the digital usages which have been developed enable innovation and
creativity, and stimulate significant change within the professional or
knowledge domain.
• This change could happen at the individual level, or at that of the group or
organisation.
• Whilst many digitally literate persons may achieve a transformative level,
transformation is not a necessary condition of digital literacy.
• Activity at the level of appropriate and informed usage would be sufficient
to describe as digitally literate.
• Users do not necessarily follow a sequential path at each stage. They will
draw upon whatever is relevant for the life-project they are currently
addressing; the pattern is more one of random rather than serial access,
although there will be many cases where certain low level knowledge and
skill is necessary in order to develop or understand material from a higher
level.
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Mengatasi HOAX
Tindakan sederhana apa yang bisa kita lakukan agar tidak ikutan menyebarkan
hoax? Berikut tips dari Septiaji Eko Nugroho:
• Hati-hati dengan judul provokatif
– Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif,
misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun
bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar
menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax.
• Cermati alamat situs
– Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link,
cermatilah alamat URL situs dimaksud. Berita yang berasal dari situs media
yang sudah terverifikasi Dewan Pers akan lebih mudah diminta
pertanggungjawabannya.
– Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di
Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, yang
sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya
terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita
palsu di internet yang mesti diwaspadai.
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Mengatasi HOAX
• Periksa fakta
– Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi
resmi seperti KPK atau Polri? Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika
hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.
– Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat
berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan
kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis
berita, sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.
• Cek keaslian foto
– Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa
dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya
pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.
– Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari
Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google
Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat
di internet sehingga bisa dibandingkan.
• Ikut serta grup diskusi anti-hoax
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Mengatasi HOAX
– Di Facebook misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax
(FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage
Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.
– Di grup-grup diskusi ini, warganet bisa ikut bertanya apakah
suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat
klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota
bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya
crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang
• Sumber: http://www.tribunnews.com/kominfo/2017/11/07/cara-
cerdas-mencegah-penyebaran-hoax-di-media-sosial?page=all
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Di era digital
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Mengatasi HOAX
Apabila masih kurang? Tips dari The Washington Post di bawah ini bisa
juga dijadikan sebagai pelajaran:
1. Banyak orang sebenarnya tidak membaca konten yang mereka
bagikan. Mereka hanya membaca judulnya.Untuk mencegah Anda
sendiri menjadi penyebar hoax, hilangkanlah kebiasaan
membagikan konten tanpa membaca isinya secara menyeluruh.
• Sumber: http://www.tribunnews.com/kominfo/2017/11/07/cara-
cerdas-mencegah-penyebaran-hoax-di-media-sosial?page=all
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Mengatasi HOAX
2. Orang sering tidak mempertimbangkan legitimasi sumber berita.
Situs berita hoax bisa muncul tiap saat, tetapi kita sebenarnya bisa
menghindari jebakannya dengan bersikap lebih hati-hati melihat
sebuah situs. Sikap hati-hati ini juga berlaku bagi narasumber yang
mereka kutip, minimal dengan mencari referensi lanjutan di Google
atau situs lain yang sudah terpercaya.
Sumber: http://www.tribunnews.com/kominfo/2017/11/07/cara-cerdas-
mencegah-penyebaran-hoax-di-media-sosial?page=all
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Mengatasi HOAX
3. Orang cenderung mudah kena bias konfirmasi. Orang punya
kecenderungan untuk menyukai konten yang memperkuat
kepercayaan atau ideologi diri atau kelompoknya. Hal ini membuat
kita rentan membagikan konten yang sesuai dengan pandangan
kita, sekalipun konten tersebut hoax. Jika Anda membaca berita
yang betul-betul secara sempurna mengukuhkan keyakinan Anda,
Anda harus lebih berhati-hati dan tidak buru-buru memencet
tombol Share.
• Sumber: http://www.tribunnews.com/kominfo/2017/11/07/cara-
cerdas-mencegah-penyebaran-hoax-di-media-sosial?page=all
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Mengatasi HOAX
4. Orang mengukur legitimasi konten dari berita terkaitSebuah berita
belum tentu bukan hoax hanya karena Anda melihat konten terkait
di media sosial. Jangan buru-buru menyimpulkan lalu ikut
membagikannya. Kadang-kadang, hoax memang diolah dari berita
media terpercaya, hanya saja isinya sudah diplintir.
• Sumber: http://www.tribunnews.com/kominfo/2017/11/07/cara-
cerdas-mencegah-penyebaran-hoax-di-media-sosial?page=all
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Mengatasi HOAX
5. Makin sering orang melihat sebuah konten, makin mudah mereka
mempercayainya. Hanya karena banyak teman-teman Anda share
berita tertentu, bukan berarti berita tersebut pasti benar. Alih-alih
langsung mempercayai dan membagikannya, Anda bisa mencegah
ikut ramai-ramai termakan hoax dengan melakukan pengecekan
lebih lanjut
• Sumber: http://www.tribunnews.com/kominfo/2017/11/07/cara-
cerdas-mencegah-penyebaran-hoax-di-media-sosial?page=all
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
DAFTAR PUSTAKA
Dominick, J R. 2011. Eleventh Edition. The Dynamics of Mass
Communication. Media in Transition, Mc Graw Hill. hal 43-48
Mc Quails, Denis. 2010. Mc Quails Mass Communication Theory. Sage
Publisher. 107-132
David Croteau, William Hoynes. 2013. 2nd ed. Media/society :
industries, images, and audiences. Thousand Oaks, Calif. ; London
: Pine Forge Press, c2000
Baran. 2013 .Introduction to Mass Communication. McGraw Hill
International Edition
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB
Dellarosa, YD. 2011. Pemaknaan Penonton Terhadap Stereotip
Perempuan Dalam Program Televisi (Studi Pada Program ‘’Ala
Chef’’ Trans TV). CommLine. Jakarta
Sawira, Roro, Putra, Gde, & Baulch, Emma (2014). Citra Perempuan
Indonesia dalam Iklan Produk Provider [published in Indonesian].
Jurnal Perempuan, 19(2). This file was downloaded from:
http://eprints.qut.edu.au/78970/ c Copyright 2014 Jurnal
Perempuan
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – FEMA IPB