Kisah ke- 131: Tentang Sifat Kedermawaan
Diceritakan dari Abdullah bin Abas Ra, salah satu tokoh yang terkenal
dengan sifat kedermawanannya, bahwa pada suatu hari ia singgah di sebuah
rumah. Ketika itu, dari Hijaz ia hendak menuju ke Syam. Ia meminta kepada
penghuni rumah tersebut untuk memberikan makanan. Akan tetapi mereka tidak
mempunyai makanan sedikitpun. Lantas Abdullah Bin Abbas meminta kepada
wakilnya untuk pergi menelusuri kawasan tersebut guna mencari penggembala
ataupun daerah yang mempunyai susu ataupun makanan. Sang wakilpun
kemudian berlalu dengan ditemani penghuni rumah tadi. Dalam perjalanan,
mereka berjumpa dengan perempuan renta di suatu tempat. Kepada perempuan
tersebut mereka bertanya, “apakah engkau mempunyai makanan yang dapat kami
makan?” Perempuan itu menjawab bahwa ia hanya mempunyai sekedar makanan
untuk memenuhi kebutuhannya dan anak-anaknya, bukan untuk dijual. “Dimana
anak-anakmu?”, mereka melanjutkan pertayaannya. Perempuan tersebut
menjawab, “mereka sedang menggembala, sebentar lagi mereka datang”. “Apa
yang kamu persiapkan untukmu dan anak-anakmu?”, tanya mereka. “Sepotong
roti”, jawabnya. “Selain itu?” , mereka terus bertanya. “Tidak ada yang lain,
hanya itu saja”, jawab perempuan tua itu. “Bagaimana kalau separuhnya anda
berikan kepada kami?”, pinta mereka. “Kalau cuma separuh tidak akan saya
berikan, tapi kalau seluruhnya, silahkan ambil”, lajut perempuan itu. Dengan
keheranan mereka menimpalinya, “ Kalau kami meminta separuh, kamu tidak
mau memberikan, tapi justru engkau mau memberikan seluruhnya?” Dengan
tegas perempuan itu berkata,”Ya, karena memberi separuh itu kurang sedang
memberikan semuanya merupakan bentuk kesempurnaan dan keutamaan. Saya
tidak ingin melakukan suatu hal yang membuatku menjadi hina. Saya hanya ingin
berbuat hal yang dapat membuatku menjadi mulia”. Akhirnya mereka membawa
seluruh makanan yang ada. Perempuan itu sendiri tidak mengetahui siapa mereka
dan dari mana sebenarnya mereka datang. Ketika mereka sampai di hadapan
Abdullah bin Abbas, mereka segera menceritakan perihal roti tadi. Mendengar
hal itu, Abdullah Bin Abbas nampak keheranan. Kemudian ia berkata,”Bawa dia
kemari sekarang juga”. Mereka kembali menemuinya. “Ikutlah bersama kami
menghadap tuan kami, ia ingin sekali bertemu denganmu”, ajak mereka.
Perempuan itu bertanya, “Siapakah Tuanmu itu?” Mereka menjawab,”Ia adalah
Abdullah Bin Abbas”. “Saya tidak mengenal nama itu, siapakah dia?” Mereka
menjawab, “dia adalah paman Rasulullah Saw”. Dengan sedikit terperanjat
perempuan itu berkata,”sungguh, ini merupakan suatu kehormatan tinggi bagi
saya. Apa yang ia inginkan dariku?”. “Ia ingin memberimu imbalan atas budi
baikmu”, tukas mereka. Perempuan itu berkata,”kalau apa yang saya lakukan itu
adalah meupakan suatu kebaikan, saya tidak bermaksud mendapatkan imbalan.
Bukankan sudah menjadi kewajiban agar manusia saling membantu satu sama
lain?”. Tanpa berlama-lama, mereka kemudian membawa perempuan itu
menghadap Abdullah Bin Abbas. Ketika sampai, perempuan itu mengucapkan
salam. Setelah menjawab salam, Abdullah Bin Abbas duduk didekatnya dan
berkata, “Anda dari mana?”. “Saya berasal dari Bani Kalb”, jawabnya.
“Bagaimana keadaanmu?”, tanya Abdullah Bin Abbas. “Keadaanku baik-baik
saja. sedikit sekali saya tidur di malam hari. Saya memandang pelipur laraku
dalam setiap hal. Di dunia ini, tidak ada satupun yang belum aku dapatkan”.
Abdullah Bin Abbas kembali bertanya, “apa yang telah kamu persiapkan untuk
anak-anakmu jika mereka datang?” Perempuan tersebut menjawab, “aku telah
mempersiapkan untuk mereka apa yang diucapkan oleh Hatim al-Tho’i :
“Aku tidak ingin berlarut-larut dirundung rasa lapar, sehingga
dengannya aku akan mendapatkan jamuan lezat dari mereka yang berhati
mulia”
Mendengar jawaban perempuan itu, Abdullah Bin Abbas semakin
terperanjat kagum seraya berkata,”jikalau anak-anakmu datang dalam keadaan
lapar, apa yang akan engkau lakukan?”. Ia menjawab,”betapa aku telah
mempersembakan untukmu sepotong roti yang dengannya engkau merasa perlu
menyampaikan pujian”. Abdullah Bin Abbas lantas memerintahkan pengawalnya
untuk membawa anak-anaknya kehadapannya. Ketika telah semakin dekat,
mereka melihat ibunya. Setelah mengucapkan salam, Abdullah Bin Abbas
meminta mereka untuk mendekat. Ia berkata,”saya memanggil kalian dan ibu
kalian kesini bukan bermaksud untuk menbuat kalian menjadi resah. Saya ingin
membuat hidup kalian menjadi lebih baik, tidak berlarut dalam penderitaan”.
Mendengar perkataan Abdullah Bin Abbas, mereka berkata,”sungguh, hal seperti
ini jarang sekali dilakukan. Ia hanya dilakukan sebagai balas jasa atas perbuatan
yang dilakukan sebelumnya”. “Tidak seperti itu, lanjutnya. Saya melakukan hal
ini karena saya telah turut menginap di rumah kalian pada malam ini. Karenanya,
saya ingin memberikan sebagia harta yang aku punya untuk kalian”. Mereka
menimpali,”kami merasa hidup kami sudah lebih dari cukup. Berikan saja kepada
orang yang lebih berhak menerimanya. Jika anda bermaksud berbuat baik bukan
sebagai balas jasa atas perbuatan yang dilakukan sebelumnya, maka hal itu akan
dicatat sebagai kebaikan yang akan mendapatkan pahala”. “Ya, itulah yang saya
maksud”, kata Abdullah Bin Abbas menegaskan. Kemudian, Abdullah Bin Abbas
memerintahkan pengawalnya untuk menyerahkan sepuluh ribu dirham dan
duapuluh ekor untuk kepada mereka. Perempuan tua tadi lalu memerintahkan tiap
anaknya untuk melantunkan sebaris syair yang akan diikuti olehnya.
Anak yang paling besar mengucapkan, “aku perlihatkan kepadamu
untaian kata yang manis, perangai mulia dan sepotong roti yang enak”.
Anak yang tengah melanjutkan,”saya berderma dengan suatu kebajikan
sebelum diminta, suat perilaku baik yang hanya dilakukan oleh mereka yang
mulia hatinya”.
Anak terakhir menimpali,”barang siapa berbuat demikian, sungguh ia
telah mencuri hati manusia”.
Dan terakhir kali, ibunya berkata, “Semoga Allah yang Maha Agung
melindungimu dari segala hal yang dapat membahayakanmu”.
Kisah ke- 132: Tentang Keutamaan Bersedekah
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa pada suatu hari Abdullah Bin
Mubarok bermaksud menunaikan Ibabah Haji. Ketika ia sampai di Kufah, ia
melihat seorang perempuan memungut seekor angsa dari seonggok sampah.
Dalam pikirannya, ia berkata bahwa angsa tadi sudah menjadi bangkai. Ia pun
terus memperhatikannya dan kemudan bertanya,”Apakah hewan ini bangkai atau
mati karena disembelih?”. Tanpa ragu perempuan itu menjawab,”ini adalah
bangkai yang akan makan bersama keluarga saya di rumah”. “Bukankan Allah
telah mengharamkan bangkai, tapi mengapa di negeri ini kamu memakannya?”,
sergahnya. Dengan agak jengkel perempuan itu berkata,”pergilah kamu dari sini”.
Namun Abdullah Bin Mubarok terus mengulang pertanyaannya sampai
perempuan itu membuka mulutnya. “Saya mempunyai tiga orang anak. Sudah tiga
hari mereka tidak makan”. Mendengar jawaban itu, Abdullah Bin Mubarak
bergegas pulang. Kemudian, ia kembali lagi dengan membawa seekor unta yang
penuh dengan makanan, pakaian dan perbekalan lainnya. Ketika sampai di depan
rumah perempuan tadi, ia mengetuk pintu. Setelah dibukakan pintu, ia menggiring
untanya masuk ke rumah tersebut. Kepada perempuan itu ia berkata, “Ambillah
makanan, pakaian, perbekalan dan juga unta ini untukmu”. Setelah itu, untuk
beberapa hari ia singgah di rumah tersebut karena waktu pelaksanaan ibadah haji
telah usai. Ketika rombongan haji pulang, ia ikut pulang bersama mereka.
Masyarakatpun menyambut kedatangannya dengan penuh suka cita seraya
mengucapkan selamat. “Tahun ini, saya tidak menunaikan ibadah haji”, ujarnya.
Seseorang berkata,”Subhanallah, bukankah aku menitipkan perbekalanku
kepadamu ketika kami pergi kemudian aku mengambilnya kembali darimu ketika
di Arafah? Yang lainnya berkata,”bukankan kamu yang telah memberi aku minum
di suatu tempat?”. Yang lainnya berkata,”bukankan kamu telah membelikan
untukku di suatu tempat?”. Dengan dipenuhi kebingungan ia berkata, “Saya tidak
paham dengan semua yang kalian katakan. Tahun ini, saya tidak melaksanakan
ibadah haji”. Ketika malam tiba, dalam tidurnya ia bermimpi mendengar suara
berkata kepadanya,”Hai Abdullah Bin Mubarak, Sungguh Allah telah menerima
sedekan yang telah engkau berikan kepada perempuan tempo hari. Ia telah
mengutus seorang Malaikat dalam bentukmu untuk menggantikan hajimu”.
Kisah ke- 133: Tentang Peristiwa Yang terjadi Pada Ibunda Nabi
Muhammad Menjelang Kelahiran Beliau
Diriwayatkan dari Aminah, Ibunda Nabi Muhammad Saw, bahwa dalam
tidurnya, ia melihat seseorang berkata kepadanya: “Engkau telah mengandung
bayi yang akan menjadi manusia terbaih di muka bumi. Jika tiba saat kelahirannya
kelak, berikan ia nama Muhammad. Dan gantungkanlah padanya perisai ini”.
Aminah berkata,”setelah itu, aku terjaga. Dan saya melihat di kepala saya ada
papan yang terbuat dari emas bertuliskan” :
Aku memohonkan perlindungan untuknya dengan Dzat Yang Maha Esa, dari
kejahatan setiap pihak yang hendak berbuat jahat, yang dilakukan oleh mereka
yang duduk maupun berdiri, dari golongan jin yang selalu berusaha mengganggu
perjalanan.
Dengan sifat Keluhurannya yang Maha Tinggi, Ia mencegah segala tindak
kejahatan yang hendak mereka lakukan. Dengan kekuasaan-Nya yang Agung, Ia
melindunginya. “kekuasaan Allah melebihi kekuasaan mereka”. Tirai penghalang
Allah tidak akan dapat mereka tembus. Mereka tidak dapat mengetuk dan
mencelakainya baik pada malam ataupun siang hari, dengan duduk maupun
berdiri, pada bagian-bagian malam ataupun siang hari sepangjang masa. Pada saat
kelahiran beliau, terdengar ada suara berseru, “bawalah Muhammad berkeliling
mengitari segala penjuru bumi, ke tempat-tempat kelahiran para Nabi.
Perlihatkanlah Ia pada setiap makhluk bernyawa; manusia, Jin, Malaikat, burung,
dan hewan-hewan buas lainnya. Ajarkan kepadanya tentang penciptaan Adam,
pengetahuan Nabi Syaits, keberanian Nuh, sifat kasih Ibrahim, tutur kata Isma’il,
kerelaan Ishaq, kefasihan Sholih, hikmah yang diberikan kepada Nabi Luth, berita
gembira Nabi Ya’kub, ketampanan wajah Nabi Yusuf, sifat tegas Nabi Musa,
kesabaran Nabi Ayyub, ketatan Nabi Yunus, perjuangan Yusya’, suara merdu
Nabi Daud, kecintaan Daniel, kemuliaan Nabi Ilyas, sifar ma’shum Nabi Yahya,
dan sifat zuhud Nabi Isa. Hiasilah akhlaknya dengan segala akhlak para Nabi.
Kisah ke-134: tentang keajaiban yang terjadi pada Nabi Khidlir
Pada suatu ketika, saat Nabi Khidlir ditanya, hal apakah yang paling
berkesan yang pernah engkau lihat? Beliau menjawab, “yang paling berkesan
bagiku ialah ketika pada suatu hari aku berjalan di suatu daerah gersang, setelah
limaratus tahun kemudian ketika aku kembali melewatinya, aku mendapati kota
besar nan indah. Disekelilingnya penuh dengan bermacam pepohonan dan sungai-
sungai yang mengalir. Lalu aku bertanya kepada penduduk kota itu, “sejak tahun
berapa engkau mengubah kota ini menjadi demikian makmur dan sejahteranya?
Orang itu menjawab, “subhanallah, kami dan para Bapak serta nenek moyang
kami hanya mengetahui keadan kota yang seperti ini, makmur dan sejahtera”.
Akupun kembali berlalu. Limaratus tahun kemudian, ketika aku kembali melewati
daerah itu, aku mendapati hamparan lautan luas. Terlihat seorang nelayan sedang
mencari ikan. Aku menghampirinya dan bertanya,”ke manakah kota yang dahulu
indah, makmur dan sejahtera di sini?” Ia menjawab,”Subhanallah, adakah kota
yang engkau maksudkan di sini? Kami, para Bapak, serta nenek moyang kami
tidak pernah mendengar akan hal itu”. Limaratus kemudian, ketika aku kembali
melewati daerah itu, aku mendapati kota megah nan indah sebagaimana pertama
kali aku lihat. Maha Suci Allah, yang tidak pernah lekang, layu dan berubah oleh
zaman.
Kisah ke- 135: Tentang mu’jizat Nabi Isa As.
Pada suatu hari, Nabi Isa As memberitahukan kepada anak-anak perihal
makanan yang dimakan oleh para orang tua mereka. Mendengar berita itu, mereka
mendatangi para orang tua mereka untuk minta makanan sebagaimana yang
mereka makan. Para orang tua itu bertanya,”dari mana kalian tahu akan hal ini,
siapa yang memberi tahu?” Mereka menjawab,”Isa”. Setelah itu, mereka sengaja
menjauhkan anak-anaknya dari Isa. Anak-anak itu di kumpulkan dalam suatu
ruangan luas. Menyaksikan hal itu, Isa bertanya,”di mana anak-anak kalian,
apakah mereka ada di ruangan ini?” “Tidak, jawab mereka, yang ada di dalam
hanyalah sekawanan kera dan babi”. Isa pun berkata,”Insya Allah, mereka akan
berubah menjadi kera dan babi”. Ketika mereka membuka pintu, mereka
mendapati anak-anak mereka telah berubah menjadi sekawanan kera dan babi.
Kisah ke- 136: Tentang Asal Muasal Bazr ar-Raihan al-Farisi (jenis
tumbuhan)
Dalam suatu kisah disebutkan , ada seekor ular masuk ke tempat tidur sang
Raja. Melihat hal itu, para pembantunya bermaksud membunuhnya. Akan tetapi,
sang Raja melarang. Ia justru memerintahkan pembantunya untuk mengikuti
kemana ular itu bergerak. Ketika ular itu sampai pada sebuah sumur, terlihat ia
berulangkali menengok ke dalam sumur dan pembantu itu. Melihat gelagat
demikian, pembantu itu mengerti apa yang dimaksudkan. Kemudin ia mendekati
sumur itu. Di sana terlihat seekor ular mati. Seekor kalajengking bersarang
diatasnya. Pembantu itu lalu mendekati kalajengking itu dan membunuhnya.
Setelah itu, ular tadi kembali menghadap sang Raja. Dari mulutnya, ia
menjulurkan benih untuk diberikan kepada sang Raja. Lalu sang Raja menanam
benih tersebut. Dari benih itu, tumbuh tanaman yang mengeluarkan bau harum
semerbak (Raihan al-Farisi). Setiap kali sang Raja merasa demam, ia selalu
menjadikannya sebagai obat. Dan setiap kali itu pula, sang Raja sembuh dari
penyakit yang dideritanya.
Kisah ke-137: Tentang Keutamaan Bersedekah
Pada suatu ketika, A’isyah Ra istri Nabi, membeli seorang perempuan
untuk dijadian sebagai pembantu (jariyah). Melihat hal itu, Jibril datang menemui
Nabi untuk memberikan teguran, “Wahai Muhammad, keluarkan perempuan itu
dari rumahmu. Ia adalah calon penghuni neraka”. Akhirnya, A’isyah Ra
mengeluarkan perempuan tersebut. Ia membekalinya dengan beberapa buah
korma. Separoh ia makan ketika dalam perjalanan. Separohnya lagi ia berikan
kepada seorang fakir yang ia temui di jalan. Untuk kedua kalinya Jibril kembali
medatangi Nabi. Ia menyuruh Beliau untuk memanggil kembali perempuan tadi
dengan alasan bahwa ia telah tercatat sebagai calon penghuni surga berkat
sedekah korma yang telah ia berikan.
Kisah ke- 138: Masih Tentang Keutamaan Bersedekah
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abas Ra. Beliau bercerita tentang krisis
dan bencana kelaparan perkepanjangan yang terjadi di Madinah. Serombongan
pedagang dari Syam dengan membawa dagangannnya mendatangi Utsman bin
Affan. Kemudian, para pedagang kota Madinah datang menemui Utsman untuk
membeli barang-barang itu. Ustman mengatakan kepada mereka, “berapa laba
yang akan kamu berikan kepadaku?” Mereka menjawab, “kami akan memberimu
laba dua dirham untuk tiap sepuluh barang ini”. Ustman kembali menimpali,”ada
yang berani memberiku laba lebih besar”. “Baiklah, kami akan memberimu laba
empat dirham untuk tiap sepuluh barang ini”, lanjut mereka. “Ada yang berani
memberiku laba lebih dari itu”, Utsman kembali melanjutkan. Mereka
menjawab,”kami adalah para pedagang kota Madinah, siapakah yang berani
memberimu laba lebih dari yang kami berikan?”. Utsman
menjawab,”sesungguhnya Allah memberiku laba untuk harga setiap dirham
dengansepuluh kali lipatnya, ketika makanan ini aku sedekahkan kepada fakir
miskin”. Ibnu Abbas berkata,”ketika aku tidur, aku bermimpi melihat Nabi
mengendarai bazdun Ablaq (sejenis Rajawali yang berbulu warna-warni) dan
berhiaskan sutera putih mengkilat. Beliau nampak tergesa-gesa. Aku berkat
kepadanya,”wahai Rasulullah, aku sangat ingin berjumpa denganmu”. Beliau
menjawab,”wahai Ibnu Abbas, Utsman telah bersedekah dan sedekahnya diterima
oleh Allah. Allah membalasnya dengan menikahkannya dengan bidadari di surga.
Kami diundang untuk menghadirinya.
Kisah ke- 139: Tentang Keramat Para Wali
Seorang Ulama besar bertamu kepada salah seorang pedagang di kota
Iskandariyah. Pedagang tersebut menyambutnya dengan penuh suka cita. Di
rumah itu, pandangan Ulama tersebut tertuju pada gambar sang pedagang yang
duduk di atas singgasana dengan dua permadani berharga dari negeri Romawi
memenuhi hampir seluruh sudut singgasana. Ulama itu meminta agar sang
pedagang memberikan kedua permadani itu kepadanya. Akan tetapi, pedagang
tadi nampak keberatan seraya berkata,”Tuan, kalau anda mau, silahkan ambil apa
yang anda mau, asalkan jangan kedua permadani itu”. Ulama tadi menjawab,”saya
hanya menginginkan kedua permadani itu”. “Kalau memang begitu, ambillah
salah satunya”, ujarnya. Akhirnya Ulama tersebut keluar dengan membawa satu
dari permadani tadi. Pedagang tersebut mempunyai dua orang anak. Merek sedang
bepergian ke negeri Hindia dengan mengendarai kapal yang berbeda. Beberapa
saat kemudian, sang ayah (pedagang) mendengar kabar bahwa salah satu anaknya
beserta seluruh barang yang ia bawa tenggelam dalam sebuah kecelakaan. Tidak
lama kemudian, yang satunya tiba dengan selamat. Ketika ia telah sampai di
dekat Iskandariyah, ayahnya hendak menemuinya di tengah kota. Pedagang itu
melihat permadani indah yang pernah dibawa oleh seorang Ulama. Dengan
penasaran ia menanyakan hal itu kepada anaknya, “dari mana kamu mendapatkan
permadani ini?”. Anaknya menjawab,”ayah, ceritanya sangat mengherankan dan
penuh dengan suatu pertanda”. “Coba kamu ceritakan kepadaku, wahai anakku!”,
pinta sang ayah. “Kami berdua pergi pada saat keadaan angin dari negeri Hindia
membaik. Kami menaiki kapal yang berbeda. Ketika sampai di tengah-tengah
lautan, angin berhembus dengan amat kencang. Keadaan menjadi tak terkendali
dan kedua kapal yang kami tumpangi pecah. Semua orang di setiap kapal sibuk
dengan dirinya sendiri. Pada saat itu, kami hanya bisa pasrah kepada Allah. Di
tengah-tengah suasana yang sedang kacau balau, nampak seorang tua dengan
membawa permadani ini. Lalu kami mencoba menggunakannya untuk menahan
kapal kami. Akhirnya kapal kami dapat menepi dengan selamat. Barang-barang
kami tetap utuh. Lalu kami membetulkan kapal kami”. “Hai anakku, apabila kamu
bertemu dengan orang itu, apakah kamu dapat mengenalinya?”, tanya sang ayah.
“Ya”, jawabnya. Keduanya lantas mencari orang tua itu. Ketika sang anak
melihatnya, serentak ia berteriak dengan keras,”Ayah, itu orangnya!” Sang ayah
hampir jatuh pingsan. Orang tua itu mencoba menenangkannya. Setelah tenang,
sang ayah berkata, “Tuan, mengapa anda tidak mengatakan yang sebenarnya.
Kalau saya tahu, kedua permadani tersebut akan saya berikan semuanya kepada
anda. Astaghfirullah al-‘Adzim. Begitulah yang Allah Takdirkan.
Kisah ke- 140: Tentang Keutamaan Bersedekah Kepada Orang Yang Sudah
Meninggal
Sholih al-Marsi mengisahkan,”Pada suatu malam jum’at, saya hendak
menunaikan shalat Fajar di Masjid Jami. Ketika melewati sebuah pemakaman,
saya berfikir alangkah baiknya kalau saya di sini sampai tiba waktu Fajar. Setelah
shalat dua rakaat, rasa kantuk menghinggapiku dan kemudian saya tertidur. Saya
bermimpi seakan-akan semua penghuni kubur telah keluar dari kuburnya dengan
memakai baju serba putih. Mereka berkumpul membentuk satu majlis sambil
berbicara satu sama lain. Diantara mereka, terlihat seorang pemuda dengan
memakai pakaian lusuh duduk menyendiri termangu-mangu. Ia nampak
kebingungan. Tidak lama kemudian, datanglah berbagai makanan dalam baki
yang ditutup sapu tangan. Setiap orang mendapatkan satu baki untuk kemudian
kembali ke kuburnya masing-masing. Sementara itu pemuda tadi tidak
mendapatkan apa-apa. Dengan perasaan sedih, ia bermaksud masuk kembali ke
kuburnya. Saya sempatkan untuk bertanya kepadanya,”Hai Abdullah, mengapa
engkau nampak murung. Apa arti semua ini sebenarnya? Ia bertanya
kepadaku,”Kamu melihat baki-baki tadi?”. “Ya”, jawabku. “Itu adalah
persembahan mereka yang masih hidup kepada mereka yang sudah meninggal.
Setiap kali mereka bersedekah dan berdo’a untuk mereka, sebagaimana yang
engkau lihat, baki-baki tersebut akan mereka terima pada malam jum’at.
Sedangkan saya adalah orang asing penduduk negeri Hindia. Dari Bashrah, saya
hendak menunaikn ibadah haji bersama ibu saya. Namun, di tempat ini aku
meninggal dunia. Sedang ibuku menikah lagi. Ia sibuk dengan suaminya tanpa
sedikitpun peduli untuk memberi sedekah ataupun do’a untukku. Ia seakan tidak
pernah mempunyai anak. Ia telah tenggelam dan larut dalam gemerlap dunia.
Maka, wajar kiranya jika aku bersedih, karena tak seorang pun yang peduli
denganku”. Saya bertanya,”di mana tempat tinggal ibumu?”. Ia memberitahu
perihal tempat tinggal ibunya. Ketika pagi tiba, setelah saya shalat subuh, saya
bergegas mencari tahu tempat sebagaimana yang disebutkan pemuda yang saya
jumpai dalam mimpi. Setelah ketemu, saya mengetuk pintu rumah itu. Seorang
perempuan terdengar berteriak,”siapa di luar?”. “Saya, Shalih al-Marsi”, jawabku.
Setelah ia mempersilahkan aku untuk masuk, aku mulai berbicara. “saya ingin
tidak seorangpun mendengar apa yang kita bicarakan”. Lalu saya mendekati tirai
yang ada, seraya bertanya,”semoga Allah melimpahkan Rahmat-Nya kepadamu.
Apakah engkau mempunyai anak laki-laki?”. “Tidak”, Jawabnya. “Maksudku,
anak laki-laki yang telah meninggal?”, lanjutku. Ia menjawab,”Ya, dulu aku
mempunyai seorang anak laki-laki. Ia meninggal dalam usia yang masih muda”.
Lalu aku menceritakan semua kisah yang saya alami. Mendengar itu semua,
matanya nampak sembab. Air matanya mulai menetes di pipi. “Dia adalah darah
dagingku. Aku telah mengandungnya. Memberinya minum dengan air susuku”,
ujarnya dengan terisak. Ia memberiku uang sebanyak seribu dirham. “Tolong
sedekahkan ini untuk anakku tercinta. Demi Allah, aku tidak akan lupa lagi untuk
bersedekah dan berdo’a untuknya sampai ajal menjemputku”, pintanya. Shalih
berkata,”setelah itu, shalih pergi untuk mensedekahkan uang tadi”. Pada malam
jum’at berikutnya, ketika saya hendak pergi ke Masjid Jami’ untuk menunaikan
shalat fajar, kembali aku singgah di makam itu. Di tempat yang sama, saya shalat
dua rakaat sampai akhirnya tertidur. Saya bermimpi melihat para penghuni kubur
sebagaimana sebelumnya. Nampak pemuda yang dulu berpakaian lusuh dengan
raut muka bersedih, kini berpakaian serba putih bersih. Ia kelihatan begitu
gembira. Ia mendekatiku dan berkata,”aku berterimakasih kepadamu wahai
shalih. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan yang lebih baik. Hadiah itu
telah saya terima”. Akupun bertanya, “tahukah kamu keadaan di sini di waktu
jum’at siang?”. Ia menjawab,”Ya, bahkan burung-burung pun mengetahuinya dan
bersenandung, salam, salam.
Ujaran: A’isyah berkata,”Wahai Rasulullah, hal apakah yang apabila
seseorang memintanya, harus kita berikan?”. Rasul menjawab,”air, garam, dan
api”. A’isyah melanjutkan,”kalau air kami mengetahui kegunaannya, tapi
bagaimana halnya dengan garam dan api?”. Rasul menjawab,”barangsiapa
bersedekah garam, maka seakan ia telah bersedekah dengan segala rasa yang
ditimbulkan oleh garam. Dan barangsiapa bersedekah api, maka seakan ia
bersedekah dengan masakan yang dimasak dengan api tersebut. Siapa yang
memberi seteguk minuman kepada orang muslim ketika tidak ada air yang ia
dapatkan, maka seakan ia telah memberinya kehidupan”. Beliau melanjutkan,”ada
empat hal barakah yang Allah turunkan dari langit ke bumi; air, garam, api, dan
besi”.
Kisah ke- 141: Tentang Mencela Dunia dan Memuji Akhirat.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah berdialog dengan Musa As
dengan seratus empatbelas ribu kata dalam tiga hari. Salah satu diantaranya
ialah,”wahai Musa, belum ada orang yang dalam berbuat, ia zuhud dengan
dunianya. Apabila ia mendekati-Ku, ia berhati-hati dengan segala hal yang Aku
haramkan. Apabila ia menyembah-Ku, air matanya selalu menetes karena takut
kepada-Ku”. Musa bertanya,”Wahai Tuhan, pahala apakah yang Engkau
persiapkan untuk mereka?”. Allah menjawab,”Musa, orang-orang zuhud Aku
persilahkan untuk masuk ke dalam surga-Ku dan menempati tempat sekehendak
hati mereka. Mereka yang wira’i akan Aku masukkan ke dalam surga tanpa hisab.
Mereka yang menangis ketika beribadah kepada-Ku, akan Ku tempatkan di
tempat yang tinggi, yang tidak dihuni siapapun”. Ada yang berkata,” setiap hari,
iblis selalu menawarkan dunia kepada manusia. “siapa yang hendak membeli
barang yang akan membuatnya menjadi sengsara, tidak berguna sedikitpun.
Membuatnya menjadi gelisah, tidak merasa senang sedikitpun”. Mereka, para
pecinta dunia dengan tegas mengatakan,”Kami”. Iblis kembali mengatakan,”perlu
kalian ketahui, kalian tidak dapat membayar dunia ini dengan dirham, maupun
dinar. Akan tetapi kalian dapat membayarnya dengan bagianmu di surga. Saya
telah membelinya dengan empat hal; dengan laknat Allah, dengan kemurkaan
Allah, dengan adzab Allah, dan dengan menggadaikan surga”. Mereka
menjawab,”dengan senang hati kami terima semua itu”. “Saya ingin membuat
kalian mendapatkan keuntungan”, ujar iblis. Mereka menimpali,”ya”. Akhirnya
iblispun menjual dunia kepada mereka. Sungguh, sebuah perdagangan yang
sangat buruk.
Kisah ke- 142: Tentang Keutamaan berbuat adil.
Pada suatu ketika, khalifah al-Makmun mendengar berita tentang sifat adil
Raja Kisra. Ia berkata,”saya mendengar, bahwa bumi tidak akan membuat lapuk
jasad para raja yang berlaku adil dalam memerintah. Saya ingin menguji
kebenaran berita ini”. Tanpa ditemani seorangpun, ia menuju ke negeri Raja
Kisra. Dengan tangannya ia menggali kubur. Ketika ia membuka penutup
wajahnya, ia terperanjat. Ia melihatwajah yang amat rupawan dengan pakaian
yang melekat masih tetap utuh, tidak berubah sedikitpun. Di tangannya melingkar
cincin yang terbuat dari permata merah yang tidak dipunyai oleh Raja di manpun.
Di sana terdapat tulisan dengan menggunakn bahasa Persia. Khalifah al-Makmun
benar-benar merasa heran. Ia berkata,”Dia adalah orang majusi, penyembah api.
Tapi Allah tidak menyia-nyiakan sikap adilnya kepada rakyat ketika memerintah”.
Kemudian ia meminta seseorang untuk menutup jasadnya dengan mutiara
bercampur emas sebelum memasukkannya kembali ke kuburnya seperti sedia
kala. Bersama Al-Makmun ada seorang pembantu yang suka menipu. Ketika al-
Makmun lalai, pembantu itu mengambil cincin tadi. Dan begitu al-Makmun
mengetahui apa yang dilakukan pembantunya, ia mencambuknya seribu kali. Lalu
ia melemparnya ke tiang, dan kembali memasangkan cincin tersebut ke jari Raja
Kisra. “Pembantu ini ingin mengadu domba kami dengan para Raja di luar Arab
agar mereka mengatakan bahwa al-Makmun adalah seorang penggali kubur
(Nabbasy). Setelah itu, al-Makmun memerintahkan untuk memagari dan
mengunci kuburan tersebut agar tidak dibuka kembali.
Kisah ke- 143: Tentang Asal Muasal Terbitnya buku “Kisah Seribusatu
Malam” (Alfu Lailah wa Lailah).
Dikisahkan bahwa ada seorang Raja Persia, setiap kali menikahi
perempuan dan menggaulinya selama satu malam, maka pada malam berikutnya
ia akan membunuhnya. Akhirnya, menikahlah ia dengan seorang jariyah yang
mempunyai cukup kecerdasan. Ketika sang Raja mulai mencumbunya, ia bercerita
dengan kisah-kisah yang berbau khurafat hingga malam semakin larut. Hal itu
menyebabkan sang Raja merasa penasaran untuk mendengarkan kisah tersebut
sampai selesai. Malam berikutnya, sang Raja memintanya untuk melanjutkan
cerita. Demikian, sampai berlangsung selama seribu satu malam. Selama itu pula,
sang Raja menyetubuhinya hingga ia mengandung seorang bayi. Akhirnya, ia
memperlihatkan kandungannya kepada sang Raja. Iapun mengakui segala ‘tipuan’
yang ia lakukan kepada sang Raja. Sang Raja membiarkannya. Ia justru semakin
jatuh hati kepadanya. Kemudian, sang Raja menulis kisah nyata tersebut dan
memberinya judul Alfu Lailah wa Lailah”. Seluruh isi buku tersebut hanya berisi
kisah-kisah fiktif belaka. Ada yang mengatakan, bahwa buku tersebut merupakan
awal mula merebaknya tradisi khurafat di Persia. Wallâhu Anak laki-laki’lam.
Kisah ke- 144: Tentang Pentingnya Ikhlas Dalam Setiap Perbuatan.
Dalam sebuah peperangan, shahabat Ali berhadap-hadapan dengan
seseorang. Ketika ia berhasil menjatuhkannya, ia duduk di atas dadanya untuk
memenggal kepalanya. Ketika itu, orang tersebut meludahi wajah Shahabat Ali.
Beliau pun berdiri meninggalkannya. Ketika ditanya, beliau menjawab,”ia telah
meludahi wajahku. Saya khawatir kalau saya membunuhnya –dibilang- sebagai
balas dendam atas perbuatan yang ia lakukan kepadaku. Saya hanya ingin
membunuh semata-mata ikhlas karena Allah”.
Kisah ke- 145: Tentang Menghormati Tamu.
Seorang shalih mengatakan,”termasuk kebiasaan kami adalah tidak
mengunjungi perempuan. Ketika saya mendengar berita tentang adanya seorang
perempuan shalihah yang mempunyai sejumlah keramat di suatu negeri, saya
merasa perlu mengunjunginya untuk menyaksikan sendiri keramat tersebut, yaitu
berupa seekor kambing yang dapat menghasilkan air susu dan madu sekaligus.
Sesampainya di desa tersebut, saya membeli cawan. Saya mendatanginya seraya
mengucapkan salam. Lalu saya katakan maksud hati saya untuk melihat kambing
yang ada padanya. “Silahkan, dengan senang hati”, ujarnya mempersilahkan. Ia
mendorong kambing tersebut dan mulai memerah air susu dan madu darinya
untuk kami minum. Menyaksikan hal itu, saya sungguh merasa heran. Lalu saya
memintanya untuk bercerita. “Dahulu, kami mempunyai seekor kambing. Kami
selalu memerah air susunya untuk anak-anak kami ketika tidak ada sesuatu yang
dapat kami makan. Ketika hari raya tiba, suamiku meminta agar menyembelih
kambing tersebut untuk menyambut kedatangannya. Saya jawab,”Jangan lakukan
itu. Allah telah memberikan keringanan pada kita untuk tidak menyembelihnya.
Dia Maha Tahu akan kebutuhan-kebutuhan yang kita perlukan”. Akhirnya,
suamiku urung menyembelih kambing tersebut. Namun, bertepatan dengan itu,
salah seorang tamu datang ketika kami tidak mempunyai makanan untuk
menjamunya. Akhirnya saya katakan kepada suami saya,”kalau ada tamu, kita
harus menghormatinya. Ambil dan sembelihlah kambing itu, meskipun saya
khawatir anak-anak kita akan menangis. Bawa ia keluar dan sembilihlah di balik
dinding agar mereka tidak melihatnya. Ketika darah telah mengalir, saya melihat
seekor kambing melompat dari balik dinding. Saya menduga bahwa kambing itu
lari ketika hendak disembelih. Karena penasaran, akhirnya saya keluar untuk
memastikannya. Namun ternyata, saya melihat suami saya sedang sibuk
mengulitinya. “Sungguh suatu keajiban” ujarnya. “Ternyata Allah memberikan
ganti yang lebih baik. Ketika kami hendak memerah susunya, ternyata kambing
itu mengeluarkan air susu dan madu sekaligus. Dahulu, kambing yang kami
punyai hanya dapat mengeluarkan susu. Sekarang, kami mendapat ganti seekor
kambing yang dapat mengeluarkan air susu dan madu sekaligus berkat sikap
hormat kami untuk memuliakan tamu”.
Kisah ke- 146: Tentang Makna Firman Allah ‘Fa Man Ya’mal Mitsqala
Dzarratin Khairan Yarahu’.
Sebuah riwayat menyebutkan bahwa dua Malaikat bertemu di langit ke
empat. Salah satu diantarnya bertanya pada yang lainnya,”hendak kemanakah
kamu?”. “Saya hendak menyaksikan suatu hal yang mengagumkan”, jawabnya.
“Di suatu negeri ada seorang yahudi sedang dalam keadaan sekarat menginginkan
seekor ikan. Di lautan sekitar mereka, tidak didapatkan seekor ikanpun. Akhirnya
Allah mengutusku untuk mengirim dua ekor ular guna menangkap ikan yang
mereka butuhkan. Demikianlah, karena setiap kali yahudi tersebut melakukan
suatu amal kebajikan, Allah selalu segera membalasnya di dunia. Hanya ada satu
kebaikan tersisa. Dan Allah pun hendak memenuhinya hingga ia akan
meninggalkan dunia tanpa membawa satu kebaikan pun”. Malaikat lainnya
mengatakan,”Allah juga mengutusku untuk suatu hal yang mengagumkan. Di
suatu negeri, terdapat seorang shalih yang setiap kali ia melakukan suatu
perbuatan jahat, Allah selalu segera menjatuhkan sanksi di dunia kepadanya.
Menjelang wafatnya, ia menginginkan sedikit minyak. Ketika itu hanya ada satu
kesalahan yang ia perbuat yang belum ia terima sanksinya. Allah mengutusku
agar menumpahkan minyak yang ia inginkan. Iapun akhirnya tidak
mendapatkannya. Dan dengan begitu, Allah telah menghapus dosa atas kesalahan
yang ia perbuat. Akhirnya, ia menemui ajalnya tanpa membawa satu beban
dosapun”. Muhammad Bin Ka’ab berkata,”inilah makna firman Allah ‘Fa Man
Ya’mal Mitsqala Dzarratin Khairan Yarahu...’. Artinya orang kafir, setiap kali
melakukan suatu perbuatan baik, ia akan segera mendapatkan balasannya di
dunia. Sebaliknya, seorang mukmin, setiap kali ia melakukan kesalahan, Allah
pun akan menjatuhkan sanksi di dunia, tidak di akhirat.
Kisah ke- 147: Tentang Peristiwa Nabi Sulaiman As. bersama seekor semut.
Ketika Nabi Sulaiman As. melewati lembah yang dihuni oleh sekawanan
semut, ia mendengar seekor semut berkata kepada teman-temannya dengan nada
khawatir,”wahai semut, masuklah kalian ke rumah-rumah kalian...”(al-Ayah).
Ketika Nabi Sulaiman As mengucapkan salam kepada semut itu, ia
menjawab,”Alaika as-Salam wahai makhluk fana yang sibuk dengan
kekuasaannya. Saya hanyalah seekor semut yang tak berdaya. Di belakang saya
terdapat empatpuluh ribu pembantu. Setiap pembantu mempunyai empatpuluh
barisan. Dan panjang tiap barisan ialah jarak antara timur dan barat”. Nabi
Sulaiman bertanya, “mengapa kalian memakai pakaian serba hitam?”. Ia
menjawab,”karena dunia hanyalah ladang ujian. Hitam melambangkan duka cita”.
“Tiang apakah yang ada di tengah-tengah kalian ini?”, lanjut Sulaiman. “Ini
adalah tempat untuk beribadah kepada yang Maha Kuasa”, jawabnya. “Mengapa
kalian menjauh dari manusia?”, tanya Sulaiman. Mereka menjawab,”mereka itu
termasuk makhluk yang sering lalai. Lebih baik kami menjauhinya”. Mengapa
kalian telanjang”, tanya Nabi Sulaiman. Mereka menjawab,”kami lahir ke dunia
dalam keadaan telanjang. Begitu pulalah keadaan kami kelak ketika
meninggalakannya”. “Berapa biji makanan yang dimakan oleh seekor semut?”,
lanjut Nabi Sulaiman. “Tiap ekor memakan satu atau dua biji”, tukas semut.
“Mengapa cuma sedikit”, tanya Sulaiman penasaran. “Kami selalu melakukan
perjalanan. Layaknya musafir, semakin ringan beban yang ia bawa, semakin
ringan pula ia berjalan”, jawab semut. “Apakah kamu membutuhkan sesuatu?”,
Nabi Sulaiman menawari. “Kamu hanyalah makhluk yang tidak berdaya. Saya
enggan menerima bantuan dari orang yang ia sendiri membutuhkan bantuan”,
kilah semut. “Kamu harus meminta bantuan dariku”, desak Nabi Sulaiman.
“Kalau memang kamu bisa, tambahlah rizkiku dan panjangkan umurku”, pinta
semut. “Mintalah sesuatu yang ada padaku”, sergah Sulaiman. Semut itu
berkata,”yang dapat mengabulkan permohonan hanyalah Allah”. Nabi Sulaiman
kembali bertanya,”siapa namamu?”. “Namaku Mundzirah, aku ditugaskan untuk
mengingatkan teman-temanku agar tidak terpedaya oleh dunia”, jawabnya.
“Wahai Sulaiman, apakah yang dapat kamu banggakan dari kekuasaan yang
diberikan kepadamu?”, tanyanya. “Cincin. Ia diberikan kepadaku dari surga”.
“Anda tahu maknanya?”, tanya semut. “Tidak”, jawab Sulaiman. “Artinya ialah
bahwa kekuasan dunia yang diberikan kepadamu hanyalah seukuran lobang
cincin. Adakah yang lainnya?”, lanjut semut. “Singgasana dari surga yang berada
di atas angin”, jawab Sulaiman bangga. “Ini sebagai bukti bahwa segala hal yang
ada padamu ibarat angin. Ia bisa berlalu kapan saja. Hari ini ia menjadi milikmu,
esok menjadi milik orang lain”, sergah semut. “Aku dapat memahami bahasa
burung”, kata Sulaiman. “Sibukkan dirimu untuk bermunajat kepada Allah,
jangan kepada yang lainnya”, tegas semut. “Aku mempunyai pelayan dari bangsa
jin dan manusia”, kilah Sulaiman. “Hal itu merupakan suatu pertanda, bahwa
seakan-akan Allah berfirman kepadamu,”wahai sulaiman, Aku telah tundukkan
makhluk-makhluk untuk melayanimu. Maka mengabdilah engkau kepada-Ku”,
jawab semut. “Saya meminta pertolongan dengan cincin ini, karena di situ terukir
asma Allah”,kata Sulaiman. “Mintalah pertolongan kepada Dzat yang mempunyai
nama, jangan kepada nama itu sendiri”, kata semut.
Sekilas Tentang Gambaran ‘Arasy
Wahab mengatakan bahwa dua ribu tahun sebelum Allah menciptakan
kursi, terlebih dahulu ia menciptakan ‘Arasy. Pada ‘Arasy tersebut Allah
menciptakan tiga ratus menara dimana jarak antara satu menara dengan yang
lainnya ialah perjalanan tiga ratus tahun. Panjang tiap-tiap menara ialah perjalanan
seribu tahun. Diantara kedua menara terdapat Malaikat, layaknya manusia dan jin
yang selalu memohonkan ampunan untuk umat Nabi Muhammad yang berbuat
maksiat. Sedangkan an-Nasafi mengatakan bahwa di ‘Arasy tersebut, diciptakan
tigaratus enam puluh penyangga. Besar setiap penyangga ialah sebesar dunia.
jarak antara dua penyangga ialah perrjalanan limaratus tahun. Dalam sebuah
riwayat disebutkan bahwa Allah menciptakan Lauh diantara Kursi dan ‘Arasy.
Dari cahaya Lauh tersebut, Allah menciptakan empat macam cahaya. Dari cahaya
pertama, Allah menciptakan ‘Arasy yang padanya terdapat tigaratus enampuluh
ribu penyangga. Tiap-tiap penyangga panjangnya ialah perjalanan duabelas ribu
tahun. Sedangkan jarak antara satu penyangga dengan penyangga lainnya ialah
seluas tujuh puluh kota. Tiap kota luasnya seukuran tujuhpuluh ribu istana,
dimana disetiap istana dihuni oleh sekitar seribu barisan Malaikat. Panjang dan
lebarnya tak dapat diukur, nyaris tak terbatas. Setiap harinya, ia dihiasi tujuhpuluh
ribu helai pakaian yang terbuat dari cahaya, yang tidak seorangpun mampu
memandangnya. Ia laksana Kubah bagi semesta alam raya. Di tengah-tengahnya
bertebaran sapu tangan yang tergantung dan hanya Allah yang mengetahui
jumlahnya. Ia merupakan perumpamaan bagi segenap makhluk. Ia dibawa oleh
empat malaikat di dunia dan delapan Malaikat di akhirat. Diriwayatkan bahwa
‘Arasy mempunyai tujuhpuluh ribu lisan yang senantiasa mensucikan nama-Nya
dengan berbagai macam bahasa. Riwayat lain menyebutkan bahwa ‘Arasy terbuat
dari Yaqut merah, ada juga yang mengatakan hijau. Jarak antara telinga dan bahu
setiap malaikat yang membawanya ialah perjalanan limaratus tahun. Riwayat lain
menyebutkan tujuhratus tahun. Sedang riwayat lain menyebutkan bahwa salah
satu dari Malaikat tersebut berwujud manusia. Yang kedua berwujud sapi jantan.
Yang ketiga berwujud elang. Sedang yang keempat berwujud singa.
Sekilas Tentang Gambaran Lauh
Ia terbuat dari mutiara berwarna putih yang dibalut dengan Yaqut merah
dan Zamrud hijau. Lebarnya seluas langit dan bumi. Sedangkan panjangnya tak
terhingga. Ia terletak diantara ‘Arasy dan Kursi. Diriwayatkan bahwa setiap hari
Allah memandangnya sebanyak tigaratus enampuluh kali untuk mencipta,
memberi rizki, mematikan makhluk, menghidupkan, mencabut dan mengangkat
kepemimpinan, menghina dan memuliakan. Beberapa penganut sufi mengatakan
bahwa panjang Lauh ialah sebagaimana jarak langit dan bumi. Sedangkan
lebarnya seluas timur dan barat. Sedang yang terpakai untuk menulis hanyalah
sepuluh baris saja. Sebelum Allah menciptakan Lauh, Dia menciptakan Qalam
dengan cahayanya. Panjangnya seluas langit dan bumi. Kemudian Dia
memandangnya dengan penuh kebanggaan. Maka terpecahlah Qalam itu dan
setetes pecahannya menetesi Lauh dan menjadi Alif. Kemudian Dia
berfirman,”tulislah”. Ia menjawab,”apa yang harus aku tulis?”. Allah
menjawab,”tulislah apa yang sudah ada dan apa yang akan terjadi sampai hari
kiamat kelak”.
Sekilas Tentang Gambaran Kursiy
Ia terbuat dari intan mutiara putih. Hanya Allah yang mengetahui
panjangnya. Padanya terdapat tigaratus enampuluh penyangga. Panjang tiap
penyangga adalah perjalanan duabelas ribu tahun. Sedang lebarnya ialah
perjalanan sepuluh ribu tahun. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa ketujuh
lapisan langit dan bumi dihadapan Kursi hanyalah seukuran bulatan kecil yang
dilemparkan ke tanah lapang.
Sekilas Tentang Gambaran Bait al-Ma’mur.
Ia terbuat dari batangan emas merah. Padanya terdapat tigaratus
tujuhpuluh pintu. Jarak antara satu pintu dengan pintu lainnya ialah perjalanan
seribu tahun. Luas masing-masing pintu ialah perjalanan limaratus tahun, begitu
pula dengan panjangnya. Di sekelilingnya, Malaikat memohonkan ampunan untuk
manusia dan menangisi mereka yang berbuat maksiat. Di atasnya terdapat atap
yang tinggi. Di atas atap tersebut terdapat hamparan laut. Tempat itu dipenuhi
para Malaikat dan diwakili oleh seorang Malaikat yang bernama Kalyail. Di
atasnya lagi terdapat tujuhpuluh ribu tirai yang terbuat dari besi. Panjang dan lebar
masing-masing tirai tak terbatas. Tingginya ialah perjalanan seribu tahun. Di
atasnya lagi terdapat tujuhpuluh ribu tirai yang terbuat dari mutiara berwarna
merah. Di atasnya lagi terdapat tujuhpuluh ribu tirai penutup sebagai hiasan. Dan
semua tirai-tirai tersebut penuh dengan Malaikat yang berbentuk manusia. Mereka
tidak pernah bosan mensucikan asma Allah.
Sekilas Tentang Gambaran Telaga Kautsar.
Ia adalah bagian dari surga ‘Adn. Lebarnya ialah perjalanan seratus tahun,
sedangkan panjangnya ialah perjalanan tiga ribu tahun. Telaga itu mengalir di
bawah istana tanpa alur. Pemiliknya ialah Nabi Muhammad Saw. Padanya
terdapat empat tiang. Tiang pertama bertuliskan Abu Bakar, aku bagi mereka yang
bersikap jujur dan ta’at. Tiang kedua bertuliskan Umar, aku untuk merek yang
mati syahid dan orang-orang shalih. Tiang ketiga bertuliskan Utsman, aku bagi
mereka, orang-orang fakir yang patuh kepada Allah baik dikala malam maupun
siang hari. Mereka adalah para keluarga Allah. tiang keempat bertuliskan Ali, aku
bagi mereka yang berjuang dan berperang di jalan Allah. Lumpurnya terbuat
minyak misik yang semerbak.
Sekilas Tentang Gambaran Sangkakala Malaikat Israfil
Abu Hurairah mengatakan, Rasulullah Saw. bersabda bahwa Allah
menciptakan Sangkakala yang mempunyai lubang layaknya seruling. Lebar
lubang tersebut seluas dunia. Ia mempunyai empat cabang. Satu cabang berada di
timur dan cabang lainnya berada di barat. Satu cabang berada di lapisan bumi
ketujuh, sedang cabang lainnya berada di lapisan langit yang paling atas.
Sangkakala tersebut mempunyai banyak pintu sejumlah banyaknya arwah. Arwah
para Nabi, arwah Para Malaikat, arwah para jin, arwah para manusia, arwah para
setan, arwah binatang buas, arwah binatang ternak, arwah binatang melata, hingga
arwah seekor semut dan kutu. Jumlah arwah tersebut sampai sekitar bilangan
tujuhpuluh jenis. Sangkakala tersebut diserahkan kepada Malaikat Israfil dan
diletakkan di mulutnya. Ia menunggu perintah kapan Sangkakala itu harus ditiup.
Sangkakala tersebut ditiup sebanyak tiga kali. Tiupan pertama adalah tiupan yang
berfungsi mengagetkan. Dengan tiupan pertama tersebut, seluruh penghuni langit
dan bumi merasa kaget, kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah
memerintahkan untuk meniup lebih panjang. Dengan tiupan ini, gunung-gunung
bertebaran layaknya fatamorgana. Langit-langit bergoyang kekiri dan kanan.
Bumi bergoncang dengan kerasnya layaknya kapal yang berlayar di air. Semua
makhluk yang sedang mengandung melahirkan bayinya. Semua bayi yang
menyusu lepas dari genggaman ibunya. Anak-anak muda sekejab berubah
menjadi tua. Setan-setan lari tunggang langgang ke berbagai penjuru hingga
mereka bertemu dengan para Malaikat. Mereka memukuli wajah mereka dengan
tangan mereka sendiri. Allah berfirman,”hari dimana mereka saling memanggil.
Hari ketika mereka berlari tunggang langgang sambil membelakangi”. Bumi
bergoncang. Manusia memandang ke langit. Mereka melihat bintang-bintang
saling bertabrakan. Matahari dan bulan mengalami gerhana. Langit terbelah satu
persatu. Jasad mereka yang sudah meninggal dalam keadaan tak terawat. Hal
seperti ini berlangsung hingga kurun waktu empatpuluh tahun sampai Allah
menghendakinya. Kemudian Allah menyuruh Malaikat Israfil untuk meniup
tiupan berikutnya. Dengan lantang ia berkata, “wahai para arwah telanjang dan
jasad-jasad yang telah lapuk, keluarlah kalian dari tempat kalian atas izin Allah.
Ketika itu, musnahlah seluruh penghuni langit dan bumi, kecuali mereka yang
dikehendaki Allah. Mereka adalah para Syuhada’ yang terdiri dari dua belas
golongan; Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, serta delapan Malaikat penyangga ‘Arasy.
Dunia dibiarkan tanpa penghuni. Tidak ada manusia, jin, maupun binatang di
sana. Kemudian Allah berfirman kepada Malaikat maut,”Aku telah menciptakan
untukmu para pembantu sejumlah bilangan makhluk dari awal sampai akhir. Aku
telah menjadikan pada dirimu kekuatan seluruh penghuni langit dan bumi. Pada
hari ini, Aku memberimu pakaian kemarahan. Dengan kemarahan-Ku, turunlah
engkau. Beri pelajaran kepada Iblis bagaimana rasanya mati. Lipat gandakan
beban derita para iblis sebanyak hitungan kegetiran makhluk dari awal sampai
akhir, dari golongan jin dan manusia. Bawalah bersamamu tujuhpuluh ribu
Malaikat Zabaniyah. Persenjatai tiap malaikat Zabaniyah itu dengan rantai besi
yang panas membara. Malaikat Maut tadi berseru memanggil Malaikat Malik.
Ketika pintu neraka telah terbuka, Malaikat Maut masuk ke dalamnya. Seandainya
saja seluruh makhluk di langit dan bumi ada di dalamnya, niscaya mereka akan
mati, disebabkan ukuran Malaikat Maut yang terlalu besar hingga membuat
neraka menjadi berjejal. Ketika itu, Malaikat Maut turun menuju iblis dan
menghardiknya. Terlihat iblis kehilangan kesadaran seraya bergumam keras yang
seandainya gumamnya itu terdengar oleh penghuni langit dan bumi, mereka akan
pingsan. Malaikat Maut berkata,”berhentilah meratap wahai makhluk tercela. Aku
akan memberitahu kamu bagaimana rasanya menghadapi kematian. Telah berapa
lama kamu menyesatkan makhluk di dunia?” Ketika itu, iblis lari tunggang
langgang menuju ke arah timur. Di sana, ia melihat Malaikat Maut berdiri
menantinya. Ia pun lari ke arah barat. Di sanapun, ia melihat Malaikat Maut
tengah menunggunya. Ia menyelam ke dasar lautan. Kemanapun terdapat tempat
sekiranya ia dapat bersembunyi di sana, ia akan menghampirinya. Namun, tidak
ada satu tempatpun untuk melarikan diri, hingga pada akhirnya ia sampai di
tengah-tengah pusaran dunia, di sisi makam Nabi Adam. Ia berkata,”Wahai
Adam, demi kamu, aku menjadi makhluk terkutuk dan dilaknat oleh Allah”.
Kemudian, iblis bertanya kepada Malaikat Maut,”dengan gelas apa kamu akan
memberiku minum. Dan dengan siksa macam apa kamu akan mencabut
nyawaku?”. Malaikat Maut menjawab,”dengan gelas yang teramat panas”.
Iblispun berguling-guling di atas tanah. Sesekali ia menjerit keras dan sesekali ia
berlari tunggang langgang tak karuan. Ketika ia hendak menuju suatu tempat
untuk menjejakkan kakinya, terlihat Malaikat Zabaniyyah telah berdiri tegak di
hadapannya dengan besi besar ditangannya. Bumi terasa bagaikan bara api yang
siap melahap dan menghajarnya dengan besi-besi yang panas tersebut. Pada
akhirnya, iblis menggelepar kesakitan menyambut ajal menjemputnya. Kemudian
Allah memerintahkan hamparan laut untuk berhenti mengalir, sehingga ia sendiri
bertanya pada dirinya sendiri,”kemanakah gerangan ombak dan buih-buihku?”.
Seketika Malaikat Maut berteriak. Dan hancur leburlah air laut tersebut seakan tak
pernah ada sebelumnya. Selanjutnya Allah memerintahkan gunung-gunung untuk
hancur karena masanya sudah habis. Ia berkata pada diri sendiri,”kemanakah lebar
dan tinggiku yang dahulu menjulang?”. Seketika Malaikat Maut berteriak. Dan
sirnalah gunung-gunung itu. Kemudian Allah memerintahkan bumi untuk sirna
sehingga bumi itu bertanya pada dirinya sendiri,”kemanakah kekuasaan yang dulu
ada. Kemanakah pepohonan dan sungai-sungaiku.?”. Malaikat Maut berteriak.
Dan seketika hancurlah ia tanpa bekas. Kemudian Malaikat Maut beranjak menuju
langit. Dengan satu teriakan saja, langit dan bulan menjadi gerhana. Bintang-
bintang menjadi bertabrakan tak beraturan. Selanjutnya Allah bertanya,”Wahai
Malaikat Maut, masih adakah makhluk ciptaan-Ku yang tersisa?” Malaikat Maut
menjawab,”masih ada ya Allah; Jibril, Mikail, Isrfil, dan Izra’il”. Kemudian Allah
memerintahkannya untuk mencabut nyawa mereka. Satu persatu, Malaikat Maut
mencabut nyawa Jibril, Mikail, Israfil, dan terakhir Izrail. Setelah itu, Allah
berkata kepadanya,”pergi dan matilah engkau di antara surga dan neraka”. Iapun
pergi ke sana dan meninggal. Setelah semuanya mati, Allah berkata,”siapakah
yang berkuasa pada hari ini?”. Tak seorangpun ada yang menjawab. Allah
mengulangi perkataannya sampai tiga kali, dan tetap tidak ada yang menjawab.
Lalu ia berkata,”yang berkuasa pada saat ini adalah Aku, Yang Maha Esa dan
Maha Kuasa”. Dia kembali bertanya,”kemanakah Raja-Raja yang dahulu kala
merasa paling besar?”. Selanjutnya Allah menjadikan gunung-gunung layaknya
gumpalan kapas yang bertebaran ditiup angin. Dia menggenggam bumi yang
penuh dengan kemaksiatan dan di sanalah neraka jahanam bertonggak. Lalu Allah
membuat gantinya berupa hamparan bumi berwarna putih. Di sanalah surga di
perlihatkan kepada para makhluk. Kemudian Allah memerintahkan agar Jibril,
Mikail, Israfil dan Izrail untuk hidup kembali. Yang pertama kali hidup kembali
ialah Israfil. Ia mengambil Sangkakalanya dari ‘Arasy. Ia mendatangi Malaikat
Ridlwan dan mengatakan,”hiasilah surga untuk menyambut kedatangan
Muhammad dan umatnya”. Setelah itu, Jibril datang mengendarai Buroq dari
surga dengan membawa bendera pujian dan dua baju surga. Rombongan itu
berlalu, namun mereka tidak dapat melihat makam Nabi Muhammad Saw.
Nampak dari pemakamannya sebuah tiang yang memancarkan cahaya benderang
sampai ke puncak langit. Jibril berkata kepada Israfil,”Panggillah Muhammad
kemari. Para Makhluk senantiasa tunduk dengan ajakanmu”. “Engkau saja wahai
Jibril, kata Israfil. Di dunia, engkau adalah teman dekatnya. Sebaiknya kamu saja
yang memanggilnya”. Jibril berkata,”saya malu padanya”. Israfil terus
mendesak,”kamu saja yang memanggil”. Akhirnya, Jibrilpun berseru,”bangkitlah
wahai arwah yang baik. Sudah saatnya tiba masa hisab dan bertemu keharibaan
Allah”. Lalu kubur Rasul pun terbuka. Terlihat ia duduk di sana sedang
membersihkan debu di kepala dan jenggotnya. Jibril mendekatinya untuk
menyerahkan dua baju dari surga yang ia bawa. Nabi Muhammad
bertanya,”wahai Jibril, hari apakah ini?”. “Sekarang adalah hari kiamat. Hari
dimana manusia merasakan penyesalan”, ujar Jibril. Nabi kembali
berkata,”berilah aku berita gembira wahai Jibril”. “Saya membawa buraq, bendera
pujian dan juga mahkota”, kata Jibril. “Saya tidak menanyakan hal itu”, Rasul
menjawab. “Surga telah penuh dengan hisan untuk menyambut kedatanganmu.
Dan neraka dikunci”, kata Jibril melanjutkan. “Saya tidak bertanya akan hal itu”,
kata Rasul. “Saya menanyakan kabar umatku yang berbuat dosa. Apakah kamu
membiarkan mereka melewati Shirat?”, lanjut Rasul. Israfil menjawab,”sungguh,
demi Allah, wahai Muhammad, saya belum meniup Sangkakala untuk mereka”.
“Kalau begitu hatiku agak lega”, kata Rasul. Kemudian Rasul mengambil
mahkota dan mendekati buraq. Buraq itu berkata,”demi Allah, yang aku
perkenankan untuk mengendaraiku hanyalah Nabi Muhammad Bin Abdullah. Aku
adalah miliknya”. Setelah itu Rasulullah pergi mengendarai buraq menuju pintu
surga. Sesampainya di sana, beliau langsung bersujud. Terdengar suara
mengatakan,”berdirilah, angkat kepalamu. Ini bukan saatnya untuk ruku’ dan
sujud. Sekarang adalah hari perhitungan dan pembalasan. Angkat kepalamu.
Mintalah apa yang engkau mau, pasti akan dituruti”. Rasul berkata,”Ya Allah,
Apa yang telah engkau janjikan kepada umatku?”. Allah menjawab,”Aku telah
memberimu apa yang engkau harapkan”. Selanjutnya Allah memerintahkan Israfil
untuk meniup Sangkakala berikutnya sebagai tiupan kebangkitan. Israfil
berteriak,”wahai tulang-tulang dan jasad-jasad yang telah lapuk, kulit-kulit yang
telah hancur, dan rambut-rambut yang telah tercerai-berai, bangkitlah. Telah tiba
saatnya penghitungan”. Atas izin Allah, mereka bangkit. Ketika memandang ke
langit, mereka mendapatinya telah hancur berkeping-keping. Ketika melihat bumi,
mereka mendapatinya telah berganti. Matahari telah mengalami gerhana.
Timbangan (mizan) telah ditegakkan. Dan surgapun telah dipersiapkan. Mereka
bertanya,”siapa yang telah membangunkan kami dari tidur kami?”. Orang-orang
mukmin berkata,”inilah yang pernah dijanjikan oleh Allah. Dan benarlah apa
yang dikatakan para Rasul”. Mereka keluar dari liang kubur mereka dalam
keadaan lapar. Dan Allah mengirimkan api sebagai minuman mereka. Mereka
digiring ke padang mahsyar. Disana, selama tigaratus tahun mereka menangis.
Gambaran Tentang Menara Buatan Fir’aun
Ketika Fir’an khawatir banyak dari bangsanya beriman kepada Musa, ia
merasa perlu melakukan suatu hal untuk memperkuat kekuasaannya sehingga
pilar-pilarnya menjadi semakin tak tergoyahkan. Ia memerintahkan menterinya,
Haman, untuk membangun sebuah menara. Haman memerintahkan para
pembantunya untuk mengolah batu bata, kapur, kayu dan bahan-bahan lain yang
dibutuhkan. Ia mengumpulkan seluruh pekerja untuk dipekerjakan sehingga
jumlah mereka mencapai limapuluh ribu, selain para rewang-rewang lainnya.
Selama tujuh tahun, mereka membangun menara itu sampai menjulang tinggi.
Belum pernah ada sebelumnya bangunan yang setinggi itu. Ia dibangun atas
kehendak fir’aun. Ketika menara itu telah selesai dibangun, Musa merasa berkecil
hati sehingga merasa perlu mengahancurkannya. Allah memberi wahyu
kepadanya,”biarkan saja, Aku akan menghancurkannya dalam waktu yang sangat
singkat”. Fir’aun dan para pengikutnya naik ke atas. Mereka melemparkan
gugusan anak panah ke langit. Anak panah itu kembali ke bawah dengan
bermandikan darah. Dengan bangga mereka berkata,”lihatlah, kami telah berhasil
membunuh Tuhannya Musa”. Kemudian Allah mengutus Malaikat Jibril untuk
menghancurkannya. Dan hancurlah menara itu menjadi tiga keping. Kepingan
pertama jatuh ke laut. Kepingan kedua jatuh ke Hindi. Sedangkan kepingan ketiga
menimpa Maroko. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa salah satu kepingan
tersebut jatuh mengenai bangsa pengikut Fir’aun. Jutaan orang meninggal.
Riwayat lain mengatakan bahwa semua orang yang turut bekerja bersama Fir’aun
meninggal dalam peristiwa kebakaran ataupun tenggelam. Allah menghancurkan
menara itu di saat antara waktu terbitnya fajar dan terbitnya matahari. Ketika
Fir’aun mengetahui bahwa menara yang dibangunnya hancur berkeping-keping, ia
mengumandangkan perang melawan Musa. Lalu Allah mengujinya dengan
sembilan hal; tongkat, tangan yang memunculkan kilauan sinar yang sangat pekat,
angin topan, belalang, kutu, katak, darah, terbuka serta terbelahnya lautan.
Kesemuanya seringkali disebutkan dalam berbagai kitab-kitab tafsir.
Sekilas Tentang Klasifikasi Nafkh (tiupan)
Tiupan dapat digolongkan menjadi lima bagian. Pertama, tiupan Malaikat
Israfil pada hari kiamat. Kedua, tiupan ruh oleh Malaikat Jibril pada janin
Maryam. Ketiga, tiupan Isa terhadap tanah liat sehingga berubah menjadi burung
hidup. Keempat, tiupan Allah terhadap raga Adam yang masih berupa tanah liat.
Dan kelima, tiupan Dzil Qarnain terhadap besi untuk membendung Ya’juj wa
Ma’juj.
Ujaran: Tentang Hal Yang Dibanggakan di Dunia
Ada sepuluh hal kebanggaan di dunia, namun tidak berarti di akhirat kelak.
Harta, anak, keindahan, kefasihan, kemuliaan, kawan, pengikut, pangkat,
pertolongan dan tipu daya.
Ujaran: Tentang Hal Yang Pasti Dialami Oleh Semua Manusia
Sepuluh hal yang dialami oleh semua manusia adalah mati, digiring ke
padang mahsyar, membaca buku, berhitung, mengalami timbangan, melewati
shirat, pertanyaan kubur, mendapatkan balasan, bangkit dari kubur, dan pingsan.
Ujaran: Tentang Penyebab Hancurnya Suatu Negara
Makkah hancur karena habasy. Madinah dan Bukhora hancur karena
bencana kelaparan. Kufah dan Irak hancur karena serangan Turki. Yaman hancur
karena peristiwa belalang. Hamdan hancur karena dailam. Armenia hancur karena
shawa’iq. Halwan hancur karena serangan angin. Bulkh hancur karena air.
Turmudz hancur karena wabah penyakit. Murwa hancur karena hujan pasir. Hirah
hancur karena hujan ular yang memangsa mereka. Karman hancur karena bala
tentara yang menyerbu mereka. Sajistan hancur karena gunung api yang
membakar mereka. Sedangkan Samarkand, Farghanah, Syaisy, Isbijab dan
Khawarizmi hancur akibat mereka diserbu oleh Bani Qanthura’. Negeri mereka
berubah menjadi negeri keledai.
Ujaran: Tentang Awal Mula Penciptaan Adam
Ketika Allah pertama kali menciptakan Adam dalam bentuk seperti ini,
makhluk dari golongan binatang buas, binatang ternak, burung, dan jenis ular
merasa kagum dan terheran-heran. Mereka saling bergunjing,”berpencar dan
pergilah kalian. Ada makhluk baru yang akan membuat kalian menjadi
terpinggirkan. Mereka diikat oleh pertemanan. Golongan ular memberitahu hewan
darat akan kelebihan mereka masing-masing. Begitu pula dengan sebaliknya.
Binatang buas lari ke darat. Binatang ternak lari ke gunung-gunung. Binatang
memamah lari ke lubang-lubang tanah. Burung lari ke sarangnya. Dan ular lari
masuk ke lembah-lembah lautan.
Ujaran: Makna Penciptaan Manusia Sebagai Makhluk Yang Gelisah
Allah berfirman, “Innal Insâna Khuliqa Halû’an” (Dan sesungguhnya
manusia diciptakan dalam keadaan gelisah). At-Thobari mengatakan bahwa halu’
adalah sejenis binatang yang hidup di balik gunung. Setiap hari ia memakan
rerumputan yang segar dari daratan. Minumannya ialah air segar dari laut. Ada
yang menyebutkan bahwa tiap hari, hewan ini memakan tiga taman, seperti dunia
dari ujung timur dan barat. Begitu pula halnya dengan minumannya. Ketika tiba
waktu Isya, kedua belah bibirnya saling menggigit.
Ujaran: Kisah Tentang Asal Mula Garam
Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim hendak membuat jamuan untuk umat
Nabi Muhammad. Allah menegurnya,”kamu tidak akan mampu”. Ibrahim
meminta kepada Allah,”ya Allah, Engkau Maha Tahu dengan keadaanku.
Engkaulah yang Maha mengabulkan permohonanku”. Akhirnya Allah
mengabulkan permintaan Ibrahim. Allah mengutus Jibril untuk membawakan
kapur dari surga untuk diberikan kepada Ibrahim. Ia membawanya memanjat ke
atas gunung Abi Qubais dan meniupnya di udara. Setelah itu, kapur surga tadi
tersebar ke bumi. Dan semua tempat yang terkena olehnya berubah menjadi
garam yang asin sampai hari kiamat. Seluruh garam di bumi ini adalah jamuan
dari Nabi Ibrahim.
Ujaran: Tentang Aneka-Rezeki Para Makhluk
Bagi setiap makhluk, Allah telah menentukan rizkinya masing-masing
dengan menjelaskan sebab-sebabnya. Ada yang mendapat bagian rezeki di air,
sehingga apabila ia keluar darinya, ia akan mati. Ada pula golongan yang
mendapat bagian rezeki di daratan, sehingga apabila ia keluar darinya dan masuk
ke laut, ia akan mati. Ada segolongan makhluk yang rizkinya didapat dari madu,
seperti semut. Ada lagi yang rizkinya didapat dari kotoran tinja, seperti bakteri.
Jenis makhluk lain mendapatkan bagian rezeki dari cuka, seperti cacing cuka. Ada
pula yang mendapat bagian rezeki dari bebauan, seperti golongan jin yang hidup
dari bau-bauan makanan yang kita konsumsi. Jenis makhluk lain mendapat rezeki
dari tubuh manusia, seperti kutu dan nyamuk. Ada pula yang mendapat bagian
rezeki dari dalam tubuh tumbuh-tumbuhan, seperti cacing batang-batang pohon.
Ada lagi yang mendapat bagian rezeki dari api, seperti burung onta. Jenis
makhluk lain mendapat bagian rezeki dari darah, seperti orok janin. Ada lagi yang
mendapat bagian rezeki dari rerumputan, seperti kuda. Makhluk lain mendapatkan
rezeki dari cinta kepada Allah, sepeti orang-orang Arif. Sedang makhluk lain
mendapat rezeki karena mereka selalu menyebut asma Allah, yaitu Malaikat.
Sedang ada pula makhluk lain yang mendapat rezeki dari cacing, seperti burung
hud-hud. Maha Suci Allah, yang mengatur segalanya.
Ujaran: Tentang Perlunya Membaca Basmalah
Setiap kali al-Qadli Tajuddin Bin Bintu al-A’azz menulis suatu kitab, ia
selalu mengawalinya dengan membaca basmalah. Hal itu dilakukan dengan tujuan
agar barokahnya dapat terasa dalam keseluruhan kitabnya. Setelah itu ia
menghafalnya dan menghormatinya.
Ujaran: Tentang Keutamaan Hari ‘Asyura
Hari pertama kali Jibril turun kepada Nabi Muhammad adalah hari
‘Asyura. Pada hari itu pula, Allah menciptakan langit, bumi, lauh, qalam, Jibril
beserta para Malaikat lainnya, gunung-gunung, bintang-bintang, buraq, dan hur
al-‘in. Allah menanam pohon tuba, membagi rahmat, menciptakan Adam dan
hawa serta masuknya keduanya ke surga pada hari ‘Asyura. Pada hari ‘Asyura
pula Allah menerima taubat Adam. Dia mengangkat Nabi Idris, dan putra Nabi
Nuh As. membawa kapalnya berlabuh, menerima taubat Nabi Daud pada hari
‘Asyura. Di hari ini, lahirlah Yunus dan di hari ini pula ia terselamatkan dari
kegelapan. Ibrahim diangkat menjadi kekasih Allah, terselamatkan dari kobaran
api dan mulai membangun ka’bah juga pada hari ini. Nabi Ishak lahir, Nabi
Isma’il lahir dan digantikan dengan kambing kibas ketika hendak disembelih oleh
sang ayah, kembalinya Yusuf ke pangkuan sang Ayah (Nabi Ya’kub) dan waktu
dikeluarkannya dari penjara serta hari pernikahannya dengan Siti Zulaikha juga
terjadi pada hari ini. Pada hari ‘Asyura pula, terjadi peristiwa kelahiran dan
diangkatnya Nabi Isa, lahirnya Nabi Muhammad, hari pernikahan beliau dengan
Khadijah, masuknya beliau ke Madinah, lahirnya putri beliau Fatimah, serta kedua
cucunya Hasan dan Husain. Musa lahir, dan berdialog dengan Allah, pertemuan
dan pernikahan beliau dengan putri Nabi Syu’aib, tenggelamnya Fir’aun, serta
selamatnya Bani Isra’il juga terjadi pada hari ini. Hari ‘Asyura merupakan hari
yang penuh hiasan sebagaimana dikatakan oleh para sejarahwan.
Sedangkan tradisi menanak biji-bijian sebagaimana populer di Mesir,
berawal dari ketika pada suatu hari terjadi angin topan, Nabi Nuh mengeluarkan
tujuh jenis biji-bijian yang tersisa padanya, yaitu kacang, tepung, gandum,
bawang, lentil, chikc pea, dan beras. Kemudian ia menanaknya pada waktu hari
‘Asyura. Pada hari itu, dianjurkan untuk berpuasa, memperbanyak bersedekah,
mandi, memakai celak, mengusap kepala anak yatim, mengunjungi para Ulama,
shalat, menggunting kuku, membaca surat al-Ikhlas sebanyak seribu kali. Aku
(penulis) pernah membuat Sya’ir sebagai berikut :
Berkunjunglah kepada orang Alim, perbanyak bersedekah, dan pakailah
celak
Berlapanglah kepada sanak keluarga, mandi dan shalatlah
Usaplah kepala anak yatim dan potonglah kukumu
Bacalah surat al-Ikhlas sebanyak seribu kali.
Pada hari ‘Asyura, Nabi Nuh dan Nabi Musa berpuasa. Burung dan
binatang memamah pun turut berpuasa. Suatu riwayat menyebutkan bahwa salah
seorang tawanan perang melarikan diri dari kejaran orang-orang kafir pada hari
‘Asyura. Mereka mengendarai tunggangan untuk mencarinya hingga
menemukannya. Akan tetapi tawanan dengan orang kafir yang mengejarnya tadi
terhalang oleh datangnya malam. Ketika ia tahu bahwa ia dikejar, ia memanjatkan
do’a. “Ya Allah, demi hari yang terhormat ini, selamatkanlah aku dari kejaran
mereka”. Lalu Allah membutakan mata mereka hingga ia selamat. Pada hari itu, ia
sedang berpuasa. Ia tidak menemukan sedikit makananpun ketika datang waktu
berbuka. Akhirnya ia tertidur dan bermimpi didatangi Malaikat yang memberinya
air minum. Selama dua puluh tahun kemudian, ia dapat bertahan hidup tanpa
membutuhkan makan dan minum.
Ujaran: Keutamaan Bershalawat Kepada Nabi Muhammad Saw. Pada Hari
Jum’at
Shahabat Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah
bersabda,”barangsiapa bershalawat kepadaku pada malam jum’at sebanyak
seratus kali, Allah akan mengabulkan seratus macam hajat yang ia mohonkan.
Tujuhpuluh hajat yang berkaitan dengan persoalan akhirat, sedang tigapuluh hajat
berkaitan dengan persoalan dunia. Allah akan mengutus seorang Malaikat dari
tiap satu shalawat hingga sampai ke dalam kuburku sebagaimana kalian semua
mendapatkan hadiah. Malaikat tersebut akan memberi tahu nama orang yang
bershalawat dan mencatatnya dalam lembar kertas putih. Dan pada hari kiamat
kelak, aku akan memberi hadiah untuknya”.
Ujaran: Keutamaan Orang-orang Alim
Dalam sebuah khabar diriwayatkan bahwa pada hari kiamat nanti, akan
didatangkan salah seorang Ulama dari umat Muhammad Saw. Ia akan bawa ke
hadapan Allah. Allah berkata kepada Jibril, ”Bawa dan ajaklah ia pergi menemui
Muhammad”. Jibril pun lalu membawanya kepada Nabi Muhammad. Ketika itu,
beliau sedang berada di tepi telaganya, sedang memberi minum manusia dengan
cawan. Melihat kedatangannya, beliau berdiri menyambutnya dan memberinya
minum dengan menggunakan tangannya. Mereka bertanya,”wahai Rasulullah,
engkau memberi minum kami dengan menggunakan cawan, sedang ia kau beri
minum dengan menggunakan tanganmu?”. “Ya”, jawab Rasul. “Karena ketika
manusia terlalu disibukkan oleh dunia dengan perdagangan yang mereka lakukan,
orang ini memilih untuk menyibukkan dirinya dengan ilmu”. Lantas orang itu
diminta untuk melewati Shirat. Terdengar suara orang yang berada di bawah
memanggilnya,”Tolonglah aku, wahai kawan”. Ia bertanya, “siapa kamu?”. “Saya
adalah salah seorang temanmu”, jawabnya. Lalu ia memohon kepada Allah,”Ya
Allah, tolonglah temanku”. Dan Allah pun kemudian mengabulkan
permohonannya.
Sekilas Tentang Kunjungan di Surga
Abu Muhammad al-Harawi mengatakan bahwa di akhirat kelak, tiap hari
dalam seminggu, para penghuni surga saling berkunjung satu sama lain. Pada hari
sabtu, anak-anak mengunjungi orang tua mereka. Pada hari ahad sebaliknya,
orang tua mengunjungi anak-anak mereka. Pada hari senin, murid-murid
berkunjung menemui para gurunya. Sebaliknya pada hari selasa, para guru
mengunjungi murid-murid mereka. Pada hari rabu, setiap umat mengunjungi
Nabi-nabi mereka. Pada hari kamis sebaliknya, para Nabi mengunjungi umat
mereka. Sedangkan pada hari jum’at, seluruh makhluk berkunjung menghampiri
Tuhan untuk mensucikan-Nya.
Sekilas Kisah Tentang Terpecahnya Penduduk Irak
Pada suatu hari, Abdullah Bin Umar ditanya oleh seseorang perihal darah
nyamuk. Kepadanya ia balik bertanya,”dari mana asalmu?”. “Dari Irak”, jawab
orang itu. Di hadapan hadirin yang ada di situ, Abdullah Bin Umar berkata,”Coba
kalian lihat dan perhatikan orang ini. Ia bertanya kepadaku tentang darah nyamuk,
padahal orang-orang Irak telah membunuh cucu Rasulullah !. Sedangkan aku
pernah mendengar beliau bersabda, “kedua cucuku adalah laksana bunga selasih
di dunia yang selalu menebarkan harum semerbak”.
Sekilas Tentang Jasad Yang Tidak Lapuk
Sebuah riwayat menyebutkan bahwa ada sepuluh macam jasad yang tidak
akan lapuk oleh tanah. Yaitu, jasad mereka yang berperang, jasad orang Alim,
jasad muadzin, jasad orang yang hafal al-Qur’an, jasad Nabi, jasad para syuhada,
jasad seorang perempuan yang meninggal dalam keadaan nifas, jasad pengikut
sunnah, jasad orang yang meninggal dalam keadan terdzalimi, dan jasad orang
yang meninggal pada hari jum’at.
Dalam beberapa khabar kerap disebutkan bahwa Allah akan memuliakan
mereka yang mati syahid dengan lima hal yang tidak diberikan kepada seorang
Nabipun. Yaitu Allah sendiri yang akan mencabut nyawa mereka, mereka tidak
perlu dimandikan, tidak perlu dishalatkan, dimakamkan dengan pakaian akhirat
yang terakhir kali ia pakai, dan mereka akan memintakan ampun tiap hari bagi
orang-orang yang masih hidup. Kelima hal ini tidak diberikan kepada yang
lainnya.
Sekilas Tentang Empat Perkara Baik Dalam Tiap Hal
Para ahli Hikmah menyebutkan bahwa Allah menjadikan empat bulan
dalam setahun sebagai bulan terhormat, sebagaimana Dia memilih empat Malaikat
terbaik; Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail. Allah juga memilih empat kitab suci
terbaik; Taurat, Injil, Zabur, dan al-Qur’an. Fardlunya wudlu juga ada empat;
membasuh wajah, kedua lengan tangan, mengusap kepala, dan membasuh kedua
kaki. Kalimat Tasbih ada empat; Subhanallah Wal Hamdu Lillah Wa Laa Ilaha
Illa Allah Wa Allahu Akbaru. Ilmu hitung ada empat bagian; satuan, puluhan,
ratusan dan ribuan. Waktu ada empat jenis; jam, hari, bulan dan tahun. Musim ada
empat; musim panas, musim dingin, musim semi dan musim kering. Bahan
campuran ada empat macam; kuning, hitam, riak lendir dan darah. Elemen-elemen
ada empat unsur; udara, api, air dan tanah. Khulafaur Rasyidun ada empat orang;
Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Ra. Bukit terbesar ada empat; Tursina,
Libanon, Uhud dan gunung al-Judiy. Gelar Nabi terbaik ada empat; al-Khalil, al-
Karim, al-Ruh dan al-Habib Saw. Gugusan penghias langit terbaik ada empat;
‘Arasy, Kursi, Surga dan Malaikat. Makhluk terbaik di muka bumi juga ada empat
golongan; para Ulama, para Syuhada, para Wali, dan orang-orang yang bertakwa.
Penghias jiwa ada empat; berwudlu, shalat, puasa, dan ibadah haji. Penghias hati
ada empat hal; pengetahuan, ilmu, kecerdasan nalar, dan tauhid. Anggota tubuh
terindah ada empat; mata, telinga, tangan dan kaki. Dan setiap kali ada jenazah
orang meninggal dibawa, Allah mengutus empat Malaikat untuk turut mengiring
ke pemakaman; Malaikat pertama berseru,”Ajal telah menjelang dan terputuslah
segala macam aktivitas”. Malaikat kedua mengatakan,”hilanglah segala harta
benda yang dulu dimilikinya dan yang turut terbawa hanyalah amal-amalnya”.
Malaikat ketiga berujar,”hilanglah segala kesibukan, dan yang tersisa hanyalah
perhitungan”. Dan Malaikat terakhir mengatakan,”beruntunglah orang yang
memilih makanan yang halal dan selalu sibuk untuk terus mengabdi beribadah
kepada Dzat yang Maha Mulia”.
Sekilas Tentang Hikmah dan Rahasia di Balik Lima Perkara
Allah selalu menyembunyikan lima hal dalam lima hal yang bersamaan.
Di balik ketaatan manusia, terdapat keridlaan Allah agar mereka menjadi semakin
bersemangat untuk malakukan hal-hal yang berdimensi ketaatan dengan harapan
akan mendapatkan ridla-Nya. Di balik kemaksiatan yang dilakukan manusia,
tersembunyi kemurkaan Allah agar mereka selalu berusaha untuk menjauhinya
sehingga tidak terjerumus ke dalamnya. Dalam bulan Ramadan, Allah
merahasiakan waktu turunnya Lailat al-Qadr agar manusia bersemangat untuk
menghidupkan malam-malam bulan Ramadan dengan harapan akan dapat
menjumpai malam yang lebih baik daripada seribu bulan tersebut. Allah
merahasiakan Asma Agung-Nya di balik seluruh Nama-nama yang ada supaya
orang-orang bersungguh-sungguh dalam berdo’a dengan nama-nama itu seraya
berharap untuk dapat menyingkap Nama Agung-Nya. Allah sengaja merahasiakan
para Wali-Nya di muka bumi agar masyarakat tidak memandang rendah satu
diantara mereka. Dengan begitu, mereka dapat memohon do’a melalui mereka
dengan harapan akan terkabul. Sebagian Ulama menambahi bahwa Allah
merahasiakan waktu-waktu mustajab pada hari jum’at agar manusia bersemangat
dalam berdo’a. Dan Allah juga merahasiakan Shalat Wustha dari shalat lima
waktu yang difardlukan agar manusia dapat menjaga keseluruhannya.
Sekilas Tentang Bagian-bagian Rezeki
Serigala memangsa musang. Musang memangsa landak. Landak
memangsa ular. Ular memangsa burung pipit. Burung pipit memamgsa belalang.
Belalang memangsa lalat-lalat kerbau. Lalat kerbau memangsa lebah. Lebah
memangsa lalat. Lalat memangsa nyamuk. Nyamuk memangsa semut. Sedangkan
semut bertahan hidup dengan bau-bauan yang ia hirup.
Sekilas Tentang Bahwa Belalang Menyerupai Seribu Jenis Binatang Buas.
Dikatakan bahwasanya bentuk belalang menyerupai sepuluh bentuk
binatang buas. Wajahnya seperti wajah kuda. Matanya seperti mata gajah.
Lehernya seperti leher sapi jantan. Tanduknya seperti tanduk kijang. Dadanya
seperti dada singa. Perutnya seperti perut ular. Sayapnya seperti sayap elang.
Pahanya seperti paha unta. Kakinya seperti kaki burung unta. Sedangkan ekornya
seperti ekor kalajengking.
Sekilas Tentang Manusia yang Memiliki Perisai Yang Tidak Boleh
Diremehkan
Orang-orang Arif mengatakan bahwa Allah menjadikan tujuh perisai bagi
manusia. Mereka berada di dalamnya, sedangkan setan berada di luar. Perisai itu
ibarat anjing yang menggonggong. Apabila salah satunya dibakar, maka dengan
mudah setan akan memasukinya. Tiap orang perlu merawat dan menjaga ketujuh
perisai tersebut, terutama yang pertama. Dan yang paling penting, selagi perisai ke
enam masih ada, maka tidak akan menjadi persoalan. Yang pertama ialah perisai
dari mutiara basah, yaitu norma jiwa. Lapis kedua ialah dari zamrud, yaitu
kejujuran dan keikhlasan. Lapis ketiga ialah berupa kebanggaan, yaitu amar
ma’ruf nahi munkar. Lapis keempat terbuat dari batu, yaitu bersyukur dan ridla.
Lapis kelima terbuat dari besi, yaitu tawakkal. Lapis keenam ialah terbuat dari
perak, yaitu keimanan. Sedangkan lapis ketujuh, yang terakhir, terbuat dari emas,
yaitu ma’rifatullah. Allah berfirman,”Sesungguhnya tidak ada yang dapat
menguasai diri orang-orang yang beriman dan orang-orang yang bertawakkal
kepada Tuhannya”.
Sekilas Tentang Seorang Yang Mencela Wanita Jahat
Pada suatu saat, kepada Abu Muslim diperlihatkan seekor kuda yang
sedang dilatih. Dengan nada menguji, ia bertanya kepada pembantunya,”untuk
apakah kuda ini dilatih”. Mereka menjawab,”untuk berjihad di jalan Allah”.
“Bukan”, jawabnya. “Untuk bertemu dengan musuh”, lanjut mereka. “Juga
bukan”, ujarnya. “Lalu untuk apa kuda itu di latih, wahai Abu Muslim?”, tanya
mereka penasaran. “Kuda ini untuk ditunggangi laki-laki agar ia dapat lari dari
wanita ataupun tetangga yang jahat”, jawabnya dengan tegas.
Sekilas Tentang Keramat Punggawa Para Wali Allah
Ketika pada suatu hari Syaikh Abdul Kadir Jailani sedang duduk memberi
mau’izhah kepada orang banyak, terlihat seekor burung rajawali hinggap. Burung
itu berteriak sehingga membuat para hadlirin merasa terganggu dengan suaranya.
Syaikh Abdul Kadir Jailani berkata,”hai angin, ambil kepala burung itu!”.
Kemudian kepala burung itu terpisah dari badannya. Beliau turun dari kursi untuk
mengambilnya. Setelah itu, beliau mengucapkan basmalah dan seketika burung itu
hidup kembali dan terbang. Mereka menyaksikan keramat beliau seraya memohon
agar dapat mengambil manfa’at dari barokahnya. Riwayat serupa sebagaimana
dikisahkan Syibli al-Marwazi bahwa ia membeli sepotong daging dengan harga
setengah dirham. Lalu seekor rajawali merampasnya dari tangannya. Ketika ia
melewati sebuah masjid, ia masuk untuk menunaikan shalat. Pada saat ia pulang
ke rumah, istrinya menghidangkan daging kepadanya. Ia merasa heran,”dari mana
kau dapatkan daging ini?”. Istrinya menjawab,”tadi ada dua ekor rajawali
bertarung di atas rumah kita. Lalu ada sekerat daging yang terjatuh dan akhirnya
saya masak”. Syibli berkata,”Alhamdulillah, ternyata Allah tidak melupakan
Syibli meskipun Syibli melupakan-Nya”.
Kisah ke-148: Tentang Jawaban Yang Membuat Terdiam
Ada seseorang berkata,”pada suatu hari, saya berkunjung ke salah seorang
teman. Saya tinggalkan keledai di depan pintu karena saya tidak membawa anak
untuk menjaganya. Ketika keluar, nampak seorang anak kecil menaiki keledai itu.
Saya katakan kepadanya,”kamu naik keledai tanpa izin”. Dia menjawab,”saya
khawatir keledai ini akan kabur, maka saya jaga”. “Kalau keledai ini pergi,
mungkin akan lebih baik”, kilahku. “Jika itu pendapatmu, maka anggaplah bahwa
keledai itu kabur. Berikan dia kepadaku, maka aku akan mengucapkan terima
kasih”, jawabnya diplomatis. Saya tidak tahu bagaimana harus menjawab
perkataannya.
Kisah ke- 149: Tentang Jawaban Yang Baik
Khalifah al-Mu’tashim pergi mengunjungi Khaqan. Khaqan mempunyai
seorang anak kecil bernama Fath. Ia bertanya,”wahai Fath, lebih baik mana rumah
Amirul Mukminin atau rumah ayahmu?”. Fath menjawab,”tentu selagi ada aku,
maka rumah ayahku lebih baik dari pada rumah Amirul Mukminin”. Mendengar
jawaban itu, Khalifah al-Mu’tashim mengeluarkan cincin dari tangannya.
“Apakah kamu pernah melihat yang lebih baik dari cincin ini?”. Fath menjawab,
“Ya, yaitu jemari dimana cincin itu melingkar”.
Sekilas Tentang Perbedaan Antara al-Buhtari Dengan al-Bukhtari
Al-Buhtari, adalah seorang penyair terkenal. Sedangkan al-Bukhtari ialah
seorang Qadli di Madinah. Ia menjadi penguasa Baghdad setelah pemerintahan
Abu Yusuf, teman dari Imam Abu Hanifah. Beliau meninggal pada tahun 180 di
era pemerintahan al-Makmun.
Kisah ke- 150: Tentang memohon Kebaikan Dengan Menggunakan Isyarat
Antara Ibnu ‘Unain dan Ibn al-Malik al-Mudzaffar, penguasa Damaskus
terdapat suatu hubungan yang sangat erat. Pada suatu hari, Ibnu ‘Unain merasa
badannya agak kurang sehat. Ia mengirim surat kepada Ibn al-Malik al-Mudzaffar
“Lihatlah, perhatikan aku sebagaimana engkau memandang tuanmu
yang senantiasa bersikap dermawan
aku seperti orang yang sangat butuh akan diriku
semoga engkau berkenan memberi balasan untukku dan pujian yag layak”
Kemudian, Ibn al-Malik berkunjung menjenguknya dengan membawa
tigaratus dinar. Ibnu ‘Unain berkata,”ini adalah shilah, sedangkan aku adalah
A’idnya”. Hal itu dikatakan karena ia memang terkenal sebagai orang cerdik.
Menurutnya, bahwa alladzi adalah isim mausul yang membutuhkan shilah dan
A’id. Ia menggambarkan dirinya sebagai isim mausul. Sedangkan shilahnya ialah
apa yang dibawa Ibn al-Malik dan A’idnya ialah Ibn al-Malik sendiri.
Sekilas Tentang Tawafuq (Kecocokan)
Malik Bin Dinar mengatakan bahwa dua hal yang berbeda tidak akan
dapat dipadukan kecuali apabila diantara keduanya ada sisi-sisi yang sejenis.
Begitu pula halnya dengan burung. Pada suatu hari ia melihat burung merpati dan
burung elang berpadu. Ia nampak heran karena keduanya dapat berpadu meskipun
berbeda jenis. Namun ketika berjalan, keduanya nampak pincang. Ia
bertanya,”adakah di sini yang dapat bersatu. Tiap orang dapat menyatu dengan
mereka yang sama bentuknya, begitu pula halnya dengan burung. Jika keduanya
tidak ada sisi persamaan, maka keduanya pasti akan terpisah, tidak dapat bersatu”.
Kisah ke- 151: Tentang Asbab Nuzul Ayat “Wa Annahu Kana Rijal...”
Dalam sebuah sumber disebutkan bahwa ada seseorang mengatakan,
”Saya pernah bepergian bersama salah seorang teman. Ketika malam telah mulai
menjelang, kami berjumpa dengan seorang penggembala kambing. Saat tengah
malam tiba, datang seekor serigala. Ia membawa seekor kambing gembalaannya.
Sambil menguap karena kantuk, sang penggembala itu mengatakan, “wahai
pemilik lahan, tetanggamu telah menyakitiku”. Terdengar suara berseru,”hai
Sarhan, lepaskan dia”. Setelah itu nampak kambing yang dibawa serigala tadi
kembali masuk, berkumpul bersama rombongan lainnya. Dan turunlah Firman
Allah,”Wa Annahu Kana Rijalun Mina al-Insi Ya’udzuna....(al-Ayat).
Kisah ke- 152: Tentang Saat Turunnya Elang dan Ikan Paus Dari Surga
Ketika Adam turun ke bumi setelah sebelumnya berada di surga, yang ada
di sana hanyalah burung elang di darat dan ikan paus di laut. Burung elang
berlindung dan turut bertempat tinggal bersama ikan paus. Ketika sang elang
melihat sosok Adam, ia datang menemui paus seraya berkata, “sekarang di bumi
ini telah ada makhluk yang berjalan di atas kedua kakinya dengan tangan yang
kuat”. Ikan paus berkata,”kalau apa yang kamu katakan itu benar, maka kita tidak
mempunyai tempat lagi untuk bernaung. Tidak di darat, tidak pula di laut”. Sejak
saat itu, mereka pun berpisah.
Kisah ke- 153: Tentang Beberapa Pertanyaan Unik
Seseorang datang menemui Imam al-Haramain. Ia mengadu bahwa ia
mempunyai tanggungan hutang sebanyak seribu dinar. Ketika ia duduk di dekat
beliau, ada beberapa orang yang berada di situ bertanya ,”apakah Allah berada di
suatu arah tertentu?”. Beliau menjawab,”Maha Suci Allah dari apa yang kalian
sangkakan”. Mereka kembali bertanya, “adakah dalilnya?”. Beliau kembali
melanjutkan bahwa dalilnya ialah sabda Rasulullah Saw,”janganlah kalian
melebihkanku dari Yunus Bin Mata”. Mereka kembali bertanya,”apa yang kamu
maksud?”. Beliau melanjutkan,”saya tidak mengatakan kepada kalian dengan hal
seperti itu sehingga kalian akan memberikan seribu dinar kepada tamuku untuk
membayar hutangnya”. Dua orang bangkit dan berkata bahwa ketika Rasulullah
Saw sampai di langit yang paling atas, mendengar bagaimana Allah mengatur
alam semesta ini dan bermunajat kepada-Nya sebelum akhirnya mendapatkan
wahyu dari-Nya, beliau tidak lebih dekat dari Allah dari pada dekat-Nya Yunus
ketika berada di perut ikan paus dalam gelap gulitanya lautan di tengah malam.
Kisah ke- 154: Tentang Ke-Maha Kuasaan Allah
Pada suatu hari, Nabi Sulaiman meminta izin kepada Allah untuk
menjamu semua jenis hewan. Setelah Allah memberinya izin, Ia mengumpulkan
makanan untuk waktu yang lama. Lalu ia meminta untuk melaksanakan janjinya
dan dikabulkan. Tak lama kemudian, muncul seekor ikan paus dari laut memakan
seluruh makanan yang ada. Kemudian ia berkata,”beri aku tambahan makanan
wahai Sulaiman, aku belum kenyang”. Sulaiman menjawab, “sudah tidak ada
makanan yang tersisa. Apakah tiap hari makananmu sebanyak ini?”. Ikan paus itu
menjawab,”rezekiku adalah tiga kali lipat dari seluruh makan yang ada ini. Akan
tetapi, pada hari ini Allah hanya memberiku rizki berupa makanan ini, tidak lebih.
Dia membiarkanku kelaparan untuk beberapa hari. Untung saja anda datang pada
hari ini”. Dari kisah ini dapat dilihat bagaimana sempurnanya kekuasaan Allah
dan betapa luasnya karunia yang diberikan. Bahkan, Nabi Sulaiman –seorang raja-
yang terkenal sangat kaya dengan segala harta dan kekuasaannya, tidak mampu
memberi makan seekor binatang sekalipun.
Sekilas Kisah Tentang Macam-macam Makhluk
Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Allah menciptakan jin dalam
tiga jenis. Jenis pertama berbentuk seperti ular. Jenis kedua berbentuk seperti
kalajengking. Sedang jenis ketiga berbentuk angin di udara. Begitu pula Allah
menciptakan manusia dalan tiga jenis. Jenis pertama seperti hewan. Mereka
mempunyai hati namun tidak dapat berfikir dan mengerti. Mempunyai telinga
namun tidak dapat mendengar. Mempunyai mata namun tidak dapat melihat. Jenis
kedua adalah mereka yang berwujud manusia, akan tetapi berjiwa setan.
Sedangkan jenis ketiga adalah mempunyai sifat seperti malaikat. Mereka akan
mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat kelak.
Kisah ke- 155: Sebuah isyarat sederhana
Pada suatu saat iblis berkumpul bersama Nabi Yahya Bin Zakaria. Iblis
berkata,”perlukah aku menasehatimu?”. Yahya menjawab, “tidak perlu. Tetapi
kalau kamu mau, beritahu aku bagaimana manusia menurut kamu”. Iblis
menjawab,”mereka ada tiga jenis. Jenis pertama, adalah yang paling berat bagi
kami. Setiap kali kami mencoba mengganggu mereka, mereka selalu segera
beristighfar sehingga kami menjadi putus asa dan merasa tidak mampu. Kami
merasa kelelahan menghadapi mereka. Jenis kedua, adalah seperti kamu. Mereka
adalah orang-orang yang maksum. Kami tidak dapat berbuat apa-apa untuk
mengganggunya. Sedangkan jenis ketiga, adalah mereka yang dapat kami
permainkan layaknya bola. Kami lempar mereka ke kiri dan ke kanan sekehendak
kami.
Sekilas Tentang Kelebihan Burung Camar
Tatkala Adam turun ke bumi, ia merasa takut dengan binatang buas.
Akhirnya Allah memahami kegelisahannya dengan menurunkan burung-burung
camar sebagai tanda kasih sayang Allah kepada manusia. Allah juga menurunkan
salah satu ayat al-Qur’an,” Jikalau Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada
gunung, niscaya kamu akan melihatnya tertunduk karena takut kapada Allah...(al-
Ayat)
Sekilas Tentang Pakaian Nabi Isa As
Ketika Allah membawa naik Nabi Isa As, ia memberinya pakaian berupa
bulu yang berhiaskan cahaya. Allah menghilangkan rasa lapar darinya. Ia terbang
bersama para Malaikat mengitari ‘Arasy.
Kisah Ke- 156: Tentang Penyebab Terbunuhnya Mutanabi
Abu Thayyib al-Mutanabi kembali dari negeri Paris menuju Baghdad
dengan membawa hadiah untuk dihadiahkan kepada pejabat Negara. Ia pergi
bersama serombongan penunggang kuda. Di tengah jalan, muncul para perampok
yang menyebabkan al-Mutanabi lari memisahkan diri dari rombongannya. Melihat
kejadian itu, anaknya berkata, “apakah kamu akan lari sedangkan engkau sendiri
yang mengatakan dalam syairmu :
Kuda, malam, padang sahara, pedang, tombak, kertas dan pena semuanya
mengenalku.
Akhirnya, pada tahun 354 H ia terbunuh. Penyebabnya ialah bait syair
yang ia gubah. Karenanya, orang-orang menilai baik terhadap kata-kata al-
Khatha’i dalam uzlahnya :
Saya merasa nyaman dalam kesendirianku. Aku selalu menetap di rumah
Sehingga rasa nyaman selalu menyelimuti hidupku yang membuatku
semakin bahagia.
Perjalanan waktu telah mengajariku untuk tidak peduli.
Biarlah aku tetap dalam kesendirianku tanpa berkunjung atau dikunjungi
siapapun
Selama hayat masih di kandung badan, aku tidak akan bertanya,
Apakah kuda tengah berjalan ataukah sang amir sedang
mengendarainya?
Kisah ke- 157: Tentang Sebab-sebab Bahwa Waktu Tidak Dapat Diajukan
Ketika Imam Ibnu Jina telah selesai belajar pada Imam Abi Ali Al-Farisi,
ia beranjak belajar ke Mosul (nama daerah di Iraq). Pada suatu hari, Ali, ayah dari
Ibnu Jina, melihatnya di suatu majlis yang ia selenggarakan. Kepadanya, Ali
berkata,”mengapa buah jatuh sebelum matang?”. Mendengar hal itu, bergegas
Ibnu Jina meninggalkan majlis itu untuk menemui gurunya. Setelah itu, ia tidak
meninggalkannnya sampai benar-benar pandai.
Sekilas Tentang Apakah Kuda Diciptakan Sebelum Ataukah Sesudah
Diciptakannya Adam As
Pada suatu hari, kepada Imam Taqiyuddin al-Subki diajukan beberapa
pertanyaan. “Kapankah kuda diciptakan, sebelum atau sesudah diciptakannya
Adam? Apakah kuda jantan atau betina yang diciptakan terlebih dahulu? Adakah
dalilnya dalam al-Qur’an ataupun Al-Sunah?” Beliau menjawab bahwa kuda
diciptakan dua hari sebelum Allah menciptakan Adam. Ia berargumentasi dengan
ayat maupun hadits yang mendukungnya. Yaitu bahwa Allah menciptakan Adam
pada hari Jum’at. Sedangkan Dia menciptakan binatang-binatang pada hari selasa
ataupun rabu. Allah menciptakan laki-laki terlebih dahulu dari pada perempuan
sebagai pertanda akan kelebihan yang dimilikinya. Dalam beberapa hadits
disebutkan bahwa kuda termasuk binatang yang mempunyai kelebihan. Ia dapat
membawa berkah karena sering diperbantukan dalam mencari nafkah. Makhluk
yang perama kali diciptakan ialah benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan, binatang
dan kemudian bangsa manusia.
Sekilas Kisah Tentang Bahwa Roti Pada Awalnya Tidak Berbentuk Bundar
Dalam beberapa khabar disebutkan bahwa pada awalnya, roti tidak
berbentuk bundar. Ketika dihidangkan ke hadapan mereka yang hendak makan, ia
dibuat oleh sekitar tigaratus enampuluh pekerja. Yang pertama adalah Malaikat
Mikail yang menakar air dari khazanah rahmat. Lalu Malaikat yang bertugas
menggiring awan, matahari, rembulan, semesta, penguasa angin, binatang di muka
bumi dan terakhir adalah tukang pembuat roti.
Kisah ke- 158: Tentang Menanamkan Akhlak
Diriwayatkan bahwa Rabi’ al-Jaizi, kawan dekat Imam Syafi’i, pada suatu
hari melewati daerah Mesir. Tiba-tiba, sebuah keranjang penuh dengan abu
dilemparkan ke kepalanya. Ia turun dari kudanya untuk membersihkan pakainnya
yang kotor. Seseorang berkata kepadanya,”mengapa kamu diam saja, tidak
membalas? Ia menjawab,”siapa yang berhak mendapat api, dan di lempar abu, ia
tidak berhak marah”. Beliau meninggal pada tahun 250 H.
Sekilas Tentang Hal-hal Yang Perlu dikerjakan
Dalam sebuah hadits disebutkan,”Jika hewan yang kalian tunggangi
terlepas di tengah-tengah tanah lapang, berserulah,”wahai sekalian hamba Allah,
tangkap dia” karena Allah akan mengutus seseorang untuk menangkapnya. Jika ia
menyakiti hewan tungganganmu, ataupun anaknya, bisikkan ke
telinganya,”apakah kepada selain agama Allah kalian mencari?”.
Diriwayatkan bahwa seseorang nampak bersedih ketika mengendarai
hewan tunggangan. Kepadanya ia diperintah untuk membaca,”Qul A’udzu Bi
Rabbi al-Falaq...”. setelah ia membacanya, ia merasa tenang.
Diriwayatkan bahwa jika seseorang sedang mengendarai hewan
tunggangan seraya membaca, “Bismillahi La Yadlurru Ma’a Ismihi Syaiun.
Subhana alladzi sakhkhoro Lana Hadza..., Alhamdulillahi Rabbi al-‘Alamin, wa
Shalla Allahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala Alihi wa shahbihi wa sallam,
maka tunggangan itu akan berdo’a, “semoga Allh melimpahkan Berkat-Nya
kepadamu. Dan Semoga Allah selalu bersamamu dalam meraih kesuksesan”.
Sekilas Tentang Perlunya Memuji Kemiskinan Dan Mencela Kaya
Pada suatu saat, Allah berkata kepada Musa, “jika kamu melihat kekayaan
menghadapmu, anggaplah ia sebagai suatu dosa yang akan segera mendapatkan
balasan di dunia. Ketahuilah, jika Allah memberi suatu kema’siatan yang ia sukai
di dunia kepada seorang hamba, maka hal itu adalah istidraj dari-Nya.
Sekilas Tentang Hari Lahir dan Wafatnya Nabi Isa As.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Maryam, Ibunda Nabi Isa As,
mengandungnya ketika ia berumur tiga belas tahun. Isa dilahirkan di Betlehem
(pondok daging), di negeri Syam. Kepadanya Allah memberi wahyu ketika beliau
berusia tigapuluh tahun. Allah mengangkatnya ketika beliau berusia tigapuluh tiga
tahun. Setelah itu, Maryam hidup selama enam tahun kemudian.
Kisah ke- 159: Tentang Perlunya Mencela Sifat Ujub
Pada suatu hari, ketika Muqatil Bin Sulaiman duduk, ia merasa sombong
dengan dirinya sendiri. ia berkata kepada orang-orang yang berada di
hadapannya,”cobalah beritahu aku akan hal yang berada di bawah ‘Arasy”.
Seseorang menjawab,”Adam, ketika mencukur rambut kepalanya”. Yang lainnya
berkata,”perut seekor semur”. Ia tidak mengerti dengan jawaban orang itu.
kemudian ia berkata,”ini sama sekali bukan berasal dari pengetahuanmu. Akan
tetapi, saya merasa heran dengan diri saya sendiri sehingga perlu menguji kamu”.
Sekilas tentang Anggota Badan manusia
Jalinus berkata,”jumlah manik-manik manusia, dari akal hingga bagian
belakangnya ada duapuluh empat macam. Tujuh berada di leher, duabelas berada
di punggung, sedang lima berada di bagian belakang. Kesemuanya saling
bersambung. Sedangkan di perut dan tulang rusuk, terdapt duapuluh empat. Tiap
rusuk ada dua belas. Jumlah seluruh tulang di badan manusia ada duaratus
empatpuluh delapan, terkecuali tulang hati dan ruas yangdisebut dengan
simsimiyah karena bemtuknya menyerupai simsim yang sangat kecil. Kalanga lain
mengatakan ada tigapuluh enam. Semua lubang terbuka di badan ada dua belas
lubang. Dua lubang hidung, dua lubang kelopak mata, dua lubang telinga, lubang
mulut, dua lubng buah dada, dua lunang pembuangan dan lubang pusar.
Sedangkan pori-pori kulit jumlahnya tak terhitung. Sahl Bin Abdullahal-Tastari
berkata,”pada dri manusia terdapat tigaratus enampuluh otot. Separuhnya
bergerak dan separuhnya lagi diam. Kalangan lain menyebutkan sebagaiman
dilansir dari hadits bahwa jumlah seluruh ruas-ruas badab ada tigaratus
enampuluh ruas.
Kisah ke- 160: Tentang Sifat Kelembutan dan Kedermawanan
Seorang perempuan datang menemui Qais Bin Sa’d Bin Ubadah. Ia
berkata,”seekor Jurdzam melintasi rumahku dengan menebar debu”. Lalu ia
berkata,”akan kubiarkan mereka dan akn ku taburi rumahnya dengan biji-biji dan
makanan”. Ia terkenal sebagai seorang yan lemah lembut dan dermawan. Makna
dari semua ini adalah bahwa perempuan itu tidak membiarkan sesuatu tersisa
untuk dimakan tikus.
Kisah ke- 161: Tentang Beberapa Hal aneh
Pada sebuah tiang di suatu negara, terdapat seekor kucing. Ketika kucing
itu kesulitan untuk mengunjungi teman-temannya sedang ia merasa perlu, ia
membuat tulisan di secarik kertas. Lalu ditempelkannya di lehernya. Kemanapun
ia pergi, selalu ada secarik tulisan yang dikalungkan dilehernya. Dengan begitu,
kucing yang lain akan datang kepadanya ataupun menuliskan jawaban di selembar
kertas dan diserahkan kepadanya. Setiap kali ia memasuki sesuatu tempat, ia akan
mengusir yang lainnya dan bertarung dengannya.
Kisah Ke- 162: Tentang Perilaku Yang Baik
Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa pada suatu hari, majikan dari
Lukman al-Hakim Bin Unaqa’ Bin Baruq, penduduk daerah Ailah, memberinya
seekor kambing. Kepadanya, sang majikan menyuruh untuk menyembelih
kambing itu dan memberikan anggota badan yang paling jelek kepadanya. setelah
kambing itu disembelih, Lukman menyerahkan hati dan lidahnya. Dalam
kesempatan lain, sang majikan memberikan seekor kambing untuk disembelih.
Kali ini, ia meminta agar lukman memberikan anggota badan yang paling baik.
Setelah disembelih, Lukman menyerahkan hati dan lidahnya. Dengan penuh rasa
heran, sang majikan menanyakan hal itu kepadanya. Lukman menjawab,”wahai
Tuan, tidak ada yang lebih jelek daripada hati dan lesan jika keduanya
dipergunakan untuk kejelekan. Dan tidak ada yang lebih baik dari keduanya jika
dipergunakan untuk kebaikan.
Kisah Ke- 163: Tentang Beberapa Cerita Humor
Diceritakan dari Sulaiman Bin Mahron, yang lebih populer dipanggil al-
A’mas, dari kalangan tabi’in. Ia menukil dari Malik Bin Anas Ra, yang termasuk
salah seorang yang sederhana dan humoris. Ia berkata bahwa Hisyam Bin Abdul
Malik menyuruhku untuk menulis sejarah hidup khalifah Utsman Bin Affan dan
kejelekan Ali Bin Abi Thalib. Kemudian ia meminta secarik kertas kepada
Rasulullah dan memasukkannya ke mulut seekor kambing. Setelah kambing itu
selesai mengunyahnya, ia berkata,”inilah jawabannya”. Rasulullah pun kembali
menemuinya seraya berkata,”kalau saja saya tidak kembali, mungkin jawaban
yang ada pada kertas itu akan menyesatkan”. Para Shahabat yang ada di sekeliling
berkata,”selamatkan dia agar tidak terbunuh”. Kemudian Rasulullah mengambil
secarik kertas dan menulis,”Amma Ba’du. Seandainya sejarah hidup Utsman
ditulis, hal itu tidak akan terlalu berguna bagimu. Begitu pula jika Ali mempunyai
keburukan sebanyak keburukan seluruh penduduk bumi, hal itu tidak akan
membuatmu merugi. Perhatikanlah dirimu sendiri, niscaya kalian akan selamat”.
Kisah Ke- 166
Hasan al-Basri berkata,”saya menidurkan seekor kambing untuk
kusembelih. Ketika itu, saya melihat Abu Ayyub al-Sajastani melintas di depanku.
Segera saya lemparkan pisau yang tengah kupegang untuk berbincang dengannya.
Kami berdua memperhatikan kambing itu. Saya berjalan ke balik dinding untuk
menggali lubang dan melemparkan pisau tadi ke lubang itu. Terlihat pisau itu
mengembalikan debu-debu yang telah tergali. Melihat peristiwa itu, kami merasa
heran dan kaget. Setelah itu, saya berjanji untuk tidk menyembelih binatang lagi”.
Kisah ke- 167
Disebutkan bahwa Ja’far al-Shadiq mendapat gelar al-Shadiq karena ia
dikenal dengan kejujurannya. Ia terkenl dengan beberapa pendapatnya tentang
ilmu kimia dan ilmu-ilmu lainnya. Diantara beberapa pesan beliau kepada
anaknya, Musa al-Kadzim, ialah : “Wahai anakku, barangsiapa merasa cukup
dengan bagian yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, ia termasuk orang
kaya. Dan barangsiapa matanya selalu melihat hal-hal yang dimiliki oleh orang
lain, maka ia termasuk orang fakir. Siapa yang membuka aib orang lain, berarti ia
telah membuka cacat yang dimilikinya. Siapa yang menghunus pedang untuk
membunuh, ia akan terbunuh dengan pedang itu. siapa yang menggali lubang agar
saudaranya terjatuh ke dalamnya, ia akan terjerumus ke sana. Barangsipa yang
bergaul dengan orang safih, ia akan menjadi hina. Dan barangsiapa bergaul
dengan orang-orang alim, ia akan mulia. Barangsiapa masuk ke tempat-tempat
kejelekan, ia akan turut dianggap sebagai orang jelek. Barangsiapa mengenggap
remeh kesalahan yang ada pada dirinya, ia akan cenderung menganggap besar
kesalahan orang lain”. Ibnu Syibrimah berkata,”saya berkunjung ke tempat Ja’far
al-Shadiq bersama Imam Abu Hanifah. Saya memperkenalkan Imam Abu Hanifah
kepadanya,”orang ini adalah salah satu ahli fiqih dari Iraq”. Ja’far
berkata,”mungkin orang inilah yang mengukur agma dengan rasionya. Apakah dia
Nu’man Bin Tsabit?” Saya terdiam tidak menjawab, karena ketika itu, saya tidak
tahu persis nama Imam Abu Hanifah. Abu Hanifah menjawab,”benar, sayalah
Nu’man Bin Tsabit”. Ja’far berkata kepadanya,”bertaqwalah kepada Allah dan
janganlah kamu mengukur ajaran agama dengan akalmu. Karena yang pertama
kali mengukur agama dengan akalnya adalah Iblis”. Iblis pernah berkata bahwa ia
dapat berbuat lebih baik dari apa yang tertera dalam agama. Lalu ia melakukan
kesalahan dalam beranalogi yang menyebabkan ia tersesat. Ja’far
melanjutkan,”apakah kamu akan menganggap sebagai sebuah kebaikan jika
kepalamu disamakan dengan badanmu?” Abu Hanifah menjawab,”Tidak”. Ja’far
kembali bertanya,”coba anda jelaskan kepadaku mengapa Allah menjadikan rasa
asin pada air yang mengalir dari kedua mata, rasa pahit pada air yang keluar dari
kedua telinga dan hidung, dan rasa tawar dari air yang keluar dari mulut?” Beliau
menjawab,”saya tidak mengetahui hal itu”. Ja’far melanjutkan,”Allah menjadikan
semua itu sebagai anugerah bagi hamba-Nya. Kedua mata mengandung lemak,
sehingga jika tidak ada rasa asin, akan menjadi hambar. Allah menjadikan air di
telinga untuk menjaga dari serangga, jika tidak, niscaya serangga itu akan
memakannya. Allah menjadikan air di kedua lubang hidung agar dapat
membedakan bau harum dan busuk. Jika tidak ada air, hidung tidak dapat
berfungsi mencium bau. Allah menjadikan air tawar di kedua bibir untuk dapat
merasakan makanan yang dimakan”. Ja’far kembali bertanya,”Wahai Nu’man,
tahukah kamu tentang kalimat yang awalnya menunjukkan syirik sedang akhirnya
menunjukkan keimanan?” Abu Hanifah menjawab,”tidak”. Ja’far berkata,”kalimat
itu ialah Laa Ilaha Illa Allah”. “Bagaimana menurutmu, manakah yang lebih
berbahaya, berzina atau membunuh?, tanya Ja’far. “Membunuh lebih besar
dosanya”, jawab Abu Hanifah. Ja’far kembali berkata,”Dalam pembunuhan, Allah
menggariskan dua saksi. Sedang dalam perzinaan, Allah menentukan empat orang
saksi”. Mendengar hal itu, Abu Hanifah terdiam. “Manakah yang lebih baik,
shalat atau puasa”, tanya Ja’far. Abu Hanifah menjawab,”shalat”. Ja’far
berkata,”mengapa Allah mengharuskan seorang wanita yang meninggalkan puasa
karena haidl untuk menqadlanya, sedang tidak mewajibkan mereka mengqadla
shalat?”. Mendengar pertanyaan itu, Abu Hanifah terdiam. Ja’far al-Shadiq
melanjutkan,”wahai Abu Hanifah, bertakwalah kepada Allah. Jangan kamu
berpendapat tentang agama dengan akalmu. Karena kelak kita akan
mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Kami biasa mengucapkan
‘bahwa Allah dan Rasul-Nya berkata’. Sedangkan kamu dan juga kelompokmu
berkata ‘menurut pendapat kami adalah’. Padahal Allahlah yang berkehendak
dengan segala hal yang kami dan kalian kerjakan.