The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MODUL ANTARA KOLONIALISME DAN IMPERIALISME

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Miftahul Azra, 2023-01-27 03:59:53

MODUL ANTARA KOLONIALISME DAN IMPERIALISME

MODUL ANTARA KOLONIALISME DAN IMPERIALISME

Keywords: Miftahu

Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 ANTARA KOLONIALISME DAN IMPERIALISME: PERBURUAN ”MUTIARA DARI TIMUR” DAN PEREBUTAN HEGEMONI SAMPAI PEMERINTAHAN REPUBLIK BATAAF Miftahul Azra (2006101020056) Indrayani Safitri (2006101020058) Rita Mahbengi (2006101020011) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA 2023


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 ii KATA PENGANTAR ANTARA KOLONIALISME DAN IMPERIALISME: PERBURUAN ”MUTIARA DARI TIMUR” DAN PEREBUTAN HEGEMONI SAMPAI PEMERINTAHAN REPUBLIK BATAAF Author: Miftahul Azra (2006101020056) Indrayani Safitri (2006101020058) Rita Mahbengi (2006101020011) Layouter: Miftahul Azra Editor: Miftahul Azra Indrayani Safitri Desain Cover: Miftahul Azra Tahun Terbit Digital: 2023


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 iii KATA PENGANTAR Teriring puji dan syukur kita atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kita karunia dan inayah-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan tulisan ini dengan tepat waktu. Kemudian sholawat bertangkaikan salam juga kita hanturkan kepada baginda nabi besar Muhammad SAW dan keluarganya yang telah banyak memberikan banyak perubahan terhadap umat islam. Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mengarahkan dan berkontrubusi serta membimbing tim penulis sehingga tulisan ini dapat terselesaikan. Tim penulis menyusun modul ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah Media Baru Dalam Pembelajaran Sejarah Reg 01 dan sebagai bahan ajar berbasis Flipbook pada mata pelajaran sejarah kelas XI jenjang SMA. Harapan penulis tulisan ini dapat bermanfaat baik bagi penulis, pembaca serta khalayak luas. Kami tim penulis sudah semaksimal mungkin dalam proses penyelesaian tulisan ini sampai kepada apa yang diharapkan yaitu kesempurnaan. Namun, jika dalam penulisan ada kesalahan penulis memohon maaf. Kritik dan saran yang tim penulis harapkan adalah yang sifatnya membangun demi perbaikan-perbaikan yang mampu mengarah kepada arah positif. Banda Aceh Penulis


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 iv DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ..................................................................................................... ii DAFTAR ISI ................................................................................................................... iv TUJUAN PENULISAN MODUL .................................................................................. v BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1 A. Kompetensi Dasar ...................................................................................................... 1 B. Tujuan Pembelajaran ................................................................................................. 1 C. Deskripsi singkat ........................................................................................................ 1 D. Materi Pembelajaran .................................................................................................. 1 E. Petunjuk penggunaan Modul ..................................................................................... 2 BAB II ISI MATERI ...................................................................................................... 3 A. Latar Belakang Kolonialisme dan Imperialisme di Nusantara .................................... 3 1. Jatuhnya Konstatinopel Ke Tangan Turki Utsmani .............................................. 4 2. Munculnya Paham-Paham Baru ........................................................................... 4 a. Merkantilisme ................................................................................................. 4 b. Revolusi Industri ............................................................................................. 5 c. Kapitalisme ..................................................................................................... 5 3. Semangat 3G (Gold, Glory, Gospel) ..................................................................... 6 4. Tantangan teori Heliosentris ................................................................................. 6 B. Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 1. Perburuan “Mutiara dari Timur” dan Perebutan Hegemoni ................................. 7 a. Spanyol ........................................................................................................... 8 b. Portugis ........................................................................................................... 9 c. Belanda .......................................................................................................... 11 d. Inggris ............................................................................................................ 12 2. Kekuasaan Kongsi Dagang VOC ......................................................................... 16 3. Penjajahan Pemerintah Belanda ........................................................................... 17 a. Masa Pemerintahan Republik Bataaf ............................................................. 18 b. Perkembangan Kolonialisme Inggris di Indonesia ........................................ 22 c. Dominasi Pemerintahan Belanda ................................................................... 24 RANGKUMAN .............................................................................................................. 35 SOAL LATIHAN ........................................................................................................... 37 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 38


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 v TUJUAN PENULISAN MODUL Modul ini memiliki beberapa tujuan dalam penulisannya, sebagai berikut: a) Bagi Guru 1. Mempersiapkan materi yang akan diajarkan di kelas secara sistematika dan struktur. 2. Mengumpulkan hasil dari beberapa referensi dalam sebuah modul sehingga menjadikan pembelajaran sejarah materi Kolonialisme dan Imperialisme. 3. Mempermudah perencanaan kegiatan pembelajaran sejarah yang akan dilakukan guru dikelas karena materi sudah terkonsep dengan baik 4. Menjadi bahan referensi tambahan sebagai pendamping dari buku guru dan buku siswa dan menjadi bahan pelengkap dari Silabis dan Rancangan Prencanaan Pembelajaran. 5. Memudahkan guru untuk membantu siswa dalam mencapai standar kompetensi terhadap materi yang telah di tentukan oleh guru. b) Bagi Siswa 1. Memperkaya referensi siswa dalam memahami materi Kolonialisme dan Imperialisme 2. Mempermudah siswa untuk memahami materi secara terstruktur dan sekaligus menguasainya, karena dilengkapi dengan latihan yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai materi. 3. Memudahkan pencapaian standar kompetensi dari materi yang di tentukan guru dalam pembelajaran sejarah.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 1 BAB I PENDAHULUAN A. Kompetensi dasar 3.1 Menganalisis proses masuk dan perkembangan penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) ke Indonesia 4.1 Mengolah informasi tentang proses masuk dan perkembangan penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) ke Indonesia dan menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah. B. Tujuan Pembelajaran • Menjelaskan latar belakang kedatangan bangsa-bangsa Barat ke Indonesia • Melacak kronologi kedatangan bangsa-bangsa Barat ke Indonesia • Menjelaskan sikap bangsa Indonesia dalam menerima kedatangan bangsa-bangsa Barat • Membuat review tentang proses masuk dan perkembangan penjajahan bangsa Eropa ke Indonesia • Menjelaskan bagaimana kekuasaan kongsi dagang VOC dan penjajahan Pemerintah Belanda C. Deskripsi singkat Negeri kita yang terkenal dengan nama Indonesia ini, dikenal dengan sebutan Kepulauan Nusantara, sementara kaum kolonial Barat menyebutnya dengan tanah Hindia. Sejarah telah mencatat bahwa kekayaan Kepulauan Nusantara begitu luar biasa. Kekayaan bumi Nusantara ini dapat diibaratkan sebagai “mutiara dari timur”. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau Kepulauan Nusantara atau Indonesia ini menarik perhatian kongsi-kongsi Eropa untuk menguasainya. Terjadilah perebutan hegemoni di antara mereka bangsa-bangsa Eropa yang ingin menjajah Indonesia. Akibat penjajahan dan dominasi asing telah membuat jati diri dan budaya bangsa terancam dan menjadi rapuh. Begitu juga kehidupan sosial ekonomi menjadi tersendat. Kalau kita renungkan masalah-masalah tersebut bisa jadi berakar dari berkembangnya kultur kolonialisme dan imperialisme Barat di Indonesia sejak abad ke-17. Nah, mulai saat itu kita tidak memiliki kemandirian dan kedaulatan baik secara ekonomi, sosial, politik, maupun budaya.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 2 Realitas kehidupan semacam itu perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak. Dalam kenyataan sekarang ini masih dapat dirasakan adanya pengaruh asing yang begitu kuat di dalam dinamika kehidupan perekonomian di Indonesia. Utang luar negeri yang juga semakin menumpuk, di samping penyakit korupsi yang belum dapat diberantas. Kalau begitu apakah benar kehidupan sekarang ini juga ada warisan yang berasal dari zaman penjajahan, zaman dominasi kolonialisme dan imperialisme di Indonesia. Bila mengingat prinsip sebab akibat dan konsep perubahan dan keberlanjutan, sangat mungkin kehidupan kita sekarang ini juga dipengaruhi oleh kultur di zaman penjajahan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia. Bagaimana sebenarnya perkembangan dominasi kolonialisme dan imperialisme di Indonesia yang sudah muncul sejak abad ke-16 Dalam Modul ini kita akan mempelajari proses masuknya bangsa-bangsa asing (eropa) ke Indonesia. Bagaiamana mereka menjajah bangsa kita dan bagaiamana kalian dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa kelam yang terjadi pada masa lalu tersebut. D. Materi Pembelajaran • Latar belakang dan tujuan datangnya bangsa Eropa ke Indonesia • Jalur pelayaran dan kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia • Faktor-kator yang menyebabkan Nusantara yang kaya dan indah terpaksa dikuasai oleh bangsa asing • Kekuasaan kongsi dagang VOC E. Petunjuk Penggunaan Modul Bacalah modul ini hingga tuntas dan paham ikuti petunjuk kegiatan belajar yang ada modul Kerjakan latihan secara mandiri. Cek pamahamanmu melalui kegiatan Evaluasi


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 3 Sumber:https://operatordikdasmen.blogspot.com /2016/02/1-memahami-motivasi-nafsu-dan-kejayaan.html BAB II ISI MATERI A. Latar Belakang Kolonialisme dan Imperialisme di Nusantara 1. Jatuhnya Konstatinopel Ke Tangan Turki Utsmani Latar belakang munculnya Kolonialisme dan Imperialisme berhubungan erat dari sejarah peristiwa Perang Salib yang dimenangkan oleh pasukan muslim dan mengakibatkan jatuhnya konstatinopel ke tangan Turki Utsmani pada tahun 1453. Mengapa hal ini berpengaruh terhadap munculnya kolonialisme di Indonesia?. Perlu kamu ketahui bahwa Konstatinopel merupakan pusat pemerintahan Romawi kuno, dimana Laut Tengah adalah pusat perdagangan Internasional antara para pedagang Barat/Eropa dan Timur. Kemenangan Turki Utsmani terhadap pasukan Salib yang terdiri dari masyarakat Eropa ini, membawa dampak buruk bagi perdagangan masyarakat Eropa di Laut Tengah yang dikuasai pedagang-pedagang muslim dan mengakibatkan jalur perdagangan antara masyaraka Eropa dengan Asia terputus. Kondisi ini memaksa masyarakat Eropa untuk mencari jalur lain dan ingin mendapatkan bahan rempah-rempah dari tempat asalnya sehingga harga yang jauh lebih murah. Perlu diketahui bersama bahwasannya bangsa Eropa sangat menyenangi rempahrempah sehingga hal inilah nantinya yang akan mendorong bangsa Eropa berpetualang ke negeri Timur. Gambar 1. Contoh rempah-rempah


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 4 2. Munculnya Paham-Paham Baru Selain faktor penutupan jalur perdagangan oleh Turki Utsmani, faktor lain yang kemudian berkembang dan turut mempengaruhi kemunculan Kolonialisme dan Imperialisme adalah munculnya paham-paham baru. Munculnya paham baru ini berkembang seiringan dengan beranjaknya bangsa Eropa dari Dark Ages (masa kegelapan) menuju Renaisance. Beberapa paham tersebut diantaranya ialah: Merkantilisme, Revolusi Industri dan Kapitalisme. a. Merkantilisme Merkantilisme yakni suatu faham kebijakan politik dan ekonomi suatu negara dengan tujuan memupuk hasil kekayaan (berupa emas) sebanyak-banyaknya sebagai standar kesejahteraan dan kekuasaan untuk negara itu sendiri. Untuk mencapai tujuan itu mucullah semangat dari beberapa Negara Eropa untuk mencari daerah jajahan. Beberapa negara merkantilisme di Eropa misalnya; Perancis, Inggris, Jerman, Belanda. Secara historis merkantilisme adalah sebuah pemikiran ekonomi yang tumbuh dan berkembang mulai abad XVI sampai dengan XVIII. Pemikiran ini mengatakan bahwa kemakmuran suatu bangsa dapat bertambah dengan lebih banyak mengekspor daripada mengimpor barang, sehingga neraca perdagangan menguntungkan bagi negara. Untuk itu, industri dalam negeri harus mendapat perlindungan, sementara ekspor harus diperbanyak dengan beragam fasilitas. Ada beberapa pokok pikiran dari merkantilisme yang bisa dideskripsikan. Pertama, suatu negara atau raja akan makmur dan kuat apabila ekspor lebih besar dari impor. Kedua, keuntungan yang diperoleh dari selisih antara ekspor dan impor atau ekspor neto yang positif tersebut diwujudkan dengan pemasukan logam mulia (emas dan perak) dari luar negeri. Ketiga, saat itu logam mulia digunakan sebagai alat pembayaran sehingga negara atau raja yang memiliki logam mulia yang banyak akan makmur, kaya dan kuat Saat itu yang menerapkan merkantilisme adalah Raja Karel V (Spanyol), Elizabeth (Inggris), Prinsmauritz (Belanda), dan Louis XIV (Prancis). Merkantilisme yang diterapkan di Prancis dikembangkan oleh Jean Baptiste Colbert sehingga dikenal dengan Colbertisme. Di Inggris, pemerintah memberikan hak-hak monopoli kepada perusahaan dagang. Misalnya East India Company (EIC) di Asia. Sedangkan di Belanda, pemerintah memberikan hak monopoli kepada Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) untuk menguasai perdagangan di kawasan Timur b. Revolusi industri


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 5 Revolusi industri adalah pergantian atau perubahan secara menyeluruh dalam memproduksi barang yang dikejakan oleh tenaga manusia atau hewan menjadi tenaga mesin. Penggunaan mesin dalam industri menjadikan produksi lebih efisien, ongkos produksi dapat ditekan, dan barang dapat diproduksi dalam jumlah besar dan cepat. Berkembangnya revolusi industri menyebabkan bangsa-bangsa Barat memerlukan bahan baku yang lebih banyak. Mereka juga memerlukan daerah pemasaran untuk hasil-hasil industrinya. Revolusi Industri ditandai dengan penemuan mesin uap oleh Jamess Watt. c. Kapitalisme selanjutnya terus berkembang dengan munculnya kaum Borjuis yang merupakan para pemilik modal yang siap memodali masyarakat Eropa untuk menjelajahi samudra dalam mencari sumber daya alam dalam mendukung industrialisasi di negaranya, dalam hal ini kaum Borjuis menggunakan paham Kapitalisme dalam perekonomian karena bertujuan untuk meraut keuntungan sebesar besarnya bagi individu maupun kelompok tertentu. Kapitalisme merupakan suatu paham yang beranggapan bahwa dalam perekonomian, untuk mendapatkan keuntungan yang besar harus mempunyai modal sebesar-besarnya. Pemilikan modal yang besar dengan sendirinya akan menguasai berbagai sektor produksi, bahan baku, dan pemasaran. Menurut kapitalisme seseorang bebas memupuk kekayaannya. Dari paham dan peristiwa diatas, kemudian bangsa Eropa memulai untuk menjelajahi Samudra ke arah timur tepatnya benua Asia dan juga benua Afrika. Portugis dan Spanyol dapat dikatakan sebagai pelopor petualangan, pelayaran, dan penjelajahan samudra untuk menemukan dunia baru di timur. Portugis juga telah menjadi pembuka jalan menemukan Kepulauan Nusantara sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Kemudian menyusul Spanyol, Belanda, dan Inggris.Tujuan kedatangan mereka ke wilayah timur tidak semata-mata mencari keuntungan melalui perdagangan rempah-rempah, tetapi ada tujuan yang lebih luas. Dengan semangat awal berdagang dan mencari rempah-rempah, serta mencari keuntungan, bersamaan dengan berkembangnya perusahaan dagang dan menemukan daerah baru, maka tujuan awal bangsa Eropa menjelajahi samudra perlahan berubah seiring dengan munculnya monopoli perdagangan seperti yang dilakukan perusahaan dagang milik Belanda Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) di Nusantara dan perusahaan milik Inggris East India Company (EIC) di India. Maka munculah rasa ingin menguasai seluruh daerah baru tersebut dalam berbagai bidang untuk di eksploitasi kekayaannya. Hal ini yang kemudian dikenal sebagai paham Kolonialisme dan Imperialisme.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 6 3. Semangat 3G (Gold, Glory, Gospel) Kedatangan bangsa barat ke Nusantara juga bertujuan tersendiri yaitu semangat 3 G yakni Gold, Glory, Gospel (Emas, Petualangan dan Agama) sebagai berikut: • Gold: memburu kekayaan dan keuntungan dengan mencari dan mengumpulkan emas perak dan bahan tambang sertabahan-bahan lain yang sangat berharga. • glory : memburu kejayaan, superioritas, dan kekuasaan. Dalam kaitan ini mereka saling bersaing dan ingin berkuasa di dunia baru yang ditemukannya. • gospel : menjalankan tugas suci untuk menyebarkan agama. Pada mulanya orang-orang Eropa ingin mencari dan bertemu Prester John yang mereka yakini sebagai Raja Kristen yang berkuasa di Timur. Mengenai ketiga jenis tujuan: gold, glory, dan gospel itu sebenarnya lebih dimiliki dan digelorakan oleh Portugis dan Spanyol. 4. Tantangan teori Heliosentris Nicolaus Copernicus seorang ilmuwan Polandia memperkenalkan teori Heliosentris tahun 1543. Menurut teori Heliosentris bahwa pusat tata surya adalah matahari. Bumi berbentuk bulat seperti bola. Teori ini bertentangan dengan teori Geosentris yang menyatakan bahwa pusat tata surya adalah bumi. Galileo, seorang ilmuwan Italia sebagai salah satu penyokong semangat pelayaran, karena ia menemukan teropong (teleskop) yang mampu melihat benda-benda yang letaknya sangat jauh. Berdasarkan pemaparan di atas semangat yang dibawa bangsa Eropa dalam melakukan Kolonialisme dan Imperialisme di negara-negara jajahannya dilatar belakangi oleh semangat mencari kekayaan, menjelajahi samudra dan menyebarkan agama Kristen berkaitan dengan kekalahan bangsa Eropa oleh kaum muslim (Turki Utsmani) sebelumnya . Kolonialisme dan Imperialisme memiliki pengertian yang berbeda namun akan saling melengkapi. Kolonialisme berasal dari dua kata: Kolonial dan -isme yang berarti sebuah paham tentang negara yang menguasai sebuah daerah untuk di monopoli, eksploitasi kekayaan alamnya, dan atau membantu memenuhi kebutuhan sumber daya manusia sebuah negara yang menjajahnya. Sedangkan Imperialisme berasal dari kata Imperium dan isme yang memiliki pengertian sebagai paham yang menjelaskan tentang sebuah negara yang menduduki daerah atau negara lainnya untuk menjajah sekaligus mendirikan pemerintahan baru, bukan


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 7 Sumber: http://anatureland.blogspot.com/2015/11/kekayaanalam-nusantara.html hanya mengeksploitasi kekayaan alam namun juga menjadikan negara jajahannya sebagai bagian dari pemerintahan negaranya. Berikut ini akan dijelaskan petualangan, pelayaran, dan penjelajahan samudra bangsa-bangsa Eropa menuju Kepulauan Nusantara. B. Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 1. Perburuan “Mutiara dari Timur” dan Perebutan Hegemoni Perlu disadari bahwa Nusantara atau Kepulauan Indonesia merupakan kepulauan yang sangat kaya dan indah. Bagaikan “mutiara dari timur”. Tanah Nusantara memiliki flora dan fauna yang beraneka ragam, hasil dan persediaan tambang ada di mana-mana, hasil pertanian pun melimpah, begitu juga hasil perkebunan seperti rempah-rempah selalu menggugah selera. Sungguh Tuhan Yang Maha Pemurah telah menganugerahkan bumi Nusantara yang kaya ini untuk kita semua. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita bersyukur atas nikmat-Nya, caranya, dengan menjaga dan melestarikan kekayaan alam semesta Nusantara ini. Kekayaan dan keindahan tanah Nusantara itu pula yang menarik dan menggiurkan bangsa-bangsa lain untuk datang. Sekarang mereka datang ke Indonesia, ada yang sebagai wisatawan, ada sebagai penanam modal, ada yang bekerja seperti konsultan, dan lain-lain . Gambar 2. kekayaan alam Indonesia Tetapi dalam perjalanan sejarah Indonesia, kedatangan bangsa-bangsa asing terutama Eropa di Nusantara yang dimulai abad ke-16 ternyata telah membawa sebuah perubahan besar dengan terjadinya suatu masa penjajahan bangsa Barat.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 8 Sumber: https://operatordikdasmen.blogspot.com/ Gambar 3. Peta Penjelajahan Samudera a. Spanyol Orang-orang Spanyol dan Portugis dapat dikatakan sebagai pelopor dalam pelayaran dan penjelajahan samudra untuk mencari daerah baru penghasil rempah-rempah di timur (disebut Tanah Hindia). Kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia memiliki tujuan persis seperti latar belakang yang disebutkan diatas. Bangsa Portugis dan bangsa Spanyol umumnya memeluk agama Katolik. Kedua bangsa ini sama-sama ingin menguasai wilayah lain di dunia. Hal ini menimbulkan keprihatinan Paus Yulius II. Untuk menjaga kerukunan antara keduanya, maka Paus turun tangan untuk bermusyawarah dengan kedua bangsa tersebut. Diadakanlah kemudian perjanjian pembagian wilayah. Perjanjian ini diadakan di Tordesillas, Spanyol pada tanggal 7 Juni 1494. Isinya adalah wilayah di luar Eropa dibagi menjadi dua dengan garis meridian 1550 km sebelah barat Kepulauan Tanjung Verde. Belahan sebelah timur dimiliki oleh Portugis dan belahan sebelah barat dikuasai Spanyol.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 9 Sumber: Kemendikbud, 2016. Gambar 4. Pembagian wilayah spanyol dan portugis Awalnya bangsa Spanyol dibawah pimpinan Crhistopher Columbus dengan keyakinannya untuk membuktikan bahwa “bumi itu bulat” berhasil melakukan pelayaran pertamanya. Sebelum berangkat Columbus menghadap kepada Ratu Isabella untuk mendapat dukungan termasuk fasilitas. Ratu Isabella mengizinkan dan menyediakan tiga kapal dengan segala perlengkapannya. Ratu Isabella juga menyediakan hadiah apabila misi Columbus ini dapat berhasil. Pada tanggal 3 Agustus 1492, Columbus berangkat dari pelabuhaan. Atas dasar keyakinan bahwa bumi itu bulat maka Columbus dengan rombongannya bertolak dari Spanyol berlayar menuju ke arah barat. Mereka optimis berhasil menemukan daerah baru di timur.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 10 Pada tanggal 6 September tahun yang sama, rombongan Columbus sampai di Kepulauan Kanari di sebelah barat Afrika. Ekspedisi penjelajahan samudra dilanjutkan dengan mengarungi lautan luas yang dikenal ganas, yakni Samudra Atlantik. Salah satu kapalnya rusak. Para anggota ekspedisi hampir putus asa. Namun Columbus terus memberi semangat bagi anggota rombongannya. Setelah sekitar satu bulan lebih berlayar, tanggal 12 Oktober 1492 rombongan Columbus berhasil mendarat di pantai bagian dari Kepulauan Bahama. Columbus mengira bahwa ekspedisinya ini sudah sampai di Tanah Hindia. Oleh karena itu, penduduk yang menempati daerah itu disebut orang-orang Indian. Tempat mendarat Colombus ini kemudian dinamakan San Salvador. Berikutnya rombongan Columbus kembali berlayar dan mendarat di Haiti. Merasa ekspedisinya telah berhasil maka rombongan Columbus bertolak kembali ke Spanyol untuk melapor kepada Ratu Isabella. Tahun 1493 Columbus sampai kembali di Spanyol. Kedatangan Columbus dan rombongan disambut dengan suka cita. Bahkan dengan keberhasilannya mendarat di Kepulauan Bahama dan Haiti, Columbus diakui sebagai penemu daerah baru yakni Benua Amerika. Kemudian keberhasilan Columbus mendorong masyarakat Eropa lainnya untuk semangat menjelajahi samudra dan menemukan daerah-daeah baru lainnya apalagi Columbus belum berhasil menemukan rempah-rempah. Kemudian Berangkatlah ekspedisi yang dipimpin oleh Magellan/Magalhaes atau umum menyebut Magelhaens. Ia juga disertai oleh seorang kapten kapal yang bernama Yan Sebastian del Cano. Berdasarkan catatan-catatan yang telah dikumpulkan Columbus, Magellan mengambil jalur yang mirip dilayari Columbus. Setelah terus berlayar Magellan beserta rombongan mendarat di ujung selatan benua yang ditemukan Columbus (Amerika). Di tempat ini terdapat selat yang agak sempit yang kemudian dinamakan Selat Magellan. Melalui selat ini rombongan Magellan terus berlayar meninggalkan Samudra Atlantik dan memasuki Samudra Pasifik dengan lautan yang relatif tenang. Setelah sekitar tiga bulan lebih rombongan Magellan berlayar akhirnya pada Maret 1521 Magellan mendarat di Pulau Guam. Rombongan Magellan kemudian melanjutkan penjelajahannya dan pada April 1521 sampai di Kepulauan Massava atau kemudian dikenal dengan Filipina. Magellan menyatakan bahwa daerah yang ditemukan ini sebagai koloni Spanyol.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 11 Sumber: Jejak pangan: Sejarah, Silang Budaya dan Masa Depan, 2009 Gambar 6. Rute Pelayaran Magellan Tindakan Magellan dan rombongan ini mendapat tantangan penduduk setempat (orangorang Mactan). Terjadilah pertempuran antara kedua belah pihak. Dalam pertempuran dengan penduduk setempat itu rombongan Magellan terdesak bahkan Magellan sendiri terbunuh. Rombongan Magellan yang selamat segera meninggalkan Filipina. Mereka di bawah pimpinan Sebastian del Cano terus berlayar ke arah selatan. Pada tahun 1521 itu juga mereka sampai di Kepulauan Maluku yang ternyata tempat penghasil rempah-rempah. Tanpa berpikir panjang kapal-kapal rombongan del Cano ini dipenuhi dengan rempah-rempah dan terus bertolak kembali ke Spanyol. Dikisahkan bahwa atas petunjuk pemandu orang Indonesia kapal-kapal rombongan del Cano ini berlayar menuju ke arah barat, sehingga melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan dan diteruskan menuju Spanyol. Dengan penjelajahan dan pelayaran yang dipimpin oleh Magellan itu maka sering disebut-sebut bahwa tokoh yang berhasil mengelilingi dunia pertama kali adalah Magellan. Dalam kaitannya dengan pelayaran dan penjelajahan samudra itu ada pendapat yang menarik dari Menzies, seorang perwira angkatan laut Inggris. Ia menegaskan bahwa yang berhasil mengelilingi dunia pertama kali adalah armada Cina yang dipimpin oleh Panglima Zheng He (Cheng Ho) pada tahun 1421. Zheng He adalah seorang kasim kepercayaan Kaisar Cina dari Dinasti Ming yang bernama Zhu Di atau Yong Le. Dijelaskan oleh Menzies bahwa


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 12 Sumber:https://pilarnegara.blogspot.com/2018/01/ awal-terjadinya-penjajahan-indonesia.html Gambar 7. Vasco da Gama Zheng He bersama armadanya telah berlayar mengelilingi dunia dengan berpedoman pada peta-peta kuno yang dibuat oleh para kartografer Cina dan juga beberapa peta yang dibuat misalnya oleh Fra Mauro (orang Italia), dan yang dibuat oleh Piri Reis (orang Turki). b. Portugis Seperti halnya bangsa Spanyol yang membawa keberhasilan, maka bangsa Portugis juga berhasil yang diperkasai oleh pelaut ulung Vasco Dagama. Vasco da Gama mencari jalan lain agar lebih cepat sampai di Tanah Hindia yang merupakan tempat penghasil rempahrempah. Kebetulan sebelum Vasco da Gama mendapatkan perintah dari Raja Manuel l, sudah ada pelaut Portugis bernama Bartholomeus Diaz melakukan pelayaran mencari daerah Timur dengan menelusuri pantai barat Afrika. Pada tahun 1488 karena serangan ombak besar terpaksa Bartholomeus Diaz mendarat di suatu ujung selatan Benua Afrika. Tempat tersebut kemudian dinamakan Tanjung Harapan. Ia tidak melanjutkan penjelajahannya tetapi memilih bertolak kembali ke negerinya. Pada Juli 1497 Vasco da Gama berangkat dari pelabuhan Lisabon untuk memulai penjelajahan samudra. Berdasarkan pengalaman Bartholomeus Diaz tersebut, Vasco da Gama juga berlayar mengambil rute yang pernah dilayari Bartholomeus Diaz. Rombongan Vasco da Gama juga singgah di Tanjung Harapan. Atas petunjuk dari pelaut bangsa Moor yang telah disewanya, rombongan Vasco da Gama melanjutkan penjelajahan, berlayar menelusuri pantai timur Afrika kemudian berbelok ke kanan untuk mengarungi Lautan Hindia (Samudra


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 13 Sumber:http://sejarahabadi.blogspot.com/2012/12/penjelajahansamudra-dan-kedatangan.html Gambar 8. Ilustrasi kedatangan bangsa Portugis di wilayah Indonesia Indonesia). Pada tahun 1498 rombongan Vasco da Gama mendarat sampai di Kalikut dan juga Goa di pantai barat India. Ada pemandangan yang menarik dari kedatangan rombongan Vasco da Gama ini. Mereka ternyata sudah menyiapkan patok batu yang disebut batu padrao. Batu ini sudah diberi pahatan lambang bola dunia. Setiap daerah yang disinggahi kemudian dipasang patok batu padrao sebagai tanda bahwa daerah yang ditemukan itu milik Portugis. Bahkan di Goa, India itu Vasco da Gama berhasil mendirikan kantor dagang yang dilengkapi dengan benteng. Atas kesuksesan ekspedisi ini maka oleh Raja Portugis, Vasco da Gama diangkat sebagai penguasa di Goa atas nama pemerintahan Portugis. Setelah beberapa tahun tinggal di India, orang-orang Portugis menyadari bahwa India ternyata bukan daerah penghasil rempah-rempah. Mereka mendengar bahwa Malaka merupakan kota pusat perdagangan rempahrempah. Oleh karena itu, dipersiapkan ekspedisi lanjutan di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque. Dengan armada lengkap Alfonso de Albuquerque berangkat untuk menguasai Malaka. Pada tahun 1511 armada Portugis berhasil menguasai Malaka. Portugis mulai memasuki wilayah Kepulauan Nusantara yang disebutnya juga sebagai tanah India (Hindia). Orang-orang Portugis pun segera mengetahui tempat buruannya “mutiara dari timur” yakni rempah-rempah yang ada di Kepulauan Nusantara, khususnya di Kepulauan Maluku, Keberhasilan Portugis menguasai selat Malaka yang diketahui sebagai jalur utama perdagangan Internasional, membuat pedagang-pedagang muslim yang berasal dari kerajaan-


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 14 kerajaan bercorak Islam di Nusantara mulai terdesak, bahkan bangsa Portugis melalukan monopoli terhadap selat Malaka dan kepulauan Maluku yang kemudian menuai banyak protes dari penduduk Nusantara, akan tetapi istilah Kolonialisme dan Imperialisme belum bisa dikatakan diberlakukan oleh bangsa Portugis terhadap Nusantara, memang unsur-unsur Kolonialisasi sudah mulai terlihat, akan tetapi bangsa Portugis baru menguasai beberapa daerah saja dan belum bisa menjangkau daerah lain untuk kemudian mndirikan pemerintahan. c. Belanda Portugis sudah memasuki wilayah Kepulauan Nusantara tahun 1511, kemudian sampai ke Maluku tahun 1521. Begitu juga Spanyol memasuki Maluku pada tahun 1521. Tetapi Belanda datang ke wilayah Nusantara baru pada tahun 1596. Mengapa Belanda sangat terlambat datang ke Indonesia bila dibandingkan dengan Portugis dan Spanyol? Perlu diketahui bahwa pada abad ke-15 Belanda masih menjadi vasal Spanyol. Berbagai gerakan terus dilakukan Belanda untuk melepaskan diri dari Spanyol yang kemudian dikenal Revolusi 80 tahun. Revolusi ini dimulai tahun 1566. Di tengah-tengah revolusi, kegiatan perdagangan orangorang Belanda di Eropa terutama di pusat perdagangan di Lisabon, terus berkembang dan masih berjalan normal. Belanda juga tidak menemui kesulitan untuk mendapatkan rempah-rempah di Lisabon. Tetapi pada saat Portugis berada di bawah kekuasaan Spanyol, maka Belanda dilarang lagi berdagang di Lisabon. Dengan demikian, Belanda menemui kesulitan untuk mendapatkan rempah-rempah. Belanda harus berusaha untuk mendapatkan rempah-rempah seperti yang telah dilakukan Portugis dan Spanyol. Orang-orang Belanda mulai mencari jalan untuk pergi ke dunia Timur atau Tanah Hindia. Pada tahun 1594 Willem Barents mencoba berlayar untuk mencari dunia Timur atau Tanah Hindia melalui daerah kutub utara. Karena keyakinannya bahwa bumi bulat maka sekalipun dari utara atau barat akan sampai pula di timur. Ternyata Barents tidak begitu mengenal medan. Ia gagal melanjutkan penjelajahannya karena kapalnya terjepit es mengingat air di kutub utara sedang membeku. Barents terhenti di sebuah pulau yang disebut Novaya Zemlya. Ia berusaha kembali ke negerinya, tetapi ia meninggal di perjalanan. Pada tahun 1595 bangsa Belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtmen dengan membawa 4 kapal dan 249 awak kapal , mengikuti langkah bangsa Portugis untuk melakukan pelayaran dengan jalur yang sama, dan kemudian berhasil mendarat di Banten (Nusantara) pada tahun 1569. Akan tetapi kedatangan bangsa Belanda yang kasar dan langsung menyatakan niatnya untuk memonopoli perdagangan mendapat penolakan dari masyarakat Banten. Akhirnya pasukan Cornelis kembali ke Belanda, kemudian pada 1598


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 15 Van Heemskerck melakukan ekspedisi kembali ke Banten dengan bersikap lebih bersahabat agar diterima masyarakat Banten dan akhirnya berhasil melakukan perdagangan dan kemudian menemukan Maluku. Di bawah pimpinan Jacob van Neck mereka sampai di Maluku pada tahun 1599. Kedatangan orang-orang Belanda ini juga diterima baik oleh rakyat Maluku. Kebetulan waktu itu Maluku sedang konflik dengan orangorang Portugis. Oleh karena itu, kedatangan Belanda ini diterima dengan baik dan diberi kebebasan untuk berdagang. Pelayaran dan perdagangan orang-orang Belanda di Maluku ini mendapatkan keuntungan yang berlipat. Dengan demikian semakin banyak kapal-kapal dagang yang berlayar menuju Maluku. Uraian tersebut menunjukkan bahwa rakyat wilayah Nusantara/Indonesia senantiasa mau bersahabat dan berdagang dengan siapa saja atas dasar persamaan. Tetapi kalau para pedagang asing itu ingin memaksakan kehendak dan melakukan monopoli perdagangan di wilayah Nusantara tentu harus ditolak karena tidak sesuai dengan martabat rakyat Indonesia yang ingin berdaulat dalam hidup dan kehidupan termasuk dalam kegiatan perdagangan. d. Inggris Perlu dipahami bahwa setelah Portugis berhasil sampai di kepulauan Maluku, aktif mengadakan perdagangan dengan penduduk setempat. Kedatangan Portugis ini telah mendorong perdagangan rempah-rempah semakin meluas. Jalur perdagangan antara timur (Indonesia, Maluku) dengan Eropa semakin berkembang. Bahkan Lisabon dalam waktu singkat berkembang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah di Eropa Barat. Dalam kaitan ini Inggris dapat mengambil keuntungan besar dalam perdagangan rempah-rempah. Inggris dapat memperoleh rempah-rempah secara bebas dan relatif murah di Lisabon. Rempah-rempah itu kemudian diperdagangkan di daerah-daerah Eropa Barat bahkan sampai di Eropa Utara. Tetapi karena Inggris terlibat konflik dengan Portugis dan Spanyol apalagi setelah Portugis berada di bawah kekuasaan Spanyol, maka Inggris pun mulai tidak bebas untuk mendapatkan rempah-rempah di Lisabon. Oleh karena itu, Inggris berusaha mencari sendiri negeri penghasil rempahrempah. Banyak anggota masyarakat, para pelaut dan pedagang yang tidak melibatkan diri dalam perang justru mengadakan pelayaran dan penjelajahan samudra untuk menemukan daerah penghasil rempah-rempah. Dalam pelayarannya ke dunia Timur untuk mencari daerah penghasil rempahrempah, Inggris pertama kali sampai ke India pada tahun 1498 dengan mengikuti rombongan Portugis yang dipimpin oleh Vasco da Gama. Untuk memperkuat daya saing para pedagang Inggris perdagangannya di dunia timur ini kemudian dibentuk kongsi dagang yang diberi nama East India Company (EIC) pada tahun 1600.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 16 Orang-orang Inggris juga sampai ke Indonesia pertama kali tahun 1579 dipimpin oleh Francis Drake dan Thomas Cavendish. Inggris juga membentuk beberapa kantor dagang di Indonesia pada tahun 1604, misalnya di Ambon, Makasar, Jepara, Jayakarta. 2. Kekuasaan Kongsi Dagang VOC Besarnya keuntungan yang diperoleh dari perdagangan rempah-rempah dan didukung oleh pengusiran bangsa Portugis menyebabkan para penguasa di Belanda bersaing untuk berlayar ke Maluku. Harga rempah-rempah di Eropa pun semakin tidak terkendali. Melihat kenyataan ini. Parlemen Belanda atau Staten Generaal mengusulkan agar semua perusahaan pelayaran membentuk sebuah kongsi dagang pada tahun 1598. Mulai tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah yang kini adalah Indonesia, dengan memanfaatkan perpecahan di antara kerajaan- kerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit. Pada abad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. VOC mempunyai hak-hak istimewa yang disebut hak Oktrooi yang diberikan oleh parlemen Balanda. Hak tersebut adalah sebagai berikut: 1. Hak monopoli dagang di wilayah-wilayah antara Amerika Selatan dan Afrika. 2. Hak memiliki angkatan perang dan membangun benteng pertahanan. 3. Hak berperang dan menjajah 4. Hak mengangkat pegawai. 5. Hak melakukan pengadilan dan hak mencetak dan mengedarkan uang sendiri. Di samping hak-hak istimewanya, VOC juga memiliki kewajiban khusus terhadap pemerintahan Belanda. VOC wajib melaporkan hasil keuntungan dagangnya kepada Staten General atau parlemen Balanda dan membantu pemerintah Belanda dalam kondisi perang. Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 17 terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah- rempah, dan terhadap orangorang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala. VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa ini, pada tahun 1618, Pangeran Jayakarta diserang oleh Kerajaan Banten. Kerajaan Banten di bantu oleh Inggris. Gambar : Kota Batavia (sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Batavia,_Dutch_East_Indies) Pada tanggal 30 Mei 1619, Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen, mengirimkan tujuh belas buah kapal untuk menyerang dan memukul mundur pasukan Banten. Pasukan Kerajaan Banten berhasil dikalahkan. Jan Pieterzon Coen kemudian membangun kembali kota Jayakarta dan memberinya nama Batavia. Batavia dijadikan pusat perdagangan dan kekuasaan Belanda dan Batavia juga resmi dijadikan markas besar VOC di Indonesia. Dalam menghadapi kerajaankerajaan Indonesia, Belanda melancarkan politik adu domba (devide et impera). Pada akhir abad ke-18, VOC mengalami kemunduran akibat kerugian yang sangatbesar dan utang yang dimilikinya berjumlah sangat besar. Hal ini juga diakibatkan oleh: a. Persaingan dagang dari bangsa Perancis dan Inggris, b. Penduduk Indonesia, terutama Jawa telah menjadi miskin, sehingga tidak mampu membeli barang-barang yang dijual oleh VOC c. Perdagangan gelap merajalela dan menerobos monopoli perdagangan VOC, d. Pegawai-pegawai VOC banyak melakukan korupsi dan kecurangankecurangan akibat dari gaji yang diterimanya terlalu kecil,


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 18 e. VOC mengeluarkan anggaran belanja yang cukup besar untuk memelihara tentara dan pegawai-pegawai yang jumlahnya cukup besar untu memenuhi pegawai daerah-daerah yang baru dikuasai, terutama di Jawa dan Madura. 3. Penjajahan Pemerintahan Belanda a. Masa Pemerintahan Republik Bataaf Pada periode sekitar tahun 1795 terjadi berbagai konflik di Eropa, dan pada saat itu pula terjadi perubahan di negara Belanda. Muncul kelompok yang menamakan kaum patriot. Kaum ini mendapat pengaruh dari Perancis yaitu liberte (kemerdekaan), egalite (persamaan) dan fraternite (persaudaraan). Paham tersebut kemudian dikenal dengan Paham Revolusi Perancis yang menyuarakan adanya negara keatuan di tubuh pemerintahan Belanda. Pada tahun 1795 terjadi penyerbuan Perancis atas Belanda. Belanda takluk dan Raja Willem V selaku kepala pemerintahan Belanda melarikan diri ke Inggris. Belanda dikuasai Perancis. Selanjutnya di Belanda dibentuk pemerintahan baru bernama Republik Bataaf (1795- 1806) yang dipimpin oleh Louis Napoleon saudara Napoleon Bonaparte. Di sisi lain, Raja Willem V ditempatkan di salah satu kota di Inggris dan mengeluarkan perintah agar Belanda menyerahkan wilayahnya ke Inggris, bukan kepada Perancis melalui surat – surat kew. Pihak Inggris kemudian bergerak cepat dengan mengambil alih wilayah – wilayah jajahan Belanda di Hindia Belanda salah satunya Padang pada tahun 1795, selanjutnya Ambon dan Banda pada tahun 1796. Inggris juga memperkuat armada laut untu memblokade Batavia. Pemerintahan Belanda yang ada di Indonesia seakan di dikendalikan oleh Perancis dan semua kebijakan tidak lepas dari campur tangan Perancis. Untuk mempertahankan wilayah kepulauan Nusantara, Louis Napoleon memberikan mandat kepada Herman Willem Daendels yang merupakan salah satu tokoh revolusioner untuk mempertahankan tanah Jawa dari serangan Inggris. 1. Pemerintahan Herman Willem Daendels (1808 – 1811)


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 19 Daendels memimpin sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda pada periode 1808 hingga 1811. Daendels ditugaskan untuk mempertahankan wilayah Nusantara dari serangan Inggris. Daendels dituntut memperkuat pertahanan dan memperbaiki administrasi pemerintahan serta meningkatkan ekonomi khususnya di tanah Jawa. Daendels merupakan seorang tokoh dari kaum patriot yang dipengaruhi ajaran Revolusi Perancis. Berikut ini adalah kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan Daendels selama memerintah. Bidang Pertahanan dan Keamanan Untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris, Daendels mengeluarkan kebijakan diantaranya : a. Membangun benteng – benteng pertahanan b. Membangun angkatan laut di Anyer dan Ujung Kulon. Pada perkembangannya pembangunan pangkalan di Ujung Kulon tidak berhasil c. Meningkatkan jumlah tentara dengan merekrut pribumi menjadi pasukan Belanda d. Pembangunan jalan Anyer hingga Panarukan Dengan adanya kebijakan – kebijakan yang dilakukan Daendels, seolah merubah pandangan dari Daendels yang dikenal sebagai tokoh muda yang demokratis dan menjiwai panji – panji Revolusi Perancis menjadi seorang yang diktator dan bertangan besi. Daendels memaksa kerja rodi untuk pembangunan jalan raya yang menyebabkan banyaknya orang – orang yang jatuh sakit dan meninggal. Bidang Pemerintahan Pada bidang pemerintahan, Daendels banyak melakukan perubahan dalam tata cara dan adat istiadat kerajaan – kerajaan di Jawa. Jika sebelumnya VOC ketika menyambangi Kasunana Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta masih menggunakan tata cara tertentu seperti memberi hormat, tidak menggunakan payung emas, membuka topi ketika duduk dan duduk di kursi yang lebih rendah dari raja, Daendels menolak menjalani hal – hal tersebut. Pakubuwono IV bahkan terpaksa menerima, sedangkan Hamengkubuwono II menolak. Adanya penolakan dari Hamengkubuwono menyebabkan perseturuan dengan pihak Belanda. Daendels berhasil mempengaruhi Mangkunegara II untuk membentuk pasukan Legiun Mangkunegara yang sewaktu – waktu dapat membantu Daendels ketika dibutuhkan. Dengan adanya kekuatan Belanda dan dukungan dari beberapa kerajaan, Daendels bersikap congkak


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 20 dan banyak melakukan intervensi dengan ikut campur dalam internal kerajaan seperti pada saat pergantian raja. Melihat adanya intervensi dari Daendels, Raden Rangga yang merupakan kepala pemerintahan Mancanegara dibawah Kesultanan Yogyakarta mulai melakukan perlawanan. Hamengkubuwono II mendukung sepenuhnya perlawanan Raden Rangga. Namun sayangnya perlawanan Raden Rangga mampu ditumpas dan Raden Rangga terbunuh dalam perlawanannya sendiri. Setelah mampu menumpas perlawanan Raden Rangga, Daendels memberi ultimatum kepada Hamengkubuwono II untuk mengangkat Danureja II menjadi patih dan Hamengkubuwono II harus mengganti rugi kepada pemerintah Belanda atas perlawanan Raden Rangga. Sultan Hamengkubuwono II menolak ultimatum tersebut dan akhirnya terjadi perseturuan untuk kedua kalinya. Pada tahun 1810, Daendels membawa 3.200 pasukan ke Yogyakarta. Dengan pasukan ini, Hamengkubuwono II akhirnya tunduk dan turun tahta digantikan Hamengkubuwono III. Hamengkubuwono II lebih sering disebut Sultan Raja dan Hamengkubuwono III disebut Sultan Sepuh (Sepuh / Tua). Hamengkubuwono II masih diizinkan untuk tinggal di keraton. Selain itu, Daendels menerapkan kebijakan – kebijakan untuk memperkuat kedudukannya, diantaranya : a. Membatasi kekuasaan raja – raja di Nusantara b. Membagi pulau Jawa menjadi sembilan daerah prefectuur / prefektur. c. Kedudukan bupati yang sebelumnay berdiri sendiri diubah menjadi pegawai pemerintahan Belanda yang digaji. Sekalipun begitu, bupati masih memiliki hak penuh dalam mengelola pemerintahannya. Kerajaan Banten dan Cirebon dihapus dan daerahnya dinyatakan sebagai wilayah pemerintahan kolonial Belanda. Bidang Peradilan Untuk mengatur ketertiban dan keberlangsungan pemerintahan Belanda, Daendels memberlakukan perbaikan di bidang peradilan diantaranya: 1. Penerapan tiga jenis peradilan : (1) peradilan untuk orang Eropa; (2) peradilan untuk orang Timur Asing; (3) peradilan untuk orang pribumi. Khusus untuk peradilan pribumi


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 21 dibentuk di setiap prefektur seperti di Batavia, Surabaya dan Semarang. 2. Peraturan tentang pemberantasan korupsi tanpa memandang kasta baik itu orang Eropa maupun Timur Asing. Bidang Ekonomi Sepeninggal VOC dengan segala carut marut keuangan, hutang dan korupsi, Daendels dituntut memperbaiki sistem dan mengembalikan kestabilan ekonomi Hindia Belanda sembari mengumpulkan uang untuk biaya perang. Daendels melakukan beberapa kebijakan diantaranya : a. Memaksa para penguasa di Jawa untuk menggabungkan diri ke dalam wilayah pemerintahan kolonial b. Melakukan pemungutan pajak c. Meningkatkan hasil bumi berupa tanaman – tanaman yang laku di pasaran dunia d. Penyerahan wajib hasil pertanian bagi pribumi e. Melakuakan penjualan tanah kepada pihak swasta 2. Pemerintahan Jan Willem Janssens (1811) Pada Bulan Mei tahun 1811, Daendels dipanggil oleh Louis Napoleon untuk kembali ke negara Belanda. Sepeninggal Daendels sebagai Gubernur Jendral, ia digantikan oleh Jan Willem Janssens yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Jendral di Tanjung Harapan (Afrika Selatan) pada tahun 1802 – 1806. Pada tahun 1806, Janssens terusir dari Tanjung Harapan karena Tanjung Harapan jatuh ke tangan Inggris. Pada tahun 1810, Janssens ditunjuk menggantikan Daendels untuk memimpin Jawa dan resmi menjadi Gubernur Jendral di Hindia Belanda pada tahun 1811. Janssens berusaha memperbaiki keadaan di Hindia Belanda, namun Inggris sebagai musuh dari Belanda pada saat itu telah menguasai beberapa wilayah di Nusantara. Disisi lain, Lord Minto memerintahkan Thomas Stamford Raffles (pemimpin serangan Inggris) untuk menguasai pulau Jawa. Raffles pun menyiapkan serangan dan pergi ke Jawa. Pengalaman pahitpun dirasakan Janssens untuk kedua kalinya karena dalam perkembangannya ia terusir dari tanah jajahannya. Pada tanggal 4 Agustus 1811, sebanyak 60 kapal Inggris sudah berada di Batavia. Kemudian pada 26 Agustus 1811, Batavia mampu dikuasai Inggris dibawah kepemimpinan Raffles.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 22 Janssens kemudian lari ke Semarang dan bergabung dengan Legiun Mangkunegara serta prajurit Yogyakarta dan Surakarta. Pasukan Inggris masih mengejarnya hingga berhasil dipukul mundur. Janssens kemudian lari ke daerah Salatiga tepatnya di Tuntang. Janssens kemudian menyerah kepada Inggris dan ditandai dengan adanya perjanjian Kapitulasi Tuntang. Selanjutnya, simak video di bawah ini: b. Perkembangan Kolonialisme Inggris di Indonesia Penjajahan Inggris di Indonesia berlangsung singkat yaitu sekitar 5 tahun. Inggris menguasai pulau Jawa setelah melakukan penyerangan dengan menggunakan 60 kapal dan berhasil menguasai Batavia pada 26 Agustus 1811 kemudian diteruskan dengan Kapitulasi Tuntang pada 18 September 1811 Belanda menyerahkan Indonesia kepada Inggris. Saat itu yang memimpin Indonesia adalah Stamford Raffles yang memiliki kebijakan-kebijakan diantaranya. 1. Pemerintahan Raffles membagi pulau Jawa menjadi 16 Karesidenan, sistem ini diteruskan Belanda sampai akhir pendudukan di Indonesia. Dengan adanya sistem karesidenan ini memudahkan Inggris dalam mengorganisir pemerintahan. Selain itu juga mengubah sistem pemerintahan ke corak barat. 2. Bidang Ekonomi Penghapusan kewajiban tanaman ekspor menjadi awal kebijakan Raffles, selain itu Raffles juga menghapus pajak hasil bumi (Contingenten) serta sistem penyerahan wajib (Verplichte leverentie) yang dahulu diterapkan oleh VOC. Raffles melakukan sistem sewa tanah untuk mendapatkan pemasukan kas Inggris. Namun pelaksanaannya mengalami kegagalan, ada 3 faktor yang menjadi penyebab kegagalan yaitu : Sulitnya menentukan jumlah pajak tanah karena harus melakukan pengukuran dan penelitian tentang kesuburan tanah,


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 23 Sistem uang sebagai pajak yang harus dibayar belum berlaku sepenuhnya di masyarakat Indonesia, Kepemilikan tanah masih bersifat tradisional. 3. Hukum Pada bidang hukum, Raffles mengubah pelaksanaan hukum yang sebelumnya pada pemerintahan Daendels berorientasi pada ras (warna kulit) namun pada masa Raffles lebih cenderung pada besar kecilnya kesalahan. 4. Sosial Raffles menghapus adanya kerja rodi dan perbudakan, namun dalam kenyataannya Raffles juga melakukan pelanggaran undang - undang dengan melakukan kegiatan serupa. 5. Ilmu Pengetahuan Pada bidang Ilmu pengetahuan Raffles menulis suatu buku yang dinamakan History of Java di London 1817. Selain itu ia juga menulis buku History of the East Indian Archipelago. Raffles mendukung perkumpulan Bataviaach Genootschap serta melakukan temuan berupa bunga Rafflesia Arnoldi. Raffles juga pernah mengundang para ahli pengetahuan dari luar negeri untuk melakukan penelitian - penelitian di Indonesia. Raffles menemukan bunga raksasa yang diyakini sebagai bunga terbesar di dunia bersama seroang bernama Arnoldi. Adanya gejolak di Eropa atas situasi Inggris dan Belanda berdampak pula bagi pemerintahan Indonesia di bawah Inggris. Ditandatanganinya perjanjian London yang berisi bahwa Belanda mendapatkan kembali jajahannya pada 1814 menjadi akhir dari pemerintahan Inggris di Indonesia. Belanda secara resmi kembali menguasai Indonesia semenjak tahun 1816. 6. Kebijakan Sewa Tanah Masa Pemerintahan Raffles Setelah Inggris menguasai Indonesia, Raffles ditunjuk untuk menjadi Gubernur EIC (East Indies Company) di Indonesia yang diangkat pada 19 Oktober 1811 dan menjabat selama lima tahun (1811 - 1816). Raffles yang menjabat sebagai Gubernur melakukan perubahan - perubahan baik di bidang ekonomi maupun pemerintahan. Kebijakan Contingenten yang sebelumnya diterapkan oleh pemerintahan Daendels kemudian diganti dengan kebijakan sistem sewa tanah (Landrent). Dengan adanya kebijakan ini, pribumi harus membayar sewa atas tanah mereka, karena semua tanah dianggap milik negara. 7. Pokok Sistem Sewa Tanah 1. Kerja paksa dan penyerahan wajib yang pernah berlaku dihapuskan. 2. Hasil pertanian oleh pribumi diambil langsung oleh pemerintah tanpa adanya perantara dari bupati. 3. Rakyat harus membayar tanah atas kepemilikan tanah yang mereka pergunakan kepada pemerintah.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 24 8. Kegagalan Sistem Sewa Tanah 1. Sulitnya menentukan pajak untuk luas yang berbeda-beda kepada pemilik tanah. 2. Sulitnya menentukan tingkat kesuburan suatu tanah 3. Terbatasnya jumlah pegawai 4. Sistem uang belum sepenuhnya berlaku di masyarakat pedesaan 9. Pembagian Wilayah Pada Masa Pemerintahan Raffles Kebijakan selanjutnya yang dilakukan oleh Raffles yaitu dengan membagi wilayah Jawa menjadi 16 daerah karesidenan. Kebijakan ini dilakukan agar pemerintahan Inggris lebih mudah dalam melakukan pengawasan terhadap daerah - daerah di pulau Jawa. Setiap residen tersebut dikepalai oleh seorang residen dan asisten residen. 16 Karesidenan tersebut diantaranya Madura, Banyuwangi, Besuki, Pasuruan, Surabaya, Gresik, Rembang, Jepara, Jipang-Grobogan, Kedu, Semarang, Pekalongan, Tegal, Cirebon, Batavia dan Banten. Untuk wilayah pedalaman yaitu pada Kasunana Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta wilayah tersebut meliputi Mancanegara Wetan dan Mancanegara Kilen. Setelah menentukan 16 karesidenan, kemudian karesidenan tersebut dibagi menjadi wilayah kabupaten yang dipimpin oleh seorang bupati. Bupati tersebut dibantu oleh seorang patih yang bertugas sebagai pengawas teritorial. Kepala residen membawahi bidang pemerintahan, peradilan serta pajak negara. 3. Dominasi Pemerintahan Belanda Kebijakan Cultuurstelsel (Tanam Paksa) Belanda kembali menguasai wilayah Indonesia berdasarkan Konvensi London tahun 1814. Pemerintahan kolonial Belanda selanjutnya dipegang oleh sebuah komisi yang beranggotakan Vander Capellen, Elout, dan Buyskes. Van der Capellen mempunyai peranan paling besar, ia merusaha mengeruk keuntungan sebanyak mungkin. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk membayar hutang-hutang Belanda yang cukup besar selama perang. Kebijakan yang di ambil oleh Van der Capellen salah satunya adalah dengan menyewakan tanah kepada penguasa-penguasa Eropa. Selanjutnya pemerintah kolonial Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jendral Van den Bosch mengambil kebijakan tanam paksa pada tahun 1830 yang dikenal sebagai cultuurstelsel dalam bahasa Belanda yang mulai diterapkan di Indonesia.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 25 Gambar : Kota Batavia (sumber : //www.google.com/search?q=tanam+paksa+gambar) Sistem Tanam Paksa telah merendahkan harkat dan martabat Bangsa Indonesia di rendahkan sampai menjadi perkakas bangsa Asing dalam usaha penjajah asing untuk mengisi kasnya. Keadaan rakyat sudah tentu kacau, sawah dikurangi untuk keperluan tanam paksa, rakyat dipaksa bekerja dimana-mana, kadang-kadang harus bekerja di kebun yang letaknya sampai 45 kilometer dari desanya. Kerja rodi dilaksanakan, pajak tanah harus dibayar, di pasar di peras oleh orang asing yang memborong pasar- pasar itu. Ditambah lagi para pegawai pemerintah kolonial Belanda ikut-ikutan memeras rakyat. Dalam sistem ini, para penduduk dipaksa menanam hasil-hasil perkebunan yang menjadi permintaan pasar dunia pada saat itu, seperti teh, kopi dll. Hasil tanaman itu kemudian diekspor ke mancanegara. Sistem ini membawa keuntungan yang sangat besar untuk pihak Belanda dari keuntungan ini, utang Belanda dapat dilunasi dan semua masalah keuangan bisa diatasi. Demikianlah nasib rakyat Indonesia yang di jajah Belanda. Akibat program- program Belanda yang ingin menambah kas keuangan mereka rakyat menjadi sengsara, kelaparan merajalela, bahkan sampai menimbulkan kelaparan yang berujung kematian. Keadaan ini menimbulkan reaksi yang keras sampai di negeri Belanda. Mereka berpendapat bahwa sistem tanam paksa dihapuskan dan diganti keikutsertaan pihak swasta Belanda untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Sistem tanam paksa kemudia secara berangsur-angsur dihapuskan tahun 1861, 1866, 1890, dan 1916. Selanjutnya simak video di bawah ini:


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 26 Politik Pintu Terbuka Pada tahun 1870 di Indonesia mulai dilaksanakan politik kolonial liberal yang sering disebut ”Politik Pintu Terbuka (open door policy)”. Sejak saat itu pemerintah Hindia Belanda membuka Indonesia bagi para pengusaha asing untuk menanamkan modalnya, khususnya di bidang perkebunan. Periode antara tahun 1870 -1900 disebut zaman liberalisme. Pada waktu itu pemerintahan Belanda dipegang oleh kaum liberal yang kebanyakan terdiri dari pengusaha swasta mendapat kesempatan untuk menanam modalnya di Indonesia dengan cara besarbesaran. Mereka mengusahakan perkebunan besar seperti perkebunan kopi, teh, tebu, kina, kelapa, cokelat, tembakau, kelapa sawit dan sebagainya. Mereka juga mendirikan pabrik seperti pabrik gula, pabrik cokelat, teh, rokok, dan lain-lain. Pelaksanaan politik kolonial liberal ditandai dengan keluarnya undang-undang Agraria dan Undang-Undang Gula. Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) 1870 Undang-undang ini merupakan sendi dari peraturan hukum agraria kolonial di Indonesia yang berlangsung dari 1870 sampai 1960. Peraturan itu hapus dengan dikeluarkannya UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria tahun 1960) oleh Pemerintah Republik Indonesia. Jadi Agrarische Wet itu telah berlangsung selama 90 tahun hampir mendekati satu abad umurnya. Wet itu tercantum dalam pasal 51 dari Indische Staatsregeling, yang merupakan peraturan pokok dari undang-undang Hindia Belanda. Menteri jajahan Belanda De Waal, berjasa menciptakan wet ini yang isinya, antara lain sebagai berikut: 1. Gubernur jenderal tidak boleh menjual tanah 2. Gubernur jenderal boleh menyewakan tanah menurut peraturan undang- undang. 3. Dengan peraturan undang-undang akan diberikan tanah-tanah dengan hak Erfpacht, yaitu hak pengusaha untuk dapat menyewa tanah dari gubernemen paling lama 75 tahun, dan seterusnya.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 27 Undang-undang agraria pada intinya menjelaskan bahwa semua tanah milik penduduk Indonesia adalah milik pemerintah kerajaan Belanda. Maka pemerintah Belanda memberi mereka kesempatan untuk menyewa tanah milik penduduk dalam jangka waktu yang panjang. Sewa-menyewa tanah itu diatur dalam Undang-Undang Agraria tahun 1870. Undang-undang itu juga dimaksudkan untuk melindungi petani, agar tanahnya tidak lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangan para pengusaha. Tetapi seringkali hal itu tidak diperhatikan oleh pembesarpembesar pemerintah. Dengan dibukanya perkebunan di daerah pedalaman, maka rakyat di desa- desa langsung berhubungan dengan dunia modern. Mereka mulai benar-benar mengenal artinya uang. Mereka juga mengenal hasil bumi yang diekspor dan barang luar negeri yang diimpor, seperti tekstil. Hal ini tentu membawa kemajuan bagi petani. Sebaliknya usaha bangsa sendiri banyak yang terdesak, misalnya usaha kerajinan, seperti pertenunan menjadi mati. Di antara pekerja-pekerjanya banyak yang pindah bekerja di perkebunan dan pabrik-pabrik. Karena adanya perkebunan- perkebunan itu, Hindia Belanda menjadi negeri pengekspor hasil perkebunan. Undang-Undang Gula (Suiker Wet) Dalam undang-undang ini ditetapkan bahwa tebu tidak boleh diangkut ke luar Indonesia, tetapi harus diproses di dalam negeri. Pabrik gula milik pemerintah akan dihapus secara bertahap dan diambil alih oleh pihak swasta. Pihak swasta juga diberi kesempatan yang luas untuk mendirikan pabrik gula baru. Sejak itu Hindia Belanda menjadi negara produsen hasil perkebunan yang penting. Apalagi sesudah Terusan Suez dibuka, perkebunan tebu menjadi bertambah luas, dan produksi gula juga meningkat.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 28 Gambar : Pabrik gula (sumber https://klatenqta.wordpress.com/dulu-dankini/pabrik-gula-gondang-baru/ Terbukanya Indonesia bagi swasta asing berakibat munculnya perkebunan- perkebunan swasta asing di Indonesiaseperti perkebunan teh dan kina di Jawa Barat, perkebunan tembakau di Deli, Sumatera Timur, perkebunan tebu di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan perkebunan karet di Serdang. Selain di bidang perkebunan, juga terjadi penanaman modal di bidang pertambangan, seperti tambang timah di Bangka dan tambang batu bara di Umbilin. Khusus perkebunan di Sumatera Timur yaitu Deli dan Serdang, tenaga kerjanya didatangkan dari Cina di bawah sistem kontrak. Dengan hapusnya sistem perbudakan, maka sistem kerja kontrak kelihatan sebagai jalan yang paling logis bagi perkebunan- perkebunan Sumatera Timur, untuk memperoleh jaminan bahwa mereka dapat memperoleh dan menahan pekerja-pekerja untuk beberapa tahun. Dalam tahun 1888 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan pertama mengenai persyaratan hubungan kerja kuli kontrak di Sumatera Timur yang disebut (Koelie Ordonnantie). Koeli Ordonnantie ini, yang mula-mula hanya berlaku untuk Sumatera Timur tetapi kemudian berlaku pula di semua wilayah Hindia Belanda di luar Jawa, memberi jaminan-jaminan tertentu pada majikan terhadap kemungkinan pekerja- pekerja melarikan diri sebelum masa kerja mereka menurut kontrak kerja habis. Di lain pihak juga diadakan peraturan-peraturan yang melindungi para pekerja terhadap tindakan sewenang-wenang dari sang majikan. Untuk memberi kekuatan pada peratuan-peraturan dalam Koeli Ordonnantie, dimasukkan pula peraturan mengenai hukuman-hukuman yang dapat dikenakan terhadap pelanggaran, baik dari pihak majikan maupun dari pihak pekerja. Dalam kenyataan ternyata bahwa ancaman hukuman yang dapat dikenakan terhadap pihak majikan hanya merupakan peraturan di atas kertas jarang atau tidak pernah dilaksanakan. Dengan demikian ancaman hukuman untuk pelanggaran-pelanggaran hanya jatuh di atas pundak pekerja- pekerja perkebunan. Ancaman hukuman yang dapat dikenakan pelaksanaan politik pintu terbuka, tidak membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tetap buruk nasibnya. Banyak di antara penduduk yang bekerja di perkebunan-perkebunan swasta dan pabrik-pabrik dengan perjanjian kontrak kerja. Mereka terikat kontrak yang sangat merugikan. Mereka harus bekerja keras tetapi tidak setimpal upahnya dan tidak terjamin makan dan kesehatannya. Nasib rakyat sungguh sangat sengsara dan miskin.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 29 Kebijakan Politik Etis Melihat kenyataan banyaknya rakyat Indonesia yang menderita akibat kenijakan Pemerintah Kolonial Belanda, para pengabdi kemanusiaan yang dulu menentang tanam paksa, mendorong pemerintah colonial untuk memperbaiki nasib rakyat Indonesia. Sudah menjadi kewajiban pemerintah Belanda untuk memajukan bangsa Indonesia, baik jasmani maupun rohaninya. Dengan dalih untuk memajukan bangsa Indonesia itulah kemudian dilaksanakan Politik Etis. Pada pekerja-pekerja perkebunan yang melanggar ketentuan- ketentuan kontrak kerja kemudian terkenal sebagai poenale sanctie. Poenale sanctie membuat ketentuan bahwa pekerja-pekerja yang melarikan diri dari perkebunan- perkebunan Sumatera Timur dapat ditangkap oleh polisi dan dibawa kembali ke perkebunan dengan kekerasan jika mereka mengadakan perlawanan. Lain-lain hukuman dapat berupa kerja paksa pada pekerja-pekerja umum tanpa pembayaran atau perpanjangan masa kerja yang melebihi ketentuan-ketentuan kontrak kerja. Pencetus politik etis (politik balas budi) ini adalah Van Deventer. Van Deventer memperjuangkan nasib bangsa Indonesia denga nmenulis karangan dalam majalah DeGids yang berjudul Eeu Eereschuld (Hutang Budi). Van Deventer menjelaskan bahwa Belanda telah berhutang budi kepada rakyat Indonesia. Hutang budi itu harus dikembalikan dengan memperbaiki nasib rakyat, mencerdaskan dan memakmurkan. Menurut Van Deventer, ada tiga cara untuk memperbaiki nasib rakyat tersebut, yaitu memajukan. a. Edukasi (Pendidikan). Dengan edukasi akan dapat meningkatkan kualitas bangsa Indonesia sehingga dapat diajak memajukan perusahaan perkebunan dan mengurangi keterbelakangan. b. Irigasi (pengairan). Dengan irigasi tanah pertanian akan menjadi subur dan produksinya bertambah. c. Emigrasi (pemindahan penduduk). Dengan emigrasi tanah-tanah di luar Jawa yang belum diolah menjadi lahan perkebunan, akan dapat diolah untuk menambah penghasilan. Selain itu juga untuk mengurangi kepadatan penduduk Jawa.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 30 Gambar : Politik Etis ( sumber : https://kangone.blogspot.com/2017/10/materi-6a-politik-etis-dandampaknya.html) Pendukung Politik Etisusulan Van Deventer adalah sebagai berikut. a. Mr. P. Brooshoof, redaktur surat kabar De Lokomotif, yang pada tahun 1901 menulis buku berjudul De Ethische Koers In de Koloniale Politiek (Tujuan Ethis dalam Politik Kolonial). b. K.F. Holle, banyak membantu kaum tani. c. Van Vollen Hoven, banyak memperdalam hokum adat pada beberapa suku bangsa di Indonesia. d. Abendanon, banyak memikirkan soal pendidikan penduduk pribumi. e. Leivegoed, seorangjurnalis yang banyak menulis tentang rakyat Indonesia. f. Van Kol, banyak menulis tentang keadaanp emerintahan Hindia Belanda. g. Douwes Dekker (Multatuli), dalam bukunya yang berjudul Max Havelaar, bercerita tentang kondisi masyarakat Indonesia saat itu. Usulan Van Deventer tersebut mendapat perhatian besar dari pemerintah Belanda, pemerintah Belanda menerima saran tentang Politik Etis, namun akan diselaraskan dengan sistem kolonial di Indonesia. (Edukasi dilaksanakan, tetapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pegawai rendahan). Pendidikan dipisah- pisah antara orang Belanda, anak bangsawan, dan rakyat. Bagi rakyat kecil hanya tersedia sekolah rendah untuk mendidik anak


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 31 menjadi orang yang setia pada penjajah, pandai dalam administrasi dan sanggup menjadi pegawai dengan gaji yang rendah. Dalam bidang irigasi (pengairan) diadakan pembangunan dan perbaikan. Tetapi pengairan tersebut tidak ditujukan untuk pengairan sawah dan ladang milik rakyat, namun untuk mengairi perkebunan-perkebunan milik swasta asing dan pemerintah kolonial. Emigrasi juga dilaksanakan oleh pemerintah Belanda bukan untuk memberikan penghidupan yang layak serta pemerataan penduduk, tetapi untuk membuka hutan- hutan baru di luar pulau Jawa bagi perkebunan dan perusahaan swasta asing. Selain itu juga untuk mendapatkan tenaga kerja yang murah. Jelaslah bahwa pemerintah Belanda telah menyelewengkan Politik Etis. Usaha- usaha yang dilaksanakan baik edukasi, irigasi, dan emigrasi, tidak untuk memajukan rakyat Indonesia, tetapi untuk kepentingan penjajah itu sendiri. Sikap penjajah Belanda yang demikian itu telah menyadarkan bangsa Indonesia bahwa penderitaan dan kemiskinan rakyat Indonesia dapat diperbaiki jika bangsa Indonesia bebas merdeka dan berdaulat. a. Perkembangan Penjajahan Inggris di Indonesia Penjajahan Inggris di Indonesia berlangsung singkat yaitu sekitar 5 tahun. Inggris menguasai pulau Jawa setelah melakukan penyerangan dengan menggunakan 60 kapal dan berhasil menguasai Batavia pada 26 Agustus 1811 kemudian diteruskan dengan Kapitulasi Tuntang pada 18 September 1811 Belanda menyerahkan Indonesia kepada Inggris. Saat itu yang memimpin Indonesia adalah Stamford Raffles yang memiliki kebijakan-kebijakan diantaranya. 7. Pemerintahan Raffles membagi pulau Jawa menjadi 16 Karesidenan, sistem ini diteruskan Belanda sampai akhir pendudukan di Indonesia. Dengan adanya sistem karesidenan ini memudahkan Inggris dalam mengorganisir pemerintahan. Selain itu juga mengubah sistem pemerintahan ke corak barat. 8. Bidang Ekonomi


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 32 Penghapusan kewajiban tanaman ekspor menjadi awal kebijakan Raffles, selain itu Raffles juga menghapus pajak hasil bumi (Contingenten) serta sistem penyerahan wajib (Verplichte leverentie) yang dahulu diterapkan oleh VOC. Raffles melakukan sistem sewa tanah untuk mendapatkan pemasukan kas Inggris. Namun pelaksanaannya mengalami kegagalan, ada 3 faktor yang menjadi penyebab kegagalan yaitu : Sulitnya menentukan jumlah pajak tanah karena harus melakukan pengukuran dan penelitian tentang kesuburan tanah, Sistem uang sebagai pajak yang harus dibayar belum berlaku sepenuhnya di masyarakat Indonesia, Kepemilikan tanah masih bersifat tradisional. 9. Hukum Pada bidang hukum, Raffles mengubah pelaksanaan hukum yang sebelumnya pada pemerintahan Daendels berorientasi pada ras (warna kulit) namun pada masa Raffles lebih cenderung pada besar kecilnya kesalahan. 10. Sosial Raffles menghapus adanya kerja rodi dan perbudakan, namun dalam kenyataannya Raffles juga melakukan pelanggaran undang - undang dengan melakukan kegiatan serupa. 11. Ilmu Pengetahuan Pada bidang Ilmu pengetahuan Raffles menulis suatu buku yang dinamakan History of Java di London 1817. Selain itu ia juga menulis buku History of the East Indian Archipelago. Raffles mendukung perkumpulan Bataviaach Genootschap serta melakukan temuan berupa bunga Rafflesia Arnoldi. Raffles juga pernah mengundang para ahli pengetahuan dari luar negeri untuk melakukan penelitian - penelitian di Indonesia. Raffles menemukan bunga raksasa yang diyakini sebagai bunga terbesar di dunia bersama seroang bernama Arnoldi. Adanya gejolak di Eropa atas situasi Inggris dan Belanda berdampak pula bagi pemerintahan Indonesia di bawah Inggris. Ditandatanganinya perjanjian London yang berisi bahwa Belanda mendapatkan kembali jajahannya pada 1814 menjadi akhir dari pemerintahan Inggris di Indonesia. Belanda secara resmi kembali menguasai Indonesia semenjak tahun 1816. 12. Kebijakan Sewa Tanah Masa Pemerintahan Raffles Setelah Inggris menguasai Indonesia, Raffles ditunjuk untuk menjadi Gubernur EIC (East Indies Company) di Indonesia yang diangkat pada 19 Oktober 1811 dan menjabat selama lima tahun (1811 - 1816). Raffles yang menjabat sebagai Gubernur melakukan perubahan - perubahan baik di bidang ekonomi maupun pemerintahan. Kebijakan Contingenten yang sebelumnya diterapkan oleh pemerintahan Daendels kemudian diganti dengan kebijakan sistem sewa tanah (Landrent). Dengan adanya kebijakan ini, pribumi harus membayar sewa atas tanah mereka, karena semua tanah dianggap milik negara.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 33 7. Pokok Sistem Sewa Tanah 1. Kerja paksa dan penyerahan wajib yang pernah berlaku dihapuskan. 2. Hasil pertanian oleh pribumi diambil langsung oleh pemerintah tanpa adanya perantara dari bupati. 3. Rakyat harus membayar tanah atas kepemilikan tanah yang mereka pergunakan kepada pemerintah. 8. Kegagalan Sistem Sewa Tanah 1. Sulitnya menentukan pajak untuk luas yang berbeda-beda kepada pemilik tanah. 2. Sulitnya menentukan tingkat kesuburan suatu tanah 3. Terbatasnya jumlah pegawai 4. Sistem uang belum sepenuhnya berlaku di masyarakat pedesaan 9. Pembagian Wilayah Pada Masa Pemerintahan Raffles Kebijakan selanjutnya yang dilakukan oleh Raffles yaitu dengan membagi wilayah Jawa menjadi 16 daerah karesidenan. Kebijakan ini dilakukan agar pemerintahan Inggris lebih mudah dalam melakukan pengawasan terhadap daerah - daerah di pulau Jawa. Setiap residen tersebut dikepalai oleh seorang residen dan asisten residen. 16 Karesidenan tersebut diantaranya Madura, Banyuwangi, Besuki, Pasuruan, Surabaya, Gresik, Rembang, Jepara, Jipang-Grobogan, Kedu, Semarang, Pekalongan, Tegal, Cirebon, Batavia dan Banten. Untuk wilayah pedalaman yaitu pada Kasunana Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta wilayah tersebut meliputi Mancanegara Wetan dan Mancanegara Kilen. Setelah menentukan 16 karesidenan, kemudian karesidenan tersebut dibagi menjadi wilayah kabupaten yang dipimpin oleh seorang bupati. Bupati tersebut dibantu oleh seorang patih yang bertugas sebagai pengawas teritorial. Kepala residen membawahi bidang pemerintahan, peradilan serta pajak negara.


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 34 RANGKUMAN 1. Latar belakang datangnya bangsa-bangsa Barat ke Indonesia: Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani (1453), adanya berbagai penemuan di bidang teknologi, semangat melanjutkan Perang Salib, semangat 3G. 2. Bangsa-bangsa Barat (Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris), mencari daerah baru untuk memburu rempah-rempah melalui penjelajahan samudra atau jalur laut. 3. Dari konteks Indonesia, orang-orang Spanyol datang ke Indonesia melalui jalur timur, sedang Portugis melalui jalur barat, diikuti Belanda dan Inggris. 4. Orang-orang Barat itu telah menemukan buruannya yakni Kepulauan Nusantara, penghasil rempah-rempah yang diibaratkan sebagai “mutiara dari timur”. Sungguh luar biasa kekayaan bumi Nusantara sebagai rahmat yang diberikan Tuhan Yang maha Pengasih. Oleh karena itu, harus disyukuri. Namun sayang waktu itu rakyat Indonesia belum bersatu padu sehingga mudah dipengaruhi dan dikuasai oleh orang-orang Barat 5. Yang dimaksud dunia Timur penghasil rempah-rempah itu ternyata Kepulauan Nusantara. 6. Setelah menemukan daerah penghasil rempah-rempah, perdaganganpun meningkat. Untuk menghindari persaingan antarpedagang satu bangsa dibentuklah kongsi dagang. Misalnya Inggris membentuk EIC berpusat di India, Belanda mendirikan VOC di Indonesia. 7. Pada awalnya VOC dipimpin oleh Dewan Tujuh Belas (de Heeren XVII) yang berkedudukan di Amsterdam, kemudian agar lebih efektif dan produktif diangkat jabatan gubernur jenderal yang berkedudukan di Hindia. 8. VOC sebagai kongsi dagang yang ingin mencari untung sebanyak banyaknya, kemudian semakin bernafsu untuk mengusai daerah daerah di Nusantara dengan memerangi beberapa kerajaan yang ada. VOC akhirnya menjadi kongsi penjajah. Mulailah bercokol kolonialisme dan imperialisme di Indonesia. 9. Pada masa kejayaannya, wilayah kekuasaan VOC semakin luas. Ternyata hal ini menimbulkan masalah dalam hal manajemen pemerintahan. Pengawasan tidak dapat berjalan secara baik. Berbagai penyelewengan mulai terjadi. Pegawai atau pengurus VOC mulai hidup mewah dan berfoya-foya. Penyakit korupsi semakin merebak. Utang VOC meningkat, dan kas habis untuk membiayai perang. VOC berada pada posisi bangkrut. 10. Tanggal 31 Desember 1799, VOC dibubarkan


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 35 11. Periode kekuasaan kolonialisme dan imperialisme dapat dipahami melalui dua fase: fase keserakahan atau kezaliman kongsi dagang dan fase dominasi pemerintahan kolonial Belanda. 12. VOC yang bermula sebagai kongsi dagang untuk mencari keuntungan, kemudian berkembang menjadi kekuatan monopoli dan intervensi di bidang politik dan pemerintahan kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara. 13. VOC akhirnya bubar karena problem manajemen, utang, dan korupsi. 14. Pemerintahan Komisaris Jenderal yang mengawali dominasi pemerintahan kolonial Belanda mengambil kebijakan jalan tengah. 15. Pelaksanaan Tanam Paksa di bawah Van den Bosch telah membawa penderitaan rakyat Indonesia yang berkepanjangan. 16. Sistem usaha swasta Belanda telah berhasil mengeruk keuntungan dari bumi Indonesia, sementara rakyat tetap menderita. 17. Seiring dengan datangnya bangsa Barat juga telah membawa pengaruh pada perkembangan agama Kristen Katolik dan Kristen Protestan di Indonesia


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 36 SOAL LATIHAN: A. Pilihan berganda 1. Runtuhnya Kekaisaran Romawi membawa dampak kemunduran bagi bangsa Eropa. Zaman ini dinamakan … A. Zaman kemunduran B. Renaissance C. Kolonialisme D. Dark Age E. Revolusi Industri 2. Perang salib/ perang suci antara orang-orang Eropa melawan Turki Seljuk dan orangorang Arab membawa dampak bagi sejarah dunia yaitu … A. Adanya larangan bagi peziarah-peziarah Kristen untuk mengunjungi Yerusalem. B. Jatuhnya Dinasti Umayyah di Spanyol yang telah tujuh abad berkuasa. C. Paus Urbanus berusaha untuk mempersatukan kembali gereja Roma dengan gereja di Romawi Timur D. Terputusnya jalur perdagangan Asia dan Eropa E. Jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan Turki Usmani 3. Jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan Turki Usmani membawa dampak … A. Kemajuan Kota Konstantinopel B. Pecahnya perang salib/ perang suci C. Larangan bagi peziarah Kristen untuk mengunjungi Yerussalem D. Bersatunya gereja Roma dan gereja Ortodok E. Penjelajahan samudra oleh bangsa barat 4. Bangsa Portugis sampai di Maluku pada tahun … A. 1510 B. 1511 C. 1512 D. 1521 E. 1602


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 37 4. Perselisihan antar Portugis dan Spanyol dapat diselesaikan dengan sebuah perjanjian yaitu … A. Perjanjian Saragosa B. Perjanjian Tordesillas C. Perjanjian Giyanti D. Traktat London E. Kapitulasi Tuntang 5. Armada Belanda tiba di Banten pada tahun 1586 M, di bawah pimpinan … A. Van den Bosch B. Cornelis de Houtman C. Jacob Van Neck D. J. P. Coen E. Sir James Lacaster B. Selesaikan soal soal di bawah ini dengan benar dan komprehensip. 1. Deskripsikan pengertian imperialisme dan kolonialisme serta rekonstruksikan imperialisme dan kolonialisme yang terjadi di Indonesia 2. Analisiskan bagaimana bangsa barat sampai ke Indonesia dan hal apa yang melatarbelakanginya 3. Jelaskan mengapa indonesia disebut-sebut sebagai negara mutiara dari timur 4. Analisiskan apa perbedaan sikap bangsa portugis dan spanyol ketika sampai ke Indonesia sehingga keduanya mendapatkan perlakuan yang berbeda dari rakyat Indonesia 5. Tuliskan Hal apa yang dapat kamu petik hikmahnya dari materi pembelajaran KD 3.1 ini? C. Uji cara retorika dan daya ingat cepat melalui tes lisan 1. Coba jelaskan ulang materi yang telah dijelaskan oleh guru mengenai kolonialisme dan imperialisme 2. Berikan kesimpulan mengenai materi “ Perburuan Mutiara dari Timur yang dilakukan Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia”


Modul Sejarah kelas XI KD 3.1 38 DAFTAR PUSTAKA Aman, 2014. Indonesia dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme/Aman. Yogyakarta: Pujangga Press Yogyakarta. Buku siswa: Indonesia, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2014). Sejarah Indonesia: Kelas XI Semester 1 (Kurikulum 2013). Jakarta: Kemendikbud. Halaman: 65-180. Buku siswa: Indonesia, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Sejarah Indonesia: Kelas XI Semester 1 (Kurikulum 2013). Jakarta: Kemendikbud. Halaman: 1-65. Lestiani, Dwi Ari. 2009. Sejarah 2: Untuk SMA/MA Kelas IPS. Jakarta: Depdiknas. Imtam, Ismawati, 2009. Sejarah Kelas XI Program Bahasa. Jakarta: pusat perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional Lestiani, Dwi Ari. 2009. Sejarah Kelas XI Program Bahasa. Jakarta: Pusat perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional https://www.studocu.com/id/document/universitas-negeri-yogyakarta/pendidikansejarah/modul-ajar-respon-bangsa-indonesia-terhadap-kolonialisme-danimperialisme-barat-yang-melahirkan-nasionalisme/43539121


Click to View FlipBook Version