1. Persahabatan Ikan Gabus dan Tupai
Di suatu sungai, hiduplah seekor ikan gabus yang bersahabat dengan seekor
tupai. Mereka hidup saling membantu setiap harinya. Suatu hari, si Ikan gabus jatuh
sakit. Dengan setia, si Tupai merawat si Ikan gabus. Sudah beberapa hari si Ikan
gabus tidak enak makan. Maka, si Tupai berusaha membujuknya. Si Ikan gabus
hanya mau makan hati ikan hiu.
Mendengar permintaan tersebut, si Tupai sedih. Sebab, ikan hiu adalah hewan
yang sangat ganas dan hanya hidup di laut. Namun akhirnya, ia mencoba untuk
mencari ikan hiu.
Tupai melakukan perjalanan ke laut. Ia meloncat-loncat dari satu pohon ke pohon
lain, hingga sampai pada sebatang pohon kelapa yang batangnya menjorok laut.
Karena lelah, ia melubangi sebutir biji kelapa yang masih menempel pada pohon dan
meminum isinya. Setelah airnya habis, ia masuk ke dalam kelapa itu.
Tak lama kemudian, buah kelapa itu lepas dari tangkainya dan tercebur ke laut.
Singkat cerita, buah kelapa itu sudah berada di tengah laut. Tiba-tiba, datanglah
seekor ikan hiu besar. Dengan segera, ia menelan biji kelapa tersebut. Setelah berada
di dalam perut ikan hiu, si Tupai keluar dan mengigit hati ikan hiu. Karena kesakitan,
ikan hiu menggelepar-gelepar menuju pantai. Sesampainya di pantai, Tupai keluar
dari tubuh ikan hiu.
Dengan senang hati, si Tupai membawa hati ikan hiu untuk sahabatnya. Setelah
memakan hati tersebut, Si Ikan gabus sembuh. Ia meloncat-loncat gembira. Ia pun
berjanji akan menolong si Tupai kalau ia sakit di kemudian hari.
2. BUAH DARI KESABARAN
Pada suatu hari seekor rusa tampak tengah berdiam di pinggir sungai. Dia sedang
berpikir, bagaimana cara untuk sampai ke seberang sungai. Menurut kabar, di
seberang sungai terdapat banyak sekali makanan. Sedangkan di hutan tempat Rusa
tinggal, makanan telah habis. Rusa sangat ingin menyeberang. Tapi, tubuhnya kccil.
Jika ia tetap menyeberang dengan berenang, bisa-bisa dirinya malah tenggelam.
Tiba-tiba dari arah belakang, muncul Kerbau yang berlari sangat kencang. Tapi, ia
langsung berhenti begitu melihat Rusa yang sedang termangu.
“Hei, Rusa. Apa yang kamu tunggu? Di seberang sana ada banyak makanan. Aku
sudah sangat lapar,” ucap Kerbau, merasa tak sabar.
“Aku masih bingung, bagaimana cara sampai ke seberang sana,” jawab Rusa.
“Hahaha. Buat apa bingung? Tinggal menyeberang saja,” ucap Kerbau,
menggampangkan.
Belum sempat Rusa membalas perkatnan Kerbau, Kerbau sudah bergegas masuk ke
dalam sungai. Rupanya Kerbau sudah sangat kelaparan. Ia pun berpikir, tubuhnya
yang besar tidak akan membuatnya tenggelam. Namun, apa yang terjadi?
Hap! Tiba-tiba Buaya muncul, dan langsung menerkam Kerbau. Kerbau pun tak bisa
menghindar. Sebenarnya Buaya mengincar Rusa, tapi Rusa tak kunjung
menyeberang. Beruntung, ada Kerbau yang tidak sabar dan terburu-buru
menyeberang.
Rusa pun berlari ketakutan. Ia mencari aliran sungai yang lain. Sesampainya di pinggir
sungai lain, Ia berpikir lagi. Lalu dari arah belakang, muncul Kelinci yang berlari sangat
kencang.
“Hai, Rusa. Mengapa Kamu termenung?” tanya Kelinci,
“Aku masih belum menemukan bagaimana cara menyeberang sungal,” jawab Rusa.
“Tinggal berenang saja ke seberang,” Kelinci,kemudian menceburkan dirinya ke
sungai.
Apa yang terjadi? Olala, tubuh Kellnci terbawa arus sungai. Ia pun hilang hanyut
tenggelam terbawa arus sungai yang deras.
Rusa terus berpikir. Tak lama kemudian, ia menemukan pohon pisang yang telah mati.
Dengan sangat hati-hati, Rusa membentangkan pohon itu di atas sungai.
Aha! Jadilah jembatan pohon pisang. Rusa langsung melintasi jembatan tersebut.
Akhirnya, Rusa bisa sampai di seberang sungai dengan selamat, dia bisa makan
sepuasnya di sana.
Itulah hasil dari kesabaran Rusa. Jika saja ia tak sabar seperti Kerbau dan Kelinci,
mungkin ia tak akan bisa sampai di seberang dengan selamat.
3. KANCIL DAN BUAYA
Di sebuah hutan belantara yang luas, tinggal beraneka ragam satwa. Salah satunya
seekor kancil. Kancil yang satu ini dikenal memiliki kecerdikan yang luar biasa. Tak
hanya cerdik, kancil pun dikenal sebagai satwa yang ramah akan sesama.
Seperti suatu pagi, ia melihat seekor induk bebek yang tengah berenang bersama
anaknya. Kancil pun yang sedang berjalan menelusuri hutan menyapa bebek
tersebut, “Hai bebek! Asik sekali kamu berenang.”
Begitu pun kepada satwa-satwa lain yang sepanjang jalan tak henti menyapa dan ia
sapa. Itulah kancil dengan keramahan yang selalu disegani banyak satwa di hutan itu.
Tak hanya ramah, kancil yang terkenal akan kecerdikannya ini juga sering membantu
satwa-satwa hutan dalam memecahkan masalah. Banyak satwa yang datang ke
kancil jika mereka memiliki masalah, kancil pun dengan senang hati membantu dan
memecahkan masalah kawan-kawannya.
Seperti suatu ketika, saat tengah berjalan menelusuri hutan ia menemukan tiga ekor
anak ayam yang terperangkap di dalam lubang yang cukup dalam bagi mereka.
Kancil pun segera menghampiri anak ayam itu dan turun ke lubang tersebut untuk
membantu mereka yang terperangkap. Setelah masuk ke dalam, kancil
membungkukkan badannya dan meminta anak ayam itu untuk menaiki tubuhnya.
“Ayo! Kalian bisa naik ke tubuhku, jadi kalian bisa keluar dari ini dan bertemu induk
kalian.” Ucap kancil ramah.
Setelah semua anak ayam berhasil naik ke tubuhnya, kancil pun melompat keluar
lubang dan berjalan menemui induk ayam yang tengah kebingungan mencari anak-
anaknya. Ia pun melepaskan ketiga anak ayam tadi kepada induknya.
Sang induk pun sangat senang dan berterima kasih kepada kancil yang sudah
membantu anak mereka. Tak hanya induk ayam, ketiga ayam tadi juga bersorak
kompak mengucapkan terima kasih kepada kancil, “Terima kasih tuan kancil!” ucap
ketiga anak ayam itu girang.
Setelah berjalan-jalan, kancil pun mulai merasa lapar. Ia menepi untuk memakan
rumput yang ada di sekitarnya. Setelah makan rumput, kancil berkata, “Rmput saja
ternyata tidak membuat ku kenyang.”
Kancil kemudian terus berjalan di tengah teriknya matahari hingga dirinya tiba di
sebuah sungai yang ada di dalam hutan. Ia mendekati tepi sungai untuk sekedar
menghilangkan dahaga setelah berjalan-jalan dan makan tadi.
Setelah puas minum, kancil yang tengah memandangi sungai langsung berbinar
ketika melihat sesuatu yang menarik ada di sebrang sungai. Hal yang membuatnya
tertarik adalah pohon buah-buahan yang dapat menghilangkan rasa laparnya tadi.
Namun derasnya air sungai tidak memungkinkan kancil untuk menyebrangi sungai
tersebut. Ia pun mencari cara agar bisa menyebrangi tanpa bahaya. Sampai suatu ide
ia dapatkan yaitu dengan mengelabui buaya-buaya yang ada di sungai itu.
Seekor buaya keluar ke tepi sungai menghampiri kancil yang terlihat senang, “Hei
Kancil! Ada apa kamu ke sungai? Apa kamu mau menjadi santapan kami?” tanya
buaya itu pada kancil.
Kancil pun menjawab pertanyaan buaya dengan senang hati, “Aku mempunyai berita
baik untuk kalian semua, aku membawa daging segar dari raja dan diperintahkan
untuk menghitung jumlah buaya yang ada di sungai. Kalian cukup berjajar di sungai
dan nanti akan aku hitung.”
Merasa senang mendengar kabar kancil membawa daging segar untuk ia dan teman-
teman buaya lainnya, buaya tadi kemudian menyanggupi permintaan kancil dan
memanggil seluruh buaya yang berada di sungai untuk berjejer hingga membentuk
jembatan.
“Sudah siap!” kata semua buaya bersemangat. Kancil pun dengan girang melompati
buaya dan pura-pura menghitung buaya-buaya yang sudah berjejer membentuk
jembatan itu.
Setelah sampai ujung, kancil pun melompat ke tepi sungai. Lalu ia berkata, “Terima
kasih para buaya, berkat kalian, aku jadi bisa menyebrangi sungai ini.”
Setelah berkata seperti itu pada buaya, kancil langsung berlari kencang meninggalkan
buaya yang marah karena perbuatannya. Kancil pun dengan bebas memakan buah-
buahan yang ada di sebrang sungai untuk menghilangkan rasa laparnya.
Pesan moral yang bisa didapat dari dongeng anak kancil dan para buaya adalah
kancil menipu buaya agar bisa menyebrang sungai dan mendapat keinginannya. Itu
kemudian membuat buaya menjadi sangat marah kepada kancil.
Ini bisa menjadi pembelajaran bahwa semua perbuatan jelek hanya akan menambah
musuh.
Jadi lebih baik menggunakan kecerdasan hanya untuk hal-hal baik saja agar lebih
banyak orang yang menyegani.
4. KISAH TIKUS DAN SINGA YANG MENGAJARKAN KEBAIKAN
Di sebuah hutan yang lebat hiduplah seekor singa perkasa yang semua makhluk lain
sangat takut kepadanya. Raja hutan tersebut terkenal sangat mengerikan, tidak
mengenal rasa takut dan dia merasa harus dihormati oleh semua makhluk yang ada
di hutan. Dia menghabiskan sebagian waktunya dengan berburu dan sebagian lagi
untuk tidur.
Tidak ada makhluk hidup yang ada di hutan berani mendekati sarangnya terutama
saat singa, sang raja hutan, sedang tidur. Binatang perkasa itu sangatlah marah jika
tidurnya terganggu dengan cara apapun.
Akan tetapi, suatu hari tikus kecil sangat penasaran ingin melihat bagaimana sarang
“Singa Si Raja Hutan”. Dengan niat yang bulat dia berangkat ke gua dimana singa
biasa beristirahat. Namun, ketika dia sampai, dia tidak melihat adanya sang Raja
Hutan.
“Dia pergi ke suatu tempat. Apakah dia akan segera Kembali?” kata si tikus kecil
bertanya dalam hati.
Untuk mengobati rasa penasarannya, si tikus kecil masuk menyelinap ke dalam gua.
Gua itu sangatlah gelap, dia melihat jejak kaki sang raja hutan di tanah dan jejak kaki
besar itu membuatnya sangat ketakutan.
“Sepertinya aku harus segera kembali”, pikir si tikus.
Namun, malang, saat itu terdengar suara langkah kaki singa memasuki gua.
“Oh tidak, dia akan segera masuk. Apa yang harus aku lakukan”, si tikus gemetar.
Ternyata Singa Si Raja Hutan hanya pergi untuk minum di sungai dan dia datang
Kembali untuk beristirahat.
Si tikus bersembunyi di dalam gua yang gelap dan melihat bayangan yang besar singa
jatuh di lantai. Singa duduk di dekat pintu masuk gua dan beristirahat dengan
kepalanya menempel di kakinya yang besar. Ia langsung tertidur pulas. Seluruh gua
tampak bergetar karena dengkuran keras Si Raja Hutan.
Si tikus berusaha merayap keluar secara diam-diam. Ia pun berada di dekat pintu
masuk gua. Namun, saat ia mencoba untuk menyeberangi singa, ekor kecilnya
menyerempet kaki kiri dari Sang Raja Hutan dan penguasa hutan terbangun dengan
kaget. Terlihat kemarahannya saat dia melihat tikus kecil di sarangnya.
Walaupun takut, si tikus tidak kehilangan akal, dia segera berlari. Namun, malang,
singa segera dapat menangkapnya. Sang raja hutan membuka rahang untuk menelan
tubuh si tikus kecil.
Si tikus kecil seketika berteriak.
“Maaf ya Raja, saya tidak bermaksud membangunkan Anda, saya hanya mencoba
untuk meninggalkan gua ini dimana selama ini saya sangat penasaran ingin
melihatnya. Mohon biarkan saya pergi kali ini dan saya tidak akan pernah lupa
kebaikan Anda. Jika takdir memberi saya kesempatan, saya akan membantu Anda
dengan cara yang saya bisa pada suatu hari nanti.”
Singa merasa geli dengan ucapan si tikus. Bagaimana tikus kecil membantunya? Tapi
dia membiarkan tikus kecil itu pergi dan tertawa terbahak-bahak. Si tikus berlari untuk
menyelamatkan hidupnya, dia sangat berterima kasih kepada Sang Raja Hutan yang
tidak jadi memakannya.
Beberapa hari sejak kejadian itu, seperti biasa, Singa Sang Raja Hutan pergi
berkeliling.
Pada suatu hari, tiba-tiba dia terjebak dalam jerat pemburu. Dia berjuang mati-matian
untuk membebaskan diri. Sayangnya, semua usahanya tidak menunjukkan hasil, dia
hanya menemukan dirinya bahkan lebih terjerat kuat di dalam jarring tali pemburu. Dia
meraung dengan kemarahan dan tidak keberdayaan.
Seluruh hutan mulai bergetar, karena suara mengerikan sang singa dan setiap
binatang mendengar teriakan Sang Raja Hutan. Si tikus pun mendengarnya.
“Penguasa hutan sedang kesulitam,” pikir si tikus.
“Ini adalah kesempatan saya untuk bisa membantu dia sekarang.”
Tanpa berpikir Panjang, si tikus berlari secepat yang dia bisa menuju tempat di mana
suara itu berasal. Ia kemudian menemukan singa terperangkap di dalam jerat
pemburu.
“Jangan bergerak Yang Mulia, saya akan memotong tali Anda dan Anda akan segera
bebas.” Ucap si tikus.
Tanpa membuang waktu, dia mulai menggigit tali dengan gigi kecilnya yang tajam.
Segera singa itu terbebas.
“Saya tidak menyangka bahwa kamu bisa membantu saya. Selama ini saya salah,”
kata singa denagn rendah hati. Akhirnya, dua makhluk itu menjadi sahabat baik sejak
hari itu.
Nah dari dongeng tadi, pesan moral yang diajarkan adalah jangan menyepelekan
orang lain, karena bisa jadi orang tersebut memiliki kemampuan yang tidak kita
ketahui. Kita juga tidak boleh sombong terhadapnya, karena bisa saja suatu hari nanti
orang itu yang akan menolong kita.
5. KURA-KURA DAN KELINCI YANG SOMBONG
Di sebuah hutan kecil di pinggiran desa, ada seekor Kelinci yang sombong. Dia suka
mengejek hewan-hewan lain yang lebih lemah. Hewan-hewan lain seperti kura-kura,
siput, semut, dan hewan-hewan kecil lain tidak ada yang suka pada kelinci sombong
itu.
Suatu hari, si Kelinci berjalan dengan angkuhnya mencari lawan yang lemah untuk
diejeknya. Kebetulan dia bertemu dengan kura-kura.
“Hei, kura-kura, si lambat, kamu jangan jalan aja dong.. lari begitu, biar cepat sampai,”
kata Kelinci sambir mencibirkan bibirnya ke Kura-kura.
“Biarlah Kelinci, memang jalanku lambat. Yang penting aku sampai dengan selamat
ke tempat tujuanku, daripada cepat-cepat nanti jatuh dan terluka,” jawab Kura-kura
dengan tenang.
“Hei, kura-kura, bagaimana kalau kita adu lari. Kalau kau bisa menang aku akan beri
hadiah apapun yang kau minta,” kata Kelinci dengan tertawa. Dalam hatinya dia
berkata, “Mana mungkin dia akan bisa mengalahkanku.”
“Wah, kelinci, mana mungkin aku bertanding adu cepat denganmu, Kamu bisa lari dan
loncat dengan cepat, sedangkan aku berjalan selangkah demi selangkah sambil
membawa rumahku yang berat ini,” kata kura-kura.
“Nggak bisa, kamu nggak boleh menolak tantanganku ini. Pokoknya besok pagi aku
tunggu kau di bawah pohon beringin. Aku akan menghubungi Pak Serigala untuk jadi
wasitnya,” Kelinci memaksa.
Kura-kura hanya bisa diam melongo. Dalam hatinya berkata, “Mana mungkin aku bisa
mengalahkan Kelinci?”
Keesokan harinya Si Kelinci sudah menunggu dengan sombongnya di bawah pohon
beringin. Pak Serigala juga sudah datang untuk menjadi wasit. Setelah kura-kura
datang, Pak Serigala berkata, “Peraturannya begini, kalian mulai dari garis di sebelah
sana yang di bawah pohon mangga itu. Kalian bisa lihat nggak?” “Bisa… bisa… ,”
Kelinci dan kura-kura menjawab. “Nah siapa yang bisa datang duluan di bawah pohon
beringin ini, itulah yang menang,” kata Pak Serigala lagi.
“Oke,… satu…. dua… tiga… mulai!” Pak Serigala memberi aba-aba. Kelinci segera
meloncat mendahului kura-kura, yang mulai melangkah pelan, karena dia tidak bisa
meninggalkan rumahnya. “Ayo kura-kura, lari dong…..!” teriak Kelinci dari kejauhan.
“Baiklah aku tunggu di sini ya…,” katanya lagi sambil mengejek kura-kura. Kelinci
duduk-duduk sambil bernyanyi. Angin waktu itu berhembus pelan dan sejuk, sehingga
membuat Kelinci menjadi mengantuk, dan, tak lama kemudian Kelinci pun tertidur!
Dengan pelan tapi pasti kura-kura melangkah sekuat tenaga. dengan diam-diam dia
melewati Kelinci yang tertidur pulas. Beberapa langkah lagi dia akan mencapai finish.
Ketika itulah Kelinci bangun. Betapa terkejutnya dia ketika melihat kura-kura sudah
hampir mencapai finish. Sekuat tenaga dia berlari dan meloncat untuk mengejar kura-
kura. Namun sudah terlambat, kaki kura-kura telah menyentuh garis finish dan Pak
Serigala telah memutuskan bahwa pemenangnya adalah KURA-KURA. Si Kelinci
Sombong terdiam seolah tak percaya bahwa dia bisa tertidur.
“Nah, siapa yang menang Kelinci?” tanya kura-kura kepada kelinci. “Wah, ternyata
kau menang kura-kura,” jawab kelinci malu. “Sekarang aku hanya minta satu dari
kamu, kamu jangan sombong lagi, jangan suka mengejek lagi, dan jangan nakal, ya?”
kata kura-kura. “Iya lah kura-kura, mulai sekarang aku tidak akan sombong lagi, tidak
akan mengejek lagi. Maafkan aku ya,” kata kelinci. “Iya, nggak apa-apa, sekarang kita
berteman ya?” kata kura-kura. Sejak saat itu Kelinci tidak sombong lagi.
.
6. KISAH POHON APEL, TENTANG KESETIAAN SEORANG SAHABAT
Pada suatu hari ada seorang anak laki-laki bersahabat dengan pohon apel. anak itu
bernama Joni. Joni senang sekali memanjat Pohon apel hingga ke puncaknya, Joni
sangat suka dengan buah dari pohon apel itu, dan Joni pun sangat menikmati tidur-
tiduran di bawah pohon apel yang rindang dan sejuk itu.
Suatu ketika Joni pergi, pohon apel pun sangat sedih dan kesepian, waktu pun terus
berlalu hingga Joni menjadi dewasa, Joni akhirnya menghampiri pohon apel, Pohon
apel sangat gembira melihat joni kembali, pohon itu pun berkata "Joni ayo kita
bermain’’ dan Joni pun menjawab ‘’pohon apel ,aku sekarang bukan anak kecil
yang suka bermain dengan pohon. aku hanya ingin membeli Handphone. tapi aku gak
punya uang untuk membeli handphone. Apa yg harus aku lakukan?" dan si pohon
apel pun menjawab "jangan khawatirJjoni, ambilah seluruh buahku, lalu juallah kau
bisa membeli handphone dari hasil menjual buah ku,,," dan Joni pun memetik seluruh
buah apel yang ada di pohon apel, setelah itu ia pergi entah kemana, kata terakhir
yang di ucapkan hanyalah ucapan terimakasih pada pohon apel yang sangat baik
sekali padanya. Pohon apel pun kembali sedih setelah kepergian joni.
Suatu siang ketika matahari bersinar begitu terik, setelah bertahun-tahun lamanya,
akhirnya Joni datang lagi, ia sudah menjadi laki-laki dewasa, pohon apel pun sangat
gembira melihat Joni kembali . dan pohon apel pun mengajak Joni bermain kembali,
tetapi Joni pun menolak dan menjawab "aku nggak bisa bermain lagi, aku gak punya
waktu, aku harus bekerja untuk keluargaku, agar aku bisa membangun rumah untuk
istri dan anak-anakku‘’ dan si pohon apel menjawab ‘’tenang saja Joni, kau bisa
menebang batang dan rantingku untuk membangun rumahmu!" joni pun menebang
batang dan ranting dari pohon itu, dan joni berkata “terima kasih banyak pohon apel,
kau selalu saja memberikan apa yang ku inginkan‘’ dan si pohon menjawab bahwa ia
merasa bahagia bila Joni pun bahagia, dan si Joni pun pergi setelah mendapat apa
yg dia butuhkan.
Tahun demi tahun berganti, Joni kembali lagi mengunjungi pohon apel dengan wajah
yg mulai mengeriput, Pohon apel meminta maaf pada Joni karena sudah tidak
memiliki apapun lagi, yang tersisa hanyalah akarnya yang akan segera mati, Joni pun
berkata bahwa dia tidak menginginkan apa-apa, dia hanya membutuhkan hanyalah
tempat untuk beristirahat. Pohon apel pun menyilahkan Joni beristirahat di akarnya
yang sebentar lagi akan mati, pohon apel pun bahagia, karena Joni mau berbaring di
pelukan akarnya yang sudah tua dan akan segera mati tersebut.
Pohon apel itu ibarat orang tua kita, saat masih kecil kita selalu bermain dengan
mereka, lalu kita meninggalkan mereka ketika kita beranjak dewasa dan hanya
kembali ketika hanya dalam masa kesulitan, dan orang tua seakan tidak peduli
dengan apa yg di lakukan pada mereka, mereka selalu saja memberikan apapun
untuk kebahagiaan kita. Maka berbuat baiklah pada mereka dan jangan sampai
kita mengecewakan Nya, sadarlah mereka adalah karunia yg berharga dalam
hidup kita.
7. KISAH SEMUT DAN BELALANG
Di suatu hutan yang lebat dan indah, sekawanan semut sedang bergotong royong
mengumpulkan makanan ke dalam rumah mereka. Dengan bersemangat, mereka
saling membantu membawa berbagai macam jenis makanan, seperti sayur dan buah
yang langsung mereka petik dari sekitar hutan.
Ketika sedang asyik berjalan, belalang yang melihat kegiatan gotong royong para
semut mulai penasaran dan mendekat. Dengan lantang, dia bertanya, “Apa yang
sedang kalian lakukan?” tanya belalang. Salah satu semut menjawab dengan tidak
kalah lantang, “Kami sedang mengumpulkan dan menyimpan persediaan makanan
untuk musim dingin.”
Jawaban dari salah satu semut itu membuat belalang tertawa keras. “Kalian ini terlalu
rajin. Musim dingin masih lama. Harusnya kalian bersantai-santai saja seperti aku.”
Belalang sangat bersemangat meledek semut. Akan tetapi, para semut tidak
menghiraukan ledekan itu. Mereka tetap bersemangat mengambil banyak makanan.
Berselang beberapa bulan, musim dingin tiba. Belalang mulai panik karena buah dan
sayur di sekitar hutan sudah hampir habis. Dia hanya bisa menemukan sedikit
makanan untuk menghilangkan rasa lapar. Berhari-hari setelahnya, belalang benar-
benar kehabisan makanan.
Dengan langkah lemas, ia berjalan ke rumah para semut. Semut yang membuka pintu
tentu saja kaget melihat wajah pucat belalang. Diapun spontan bertanya, “Ada perlu
apa kamu ke sini?” Belalang segera membalas, “Aku kelaparan. Boleh aku meminta
makanan kalian?”
Semut kembali menanggapi perkataan belalang, “Apakah kamu tidak malu sudah
pernah meledek kami yang bersusah payah mengumpulkan makanan?”
Belalang tersinggung mendengar pertanyaan salah satu semut itu. Dia segera
membalikkan tubuh dan pulang ke rumah.
Beberapa waktu setelahnya, para semut mulai mengkhawatirkan belalang. Mereka
dengan berbesar hati mengambil beberapa buah yang ada di tempat penyimpanan
makanan, lalu membungkusnya ke dalam kain berwarna coklat.
Semut yang membukakan pintu tadi bertugas untuk mengantarkan buah-buahan itu
kepada belalang. Akan tetapi, sesampainya di rumah belalang, tidak ada jawaban
yang terdengar setelah beberapa kali semut itu memanggil belalang. Karena khawatir,
semut kembali ke rumah dan meminta bantuan teman yang lain untuk membuka pintu
rumah belalang.
Setelah bekerja sama, mereka berhasil membuka pintu rumah belalang. Mereka
sangat terkejut ketika menemukan belalang yang pingsan kelaparan. Salah satu
semutpun segera membuka mulut belalang dan memberikan air perasan buah jeruk.
Tidak lama setelahnya, ternyata cara itu berhasil. Belalang terbangun dan ia tidak
percaya para kawanan semut sedang berada di rumahnya.
Belalang segera menyadari kesalahan yang telah ia lakukan. “Maafkan aku,” ucap
belalang dengan penuh rasa sesal. “Seharusnya, aku tidak meledek kalian.
Seharusnya, aku mencontoh sifat rajin kalian.” Kawanan semut berkumpul mendekat
dan memeluk belalang. Mereka memaafkan belalang dan akhirnya mereka menjadi
teman baik.
8. SERIGALA TUA DAN ANAK KAMBING CERDIK
Dahulu kala, ada seekor serigala licik yang sudah tua. Ia suka sekali
memangsa kambing gunung. Namun, ia tidak kuat lagi mengejar kambing sambil
memanjat tebing gunung. Serigala tua ini mengira anak-anak kambing pasti bodoh. Ia
lalu bermaksud menangkap seekor anak kambing.
Suatu hari, serigala tua ini melihat seekor anak kambing yang tampak bodoh. Ia lalu
mengejar anak kambing itu sampai di bawah tebing. Anak kambing itu melompat
dengan lincah ke atas tebing batu. Serigala tua berusaha sekuat tenaga untuk ikut
memanjat. Namun ia tak kuat lagi.
Anak kambing itu merasa kesal karena dikejar serigala itu. Dari atas tebing batu, ia
lalu berteriak,
“Kakek Serigala, kenapa kamu membuang waktu mengejar aku?” tanya
anak kambing itu.
“Anak kambing yang manis, aku ingin memberimu rumput-rumput segar. Turunlah
kemari,” bujuk serigala tua.
“Aku tidak perlu turun, Kakek Serigala. Aku tahu, kamu ingin memakanku. Sekarang,
bukalah mulutmu lebar-lebar. Aku akan melompat ke dalam mulutmu,” kata
anak kambing.
Serigala tua tertawa diam-diam. “Anak kambing ini memang bodoh,” gumamnya.
“Anak kambing yang manis, aku sudah membuka mulutmu. Lompatlah…” teriak
serigala tua. Ia lalu membuka mulutnya lebar-lebar.
Anak kambing itu mengambil ancang-ancang. Ia lalu melompat ke arah serigala tua.
Namun, bukan ke dalam mulutnya. Anak kambing itu melompat ke kepala serigala
tua.
DHUUKK!
Anak kambing itu mendarat keras di atas kepala serigala tua. Seketika, serigala tua
itu jatuh pingsan.
Saat sadar kembali, mulut serigala tua itu masih terbuka. Serigala tua samasekali
tidak ingat. Apakah tadi dia sudah memakan anak kambing itu, atau belum?
9. BALAS BUDI SEEKOR SEMUT KEPADA BURUNG MERPATI
Pada suatu pagi, di sebuah hutan, ada seekor semut kecil yang sedang berjalan-jalan
di pinggir sungai. Karena sedang bahagia, ia berjalan sambil bernyanyi-nyanyi.
Setelah berjalan cukup lama, hewan kecil ini merasa haus. Ia lalu mendekat ke sungai
dan mencoba meminum airnya. Malangnya, ia malah terpeleset dan jatuh ke aliran
sungai. Arus air yang deras menyeret tubuhnya yang kecil.
“Tolong, tolong aku!” teriak hewan ini meminta tolong. Sayangnya, suaranya terlalu
pelan. Sehingga tak ada hewan yang mendengarkan permintaan tolongnya.
Ada seekor burung merpati yang sedang bertengger di pohon dekat sungai. Ia lalu
mendengar suara hewan meminta tolong. Dengan sigap, ia mencari sumber suara.
Tak lama setelah itu, ia berhasil menemukan si hewan kecil yang sedang berusaha
melawan arus sungai. “Hewan malang. Kasihan sekali dirinya. Aku harus segera
menolongnya,” batin Merpati.
Sang Merpati lalu terbang ke arah tepi sungai untuk mengambil daun. Lantas ia
menjatuhkan daun itu tepat di dekat si Semut. Dengan sekuat tenaga, akhirnya hewan
yang suka makanan manis ini berhasil naik ke daun.
Burung merpati lalu membawa daun itu terbang dan meletakkannya di daratan.
“Terima kasih, Merpati. Kamu baik sekali. Suatu saat nanti aku akan membalas
kebaikanmu,” ucap si Semut.
Beberapa hari setelah kejadian tersebut, ada seorang pemburu burung masuk ke
hutan. Ia sedang mencari mangsa yang tepat untuk ditembak dan dijadikan santapan.
Lalu, ia melihat burung Merpati yang sedang bertengger dan tidur pada ranting pohon.
Burung malang itu tak melihat sang pemburu. Beruntung, ada si semut yang
menyaksikan si pemburu.
Saat pemburu itu hendak menarik pelatuk senjatanya, si semut langsung melompat di
atas tangan dan menggigitnya. Seketika itu pula si pemburu berteriak kesakitan.
Teriakannya membangunkan burung itu.
Ia lalu menyadari bila dirinya sedang dalam bahaya. Dengan cepat, ia lalu terbang
melarikan diri. Dari kejauhan, ia melihat semut sedang lompat dari tangan pemburu.
Burung Merpati lalu paham jika hewan kecil itulah yang menyelamatkannya. “Terima
kasih, Hewan Mungil! Kamu sangat baik hati,” teriak burung itu. Mendengar ucapan
itu, semut sangat bahagia karena bisa membalas budi hewan yang dulu
membantunya.
10. LAKI-LAKI SETINGGI LUTUT
Laki-laki setinggi lutut adalah laki-laki dengan tinggi tidak lebih dari lututmu. Inilah
sebabnya mengapa orang-orang menyebutnya laki-laki setinggi lutut. Pada suatu hari
ketika bercermin, laki-laki setinggi lutut merasa tidak puas melihat keadaan tubuhnya.
Ia ingin memiliki tubuh yang lebih besar, lebih tinggi dan lebih kuat. Ia ingin mempunyai
tubuh seperti manusia normal lainnya.
Ia pun keluar rumah. Ia berjalan sepanjang jalanan sampai akhirnya melihat seekor
kuda yang besar, tinggi, dan kuat di padang rumput. Kemudian ia merangkak melewati
pagar, berjalan menyebrangi padang rumpu, dan mendekati kuda. Ia berkata ‘’’ Pak
kuda, tubuhmu besar, tinggi, dan kuat. Bolehkah saya tahu bagaimana caramu
mendapatkan tubuh yang besar,tinggi dan kuat itu?’’
‘’Ya, tubuhmu kecil, tidak lebih besar daripada tinggi lutut. Yang kamu perlukan
hanyalah, makan jagung sebanyak-banyaknya, dan lari sepanjang hari.’’
Laki-laki setinggi lutut melakukan apa yang dikatakan pak kuda. Ia makan jagung
sampai perutnya sakit, kemudian ia berlari sampai kakinya pegal, tetapi ia tidak mejadi
lebih besar, lebih tinggi, dan lebih kuat. Yang ia dapatkan hanyalah sakit perut dan
kaki pegal. Ia pun berpikir bahwa pak kuda salah. Laki-laki setinggi lutut kembali
berjalan-jalan di hari yang lain. Ia melihat kerbau sedang memakan rumput dipadang
rumput. Ia pun merangkak melewati pagar, berjalan dipadang rumput, dan mendekati
kerbau itu. Ia berkata, ‘’ Pak kerbau, tubuhmu besar, tinggi dan kuat. Bolehkah saya
tahu bagaimana caramu memiliki tubuh yang besar, tinggi, dan kuat?’’
‘’Ya, tubuhmu kecil, tidak lebih besar daripada tinggi lutut. Yang kamu perlukan
hanyalah makan rumput sebanyak-banyaknya, dan mengeluh sepanjang hari, agar
tubuhmu menjadi besar, tinggi dan kuat.’’ Laki-laki setinggi lutut melakukan apa yang
dikatakan Pak Kerbau. Ia makan rumput sampai perutnya sakit, kemudian dia
mengeluh dan mengeluh sampai tenggorokkannya sakit, tetapi ia tidak menjadi lebih
besar, lebih tinggi dan lebih kuat. Yang ia dapatkan hanyalah sakit perut dan sakit
tenggorokkan. Ia pun berpikir, bahwa pak kerbau salah.
Pada suatu hari, Laki-laki setinggi lutut berjalan dan mencari seseorang yang dapat ia
tanyakan bagaimana mendapatkan tubuh yang lebih besar. Namun kali ini dia tidak
bertemu siapapun, padahal hari sudah mulai gelap. Tiba-tiba ia mendengar teriakan
Pak Burung Hantu. Saya selalu mendengar, bahwa Pak Burung Hantu adalah hewan
yang bijak. Saya akan bertanya padanya.
‘’ Pak Burung Hantu, bagaimana caranya mendapatkan tubuh yang lebih besar dan
kuat serta tinggi seperti Pak Kuda dan Pak Kerbau.’’
‘’ Laki-laki setinggi lutut mengapa kamu ingin menjadi lebih besar dan kuat serta tinggi
seperti Pak Kuda dan Pak Kerbau?’’
‘’ Saya ingin menjadi besar, dan kuat sehingga siapapun tidak ada yang dapat
memukul saya. Jika ada yang mengajak saya berkelahi.’’
‘’ Apakah ada orang yang mengajakmu berkelahi?’’ Tanya Pak Burung Hantu.
‘’ Tidak ada. Itu hanya pemikiran saja. Tidak ada siapapun yang mengajak saya
berkelahi, ‘’jawab Laki-laki Setingg Lutut. ‘’ Namun, saya ingin menjadi lebih tinggi,
sehingga saya dapat melihat lebih jauh.’’
‘’ Naiklah pohon ini dan duduk dekat saya, ‘’ kata Pak Burung Hantu,’’ dan kamu akan
melihat lebih jauh di bandingkan manusia yang paling tinggi sekalipun.’’
‘’tidak pernah terpikirkan oleh saya hal ini,’’ kata Laki-laki Setinggi Lutut.’’
‘’Itulah masalahmu. Laki-laki Setinggi Lutut, kamu tidak pernah berpikir. Kamu tidak
perlu menjadi lebih besar. Lebih tinggi. Dan lebih kuat. Yang di perlukkan hanyalah
menggunakan otakmu untuk berpikir.’’
Pesan Moral dari Cerita Dongeng Anak : Laki-laki Setinggi Lutut adalah kita
harus bersyukur denga pemberian tuhan kepada kita. Setiap orang memiliki
kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Jika kita bersyukur maka
kebahagiaan akan selalu hadir dalam kehidupan kita.
11. LEGENDA BATU MENANGIS
Dahulu kala, di sebuah bukit yang jauh dari Pedesaan. Hiduplah seorang Janda miskin
bersama anak perempuannya. Anaknya dari Janda tersebut sangat cantik jelita, ia
selalu membanggakan kecantikan yang ia miliki. Namun, kecantikannya tidak sama
dengan sifat yang ia miliki. Ia sangat pemalas dan tidak pernah membantu ibunya.
Selain pemalas, ia juga sangat manja. Segala sesuatu yang ia inginkan harus di turuti.
Tanpa berpikir keadaan mereka yang miskin, dan ibu yang harus banting tulang
meskipun sering sakit-sakitan. Setiap ibunya mengajaknya ke sawah, ia selalu
menolak.
Suatu hari, ibunya mengajak anaknya berbelanja ke pasar. Jarak pasar dari rumah
mereka sangat jauh, untuk sampai ke pasar mereka harus berjalan kaki dan membuat
putrinya kelelahan. Namun, anaknya berjalan di depan ibunya dan memakai baju yang
sangat bagus. Semua orang yang melihatnya langsung terpesona dan mengaggumi
kecantikannya, sedangkan ibunya berjalan di belakang membawa keranjang
belanjaan, berpakaian sangat dekil layaknya pembantu.
Karena letak rumah mereka yang jauh dari masyarakat, kehidupan mmereka tidak ada
satu orang pun yang tahu. Akhirnya, mereka memasuki kedalam desa, semua mata
tertuju kepada kecantikan Putri dari janda tersebut. Banyak pemuda yang
menghampirinya dan memandang wajahnya. Namun, penduduk desa pun sangat
penasaran, siapa perempuan tua di belakangnya tersebut.
‘’ Hai, gadis cantik! Siapakah perempuan tua yang berada di belakangmu? Apakah
dia ibumu?’’ Tanya seorang Pemuda.
‘’ Tentu saja bukan, ia hanya seorang pembantu!.’’ Jawabnya dengan sinis.
Sepanjang perjalanan setiap bertemu dengan penduduk desa, mereka selalu
bertanya hal yang sama. Namun, ia terus menjawab bahwa ibunya adalah
pembantunya. Ibunya sendiri di perlakukan sebagai seorang pembantu.
Pada awalnya, Sang ibu masih bisa menahan diri, setiap kali mendengar jawaban dari
Putri kandungnya sendiri. Namun, mendengar berulang kali dan jawabannya itu
sangat menyakkitkan hatinya, tiba-tiba sang ibu berhenti, dan duduk pinggir jalan
sambil meneteskan air mata.
‘’ Bu, kenapa berhenti di tengah jalan? Ayo lanjutkan perjalanan.’’ Tanya putrinya
heran.
Beberapa kali ia bertanya. Namun, ibunya sama sekali tidak menjawab. Sang ibu
malah menengadahkan kedua tangannya ke atas dan berdoa. Melihat hal aneh yang
di lakukan ibunya, sang anak merasa kebingungan.
‘’ Ibu sedang apa sekarang!’’ bentak putrinya.
Sang ibu tetap tidak menjawab, dan meneruskan doanya untuk menghukum putrinya
sendiri.
‘’ Ya Tuhan, ampunilah hamba yang lemah ini, maafkan hamba yang tidak bisa
mendidik putrid hamba sendiri, sehingga ia menjadi anak yang durhaka. Hukumlah
anak durhaka ini.’’ Doa sang Ibu.
Tiba-tiba, langit menjadi mendung dan gelap, petir mulai menyambar dan hujan pun
turun. Perlahan-lahan, tubuhnya berubah menjadi batu. Kakinya mulai berubah
menjadi batu dan sudah mencapai setengah badan. Gadis itu menangis memohon
ampun kepada ibunya. Ia merasa ketakutan.
‘’ Ibu, tolong aku. Apa yang terjadi dengan kakiku? ibu maafkan aku. Aku janji akan
menjadi anak yang baik bu’’ teriak Putrinya ketakutan.
Gadis tersebut terus menangis dan memohon. Namun, semuanya sudah terlambat.
Hukuman itu tidak dapat di hindari. Seluruh tubuhnya perlahan berubah menjadi batu.
Gadis durhaka itu hanya menangis dan menagis menyesali perbuatannya. Sebelum
kepalanya menjadi batu, sang ibu masih melihat air matanya yang keluar. Semua
orang yang berada di sana menyaksikkan peristiwa tersebut. Seluruh tubuh gadis itu
berubah menjadi batu.
Sekalipun sudah menjadi batu. Namun, melihat kedua matanya masih menitihkan air
mata seperti sedang menangis. Oleh karena itu, masyarakat tersebut menyebutnya
dengan Batu Menangis. Batu Menangis tersebut masih ada sampai sekarang.
Dia berdoa kepada Tuhan untuk menghukum putrinya. Tuhan menjawab doanya.
Perlahan, kaki gadis itu berubah menjadi batu.
Prosesnya berlanjut ke bagian atas tubuh gadis itu. Gadis itu sangat panik
“Ibu, maafkan aku!” dia menangis dan meminta ibunya untuk memaafkannya.
Tapi sudah terlambat. Seluruh tubuhnya akhirnya menjadi batu besar. Sampai saat
ini orang masih bisa melihat air mata berjatuhan dari batu tersebut.
Orang kemudian menyebutnya batu tangis atau dalam bahasa Indonesia berarti
batu menangis. Seorang ibu yang memiliki anak perempuan berparas cantik.
12. SAPI CERDAS DENGAN KERBAU SOMBONG
Ada seekor kerbau yang gemuk badannya. Kakinya kuat. Mempunyai tanduk yang
panjang, kuat dan tajam. Dialah yang merasa paling kuat dibandingkan dengan
kerbau lainnya ketika sedang bekerja di sawah.
Kerbau ini sangat ditakuti oleh binatang lainnya. Tak seekor binatang pun di sana
yang berani melawannya. Tidaklah heran, karena kekuatannya yang besar dan belum
ada yang pernah mengalahkan dirinya, dan saat dinobatkan menjadi Raja Kerbau. Ia
jadi sombong dan angkuh. Semua binatang harus menuruti perintahya.
Di saat seluruh binatang berkumpul di suatu lapangan yang cukup luas, dia berkata
dengan lantangnya, “Ayo, siapa yang berani melawanku?”
Mendengar tantangan Raja Kerbau yang demikian, semua binatang yang ada di
tempat itu semuanya diam. Semua takut. Tidak ada yang bersuara sedikitpun. Dengan
gayanya yang congkak, Raja Kerbau memperlihatkan kekuatannya kepada mereka
dengan mencabut pohon mangga yang ada di hadapannya hingga roboh. Tanah
diseruduknya, habis berterbangan. Raja kerbau merasa tak ada binatang lain yang
sanggup menandinginya.
Pada saat seperti itu, datanglah si Sapi yang bertubuh kecil kurus di tempat tersebut.
Raja kerbau berkata, “Hai Sapi kecil, darimana saja kamu?”
“Dari bukit sana mencari udara segar!” jawab si Sapi.
“Mengapa kamu tidak mengajakku?” tanya Raja Kerbau.
“Mengapa aku harus mengajak kamu!” “Bikin ribet saja”. Jawab si Sapi.
Mendengar ucapan si Sapi seperti itu, Raja Kerbau tersinggung. Ia tidak menyangka
bila binatang kecil itu berani berkata-kata melawan dirinya. Padaha semua binatang
selalu tunduk dan takut padanya.
“Coba ulangi katamu?” Ucap Raja Kerbau dengan nada marah. “Apakah kamu belum
tahu bahwa aku ini raja yang ditakuti oleh semua binatang di sini, sehingga kamu
berucap seperti itu? Apakah kau tidak takut kepadaku?”
“Siapa takut!” tukas si Sapi kecil. “Mengapa aku harus takut kepadamu?”. Ucapan si
Sapi yang demikian, semakin membuat telinga Raja Kerbau menjadi panas.
Ia semakin marah. “Dasar binatang kecil dan bodoh! Sudah saatnya aku
menghancurkan tubuhmu. “Biar seluruh binatang menyaksikan”. Kata Raja Kerbau
dengan muka marah.
“Baiklah bila kamu menginginkan menghancurkan tubuhku. Tapi syaratnya kamu
harus bisa mengalahkanku dalam pertandingan yang akan kita lakukan besok pagi di
sini” kata si Sapi menantang . “Besok kita tentukan siapa yang lebih kuat kamu atau
aku”. Kata Sapi. “Pastilah aku yang akan menang kamu terlalu kecil untukku”. Balas
Kerbau.
“Bila kamu yang menjadi pemenang, silahkan saja menyiksaku sesuka hatimu”. Ucap
Sapi. Tetapi bila aku yang menang, maka kamu harus tunduk kepadaku dan mengakui
bahwa akulah yang paling kuat.”
Raja Kerbau akhirnya menyetujui tantangan sang Sapi.
Semua binatang yang ada di tempat itu, kemudian pulang ke rumahnya masing –
masing. Mereka akan kembali ke tempat itu besok pagi untuk menyaksikan
pertandingan antara Raja Kerbau dengan si Sapi.
Sementara itu, di rumah, Sapi telah membuat topeng yang menyerupai dirinya.
Bukan topeng sembarangan, bahannya terbuat dari kayu yang sangat keras. Sejak
lama ia telah mempersiapkan siasat itu untuk mengalahkan Raja Kerbau. Dengan
ketekunan dan kesabarannya, akhirnya selesai sudah ia membuat topeng yang mirip
sekali dengan wajahnya. Sehingga bila dipakai, Raja Kerbau akan sulit mengenalinya.
Malam itu Sapi sengaja beristirahat untuk mengumpulkan kekuatan agar bisa menang
dalam pertandingan.
Matahari mulai terbit, semua binatang sudah mulai berkumpul di tempat pertandingan.
Mereka ingin menyaksikan pertandingan yang sangat langka itu. Sorak – sorai pun
segera menggema saat Raja Kerbau tiba di tempat itu. Tak lama kemudian si Sapi
pun juga telah tiba. Sekali lagi sorak – sorai dan tepuk tangan dari para penonton
membuat suasana kian semarak.
“Hidup Raja Kerbau….! Hidup si Sapi….!” Teriak penonton mengelukan keduanya.
Kemudian terdengar bunyi peluit pak Kuda sebagai tanda dimulainya pertandingan.
Raja Kerbau langsung menyambar si Sapi dengan tanduknya. Si Sapi tidak
menghindar dia dengan tenang menyambut sambaran Raja Kerbau.
Sapi hanya terlempar ke belakang terkena serudukan si Raja Kerbau. Tapi ia bangkit
lagi menantang si Raja Kerbau. Sementara si Raja Kerbau merasa kesakitan pada
tanduknya tak disangka kepala Sapi ternyata sangat keras.
Karena penasaran kembali Raja Kerbau menyeruduk lagi. Sapi terlempar lagi namun
segera berdiri dan menantangnya lagi. Lama – kelamaan tanduk Raja Kerbau
berdarah di sana – sini. Sementara si Sapi tetap tegar dan bangkit lagi.
Raja Kerbau akhirnya tidak sanggup lagi meneruskan pertandingan. Sehingga si Sapi
dinobatkan sebagai pemenang dan Raja Kerbau harus mengakui ternyata hewan
yang bertubuh kurus dan kecil tidak selalu lemah.