The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alexander.simamora, 2021-09-28 19:57:33

KONSEP DASAR BAHAN AJAR

KONSEP DASAR BAHAN AJAR

RINGKASAN MATERI

KONSEP DASAR BAHAN AJAR

A. KONSEP DASAR BAHAN AJAR
Ada beberapa istilah yang menamai bahan ajar. Ada istilah bahan

pembelajaran, bahan pelajaran, dan bahan ajar. Di antara semua istilah tersebut
semuanya memiliki esensi yang sama yaitu sebagai sumber belajar yang
dirancang secara sistematis untuk pembelajaran.

Memahami pengertian bahan ajar dapat dilakukan dengan menelusuri
berbagai pandangan para ahli. Menurut Nasional Centre for Competency base
training (dalam Prastowo, 2011), bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang
digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses
pembelajaran. Definisi ini masih terlalu luas karena bahan yang dimaksud bisa
secara tertulis maupun tidak tertulis atau bisa saja dirancang secara sistematis
atau tidak dirancang secara sistematis. Sungkono (2003: 1) mengatakan bahan
pembelajaran adalah seperangkat bahan yang memuat materi atau isi
pembelajaran yang “didesain” untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kata desain
menegaskan bahwa bahan tersebut sengaja dirancang untuk keperluan
pembelajaran. Hal yang desain adalah materi atau isi pelajaran yang diwujudkan
dalam bentuk benda atau bahan yang dapat digunakan untuk belajar siswa
dalam proses pembelajaran. Benda tersebut dapat berupa alat peraga
maupun media pembelajaran.

Pandangan lain mengatakan bahwa bahan ajar adalah seperangkat materi
yang disusun secara sistematis, baik tertulis maupun tidak tertulis sehingga
tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik untuk
belajar.

Definisi ini menekankan bahwa sesuatu dikatakan bahan ajar jika isi atau
materi disusun secara sistematis. Sistematis artinya disusun secara teratur
berdasarkan aturan tertentu seperti teori bagaimana orang belajar (teori belajar)
dan bagaimana orang dibelajarkan (teori pembelajaran). Misalnya, bahan ajar
disusun menggunakan teori belajar dari Bruner yaitu penyajian materi dilakukan
dari hal mudah secara bertahap ke arah materi yang lebih kompleks. Begitu
juga struktur isi bahan ajar mengikuti teori pembelajaran seperti adanya: a)
petunjuk belajar, b) tujuan pembelajaran, c) materi/isi, d) rangkuman, e)
latihan/soal-soal, dan f) daftar rujukan.

Melalui ulasan pengertian-pengertian di atas, dapat diketahui bahwa jika
ada buku, video, audio, multimedia yang sengaja didesain atau dirancang secara
sistematis walaupun dijual di toko, maka bahan tersebut dapat disebut sebagai
bahan ajar dengan memperhatikan strukturnya yaitu memiliki: a) petunjuk
belajar, b) tujuan pembelajaran, c) materi/isi, d) rangkuman, e) latihan/soal-soal,
dan f) daftar pustaka. Namun, jika tidak dirancang secara sistematis maka benda
tersebut tidak dapat disebut sebagai bahan ajar, walaupun mengandung materi
pembelajaran.

B. KARAKTERISTIK BAHAN AJAR
Bahan ajar memiliki ciri atau karakteristik yang unik. Karakteristik bahan ajar

memudahkan pengajar mengidentifikasi produk atau materi yang termasuk
bahan ajar dan tidak termasuk bahan ajar. Tidak semua alat atau bahan yang
digunakan di kelas dapat disebut bahan ajar. Apabila mengacu ke definisi bahan
ajar bahwa materi yang dirancang secara sistematislah yang disebut bahan ajar.
Konsep sistematis perlu dilengkapi dengan konsep karakteristik bahan ajar
sehingga memperkaya pemahaman tentang bahan ajar.

Pertama, bahan ajar dapat membelajarkan sendiri para siswa (self
instructional), artinya bahan ajar mempunyai kemampuan menjelaskan yang
sejelas-jelasnya semua bahan yang termuat di dalamnya dan diperlukan bagi
pembelajaran siswa. Hal-hal yang perlu ada dalam bahan ajar dalam format
lengkap yaitu: 1) tujuan pembelajaran (baik tujuan umum dan khusus), 2)
prasyarat yaitu materi pendukung dan perlu dikaji lebih dahulu sebelum mengkaji
bahan baru, 3) prosedur pembelajaran yaitu langkah yang harus ditempuh
siswa dalam mempelajari bahan pembelajaran, 4) materi yang tersusun secara
sistematis dan lengkap, 5) latihan atau tugas-tugas, 6) soal-soal evaluasi beserta
kunci jawaban, dan 7) tindak lanjut yang harus dilakukan siswa.

Kedua, bahan ajar bersifat lengkap, sehingga memungkinkan siswa tidak
perlu lagi mencari bahan di sumber lain. Hal ini dimaksudkan agar tidak
mempersulit siswa dalam belajar, meskipun pada sisi lain dapat mematikan
kreativitas siswa.

Ketiga, bahan ajar bersifat fleksibel, dapat digunakan baik untuk belajar
klasikal, kelompok, dan mandiri. Bagi pembelajaran klasikal, bahan ajar
memungkinkan terjadinya keseragaman persepsi siswa satu kelas terhadap
materi yang dipelajari, dan memungkinkan terjadinya interaksi antara siswa satu
kelas, sehingga terbentuklah sifat kebersamaan. Bagi pembelajaran
kelompok, bahan ajar memungkinkan siswa untuk bekerja sama secara intensif,
sehingga terbentuklah sifat gotong royong di antara siswa. Bahan ajar dapat
mengembangkan sifat demokratis, di mana siswa menghargai hak dan kewajiban
dari masing-masing anggota kelompok. Bahan ajar mandiri dapat memberikan
kesempatan kepada setiap siswa mempelajari bahan ajar sesuai kecepatan dan
irama belajar masing-masing, tanpa harus mengganggu/terganggu oleh siswa
lain. Bahan ajar mandiri ini juga mampu mengembangkan sifat aktif dan kreatif
siswa, apalagi bila bahan pembelajaran didesain dengan memasukkan latihan
dan tugas mandiri siswa untuk aktif dan kreatif. Misalnya, Lembar Kerja Siswa
(LKS) atau handout yang didesain tidak lengkap dan harus dilengkapi sendiri oleh
siswa.

Keempat, desain bahan ajar dibuat dalam format yang sederhana tidak
terlalu kompleks dan detail, yang penting bahan ajar mampu merangsang
perkembangan seluruh potensi dasar siswa. Misalnya, mengembangkan potensi
berbahasa, berimajinasi, berpikir kritis, aktif dan kreatif, dan potensi-potensi lain
yang mendasari penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk tingkat
pendidikan selanjutnya.

Kelima, tampilan bahan ajar harus menarik perhatian siswa, misalnya
dengan desain sampul bergambar, berwarna-warni, dihiasi gambar-gambar yang
disenangi (disesuaikan dengan taraf perkembangan siswa). Buatlah isi bahan
pembelajaran yang menarik, misalnya dengan gambar berseri/berwarna,
cerita berseri (cetak/audio/audio-visual), komik berwarna dan berseri, ilustrasi-
ilustrasi yang menarik.

C. PERAN BAHAN AJAR DALAM PEMBELAJARAN
Bahan ajar merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran. Bahan

ajar memiliki peran dalam mempengaruhi kualitas proses pembelajaran. Dalam

pemanfaatannya, bahan ajar memiliki beberapa fungsi, tujuan, dan kegunaan.
Dilihat dari fungsi bahan ajar menurut pihak yang menggunakan dapat dibedakan
menjadi yaitu pendidik dan peserta didik.

Fungsi bahan ajar bagi pendidik yaitu: a) menghemat waktu pendidik
mengajar, b) mengubah peran pendidik dari seorang pengajar menjadi
fasilitator, c) meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien,
d) sebagai pedoman bagai pendidik yang akan mengarahkan semua
aktivitasnya dalam proses pembelajaran dan merupakan substansi kompetensi
yang semestinya diajarkan kepada peserta didik, dan e) sebagai alat evaluasi
pencapaian atau penguasaan hasil pembelajaran.

Fungsi bahan ajar bagai peserta didik yaitu: a) peserta didik dapat belajar
tanpa harus ada pendidik atau teman peserta didik yang lain, b) peserta didik
dapat belajar kapan saja dan di mana saja ia kehendaki, c) peserta didik dapat
belajar sesuai kecepatannya masing-masing, d) peserta didik dapat belajar
menurut urutan yang dipilihnya sendiri, e) membantu potensi peserta didik untuk
menjadi pelajar/mahasiswa yang mandiri, f) sebagai pedoman bagi peserta didik
yang akan mengarahkan semua aktivitas dalam proses pembelajaran dan
merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari atau dikuasainya.

Fungsi bahan ajar bila dilihat dari strategi pembelajaran yang digunakan
dapat dibedakan menjadi: a) fungsi bahan ajar dalam pembelajaran klasikal, b)
fungsi bahan ajar dalam pembelajaran individual, c) fungsi bahan ajar dalam
pembelajaran kelompok. Pertama, fungsi bahan ajar dalam pembelajaran
klasikal yaitu: a) sebagai satu-satunya sumber informasi serta pengawas dan
pengendali proses pembelajaran (dalam hal ini peserta didik bersifat pasif dan
belajar sesuai kecepatan pendidik dalam mengajar) dan b) sebagai bahan
pendukung proses pembelajaran yang diselenggarakan.

Kedua, fungsi bahan ajar dalam pembelajaran individual yaitu: a) sebagai
media utama dalam proses pembelajaran, b) sebagai alat yang digunakan untuk
menyusun dan mengawasi proses peserta didik dalam memperolah informasi, c)
sebagai penunjang media pembelajaran individual lainnya.

Ketiga, fungsi bahan ajar dalam pembelajaran kelompok yaitu: a) sebagai
bahan yang terintegrasi dengan proses pembelajaran kelompok, dengan cara

memberikan informasi tentang latar belakang materi, informasi tentang peran
orang-orang yang terlibat dalam belajar kelompok, serta petunjuk tentang proses
pembelajaran kelompoknya sendiri, dan b) sebagai bahan pendukung bahan ajar
utama dan apabila dirancang sedemikian rupa, maka dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa.

Tujuan pembuatan bahan ajar, setidaknya ada empat hal pokok yang
melingkupinya yaitu: 1) membantu peserta didik dalam mempelajari materi, 2)
menyediakan berbagai jenis pilihan bahan ajar sehingga mencegah timbulnya
rasa bosan pada peserta didik, 3) memudahkan peserta didik dalam
melaksanakan pembelajaran, dan 4) agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih
menarik.

Bahan ajar juga memiliki manfaat bagi pendidik dan peserta didik. Bagi
pendidik manfaat bahan ajar yaitu: 1) pendidik akan memiliki bahan ajar yang
dapat membantu dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, 2) bahan ajar
dapat diajukan sebagai karya yang dinilai untuk menambah angka kredit pendidik
guna keperluan kenaikan pangkat, 3) menambah penghasilan pendidik jika hasil
karyanya diterbitkan. Bagi peserta didik manfaat bahan ajar yaitu: 1) kegiatan
pembelajaran menjadi lebih menarik, 2) peserta didik lebih banyak mendapatkan
kesempatan untuk belajar secara mandiri dengan bimbingan peserta didik, dan
3) peserta didik mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap
kompetensi yang harus dikuasainya.

D. JENIS-JENIS BAHAN AJAR
Bahan ajar memiliki berbagai jenis dan bentuk. Setiap jenis bahan ajar

memiliki peran tersendiri sesuai kebutuhan peserta didik selama proses
membangun pengetahuan. Para ahli telah membuat beberapa kategori untuk
jenis- jenis bahan ajar tersebut. Jenis bahan ajar dapat diklasifikasikan
menjadi tiga yaitu: 1) bahan ajar menurut bentuknya, 2) bahan ajar menurut
cara kerjanya, dan 3) bahan ajar menurut sifatnya.

1. Bahan Ajar Menurut Bentuknya
Menurut bentuknya bahan ajar dapat dibedakan menjadi empat jenis

yaitu bahan ajar cetak, bahan ajar audio, bahan ajar audio visual, dan bahan ajar
interaktif. Pertama, bahan ajar cetak (printed) adalah sejumlah bahan yang
disiapkan dalam kertas yang dapat berfungsi untuk keperluan pembelajaran atau
penyampaian informasi. Contohnya: buku ajar, modul, handout, lembar kerja
siswa (LKS), brosur, leaflet, wallchart, foto atau gambar. Kedua, bahan ajar audio
yaitu bahan ajar yang merupakan hasil dari perekaman suara yang dapat
dimainkan atau didengar oleh seseorang atau sekelompok orang. Contohnya,
kaset audio, radio, compact disc audio. Ketiga, bahan ajar audio visual adalah
segala sesuatu yang memungkinkan sinyal audio dikombinasikan dengan
gambar bergerak. Contohnya, video, film, sinetron, dan kartun animasi. Keempat,
bahan ajar interaktif yaitu kombinasi dari dua atau lebih media (teks, gambar,
audio, animasi, dan video) yang dikendalikan oleh penggunaan ketika
dioperasikan. Contohnya, multimedia interaktif.

2. Bahan Ajar Menurut Cara Kerjanya
Bahan ajar menurut cara kerjanya dapat dibedakan menjadi lima jenis yaitu

bahan ajar yang diproyeksikan, bahan ajar yang tidak diproyeksikan, bahan ajar
audio, bahan ajar video, dan bahan ajar komputer.
a. Bahan ajar yang diproyeksikan adalah bahan ajar yang memerlukan

proyektor agar dapat dimanfaatkan dan/atau dipelajari peserta didik.
Contohnya slide, filmstrips, dan proyeksi komputer.
b. Bahan ajar yang tidak diproyeksikan adalah bahan ajar yang tidak
memerlukan perangkat proyektor untuk memproyeksinya isi di dalamnya,
sehingga peserta didik langsung menggunakan (membaca, melihat, dan
mengamati), bahan ajar tersebut. Contoh: foto, diagram, display, model,
dan lain sebagainya.
c. Bahan ajar audio adalah bahan ajar yang berupa sinyal audio yang direkam
dalam suatu media rekam. Untuk menggunakannya memerlukan alat
pemain (player) media rekam tersebut seperti tape recorder, CD player,
VCD player, multimedia player. Contoh, bahan ajar ini adalah kaset dan CD.

d. Bahan ajar video adalah bahan ajar yang memerlukan alat pemutar yang
biasanya berbentuk video tape player, VCD player, DVD player dan
sebagainya. Contoh bahan ajar ini adalah video, film, dan lain sebagainya.

e. Bahan ajar berbasis komputer adalah bahan ajar yang memerlukan
komputer dalam pengoperasiannya. Bahan ajar berbasis komputer
memiliki halaman antar muka untuk mengakses isi bahan ajar. Contoh
bahan ajar ini adalah computer mediate instruction atau computer based
multimedia.

3. Bahan Ajar Menurut Sifatnya
Rowntree (dalam Prastowo, 2011) mengatakan bahwa berdasarkan

sifatnya bahan ajar dapat dibagi menjadi empat jenis, sebagai berikut.
a. Bahan ajar cetak misalnya buku, pamflet, panduan belajar siswa, bahan

tutorial, buku kerja siswa, peta, chart, foto bahan dari majalah atau koran.
b. Bahan aja berbasiskan teknologi, misalnya bahan ajar audio, siaran radio,

slide, film, video, siaran televisi, video interaktif, computer based tutorial,
dan multimedia.
c. Bahan ajar yang digunakan untuk praktik atau proyek, misalnya kit sains,
lembar observasi, dan lembar wawancara.
d. Bahan ajar yang dibutuhkan untuk keperluan interaksi manusia (terutama
untuk keperluan pendidikan jarah jauh), misalnya telepon, handphone, dan
video conferring.

E. HUBUNGAN ANTARA ALAT PERAGA, MEDIA PEMBELAJARAN,
SUMBER BELAJAR, DAN BAHAN AJAR
Kata “alat peraga” diperoleh dari dua kata alat dan peraga. Kata

utamanya adalah peraga yang artinya bertugas “meragakan” atau membuat
bentuk “raga” atau bentuk “fisik” dari suatu arti/pengertian yang dijelaskan.
Bentuk fisik itu dapat berbentuk benda nyatanya atau benda tiruan dalam bentuk
model atau dalam bentuk gambar visual/audio visual. Contoh, alat peraga untuk
meragakan binatang ya binatang itu sendiri, atau patung binatang itu, atau
gambar tentang binatang tersebut. Jadi sekali lagi alat peraga adalah alat yang

dipergunakan untuk meragakan benda yang diterangkan, baik dalam bentuk
benda nyata, tiruan/modelnya, atau gambar visual/audio visualnya. Alat peraga
dapat dimasukkan sebagai bahan ajar apabila alat peraga tersebut merupakan
desain materi pelajaran yang diperuntukkan sebagai bahan ajar. Misalnya, dalam
pembelajaran klasikal, guru menggunakan alat peraga yang berisi materi
yang akan dijelaskan dalam pembelajaran. Jadi alat peraga yang digunakan
guru tersebut memang berbentuk desain materi yang akan disajikan/dijelaskan
guru, sehingga sangat membantu dalam meragakan pengertian materi
pembelajaran. Contoh kongkretnya, guru membawa alat peraga globe untuk
menjelaskan bentuk bumi dengan segala penjelasannya.

Kata “media” berasal dari kata “medium” yang berarti perantara atau
pengantar dalam menyampaikan pesan komunikasi. Sedangkan, media
pembelajaran adalah segala bentuk perantara atau pengantar untuk
menyampaikan pesan pembelajaran yang mampu merangsang siswa untuk
belajar. Contoh, globe di atas dapat berperan sebagai alat meragakan bentuk
bumi, tapi juga dapat berperan untuk media pembelajaran. Misalnya, sebagai
perantara penyampaian pesan bagian bumi, garis lintang dan garis bujur,
pembagian waktu di dunia dan seterusnya.

Jadi, perbedaan antara alat peraga dan media terletak pada fungsi suatu
benda. Benda yang sama bisa berperan secara berbeda karena difungsikan
berbeda oleh guru dalam pembelajaran. Televisi misalnya dapat sebagai alat
peraga, yaitu bila digunakan guru untuk meragakan alat komunikasi yang disebut
televisi. Tapi televisi juga dapat digunakan sebagai media, yaitu apabila televisi
tersebut untuk mengantarkan/menyampaikan banyak pesan pembelajaran
kepada siswa.

Media pembelajaran juga termasuk dalam kategori bahan ajar, apabila isi
media pembelajaran dirancang secara sistematis dan digunakan dalam proses
pembelajaran. Sumber belajar adalah semua sumber tidak hanya berupa data
maupun orang namun wujud apapun yang dapat digunakan oleh peserta didik
dalam belajar, sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan
belajar atau mencapai kompetensi tertentu (Abdul Gafur, 2009). Sumber
belajar dapat berupa pesan, orang, bahan, tempat, dan lingkungan. Adapun cara

mendapatkan sumber belajar, dapat melalui sumber belajar yang dirancang (by
design) dan juga dengan sumber belajar yang tinggal dimanfaatkan
(by utilization). Buku modul adalah contoh sumber belajar yang dirancang
(by design), karena buku modul memang dirancang untuk sumber belajar,
khususnya untuk belajar mandiri. Tapi apakah buku modul termasuk bahan
pembelajaran? Ya, buku modul termasuk bahan pembelajaran karena buku
modul (sebagai sumber belajar) itu didesain untuk bahan pembelajaran yang
harus dikaji, ditelaah oleh siswa dalam proses pembelajaran. Sedangkan buku
teks yang sudah ada di perpustakaan atau di mana saja, dapat dimanfaatkan
(by utilization) sebagai sumber belajar dalam pembelajaran.

Pada prinsipnya antara alat peraga, media pembelajaran, sumber belajar
dan bahan ajar, meskipun secara kebendaan bisa sama, tetapi keempatnya
mempunyai hubungan yang erat, meskipun secara fungsional dalam
pembelajaran ada perbedaan. Suatu benda dapat difungsikan sebagai alat
peraga sekaligus sebagai media, sumber belajar dan sekaligus sebagai bahan
pembelajaran. Sebuah ilustrasi berikut ini akan memberikan pemahaman Anda
tentang hubungan antara alat peraga, media dan sumber belajar, dan bahan
pembelajaran.

Sebuah modul pembelajaran telah disusun dengan desain yang bagus
untuk belajar mandiri. Tetapi karena di dalam uraian materi dilengkapi dengan
dengan gambar, foto dan grafik, maka modul juga menyajikan alat peraga visual
dan juga sebagai media pembelajaran karena gambar mampu mengkonkretkan
pesan pembelajaran. Modul juga memiliki sumber acuan dari mana bahan yang
digunakan sebagai sumber materi itu. Pada modul tersebut juga ada
tugas/latihan yang menganjurkan pada siswa untuk mengamati kejadian di
sekitar sebagai tugas mencari sumber belajar di luar modul. Antara tujuan
pembelajaran, materi, gambar, tugas atau latihan dirancang secara sistematis
sehingga keseluruhan komponen tersebut menampilkan sosok utuh dari bahan
ajar.

Jadi, dari ilustrasi tersebut memberikan pemahaman bahwa antara bahan
ajar, alat peraga, media pembelajaran, dan sumber belajar memiliki hubungan
yang saling mendukung. Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa bahan ajar cetak

(modul) desainnya dilengkapi dengan alat peraga atau media visual dalam
bentuk gambar, foto dan grafik, dan menggunakan buku acuan sebagai sumber
bahan dan mencantumkan tugas/latihan kepada siswa untuk mencari sumber
belajar di luar modul dengan mengamati kejadian di sekitar siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Rusman, kurniawan, d., & riyana, C. (2013). Pembelajaran Berbasis Teknologi

Informasi dan Komunikasi: Mengembangkan Profesionalitas Guru.
Jakarta: Rajawali Press.
Sabayasa, Anas. 2014. Materi Diklat Belajar Berbasis Aneka Sumber. Jakarta:
Pustekkom.
Sudirdjo, Sudarsono. 2009. Pengembangan Pusat Sumber Belajar di Sekolah.
Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.
Sudjana, Nana & Rivai, Ahmad. 2002. Sumber Belajar Digital. Bandung: Sinar
Baru Algensindo.
Suganda, T. (2018). Pengelolaan Pembelajaran Zaman Now (Generasi Z).
Padjadjaran : Universitas Padjadjaran
Sungkono. (2003). Pengembangan Bahan Ajar. Yogyakarta: FIP UN.

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN


Click to View FlipBook Version