MODUL MENGELOLA PERSEDIAAN
MATERI KD 3.8 DAN KD 3.9
AKUNTANSI KEUANGAN KELAS XI AKUNTANSI SMK
DISUSUN OLEH
DAYATRI YURININGSIH, S.Pd
Mengelola Persediaan 1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Deskripsi
Dalam modul ini dibahas tentang :
1. Pengertian Persediaan barang
2. Penilaian Persediaan
3. Pencatatan Persediaan
B. Petunjuk penggunaan Modul
1. Bacalah baik-baik apa tujuan yang akan dicapai dalam mempelajari modul ini
2. Baca dan pahami baik-baik lembar informasi
3. Bertanya kepada guru bila belum jelas
4. Jawablah soal-soal untuk melatih kemampuan
C. Tujuan Akhir
Peserta didik mampu mengelola transaksi persediaan
D. Cek Kemampuan
Berilah tanda cek (√) apabila peserta diklat belum menguasai kompetensi
No. Kompetensi Ya Tidak
1. Dapat membuat format kartu persediaan
2. Dapatkah anda menghitung nilai persediaan
3. Dapatkah anda melakukan pencatatan persediaan
Mengelola Persediaan 2
F. KOMPETENSI : SMK NEGERI 1KLATEN
: AKUNTANSI KEUANGAN
NAMA SEKOLAH : XI/
MATA PELAJARAN : Mengelola KARTU PERSEDIAAN
KELAS/SEMESTER :
STANDAR KOMPETENSI : 42 X 45 menit
KODE
ALOKASI WAKTU
KOMPETENSI INDIKATOR MATERI KEGIATA
DASAR PEMBELAJARAN
▪ Penca
3.8. Menerapkan ❖ Akun-akun yang akan ❖ Kode akun dilaku
pencatatan
persediaan di debit dan dikredit ❖ Jurnal umum ▪ Mener
pengk
4.8. Melakukan teridentifikasi ❖ Jurnal khusus
pencatatan ▪ Memb
persediaan ❖ Jumlah rupiah akun- ❖ Rekapitulasi jurnal jurnal
akun yang akan ▪ Melak
dalam
didebit dan di-kredit
▪ Melak
teridentifikasi
❖ Buku jurnal yang
diperlukan untuk
keperluan pencatatan
transaksi
teridentifikasi
❖ Transaksi tercatat
dalam buku jurnal
yang tepat dan dalam
jumlah yang benar
❖ Jumlah debit dan
kredit pada buku
jurnal tersajikan
dalam jumlah angka
yang sama
❖ Rekapitulasi untuk
setiap akun tersajikan
sesuai dengan format
yang telah ditetapkan
Mengelola Persediaan
ALOKASI WAKTU
AN PEMBELAJARAN PENILAIAN TM PS PI SUMBER
BELAJAR
atatan transaksi dalam jurnal ▪ Tes Tertulis 6 x 45 3 x 45 3 x 45
ukan dengan teliti dan rapi ▪ Tes Lisan ▪ Modul
rapkan prinsip teknik ▪ Buku
kodean akun
bedakan jurnal umum dan Referensi
khusus
kukan pencatatan transaksi
m jurnal
kukan rekapitulasi jurnal
3
KOMPETENSI INDIKATOR MATERI KEGIATA
DASAR PEMBELAJARAN
❖ Mem
3.9. menerapkan ❖ Peralatan yang ❖ Peralatan yang kartu
metode dibutuhkan lengk
pencatatan dibutuhkan untuk untuk
persediaan pengelolaan ❖ Meny
(FIFO, LIFO, pengelolaan kartu dibut
Average dan persediaan kartu
identifikasi persediaan tersedia
khusus) ❖ Data transaksi yang ❖ Data transaksi ❖ Meng
persediaan ❖ Meny
4.9. Melakukan diperlurkan tersedia
perhitungan ❖ Data transaksi perse
persediaan ❖
(FIFO, LIFO, diidentifikasi
Average dan ❖ Pengelolaan kartu
identifikasi
khusus) persediaan siap
dikerjaka
Mengelola Persediaan
ALOKASI WAKTU
AN PEMBELAJARAN PENILAIAN TM PS PI SUMBER
BELAJAR
mpersiapkan pengelolaan ▪ Tes Tertulis 6 x 45 18 x 45 6 x 45
u persediaan secara teliti dan ▪ Studi Kasus ▪ Modul
kap ▪ Buku
yebutkan peralatan yang
tuhkan untuk pengelolaan Referensi
u persediaan ▪ SOP
gidentifikasi data transaksi
yiapkan pengelolaan kartu DU/DI
ediaan
4
BAB I
KEGIATAN BELAJAR I
MENGELOLA PERSEDIAAN
A. PENDAHULUAN
Persediaan merupakan jenis aktiva produktif yang dimiliki oleh perusahaan. Karena
persediaan merupakan aktiva yang mempunyai keterkaitan langsung dengan
pendapatan perusahaan. Jika tingkat perputaran aktiva persediaan lambat, dapat
dipastikan proses perolehan pendapatan perusahaan lambat pula dan sebaliknya jika
perputaran persediaan cepat menunjukkan proses perolehan pendapatan
perusahaan juga cepat. Tersedianya barang dagang dapat dilkukan dengan dua cara
yaitu dengan cara membeli atau memproduksi sendiri.
B. PENGERTIAN PERSEDIAAN
Persediaan adalah semua barang yang dimiliki perusahaan pada saat tertentu
dengan tujuan untuk dijual kembali atau dikonsumsi atau diproses lebih lanjut dalam
siklus operasi normal perusahaan.
SAK ETAP 2009,11.1 karakteristik dari persediaan sebagai asset antara lain :
1. Tersedianya untuk dijual dlam kegiatan usaha normal perusahaan.
2. Dalam proses produksi untuk diselesaikan
3. Dalam bentuk perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau
pemberian jasa.
Dalam mengklasifikasi persediaan sangat dipengaruhi oleh sifat dan jenis usaha
perusahan yang bersangkutan.
1. Perusahaan Jasa
Perlengkapan /supplies adalah barang yang dibeli perusahaan dengan tujuan
untuk dipakai sebagai operasional perusahaan atau disebut Barang Habis
Pakai/BHP. PSAK 14(15) persediaan perusahaan jasa meliputi biaya jasa
yang terdiri dari upah dan biaya personalia lainnya yang secara langsung
menangani pemberian jasa, termasuk tenaga penyelia dan overhead yang
didistribusikan. Yang akan diakui sebagai beban pada periode berikutnya.
2. Perusahan Dagang
2.1. Persediaan Barang Dagang (Merchandise Inventory) adalah produk-
produk yang dibeli oleh pemilik usaha dengan tujuan untuk
menghasilkan keuntungan. Caranya adalah dengan menjual lagi produk
tersebut kepada pelanggan tanpa mengubah bentuk fisiknya. Karena
bisa memberikan manfaat bagi perusahaan, Merchandise
Inventory dikategorikan sebagai Aset Lancar
2.2. Perlengkapan/supplies
Mengelola Persediaan 5
3. Perusahaan manufaktur :
3.1. Persediaan Bahan Baku (Raw Material Inventory) adalah bahan pokok
yang akan diproses dalam proses produksi
3.2. Persediaan Barang Dalam Proses (Work In Proses Inventory)(Finishing
Good Inventory) adalah barang yang siap untuk dijual /dipasarkan
C. PENGENDALIAN INTERNAL PERSEDIAAN.
Bertujuan untuk mengamankan aset yang cukup besar dan melakukan prosedur
pencatatan yang memadai, sehingga perusahaan dapat dijalankan dengan efektif
dan efisien. Pengendalian internal persediaan dapat dilakukan dengan cara :
1. Pemisahan fungsi dan prosedur barang yang memadai
2. Persediaan barang secara fisik harus dilindungi dengan baik
3. Menggunakan sistem pencatatan yang dapat memantau mutasi barang
setiap saat.
4. Secara periodik dilakukan penghitungan persediaan barang secara fisik
dan mencocokkan dengan pencatatan berdasarkan kartu persediaan
5. Diasuransikan untuk menghindari resiko yang tidak diinginkan.
D. PENENTUAN KEPEMILIKAN BARANG YANG BERADA DI PERJALANAN
Kepemilikan barang sangant tegantung dengan perjanjian jual beli yang
disepakati antara penjual dan pembeli :
a. FOB Shiping Point
Kepemilikan barang berpindah dari penjual ke pembeli pada saat barang
keluar dari gudang penjual/ telah sampai pada perusahaan jasa pengiriman
barang. Jadi barang yang ada di perjalanan menjadi milik pembei dan pembeli
harus memasukkan barang tersebut dalam perhitungan fisik perusahaan.
Sedangkan penjual, barang dlam perjalanan tersebut tidak dimasukkan dalam
persediaan. Beban angkut ditanggung pembeli sebagai Freght in dan bagi
penjual sebagai pendapatan angkutan
b. FOB Destination
Kepemilikan barang berpindah dari penjual ke pembeli pada saat barang
sampai di gudang pembeli. Sehingga barang dalam perjalanan merupakan
milik penjual dan dimasukkan dalam perhitungan fisik persediaan. Pembeli
tidak boleh mengakui barang tersebut. Beban angkut penjualn ditanggung
penjual.
E. SISTEM PENCATATAN TRANSAKSI PERSEDIAAN
1. Transaksi mutasi yag berkaitan dengan persediaan antara lain :
1.1. Pembelian barang dagang secara tunai maupun kredit
1.2. Penjualan barang dagang secara tunai maupun kredit
1.3. Retur penjulalan dan potongan harga
Mengelola Persediaan 6
1.4. Retur pembelian dan potongan harga
1.5. Kerusakan barang dagang
1.6. Pengembilan pribadi barang dagang
NO TRANSAKSI DOKUMEN MUTASI D/K
1 Bertambah D
2 Pembelian tunai Nota kontan Bertambah D
3 Berkurang K
4 Pembelian kredit Faktur Berkurang K
5 Berkurang K
6 Penjualan tunai Copy faktur Bertambah D
7 Berkurang K
8 Penjualan kredit Copy nota kontan Berkurang K
Retur pembelian Nota kredit / Copy nota debet
Retur penjualan Nota debet / Copy nota kredit
Pemakaian persediaan Bukti memo
Kerusakan persediaan Bukti memo
Transaksi yang berkaitan dengan mutasi persediaan akan dicatat dalam jurnal khussu
yang meliputi :
a. Jurnal pembelian : mencatatat transaksi pembelian persediaan / bertambahnya
persediaan.
b. Jurnal penjualan : mencatat transaksi penjulan persediaan / berkurangnya persediaan
c. Jurnal pengeluaran kas : mencatat pengeluaran kas untuk pembayran utang akibat
pembelian persediaan secara kredit
d. Jurnal penerimaan kas : mencatat penerimaan piutang akibat penjualan persediaan
secara kredit
e. Jurnal umum: mencatat mutasi persediaan yang tidak dapat dicatat di jurnal khusus
sebelumnya.(retur penjualan, retur pembelian,kerusakan dn pemakaian persediaan)
F. SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN.
SAK ETAP(2009, 11.4) Pencatatan pembelian persediaan barang dagang dicatat
sebesar biaya perolehan yang meliputi : harga beli/harga faktur, bea balik nama, PPN,
B angkut pembelian, asuransi dikurangi retur dan potongan pembelian.
Ada 2 persediaan dalam akuntansi yaitu pesediaan awal dan persediaan akhir.
Persediaan awal mencerminkan jumlah barang yang tidak terjual pada periode lalu.
Sedangkan barang-barang yang tidak terjual mencerminkan persediaan akhir.
Persediaan barang dagang basanya merupakan komponen aktiva terbesar yang ada
dalam neraca perusahaan dagang dan manufaktur.
Mengelola Persediaan 7
Persediaan Harga Pokok Persediaan
awal barang yang akhir
Pembelian dijual Harga
Pokok
Penjualan
G. MENCARI BIAYA PERSEDIAAN BARANG DAGANG
Langkah terpenting dalam akuntansi persediaan adalah penentuan nilai persediaan
akhir yang ada dalam perusahaan pada setiap akhir periode. Jumlah fisik persediaan
barang akan dikalikan dengan biaya per unitnya untuk mendapatkan nilai dari
persediaan akhir.
H. METODE PENCATATAN PERSEDIAAN
Untuk melakukan penghitungan dalam Merchandise Inventory, setidaknya ada
dua cara yang bisa dilakukan pemilik usaha, yaitu Metode Perpetual dan Metode
Periodik.
1. Metode Perpetual
Metode Perpetual adalah cara untuk menghitung persediaan di dalam gudang
secara berkelanjutan. Hal ini tentunya akan lebih memudahkan pemilik usaha
untuk mengetahui update terbaru stok barang dagang mereka yang tersedia di
dalam gudang. Namun, penggunaan Metode Perpetual tentunya akan memakan
waktu lebih banyak karena dilakukan secara periode waktu tertentu. Pada sistem
ini tidak memerlukan penyesuaian persediaan awal dan akhir, karena perusahaan
seudah mengetahui saldo persediaan tiap saat. Penyesuaian hanya dilakukan
untuk selisih barang antara kartu persediaan dengan stock opname. Yang
biasanya terjadi karena kerusakan atau kehilangan barang dagang.
Mengelola Persediaan 8
Perlakuan akuntansi untuk pencatatan persediaan secara perpectual :
a. Selalu mencatat akun persediaan barang dagang
b. Beban angkut did ebat pada akun HPP
c. Pembelian barang dagang di debet pada akun persediaan barang dagang
diikuti PPN masukan, dan di kredit pada akun kas atau utang
d. Retur dan portongan pembelian akan di kredit ke akun persediaan barang
dagang diikuti PPN masukan
e. Potongan pembelian dikredit ke akun HPP, diberikan jika dlam jangka waktu
potongan sesuai syarat yang disepakati. Potongan pembelian dihitung dari
prosentase potongan dikalikan nilai pembelian bersih sebelum PPN
f. Tidak perlu menghitung HPP
2. Metode Periodik / fisik
Berbanding terbalik dengan Metode Perpetual, Metode Periodik merupakan
pencatatan barang yang dilakukan hanya sekali. Biasanya, Metode Periodik
dihitung ketika seorang pemilik usaha ingin melakukan tutup buku Itu artinya,
perhitungan hanya akan terjadi pada akhir periode saja. Dengan begitu, ia tidak
harus menghabiskan banyak waktu dalam pengelolaan gudang.
Metode ini biasa digunakan untuk perusahaan yang menjual berbagai macam
produk, harga satuannya relatif kecil.
Perlakuan akuntansi untuk metode pencatatan secara fisik adalah :
a. Tidak ada pencatatan pada akhir persediaan barang dagang
b. Beban angkut akan di debet pada akun beban angkut pembelian
c. Pembelian barang di dbet pada akun pembelian dan di kredit pada akun kas
atau utang
d. Retur dan potongan pembelian di kredit pada akun retur dan potongan
pembelian
e. Potongan pembelian akan di kredit ke akun potongan pembelian
f. Harga pokok penjualan akan dihitung pada akhir periode setelah melakukan
perhitungan fisik dari persediaan akhir.
Mengelola Persediaan 9
Lantas, mana yang lebih baik digunakan……………………..?
Metode Perpetual dan Metode Periodik sama-sama baik untuk bisnis. Namun,
kamu harus bisa menentukan produk yang akan kamu jual. Misalnya, kamu
menjual produk dengan jangka waktu tertentu, tentunya kamu harus
menggunakan Metode Perpetual. Sebaliknya, jika kamu menjual baju atau barang
tanpa batas waktu, kamu bisa gunakan Metode Periodik.
PAHAMI CONTOH BERIKUT INI :
Transaksi yang terjadi pada toko Karisma bulan Juni 2018
1. Dibeli barang dagang secara kredit dari PT LANCAR sebanyak 500 unit Rp.
30.000.000 PPN 10% syarat 2/10, n 30
2. Dikembalikan 15 unit barang dagang karena rusak kepada PT Sejahtera
senilai Rp. 900.000
3. Menjual 80 unit barang secara kredit kepada Tk Belia seharga Rp. 10.000.000
syarat 3/10,n 30. PPN 10% HPP per unit @Rp. 60.000
4. Membayara biaya angkut pembelian Rp. 400.000
5. Membayar utang kepada PT LANCAR dengan potongan 2%dari nilai
pembelian bersih.
6. Toko Belia mengembalikan 5 unit barang yang dibelinya ke perusahaan Rp.
625.000 dengan harga pokok Rp. 300.000
Buatlah jurnal dari transaksi di atas dengan metode
a. Fisik
b. Perpectual
Mengelola Persediaan 10
FISIK (000) PERPECTUAL (000)
TGL KETERANGAN R DEBET KREDIT TGL KETERANGAN R DEBET KREDIT
1 Pembelian 30.000 1 Persediaan br dg 30.000
PPN masukan 3.000
Utang dagang 3.000 PPN masukan 33.000
990
2 Utang dagang 33.000 Utang dagang 900
Retur pembelian 90
PPN masukan 990 2 Utang dagang
900 Persediaan br dg
90 PPN masukan
3 Piutang dagang 11.000 3 Piutang dagang 11.000
Penjualan 10.000 Penjualan
PPN keluaran PPN keluaran 480. 10.000
1.000 400 1.000
4 B. angkut pembelian HPP 32.010
Kas 400 4 Persediaan br dg 480
32.010 400
5 Utang dagang HPP 400
Kas 5 Kas
Pot pemb 31.428 31.428
Utang dagang 582
2% x 32.010.000 582 Kas
6 Retur penjualan HPP
625 6 625
PPN keluaran 62.5 2% x 32.010.000 62.5
Piutang dagang Retur penjualan
687.5 PPN keluaran 687.5
300 300
Piutang dagang
Persediaan br dg
HPP
78.087,5 78.087,5 78.867.5 78.867.5
Nah… bagaimana teman-teman…. Mudah bukan ???
Mengelola Persediaan 11
BAB II
KEGIATAN BELAJAR 2
PENILAIAN PERSEDIAAN
A. PENILAIAN PERSEDIAAN DENGAN METODE BIAYA
PEROLEHAN/HARGA POKOK PENJUALAN/COST
Pada akhir periode akuntansi perusahaan melakukan penilaian atas
persediaan barang dagang untuk mengetahui besarnya biaya perolehan
barang yang terjual sebagai harga pokok penjualan dan biaya perolehan
barang yang belum terjual sebagai nilai persediaan akhir.
Ada beberapa metode yang digunakan dengan menggunakan metode
biaya perolehan untuk menetapkan besarnya persediaan akhir periode
antara lain :
1. Aliran fisik sesungguhnya
Dalam aliran fisik persediaan barang yang dibeli akan diberi tanda
khussu mengenai harga barang dan jumlahnya. Hal ini untuk
memudahkan transaksi penjualan. Metode ini cocok untuk
perusahaan dengan jenis barang yang relatif sedikit dan harga
perolehan yang tidak bervariasi dan harga yang tinggi
Metode ini sering disebut dengan Metode Tanda Pengenal Khusus
Menurut SAK ETAP 2009, 11.14 perhitungan metode tanda pengenal
khusus diperuntukkan untuk jenis persediaan yang normalnya tidak
dapat dipertukarka, dan barang/jasa yang dihasilkan dan dipisahkan
untuk proyek tertentu dan penerapannya adalah untuk persediaan
secara individual bukan kelompok atau total. Contohnya pada
perusahaan seperti Dealer mobil, toko emas.
Contoh :
Jenis Barang A bulan juli 2018
1 Juli Persediaan awal 1.000 kg @ Rp. 20.000 Rp. 20.000.000
5 Juli pembelian 2.000 kg @ Rp. 24.000 Rp. 48.000.000
7 Juli pembelian 1.000 kg @ Rp. 22.000 Rp. 22.000.000
12 Juli pembelian 3.000 kg @ Rp. 26.000 Rp. 78.000.000
14 Juli pembelian 1.700 kg @ Rp. 30.000 Rp. 51.000.000
15 Juli pembelian 800 kg @ Rp. 32.000 Rp. 25.600.000
26 Juli pembelian 2.000 kg @ Rp. 30.000 Rp. 60.000.000
28 Juli pembelian 1.500 kg @ Rp. 34.000 Rp. 51.000.000
Mengelola Persediaan 12
Barang tersedia untuk dijual 13.000 kg Rp. 355.600.000
Ketika dilakukan perhitungan fisik atas sisa barang tanggal 31 Juli 2018
di gudang masih tersedia barang A sebanyak 6.000 kg. Dengan tanda
pengenal sebagai berikut :
Persediaan awal bulan juli 2018 : 1.000 kg
Pembelian 5 juli : 2.000 kg
Pembelian 12 Juli : 3.000 kg
Berdasar data di atas maka nilai persediaan barang dagang A pada
akhir 31 Juli 2018 adalah
1.000 kg @ Rp. 20.000 : Rp. 20.000.000
2.000 kg @ Rp. 24.000 : Rp. 48.000.000
3.000 kg @ Rp. 26.000 : Rp. 78.000.000
6.000 kg : Rp.146.000.000
HPP dihitung sebagai berikut :
Tersedia untuk dijual : 13.000 Rp. 355.600.000
Rp. 146.000.000
Persediaan akhir : 6.000 Rp. 209.000.000
HPP : 7.000
2. Aliran anggapan / Asumsi
Untuk perusahaan yang menjual berbagai jenis barang dagang dan
jumlahnya relatif banyak, sangat tidak cocok menggunakan metode
tanda pengenal khusus. Maka dipakai aliran anggapan.
Aliran anggapan adalah adalah perusahaan mempunyai anggapan
harga perolehan barang mana saja yang telah terjual dan harga
perolehan mana saja yang masih ada di gudang persediaan.
Dakam sistem anggapan ada beberapa metode antara lain :
1. Masuk Pertama Keluar Pertama/ First In First Out/ FIFO
2. Metode rata-rata tertimbang/ Weight Average Methode
3. Masuk Terakhir keluar Pertama /Last In First Out /LIFO
Sesuai dengan SAK ETAP 2009, 11.5 metode LIFO tidak digunakan
lagi. Tetapi untuk pembelajaran kita akan mempelajarinya.
Pemakaian metode tersebut dalam penilaian persediaan, tergantung
dari sistem pencatatan yang digunakan apakah fisik atau
perpectual.
Mengelola Persediaan 13
A. PENILAIAN PERSEDIAAN BARANG DAGANG DENGAN SISTEM
PENCATATAN FISIK
Untuk metode fisik ada beberapa metode penilaian persediaan barang
dagang akhir yaitu :
1. Metode Rata-rata/ Average Methode
2. Metode FIFO
3. Metode LIFO
4. Metode persediaan dasar / Basic stock method
CONTOH :
Jenis Barang A bulan juli 2018
1 Juli Persediaan awal 1.000 kg @ Rp. 20.000 Rp. 20.000.000
5 Juli pembelian 2.000 kg @ Rp. 24.000 Rp. 48.000.000
7 Juli pembelian 1.000 kg @ Rp. 22.000 Rp. 22.000.000
12 Juli pembelian 3.000 kg @ Rp. 26.000 Rp. 78.000.000
14 Juli pembelian 1.700 kg @ Rp. 30.000 Rp. 51.000.000
15 Juli pembelian 800 kg @ Rp. 32.000 Rp. 25.600.000
26 Juli pembelian 2.000 kg @ Rp. 30.000 Rp. 60.000.000
28 Juli pembelian 1.500 kg @ Rp. 34.000 Rp. 51.000.000
Barang tersedia untuk dijual 13.000 kg Rp. 355.600.000
Berdasarkan data di atas, penilaian persediaan akhir dapat dihitung dengan :
1. Metode rata-rata:
a. Metode rata-rata sederhana/ simple average methode
Dengan metode ini harga rata-rata per satuan barang dihitung dengan
cara membagi total harga pers atuan tiap transaksi pembelian dengan
jumlah transaksi pembelian termasuk persediaan awal periode.
Harga rata-rata per unit/kg :
20.000 + 24.000 + 26.000 + 30.000 + 32.000 + 30.000 + 34.000
8
= 218.000
8
= 27.250
Maka nilai persediaan barang A tanggal 31 Juli 2018 adalah
6000 kg x 27.250 = Rp. 163.500.000
b. Metode rata-rata tertimbang / weight average methode
Dengan metode ini harga per satuan unit barang dihitung engan cara
membagi jumlah harga pemebelian yang tersedia untuk dijual dengan
jumlah kuantitas barang
Mengelola Persediaan 14
Harga rata-rata per unit/kg :
355.600.000
13.000
= Rp. 27.353,83
Nilai persediaan barang A tanggal 31 Juli 2018 adalah
600 kg x 27.353,85 = Rp. 164.123.100
2. Metode MPKP / FIFO
Menurut metode ini, harga perolehan per unit barang yang dibeli/masuk
pertama dianggap sebagai harga perolehan barang yang dijual /keluar
pertama kali. Dengan demikian nilai HPP didasarkan atas Harga perolehan
per unit yang lebih awal dibeli / masuk.
Harga perolehan persediaan akhir berasal dari harga perolehan
barang dari pembelian terakhir.
Berdasarkan data di atas, nilai persediaan akhir dengan metode FIFO
adalah 6000 kg terdiri dari :
1.500 kg pembelian tgl 28 juli = 1.500 x 34.000 = Rp. 51.000.000
2.000 kg pembelian tgl 26 Juli = 2.000 x 30.000 = Rp. 60.000.000
800 kg pembelian tgl 15 Juli = 800 x 32.000 = Rp. 25.600.000
1.700 kg pembelian tgl 14 Juli = 1.700 x 30.000 = Rp. 51.000.000
Nilai persediaan barang A tanggal 31 juli 2018 = Rp.187.600.000
3. Metode MTKP /LIFO
Menurut metode ini, harga perolehan per unit barang yang dibeli terakhir
dianggap sebagai harga perolehan barang yang dijual pertama kali.
Sehingga nilai HPP berdasarkan atas harga perolehan per unit paling akhir
dibeli, dan harga perolehan persediaan akhir adalah harga perolehan
barang dari pembelian pertama.
Berdasarkan data dia atas, mka nilai persediaan akhir dengan metode
LIFO dihitung sebagai berikut :
Nilai persediaan akhir 6.000 kg terdiri dari :
Persediaan awal 1.000 kg = 1.000 x 20.000 = Rp. 20.000.000
2.000 kg Pembelian 5 juli = 2.000 x 24.000 = Rp. 48.000.000
1.000 kg pembelian 7 juli = 1.000 x 22.000 = Rp. 22.000.000
2.000 kg pembelian 12 juli = 2.000 x 26.000 = Rp. 52.000.000
Nilai persediaan barang A tanggal 31 Juli 2018 = Rp. 142.000.000
Mengelola Persediaan 15
4. Metode persediaan dasar / basic stock method
Persediaan dasar adalah persediaan yang secara minimal harus ada untuk
mempertahankan kestabilan jumlah persediaan barang suatu perusahaan.
Nilai persediaan akhir dihitung dengan cara :
a. Apabila kuantitasnya lebih banyak daripada kuantitas persediaan dasar,
nilai persediaan adalah nilai persediaan dasar ditambah harga pasar
kelebihannya
b. Apabila kuantitasnya lebih sedikit daripada kuantitas persediaan dasar,
nilai persediaan adalah nilai persediaan dasar dikurangi dengan harga
pasar kekurangannya.
Contoh
❖ Persediaan dasar barang X ditentukan sebanyak 20.000 unit @
Rp.2.500. Persediaan barang X pada tanggal 30 juli 2018 sebanyak
35.000 unit. Harga pasar yang berlaku pada tanggal 30 juli 2018 per
unit barang X adalah Rp. 3.500
Nilai persediaan akhir barang dagang X adalah sebagai berikut
Nilai persediaan dasar
= 20.000 x 2.500 = Rp. 50.000.000
Harga dasar kelebihannya
= 15.000 x 3.500 = Rp. 52.500.000
Harga pasar tanggal 30 Juli 2018 = Rp 102.500.000
❖ Persediaan dasar barang X ditentukan sebanyak 20.000 unit @
Rp.2.500. Persediaan barang X pada tanggal 30 juli 2018 sebanyak
12.000 unit. Harga pasar yang berlaku pada tanggal 30 juli 2018 per
unit barang X adalah Rp. 3.500
Nilai persediaan akhir barang dagang X adalah sebagai berikut
Nilai persediaan dasar
= 20.000 x 2.500 = Rp. 50.000.000
Harga dasar kelebihannya
= 12.000 x 3.500 =( Rp. 42.000.000)
Harga pasar tanggal 30 Juli 2018 = Rp 8.000.000
Masih semangat khaaan....kalian pasti sangat mudah memahaminya !!!
Mengelola Persediaan 16
B. PENILAIAN PERSEDIAAN BARANG DAGANG DENGAN SISTEM
PENCATATAN PERPECTUAL
Dalam metode ini setiap terjadi mutasi persediaan barang dagang selain dicatat
ke dalam jurnal juga dicatat dalam kartu persediaan
Kartu persediaan berfungsi sebagai buku besar pembantu persediaan. Sehingga
HPP dan nilai persediaan akhir akan langsung diketahui setiap saat.
Penilaian persediaan akhir barang dagang dengan sistem perpectual dapat
dilakukan dengan bebrapa metode :
1. MPKP /FIFO
Nilai persediaan akhir dihitung dengan mengasumsikan barang yang
masuk pertama adalah barang yang dijual terlebih dulu. Kekurangannya
mengambil barang yang masuk/dibeli berikutnya.
2. MTKP /LIFO
Nilai persediaan akhir dihitung dengan mengasumsikan barang yang
terakhir masuk adalah barang yang dijual terlebih dulu. Kekurangannya
mengambil barang yang masuk/dibeli sebelumnya
3. Metode rata-rata bergerak / Moving Average
Dalam metode ini setiap terjadi transaksi pembelian harus dihitung harga
beli per satuan, sehingga harga barang tiap satuan selalu berubah-ubah.
Harga ini yang menjadi dasar perhitungan nilai persediaan akhir
Contoh :
Berikut ini adalah data persediaan barang dagang UD Aneka Jaya
desember 2019
1 Desember Persediaan awal 75 unit @ Rp. 66.000
5 Desember faktur No.14 Pembelian dari PT Indo Jaya 100 unit @ Rp.
68.000
14 Desember penjualan dengan Copy faktur No. 22 Toko Sumber Jaya 30
unit barang @ Rp. 80.000
20 desember faktur No. 31 dari PT Indo Sehat pembelian 75 unit @ Rp.
70.000
23 Desember copy faktur no 24 toko Laris 45 unit @ Rp. 78.000
26 Desember copy faktur no 26 toko Mitra 50 unit @ Rp. 76.000
29 desember copy faktur No. 28 toko Sumber jaya 40 unit @ Rp. 78.000
Buatlah mutasi persediaan barang dari UD Aneka Jaya dalam kartu
persediaan dengan metode :
a. FIFO
b. LIFO
Mengelola Persediaan 17
Tgl No c. Moving Average unit Keluar Persediaan akhir jumlah
bukti a. FIFO Harga/u jumlah unit Harga/u 4.950.000
4.950.000
1 masuk 75 66.000 6.800.000
5 F14 unit Harga/u jumlah 75 66.000
100 68.000 11.750.000
100 68.000 6.800.000 175
14 Cf 22 30 66.000 1.980.000 45 66.000 2.970.000
70.000 5.250.000 100 68.000 6.800.000
20 F 31 75 145 9.770.000
66.000 2.970.000
45 68.000 6.800.000
100 70.000 5.250.000
15.020.000
75
220
23 Cf 24 45 66.000 2.970.000 100 68.000 6.800.000
26 Cf 26 75 70.000 5.250.000
12.050.000
175 68.000 3.400.000
50 68.000 3.400.000 50 70.000 5.250.000
8.650.000
75
125
29 Cf 28 40 68.000 2.720.000 10 68.000 680.000
75 70.000 5.250.000
85 5.930.000
Tgl No b. LIFO unit Keluar Persediaan akhir jumlah
bukti Harga/u jumlah unit Harga/u 4.950.000
masuk 4.950.000
1 unit Harga/u jumlah 75 66.000 6.800.000
5 F14 75 66.000
100 68.000 6.800.000 100 68.000 11.750.000
175
14 Cf 22 30 68.000 2.040.000 75 66.000 4.950.000
70.000 5.250.000 70 68.000 4.760.000
20 F 31 75 145 9.710.000
75 66.000 4.950.000
70 68.000 4.760.000
75 70.000 5.250.000
220 14.960.000
23 Cf 24 45 70.000 3.150.000 75 66.000 4.950.000
26 Cf 26 70 68.000 4.760.000
30 70.000 2.100.000
11.810.000
175 66.000 4.950.000
30 70.000 2.100.000 75
Mengelola Persediaan 18
29 Cf 28 20 68.000 1.360.000 50 68.000 3.400.000
125 8.350.000
66.000
40 68.000 2.720.000 75 68.000 4.950.000
10 680.000
85
5.630.000
c. Moving Average
Tgl No masuk Keluar Persediaan akhir
unit Harga/u jumlah unit Harga/u
bukti unit Harga/u jumlah jumlah
75 66.000 4.950.000
1 75 66.000 4.950.000
5 F14 100 68.000 6.800.000 100 68.000 6.800.000
175 67.142,86
11.750.000
14 Cf 22 30 67.142,86 2.014.285,71 145 67.142,86 9.735.714,7
20 F 31 145 67.142,86 9.735.714,7
75 70.000 5.250.000
75 70.000 5.250.000
220 68.116,89 14.985.714,7
23 Cf 24 45 68.116,89 3.065.259,8 175 68.116,89 3.065.040,1
26 Cf 26 50 68.116,89 3.405.844,5 125 68.116,89 8.514.611,3
29 Cf 28 40 68.116,89 2.724.675,6 68.116,89 5.789.935,7
85
Mengelola Persediaan 19
BAB III
KEGIATAN BELAJAR 3
PENILAIAN HARGA POKOK PENJUALAN / HPP
Harga pokok penjualan merupakan haga perolehan barang yang laku dijual.
Metode yang digunakan untuk menentukan nilai harga pokok penjualan sama
seperti metode yang digunakan dalam penilaian persediaan. Perbedaanya kalau
persediaan merupakan harga perolehan jumlah barang yang masih ada di
gudang sedangkan harga pokok penjualan merupakan harga pokok barang yang
dijual.
Harga pokok penjualan digunakan untuk menentukan laba kotor penjualan
1. Penilaian HPP dengan sistem Fisik
CONTOH :
Jenis Barang A bulan juli 2018
1 Juli Persediaan awal 1.000 kg @ Rp. 20.000 Rp. 20.000.000
5 Juli pembelian 2.000 kg @ Rp. 24.000 Rp. 48.000.000
7 Juli pembelian 1.000 kg @ Rp. 22.000 Rp. 22.000.000
12 Juli pembelian 3.000 kg @ Rp. 26.000 Rp. 78.000.000
14 Juli pembelian 1.700 kg @ Rp. 30.000 Rp. 51.000.000
15 Juli pembelian 800 kg @ Rp. 32.000 Rp. 25.600.000
26 Juli pembelian 2.000 kg @ Rp. 30.000 Rp. 60.000.000
28 Juli pembelian 1.500 kg @ Rp. 34.000 Rp. 51.000.000
Barang tersedia untuk dijual 13.000 kg Rp. 355.600.000
Dari hasil perhitungan fisik akhir juli 2018 diketahui nilai persediaan barang
sejumlah 6.000 unit.
Barang yang tersedia dijual 13.000 unit sehingga jumlah unit yang dijual
adalah 13.000 – 6.000 = 7.000 unit.
Jika diketahui harga jual per unit barang A adalah Rp. 35.000, besarnya HPP
dan laba kotor dapat dihitung sebagai berikut :
1. Metode rata-rata
a. Metode rata-rata sederhana
Harga poko rata-rata barang A adalah =
20.000 + 24.000 + 26.000 + 30.000 + 32.000 + 30.000 + 34.000
8
= 218.000
8
= 27.250
Mengelola Persediaan 20
Maka HPP barang A adalah = 7.000 x 27.250 = Rp. 190.750.000
Maka laba kotor penjualan dapat dihitung sebagai berikut :
Penjualan = 7.000 x 35.000 = Rp. 245.000.000
HPP = = (Rp. 190.750.000)
Laba kotor penjualan dengan metode rata-rata sederhana =
Rp. 54.250.000
b. Metode rata-rata tertimbang
Harga rata-rata tiap unit =
355.600.000
13.000 = 27.353,85
Maka laba kotor penjualan dapat dihitung
Penjualan = 7.000 x 35.000 = 245.000.000
HPP = 7.000 x 27.353,85 = 191.476.950
Laba kotor penjualan dengan mtode rata-rata tertimbang =
Rp.53.523.050
2. FIFO / MPKP
Dari soal di atas nilai harga pokok penjualan sebesar 7.000 kg berasal
dari sbb :
Persediaaan awal 1.000 x 20.000 Rp. 20.000.000
Pembelian 5 juli 2.000 x 24.000 Rp. 48.000.000
Pembelian 7 juli 1.000 x 22.000 Rp. 22.000.000
Pembelian 12 juli 2.000 x 26.000 Rp. 52.000.000
Pembelian 14 juli 1.000 x 30.000 Rp. 30.000.000
HPP 7.000 Rp. 172.000.000
Maka laba kotor penjualan dengan metode FIFO dapat dihitung sebagai
berikut :
Penjualan = 7.000 x 35.000 Rp. 245.000.000
HPP (Rp. 172.000.000)
Laba kotor penjualan sebesar Rp. 73.000.000
Laba kotor penjualan dengan metode FIFO sebesar sebesar Rp.
73.000.000
3. Metode MTKP / LIFO
Dari soal di atas nilai harga pokok penjualan sebesar 7.000 kg berasal dari
sbb :
Persediaaan awal 1.000 x 34.000 Rp. 51.000.000
Pembelian 5 juli 2.000 x 30.000 Rp. 60.000.000
Pembelian 7 juli 1.000 x 32.000 Rp. 25.600.000
Mengelola Persediaan 21
Pembelian 12 juli 2.000 x 30.000 Rp. 51.000.000
Pembelian 14 juli 1.000 x 26.000 Rp. 26.000.000
HPP 7.000 Rp. 213.000.000
Maka laba kotor penjualan dengan metode LIFO dapat dihitung sebagai
berikut :
Penjualan = 7.000 x 35.000 Rp. 245.000.000
HPP (Rp.213.000.000)
Laba kotor penjualan sebesar Rp. 32.000.000
Laba kotor penjualan dengan metode LIFO sebesar sebesar Rp.
32.000.000
2. Penilaian HPP dengan Metode perpectual
Contoh :
Berikut ini adalah data persediaan barang dagang UD Aneka Jaya
desember 2019
1 Desember Persediaan awal 75 unit @ Rp. 66.000
5 Desember faktur No.14 Pembelian dari PT Indo Jaya 100 unit @ Rp.
68.000
14 Desember penjualan dengan Copy faktur No. 22 Toko Sumber Jaya 30
unit barang @ Rp. 80.000
20 desember faktur No. 31 dari PT Indo Sehat pembelian 75 unit @ Rp.
70.000
23 Desember copy faktur no 24 toko Laris 45 unit @ Rp. 78.000
26 Desember copy faktur no 26 toko Mitra 50 unit @ Rp. 76.000
29 desember copy faktur No. 28 toko Sumber jaya 40 unit @ Rp. 78.000
Buatlah mutasi persediaan barang dari UD Aneka Jaya dalam kartu
persediaan dengan metode :
a. FIFO
b. LIFO
c. Moving Average
Tgl No a. FIFO unit Keluar Persediaan akhir jumlah
bukti Harga/u jumlah unit Harga/u 4.950.000
masuk 4.950.000
1 unit Harga/u jumlah 75 66.000 6.800.000
5 F14 75 66.000
100 68.000 6.800.000 100 68.000 11.750.000
175
14 Cf 22 30 66.000 1.980.000 45 66.000 2.970.000
Mengelola Persediaan 22
20 F 31 75 70.000 5.250.000 100 68.000 6.800.000
145 9.770.000
45 66.000 2.970.000
50 45 68.000 6.800.000
40 100 70.000 5.250.000
15.020.000
75
220
23 Cf 24 66.000 2.970.000 100 68.000 6.800.000
26 Cf 26 68.000 3.400.000 75 70.000 5.250.000
29 Cf 28 12.050.000
175 68.000 3.400.000
50 70.000 5.250.000
75 8.650.000
125
68.000 2.720.000 10 68.000 680.000
75 70.000 5.250.000
85 5.930.000
Berdasarkan kartu persediaan metode MPKP / FIFO kita dapat menghitung HPP
sebagai berikut :
Penjualan tgl 14 juli 2019 Rp. 1.980.000
Penjualan tgl 23 juli Rp. 2.970.000
Penjualan tgl 26 juli Rp. 3.400.000
Penjualan tgl 29 juli Rp. 2.720.000
Total HPP Rp. 11.070.000
Maka laba kotor dapat dihitung sebagai berikut :
Total penjualan :
Penjualan tgl 14 juli 2019 Rp. 2.400.000
Penjualan tgl 23 juli Rp. 3.510.000
Penjualan tgl 26 juli Rp. 3.800.000
Penjualan tgl 29 juli Rp. 3.120.000
Total penjualan Rp. 12.830.000
Jadi besarnya laba kotor penjualan dengan metode FIFO adalah
Total penjualan Rp. 12.830.000
HPP Rp. 11.070.000
Laba kotor penjualan Rp. 1.760.000
Tgl No b. LIFO unit Keluar Persediaan akhir jumlah
bukti Harga/u jumlah unit Harga/u 4.950.000
masuk 4.950.000
1 unit Harga/u jumlah 75 66.000 6.800.000
5 F14 75 66.000
100 68.000 6.800.000 100 68.000 11.750.000
175
Mengelola Persediaan 23
14 Cf 22 30 68.000 2.040.000 75 66.000 4.950.000
70.000 5.250.000 70 68.000 4.760.000
20 F 31 75 145 9.710.000
45 75 66.000 4.950.000
70 68.000 4.760.000
30 75 70.000 5.250.000
20 220 14.960.000
40
23 Cf 24 70.000 3.150.000 75 66.000 4.950.000
26 Cf 26 70 68.000 4.760.000
29 Cf 28 70.000 2.100.000 30 70.000 2.100.000
68.000 1.360.000 175 11.810.000
75 66.000 4.950.000
50 68.000 3.400.000
125 8.350.000
68.000 2.720.000 75 66.000 4.950.000
10 68.000 680.000
85
5.630.000
Berdasarkan kartu persediaan metode MTKP / LIFO kita dapat menghitung HPP
sebagai berikut :
Penjualan tgl 14 juli 2019 Rp. 2.040.000
Penjualan tgl 23 juli Rp. 3.150.000
Penjualan tgl 26 juli Rp. 3.460.000
Penjualan tgl 29 juli Rp. 2.720.000
Total HPP Rp.11.370.000
Maka laba kotor dapat dihitung sebagai berikut :
Total penjualan :
Penjualan tgl 14 juli 2019 Rp. 2.400.000
Penjualan tgl 23 juli Rp. 3.510.000
Penjualan tgl 26 juli Rp. 3.800.000
Penjualan tgl 29 juli Rp. 3.120.000
Total penjualan Rp. 12.830.000
Jadi besarnya laba kotor penjualan dengan metode FIFO adalah
Total penjualan Rp. 12.830.000
HPP (Rp. 11.370.000)
Laba kotor penjualan dengan metode LIFO / MTKP sebesar Rp. 1.448.630
Mengelola Persediaan 24
c. Moving Average
Tgl No masuk unit Keluar Persediaan akhir jumlah
bukti unit Harga/u jumlah Harga/u jumlah unit Harga/u 4.950.000
4.950.000
1 100 68.000 6.800.000 75 66.000 6.800.000
5 F14 75 66.000
100 68.000 11.750.000
175 67.142,86
14 Cf 22 30 67.142,86 2.014.285,71 145 67.142,86 9.735.714,7
20 F 31 145 67.142,86 9.735.714,7
75 70.000 5.250.000
75 70.000 5.250.000
220 68.116,89 14.985.714,7
23 Cf 24 45 68.116,89 3.065.259,8 175 68.116,89 3.065.040,1
26 Cf 26 50 68.116,89 3.405.844,5 125 68.116,89 8.514.611,3
29 Cf 28 40 68.116,89 2.724.675,6 68.116,89 5.789.935,7
85
Berdasarkan kartu persediaan metode MTKP / LIFO kita dapat menghitung HPP
sebagai berikut :
Penjualan tgl 14 juli 2019 Rp. 2.014.285,71
Penjualan tgl 23 juli Rp. 3.065.259,8
Penjualan tgl 26 juli Rp. 3.405.844,5
Penjualan tgl 29 juli Rp. 2.724.675,6
Total HPP Rp.11.210.065,6
Maka laba kotor dapat dihitung sebagai berikut :
Total penjualan :
Penjualan tgl 14 juli 2019 Rp. 2.400.000
Penjualan tgl 23 juli Rp. 3.510.000
Penjualan tgl 26 juli Rp. 3.800.000
Penjualan tgl 29 juli Rp. 3.120.000
Total penjualan Rp. 12.830.000
Jadi besarnya laba kotor penjualan dengan metode FIFO adalah
Total penjualan Rp. 12.830.000
HPP (Rp.11.210.065,6)
Laba kotor penjualan dengan metode moving Average adalah 1.619.934,4
Coba kalian amati bagaimana perolehan laba berdasarkan pemakaian
masing-masing metode di atas.
Mengelola Persediaan 25
Dalam praktek akuntansi, perusahaan bebas memilih salah satu metode dan
perusahaan pasti mempunyai alasan yang kuat untuk memilihnya berdasarkan
kondisi pasar.
Berikut ini bisa kita lihat perbedaan secara detail diantara metode penilaian
persediaan apabila kondisi perekonomian cenderung berubah-ubah :
Pada saat Inflasi (harga barang cenderung naik)
KETERANGAN FIFO LIFO
Harga Pokok Penjualan Rendah Tinggi
Laba bersih Tinggi Rendah
Pajak penghasilan Tinggi Rendah
Persediaan barang dagang di neraca Rendah
tinggi
Pada saat deflasi (harga barang cenderung turun)
KETERANGAN FIFO LIFO
Rendah
Harga Pokok Penjualan Tinggi Tinggi
Tinggi
Laba bersih Rendah
tinggi
Pajak penghasilan Rendah
Persediaan barang dagang di neraca Rendah
Persediaan barang merupakan unsur laporan keuangan yang sangant
penting pada perusahaan, karena memiliki peran ganda yaitu dilaporkan
sebagai aset di neraca dan dilaporkan sebagi unsur HPP di laporan rugi
laba.
Kesalahan pencatatan persediaan akan berakibat pada kesalahan dalam
menyajikan harga pokok penjualan, laba kotor dan laba bersih dalam
laporan laba rugi. Dalam neraca dapat mengakibatkan salah saji dalam
akun persediaan dan modal perusahaan.
Jika terjadi kesalahan penilaian persediaan dinilai terlalu rendah maka
pengaruhnya di neraca adalah nilai persediaan akhir, aset lancar dan modal
pemilik terlalu rendah.
Jika terjadi kesalahan penilaian persediaan dinilai terlalu rendah maka 26
pengaruhnya di laporan laba rugi adalah HPP terlalu tinggi, laba kotor
penjualan terlalu rendah, laba bersih terlalu rendah
Mengelola Persediaan
Jika terjadi kesalahan penilaian persediaan dinilai terlalu tinggi maka
pengaruhnya di neraca adalah nilai persediaan akhir, aset lancar dan modal
pemilik terlalu tinggi
Jika terjadi kesalahan penilaian persediaan dinilai terlalu tinggi maka
pengaruhnya di laporan laba rugi adalah HPP terlalu rendah, laba kotor
penjualan terlalu tinggi, laba bersih terlalu tinggi
PENILAIAN PERSEDIAAN MENURUT PAJAK
Dalam prakteknya penilaian persediaan yang diakui dalam perpajakan
adalah metode FIFO dan metode rata-rata. Jadi jika perusahaan
menggunakan penilaian persediaan selain FIFO atau rata-rata, maka
dalam menghitung besarnya pajak penghasilan terutang pada akhir tahun
harus dilakukan koreksi fiskal
Contoh
Suatu perusahaan dalam menilai persediaan barang dagangnya
menggunakan metode LIFO, diketahui
HPP sebesar Rp. 639.000.000
Penjualan sebesar Rp. 721.000.000
HPP dengan menggunakan metode FIFO sebesar Rp. 631.000.000
maka penghitungan pajak penghasilan perusahaan tersebut harus
mengkonversi nilai persediaannya ke metode FIFO dan melakukan koreksi
fiskal.
Harga pokok penjualan /HPP LIFO 639.000.000
Harga pokok penjualan /HPP FIFO 631.000.000
Harga pokok komersial di atas fiskal 8.000.000
Laporan laba rugi akan dihitung sebagai berikut
Keterangan Akuntansi Koreksi Fiskal Akuntansi
komersial LIFO Positif Negatif pajak FIFO
Penjualan 721.000.000 721.000.000
HPP 639.000.000 8.000.000 631.000.000
Laba kotor 82.000.000 8.000.000 90.000.000
Mengelola Persediaan 27
BAB IV
EVALUASI
I. Penugasan :
Jelaskan yang dimaksud dengan persediaan dasar dan bagaimana
cara menghitung nilai persediaan akhir barang dagang dengan metode
ini.
II. Forum diskusi :
Diskusikan dengan kelompokmu apa akibatnya pada laporan
keuangan laba rugi dan neraca jika terjadi kesalahan pencatatan nilai
persediaan dicatat terlalu tinggi
III. Uji Kompetensi
MULTIPLE CHOICE
1. Akun yang digunakan dalam pencatatan sistem perpectual adalah ..
A. Merchandise inventory
B. Freight paid
C. Purchase return
D. Cost of good sold
E. Freight collected
2. Beban angkut barang yang ditanggung penjual sehingga bagi pembeli harga pokok produk
tidak termasuk biaya ini. Adalah perjanjian jual beli
A. FOB Shipping Point
B. FOB Destination
C. Freight collected
D. Freight Out
E. Fereight paid
3. Barang yang baru dibeli dan disimpan sementara untuk selanjutnya dijual kembali dengan
harapan mendapat laba sbesar selisih harga beli dan harga jual adalah
A. Raw material cost
B. Work in proces inventory
C. Finishing good inventory
D. Merchandise inventory
E. Inventory sold
4. Persediaan minimal yang harus ada untuk mempertahankan kestabilan jumlah persediaan
barang dagang suatu perusahaan adalah
A. Simple average method
B. Weight average metode
C. FIFO
D. LIFO
E. Basic stock methode
5. Persediaan akhir akan selalu diperbarui setiap akhir periode, sebelum menyususn laporan
persediaan melalui perhitungan fisik persediaan di gudang yang disebut
A. Basic stock methode
Mengelola Persediaan 28
B. Stock opname
C. Stock on average
D. MTKP
E. Chek in storage
6. Setiap terjadi transaksi pembelain harus dihitung harga beli rata-rata per satuan sehingga
harga barang dagang tiap satuan selalu berubah-ubah. Hal ini menunjukkkan perusahaan
menerapkan metode
A. FIFO
B. LIFO
C. MPKP
D. Moving average
E. Weighted average method
7. Dengan menggunakan metode perpectual, transaksi retur pembelian yang benar adalah
A. Purcahase return (D), VAT in (D), Account payable (K)
B. Merchandise inventory (D), VAT In (D), Account payable (K)
C. Acccount payable (D), VAT In (D), Purchase Return (K)
D. Mercahndise inventory (D), VAT In(K), Account payable(K)
E. Account Payable(D), VAT In (K), Mercandhise Inventory(K)
8. Perbedaan antara penentuan nilai persediaan barang dagang denagn metode FIFO dan LIFO
adalah
A. Metode FIFO digunakan hanya pada sistem Fisik dan LIFO pada sistem perpectual
B. Metode FIFO digunakan hanya pada sistem perpectual dan LIFO pada sistem fisik
C. Dalam kondisi inflasi metode FIFO lebih menguntungkan dibandingkan metode LIFO
D. Dalam kondisi inflasi metode LIFO lebih menguntungkan dibandingkan metode FIFO
E. Dalam kondisi deflasi metode FIFO lebih menguntungkan dibandingkan metode LIFO
9. Apabila persediaan akhir dinyatakan terlalu rendah,maka
A. Laba kotor akan terlalu tinggi
B. Laba kotor akan terlalu rendah
C. Laba bersih akan terlalu tinggi
D. Modal terlalu tinggi
E. HPP terlalu tinggi
10. Metode perhitungan penilaian persediaan yang diakui oleh perpajakan adalah
A. Rata-rata tertimbang
B. LIFO
C. Identifikasi khusus
D. FIFO
E. Rata – rata sederhana
11. Diketahui data sebuah perusahaan sebagai berikut :
Sales Rp. 35.000.000
Sales return Rp. 500.000
Sales discount Rp. 750.000
Beginning inventory Rp. 8.500.000
Ending inventory Rp. 3.000.000
Purchase Rp. 11.750.000
Purchase return Rp. 350.000
Purchase discount Rp. 500.000
Besarnya Cost Of Good Sold adalah
A. Rp. 5.400.000
B. Rp. 4.500.000
C. Rp. 10.900.000
D. Rp. 19.100.000
E. Rp. 16.400.000
12. Diketahui data sebuah perusahaan sebagai berikut :
Sales Rp. 35.000.000
Mengelola Persediaan 29
Sales return Rp. 500.000
Sales discount Rp. 750.000
Beginning inventory Rp. 8.500.000
Ending inventory Rp. 3.000.000
Purchase Rp. 11.750.000
Purchase return Rp. 350.000
Purchase discount Rp. 500.000
Besarnya gross profit perusahaan adalah
A. Rp. 17.350.000
B. Rp. 18.600.000
C. Rp. 19.100.000
D. Rp. 16.800.000
E. Rp. 17.530.000
13. PD MUTIARA selama bulan maret 2019 memiliki data persediaan awal 3.500 unit barang
dagang @Rp. 6.000. Data pembelian barang sebagai berikut :
5 maret pembelian 2.000 unit @Rp. 6.200
10 maret pembelian 3.000 unit @Rp. 6.250
20 maret pembelian 4.000 unit @Rp. 6.200
30 maret pembelian 3.000 unit @Rp. 6.300
Berdasarkan inventarisasi fisik jumlah persediaan tanggal 31 maret 2019 sebanyak 5.000 unit.
Jika perusahaan menggunakan metode FIFO, maka nilai persediaan akhir adalah
A. Rp. 33.100.000
B. Rp. 43.700.000
C. Rp. 34.700.000
D. Rp. 31.300.000
E. Rp. 33.400.000
14. PD MUTIARA selama bulan maret 2019 memiliki data persediaan awal 3.500 unit barang
dagang @Rp. 6.000. Data pembelian barang sebagai berikut :
5 maret pembelian 2.000 unit @Rp. 6.200
10 maret pembelian 3.000 unit @Rp. 6.250
20 maret pembelian 4.000 unit @Rp. 6.200
30 maret pembelian 3.000 unit @Rp. 6.300
Berdasarkan inventarisasi fisik jumlah persediaan tanggal 31 maret 2019 sebanyak 5.000 unit.
Jika perusahaan menggunakan metode LIFO, maka nilai persediaan akhir adalah
A. Rp. 33.100.000
B. Rp. 31.150.000
C. Rp. 34.700.000
D. Rp. 31.300.000
E. Rp. 33.400.000
ANS:B
15. Rumus menghitung harga satuan dengan metode rata-rata tertimbang adalah
A. Total harga per satuan dibagi jumlah transaksi
B. Total nilai pembelian dibagi jumlah barang
C. Nilai pembelian ditambah persediaan awal dikurangi persediaan akhir
D. Nilai penjualan dikurangi harga pokok penjualan
E. Membagi jumlah harga pembelian barang tersedia untuk dijual dengan jumlah satuan
Mengelola Persediaan 30
DAFTAR ISTILAH AKUNTANSI
Biaya : expense Aktiva : assets
Beban Usaha : operating expense Barang dagangan : merchandise
Jasa : servise Biaya : expense
konsisten : consistent Debitur : debtor
Laba, keuntungan : profit Gaji : salary
Laba bersih : net income Modal pemilik : owner’s equity
Laporan perub. modal : statement of owner’s Harga pasar : market price
pemilik equity
Pajak penghasilan : income tax Harga perlehan gedung : the cost of building
Perhitungan rugi laba : income statement Peralatan : equipment
Periode akuntansi : accounting period Investasi : investment
Rugi bersih : net loss Kas : cash
Ayat jurnal penutup : closing journal entry Kekayaan : property
Ayat penutup : Kewajiban : liabilities
Kreditur : creditor
Laba bersih : net income
Modal : capital
Pasiva : liabilities and capital
Pendapatan : revenue
Prive : drawing
Peraltan kantor : office equipment
Perlengkapan kantor : office supplies
Peraltan toko : store equipment
Persamaan dsr akt : fundamental acc. Equatin
Persediaan : inventory
Piutang usaha : account receivable
Saldo : balance
Rugi bersih : net loss
Utang usaha : account payble
Mengelola Persediaan 31
DAFTAR PUSTAKA
Hendy Soemantri Drs., 2004, Memahami Siklus Akuntansi, Perusahaan Jasa
dan Dagang, Armico, Bandung
Solichatun, Karmi ,2017. Akuntansi Keuangan untuk SMK kelas XI, Pustaka
Mulia, Jakarta
Harti Dwi, 2018, Akuntansi Keuangan untuk SMK/MAK Kelas XI, Erlangga,
Jakarta
IAI. 2009. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik
(SAK ETAP)
Mengelola Persediaan 32