sosial terkait kerja. Kerja profesional dalam kelompok bergantung pada gaya
kepemimpinan, tanggung jawab anggota, tanggung jawab kepemimpinan, dan
identifikasi tugas dalam fase grup berbeda.
12.2 Komunikasi dengan Tim kesehatan lain
Perawat menjalankan peran yang membutuhkan interaksi dengan berbagai anggota tim
pelayanan kesehatan. Unsur yang membentuk hubungan perawat klien juga dapat diterapkan
dalam hubungan sejawat, yang berfokus pada pembentukan lingkungan kerja yang sehat dan
mencapai tujuan tatanan klinis. Komunikasi ini berfokus pada pembentukan tim, fasilitasi
proses kelompok, kolaborasi, konsultasi, delegasi, supervisi, kepemimpinan, dan manajemen.
Dibutuhkan banyak keterampilan komunikasi, termasuk berbicara dalam presentasi, persuasi,
pemecahan masalah kelompok, pemberian tinjauan performa, dan penulisan laporan. Didalam
lingkungan kerja, perawat dan tim kesehatan membutuhkan interaksi sosial dan terapeutik
untuk membangun kepercayaan dan meperkuat hubungan. Semua orang memilki kebutuhan
interpribadi akan penerimaan, keterlibatan, identitas, privasi, kekuatan dan kontrol, serta
perhatian. Perawat membutuhkan persahabatan, dukungan, bimbingan, dan dorongan dari
pihak lain untuk mengatasi tekanan akibat stress pekerjaan dan harus dapat menerapkan
komunikasi yang baik dengan klien, sejawat dan rekan kerja. (Potter & Perry, 2009).
Agar efektif sebagai profesional keperawatan, itu tidak cukup untuk sangat berkomitmen
untuk klien. Pada akhirnya, iklim perusahaan tempat kerja akan memiliki efek pada hubungan
yang terjadi antara perawat dan klien pribadi. Kegagalan dalam komunikasi antara penyedia
layanan kesehatan adalah salah satu faktor yang paling umum. Komitmen untuk kolaborasi
dalam hubungan kerja dengan para profesional lain membantu mempertahankan kualitas
tinggi dari perawatan klien. Keberhasilan kelompok bergantung pada hubungan baik diantara
tim, terutama pemimpin tim dengan anggota tim. Untuk mendorong terjadinya komunikasi,
pemimpin tim harus selalu mengamati prinsip komunikasi menurut WHO, 1999 :
a. Seluruh anggota tim harus bebas mengemukakan dan menjelaskan pandangan mereka
dan harus didorong untuk bertindak seperti itu.
b. Sebuah pesan atau komunikasi, baik lisan maupun tertulis harus dinyatakan dengan
jelas dan dalam bahasa atau ungkapan yang dapat dimengerti
c. Komunikasi mempunyai 2 unsur yaitu mengirim dan menerima, bila pesan yang
dikirim tidak diterima komunikasi tidak berjalan. Dengan demikian pemimpin tim
harus selalu meggunakan suatu cara untuk memeriksa apakah efek yang diharapkan
terjadi.
46
d. Perselisihan atau pertentangan adalah normal dalam hubungan antar manusia, hal ini
sudah diatur sedemikian sehingga dapat mencapai hasil yang konstruktif.
12.3 Delegasi
Delegasi adalah pemindahan tanggung jawab untuk melakukan kegiatan atau tugas dan
memegang akuntabilitas terhadap hasil. Delegasi bermanfaat untuk memperbaiki efisiensi,
meningkatkan produktivitas, dan mengembangkan staf lainnya. Sebagai seorang perawat,
harus bertanggungjawab terhadap penyelengaraan perawatan klien dan akan mendelegasikan
kegiatan perawat kepada asisten. Karena langkah dari proses keperawatan memerlukan
perawat untuk pengambilan keputusan, maka tahap ini tidak akan anda deegasikan kepada
asisten atau tenaga kesehatan lain. Untuk mendukung lingkungan profesional yang baik,
setiap anggota tim kerja keperawatan bertanggungjawab untuk melaksanakan komunikasi
profesional yang bersifat terbuka. Jika dilakukan dengan benar, delegasi dapat memperbaiki
efisiensi kerja, produktivitas, dan peningkatan kerja. Lima syarat dalam pendelegasian antar
tim kesehatan : Tugas yang tepat, kondisi yang tepat, orang yang tepat, komunikasi/petunjuk
yang tepat, supervisi yang tepat.( Potter & Perry, 2009).
12.4 Konflik dalam berkomunikasi
Tujuan utama dalam menangani konflik di tempat kerja adalah untuk menemukan
kualitas tinggi dan solusi yang dapat diterima bersama. Dalam banyak contoh, berbagai jenis
hubungan dapat berkembang melalui penggunaan teknik komunikasi manajemen konflik.
Pada situasi klinis sebagai suatu proses kerja sama untuk mencapai tujuan bersama dengan
mengikuti langkah :
a. Memperoleh data faktual : Mendapatkan semua informasi yang relevan tentang isu-
isu spesifik yang terlibat dan sekitar respon perilaku klien untuk masalah perawatan
kesehatan.
b. Pertimbangkan sudut pandang lain: Memiliki beberapa ide tentang apa masalah
mungkin relevan dari sudut pandang orang lain, memberikan informasi penting
tentang pendekatan interpersonal yang terbaik untuk digunakan.
c. Intervensi awal : Buat forum untuk komunikasi dua arah , sebaiknya bertemu secara
berkala dengan tim kesehatan lain mencakup permasalahan klien.
47
12.5 Komunikasi antara perawat-dokter
Hubungan perawat-dokter adalah satu bentuk hubungan interaksi yang telah cukup lama
dikenal ketika memberikan bantuan kepada pasien. Perawat bekerja sama dangan dokter
dalam berbagai bentuk. Perawat mungkin bekerja di lingkungan di mana kebanyakan asuhan
keperawatan bergantung pada instruksi medis. Perawat diruang perawatan intensif dapat
mengikuti standar prosedur yang telah ditetapkan yang mengizinkan perawat bertindak lebih
mandiri.
Perawat dapat bekerja dalam bentuk kolaborasi dengan dokter.Contoh : Ketika perawat
menyiapkan pasien yang baru saja didiagnosa diabetes pulang kerumah, perawat dan dokter
bersama-sama mengajarkan klien dan keluarga begaimana perawatan diabetes di
rumah.Selain itu komunikasi antara perawat dengan dokter dapat terbentuk saat visit dokter
terhadap pasien, disitu peran perawat adalah memberikan data pasien meliputi TTV,
anamnesa, serta keluhan-keluhan dari pasien,dan data penunjang seperti hasil laboraturium
sehingga dokter dapat mendiagnosa secara pasti mengenai penyakit pasien.Pada saat perawat
berkomunikasi dengan dokter pastilah menggunakan istilah-istilah medis, disinilah perawat
dituntut untuk belajar istilah-istilah medis sehingga tidak terjadi kebingungan saat
berkomunikasi dan komunikasi dapat berjalan dengan baik serta mencapai tujuan yang
diinginkan.
Komunikasi antara perawat dengan dokter dapat berjalan dengan baik apabila dari kedua
pihak dapat saling berkolaborasi dan bukan hanya menjalankan tugas secara individu,
perawat dan dokter sendiri adalah kesatuan tenaga medis yang tidak bisa dipisahkan. Dokter
membutuhkan bantuan perawat dalam memberikan data-data asuhan keperawatan, dan
perawat sendiri membutuhkan bantuan dokter untuk mendiagnosa secara pasti penyakit
pasien serta memberikan penanganan lebih lanjut kepada pasien. Semua itu dapat terwujud
dwngan baik berawal dari komunikasi yang baik pula antara perawat dengan dokter.
12.6 Komunikasi antara Perawat dengan Perawat
Dalam memberikan pelayanan keperawatan pada klien komunikasi antar tenaga
kesehatan terutama sesama perawat sangatlah penting. Kesinambungan informasi tentang
klien dan rencana tindakan yang telah, sedang dan akan dilakukan perawat dapat
tersampaikan apabila hubungan atau komunikasi antar perawat berjalan dengan
baik.Hubungan perawat dengan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan dapat
diklasifikasikan menjadi hubungan profesional, hubungan struktural dan hubungan
intrapersonal.
48
Hubungan profesional antara perawat dengan perawat merupakan hubungan yang terjadi
karena adanya hubungan kerja dan tanggung jawab yang sama dalam memberikan pelayanan
keperawatan.Hubungan sturktural merupakan hubungan yang terjadi berdasarkan jabatan atau
struktur masing- masing perawat dalam menjalankan tugas berdasarkan wewenang dan
tanggungjawabnya dalam memberikan pelayanan keperawatan.
Laporan perawat pelaksana tentang kondisi klien kepada perawat primer, laporan perawat
primer atau ketua tim kepada kepala ruang tentang perkembangan kondisi klien, dan
supervisi yang dilakukan kepala ruang kepada perawat pelaksana merupakan contoh
hubungan struktural.Hubungan interpersonal perawat dengan perawat merupakan hubungan
yang lazim dan terjadi secara alamiah. Umumnya, isi komunikasi dalam hubungan ini adalah
hal- hal yang tidak terkait dengan pekerjaan dan tidak membawa pengaruh dalam
pelaksanaan tugas dan wewenangnya.
12.7 Komunikasi antara perawat dengan Ahli terapi.
Ahli terapi respiratorik ditugaskan untuk memberikan pengobatan yang dirancang untuk
peningkatan fungsi ventilasi atau oksigenasi klien.Perawat bekerja dengan pemberi terapi
respiratorik dalam bentuk kolaborasi. Asuhan dimulai oleh ahli terapi (fisioterapis) lalu
dilanjutrkan dengan dievaluasi oleh perawat. Perawat dan fisioterapis menilai kemajuan klien
secara bersamasama dan mengembangkan tujuan dan rencana pulang yang melibatkan klien
dan keluarga. Selain itu, perawat merujuk klien ke fisioterapis untuk perawatan lebih jauh.
Contoh : Perawat merawat seseorang yang mengalamai penyakit paru berat dan merujuk
klien tersebut pada ahli terapis respiratorik untuk belajar latihan untuk menguatkaan otot-otot
lengan atas, untuk belajar bagaimana menghemat energi dalam melakukan aktivitas sehari-
hari, dan belajar teknik untuk mempertahankan bersihan jalan nafas.
12.8 Komunikasi antara Perawat dengan Ahli Farmasi
Seorang ahli farmasi adalah seorang profesional yang mendapat izin untuk merumuskan
dan mendistribusikan obat-obatan. Ahli farmasi dapat bekerja hanya di ruang farmasi atau
mungkin juga terlibat dalam konferensi perawatan klien atau dalam pengembangan sistem
pemberian obat. Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan
mempertahankan dengan mendorong klien untuk proaktif jika membutuhkan pengobatan.
Dengan demikian, perawat membantu klien membangun pengertian yang benar dan jelas
tentang pengobatan, mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan, dan turut bertanggung
jawab dalam pengambilan keputusan tentang pengobatan bersama tenaga kesehatan lainnya.
49
Perawat harus selalu mengetahui kerja, efek yang dituju, dosis yang tepat dan efek smaping
dari semua obat-obatan yang diberikan. Bila informasi ini tidak tersedia dalam buku referensi
standar seperti buku-teks atau formula rumah sakit, maka perawat harus berkonsultasi pada
ahli farmasi.
Saat komunikasi terjadi maka ahli farmasi memberikan informasi tentang obat-obatan
mana yang sesuai dan dapat dicampur atau yang dapat diberikan secara bersamaan.
Kesalahan pemberian dosis obat dapat dihindari bila baik perawat dan apoteker sama-sama
mengetahui dosis yang diberikan. Perawat dapat melakukan pengecekkan ulang dengan tim
medis bila terdapat keraguan dengan kesesuaian dosis obat. Selain itu, ahli farmasi dapat
menyampaikan pada perawat tentang obat yang dijual bebas yang bila dicampur dengan obat-
obatan yang diresepkan dapat berinteraksi merugikan, sehingga informasinini dapat
dimasukkan dalam rencana persiapan pulang. Seorang ahli farmasi adalah seorang
profesional yang mendapat izin untuk merumuskan dan mendistribusikan obat-obatan. Ahli
farmasi dapat bekerja hanya di ruang farmasi atau mungkin juga terlibat dalam konferensi
perawatan klien atau dalam pengembangan sistem pemberian obat.
12.9 Komunikasi antara Perawat dengan Ahli Gizi.
Kesehatan dan gizi merupakan faktor penting karena secara langsung berpengaruh
terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Pelayanan gizi di RS merupakan hak setiap
orang dan memerlukan pedoman agar tercapai pelayanan yang bermutu. Agar pemenuhan
gizi pasien dapat sesuai dengan yang diharapkan maka perawat harus mengkonsultasikan
kepada ahli gizi tentang-obatan yang digunakan pasien, jika perawat tidak
mengkonunikasikannya maka dapat terjadi pemilihan makanan oleh ahli gizi yang bisa saja
menghambat absorbsi dari obat tersebut. Jadi diperlukanlah komunikasi dua arah yang baik
antara kedua belah pihak.
12.10 Komunikasi terkait kasus pemicu
Fokus dalam segmen model komunikasi kesehatan dapat melukiskan hubungan
interpersonal dalam tim kesehatan. Northouse (1998) mengungkapkan ada 3 area
permasalahan yang dimiliki dalam hubungan interprofesional yaitu :
a. Stres Peranan (Role Stress)
b. Rendahnya pemahaman interpersonal (lack of interpersonal understanding)
c. Otonomi yang keras (autonomy struggle)
50
Bertemu dengan orang sakit setiap hari merupakan tugas yang tidak mudah. Pekerjaan
profesional kesehatan secara konstan menempatkan mereka dalam kontak dengan pasien
yang sedang bergelut dengan kondisi kritis dalam hidupnya dan mereka sedang mencoba
mengatasi emosi atau penyakit yang serius. Sumber masalah role stress yang dialami para
professional kesehatan berhubungan dengan penyelesaian peran professional itu sendiri. Jenis
role stress dibagi dua jenis yaitu role conflict dan role overload. Kasus role conflict dapat
ditunjukan salah satunya dengan reality shock.
Kramer (1974) dalam teorinya tentang Reality Shock menjelaskan bahwa stress dapat
disebabkan oleh adanya kesenjangan atau perbedaan antara lingkungan pendidikan dengan
pelayanan. Hal itu biasanya dialami oleh lulusan perawat baru. Perawat Yanti sebagai
perawat baru yang bekerja di sebuah Rumah Sakit merasakan bahwa pendidikan yang ia
tempuh selama ini ternyata belum cukup untuk mempersiapkan dirinya dalam lingkungan
kerja. Perawat Yanti akhirnya mengalami reality shock yang menyebabkan terhambatnya
komunikasi terapeutik antara perawat dan klien. Karena baru pertama masuk dunia kerja,
perawat Yanti juga merasakan kesulitan berkomunikasi dengan tim kesehatan lain, apalagi
untuk berbicara di depan suatu forum tim kesehatan. Hubungan interpersonal antara perawat
dan profesi lain pun harus terpelihara dengan baik. Hubungan tersebut dapat diwujudkan
dengan meningkatkan pemahaman interpersonal mengenai peran masing-masing individu
atau profesi.
Perawat harus paham benar tentang perannya sebagai perawat dan berusaha tidak
memasuki batas wilayah peran profesi lainnya sehingga tidak memicu konflik internal tim
kesehatan. Kolaborasi antara perawat Yanti dengan perawat atau tim kesehatan lain dapat
terwujud jika hubungan interpersonal perawat Yanti berjalan dengan baik. Area-area rentang
konflik seperti yang digambarkan di atas merupakan hal yang perlu diwaspadai, terutama
dalam menjalin kolaborasi antar anggota tim kesehatan atau interprofesional. Untuk
mempertahankan hubungan yang harmonis serta mengurangi beban stress di lingkungan
kerja, akhirnya para professional kesehatan membuat jadwal pertemuan rutin yang digunakan
sebagai sarana sharing atau berdiskusi tentang masalah-masalah yang ada di lingkungan
kerja. Pertemuan tersebut antara lain rapat rutin tim kesehatan dan case conference.
12.11 Rapat Tim Kesehatan
Rapat tim kesehatan adalah media komunikasi antara tim kesehatan (rapat multidisiplin)
untuk membahas manajerial ruang untuk membicarakan hal-hal yang terkait dengan
manajerial.Tujuan rapat tim keehatan yaitu menyamakan persepsi terhadap informasi yang
51
didapat dari masalah yang ditemukan (khususnya masalah manajerial), meningkatkan
kesinambungan pemberian pelayanan kesehatan, mengurangi kesalahan informasi, dan
meningkatkan koordinasi antara anggota tim kesehatan.
12.12 Case conference
Konferensi kasus meliputi pertemuan-pertemuan yang dijadwalkan secara rutin
(Regularly Scheduled Series or Conferences). Pertemuan tersebut dilaksanakan harian,
mingguan, atau bulanan untuk diskusi tentang masalah-masalah manajemen pasien spesifik
untuk meningkatkan perawatan pasien dalam sebuah institusi. Case conference adalah diskusi
kelompok tim kesehatan tentang kasus asuhan keperawatan klien atau keluarga. Setiap tim
kesehatan memiliki jadwal case conference masingmasing dan biasanya diadakan dua kali
tiap bulannya. Peserta case conference melibatkan tim kesehatan yang terkait seperti perawat,
dokter, atau anggota profesi lainnya jika diperlukan. Waktu pertemuan dua kali dalam
sebulan atau disesuaikan dengan kondisi atau tingkat urgensi kasus, dan lamnya pertemuan
tentatif.
Tujuan diadakannya case conference yaitu mengenal kasus dan permasalahannya,
mendiskusikan kasus untuk mencari alternatif penyelesaian masalah asuhan keperawatan,
meningkatkan koordinasi dalam rencana pemberian asuhan keperawatan, dan meningkatkan
pengetahuan dan wawasan dalam mengangani kasus.Case conference juga digunakan untuk
mengembalikan konflik dalam kolaborasi (Arnold & Boggs, 2007), yaitu dengan cara
mengutarakan inisiatif untuk mendiskusikan masalah, menggunakan keterampilan mendengar
aktif, menyediakan dokumentasi data yang relevan terhadap isu, mengajukan resolusi,
menciptakan iklim dimana para pertisipan memandang negosiasi sebagai sebuah usaha
kolaborasi, membuat ringkasan yang jelas terhadap hasil feedback, merekam semua
keputusan dalam sebuah catatan. Kegiatan case conference ini harus melalui tahap persiapan
sebelumnya. Perawat Dewi dapat memilih salah satu topik yang akan disampaikan dalam
case conference.
Topik tersebut meliputi kasus pasien baru, kasus pasien yang tidak ada perkembangan,
kasus pasien pulang, kasus pasien yang meninggal, dan kasus pasien dengan masalah yang
jarang ditemukan. Pemilihan topik dapat dilakukan dengan mengkaji terlebih dahulu data-
data pasien yang selama ini dipegang oleh perawat Yanti. Dengan data-data tersebut, perawat
Yanti dapat membuat suatu analisa permasalahan yang akan disampaikan saat case
conference.
52
Case conference sebagai salah satu kegiatan penting dalam proses kolaborasi antara tim
kesehatan. Kolaborasi merupakan proses kompleks yang membutuhkan sharing pengetahuan
yang direncanakan dan menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat pasien. Kolaborasi
dalam case conference ini meliputi suatu pertukaran pandangan atau ide yang memberikan
perspektif kepada seluruh kolaborator tentang suatu permasalahan dalam asuhan
keperawatan. Efektifitas hubungan kolaborasi profesional membutuhkan mutual respek baik
setuju atau ketidaksetujuan yang dicapai dalam interaksi tersebut. Partnership kolaborasi
merupakan usaha yang baik sebab dapat menghasilkan outcome yang lebih baik bagi pasien.
12.13 Menangani masalah-masalah staf perawat
Langkah-langkah dalam pemecahan masalah antar kelompok petugas kesehatan :
Mengatur pelaksanaan untuk komunikasi kolaboratif, melakukan pertemuan untuk
menyatukan perspektif kelompok, mengidentifikasi masalah utama, memiliki tujuan yang
jelas dan relevan, saling menghormati dan menghargai nilai-nilai dan martabat semua pihak,
anggota kelompok dapat bersikap tegas tapi tidak manipulatif, bersikap objektif,
mendiskusikan solusi dengan mengidentifikasi manfaat/kekurangan dari solusi, menghargai
alternatif solusi demi kepentingan klien, menghincari situasi konflik, menghindari emosi,
memutuskan untuk mengimplementasikan solusi terbaik, menentukan orang yang
bertanggung jawab untuk implementasi, membangun garis waktu dan metode
evaluasi.(Armold & Boogs, 2007).
12.14 Hambatan lain dalam berkomuniksi dengan Tim Kesehatan Lain
Dalam berkomuniksi dengan tim kesehatan lain terdapat hambatan yang meliputi:
menjadi emosional daripada berfokus pada masalah, menyalahkan orang lain, tertutup dan
tidak menghargai serta memahami perspektif orang lain. ( Arnold & Boggs, 2007).
53
DAFTAR PUSTAKA
Arnold,E.C,&Boggs.K.U.(2007).Interpersonal Relationship: Professional Communication
skills for Nurses.(5 th ed.). St Louis : Elseiver.
Kozier,Barbara.(2004).Fundamentals Of Nursing: concepts, process, and practice (7 th ed.).
New Jersey : Pearson
Kurniasih Y. KETERAMPILAN INTERPERSONAL : UPAYA MENCIPTAKAN
KOMUNIKASI EFEKTIF. JHeS (Journal of Health Studies). 2017;1(1):72-77.
Kurniati DPY. Modul Komunikasi Verbal dan Non Verbal. Denpasar : Universitas Udayana :
2016; p 7-21
Kramer, Marlene.(2008).Reality Shock : why nurses leave nursing. St Louis : MOSBY
Keliat B. Komunikasi Efektif dalam Bimbingan Klinik Keperawatan. Jurnal Keperawatan
Indonesia. 2014;1(3):85-92.
Kusnohadi K. MENERAPKAN KOMUNIKASI PERSUASIF DALAM PELATIHAN.
Jurnal Teknodik. 2015;:333-350.
Megatsari H, Laksono A, Ridlo I, Yoto M, Azizah A. PERSPEKTIF MASYARAKAT
TENTANG AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Buletin Penelitian Sistem
Kesehatan. 2019;21(4).
Nuryati E, Ardina R. Komunikasi Verbal Dalam Kepuasan Pelayanan Keperawatan. Jurnal
Ilmiah Kesehatan. 2014;3(5).
Paju W, Dwiantoro L. UPAYA MENINGKATKAN KOMUNIKASI EFEKTIF PERAWAT
- PASIEN. jurnal keperawatan. 2018;10(1):28-36.
Potter & Perry. (2009).Fundamental keperawatan (7 th ed.).(vols 2.). dr Adrina &marina,
penerjemah). Jakarta : Salemba Medika.
Rorong M. PENEMPATAN TEORI DALAM ILMU KOMUNIKASI. Commed : Jurnal
Komunikasi dan Media. 2019;4(1):90.
Stuart.G.W.,&Laraia.,M.T.(2005).Principles and Practice Of psychiatric nursing.(8 th ed.).St
Louis : MOSBY
S. B. Perbedaan Model dan Teori dalam Ilmu Komunikasi. Humaniora. 2014;5(2):1153.
WHO(1999).Manajemen Pelayanan Kesehatan Primer.(2 th ed). (dr.Popy Kumalasari,
Penerjemah).Jakarta : EGC
Suheri. Makna Interaksi Dalam Komunikasi (Teori Interaksi Simbolik dan Teori Konvergensi
Simbolik). AL-HIKMAH: Media Dakwah, Komunikasi, Sosial dan Budaya.
2018;9(2):52-63.
54