DWI SINDY ANGGRAENI
190210302024
E-MODUL
SIFAT PENDUDUKAN JEPANG
DAN RESPON BANGSA
INDONESIA
SEJARAH INDONESIA KELAS XI
SIFAT PENDUDUKAN JEPANG DAN RESPON
BANGSA INDONESIA
KOMPETENSI DASAR
3.5 Menganalisis sifat pendudukan Jepang dan respon bangsa Indonesia
INDIKATOR
3.5.1 Menganalisis kedatangan Jepang ke Indonesia
3.5.2 Menganalisis sifat pendudukan Jepang
3.5.3 Menganalisis respon bangsa Indonesia terhadap pendudukan Jepang
Masa pendudukan Jepang di Indonesia dimulai sejak tahun 1942 dan berakhir tahun 1945
yang ditandai dengan adanya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Masa pendudukan Jepang
selama Tiga setengah tahun merupakan suatu periode paling menentukan dalam sejarah perjuangan
Bangsa Indonesia. Dalam usahanya untuk membangun suatu imperium di Asia, Jepang
meletuskan perang di Pasifik. Perang Dunia II yang terjadi dikawasan Asia Pasifik ditandai
dengan serangan Jepang terhadap pangkalan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawai.
Perang dunia II yang terjadi di Kawasan Asia Pasifik ini berpengaruh besar herhadap gerakan
kemerdekaan negara-negara di Asia salah satunya adalah Indonesia. Kronologis kedatangan
Jepang ke Indonesia diawali dengan menduduki wilayah Tarakan, Kalimantan Timur dan mulai
menduduki beberapa wilayah di Indonesia. Tujuan Jepang datang ke Indonesia adalah untuk
menguasai sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia karena Indonesia sangat kaya akan
sumber daya alam yang dimilikinya. Untuk memperkuat kedudukannya Jepang melakukan
berbagai macam propaganda agar dapat menarik hati rakyat Indonesia salah satunya adalah
menjanjika sebuah kemerdekaan. Selain itu jepang juga membentuk beberapa organisasi baik
organisasi sosial kemasyarakan ataupun organisasi semimiliter dan militer dengan tujuan
membantu pihak Jepang dalam Perang Asia Timur Raya. Kedatangan pihak Jepang awal mulanya
dapat disambut dengan baik oleh rakyat Indonesia, akan tetapi seiring berjalannya waktu Jepang
mulai menunjukkan sifat aslinya yang tidak jauh berbeda dengan pendudukan Belanda
sebelumnya, maka dari itu rakyat dibeberapa daerah di Indonesia melakukan
perlawanan-perlawanan.
A. KEDATANGAN JEPANG KE INDONESIA
Pada bulan Oktober 1941, perdana menteri Jepang Konoe digantikan oleh Jenderal Hideki Tojo.
Awal mulanya pimpinan militer Jepang tidak menghendaki adanya penaklukan atau penyerangan ke
beberapa Negara sekaligus, namun sejak pertengahan tahun 1941 mereka melihat bahwa Inggris,
Amerika Serikat, dan Belanda harus dihadapi sekaligus, apabila mereka ingin menguasai sumber daya
alam yang ada di Asia Tenggara. Apalagi saat itu Amerika melancarkan embargo minyak bumi,
dimana Jepang sangat membutuhkan baik untuk industry maupun untuk keperluan perang. Panglima
Angkatan Laut Jepang yakni Admiral Isoroku Yamamoto mengembangkan strategi perang dengan
mengerahkan seluruh kekuatan armadanya untuk dua operasi besar. Kekuatan armada pertama
dikerahkan untuk melakukan penyerangan secara mendadak terhadap basis Armada Pasifik Amerika
Serikat di Pearl Harbour Hawaii yang akan dilaksanakan pada 7 Desember 1941. Sedangkan untuk
kekuatan armada kedua dengan sisa kekuatan Angkatan Laut yang dapa mendukung Ankatan Darat
dalam Operasi Selatan, yakni penyerangan terhadap Malaya dan Filipina, yang kemudian akan
dilanjutkan ke Jawa. Penyerangan terhadap Amerika Serikat membuahkan hasil dengan kemenangan
berada dipihak Jepang, dengan kekalahan ini Amerika sejak 8 Desember 1941 melalui Kongres
menyatakan perang terhadap Jepang. Perang Pasifik antara Jepang dan Amerika ini sangat
berpengaruh besar terhadap beberapa Negara di Asia Timur, termasuk Indonesia. Serangan terhadap
Indonesia muncul dari arah timur dan utara. Tujuan Jepang melakukan penyerangan terhadap
Hindia-Belanda adalah untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna
mendukung potensi perang Jepang serta mendukung Industrinya.
Pada Januari 1942, Jepang berhasil mamasuki wilayah Indonesia dengan menduduki Ambon dan
seluruh Maluku. Kemudian disusul dengan Tarakan di Kalimantan Timur dan Balikpapan.
Penyerangan ini sebelumnya telah berusaha dihalangi oleh pasukan KNIL (Koninklijk Nederlandsch
Indisch Leger) namun kekuatan Jepang tidak dapat di bendung. Jepang mulai melakukan penyerangan
terhadap pulau Jawa dan berusaha merebut pulau Jawa dari kekuasaan pemerintah Belanda.
pertempuran-pertempuran yang terjadi di Jawa berakhir dengan kemenangan pihak Jepang dalam
waktu yang relative singkat. Tentara Keenambelas Jepang pada 1 Maret 1942 berhasil mendarat
diteluk Banten (Jawa Barat) dan Kragan (Jawa Tengah). Kemudian Jepang menyerang pusat
kekuasaan Belanda di Batavia pada 5 Maret 1942, setelah berhasil menguasai Batavia tentara Jepang
langsung bergerak ke selatan dan berhasil menduduki Buitenzorg (Bogor). Pada tanggal 8 Maret
1942, Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachhouwer (Gubernur Jenderal Belanda), Letnan Jenderal
Ten Poorten, serta pejabat tinggi militer dan seorang penerjemah pergi ke Kalijati.
Gambar 1.
( Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati pada tanggal 8 Maret 1942)
Dari pihak Jepang diwakili oleh Letnan Jenderal Imamura. Dalam pertemuan ini, Belanda
menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Dengan demikian, secara resmi masa penjajahan Belanda di
Indonesia berakhir. Jepang berkuasa di Indonesia. Bukan kemerdekaan dan kesejahteraan yang
didapat bangsa Indonesia. Situasi penjajahan tidak berubah. Hanya kini yang menjajah Indonesia
adalah Jepang.
Kedatangan Jepang pada mulanya diterima dengan penuh semangat oleh rakyat Indonesia. Jepang
dielu-elukan sebagai “Sebagai Saudara Tua”yang dipandang dapat membebaskan dari kekuasaan
Belanda. di mana-mana terdengar ucapan “banzai-banzai” (selamat datang-selamat datang). Rakyat
percaya bahwa kedatangan Jepang untuk memerdekakan, Jepang juga melaksanakan propaganda-
propaganda untuk terus menggerakkan dukungan rakyat Indonesia. Jepang mengizinkan
dikibarkannya bendera nasional Indonesia Merah Putih dan dikumandangkannya lagu kebangsaan
Indonesia Raya. Alasan penting kedatangan Jepang dapat diterima oleh mayoritas pelajar Indonesia
adalah Karena Jepang dapat lebih meningkatkan status sosial ekonomi orang Indonesia,hanya
kelayakan saja, tanpa kekerasan. Setelah enam bulan sejak kedatangan Jepang ke Indonesia, Jepang
memenjarakan semua penduduk Belanda, sebagian besar orang Indonesi, dan sejumlah orang Kristen
Indonesia yang dicuragaipro- Belanda kedalam kamp-kamp konsentrasi. Jumlah personil pemerintah
militer Jepang hanya sedikit, oleh karena itu mereka terpaksa mengambil orang-orang Indonesia untuk
mengisi lowongan hampir semua jabatan tingkat menengah, atasan bidang administrasi dan teknisi
yang dulunya di duduki orang Belanda atau Indonesia. Jadi, hampir seluruh personil Indonesia dalam
bidang pemerintahan mendapat kenaikan pangkat satu. Dari situlah Jepang mula-mula memenangkan
dukungan rakyat terbuka oleh penduduk, orang Jepang tampaknya tidak mendapat tantangan nyata
apapun sebelumnya dari para pemimpin nasionalis mereka dapat dengan mudah mengambil
sumber-sumber kekayaan Indonesia demi tujuan kepentingan perang mereka, tanpa harus mengadakan
persetujuan dengan kaum nasionalisIndonesia.
B. PEMERINTAHAN MILITER JEPANG DI
INDONESIA
Setelah Jepang berhasil menguasai Indonesia maka kekuasaan dipegang oleh Angkatan Darat
(Rikugun) dan Angkatan Laut (Kigun). Oleh pemerintahan Jepang wilayah Indonesia dibagi menjadi
tiga pusat pertahanan yaitu:
1. Wilayah I pemerintahan militer Angkatan Darat (Tentara ke-XVI). Wilayahnya meliputi daerah Jawa
dan Madura dengan pusatnya di Jakarta (Batavia).
2. Wilayah II pemerintahan militer Angkatan Darat (Tentara ke XXV). Wilayahnya meliputi Pulau
Sumatra dan pulau-pulau di sekitarnya dengan pusatnya di Bukittinggi.
3. Wilayah III pemerintahan militer Angkatan Laut (Armada Selatan ke-II). Wilayahnya meliputi
Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara dengan pusatnya di Makassar.
Menurut Osamu Serei (Undang-undang yang dikeluarkan oleh tentara ke XVI) No. 1 pada tanggal
7 Maret 1942. Menyebutkan bahwa pemerintahan pendudukan militer Jepang di Indonesia adalah
pemerintahan sementara. Undang-undang ini kemudian menjadi pokok dari peraturan tata Negara
pada masa pendudukan Jepang. Osamu Serei ini antara lain berisi hal-hal berikut; pertama pembesar
bala tentara Jepang memegang kekuasaan militer. Kedua segala kekuasaan yang dahulu dipegang oleh
gubernur jenderalzaman Belanda diambil alih oleh Panglima Tentara Ke-XVI. Dari Undang-undang
ini dapat diketahui bahwa jabatan gubernur jenderal pada masa Hindia Belanda dihapuskan dan
segala kekuasaanya dipegang oleh panglima tentara Jepang di Jawa. Tindakan tersebut bertujuan agar
pemerintahan dapat terus berjalan dan kekacauan dapat dicegah.
Adapun susunan pemerintahan militer Jepang tersebut sebagai berikut:
1. Gunshirekan (panglima tentara) yang kemudian disebut dengan Seiko Shikikan (panglima
tertinggi) sebagai pucuk pimpinan. Panglima tentara yang pertamadijabat oleh Jenderal Hitoshi
Imamura.
2. Gunseikan (kepala pemerintahan militer) yang dirangkap oleh kepala staf. Kepala staf yang
pertama adalah Mayor Jenderal Seizaburo Okasaki. Kantor pusat pemerintahan militer ini disebut
Gunseikanbu. Di lingkungan Gunseikanbu ini terdapat empat bu (semacam departemen) dan
ditambah satu bu lagi, sehingga menjadi lima bu. Adapun kelima bu itu adalah sebagai berikut.
1) Somobu (Departemen Dalam Negeri).
2) Zaimubu (Departemen Keuangan).
3) Sangvobu (Departemen Perusahaan, Industri dan Kerajinan Tangan)
4) Kotsubu (Departemen Lalu Lintas).
5) Shihobu (Departemen Kehakiman).
3. Gunseibu (koordinator pemerintahan dengan tugas memulihkan ketertiban dan keamanan atau
semacam gubernur) yang meliputi:. Jawa Barat pusatnya di Bandung, Jawa Tengah pusatnya
di Semarang, dan Jawa Timur pusatnya di Surabaya. Ditambah dua daerah istimewa (Kochi)
yakni Yogyakarta dan Surakarta. Di dalam pemerintahan itu, Jepang juga membentuk kesatuan
Kempetai (Polisi Militer). Di samping susunan pemerintahan tersebut, juga ditetapkan lagu
kebangsaan yang boleh diperdengarkan hanyalah Kimigayo. Padahal sebelum tentara Jepang
datang di Indonesia, Lagu Indonesia Raya sering diperdengarkan di radio Tokyo.
C. ORGANISASI-ORGANISASI PEMBENTUKAN
JEPANG
Banyak organisasi pergerakan yang dibentuk pada zaman Jepang. Sama seperti organisasi-
organisasi pergerakan pada umumnya, yaitu organisasi yang bersifat semimiliter dan militer selain itu
juga ada organisasi yang bersifat sosial kemasyarakatan.
ORGANISASI SOSIAL KEMASYARAKATAN
1. GERAKAN TIGA A
Gerakan Tiga A ini didirikan pada tanggal 29 April 1942, nama Gerakan Tiga A dapat
dijabarkan dari semboyannya yakni: Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon
Pemimpin Asia. Ketua dari Gerakan Tiga ini adalah Syamsudin. Tujuan dibentuknya Gerakan Tiga
adalah untuk menarik simpati dan mendapat dukungan dari rakyat agar membantu Jepang dalam
Perang Asia Timur Raya. Secara bertahap organisasi pembentukan Jepang ini pada bulan Mei 1942
mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui media massa. Selain itu untuk mendukung gerakan
ini Jepang juga membentuk barisan pemuda yang dikenal dengan sebutan “Pemuda Asia Raya”
dibawah pimpinan Sukardjo Wirjopranoyo dan menerbitkan surat kabar “Asia Raya”. Gerakan Tiga
tidak dapat bertahan lama hanya berumur beberapa bulan saja, dikarenakan gerakan ini tidak
mendapat dukungan dari rakyat. Akhirnya pemerintahan Jepang menyadari bahwa gerakan ini tidak
dapat membantu
2. PUSAT TENAGA RAKYAT
Pusat Tenaga Rakyat atau lebih dikenal dengan sebutan PUTERA ini didirikan pada tanggal 1
Maret 1943 dimana pemimpin-pemimpinnya merupakan tokoh nasionalis seperti Ir. Soekarno, Drs.
Moh Hatta, K.H Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara mereka ini dikenal dengan sebutan empat
serangkai. Tujuan didirikannya PUTERA menurut Ir. Soekarno adalah untuk membangun dan
menghidupkan segalaapa yang dirobohkan oleh imperialisme Belanda. sementara bagi Jepang
PUTERA ini bertujuan untuk memusatkan segala potensi masyarakat Indonesia dalam membantu
usaha kepentingan militer Jepang. Empat serangkai dalam mejalankan tugasnya sering berhubungan
langsung dengan rakyat dan berpidato, dari sinilah mereka berhasil menanamkan nasionalismenya
berupa semangat cinta tanah air dan bangsa kepada rakyat Indonesia. Jepang menyadari bahwa
PUTERA lebih bermanfaat bagi pihak Indonesia daripada Jepang. Maka pada tahun 1944 organisasi
ini dibubarkan dan diganti dengan Jawa Hokokai.
3. JAWA HOKOKAI
Pada tanggal 1 Januari 1944 dibentuklah Jawa Hokokai yang didorong oleh kurangnya manfaat
PUTERA bagi kepentingan Jepang. Jawa Hokokai secara tegas dinyatakan sebagai organisasi resmi
pemerintahan Jepang. Pimpinan Langsung dipegang oleh Gunseikan. Kegiatan Jawa Hokokai
meliputi usaha- usaha berikut:
a. Melaksanakan segala sesuatu dengan nyata dan ikhlas untuk menyumbangkan tenaga kepada
Jepang.
b. Memimpin rakyat untuk menyumbang segenap tenaga berdasarkan semangat persaudaraan
antarbangsa.
c. Memperkukuh pembelaan tanah air
d. Memperteguh kehidupan masa perang.
Untuk menjadi anggota Jawa Hokokai minimal harus berusia 14 tahun, bangsa Indonesia atau
Jepang, Pegawai negeri, dan anggota organisasi kelompok profesi. Sementara bagi orang Cina dan
Eropa jika ingin menjadi anggota Jawa Hokokai harus dipilih dan diseleksi terlebih dahulu.
4. MAJELIS ISLAM A’LA INDONESIA (MIAI)
MIAI didirikan pada tahun 1937 oleh K.H Mas Mansyur. MIAI merupakan satu-satunya
organisasi pergerakan yang tetap berdiri pada masa pendudukan Jepang. Jepang memandang MIAI
sebagai organisasi anti barat dan dapat diajak kerja sama untuk melawan bangsa Barat. Namun,
kegiatan MIAI dibatasi pada pengumpulan baitul mal dan penyelenggaraan peringatan hari besar.
Sebagai satu-satunya organisasi golongan islam, MIAI mendapat simpati yang luar biasa dari
kalangan umat islam. Hal ini menyebabkan pertumbuhan MIAI semakin maju. Pihak Jepang mulai
waspada terhadap pertumbuhan MIAI yang sangat pesat. Sehingga pada bulan Oktober 1943,
organisasi ini dibubarkan karena dianggap kurang bermanfaat bagi pihak Jepang.
ORGANISASI SEMI MILITER
1. SEINENDAN
Seinendan dibentuk pada tanggal 29 April 1943, organisasi ini berada langsung dibawah
pimpinan Gunseikan. Tujuan didirakannya Seinendan adalah melatih dan mendidik para pemuda
dalam mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri. Pembentukan Seinendan sendiri
untuk pemerintahan Jepang bertujuan untuk memperoleh tenaga cadangan untuk memperkuat usaha
mencapai kemenangan pihak jepang dalam menghadapi sekutu.
2. KEIBODAN
Sama dengan Seinendan, Keibodan juga dibentuk tanggal 29 April 1943. Keibodan adalah
pembantu polisi dengan tugas-tugas kepolisian seperti penjagaan lalulintas, pengamanan desa, dan
lain-lain. Jepang berusaha agar dalam pembentukan Keibodan tidak dipengaruhi oleh golongan
nasionalis, maka dari itu Keibodan dibentuk di desa-desa agar tidak mendapat pengaruh dari kaum
nasionalis.
3. BARISAN PELOPOR
Barisan Pelopor dibentuk pada tanggal 1 November 1944 berdasrkan siding ketiga Chuo
Sangi In pada pertengahan tahun 1944. Barisan pelopor ini dipimpin oleh Ir. Soekarno dengan
wakilnya R.P. Suroso, Oto Iskandardinata, dan Dr. Buntaran M. Sebagai organisasi semimiliter,
Barisan Pelopor melatih para pemuda dengan latihan-latihan militer meskipun hanya
menggunakan alat-alat dari kayu atau bambu runcing.
4. HIZBULLAH
Pada tanggal 7 September 1944, Kaiso mengeluarkan janji tentang kemerdekaan untuk
Indonesia. Sementara keadaan di medan perang, Jepang mengalami berbagai kekalahan. Jepang
mulai merasakan berbagai kesulitan. Keadaan tersebut memicu Jepang untuk menambah kekuatan
yang telah ada. Jepang merencanakan untuk membentuk pasukan cadangan khusus dan
pemuda-pemuda Islam sebanyak 40.000 orang. Rencana Jepang untuk membentuk pasukan khusus
Islam tersebut, cepat tersebar di tengah masyarakat. Rencana ini segera mendapat sambutan positif
dari tokoh-tokoh Masyumi, sekalipun motivasinya berbeda. Begitu pula para pemuda Islam
lainnya,mereka menyambut dengan penuh antusias. Bagi Jepang, pasukan khusus Islam itu
digunakan untuk membantu memenangkan perang, tetapi bagi Masyumi pasukan itu digunakan
untuk persiapan menuju cita-cita kemerdekaan Indonesia.. Berkaitan dengan hal itu maka para
pemimpin Masyumi mengusulkan kepada Jepang untuk membentuk pasukan sukarelawan yang
khusus terdiri atas pemuda-pemuda Islam. Oleh karena itu, pada tanggal 15 Desember 1944 berdiri
pasukan sukarelawan pemuda Islam yang dinamakan Hizbullah (Tentara Allah) yang dalam istilah
Jepangnya disebut Kaikyo Seinen Teishinti.
ORGANISASI MILITER
1. HEIHO
Heiho dibentuk pada bulan April 1943 sering disebut sebagai organisasi prajurit pembantu
Jepang. Pasukan ini dibentuk berdasrkan Instruksi bagian Angkatan Darat Markas Besar
Umum Kekaisaran Jepang pada tanggal 2 September 1942 dan mulai merekrutanggota pada
tanggal 22 April 1943. Pada awalnya pembentukan Heiho ini bertujuan untuk membantu
pekerjaan kasar militer seperti membangun kubu dan parit pertahanan, menjaga tahanan, dan
lain-lain. Namun, dalam perkembangannya ketika perang semakin menghebat pasukan Heiho
dipersenjatai dan dilatih mengoprasikan meriam-meriam pertahanan udara dan ikut bertempur
ke front di Pulau Salomon.
2. PETA
Pembela Tanah Air (PETA) didirakan pada tanggal 3 Oktober 1943, PETA sendiri adalah
kesatuan militer yang dibentuk oleh Jepang dalam masa pendudukan Jepang. Tentara PETA
mempunyai lima jenjang kepangkatan yang berbeda yaitu daidanco (komandan batalyon), cudanco
(komandan kompi), shodanco (komandan pleton), budanco (komandan regu), dan giyuhei (prajurit
sukarela). Bagi bangsa Indonesia, PETA merupakan tempat latihan yang luas untuk menghasilkan
tenaga-tenaga militer yang mampu membela tanah air Indonesia dari penjajahan bangsa Barat.
D. PERLAWANAN RAKYAT TERHADAP
PENDUDUKAN JEPANG
Di balik senyum manis dan propaganda yang menjanjikan, ternyata Jepang bertindak kejam.
Jepang telah mengerahkan semua potensi dan kekuatan yang ada untuk menopang perang
yang sedang mereka hadapi untuk melawan Sekutu. Jepang juga menguras aset kekayaan yang
dimiliki Indonesia untuk memenangkan perang dan melanju tkan industri di negerinya. Jepang
yang mula-mula disambut dengan senang hati, kemudian berubah menjadi kebencian. Rakyat
bahkan lebih benci pada pemerintah Jepang daripada pemerintah Kolonial Belanda. Jepang se
ringkali bertindak sewenangwenang. Rakyat tidak bersalah ditangkap, ditahan, dan disiksa.
Kekejaman itu dilakukan oleh kempetai (polisi militer Jepang). Pada masa pendudukan Jepang
banyak gadis dan perempuan Indonesia yang ditipu oleh Jepang dengan dalih untuk bekerja
sebagai perawat atau disekolahkan, ternyata hanya dipaksa untuk melayani para kempetai. Para
gadis dan perempuan itu disekap dalam kamp-kamp yang tertutup sebagai wanita penghibur.
Kamp-kamp itu dapat kita temukan di Solo, Semarang, Jakarta, dan Sumatra Barat. Kondisi itu
mena mbah deretan penderitaan rakyat di bawah kendali penjajah Jepang. Oleh karena itu, wajar
kalau kemudian timbul berbagai perlawanan.
Berikut beberapa perlawanan yang terjadi dibeberapa daerah:
1. Aceh angkat senjata,
Salah satu perlawanan terhadap Jepang di Aceh adalah perlawananan rakyat yang terjadi di Cot
Plieng yang dipimpin oleh Abdul Jalil.
2. Perlawanan di Singaparna.
Singaparna merupakan salah satu daerah di wilayah Jawa Barat, yang rakyatnya dikenal sangat
religius dan memiliki jiwa patriotik. Rakyat Singaparna sangat anti terhadap dominasi asing. Oleh
karena itu, rakyat Singaparna sangat benci terhadap pendudukan Jepang, apalagi ketika mengetahui
perilaku pemerintahan Jepang yang sangat kejam.
3. Perlawanan di Indramayu
Perlawanan terhadap kekejaman Jepang juga terjadi di daerah Indramayu. Latar belakang dan
sebab-sebab perlawanan itu tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Singaparna. Para petani
dan rakyat Indramayu pada umumnya hidup sangat sengsara. Jepang telah bertindak semena-mena
terhadap para petani Indramayu. Mereka harus menyerahkan sebagian besar hasil padinya kepada
Jepang.
4. Rakyat Kalimantan Angkat Senjata.
Salah satu perlawanan di Kalimantan adalah perlawanan yang dipimpin oleh Pang Suma, seorang
pemimpin Suku Dayak. Pang Suma dan pengikutnya melancarkan perlawanan terhadap Jepang
dengan taktik perang gerilya.
5. Perlawanan Rakyat Irian.
Gerakan perlawanan yang terkenal di Papua adalah “Gerakan Koreri” yang berpusat di Biak
dengan pemimpinnya bernama L. Rumkorem. Biak merupakan pusat pergolakan untuk melawan
pendudukan Jepang. Rakyat Irian memiliki semangat juang pantang menyerah, sekalipun Jepang
sangat kuat, sedangkan rakyat hanya menggunakan senjata seadanya untuk melawan
6. Peta di Blitar Angkat Senjata.
Sebagai komandan Peta, Supriyadi cukup memahami bagaimana penderitaan rakyat akibat
penindasan yang dilakukan Jepang. Masalah pengumpulan hasil padi, pengerahan romusa, semua
dilakukan secara paksa dengan tanpa memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, sungguh kekejaman
yang luar biasa. Hal semacam ini juga dirasakan Supriyadi dan kawan-kawannya di lingkungan Peta.
Mereka kerap menyaksikan sikap congkak dan sombong dari para syidokan yang melatih mereka.
Dalam perlawanan Peta tersebut, direncanakan akan melibatkan rakyat dan beberapa kesatuan lain
Evaluasi
1. Sebelum Jepang menduduki Indonesia, Belandalah yang menduduki wilayah Indonesia. Dimana
pendudukan Belanda ini hanya membawa kesengsaraan bagi bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia pun
tidak lagi mempercayai Belanda atau bahkan orang-orang luar yang datang ke Indonesia. Akan tetapi
saat awal menduduki Indonesia Jepang mendapat sambutan baik oleh rakyat Indonesia. Bagaimana
usaha Jepang untuk menarik simpati rakyat Indonesia tersebut?
2. Sejak Jepang atau negeri Sakura atau negeri Matahari Terbit berkembang menjadi negara industri dan
tampil sebagai imperialis, Jepang mulai membutuhkan daerah-daerah baru. Salah satu daerah baru yang
dimaksud adalah Indonesia. Jelaskan apa yang melatar belakangi datangnya Jepang ke Indonesia?
3. Seinendan, Keibodan, Barisan Pelopor dan Hizbullah adalah beberapa contoh organisasi semi militer
yang dibentuk langsung oleh pemerintah militer Jepang. Jelaskan tujuan tersembunyi dibalik
pembentuknya organisasi semi militer pada masa pendudukan Jepang!
4. Pada pertengahan tahun 1942 timbul pemikiran dari Markas Besar Tentara Jepang agar penduduk di
daerah pendudukan dilibatkan dalam aktivitas pertahanan dan kemiliteran (termasuk semimiliter). Oleh
karena itu, pemerintah Jepang di Indonesia kemudian membentuk pemerintahan militer. Mengapa
Jepang begitu semangat untuk membentuk organisasi-organisasi militer dan semimiliter di Indonesia?
5. Pulau Jawa yang merupakan pusat pemerintahan yang sangat penting waktu itu masih diberlakukan
pemerintahan sementara. Hal ini berdasarkan Osamu Seirei (Undang-Undang yang dikeluarkan oleh
Panglima Tentara Ke-16). Di dalam undang-undang itu antara lain berisi beberapa ketentuan. Jelaskan
isi dari Undang-Undang Osamu Seirei!
6. Jepang yang mula-mula disambut dengan senang hati, kemudian berubah menjadi kebencian. Rakyat
bahkan lebih benci pada pemerintah Jepang daripada pemerintah Kolonial Belanda. Jepang seringkali
bertindak sewenang-wenang. Rakyat tidak bersalah ditangkap, ditahan, dan disiksa. Kekejaman itu
dilakukan oleh kempetai (polisi militer Jepang). Oleh karena itu wajar bila nantinya terjadi berbagai
macam perlawanan diberbagai wilayah di Indonesia. Sebutkan dan jelaskan beberapa perlawanan rakyat
terhadap pendudukan Jepang!
7. Sesuai dengan sifat pemerintahan militer, Jepang berusaha mengerahkan rakyat Indonesia, terutama
para pemuda melalui berbagai macam organisasi yang bersifat semimiliter dan militer salah satunya
adalah organisasi Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Jelaskan tugas organisasi Putera!
8. Setelah Jepang berhasil menguasai Indonesia maka kekuasaan dipegang oleh Angkatan Darat
(Rikugun) dan Angkatan Laut (Kigun). Oleh pemerintahan Jepang wilayah Indonesia dibagi menjadi
tiga pusat pertahanan yaitu? Sebutkan dan jelaskan!
9. Kalijati merupakan tempat yang menjadi saksi sejarah antara Panglima Militer Ter Poorten dan
Gubernur Jenderal Tjardo van Starkenborgh Stachouwer (Belanda) yang menyerah tanpa syarat kepada
Jenderal Histoshi Immamura (Jepang) pada tanggal 8 Maret 1942. Jelaskan apa yang melatar belakangi
penyerahan tanpa syarat militer Belanda!
10. Dalam bidang politik, Jepang melakukan kebijakan dengan melarang penggunaan bahasa Belanda
dan mewajibkan penggunaan bahasa Jepang. Struktur pemerintahan dibuat sesuai dengan keinginan
Jepang, Sebutkan dan jelaskan struktur pemerintahan bentukan Jepang!
Sumber Referensi
Armelia. F. 2009. Pendudukan Jepang di Indonesia. Semarang : Alprin Pratama.
Aris. 2018. Masa Pendudukan Jepang. Pontianak : Derwati Press
Pendidikan Sejarah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jember
2020