KELOMPOK 1
X-6
SHORT STORYS, COMICS, AND POETRYS
Ordinary
Life
"Don't take life too seriously, You'll never get
out of it alive" someone.
A Story by Maytensix One
the story of
Nayanika
Perempuan yang selalu membuatku takjub pada hal yang
dilakukannya, ia bernama Nayanika. Seorang gadis biasa
pada umumnya, tetapi ia mempunyai hal hal yang bisa
dinilai darinya tidak hanya dari tatapan mata.
“Aku mencintaimu”, ucap seorang lelaki berambut ikal.
Di atas motor, Nayanika tak bisa sembunyikan perasaan
bahagianya. Pipinya merah merona, senyumnya sudah
tak bisa dibendung. Mungkin jika ada meteran
kebahagiaan, dia adalah orang paling bahagia di dunia.
Bagaimana tidak, seseorang yang didamba-dambakan
selama ini memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Al, Rian nembak aku”, pesan singkat dari Nayanika.
Cukup 3 kata untuk menghancurkan hati seorang
pemuda yang terjebak dalam zona pertemanan. Hatinya
seakan tenggelam di dasar lautan yang paling dalam.
Pikirannya tak karuan, tapi ia mencoba untuk tetap
bersikap baik baik saja.
“Wahh, selamat yaa”, balasnya singkat.
Setelah pesan singkat itu Altha mengeluarkan motor
tuanya. Ia pergi mengelilingi kota bandung di malam
hari. Yang ada dalam pikirannya hanya mengapa tidak
aku nyatakan saja perasaanku.
Diatas jembatan pasopati ia berdialog dengan dirinya
sendiri. Nayanika dan aku hanya seorang teman, tidak
lebih. Tapi aku selalu berpikir bahwa kita berdua bisa
lebih dari sekedar teman. Aku yang selalu
mendambakannya akan tetapi dia mendambakan yang
lain.
Aku selalu percaya bahwa sebelum jamur kuning
melengkung masih ada kesempatan untuk aku dan kau
menjadi kita. Tapi aku tak munafik hatiku hancur, meski
begitu aku akan tetap menjadi orang yang ada di
sebelahmu saat kau butuhkan. Aku berjanji akan hal itu.
Disimpannya motor tua, berjalan menuju tempat
tidurnya. Ia tidur dengan penuh mimpi buruk, sampai ia
menangis karena mimpi.
Rabu demi rabu berganti, luka mulai memulih. Kini hari
harinya dipenuhi oleh cerita cinta orang yang aku kasihi
dengan orang lain. altha mulai menerima segala sesuatu
yang berkaitan dengan nayanika.
Tiga bulan berlalu....
Dering telepon Altha berbunyi di Sabtu malam. Ia yang
setengah sadar menjawab panggilan itu tanpa sadar siapa
orangnya.
“All, Rian Alll”, ucap Nayanika sembari tangis menyertai.
“Hah? Rian kenapa?”, jawab Altha dengan bingung.
“Rian selingkuh All, aku liat pake mata kepala sendiri. Dia
jalan sama orang lain gandengan tangan”
Mendengar hal itu ia tak tahu apa yang ia rasakan. Entah
senang karena pada akhirnya dia menerima karma, atau
sedih karena orang yang ia cintai terluka.
“Sekarang kamu dimana?” tanyaku.
“Aku di Jalan Buah Batu, di depan kedai Pak Joko”
jawabnya.
“Tunggu, aku kesana sekarang”
Di tancapnya gas motor yang sudah tidak kuat mengebut
lagi. Sesampainya disana, dengan secara mengejutkan
Nayanika langsung memeluk Altha dengan erat.
“Aku mau pulang All”, sembari memeluk erat.
“Hmm, aku antar sekarang”, dengan nada yang
menenangkan.
Jalanan kala itu dipenuhi kendaraan yang berlalu lalang,
macet yang mulai selalu menghiasi kota Bandung tak
terhindarkan. Di tengah riuh kendaraan, Nayanika hanya
bisa memeluk Altha dengan erat.
Di atas motor tua itu, dua anak manusia saling terikat. Di
perempatan Buah Batu saat lampu lalu lintas
menunjukkan mereka harus berhenti. Sembari mengusap
lutut Nayanika.
“Aku ga akan pernah ninggalin kamu, Nay. Apapun yang
terjadi.” ucap seorang pemuda dengan motor tuanya.
Nayanika terdiam, tanpa suara ia memeluk Altha lebih
erat lagi. Malam itu adalah malam yang gelap gulita.
Altha dan Nayanika saling berbagi kesedihan.
Di tancapnya gas motor yang sudah tidak kuat mengebut
lagi. Sesampainya disana, dengan secara mengejutkan
Nayanika langsung memeluk Altha dengan erat.
“Aku mau pulang All”, sembari memeluk erat.
“Hmm, aku antar sekarang”, dengan nada yang
menenangkan.
Jalanan kala itu dipenuhi kendaraan yang berlalu lalang,
macet yang mulai selalu menghiasi kota Bandung tak
terhindarkan. Di tengah riuh kendaraan, Nayanika hanya
bisa memeluk Altha dengan erat.
Di atas motor tua itu, dua anak manusia saling terikat. Di
perempatan Buah Batu saat lampu lalu lintas
menunjukkan mereka harus berhenti. Sembari mengusap
lutut Nayanika.
“Aku ga akan pernah ninggalin kamu, Nay. Apapun yang
terjadi.” ucap seorang pemuda dengan motor tuanya.
Nayanika terdiam, tanpa suara ia memeluk Altha lebih
erat lagi. Malam itu adalah malam yang gelap gulita.
Altha dan Nayanika saling berbagi kesedihan.
Ingin rasanya ku mengutuknya
Tapi apalah dayaku
Aku yang bahkan tak bisa
Melihatnya bersedih
Dari dalam hatiku yang terdalam
Sungguh aku mencintaimu
Aku akan dan selalu ada disampingmu
Hapus air matamu, dunia tidak ingin kau bersedih
Sudahlah yang tidak tulus jangan dibawa serius
Yang sekedar membual jangan dimasukan ke hati
Kau bukan mainan, kau juga bukan untuk dicoba
Aku akan dan selalu menjadi tempatmu pulang
Ketahuilah nayanika
Aku akan mendampingimu dalam terang dan gelap
Akan menjagamu dari ganasnya sang buas
Aku mencintaimu tanpa karena
Menyayangimu tanpa batas waktu
Enam bulan berlalu....
Perasaan yang sudah membaik, membuat Nayanika
kembali menjalani rutinitasnya kembali. Altha yang
masih terjebak dengan perasaan yang sama mulai ingin
mengungkapkan segalanya pada Nayanika. Ia pun
mengajak Nayanika untuk pergi mengelilingi kota.
“Nay, aku ingin mengajakmu pergi mengelilingi kota“,
kata Altha yang tak seperti biasanya.
“Tumben banget, pakai bahasa baku“, balas Nayanika.
“Tak ada salahnya kan menggunakan Bahasa Indonesia
yang baik dan benar? Jadi, bagaimana? Mau tidak?“,
tanya Altha.
“Hmm, boleh deh” jawab Nayanika.
“Oke nanti aku jemput ya”
“Please, Al. Aneh banget dengernya hahaha..”, jawab
Nayanika sambil tertawa.
Berangkatlah dua anak manusia menyusuri jalanan kota.
Dibawah langit kota bandung yang mulai menguning.
Sembari menyanyikan lagu payung teduh, mereka masuk
ke zona dimana dunia ini hanya milik mereka.
Dibawanya Nayanika ke sebuah taman di daerah
Kecamatan Batununggal. Mereka berjalan bersebelahan
tanpa sepatah kata, tapi siapapun yang melihat mereka
bahkan burung-burung sekalipun pasti tahu, bahwa
mereka sedang berbahagia.
Duduklah mereka dibangku taman. Hanya ada sepasang
anak manusia dan suara kicauan burung yang merdu.
Hari itu sangat menyenangkan, membahagiakan, dan
juga menenangkan.
“Lihatlah burung burung itu, bebas terbang kemanapun
yang mereka inginkan. Aku ingin seperti itu, terlebih lagi
bila terbang bersama orang yang kita sayang”, celetukan
Altha ditengah keheningan.
“Ada ada saja, kalau aku sih ingin menjadi seperti pohon
besar di sebelah sana. Dahannya mampu membuat orang
meneduh dibawahnya saat terik. Bisa berguna bagi
sekitarnya” jawab nayanika.
“Nayanika, apa kau masih percaya dengan cinta?” tanya
Altha.
“Sampai saat ini aku masih percaya itu, setelah kejadian
Rian aku sadar bahwa cinta bukan tentang si apa yang
kita mau, tapi siapa yang selalu ada disampingku dalam
senang dan susah “ jawab Nayanika.
“Kalau begitu, bolehkah aku menjadi orang yang
mencintaimu? “ tanya Altha.
“Tentu saja. Jika sebaliknya, apa aku juga boleh
mencintaimu?", pertanyaan itu membuat Altha terkejut
sampai tersenyum lebar.
“Yaaa, tentu. Boleh boleh” jawab Altha sembari salah
tingkah.
Kisah dua anak manusia yang begitu indah. Menjadi
sepasang kekasih bukan hanya sekedar dengan orang
yang kita mau, tetapi dengan yang selalu ada dan selalu
ikhlas untuk menjalaninya.
Nayanika
Kau lebih dari sekedar indah
Aku bersyukur bisa dapat bersamamu
Kau dan aku akhirnya menjadi kita
Perjalanan yang membawa kita
Pada titik yang tidak mudah dilalui
Rasa sakit dan penderitaan
Yang tak pernah luput dari kita berdua
Hal hal indah tak terlupa
Aku bahagia menjalaninya denganmu
Aku akan menjagamu dengan tabah
Mendampingimu dengan sabar
Menyayagimu dengan tulus
Mencintaimu tanpa karena
"Bun, bunda, kaos kaki aku dimana bun yang panjang"
ucap sang gadis sambil sedikit berteriak.
"Mana bunda tau, seharusnya kamu persiapkan itu sejak
malam Vanaora"
Mendengar nama sakral itu di panggil karena sang bunda
biasanya memanggil namanya dengan sebutan vana saja,
sang gadis yang sedang mencari kaos kaki itu pun
langsung tak bergeming dan lebih memilih mencari kaos
kaki itu sendiri.
Merasa prustasi karena hampir setengah jam vana
mencari kaos kakinya itu akhirnya vana memiliki sebuah
ide yaitu memasuki kamar sang kakak. Menyelinap
masuk ke dalam kamar kakak yang bentuknya seperti
kapal pecah. Mendengar adanya tanda-tanda kehidupan
di dalam kamar mandi vana tersenyum senang, karena
berarti ia bisa mencuri kaos kaki sang kakak dengan
tenang, ah maksudnya tidak mencuri tapi meminjam
hihi.
Ia langsung membuka laci sang kaka dan langsung
tersenyum bangga melihat apa yang ia cari akhirnya
ditemukan.
"Kak aku pinjem kaos kakinya ya" ucapnya sangat pelan
hingga hampir tak terdengar.
Setelah berhasil mengambil kaos kaki sang kakak vana
langsung keluar kamar kemudian mengambil sarapan
yang telah disediakan oleh bunda dan langsung ke depan
rumah untuk menyusul ayah yang sudah siap
mengantarkannya untuk segera berangkat ke sekolah.
Baru beberapa langkah keluar pintu rumah sudah
terdengar teriakan menggelegar dari sang kakak. "Woii
vana lu nyolong kaos kaki gua lagi kan!!"
"Minjem elah kak pelit amat lu mah" ucap vana tah kalah
kencangnya.
"Gua gada lagi vanaaa, diem lo disitu" ucap sang kakak
nya kembali.
Mendengar ucapan kakaknya vana langsung
mempercepat langkahnya untuk menyusul sang ayah.
Yah begitulah pagi yang sangat ceria yang hampir tiap
hari dialami keluarga vana, namun vana sangat
bersyukur memiliki keluarga yang utuh dan sangat bisa
diandalkan.
Ahh iya aku hampir lupa untuk memperkenalkan diri,
aku Vanaora Jordayna. Anak perempuan bungsu satu-
satunya, aku memiliki hobi bela diri, bela diri karate
lebih tepatnya aku mengikuti karate sejak SD kelas 1
sudah cukup lama bukan, terus-terusan menggeluti
dunia karate tidak membuat ku bosan.
Aku mempunyai kedua orang tua yang sangat amat
perhatian, baik, dan selalu ada pada saat aku
membutuhkan, ayah dan bunda berasal dari suku Sunda,
kalian harus mendengar bagaimana mereka bertemu uh
sangat manis. Kedua orang tua ku sibuk bekerja tapi itu
bukanlah masalah karna mereka tidak gila akan kerja,
mereka selalu berpikir keluargalah diatas segalanya.
Kemudian aku memiliki dua kakak laki-laki yang
sifatnya sangat berbanding terbalik, Bara Dhanurendra
itulah nama kakakku yang pertama dia sangat
memperhatikan kedisiplinan, kerapihan, dan sangat baik
sekali kepadaku hampir apapun yang aku mau dia selalu
meng-iya kan kemauan ku hingga bunda dan ayahku
marah karna itu bukanlah didikan yang baik, bahkan
hingga akhirnya ayah dan bunda mengurangi uang jajan
kakakku.
Agam Karunasankara, nama kakakku yang kedua ini
sifatnya sangat menyebalkan, usil, dan dia playboy, ah iya
dan kamar nya yang seperti kapal pecah itu kak agam,
tapi aku sangat senang saat mengganggu kak agam,
walaupun berujung aku mengadu ke kak bara, namun
aku sangat menyayangi kak agam.
Di balik sifatnya itu dia adalah orang yang selalu menjadi
nomor satu saat ada lelaki yang menyakiti ku, karna
mungkin dia sadar dia sering mempermainkan wanita tp
adik tersayangnya ini tidak boleh di permainkan oleh
siapapun. Walaupun sebenarnya aku bisa menangani nya
sendiri hal itu sendiri.
Sudah cukup perkenalan nya kalian akan lebih mengenal
aku dan orang terdekat ku setelah kalian membaca ini
lebih jauh.
Ini sudah mau masuk jam istirahat tapi aku mendengar
suara ribut di lapang karena penasaran akhirnya aku
keluar kelas, kebetulan kelas ku sedang jamkos (jam
kosong). Pada saat melihat kebawah mata ku langsung
bertemu dengan kakakku, kak agam ia ternyata sedang
dihukum karena telat berangkat ke sekolah dan
menggunakan kaos kaki berwarna kuning, aku tak bisa
menahan tawa melihat kak agam di hukum, itu sangat
lucu. Namun sepertinya saat sampai dirumah aku akan
ribut dengan dia tapi tak masalah masih ada kak bara
yang bisa ku jadikan tameng.
*Kriinggg
Itu adalah tandanya jam istirahat, aku langsung
mengajak teman kelasku untuk ke kantin.
Thalia dan Elisha mereka adalah teman yang cukup dekat
denganku.
"Kantin yu, vana pen beli minum doang tadi lupa ga bawa
dari rumah" ucap ku
"Ayo tapi temenin beli seblak dulu yayyayaya" ucap
Thalia yang memiliki sifat sangat ceria.
Thalia punya pacar, pacarnya adalah kakak kelas, ahh
mereka sangat bucin bahkan seisi sekolah sepertinya tau
mereka berpacaran.
Namun, Elisha hanya diam saja tapi dia sudah siap untuk
berangkat ke kantin bersama, Elisha sangat dingin
namun ia memiliki paras yang sangat cantik, banyak pria
menaksirnya tp dia sama sekali tidak menggubris nya,
dia sangat pintar juga, entahlah dia sempurna.
Sesampainya kita di kantin, kantin sangat penuh tapi
untungnya tempat untuk membeli minum tidak sepenuh
itu.
"Aaaaa vana seblaknya habis" ucap Thalia dengan beraut
muka sedih
"Harusnya lo pesen dulu kalo gamau kehabisan" ucap
Elisha dengan datar
"Iiii kan lia gatau lisha" itu nama panggilan mereka.
"Oke gais terus sekarang gimana?" ucapku
"Yaudahlah ke kelas aja" ucap Thalia dengan lemah
"Seenggaknya lo beli makanan berat lo belum sarapan
kan" ucap Elisha dengan datar seperti biasanya
"Iiiii lisha gemes deh perhatian" ucap Thalia sambil
mesem mesem sendiri.
Namun Elisha tetap dengan posisi dan ekspresinya yang
datar itu, ah tidak terbayangkan kalau Elisha tersenyum
akan semanis apa, vana suka greget sendiri.
"Yauda kalian berdua jajan dulu aja ya, gua mau balik ke
kelas takut bekel nya ga keburu ke makan" ucapku
kepada mereka
"Iyaa yauda dadah vana" ucap Thalia langsung
menggandeng Elisha
"Hati hati van" ucap Elisha
Kami pun berpisah vana langsung buru-buru ke kelas,
namun saat sampainya ia di kelas tempat duduknya
malah di duduki oleh entahlah bahkan ia tidak kenal,
karena ingin segera menghabiskan bekalnya ia langsung
mengusir orang yang sedang duduk di bangku nya itu.
"Em permisi dong gua mau duduk" ucap ku dengan tidak
berekspresi.
Namun lawan bicara ku tak menggubris ku, ia malah
melihat ku sekilas dan terus-terusan asik berbincang
dengan geng nya itu.
"Helooo minggir dong itu tempat duduk gua" hilang
kesabaran karena sudah berkali-kali vana berbicara
lembut ia tak menggubris.
"Elah neng tenang jangan nge gas gitu" ucap salah satu
orang yang tidak ku kenal
"Gajelas" ucap pria yg duduk di bangku ku dan langsung
pergi begitu saja.
Vana membeku, apa pria itu bilang vana gajelas?
berani sekali, vana orang yang sedikit emosian. Namun
kali ini ia harus menahan emosinya karena harus segera
memakan bekalnya itu.
"Astaga sabar vana, sabar dia yang gajelas" ucapku
menenangkan diri.
Singkat cerita bel pulang pun berbunyi, ahh hari ini
adalah jadwal latihan ku, vana buru-buru keluar kelas
dan langsung menuju parkiran untuk bertemu dengan
kak bara, just for information kenapa Vana ga bareng kak
bara ke sekolah, karena kak bara anak osis jadi ia harus
berangkat nyubuh ke sekolah, tapi Vana bangun subuh
pun sulit.
Sesampainya di parkiran vana langsung menghampiri
kak bara "kak Bara" sapa ku
"Hai vana cantik ayo naik" ajak kak Bara
Dengan segera aku menaiki motor besar kak Bara itu. Di
sepanjang perjalanan, Vana menceritakan semua ke kak
Bara termasuk tentang orang yg menyebut Vana gajelas
itu, kak Bara memiliki sifat yang tenang jadi enak
berbicara dengan ia karna pasti dia memiliki solusi dan
solusi itu bisa memberiku sedikit ketenangan.
Sesampainya di rumah Vana langsung ngabrit ke kamar
untuk menyiapkan peralatan untuk latihan, di rumah
kebetulan sedang kosong jadi ia bisa berlari-lari
sesukanya.
"Vana" panggil kak Bara
"Apa kak?" ucapku sambil menyiapkan peralatan
"Nanti kamu dianter siapa? kayaknya kakak gabisa
nganter, ada rapat osis dadakan" ucap kak Bara
Mendengar hal itu Vana sedikit sedih karena berarti ia
harus berangkat sendiri ke tempat latihan yang cukup
jauh bahkan naik motor pun menempuh 1 jam
perjalanan.
"Ahh gapapa kak gampang Vana naik kereta aja, paling
kakak anter Vana ke stasiun ya" ucapku sambil
tersenyum simpul
"Ngga bentar kakak call dulu si Agam" ucap kak Bara
Ahh iya Vana melupakan kakak nya satu lagi haha.
"Si Agam otw pulang tuh kamu tunggu aja disini ya, kalo
ada apa-apa call kakak aja langsung ya" ucap kak Bara
dengan lembut
"Iya kak makasii bgt, hati hati babaii" ucapku sambil
melambaikan tangan dan kak Bara pun langsung kembali
ke sekolah.
Hampir setengah jam berlalu tapi kak Agam belum
nyampe rumah juga, "ih ni abang satu kemana si, lama
amat dah" ucap ku sedikit kesal.
Tak tahan karena terlalu lama, Vana langsung mengetik
sesuatu tapi ia mengurungkan niatnya karena yang
ditunggu sudah sampai.
"Elah kak lama bgt gimana kalo gua telat, ngeselin lu mah
ah" ucap ku kesal
"Macet ga sabaran bgt lu mah, mana tadi gua nurunin
gebetan di tengah jalan supaya jemput lu dari ujung ke
ujung lagi ah" ucap kak Agam sedikit badmood
"Terus gue harus bilang wow gitu" ucap ku sambil
meledek
"Oke fine gakan gua anter" ucap kak Agam sambil turun
dari motor
"Eh eh eh, baperan bgt jadi orang, Vana isiin bensin ya
kakakku tercinta" ucapku sambil memasang muka
semanis mungkin.
"Idih si najis" ucap kak Agam
"Bilangin kak Bara abis lo" ucap ku mengancam
"Jadi kapan mau berangkat nih bu, katanya takut telat"
ucap kak Agam mempersingkat waktu.
"Oke berangkat sekarang pak"
Di dalam perjalan mereka terus bertengkar bahkan hal
yang tidak perlu dibahas pun mereka bahas, tapi itu
sedikit merefresh otak vana yang sedikit mumet tadi,
karena tertawa dan bercanda dengan kak Agam sangat
seru.
Sesampainya di tempat latihan Vana langsung buru-buru
masuk karena ia tau ia telat. Sedangkan kak Agam
langsung pulang putar balik, karena katanya mau
ngedate sama gebetan yang lainnya.
"Oh sh*t" ucap Vana dalam hati
Latihan sudah di mulai dan Vana tertinggal, tidak mau
membuang buang waktu vana langsung buru-buru ganti
baju, selesai berganti baju Vana langsung join dan sang
coach atau biasa kita panggil sensei angkat bicara.
"Udah tau konsekuensinya kan Vana?, silahkan lakukan"
ucap sang pelatih
Vana langsung melirik jam ternyata Vana telat 15 menit
saja, asal kalian tau konsekuensinya jika kalian telat 15
menit maka kalian harus roll depan sebanyak 15 kali ini
bukan hal baru bagi Vana ini hal yang biasa, karena Vana
pernah mengalami hal yang lebih berat dari ini. Vana
tidak membantah ia menurut karena karate memiliki
semacam sumpah dan janji, salah satu isinya terdapat,
disiplin dan bisa menghargai waktu.
Setelah melakukan hukuman Vana langsung bergabung
dengan yang lain dan melakukan latihan bersama. Cape,
keringat bercucuran, sakit badan, semuanya terasa di
matras tempat berlatih itu.
Namun di balik semua itu kita di tempat latihan satu
matras ini memiliki tujuan yang sama yaitu ingin
mencapai kesuksesan. Berakit rakit kita kehulu
bersenang-senang kemudian.
Namun di sela sela latihan kami menyempatkan waktu
bercanda, tertawa. Diri Vana sebenarnya lah terlihat saat
bersama teman-teman karate nya ini. Pelatihnya
mengumumkan bahwa bakalan ada pertandingan di
bulan depan yang berarti pertandingan itu bentrok
dengan ulangan tengah semester, dan berarti latihan pun
akan ditambah.
Latihan pun selesai Vana menunggu jemputan katanya
sang bunda mau menjemput nya dan ternyata benar
bundanya tepat waktu.
"Hai bunda cantik" ucapku ceria
"Hai anak bunda yang cantik, ayo sayang naik" ucap sang
bunda dengan lembut.
Sesampainya dirumah entah kenapa suasananya terasa
berbeda, ternyata bunda pun merasakan nya, bunda
langsung bergegas masuk ke dalam kamar untuk melihat
kondisi ayah, Vana mengikuti bunda.
Di dalam kamar ayah sudah terlihat sangat berantakan,
sambil menekuk lutut menutupi wajah cerianya itu.
Bunda yg melihat itu buru-buru langsung memeluk ayah
dan menanyakan apa yang terjadi.
"Yah kenapa ayah cerita sama bunda" ucap bunda sambil
mendekap ayah
"Jahat banget bun, jahat kok bisa dia jahat banget sama
ayah, nanti ke depannya gimana bun, ayah gabisa,
gamau" racau ayah
Melihat situasi yang cukup kacau Vana memilih untuk
masuk ke dalam kamarnya, Vana bingung apa yang
terjadi. Hal-hal negatif bermunculan di otak Vana. Vana
anak yang jarang menangis tapi jika itu bersangkutan
dengan keluarga Vana sangat sensitif.
Kedua kakaknya entah kemana.
Untuk menyegarkan diri Vana masuk ke dalam kamar
mandi dan membilas dirinya. Setelah selesai mandi Vana
berkutat dengan tugasnya karena deadline nya besok.
Vana bukan anak yang rajin bukan juga anak yang malas,
tugas dia tidak pernah bolong.
Cape setelah pulang latihan Vana keluar kamar untuk
mencari sesuatu yang bisa di makan, karna jadwalnya
yang padat vana bahkan lupa untuk makan. Setelah
mendapat sesuatu yang dia inginkan Vana kembali ke
kamar, namun ia penasaran apakah orang tua nya baik
aja saja. Tapi sepertinya baik-baik saja keadaan sudah
sedikit tenang tidak seberantakan tadi. Dan kedua
kakaknya sudah pulang.
Selesai menghabiskan makanan nya Vana bermain
handphone sebentar melihat line dan ternyata terdapat
pesan dari orang yang tidak Vana kenal, Vana
mengabaikan nya dan memilih mendekati kasur untuk
segera tidur.
Ke esokan nya tidak se heboh kemarin karna Vana
berhasil mendapatkan kaos kakinya itu yang ternyata
berada di lemari ujung yang sulit untuk dicapai, Vana
keluar kamar untuk sarapan, namun suasana sarapan
sangat hening, asing, terasa sekali perbedaan nya, hingga
akhirnya bunda angkat bicara.
"Vana sayang bunda mau bicara" ucap bunda dengan
lembut
"Iya bun kenapa?" ucapku sambil memandang bunda
"Kamu kalo berhenti latihan dulu gimana?" ucap bunda
"Bun? bunda bercanda? Vana baru mau bilang loh seleksi
yang Vana tunggu-tunggu tuh bulan depan" ucapku tak
menyangka
"Kamu kalo jadi anak tuh harus ngertiin kondisi keluarga
dikit dong bukannya mau enaknya aja" ucap ayah sedikit
menaikkan suaranya
"Ayah bisa kan ga se kasar itu bicara sama Vana?" kak
Bara tak tinggal diam melihat adiknya di bentak begitu
saja
"Kamu salah Bara bisanya manjain adik kamu aja terus
buang-buang uang aja bisanya" ayah kembali berbicara
Kak Bara sudah membuka mulut siap untuk kembali
berbicara tapi dengan sengaja dipotong oleh bunda agar
pertengkaran tidak terjadi.
"Udah cukup biar nanti bunda sm vana bicara lagi,
mending kalian berangkat sekolah gih" ucap sang bunda
melerai
"Ayo van" kak Agam menarik tanganku
Aku tak menggubris nya aku mengikuti kemana arah kak
Agam membawaku, kak Agam membawaku ke parkiran.
"Nih uang jajan, pasti tadi kamu diem mau minta uang
jajan kan?" ucap kak Agam sangat lembut.
"Udah jangan terlalu dipikirin mending sekarang kamu
fokus sekolah hari ini kamu presentasi kan?, kamu pasti
gamau kehilangan kepercayaan diri kamu kan?" lanjut
kak Agam
Tanpa disangka ternyata ada yang sedang mengamati
perbincangan kita yang tak lain adalah kak Bara, ia
terlihat tersenyum bangga melihat adiknya bisa
menenangkan adiknya yang lain.
Niat awal ia ingin mendatangi Vana dan menenangkan
nya tapi ternyata didahului oleh adiknya, tapi tak
mengapa jadi ia tau bagaimana rasa sayang Agam
terhadap adiknya itu.
Vana akhirnya dibonceng oleh motor Agam dan Bara
mengikuti di belakang menggunakan motor juga.
Sesampainya di sekolah, dan sepanjang pelajaran Vana
tidak bisa berfokus, karena tak bisa berhenti
memikirkannya. Seleksi itu hanya datang 3 tahun sekali,
Vana berfikir kalau bisa sekarang kenapa harus nunggu 3
tahun lagi.
Ini bukan pertama kalinya terjadi, hal ini pernah terjadi
juga, saat itu yang mengikuti karate tidak hanya Vana,
tapi Agam juga. Karena masalah keuangan. Setiap
pertandingan, ongkos pulang pergi, bayar perbulan
latihan harus double akhirnya Agam memutuskan untuk
pensiun dari karate jadi hanya Vana saja yang
melanjutkannya.
Kemudian kenapa Vana sangat bersikeras untuk
mengikuti seleksi itu karena jika saja Vana lolos seleksi ia
bisa sedikit mengurangi beban orang tuanya, pertama
orang tua nya tidak perlu bayar latihan perbulan, tidak
perlu membeli baju pertandingan yang harganya hingga
jutaan. Dan Vana bisa menghasilkan uang sendiri, yang
artinya ia tidak perlu meminta uang lagi kepada orang
tua nya dan kakaknya.
Vana sangat ingin membuktikan bahwa kerja keras nya,
perjuangannya selama ini.
Disaat teman-teman yang lain menikmati masa
remajanya Vana hanya bisa berkutat dengan tempat
latihannya terus menerus.
Menyakitkan? tentu saja siapa yang tidak mau senang-
senang dengan teman sebayanya selagi masih ada waktu.
Tapi Vana tahu kesenangan itu hanya sementara tidak
dengan masa depannya yang akan menentukan jadi apa
dia nanti.
Kedua teman kelasnya merasa aneh melihat Vana yang
diam saja dari tadi, akhirnya memutuskan untuk
menanyakan apakah terjadi sesuatu.
"Hey Vana" panggil Thalia
"Eh kenapa li?" ucap Vana sedikit terkejut
"Lu kenapa dari tadi diem bengong mulu" tanya Elisha
"Iya kalo Vana lagi ada masalah cerita aja sama kita"
ucap Thalia dengan senyum
"Ahh gapapa masalah biasa aja" jawab Vana
Vana sedikit tertutup jika tentang dunia per-karate an
karena Vana fikir mereka tidak akan paham walaupun
Vana berbicara hingga berbudah pun. Tapi bukan berarti
Vana tertutup, Vana selalu bercerita jika ada hal baru
yang memang mau dia ceritakan tapi tidak dengan dunia
karate.
Thalia dan Elisha pun paham, memilih untuk berhenti
bertanya.
Tak lama dari itu tiba-tiba notifikasi handphone Vana
berbunyi terdapat line kembali dari nomor yang tidak dia
kenal.
Karena merasa risih ia berniat ingin memberhentikan
chat dari nomor tidak dikenal ini, namun saat Vana
melihat room chat tersebut tangan Vana langsung
gemetar, Vana merasa cemas, melihat sekeliling, dan
kembali melihat handphone nya itu.
"Ngga ga mungkin" lirih Vana
"lo kenapa Van" ucap Elisha
Namun Vana tak menjawab ia hanya diam membeku,
Elisha langsung paham titik masalahnya terdapat di
handphone Vana. Tak mengulur waktu Elisha langsung
merebut handphone Vana, namun Vana hanya diam saja
tak menggubris.
Elisha langsung melihat handphone Vana begitu juga
dengan Thalia, mereka saling bertatap dengan wajah
khawatir.
Itu adalah Baron mantan ter-toxic yang pernah Vana
pacari dan gara-gara Baron inilah vana tidak mau dekat
dengan pria mana pun, tampang Baron tampan tapi tidak
dengan sikapnya, dia sangat posesif, bahkan seperti nya
ia tidak mencintai vana tapi dia obsessed akan Vana.
Baron selalu mengikuti Vana kemanapun ia pergi,
bahkan pada saat mereka pacaran Vana berinteraksi
dengan pria lain sebentar saja Baron akan marah besar,
itu bukan berarti Vana takut oleh Baron, tapi mentalnya
akan kena jika terus menerus dekat dengan orang seperti
Baron ini.
Thalia langsung memeluk Vana "tenang Van, tenang ada
kita"
Isi chat itu adalah foto saat Vana sedang berada dikelas
bersama kedua temannya, dan foto itu, foto hari ini detik
ini juga, bagaimana Vana tidak khawatir.
"Lia panggil kak Bara sama kak Agam" ucap Elisha
Thalia keluar kelas langsung mencari kedua kakaknya
itu.
Singkat cerita Vana berhasil ditenangkan oleh kedua
kakaknya itu, dan meminta surat untuk pulang lebih
dulu.
Vana orangnya panikan namun setelah beberapa jam
berlalu dia akan terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.
Bahkan terlihat lebih santai.
Dan Vana sangat pintar menyembunyikan perasaan
sesungguhnya.
Sampai dirumah Vana langsung masuk kamar dan
memilih untuk jogging keluar sebentar.
Namun saat mau keluar rumah dicegah oleh orang tua
nya, "Vana bisa kita lanjutkan pembicaraan pagi tadi?"
ucap bunda
"Bun aku mau lari sebentar doang aku mau ngerefresh
pikiran aku sebentar, habis itu kita ngobrol ya" ucapku
dengan sabar dan lembut.
"Kamu ga ngehargain orang tua bgt, kamu fikir kamu
doang yang penuh masalah sampe anak kecil kayak kamu
butuh ngerefresh pikiran segala, lebay" ucap ayah
Bunda tak berkomentar apapun, sejujurnya hatiku sakit
mendengar perkataan seperti itu, ayahku bukan orang
yang lembut tapi bukan juga orang yang kasar, ia tak
pernah mengucapkan kata-kata kasar kepada anaknya,
apalagi kepada anak perempuannya.
Karna Vana tidak mau memperpanjang masalah
akhirnya Vana meng-iya kan kemauan kedua orang
tuanya untuk mengobrol.
Mereka mengobrol hanya seputar itu-itu saja mereka
memaksa ku, dan menyudutkan ku agar berhenti latihan
karate.
Aku ingin sekali menangis, menjerit, mengeluh,
memukul, menghancurkan, emosi ku sangat tak
terbendung. Namun Vana bisa apa ia hanya bisa bilang
"Iya yah, bun gimana baiknya aja" ucap Vana dengan
lemah
Mereka langsung memeluk ku, "semoga secepat mungkin
ada rezekinya ya sayang berhenti sementara aja kok"
ucap bunda dengan lembut
Ayah hanya mengelus kepala ku, tapi Vana sedikit
tersentuh.
"Oke deh Vana lari dulu ya, dadah ayah bunda" ucap
Vana tersenyum simpul.
Vana langsung keluar dari karangan rumah, awal-awal
Vana lari seperti biasa tapi lama kelamaan setetes air
mata keluar dari pelupuk mata nya, kalian pernah
merasakan jogging sambil menangis? jika pernah kalian
tau kan rasanya gimana, tapi jika belum tak mengapa,
semoga ga pernah ngerasain ya.
Entah mengapa saat berada di titik terendah Vana selalu
melampiaskan nya ke jogging atau latihan, karena itu
membuat vana sedikit lega.
Esok adalah hari sabtu yang merupakan jadwal latihan
yaa mungkin jadi yang terakhir bagi Vana.
Tak terasa ternyata sudah sedikit larut Vana
memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sampai dirumah Vana langsung membersihkan diri dan
langsung masuk kamar tanpa sepatah katapun.
Singkat cerita Vana telah sampai di tempat latihan
bersama bundanya, ia harus berbicara kepada pelatihnya
bahwa Vana mau berhenti latihan dahulu.
Dan kebetulan hari ini adalah hari jatuh tempo untuk
membayar iuran bulanan, saat mau berjalan menuju
pelatihnya, bunda Vana mendapat telfon dan ternyata itu
dari ayah.
Vana tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi terlihat
dari eksperi bunda dia terlihat senang, sebenarnya Vana
penasaran namun ia stay cool.
Setelah menutup telfon, bunda langsung memeluk Vana,
Vana terkejut bukan main.
"Eh bunda kenapa?" tanya Vana heran
"Kamu latihan hari ini kita lanjutin impian kamu ya?"
ucap bunda dengan sedikit berkaca-kaca
"Bunda seriusan?" Vana menahan tangis
Bunda mengangguk, ahh Vana sangat senang Vana ingin
sekali menangis tapi entah kenapa kadang Vana sulit
menangis di depan orang tersayang nya.
Entah mengapa saat berada di titik terendah Vana selalu
melampiaskan nya ke jogging atau latihan, karena itu
membuat vana sedikit lega.
Esok adalah hari sabtu yang merupakan jadwal latihan
yaa mungkin jadi yang terakhir bagi Vana.
Tak terasa ternyata sudah sedikit larut Vana
memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sampai dirumah Vana langsung membersihkan diri dan
langsung masuk kamar tanpa sepatah katapun.
Singkat cerita Vana telah sampai di tempat latihan
bersama bundanya, ia harus berbicara kepada pelatihnya
bahwa Vana mau berhenti latihan dahulu.
Dan kebetulan hari ini adalah hari jatuh tempo untuk
membayar iuran bulanan, saat mau berjalan menuju
pelatihnya, bunda Vana mendapat telfon dan ternyata itu
dari ayah.
Vana tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi terlihat
dari eksperi bunda dia terlihat senang, sebenarnya Vana
penasaran namun ia stay cool.
Setelah menutup telfon, bunda langsung memeluk Vana,
Vana terkejut bukan main.
"Eh bunda kenapa?" tanya Vana heran
"Kamu latihan hari ini kita lanjutin impian kamu ya?"
ucap bunda dengan sedikit berkaca-kaca
"Bunda seriusan?" Vana menahan tangis
Bunda mengangguk, ahh Vana sangat senang Vana ingin
sekali menangis tapi entah kenapa kadang Vana sulit
menangis di depan orang tersayang nya.
Ayahnya mendapatkan kembali kejayaannya, ia berhasil
membuktikan bahwa ia tak bersalah bahwa ia dijebak
oleh rekan terdekatnya.
Latihan pun selesai, persiapan seleksi kali ini sangat tidak
main-main.
Di perjalanan pulang akhirnya Vana paham sepertinya
akhir-akhir ini ayah sensitif karena siapa yang tidak sakit
hati jika dijebak oleh sahabat nya yang sangat dekat.
Vana memaklumi sikap ayahnya akhir-akhir ini.
Sampai dirumah Baron tidak henti-hentinya nge-line
Vana sudah muak dengan sikap Baron, Vana
memunculkan taringnya ia tidak akan takut lagi. kenapa
saat di sekolah Vana terlihat sangat rapuh?
karena Vana saat itu memang sedang banyak pikiran, jadi
ia tidak dapat berfikir jernih saat itu.
Namun sekarang? satu masalah telah clear ia bisa
menghabisi lelaki banci itu.
Sekolah Vana dan baron sedikit berdekatan, dan hal itu
lebih memudahkan Vana untuk menghabisi lelaki itu, ini
bukan adegan yang bisa ditiru ya anak-anak tapi jika
untuk lelaki brengs*k seperti dia apa salahnya.
Vana termasuk orang yang memikirkan apa yang terjadi
jika ia melakukan ini, dia selalu memikirkan sebab
akibat.
Setelah berfikir matang-matang akhirnya vana
mendapatkan titik terang, ia tau apa yang harus ia
lakukan.
Dan setelah berbicara terbuka dengan sang kakak, kedua
kakaknya pun setuju tapi mereka sedikit khawatir.
Hari ini adalah hari yang tepat untuk melancarkan
aksinya.
Hal pertama Vana mengumpulkan begitu banyak bukti
bahwa Baron selalu mengikuti nya, kemudian chat chat
ancaman darinya.
Yang kedua Vana akan menjebak Baron hingga ia tak bisa
berkutik.
Vana tau ini hal yang salah, tapi ini pasti bisa membuat
nya jera, dan tidak akan melakukan hal ini lagi ke
perempuan mana pun, dan tentunya ia akan
mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perlakuan
nya.
Vana berangkat ke sekolah bersama ayahnya, mereka
sudah berbaikan, ayah mengaku tak bisa mengontrol
emosi hingga menyakiti hati anak perempuan nya itu.
Dan Vana tentu saja memaafkannya, walaupun Vana
mempunyai prinsip sakit itu di balas sakit, bukannya
sakit di balas maaf.
Namun prinsip itu tidak berlaku bagi orang yang sudah
menyayangi, menjaganya sejak kecil, karna mau
bagaimana perlakuan ayahnya saat itu, itu pasti karena
ketidaksengajaan dan pasti pada saat detik itu juga sang
ayah pasti selalu menyayangi nya.
Sampai di sekolah,
"Makasii ayah" ucap Vana dengan senyum bahagia
"Sama sama sayang belajar yang rajin ya, jangan buat
ulah" ucap sang ayah
Mendengar perkataan itu Vana hanya bisa tersenyum
dan sepertinya senyuman itu memiliki arti yang lain.
Hampir seharian disekolah telah dilewati oleh Vana, ia
sedang berjalan pulang menuju rumah, ia sengaja pulang
sendirian tanpa nebeng atau meminta jemput kepada
siapapun.
Vana mempunyai feeling yang cukup kuat, ia tersenyum,
sang mangsa ternyata sudah masuk ke dalam perangkap.
Vana sedikit mengecoh berbulak belok masuk gang ini
keluar dari gang sana kemudian akhirnya
"Hai Baron" ucapku
"Kenapa, bingung ya? ga cape ngikutin gua terus? emang
ga ada cewe lain gitu? inget ya Baron kita udah putus, dan
gua ngerasa risih bgt tiap detik lu ngikutin gua terus, lu
tau ga Baron sepanjang jalan tadi tu banyak cctv tau"
ucapku tersenyum penuh kemenangan
Baron hanya membeku tak berkutik apa-apa, ahh
sebenarnya spesies seperti Baron ini adalah spesies paling
cupu karena mereka hanya bisa membuat ulah di layar
kaca, menguntit, ya walaupun pun cukup menyeramkan
kita harus bisa melawannya sebelum ia melakukan hal
yang lebih berbahaya lainnya.
Baru baron akan angkat bicara, langsung di potong oleh
vana.
"Apa? mau ngancem? mau nyebarin foto? emang gatau
malu ya lo" ucapku dengan sarkas
"Ahh cape gua mending lo langsung ngaku aja deh"
namun baron tetap saja diam.
"Buang waktu banget argh"
"Oke gua ngaku, gua yang ngancem lo, gua yang foto lo
tanpa izin, dan gua juga yang nyebar fitnah tentang lo
sampai lo susah dapet temen cowo maupun cewe"
ungkap baron b*jingan
And boom kakakku keluar dari persembunyian.
"Bagus Baron kita jadi lebih gampang deh lapor polisi
nya, makasi bgt ya" ucap kak Agam dengan ramah
namun menusuk
"Ikut gua" kak Bara langsung menyeret Baron.
"Eh kak bentar sedikit pelajaran boleh ya" ucap ku
Kedua kakakku belum menjawab apa-apa Vana langsung
meluncurkan tendangannya tepat di wajah b*jingan itu.
"Ups meleset tadinya ga akan dikena in maaf ya" ucap ku
tersenyum manis.
Kakakku menggeleng kan kepalanya dan langsung
mengurus Baron kepada pihak berwajib. Saat sampai
dirumah Vana sedikit khawatir, karena takut perbuatan
nya membuat masalah baru. tapi apa boleh buat hal itu
baru saja terjadi mau bagaimana lagi. Kedua kakaknya
tau apa yang sedang dipikirkan adiknya itu.
"Tenang Van ga akan apa-apa lagian tu cowo pantes dapet
hal kayak gitu" ucap kak Agam
"Iya tenang ada kakak" ucap kak Bara ikut menenangkan
Ya ucapan mereka berhasil membuatku sedikit tenang.
Dan detik ini aku akan berfokus pada latihan karena
masalah sudah clear semuanya, aku sangat merasa lega
jujur.
Disaat orang lain memikirkan ulangan semester nya
Vana malah memikirkan seleksi itu, Vana harus lolos,
Vana bisa.
Hari hari terus Vana lalui keringat bercampur air mata,
keringat bercampur darah, darah bercampur air mata,
sudah menjadi makanan sehari-hari Vana saat berlatih.
Dan hari ini adalah hari Vana harus berangkat ke tempat
seleksi yang tempatnya berada di Magelang, perjalanan
yang cukup jauh, Vana berada disana sehari sebelum
bertanding, Vana rasa itu cukup untuk menyesuaikan
diri dengan tempat baru.
Sebelum nya ia berpamitan kepada orang-orang
tersayang nya.
"Ayah, bunda, kakak, Vana berangkat dulu ya, doain Vana
ya, Vana berjuang disana, kalian bantu Vana doa aja udah
cukup banget buat Vana" ucapku tersenyum
"Pasti sayang pasti, pasti bunda doain, kamu hati hati
disana ya, jangan terlalu memaksa kan diri ya sayang"
ucap bunda ku
"Iya betul kamu putri ayah satu-satunya yang paling
kuat, kamu pasti bisa, jangan terpengaruh oleh apapun ya
sayang fokus satu titik okey?" ucap ayahku
"Van jaga diri ya inget pesan ayah bunda jangan terlalu
memaksakan diri ya cantik" ucap kak Bara
"Vana kuat, Vana bisa, inget perjuangan kamu selama ini
okay lu pasti bisa elah bantai mereka semua" ucap kak
Agam membuat ku sedikit tersenyum.
Setelah beres berpamitan Vana langsung masuk mobil
dan tidak lupa untuk berdoa.
Dalam perjalanan Vana mendengar musik karena kondisi
tubuh harus enjoy tidak boleh tegang.
Vana berkali-kali tertidur dalam perjalanan, ia
menyempatkan menonton video atlet dunia asal Jerman
yaitu Sandra Sanchez, atlet favorite nya.
Singkat cerita sampailah Vana dan kontingen nya di
magelang dan langsung menuju tempat tinggal sementara
mereka, Vana tidak menginap di hotel, Vana menginap
dirumah saudaranya yang kebetulan dekat dengan
tempat seleksi itu.
Sampai dirumah saudaranya Vana langsung masuk ke
kamar yang telah ditunjukkan oleh sang pemilik rumah.
Baru menginjak kaki ke dalam kamar Vana langsung
bergegas mengambil legging nya siap untuk jogging
sebentar sambil beradaptasi dengan lingkungan baru,
hawa baru.
Saudaranya panik, seharusnya ia beristirahat karna yang
ia tau esok adalah hari dimana ia akan bertanding.
"Ehh nak istirahat dulu, jangan langsung lari nanti cape"
ucap sang Uwa
"Engga Wa tadi kan diperjalanan Vana udah istirahat
diperjalanan Vana tidur mulu kok Wa" ucapku
"Ehh tetep harus istirahat lagi dong nak" lirih Uwa ku
khawatir
"Engga wa tenang aja yaa"
"Dadah Vana jogging dulu ya" ucapku sambil berpamitan.
Uwa ku hanya bisa menggeleng kan kepalanya.
Saat jogging aku hanya memikirkan bagaimana nanti aku
harus bisa menampilkan yang terbaik, tidak boleh
melakukan kesalahan sedikit pun, dan pastinya aku
harus selalu ingat orang tua ku yang jauh dirumah sana.
Selesai nya Vana jogging, Vana merebahkan tubuhnya
ahh ternyata hawa disana cukup bagus tidak terlalu
dingin dan tidak terlalu panas juga, Vana langsung
menuju dapur, niatnya untuk membantu uwa nya
menyiapkan makanan, tapi ternyata makanannya sudah
siap.
"Eh Vana jadi malu ga bantu Uwa siapin makanan, maaf
ga Wa" ucap Vana
"Udah nak tenang aja kamu kan tamu" ucap Uwa ku
"Tetep aja atu Wa gaenak ke Vana nya" lirih ku
Kami langsung menyantap makanan, setelah
makanannya habis, Vana langsung mengambil semua
piring kotor dan mencuci nya.
"Makasii ya Wa makanannya enak banget" ucapku
"Iyaa nak sama sama" ucap Uwa ku dengan ramah
Vana langsung masuk ke dalam kamar, ia tidak boleh
begadang, itu bukan hal yang baik bagi seorang atlet
apalagi yang akan bertanding besok.
Vana sudah merebahkan dirinya di kasur ia
memejamkan mata berusah untuk tidur, namun entah
mengapa, hal ini sangat sulit dilakukan Vana terus
menerus menggulingkan badan ke kanan dan kiri.
Akhirnya Vana memutuskan keluar kamar, dan ternyata
sang Uwa sedang menonton tv di ruang tengah.
"Nak gabisa tidur ya?" ucap Uwa ku
"Aduh iya Wa" balasku
"Nih minum teh anget pasti nanti tidurnya nyenyak"
Uwa ku memberikan teh nya kepada ku
"Ooh oke makasi banget Wa Vana balik lagi ke kamar ya"
balasku
Sesampainya dikamar Vana langsung meminum teh
tersebut, dan ternyata teh nya sedikit membuatnya
tenang, Vana kembali merebahkan dirinya di kasur, dan
akhirnya vana terlelap dalam tidur nya. Ternyata teh dari
sang Uwa sangat manjur ya.
Pagi harinya, yash ini adalah hari yang ditunggu-tunggu
oleh Vana, tak lupa Vana menyiapkan peralatan
tandingnya membekal pisang dan susu coklat nya.
Melihat jam sudah pukul 6 lebih itu tandanya Vana harus
segera bergegas berangkat.
Sebelum berangkat Vana berpamitan dengan sang Uwa
dan berterimakasih atas teh hangatnya semalam.
Didalam perjalanan menuju tempat seleksi itu, Vana
menyempatkan diri untuk melakukan video call dengan
kedua orang tua dan kakaknya itu.
Panggilan tersambung…
"Hai sayang, sekarang harinya ya?" ucap bundaku
didalam telfon
"Iya bun doain Vana ya" balasku
"Pasti dong adikku tercinta semangat oke kamu bisa"
ucap kak Agam
"Iya sayang tunjukan kepada mereka yang udah
ngerendahin kamu, yang ga ngehargain kamu, oke
tunjukkan bahwa perjuangan kamu selama ini itu ga
akan gagal bisa ya sayang semangat" ucap bunda
Ahh aku tak bisa berlama-lama melakukan video call
dengan mereka karena sudah sampai di tempat,
panggilan kami pun terputus. Sesaat turun dari mobil,
suasana pertandingan yang sudah sangat Vana rinduku
kembali terasa, ini sedikit menegangkan tapi sangat
mengasyikkan.
Vana langsung masuk ke dalam gor tempat bertanding,
ternyata suasana di dalam gor cukup panas, Vana lupa
tidak mengunjungi gor terlebih dahulu. Ini bukan
masalah besar, mungkin. Vana bersiap menggunakan tegi
nya (pakaian karatenya) dan menggunakan sabuk merah
sesuai instruksi panitia.
Sistem penilaian kali ini adalah sistem poin, jadi intinya
semakin tinggi poin mu maka peluang mendapatkan
emas sangat besar, maksimal poin sebenarnya hingga 30,
tapi di poin itu pun belum ada yang bisa memecahkan,
bahkan sekelas dunia pun mentok mentok hingga 28
poin.
Sebenarnya Vana sangat ingin memecahkan rekor itu,
tapi dia sadar diri, dia siapa.
Setelah pembagian bagan, Vana mendapatkan main
sebanyak 4 kali. dan ia main di urutan kedua, itu sangat
membuat Vana kaget, karena Vana harus panas terlebih
dahulu tapi ini, waktunya hanya sebentar emang Vana
bakal bisa membakar tubuhnya dengan waktu sesingkat
itu, aku harap Vana bisa.
Penampilan pertama selesai ia memperoleh poin 23,8 itu
cukup tinggi menurut Vana, ini saatnya Vana
menampilkan yang terbaik, jujur Vana merasa sangat deg
deg an, selain itu Vana sangat suka jika diberi teriakan
semangat saat bertanding namun sekarang?, bahkan
Vana tidak tau siapa yang akan meneriakkan nya.
Vana menampilkan semuanya dengan cukup percaya diri
dia tidak melakukan kesalahan sedikit pun, dan ini
adalah saat yang sangat menegangkan, saat para juri
berdiskusi tentang poin, yang aku bisa lakukan sekarang
hanyalah berdoa kepada tuhan.
Dan jreng poin ku muncul saat melihat poin tersebut
Vana sedikit tenang karena poinnya lebih besar dari yang
sebelumnya, tapi Vana tidak bisa tenang begitu saja,
karena Vana mendapat poin 24. itu selisih yang cukup
berdekatan.
Lawan-lawan Vana yang lain menampilkan nya dengan
sangat baik, yash Vana menang di babak pertama dia
menjadi nomor satu di grupnya, babak pertama dibagi
menjadi dua grup, dan si grup kedua sedikit membuatku
gemetar karna di sana posisi pertama memimpin dengan
poin 26,8. Terkejut? tentu saja, Vana sedikit takut dan
khawatir, tapi dia harus menghilangkan rasa itu, ia pasti
bisa.
Beberapa babak telah Vana lalui, Vana hanya berfokus
pada dirinya dan percaya pada dirinya sendiri kemudian
yakin kepada dirinya sendiri.
Boom!!! Vana masuk final. Dan asal kalian tau, lawannya
ini adalah yang tadi mendapatkan poin hingga 26,8 itu.
Waktu istirahat 20 menit untuk final dan setahuku
musuh bernama Nata? Neta? ahh entahlah Vana tidak
memikirkannya.
Pada saat Vana berlatih untuk penampilan yang terbaik
di final tiba-tiba Neta yang menjadi musuhnya itu
melewati nya dan dengan sengaja menyenggol bahu
Vana.
Vana tahu itu disengaja karena tempat ini luas dan pasti
sengaja agar mental ku goyah, but come on seorang Vana
ga akan gentar cuma gara-gara senggolan bahumu.
Dan ini lah final, jantung ku berdebar dengan sangat
amat kencang.
Sang panitia memanggil nama ku
"Vanaora Jordayna ya?" ucap sang panitia
Vana mengangguk.
"Baik kamu main pertama ya" lanjut sang panitia
Vana sudah tidak asing dengan kata pertama, ataupun
duluan.
Vana menginjak kan kakinya ke matras dan
"Ayo Vana!!! kamu bisa Vana"
Tunggu itu kan suara, Vana langsung melihat ke arah
tribun itu adalah bunda, Vana terkejut, "bunda datang?"
ucapku dalam hati
Kembali berfokus Vana langsung menampilkan
semuanya dengan penuh semangat, tidak melakukan
kesalahan, dan keluarganya terus meneriakkan namanya
agar semangat Vana semakin membara.
Selesai Vana bermain kata, ini saat Neta musuhnya itu
bermain, Vana tidak melihat Neta bertanding, Vana lebih
memilih membalikkan badannya dan terus menerus
berdoa.
Inilah saat yang sangat menegangkan saat penghitungan
poin, detik ini juga merupakan sebuah penentuan, salah
satu wasit berdiri ditengah antara Vana dan musuhnya
Neta itu.
Menggenggam tanganku dan musuhnya Neta yang akan
menjadi penentu siapa yang akan diangkat tangannya
oleh sang wasit, suasana menjadi sangat menegangkan
Vana sangat ingin mengeluarkan air mata nya,
harapannya sangat tinggi, doanya semakin kuat,
tangannya sangat gemetar.
Dan "WOW VANA!!!" "GOOD JOB VANA!!!!"
Teriakan itu Vana membuka mata dan tangannya lah
yang diangkat, Vana tak bisa menahan tangis ia terjatuh
bersujud sangat bersyukur, perjuangannya selama ini.
"Ayah bunda liat, Vana bisa, Vana mampu" ucap Vana
terus di dalam hati
Harapan, mimpi Vana akhirnya bisa ia raih ia mampu
masuk ke dalam tim yang sangat ia inginkan sejak dulu,
berkat usahanya selama ini, jangan lihat bagaimana
hasilnya, tapi lihatlah bagaikan perjuangannya selama
itu, tangisan, darah yang selalu mengalir.
Tapi ingat ini masih awal perjuangan, Vana masih
panjang dan aku yakin Vana pasti bisa melaluinya.