Kisah Nabi Ishaq As
Beliau adalah putra nabi Ibrahim as., yang Allah Ta'ala karuniakan kepada
ibrahim as. Dari istrinya yang bernama Sarah, setelah lahir putranya yang pertama
dari istrinay yang lain, Hajar. Dari keturunan Ishak lahir para nabi bani Israil. Dan
yang pertama adalah Ya'qub yang bergelar Israil.
sebagNaaimaanaIskhyaakndgi s'aelbimut(kcaenrddaasl)amduAal-kQaulirs'aenbaellu-Kmarkimelasheibraannnyyaak,1d7aknaslie. bDaisgeabi uatnkaank
yang halim (sabar) satu kali.
Malaikat memberi kabar gembira kepada Ibrahim as. tentang kelahiran Ishak
saat ia sudah berusia lanjut sebagaimana istrinya, dan dari keturunan Ishak lahir
Ya'qub. Berita gembira akan lahirnya Ishak disampaikan malaikat kepada Ibrahim
saat usianya sudah lanjut, demikian pula istrinya. Dari Ismail lahir putranya bernama
Ya'qub. Ketika itu malaikat sedang mampir sebagai tamu di rumah Ibrahim dalam
perjalanannya menuju kaum Luth as. Untuk menimpakan siksa Allah kepada mereka
atas kekafiran dan kefasikan yang mereka perbuat. Firman-Nya:
ا ح ىي ىش إ ى س ! ي ا ش ت ىإتشا س خ م
زا ص د ! م ب كإ سا ي ك ت ش د ح ط! ايش إ س إ ف
ة زا إ
"lbDraanhimsedseunnggagnuhmneyma buatwusaakna-buatursgaenmKbairam,i m(meraelkaaikmate-mngaulaciakaptk)ante:"laSheladmataatn."gkIberpaahdima
menjawab: "Selamatlah," maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging
anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak
menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut
kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami
adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Dan isterinya berdiri
(dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira
tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub. Isterinya
berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku
adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam yang sudah tua pula?.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (QS. Huud: 69-72)
Ayat yang sama terdapat dalam surat al-Hijr ayat 51-54 dan surat adz-
Dzariyat ayat 24-30 yang menjelaskan tentang anak yang halim. Sebagian
berpendapat bahwa Ishak adalah anak yang dikorbankan kemudian diganti dengan
sembelihan besar, juga menjelaskan tentang anak yang sabar dalam firman-Nya
pada surat Shaffat { ه و ت شث }dengan alasan bahwa ayat pertama dan terakhir
yang terkait dengan tema tersebut menunjukkan hal itu.
Adapun yang pertama, maka Allah Ta'ala menceritakan tentang Ibrahim
as.Yang berkata: س إ ةا
"Saya akan pergi menemui Tuhanku."
Mereka sepakat bahwa yang dimaksud oleh Ibrahim adalah kepergiannya ke Syam.
Lalu firman Allah selanjutnya: ش
Dan kami gembirakan ia dengan (kelahiran) anak yang sabar." Sehingga
anak yang dimaksud pada ayat ini tidak lain adalah Ishak. Lalu ayat berikutnya:
ان ي غ
"Ketika ia sampai pada masa sanggup." Maksudnya adalah anak yang mencapai
pada usia sanggup (berusaha) adalah anak yang lahir di Syam. Sehingga ayat
tersebut menunjukkan bahwa korban yang akan disembelih itu adalah Ishak.
Adapun dalil pada ayat terakhir adalah, bahwa ketika Allah Ta'ala
menyempurnakan kisah penyembelihan, Ia berfirman: ان ي كت ش
"Dan Kami gembirakan Ia dengan Ishak, sebagai nabi dan termasuk orang-
orang yang saleh." Artinya bahwa Allah menggembirakannya sebagai nabi dan dari
kalangan orang-orang yang saleh. Berita gembira ini disebutkan setelah kisah yang
menunjukkan bahwa Allah Ta'ala memberinya berita gembira karena beratnya ujian
yang ia terima pada kisah penyembelihan.
Setelah memaparkan pendapatnya tentang sosok yang disembelih, al-Fakr
mengatakan, bahwa az-Zujaj berkata, "Hanya Allah yang tahu siapakah di antara
keduanya sebagai korban."
Tentang Ismail as., disebutkan dalam beberapa ayat berikut ini:
1) Ibrahim as. Memuji Tuhannya setelah diberikan padanya seorang anak yang
shaleh dan saudaranya, Ishak. Firman-Nya:
ان ع س إ ق إ إ ش ن ة زا ل
"Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua
(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar
(memperkenankan) do'a." (QS. Ibrahim: 39)
2ke) mJaatwiaanbnayna,a"Anapka-ayannagk aYkaa'nqukbaliaans.sSeamabt aiha sbeesrutadnayhakuk?e" pada mereka menjelang
ا ا إ ق إ إ ىإتشا آ إ إ ن ا ي ي إ خ ا م ب ش إ ا ى و
ي
"Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata
kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka
menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu,
Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk
patuh kepada-Nya". (QS. Al-Baqarah: 133)
3) Perintah yang disampaikan kepadanya agar beriman kepada Allah dan percaya
kepada apa yang Ia turunkan berupa syariat dan kitab-Nya. Firman-Nya:
ىس ي ان ي ي ي ط م ب ق إ إ ىإتشا إ ض ي إ ض ي ل آي ا
ي ىي شق
"Katakanlah (hai orang-orang mu'min): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang
dYiatu'qruunbkdaannkaenpaakdacukcaumnyi,ad, adnanaappaayyaannggd ditibuerurinkkaannkkeeppaaddaaMIbursaahidma,nIsIsmaas'iel,rtIashaapqa,
yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan
seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. Al-
Baqarah: 136)
4) Pengingkaran Allah Ta'ala terhadap kaum Yahudi dan Nasrani atas apa yang
mereka yakini bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak dan Ya'qub dan keturunannya adalah
Yahudi atau Nasrani, disertai teguran Allah atas pengakuan itu dan kesepakatan
mereka atas hal itu:
ي ي ج ى ي ظ ى ي ى ى س ا ا ط ا م ب ق إ إ ىإتشا إ م و
"Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa
Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi
atau Nasrani?" Katakanlah: "Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan
siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari
Allah[1] yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu
kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 140)
5) Pemberitahuan dari Allah Ta'ala kepada nabi-Nya, Muhammad saw. dan
umatnya, bahwa wahyu yang Ia turunkan kepadanya sama dengan wahyu yang Ia
turunkan kepada para nabi sebelumnya. Sebagaimana firman-Nya:
س ب ط م ب ق إ إ ىإتشا إ ي ان إ إ إ
ص سا ا آ
"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah
memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah
memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya,
'Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada
Daud." (QS. An-Nisaa: 163
6) Pemberian Allah Ta'ala kepada Ibrahim as berupa nikmat yang dikaruniakan
kepada-Nya di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman-Nya:
"Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya
masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah
Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud,
Sulaiman, Ayyub, Yusuf , Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-An'am: 84)
7) Penjelasan tentang kedudukan nabi Ishak as. di dalam agama ini, kebaikan dan
ketinggiannya sebagai nabi. Ini disampaikan yAallnagh bTaai'ka.laF mirmelaanlu-Ni yYaa:' qub kepada
putranya Yusuf as., sebagai hasil dari mimpinya
"Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya
kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni'mat-Nya
kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan
ni'mat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak.
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf: 6)
Dan apa yang kemudian disampaikan nabi Yusuf kepada dua orang penghuni
penjara bahwa dirinya adalah pengikut agama ayahnya, dari keluarga kenabian dan
Tauhid. Firman-Nya:
"Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tiadalah
patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang
demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia
(seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya)." (QS. Yusuf: 38)
Dan beberapa ayat lain terkait dengan pujian Allah Ta'ala kepada Ishak as., tentang
derajat kenabian dan kebaikannya, juga terdapat dalam surat Maryam ayat 49 dan
50,surat al-Anbiya ayat 72, surat al-Ankabut ayat: 27, dan surat Shad.
Secara ringkas, al-Qur'an al-Karim berbicara tentang nabi Ishak as. dalam beberapa
point berikut ini:
a- Berita gembira yang disampaikan malaikat kepada kedua orang tuanya, Ibrahim
dan Sarah, ketika mereka sudah memasuki usia senja.
b- Pujian dan rasa syukur Ibrahim atas karunia yang Allah berikan kepadanya saat
memasuki usia tua berupa anak yang shaleh.
c- Berita kenabian Ishak, kesalehan dan kekuatannya dalam taat kepada Allah serta
keselamatan bashirahnya dalam agama ini.
d- Bahwa dia adalah anak yang dikorbankan sebagaimana diriwayatkan beberapa
ulama.
Wa Allah a'lam...
Kisah di dalam Al-Qur'an al-Karim tentang nabi Ishak as.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang
termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas
tIeshrhaaqd. aDpadnirdiniaynatasreanadniriadkecnugcaunnynayaatdaa." y(QanSg. berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim
Ash-Shaffat: 112-113)
Berita gembira itu disampaikan oleh malaikat kepada Ibrahim dan Sarah ketika
mereka mampir di rumahnya dalam perjalanan menuju Madain untuk
menghancurkan kaum nabi Luth karena dosa dan kejahatan yang mereka lakukan.
Penjelasan secara detail akan dibahas berikutnya, Insya Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
ا ح ىي ىش إ ى س ! ز َ ي ا ش ت ىإتشا س خ م
زا ص د ! م ب قإ سا ي ق ش د ح ط ! ايش إ س إ ف
ي ا د ى ش حس يش ي ا ! ة زا إ
"Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datangkepada
lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan:"Selamat." Ibrahim
menjawab: "Selamatlah," maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging
amneankjamsaaphinyyaa, nIgbradhiipmanmggeamnagn. daMnagkaanetahtkpaelarbudailtiahnatnmyaeretkaan,gdaann mmeerreaksaa ttaidkaukt
kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami
adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth." Dan isterinya berdiri
(dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira
tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub. Isterinya
berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku
adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua
pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." Para malaikat itu
berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat
Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah
Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." (QS. Huud: 69-73)
Firman-Nya: kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim[ 2] Ketika mereka
"Dan kabarkanlah
masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan, "Salaam". Ibrahim, "Sesungguhnya
kami merasa takut kepadamu". Mereka berkata, "Janganlah kamu merasa takut,
sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang)
anak laki-lak i (yang akan menjadi) orang yang alim. Berkata Ibrahim, "Apakah kamu
memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara
bagaimanakah (terlaksananya)berita gembira yang kamu kabarkan ini?" Mereka
menjawab, "Kami menyampaikan ka bar gembira kepadamu dengan benar, maka
janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa". Ibrahim berkata: "Tidak
ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang
sesat". (QS. Al-Hijr: 51-56)
Firman-Nya:
"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu
malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya
lalu mengucapkan: "Salaamun". Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu) adalah
orang-orang yang tidak dikenal." Maka dia pergi dengan diam-diam menemui
keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya
kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: "Silahkan anda makan."(Tetapi mereka tidak
mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata:
"Janganlah kamu takut", dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan
(kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemudian isterinya datang memekik lalu
menepuk mukanya sendiri seraya berkata: " (Aku adalah) seorang perempuan tua
yang mandul." Mereka berkata: "Demikianlah Tuhanmu memfirmankan"
Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Adz-
Dzariyat: 24-30)
Allah Ta'ala menyebutkan bahwa malaikat itu –ada yang berkata bahwa
jumlah mereka 3; Jibril, Mikail dan Israfil-, ketika mampir di rumah Ibrahim, mereka
pun dijamu sebagai tamu. Ibrahim lalu menyembelih daging anak sapi yang gemuk
dari sapi terbaik miliknya. Ketika ia mendekatkan makanan itu kepada mereka,
thearkniykaattanyma etriedkaak tbiduatukhtammapkaaknt.erHtaarlikituunmtuekmmbeumatakIbarnanhyima. Kmaerreansaa mtaaklauitkakteppaaddaa
mereka:
"Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang
aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata:
"Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus
kepada kaum Luth." (QS. Huud: 70)
Maksudnya, kami akan menghancurkan mereka. Berita tersebut membuat
Sarah gembira sebagai bentuk luapan amarahnya terhadap prilaku kaum nabi Luth.
Saat itu ia sedang berdiri di hadapan para tamunya sebagaimana yang biasa
dilakukan masyarakat Arab dan lainnya. Ketika ia tertawa gembira mendengar berita
tersebut, Allah Ta'ala berfirman:
"Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan
kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir
puteranya) Ya'qub". (QS. Huud: 71)
Maksudnya, malaikat menyampaikan kabar gembira tersebut kepada Sarah
hingga membuatnya terkejut dan gembira. Gembira karena ia akan mendapatkan
seorang anak, dan terkejut karena ia dan suaminya, Ibrahim sudah memasuki usia
senja.
"Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak
padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan
yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu
adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait!
Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." (QS. Huud: 72-73)
Ibrahim as. juga terkejut campur senang mendengar berita gembira tersebut:
Berkata Ibrahim: "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku
telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlak sananya) berita gembira yang
kamu kabarkan ini?" Mereka menjawab: "Kami menyampaikan kabar gembira
kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-rang yang berputus
asa". (QS. Al-Hijr: 54-55)
Bkeesriatabagreamn bdiaran itkuejaudjuarlaanh jIasnhjainkyaass. eSbeaograainmgaannaadkigyaamngbacrekradnasAdllaahn dTiak'eanlaa.l Fdiermngaann-
Nya: م ب ق إ سا ي قت ش ث
"Dan Kami gembirakan ia dengan Ishak, dan di belakang Ishak (lahir) Ya'qub." Inilah
yang dijadikan dalil oleh Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi dan lainnya bahwa putra
Ibrahim yang hendak dikorbankan itu adalah Ismail as. Karena Ishak tidak mungkin
diperintahkan untuk disembelih setelah datangnya berita gembira tersebut tentang
keberadaan dirinya dan akan lahirnya Ya'qub sebagai putranya. Maka firman Allah
Ta'ala di atas menjadi bukti bahwa Sarah mendengar dengan seksama akan
lahirnya seorang anak bernama Ishak, dan setelah itu lahir Ya'qub sebagai putra
Ishak.
Firman-Nya: م ب قإ ث
"Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya
masing-masing telah Kami beri petunjuk." (QS. Al-An'aam: 84)
ب ق إ ث ي ث ي رض ىا
"Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka
sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya'qub. Dan masing-
masingnya Kami angkat menjadi nabi". (QS. Maryam: 49)
Kedua ayat di atas adalah bukti yang sangat kuat dan didukung oleh hadits
Rasulullah saw. dalam Shahikhaeni (hadits Bukahri dan Muslim) dari Sulaiman bin
Mahran al-A'masy, dari Ibrahim bin Yazid at-Taemi dari ayahnya berkata, dari Abu
Dzar berkata:
: د " " : أ ى : د شاو ن " : ع ي أ … س
ي ج ان دس ى" : ى : د "ح " ست: ت ى
"Saya bertanya kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah, masjid apakah yang
dibangun pertama kali?." Beliau berkata, "Mesjid Haram, lalu majid Aqsha." Saya
bertanya, "Berapa (lama) antara keduanya?" Beliau menjawab, "Empat puluh
tahun." Saya bertanya, "Kemudian masjid apa?" beliau menjawab, "Kemudian
dimana pun engkau berada saat tiba waktu shalat, maka shalatlah, karena semua itu
adalah masjid[3]".
Menurut Ahli Kitab, Ya'qub as. adalah nabi yang membangun masjid Aqsha, mesjid
Elia di Baitul Maqdis. Apa yang kita sebutkan ini sejalan dengan hadits Rasulullah
saw.
Dengan demikian, bangunan yang didirikan oleh nabi Ya'qub as. –Israil- terjadi
setelah empat puluh tahun sebelum berdirinya masjid haram yang dibangun oleh
Ibrahim dan putranya Ismail. Pembangunannya mungkin saja setelah Ishak lahir.
Karena Ibrahim as. Pernah berdoa kepada Allah Azza wa Jalla:
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah),
negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah
berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan
kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai
aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS.
Ibrahim: 35-36)
Dalam hadits Rasulullah saw. juga disebutkan bahwa ketika Sulaiman bin Daud as.
membangun Bait al-Maqdis, ia memohon kepada Allah Ta'ala tiga hal, sebagaimana
firman-Nya:
"yIaIangb erktiadtaak: "YdiamiTlikuih anokleuh, asmeopruannilga h jaukaup undans esaunduaghekrua,hkasnelsauhngkgeuphandyaaku Eknegrkaajaualanh
Yang Maha Pemberi". (QS. Shaad: 38)
Sebagaimana yang akan kami jelaskan pada kisah nabi Sulaiman, maksud ayat ini
adalah –waLlahu a'lam- bahwa Nabi Sulaiman as. memperbaharui bangunan
tersebut sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa rentang masa pembangunan
kedua mesjid tersebut adalah 40 tahun. Dan tidak ada yang mengatakan bahwa
rentang masa antara Sulaiman dan Ibrahim adalah 40 tahun selain Ibnu Hayyan,
walau sebagian besar ulama tidak sepakat dengannya.
Cerita Nabi Ishaq
Sebuah cerita islami yang mengulas tentang cerita nabi ishaq, Seperti yang pernah
diceritakan pada cerita sebelumnya, yaitu mengenai cerita Nabi ismail yang merupakan anak
Nabi Ibrahim dari istri keduanya yang bernama siti hajar. Setelah dikaruniai anak dari siti
hajar oleh Allah SWT, Nabi Ibrahim berdoa memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa agar
dikaruniai anak dari istri pertamanya yang bernama Siti Sarah. Yang merupakan istri yang
selalu setia bersamanya dalam menegakkan kalimatullah. Allah pun mendengar dan
mengabulkan doa dari hamba yang dikasihinya tersebut, kemudian mengurus beberapa
malaikat dalam wujud manusia untuk menyampaikan kembar gembira kepada Nabi Ibrahim
bahwa akan lahir seorang anak dari istri pertamanya yaitu Siti Sarah. Selain kabar itu,
malaikat juga memberitahu bahwa mereka juga akan pergi mendatangi kaum Nabi Luth
untuk menajtuhkan azab kepada kaum yang sesat dan kembali kepada jalan Allah.
Saat beberapa malaikat itu mendatangi Nabi Ibrahim, tentunya Nabi Ibrahim menyambut
para malaikat itu dengan sangat baik serta mempersilahkan mereka untuk duduk di ruang
tamu, lalu ia pun segera menyiapkan jamuan makan untuk para malaikat itu. Nabi Ibrahim
merupakan hamba Allah yang selalu memuliakan tamu, selain itu ia juga merupakan orang
yang dermawan. Beberapa saat kemudian, suami istri sarah ini datang daging anak saping
gemuk yang telah dipanggang lalu menghidangkan kepada tamunya tersebut. Meski telah
djaihmiduaanngykaanngmtealakahndaisnajdikaann molienhu mNaanbi yIbarnaghimle.z aTte, nntuanmyuanhamleitruekmaemtidbaukatmNaakbainIbdraahnimmitnaukmut
terhadap tamu tamunya itu, kemudian para malaikat itu menenangkan dan member tahu
siapa mereka dan menyampaikan kabar gembira bahwa akan lahir seorang anak yang alim.
Cerita Nabi Ishaq- Pada saat yang bersamaan, istri Nabi Ibrahim mendengar pembicaraan
antara malaikat dengan Nabi Ibrahim. Ia pun datang menghampiri mereka dengan
keheranan terhadap kabar yang mereka bawa. Ia bingung bagaimana mungkin ia akan
melahirkan, padahal ia merupakan wanita yang telah tua dan juga mandul, saat itu usianya
telah mencapai 90 tahun. Sementara itu suaminya juga telah berusia lanjut. Hal tersebut
juga tertulis dalam Al Qur an yang berbunyi sebagai berikut
Istri berkata : “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku
adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?
Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh” (Qs. 11 : 72)
Maka malaikat pun berkata ; mereka berkata “Demikianlah Tuhanmu memfirmankan”,
sesungguhnya Dialah yang maha bijaksana lagi maha mengetahui” (QS 51 : 30)
Mendengar berita itu, Nabi Ibrahim as pun menjadi tenang dan berbahagia, mereka sangat
bersyukur kepada Allah SWT atas adanya kabar tersebut. Sebagaimana yang telah
difirmankan dalam Al Qur an
“dan ingatlah hamba-hamba kami : Ibrahim, Ishaq, dan Ya‟qub yang mempunyai perbuatan
perbuatan yang besar dan ilmu ilmu yang tinggi. Sesungguhnya kami telah mensucikan
mereka dengan (menganugrahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu
mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi kami
benar-benar termasuk orang-orang pilihanyang paling baik (QS : 38 : 45 – 47)
Dan yang dinanti-nantinya ternyata akan tiba. Selang beberapa waktu, maka datanglah apa
yang dinantikan itu, yaitu siti sarah melahirkan seorang anak yang kemudian diberi nama
Ishaq oleh Nabi Ibrahim as. Saat itu, usia Nabi Ibrahim as telah 100 tahun. Nabi Ishaq as
lahir empat belas tahun setelah kelahiran Nabi ismail as
Al Qur‟anul karim tidak menyebuatkan secara panjang lebar kisah Nabi isaq as, demikin
pula tentang kaum yang kepada mereka diutus Nabi Ishaq. Namuun Allah memuji Nabi
Ishaq as di beberapa tempat dalam al qur an, antara lain sebagai berikut :
“dan ingatlah hamba-hamba kami : Ibrahim, Ishaq, dan Ya‟qub yang mempunyai perbuatan
perbuatan yang besar dan ilmu ilmu yang tinggi. Sesungguhnya kami telah mensucikan
mereka dengan (menganugrahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu
mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi kami
benar-benar termasuk orang-orang pilihanyang paling baik (QS : 38 : 45 – 47)
Sementara itu dalam sabdanya, Nabi Muhammad saw juga memuji Nabi Ishaq as. :
“pyuatnegramYual‟iqaupbu,tpeurateyraanIgshmaqu,liap,upteurtaerIabryaahnimg ”m(Hulria. Bduaknhpauritedraanymanugslimmu)l ia adalah Yusuf
Ahli kitab menyebutkan bahwa Nabi Ishaq as ketika menikah dengan Rafqah binti batu‟il
saat ayahnya yaitu ibraim as masih hidup, saat itu usianya telah mencapai 40 tahun. Dan
istrinya juga sempat menjadi mandul seperti ibunya, maka Nabi Ishaq as pun berdoa
memohon kepada Allah untuknya, sehingga istrinya pun hamil dan melahirkan putera
kembar yang pertama bernama „Iishuu. Orang-orang arab menyebutnya „Ish; ia merupakan
nenek moyang dari bangsa romawi. Yang kedua bernama Ya‟qub. Disebut Ya‟qub kare ia
terlahir dalam keadaan memegang tumit saudaranya. Putra Ishaq yang bernama Ya‟qub
inilah yang nantinya menjadi Nabi dan rasul Allah dan Nabi Ya‟qub akan mendapat
keturunan yang banyak, di antaranya Nabi yusuf as yang menjadi menjadi Nabi dan rasul.
Dan dari Nabi Ishaq as inilah menurunkan Nabi-Nabi dari bani israil yang kemudian sampai
pada Isa as. Setelah Nabi isa as, kemudian diakhiri dengan Nabi muhammad dari keturunan
Nabi Ismai as.
Setelah Nabi Ishaq as menyeleseaikan tugasnya sebagai Nabi dan rasul utusan Allah, ia
meninggal dunia pada usia 180 tahun dan dimakamkan di Jirun, yang saat ini menjadi kota
yang bernama Madinah.
Itulah ulasan mengenai cerita Nabi Ishaq as, tentang asal usul, kehidupan, dan
kesabarannya. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerita Nabi di atas. Aamiin.
NABI YAAKUB
Pada suatu hari, Yaakub pergi menemui bapanya, iaitu Nabi Ishak, yang ketika itu sudah
sangat tua, sudah berkedutan kulitnya dan bongkok pula. Yaakub berkata kepada bapanya:
Ya, bapaku! Aku datang mengadu tentang kedengkian saudaraku sendiri, dengan harapan
agar dia dinasihati dan diajari oleh bapa. Sejak aku dipelihara bapa baik baik, bapa selalu
mendoakan agar aku mendapat berkat, menjadi keturunan bapa yang baik, menjadi raja
yang turun temurun, dengan penghidupan yang bahagia. Sejak itulah saudaraku bukan main
dengkinya, dengan kerlingan matanya. Bahkan kadang kadang saya dihinanya, diancamnya
dengan berbagai bagai ancaman, sehingga putuslah tali kasih dan pensaudaraan antara kami
berdua, hilang samasekali rasa kasih dan sayang.
Lebih lebih lagi, saya merasa tidak tahan disombonginya selalu dengan dua orang isterinya
yang cantik yang berasal dari Kanan itu, dengan anak anaknya yang banyak, sedang saya
tidak mempunyai isteri dan anak, dan tiada pula harta yang banyak.
Aku adukan semua keluhanku ini kepada bapa, agar bapa dapat menetapkan hukum antara
saya dan dia, dengan hukum yang baik, karena bapa selalu mendapat wahyu dari Allah,
sentiasa mempunyai pemandangan dan fikiran yang dalam.
Mendengar pengaduan dan keluhan itu, Nabi Ishak lalu menjawab: Aku sedih mendengar
ceritamu itu, hai anakku, sedang aku sudah begini tua pula, lihatlah janggutku yang putih,
kulitku yang berkedutan, aku sudah sangat tua dan tidak kuat lagi dan tidak lama lagi aku
terpaksa mengucapkan selamat tinggal kepada dunia ini seluruhnya. Alangkah sedihnya aku,
kalau mati dalam kesedihan atas ceritamu itu. Dan alangkah sedihnya aku, sekiranya aku
mati, dan kamu tidak berbaik bersaudara.
Aku nasihatkan kepadamu agar engkau berangkat saja ke negeri Faddan Aram di Irak,
dimana tinggal bapa saudar engkau sendiri yang bernama Laban bin Batwail. Kawinlah
dengan salah satu dari anak perempuannya, insya Allah engkau akan mendapat kesenangan
dan kebahagiaan. Kemudian kembalilah engkau ke negeri ini (Syam). Aku doakan engkau
dapat mengatasi ejekan saudara engkau, dan mendapat keturunan yang lebih baik dari
keturunan dan anak anaknya. Mudah mudahan Allah akan memelihara dan menjaga engkau
dan rakyatmu!
Nasihat bapanya itu masuk dalam hatinya, dan dapat menenangkan jiwanya yang sedang
gelisah itu. Dia akan menuju ke negeri Faddan Aram, iaitu negeri nenek moyangnya sendini.
Lalu dia mengucapkan selamat tinggal kepada bapanya yang sudah sangat tua itu, serta
mendoakannya kepada Allah, mudah mudahan Allah akan memanjangkan umun beliau,
memelihara beliau dari segala bencana.
Yaakub mulailah menempuh Padang Sahara yang luas dan tandus dengan berjalan kaki,
siang dan malam tidak henti hentinya, menuju ke tempat yang ditunjukkan bapanya itu.
Setiap kali dia diserang kepenatan dan letih, diserang lapar dan kesusahan, teringatlah dia
akan cita cita dan harapan yang diberi bapanya kepadanya sebelum berangkat sehingga
hilanglah susah dan payahnya dan dia terus berjalan.
Pmaedmaasnudataungh,amri,adtaihsaartui mteemnypianta, rdiibtuenmgiadhetnegnagnahsinpaadr acnahgapyaasyiraynagnsganlugaastspaaunjaasn,asmehaitnagga
pasir pasir itu menjadi api layaknya, angin yang mendinginkan badan sekarang berganti
menjadi bertambah panasnya badan.
Nabi Yaakub seakan akan tidak kuasa lagi melangkahkan kakinya, sedang di hadapannya
terbentang padang pasir yang luas dan tandus. Di situlah dia merasakan benar akan
susahnya berjalan, haus dan lapar yang tidak terhingga, sehingga dia terhenti dari
melangkah, menimbang dengan mengukuh kekuatan yang ada padanya, apakah dia sanggup
meneruskan penjalanan yang maha penat itu, ataukah dia akan terpaksa kembali pulang?
Dalam dia menenung demikian rupa, terlihat olehnya sebuah batu besar yang mempunyai
sedikit bayang lindungan cahaya matahari yang sedang terik. Dia hampiri batu besar itu, lalu
duduk berhenti di bawah naungan itu untuk melepaskan lelah, mendinginkan kakinya yang
sudah panas dan letih itu, lantas dia tertidur senyenyak nyenyaknya.
Dalam tidun sejenak itulah datang kepadanya mimpi yang benar, merupakan wahyu yang
pentama dari Allah yang nupanya telah mengangkat dia sebagai NabiNya. Dalam mimpi itu
Allah ilhamkan ke dalam hatinya, bahawa dia akan menemui hidup bahagia, akan mendapat
kerajaan yang besar, keturunan yang baik yang akan turun temurun menguasai bumi, yang
akan mendapat Kitab dari Allah sebagai Nabi dan Rasul Allah.
Setelah terjaga dari tidurnya itu, bukan main lapang dadanya, kembali kekuatannya yang
sudah hilang, terbentang di hadapannya padang harapan yang luas seluas luasnya. Dia
langkahkan kakinya menuju tempat yang dicita citakannya dengan kekuatan baru.
Beberapa hari kemudian, sampailah dia di suatu tempat bernama Sawadimah, iaitu dusun
pertama termasuk negeri yang didiami oleh bapa saudaranya Syeikh Laban.
Sudah ternyata benar, bahawa memang itulah tempat yang ditujunya, hatinya menjadi
bertambah senang, hilang rasa penat selama ini. Mulailah tampak olehnya padang rumput
tempat pemeliharaan kambing, pepohon kayu yang rendang rimbun, dimana burung burung
bersarang, bahkan mulailah terdengar oleh telinganya nyanyian anak anak pengembala.
Dia rupanya sudah tidak di Padang Sahara yang tandus lagi, tetapi sudah berada di sebuah
daerah yang penuh dengan manusia, ternakan dan tanam tanaman, iaitu kampung bapa
saudaranya yang dicari carinya. Di situ pulalah dahulunya nenek moyangnya yang bernama
Nabi Ibrahim mula mula sekali menerima wahyu dan pangkat kerasulannya. Nabi Yaakub
lalu sujud ke bumi menghantarkan syukur kepada Tuhan, yang sudah menunjuki dia jalan
sampai ke sana, yang telah menurunkan nikmat dan hidayatNya.
Mulailah dia bertanyakan kepada orang orang yang dia jumpai, kalau kalau orang itu kenal
kepada Laban bin Batwail, bertalian kerabat pula dengan ayahnya sendiri, Nabi Ishaak,
Rasul Allah. Setiap orang yang ditanyainya itu kenal kepada nama itu kerana memang
Syeikh Laban itulah yang menjadi ikutan ummat di tempat itu, yang mempunyai padang
padang rumput dan kambing kambing yang berkeliaran di atasnya, yang menguasai banyak
kebun dan tanam tanaman.
Ketika Yaakub bertanya. siapa di antara mereka yang dapat mengantarkannya ke rumah
Syeikh Laban itu, mereka menunjuk kepada seorang anak perempuan yang menjaga
skeanmdbirini.gnya dan berkata: Inilah dianya Rahil, anak perempuan dari Syeikh Laban itu
Baru saja Nabi Yaakub melihat wajah anak gadis itu, hatinya berdebar digerakkan asmara,
kerana gadis itu memang cantik paras rupanya. Lidahnya seakan akan tenpaku tidak dapat
berkata. Tetapi lekas ditahannya dengan kekuatan batinnya sehingga tidak lama kemudian
dia dapat bersuara dan bertanya kepada anak perempuan itu: Antara saya dengan engkau, ya
Rahil, ada pertalian kekeluargaan yang sangat dekat. Sayalah Yaakub anak Ishak al-Rasul,
ibu saya Rifakah anak perempuan dari nenek engkau yang bennama Batwail. Saya datang ke
mari dari negeri Kanan merenhtas Gurun Sahara yang tandus. Kedatanganku ke mari adalah
dengan tujuan dan maksud mulia, lagi suci.
Setelah gadis Rahil mengucapkan selamat datang kepada Yaakub, keduanya lalu berjalan
beriringan menuju ke rumah yang dituju. Dalam penjalanan itu, Yaakub telah merasakan
sbeabhaahwaagigaandnisikymanagt dyaiinrigndgikjaannnjiykaanituTluahhabnadkaallatmemmainmhpiidnuypan, ykaarseenbaagsauidyaahntgiddaikansjyuarkkalangio,leh
bapanya sendiri.
Hatinya berdebar debar kegembiraan, tetapi ditahannya dengan kekuatan yang ada
padanya, sehingga dia dapat berjalan dengan tenang. Akhinnya sampailah keduanya ke
rumah Laban, pamannya sendiri. Lama keduanya berpelukan setelah berjumpa, kerana
sudah sama sama rindu ingin berjumpa satu sama lain. Mata Yaakub penuh dengan airmata
kegembiraan. Kepadanya diberi tempat yang sebaik baiknya, diterima dengan segala
hormat.
Setelah habis penat dan lelahnya, Yaakub lalu menerangkan pesanan ayahnya kepada
pamannya itu, pesan untuk menerima dirinya sebagai menantu dari pamannya.
Ditegaskannya pula, bahawa dia sudah melihat akan Rahil, dan Rahil sudah mengambil
tempat yang istimewa dalam hatinya itu. Diharapkannya agar pamannya memperkenankan
anaknya itu dijadikan isterinya.
Semua itu didengarkan Laban dengan penuh perhatian. Dan setelah Yaakub habis berbicara,
dengan tegas dijawabnya bahawa permohonan Yaakub itu diterima seluruhnya dengan
segala senang hati, tetapi dengan syarat bahawa Yaakub harus tinggal di kampung itu selama
tujuh tahun untuk mengembala kambing kambingnya sebagai mahar perkawinannya.
Syarat yang dikemukakan itupun diterima oleh Yaakub. Dan sejak hari itu tenanglah
hatinya, ia tetap tinggal di situ mengembalakan kambing dengan cita cita yang sudah hampir
tercapai.
Adapun Rahil itu ialah anak perempuan Laban yang paling kecil. Ia mempunyai kakak, Laiya
namanya. Sekalipun cantik rupanya dan perangainyapun baik pula, namun kakaknya ini
tidaklah secantik adiknya.
Sudah menjadi syariat (adat yang tak boleh dilanggar) bagi penduduk kampung itu, tidak
akan mengawinkan anaknya yang kecil dahulu sebelum anak yang besar dikawinkan. Laban
tidak mahu melanggar kebiasaan ini, tetapi dia tidak mahu menghalangi cita cita Yaakub
untuk kawin dengan Rahil. Setelah difikirkannya masak masak, maka tidak ada lain jalan
yang dapat ditempuhnya, kecuali menyerahkan kedua anak penempuannya itu kepada
Yaakub untuk dijadikan isterinya, kerana hal yang demikian tidaklah terlarang menurut
syariat yang ditentukan Allah di saat itu. Setelah memperoleh cara yang demikian, lalu
Yaakub dipanggilnya dan benkata: Hai anakku, sudah menjadi syariat di negeri ini, bahawa
ssaekyaaltiapkundakpuartamngencaiknatihkknaynamduardipenadgaanRaanhailk, kteutaypani tgidkaekclial hsekbuerluanmgypaenrganbgeasiadr aknawakina.lnLyaaiy. a
Sebab itu ambillah Laiya sebagai isteri mu dengan mahar yang tujuh tahun itu, dan bila
engkau ingin juga kawin dengan Rahil, harus ditambah maharnya tujuh tahun lagi
mengembalakan kambing di sini.
Yaakub menerima baik akan putusan pamannya itu. Setelah tujuh tahun lamanya dia
mengembalakan kambing di situ, lalu kawinlah dengan Laiya; dan setelah berlangsung tujuh
tahun lagi dia mengembalakan kambing, lantas kawin lagi dengan Rahil.
Kepada masing masing anak perempuannya yang telah kahwin itu, diberi oleh Laban
seorang perempuan (Jariah) untuk mengurus segala keperluan masing masing. Tetapi
akhirnya Yaakub tertarik pula hatinya terhadap kedua orang Jariah tadi, sehingga
dikawinnya pula.
Dari keempat isterinya itu, iaitu Laiya, Rahil dan dua orang Jariah, Nabi Yaakub mempunyai
dua orang anak, yang semua mereka itu umumnya disebut al-Asbat. Mereka itu ialah:
Rawbin, Syamun, Lawi, Yahuza, Yasakir dan Zabulon yang kesemuanya itu dari Laiya; Yusuf
dan Bunyamin dari Rahil; yang bernama Dan dengan Naftali dari Jariah Rahil; Jad dan Asin
dari Jariah Laiya. Semuanya lahir di kampung Faddan Aram, kecuali Bunyamin yang lahir di
Kanan.
Biodata ringkas
Nama 25 orang itu hanyalah yang nama mereka disebutkan secara istimewa di dalam Al-Quranul
Karim. Terdapat beberapa catatan, rajah dan analisa oleh para pengkaji sejarah tentang anggaran
masa hidup para nabi, lokasi di mana mereka tinggal dan beberapa keterangan lain yang dicungkil
berdasarkan keterangan, baik dari Al-Quranul Karim, As-Sunah An-Nabawiyah ataupun fakta-fakta
sejarah.
.
Berikut adalah senarai para nabi dan biodata peribadi mereka masing-masing :
Nabi Ishaq
Nabi Ishaq bin Ibrahim Azar bin Nahur dari keturunan Sam bin Nuh. Dianggarkan Baginda hidup
pada tahun 1897-1717 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1800 SM. Baginda ditugaskan
berdakwah kepada Kan’anniyun di wilayah Al-Khalil Palestina. Nama Baginda disebutkan sebanyak
17 kali di dalam Al-Quran. di dalam Al-Quran mempunyai 2 anak dan meninggal di Alkhalil Hebron,
Palestina.
Adalah anak kandung Nabi Ibrahim melalui perkahwinan dengan Siti Sarah. Baginda diutus oleh
Allah di negeri Kan'an untuk menyembah Allah, mengajarkan tauhid, menyuruh membayar zakat,
berpuasa dan menunaikan haji. Nabi Ishaq berkahwin dengan Rifka dan mendapat anak kembar iaitu
ish dan Ya'kub. Nabi Ishaq wafat dalam usia 170 tahun dan dimakamkan di Baitul Maqdis daerah
Palastin.
Nabi Ya’qub
Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Dianggarkan Baginda hidup pada tahun 1837-1690 SM dan
diangkat menjadi nabi pada tahun 1750 SM. Baginda ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di
Syam. Nama Baginda disebutkan sebanyak 16 kali di dalam Al-Quran dan mempunyai 12 anak.
Baginda wafat di Alkhalil Hebron, Palestina.
Diutus oleh Allah SWT di negeri Kan'an kerana penduduknya telah ramai menyembah berhala. Nabi
Ya'kub mengajar kaumnya supaya menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Baginda wafat dalam
usia 148 tahun dan beliau mempunyai 12 orang anak lelaki.
Nabi Shaleh
Nabi Shaleh bin Ubaid bin ‘Ashif dari keturunan Sam bin Nuh. Dianggarkan Baginda Baginda hidup
pada tahun 2150-2080 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 2100 SM. Baginda ditugaskan
berdakwah kepada Kaum Tsamud yang tinggal di Al-Hijir. Nama Baginda disebutkan sebanyak 9 kali
di dalam Al-Quran dan wafat di Madain Shalih, Makkah.
Merupakan keturunan Sam bin Nuh yang diutuskan Allah kepada bangsa Tsamud disebelah selatan
Palastin. Kebudayaan mereka sudah tinggi tetapi mereka menyembah dewa dan patung, kemudian
Nabi Saleh menyuruh kepada mereka agar menyembah Allah, sebahagian besar bangsa Tsamud
menolak untuk memeluk agama Allah. Mereka ingkar kepada larangan Nabi Saleh. Pada hari pertama
muka mereka berwajah kuning, hari kedua menjadi merah,hari ketiga menjadi hitam, akhirnya
mereka disambar petir.
Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim bin Azar bin Nahur dari keturunan Sam bin Nuh. Baginda dfianggarkan hidup pada
tahun 1997-1822 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1900 SM. Baginda tinggal di
Kaldaniyyun, Ur, negeri yang disebut kini sebagai Iraq. Nama Baginda disebutkan sebanyak 69 kali
dalam Al-Quran dan wafat di Alkhalil, Hebron, Palestin.
Juga keturunan Sam bin Nuh yang diutuskan Allah kepada kaum Namrud di negeri Babilon lebih
kurang 4000 tahun sebelum Masehi. Kaum Namrud menyembah berhala bahkan akhirnya Namrud
menganggap dirinya sebagai Tuhan. Nabi Ibrahim juga menyerukan ajaran tauhid atau Islam kepada
mereka namun mereka tetap ingkar, akhirnya Allah mendatangkan kepada mereka tentera nyamuk
sebagai balasan, maka musnahlah kaum yang ingkar.