The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by YOLA FRANSISKA, 2023-05-14 11:52:31

Ekonomi Kemiskinan E Book Anyflip

Bahan ajar

Keywords: ekonomi kemiskinan

48 MENGUKUR KEMISKINAN & DISTRIBUSI PENDAPATAN Dampak Simulasi Kebijakan Terhadap Distribusi Pendapatan Rumah Tangga Tidak Miskin di Kota Dampak Simulasi Kebijakan Terhadap Distribusi Pendapatan Rumah Tangga Miskin di Kota Hal ini jug mengindikasikan terjadi ketimpangan dalam distribusi pendapatan k p=q, fungsi menjadi simetris, dengan kata lain tidak terdapat ketimpangan distribusi pendapatan. Dibuat sebuah skenario kebijakan yaitu pengurangan subsidi BBM secara bertahap hingga mencapai nol, kemudian skenario kedua pemberian BLT, dan ketiga adalah pengalihan subsidi BBM ke sektor pertanian tanaman pangan. Setelah dilakukan, skenario kebijakan 1 (pengurangan subsidi BBM secara bertahap hingga mencapai nol, diikuti dengan pemberian kompensasi ke rumah tangga miskin berupa BLT sebesar Rp100.000,- per bulan per rumah tangga miskin) untuk semua besaran simulasi tidak berdampak signifikan terhadap perubahan distribusi pendapatan. Hal ini ditandai dengan tidak bergesernya kurva hasil simulasi dari baseline-nya. Demikian halnya dengan skenario kebijakan II (pengalihan subsidi BBM sebesar pengurangan subsidi yang dilakukan pada skenario I ke sektor pertanian tanaman pangan) Berbeda dengan skenario kebijakan I dan II. skenario kebijakan II: (pengalihan subsidi BBM sebesar pengurangan subsidi yang dilakukan pada skenario I ke sektor pertanian tanaman lainnya) berdampak pada penurunan ketimpangan distribusi pendapatan. Dengan demikian, untuk kelompok rumah tangga tidak miskin di kota, di antara heliga skenario, hanya skenario kebijakan III (Simulasi 3 c) yang memberikan dampak terhadap pemerataan distribusi pendapatan. Tidak adanya dampak skenario I terhadap kelompok rumah tangga tidak miskin di kota disebabkan karena BLT hanya diberikan kepada rumah tangga miskin oleh sebab itu kelompok rumah tangga ini memang tidak mendapatkan BLT dari pemerintah karena tidak. termasuk kelompok rumah tangga miskin. Skenario 1 hanya berdampak terhadap penurunan tingkat pendapatan rumah tangga, namun penurunan tingkat pendapatan ini secara visual tidak berpengaruh terhadap distribsui pendapatan rumah tangga. Untuk skenario II, meskipun simulasi pengalihan subsidi BBM ke sektor pertanian tanaman pangan sebesar 43.2 persen (simulasi 2_b) dan sebesar 100 persen (simulasi 2_c) mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga seperti diperlihatkan pada Tabel 10.7, namun tidak cukup kuat untuk mempengaruhi distribusi pendapatan secara visual. Kebijakan mengurangi subsidi BBM diikuti dengan pemberian BLT kepada masy-


49 MENGUKUR KEMISKINAN & DISTRIBUSI PENDAPATAN arakat miskin di satu sisi mengurangi tingkat pendapatan dan memperparah tingkat kemiskinan, namun di sisi lain kebijakan ini dapat menurunkan tingkat ketimpangan distribusi pendapatan dalam kelompok. Jika dianalisis lebih lanjut diketahui bahwa dalam kelompok yang sama, rumah tangga dengan tingkat kapatan mendekati garis kemiskinan akan semakin miskin menjauhi garis kemiskinan sehingga tingkat pendapatannya relatif mendekati rumah tangga yang sebelumnya berada jauh dari garis kemiskinan Inilah yang menyebabkan distribusi pendapatan semakin merata dengan tingkat kemiskinan yang semakin parah. Semakin tinggi tingkat pendapatan rumah tangga di kota, sernakin besar pula aksesnya terhadap dampak yang diakibatkan oleh penurunan subsidi BBM. Dengan kata lain, rumah tangga dengan tingkat pendapatan lebih rendah akan lebih sedikit menggunakan barang-barang yang berhubungan dengan BBM seperti transportasi, dan lainnya. Sehingga kurva relatif bergeser ke kiri dengan tingkat distribusi yang lebih baik. Simulasi 1 c memberikan dampak paling besar diikuti oleh simulasi 1 b dan simulasi 1_a. Demikian halnya dengan skenario II walaupun dengan besaran dampak yang lebih kecil. Kecilnya dampak skenario Il ini disebabkan relatif sedikitnya masyarakat miskin di kota yang memiliki akses atau berkecimpung di sektor pertanian tanaman pangan. Sehingga, ketika pemerintah mengambil kebijakan memberikan subsidi ke sektor pertanian tanaman pangan (pengalihan dari subsidi BBM), hanya berdampak sangat kecil terhadap kelompok rumah tangga ini. Sebaliknya dengan skenario kebijakan III. Skenario ini justru memper parah ketimpangan distribusi pendapatan di dalam kelompok rumah tangga miskin di kota Dari simulasi 3 a hingga simulasi 3_c terlihat bahwa semakin besar tingkat subsidi BBM yang dialihkan ke sektor pertanian tanaman lainnya akan semakin besar pulla dampaknya terhadap kenaikan tingkat pendapatan dan ketimpangan distribusinya. Kebijakan yang dilakukan di satu sisi dapat menambah tingkat pendapatan rumah tangga sehingga menurunkan tingkat kemiskinan (bertambahnya tingkat) namun di sisi lain kebijakan ini juga mengakibatkan disparitas tingkat pendapatan yang semakin tinggi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dengan adanya kebijakan pemerintah mengalihkan subsidi BBM ke sektor Pertanian Tanaman Lainnya (seperti perkeliarangalakalan meningkatnya produksi sektor ini Peningkatan produksi akan dikuti dengan meningkatnya kegiatan industri tuturonnya seperti industri mebel, turunan minyak sawit dan Lainnya. Hal ini akan menciptakan lapangan kerja baru dan menambah penghasilan pag ut tinggal di kota, namun karena kesempatan kerja yang terbatas murskabatkan ketimpangan distribut pendapatan semakin meningkat


50 MENGUKUR KEMISKINAN & DISTRIBUSI PENDAPATAN Dampak Simulasi Kebijakan Terhadap Distribusi Pendapatan Rumah tangga Tidak Miskin di Desa Dampak Simulasi Kebijakan Terhadap Distribusi Pendapatan Rumah tangga Miskin di Desa Untuk kelompok rumah tangga tidak miskin di desa, skenario kebijakan I dan II untuk semua simulasi tidak berdampak signifikan terhadap perubahan distribusi pendapatan. Skenario kebijakan 1 hanya memberikan dampak terhadap penurunan tingkat pendapatan sesuai dengan hasil simulasi. Skenario kebijakan II, meskipun memberikan dampak perbaikan terhadap tingkat pendapatan rumah tangga, namun tidak cukup mempengaruhi distribusi pendapatan secara visual, namun skenario kebijakan III memberikan dampak terhadap perbaikan sitribusi pendapatan kelompok rumah tangga miskin di desa. Skenario kebijakan skenario kebijakan I memberikan dampak positif terhadap perbaikan distribusi pendapatan dalam kelompok. Namun disisi lain, kebijakan pemerintah mengurangu subsidi BBM diikuti dengan pemberian BLT kepada rumah tangga miskin berdampak pada pengurangan tingkat pendaparan rumah tangga dan menambah tingkat kemiskinan. Tapi disisi yang lain, kebijakan ini memiliki dampak terhadap pengurangan kesenjangan distribusi pendapatan pada kelompok rumah tangga miskin di desa. Berbeda dengan skenario I, skenario II justri memberikan dampak sebaliknya terhadap distribusi pendapatan pada kelompok rumah tangga miskin di desa. Sama halnya dengan skenario II, skenario III juga memberikan dampak yang sama, karena setelah dilakukan simulasi ketimpangan pendapatan semakin tajam. Ketimpangan ini terjadi karena peningkatan pendapatan rumah tangga yang tinggi akibat skenario kebijakan III. Dari ketiga skenario kebijakan yang telah dilakukan, skenario kebijakan 1 (pengurangan subsidi BBM secara bertahap hingga mencapai nol, diikuti dengan pemberian kompensasi ke rumah tangga miskin berupa BLT sebesar Rp100.000,- per bulan per rumah tangga miskin) untuk semua besaran simulasi tidak berdampak signifikan terhadap perubahan distribusi pendapatan. skenario kebijakan II: (pengalihan subsidi BBM sebesar pengurangan subsidi yang dilakukan pada skenario I ke sektor pertanian tanaman lainnya) berdampak pada penurunan ketimpangan distribusi pendapatan. Dengan demikian, untuk kelompok rumah tangga tidak miskin di kota, di antara heliga skenario, hanya skenario kebijakan III (Simulasi 3 c) yang memberikan dampak terhadap pemerataan distribusi pendapatan. Kebijakan mengurangi subsidi BBM diikuti dengan pemberian BLT kepada masyarakat miskin dikota, di satu sisi mengurangi tingkat pendapatan dan memperparah tingkat kemiskinan, namun di sisi lain kebijakan ini dapat menurunkan tingkat ketimpangan distribusi pendapatan dalam kelompok.


51 MENGUKUR KEMISKINAN & DISTRIBUSI PENDAPATAN Untuk kelompok rumah tangga tidak miskin di desa, skenario kebijakan I dan II untuk semua simulasi tidak berdampak signifikan terhadap perubahan distribusi pendapatan. Skenario kebijakan 1 hanya memberikan dampak terhadap penurunan tingkat pendapatan sesuai dengan hasil simulasi. Skenario kebijakan II, meskipun memberikan dampak perbaikan terhadap tingkat pendapatan rumah tangga, namun tidak cukup mempengaruhi distribusi pendapatan secara visual, namun skenario kebijakan III memberikan dampak terhadap perbaikan sitribusi pendapatan kelompok rumah tangga miskin di desa. Dampak simulasi kebijakan terhadap distribusi pendapatan rumah tangga miskin di desa, skenario kebijakan skenario kebijakan I memberikan dampak positif terhadap perbaikan distribusi pendapatan dalam kelompok. Berbeda dengan skenario I, skenario II justri memberikan dampak sebaliknya terhadap distribusi pendapatan pada kelompok rumah tangga miskin di desa. Sama halnya dengan skenario II, skenario III juga memberikan dampak yang sama, karena setelah dilakukan simulasi ketimpangan pendapatan semakin tajam.


MENGUKUR KEMISKINAN & DISTRIBUSI PENDAPATAN Penutup Dalam buku ini, kita telah membahas tentang pengukuran kemiskinan dan distribusi pendapatan, serta pentingnya memahami kedua konsep tersebut dalam konteks pembangunan sosial dan ekonomi suatu negara. Kita juga telah memperkenalkan berbagai metode pengukuran kemiskinan dan distribusi pendapatan. Dalam proses penulisan buku ini, kami menyadari betapa kompleksnya masalah kemiskinan dan distribusi pendapatan, serta berbagai faktor sosial, ekonomi, dan politik yang mempengaruhinya. Kami berharap buku ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang masalah kemiskinan dan distribusi pendapatan, dan memotivasi para pembaca untuk terlibat dalam upaya mengatasi masalah ini. Kami juga ingin menekankan bahwa pengukuran kemiskinan dan distribusi pendapatan hanyalah awal dari proses untuk mengatasi masalah tersebut. Diperlukan upaya yang lebih luas dan terintegrasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, LSM, akademisi, dan masyarakat umum untuk mengatasi masalah kemiskinan dan distribusi pendapatan secara efektif. Terakhir, kami berharap buku ini dapat memberikan kontribusi yang berguna bagi para pembaca yang tertarik dengan masalah kemiskinan dan distribusi pendapatan, serta menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi mereka yang ingin terlibat dalam upaya mengatasi masalah tersebut.


Masalah kemiskinan dan distribusi pendapatan merupakan isu penting dalam pembangunan sosial dan ekonomi suatu negara. Buku ini membahas tentang pengukuran kemiskinan dan distribusi pendapatan, serta memberikan pemahaman yang lebih baik tentang masalah tersebut. Dalam buku ini, para penulis memaparkan berbagai metode pengukuran kemiskinan dan distribusi pendapatan, serta membahas kelebihan dan kelemahan masing-masing metode. Para penulis juga memberikan contoh aplikasi dari berbagai metode pengukuran tersebut dalam berbagai negara, sehingga pembaca dapat memahami konsep tersebut secara lebih baik. Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami dan disajikan secara sistematis. Para pembaca yang tertarik dengan masalah kemiskinan dan distribusi pendapatan, termasuk para mahasiswa, akademisi, praktisi, dan masyarakat umum, dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang isu ini dari buku ini. Para penulis berharap buku ini dapat memberikan kontribusi positif dalam upaya mengatasi masalah kemiskinan dan distribusi pendapatan, serta menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi para pembaca yang ingin terlibat dalam upaya tersebut.


Click to View FlipBook Version