Pra moedya Ananta Toer sampingnya). KaHan telah awali pekerjaan ini, ya-ya-ya, hmm, hmm, hmm, tugas kalian juga untuk mengakhiri, ya-ya-ya. PANGERAN PURBAYA, TUMENGGUNGJAGARAGA, TUMENGGUNG PRINGGALAYA : (berbareng mengangkat sembah, membenarkan). IG AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, tentunya semua persiapan sudah sempurna. PANGERAN PURBAYA : (mengangkat sembah). Sempurna sebagaimana dititahkan oleh ayahanda baginda. KI AGENG PAMANAHAN : Cucunda Pangeran Purbaya, Wanabaya bukankah dikaruniakan kepadamu sebagai sembah-bakti dari seorang putra kepada ayahanda baginda? PANGERAN PURBAYA : (mengangkat sembah). Ampun, nenekanda, akan sahaya ini rasanya Ki Wanabaya terlalu besar sebagai sembah-bakti. Dia tak lain dari adik ipar sahaya sendiri. Karuniakan pada sahaya Klinting. Kalau tidak, apa akan kata sahaya kelak pada adinda Pambayun? K1 AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, hmm, hmm, hmm untuk ayahanda baginda, untuk Mataram Jaya, hmm, hmm, hmm, tak ada adik ipar, tak ada Pambayun. Yang ada hanya sembah-bakti, hmm, ya-ya-ya. PANGERAN PURBAYA : (memperlihatkan dua belah tangan pada Ki Ageng Pamanahan). Nenekanda yang mulia, tegakah nenekanda melihat tangan 'cucunda ini belumuran darah adik ipar sendiri ...... ? KI AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, di depan takhta, antara aku dan kau, hmm-hmm-hmm, hanya ada perbedaan umur. Ya-ya-ya, tugas telah dibagikan, mana untukku, mana untukmu. 101
102 PANGERAN PURBAYA M A N G IR B a bak Ketig a : Berlumuran darah ipar sendiri, tidak dalam perang, tanpa perkara dan di depan takhta KI AGENG PAMANAHAN : Hmm-hmm-hmm merengek seperti tak pernah dididik jadi satria. Ya-ya-ya, bunuh nurani, jalankan perintah. Yang tumbuh jadi durhaka bukan cucuku lagi. PANGERAN PURBAYA : (mengangkat sembah). KI AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, sudah berapa lama? Tujuh puluh tahun. Ya-ya-ya, tujuh puluh tahun lalu sudah, diri masih orang desa, mencangkul, meluku dan mengaru, bergumul dengan lu�pur, menjinjing dan memikul. Ya-ya-ya. (Tanpa menoleh menllding takhta). Seorang anak telah naik takhta, kuat, keras, teguh dan tanpa nurani. Dia, Sutawijaya, anakku sendiri. Ya-ya-ya, jadi satria dari alam sudra, hanya kenaI tugas perang. Yaya-ya. (Mendengarkan). Adakah terdengar derap kuda? PANGERAN PURBAYA : (mengangkat sembah). ada, nenenda. KI AGENG PAMANAHAN : (pergi ke samping lagl: mencangkung dengan bertumpu pada tongkat, mend� n!!arkan� menganggllk-angguk� memberz lsyarat dengan telunjuk pada kejauhan). Suara - gong kraton PANEMBAHAN SENAPATI : (memasuki panggung dengan bermahkota dalam lringan pasukan pengawal yang siap tempu0 langsung duduk di atas bangku di samping takhta. Para prajurit pengawal kemlldian meninggalkan panggung). K1 AGENG PAMANAHAN : (memberz· hormat).
________________ _r a_m_o e _a_A_n_a_n_t_a__o_e_r ______________ ____ 103 PANGERAN PURBAYA, TUMENGGUNG JAGARAGA, TUMENGGUNG PRINGGALAYA : (mengangkat sembah). K1 AGENG PAMANAHAN : TeIik ke empat, yang terakhir telah tiba, hmm-hmm-hmm, wartanya: sisa balatentara Mangir sedang dielu-elu di depan kraton. Ya-ya-ya, di depan kraton. Separoh dari separoh barisan tersekat dalam pesta pora dengan para perawan para nayaka. Di mulut jembatan sungai Gajah Wong, ya-ya-ya, barisan Mangir tinggal seper-enambelas, dihibur oleh perawan-perawan piIihan. PAN EM BAHAN SENAPATI : Rencana Ki Juru Martani tak sia-sia. Sebentar lagi ... semua sirna terjadi seperti dikehendaki. Suara - Sorak gegap-gempita dari kejauhan. PANEMBAHAN SENAPATI TUMENGGUNG PRINGGALAYA : (berdiri curzga). Tak ada sorak dalam acara. Dengarkan, kalian, tiadakah itu soraksorai? : Ampun (mengangkat sembah) kurang nyata pad a patik, duli baginda. KI AGENG PAMANAHAN : Kau, cucunda Pangeran Purbaya, kau yang paling muda. Apa kau dengar? PANGERAN PURBAYA : (mengangkat sembah) Sorak-sorai, lelaki dan perempuan, semakin lama semakin riuh. PANEMBAHAN SENAPATI : Belum terdengar gamelan kraton mengeluelukan. Jagaraga, pergi kau periksa apa terjadi.
TUMI.<..NGGUNG JAGARAGA PANEMBAHAN SENAPATI TUMENGGUNG PRINGGALAYA M A N G IR Babak K e tig a : (mengangkat sembah meninggalkan panggung). : Pringgalaya, periksa mengapa gamelan kraton belum juga terdengar. : (nzengangkat sembah: meninggalkan panggung). KI AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, bukan hari negara, hanya hari keluarga, Hmm-hmm-hmm, tak ada menteri-dalam, tak ada patih, takhta berdiri harnpa. Ya-ya-ya, pert emu an menantu dengan mertua. Anakanda baginda seperti berdiri di ujung duri. Ya-ya-ya. PANEMBAHAN SENAPATI PANGERAN PURBAYA PANEMBAHAN : Kau Purbaya, apakah benar beberapa lurah Perdikan, telah nyatakan setia pada Mataram pada pamanda Juru Martani? : (mengangkat sembah) Benar yang dipersembahkan nenenda Juru Martani, putranda sendiri serta menjadi saksi. SENAPATI : Dan pemuka-pemuka P atal an, kecuali demang-nya sendiri, akan segera datang bersujud-bakti pada kami? PANGERAN PURBAYA : (mengangkat sembah) Demikianlah yang PANEMBAHAN SENAPATI telah terjadi, gusti. : (duduk kembalz: gelisah). KI AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, hmm-hmm-hmm. PANEMBAHAN SENAPATI : Mengapa ayahanda yang mulia masih juga di sini? Tak jalan-jalan di taman nikmati udara siang?
. Pra moedya A n anta Toer KI AGENG PAMANAHAN : Hmm-hmm-hmm, kalau rencana Ki Juru Martani hobol, ya-ya-ya hari ini - hanya hari ini. Besok akan terbit hari lain isinya tetap sarna. Ya-ya-ya. PANEMBAHAN SENAPATI : Ya, kini baru kami dengar suara logam dan manusia nyanyi bersama. (Duduk kembalz; tenang) K1 AGENG PAMANAHAN : (mencoba mendengarkan suara-suara). Dan bayangan maut buat yang lain-lain. Ya-yaya, maut. PANEMBAHAN SENAPATI : Apa pula ayahanda pikirkan. Pesta sudah dimulai. Sebentar lagi diakhiri di depan takhta ini. Biarpun pikun dan tua, ayahanda, jangan seperti hilang tanah berpijak KI AGENG PAMANAHAN : (beryGlan tertatih-tatih tidak menentu). Yaya bukan hilang tanah berpijak, hanya hilang di mana hati akan disangkutkan lagi. (menghampiriPanembahan SenapatzJ. Untuk seorang raja, tak ada tanah tempat berpijak Dia bersemayam di at as takhta. Di bawahnya lagi kepala semua manusia. PANEMBAHAN SENAPATI : Dengarkan kata-kata nenendamu, Purbaya. PANGERANPURBAYA : (mengangkat sembah) Ada patik dengar, ayahanda baginda. PANEMBAHAN SENAPATI : Di bawah takhta hanya ada kepala semua keluarga raja. Salah satu saja goyang, takhta akan salah tegak Di bawah kepala semua keluarga raja tumpuannya adalah kepala semua nayaka. Tanah berpijak masih jauh. Maka makin dekat ke takhta hati semakin kukuh, maka ragu adalah durjana. 105
106 M ANG I R Babak K e tiga PANGERAN PURBAYA : (mengangkat sembah) Patik, ayahanda baginda. PANEMBAHAN SENAPATl : Maka jangan lupakan pelajaran hari ini, seorang satria hams dan mesti bisa, selesaikan titah bersembah-bakti. PANGERAN PURBAYA : (mengangkat sembah) P�tik, ayahanda baginda. PANEMBAHAN SENAPATI : Barang siapa ragu, tempatnya di tanah, bukan di bawah takhta. PANGERAN PURBAYA : (mepgangkat sembah) Patik, ayahanda baginda. KI AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, yang di tanah hanya tetumbuhan, binatang, tanah itu sendiri dan sudra paria. PANEMBAHAN SENAPATI : Akan kami saksikan dengan mata sendiri, apakah keris di tanganmu sudah layak untuk seorang satria, apakah memang sudah patut kau berada dekat kaki kami. PANGERAN PURBAYA : (mengangkat sembah) Patik, ayahanda baginda. KI AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, di tangan Jagaraga dan Pringgalaya, keris tidak terlalu berat, tidak terlalu hina buat si Barn .Klinting. Hmm-hmmhmm, ya-ya-ya. TUMENGGUNG PRINGGALAYA TUMENGGUNG MANDARAKA : (masuk ke panggung7 mengangkat sembah pada Panembahan Senapah: kemudian pada Ki Ageng Pamanahan). Gamelan kraton telah diperintahkan detach, gusti baginda. : (masuk memben' hormat pada Panembahan SenapahJ. Pringgalaya, mengapa kau
TUMENGGUNG PRINGGALAYA TUMENGGUNG MANDARAKA PANEMBAHAN SENAPATI Pra moedya A n anta Toer perintahkan gamelan kraton ditabuh? Menyalahi acara bisa bingungkan jalannya pelaksanaan! : Terlalu sunyi di tempat ini, maka kuperintahkan segera berbunyi. : Celaka! Anakanda baginda. (Meningga/kan panggung). : {berdin' gelisah}. KI AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, gamelan pun salah bunyi, hmmhmm. Bobol! Bobol! Kalian dengar? Bobol! TUMENGGUNG MANDARAKA : (masuk /agi ke panggung da/am keadaan gugup). Celaka! KI AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, hmm-hmm hmm, botol! Suara - Sorak-sorai, dari kejauhan PANEMBAHAN SENAPATI : Purbaya, sorak itu apakah masih seperti tadi? PANGERAN PURBAYA : (mengangkat sembah) Tiada patik dengar TUMENGGUNG MANDARAKA suara wanita, semua suara pria. : Gamelan Kraton adalah perintah penyerangan. Celaka! Sisa balatentara Mangir kini membela diri. KI AGENG PAMANAHAN : Pambayun! Cucuku tersayang! Hmm-hmmhmm, teIjepit kau di tengah perkelahian! Pambayun Dengan cicit dalam kandungan. 107
108 TUMENGGUNG JAGARAGA M A N G IR B a bak Ketiga : (masuk ke panggung; mengangkat sembah pada Panembahan SenapaH kemudian pada Mandaraka dan KiAgeng Pamanahan). Menghaturkan warta eelaka, gusti baginda. Balatentara Mataram telah menyerang sebelum Wanabaya masuk menghadap gusti baginda. Pcrkelahian sedang tcIjadi di depan istana. Suara - Sorak-sorai semakin keras. PAN EM BAHAN SENAPATI TUMENGGUNG JAGARAGA : Wanabaya dan Klinting di mana? : (mengangkat sembah). Di depan istana, berkelahi seperti singa, dilingkari empat gegeduk rata Mangir dalam kepungan pengawal Mataram. KI AGENG PAMANAHAN : Pambayun eueuku! Hmm-hmm-hmm, eueuku! Cueuku tersayang! PANEMBAHAN SENAPATI TUMENGGUNG JAGARAGA PANEMBAHAN SENAPATI : (meninggalkan tempa� beryGlan sambil meninJGu keJGuhan). Berapa jarak di depan gapura kraton? : (mengangkat sembah) Tepat di depan gapura. : Siap kalian semua. Ada bondongan masuk lewati gapura! TUMENGGUNG JAGARAGA, TUMENGGUNG PRINGGALAYA, PANGERAN
PURBAYA PANEMBAHAN SENAPATI TUMENGGUNG MANDARAKA PAN EM BAHAN Pramoe dya Ananta Toer : (mengangkat sembah, pindah tempat di samping-menyamping Panembahan SenapaH). : Bondongan keeil - prajurit pengawal. Mengapa mereka lari dari perkelahian? Biadab! : Langsung mereka bergerak ke mario SENAPATI : Purbaya, tiada kau dengar sesuatu? PANGERAN PURBAYA : (mengangkat sembah). Ada, ayahanda baginda, pekik seorang wanita. KI AGENG PAMANAHAN : Pambayun, hmm-hmm-hmm, eu euku , yaya-ya. PANGERAN PURBAYA : Di tengah-tengah keriuhan sorak-sorai, pekik wanita itu tiada henti-hentinya. PANEMBAHAN SENAPATI : Pergi kau periksa sendiri. PANGERAN PURBAYA : (mengangkat sembah, meninggalkan panggung). KI AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, hati yang gemetar begini, pertanda tersintuh suara darah keturunan sendiri, ya-ya-ya Pambayun. Ah, Pambayun PANEMBAHAN SENAPATI TUMENGGUNG MANDARAKA eueu tersayang ..... . : Diam! : imenghampiri Ki Ageng Pamanahan}. Diam Pamanahan adinda, saat segenting ini bukan urusan bagi yang pikun dan tua-tua. Kl AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, pikun dan tua-tua. (MengikuH pimpinan Tumenggung M{//ltillraka, duduk di atas bangku). Semua b('rkisar 109
110� ______________________ M __ A __ N __ G __ I _R ____________________ _ PANEMBAHAN SENAPATI Babak Ketiga pada takhta. Pambayun, ya-ya-ya, Pambayun. : Diam! (Dengan berdin: meneropong dengan tangan depan). Suara - (jJekikan Putri Pambayu/l) Ayahanda baginda. PANGERAN PURBAYA : (masuk ke panggung, mengangkat sembah pada Panembahan Senapah: Ki Ageng Pamanahan dan Tumenggung Mandaraka). Ampun, ayahanda baginda, pasukan pengawal telah dapat merampas adinda Putri Pambayun dari tentara Mangir, sebentar lagi akan datang bersembah, telah patik bebaskan dad tangan pasukan pengawal. Suara - (jJekikan Putri Pambayun). Wanabaya, Kakang ke sini aku dibawa. PANEMBAHAN SENAPATI : (membuang muka). Dia tak ikut mati bersarna suami. KI AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, dia tidak ikut mati bersama suami, hmm-hmm-hmm. TUMENGGUNG MANDARAKA PAN EM BAHAN SENAPATI PurRI PAMBAYUN : Tak ada aeara Putri Pambayun dirampas oleh pasukan pengawal. Kepala gamelan patut dipenggal. : Kau rela Wanabaya mati? : Sahaya inginkan tangan ayahanda sendiri habisi Pambayun ini.
TUMENGGUNG MANDARAKA Pram oedya Anant a Toer : Kau setiawan Mataram, bukan di sini tempat meminta mati. KI AGENG PAMANAHAN : Perempuan hina! (menendang Putri Pambayun sehingga lepas rangkulan pada kakO. PurRI PAMBAYUN PANEMBAHAN SENAPATI : Kakang Wanabaya, di sini istrimu mati, di bawah takhta ayahanda Panembahan Senapati. : Haram tersentuh oleh kulitmu. Suaramu najis untuk pendengaran kami. (Terke.iut, berpaling ke belakang). KI AGENG PAMANAHAN : Mari, eueu, mari aku bantu. PUTRl PAMBAYUN : Tiada bantuan dari siapa pun di tempat ini. KI AGENG PAMANAHAN : Ya-ya-ya, hmm-hmm-hmm. Suara - Sorak-sorai dekat. Semua - (menghadap takhta) PANGERANPURBAYA, TUMENGGUNGJAGARAGA, TUMENGGUNG PRINGGALAYA : (berdin' di sekitar Panembahan Senapah:' siaga dengan kens di tangan). PANEMBAHAN SENAPATI TUMENGGUNG MANDARAKA purRI PAMBAYUN : (jJerlahan-lahan menarik kens, kakinya masih sempat menyepak Putri Pambayun yang merangkak mendekaH). Ada yang lolos masuk ke istana. : Bukan garapan untuk yang tua-tua. : (memekik). Di sini aku mati, Wanabaya, Kakang. 111
112 MANG IR Babak Ketig a WANABAYA, BARU KLINTING, DEMANG PATALAN : (nlasuk ke panggung dan belakang takhta, DEMANG PATALAN PurRI P AMBAYUN WANABAYA TUMENGGUNG PRINGGALAYA masing-masing dengan kens telanjang di tangan). : Itu dia Bapak tua bedebah keparat Mataram! : Kakang Wanabaya! : Yang mana Panembahan Senapa1:i? Inilah Wanabaya datang sendiri, tanpa tipu tanpa dusta, mari mengadu runcingnya keris. : Inilah Panembahan Senapati ing Ngalaga, m�ju kau bedebah Mangir, jangan ragu. Suara - Sorak-sorai semakin dekat. BARU KLINTING : Apa guna bicara (mqiu ke depan menyerang) KI AGENG PAMANAHAN : (kehilangan keseimbangan). Ya-ya-ya. (tongkatjatuh, tangan gerayangan menean' tunjangan,jatuh ke lantaz). Hmm-hmm-hmm, Ya-ya-ya. (Tak bangun lagzJ. PRAJURIT -PRAJURIT PENGAWAL : (masuk ke panggung dan' belakang takhta). Ini dial Ini dial WANABAYA : (melangkah hendak menyerbu Tumenggung Pnnggalaya). BARU KLINTING : Salah! Itulah Panembahan Senapati (menudlng}yang berlindung di balik semua orang. WANABAYA : (ragu; mengalihkan sasaran). PANGERAN PURBAYA : (melompal, menikam pada lambung Wanabaya).
WANABAYA PurRI PAMBAYUN BARU KLINTING PANEMBAHAN SENAPATI BARU KLINTING DEMANG PATALAN TUMENGGUNG MANDARAKA PANEMBAHAN SENAPATI purRI PAMBAYUN PANEMBAHAN SENAPATI Pramoedya Ananta Toer : (kens terlepa� dan· tangan). Raja dari segala dusta ... (dihujani tombak oleh prajun"tprajun"t Pengawal dari belakang; rebah). : Kakang! (Ian· menghampiri dan merangku/). : (menangkls serangan dari Tumenggung Jagaraga dan Tumenggung Pnnggalaya untuk menyerbu Panembahan SenapahJ. Raja segala penganiaya ..... . : (menombak Earu Kllnhng dari belakang). : (tersungkur). Be-de-bah! : (dengan kens pada tangan kanan, dengan tangan kiri melemparkan sarungnya pada Tumenggung Mandaraka. Sebelum bzsa berbuat apa-apa, dihujani tombak dari belakang oleh para prajun"t pengawal; rebah). : Selesai sudah perkara Mangir. : (tertawa). : (di samplng mayat Wanabaya). J angan lupakan Pambayun, ayahanda baginda, antarkan sahaya pergi bersama dia ..... . : (tanpa menoleh pada Putri Pambayun). Haram bumi Mataram dengan hadirnya perempuan durjana hina ini Keluarkan dia • dari Mataram Jaya! (Cepat menlnggalkan panggung). TUMENGGUNG PRINGGALAYA, TUMENGGUNG JAGARAGA, PANGERAN PURBAYA : (salnbil memasukkan ken:() ke dalam sa113
114 TUMENGGUNG MANDARAKA PUTRI PAMBAYUN Layar turun. M A N G I R B a bak Ketiga rong dengan cepat mengikuH Panembahan Senapah]. : (menghampiri tubuh Ki Ageng Pamanahan). Pamanahan adinda, kau sudah terdahulu pergi. Tak kau Iihat Iagi hari ini, hari awal rencana baris ke timur sampai pantai. : (pada Wanabaya). Mari, Kang, mari aku antarkan tinggalkan temp at ini. Mari, mari Kang, mario Bukankah Pambayun istrimu yang sejati? (Bertenak). Mari, mari, marL ***