The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by PERPUSTAKAAN PUSPANEGARA, 2022-11-04 02:30:39

Ensiklopedia Flora Mangrove

Ensiklopedia Flora Mangrove

Kerjasama PT. Kapuk Naga Indah dengan
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Sahabat-Bakau
@sahabatbakau
www.sahabatbakau.com

ENSIKLOPEDIA

DI KAWASAN HUTAN ANGKE KAPUK

Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta



ENSIKLOPEDIA

DI KAWASAN HUTAN ANGKE KAPUK

Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta

Kerjasama PT. Kapuk Naga Indah dengan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor 2013

FLORA MANGROVE

DI KAWASAN HUTAN ANGKE KAPUK

Jakarta Utara, Provinsi Dki Jakarta

Penulis : Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS
Niechi Valentino, S.Hut
Proof Reader Dadan Mulyana, S.Hut, M.Si
Desain & Lay Out
Copyright © 2013 : Dr. Ir. Iwan Hilwan, MS
: R Rodlyan Ghufrona, S.Hut

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang
Dilarang memperbanyak buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit
ISBN: 978-979-17820-5-7

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t J ^

KATA PENGANTAR

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas sekitar 17.405 buah pulau
dengan panjang garis pantai sekitar 95.181 km. Sebagian besar dari pulau-pulau tersebut
merupakan pulau-pulau kecil yang keberadaannya bergantung pada hutan mangrove dan
hutan pantai. Oleh karena itu, sebagai negara kepulauan Indonesia mempunyai hutan mangrove
dengan luasan terluas di dunia dan jenis tumbuhan yang relatif banyak dibandingkan dengan
negara-negara lainnya.

Seperti halnya lazim terjadi di negara-negara berkembang lainnya di dunia, banyak
hutan mangrove di Indonesia mengalami kerusakan akibat berbagai gangguan, namun
gangguan yang paling menonjol adalah pengkonversian lahan mangrove ke bentuk-bentuk
penggunaan lahan lainnya. Salah satu hutan mangrove yang saat ini mengalami gangguan
cukup berat adalah hutan mangrove di Angke Kapuk, Jakarta Utara. Sehubungan dengan
itu, Fakultas Kehutanan IPB bekerjasama dengan PT Kapuk Naga Indah melakukan survey
vegetasi untuk menyusun buku “Flora Mangrove di Kawasan Hutan Angke Kapuk, Jakarta
Utara, Provinsi DKI Jakarta” ini. Pada dasarnya buku ini menyajikan berbagai jenis tumbuhan
yang tumbuh di kawasan mangrove tersebut.

Kami harapkan buku ini dapat menjadi salah satu acuan untuk mengetahui jenis-jenis
tumbuhan mangrove yang tumbuh di Hutan Lindung dan Suaka Margastwa Muara Angke,
serta daerah sekitarnya di Angke Kapuk, Jakarta Utara.

Bogor, Januari 2013
Tim Penyusun

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t J J ^

DAFTAR ISI i
ii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL 2
DAFTAR GAMBAR 3
I. PENDAHULUAN 3
II. PENGERTIAN, PENYEBARAN, DAN KONDISI LINGKUNGAN MANGROVE 4
5
2.1. Pengertian Mangrove 7
2.2. Penyebaran jenis-jenis mangrove di Indonesia 22
2.3. Kondisi Lingkungan Mangrove 22
III. ATRIBUT IDENTIFIKASI JENIS TUMBUHAN MANGROVE 22
IV. DESKRIPSI JENIS TUMBUHAN 24
4.1. Jenis Tumbuhan Berhabitus Pohon 26
27
Acacia auriculiformis A. Cunn. ex Benth. 29
Avicennia alba Bl. 32
Avicennia marina (Forssk.) Vierh. 34
Bruguiera gymnorhiza (L.) Lamk. 35
Cerbera manghas L. 38
Excoecaria agallocha L. 40
Ficus benjamina L. 41
Hibiscus tiliaceus L. 43
Intsia bijuga (Colebr.) O. Kuntze. 45
Leucaena leucocephala (Lam.) De Wit 48
Morinda citrifolia L. 50
Plumeria rubra L. 52
Rhizophora apiculata Bl. 54
Rhizophora mucronata Lamk. 55
Rhizophora stylosa Gri . 57
Sonneratia alba J. Smith. 59
Sonneratia caseolaris (L.) Engl.
Terminalia catappa L.

espesia populnea (L.) Soland. ex Correa.
Xylocarpus granatum Koen.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t J J J ^

4.2. Jenis Tumbuhan Berhabitus Bukan Pohon 62
Abrus precatorius L. 62
Acanthus ilicifolius L. 63
Acanthus volibilis Wall. 66
Acrostichum aureum L. 68
Acrostichum speciosum Willd. 70
Ageratum conyzoides L. 71
Alternanthera sessilis (L.) R. Br. 73
Chloris barbata Sw. 75
Cleome rutidosperma D.C. 78
Clerodendrum serratum (L.) Moon 80
Cordia dichotoma G. Forst. 82
Cymbopogon cambodgiensis L. 84
Cymbopogon nardus (L.) Rendle. 86
Derris trifoliata Lour. 88
Eichornia crassipes (Mart.) Solms. 89
Ipomoea pes-caprae (L.) Sweet. 91
Ipomoea maxima (L.f.) Don ex Sweet. 93
Lu a cylindrica (L.) Roem. 95
Mimosa pigra Blanco. 98
Nypa fruticans Wurmb. 100
Olax imbricata Roxb. 102
Panicum maximum Jacq. 104
Passi ora foetida L. 106
Phragmites karka (Retz.) Trin ex. Steud. 108
Pluchea indica (L.) Less. 110
Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC. 111
Ricinus communis L. 113
Ruellia tuberosa L. 116
Sesuvium portulacastrum (L.) L. 117
Suaeda maritima (L.) Dum. 119
121
DAFTAR PUSTAKA

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t J W ^

DAFTAR TABEL 6
7
1. Penyebaran jenis-jenis mangrove di pulau-pulau utama di Indonesia
2. Karakteristik morfologi tumbuhan yang digunakan dalam identi kasi jenis

DAFTAR GAMBAR 21
24
1. Acacia auriculiformis A. Cunn. ex Benth. 25
2. Avicennia alba Bl. 28
3. Avicennia marina (Forssk.) Vierh. 30
4. Bruguiera gymnorhiza (L.) Lamk. 31
5. Cerbera manghas L. 33
6. Excoecaria agallocha L. 36
7. Ficus benjamina L. 38
8. Hibiscus tiliaceus L. 39
9. Intsia bijuga (Colebr.) O. Kuntze. 42
10. Leucaena leucocephala (Lam.) De Wit 44
11. Morinda citrifolia L. 46
12. Plumeria rubra L. 47
13. Rhizophora apiculata Bl. 49
14. Rhizophora mucronata Lamk. 51
15. Rhizophora stylosa Gri . 53
16. Sonneratia alba J. Smith. 55
17. Sonneratia caseolaris (L.) Engl. 58
18. Terminalia catappa L. 60
19. espesia populnea (L.) Soland. ex Correa.
20. Xylocarpus granatum Koen.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t W ^

21. Abrus precatorius L. 61
22. Acanthus ilicifolius L. 63
23. Acanthus volibilis Wall. 66
24. Acrostichum aureum L. 67
25. Acrostichum speciosum Willd. 69
26. Ageratum conyzoides L. 72
27. Alternanthera sessilis (L.) R. Br. 74
28. Chloris barbata Sw. 76
29. Cleome rutidosperma D.C. 78
30. Clerodendrum serratum (L.) Moon 79
31. Cordia dichotoma G. Forst. 81
32. Cymbopogon cambodgiensis L. 84
33. Cymbopogon nardus (L.) Rendle. 85
34. Derris trifoliata Lour. 87
35. Eichornia crassipes (Mart.) Solms. 89
36. Ipomoea pes-caprae (L.) Sweet. 92
37. Ipomoea maxima (L.f.) Don ex Sweet. 93
38. Lu a cylindrica (L.) Roem. 96
39. Mimosa pigra Blanco. 97
40. Nypa fruticans Wurmb. 99
41. Olax imbricata Roxb. 101
42. Panicum maximum Jacq. 103
43. Passi ora foetida L. 105
44. Phragmites karka (Retz.) Trin ex. Steud. 107
45. Pluchea indica (L.) Less. 109
46. Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC. 112
47. Ricinus communis L. 114
48. Ruellia tuberosa L. 115
49. Sesuvium portulacastrum (L.) L. 117
50. Suaeda maritima (L.) Dum. 120

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

KAWASAN EKOWISATA
RESTORASI MANGROVE
MANGROVE
TAMAN HUTAN LINDUNG
WISATA
ALAM PENGEMBANGAN
ABORETUM BIOTA MANGROVE
MANGROVE

EKOWISATA
MANGROVE

Sabuk Hijau Mangrove
Kawasan Muara Angke DKI Jakarta

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

HUTAN LINDUNG I. PENDAHULUAN
SUAKA MARGASATWA
Kawasan hutan mangrove Angke Kapuk terletak di pantai utara Pulau Jawa. Secara
PENDIDIKAN geogra s kawasan hutan ini terletak di antara 6°05` sampai 6°10` Lintang Selatan dan antara
LINGKUNGAN 106°43` sampai 106°48` Bujur Timur. Berdasarkan administrasi pemerintahan, kawasan ini
terletak di dalam wilayah Kelurahan Kamal Muara dan Kelurahan Kapuk Muara, Jakarta Utara,
Provinsi DKI Jakarta. Kawasan ini berbatasan dengan PT Mandara Permai di bagian selatan,
Laut Jawa di bagian utara, Sungai Angke di bagian timur dan Sungai Kamal di bagian barat.

Berdasarkan hasil tata batas di lapangan dan Berita Acara Tata Batas yang
ditandatangani pada tanggal 25 Juli 1994 oleh Panitia Tata Batas yang diangkat dengan Surat
Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 924 Tahun 1989, kawasan
hutan Angke Kapuk luasnya sekitar 327,61 ha yang terdiri atas hutan lindung (44,76 ha), hutan
wisata (99,82 ha), Suaka Margasatwa Muara Angke yang ditetapkan tahun 1998 (25,02 ha), dan
Hutan dengan Tujuan Istimewa (LDTI) yang terdiri atas Kebun Pembibitan Mangrove 10,51
ha, Transmisi PLN 23,07 ha, Cengkareng Drain 28,93 ha serta Jalan Tol dan Jalur Hijau 95,50
ha. Pada saat ini vegetasi mangrove yang tumbuh relatif cukup masif di kawasan ini hanya
ditemukan di Hutan Lindung dan Suaka Margasatwa Muara Angke, sedangkan di daerah
lainnya vegetasi mangrove hanya tumbuh secara sporadik dengan kelimpahan yang relatif
sedikit, khususnya tumbuh di sebagian kecil pematang-pematang tambak di sekitar sepanjang
jalan Tol Sedyatmo. Melalui kerjasama antara Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI
Jakarta dengan berbagai pihak (instansi pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, LSM, dan
lain-lain) areal-areal tambak terbuka di sepanjang jalan tol tersebut sudah ditanami tumbuhan
jenis mangrove (umumnya jenis Rhizophora spp.) yang sebagian besar menggunakan teknik
guludan yang diperkenalkan oleh Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Vegetasi mangrove di kawasan hutan Angke Kapuk awalnya terdiri atas vegetasi hutan
mangrove yang tumbuh secara alami di Suaka Margasatwa Angke Kapuk dan vegetasi hutan
mangrove yang ditanam pada tahun 1972 di kawasan hutan lindung mangrove Muara Angke
dan sekitarnya. Sejalan dengan perjalanan waktu, hutan tanaman mangrove tersebut tumbuh
seperti hutan alam. Perkembangan dan pertumbuhan vegetasi mangrove tersebut nampaknya
kurang optimal karena adanya berbagai gangguan seperti pencemaran air, sampah, abrasi,
dan perambahan. Akibatnya, saat ini hutan mangrove yang di kawasan hutan Angke Kapuk
merupakan sosok hutan mangrove yang terganggu yang banyak ditemukan beragam jenis
tumbuhan bawah yang mendominasi daerah-daerah relatif terbuka dan pepohonan mangrove
yang penampakan morfologisnya merupakan tegakan mangrove relatif muda. Sehubungan
dengan hal tersebut di atas, buku ini disusun untuk menyajikan beragam jenis tumbuhan yang
tumbuh di kawasan hutan Angke Kapuk, khususnya di Hutan Lindung dan Suaka Margasatwa
Muara Angke dan daerah sekitarnya di sepanjang jalan tol Sedyatmo dengan cara menjelajah
daerah-daerah tersebut.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

II. PENGERTIAN, PENYEBARAN, DAN KONDISI
LINGKUNGAN MANGROVE

2.1. Pengertian Mangrove namun juga dapat hidup di habitat non-mangrove, (3) biota
Kata mangrove merupakan kombinasi antara yang berasosiasi dengan mangrove (biota darat dan laut,
lumut pohon, cendawan, ganggang, bakteri dan lain-lain),
bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove (Macnae, baik yang hidupnya menetap, sementara, sekali-sekali,
1968). Dalam bahasa Inggris kata mangrove digunakan, biasa ditemukan, atau terbatas hanya di habitat mangrove,
baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah (4) proses-proses alamiah dinamis yang berperan dalam
jangkauan pasang-surut maupun untuk individu-individu mempertahankan ekosistem ini, baik yang berada di daerah
jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Dalam bervegetasi maupun di luarnya, (5) mud at (dataran
bahasa Portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan lumpur) yang berada antara batas tepi hutan dengan batas
individu jenis tumbuhan, dan kata mangal untuk menyatakan pasang terendah di laut, dan (6) penduduk yang tinggal, baik
komunitas tumbuhan tersebut. di dalam maupun di sekitar hutan mangrove.

Menurut Snedaker (1978), hutan mangrove adalah Tomlinson (1984) membagi tumbuhan mangrove
kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang menjadi tiga kelompok, yakni:
garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi (1). Tumbuhan mangrove utama (major), yakni tumbuhan
istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam
dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah an- mangrove yang hanya tumbuh di habitat mangrove,
aerob. Menurut Aksornkoae (1993), hutan mangrove adalah berkemampuan membentuk tegakan murni dan secara
tumbuhan halo t yang hidup di sepanjang areal pantai dominan mencirikan struktur komunitas, secara
yang terletak diantara pasang tertinggi sampai daerah yang morfologi mempunyai bentuk-bentuk adaptif khusus
mendekati ketinggian rata-rata air laut, atau lebih tinggi (bentuk akar napas/udara dan viviparitas) terhadap
dari permukaan air laut, yang tumbuh di daerah tropis dan lingkungan mangrove, dan mempunyai mekanisme
sub-tropis.
siologis dalam mengontrol garam (mengeluarkan
Dengan demikian secara umum hutan mangrove garam untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan).
dapat dide nisikan sebagai suatu tipe hutan yang tumbuh di Contohnya adalah jenis-jenis dari marga Avicennia,
daerah pasang surut (terutama di pantai, laguna,dan muara Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Kandelia, Sonneratia,
sungai yang terlindung) yang tergenang pada saat pasang Lumnitzera dan Nypa.
dan bebas dari genangan pada saat surut, yang komunitas (2). Tumbuhan mangrove penunjang (minor), yakni
tumbuhannya toleran terhadap garam (kondisi salin). tumbuhan mangrove yang tidak mampu membentuk
Adapun ekosistem mangrove adalah merupakan suatu tegakan murni, sehingga secara morfologis tidak
sistem yang terdiri atas organisme (tumbuhan dan hewan) berperan dominan dalam struktur komunitas,
yang berinteraksi dengan faktor lingkungan dan dengan contohnya adalah Excoecaria, Xylocarpus, Heritiera,
sesamanya di dalam suatu habitat mangrove. Aegiceras. Aegialitis, Acrostichum, Camptostemon,
Scyphiphora, Pemphis, Osbornia dan Pelliciera.
Ruang lingkup sumberdaya mangrove secara (3). Tumbuhan asosiasi mangrove, yakni tumbuhan
keseluruhan terdiri atas : (1) satu atau lebih jenis tumbuhan yang berasosiasi dengan tumbuhan mangrove utama
yang hidupnya terbatas hanya di habitat mangrove, (2) dan penunjang, contohnya adalah jenis-jenis dari
jenis-jenis tumbuhan yang hidupnya di habitat mangrove, marga Cerbera, Acanthus, Derris, Hibiscus, Calamus,
dan lain-lain.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

Di lapangan, tumbuhan mangrove umumnya Struktur dan komposisi mangrove di Indonesia
tumbuh membentuk zonasi mulai dari pinggir pantai sampai lebih bervariasi bila dibandingkan dengan wilayah lain. Di
pedalaman daratan. Zonasi yang terbentuk bisa berupa Indonesia dapat ditemukan tegakan Avicennia marina dengan
zonasi yang sederhana (satu zonasi, zonasi campuran) dan ketinggian 1-2 m pada pantai yang tergenang air laut terus
zonasi yang kompleks (beberapa zonasi), tergantung pada menerus, hingga tegakan campuran Bruguiera-Rhizophora
kondisi lingkungan mangrove yang bersangkutan. Beberapa dengan tinggi lebih dari 30 m. Pada pantai terbuka, dapat
faktor lingkungan yang penting dalam mempengaruhi zonasi ditemukan jenis Avicennia alba dan Sonneratia alba,
mangrove adalah: sementara di sepanjang sungai yang mempunyai salinitas
(1). Pasang surut, yang secara tidak langsung mengontrol yang lebih rendah banyak ditemukan jenis palem Nypa
fruticans dan Sonneratia caseolaris. Dilain pihak kawasan
dalamnya muka air (water table) dan salinitas air mangrove sekunder, didominasi oleh anakan mangrove dan
serta tanah. Secara langsung arus pasang surut dapat berbagai jenis semak atau herba, misalnya Acanthus ilicifolius
menyebabkan kerusakan terhadap anakan. dan Acrostichum aureum.
(2). Tipe tanah, yang secara tidak langsung menentukan
tingkat aerasi tanah, tingginya muka air dan drainase. Jenis-jenis pohon mangrove umumnya menyebar di
(3). Kadar garam tanah dan air, yang berkaitan dengan pantai yang terlindung dan di muara-muara sungai, dengan
toleransi jenis terhadap kadar garam. komposisi jenis yang berbeda-beda bergantung pada kondisi
(4). Cahaya, yang berpengaruh terhadap pertumbuhan habitatnya. Berdasarkan berbagai hasil penelitian, dapat
anakan dari jenis intoleran seperti jenis-jenis dari disimpulkan bahwa penyebaran jenis mangrove tersebut
marga Rhizophora, Avicennia dan Sonneratia. berkaitan dengan salinitas, jenis tanah, tipe pasang, dan
frekuensi penggenangan.
2.2. Penyebaran jenis-jenis mangrove di Indonesia
Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal Tumbuhan mangrove terdiri atas pohon, epi t,
liana, alga, bakteri dan fungi. Menurut Hutching and
forest, coastal woodland, vloedbosschen, dan hutan payau Saenger (1987), di seluruh dunia terdapat lebih dari 20 suku
(bahasa Indonesia). Penyebaran hutan mangrove terbatas Tumbuhan mangrove, yang terdiri dari 30 marga, dengan
dari daerah tropika sampai 320 LU dan 380 LS. Menurut anggota lebih dari 80 jenis. Sejauh ini di Indonesia tercatat
Chapman (1975a), penyebaran hutan mangrove di dunia ada 202 jenis tumbuhan mangrove, meliputi 89 jenis pohon, 5
dibagi ke dalam dua kelompok yaitu : jenis palma, 19 jenis liana, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epi t
1. e Old World Mangrove yang meliputi Afrika dan 1 jenis paku (Kusmana, 1993). Dari 202 jenis tersebut,
43 jenis merupakan jenis mangrove sejati (true mangrove)
Timur, Laut Merah, India, Asia Tenggara, Jepang, dan selebihnya merupakan jenis mangrove asosiasi (associate
Filipina, Australia, New Zealand, Kepulauan Pasi k mangrove). Dari 43 jenis mangrove sejati tersebut 33 jenis
dan Samoa. Kelompok ini disebut pula Grup Timur. diantaranya merupakan jenis berhabitus pohon atau semak
2. e New World Mangrove yang meliputi pantai yang besar maupun yang kecil.
Atlantik dari Afrika dan Amerika, Meksiko, dan pantai
Pasi k Amerika dan kepulauan Galapagos. Kelompok Di Indonesia sendiri terdapat perbedaan dalam hal
ini disebut pula Grup Barat. keragaman jenis mangrove antara satu pulau dengan pulau
lainnya. Dari 202 jenis mangrove yang telah diketahui,
Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Fakultas 166 jenis terdapat di Jawa, 157 jenis di Sumatera, 150 jenis
Kehutanan IPB bekerja sama dengan Direktorat Jenderal di Kalimantan, 142 jenis di Irian Jaya (Papua), 135 jenis di
Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial pada tahun 1999, Sulawesi, 133 jenis di Maluku dan 120 jenis di Kepulauan
luas mangrove di Indonesia diperkirakan sekitar 9,2 juta ha Nusa Tenggara. Sebaran jenis mengrove di pulau-pulau
yang terdiri atas 3,7 juta ha di dalam kawasan hutan dan utama di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1.
5,5 juta ha di luar kawasan hutan. Selanjutnya dilaporkan
bahwa saat ini sekitar 43 % (1,6 juta ha) mangrove di
kawasan hutan dan 67 % (3,7 ha) mangrove di luar kawasan
hutan sedang mengalami kerusakan akibat eksploitasi yang
kurang terkendali, konversi ke bentuk pemanfaatan lain,
pencemaran, bencana alam, dan lain-lain.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

2.3. Kondisi Lingkungan Mangrove estuaria di belakang semenanjung dan gosong lepas
Percival and Womersley (1975) menyatakan bahwa pantai, dan di selat yang sempit.
(4). Pantai yang dangkal
kondisi lingkungan yang mempengaruhi mangrove adalah Pantai-pantai yang dangkal memberikan kesempatan
struktur siogra wilayah, daya akresif atau erosif dari laut berkembangnya mangrove yang luas. Meskipun
atau sungai, pengaruh pasang surut, kondisi tanah, serta demikian, pada pantai yang dasar lautnya curam,
kondisi-kondisi tertentu yang disebabkan oleh eksploitasi. mangrove tepian (fringe mangrove) cenderung
Dalam hal siogra , kondisi yang menguntungkan untuk berkembang dengan baik.
mangrove adalah adanya teluk dangkal yang terlindung, (5). Air masin
estuaria, laguna, dan sisi semenanjung atau pulau dan selat Kandungan garam dalam air bukan merupakan
yang terlindung. Selain itu, Chapman (1975a) menyatakan prasyarat untuk pertumbuhan mangrove, meskipun
bahwa banyak faktor lingkungan yang mempengaruhi rawa- toleransi terhadap garam memungkinkan jenis
rawa mangrove, tetapi faktor yang terpenting adalah tipe mangrove tumbuh di wilayah tropika beriklim
tanah, salinitas, drainase dan arus air. arid (kering) dimana mereka tidak akan bisa hidup
seperti tanaman darat. Mangrove biasanya ditemukan
Meskipun keberadaan rawa-rawa mangrove tidak di wilayah tropika basah, walaupun ada juga mangrove
tergantung pada iklim, dan ditemukan pada kondisi yang yang bisa hidup di daerah pantai di gurun. Di wilayah
selalu basah ataupun pengaruh musiman (Tomlinson, 1986; tropika basah, mangrove menstimulasi terjadinya
Percival and Womersley, 1975), tetapi keberadaan mangrove hutan rawa air tawar atau hutan riparian.
yang luas, nampaknya bergantung pada tujuh faktor dasar (6). Kisaran pasang surut
berikut ini (Chapman, 1975b): Pasang surut dan fenomena yang terkait dengannya,
(1). Suhu udara nampaknya mengendalikan zonasi vertikal dari
beberapa jenis mangrove. Suatu kisaran pasang
Hutan mangrove yang luas umumnya terdapat pada surut yang besar, yang dibarengi dengan pantai
wilayah yang suhu rata-rata di bulan terdinginnya, dengan dasar laut yang landai, akan mendorong
lebih dari 20 o C dengan kisaran musimannya tidak berkembangnya mangrove yang ekstensif.
melebihi 5o C, kecuali di Afrika Timur dimana (7). Substrat lumpur
kisarannya bisa mencapai 10o C. Walaupun mangrove tumbuh pada pasir, lumpur,
(2). Arus laut gambut, dan batuan koral, tetapi mangrove
Perlu dicatat bahwa batas bagian selatan penyebaran yang luas biasanya ditemukan pada tanah-tanah
mangrove dari pantai bagian barat Afrika, berkaitan lumpur atau yang berlumpur. Tanah-tanah seperti
dengan perbatasan antara upwelling air dingin itu biasanya ditemukan di sepanjang pantai berdelta,
dengan arus air hangat bagian selatan. Situasi laguna, dan estuaria. Tanah-tanah volkanik, seperti
yang sama juga terjadi untuk pantai barat Australia yang terdapat di Indonesia, bersifat kondusif bagi
dan Amerika Selatan dimana terdapat penyebaran mangrove.
mangrove yang sangat terbatas, dimana arus Humboldt
yang dingin terjadi. Arus tersebut mengarah ke Menurut Hamilton dan Snedaker (1984),
utara, dan ini menghambat benih yang mengapung sumberdaya mangrove bersifat terbarukan hanya bila
untuk hanyut ke selatan. Kemungkinan, bila proses-proses ekologis yang mengatur sistem tersebut
benih-benih mangrove ditanam di bagian selatan dari dipertahankan. Proses ekologis internal yang menyebabkan
penyebarannya sekarang di perbatasan Australia bisa dipertahankannya dan bisa diperbaharuinya ekosistem
bagian barat, Afrika Selatan dan Amerika Selatan mangrove adalah bergantung pada proses eksternal berikut
bagian barat, mereka akan tumbuh dan berkembang ini: (1) percampuran antara air masin (pasang surut) dengan
dengan baik. air tawar (air sungai) yang seimbang, (2) pasokan hara yang
(3). Perlindungan memadai, dan (3) substrat yang stabil. Menghilangkan
Mangrove berkembang baik di pantai-pantai yang satu atau lebih dari faktor-faktor tersebut akan merusak
terlindung dari ombak yang kuat atau pengaruh atau menghilangkan sifat terbarukan dari sumberdaya
pasang surut yang terlalu kuat yang dapat menyapu mangrove tersebut.
anakan mangrove sebelum tumbuh mapan.
Perlindungan seperti itu diberikan oleh teluk, laguna,

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

TABEL 1 PENYEBARAN JENIS-JENIS MANGROVE DI PULAU-PULAU UTAMA DI INDONESIA

NO JENIS ISLAND
Java Bali&LSI* Sumatra Kalimantan Sulawesi Maluku Papua

1 Acanthus ilicifolius + + + + + ++

2 Aegiceras corniculatum + + + + + ++

3 Aegiceras oridum + + ++

4 Acrosticum aureum + + + + + ++

5 Avicennia alba + + + + + ++

6 Avicennia lanata ++

7 Avicennia marina + + + + + ++

8 Avicennia o cinalis + + + + + ++

9 Bruguiera cylindrica + + + + + ++

10 Bruguiera gymnorrhiza + + + + + ++

11 Bruguiera parvi ora + + + + + ++

12 Bruguiera sexangula +++ + ++

13 Cerbera manghas + + + + + ++

14 Ceriops decandra + + + + + ++

15 Ceriops tagal + + + + + ++

16 Derris trifoliata + + + + + ++

17 Dolichandrone spathacea + +

18 Excoecaria agallocha + + + + + ++

19 Finlaysonia maritima + + + + + ++

20 Heritiera littoralis + + + + + ++

21 Kandelia candel ++

22 Lumnitzera littorea + + + + + ++

23 Lumnitzera racemosa + + ++ + +

24 Nypa fruticans + + + + + ++

25 Osbornea octodonta ++ + ++

26 Pemphis acidula ++ +

27 Phoenix paludosa +

28 Pluchea indica + + + + + ++

29 Rhizophora apiculata + + + + + ++

30 Rhizophora lamarckii ++ ++

31 Rhizophora mucronata + + + + + ++

32 Rhizophora stylosa + + + + + ++

33 Scyphiphora hydrophyllacea + + + + + ++

34 Sonneratia alba + + + + + ++

35 Sonneratia caseolaris + + + + + ++

36 Sonneratia ovate + + + + ++

37 Widelia bi Tumbuhan + + + + + ++

38 Xylocarpus granatum + + + + + ++

39 Xylocarpus moluccensis + + + + + ++

40 Xylocarpus rumphii ++ ++

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

III. ATRIBUT IDENTIFIKASI JENIS TUMBUHAN MANGROVE

TABEL 2 KARAKTERISTIK MORFOLOGI TUMBUHAN YANG DIGUNAKAN DALAM IDENTIFIKASI JENIS

No Bagian Tumbuhan Keterangan

I. DAUN

1. Bentuk Helai Daun
A. Simple leaf:

Daun tunggal hanya terdapat satu helai daun
yang terlihat nyata pada tingkat daun.

B. Compound leaves:

Daun majemuk terdiri dari dua atau lebih helai daun
yang terlihat nyata dan jelas pada tingkat daun.

C. Trifoliolate:

Daun majemuk beranak daun tiga helai.

D. Palmate:

Daun majemuk menjari.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

No Bagian Tumbuhan Keterangan
I. DAUN Daun majemuk menyirip ganda dua.

E. Bipinnate:

F. Tripinnate:

Daun majemuk menyirip ganda tiga.

2. Tata Daun Dua daun terletak berlawanan satu sama lain pada
A. Opposite: setiap buku batang pada ranting yang sama.
B. Opposite decussate: Berhadapan - bersilangan antar buku bersilangan.
C. Alternate: Hanya satu daun yang terdapat pada buku batang
pada setiap ranting.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

No Bagian Tumbuhan Keterangan
I. DAUN Berkarang atau melingkar, di dalam satu buku
terdapat lebih dari 2 daun.
D. Whorled:

E. Spiral:

Tersusun secara berseling (alternate) namun
daun-daun mengarah ke berbagai sudut.

3. Bentuk Helai Daun Bentuk daun seperti hati, pangkal daun melebar.
A. Cordate: Bentuk daun membentuk seperti sebuah segitiga
B. Deltoid: dimana di pangkalnyamelebar dan meruncing di
C. Elliptic: ujung daunnya.
Daun melebar pada bagian tengah daun, bagian pangkal
dan ujung daun mempunyai bentuk yang hampir sama,
panjang daun minimal dua kali lebar daunnya.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

No Bagian Tumbuhan Keterangan
I. DAUN Panjang helai daun beberapa kali dari lebarnya, melebar
ke arah pangkal daun dan meruncing pada ujung daun.
D. Lanceolate:

E. Linear: Bentuk daun lurus panjang dan mengikuti
F. Oblanceolate: pertulangan daunnya, lebar daun tidak begitu lebar
dari pertulangan daunnya dan memiliki lebar yang
sama di sepanjang daunnya.
Berbentuk lanset terbalik dimana daun
melebar di bagian ujung.

G. Oblong: Berbentuk elips yang memanjang, panjang daun
H. Obovate: 3-5 kali lebar daun.
Bentuk daun seperti telur, pangkal
daunnya menyempit.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

No Bagian Tumbuhan Keterangan
I. DAUN Bentuk bundar.

I. Orbicular:

J. Spathulate: Sempit untuk hampir seluruh daun, tetapi kemudian
K. Rhomboid: memiliki struktur putaran tiba-tiba di puncak.
4. Bentuk Ujung Daun Bentuk belah ketupat.
A. Acute: Ujung daun lancip, meruncing ke arah ujung daun
B. Acuminate: dengan sisi yang lurus atau agak lurus.
Meruncing.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

No Bagian Tumbuhan Keterangan
I. DAUN Meruncing panjang.

C. Caudate:

D. Cuspidate:

Meruncing pendek.

E. Mucronate:

Meruncing seperti jarum.

F. Emarginate: Berlekuk.
G. Rounded: Ujung daun tidak membentuk sudut sama sekali.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

No Bagian Tumbuhan Keterangan
I. DAUN Jaringan daun meruncing ke bawah tangkai daun (arah
5. Bentuk Pangkal Daun dasar) ke basis yang sempit, selalu memiliki beberapa daun
berdaging di kedua sisi tangkai daun.
A. Attenuate: Pertulangan daun sempit, berbentuk lurus dengan
sisi dasarnya, meruncing ke dasar, daun terpasang di
B. Cuneate: ujung yang sempit.
Pertulangan daun membentuk kurva yang melengkung
C. Rounded: membentuk lingkaran.

D. Cordate: Hati-berbentuk daun dasar yang melekat pada
E. Auriculate: kedudukan dari dasar. Bisa juga menjadi bentuk
daun keseluruhan, dengan tangkai yang melekat
pada takikan.
Berbentuk seperti daun telinga di kiri-kanan
tangkai daun.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

No Bagian Tumbuhan Keterangan
I. DAUN Pangkal daun melebar dan menyudut sempit.

F. Hastate:

G. Asymmetric:

Pangkal daun tidak simetris.

6. Bentuk tepi daun Rata.
A. Entire: Bergerigi.
B. Crenate: Bergelombang.
C. Dentate:

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

No Bagian Tumbuhan Keterangan
I. DAUN Berombak.

D. Undulate:

E. Serrate:

Bergerigi tajam tapi jarang.

F. Serrulate: Bergerigi tajam/runcing yang rapat.
G. Lobed: Berlekuk.
H. Deeply Lobed: Berlekuk dalam.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

Daun bakau hitam (Rhizophora mucronata Lamk.)
Susunan daunnya tunggal, bersilangan (opposite)

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

No Bagian Tumbuhan Keterangan
II. BUNGA
A. Stigma : Kepala Putik.
Bentuk Umum Bunga Majemuk B. Style : Tangkai putik.
C. Anther : Kepala sari.
A. Recame: D. Filament : Tangkai sari.
E. Ovary : Bakal biji.
F. Petal : Daun mahkota.
G. Sepal : Daun kelopak bunga.

Berbentuk bongkol (bunga majemuk tak terbatas).

B. Panicle: Berbentuk malai (bunga majemuk tak terbatas).
C. Cyme: Bunga majemuk terbatas.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

No Bagian Tumbuhan Keterangan
II. BUNGA Bunga berbentuk payung (bunga majemuk tak terbatas).

D. Umbel:

E. Spike:

Bunga berbentuk bulir (Bunga majemuk tak terbatas).

G. Lobed: Bunga majemuk dalam seludang.
G. Corymb: Bunga berbentuk aying (bunga majemuk tak terbatas).

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

No Bagian Tumbuhan Keterangan
III. MORFOLOGI PAKU-PAKUAN
1. Bentuk Fisik Tumbuhan

A. Monopodial:

Batang hanya memiliki satu titik pertumbuhan.

B. Sympodial:

Batang memiliki lebih dari satu titik pertumbuhan.

2. Tipe Daun
A. Simple:

Satu tangkai hanya menopang satu helai daun.

B. Compound:

Memiliki banyak anak daun.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

No Bagian Tumbuhan Keterangan
III. MORFOLOGI PAKU-PAKUAN Berbentuk kipas.
IV. Morfologi Daun Palem

A. Fan-Like:

B. Fish-tail-like:

Berbentuk ekor ikan.

C. Feather Like:

Berbentuk menyirip.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^
Gambar 1 Acacia auriculiformis A. Cunn. ex Benth.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

IV. DESKRIPSI JENIS TUMBUHAN

4.1. JENIS TUMBUHAN BERHABITUS POHON

Acacia auriculiformis
A. Cunn. ex Benth.

Famili: Biji:
Fabaceae Lonjong, pipih hitam atau coklat mengkilap.
Sinonim: Batang:
Racosperma auriculiforme (Benth.) Pedley. Tegak, bulat, putih kotor.
Nama daerah: Akar:
Akasia, Ki hia. Akarnya berupa akar tunggang, berwarna putih kotor.
Spesies yang mirip: Ciri khusus:
A. mangium, A. crassicarpa A. Cunn. Ex Benth. Daunnya hampir sama dengan Acacia mangium tetapi
Habitus: daunnya lebih kecil seperti bulan sabit.
Pohon, tinggi 15-20 m, pada tapak yang baik dapat Fenologi:
mencapai 35 m. Muncul sepanjang tahun dan berbunga pada bulan Maret
Daun: sampai Juni. Penyerbukan biasanya dilakukan oleh serangga.
Majemuk berhadapan, menyirip pada tingkat semai. Pada Habitat:
tingkat dewasa lonjong, tepi rata, ujung dan pangkal tumpul, Tumbuh di dataran rendah tropis beriklim lembab sampai
panjang 5-20 x 1-2 cm, pertulangan menyirip hijau dengan sub lembab, sepanjang tepi sungai, pada daerah berpasir di
3 urat yang jelas. tepi pantai, daerah yang mengalami pasang surut air laut,
Bunga: danau-danau berair asin di dekat pantai, dan dataran yang
Majemuk berkelamin dua di ketiak daun, berwarna tergenang air. Jenis ini dapat tumbuh pada kondisi tanah
kuning muda, wangi, kelopak silindris, benang sari yang mengandung garam dengan salinitas 0.15-7.25 dS/m,
silindris, kepala sari bentuk ginjal, mahkota putih baik di tanah kering maupun basah.
bentuknya seperti kuku, putih. Kegunaan:
Buah: Kayunya untuk kayu bakar, jenis ini dimanfaatkan secara
Polong, masih muda hijau setelah tua berwarna coklat, luas untuk keperluan revegetasi dan rehabilitasi lahan
kemudian merekah dan terpilin. Ukuran buah terdegradasi dan reklamasi pada lahan bekas pertambangan
(6.5 x 1.5) cm. timah dan bauksit.



\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

Avicennia alba Bl.

Famili: Biji:
Avicenniaceae Tipe biji kriptovivipari.
Batang:
Sinonim: Kulit kayu berwarna kelabu hingga hitam,
Avicennia marina (Forssk.) Vierh. var. alba (Blume) Bakh. seperti kulit ikan hiu.
Akar:
Nama daerah: Berakar napas, seperti pensil.
Api-api, Mangi-mangi putih, Boak, Koak. Ciri khusus:
Daunnya ramping panjang, buah seperti cabe, spesies pionir.
Spesies yang mirip: Fenologi:
A. marina, A. o cinalis, A. lanata. Berbunga umumnya Juli sampai Februari, berbuah
umumnya November sampai Maret (musim penghujan),
Habitus: pembuahan sampai masak 2-3 bulan.
Pohon mencapai tinggi 15 m. Habitat:
Paparan lumpur, tepi sungai, daerah kering, toleran
Daun: terhadap salinitas yang sangat tinggi.
Tunggal, bersilangan (opposite), lanset hingga elips, ujung Kegunaan:
daun runcing, panjang 10-18cm. Kayunya sebagai kayu bakar jenis unggulan dan penahan
abrasi laut di pesisir pantai paling depan.
Bunga:
Rangkaian 10-13 bunga, panjang 1-3 cm, berada di ujung
atau di ketiak daun pada pucuk, mahkotanya 4 berwarna
kuning sampai oranye, kelopak 5 helai, benang sari 4 dengan
diameter 0.4-0.5 cm.

Buah:
Ukuran buah lebarnya 1.5-2 cm dan panjangnya 2.5-4 cm,
berambut halus, buah seperti cabe atau biji buah mete.

Gambar 2 Avicennia alba Bl.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^
Gambar 3 Avicennia marina (Forssk.) Vierh.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

Avicennia marina (Forssk.) Vierh.

Famili: Biji:
Avicenniaceae Tipe biji kriptovivipari.
Batang:
Sinonim: Kulit kayu bagian luar berwarna abu-abu kecoklatan dan
A. intermedia Gri ., A. mindanaense Elmer., Sceura marina tipis, mengelupas pipih dalam bentuk bercak, kulit dalam
Forssk., A. marina var. acutissima Stapf & Moldenke., A. berwarna putih krem.
marina var. anomola Moldenke., A. marina var. australiasica Akar:
(Walp.) J. Everett., A. marina var. intermedia (Gri .) Akar napas, seperti pasak.
Bakh., A. marina var. marina., A. marina var. resinifera Ciri khusus:
(Forst.) Bakh., A. marina var. rumphiana (Hall. f.) Bakh., Buah seperti kacang, spesies pionir.
A. marina var. typica Bakhuizen. Fenologi:
Berbunga umumnya Juli sampai Februari, berbuah
Nama daerah: umumnya November sampai Maret (musim penghujan),
Sie-sie, Pejapi, Nyapi, Sia-sia putih, Api, Sia, Hajusa, Pai, pembuahan sampai masak 2-3 bulan.
Api-api. Habitat:
Paparan lumpur, tepi sungai, daerah kering, toleran
Spesies yang mirip: terhadap salinitas yang sangat tinggi dan umumnya
A. alba, A. o cinalis, A. lanata. di daerah pertemuan sungai atau teluk landai dengan
lumpur dalam.
Habitus: Kegunaan:
Pohon mencapai tinggi 25 m dan diameter mencapai 40 cm. Kayunya sebagai kayu bakar jenis unggulan dan penahan
abrasi laut di pesisir pantai paling depan. Selain itu akarnya
Daun: menjadi penahan dan penangkap berbagai sampah di
Tunggal, bersilangan (opposite), berbentuk elips, ujung perairan, serta menjadi tempat makanan bagi aneka jenis
runcing hingga membundar, pangkal daun acute, ukuran kepiting bakau, siput, dan teritip.
daun (5-11 cm x 2.5-5 cm), permukaan daun bagian atas
hijau kuning mengkilap dan bagian bawahnya abu-abu
keputihan, tangkai daun 1.5-2 cm.

Bunga:
Rangkaian 8-14 bunga rapat dan kompak, panjang
1-2 cm, berada di ujung atau di ketiak daun pada pucuk,
mahkotanya 4 berwarna kuning sampai oranye, kelopak
5 helai, benang sari 4 dengan diameter 0.4-0.5 cm.

Buah:
Ukuran buah lebarnya 1.5-2 cm dan panjangnya 1.5-2.5
cm, kulitnya berambut halus pendek dengan warna kulit
abu-abu kehijauan, buah seperti kotak atau seperti kacang.
Buahnya melingkar atau memiliki sebuah paruh pendek.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

Bruguiera Gymnorhiza (L.) Lamk.

Famili: Buah:
Rhizophoraceae Buahnya melingkar atau memiliki sebuah paruh pendek.
Buahnya melingkar spiral, bundar melintang, panjangnya
Sinonim: 2-2.5 cm. Hipokotil lurus, tumpul dan berwarna hijau
B. capensis Bl., B. conjugata (non Rhizophora conjuga gelap hingga ungu dengan bercak coklat, panjangnya 12-30
L.) Merr., B. cylindrica (non Bl.) Hance., B. gymnorrhiza cm dan diameter 1.5-2 cm, permukaan licin, kelopaknya
(with one ‘r’), B. rhedii Bl., B. rumphii Bl., B. wightii Bl., B. menyatu saat buah jatuh.
zipelii Bl., Mangium celsum Rumph., M. minus Rumph., Biji:
Rhizophora gymnorrhiza L., R. palun., R. rhedii Steud., R. Tipe biji vivipari.
tinctoria Blanco. Batang:
Kulit kayu bagian luar berwarna abu-abu, abu-abu
Nama daerah: kehitaman, coklat tua atau hitam mengelupas kaku, retak-
Lindur, Tancang merah, Sala-sala, Totongkek, Tancang, retak yang dalam memanjang searah vertikal, memiliki
Tumu, Tanjang, Putut, Tokke-tokke, Tokke, Mutut besar, mulut kulit kayu, kasar, kulit dalam berwarna merah muda,
Tongke kecil, Mangi-mangi, Wako, Bako, Bangko, Sarau, merah atau coklat kemerahan.
Kendeka, Pertut, Taheup, Tenggel, Tumu, Tomo, Dau. Akar:
Akar berupa akar lutut dan banir kecil berasal dari
Spesies yang mirip: bentukan seperti akar tunjang, seakan-akan papan
B. passi ora, B. cylindrica, B. sexangula, R. mucronata, R. melebar ke samping di bagian pangkal pohon.
apiculata, R. stylosa, R. lamarkii. Ciri khusus:
Bunga besar, berwarna merah (kelopak), daun licin dan
Habitus: tebal, tanpa ujung yang kasar dan ramping.
Pohon mencapai ketinggian 36 m dan diameter mencapai Fenologi:
60 cm. Berbunga sepanjang tahun, berbuah umumnya Juli sampai
Agustus, pembuahan sampai masak 7-8 bulan.
Daun: Habitat:
Tunggal, tata daunnya bersilangan-berhadapan (opposite), Tumbuh subur di daerah mangrove bagian tengah sampai
berwarna hijau pada lapisan atas dan berwarna hijau bagian dalam. Umumnya di daerah yang mempunyai aerasi
kekuningan dengan bercak-bercak hitam (ada juga yang yang baik.
tidak), bentuknya elips-lanset, ujung meruncing dengan Kegunaan:
ukuran daun (4.5-7 cm x 8.5-22 cm). Bagian dalam hipokotil dimakan (manisan kandeka),
dicampur dengan gula. Kayunya yang berwarna merah
Bunga: digunakan sebagai kayu bakar. Kulit batang sumber tanin
Rangkaian bunga lebar dan tunggal di ketiak daun, bunga untuk penyamak kulit.
bergelantungan dengan panjang tangkai bunga 9-25
mm, mahkotanya putih hingga coklat, kelopaknya 10-
14 helai berwarna merah, panjangnya 3-5 cm, ujung tiap
mahkotanya runcing, masing-masing terdiri dari 3 tangkai
benang sari.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^
Gambar 4 Bruguiera gymnorhiza (L.) Lamk.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

Cerbera manghas L.

Famili: Biji:
Apocynaceae Tipe bijinya sebesar 8 x 4 cm tetap melekat pada bibit.
Sinonim: Batang:
Cerbera odollam Bl., C. lactaria Hamilton., C. forsteri Seem., Eksudat berlebihan, biasanya memiliki cairan susu tapi
C. linneai Montr., C. tanghinia Hook., C. venenifera A.J.M., terkadang sering berwarna hijau kekuningan. Kulit kayu
C. venenifera (Poir.) Steud., Elcana seminuda Blanco., bercelah, berwarna abu-abu hingga coklat, memiliki lentisel.
Tabernaemontana obtusifolia Poir., Tanghinia manghas (L.) Akar:
G. Don. Akarnya menjalar ke seluruh permukaan tanah, tapi kurang
Nama daerah: memiliki akar udara dan akar nafas.
Bintaro, Mangga laut, Bintan, Buta-buta madang, Goro- Ciri khusus:
goro, Kayu susu, Kayu kurita, Kenyeri putih, Kadong, Mempunyai buah yang mencolok, berpasangan, biji
Koyandan, Mangga brabu, Waba, Jabal, Kenyen putih, Bilu beracun, bergetah putih.
tasi, Buta badak. Fenologi:
Habitus: Tumbuh di sepanjang tahun.
Pohon mencapai ketinggian 20 m. Habitat:
Daun: Tumbuh di hutan rawa pesisir atau pantai hingga jauh ke
Biasanya terdapat 20-30 bunga dalam satu tandan, letaknya darat (400 mdpl), menyukai tanah yang memiliki system
di ujung dahan. Formasinya berkelompok secara tidak pengeringan yang baik, terbuka terhadap udara dari laut
beraturan. Daun mahkotanya berjumlah 5 putih bersih dan dan tempat yang tidak teratur tergenang oleh pasang surut.
berwarna merah jingga hingga merah muda-merah pada Biasanya tumbuh di tepi bagian daratan mangrove.
bagian pusatnya. Kelopaknya berjumlah 5 dengan putih Kegunaan:
kehijauan, letaknya agak jauh dari mahkota. Benang sari Minyak yang diperas dari biji dan buah dapat mengobati
tidak bergagang menempel pada mulut tabung. gatal-gatal, reumatik, dan pilek. Selain itu dapat digunakan
Bunga: untuk meracuni ikan (insektisida). Kulit kayu dan daun
Rangkaian bunga lebar dan tunggal di ketiak daun, bunga digunakan untuk obat pencahar. Kayunya sebagai kayu
bergelantungan dengan panjang tangkai bunga 9-25 bakar dan bahan arang. Sebagai tanaman hias/peneduh,
mm, mahkotanya putih hingga coklat, kelopaknya 10- kadang-kadang sebagai energi alternatif (biofuel).
14 helai berwarna merah, panjangnya 3-5 cm, ujung tiap
mahkotanya runcing, masing-masing terdiri dari 3 tangkai
benang sari.
Buah:
Bulat, hijau hingga kemerahan, mengkilat dan berdaging.
Diameter buah 6-8 cm. Buah berpasangan.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^
Gambar 5 Cerbera manghas L.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^
Gambar 6 Excoecaria agallocha L.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

Excoecaria agallocha L.

Famili: Biji:
Euphorbiaceae Berwarna coklat tua dengan keadaan normal.
Sinonim: Batang:
Commia cochinchinensis Lour., Kulit kayu berwarna abu-abu, halus tetapi memiliki bintil.
Stillingia agallocha (L.) Baill. Batang memiliki getah putih lengket.
Nama daerah: Akar:
Madengan, Buta-buta, Menengan, Kalibuda, Kayu buta- Akarnya menjalar ke seluruh permukaan tanah, seringkali
buta, Betuh, Warejit, Bebutah, Kayu wuta, Sambuta, berbentuk kusut dan ditutupi oleh lentisel, tidak memiliki
Kalapinrang, Mata huli, Makasuta, Goro-goro raci. akar udara.
Habitus: Ciri khusus:
Pohon mencapai ketinggian 15 m. Mempunyai getah putih yang lengket pada batang, dahan
Daun: dan daun yang dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit.
Hijau tua dan berubah merah bata sebelum rontok, Fenologi:
pinggiran halus bergerigi, letak daunnya berselingan dengan Tumbuh sepanjang tahun. Perbungaan terjadi sepanjang
bentuk elips. Ukuran daun 6.5-10.5 x 3.5-5.0 cm. Ada 2 tahun dan penyerbukan melalui serangga, terutama lebah.
kelenjar pada pangkal daun. Ujung daunnya meruncing. Habitat:
Bunga: Tumbuh memerlukan pasokan air dengan jumlah yang
Letak bunganya di ketiak daun berupa bulir, daun besar. Umumnya ditemukan mangrove di bagian pinggir
mahkotanya berwarna hijau dan putih, kelopak bunganya daratan, atau kadang-kadang di atas air pasang. Bahkan
hijau kekuningan, benang sari 3 dengan warna kuning dapat ditemukan di sepanjang pinggiran danau asin (90%
dengan diameter 0.2-0.3 cm (tiap bunga). Memiliki salah air laut).
satu bunga jantan atau betina, tidak keduanya, bunga Kegunaan:
jantan lebih kecil dari bunga betina dan menyebar di Akar sebagai obat sakit gigi dan pembengkakan, kayu
seluruh tandan. sebagai bahan ukiran dan bahan kertas yang bermutu baik,
Buah: getah dapat digunakan sebagai pembunuh ikan.
Berwarna hijau dengan permukaan seperti kulit dan kasar,
berbentuk seperti bola dengan 3 tonjolan (schizocarp).
Ukuran bunga berdiameter 5-7 mm.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^
Gambar 7 Ficus benjamina L.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

Ficus benjamina L.

Famili: Biji:
Moraceae Biji bulat, keras, dan putih.
Sinonim: Batang:
F. altissima Bl., F. carica Linn., F. conora King., F. stulosa Batang tegak, bulat, percabangan simpodial, permukaan
Reinw., F. fulva Reinw., F. hispida Linn., F. melinocarpa Bl. kasar, berwarna abu-abu kehitaman. Bergetah putih.
Nama daerah: Akar:
Beringin, Waringin (Sunda), Caringin (Jawa). Berakar tunggang dan akar napas.
Spesies yang mirip: Ciri khusus:
F. ampelas Burm., F. annulata Bl., F. callosa Willd., Pada batang keluar akar gantung (akar udara).
F. glabella Bl. Fenologi:
Habitus: Muncul sepanjang tahun.
Pohon, tinggi 20-25 m. Habitat:
Daun: Tumbuh di tanah dan bersifat hemi-epi t (pencekik),
Daun tunggal, bertangkai pendek, letaknya berseling. mampu tumbuh pada berbagai kondisi lingkungan.
Bentuk daun lonjong dengan tepi rata, ujung daun runcing, Kegunaan:
pangkal tumpul, panjang daun 3-6 cm, lebarnya 2-4 cm, Daun berfungsi sebagai obat sakit sariawan pada
pertulangan daun menyirip hijau. anak-anak, akar udara mampu mengobati penyakit pilek,
Bunga: demam, radang amandel, nyeri rematik sendi, bronchitis,
Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, kelopak in uenza, luka terpukul (memar), bahkan mampu
bentuk corong, mahkota berbentuk bulat, halus, mencegah penyakit kanker.
berwarna kuning kehijauan.
Buah:
Buah buni, bulat, panjang 0.5-1 cm, masih muda hijau,
setelah tua merah.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

Hibiscus tiliaceus L.

Famili: Biji:
Malvaceae Biji kecil berwarna cokelat muda.
Batang:
Sinonim: Batang berkayu, bulat, bercabang, warnanya cokelat tua.
H. abutiloides Willd., H. celebicus Koord., H. cuspidatus Sol. Akar:
ex Park., H. elatus (non Sw.) Miq., H. hastatus L., H. similis Berakar normal, serabut.
Blume., H. tricuspis Sol. ex Park., Novella repens, Novella Ciri khusus:
rubra, Paritium tiliaceum (L.) St. Hill. Daun tipis, lebih pendek dan lebih besar daripada

Nama daerah: espesia populnea.
Waru, Waru laut, Wande, Waru langkong, Waru langit, Fenologi:
Waru lot, Waru lenga, Waru lengis, Waru lisah, Waru Tumbuh di sepanjang tahun.
rangkang, Baru (Jawa), Kioko, Siron, Baru, Buluh, Bou, Habitat:
Tobe, Beruk, Melanding (Sumatera), Kabaru, Fau, Wau Tumbuh di daerah pantai tidak berawa atau di dekat pesisir.
(Nusa Tenggara), War, Papatale, Haru, Palu, Faru, Haaro, Tumbuh liar di daerah ladang dan hutan. Mampu bertahan
Fanu, Balo, Kalo, Pa (Maluku), Kasyanaf, Iwal, Wakati di daerah toleran terhadap kondisi masin dan kering, juga
(Papua), Bahu, Molowahu. terhadap kondisi tergenang. Tumbuh baik di daerah panas
dengan curah hujan 800-2000 mm per tahun. Biasa ditemui
Spesies yang mirip: espesia populnea di daerah pesisir pantai berpasir, hutan bakau, dan wilayah
H. similis Blume., H. macrophyllus Roxb., riparian.
Soland. Kegunaan:
Kayunya biasa digunakan sebagai bahan banguna
Habitus: atau perahu, roda pedati, perkakas, dan kayu bakar,
Pohon mencapai ketinggian 5-15 m. kulit batangnya dapat dijadikan tali. Daunnya dapat
digunakan sebagai pakan ternak, atau yang muda
Daun: dapat dijadikan sayuran.
Daun tunggal, berseling, berbentuk hati, lebar, panjang 10-
15 cm, bagian bawah berbulu keputih-putihan dengan tepi
rata, bertulang daun menjari, garis tengah hingga 19 cm,
daun penumpunya bundar telur memanjang.

Bunga:
Serupa dengan espesia populnea, tetapi bercabang 5,
kepala putik berwarna ungu dengan bercak coklat. Bunga
berdiri sendiri atau dalam tandan berisi 2-5 kuntum.
Daun kelopak berjumlah taju 8-11buah dengan panjang
2.5 cm, daun mahkota berbentuk kipas, berkuku pendek,
dan lebarnya 5-7.5 cm, berwarna kuning, jingga kemudian
kemerah-merahan dengan noda ungu pada pangkalnya.

Buah:
Kapsul, diameter 2-3 cm, terbelah ke dalam 5 segment dan
melepaskan biji pada saat matang (dehiscent). Berambut
lebat, dan beruang lima, panjang sekitar 3 cm.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^
Gambar 8 Hibiscus tiliaceus L.



\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

Intsia bijuga (Colebr.) O. Kuntze.

Famili: Buah:
Fabaceae Buah kapsul dengan 3 sel yang berisi sampai 450 biji, buah
polong dengan ukuran 10-28 x 2-4 cm.
Sinonim: Biji:
I. amboinensis D.C., I. madagascariensis ouars ex DC., I. Biji kecil 1-8 butir, kasar, hitam.
retusa (Kurz.) O. Kuntze., Afzelia bijuga (Colebr.) A. Gray. Batang:
Batang tidak bercabang, lurus, licin dan berwarna
Nama daerah: keputihan, kulit mengelupas.
Merbau, Ipil, Kayu besi. Akar:
Membentuk akar banir (papan) yang tebal dan tinggi,
Spesies yang mirip: bentuk pegagannya berwarna abu-abu terang atau coklat
Kingiodendron platycarpum. pucat, halus dengan bintil-bintil kecil lentisel, mengelupas
serupa sisik-sisik bulat.
Habitus: Fenologi:
Pohon mencapai ketinggian 50 m dengan tinggi bebas Bunga muncul sepanjang tahun, dengan puncaknya pada
cabang mencapai 20 m, dan berdiameter mencapai bulan Agustus.
160-250 cm. Habitat:
Sering terdapat di hutan pantai dan sepanjang sungai
Daun: pasang surut tetapi juga ditemui di daratan sampai
Daun majemuk dengan 2-3 pasang anak daun, anak daun ketinggian 600 m dpl.
bundar telur tidak simetris, ukurannya 2.5-16.5 x 1.8- Kegunaan:
11 cm, dengan ujung tumpul atau melekuk dan pangkal Kayunya biasa digunakan sebagai bahan konstruksi berat,
membundar, permukaannya gundul dan licin, tulang daun pepagan dan daunnya dapat digunakan sebagai obat dan
utama berambut panjang di sisi bawah. bijinya dapat dimakan setelah diolah dengan hati-hati.

Bunga:
Terkumpul dalam karangan di ujung (terminal), panjang
hingga 10 cm, berambut halus. Mahkota berwarna putih
yang berubah menjadi jambon, atau merah; benang sari
seluruhnya berwarna merah keunguan.

Gambar 9 Intsia bijuga (Colebr.) O. Kuntze.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^
Gambar 10 Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit

Famili: Biji:
Fabaceae Bulat telur, masih muda hijau setelah tua coklat
Batang:
Sinonim: Berkayu, penampang bulat, bercabang, hijau kecoklatan.
Mimosa leucochepala Lam., Mimosa leucophala Lam. Akar:
Akar tunggang, berwarna kuning kecoklatan
Nama daerah: Ciri khusus:
Petai cina (Indonesia), Lamtoro (Jawa), Peuteuy selong Daun kecil mengandung alkaloida, saponin, avonoida dan
(Sunda), Tibak, Ipil-ipil (Kalimantan) tanin. Buahnya mirip dengan buah petai (Parkia speciosa)
tetapi ukurannya jauh lebih kecil dan berpenampang lebih
Spesies yang mirip: tipis.
Leucaena glauca (L.) Benth Fenologi:
Polinasi dilakukan oleh serangga atau burung dan angin.
Habitus: Habitat:
Pohon dapat mencapai tinggi sekitar 11 m dan diameter Cocok hidup di dataran rendah sampai ketinggian 1500 m
batang sekitar 17 cm. dpl. Sering ditemukan di dekat sungai, juga di sepanjang
jalan dan tonjolan pada tanah berpasir.
Daun: Kegunaan:
Majemuk menyirip ganda dua, daun berseling (alternate), Digunakan sebagai tanaman naungan dan reboisasi. Kayu
anak daun berhadapan (opposite), anak daun bulat telur, digunakan untuk pulp/kertas, bahan bakar dan arang. Kulit
panjang 6-25 cm, lebar 2-5 cm, ujung runcing, tepi rata, (ditumbuk) digunakan untuk melawan infeksi jamur dan
pangkal tumpul, hijau, berbulu. sebagai pewarna cokelat untuk jaring ikan. Daun digunakan
sebagai pakan ternak. Daun, bunga dan buahnya digunakan
Bunga: untuk memasak. Biji dapat digunakan sebagai pengganti
Bongkol, kelopak bentuk lonceng, hijau, benang kopi juga sebagai peluruh air seni dan obat cacing.
sari sepuluh, panjang + 1 cm, daun mahkota lepas,
bentuk lanset, panjang ± 5 mm, tangkai panjang, putih
kekuningan

Buah:
Polong, bentuk lanset dan pipih, panjang 8-18 cm, lebar ± 2
cm, masih muda hijau setelah tua hitam.

\ ' - 0 3 " . " / ( 3 0 7 & % * , "8" 4 " / ) 6 5" / " / ( , & , " 1 6 , t ^

Morinda citrifolia L.

Famili: Biji:
Rubiaceae Berwarna hitam, tersusun dari albumen keras dan ruang
Sinonim: udara yang tampak jelas. Berukuran kecil-kecil dan
Bancudus latifolia Rumph., Morinda citrifolia Hunter. berjumlah banyak.
Nama daerah: Batang:
Mengkudu, Noni, Keumeudee (Aceh), Pace, Kemudu, Kudu Batang bengkok-bengkok, berdahan kaku, kasar. Kulit
(Jawa), Cangkudu (Sunda), Kodhuk (Madura), Tibah (Bali), batang cokelat keabu-abuan atau cokelat kekuning-
Eodu, Eoru, Lengkudu, Bangkudu, Pamarai, Mangkudu, kuningan, berbelah dangkal, tidak berbulu, anak cabangnya
Neteu, Kudu, Ai kombo, Bakulu, Wangkudu, Labanau. bersegi empat.
Habitus: Akar:
Pohon kecil atau perdu yang mencapai tinggi 3-8 m. Berbentuk tunggang yang tertancap dalam.
Daun: Ciri khusus:
Daun mengkilap, letak daun berhadapan (opposite), helaian Bijinya mempunyai daya tahan lama, tajuknya selalu hijau,
daun tebal, tunggal dan besar. Bentuknya jorong lanset, dan batangnya sangat mudah dibelah.
berukuran (15-50 x 5-17) cm, tepi daun rata, ujung daun Fenologi:
lancip pendek. Pangkal daun berbentuk pasak dengan urat Bulan kering berpengaruh pada jumlah buah dan besar
daun menyirip. Warna daun hijau mengkilap, tidak berbulu, kecilnya buah yang dihasilkan sedangkan bulan basah
dengan pangkal daun berukuran 0.5-2.5 cm. Ukuran daun berpengaruh terhadap proses pembungaan.
penumpu bervariasi, berbentuk segitiga lebar. Habitat:
Bunga: Tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 1500 m dpl.
Bertipe bonggol bulat, bergagang 1-4 cm. Bunga tumbuh di Tanaman ini sangat baik tumbuh dengan kondisi cukup
ketiak daun penumpu, dengan berkelamin dua. Mahkotanya sinar matahari, tekstur tanah liat berpasir, agak lembab,
putih berbentuk corong, panjang mencapai 1.5 cm. Benang banyak mengandung bahan organik dengan drainase yang
sari tertancap di mulut mahkota, dengan kepala putik cukup baik, curah hujannya 1500-3500 mm/tahun dengan
berputing dua. Bunga putih dan harum. bulan kering < 3 bulan, pH tanah 5-7.
Buah: Kegunaan:
Buah bulat lonjong seperti telur dengan diameter 7.5-10 Kayunya sebagai penopang tanaman lada, daunnya
cm. Permukaan buah terdiri dari sel-sel polygonal yang dimakan dengan nilai kandungan gizi yang tinggi,
berbintik dan berkutil. Awal berwarna hijau, lama-kelamaan buahnya sebagai antibiotik. Akarnya untuk mewarnai
berwarna putih kekuningan hingga masak putih transparan. batik dan anyaman pandan.
Daging buah terdiri dari buah-buah berbentuk piramida
berwarna cokelat.


Click to View FlipBook Version