Nama : Bryan Marcello Parsiholan Sihotang
NIM : 201521065 / Fotografi
Mata Kuliah : Studi Cahaya
Dosen Pengampu : Andry Prasetyo M,Sn
Pengamatan ke 1 : Pemandangan Sawah di Lembah Perbukitan
Foto : Steve McCurry
Ada beberapa komponen yang berada dalam foto ini, contoh:
pemandangan sawah yg memiliki pola berulang, perbukitan, rumah
kecil, cuaca cerah di siang hari.
Foto pemandangan ini diambil dalam bentuk landscape, dengan
background pemandangan indah.
Gambar ini terdiri dari beberapa teknik penangkapan fotografi
seperti, landscape fotografi, repetisi fotografi yg berada dalam
gambar diatas (terasering sawah), bird eye, dsb.
Pencahayaan ISO yg kira-kira berkisar di angka 100 kuranglebih.
Menggunakan teknik pengambilan Ruang Tajam Luas kira-kira
diangka F 10 – 16, dan shutter speed berkisar 30 - 60
Pengamatan ke 2 : Perang Saudara
Foto : Steve McCurry
Gambar diambil terlihat dari peperangan yang terjadi di suatu
wilayah yg menjadi tema pada pengamatan ini.
Motion blur diambil dengan pergerakan kamera kesamping
(panning) agar seolah olah objek difoto sedang bergerak,
menunjukan pergerakan dari background ataupun foreground
Dan motion blur dipraktekkan dan dimanfaatkan dalam membuat
gambar foto abstrak, foto panggung, ataupun street motion blur.
Gambar ini bisa dikaitkan dalam pengambilannya dengan teknik
low angle
Dengan shutter lambat sekitar 20-40, Diafragma 5 - 6, ISO 400-
800
Komponen dalam gambar diatas yang membawa suasana berkesan
dramatis seperti, api yang menyala, warga dengan senjatanya, dsb
Ditambah dengan asap kehitaman di sore hari menjelang malam
yang menambah suasana genting yang terjadi disana
Pengamatan ke 3 : Guratan daun dan jamur
Foto : pinterest.com
Komposisi tekstur menghasilkan gambar foto yang lebih detail dan
tekstur pada objek. Contoh objek: batuan, aspal jalanan, daun,
batang pohon, kulit, mata, dll
Gambar tekstur harus bisa menghasilkan detail dari suatu objek
yang kita tangkap, dengan cara foto objek dari jarak sedekat
mungkin menggunakan kamera berlensa 50mm ke atas
Lensa tele, lensa fix, lensa sigma dll, sangat cocok dalam
pengambilan foto yang berkomposisi tekstur.
Gambar tekstur bisa diambil dengan format shutter kira-kira Speed
20 – 60, F 5 – 10, ISO 100 – 400
Dengan komposisi tekstur memotret benda maupun tumbuhan,
kain dsb sangat direkomendasikan
Pengamatan ke 4 : Anjing berada di pinggiran sungai
Foto : credit
Dengan memakai teknik DOF (Depth of Field) ini kita bisa dengan
mudah menemukan esensi dalam foto diatas dengan ruang tajam
sempit, fokus objek hewan dan background blur
Lensa fix, lensa tele sangat sekali cocok untuk pengambilan ruang
tajam sempit atau Depth Of Field ini
Tiga faktor untuk pengambilan DOF yaitu, Aperture/Diafragma
Lensa, Panjang fokus Lensa, Jarak kamera dari objek.
Memakai diafragma 1.8 sudah paling tepat untuk mendapat DOF,
Shutter 100 – 250, ISO 100 – 400
Jika ingin mendapat DOF luas bisa menggunakan lensa wide, jika
ingin mendapat DOF sempit bisa menggunakan lensa tele dan fix
DOF sempit sangat cocok untuk memotret makhluk hidup seperti
bunga, manusia, hewan atau bahkan bisa juga memakai model
manusia untuk foto komersil
Pengamatan ke 5 : Lorong bangunan tua
Foto : Antonio Costa
Selain frame in frame foto diatas memiliki komposisi repetisi atau
background yang berulang
Dengan adanya framing lorong dan cahaya yang masuk dari
dinding yang bersusun dikanan (side light) dan objek manusia di
kiri mengarahkan penikmat fotografi untuk memperhatikan apa
yang ada didalam frame dan mengesampingkan yang diluar frame
Frame to frame sangat berpatokan dengan, pintu, jendela, koridor,
lorong bangunan, spion atau kaca, dan atau bentuk lengkungan
tertutup untuk membingkai Point of Interest dalam hasil foto.
Tidak hanya repetisi dinding bersusun yang ada difoto diatas, tapi
jendela dibagian kiri dibelakang objek manusia juga terlihat
membentuk komposisi repetisi yang membuat mata para penonton
untuk fokus ke arah framing, lalu di balut dengan komposisi
repetisi disisi kanan dan kiri dan objek manusia berada didalam
framing dinding bangunan membuat nuansa foto yang kompleks
Pengamatan ke 6 : Hutan pinus
Foto : www.unsplash.com
Foto hutan pinus yang rimbun diatas membuat takjub dari setiap
perspektif mata para penontonnya
Menurut saya gambar diatas diambil menggunakan low angle shot,
cuaca cerah terpancar, komposisi foto perspektif menjadi inti dari
gambar diatas
Seakan-akan pohon pinus seperti panah yang meluncur bersamaan,
dan foto diatas menggunakan komposisi perspektif
Efek proporsi dan dimensi pada setiap foto yang memakai
komposisi perspektif seperti foto diatas untuk mengarahkan mata
penonton ke Point of Interest sebagai keindahan komposisi
perspektif ini
Sangat satisfying (puas) ketika saya melihat foto ini pertama kali
Pengamatan ke 7 : Cheetah Savannah
Foto : foto.co.id
Foto diatas menggunakan komposisi dasar fotografi yaitu Rule of
Third (Sepertiga Bidang)
Berobjek hewan cheetah, lokasi sepertinya di savannah Afrika,
cuaca siang menjelang sore hari
Dalam konsep Rule of Third seperti gambar diatas terdiri dari
Interesting Point (IP) ada 4 titik ditengah, lalu Interesting Lines
ada 2 garis horizontal dan 2 garis vertical
Untuk membidik objek dengan komposisi Rule of Third, kita bisa
membagi bidang foto menjadi 9 kotak sama besar dan meletakkan
Point of Interest pada titik dan garis bidang 3x3 tersebut
Tidak hanya hewan dan manusia, pemandangan alam, tumbuhan
bisa dijadikan aspek pengambilan foto dengan Rule of Third
Pengamatan ke 8 : Cahaya di Menara Eiffel
Foto :Barry O Carroll
Nuansa langit keunguan menjelang malam di kota Paris
Menurut saya temperature warna langit foto diatas berkisar di 8000
Kelvin lebih
Foto diatas terlihat garis lantai menuntun mata penonton menuju
Point of Interest dari foto tersebut yaitu menara Eiffel
Foto diatas bisa dikaitkan dengan komposisi Leading Lines, line
atau garis yang dapat mengarahkan mata penonton ke suatu objek
Point of Interest
Mungkin disekitar menara Eiffel akan indah terlihat dikala malam
hari, sore hari karena mungkin cahaya akan bernuansa estetik
romantis
Pengamatan ke 9 : Gemerlap Lampu Kota
Foto : Barry O Carroll
Pemandangan kota Paris dan gemerlap cahaya lampu kota dan
menara Eiffel yang estetik.
Fotografi citylight, city scape tidak jauh beda dengan foto diatas
karena biasanya mengambil foto citylight sangat cocok di malam
hari, banyak lampu kota yang memanjakan mata
Dengan berada ditempat tinggi seperti menara, gedung, apartment,
dsb. Kita bisa mendapatkan hasil foto bak teknik pengambilan
bird eye view, bisa juga dengan eye level (atau bisa dibilang
sejauh mata memandang)
Lensa yang bisa dipakai untuk foto seperti diatas, lensa kit, lensa
wide, lensa tele, dll.
Pengambilan DOF (Ruang tajam luas) menjadi senjata penting
untuk pengambilan foto city light ditambah komposisi Change
your Point of View
Pengamatan ke 10 : Langkah Kecil Anak Desa
Foto : Emilio Naranjo/EPA
Seorang anak kecil berlari kubangan air dijalan, dengan cerahnya
sinar matahari yang membuat pantulan komposisi refleksi di
genangan air ketika si objek di foto.
Dan membuat foto sedikit mengalami siluet foto, namun tidak
merata.
Hipotesa mengenai format foto, Shutter 200 – 500, F 5 – 7, ISO
100 – 200
Ada beberapa benda bias yang bisa dijadikan untuk mendapat
komposisi refleksi yaitu, genangan air, danau yang tenang, sungai
yang tenang, kaca jendela, cermin, spion kendaraan, kacamata dll.
Komposisi refleksi sangat mengandalkan cahaya alami, agar hasil
foto yang di dapat mendapatkan refleksi yang natural
Refleksi pada foto bisa menjadi Point of Interest dalam suatu karya
foto atau hanya menjadi pelengkap keindahan foto
Pengamatan ke 11 : Tatanan Kota
Foto : Steve McCurry
Tatanan bangunan kota pada foto diatas bisa dikaitkan lagi
dengan komposisi repetisi, bisa juga dalam teknik pemotretan
dengan bird eye, atau sang fotografer berada di bangunan
tinggi seperti gedung, menara, dll. Saya bisa mengaitkan foto
diatas bisa menggunakan eye level, ant level karena tergantung
sejauh senyaman mata kita memandang dan menempatkan
sudut kota untuk difoto.
Dan perkiraan hipotesa saya foto diatas menggunakan DOF
Luas atau ruang tajam luas sekitar F 11 – 20, Shutter 20 – 60,
ISO 100
Cuaca yang cerah disiang hari mendukung dalam pemotretan
foto cityscape seperti diatas tidak hanya siang hari namun pagi
dan sore hari juga cocok untuk memotret cityscape
Pengamatan ke 12 : Kopi Senja
Foto : Geyonk
Sama seperti komposisi Rule of Third namun foto diatas bisa
dikaitkan dengan komposisi Negative Space (Ruang Kosong)
Foto diatas meninggslkan ruang kosong yang begitu luas yang
memberikan kesan kesunyian, ketenangan, keharmonisan dan
menarik untuk dipandang
Dengan banyaknya ruang kosong dan adanya cahaya yang
mengintip dari rindangnya pohon seperti tergambar pada foto
diatas, sementara sedikit elemen utama objek yang hanya berupa
pagar dinding kayu dan secangkir kopi, membuat mata penonton
dengan mudahnya terfokus secara otomatis ke secangkir kopi yang
menjadi point of interest pada gambar foto diatas
Dengan paduan komposisi negative space dan rule of third foto
diatas menjadi sangat menarik dipandang, dan komposisi tadi bisa
digunakan untuk dunia foto komersil seperti foto prewedding,
produk kemasan, foto olahragawan, dsb
Pengamatan ke 13 : Kerbau Padang Rumput
Foto : Paul Kirui
Foto kerbau di padang rumput sepengamatan saya sang fotografer
menggunakan low angle sebagai pengambilan foto diatas\
Dan Lensa yang digunakan sepertinya memakai lensa wide atau
ultra wide, lensa tele, karena dimensi yang didapat adalah dramatis
Dan fotografer yang berkomersil di satwa hewan liar
membutuhkan kesabaran, ketepatan momen, pengambilan angle,
dsb.
Foto diatas menghasilkan komposisi rule of third menurut
sepengamatan saya
Format pengambilan menurut hipotesa saya, Shutter 80 – 500, F
3,5 – 5, ISO 100
Menurut pengamatan saya cuaca difoto sangat begitu cerah jadi
kira-kira hanya memakai ISO berkisar 100 – 200
Pengamatan ke 14 : Jiwa Tua Nafas Muda
Foto : Vian Firmans
Foto diatas terdiri dari 2 komposisi yaitu komposisi Black &
White dan komposisi Human Interest
Foto diatas menonjolkan sisi kehidupan si objek manusia yang
difoto (kakek) sedang berjualan makanan.
Dan menggunakan hitam putih membuat nuansa foto menjadi
dramatis dan berkesan di mata penonton
Tidak hanya menggunakan DSLR atau sejenisnya untuk membuat
jenis foto seperti foto diatas, bisa juga menggunakan kamera
35mm, karena kamera tersebut sangat cocok dalam pengambilan
foto human interest
Dan dengan foto diatas secara tidak langsung memiliki pesan dan
arti kehidupan yang bisa dimaknai oleh setiap masing-masing
penonton
Daftar Pustaka :
https://www.kamerashot.com/belajar-komposisi-foto/
https://imagesfilm.wordpress.com/2019/01/16/apa-itu-human-
interest/
https://jsp.co.id/20-tips-komposisi-fotografi-yang-sering-di-
pakai/
https://sitaro.wordpress.com/2010/08/15/temperatur-warna-
kelvin/