The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

1-Kelompok Preferensi 1-implementasi UAP

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by niussj, 2021-11-09 03:49:54

1-Kelompok Preferensi 1-implementasi UAP

1-Kelompok Preferensi 1-implementasi UAP

PREFERENSI 1:
MENUNJUKKAN JALAN MENUJU TUHAN

Percakapan Tiga putaran kelompok implementasi UAP

Daftar Isi:
Anggota kelompok … 2
Langkah-Langkah Percakapan Rohani Tiga Putaran:

• A. Persiapan … 3
• B. Panduan Percakapan Rohani Tiga Putaran … 4

o Putaran Pertama … 4
o Putaran Kedua: Sharing Reflekstif … 5
o Putaran Ketiga: Konsensus … 5
o Doa Syukur … 5
o Pertanyaan Reflektif … 6
o Langkah-langkah Percakapan Rohani … 6
Bahan Pendalaman Implementasi UAP:
• Refleksi Personal sebagai Pribadi … 7
• Refleksi Personal sebagai bagian dari KBKL … 17
• Refleksi Personal sebagai bagian dari lembaga … 27
Notula Sharing Percakapan Tiga Putaran … 33
• Notula Putaran Pertama 1A (… 37) dan 1B (… 38 )
• Notula Putaran Kedua 1A (… 41) dan 1B (… 42)
• Notula Putaran Ketiga … 44

16 Anggota kelompok Preferensi 1:

Kelompok Preferensi 1A Kelompok Preferensi 1B
1. Fr. Robert Khalis Jati 1. Gemilau Ragil Prasetyo
2. Agatha Novitasari 2. Herunimus Joko Prasetyo
3. Albert Leonardo Lantang 3. Johanes Wahyu Tris Murdani
4. Alexander Christian Widya 4. Josafat Aswin Kristantoro

Eka Winarto 5. Maria Magdalena Ida Widuri Sanusi
5. Aris Sugiarto 6. Masnimawati Gulo
6. Basilios Unggul Hadi Saputra 7. Monica Sendi Afa
7. Thomas Elisa 8. Edi Asmanto
8. Hellen Octaviana

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 2

LANGKAH-LANGKAH
PERCAKAPAN ROHANI TIGA PUTARAN

A. PERSIAPAN

1. Setiap anggota kelompok membaca Bahan Pendalaman Implementasi UAP
(hlm. 7-32)
a. Pembacaan dilakukan secara mandiri dan tenang (tidak terburu-buru).
Luangkanlah waktu untuk membaca.
b. Setiap anggota menyiapkan buku catatan pribadi untuk mencatat kata,
kalimat, bagian yang dirasa menyentuh, mengena, menarik, inspiratif;
c. Bila ada beberapa kata, kalimat, bagian yang dirasa menyentuh, mengena,
menarik, inspiratif, tentukan maksimum tiga prioritas kata, kalimat, bagian
untuk disharingkan.

2. Fasilitator kelompok (nama yang dicetak tebal) bertugas:

a. membuat link di google meeting atau zoom meeting bila pertemuan

dilaksanakan secara daring;

b. mengumpulkan anggota kelompoknya untuk menentukan jadwal

pertemuan pertama;

c. menentukan PIC Notula (PIC yang mencatat sharing tiap anggota kelompok

percakapan tiga putaran);

d. menentukan jadwal percakapan rohani tiga putaran;

e. mengatur jalannya proses percakapan tiga putaran hingga sampai pada

penyusunan bundling/kesimpulan/rekomendasi di putaran ketiga;

f. menyerahkan kepada Pater Kepala Sekolah

bundling/kesimpulan/rekomendasi sebagai bahan penyusunan rencana

strategis Yayasan Loyola.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 3

B. PANDUAN PERCAKAPAN ROHANI TIGA PUTARAN

Percakapan rohani adalah berbagi pengalaman tentang buah-buah
doa/bacaan rohani pribadi dan mendengarkan pengalaman refleksi dari anggota
lainnya dalam kelompok.

“Apa yang akan kita bagikan dalam percakapan rohani
kelompok adalah pengalaman rohani. Percakapan rohani ini
adalah cara menemukan Tuhan dalam pengalaman-
pengalaman tersebut dengan memperhatikan gerakan-
gerakan emosi kita, kehendak dan mimpi atau harapan kita”
(Luz Marina Diaz, PhD).

Putaran Pertama

Percakapan rohani dalam putaran pertama ini, kita diajak untuk berbagi
pengalaman rohani dalam kelompok dengan pertanyaan-pertanyaan refleksi, doa
dan pendalaman (bacaan) rohani pribadi. Setiap orang diberi waktu 5 – 10 menit
untuk membagikan pengalamannya dan perlu ditunjuk orang yang menjaga
waktu dan mengingatkan setiap pembicara. Pembicaraan hendaknya langsung
pada inti masalahnya dan dirumuskan secara singkat, padat dan jelas.

Langkah-Langkah:
1. Setiap orang akan berbicara gerakan-gerakan batin apa yang muncul dalam

doa/refleksi pribadi dan masing-masing akan diberi waktu sekitar 5-10 menit
untuk berbicara;
2. Dengarkan orang yang berbicara – jangan memikirkan apa yang akan Anda
sharingkan untuk giliran Anda.
3. Buka hati dan pikiran pada orang yang sedang berbicara; pahami dari
perspektif orang yang sedang berbicara.
4. Setiap selesai orang berbicara, ciptakan hening sekitar 30 detik untuk
mengingat-ingat lagi apa yang baru saja disharingkan. Setelah itu bisa
dilanjutkan dengan giliran orang lain untuk berbicara.
5. Fasilitator kelompok menunjuk seseorang untuk memulai sharing, lalu
dilanjutkan dengan orang lain secara berurutan. Setiap kali orang selesai
bicara, berikan waktu
hening sekitar 30 detik dan setelah semua orang berbicara, hening beberapa
menit untuk mengingat-ingat kembali dan merangkum
kecenderungan/gerakan umum apa yang telah disharingkan.

Catatan yang perlu diperhatikan dalam sharing pengalaman ini pada Putaran
Pertama ini.

Sharing pribadi:
1. Semua harus mendengarkan secara aktif dan penuh perhatian,
2. Mendengarkan orang lain tanpa memberi penilaian (judgment),
3. Memperhatikan tidak hanya apa yang dikatakan tetapi juga nada/intonasi

bicara dan perasaan orang yang sedang berbicara,
4. Hindari godaan untuk mempersiapkan diri bahan sharing pribadi Anda sendiri

ketika orang lain sedang berbicara.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 4

Berbicara intensional:
1. Ungkapkan pengalaman, pemikiran, perasaan Anda sejelas mungkin,
2. Dengarkan secara aktif (perhatikan) pikiran dan perasaan Anda sendiri ketika

berbicara,
3. Pantau kecenderungan mementingkan diri Anda sendiri ketika berbicara.

Putaran Kedua: Sharing Reflektif

Mendengarkan (mengacu pada Sharing Putaran Pertama)
1. Apakah Anda tersentuh secara khusus dengan apa yang disharingkan dalam

Putaran Pertama? Apa yang mengesan dari sharing Putaran Pertama?
2. Tema atau isu umum mana saja yang banyak disharingkan dan yang

menyentuh/menggerakkan hati Anda?
3. Adakah sesuatu yang Anda harapkan muncul namun tidak Anda dengarkan

dalam sharing pada Putaran Pertama?

Perasaan/Gerakan Batin – Feeling/sensing:
Sharing dalam Putaran Kedua ini akan melahirkan kesadaran setiap anggota
sebagai kelompok. Di sinilah tanda-tanda Roh yang berkarya dalam kelompok
mulai terwujud, dan percakapan mulai mengarah pada kualitas penegasan Roh
bersama.

Dalam Putaran Kedua ini, Anda bisa berbicara secara spontan sesuai dengan
dorongan batin Anda. Dalam putaran kedua ini bicaranya singkat. Di sini bukan
bicara tentang apa yang lupa dikatakan dalam putaran pertama, bukan juga
untuk berargumentasi atau membantah sharing orang lain, namun bicara untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif sebagai berikut:
1. Di mana Anda mengalami adanya harmoni atau disharmoni ketika

mendengarkan sharing dari orang lain? Mengapa Anda merasa demikian?
2. Emosi atau perasaan-perasaan apa yang sedang Anda rasakan sekarang?

Apa arti/makna dari perasaan-perasaan ini menurut Anda?
3. Apakah ada hal-hal yang sama/mirip/sesuai yang Anda sharingkan dengan

yang disharingkan anggota kelompok lain?
4. Ide-ide atau inspirasi apa saja yang muncul dalam diri Anda dalam Putaran

Kedua ini?

Putaran Ketiga: Diskusi dan Konsensus

1. Gerakan-gerakan Roh semacam apa yang Anda kenali dari sharing Putaran
Pertama dan Kedua di atas?

2. Apakah muncul hal-hal yang perlu disepakati bersama?
3. Langkah-langkah atau rencana ke depan apa yang menurut Anda perlu

diambil bersama?

Doa Ucapan Syukur

Untuk menutup proses, setiap orang berdoa secara spontan untuk
mengungkapkan rasa syukur dengan satu kata atau kalimat singkat.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 5

Pertanyaan Reflektif untuk mempertajam bahan pendalaman implementasi UAP:

Bagaimanakah hidup kita, komunitas kita, dan lembaga kita
mampu membawa orang kepada Tuhan?

Catatan:
1. Yang dimaksudkan orang di sini adalah diri kita sendiri, keluarga kita,
saudara kita, tetangga kita, rekan kerja kita, komunitas kita, siswa dan orang
tuanya, para alumni, orang-orang yang bekerja sama dengan kita, dan
masyarakat kita.
2. Kata tanya “Bagaimana” mengundang kita untuk memikirkan,
mengimajinasikan, membayangkan cara-cara dan sarana-sarana yang
mampu membawa orang kepada Tuhan.

Langkah-Langkah Percakapan Rohani Tiga Putaran

1. Mohon Rahmat: Mohon keterbukaan budi dan hati, kerendahan hati, dan
kebesaran jiwa dalam membagikan pengalaman pribadi, mendengarkan
sharing orang lain dalam kelompok, dan mampu mendengarkan Roh Allah
yang berbicara melalui budi, hati, dan melalui orang lain.

2. Membagikan pengalaman pribadi terkait teks bahan pendalaman
implementasi UAP dan pertanyaan reflektif. Yang lain mendengarkan
secara atentif (Putaran Pertama)

3. Menanggapi sharing anggota kelompok lain yang menyentuh dan
menggerakkan batin (Putaran Kedua)

4. Bersama anggota kelompok lain mencermati gerakan-gerakan Roh yang
sama-sama dirasakan anggota kelompok, merumuskan hal-hal yang perlu
disepakati bersama, membuat rekomendasi yang menurut Anda perlu
diambil bersama (Putaran Ketiga)

5. Berdoa secara spontan untuk mensyukuri proses percakapan rohani tiga
putaran.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 6

BAHAN PENDALAMAN IMPLEMENTASI UAP

1. Sebagai Pribadi, sejauh yang Saudara pahami dan alami, bagaimanakah relasi
Saudara dengan Allah, apakah relasi tersebut mengalami naik turun dalam
kehidupan sehari-hari?

Dalam segala hal saya mencoba menyadari bahwa Tuhan itu hadir, baik dalam duka
maupun suka. Relasi yang sy bangun lewat doa bersama keluarga (rosario di bulan
Maria), baca KS saat makan malam bersama, maupun doa pribadi. Hal yang paling
dirindukan saat ini adalah bersama keluarga bisa mengikuti misa secara offline karena
hadir secara online masih merasa belum mantap karena tidak bisa menerima langsung
komuni. Dari dinamika ini saya secara pribadi tidak mengalami relasi dengan Tuhan itu
turun karena sy yg mengupayakan kehadirannya.

Pastinya. Kadang merasa begitu diperhatikan oleh Allah, namun kadang merasa
menjauhi Allah. Seringkali mengabaikan hati nurani dengan berkata, berkehendak dan
bertindak seenaknya sendiri.

Relasi mengalami naik turun, sejauh Doa.

Tentunya ada naik turun dalam relasi tersebut, terutama karena mungkin keterbatasan
atau kelemahan saya sebagai manusia.

Ya

Ya

Yang saya pahami : Allah sebagai tuntunan bagi saya, tempat saya bergantung dan
menyerahkan diri sepenuhnya. Karya yang saya lakukan di dunia ini sepenuhnya saya
serahkan untuk kemuliaan Allah. Saya sangat mengamini AMDG yang saya kenal di
Loyola.

relasi saya dengan Tuhan sangat baik, karena setiap malam saya selalu berdoa
bersama dengan istri saya, untuk mengucapkan syukur dalam aktivitas yg sudah
dilakukan dalam 1 hari ini, entah suka maupun duka, doa akan selalu terucap ketika
menjelang tidur.

Ya, kadang terasa dekat, kadang seperti tidak ada.

Saya mengalami pasang surut dalam berelasi dengan Allah. Pada suatu ketika saya
mendapat anugrah dari Allah berupa kemudahan dan rejeki, saya mensyukurinya dan
menyadari bahwa itu adalah rahmat Allah untuk saya dan keluarga saya. Pada saat
yang lain saya merasa mengalami desolasi , mengalami down bahkan kadang ingin
mati saja rasanya karena mengalami sakit yang tak kunjung sembuh. Saya mendapat
anugrah sakit imsonia dan tergantung dengan obat tidur sudah 2 tahun lebih membuat
saya putus asa dan hilang semangat. saya bisa tidur dari jam 10.30 sampe jam 2 -3
setelah itu sudah tidak bisa tidur lagi. Berbagai cara dan upaya saya lakukan tetapi
belum membuahkan hasil. saat ini saya hanya bisa pasrah menjalani semuanya dan
terus berdoa, saya dan keluarga membaca kitab suci setiap hari 1 pasal, berdoa
Rosario dan Novena tiga salam Maria. sampai saat ini saya belum tahu rencana Tuhan
di balik semua peristiwa yang saya alami..

Ya relasi tersebut selalu mengalami turun dan naik sejalan dengan dinamika kehidupan
yang dilalui. Akan tetapi di balik itu semua, semangat untuk terus bersyukur atas segala
karunia dan berkat Tuhan menjadi jawaban terbaik dalam menjalani laku hidup.

Iya, fluktuatif tergantung aktivitas.

God is good all the time. Disaat kita bersyukur atas rahmatNya, Tuhan hadir di tengah-
tengah kita. Begitu pula disaat kita mengalami kesulitan. Saya merasa tidak sendiri,

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 7

namun ada Tuhan yang selalu menyertai saya. Tuhan lebih dulu baik kepada saya,
sehingga saya berusaha berbuat baik terhadap sesama.

Relasi saya dengan Allah cenderung semakin baik dibandingkan dengan masa-masa
sebelum bekerja di Loyola. Meskipun seringkali mengalami naik turun seiring dinamika
hidup, tetapi saya merasa perjalanan hidup menuju ke arah yang lebih baik. Ketika saya
sendiri bisa memaknai seluruh peristiwa hidup adalah kehendakNYA, maka hari-hari
saya menjadi ringan dan membahagiakan. Saya semakin yakin bahwa hidup yang saya
jalani ini adalah pilihan yang terbaik yang diberikan olehNYA.

Relasi saya dengan Allah mengalami naik, turun.

Kehidupan rohani saya tetap saya jaga. Tujuannya adalah memberikan contoh kepada
anak-anak untuk selalu menunjukkan syukur atas kehidupan. Anak-anak mampu
mensyukuri setiap rahmat yang bersama keluarga menjadi modal awal untuk
membangun cinta akan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Naik turunnya
proses sangat wajar karena sangat ditentukan oleh dinamika harian anggota keluarga.
Hal ini yang harus dikontrol oleh kami selaku pendidik. Maka saya harus menjadi contoh
dan partner keluarga dan juga para siswa khususnya dalam membangun relasi dengan
Tuhan. Saya berusaha menunjukkan dalam setiap penampilan dan aksi konkrit di rumah
atau di sekolah.

Tentu saja saya mengalami relasi naik turun. Saat ini saya sedang mengalami
kekeringan rohani karena tidak dapat menyambut komuni kudus setiap minggu. Hidup
saya terasa kurang meskipun sudah ikut misa online dan doa pribadi setiap hari.

Ya naik turun dan cenderung turun akhir-akhir ini

Hidup rohani berjalan dengan baik, pada suatu titik halal rohani ini sangat kuat ketika
banyak aktifitas yang memang berkaitan dg rohani, tetapi juga saat banyak kegiatan
diluar rohani kadang membuat berkurang sedikit.

Seringnya naik sih relasinya. Turun ketika banyak yang membebani terutama perkara
duniawi.

Relasi saya dgn Allah dlm kehidupan sehari-hari saya rasa cukup kuat. Berupaya untuk
selalu bersyukur dan berbicara dgn Allah melalui doa yg saya lakukan. Dalam suatu titik
tertentu, kadang jg mengalami naik turun relasi tsb walau jarang terjadi

Sebagai manusia yang lemah, relasi dengan siappun, termasuk dengan Allah, selalu
mengalami pasang surut. Kadang begitu yakin dengan penyertaan Allah, kadang
merasa jauh dengan Allah, bahkan kadang merasa ditinggalkan Allah.

sebagai manusia awam pada umumnya, relasi dengan Allah bagaikan roller coaster
buatan Jepang dg kecepatan tempuh 250km/jam. Saat bahagia, sering saya lupa akan
peran Allah dan malah larut dalam euphoria sesaat, namun saat berduka dan jatuh,
saya merasa Allah satu-satunya penolong.

Iya saya mengalami, semakin dewasa saya berusaha lebih baik. Dalam hubungan
dengan Allah mengingat kembali peran saya sbg kepala keluarga sya harus memberi
contoh setidaknya di lingkup keluarga kecil sya dlu

Turun naik

Iya mengalami naik turun

Relasi saya dengan Tuhan terkadang mengalami naik turun, hal ini banyak faktor yang
mempengaruhi diantaranya kegiatan sekolah, keluarga, dan kegiatan sosial, sehingga
fokus untuk berelasi dengan Tuhan ada bolongnya/turunya

Ya. Sampai sekarang masih belum bisa pembaharuan

Saya menyadari bahwa relasi saya dengan Allah pasang surut.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 8

Relasi saya dengan Tuhan mengalami naik turun seiring dengan dinamika kehidupan
yang saya alami, kadang saya mengalami kekecewaan atas beberapa permasalahan
yang saya hadapi, dan mempertanyakan hal tersebut kepada Tuhan. Kadang ketika
melihat kehidupan orang lain yang menurut saya lebih bahagia dan lebih berhasil, timbul
perasaan iri dan ingin meraih hal yang serupa, dan saya menjadi sadar bahwa perlu
banyak hal yang diupayakan lebih dalam hidup saya, agar berhasil seperti orang lain.
Meskipun demikian, saya bersyukur kepada Tuhan atas hidup yang saya jalani
sekarang.

Saya selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam diri saya pribadi, keluarga, rekan kerja,
para siswa, dan semua rekan-rekan di gereja. Saya selalu mensyukuri setiap peristiwa
yang saya alami, baik itu menyenangkan atau kemalangan, di sanalah Tuhan semakin
memurnikan motivasi hidup saya, dan semakin mendewasakan saya dalam hidup.
Kehadiran keluarga dan orang-orang disekitar saya, semakin meneguhkan bahwa hidup
saya begitu dikasihi Tuhan. Relasi dengan Tuhan dominan dengan syukur, syukur atas
segala peritiwa, syukur atas hidup, dan syukur atas kemalangan yang saya temui dalam
keseharaian.

Ya, relasi saya dengan Allah mengalami naik turun. Terkadang saya merasa bahwa
saya masih sulit untuk memahami apa kehendak Allah sehingga saya mengalami masa-
masa sulit. Saya berusaha bertahan untuk menjalani dengan tetap mensyukuri apa
yang saya terima di masa sulit tersebut. Namun melihat dan menyadari hal-hal yang
saya terima, bukan hal yang mudah.

Relasi saya dengan Allah sering kali naik turun dan pasang surut setiap harinya. Saya
menyerahkan segala kehidupan saya pada karya Allah, namun terkadang saya masih
kecewa dengan hasil yang saya peroleh, terkadang saya merasa Allah meninggalkan
saya sejenak. Namun saya selalu ingin dekat dengan Allah dan berusaha selalu
bersyukur dengan apapun yang Allah berikan pada hidup saya.

Saya hidup dengan didikan keluarga Katolik sejak lahir. Ibu saya juga sosok pendoa
yang taat. Dahulu ayah saya beragama Kristen, namun beliau berpindah keyakinan
menjadi Katolik saat menikah dengan ibu saya. Dulu saya selalu bertanya mengapa
ayah harus pindah agama. Bukankah sama saja mengikuti Kristus meski caranya
berbeda? Lalu timbul pertanyaan baru lagi, mengapa saya harus dilahirkan di keluarga
ini? Untuk apa tujuan saya hidup? Begitulah saya dahulu, selalu dianggap apatis karena
saya acuh dengan segala sesuatu yang nyata di sekitar saya namun selalu
mempertanyakan hal tidak masuk akal. Sejujurnya, relasi saya dengan Tuhan tidak bisa
dikatakan dekat, karena saya jarang berdoa. Saya sadar bahwa berdoa itu penting,
bahwa saya tidak boleh hanya datang pada Tuhan saat saya butuh. Tetapi selalu ada
rasa yang mengganjal dalam hati saya.

Sampai tibalah suatu hari ketika saya bertemu dengan seorang anak berkebutuhan
khusus (autis, bisu, dan tuli) yang dirundung oleh anak-anak di dekat tempat saya
tinggal. Ketika anak itu berteriak dan meraung, hati saya rasanya pedih. Saya seakan
terpanggil untuk mendekati kerumunan dan menyelamatkan anak itu. Dan ajaibnya saya
benar-benar meneriaki para perundung dan menarik anak itu keluar. Saya ajak anak itu
ke rumah, dia ketakutan. Saat itu saya tergerak untuk berdoa, berharap ada orang baik
yang mau menolong anak itu. Lalu datanglah seorang biarawati bernama Suster Agnes,
beliau adalah pengelola panti asuhan tempat anak itu tinggal. Saya takjub, seolah
Tuhan bisa mendengar doa saya. Doa dari seseorang yang jarang menyapa Tuhan.
Mungkin berdoa itu hal yang sederhana, namun saya masih sulit melakukannya.
Bersyukurnya lewat anak itu saya sadar bahwa Tuhan selalu hadir dalam wujud yang
ajaib hanya untuk menyapa saya. Setelah itu saya menangis, dan saya membuka buku

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 9

doa. Saya mulai mendekatkan diri pada Tuhan lewat cara yang paling sederhana,
berdoa.

Ya, saya mengalami naik turun dalam relasi berjumpa dengan Allah. Saya menyadari ini
ketika saya teringat bahwa baru-baru ini dengan semakin banyaknya kewajiban baru
yang membutuhkan banyak adaptasi, saya menjadi terlalu "berpasrah" kepada Tuhan.
Saya merefleksikan ini sebagai fase terendah dalam perjumpaan dengan Allah.
Beberapa kali saya lebih suka untuk "pasrah" daripada "berserah". Beberapa kali juga,
karena saking pasrahnya kepada Allah, doa-doa yang biasa saya daraskan setiap hari
menjadi terasa biasa saja. Semakin nyata adanya bahwa kuantitas dalam berdoa tidak
lebih penting daripada kualitas dalam doa dan berkomunkasi dengan Allah.

Ya, saya mengalami naik turun dalam relasi berjumpa dengan Allah. Saya menyadari ini
ketika saya teringat bahwa baru-baru ini dengan semakin banyaknya kewajiban baru
yang membutuhkan banyak adaptasi, saya menjadi terlalu "berpasrah" kepada Tuhan.
Saya merefleksikan ini sebagai fase terendah dalam perjumpaan dengan Allah.
Beberapa kali saya lebih suka untuk "pasrah" daripada "berserah". Beberapa kali juga,
karena saking pasrahnya kepada Allah, doa-doa yang biasa saya daraskan setiap hari
menjadi terasa biasa saja. Semakin nyata adanya bahwa kuantitas dalam berdoa tidak
lebih penting daripada kualitas dalam doa dan berkomunikasi dengan Allah.

Sebagai pribadi sejauh yang saya alami dalam kehidupan kerohanian saya dengan
Tuhan belakang menjadi semakin dekat karena ada suatu hal yang saya dan suami
saya alami, yaitu karena kehilangan buah hati yang masih bertumbuh di dalam
kandungan. Perasaan campur aduk marah, sedih, jengkel, kehilangan, merasa
bersalah, dan menyalahkan diri jua keadaan pernah berkecamuk didalam hati dan
pikiran saya. Dalam hati dan pikiran saya merasa sudah selalu berdoa tetapi merasa
kenapa itu harus terjadi di dalam kehidupan saya dan suami yang baru saja kami
bangun dan masalah di dalam keluarga mertua yang sempat membuat saya merasakan
kesedihan dan rasa kasihan terhadap suami yang jauh harus menghadapi masalah
yang menimpa orang tuanya. Namun suatu ketika saya merindukan kehadiran anak
saya, saya berdoa dengan suami menyerahkan seluruh kehidupan di dalam keluarga
kecil kami, menyerahkan segala sesuatu yang menjadi kehendak Tuhan. Datang
kehadirat Tuhan berdoa sambil menangis, dan suatu ketika kami beribadah bersama di
gereja mendengarkan suatu kotbah dari Pendeta. Kami merasakan sesuatu yang benar-
benar menyadarkan kami berdua seakan-akan firman Tuhan tersebut betul-betul
menohok dalam kehidupan kami, yang akhirnya membuat kami sadar bahwa dalam
kehidupan keluarga kami masih ada yang kurang dengan Tuhan. Dari situ kami belajar
untuk selalu bersyukur dengan apa yang Tuhan beri bukan hanya meminta terus-
menerus, tidak mengeluh, dan berdoa adalah komunikasi paling mujarab dengan
Tuhan, mengandalkan Tuhan karena kami yakin bahwa Tuhan pasti melindungi dan
menjaga keluarga kami dengan cara yang baik dan indah pada waktuNya, yang kami
yakini adalah Tuhan pasti menyediakan rencana yang luar biasa untuk kehidupan kami.

Relasi saya dengan Allah mengalami naik turun dalam kehidupan sehari-hari.
Terkadang, saat dalam keadaan hati yang tenang, saya mampu menyadari kehadiran
Allah dalam setiap kegiatan saya baik melalui sesama yang lain maupun karya
keselamatan sehari-hari dalam hidup saya. Namun, ketika keadaan hati saya sedang
tidak tenang, saya tidak menyadari kehadiran Allah dan kurang bersyukur.

Ya mengalami naik turun karena kurangnya keseimbangan anatara aktivitas sehari hari
dengan aktivitas rohani. Tetapi menyadari mukjizat Allah dalam hal besar maupun kecil
menyadarkan saya utk mensyukuri berat dan mukjizatNya agar menjadi manusia yang
pantas.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 10

Sebagai Bapa, yang mengasihi dan melindungi , memberi kelegaan dan juga memberi
tantangan. Pasang surut keimanan jelas sering terjadi dlm menjalani kehidupan. Tetapi
bahwa Allah adalah Bapa yang penuh kasih selalu ada dlm iman saya.

Saya memiliki relasi yang baik dengan Allah, meskipun masih sering bermasalah
dengan cara berelasi. Kadang merasa tidak bisa berdoa dengan semestinya, habis
kata-kata atau pun kurang bisa khusuk. Tetapi saya merasa sangat bergantung pada
Allah dalam setiap peristiwa hidup saya.

Relasi dengan Allah setidaknya melalui do'a dan bersyukur, menurut saya pribadi relasi
tersebut tidak pernah naik turun, selalu begitu dan setiap hari.

Saya merasa lebih mau untuk percaya dengan tuntunan Allah sejak bekerja di Loyola.
Bukan karena berbagai macam pendalaman mengenai nilai-nilai Ignasian dan
sebagainya, namun karena saya bahagia di tempat saya sekarang. Kini saya dapat
dengan percaya diri mengatakan bahwa saya menyerahkan diri saya kepada tuntunan
Allah dan segala macam tantangan yang saya hadapi merupakan petunjuk dari Allah
bahwa sata perlu belajar sesuatu.

Saya pribadi merasa relasi saya dengan Allah sering sekali naik turun. Terkadang
menggebu - gebu dan bersemangat untuk menjalin relasi dengan Tuhan lewat doa,
novena, gereja dan membaca kitab suci atau kisah para santo - santa, tapi terkadang
juga menjadi turun dan surut. Masa Pandemi ini salah satu faktor yang membuat saya
terkadang menjadi surut, sederhananya dengan misa dilakukan secara online, membuat
saya menjadi malas mengikuti, tidak bisa fokus, dan merasa tidak mendapat feel

Banyak kejadian yang saya alami, baik suka maupun duka, sehat maupun sakit serta
pernah merasakan di titik terbawah yang seakan-akan sudah tidak kuat untuk
menanggung permasalahan yang ada. Tentunya kejadian-kejadian yang saya alami
tersebut mempengaruhi pikiran dan hati saya, dan tentunya juga berdampak dengan
relasi saya dengan Tuhan. pernah mengalami dan menyangsikan kehadiran Tuhan
dalam hidup saya (apakah Tuhan benar-benar mengasihi dan akan menolong saya saat
saya sedang sulit?) Saya bersyukur bisa bergabung menjadi komunitas Loyola yang
meneladani Santo Ignatius, sehingga kehidupan rohani saya semakin berkembang
menjadi lebih baik dan ketika mengalami kesulitan, saya tidak hanya fokus pada
permasalahan yang sedang terjadi namun kira-kira apakah ada pesan Tuhan dalam
permasalahan tersebut (lebih mencari makna dari setiap kejadian)

Relasi dengan Allah pada masa kini dapat dikatakan dekat, melalui semua peristiwa
yang terjadi. Saya merasa dengan mendaraskan hati dan pikiran positif relasi tersebut
menjadi lebih baik.

Sebagai manusia yg tentunya banyak kekurangan saya merasakan memang relasiku
dengan Allah kadang naik turun, biasanya kalau sedang bermasalah saya merasa lebih
dekat karena pada saat itu saya banyak berdoa, tapi kalau sedang tidak bermasalah
saya sering lupa lagi . hal ini sering masuk dalam perenunganku.Dan biasanya aku
dengan mudahnya meminta ampun.

Relasi dengan mengalami naik-turun, untuk sekarang ini mangalami posisi naik (dalam
kepasrahan mengalami kedekatan dengan Tuhan.

Relasi saya dengan Allah saat ini adalah berelasi dengan baik. Apa yang saya kerjakan
dengan semangat demi sesama dan kemuliaan Allah yang lebih besar. Dalam kegiatan
beribadah (misa) saya juga melakukan baik online ataupun kadang misa offline. Dalam
keseharian, apa yang saya kerjakan saya mencoba bertumpu pada kehendak Allah.

Ya, relasi saya dengan Tuhan terkadang naik turun dalam kehidupan sehari-hari.

Relasi saya dengan Allah sangat baik dan dalam kehidupan sehari selalu konstan dan
tidak naik turun.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 11

Relasi saya dengan Allah seperti seorang ibu dan anak. Interaksi, relasi, dan
komunikasi terjadi begitu saja dimana dan kapanpun. Terkadang, ibu memarahi
anak...karena anak sering meminta dan tidak tahu terima kasih.

Relasi saya dengan Allah adalah seperti relasi keluarga. Saya selalu berusaha
meluangkan waktu saya untuk Tuhan di pagi hari, siang, sore, bahkan malam sebelum
tidur saya pastikan saya sudah examen untuk hari itu. Saya berusaha meluangkan
waktu untuk berdoa sejenak, mengucap syukur atas berkat Tuhan, menyampaikan
keluh kesah, dan memohon perlindungan-Nya supaya dapat menjalani hidup ini dengan
baik. Tentu ada saat-saat dimana relasi saya terasa naik dan turun. Turun adalah ketika
saya disibukkan dengan rutinitas sehari-hari sehingga rasanya waktu saya habis,
namun saya tetap berusaha untuk tetap setia pada rutinitas doa saya. Ada juga saat
dimana saya merasa relasi saya naik yaitu ketika saya sungguh mensyukuri rahmat dan
anugerah Tuhan dalam hidup saya lewat hal-hal sederhana seperti waktu bersama
anggota keluarga saya yang masih hidup dan dalam keadaan sehat, adanya rumah
sebagai tempat bernaung, dan juga pekerjaan tetap untuk keberlangsungan hidup
keluarga. Relasi yang mendalam dengan Tuhan adalah ketika saya sungguh
merasakan perjumpaan rohani seperti ketika menerima sakramen ekaristi. Ada saat
ketika saya sungguh merasa saya bahagia, Terima kasih Tuhan, Engkau sungguh baik.

Masih tetap konsisten

Perjalanan saya selama ini sudah tentu mengalami banyak liku-liku. Banyak hal yang
Tuhan berikan untukku nafas kehidupan, pekerjaan yang baik, kejutan-kejutan kecil
yang diluar dugaanku dan kenyamanan yang selalu Dia berikan. Tentu semua ini bagiku
adalah mukjizat-mukjizatnya yang harus dipergunakan sebaik mungkin baik untuk diri
sendiri, untuk orang lain dan bagi Tuhan sendiri. untuk memaknai kasihnya, saya tidak
pernah lupa bersyukur dengan selalu merefleksi kasih itu sendiri dan menghadirkan
Tuhan dalam segala apa yang diperbuat, dikerjakan dan direncanakan. Sebagai
manusia biasa juga tak luput dari dosa. Dalam keseharian sudah tentu mengalami
kedekatan dengan Tuhan dan terkadang juga merasa hampa dan kering seakan tak ada
artinya apapun yang saya lakukan. Di saat saya sendiri saya merenung dan bertanya-
tanya apa arti semua yang saya lakukan dan bila saya tidak menemukan jawabannya
maka saya merasa hampa dan gelisah. Cobaan-cobaan kecil juga terkadang datang
menghampiri sehingga membuatku terkadang berputus asa. sudah tentu sikap seperti
ini sama halnya meragukan kekuatan Tuhan. Dan saat-saat itu juga saya tahu bahwa itu
kesalahan dan secepatnya memohon pengampunan. saya tetap percaya Sabda Tuhan
yang menyatakan "Mendekatlah kepada Tuhan, dan Dia akan mendekat kepada
engkau" (Yakobus 4:8)

Ya. Relasi dengan Allah mengalami naik turun dalam kehidupan sehari-hari.

Ditengah kesibukan sehari2 retap mengusahakan saat hening untuk menguji
keselarasan hidup harian dengan tugas, tanggung jawab maupun kehendak Allah.
Pasang surut tentu ada, tapi tidak pernah ragu akan kehendak baik Allah dalam hidup
kita.

Naik turun

Relasi saya dengan Tuhan baik dan sll baik, karena bagi saya hanya Tuhan yang
menjadi andalan saya

Relasi saya dgn Tuhan dalam kehidupan sehari2
mengalami naik turun , selalu berusaha membangun relasi lebih baik , mengenal Tuhan
lebih dekat dgn introspeksi diri, meditasi dan berdoa .

Ya

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 12

Iya naik turun , belum bisa rajin menjalankan ibadah

Untuk relasi dengan Tuhan semakin dekat,karna kondisi seperti ini hanya bisa berharap
dengan Tuhan

Sejauh ini saya sebagai manusia relasi dengan Allah pasti ada naik dan turunnya,
terkadang merasa bahwa berdoa itu bisa besok besok aja atau kesannya seperti
"nggampangke" lalu kembali intens berdoa ketika saya membutuhkan dan
menginginkan sesuatu sehingga intensitas berdoa diperbanyak krn ada butuhnya..tapi
saat ini saya sedang mencoba konsisten menjalin hubungan dengan Tuhan, dengan
rutin berdoa rosario di pagi hari sebelum mengawali hari (saat bangun tidur) semoga hal
ini bisa konsisten saya lakukan.

Menurut saya pribadi tidak mengalami naik turun

naik turun, terkadang masih sulit mengingat Tuhan ketika dalam situasi biasa/suka

Naik turun

Manusia memiliki sifat "serupa gambar Tuhan" manusia memiliki kemampuan
memproyeksikam tentang kebaikan Tuhan dalam menjalankan fungsi-fungsi manusia
dalam kehidupan sehari-hari, tapi tentu namanya relasi pasti mengalami naik turun
menyesuaikan situasi kondisi manusia pada saat itu. Manusia bahkan di waktu ibadah
misa, diwaktu yang sama dalam pikiran manusia yang bersangkutan bisa timbul rasa iri
dengki dengan rekan ibadah di sebelahnya. Manusia memang tidak bisa sempurna,
setiap hari membuat dosa, dan kita sebagai manusia tidak bisa menyenangkan semua
orang, manusia realitanya hanya bisa berbuat sebaik mungkin dengan orang lain, soal
orang lain tidak senang dengan kita, itu sudah urusan orang itu dan Tuhannya, toh
sekelas nabipun tidak disukai banyak orang.

Saya pribadi merasa relasi saya harmonis dengan Tuhan, justru ketika saya berada di
alam, pegunungan, pantai, air terjun, danau, hutan, di sana saya merasakan suara
Tuhan melalui suara kicauan burung, debur ombak, suara aliran air, saya merasa
hangatnya pelukan Tuhan melalui air laut, lembutnya belaian Tuhan melalui pasir
pantai, saya merasa kedamaian dengan hembusan "nafas" Tuhan melalui udara sejuk
danau. Alam tempat ibadah saya, hubungan saya dengan Tuhan harmonis disana,
sedikit tidak stabil ketika ditempat kerja ^^

Relasi yang saya alami dengan Allah mengalami naik turun, namun makin bertambah
usia hal itu adalah proses bagaimana saya mengenal Allah. Ada kalanya saya pernah
turun sekali menjauh dari Allah dari semasa SD sampai SMA, hingga akhirnya saya
berkuliah hingga bekerja, saya boleh merasakan relasi yang saya sudah mulai naik
pelan - pelan. Saya masih berproses untuk semakin menjalin relasi dengan Allah.

Ya pasti

YA

Naik turun, ego pribadi masih tinggi

Ya

Setabil

Dah lama saya ga ibadah ke Gereja. Kalau berdoa saya setiap malam berdoa.

Ya

Ya

Iya

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 13

Tidak

Ya, seringkali mengalami fase ini terutama ketika ada masalah

Saya tidak mengalami relasi yg naik turun dengan Allah dalam kehidupan sehari hari,
tapi juga kurang mendalam dalam memahami (belum mampu masih belajar) sehingga
ya mengalir saja, karena saya percaya Allah itu nyata

Relasi yang terjalin antara saya dengan Allah selama ini sangat baik, Allah selalu
menyertai dan membimbing dalam setiap langkah hidup saya. Sebagai manusia, saya
sering lupa dalam menyertakan Allah dalam setiap langkah hidup saya dan seringkali
terlalu fokus dalam mengejar hal duniawi, saya akan datang ke Allah disaat saya butuh
pertolongan dan mengalami kesulitan. Namun saya merasa Allah selalu membantu dan
menyertai hidup saya sekalipun saya sering sekali berbuat dosa.

Relasi dengan allah mengalami naik turun dalam kurun waktu belakangan ini

Ya sering mengalami naik turun

Sebagai manusia biasa, tak jarang hanya ingat Allah disaat saat sulit..jika ada masalah,
dan saat berkonflik dengan sesama. Kadang lupa bersyukur bahwa dibalik kesulitan &
tantangan hidup yang ada, Tuhan masih sayang & mungkin sedang merancang dan
membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik. Ketika menghadapi masalah, kadang
pula malah menyalahkan Allah mengapa Ia seolah meninggalkan saya & membuat
hidup saya menjadi susah. Di saat senang..bahagia, terasa semua berkah &
kemudahan yang dirasakan adalah buah dari kerja keras pribadi semata, bukan karena
campur tangan Allah.
Kadang saat merenung, saya merasa relasi saya dengan Allah begitu jauh, iman &
kepercayaan saya padaNya begitu tipis, tak sebanding dengan kasihNya yang begitu
luar biasa yang jarang saya sadari. Hingga saat ini saya masih berusaha untuk selalu
memandang Allah, berusaha mengandalkan dan berusaha mengenali kehadiranNya
dalam tiap langkah hidup saya sehari-hari..

ya, sangat fluktuatif

ya

Di usia saya sekarang, saya mencoba mendekatkan diri dengan Tuhan. Saya percaya
semua yg terjadi adalah kehendak-Nya, sehingga saya bersyukur saya tudak
mengalami hal tsb.

TIDAK

Ya, kadang mengalami masa kering secara rohani.

iya (naik turun)

Sebagai pribadi, relasi dengan Allah mengalami naik turun

Iya, seringkali hubungan pribadi dengan Allah mengalami naik turun dikarenakan
banyak hal.

Kadang kala karena kesibukan sehari-hari menjadikan kurang ada waktu untuk berdiam
sejenak untuk kembali kepada Allah, mendengarkanNya.

Secara manusiawi ada kalanya naik turun..ibarat lahan pasti ada kalanya dipupuk
berkala agar tetap subur

Relasi bersifat dinamis dan stabil, secara pribadi bersyukur karena bisa memiliki
kekayaan batin

Saya percaya Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik dalam langkah kehidupan
yang saya alami walau terkadang kehendak Tuhan berbeda dengan kemauan diri saya

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 14

sendiri dan itu sering membuat kegundahan hati. Namun saya berusaha menerka
kehendak Tuhan apa yang sebenarnya Tuhan mau pada diri saya melalui berbagai
peristiwa baik yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan.

Benar saya mengakui sebagai orang beriman terkadang merasa disatu titik kadang
dekat dengan Allah tetapi juga kadang merasa jauh. Saya merasa jauh dengan Allah
ketika mulai melupakan hadiratnya dan terlalu fokus dengan hal - hal duniawi. Ketika
merasa jauh, saya sadar mulai mengingatkan diri untuk dapat menyempatkan waktu
walaupun hanya sebentar untuk saat teduh dengan Allah.

Ya, seringkali di saat sibuk dan capek lalu lupa berdoa. Namun saya selalu berusaha
untuk selalu ingat berdoa, terutama doa pagi dan malam untuk mengucap syukur.
Selelah apa pun harus selalu ingat untuk berdoa.

Relasi saya dengan Allah pasti mengalami naik turun karena sebagai manusia ada sisi
keduniawian yang tinggi dan kadang ada sisi ketuhanan sangat wajar itu terjadi dalam
taraf yang sesuai. Kadang saya mengalami krisis kepercayaan akan adanya Tuhan
apalagi saat mengalami hal-hal yang diluar kendali bukan kemudian tidak percaya akan
Tuhan akan tetapi tidak terlalu mempercayai mukjizat pernah mengalami hal tersebut.
Akan tetapi kadang kala saya tidak tahu mengapa ketika saya sedang berkomunikasi
dengan Tuhan secara pribadi saya sangat merasa intim dengan Tuhan dan segala
keresahan hilang bahkan yang biasanya saya tidak meneteskan airmata bisa saja
meneteskan airmata karena merasa rendah diri di hadapan Tuhan. Saya menikmati
setiap proses saya berkomunikasi dengan Tuhan tapi saya juga percaya bahwa Tuhan
itu ada di dalam diri setiap individu jadi saya berkomunikasi dengan Tuhan tidak hanya
melalui doa tapi juga ketika berkomunikasi dengan sesama.

Relasi saya dengan Allah tidak selalu baik-baik saja. Naik-turun, kurang lebih itu yang
bisa menggambarkan. Terkadang saya merasa dekat dengan Allah apabila mengalami
pengalaman yang umumnya bisa disyukuri. Akan tetapi, kadang pula saya merasa
sendiri ketika mengalami pengalaman yang kurang bisa dimaknai. Kendati demikian,
saya menyadari dan mengimani bahwa Allah senantiasa berusaha dekat dengan saya,
apapun yang saya rasakan.

Sebagai orang beriman dan manusia biasa tentu saja sayapun mengalami naik turun
dalam berelasi dengan Allah dikehidupan sehari-hari. Perjalanan menghadapi berbagai
tantangan dalam hidup sering kali berpengaruh pada relasi dengan Allah. Semakin
sering menghadapi berbagai macam tantangan semakin dekat relasi dengan Allah,
semakin sering bercakap-cakap dengan Allah, semakin kuat pula komunikasi dengan
Allah. Sebagai manusia biasa juga sering kali jatuh pada godaan-godaan duniawi
membuat relasi dengan Allah merenggang, merasa semua dalam keadaan baik-baik
saja, percaya Allah pasti menjaga hingga lupa akan komunikasi dengan Allah..

Sejauh ini relasi dengan Allah dalam hal aktifitas berdoa berjalan lancar. setelah
menikah, kehidupan doa juga bertambah baik. setiap malam sebelum tidur selalu
berdoa bersama. pada keadaan tertentu juga melakukan devosi

Secara pribadi, relasi dengan Tuhan pasti mengalami naik dan turun. Ada waktu dimana
saya mempertanyakan kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu, dan mengapa harus
saya.

Iya naik turun. Ada saat konsolasi dan desolasi. Konsolasi ketika semua yang
kurencanakan terwujud dan berhasil dengan baik. Desolasi ketika apa yang
kurencanakan tidak mulus dan tidak sesuai harapanku. Namun di sini aku belajar untuk
"sambung" dengan Allah dalam kedua situasi tersebut untuk tetap sabar menanti apa
yang dikehendaki-Nya. Ada pesan ilahi yang harus kucari dan kugali lebih dalam dari
seita peristiwa hidupku.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 15

Ya
Tidak
Ya mengalami naik turun
Relasi dengan Allah SWT tentunya dalam kehidupan sehari-hari mengalami naik turun
Ya

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 16

2. Sebagai bagian dari Keluarga Besar Kolese Loyola (Komunitas), menurut
Saudara, bagaimanakah komunitas menggerakkan kita untuk selalu dekat dengan
Allah dan sesama? Lewat sarana apa saja?

Ada banyak sarana meski secara umum masih secara virtual, misalnya mengawali hari
lewat pertemuan (briefing) dan doa bersama, misa online, pertemuan rapat
kepanitiaan/dll, olahraga bersama dan tetap menjaga PROKES, juga lewat sapaan2 dan
teguran dari guru/tendik. Hal yang paling menggerakkan yang saat ini lagi digagas
kembali adalah sharing/diskusi spiritualitas dalam kelompok2 yg sungguh kaya dan
powerful.

Salah satu sarana adalah dengan kegiatan bersama. Misalkan popsila. Guru, karyawan,
siswa secara bersama-sama mencoba menggali bagaimana membangun hidup
bersama. Semua mengarah pada kedekatan dalam komunitas. Dengan saling
memperhatikan, mendukung, dan membuka diri itulah, menurut saya Allah telah hadir.

Melalui kegiatan KBKL.

Bisa melalui Retret dan Pembentukan Budaya Kerja, yang mana menyadarkan bahwa
kita semua sama-sama ciptaan Tuhan, dan diciptakan sesuai dengan citraNya. Dan
meskipun kita punya banyak keterbatasan dan kekurangan, Allah tetap mencintai dan
mengasihi kita. Oleh sebab itu kita harus saling mengasihi dan mensupport satu sama
lain.

Ajakan untuk selalu berdoa, berbuat baik, menolong sesama dgn tulus

Eksamen, WWI, Misa pagi, Brifing dengan pembacaan Daiyl insight, Misa Angkatan

Saya beruntung bisa bekerja dan berkarya di lingkungan dimana kami bisa saling
mendukung dalam hal iman. Iman saya ditumbuhkan berkat para Jesuit yang berkarya
dan teman teman. Terutama teman teman yang saya lihat saya berkomitmen dalam
pengembangan iman dalam komunitas KBKL, misalkan tim CM, pendamping dan anak
anak LV, pendamping dan anak anak PAL.

Menurut saya, yg membuat dekat antara sesama dengan WWI, karena dengan ini bisa
melihat sisi lain dari, Jesuit, guru, karyawan yg kita kenal, dan kita lebih paham tentang
latar belakang yg tidak diketahui.

Sering mengadakan diskusi teologi, filsafat, dan alkitab.

saya merasa bersyukur menjadi bagian dari KBKL. di saat saya sakit stroke dan asam
lambung, komunitas peduli, mendukung dan membantu saya untuk bangkit lagi. saat itu
saya benar benar merasa terpuruk, teman teman Loyola terutama MGBS kimia peduli
dan membantu saya untuk bangkit. Mungkin ini cara Allah untuk menyapa saya, untuk
mensyukuri kehidupan ini, dan menyadarkan saya banyak teman teman Loyola yang
peduli pada saya.
Sarana lain yang dilakukan komunitas sehingga mengerakkan kita untuk lebih dekat
dengan Allah dan sesama adalah arisan keluarga guru dan tegur sapa . karena itu
sangat menambah keakraban dan kita mengenal semua keluarga guru istri, suami dan
anak anaknya.
sarana lain lagi adalah breefing pagi dengan mendengarkan daillly insigth menjadi
semakin bersemangat untuk dekat dengan Allah

Komunitas Kolese Loyola menggerakan kedekatan dengan Allah dan sesama melalui
doa pagi bersama, bacaan tiga putaran Walking With Inigo, misa komunitas bersama,
dan kegiatan sosial selama pandemi seperti anjangsana rumah guru dan karyawan,
serta bereksamen bersama setiap hari setelah Loyola Online Class selesai.

Eksamen sangat membantu.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 17

Dengan adanya misa komunitas, doa pagi bersama, percakapan rohani tiga putaran
dalam mendalami buku Walking with Inigo

Komunitas Loyola sangat berperan dalam hidup saya untuk menumbuhkan kepekaan
diri akan Allah dan sesama. Hal inilah yang mendorong saya untuk semakin
mengobarkan semangat "sukarelawan", yang selama ini saya hidupi.

Sarana-sarananya:
1) Insight Pagi secara rutin.
2) Examen - Bundling - Constat.
3) WWI (Walking with Inigo).
4) Retret secara periodik.
5) Misa Komunitas.
6) Diskusi-diskusi ringan.
7) Majalah dan buku-buku rohani yang ada di perpustakaan Loyola.
8) Wawanhati dengan Para Jesuit.

Melalui pelayanan ekaristi, refleksi dalam kelompok, eksamen harian.

Hal ini sudah terlaksana dengan berbagai layanan rohani sekolah, misa bersama, doa
pagi hari untuk memulai karya bersama. Saya kira yang telah dilakukan oleh tim
campus ministry sangat hebat untuk secara rutin mengembangkan rohani para pendidik
dan siswa. Misa dan examen merupakan sarana yang bagus untuk itu. Selanjutnya
tampaknya perlu pendampingan oleh para jesuit untuk memberikan bimbingan dan
pendampingan rohani guru dan karyawan dalam kelompok-kelompok kecil. Mohon bisa
kontinu dengan terprogram oleh sekolah.

Misa angkatan, misa komunitas, doa bersama dalam briefing pagi, retret, kegiatan
sosial kemasyarakatan, dll.

Komunitas sudah menggerakkan lewat Campus Ministry dan Misa angkatan maupun
misa tiap awal bulan

Banyak hal seperi kegiatan kebersamaan yang membuat hal rohani semakin meningkat

Perjumpaan dengan siapa saja dan di mana saja dalam lingkup Komunitas LC lebih
sering menghantar pada kedekatan dengan Allah dan segala (tidak hanya sesama)
meski sering terdistraksi oleh perkara-perkara superficial dan artificial namun banyak
yang mengarahkan pada kedekatan dengan Allah.

Lewat sarana perjumpaan dgn rekan2 yg ada di Loyola, berusaha mengenal rekan2
semua yg ada dgn menegur&bercakap2. Bila ada yg sedang kesusahan, berusaha
berempati

Banyak hal sudah dilakukan oleh komunitas untuk mengajak kami mendekat pada Allah.
Misalnya dengan refleksi setiap hari, eksamen, rekoleksi, retret. atau kegiatan rohani
lain.

Komunitas adalah turbin terbesar dalam upaya menggerakkan saya untuk selalu dekat
dengan Allah. saat saya positif covid-19, dukungan terbesar adalah dari teman-teman
kerja, bahkan yang membuat saya percaya bahwa teman-teman adalah penyelamat
saat duka, mereka membuat sebuah video untuk support dan menghibur saya. semua
teman2 guru dan salah seorang Pater Jesuit (Pater Agam) membuat video yang tak
akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya.

Dalam dinamika apapun sya kira harus dilandasi dgn agama (sarana beribadah)
contohnya seperti dlm mengajar, berhubungan dgn rekan kerja, dst

lewat breading pagi,WWI dan refleksi harian

Melalui sarana pertemuan informal dengan warga dan keluarga komunitas

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 18

1. KBKL harus sering menyelenggarakan dan mengikuti kegiatan keagamaan baik
secara straming/online dan atau offline
2. sering melkasanakan kegiatan rohani bersama-sama dengan cara ziarah bersama

Pendampingan rohani, wwi, misa dll

Komunitas menggerakkan kita lewat sarana misa dan perjumpaan kelompok WWI

Komunitas Keluarga Besar Kolese Loyola menggerakkan saya untuk selalu dekat
dengan sesama melalui kegiatan sosial seperti menggalang dana bagi rekan kerja dan
keluarga yang sakit, melawat rekan yang mengalami musibah atau melayat jika ada
anggota KBKL yang meninggal.

Melalui teladan Ignasius Loyola, hidup saya semakin baik. Saya lebih mudah bersyukur,
lebih mudah untuk berbagi, lebih terdampingi dalam hal rohani. Eksamen, bacaan
rohani pagi, perayaan ekaristi menjadi sarana untuk bersyukur atas Tuhan yang telah
berkarya dalam hidup saya. 4 C, menjadi sesuatu pedoman untuk menghadirkan
kebaikan (Tuhan) kepada siapa saja yang kita jumpai. Teman-teman guru adalah
pribadi-pribadi yang religius, teman-teman guru sebagai pribadi yang tulus, peduli dan
ramah.

Komunitas menggerakkan kita untuk dekat dengan Allah melalui misa. Komunitas
menggerakkan kita untuk dekat dengan sesama: kegiatan-kegiatan sosial seperti
silasol, pertemuan guru muda, pendampingan guru dalam MGBS, dan pertemuan-
pertemuan atau acara guru dan karyawan. Komunitas menggerakkan kita untuk dekat
dengan Allah dan sesama: percakapan rohani 3 putaran (WWI), colloqium bersama
Pater Vico, dan retret guru muda (2019).

Di Loyola saya merasa sangat digerakan untuk lebih dekat dengan Allah setiap harinya,
melalui doa pagi, daily insight, refleksi, eksamen, rekoleksi dan juga misa serta kegiatan
lainnya. Saya merasa lebih bisa mengenal Allah dan dekat dengan sesama.

Selama hampir 3 tahun menjadi bagian dari KBKL, saya merasakan ada banyak
perubahan dalam diri saya khususnya dalam hal rohani. Meski keluarga saya terbilang
religius dan sangat aktif dalam aktivitas gereja, namun saya dulunya sangat pasif. Saya
hanya aktif dalam kegiatan OMK, namun tidak dengan kegiatan liturgis. Saat pertama
kali saya bergabung menjadi KBKL, saya berkesempatan menjadi salah satu anggota
Campus Ministry (CM) divisi Lektor dan Koor. Saat itu saya bingung mengapa saya
dipilih. Saya jujur merasa tidak mampu karena saya tidak PD dalam hal liturgis. Namun
hari demi hari, saya semakin menemukan bahwa secara tidak langsung inilah bentuk
sapaan Tuhan pada saya. Disitu saya mulai belajar dan memahami bahwa kedekatan
dengan Allah adalah hal yang penting karena Allah adalah sumber kekuatan yang
terkadang tidak kita sadari.

Ada 2 dinamika yang saya yakini dapat menggerakan saya untuk selalu dekat dengan
Allah, yaitu dengan bergabungnya saya di Campus Ministry (CM) dan dengan
dilaksanakannya pertemuan Walking With Inigo (WWI). Melalui CM, jiwa pelayanan
saya diuji. Mengeluh dan capai pasti ada, namun saya yakin ini sebagai alarm bagi saya
untuk selalu ingat Allah. Begitu juga dengan adanya pertemuan WWI, saya semakin
mendalami kehadiran Allah dalam wujud teman senasib sepekerjaan.

Ada 2 dinamika yang saya yakini dapat menggerakan saya untuk selalu dekat dengan
Allah, yaitu dengan bergabungnya saya di Campus Ministry (CM) dan dengan
dilaksanakannya pertemuan Walking With Inigo (WWI). Melalui CM, jiwa pelayanan
saya diuji. Mengeluh dan capai pasti ada, namun saya yakin ini sebagai alarm bagi saya
untuk selalu ingat Allah. Begitu juga dengan adanya pertemuan WWI, saya semakin
mendalami kehadiran Allah dalam wujud teman senasib sepekerjaan.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 19

Dari apa yang saya sebutan diawal tadi, saya merasa ketika saya berada dikomunitas
Loyola dan dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa. Rekan-rekan dari guru-
guru muda yang dekat dengan saya selalu mensupport saya ketika berada dalam masa
yang sulit. Mendengarkan curahan hati saya, menangis bersama saya, berdoa bersama
dengan saya, dan mengingatkan kepada saya bahwa Tuhan punya rencana yang lain
untuk saya dan keluarga dan meyakinkan saya bahwa Tuhan menyediakan rencana
yang luar biasa dalam kehidupan saya di masa depan. Rasa kekeluargaan bahkan
dihadirkan oleh beberapa orang yang sempat mengalami hal yang sama dengan saya,
menguatkan dan memberi saran. Rasa kekeluargaan yang luar biasa yang bisa saya
dapatkan ketidak berada dalam komunitas karena saling support dan mendukung ketika
saya sedang dalam problematika kehidupan saya, yang mungkin tidak saya sharingkan
kepada semua orang melainkan kepada orang yang dapat saya percaya dan saya
merasa dekat dan nyaman dengan beberapa orang tersebut. Karena dengan kehadiran
mereka sebagai teman dekat atau sahabat saya merasakan banyak pelajar yaitu dari
segi pekerjaan saya mendapatkan arahan dan masukan, dari segi teman dekat kami
saling belajar tentang kehidupan rohani dari masing-masing kami yang memiliki banyak
perbedaan tetapi dapat saling menguatkan dalam iman.

Kolese Loyola mendekatkan saya pada Allah melalui eksamen yang menyadarkan
berbagai pengalaman hidup sehari-hari juga merupakan karya Allah. Pertolongan Allah
tidak hanya hadir di peristiwa-peristiwa penting dan besar saja, tetapi juga dalam
kehidupan sehari-hari atau bahkan kegiatan yang sederhana. Selain itu, dalam setiap
Misa yang diadakan, saya juga selalu berusaha untuk mengikuti. Mengikuti Misa bagi
saya membawa kebahagiaan tersendiri, terutama di masa pandemi ini. Saya senang
mendengarkan sabda Tuhan dan homili dari para Pater. Di komunitas ini, saya merasa
kedekatan saya dengan Allah jauh lebih didekatkan dan saya merasa rohani saya
disirami oleh kesejukan. Hal ini saya rasakan betul setelah bekerja dan hidup selama
beberapa bulan di komunitas yang nasionalis (tidak berlandaskan agama Katolik).
Kolese Loyola juga mendekatkan saya pada sesama melalui berbagai kegiatan yang
sudah saya ikuti, yaitu Popsila, PPDB, pendampingan lomba, dan pengajaran di kelas.
Dalam setiap kegiatan tersebut, saya harus berdinamika dengan beragam karakteristik
siswa dan rekan kerja. Selain itu, dengan kegiatan-kegiatan amal untuk sesama yang
membutuhkan, bagi di komunitas Loyola sendiri lewat dewan guru, maupun untuk
mereka yang di luar komunitas Loyola lewat DKKL (kegiatan Silasol).

Gerakan komunitas terlihat dari adanya kepedulian kepada sesama rekan tenaga
kependidikan atau kepada guru. Kepedulian ini contohnya dalam hal penyelesaikan
pekerjaan yang dilakukan secara teamworking yang menyeluruh dan konsisten,
sehingga membuahkan hasil yang maksimal.

Sebagai sekolah yang berlindung sebagai sekolah barnafaskan iman katolik dengan
Santo Ignasius sebagai ruke model dan dipimpin dan didampingi para Jesuit maka
banyak kegiatan yang berorientasi untuk menggerakkan iman dalm pelayanan kepasa
sesama. Banyak sarana yang bisa digunakan, retretm rekoleksi, arisan, tilik bayek,
kunjungan orang sakit, terlibat aktif di gereja dan masyarakat dan lain sebagainya.

Komunitas sudah berupaya untuk memberikan sarana dekat dengan Allah melalui
ekaristi komunitas atau pun angkatan, melalui retret (meskipun saat pandemi belum
diselenggarakan), melalui percakapan rohani bahkan melalui proses pendampingan
siswa saat POPSILA, retret, eksamen maupun perwalian karena selalu mengaitkan
materi keseharian dengan nilai-nilai Ignasian yang muaranya tentang kehadiran Allah
dalam hidup kita.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 20

Baik, setidaknya setiap briefing pagi selalu di akhiri dengan doa dan refleksi dari bacaan
insight, selain itu setiap rapat seberapapun seringnya itu pasti diawali dan di akhiri
dengan doa.

Saya rasa hal ini tergantung bagaimana kita melihat setiap dinamika yang terjadi antara
KBKL. Segala dinamika dan sarana yang ada akan mendekatkan diri kita kepada Allah,
tergantung bagaimana kita menyikapinya.

salah satunya melalui kegiatan kelompok WWI, disitu saya menjadi lebih mengenal
teman -teman di komunitas dan melaluli sharing - sharing membuat saya semakin
mensyukuri rahmat pemberian hidup dari Tuhan. Kegiatan lain seperti melibatkan saya
di tim CM, semakin menambah dan menggerakan saya untuk semakin dekat dengan
Tuhan.

Menurut saya sudah baik, karena di Loyola tidak hanya mengembangkan satu aspek
saja melainkan semua aspek dalam kehidupan yang tertuang dalam 4C. Dari segi
Rohani, banyak dinamika yang ada di Loyola yang sangat mengembangkan ke arah
yang lebih baik, misalnya: adanya retret bersama, adanya rekoleksi bersama, adanya
pendalaman tentang buku-buku kisah Santo Ignatius, adanya misa bersama, eksamen
dll
kegiatan-kegiatan tersebut secara sadar maupun tidak sadar memberikan dampak baik
bagi kehidupan rohani komunitas Loyola.

Sebagai komunitas Loyola mempunyai sarana melalui WWI, Eksamen, Misa, dan
Refleksi pribadi.

Sering dalam berbagai kegiatan kita selalu diajak utk berefleksi dan mengevaluasi guna
perbaikan.Dengan mengadakan misa angkatan

Menggerakan melalui KEGIATAN ROHANI yang sederhana tetapi rutin, terus menerus,
setia dilakukan yaitu Insight dan doa pagi.

Bagi saya komunitas Loyola sudah dekat dengan Allah dan sesama. Hal ini ditunjukkan
dalam relasi/hubungan kerja yang baik dalam komunitas dan juga dalam
pengembangan peserta didik juga bertumpu pada pengembangan pribadi yang unik
sebagai citra Allah. Untuk saat ini (kondisi pandemi) memang agak sulit untuk bertemu
langsung secara bergerombol karena prokes. Maka sharing bersama secara virtual bisa
mendekatkan satu dengan yang lain.

Komunitas menggerakan saya untuk selalu dekat dengan Allah dan sesama dengan
adanya sarana pertemuan rohani seperti WWI dan sistem "kekeluargaan" khas loyola
dimana ketika ada siswa atau rekan guru karyawan yang sakit atau kesulitan bisa saling
mendukung dan mendoakan.

KBKL terutama guru dan karyawan selalu mendukung dan memfasilitasi relasiku
dengan Allah melalui kegiatan briefing pagi, kapel loyola yang tersedia, berdoa
bersama, bersyukur bersama saat ada prestasi yang kita peroleh. Hal-hal seperti inilah
yang sangat mendukung relasiku dengan Allah. Dengan mensyukuri keberadaan
anggota komunitas, maka kita juga mensyukuri berkat Allah.

Komunitas menggerakkan hubungan saya dengan Allah pada keseharian hidup,
bercerita, dan tatap mata setiap anggota guru dan karyawan. Lewat perjumpaan-
perjumpaan informal dan santai, saya merasakan kehadiran Allah di setiap individu.

Sebagai salah satu Kolese, komunitas ini sungguh menggerakkan saya untuk selalu
dekat dengan Allah dan sesama. Adanya perayaan ekaristi secara rutin minimal sebulan
sekali dan kegiatan-kegiatan lainnya seperti pembacaan daily insight, doa pagi sebelum
memulai aktivitas, serta kebiasaan examen setelah jam terakhir pembelajaran. Situasi
dan rekan kerja juga cukup mendukung sehingga ketika ada suatu masalah dan saya

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 21

kesulitan dalam diskresi atas pilihan rumit, saya mendapatkan bantuan dan masukan
untuk dapat memilih pilihan dan terbaik dari semua pilihan yang ada.

Menjaga relasi yang baik antar anggota komunitas, menyapa lewat WA ngobrol santai
dan masih banyak lagi yang sifat nya mempererat relasi sesama rekan kerja

Menurut saya apa yang telah dilakukan oleh sekolah selama ini sudah sangat baik
seperti mengadakan misa, membacakan daily insight dan pernah juga ada kelompok
rohani (WWI). bagi saya sendiri mungkin hal ini ada baiknya bila diteruskan dan
kembangkan dengan cara-cara yang lebih menarik, bahan bacaan yang kata-katanya
menarik, mudah dipahami sehingga mampu membentuk persaudaraan sejatinya di
Loyola sehingga mampu menghadirkan Tuhan. Usul saya untuk kedepannya bila Covid
sudah berlalu alangkah baiknya bila diadakan misa komunitas antara guru dan
karyawan dan yang bertugas adalah guru-guru, karyawan secara bergantian.

Komunitas sudah memberikan kesempatan untuk makain dekat dengan Allah dengan
sesama, melalui misa, pendalaman spirit Ignasian lewat berbagai cara (misalnya : WWI,
PPI, dll)

Dalam komunitas lewat acara bersama, misa harian dan mingguan bersama umat,
mendampingi kelompok Ignasius untuk mendalami bersama spiritualitas Ignasian dalam
kehidupan sehari2.

Contoh tauladan para Romo

Pelayanan dan pengabdian saya melalui yayasan Loyola

Dgn melibatkan diri dlm karya Yay Loyola, Kolese Loyola melalui aktivitas / kegiatan
untuk meningkatkan pelayanan dan sarana pendidikan untuk anak didik Loyola .

Kehidupan sehari2

Komunikasi dan sosial kepada sesama lingkungan sekitar , diluar komunitas maupun di
dalam komunitas harus sepadan

Karna saya masih baru di Loyola,pengalaman yg saya dapat waktu di WWI
menggerakkan kita selalu dekat dengan Tuhan dan shering berbagi pengalaman
mengenai berkat Tuhan

Loyola memfasilitasi saya untuk refleksi dan mengenal Tuhan lebih jauh dengan adanya
renungan bersama Walking With Inigo, dimana dalam buku tsb ternyata banyak yg bisa
kita implementasikan dalam hidup sehari hari, selain itu beberapa kali ada misa
membuat saya semakin dekat dengan Tuhan mengingat di paroki saya belum terlalu
banyak misa offline.

sudah cukup bagus,salah satu bukti yaitu tersedianya Kapel

examen

Lewat keseharian kita

Sharing 3 putaran merupakan aktifitas yang bisa menggerakan kita untuk selalu dekat
dengan Allah dan sesama, dari buku “Walking With Inigo” karya Coleman menyinggung
tentang komunitas, keluarga, persahabatan antara Inigo dan para sahabat-sahabatnya,
dan menyebutnya sebagai Amigos en el Señor atau sahabat-sahabat dalam Tuhan.
Dalam perjalananya Inigo hingga “bertransformasi” menjadi Ignatius, dan sampai
membentuk Serikat Yesus, Ignatius tidak berjuang sendiri, dia punya rekan, sahabat,
yang saling menolong, menopang, mendukung. komunitas untuk menghasilkan buah
yang baik, komunitas yang menularkan semangat yang sama kepada orang lain.
Sebagai orang yang percaya kita diharapkan menjadi buah yang baik, dan kita
ditempatkan di dunia yang sekuler, dunia yang didalamnya terdiri dari masyarakat
heterogen, majemuk berasal dari berbagai agama, suku, dan ras. Didalam dunia seperti

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 22

ini, tentu banyak orang yang tidak ke gereja, tidak membaca injil, namun kitalah yang
“dibaca” oleh mereka. Menghasilkan buah yang baik diperlukan suatu komunitas untuk
mendukungnya, komunitas (Community) sendiri merupakan sekumpulan individu yang
mendiami lingkungan tertentu serta terkait dengan kepentingan yang sama (Iriantara,
2004: 22). Komunitas yang dibentuk oleh Inigo, Inigo, dan sahabat-sahabatnya terdiri
dari sekelompok mahasiswa pascasarjana Universitas Paris. Komunitas ini saling
mendukung, solid, disiplin, dari komunitas yang dibentuk di abad 15, terdiri dari 6
sahabat, menjadi 9 sahabat, dan masih eksis hingga kini dengan jumlah pengikut
ribuan. Bagaimana dengan komunitas yang ada di SMA Kolese Loyola? Apakah bisa
mengadopsi semangat yang ada pada komunitas yang dibentuk oleh Ignasius dan
sahabat- sahabatnya? Apakah komunitas “Amigos en el Señor” yang dibentuk oleh
Ignatius dan sahabat- sahabatnya ini tidak pernah mengalami kendala? Atau konflik?
Tentu kendala dan konflik ada, setiap komunitas dimana saja pasti pernah mengalami
konflik, maslahnya bagaimana komunitas mengatasi konflik-konflik yang ada?

Sumber pustaka :

Iriantara, Yosal. 2004. Community Relations Konsep dan Aplikasinya. Simbiosa
Rekatama Media : Bandung

Komunitas menggerakkan dengan lingkungan yang mayoritas beragama Katolik dan
Kristen, namun semuanya membaur menjadi satu tanpa memandang agama. Saling
bertoleransi satu sama lain. Adanya kegiatan misa, penerapan dalam setiap kegiatan
yang selalu diawali dan diakhiri selalu dengan doa.

1. Tiap hari, di saat memulai pelajaran diawali dengan doa syukur dan mohon berkat
melalui pengeras suara. Demikian juga pada saat pelajaran berakhir, kita diajak
merefleksi apa saja yang sudah kita lakukan. Terutama dalam melayanan kita kepada
murid, guru, sesama tenaga kependidikan dan pimpinan.
2. Dalam kurun waktu sekitar 1-2 tahun sekali diadakan retret / rekoleksi bersama
antara sesama tenaga kependidikan atau pun bersama guru di tempat-tempat retret
yang ada di sekitar Kota Semarang.
3. Dalam menghadapi bulan puasa, sekolah hampir tiap tahun mengadakan pasar
murah untuk masyarakat sekitar dan tenaga kependidikan dengan menyediakan
sembako murah. Ini sebagai salah satu wujud kepedulian LC kepada masyarakat yang
ada disekitar sekolah.
4. Ada kapel sekolah yang bisa kita pergunakan untuk memberi waktu kita supaya dapat
lebih mempererat hubungan pribadi kita dengan Allah.
5. dan masih ada yang lain ...

Sayangnya karena ada pandemi covid-19 yang sudah hampir 2 tahun, kebiasaan baik
nomor 1, 2 dan 3 tidak diadakan lagi.

MISA KOMUNITAS, RETRET, REKOLEKS & PIKNIK BERSAMA

Selalu mengajari/menumbuhkan menerapkan kehadiran Allah dan karyanya dalam
setiap aktivitas lewat Misa bersama, diskusi dan pelibatan setiap personal dalam
masing masing tanggungjawab dalam tujuan melayani siswa sebagai bagian dari
pengabdian kolese

Ya sebagai KBKL saya sering di ingatkan untuk meningkatkan iman dan kepercayaan
kita untuk selalu dekat dgn Tuhan melalui sarana misa komunitas,Eksamen
,mendampingi anak muda yang baik dalam proses KBM,dll.

Membantu panti asuhan ,dan lingkungan sekitar nya

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 23

Tidak ada

Lewat sering berkumpul bersama entah itu melalu piknik, retret, atau rekoleksi bersama

Retret,Rekoleksi,piknik keluarga

Doa pagi,examen siang, rettret

Selalu menjadi pribadi yang bersyukur

Ya, lewat sharing

Komunitas dalam menggerakkan kita untuk selalu dekat dengan Allah dan sesama
sudah baik, komunitas mengajak kita terlibat menjadi seorang yg lebih dekat dengan
Allah, peduli dengan lingkungan, mempraktekkan cara hidup kristiani diantaranya dalam
bidang sosial, ekonomi, dll semua itu terarah untuk kemulian Allah

Saya berada ditengah komunitas yang menjadikan Allah sebagai fokus dalam hidupnya.
Awalnya saya bukan seseorang yang selalu menyertakan Allah dalam segala keputusan
yang akan saya pilih, berada ditengah komunitas ini saya merasa beruntung karena
saya banyak belajar untuk menjadikan Allah fokus hidup saya dan menjadikan saya
menjadi lebih dekat lagi dengan Allah.

Lewat sarana doa bersama , retret, rekoleksi dan mungkin misa bersama

Dengan doa bersama sebelum memulai kegiatan

Melalui sarana kegiatan bersama seperti yg dilakukan sebelum pandemi misalnya retret,
rekoleksi, dan misa. Lewat kegiatan seperti itu kita seolah wajib rehat dulu dari segala
kesibukan & aktivitas, untuk secara khusus meluangkan waktu & perhatian untuk Allah,
dan juga merasakan kasih sayangNya melalui sesama khususnya rekan kerja kita
dalam komunitas.

diizinkan sholat jumat

lewat sarana retret rohani, misa komunitas, rekreasi keluarga KBKL

Bahwa selalu ditekankan untuk menjadi pribadi yang jujur dg keyakinan masing-masing.
Seperti adanya ucapan yang diberikan saat hari raya.

Selalu ingat akan Tuhan dan selalu ingat akan sesama dan ingat semua ciptaan Tuhan
yg selalu kita jaga dengan baik.

Melaui doa harian , eksamen , misa komunitas, Merekoleksi dan retret

1. Dengan Allah: melalui misa komunitas, misa angkatan
2. Dengan sesama: melalui kegiatan yang ber-kepanitiaan
lewat sarana bacaan (LUB, Berani ambil keputusan)
kadang baca buku latihan rohani (tdk mudah paham mungkin harus ada yang
menuntun)

Melalui sarana berbagi dan mengasihi

Melalui kegiatan religi seperti misa yang bisa diikuti secara offline maupun online

Sering diadakan kegiatan untuk mendekatkan kepada Allah. Misal pagi hari ada daily
insight. Siang ada examen. Ada baiknya doa Malaikat Tuhan tetap diadakan karena
sebagai waktu sebentar menarik diri dari kesibukan untuk kembali ke Allah. Ada misa
angkatan, misa komunitas.
Hubungan dengan sesama guru karyawan juga sering diadakan. Kunjungan ke rumah
guru/ karyawan. Menghadiri pernikahan, belasungkawa. Berkunjung ke ruang2 MGBS
lain.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 24

Melalu bersyukur dan memberikan niat yg terbaik..seperti berdoa bersama..misa
bersama

Sarana pekerjaan, sarana komunitas MGBS, sarana jabatan yang diampu dan sarana
sosial sebagai saudara dan kelompok sosial

Komunitas senantiasa mendorong untuk kita dpaat bergerak maju menemukan inovasi
ataupun fokus baru yang memajukan kualitas diri kita melalui berbagai perubahan
manajerial, penyesuaian kurikulum, penyediaan sarana dan prasarana pendukung
pembelajaran, dan lain sebagainya. Hal,hal tersebut menunjukkan bahwa Allah hadir
dan menghendaki itu semua terjadi demi bisa melapangkan jalan untuk kemuliaan Allah
yang kebih besar.

Komunitas Loyola sangat positif dan banyak hal yang membuat saya teringat dengan
Allah. Hal ini karena cara bertindak di SMA Kolese Loyola sendiri didasari oleh nilai -
nilai Ignatian. Saya percaya nilai - nilai tersebut adalah karakter baik seperti yg Allah
kehendaki kita sebagai manusia untuk melakukannya.

Melalui misa angkatan, dan percakapan - percakapan rohani.

Jujur, saya mengenal eksamen ketika saya di Loyola dan tahun pertama saya tidak
terlalu memikirkan eksamen dan proses eksamen itu sendiri. Tapi di tahun kedua saya
di Loyola, saya merasakan lebih dekat dengan Tuhan dan lebih mengenal diri sendiri
sehingga lebih mampu mensyukuri apa yang ada dalam hidup bahkan permasalahan
yang sedang saya alami melalui eksamen setiap hari. Dengan ini saya berterimakasih
sekali dengan Loyola karena mengenalkan saya dengan eksamen sehingga membuat
saya menjadi lebih mengenal diri sendiri dan lebih bersyukur atas yang terjadi dalam diri
saya sebagai bagian dari karya Tuhan.

Komunitas KBKL mencoba membangun kesadaran "Allah yang dekat" melalui hal-hal
sederhana, seperti perjumpaan formal-terstruktur (mis. kerja sekolah, kerja kepanitiaan,
dsb.) ataupun informal (mis. visitasi, 'nongkrong'). Selain itu, ada beberapa program
yang membangun kesadaran tersebut, seperti misa bersama, WWI, daily insight,
briefing, dsb.

Sebagai bagian dari KBKL, komunitas ini sangat baik dalam mempertahankan relasi
dengan Allah, melalui berbagai macam kegiatan bersama yang berdampak pula dalam
kehidupan pribadi. salah satu sarana yang selalu dilakukan adalah briefing pagi dengan
selalu melakukan doa bersama, berkomunikasi dengan Allah, dan menyampaikan
kondisi anggota keluarga bila ada yang sakit atau menderita kemalangan dan juga
kebahagiaan. Kegiatan lainnya melalui komunitas Jogo Konco yang bertujuan untuk
membantu saudara komunitas yang sedang menderita sakit. Melalui komunitas MGBK
dengan selalu mengagendakan makan bersama diluar membuat kami semakin dekat
dan menguatkan, menyadarkan kami bahwa kebersamaan merupakan pemberian dari
Allah.

Di Loyola ada doa di pagi dan mendengarkan daily insight saat briefing pagi dan siang
hari ada examen, misa secara berkala. ini semua adalah sarana yang baik untuk selalu
mengingatkan dan membawa komunitas Loyola untuk membangun relasi yang semakin
baik dengan Allah

Banyak ditemui di keseharian ketika beraktivitas dalam pekerjaan. Salah satu contoh
nyata adalah ketika di awal rapat atau pertemuan selalu diawali dengan doa dan
mengucap syukur. Sarana yang digunakan kebanyakan adalah ajakan secara langsung.

Sejauh ini, untuk dekat dengan Allah, komunitas amat mudah mengawali dan
mengakhiri setiap pertemuan dengan doa pembuka dan penutup secara Katolik. Di
kalangan para guru, ada briefing yang diakhiri dengan pembacaan Daily Insight untuk
mendalami spiritualitas Ignasian. Di kalangan siswa ada doa eksamen di akhir LOC atau

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 25

Kelas Hibrid, Misa angkatan, Retret untuk kelas XII, Rekoleksi untuk kelas X, Retret
untuk para guru dan karyawan.

Untuk dekat dengan sesama, komunitas Loyola, menurut saya, masih harus belajar
menghargai guru atau karyawan yang baru datang bergabung agar yang baru datang
merasa betah tinggal di komunitas Loyola. Ikatan kekeluargaan masih terbatas di antara
guru dan tendik yang sudah lama bekerja. Barangkali ini soal kebiasaan, kenyamanan,
dan belum mengenal secara lebih dekat dengan yang baru bergabung. Maka, saya kira
penting untuk mengupayakan ruang-ruang perjumpaan di antara guru karyawan yang
lama dengan yang baru agar kebutuhan untuk saling mengenal sebagai bagian dari
keluarga besar itu sungguh-sungguh tercapai.

Retret, rekoleksi, piknik bersama

Sudah baik, perhatian dan sistim kerja WFO dn WFH

Lewat sarana perjumpaan dengan rekan2 karyawan dan guru,saling membantu
menghormati.misal ada yg sakit menengok dan membatu menggantikan tugas2nya.

Untuk komunitas KBKL sudah cukup bagus untuk sama2 bergerak untuk selalu dekat
dengan Tuhan

Perlunya saling mengenal (komonitas) pendalaman iman, misa komonitas. Baik

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 26

3. Sebagai bagian dari Lembaga Karya Pendidikan SMA Kolese Loyola, menurut
Saudara, bagaimanakah lembaga kita menerapkan prinsip-prinsip Ignasian yang
membawa kita pada kesadaran akan kehadiran Allah dalam lembaga ini?

Penerapannya masih berproses lewat kegiatan/dinamika dan aturan yang ada. Sungguh
baik jika semua KBKL sungguh mengenal mengenal, paham dan dapat menjalani
prinsip2 Ignatian. Tantangannya adalah terlalu banyak tugas dan kegiatan sehingga
jarang sekali dijumpai evaluasi dan refleksi karya di akhir setiap kegiatan atau tugas di
mana kita bisa diajak utnuk melihat kehadiran Allah dalam tugas atau kegiatan tersebut.

Lembaga telah mencoba mengarahkan pada nilai ignasian. Misal dengan melakukan
refleksi dan evaluasi beberapa kebijakan dan kegiatan.

Melalui kegiatan sehari-hari di Lembaga Karya Pendidikan SMA Kolese Loyola, dasar-
dasar kegiatan, sikap dan perilaku masing-masing saudara.

Melalui kebijakan dan perlakuan kerja yang mengangkat harkat dan martabat manusia
secara objektif, tidak bias dan tidak mementingkan suatu golongan tertentu apapun,
serta adil secara kewajiban dan hak.

Ajakan untuk berdoa bersama, refleksi diri, eksamen

Sangat bagus dan luar biasa sehingga iman kristiani saya semakin bertumbuh.

Prinsip prinsip Ignatian seolah sudah menjadi bagian dari hidup kita di lembaga ini.
Ungkapan ungkapan yang didengungkan misalkan tentang 4C, perseverantia,
man/woman for others, discretio, agere contra dll selalu membawa saya pada
kesadaran akan kehadiran Allah dalam komunitas ini.

lembaga ini membawakan unsur tentang kekeluargaan yang sangat erat, dan didalam
dinamika yg ada bersama dengan guru serta karyawan yang sudah lama berada disini
sangat baik, walaupun belum semua.
namun dari hal ini, saya lebih merasa seperti saudara ketika berbicara dengan guru
atau karyawan lapangan.

Saya kurang bisa membedakan mana prinsip-prinsip Gereja Katolik dan mana prinsip-
prinsip Ignasian. Sejauh ini saya rasa SMA Kolese Loyola selalu berusaha untuk
menjadi berguna bagi dunia lewat jalur pendidikan.

Lembaga Kolese Loyola sudah menerapkan prinsip prinsip Ignatian dengan
menekankan pencapaian visi misi sekolah,. Lembaga ( Yayasan) mendukung setiap
kegiatan yang dilakukan oleh sekolah baik untuk pengembangan siswa maupun
pengembangan guru. Saya sangat bersyukur bahwa Lembaga mendukung penuh
setiap kegiatan sekolah.

Lembaga ini benar-benar tumbuh mendampingi para guru untuk benar-benar memeluk
Tuhan dalam wujud keseharian mendampingi kaum muda. Nilai Competence,
Conscience, Compassion, and Commitment melalui pendampingan kegiatan sosial dan
kegiatan kerohanian yang rutin digelar. Selain itu, Daily Insight yang dilakukan setelah
Briefing pagi membantu kami para guru untuk masuk dalam semangat Ignatian.

Berusaha menjadi teladan dan merefleksikannya setiap akhir hari.

Pada saat eksamen menyadarkan saya bahwa Tuhan sungguh hadir dalam hidupku
dalam keadaan apapun dan dimanapun.

Prinsip-prinsip Ignasian sudah berusaha diterapkan dengan sungguh-sungguh di Kolese
Loyola. Semua kegiatan/dinamika persekolahan diarahkan untuk "menemukan Allah
dalam segala hal". Cara berpikir dan bertindak institusi didasarkan pada pola kesatuan
antara "pengalaman-refleksi-aksi". Dengan demikian, saya merasa semua yang terjadi

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 27

di institusi ini selalu memiliki makna, baik bagi hidup saya sendiri dan kelangsungan
institusi.

Mengajak semua anggota komunitas menemukan Allah dalam segala peristiwa yang
dialami setiap hari.

Semua prinsip-prinsip ignasian adalah bagus sekali. Saya ingin sekali mendapatkan
bentuk pendampingan yang lebih nyaman dalam menciptakan cura personalis kepada
semua individu dan kelompok-kelompok tugas. Saya merasa perlakuan untuk
menerapkan cura personalis kepada setiap pribadi apa pun tugasnya sebagai kolese
jesuit sangat pokok. Sentuhan dan kehadiran Allah sangat konkrit dalam perlakuan
personal. Allah hadir dalam setiap perjumpaan kita setiap waktu dan tempat kita
berkarya. Penerimaan, penghargaan, dan kerendahan hati akan membantu
merealisasikan CP ini dalam karya. Saya merasa semua yang saya dan kita lakukan itu
adalah perjumpaan dinamis kita dengan Allah. Allah sangat mencintai umatnya, maka
kita bagian dari itu ya tepat untuk saling men-CINTA-i, meng-HORMAT-i, serta mampu
mengembangkan semua.

Adanya percakapan rohani 3 putaran sambil mendalami buku WWI cukup baik dalam
memfasilitasi pemahaman prinsip-prinsip Ignasian.

Saya kadang-kadang merasa, prinsip Ignasian yang ada dilembaga ini sebatas wacana,
untuk ukuran wacana sudah baik, tapi dalam tataran implementasi saya masih merasa
kurang.

Loyola sangat menerapkan prinsip Igantian dalam setiap kegiatan baik intra mampun
ekstra kurikuler

Teorinya semua stakeholder di Kolese ini menerapkan ad maiorem Dei gloriam namun
masing-masing pihak merasa bahwa jalannyalah yang paling benar. Mereka fokus pada
pencapaian nilai atau goal pada divisi masing-masing dan lupa untuk membongkar
sekat-sekat egoisme sektoral demi Kolese Loyola semuanya. Seharusnya pribadi
pemersatu lebih banyak berperan namun kadang waktu dan tenaga cukup terbatas
untuk mengkomunikasikan hal tersebut.

Kebiasaan doa pagi, examen dan hal-hal lain dalam melayani siswa sudah terlaksana di
sini dan itu membawa kita pada kesadaran akan kehadiran Allah

Prinsip Ignasian sudah dilaksanakan. Lembaga senantiasa mengajak anggota
komunitas untuk menyerahkan segala kegiatan pada penyelenggraaan Allah.

prinsip Man & Woman for Others benar2 nampak dari dinamika bapak ibu guru (teman-
teman), terutama saat salah satu teman sedang jatuh/duka/sakit.

Dinamika yg ada di SMA Kolese Loyola sudah baik untuk menghadirkan karya Tuhan
dlm kegiatan yg ada

sudah baik dalam pesan misa,briefing pagi,WWI

Lembaga kita banyak yang sudah menerapkan prinsip Igansian

menurut saya pembawaan prinsip-prinsip Ignatian dalam lembbaga Kolese Koyola
sudah baik. salah satunya dengan mengadakan misa secara virtual

Memfasilitasi anggota untuk menerapkan prinsip-prinsip ignasian baik dalam
pembelajaran yang mengarah ke ignasian dan percakapan rohani 3 putaran

Prinsip Ignasian dihadirkan lembaga ini lewat semangat magis, perseverantia dan cura
personalis.

Prinsip Ignatian yang diperjuangkan sekolah ini adalah Kejujuran, Magis, Persevera,
Man and Woman for and with Others. Prinsip kejujuran sangat dijunjung tinggi di
sekolah ini, sehingga mencontek adalah hal yang sangat dilarang. Nilai ini harus terus

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 28

diperjuangkan, meskipun mengalami banyak hambatan, apalagi saat pembelajaran
daring. Sistem dan peraturan yang baik dan jelas harus dibuat agar nilai ini dapat
diperjuangkan bersama. Magis, berupaya lebih baik, senantiasa diperjuangkan oleh
seluruh komponen sekolah. Eksekutif sekolah, Guru, Tenaga Pendidik berupaya keras
memberikan pelayanan pendidikan terbaik, para siswa mengikuti proses belajar dengan
baik dan belajar dengan bertekun sungguh-sungguh (Persevera), sehingga prestasi
yang baik dapat dicapai bersama : SMA KOLESE LOYOLA adalah SMA Terbaik se-
Jateng. Nilai Man and Woman for and with Others adalah nilai Ignatian yang diupayakan
agar semua KBKL menjadi berkat Tuhan bagi sesamanya lewat ilmu dan keterampilan
yang dimiliki.

Lembaga sudah berusaha menghadirkan nilai-nilai ingnasian melalui visi-misi yang
diteruskan kepada seluruh warga sekolah. Para guru dan karyawan merupakan pribadi-
pribadi yang sangat militan dengan nilai-nilai ignasian. Kegiatan untuk mendukung
kerohanian guru dan karyawan menjadi sarana penguatan atau pendewasaan karya
para guru dan karyawan. Percakapan Rohani Tiga Putaran merupakan metode discetio
yang menarik bagi kami para guru untuk menemukan pesan Tuhan dalam komunitas.

Lembaga Karya Pendidikan SMA Kolese Loyola menerapkan prinsip-prinsip Ignasian
yang membawa saya pada kesadaran akan kehadiran Allah dalam lembaga ini, antara
lain: WWI, daily insight, eksamen, silasol, kegiatan penelitian, dan tawaran-tawaran US
dan UPS pada PPDB. Melalui WWI saya menjadi sadar bahwa beberapa kisah inspiratif
guru mirip dengan kisah St. Ignatius (mengalami penolakan, belajar di usia yang tak lagi
muda, dll), daily insight dan eksamen mengajarkan nilai perseverentia bagi saya.
Bertahan melawan kejenuhan dengan tetap berdoa dan mensyukuri anugerah Tuhan.
Kegiatan penelitian mengajarkan saya untuk mengolah rasa empati saya dalam
mendampingi siswa dan belajar sepanjang hayat.

Loyola selalu melibatkan semangat Ignatian dalam setiap keputusan dan langkah yang
diambil, begitu juga dengan kegiatan yang diadakan selalu tidak keluar dari prinsip
Ignatian

Menjadi lembaga pendidikan berbasis Katolik yang stabil dalam melakukan
pendampingan pada peserta didiknya bukanlah hal yang mudah dilakukan. Ada banyak
tantangan yang pasti menghadang serta mengganjal prosesnya. Tetapi dari pandangan
saya, Loyola adalah sekolah yang luar biasa. Tidak hanya menawarkan fasilitas fisik
yang wah, namun juga mampu menyediakan diri untuk melayani. Semua guru dan
karyawan dibekali dengan spiritualitas Ignasian, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai dari
Santo Ignatius. Saya sangat takjub ketika saya diminta untuk melakukan pendampingan
pada anak-anak. Hal yang membuat saya banyak belajar adalah ketika saya diajak
untuk menerapkan cura personalis atau bimbingan personal kepada anak-anak di kelas.
Dari situ saya merasakan kehadiran Allah lewat anak-anak. Citra Allah yang lain, yang
lugu dan ceria. Saya tipikal yang sulit untuk marah atau kesal dengan anak-anak di
kelas. Seberapapun menyebalkan mereka di kelas, saya selalu berefleksi setiap akhir
kelas, apakah saya sudah jadi guru yang baik buat mereka? Karena saya yakin, mereka
adalah anak-anak terbaik yang dipilih untuk masuk ke Loyola. Disini saya belajar lebih
banyak untuk mengapresiasi setiap proses dalam hidup. Menerapkan 4C secara nyata
juga membantu saya lebih menyadari bahwa rupa Allah itu banyak bentuknya. Bisa
melalui bakat, bisikan hati nurani, rasa empati yang tumbuh saat melihat kondisi di kala
pandemi, dan juga dalam bentuk komitmen untuk mau melayani tanpa pandang bulu.

Prinsip Ignasian yang sangat kentara di SMA Kolese Loyola adalah dengan
implementasi 4C (competence, compassion, conscience, commitment). Nilai-nilai ini
selalu diusung dalam setiap kegiatan dan dinamika sekolah, baik itu POPSILA, Retreat,
Rekoleksi, Live in, maupun dalam induksi guru balita. 4C merupakan paket komplit yang

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 29

menjadi pedoman kita dalam berkarya, khusunya dalam membawa kita pada kesadaran
akan kehadiran Allah.

Prinsip Ignasian yang sangat kentara di SMA Kolese Loyola adalah dengan
implementasi 4C (competence, compassion, conscience, commitment). Nilai-nilai ini
selalu diusung dalam setiap kegiatan dan dinamika sekolah, baik itu POPSILA, Retreat,
Rekoleksi, Live in, maupun dalam induksi guru balita. 4C merupakan paket komplit yang
menjadi pedoman kita dalam berkarya, khusunya dalam membawa kita pada kesadaran
akan kehadiran Allah.

Dalam pelaksanaan penerapan prinsip-prinsip Ignasian bagi saya yang merupakan
orang baru dan tidak mengenal sama sekali apa itu Ignasian, dengan adanya beberapa
kegiatan guru balita dan kegiatan-kegiatan sekolah lainnya seperti popsila. Merupakan
wadah yang luar biasa untuk saya dan orang-orang yang baru belajar mengenai
Ignasian bisa belajar secara langsung ataupun tidak langsung. Awalnya saya masuk ke
Loyola tidak mengetahui secara keseluruhan nilai-nilai Ignasian, penerapan, dan
bagaimana cara mengiplementasikannya dalam kehidupan saya. Tapi setelah mengikuti
beberapa kegiatan yang diadakan sekolah seperti WWI, Popsila, dan Guru Balita saya
menjadi banyak belajar tentang apa itu nilai Ignasian dan bagaimana saya bisa
menerapkannya atau menjadikan contoh untuk KKL yang saya temani dalma belajar,
bahkan dari KKL pun saya malah juga bisa belajar dari mereka. Secara terbuka untuk
mau mendapatkan pembelajaran baru yang bisa bermanfaat dalam kehidupan
kerohanian saya walaupun saya memiliki kepercayaan yang berbeda. Namun itu bukan
menjadi penghalang untuk saya mengenal dan belajar tentang nilai Ignasian dan
semakin menyadari bahwa Tuhan itu hadir didalam kehidupan saya.

Kolese Loyola terus berusaha menerapkan prinsip-prinsip Ignasian baik dalam
kehidupan para siswa maupun di lingkungan pendidik dan tenaga kependidikan.
Penerapannya sudah baik, dengan berbagai kegiatan seperti eksamen, retret, ekskursi,
dan perwalian. Secara tidak langsung, ditanamkan prinsip-prinsip Ignasian kepada para
siswa.

Prinsip igansian terwujud dengan etos kerja disiplin dalam kejujuran yang semakin
menguatkan pola kehidupan yang maksimal dalam toleransi bersama untuk pewujudan
bersama.

Saya rasa sudah cukup baik, sebagai institusi pendidikan yang bernaung dalan
konggregasi Jesuit setiap kegiatan yang melibatkan baik guru, karyawan dan siswa
selalu mengacu pada prinsip Ignasian. Dengan selalu mengevaluasi setiap kegiatan,
merefleksikan setiap momen kegiatan dan bagaimana kegiatan2 kegiatan berikutnya
selalu berkaca dari kegiatan sebelumnya mana yang baik, mana yang perlu diperbaiki,
mana yang perlu dihilangkan sehingga kegiatan selanjutnya diharapkan selalu dan
selalu lebih baik.

Sebenarnya lembaga ini telah banyak menerapkan prinsip-prinsip Ignasian meskipun
belum sempurna. Semangat cura personalis, magis, kedalaman, perseverantia,
competence, conscience, compassion dan commitment selalu menjadi arah yang
diperjuangkan bersama.

sudah baik, setiap ada gundah kurang percaya diri.. kami meminta bantuan bunda
maria lewat 3x salam maria

Melalui refleksi dan obrolan-obrolan yang bernuansa positif

menurut saya sudah baik, dengan dibacakan daily insight setiap pagi, menurut saya
simpel tapi terkadang menjadi poin yang menyadarkan kita akan hadirnya Allah dalam
komunitas kita. Selain itu juga masih banyak kegiatan, tampilan - tampilan pada sekolah
yang secara tidak langsung membawa kita menyadari kehadiran Tuhan

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 30

Sudah baik, Lembaga selalu berpegang pada nilai yang dihidupi bersama yakni
semangat 4C. nilai-nilai tersebut tidak hanya sebagai slogan saja melainkan lebih ke
aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, dari hal yang sederhana sampai hal yang lebih
dalam lagi. Loyola mengajak KBKL untuk mampu melihat dan menemukan Tuhan
dalam segala. Dari perjumpaan dengan orang lain, dengan kejadian-kejadian yang
dialami dsb

Sebagai lembaga: Roh pendidikan Jesuit haruslah dapat dirasakan oleh murid,guru,dan
tenaga kependidikan . Sehingga hal inilah yang menjadi nilai tambah SMA Loyola
dibandingkan dengan sekolah lainnya. Melalui sarana yang ada.

Kalau bersama siswa kita sering diajak untuk examen, memang akhir2 ini kegiatan
rekoleksi dan retret masih terkendala dengan adanya pandemi yang mendunia

Menyatu dengan karya harian yang dilakukan setiap hari. Kerja dan karya harian yang
dilakuan setiap hari harus dijiwai Spiritualitas Ignatian. Persoalannya masing-masing
pribadi baik Guru atau karyawan apakah sudah mengenal dan memahami secara
mendalam nilai-nilai Ignatian.

Cura personalis dalam komunitas adalah hal yang penting. Memahami karakter-karakter
anggota komunitas dengan positif adalah hal yang dapat mengembangkan komuitas ini.
Selain itu, komunikasi yang baik dalam semua kegiatan adalah hal yang dapat
menyatukan komunitas menjadi lebih baik.

Prinsip Ignasian diterapkan dalam cura personalis dan magis. Dimana saya merasa di
Loyola semua orang di hargai sebagai pribadi yang unik dengan segala kekurangan dan
kelebihan yg ada dan berupaya untuk semakin baik. Dari cura personalis dan magis
inilah saya sadar akan kehadiran Tuhan dalam lembaga ini .

Lembaga Karya Pendidikan SMA Kolese Loyola sudah membawa kesadaran akan
kehadiran Allah. Hal ini diwujudnyatakan dengan segala kegiatan yang selalu
berpegang pada prinsip-prinsip Ignasian yaitu 4C.
- Competence : Menguasai ilmu pengetahuan sesuai bidangnya, dimana para guru dan
karyawan ditempatkan pada bidang pekerjaan yang sesuai dengan bidang
yang dikuasai.
- Conscience : Mempunyai hatinurani yang dapat membedakan baik dan tidak baik,
- Compassion : mempunyai kepekaan untuk berbuat baik bagi orang lain yang
membutuhkan, punya kepedulian pada orang lain, option for the poors.
Dimana kami pada saat itu bahu membahu saling membantu saudara-
saudara guru dan karyawan yang harus Isoman 2 minggu dengan
memberikan sembako.
Commitment : terlibat secara penuh, melibatkan diri, mengikatkan diri, tanggungjawab
penuh.

Secara teknis, lembaga ini mengajak saya pada prinsip2 ignasian dengan cara literasi
pada sumber2 bacaan ignasian dan pemaknaan-pemaknaan peristiwa yang dikaitkan
dg pengalaman ignasius (sharing-retret-rekoleksi-latihan rohani).

Saya rasa lembaga kita sudah berusaha menerapkan prinsip-prinsip ignasian untuk
membawa setiap anggotanya menyadari kehadiran Allah meski mungkin terkadang
belum efektif karena adanya banyak hal atau faktor luar seperti banyaknya kegiatan
maupun faktor dalam dari setiap pribadi orang. Hal yang Saya rindukan dari kolase ini
adalah kegiatan retret secara offline untuk pendampingan Iman guru. Tetapi tentunya
hal itu tidak bisa dilakukan mengingat situasi dan kondisi pandemi saat ini sehingga
sebagai gantinya ada kegiatan pendampingan guru secara rutin dan online. Ada juga
percakapan rohani 3 putaran yang kalau setiap guru bisa dikondisikan dengan baik
maka kegiatan ini sungguh sangat berguna.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 31

melakukan examen atau pemeriksaan batin

Menurut saya seperti kegiatan rekoleksi bersama, ziarah bersama seperti ke gua-gua
Maria, dan juga memfasiltasi seperti buku-buku yang menunjang kegiatan prinsi-prisnsip
Ignasian.

Sudah cukup baik. Mengedepankan cura personalis khususnya pada para siswa.

Acara dan pembinaan rohani dimasukkan dalam program kegiatan seluruh anggota
keluarga: ya retret, ya pendalaman spiritualitas, ya examen harian, campus ministry,
bacaan bersama, dll.

Terus menerus mengenalkan prinsip prinsip Ignasian

Saya merasa teman2 di Yayasan Loyola sangat solid, saling mengisi satu dengan yang
lain, membuat saya bahagia menjadi bagian yayasan Loyola

Menerapkan prinsip Ignasian kpd anak didik Loyola menanamkan 4C dan bimbingan
rohani.

Baik

Menurut saya , untuk saat ini prinsip dari ignasian belum di lakukan, dan apa lagi ada
tenaga pendidik baru dan guru baru , ,, agak berkurang dari tahun tahun sebelum nya

Karna saya masih baru di Loyola,pengalaman yg saya dapat waktu di WWI
menggerakkan kita selalu dekat dengan Tuhan dan shering berbagi pengalaman
mengenai berkat Tuhan

Menurut saya sudah baik, terbukti dengan adanya Walking With Inigo bisa membuat kita
tahu bahwa dibalik usaha dan kesulitan atau persoalan yg kita hadapi pasti Tuhan
sudah membuat rencana yang indah untuk kita kedepannya.

hrs lebih meningkatkan kepedulian kepada sesama

dengan menerapkan saling menolong antar divisi walaupun tidak lewat instruksi atasan

Prinsipnya harus punya keykinan dan peratuan yang teguh ..supya loyola berkrakter

Prinsip-prinsip Ignasian menuntut seseorang bertindak sesuai dengan 4 C, namun ada
masa-masa dimana 4 C hanya sekedar slogan diantara kita, sistem kekeluargaan kita
disisi lain bisa menjadi boomerang, artinya kecenderungan orang untuk "ikut campur"
urusan orang lain atas nama keluarga berpotensi menimbulkan konflik.
Ada dua tipe konflik, pertama adalah konflik intrapersonal atau proses perubahan dan
timbulnya konflik yang terjadi dalam diri seseorang, yang kedua adalah konflik
interpersonal yaitu konflik yang terjadi antara individu yang satu dengan individu yang
lain maupun antara satu kelompok dengan kelompok yang lain (Hendricks, 2006 : 43-
44). Konflikpun bisa bisa terjadi dari sekala yang kecil hingga besar, konflik besar
umumnya melibatkan hal-hal yang bersifat prinsipial, menyangkut hal-hal pokok dalam
hidup seperti visi, misi, dsb, sedangkan konflik dengan skala kecil umumnya melibatkan
hal-hal “remeh” yang ada dikehidupan sehari- hari, didasarkan atas selera, rasa,
kesenangan, kebiasaan, dsb. Apakah konflik diperlukan? Bisa tidak, atau bisa iya,
Coser (dalam Susan, 2009 : 46) konflik tidak selalu memiliki sifat negatif. Konflik juga
dapat mempererat hubungan antar-individu dalam suatu kelompok. Coser meyakini
keberadaan konflik tidak harus bersifat disfungsional, keberadaan konflik dapat memicu
suatu bentuk interaksi dan memicu konsekuensi yang bersifat positif. Konflik juga dapat
menggerakkan anggota kelompok yang terisolasi menjadi berperan aktif dalam aktivitas
kelompoknya. Konflik bisa saja bersifat konstruktif, dan memiliki fungsi positif jika
mampu dikelola dan diekspresikan dengan bijak dan sewajarnya. Pada umumnya justru
konflik-konflik kecil banyak terjadi di suatu komunitas, terkesan remeh, tapi bisa
melebarkan “jurang” antara yang satu dengan yang lain, menghabiskan energi, dan

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 32

konflik seperti ini berpotensi diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.

Sumber pustaka:

Hendricks, William. 2008. Bagaimana Mengelola Konflik : Petunjuk Praktis Untuk
Manajemen Konflikyang Efektif. Bumi Aksara : Jakarta

Susan, Novi. 2009. Pengantar Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer.
Kencana : Jakarta

Prinsip - prinsip Ignasian dalam penerapan keseharian yang membuat kita menjadikan
suatu hal pengingat bahwa apa yang telah dilakukan semua demi kemuliaan Allah.
Karena nilai yang sebatas tahu tanpa diterapkan hanya menjadi gambaran saja.

Sejak para siswa baru diterima menjadi anggota keluarga Kolese Loyola mereka sudah
diajarkan prinsip-prinsip Ignasian lebih awal pada saat pertemuan pagi selama 7 hari
sebelum acara popsila. juga dalam pelajaran agama keseharian.

MASIH MEMBEDAKAN PEGAWAI SATU DENGAN LAINNYA

Kolese Loyola mengutamakan "kehadiran"personal yang pelan pelan dijiwai semangat
4C dalam karya nyata kemudian menggabungkan dalam karya komunitas yang akhirnya
saling mendukung, mengkoreksi dan bervariasi dalam tujuan yang lebih besar untuk
Kemuliaan Allah bukan dalam tujuan akhir saja tetapi dalam setiap nafas dan ritme
kegiatannya

Lembaga menerapkan prinsip-prinsip ignasian dgn baik.

Kedesiplinan jujur,serta tanggung jawab

Saya idem, saya setuju, kalau prinsip tersebut membawa kita atau Loyola mnuju ke
arah yang lebih baik dan maju.

Dengan konteks tujuan yg berdasar pada pengalaman dr Loyola sehingga bisa
merefleksikan secara intensif hal2 yg menunjukkan perubahan ke arah perkembangan
disertai aksi untuk melahirkan komitmen sehingga bisa bersyukur bahwa Allah bekerja
dan berkarya di dalam kita.

Mengadakan kegiatan doa bersama sebelum dan sesudah melakukan rutinitas di
sekolah

Sudah baik dalam menggaungkan semangat ignasian didalam kegiatan maupun
dinamika di kbkl

Dengan mengedepankan rohani dan spiritualitas

Sangat bagua

Dengan menekankan kepada kita sikap yang keterarah kepada kemulian Tuhan, segala
daya upaya kerja keras keterlibatan kita semuanya terarah kepada kebesaran kemulian
Tuhan AMDG, mengejar apa yg disebut magis menjadi orang yang senantiasa lebih
segala galanya, lebih baik, lebih dekat dengan Tuhan, lebih terarah kepada tujuan
diciptakan spy kita semakin mampu utk memberikan diri kpd Allah, mengajak kita untuk
tidak setengah setengah, namun sll mempunyai ambisi suci. segalanya harus lebih baik
mempunyai semangat masing2 pribadi, mempunyai misi man for woman for others, (kita
ada bagi sesama bukan sesama ada bagi kita tp kita ada bg sesama) mengajak untuk
selalu bergerak, belajar dan belajar dan bertumbuh, belajar tanpa berhenti, tanoa batas,
selalu melihat ke depan, mau terlibat dalamn peziarahan, mengajak kita untuk
menyadari bahwa kita adalah pelayan Tuhan, mengajak kita untuk mampu menemukan
Tuhan, mengajak kita utk mau menghargai sesuatu yg kecil detil sehingga dengan
demikian bisa melihat Allah hadir, mengandalkan persahabatan, bahwa kita adalah

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 33

manusia pribadi rohani, yg pokok landaaan kita adalah kerohanian dg menj garam
dunia.

Menjadi bagian dari Lembaga Karya Pendidikan SMA Kolese Loyola membuat saya
lebih sadar terhadap hidup bersosialisasi dan saling tolong menolong terhadap sesama
yang membutuhkan serta membangun relasi yang baik terhadap sesama dan terhadap
Allah.

Alah akan selalu ada hadir didalam setiap langkah kehidupan kita sehari- hari
tergantung dari diri kita sendiri dan di dukung dengan prinsip-prinsip ignasian yg
melekat pada lembaga akan sangat menguatkan kita bahwa allah itu benar- benar hadir

Kebiasan berdoa sebelum dan sesudah memulai kegiatan

Contoh kecil dengan penerapan latihan rohani, setelah selesai melakukan kegiatan, kita
diajak untuk berefleksi, mengevaluasi tentang apa saja yang sudah dilakukan.

saling menghargai agama masing-masing

sudah cukup baik

Lembaga mengedepankan prinsip Ignasian sehingga kami semua selalu diselimuti
kedamaian akan kehadiran Tuhan

Kita menjalani keseharian selalu ingat akan Tuhan.

Menghidupi pekerjaan dengan jujur disiplin bertanggungjawab

1. retret
2. berelasi dengan orang-orang di sekitar
3. berkarya
4. berdoa

Menyerahkan diri pada Allah untuk setiap langkah kehidupan dan mengedepankan cinta
kasih

Menerapkan prinsip Ignasian tergantung hati masing-masing, bagaimana kita
melakukan pekerjaan, bagaimana kita bersikap dengan sesama karyawan atau guru ,
sehingga menumbuhkan rasa untuk melakukan hal terbaik karena kehadiran Allah.

Adanya pendekatan perorangan dan meninjau masalah dalam konteks perorangan
yang unik. Seringnya slogan AMDG disebut-sebut dalam banyak kesempatan.

Sudah baik...dengan prinsip prinsip Ignasian yg tertuang dalam buku LUB dan pernah
WWI 3 putaran laksana refresh kesadaran ilahi

Dalam tanggung jawab kerja dalam etika komunikasi etika sosial serta dalam sikap
welas asih pada sesama

Yang paling terlihat adalah bagaimana kita saling bekerjasama dan berkolaborasi untuk
menolong sesama yang membutuhkan bantuan. Guru senior membantu guru yang lebih
junior, bagaimana yayasan dapat lebih melatani para tenaga pendidik dengan sarana
yang lebih lengkap. Kita memilii peran yang bisa saling melengkapi dan menolong satu
dengan yang lain.

Loyola menerapkan banyak nilai baik untuk dilakukan dalam kegiatan sehari - hari.
Menurut saya nilai - nilai Ignatian yang dilakukan oleh para guru dan karyawan dapat
membuat anak merasakan kehadiran Tuhan dalam bentuk orang - orang disekitar
mereka. Kami tidak hanya bekerja tetapi juga mengajak anak untuk merasakan
kehadiran Tuhan dan sedikit demi sedikit membentuk anak - anak untuk dapat
melakukan hal yang sama sehingga nilai yang baik ini dapat dirasakan oleh masyarakat
yang lebih luas.

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 34

Selalu menerapkan prinsip 4C dalam kehidupan sehari - hari, yang tanpa kita sadari
sudah menjadi bagian dari hidup kita untuk selalu berbuat baik pada sesama dan
mewujudkan kehadiran Allah.

Menurut saya Loyola sudah baik untuk penerapan prinsip-prinsip Ignasian tapi mungkin
lebih ditingkatkan untuk kekompakan dalam penerapan prinsip-prinsip tersebut. Bahkan
tidak terpikirkan oleh saya Loyola sampai mengurusi WWI menurut saya ini adalah
salah satu upaya Loyola menerapkan prinsip-prinsip Ignasian melalui pendalaman iman
para guru dan karyawan ini merupakan perhatian yang luar biasa dari sebuah lembaga.
Dan baru ini juga saya mengenal percakapan rohani 3 putaran.

Kesadaran akan kehadiran Allah dibawa dalam lembaga ini berdasarkan prinsip LR 230
[ “cinta harus lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-
kata.”]. Sejauh ini, merasa hal ini sudah sangat baik. Lembaga sudah berusaha dengan
cukup baik menghadirkan Allah yang mengasihi dan dekat dengan mereka, melalui
beberapa kebaikan lembaga, seperti fasilitas dan kebijakan-kebijakan. Akan tetapi, patut
disayangkan bahwa hal tersebut kurang bisa dipahami oleh beberapa individu. Mereka
tetap butuh "kata-kata" untuk memperjelas "perbuatan" yang sudah dilakukan. Mungkin
baik jika 'sekali-duakali', lembaga berwawanhati dengan individu-individu terkait agar
"kehadiran Allah" sungguh dapat dipahami secara menyeluruh.

Lembaga ini sudah sangat baik dalam melakukan misinya dalam menerapkan prinsip-
prinsip Ignatian dengan peduli pada kaum miskin yang diwujudnyatakan dengan
memberikan beasiswa pada siswa yang membutuhkan. Membantu lembaga lain yang
membutuhkan dukungan finansial serta mendukung program-program kemanusiaan
yang dilakukan oleh Alumni (Donor darah KEKL). Lembaga melakukan berbagai macam
hal tersebut karena memiliki kemampuan sebagai sarana yang diberikan Allah untuk
digunakan membantu sesama.

Refleksi, rekoleksi, retret guru, community building merupakan kegiatan-kegiatan yang
membantu untuk selalu mendekatkan diri pada Allah.

Sampai dengan saat ini, lembaga sudah menerapkan prinsip Ignasian tersebut. Contoh
nyatanya adalah saat kegiatan PPDB. Penerapan prinsip Iganisan disini yaitu membela
orang miskin / tidak mampu. Banyak belas kasih yang diberikan kepada orang tua calon
siswa yang miskin / tidak mampu secara material tetapi memiliki prestasi akademis /
non-akademis yang sangat bisa dikembangkan melalui pendidikan di SMA Kolese
Loyola.

Sejauh yang saya amati dan alami, lembaga Pendidikan SMA Kolese Loyola sudah
menerapkan prinsip-prinsip Ignasian yang membawa pada kesadaran akan kehadiran
Allah dalam lembaga ini, yaitu dengan menciptakan ruang doa bersama, misa bersama,
kesadaran untuk menerapkan visi dan misi sekolah dengan kerja keras, kerja sama satu
dengan yang lain, dan kolaborasi dengan semua pihak yang berkehendak baik.

yang masih diupayakan adalah kerja sama para guru, tenaga kependidikan, siswa
dengan lingkungan sekitar untuk turut mendukung perayaan-perayaan keagamaan yang
lain agar kehadiran SMA Kolese Loyola sungguh dirasakan oleh lingkungan sekitar
sebagai bagian dari umat beriman.

Kebersamaan, Doa bersama, kepedulian

Dengan motto 4 C , yg menuju pada AMDG

Bertemu dengan semua orang dilingkungan sekolah dengan penuh
kasih,sukacita,semangat melayani dengan tulus

Sudah cukup bagus misalnya ketika ada acara selalu dimulai dan diakhiri dengan doa

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 35

Baik, perlu pendalaman lagi..

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 36

NOTULA PERCAKAPAN ROHANI TIGA PUTARAN

PUTARAN PERTAMA 1A

No Nama Sharing singkat, padat dan jelas
Anggota

1. Fr. Robert
Khalis Jati

2. Agatha
Novitasari

3. Albert
Leonardo
Lantang

4. Alexander
Christian
Widya Eka
Winarto

5. Aris Sugiarto

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 37

6. Basilios
Unggul Hadi
Saputra

7. Thomas Elisa

8. Hellen
Octaviana

PUTARAN PERTAMA 1B
1. Gemilau

Ragil
Prasetyo

2. Herunimus
Joko
Prasetyo

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 38

3. Johanes
Wahyu Tris
Murdani

4. Josafat
Aswin
Kristantoro

5. Maria
Magdalena
Ida Widuri
Sanusi

6. Masnimawati
Gulo

7. Monica
Sendi Afa

8. Edi Asmanto 39
Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 40

PUTARAN KEDUA 1A

No Nama Sharing singkat tentang tema/sharing putaran pertama
Anggota yang menyentuh dan menggerakkan batin.
Sharing dari:
1. Fr. Robert Tema dari:
Khalis Jati Yang menyentuh/menggerakkan batin:

2. Agatha Sharing dari:
Novitasari Tema dari:
Yang menyentuh/menggerakkan batin:

3. Albert Sharing dari:
Leonardo Tema dari:
Lantang Yang menyentuh/menggerakkan batin:

4. Alexander Sharing dari:
Christian Tema dari:
Widya Eka Yang menyentuh/menggerakkan batin:
Winarto

5. Aris Sugiarto Sharing dari:
Tema dari:
Yang menyentuh/menggerakkan batin:

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 41

6. Basilios Sharing dari:
Unggul Hadi Tema dari:
Saputra Yang menyentuh/menggerakkan batin:

7. Thomas Elisa Sharing dari:
Tema dari:
Yang menyentuh/menggerakkan batin:

8. Hellen Sharing dari:
Octaviana Tema dari:
Yang menyentuh/menggerakkan batin:

PUTARAN KEDUA 1B

1. Gemilau Sharing dari:
Ragil Tema dari:
Prasetyo Yang menyentuh/menggerakkan batin:

2. Herunimus Sharing dari:
Joko Tema dari:
Prasetyo Yang menyentuh/menggerakkan batin:

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 42

3. Johanes Sharing dari:
Wahyu Tris Tema dari:
Murdani Yang menyentuh/menggerakkan batin:

4. Josafat Sharing dari:
Aswin Tema dari:
Kristantoro Yang menyentuh/menggerakkan batin:

5. Maria Sharing dari:
Magdalena Tema dari:
Ida Widuri Yang menyentuh/menggerakkan batin:
Sanusi

6. Masnimawati Sharing dari:

Gulo Tema dari:

Yang menyentuh/menggerakkan batin:

7. Monica Sharing dari:
Sendi Afa Tema dari:
Yang menyentuh/menggerakkan batin:

8. Edi Asmanto Sharing dari: 43
Tema dari:
Yang menyentuh/menggerakkan batin:

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah

Putaran Ketiga:

1. Gerakan-gerakan Roh semacam apa yang Anda kenali dari sharing Putaran
Pertama dan Kedua di atas?

2. Apakah muncul hal-hal yang perlu disepakati bersama?

3. Langkah-langkah atau rencana ke depan apa yang menurut Anda perlu
diambil bersama?

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 44

https://www.cheverus.org/faith-service/uap.cfm

Kelompok Preferensi 1: Menunjukkan Jalan Menuju Allah 45


Click to View FlipBook Version