1
2
PENGANTAR
Di dunia ini siapa sih yang tidak memiliki masalah? Mau itu anak kecil
orang tua, orang miskin bahkan orang kaya, laki-laki perempuan, karyawan
atau direktur, semua pasti pernah memiliki masalah. Baik masalahnya hutang
belum lunas2, belum punya jodoh atau anak, masalah rumah tangga,
pekerjaan dan lain sebagainya. Mari kita sama2 be-riyadhoh (melatih) diri kita
untuk lebih mengenal Allah.
Orang yang baru terpuruk baik itu dililit utang, di PHK, keluarga yang
broken home banyak sudah mencoba mengamalkan Riyadhah 40 hari ini,
dimana rata-rata mereka meskipun belum habis 40 hari sudah bisa
menyelesaikan persoalannya. Riyadhah 40 hari ala KH. Yusuf Mansyur
memang benar-benar membuat orang kembali sukses, bahkan lebih sukses
daripada sebelumnya. Karena sebenarnya persoalan apapun kalau
dihadapkan kepada Allah semua akan menjadi kecil dihadapanNya, Allah yang
akan memberikan solusi dan dan rezeki dari Arah yang tidak kita sangka.
Keistiqomahan repitisi (pengulangan) visualisasi, afirmasi, doa-doa, dan
amalan-amalan, sangat diperlukan. Ibarat pisau, kita asah terus. Hingga
tajam dan bisa digunakan dengan hebat. Nah, riyadhah adalah itu. Bagaimana
kemudian menarget. Selama 40hr kita konsen, fokus, ngebenahin, ngebenerin,
amalan yang wajib. Dan ngidupin amalan2 yang sunnah. Menjadi kaya, adalah
salah satu hajat yang dihighlight, yang dizoom. Aslinya, riyadhah ini bisa buat
apa aja. Riyadhah jodoh, anak, pergi haji umrah, jadi pengusaha, jadi pekerja
profesional, selamat dari berbagai kasus, selamat dari berbagai ancaman,
ketenangan, beasiswa dalam dan luar negeri, kesehatan dan kesembuhan,
riyadhah untuk anak-anak agar shaleh shalehah.
3
Berikut ini Riyadhah selama 40 hari tanpa putus KH. Yusuf Mansur:
1. Shalat Berjamaah di Masjid selama 40 hari. tanpa ketinggalan takbir
pertama imam, lengkap dengan qabliyah dan ba’diyahnya. Juga Sunnah
Tahiyyatul Masjid, sebagai tanda kita datang sebelum waktunya adzan.
Mintalah izin pada suami jika Anda seorang istri, jika tidak Anda bisa
shalat di rumah saja namun selalu stanby sebelum Azan
berkumandang.
2. Lakukan halat Dhuha minimal 6 rakaat lebih baik lagi jika bisa 12
rakaat. Setiap hari terus-menerus hingga 40 hari.
3. Lakukan Shalat Tahajjud 8 Rakaat + Witir 3 Rakaat . Terus menerus 40
malam pada 1/3 malam terakhir, sekitar jam 3-4 malam.
4. Bacalah surah Al-Waqi’ah satu kali sehari baik diwaktu habis shubuh
ataupun sesudah ashar terus menerus selama 40 hari.
5. Senantiasa Berzikir sehabis shalat dan ditambah dengan baca yaa
fattaah yaa rozzaaq 11x, serta ayat kursi, dan qulhu 3x. 5 kali waktu
selama 40 hari. Tambahkan membaca Surah Al-Hasyr 4 ayat terakhir
khusus pada waktu ashar dan shubuh.
6. Bacalah laa hawla walaa quwwata illaa billaah sebanyak 300 kali,
Istighfar dan shalawat masing-masing 100x sehari semalam. Juga baca
subhaanallaahi wabihamdihi subhaanallaahil ‘adzhiem 100x pagi dan
100x sore.
7. Membaca 4 Surah Pilihan : Surah Al Waqiah, Surah Yaasiin, Surah Al
Mulk dan Surah Ar Rahman 1 kali sehari selama 40 hari terus menerus.
Bisa dibagi waktunya.
8. Mulailah Riyadhah 40 hari ini dengan melakukan Sedekah yang bernilai
besar menurut Anda. Yang sekiranya belum pernah Anda bersedekah
dengan nilai sebesar kali ini.
9. Meskipun melakukan Riyadhah 40 hari, Anda di anjurkan tetap bekerja
seperti biasa jika Anda seorang karyawan, atau aktifitas lainnya tanpa
ada perubahan seperti sebelumnya. Namun selalulah mengawali
4
aktifitas Anda dengan membaca Bismillah dan diakhiri dengan
Alhamdulillah agar setiap kegiatan Anda bernilai Ibadah.
10. Berdoalah setiap selesai melaksanalan Shalat, baik itu shalat wajib
maupun shalat sunnat. Doanya boleh apa saja dan boleh dengan bahasa
apa saja.
Demikianlah yang perlu dilakukan Riyadhah 40 hari tanpa putus KH.
Yusuf Mansyur, Semoga penuh magfiroh dan rahmat dari Allah, doa
mendoakan dan minta didoakan yaa riyadhoh adal dan ikhtiar taqorrub
kepada Allah sebagai jalan membersihkan diri dari khilaf maksiat masa lalu
yang menghalangi kemudahan hidup. Tirakat dengan amalan yang cukup
semoga menjadikan jiwa semakin berasa bening sehingga ringan dan mudah
dalam beribadah, ikhlas dalam menjalani laku hidup di dunia untuk
keberkahan hidup di dunia dan akhirat, Insya Allah.
5
RIYADHOH MEMBAWA BERKAH
Paradigma awal untuk mendapatkan kemudahan rizki adalah
mendekatkan diri kepada Yang Memberi rizki. Jika Allah pada hakikatnya
pemberi rizki, maka semestinya Dia Allah yang selalu didekati dengan
berbagai bentuk “ritual ibadah” kita. Kegiatan di pagi hari adalah bentuk
jalan ikhtiar mendapat rizki Allah. Tidak cukup berdoa lantas kita
mendapatkan rizki, namun doa dengan bentuk penyerahan diri atas
harapan “rizki” yang sedang ingin diraih dari mulai pagi, itupun harus
dilakukan. Selain itu, salah satu penyebab turunnya rizki dari Allah Tabaraka
wa Ta’ala adalah taqwa. Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang
membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, dan
menjadi sempurna dengan melakukan apa yang diperintahkan.
Allah sebagai sang kholik mengerti betul perangkat-perangkat yang kita
butuhkan untuk hidup baik dan membaikkan kehidupan kita. Allah hadirkan
kitab suci dan diutusnya para nabi, para rasul yang menjelaskan ketentuan
dan keteraturan untuk hidup baik di dunia ini. Sebagai hamba yang ingin
hidup bahagia baik di dunia dan akhirat sebenarnya mudah saja, tinggal
mematuhi dan menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya yang
telah disampaikan oleh para utusanNya. Persoalannya adalah seberapa luas
pengetahuan kita dan seberapa teguh kita mengawal kebenaran ilmu yang
telah kita peroleh.
Siapa yang tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa, berarti dia
bukanlah orang yang bertaqwa. Maka orang yang melihat dengan kedua
matanya apa yang diharamkan Allah, atau mendengarkan dengan kedua
telinganya apa yang dimurkai Allah, atau mengambil dengan kedua tangannya
apa yang tidak diridhai Allah, atau berjalan ke tempat yang dikutuk Allah,
berarti ia tidak menjaga dirinya dari dosa. orang yang membangkang perintah
Allah serta melakukan apa yang dilarang-Nya, dia bukan termasuk orang-
orang yang bertaqwa. Orang yang menceburkan diri ke dalam maksiat
sehingga ia pantas mendapat murka dan siksa dari Allah, maka ia telah
6
mengeluarkan dirinya dari barisan orang-orang yang bertaqwa.
Beberapa nash yang menunjukkan bahwa taqwa termasuk di antara sebab
rizki, mari kita perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam qur’an
surat ath-tholaq ayat ke 2-3:
...ْ…لاَيَحتَس ْب َحيثْ م ْن َويَرزقهْ َمخ َر ًجا ّلَْه َيج َعلْ اللَْ َيتَّقْ َو َمن
“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan
keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-
sangka.” (At-Thalaq: 2-3)
Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan taqwa akan dibalas Allah
dengan dua hal:
Pertama, “Allah akan mengadakan jalan keluar baginya” Artinya, Allah akan
menyelamatkannya sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas Radhiyallahu
‘anhuma, dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat , Ar-Rabi’ bin
Khutsaim berkata: “Dia memberi jalan keluar dari setiap apa yang
menyesakkan manusia”
Kedua, “Allah akan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”
Artinya, Allah akan memberi rizki yang tak pernah ia harapkan dan angankan,
Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: ”Maknanya, barangsiapa
yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya
dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, niscaya Allah akan memberinya
jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah
yang tidak pernah terlintas dalam benaknya”,
Kita sebagai seorang muslim telah diajarkan bahwa bertauhid yang
kokoh, hanya bermohon kepada Allah, berdoa dan meminta dengan gigih
kepada Allah. Coba kita tengok pada diri sendiri apakah selama ini telah
bermohon kepada Allah semata atas segala permintaan dan gigih mengawal
7
permohonan tersebut dengan kerja keras dan penuh tawakkal kepadaNya?
Atau kita bermalas diri untuk memohon kepadaNya, menjerumuskan diri
dalam perilaku yang dilarangNya?
Allah sudah menegaskan “Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah
kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”, (QS. Ghafir: 60), tapi
sering kita sendiri yang menjauh dan tidak gigih bermohon hanya
kepada Allah. Panggilan Allah sering kita abaikan, coba sekali lagi kita tengok
bagaimana gaya “bergegas” kita menuju panggilan sholat, mungkin juga
justru kita tanpa sadar menyepelekan sholat dan naif. terkadang mencaci
perilaku sholat yang menjadikan “beban-penganggu” aktifitas keseharian.
Padahal kewajiban sholat ini filosofis hukumnya adalah untuk kebaikan
segala aktifitas hidup, ketenangan diri melahirkan ide, dan motivasi meraih
kesuksesan hidup. Begitupun ketika kita dirundung dengan “sulitnya rizki”,
apakah sebenarnya Allah yang tidak pemurah sehingga menahan rizkiNya
untuk kita, atau kita sendiri yang menutup rizki itu dengan perilaku zholim
atau kebiasaan nista misalnya berzina, padahal Allah telah memberikan jalan
kebaikan melalui pernikahan. Allah sangat tegas melarang “dan janganlah
kalian mendekati perbuatan zina”. (QS. al-Isra: 32) Zina dalam sejarah
hidup ini sebenarnya telah terbukti membuat hidup bahagia dan secara pasti
membuat sengsara dan penderitaan, baik pada kesehatan, pikiran, keturunan
dan bahkan keseluruhan pola kehidupan selanjutnya.
Subhanallah, tidak ada aturan Allah yang diwajibkan kecuali untuk
kebaikan kita dan tidak ada larangan Allah kecuali kesengsaraan yang
diperoleh ketika dilanggar. Di sinilah kita sebagai muslim yang mengaku
berpegang pada aturan Allah, tidak ada pilihan kebahagian untuk
menemukan solusi hidup selain kembali kepada aturan Allah, kita
diharuskan bersujud kepadaNya, kita berbagi dengan sesama, berpuasa serta
berhaji bagi yang mampu. Kita yakini itu adalah tahapan hidup yang kita
perjuangankan untuk kebahagian diri. Ketika banyak masalah
mengembalikan diri atas dosa dan khilaf kita yang telah melanggar larangan
8
Allah, lalu bertaubat menuju jalan suci kembali kepadaNya. Tidak ada dosa
yang tak diampuni ketika kita bertaubat, dan tidak ada jalan diterimanya
amalan kita, selain keyakinan bahwa Allah akan menerima amalan dan Maha
menuntun kita menuju jalan kebenaran.
Riyadhoh merupakan jalan menyucikan diri kepada Allah dengan
cara bertaubat untuk mebersihkan yang tidak baik, kotornya jiwa atas
maksiat, kemudian mengisinya dengan amal kebaikan yang memenuhi jiwa
raga kita kembali menjadi jiwa yang didekati Allah. Amal ibadah sunnah
berdasarkan hadist menjadikan kita menjadi selalu dibimbing oleh Allah,
langkah kaki kita dibimbingNya, pandangan mata kita dibimbingNya, tangan
kita dibimbingNya sehingga hampir semua perilaku kita ada dalam
bimbingan Allah. Ketika kita ingin sesuatu dalam hidup seperti jika ingin
berangkat umroh, namun terkendala dengan biaya yang terbatas. Jawaban
pastinya adalah dekatkan diri dengan amalan sunnah dan sholat sunah
menjadi salah satu amalan yang dapat mempermudah rizki, kemudahan
hidup dan juga kemudahan untuk mendapatkan pergi umroh dan haji.
Disamping bimbingan Allah, ada salah satu sifat dari amalan sunah
ini untuk menutupi kewajiban yang kadang tanpa sadar kita lalaikan. Pada
kerangka tertentu bahkan keseriusan dalam kita melakukan aktifitas hidup
bahkan melupakan dan meninggalkan amalan yang wajib. Allah seakan
menyediakan kita amalan yang dapat menutup kekurangan dari amalan wajib
yang ditinggalkan. Ada sebuah ilustrasi “ghoib” yang ini membutuhkan
keyakinan, yakni gambaran kita nanti ketika semua makhluk Allah sudah
kembali kedapanNya, semua akan ditanyakan.
9
KECUKUPAN RIZKI DARI ALLAH WASILAH DHUHA
)ْ(حديثْحسنْرواهْالترمذي.ْْار َكعْليْأَربَ َعْ َر َكعَا ٍتْمنْأَ َّولْال َنّ َهارْأَكف َكْآخ َره،ْ َياْاب َنْآ َد َم:ْيَقول،ْإ َّنْال َلْ َع َّزْ َو َج َّل:ْقَا َلْ َرسولْاللْ َص َلّىْاللْ َع َليهْ َو َس ّلَم:ْ َقا َل،َعنْأَبيْأ َما َمةَْ َرض َيْاللْ َعنه
Dari Abu Umamah ra dia berkata: Rasulullah saw bersabda:
sesungguhnya Allah berfirman: “wahai manusia, shalatlah 4 raka’at karena
Aku pada pagi hari niscaya Aku akan cukupkan kebutuhanmu pada sore
hari” (Hadits hasan diriwayatkan oleh Tirmidzi)
Hadist ini sungguh menakjubkan, kenapa? Karena Allah
seakan sedang berdialog dengan kita sedang memberikan kita sebuah
pesan yang sangat jelas. “kalau kalian mau tercukupi setiap harinya, maka
ruku’lah kepadaKu, 4 rakaat”. Seakan harga kecukupan kebutuhan kita
sehari telah dicukupi kalau mau membeli tiket 4 rakaat dhuha. Begitu simple
dan mudah, namun tidak semua kalangan kita umat Islam mau menjalankan
apalagi mengistiqomahkan. Maka ketika keterpurukan dan keterbatasan rizki
yang hampir selalu melanda kalangan muslim, itu bukan karena Allah tidak
sayang dan tidak peduli dengan kita, namun karena kita kurang peduli
dengan ajakan Allah, bahkan naifnya kitanya meragukan janji‐janji Allah yang
telah disampikan kepada kekasihNya, Rasulullah saw.
Ini persoalan keyakinan dan follow up dalam bentuk implementasi
amal secara riil dari sholat dhuha ini. Kalau saja mau menysihkan waktu
10‐15 menit setiap paginya niscaya mudah kehidupan dijalani, mudah
menggapai yang sedang dicitaikan, bahwa ada tantangan itu menjadi bumbu
untuk semakin tinggi kemulyaan yang disediakan oleh Allah terhadap setiap
kita, hambaNya. Semakin payah amal kebaikan semakin tinggi kemulyaan.
Kaidah yang diwariskan para ulama, sebagai pewaris Nabi
menggariskan prinsip “ekuivalen” anatar kepayahan dengan hasil yang akan
diperoleh. Tiap roka’atnya mengandung keutamaan. Teori ini juga
dikembangakan dalam hukum energi : bahwa energi yang diterima adalah
10
sebanding dengan energi yang diberikan. Logikanya semakin keras pukulan
seseorang, maka akan semakin besar pula bekas pukulan yang diberikan.
Makanya semakin keras benturan akan sebanding dengan besaran rusak
yang ditimbulkan. Makna ini menghantarkan kita betapa amal ibadah
sholat dhuha juga memberikan kesimbangan hukum tersebut dalam
bentuk kuantitatif rakaat.
Sholat ini juga diriwayatkan ada yang berjumlah enam
rakaat (tiga kali salam) seperti hadis Nabi yang disebutkan oleh Jabir bin
Abdullah. (Riwayat Imam al‐Tabarani). Dalam pada itu, ada juga riwayat
yang direkamkan oleh Anas bin Malik menjelaskan bahawa Nabi s.a.w.
bersabda: “Barang siapa yang menunaikan solat sunat Dhuha sebanyak 12
rakaat maka niscaya Allah s.w.t. akan membina sebuah mahligai di dalam
surga kelak.” (Riwayat Imam al‐ Tirmizi).
Pilihan untuk sholat dhuha akan tergantung pada aktifitas keseharian
dan juga kemauan kita mengahdirkan diri berpayah‐payah dalam amalan
sholat dhuha dalam bentuk berbanayak rakaat sholatnya, ataupun lama dan
khusunya kita tenggelam diri dalam kebersamaan dengan Allah di saat
kita lekas‐lekas bekerja melaju di kantor ataupun bumi Allah yang lain.
Semakin banyak rakaatnya, insylalah semakin payah sehingga semakin besar
pula keutamaannya.
Adapun waktu mengerjakannya adalah sesuai dengan namanya
dhuha yang bermaksud pagi. Jadi ruang waktunya bermula kira‐kira
20 menit selepas terbit matahari atau disebut dalam kitab‐kitab fikah
sebagai tinggi matahari daripada pandangan jauh sekadar satu al‐
Rumh atau batang lembing yakni kira‐ kira dua meter. Waktu solat ini pula
berakhir sebelum menjelang waktu Zhuhur. Berkenaan waktu afdalnya
pula yaitu ketika sinar matahari kian panas berdasarkan sepotong hadis Nabi
s.a.w. diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam. Rasulullah s.a.w. menjelaskan:
“Solat Dhuha ini afdalnya ketika matahari telah meninggi dan kian panas
sinarnya.” Imam Nawawi menguraikan masa tersebut sebagai masa
11
berlalunya seperempat tempo siang hari itu pukul 10 pagi hingga 1 petang
(Kitab al‐Majmu’ karangan Imam Nawawi).
Beratnya tantangan ini juga ditempakan pada saat kita sedang asyik
bekerja, yakni antara jam 7‐11 pagi, dimana saat itu adalah saat kita sedang
sibuk terlena dengan kesibukan kerja. Maka sesiapa yang mau bersujud
kepada Allah itulah luar biasanya sholat dhuha, Allah sediakan kemudahan
rizki bagi yang meluangkan waktunya bersujud walaupun 6‐18 rakaat setiap
harinya.
Jumhurul Ulama menyatakan bahwa disunnahkan untuk
mendawamkan pelaksanaan sholat dhuha :
“Amal yang paling dicintai oleh Alloh adalah yang amal didawamkan
meskipun hanya sedikit” (HR Muslim).
12
MENUAI HIKMAH DAN BERKAH SHOLAT TAHAJJUD
Kalau ada yang bertanya kenapa mesti kita bersusah-susah dalam
hidup ini, mungkin orang itu sedang mencari makna hidup, namun bila yang
terjadi sebaliknya justru mungkin ia sama sekali tidak tahu dan tidak mau
tahu tentang arti kehidupan. Bangun tengah malam yang tidak sekedar
bangun ke kamar mandi tidak mudah. Kalau bangun sekedar membuang
sisa metabolisme tubuh, itu dijalankan semua makhluk Allah, tetapi kita
sebagai manusia mesti sadar dan mau menyadari bahwa kita makhluk Allah
yang sempurna, makhlauk Allah yang istimewa. Keistimewaan ini sebanding
dengan tugas dan tanggungjawab yang mesti dijalankan. Sujud kepada Allah
dan bermunajat di keheningan malam tidaklah merupakan amalan yang
mudah bagi yang belum terbiasa. Namun hanya di tengah malam kita
akan mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar ketika di siang
hari, karena demikianlah bumi Allah ini didesain.
Malam merupakan waktu untuk semua makhluk Allah beristirahat.
Ada memang hewan tertentu yang justru beraktifitas di malam hari, tetapi
normalnya makhluk Allah berjalan di muka bumi, mengais rizki, makanan
di bumi ini pada saat terang siang hari. Maka malam sebagai waktu
istirahat merupakan waktu yang nyaman untuk tidur, dan menjadi istimewa
ketika waktu semua makhluk terlelap dalam tidur kita menyempatkan diri
bersujud kepada Ilahi. Semua keinginan kita termasuk ingin berangkat ke
Baitullah menjadi tidak masalah ketika setiap kita bawa ke atas sajadah
mengharap Allah berkenan turut hadir menjawab apa yang diharapkan oleh
kita.
A. Meraih Malam Penuh Berkah
Allah dengan begitu indahnya mengilustrasikan malam dalam surah
Al- Muzammil : 1-9
13
Hai orang yang berselimut (Muhammad)! (1) Bangunlah (untuk sholat) di malam
hari, kecuali sedikit (daripadanya),(2) (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit
dari itu (3) atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan
perlahan-lahan.(4) Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu
perkataan yang berat kepadamu (5) Sesungguhnya bangun di waktu malam
adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (6)
Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang
(banyak). (7) Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan
penuh ketekunan. (8) (Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang
berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.(9)
Dari ayat-ayat ini ada beberapa mutiara hikmah dan amalan yang diajarkan
oleh Allah. Memang konteks awal penunjukan ayat ini kepada Nabi
Muhammad, tapi hakikatnya ditujukan pula kepada kita kalangan muslim
yang ingin memperoleh kemulian hidup.
Pertama, tidak layak kita sebagai umat Muhammad untuk berbanyak
tidur di dunia, tidur yang kita butuhkan adalah istirahat untuk memenuhi
kebutuhan tubuh dari kepenatan kerja seharian, maka cukup istirahat dan
bangun tengah malam menjadi keharusan bagi kita yang mau menuntaskan
masalah beranjak pada level yang lebih tinggi. Kenapa kita mesti banyak
tidur di dunia bahkan nanti setelah meninggal kita akan tidur
selamanya, dan modal yang akan digunakan saat di alam akhirat adalah
14
diperoleh saat kita berada di dunia. Sehingga cukupkan tidur dan sisa waktu
untuk memperbanyak modal kebaikan sebagai bekal nanti di akhirat.
Secara mudah kita pakai di dunia ini untuk tirakat dan kebahagiaan yang
lebih abadi nanti ditemui diakhirat. Tirakat tidak berarti sengsara dan
menderita, tetapi tirakat adalah meninggalkan yang tidak bermanfaat dan
memaksa diri berbuat baik sehingga berbuah manfaat.
Kedua, hikmah waktu bangun tengah malam adalah seperdua malam
atau sepetiga malam terakhir itu adalah sebaik waktu untuk
bermunajat kepada Allah. Kedekatan kita dengan Allah menjadikan cahaya
kehidupan sehingga terang dan mudah hidup ini walaupun dengan
”keterbatasan” materi ataupun “banyak” materi tetapi dibimbing Allah
untuk digunakan pada jalan kebaikan. Munajat yang kita panjatkan
kepada Allah ini dari tengah malam hingga waktu subuh dan waktu yang
istimewa untuk melakukan segala bentuk wirid, dzikir dan permohonan,
karena Allah sedang menyapa dengan segala rahmatnya di sepertiga malam
bagi siapapun kalangan muslim yang mau menjemput kehadiranNya.
Ketiga, bentuk suara hati yang mendalam dapat dilatih dengan
membaca quran ditengah malam.
Keempat, siang merupakan waktu kerja keras dan itu bentuk ibadah
kepada Allah. Menjadi keharusan bagi kita kaum mukmin mukminat untuk
beretos kerja tinggi menjunjung tinggi semangat bekerja keras dan mengejar
cita-cita, namun mesti diingat bahwa waktu malam adalah lebih tepat (untuk
khusyuk) dan bacaan di waktu malam lebih berkesan. Kepekaan yang tinggi
dalam jiwa lebih mudah dilatih ditengah malam. Orang-orang yang terbiasa
bangun malam mempunyai pendengaran hati yang lebih tajam dari pada
orang-orang yang mengahbiskan waktu malam untuk berdiam diri
terlelap dalam tidur kelelahan dari aktifitas di siang harinya.
Tidak salah bekerja keras di sing hari namun harus diingat bahwa malam kita
perlu bekerja dihadapan Allah dalam rupa munajat malam, menghantrakan
proposal cita-cita kerja yang akan dijalankan di siang harinya. Allah
15
menunggu kita dengan segala doa dan harapan, malam adalah saat yang
tepat untuk mendesahkan doa menyebarkan frekuensi doa ketinggian alam
semesta.
Kelima, Dia-lah Tuhan masyrik dan maghrib, kesadaran diri bahwa
Allah itu Maha Menguasai, dan sudah semestinya kita jadikan tempat
berpasrah segala urusan. “Sak dermo ngelakoni” itu filosofi orang-orang tua
kita, ada kerja keras, namun tidak ambisi dan serakah. Ada spirit kuat
dalam menggapai cita, namun kepatutan hasil hanya milik Allah semata,
dengan pemahaman demikian maka segala aktifitas kehidupan ini akan
dijalankan dengan nyaman tanpa berbanyak penyesalan ketika hasil belum
sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan. Kenapa kita
menjadi pribadi yang memiliki tingkat stress yang tinggi dikarenakan
seringnya harapan kita yang terlalu tinggi kemudian harapan tersebut tidak
dapat terpenuhi, padahal hasil yang dicapai itu sesuai dengan upaya yang
telah dijalankan selama ini. Kerja sedikit berkeinginan hasil maksimal justru
biasanya akan berujung stress dan putus asa. Maka teori ini dibalik, kita
melakukan kerja keras dan kecilkan harapan, biasanya justru kita akan
merasakan keajaiban-keajaiban yang seakan mudah terjadi dalam kehidupan
diri. Itu belum jika Allah berkehendak dengan kuasa yang “minghoiri
layahtasib” justru akan semakin terbelalak kita dengan segala miracle yang
dihadiahkan Allah kepada kita. Berkaryalah kita sejak tengah malam, dan
berbahagia kita saat mentari tenggelam di ufuk barat. Allah selalu peduli
terhadap setiap ikhtiar setiap hambaNya, sekecil apapun ikhtiar tersebut
dilakukan dengan ikhlas. Allah Maha Melihat dan Allah Maha Pemurah untuk
selalu mengganjar setiap kebaikan yang telah dijalankan.
B. Berbanyak Munajat, Allah Urus Masalah Kita
Kebanyakan dari kita selalu melakukan sedikit doa dan kerja, berharap
banyak dan cepatnya hasil. Ibadah sedikit namun berharap cepat terkabul
yang dimimpikan. Padahal ada ungkapan mutiara yang dahsyat untuk kita
16
renungkan “Ketika hamba-hamba Allah sibuk bermunajat mendekatkan diri
kepadaNya, sampai lupa atas apa yang menjadi keinginan hamba itu, maka
Allah SWT akan memerintahkan malaikatNya untuk mengurus segala
kebutuhan hamba-hambaNya itu”. Kalau kita yakin dan mencoba menguji
kebenaran ini, maka tidaklah perlu sebenarnya kita terlalu pusing dengan
segala permohonan kita, sibukkanlah diri kita dengan bermunajat kepada
Allah, maka akan terpenuhi kebutuhan kita.
Menjadi soal adalah ketika kita terlalu aneh menginginkan kebutuhan,
tidak berpijak pada kenyataan diri yang masih lemah bekerja, masih terbatas
ilmu kita dan masih belum seimbang dengan proses yang kita lalui dan
berharap tinggi. Itu justru akan menimbulkan masalah baru. Bekerjanya kita
adalah ibadah, kerasnya kita bekerja berarti bisa menjadi jalan munajat kita
kepada Allah. Belajarnya kita menuntut ilmu adalah ibadah, maka belajar
kerasnya kita bisa dijadikan munajat juga kepada Allah, maka segala kegiatan
aktifitas keseharian kita sesungguhnya bisa menjadi jalan munajat kepada
Allah, bahkan tidur dan kebutuhan ke kamar kecil adalah bagian dari
rentetan munajat kepada Allah. Kalau tidur saja menjadi ibadah bagaimana
dengan pembicaraan, diam, ikrar, bahkan bentuk “keras nya” pendidikan
mendisiplinkan anak dan diri sendiri juga menjadi ibadah. Begitulah Allah
mengajarkan kita melalui kalam suci Nya;
“Tidak Aku ciptakan jin dan manuia kecuali hanya untuk menyembahKu” (Adz
Dzariyat 56),
Arti makna dari ayat ini adalah seluruh kegiatan kita di muka bumi ini
adalah bentuk penghambaan kita kepada Allah, seluruh kegiatan masuk di
dalamnya makan, minum, beranak, berkeluarga, ibadah sholat, puasa serta
17
bentuk lainnya.
Bentuk kemauan kita untuk sholat malam hakikatnya tidak sekedar
ketika kita butuh Allah dengan segala kebutuhan hidup, namun bentuk
rasa bersyukur telah diberi hidup menjadi sebuah taraf keberiman yang
tinggi. Kalau kita mau menengok sedikit dari ibroh kehidupan Rasulullah
SAW ketika menjalankan sholat malam, maka seharusnya kita malu. Karena
untuk sosok Rasullah SAW yang jelas telah diampuni dosanya,
kehidupannya dipenuhi dengan sikap disiplin dan istiqomah dalam sholat
malam bahkan berlama berdua-duaan dengan Allah SWT. Sampai suatu
waktu isteri Rasulullah SAW mengutarakan kenapa Beliau masih saja
bermunajat di tengah malam padahal sudah diberikan semuaNya oleh
Allah. Jawaban Nabi itu yang mengharukan yaitu karena rasa syukurnya
kepada Allah SWT atas segala karunia yang telah diberikan kepadanya.
(Bagaimana dengan kita?) minimal mungkin kita bermasalah, kita berhajat
bangunlah malam.
Hadist ini mengajarkan betapa Rasullah itu sholat malam sampai
bengkak kaki (bawah) nya, padahal untuk sosok beliau telah dijanjikan
ampunan dosa atas masa lalu maupun kedepannya. Jawaban Nabi saw
kepada Aisyah adalah “apakah aku tidak senang jika aku menjadi hamba
yang senantiasa bersyukur?”. Sudah sepatutya kita mengikuti sunnah nabi
untuk menghidupkan malam mengisi dengan munajat sholat tahajjud,
kalaupun tidak sampai berbekas bengkak di kaki, ataupun di dahi, paling
tidak itu menjadi amalan, tradisi mulia keluarga untuk percepatan hajat yang
diharapkan, untuk menjaga keluarga senantiasa tentram dalam naungan
anugerahNya.
C. Dengan Tahajjud, Allah Janjikan Derajat Mulia dan Terpuji
Sesiapa yang ingin mengubah nasib hidup menjadi lebih baik,
mendapatkan ketinggian derajat, jawabannya adalah bangunlah sholat
tahajjud. Memang demikian Allah janjikan.
18
Dalam surah al-Isro (79), Allah menfirmakan :
“Dan di separuh malam bertahajjudlah sebagai amalan “sunnah”,
maka pasti Allah akan menempatkan kalian pada kedudukan yang terpuji”
Imam Syafi’i pernah memberikan beberapa cara supaya tahajjud
malam menjadi sebuah amalan yang tidak terlalu berat dijalankan. Pertama
adalah tidak banyak maksiat. Kalau ada pribadi yang berat sekali
menjalankan tahajjud setelah diikhtiarkan, apalagi setelah dirundung
masalah masih saja bermalas untuk sholat tahajjud malam, hal awal yang
harus dievaluasi adalah bentuk pertaubatannya. Sangat mungkin beratnya
sholat malam, sangat berat untuk bangun dan mengambil air wudlu adalah
masih beratnya perbuatan maksiat yang melekat pada seseorang itu. Dengan
demikian taubat nasuha menjadi jalan utama untuk mudah, ringan
menjalankan tahajjud. Kedua, adalah banyak makan. Perut yang lapar
memang tidak nyaman untuk ibadah, pun perut yang terlalu penuh dengan
makanan juga tidak nyaman untuk ibadah sholat malam. Kebanyakan makan
membuat pulas tidur sehingga terlelap dan berat untuk bangun. Jawabnya
adalah diseimbangkan makan dengan minum niscaya akan lebih ringan
untuk bangun dan sholat malam. Ketiga, adalah terlalu keras bekerja di
siang hari membuat tubuh kelelahan sehingga malas dirasa ketika akan
bangun di tengah malam apalagi bagi pribadi yang belum terbiasa. Tidak
masalah sebenarnya untuk bekerja keras di siang hari, yang penting untuk
diatur adalah tenaga tidak terkuras hanya untuk kerja sedangkan bagian
tenaga untuk bangun ditengah malam sudah tidak tersisa, itu yang tidak
baik. Kalau itu yang terjadi, seakan kita hanya mengunggulkan ikhtiar kerja
kita, dan tidak terlalu memiliki keyakinan bahwa Allah sesungguhnya yang
19
memberikan keberhasilan dari kerja keras kita.
Cara mudahnya adalah istirahatlah di siang hari walaupun itu sejenak,
dalam bahasa yang sering dikemukakan ulama-ulama kita adalah dengan
istilah qoilulah (tidur siang sebentar). Secara medis dijelaskan, tubuh kita
akan lebih produktif ketika diistirahatkan sebentar di siang hari, diluruskan
tulung belakang dalam kondisi berbaring dan dirilekskan otot-otot dari
kepenatan kerja di siang hari. Tidur antar 30 menit maksimal 1 jam akan
memulihkan tenaga dan lebih produktif termasuk lebih meringankan kita
untuk bangun sholat tahajjud malam. Waktu yang indah berdua dengan
Allah merehatkan badan dari kesibukkan duniawi dan taqarrub kepada sang
pencipta, berharap kemurahan rizki dan keberkahan hidup. Kemuliaan sudah
dijanjikan oleh Allah, persoalannya adalah tinggal kita mau mengambil
kesempatan itu atau tidak. Apakah kita bersikeras meraih kesempatan itu
atau tidak. Bangun dan sholat malam memang tidak mudah karena
ketidakmudahan itulah maka kemuliaan diberikan, tapi siapa yang mau
bangun malam tidak hanya kemuliaan yang akan dihadiahkan namun juga
kesehatan badan, perlindungan dari dosa dan penyakit, terhindar dari bala
dan musibah, bahkan pengampunan yang besar dari Allah swt.
Salman al farisi mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
Jagalah sholat malam karena dia amalan sholat malam ini tradisi baik orang-
orang sholeh sebelum kalian, media mendekatkan diri kepada Allah SWT,
menghapus segala keburukan dan mencegah dari dosa serta menjaga badan
dari penyakit.
Satu hadist yang mengisahkan fadilah keutamaan tahajjud yang luar
biasa. Pertama bawaan tahajjud ini adalah amalan para orang sholih, artinya
sudah pasti amalan ini akan memberikan dampak luar biasa bagi siapapun
yang mau dan mampu menjalankannya. Fakta sejarah yang tidak bisa
dibantah adalah proses kesejahteraan yang melegenda. Kalau kita mau
memperhatikan orang-orang mulya, dan berhasil hampir selalu punya
amalan. Amalan dari dulu orang-orang sholih adalah tahajjud ini
20
diantaranya.
Kedua adalah media pendekatan diri kepada Allah yang paling efektif
adalah menduakan diri di tengah amalam di saat seluruh semesta terlelap
dalam tidur. Ini saat yang istimewa, jalan lurus dan cepat untuk menuju
“komunikasi” dengan Allah.
Ketiga adalah penghapus keburukan. Sifat bawaan manusia adalah
melakukan keburukan, dan diperparah dengan pelupa. Rasullah pernha
memberikan sebauh dispensasi bahwa amal perbuatan buruk dilakukan akan
dimaafkan ketika seseorang yang mengerjakan itu lupa dan tanpa sengaja.
Dalam konteks ini kesengajaan itu sering kita lakukan sekalipun kita tahu
bahwa perbuatan itu buruk. Keburukan amal sebagaiman diats terjelaskan
akan menjadi penghalang kemudahan rizki dan bahkan keberkahan hidup.
Maka jawaban terbaliknya jelas ketika orang sudah mendawamkan tahjjud
maka keburukan dia akan terhapus, sehingga mudah dan berkahlah
hidupnya.
Keempat, adalah melindungi diri keburukan dari “kesialan”. Dalam
tafsir al Misbah pernah terjelaskan bahwa kesialan itu tidak ada yang ada
adalah ketidakberuntungan kita terhadap rizki yang akan diberikan. Terlalu
mudah bagi Allah untuk mencurahkan kemudahan hidup dan terlalu mudah
pula Allah untuk menjaga kita dari keterpurukan. Maka kalau sudah kita
evaluasi kinerja kita, bentuk ibadah kita sudah baik dan Allah masih
memberi ketidakmudahan, mungkin kita sedang diuji oleh Allah. Tetapi
apabila sudah bekerja keras namun ibadah belum bagus bisa jadi
ketidakberuntungan itu belum datang karena kita masih belum dipercaya
Allah untuk mendapatkannya. Sholat malam sifatnya adalah menjaga diri
dari keburukkan dunia. Menjaga keluarga dari bala dan musibah, menjaga
diri dari kecelakaan bahkan termasuk fitnah yang kadang terkirimkan dari
orang-orang yang tidak terlalu suka dengan kehidupan kita.
Kelima adalah adalah bawaan sholat tahajjud adalah menyehatkan
badan. Hal ini sudah teruji dan diteliti secara ilmiah. Prof. Dr Sholeh,
21
misalnya telah memberikan hasil penelitiannya bahwa bagi siswa siswi
yang rajin sholat malam lebih memiliki kesehatan yang baik, meningkatkan
daya ingat dan bahkan memberikan dampak prestasi anak atau siswa. Dalam
konteks ini kita bisa menarik dalam keluarga untuk kesehatan fisik,
begitupun kesehatan finansial bahkan ketentraman keluarga. Tradisi bagus
yang dapat dikembangkan dalam keluarga adalah sholat tahajjud ini,
membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah membentuk anak-anak
tumbuh cerdas dan sholih serta memberikan kesejahteraan sosial pada
dampak kelanjutannya.
D. Mengintip Waktu Mustajab, Mewujudkan Mimpi Bersama Ilahi
Terkadang dalam menjalankan aktifitas kita kelelahan sendiri,
kehabisan energi dan belum berbuah hasil. Bukan karena tidak bekerja
keras, namun karena belum tepat memilih waktu dan cara menjalankan
aktifitas itu. Berdoa bukan semata mengucapkan lafadz dan kata-kata lalu
diangkat tangan ke atas memohon kepada sang pencipta. Namun doa
merupakan serangkaian keseluruhan ungkapan hati dan keluar melalui kata-
kata dalam waktu yang tertentu dan ditempat tertentu kepada Allah sang
Penentu segala kejadian.
Waktu dalam hal ini menjadi penting dalam berdoa. Semua waktu
Allah yang menciptakan, tetapi Allah pula yang memberikan keistimewaan
waktu-waktu di alam dunia ini. Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa
dari duabelas bulan dalam setahun. Keistimewaan itu bukan tanpa sebab,
tapi karena memang banyak kejadian istimewa yang terjadi di bulan
ramadhan, seperti diturunkannya al-Quran adalah dibulan suci,
diturunkannya malam lailatul qodar dan bahkan prime time setahun bagi
kalangan muslim untuk berpuasa di saat jin dibelenggu, pintu neraka ditutup
dan pintu surga dibuka.
Kita sebagai hamba sekedar mengambil kesempatan istimewa atas
waktu yang disediakan sang Kholik, Allah swt. Begitupun hari jumah
22
merupakan hari istimewa, sayyidul ayyam, yang Allah menjanjikan diri “atas
saat di hari jumah akan malu bila di hari Jumat itu ada hambanya yang
mengangkat tangan, berdoa lalu hamba itu kembali dengan tangan kosong”.
Sungguh luar biasa keistimewaan itu diberikan di hari jumah.
Lantas bagaimana dengan waktu mustajab yang lain? Tengah malam
adalah waktu yang penuh rahasia, misteri keajaiban-keajaiban itu tersimpan
di tengah malam. Masih segara ingatan kita terhadap malam isro mi’roj
Rasullah saw, turunnya malam lailatul qodar, dan berbagai kejadian luar
biasa yang dianugerahkan Allah hanya di malam hari. Waktu malam untuk
bersahur dimana dijanjikan keberkahan juga merupakan waktu peralihan
antara waktu malam dengan fajar yang kemudian akan berganti dengan
munculnya matahari di ufuk timur. Allah menjelaskan dalam kalamNya;
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-
taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb
mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang
berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam”. (Adz
Dzariyatr 17-18)
Ciri ketakwaan berdasarkan ayat ini adalah dibuktikan dari kebaikan
yang dilakukan dengan memohon ampunan, berdizkir, bermunajat di waktu
malam. Sehingga dengan kebiasaan mulya itu orang-orang yang bertaqwa
mendapatkan kemuliaan di surga. Hikmah kenikmatan di surga saat nanti di
akhirat, bisa saja kita peroleh nuansa surga yang bermakna kenimatan di
dunia ini, kapan? Ketika kita mendapatkan rizki yang mudah, berkah,
kebaikan keluarga, anak-anak yang sholeh, pasangan hidup yang baik,
tentangga yang baik, sahabat dan varian-varian sosial yang nyaman di dunia
ini adalah bagian dari rasa surga di dunia ini.
Allah SWT yang memerintahkan kita berharap mencari kebahagian di
dunia dan di akhirat. Doa sapu jagat itu bukti dari kita diperintahkan untuk
bahagia di dunia dan akhirat, hadist Arsullah bahwa kalau ingin dunia
maka kita butuh ilmu, butuh akhirat itu butuh ilmu dan butuh keduanya
23
maka dibutuhkan kedua ilmu dunia dan akhirat. Dan Allah sudah
memberikan ilmu kalau mau hidup nyaman di dunia dan di akhirat hidupkan
malam, itu telah menjadi bukti yang menyejarah dari masa dahulu kala,
sampai nanti hari qiyamah. Persoalannya adalah keyakinan menuntun kita
mau menjalankan ataukah tidak, itu menjadi ujian bagi setiap kita manusia
yang hidup di dunia.
Keistimewaan tengah malam dengan amalan tahajjud juga menjadi
janji Allah untuk membuka visual alam mata batin kita. Allah dengan segala
Rahman dan RahimNya telah datang dan senantiasa mendatangi di paruh
malam samapi pada langit-langit bumi. Artinya bahwa Allah (rahmatNya)
dituntunkan kepada sesiapa umat Islam yang mau bangun tengah malam,
menghidupkan malam dengan dzikir, munajat dan bahkan ta’lim, segala
perbuatan baik di malam itu.
Dari Abu Hurairoh bahwa Rasullah bersabda : Allah Turun setiap malam
ke langit dunia ini ketika masih sepertiga malam terakhir: lalu mengatakan :
siapa yang berdoa kepadaKu , maka Aku kabulkan, siapa yang meminta
kepadaKu, maka akan Aku kasih, dan siapa yang meminta ampun
kepadaKu maka Aku ampuni”
Coba kita bayangkan, begitu mudah dan luar biasanya media yang
selalu disediakan Allah. Pada kedatangan tengah malam Allah menjanjikan
tiga hal;
Pertama adalah Allah mengabulkan doa kita. Apakah selama ini doa
belum terkabul karena makanan yang belum sepenuhnya halal yang kita
makan, apakah doa yang kita lantunkan yang belum realistis, apakah doa
yang kita dengungkan masih diselimuti dosa dan maksiat, ataukah doa kita
lantunkan sambil lalu, tanpa keharuan jiwa dari dalamnya qolbu ditengah
malam? Ataukah kesabaran kita menanti datanya janji Allah akan
diwujudkan? Allah sudah menjanjikan diri pasti akan mengabulkan doa-doa
kita, dan janji Allah pasti adanya.
Kedua adalah siapa yang meminta pasti Allah kasih, kenapa
permintaan kita belum sepenuhnya diberikan, apakah kita terlalu besar
24
memintanya? Apakah permintaan kita masih kalah dengan maksiat yang
terjalani, ataukah permintaan itu kita mintakan kepada Allah sambil berpikir
urusan duniawi semata, dan bisa juga kita masih sering meminta
pertolongan kepada selain Allah, kemurnian dan kesungguhan meminta
masih diduakan dengan keunggulan kita meminta kepada bantuan bank,
bantuan bos, dan bahkan bantuan kemampuan diri yang seakan mampu
meraih segala yang dicitakan.
Ketiga adalah siapa yang minta ampun, Allah pasti akan mengampuni,
selama ini apakah kita benar meminta ampunan Allah, ataukah ritual istigfar
yang “ngobos” dari dalamnya perut yang selalu penuh dengan beragam
makanan, darah yang bersumber dari rizki yang belum halal, bahkan
ketrelenaan kita tidak terlalu peduli dengan orang-orang yang selama ini
berjasa atas kehidupan kita. Ampunan Allah hanya diberikan kepada
hambanya atas kesalahan kepada sang kholik. Dosa dan kesalahan terhadap
manusia harus dimintakan maaf dari manusia, orang terdekat yang
seringkali terlupa untuk dimintai maaf dan restu adalah orang tua. Maka
memohonlah kita maaf terhadap orangtua dan beristigfar memohon ampun
kita kepada Allah, sehingga semoga mudah hidup berlimpah dengan
kemurahan rizki.
Setiap amal akan dimintakan pertanggungjawaban, maka selagi masih
hidup untuk berusaha bertanggungjawab atas segala perbuatan, semua amal
akan dihisab maka kita harus mawas diri dalam hidup dengan segala
amanah yang diberikan dan bahkan kemauan kita untuk membuka mata,
membangunkan diri di tengah malam di saat manusia sedang tertidur.
Rasullah bersabda dari ungkapan malaikat Jibril :
Dari Sahal in Saad bahwa Jibril mendatangi Rasulullah dan
berkata : Yaa Muhammad hiduplah semaumu tapi ingat nanti kamu akan
menjadi mayit, dan berbuatlah semaumu tapi ingat nanti kamu akan dibalas
atas segala perbuatan, dan cintailah siapapun tapi ingat kau akan berpisah
25
dengannya, dan ketahuilah bahwa mulyanya seorang mukmin tergantung
pada sholat malamnya, dan keagungannya tergantung dari “rasa tidak
tergantungnya terhadap manusia”
Ungkapan Jibril terhadap Rasullah ini jelas memperingatkan kita,
bahwa segala upaya yang kita lakukan di dunia ini pasti akan dimintai
pertanggungjwaban, maka kejujuran dan kesungguhan diri menjalankan
amanah hidup menjadi keharusan setiap kita. Begitupun kebenaran perilaku
dan akhlak atas semua aktifitas kita akan mendapatkan ganjarannya.
Sehingga di dunia ini kita mesti berikhtiar yang terbaik. Ciri ketaqwaan
seseorang diukur dari rasa terhadap kebersamaan dengan Allah. Rasa atas
kehadiran Allah dimanapun kita, kapanpun kita menjadi kontrol alami berbuat
baik dan menjauhkan diri dari segala perbuat buruk dan maksiat.
Poin penting yang juga diingatkan oleh malaikat jibril adalah rasa
mencintai “mahabbah” terhadap seseorang itu juga sekedarnya saja,
kebencian rasa terhadap seseorang juga sekedar saja, karena semua itu akan
dipisahkan oleh waktu. Maka rasa sayang dan cinta yang terlalu justru akan
menyengsarakan manusia, apalagi rasa kecintaan terhadap duniawi yang
terlalu justru akan semakin menjauhkan diri dari kemuliaan hidup,
terjauhkan dari sang Kholik.
E. Hidup Berkah Berlimpah; Miracle Sholat Malam
Hidup berkah penuh kelimpahan rizki adalah impian setiap kita di
dunia ini. Tetapi tidak setiap kita yang hidup dunia mendapatkan harapan
itu. Seringkali yang dirasakan adalah rasa kekurangan, rasa jauh dari rizki
bahkan merasa jarang mendapatkan anugerah dari kebesaran Allah. Dalam
kondisi ini perlu kita tengok apakah memang sebenarnya kita yang kurang
merasa bersyukur dengan segala nikmat yang telah diberikan. Allah
menciptakan manusia dalam keadaan suci dan memberikan jatah rizki pada
tiap mahlukNya.
Antara kenyataan dengan keinginan sering kali berbeda. Ada yang
26
tampaknya telah diberikan kenyataan hidup berlimpah tetapi masih saja
merasa kekurangan, sedangkan ada orang yang tampaknya diberikan rizki
yang terbatas tetapi dia merasa dapat dinilai. Tugas kita adalah mencapai
kedekatan standar cukup baik secara individu maupun ukuran sosial. Agama
memberikan jalan bahwa rahasia keberhasilan bahkan keajaiban itu rahasia
Allah akan diberikan kepada siapa saja dan kapan saja. Namun jalan
mencapai keajaiban bagi setiap individu sudah terjelaskan dalam kalamNya.
Kuncinya adalah meniatkan diri untuk sholat malam lalu isilah malam
secara maksimal untuk bermunajat kepada Allah.
27
THE MIRACLE OF GIVING
Sedekah adalah salah satu sunnah dari sunnah-sunnah Rasulullah Saw.
Amalkan satu! setelah istiqomah, tambahkan jadi 2, tambah lagi menjadi 3,
terus amalkan sunnah-sunnah yang lain, kemudian istiqomahkan.
Dalam hal ini juga terdapat, didalam buku The Miracle Of Giving, KH. Yusuf
Mansur mempunyai cara tersendiri dalam menerapkan sedekah. Menurutnya,
“Mencari rezeki dengan cara mudah, Mencari rezeki dengan cara repot”, dalam
urusan mencari rezeki, mencari duniannya, Allah memberikan cara yang
gampang bagi manusia, memberikan cara yang mudah bagi manusia. Tapi
manusia senangnya memilih cara yang repot,cara yang sukar. Padahal Allah
Swt tentu yang paling tahu kunci-kunci perbendaharaan rezeki-Nya.
Allah menyebutkan kunci segala kunci bagi manusia itu adalah dengan
beribadah kepada-Nya. Sedekah, Sholat malam, memberi makan anak yatim,
menyenangi hati yang berduka adalah “hanya sekian” dari apa yang disebut
dengan ibadah. Bila ibadah diperbaiki maka kehidupan pun akan menjadi
lebih baik lagi. Namun bila ibadah buruk, maka kehidupan buruk yang akan
terhidang. Ibadah biasa saja, hidup pun akan biasa saja. Tidak ada
istimewannya bagi yang tidak mengistimewakan Allah.
Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa dan
menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah
dan bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah, inilah sekian
fadhilah yang ditawarkan Allah bagi para pelakunya.
Sedekah itu adalah sebagian kecil dari ibadah, maka doa adalah sebagai
penyempurnanya. Seseorang yang memilih bahwa “Jangan meminta-minta
sama Allah, sedekah- sedekah saja”, maka orang ini bolehlah rugi. Ada
kesempatan meminta malah tidak meminta. Sebab ketika datang dengan Allah
dengan amal sholeh, maka pintu sudah terbuka dengan amal shaleh tersebut,
tinggal mintanya saja sama Allah.
28
Anjuran kaum muslimin untuk senantiasa memberikan sedekah terdapat
dalam Al-Qur’an surat An-Nisa Ayat 114
ْلَاْ َخي َرْفيْ َكثي ٍرْمنْ َّنج ٰوىهمْالَّاْ َمنْاَ َم َرْب َص َدقَ ٍةْاَوْ َمعرو ٍفْاَوْاص ََل ٍۢحٍْبَي َنْال َّنا ِۗسْ َْو َمنْ َيّف َعلْ ٰذل َكْابت َغ ۤا َءْ َمر َْضاتّْلٰل
َف َسو َفْنؤتيهْاَج ًراْ َعظي ًما
Artinya : Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka,
kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah,
atau berbuat ma'ruf, atau Mengadakan perdamaian di antara manusia. dan
Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, Maka
kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar (Qs.An-Nisa : 114)
Sedekah juga dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadalah ayat 12
ْٰ ٰٓياَيُّ َهاْا َّلذي َنْ ٰا َمن ٰٓواْا َذاْنَا َجيتمْال َّرسو َلْفَقَدمواْ َبي َنْ َي َديْ َنج ٰوىكمْ َص َدقَةً ِْۗ ٰذل َكْ َخيرْ َلّكمْ َواَط َه ِۗرْ َفانْ َّلمْتَجدواْ َفا َّنّْْلٰ َلْ َففور
َّْرحيم
Artinya : Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan
pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah
(kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. yang demikian itu lebih baik
bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan)
Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang(Q.S.Al-
Mujadalah ayat 12)
Saat bersedekah, ada beberapa adab yang harus diperhatikan agar
sedekah yang kita lakukan tidak malah menjadi keburukan bagi diri kita
sendiri dan tidak manfaat bagi orang lain, adapun adab-adab sedekah sebagai
berikut :
1. Berasal dari usaha yang halal
Kita tidak boleh menyedekahkan barang haram walaupun dari hasil
usaha yang halal. Serta tidak seharusnya kita memberikan sedekah untuk
membantu hal-hal yang haram, seperti Waqaf untuk tempat maksiat.
29
2. Berasal dari harta yang baik dan yang paling utama
Sedekah yang kita lakukan lebih utama apabila kita memiliki harta yang
paling kita cintai, sehingga dapat memiliki nilai yang bermakna didalam
membangun kesempurnaan jiwa sosial, dan dapat menjadikan diri untuk
senantiasa beribadah kepada Allah Swt melalui jalan bersedekah.
3. Ikhlas mencari ridha Allah
Sedekah tidak boleh diiringi dengan riya. Seseorang harus meniatkan
sedekahnya hanya untuk Allah swt. Orang yang meniatkan sedekah hanya
untuk mencari ridha Allah semata. Namun bila diniatkan sedekah untuk
mencari pujian dari manusia atau selain itu maka ia tidak akan memperoleh
pahala sedikit pun.
4. Merahasiakan sedekah
Khususnya pada situasi-situasi yang memang lebih utama untuk
merahasiakannya. Namun demikian ,seseorang juga boleh memperlihatkan
sedekahnya jika memang lebih utama.
5. Tidak mengharap balasan yang banyak dari sedekahnya
Menurut Ibnu Abbas, janganlah engkau memberi sesutau pemberian
dengan maksud memperoleh lebih banyak.
6. Berikan sedekah dengan wajah berseri dan lapang dada
Sedikit sedekah yang diberikan kepada orang fakir dengan wajah berseri-
seri lebih baik bagi orang fakir daripada sedekah dalam jumlah banyak dengan
wajah cemberut.
7. Berikan sedekah kepada orang yang membutuhkan
Apabila ada kerabat yang sedang membutuhkan maka ia lebih berhak
menerimannya dari pada orang lain.
8. Menyegerakan sedekah.
Seseorang hendaknya menyegerakan sedekah ketika ia masih hidup dan
menyegerakannya.
9. Tidak mengungkit-ungkit sedekah dan tidak menyakiti perasaan si
penerima sedekah.
30
Inilah berbagai adab sedekah yang seyogyanya kita perhatikan oleh
orang- orang yang hendak bersedekah. Dengan menjaga adab-adab
ini,sedekah seseorang akan diterima oleh Allah Swt dan lebih terjaga
keikhlasannya54.
Hal ini sependapat dengan Samr binti Muahmmad Al-Jum’an,beliau
menuturkan bahwa : “adab sedekah, hendaknya sedekah dilakukan dari
harta yang baik,bukan buruk dan haram, hendaknya ia diberikan dengan
hati yang rela, mencari pahala Allah Swt, hendaknya sedekah tidak diungkit-
ungkit sehingga tidak menyakiti perasaan orang yang diberi”
KEUTAMAAN SEDEKAH
Berikut ini adalah adalah keutamaan dalam bersedekah, antara lain yaitu :
1. Sedekah memiliki kedudukan yang tinggi dan memuliakan derajat
pelakunya
Mulianya kedudukan pemberi sedekah tidak terbatas hanya diakhirat, ia
juga memperoleh didunia. Siapa saja yang dermawan akan mulia, sedangkan
siapa saja yang bakhil akan mendapatkan kehinaan.
Bahkan Muhammad bin Hibban berkata, “Setiap orang yang berperilaku
baik pada masa jahiliyah dan Islam, hingga ia dikenal sebagai seorang mulia,
segenap kaum tunduk padanya, serta orang yang jauh maupun yang dekat
selalu menuju kepadanya, maka kemuliannya itu tidak akan sempurna tanpa
member makan orang lain dan menghormati tamu”.
2. Sedekah melindungi pelakunya dari bencana dan musibah.
Pemberi sedekah dan amal kebaikan tidak akan terjatuh didalam
bencana. Seandainya ia mengalaminya, ia akan tetap tegar. Karena, musibah
tidak mampu melewati batas sedekah. Sedekah menolak musibah dan
musibah yang dikhawatirkan,serta menghilangkan cobaan, musibah dan
penyakit yang telah menimpa.
31
3. Sedekah Sirriyah
Sedekah yang dikerjakan secara sembunyi-sembunyi, sedekah tersebut
bernilai sangat utama karena lebih mendekati ikhlas dan selamat dari sifat
pamer ingin dipuji orang lain.
4. Sedekah dengan kemampuan maksimal
Al-Baghawi Rahimahullah berkata,” hendaknnya seorang memilih untuk
bershadaqah dengan kelebihan hartanya, dan menyisakan untuk dirinya
karena khawatir terhadap fitnah fakir”.
5. Sedekah Jarriyah
Sedekah jariyah pahalanya terus mengalir, meskipun orang yang
bershodaqah telah meninggal dunia.
HIKMAH SEDEKAH
Sedekah dapat dijadikan sebagai pemberi syafa’at bagi pelakunya.
Didalam kubur orang yang bersedekah mendaptkan kesejukan berkat
sedekahnya dan terhindar dari panasnnya kubur.
Demikian pula dihari kiamat, orang yang bersedekah mendapatkan
naungan dari amal sedekahnnya, padahal ketika itu kebannyakan manusia
berada di dalam kepanasan yang tiada taranya58.
Sedekah juga memiliki hikmah yang besar, baik bagi orang-orang yang
mengeluarkannya maupun bagi orang yang menerimannya. Adapun Hikmah
yang dapat diambil dari bersedekah adalah sebagai berikut :
1. Melipat gandakan rezeki
Sedekah tidak akan mengurangi harta justru malah sebaliknya, sedekah
akan melipat gandakan rezeki sebanyak sepuluh kali lipat.
2. Mengikis sifat bakhil
Salah satu sifat tercela yang bisa melekat pada diri manusia adalah bakhil
dan kikir. Sedekah mampu mengikis sifat bakhil sampai keakar-akarnya.
32
Melalui sedekah, Islam mengajarkan umatnya agar memiliki kepekaan dan
kepedulian sosial.
3. Membersihkan Harta
Manusia tidak luput dari kesalahan. Hanya saja tanpa disadari dalam
harta kita tercampur dengan sesuatu yang haram atau subhat. Hal ini harus
segera dibersihkan, salah satu cara membersihkannya adalah dengan
bersedekah. Sedekah akan membersihkan harta kita dari kemungkinan
diperoleh dengan jalan tidak halal tercampur antara rezeki yang halal dan
haram.
4. Menolak musibah
Setiap orang sudah ditentukan kapan dia akan terkena bala atau
musibah dalam hidupnya. Menurut Rasulullah, ada satu amalan yang dapat
menolak bala. Artinya, bala itu diangkat oleh Allah dengan sebab amalan yang
kita perbuat.Amalan tersebuat adalah sedekah.
5. Membantu Mustadh’afin memenuhi kebutuhan yang mendesak
Jika waktu pembayaran zakat bersifat priodik maka infak dan sedekah
bersifat insidensial. Artinya, kapan saja dan dimana saja seorang biasa
berinfak dan bersedekah. Hal ini sangat membantu Mustadh’afin untuk
memenuhi kebutuhannya yang mendesak lewat pemberian infak dan sedekah
yang mereka terima.
6. Memperoleh pahala yang berlipat
Dengan banyak bershodaqah Allah Swt akan memuliakan kaum
muslimin, menyucikan harta mereka, memberikan ganjaran yang berlipat, dan
menuliskannya di sisi-Nya sebagai kebaikan yang sempurna. Serta dalam
kebaikan yang diperbuat Allah Swt membalas berlipat ganda terhadap apa
yang kita sedekahkan, baik berupa perbuatan kebaikan ataupun dengan
mengunakan harta yang dimiliki.
Tentang hal ini, Allah Swt berfirman:
َمنْ ذَا اَّلِذيْ ُيقْرِضُ اّٰلهلَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَٗه َلٓٗٗه
33
َُْاَضْعَافًا كَثِيْرًَۗة َاّٰلهلُ َيقْبِضُ ََيبْصُ ۖطُُ َاَِليْهِ ُرَْع
Artinya : Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman
yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat
gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah
menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu
dikembalikan (Qs.Al-Baqarah : 245)
7. Sedekah adalah tanda ketakwaan
Sedekah merupakan tanda atau ciri ketakwaan seorang muslim. Tentang
hal ini, Allah Swt berfirman :
٣ ٱلَّ ِذي َن يُ ۡؤ ِمنُو َن بِٱۡلغَ ۡي ِب َويُ ِقي ُمو َن ٱل َّصلَ ٰوةَ َو ِم َّما َر َز ۡق ٰنَ ُه ۡم يُن ِفقُو َن٢ ٰذَ ِل َك ٱۡل ِك ٰتَ ُب ََل َر ۡي َۛ َب فِي َِۛه ُه ٗدى ِلِّۡل ُمتَّ ِقي َن
Artinya : Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi
mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman,kepada yang ghaib,yang
mendirikan shalat,dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan
kepada mereka (Qs.Al-Baqarah : 2-3)
8. Sedekah adalah bekal menuju akhirat
Suatu saat, manusia akan berkumpul di padang mahsyar, dan mereka
dibagi sesuai dengan amal masing-masing. Sebelum tiba masa tersebut,
hendaknnya seseorang mempersiapkan bekal yang membantunya menuju jalan
yang aman, yaitu dengan memperbanyak bershadaqah.
Tentang hal ini Allah Swt berfirman :
ْٰ ٰيٓاَيُّ َهاْالَّذي َنْ ٰا َمن ٰٓواْاَنفقواْم َّماْ َر َزق ٰنكمْمنْقَبلْاَنْيَّأت َيْيَومْلَّاْبَيعْفيهْ َولَاْخلَّةْ َّو َلاْ َش َفا َعةِْۗ َوال ٰكفر ْو َنُْمْال ٰظلمو َن
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah)
sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari
34
yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-
orang kafir Itulah orang-orang yang zalim (Qs.Al-Baqarah : 254)
KEKUATAN SEDEKAH KH. YUSUF MANSUR
Dalam setiap kesempatan nya berceramah KH. Yusuf Mansur selalu
menyelipkan kisah nyata. Sekali waktu, ia berkisah tentang seorang buruh
yang bersedekah Rp 5.000,- di sebuah acara tausiyah. Eh, begitu sampai di
rumah, ada orang kaya numpang buang hajat di kamar mandinya. Setelah
berhajat, musafir tadi menyerahkan Rp 50 ribu buat "jajan" anak si empunya
rumah. "Pak ustad, sedekah saya dibalas 10 kali lipat hari itu juga," tutur sang
buruh berkaca-kaca.
KH. Yusuf Mansur juga fasih bertutur tentang kesaksian seorang office
boy yang menyetor seluruh gaji pertamanya untuk ibunda tercinta. Esoknya,
ia diganjar balasan setimpal, tak lebih tak kurang, Rp 600.000,-. Duit
pengganti gaji itu didapatnya sebagai komisi jerih payah membantu
menjualkan motor seorang teman. Setelah itu, selalu saja ada rezeki yang
masuk ke kantung si office boy. Total jenderal di akhir bulan istimewa itu, ia
"gajian" sampai Rp 5 juta - Rp 6 juta.
Kesaksian orang-orang yang pernah terbantu oleh sedekah itu ikut
membentuk keyakinan KH. Yusuf Mansur, bahwa kekuatan sedekah tidak
main-main. Apalagi ia juga punya history sendiri.
Sekitar tahun 1999, untuk menyambung hidup, KH. Yusuf Mansur
terpaksa harus jualan es di terminal Kalideres, Jakarta Barat. Dengan modal
Rp 20.000,-, ia mencoba membangun kehidupan baru. Setelah dipotong
ongkos, sisa duit Rp 14.000,- digunakan untuk membuat 70 kantung es, yang
dijajakan Rp 500,- per buah. "Bukan main, hari pertama, cuma laku lima"
ujarnya tertawa lirih.
Beliau betul-betul harus menekan ego dan kesombongan. Bayangkan,
dari pengusaha yang memodali orang puluhan juta rupiah, "turun pangkat"
jadi penjual es lima ratusan perak. "Saya menganggap semua itu sebagai
35
penebusan dosa. Saya percaya, kesulitan hidup merupakan tebusan dosa yang
pernah kita perbuat. Menikmati penderitaan itu ada ilmu dan seninya. Banyak
manusia yang diberi kesusahan, karena ketika diberi kesenangan, enggak ingat
sama Tuhan" imbuhnya.
Pelan tapi pasti, dengan "ilmu sedekah" yang didapatnya, hidup Sang
Kyai bertambah baik. Sebelumnya, ia mengaku belajar ilmu sedekah sama
seperti belajar ilmu-ilmu lain, sepintas saja. Tapi di masa sulit itu, ia belajar
hal baru, yakni bersedekah jangan menunggu tabungan cukup, bisnis gol,
atau gaji bersisa. Sedekah seperti lazimnya kecil, tipis, sehingga tidak
"bertenaga".
"Pengalaman saya tadi, buat orang lain mungkin biasa. Tapi buat saya,
luar biasa, karena saya telah membuktikan sendiri kekuatan
sedekah." Berhasil pada diri sendiri, dengan keyakinan penuh, KH. Yusuf
Mansur mulai berdakwah tentang sedekah. Beliau bertekad menyebarluaskan
The Power Of Sedekah untuk memberdayakan ekonomi umat. Awalnya,
tentu saja enggak laku. Tapi makin lama, makin banyak orang melihat, KH.
Yusuf Mansur ternyata tak hanya pandai berteori.
Undangan tausiyah pun kala itu menumpuk. Kala itu tak hanya dari
individu dan masyarakat. KH. Yusuf Mansur pun mulai dilirik korporat untuk
memberi motivasi, pencerahan, mengadakan spiritual gathering, dan financial
healing. Beliaulah yang memperkenalkan sedekah secara korporat. Misalnya,
dalam setahun sebuah perusahaan menghasilkan laba bersih sekian miliar.
Nah, dari jumlah sekian miliar itu 10%-nya bisa disedekahkan.
"Sedekah yang dilakukan 'di muka', menurut Kyai Yusuf Mansur, akan
menjadi bill of insurance, tagihan yang sudah diasuransikan duluan, untuk
menjamin berhasilnya tujuan perusahaan. Di sini saya banyak ditentang,
dibilang terlalu pamrih pada Tuhan. Tapi masa bodoh, yang enggak yakin atau
enggak mau ikut enggak apa-apa. Saya juga enggak ambil sedekahnya kok.
Korporat itu bebas sedekah ke mana saja, yang penting bersedekah,"
cetus sang kyai.
36
Kyai berharap, jika kebiasaan bersedekah kian marak di kalangan
masyarakat dan korporat, bangsa ini akan ikut diuntungkan. Karena
kepedulian pada nasib sesama jadi lebih besar. "Dalam peningkatan ekonomi,
yang penting aplikasinya. Financial freedom tidak bisa didapat tanpa spiritual
freedom, begitu juga sebaliknya" tandas nya.
37
38
SHOLAT - SHOLAT SUNNAH
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50