The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bab 2 Interaksi Keruangan Desa dan Kota-dikonversi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Janatun Rahmilah, 2021-08-07 04:07:48

Bab 2 Interaksi Keruangan Desa dan Kota-dikonversi

Bab 2 Interaksi Keruangan Desa dan Kota-dikonversi

BAB 1 BAB 2

INTERAKSI
KERUANGAN
DESA DAN KOTA

Sumber: Pixabay.com/Pasja1000

A. STRUKTUR KERUANGAN DAN PERKEMBANGAN DESA

1. Pengertian Desa

Istilah desa berasal dari bahasa
Sanskerta “dhesi” yang artinya
tanah lahir. Desa terbentuk dari
kumpulan unit permukiman kecil,
yaitu kampung atau dusun.

Desa Pariangan yang terletak
di Provinsi Sumatera Barat

Sumber: wikipedia.commons.org

Selain di wilayah
pegunungan,
desa juga

terdapat di pesisir
pantai, biasa

disebut desa atau
kampung nelayan.

Sumber: pixabay.com/MarcelBM

Kawasan pedesaan
dapat pula

berbentuk kawasan
argopolitan.

Misalnya, Kawasan
Puncak, Jawa Barat.

Sumber: pixabay.com/MorritzKlassen

2. Syarat dan Ciri Khas Desa

a. Syarat desa
Pembentukan desa ditetapkan
dengan peraturan daerah
dengan mempertimbangkan
inisiatif masyarakat desa, asal
usul, adat-istiadat, kondisi
sosial budaya, serta
kemampuan dan potensi desa.

Syarat-syarat pembangunan desa menurut UU RI No. 6 Tahun 2014
1. Batas usia desa induk paling sedikit lima tahun terhitung sejak
pembentukan.
2. Jumlah penduduk.

3. Wilayah kerja yang memiliki akses transportasi antarwilayah.

4. Sosial budaya yang dapat menciptakan kerukunan hidup
bermasyarakat sesuai dengan adat istidat desa.

5. Memiliki potensi meliputi SDA, SDM, dan sumber daya
ekonomi pendukung.

6. Batas wilayah desa yang dinyatakan dalam bentuk peta desa
yang telah ditetapkan dalam peraturan bupati/walikota.

7. Sarana dan prasarana bagi pemerintahan desa dan pelayanan
publik.

Tersedianya dana operasional, penghasilan tetap, dan
8. tunjangan lainnya bagi perangkat pemerintah desa sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

b. Ciri khas desa menurut Direktorat Jenderal Pembangunan Desa
1. Perbandingan lahan dengan manusia cukup besar.
2. Sektor pertanian (agraris) menjadi lapangan kerja yang dominan.
3. Adanya hubungan yang sangat akrab antarwarga.
4. Masih berpegang teguh pada tradisi yang berlaku.

Salah satu ciri
khas wilayah
pedesaan adalah
didominasi oleh
sektor pertanian.

Sumber: Flickr.com/LWYang

3. Kriteria Kawasan Pedesaan

Kriteria kawasan pedesaan menurut Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia No. 15 Tahun 2010

1. Fungsi kawasan produksi kabupaten.

2. Sistem jaringan prasarana pendukung kegiatan pertanian.

3. Aglomerasi penduduk yang bermata pencarian petani,
nelayan, penambang, atau perajin kecil.

4. Tatanan nilai budaya lokal dan berfungsinya sebagai
penyanggan budaya dan lingkungan hidup bagi wilayahnya.

5. Kegiatan utama pertanian dan pengelolaan sumber daya alam,
termasuk perikanan tangkap.

6. Susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman pedesaan,
termasuk kawasan transmigrasi, pelayanan jasa pemerintahan,

pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

7. Kerapatan sistem permukiman dan penduduk yang rendah.

8. Bentang alam berciri pola ruang pertanian dan lingkungan
alami.

Kawasan pedesaan dapat diklasifikasikan berdasarkan luas wilayah,
kepadatan penduduk, dan jumlah penduduknya.

Desa Terkecil Luas Wilayah Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk
Desa Kecil <2 km2 <800 jiwa <100 jiwa/km2
Desa Sedang 2 km2─4 km2 800─1.600 jiwa 100─500 jiwa/km2
Desa Besar 4 km2─6 km2 1.600─2.400 jiwa 500─1.500 jiwa/km2
Desa Terbesar 6 km2─8 km2 2.400─3.200jiwa 1.500─3.000 jiwa/km2
>8 km2 >3.200 jiwa 3.000─4.400 jiwa/km2

4. Fungsi Desa

Fungsi desa menurut Bintarto

1. Sebagai penyedia bahan makanan pokok, seperti padi, jagung,
ketela, dan makanan lain.

2. Sebagai lumbung bahan mentah dan tenaga kerja yang
produktif.

3. Sebagai desa agraris, manufaktur, industri, nelayan, dan
sebagainya.

5. Tipologi Desa

Tipologi desa merupakan fakta,
karakteristik, dan kondisi nyata
yang khas keadaan terkini di
desa serta keadaan yang
berubah dan berkembang
diharapkan terjadi di masa
depan (visi desa).

6. Struktur Keruangan Desa

Struktur keruangan desa
merupakan penyusunan
keruangan desa yang
berkaitan dengan
penggunaan lahan di
desa tersebut.

Pengelompokan bentuk-bentuk desa menurut Daldjoeni

a. Bentuk desa
memanjang di pesisir
Desa dengan bentuk
memanjang terlihat
pada desa-desa nelayan
di wilayah pesisir.

Sumber: pixabay.com/MarcelBM

b. Bentuk desa
yang terpusat
Pada umumnya,
bentuk desa
terpusat ditemukan
di daerah
pegunungan.

Sumber: pixabay.com/12019

c. Bentuk
desa linear
Permukiman
penduduk di
wilayah ini
terletak di
dataran rendah
dan berderet
sejajar dengan
jaringan jalan
raya.

Sumber: pixabay.com/placeontop

d. Bentuk desa yang
mengelilingi fasilitas
tertentu
Fasilitas yang dimaksud
adalah fasilitas yang
bermanfaat bagi
penduduknya untuk
memenuhi kebutuhan
sehari-hari, seperti waduk.

Sumber: wikipedia.commons.org

7. Perkembangan Desa Pengembangan
desa diartikan
Perkembangan sebagai usaha
setiap desa pemerintah untuk
tidaklah sama melakukan
dan bergantung pembangunan
pada potensi berbasis
yang dimiliki desa kemasyarakatan
tersebut dan untuk memperkuat
kendala yang ketahanan
mereka hadapi. nasional.

B. STRUKTUR KERUANGAN DAN PERKEMBANGAN KOTA

1. Pengertian Kota

Kawasan perkotaan adalah wilayah yang
mempunyai kegiatan utama bukan
pertanian, dengan susunan fungsi
kawasan sebagai tempat permukiman
perkotaan, pemusatan, dan sistribusi
pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan
sosial, dan kegiatan ekonomi.

Kawasan perkotaan
memiliki tingkat kepadatan
penduduk yang tinggi. Hal
ini dicirikan dengan
banyaknya lahan untuk
permukiman.

Sumber: goodfreephotos.com

2. Kriteria dan Bentuk Kawasan Perkotaan

Memiliki karakteristik kegiatan utama budi daya bukan
1. pertanian atau mata pencaharian penduduknya terutama di

bidang industri, perdagangan, dan jasa.

2. Memiliki karakteristik sebagai pemusatan dan distribusi
pelayanan barang dan jasa didukung prasarana dan sarana

termasuk pergantian moda transportasi dengan pelayanan

skala kabupaten atau beberapa kecamatan.

3. Kota sebagai daerah otonom.
4. Bagian daerah kabupaten yang memiliki ciri perkotaan.
5. Bagian dari daua atau lebih daerah kabupaten yang

berbatasan langsung dan memiliki ciri perkotaan.

3. Unsur dan Karakteristik Kota

Sumber: wikipedia.commons.org Kota memiliki Sumber: upload.wikimedia.org
Sumber: wikipedia.commons.org ruang permukiman, Sumber: flickr.com
jalur transportasi,
kegiatan ekonomi,
infrastruktur jasa,
sentra-sentra
perdagangan, dan
bangunan-
bangunan publik.

a. Aspek fisik kota
Berdasarkan aspek fisik, kota
merupakan kawasan terbangun yang
saling berdekatan dan meluas dari
pusat ke wilayah pinggiran, atau
wilayah goegrafis yang didominasi
oleh struktur binaan.

Taman kota merupakan salah
satu bentuk ruang terbuka
hijau di wilayah perkotaan.

Sumber: wikipedia.commons.org

b. Aspek sosial kota
Kota merupakan konsentrasi penduduk yang
membentuk suatu komunitas dengan tujuan berikut.

1. Meningkatkan produktivitas melalui konsentrasi dan
spesialisasi tenaga kerja.

2. Meningkatkan diversitas intelektual, kebudayaan, dan
kegiatan rekreatif.

c. Aspek ekonomi kota
Berdasarkan aspek ekonomi, kota
berfungsi sebagai penghasil
barang dn jasa untuk kehidupan
penduduknya dan
keberlangsungan kota itu.

Ekonomi perkotaan dapat ditinjau dari tiga bagian berikut.

1. Ekonomi publik terkait dengan kegiatan ekonomi
pemerintahan kota.

2. Ekonomi swasta (privat) terkait dengan kegiatan ekonomi
perusahaan swasta dalam penyediaan barang dan jasa.

3. Ekonomi khusus terkait dengan kegiatan ekonomi yang
dilakukan oleh badan-badan usaha nonprofit.

4. Fungsi Kota

Tiga fungsi kota menurut Dickinson
1. Kota memiliki fungsi budaya.
2. Kota memiliki fungsi administratif.
3. Kota memiliki fungsi ekonomi.

5. Tipologi Kota

Enam tipologi kota menurut Aurousseau

1. Kota administrasi adalah kota yang menjadi ibukota suatu
wilayah.

2. Kota pertahanan adalah kota yang memiliki fungsi dominan
yang berkaitan dengan keamanan dan pertahanan negara.

3. Kota budaya adalah untuk tujuan budaya.

4. Kota produksi adalah kota-kota yang terkait dengan kegiatan
produksi, baik produksi massal (manufaktur) atau untuk

kerajinan khusus.

5. Kota komunikasi adalah kota-kota yang bertindak sebagai
penghubung dalam rantai komunikasi.

6. Kota rekreasi adalah kota sebagai tujuan rekreasi.

6. Pola Keruangan Kota Pola ruang kota harus
selaras dengan alam dan
Pola ruang adalah memanfaatkan
distribusi sepenuhnya faktor alam.
peruntukkan ruang
dalam suatu wilayah
yang meliputi
peruntukan ruang
untuk fungsi lindung
dan fungsi budi daya.

7. Struktur Ruang Kota

Struktur kota dapat ditinjau dari
dua aspek, yaitu struktur ekonomi
kota yang berkaitan dengan pusat
kegiatan ekonomi penduduk kota
dan struktur intern kota yang
berhubungan dengan struktur
bangunan dan demografis.

C. POLA DAN FAKTOR-FAKTOR INTERAKSI DESA DAN KOTA

1. Pengertian Interaksi Desa dan Kota

Interaksi desa dan kota Interaksi desa dan kota
merupakan antara lain terlihat
keterkaitan lintas pada arus urbanisasi
ruang yang tercermin dan arus permintaan
dalam arus orang, dan penawaran barang
barang, jas, keuangan, kebutuhan sehari-hari.
dan informasi antara
desa dan kota.

2. Pola Interaksi

Interaksi desa dan kota terjadi
ketika desa dan kota saling
berindak dan bereaksi,
beradaptasi, dan
menyesuaikan dalam suatu
hubungan yang sistematis.

Untuk menganalisis dan meramalkan pola interaksi,
teori-teori berikut kerap digunakan.

1. Teori gravitasi

2. Teori titik henti

3. Teori potensi penduduk

3. Teori grafik

3. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Interaksi Desa dan Kota

Interaksi antarwilayah menurut Edward Ullman
1. Wilayah yang saling melengkapi (regional complementary)
2. Wilayah untuk saling intervensi (intervening opportunity)
3. Kemudahan transfer atau pemindahan dalam ruang

4. Zona Interaksi

Interaksi desa dan kota
menimbulkan pengaruh tertentu
pada setiap zona yang bergantung
pada jarak zona terhadap pusat
kota. Makin jauh dari pusat kota,
makin lemah inteaksinya.

Wilayah-wilayah zona interaksi menurut Bintarto
1. City identik dengan kota.
2. Suburban (subdaerah perkotaan)
3. Suburban fringe
4. Urban fringe (daerah perkotaan paling luar)
5. Rural urban fringe (wilayah batas desa-kota)
6. Rural (daerah pedesaan)

5. Dampak Interaksi Desa dan Kota

Interaksi desa dan kota tidak dapat
terlepas dari arus perpindahan
SDM dan SDA. Dengan kondisi
geografis yang berbeda-beda, kota
menjadi pusat layanan untuk
produk pedesaan, layanan publik,
teknologi informasi, dan komersial.

Kota menawarkan
kota saluran distribusi

untuk produk
pedesaan, layanan
publik, teknologi
informasi, dan
komersial, serta
peluang kerja.

Sumber: wikipedia.commons.org

Desa menyediakan

bahan mentah dan

desa olahan, tenaga
kerja, dan

permintaan untuk

barang dan jasa

perkotaan.

Sumber: wikipedia.commons.org

D. USAHA PEMERATAAN PEMBANGUNAN DI DESA DAN KOTA

1. Pengertian Pembangunan Nasional Pembangunan nasional
diselenggarakan
Pembangunan berdasarkan demokrasi
nasional adalah dengan prinsip-prinsip
upaya yang kebersamaan,
dilaksanakan oleh berkeadilan,
semua komponen berkelanjutan,
bangsa dalam berwawasan lingkungan,
rangka mencapai serta kemadirian.
tujuan bernegara.

2. Perencanaan Pembangunan Nasional Rencana pembangunan
jangka panjang untuk
Perencanaan periode 20 tahun,
pembangunan sedangkan rencana
nasional antara lain pembangunan jangka
menghasilkan menengah untuk
rencana rencana periode 5 tahun.
pembangunan
jangka panjang dan
menengah.

3. Masalah Pembangunan dalam Bidang Wilayah dan Tata Ruang

1. Tata ruang dalam kondisi krisis.
Masyarakat yang berada di wilayah-wilayah tertinggal masih

2. mempunyai keterbatasan akses terhadap pelayanan sosial,
ekonomi, dan politik, serta terisolasi dari wilayah di sekitarnya.

3. Banyak wilayah yang memiliki produk unggulan dan lokasi strategis
di luar Pulau Jawa belum dikembangkan secara optimal.

4. Wilayah perbatasan, termasuk pulau-pulau kecil terluar,
memiliki potensi SDA yang cukup besar.

5. Terjadi pertumbuhan perkotaan yang tidak seimbang yang
diikuti adanya kesenjangan pembangunan antarwilayah.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di pedesaan
6. umumnya masih jauh tertinggal dibandingan dengan penduduk di

perkotaan.

4. Tantangan Pembangunan dalam Bidang Wilayah dan Tata Ruang

1. Pengaturan tata ruang sesuai peruntukan untuk mengatasi
krisis tata ruang yangtelah terjadi.

Pengurangan kesenjangan pembangunan antarwilayah tidak
2. hanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,

tetapi untuk menjaga stabilitas dan ketahanan nasional.

Menyiapkan diri menghadapi pasar global untuk
3. mendapatkan keuntungan secara maksimal sekaligus

mengurangi kerugian dari persaingan global melalui SDA
yang efisien dan efektif.

5. Mewujudkan Pemerataan Pembangunan dan Berkeadilan
Sebagai Salah Satu Misi Pembangunan Nasional
Tahun 2005─2025

Visi pembangunan nasional tahun
2005─2025 adalah Indonesia yang
mandiri, maju, adil, dan makmur.
Misi pembangunan nasional adalah
mewujudkan pemerataan
pembangunan dan berkeadilan.

6. Memperkuat Daerah-Daerah dan Desa

1. Meletakkan dasar-dasar kebiajakan desentralisasi asimetris.
2. Pengembangan kawasan perbatasan.
3. Pengembangan daerah tertinggal.
4. Pembangunan desa dan kawasan pedesaan.


Click to View FlipBook Version