The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by jayintojawa1979, 2024-03-06 21:22:18

PROCEEDING TEMILNAS

PROCEEDING TEMILNAS

Prosiding TEMU ILMIAH NASIONAL XI IKATAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN INDONESIA (IPPI) Tantangan Psikologi Perkembangan dalam Optimalisasi Perkembangan Manusia di Era Revolusi Industri 4.0 Menuju Revolusi Peradaban 5.0 Malang, 20 – 21 September 2019 Penerbit Psychology Forum Tahun 2019


Reviewer 1. Prof. Dr. Jatie K. Pudjibudojo, Psikolog 2. Dra. Srisiuni Sugoto, Ph.D, Psikolog 3. Dr. Iswinarti, M.Si Editor 1. Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si 2. Al Thuba Septa, PS., S.Psi, M.Psi 3. Rika Fuaturosida, S.Psi., MA 4. Sofa Amalia, S.Psi., M.Si Desain Cover Adhyatman Prabowo, M.Psi Penerbit Psychology Forum Jl. Tlogomas 246 Malang 65144 Indonesia Telp +62 341 464318; Faks +62 341 460435; email: [email protected]


i SUSUNAN KEPANITIAAN TEMU ILMIAH NASIONAL XI IKATAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN INDONESIA (IPPI) PANITIA PENGARAH DEWAN PENASIHAT IPPI : Prof. Dr. Hera L. Mikarsa, Psikolog Prof. Dr. Endang Ekowarni, Psikolog Prof. Dr. Jatie. K. Pudjibudojo, Psikolog Dr. Wisjnu Martani, SU., Psikolog Dr. M.G. Adiyanti, MS., Psikolog Dr. Duta Nurdibyanandaru, M.Si., Psikolog KETUA PP IPPI : Dra. Srisiuni Sugoto, Ph.D., Psikolog PANITIA PELAKSANA KETUA PELAKSANA : Dr. Iswinarti, M.Si SEKERTARIS : Sofa Amalia, S.Psi., M.Si Retno Firdiyanti, S.Psi., M.Psi BENDAHARA : Dr. Rr. Suminarti Fasikhah, M.Si Udi Rosida Hijrianti, S.Psi., M.Psi SIE. KESEKRETARIATAN : Adhyatman Prabowo, S.Psi, M.Psi Al Thuba Septa, PS, S.Psi., M.Psi Nanik Kholifah, M.Si SIE. ACARA : Dr. Diah Karmiyati, M.Si Dr. Elok Halimatus Sakdiyah, M.Si Andia Kusuma D, M.Psi Ari Pratiwi, M.Psi SIE. KONSUMSI : Diana Savitri, S.Psi., M.Psi Siti Fatimah, M.Si Ika Fitria, M.Psi SIE. HUMAS DAN PUBLIKASI : Ratih Eka Pertiwi, M.Psi Sri Wiworo RIH, M.Psi Pravissi Shanti, M.Psi Unita Werdi Rahajeng M.Psi Nathania B Astrella, M.Psi Rika fuaturosida, MA SIE. PERLENGKAPAN DAN DEKORASI : Sadiah Mewar, M.Si Aryudho Widiatno, M.Si SIE. DOKUMENTASI & TRANSPORTASI : M. Fath Mashuri, S.Psi., MA Taufiqurrahman, S.Psi., MA


ii Kata Pengantar Globalisasi telah memasuki era baru yang bernama Revolusi Industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 secara fundamental mengakibatkan berubahnya cara manusia berpikir, hidup, dan berhubungan satu dengan yang lain. Era ini akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia dalam berbagai bidang, tidak hanya dalam bidang teknologi saja, namun juga bidang yang lain seperti ekonomi, sosial, dan politik. Namun di balik kemudahan yang ditawarkan, Revolusi Industri 4.0 menyimpan berbagai dampak negatif, diantaranya ancaman pengangguran akibat otomatisasi, kerusakan alam akibat ekspoitasi industri, serta maraknya hoax akibat mudahnya penyebaran informasi. Oleh karena itu, kunci dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 adalah selain menyiapkan kemajuan teknologi, di sisi lain perlu dilakukan pengembangan manusia indonesia yang tangguh agar dampak negatif dari perkembangan teknologi dapat ditekan ataupun mencari cara bagaimana manusia dalam tiap-tiap periode perkembangannya dapat menjadi manusia manusia yang siap secara fisik, kognitif, dan memiliki kemampuan sosial dan karakter yang kuat sehingga dapat hidup selaras di era baru revolusi industri 4.0 Baru saja kita mendengar konsep revolusi industri 4.0 dengan memanfaatkan data, teknologi blockchain, serta kecerdasan buatan. Jepang pada akhir Januari 2019 hadir dengan konsep Society 5.0 atau disebut sebagai revolusi peradaban 5.0. Revolusi industri dengan konsep baru ini dinilai dapat menggantikan 4 versi sebelumnya yang hanya menitikberatkan pada produksi barang atau jasa, dimana perkembangan revolusi 5.0 dilatarbelakangi oleh kekhawatiran bahwa tenaga manusia akan terkikis karena tergantikan dengan teknologi, namun revolusi 5.0 berusaha untuk mengoptimalkan teknologi yang ada guna membantu kehidupan manusia menjadi lebih baik lagi. Tiap generasi ditiap tahap perkembangan haruslah tumbuh dan berkembang dengan optimal. Tumbuh kembang yang sehat harus disesuaikan tahap perkembangannya, adapun tiap tahap tumbuh kembang akan meliputi aspek – aspek dasar yaitu biologis, kognitif, emosi, dan psikososial/moral. Dimana tiaptiap aspek perkembangan tersebut wajib dioptimalkan secara maksimal guna menghadapi perubahan era. Perlu cara yang solutif untuk mengahadapi hal tersebut, yakni pengotimalan peran kelurga, metode pendidikan karakter yang tepat, dan metode lain yang dapat menunjang berkembangnya generasi indonesia yang siap dalam menghadapi berbagai perubahan yang ada. Temu Ilmiah Nasional Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia ke XI dengan tema “Tantangan Psikologi Perkembangan dalam Optimalisasi Perkembangan Manusia di Era Revolusi Industri 4.0 Menuju Era Revolusi Peradaban 5.0”. Tema ini diambil guna menjawab berbagai permasalahan dan tantangan yang akan atau sedang dihadapi terkait bagaimana perkembangan manusia di Indonesia. Semoga kegiatan ini dapat terealisasi dengan baik tanpa ada halangan yang berarti. Malang, 20 September 2019 Panitia Pelaksana


iii DAFTAR ISI Susunan Kepanitiaan i Kata pengantar ii Daftar Isi iii Eight Lessons for a Happier Marriage sebagai Upaya Keluarga Harmonis Menikmati Society 5.0 Ag. Krisna Indah Marheni 1-7 Apakah Sikap Pemahaman Hukum Perkawinan Berperan untuk Penundaan Perkawinan Usia Dini pada Remaja ? Agoes Dariyo, Mia Hadiati & R. Rahaditya 8-17 Hubungan antara Self-esteem dengan Perilaku Cyberbullying pada Remaja Pengguna Instagram di Surabaya Aimasari Nur Hidayati, Herdina Indrijati 18-25 Konsep Kearifan pada Dewasa Awal, Tengah, dan Akhir Aisah Indati 26-35 Shaping Behavior Untuk Memperbaiki Pola Makan Pada Anak Dengan Retardasi Mental (Studi Kasus) Al Thuba Septa Priyanggasati 36-46 Hubungan antara Regulasi Emosi dengan Resiliensi pada Remaja Binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas IA Blitar Ana Lailatul Magfiroh, Dwi Sarwindah Sukiatni, Rahma Kusumandari 47-53 Apakah Regulasi Diri dalam Belajar Berhubungan dengan Prokrastinasi Akademik pada Siswa Atlet? Andi Maulida Rahmania, Maria Goretti Adiyanti 54-65 Hubungan antara Dukungan Sosial Keluarga dengan Motivasi Menikah Dini di Kecamatan Kwanyar Madura Anhar Septiawan Arifin, Dwi Sarwindah S., Rahma Kusumandari 66-70 Pengasuhan Digital dan Inkongruensi Pengalaman di Media Sosial antara Remaja dan Orang Tua Annisa Reginasari dan Tina Afiatin 71-85 Peran Penalaran Moral dan Emosi Moral terhadap Perilaku Bullying Ardyta Kusumaningsih 86-93 Self-Efficacy dengan Minat Berwirausaha yang Dimediasi oleh Kreativitas pada Mahasiswa/i Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang Arini Rahayu., Muh. Aqso Anfajaya 94-103 Kematangan Emosi Remaja Pengguna PCC (Paracetamol, Cafein dan Carisoprodol) Chadidjah D. Selomo, Suryanto, Tatik Meiyuntariningsih 104-111 Relaksasi untuk Mengatasi Stres Sehari-hari pada Lansia Dedek Jannatul Makwa, Erny Hidayati 112-120 Peran Pemberian Cerita Imajinatif dalam Menurunkan Perilaku Agresif pada Masa Anak Awal Defani Ismiriam Rakhmi 121-129 Pengaruh Pelatihan “Aku Anak Pemberani” untuk Meningkatkan Penanggulangan Kekerasan Seksual pada Anak Sekolah Dasar Dewi Mahastuti 130-136 Resiliensi sebagai Mediator Self-Compassion dan Kebahagiaan Dewi Sri Mustikasari, Wistita Winaudri 137-146 Motif Orang Tua Memberikan Gadget kepada Anak Usia Dini di TK Y Makassar Dian Novita Siswanti., Muh. Daud., Novita Maulidya Jalal 147-153 Storytelling Dengan Media Buku Kosakata Bergambar Sebagai Metode dalam Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Pada Anak usia Prasekolah Dyta Setiawati Hariyono, Lita Ariani 154-161 Resiliensi pada Individu Fatherless Egi Prawita 162-169 Hubungan antara Dukungan Sosial Keluarga dengan Kepercayaan Diri pada Atlet Renang Elok Wahyunita Suprapto& Herdina Indrijati 170-177 Cyberbullying dan Remaja: Studi Pendahuluan Emma Yuniarrahmah, Maria Goretti Adiyanti 178-186 Subjective Well-Being Ibu Ditinjau Dari Usia dan Lama Pernikahan (Preliminary Study pada Ibu “Muda” Usia 20-40 Tahun) Endang Prastuti 187-194


iv Hubungan Kematangan Emosional dengan Agresivitas pada Remaja Pondok Pesantren Erik Hendro Putra Tewal, Latifa 195-205 Hubungan Kontrol Diri dengan Kecenderungan Kenakalan Remaja pada Remaja dengan Orang Tua Tunggal yang Bercerai Erlita Dama Kristanti & Herdina Indrijati 206-215 Peran Resiliensi terhadap Stres Akademik Siswa SMA Esti Widya Rahayu, Miftah Ellyan Anggi Djabbar 216-224 Gambaran Stimulasi Perkembangan Anak Usia Dini di Tiga Tempat Penitipan Anak (TPA) di Kota Malang Farah Farida Tantiani, Ameliya Alfirdosi, Fitria Nur Indra F, Zulfa Sabilun Najah 225-231 Pengaruh Komunikasi Interpersonal terhadap Kepuasan Perkawinan pada Istri Anggota Korps Pelaut TNI-AL Farah Fauziah Vivany & Herdina Indrijati 232-238 Program Penguatan Optimisme untuk Pemulihan Emosi bagi Anak-Anak Penyintas Bencana Tsunami Farida Hidayati, Laelatus Syifa Sari Agustina, Fadjri Kirana Anggarani, Berliana Widi Scarvanovi 239-241 Perbedaan Kesepian Pada Mahasiswa Tahun Pertama dan Kedua Fikrie, Lita Ariani, Ceria Hermina 242-247 Self Regulation Learning (SRL) pada Siswa SMA “X” ditinjau dari Pola Asuh Orangtua Firsty Oktaria Grahani, Ressy Mardiyanti 248-255 Dukungan Teman Sebaya dengan Kepuasan Bersekolah Dimediasi oleh Resiliensi pada Siswa SMA yang Tinggal di Asrama Fitria Erma Megawati, Betta Fitriasari 256-267 Pembentukan Identitas Seksual pada Gay Dewasa Awal yang Telah Coming Out Giovani Misyella Arlandy Santoso, Krismi Diah Ambarwati 268-275 Hubungan antara Peer Group Relationship dengan Perilaku Social Withdrawl pada Remaja Awal di SMP Kartika IV-10 Surabaya Grace Angela, Herdina Indrijati 276-284 Hope pada Pekerja Anak yang Putus Sekolah Handita, Krismi Diah Ambarwati 285-297 Pelatihan Metode Remedial Menulis Integrasi Visual Motorik untuk Meningkatkan Keterampilan Guru dalam Memperbaiki Kualitas Menulis Tangan Siswa Taman KanakKanak di Banyuwangi Herdina Indrijati, Yustisiana Hidayati 298-304 Pengaruh Harga Diri dan Peer Support terhadap Resiliensi pada Siswa SMATaruna Nala Malang Ika Wulandari, Bhimo Surya Putra 305-314 Permainan Tradisional Engklek Pa’a Berbasis Token Ekonomi untuk Anak dengan Attention Deficit Disorder Jainal Ilmi, Trie Nurfadillah Hanapi, Andita Faradilla 315-324 Penyuluhan tentang Perkembangan Wicara dan Hambatan, serta Penanganan Speech Delay Jehan Safitri 325-331 Menikmati Gelombang Perkawinan M. J. Retno Priyani 332-339 Peran Orangtua sebagai “Coach” dalam Proses Transmisi Emosi Moral Orangtua kepada Remaja Margaretha Maria Shinta Pratiwi, Subandi dan Maria Goretti Adiyanti 340-349 Motivasi Sembuh pada Anak Penderita Kanker di Rumah Singgah Kanker Banjarmasin Marina Dwi Mayangsari 350-358 Gangguan Sikap Menentang pada Anak Marina Yollanda, Faridah Ainur Rohmah 359-367 Pengasuhan Ayah dengan Anak Berkebutuhan Khusus Tuna Daksa Maya Setyarini, Lika Hestyaningsih, Prima Dewi Pratiwi, & Sri Lestari 368-378 Nilai Budaya dalam Pengasuhan: Upaya Menyandingkan Karakter Tradisional dan Modern dalam Menghadapi Era Digital. Muchlisah, Tina Afiatin 379-393 Efektifitas Pemberian Little Champs untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar pada Anak Prasekolah Usia 5- 6 Tahun Nadya Adinda Putri, Nur Ainy Fardhana Nawangsari 394-403 Cognitive-Behavior Therapy to Improve Self-esteem in Adolescence with Depressive Symptoms Naomi Kristiana, Ediasri Toto Atmodiwirjo, Debora Basaria 404-416


v Pelatihan Regulasi Emosi untuk Menurunkan Kecemasan pada Ibu Hamil Nata Hendriati 417-440 Gambaran Loneliness (Kesepian) pada Usia Lanjut di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera II Neka Erlyani, Rika Vira Zwagery 441-452 Metode Pengasuhan untuk Membentuk Karakter Positif Anak dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 Nigma 453-461 Uji Validitas Buku Elektronik (ebook) Cerita Permainan Tradisional (Menjadi Raja dan Ratu Sehari) dalam Meningkatkan Kemampuan Menyimak Anak Usia Dini Nofrans Eka Saputra,Yun Nina Ekawati 462-473 Modifikasi Perilaku untuk Meningkatkan Rentang Perhatian pada Anak Pra Sekolah dengan ADHD Norhafizha Rinanda, Hanif Kartika Indrasari 474-483 Puppet Show dan Role Play untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial pada Anak Nur Indah Agustini 484-490 Studi Literatur Pengaruh Parental Attachment Pada Intensitas Berlebih Penggunaan Internet Pada Anak Usia Dini Nuraini Kusumaningtyas, Ratna Nurwindasari 491-498 Pemodelan Video Diri Sendiri untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Sosial pada Remaja Autis Berfungsi Tinggi/High Functioning Autism (HFA) dengan Mediasi Teman Sebaya Nurhasanah, Diah Karmiyati, Iswinarti 499-514 Pengaruh Pola Asuh Otoritatif dan Iklim Sekolah terhadap Kepuasan Bersekolah pada Siswa Sekolah Menengah Pertama Nurul Puspita Ningrum, Nurul Hidayah 515-523 Openness To Experience Sebagai Moderator Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Kebahagiaan Remaja Nusaibah Nur Furqoni Z.A, Rohmatul Ummah 524-531 Permainan Ular Tangga untuk Meningkatkan Interaksi Sosial pada Anak dengan Gangguan Intellectual Disability Purwo Erina Wahyuriko, Aisyah Putri Rawe Mahardika, Iswinarti 532-541 Permainan Tradisional Gembatan sebagai Media Play Therapy dalam Meningkatkan Kontrol Diri Anak Agresif Puspa Darmi, Dino Rizadman Rahia, Musdalifa 542-552 Personal Growth Inisiatif (Inisiatif Pertumbuhan Individu) sebagai Prediktor Kemampuan individu untuk Mengatasi Konflik dengan Pasangan pada Remaja Putri Saraswati, Sofa Amalia 553-559 Resiliensi Ayah yang Mengasuh Remaja dengan Gangguan Autis Rahma Febiyana 560-571 Pengaruh Kebisingan Terhadap Daya Ingat Pada Remaja Rika Vira Zwagery, Rooswita Santia Dewi 572-577 Developmental Psychology : The Heart of Psychological Science antara Lewin dan Erikson dengan Pendekatan Critical Reflection Suatu Metode Pembelajaran Rin Widya Agustin, Berliana Widi Scarvanovi 578-584 Internet Gaming Disorder Among Adolescent : A Literature Review Rizka Asyriati 585-593 Pengaruh Parental Attachment terhadap Perilaku Merokok pada Remaja di SMA Negeri 2 Jember Rizky Nur Azizah, Istiqomah, Nuraini Kusumaningtyas 594-604 Hubungan antara Pola Asuh Ibu Generasi Pertama dengan Ibu Generasi Kedua Ryan Santo Prabowo , Srisiuni Sugoto 605-612 Kompetensi Emosi dan Efikasi Diri Pengasuhan Ibu dari Anak dengan Autism Spectrum Disorder Siswati, Dinie R Desiningrum 613-624 Sangat Penting : Pendidikan Seks dari Perspektif Orangtua Siti Maimunah, Tina Afiatin 625-636 Meningkatkan Kesehatan Lansia dengan Acupressur Sudjiwanati 637-645 Gambaran Perilaku Perundungan (Bullying) Siswa Sekolah Dasar di Kota Jambi Suparjo Herlambang, Marlita Andhika R, Fellicia Ayu S. 646-656 Secure Attachment dan Perilaku Asertif pada Remaja Survivor Sexual Abuse Tatik Mukhoyyaroh 657-668


vi Peer Counseling untuk Meningkatkan Kesadaran terhadap Bullying pada Siswa SMA Sultan Agung 1 Semarang Try Ardhi Nugraha Hastu, Tya Wulandari, Zhalilla Viola Risqa Setiani 669-678 Permainan Tradisional Cublak-Cublak Suweng sebagai Media Play Therapy dalam Meningkatkan Interaksi Sosial Anak Slow Learner pada Siswa SDN Mulyerejo Dua, Kota Malang Ulwiyatul Hidayat, Annisa Ariani, Iswinarti 679-690 Pengaruh Dukungan Sosial Online terhadap Kesejahteraan Subjektif yang Dimoderasi Jenis Kelamin pada Siswa SMA Umi Habibah, Diah Karmiyati dan Iswinar 691-701 Permainan Lego untuk Menurunkan Gejala Kecemasan Berpisah (Separation Anxiety Disorder) pada Anak Wa Ode Nursanaa, Intan Novantin Citra Ady 702-712 Mengasuh dan Mendidik Anak di Era Revolusi Industri 4.0 Weni Endahing Warni, Urip Purwono 713-726 Uji Coba Modul Paket Alat Permainan Edukatif (APE) Cengkling/ Engklek Untuk Meningkatkan Visual Spasial Anak Usia Dini Yun Nina Ekawati, Nofrans Eka Saputra 727-739 Kontribusi Faktor-Faktor Penentu Happiness di Usia Dewasa: Peran Spiritualitas dan Coping dalam Mencapai Happiness Yuspendi 740-750 Peningkatan Regulasi Emosi Melalui Media Permainan Tradisional Dengan Metode Experiential Learning Pada Wanita Dewasa Madya Iswinarti, Indri Puspita Sari, Istiqomah 751-763 Penutup


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 379 NILAI BUDAYA DALAM PENGASUHAN: UPAYA MENYANDINGKAN KARAKTER TRADISIONAL DAN MODERN DALAM MENGHADAPI ERA DIGITAL Muchlisah1, Tina Afiatin2 1 Fakultas Tarbiyah & Keguruan, UIN Alauddin Makassar. 2Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. [email protected]; [email protected] A B S T R A K Nilai-nilai yang dipegang orang tua dalam pengasuhan anak merupakan bibit nilai-nilai dasar yang dibangun dalam diri anak sebagai pondasi terbentuknya karakter. Melalui nilai yang dibawa orang tua dalam pengasuhan, anak akan membentuk sistem dan perilaku dasar. Nilai sosial dan budaya adalah nilai utama yang dibawa oleh orang tua dan menjadi nilai dasar dalam pembentukan kepribadian orang tua, yang kemudian berpeluang untuk diinternalisasi oleh anak dalam interaksinya. Artikel ini menganalisis teori dasar perkembangan Bronfenbrenner, teori determinan pengasuhan Belsky dan teori ekokultural Berry & Geogras sebagai upaya untuk menyandingkan peran nilai sosial dan budaya dalam perkembangan individu, khususnya pada perkembangan karakter anak dalam menghadapi era digital. Hasil analisis teori memperlihatkan adanya variabel-variabel yang berperan dan saling berhubungan dalam membentuk perkembangan individu melalui pengasuhan anak yang melibatkan internalisasi dan transmisi budaya,. Variabel-variabel tersebut pada tahap kronosistem melibatkan sejarah kehidupan melalui proses sosialisasi, enkulturasi, dan akulturasi; pada tahap eksosistem melibatkan variabel jaringan sosial, pekerjaan; dan pada tahap mikrosistem melibatkan karakteristik individu dan relasi orang tua. Dapat disimpulkan bahwa dalam teori ekologi, teori determinan pengasuhan dan teori ekokultural menghasilkan relasi aspek yang saling berkaitan erat yang berfokus pada aspek sosial dan budaya. Kata kunci: nilai budaya, tradisional, modern, pengasuhan, ekologi, determinan pengasuhan, ekokultural. LATA R BELAKANG Memasuki era revolusi industri 4.0 memberikan gambaran bahwa perubahan lingkungan semakin pesat. Tidak hanya semakin termanjakannya fasilitas individu dengan teknologi, namun lebih menelisik pada perubahan perilaku dan sistem sosial yang berlaku dalam masyarakat. Individu sebagai makhluk dinamis memiliki peran dalam menyesuaikan diri menghadapi perubahan lingkungan tersebut. Berbagai gambaran kehidupan memperlihatkan banyaknya dampak dari perkembangan teknologi mulai dari perubahan lingkungan, cara hidup, relasi sosial, dan perilaku (Roblek, Mesko, & Krapez, 2016). Gambaran sistem kehidupan dengan koneksi digital yang sangat pesat ini tidak lepas dari karakteristik era industri 4.0 yang akrab disebut era industri digital. Ditandai dengan peningkatan daya saing berbasis peralatan pintar, akses informasi yang begitu cepat dan mudah, produksi perkotaan yang semakin canggih dan modern (Heck & Rogers, 2014). Perubahan lingkungan ini akan membawa dampak yang sangat besar dalam terbentuknya perilaku individu. Kecenderungan perubahan yang paling menonjol adalah pada interaksi antar individu. Akses informasi dan komunikasi yang difasilitasi oleh media memberikan kemudahan bagi individu untuk berinteraksi tanpa melalui tatap muka secara langsung. Sehingga interaksi sosial juga akan berubah,


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 380 beberapa contoh diantaranya semakin luasnya relasi sosial karena semakin menjangkau jarak yang jauh, penyebaran informasi yang lebih cepat, namun disisi lain akibat teknologi ini, menyebabkan semakin minimnya komunikasi nonverbal dan semakin lemahnya kelekatan antar individu karena semakin pesatnya anonimitas (Lieberman & Schroeder, 2019). Isu ini juga memberikan banyak evaluasi dalam pola interaksi dalam keluarga inti, khususnya interaksi orang tua dan anak. Interaksi orang tua kepada anak sangat memegang peranan penting dalam pengasuhan anak. Hasil penelitian Kildare & Middlemiss (2017) menggambarkan terjadinya perubahan interaksi orang tua dan anak dengan melibatkan media digital. Interaksi orang tua yang lebih banyak menggunakan telepon seluler dianggap menghasilkan interaksi yang rendah jika digunakan secara berlebihan. Hal ini menyebabkan interaksi mereka menjadi kurang sensitif dan responsif baik secara verbal maupun non verbal. Fenomena ini menjadi sebuah gambaran sederhana bagaimana teknologi mulai memasuki kehidupan keluarga yang mengarah pada pertanyaan mengenai kualitas interaksi orang tua dan anak dalam pengasuhan. Sementara peran orang tua dalam pengasuhan yang berkualitas mampu membentuk proses penanaman berbagai keterampilan anak diantaranya keterampilan sosial, kontrol perilaku, proses kematangan emosi, dan memiliki nilai bersosial yang baik (Darling dalam Thalib, 2010). Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan modernisasi lingkungan bukan hanya membawa dampak negatif dalam pola interaksi individu, khususnya keluarga dan pengasuhan orang tua. Namun disisi lain teknologi memberikan fasilitas yang sangat menunjang proses pembelajaran anak dalam pendidikannya. Tersedianya jaringan internet, fasilitas buku online, hingga kemajuan perangkat elektronik yang semakin canggih (laptop, handphone, dll.) justeru menunjang pendidikan dan koneksi anak dalam belajar. Namun yang menjadi pertanyaan yang penting untuk dianalisis lebih jauh adalah perubahan nilai-nilai yang terinternalisasi dalam diri anak terkait peran dan interaksi sosial, penanaman karakter, kepribadian, dan perkembangan emosi sepanjang perkembangannya. Kembali menyimak contoh fenomena perubahan pola komunikasi dengan adanya telepon seluler yang semakin menyita perhatian anak dengan minimnya interaksi langsung dengan orang tua menyebabkan kualitas kelekatan dipertanyakan. Sementara interaksi dalam pengasuhan orang tua-anak merupakan kunci kebehasilan dalam membangun pondasi kepribadian anak. Pengasuhan oleh orang tua akan mengajarkan anak berbagai nilai-nilai yang dipegang oleh orang tua baik nilai yang berasal dari diri internal orang tua, yang disebut sebagai nilai pribadi, maupun nilai yang didapatkan dari sistem sosial dan budaya dimana keluarga tersebut hidup dan berinteraksi (Tam, dkk., 2012). Nilai pribadi yang dibentuk dalam diri orang tua merupakan proses akumulasi berbagai nilai-nilai yang didapatkan sepanjang kehidupannya, termasuk nilai sosial selama mereka berinteraksi dengan masyarakat, maupun nilai budaya sebagai hasil dari internalisasi sistem yang berlaku dalam kebiasaan kehidupan sehari-hari di lingkungannya. Nilai sosial dan budaya adalah aspek penting yang harus selalu melekat dalam proses internalisasi nilai oleh anak dalam pengasuhan orang tua. Nilai sosial yang terbangun dalam konsep keluarga modern berbeda dengan konsep keluarga tradisional. Teknologi telah mendefinisikan kembali kehidupan keluarga dalam dua masa yang berbeda. Teknologi telah banyak memodifikasi struktur sosial dalam keluarga terkait pola yang diajarkan anak untuk berinteraksi secara langsung yang juga melibatkan keterampilan emosional, empati, tenggang rasa dan penghargaan kepada orang lain (Ruiz, dkk, 2017). Nilai-nilai ini yang seharusnya melekat dalam diri anak yang dibangun oleh orang tua dalam proses pengasuhan.


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 381 Patcher & Mathieu (Hoghughi & Long, 2004) dari hasil penelitiannya menekankan bahwa konteks budaya dan faktor kemajuan teknologi menurutnya menjadi bagian yang penting untuk diterangkan. Karena interaksi budaya dan teknologi akan banyak menimbulkan pertanyaan. Sejauh mana teknologi memengaruhi budaya dan apa perubahan yang terjadi dalam budaya yang telah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Hal ini yang kemudian menjadi penting dalam menelusuri sejauh mana nilai budaya diinternaisasikan dari orang tua kepada anaknya dalam kondisi perkembangan teknologi yang semakin pesat. Konteks sosial dan budaya tidak pernah lepas dari perkembangan kehidupan manusia. Haan, Aerts, & Cooper (Gardiner & Kosmitzki, 2011) menjelaskan bahwa nilai moral yang dibangun oleh individu merupakan sebuah kerangka kepedulian dan keadilan yang dibangun dari pemahaman diri dan orang lain yang terjadi dalam interaksi sosial. Dengan kata lain bahwa moralitas yang perlu dibangun dalam pribadi individu merupakan keterampilan yang didapatkan dari nilai sosial melalui hubungan antar individu. Nilai sosial tidak hanya didapatkan dari pengasuhan orang tua, namun semakin diasah ketika anak diberikan kesempatan berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Demikian juga dengan nilai budaya. Nilai ini berisi adat kebiasaan yang dibangun oleh masyarakat dengan berbagai tujuan. Pola pengasuhan orang tua juga sangat lekat oleh pengaruh budaya. Pengasuhan yang berhubungan dengan cara-cara sistematis seperti gaya berbicara dengan anak (dialeg), cara berbicara dengan orang tua, teman, yang lebih muda, hingga batasan pergaulan sangat sarat akan budaya (Conolly, 1990). Proses sosialisasi anak pada akhirnya menghasilkan pemahaman kepada anak mengenai nilai dan keyakinan untuk membentuk perilaku yang dianggap sesuai dengan sistem sosial dan budaya dimana anak tumbuh, sehingga keluarga inti yaitu orang tua menjadi unsur penting dalam pencapaian sosialisasi anak (Afiatin dalam Lestari, 2008). Hal ini juga diterangkan dalam teori fungsional keluarga yang sangat mementingkan fungsi efektif dari orang tua dalam memainkan perannya. Peran ayah dan ibu tidak dapat tergantikan dan berpengaruh besar dalam perkembangan sosial anak (White, 2008). Tuntutan masyarakat untuk membuat anak terampil bersosial dalam membangun kepribadiannya, merupakan fungsi utama dari pengasuhan orang tua (White, Klein, & Martin, 2011). Berfokus pada pengasuhan di era digital, menjadi penting untuk meletakkan konsep nilai budaya sebagai pondasi dalam menyesuaikan anak dengan berbagai perangkat pintar yang membantu anak mengembangkan kemampuan intelektualnya. Perkembangan emosi dan spiritual akan banyak dibekali melalu interaksi anak secara langsung dan penanaman nilai-nilai ritual budaya sebagai keyakinan dalam membangun spiritualitasnya. Budaya sebagai sebuah simbol nilai masyarakat dalam sebuah komunitas, menjadi pedoman dalam berperilaku. Nilai budaya inilah yang nantinya menjadi kerangka perilaku sosial yang dikembangkan oleh anak dalam setiap tahap perkembangannya. Pentingnya pengasuhan orang tua yang efektif menjadi topik yang selalu ditekankan sebagai antisipasi dalam menghadapi lingkungan modern. Modernisasi merupakan situasi yang tidak dapat dihindarkan dan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan anak pada saat ini. Namun, pengaruh modernisasi dapat dikontrol dari upaya orang tua secara intens mengajarkan anak mengenai nilai-nilai tradisional. Hal ini bertujuan untuk menyeimbangkan pengaruh teknologi yang dapat merubah bahkan menghambat keterampilan sosial dan pribadi anak. Teknologi juga memberikan tantangan untuk menelusuri lebih jauh mengenai kualitas kehidupan dan kebermaknaan personal apakah mengalami peningkatan atau kemunduran akibat interaksi dengan media digital. Sehingga dengan menjaga nilai-nilai budaya, diharapkan orang tua dan anak dapat terhindar dari terjadinya distorsi pemaknaan personal (Afiatin, 2018).


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 382 Mengembalikan budaya sebagai dasar nilai yang diinternalisasikan dalam pembentukan karakter anak merupakan sebuah upaya untuk menyeimbangkan kehidupan modern dengan kehidupan tradisional. Kehidupan modern tidak selalu identik dengan kemajuan dalam segala aspek. Namun bisa menjadi penghambat dam menghasilkan kemunduran dalam proses kepribadian anak. Misalnya penggunaan internet dan gadget yang terlalu intens akan menghambat keterampilan sosial, kecakapan emosional, dan afeksi anak karena lebih lekat dengan mesin dibandingkan dengan orang lain. Sebaliknya, kehidupan yang tidak bersentuhan dengan modernisasi dan masih terpaku pada kehidupan tradisional menyebabkan anak menjadi gagap teknologi, tidak mampu berinovasi karena kurangnya informasi, dan tidak berkembangnya kemampuan intelektual dalam menghadapi kemajuan zaman. Sehingga keseimbangan kehidupan modern dan kehidupan tradisional menjadi salah satu alternatif untuk mengefektifkan penanaman nilai pada anak agar perkembangan anak dapat berjalan maksimal. Penelitian-penelitian dalam bidang perkembangan dan pengasuhan anak banyak melibatkan unsur budaya sebagai variabel yang sangat memengaruhi keseimbangan perkembangan (Boehnke, 2001; Demirutku, 2007; Chen, Liu, & Kaplan, 2008; Anderson & Mayes, 2010; Barni, Ranieri, Scabini, Rosnati, 2011; Barni, Knafo, Arieh, Yahia, 2014; Litina, Moriconi, Zanaj, 2016; Stattin & Kim, 2018). Menanamkan nilai budaya merupakan bentuk kearifan lokal yang lahir dan berkembang dari proses belajar melibatkan pengalaman yang dipertahankan dan diwariskan dalam lintas generasi (Afiatin, 2018). Dalam setiap budaya, selalu menekankan seperangkat nilai yang baik dan buruk. Nilai kebudayaan ini harus mampu menentukan kermanfaatannya, kegunaannya, dan keutamaan bagi keberlangsungan hidup anggota masyarakat dalam budaya tersebut (Ahimsa-Putra dalam Afiatin, 2018). Penelusuran nilai budaya sebagai aspek yang sangat berpengaruh dalam kehidupan individu diharapkan mampu menjadi pijakan bagi orang tua dalam pengasuhan anak di era modern saat ini. Kembali ke nilai budaya, merupakan usaha dalam menajamkan nilai emosi dan spiritual yang dibutuhkan oleh anak dalam perkembangannya, dimana tidak disediakan oleh teknologi dalam kehidupan modern. Dengan kata lain, kebutuhan intelektual anak dapat diperoleh dari mengikuti trend modern, tetapi tetap mengontrol lingkungan dengan mengajarkan nilai budaya sebagai bekal keterampilan bersosial untuk mengasah aspek emosi dan spiritual anak. Dalam kajian teori yang akan dibahas dalam reviu literatur pada bagian selanjutnya, akan mengupas tiga teori yang saling berkaitan dan merupakan teori yang sangat menekankan pada aspek sosial dan budaya sebagai nilai yang tidak pernah lepas dari perkembangan kehidupan individu dalam konteks psikologi perkembangan. Kajian literatur ini diangkat agar menjadi bahan analisis dan pertimbangan untuk selalu melibatkan nilai budaya sebagai pedoman dan kerangka dalam mendampingi perkembangan anak melalui pengasuhan yang efektif.


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 383 ULASAN LITERATUR Teori Ekologi Perkembangan Manusia (Urie Bronfenbrenner) Konsep dasar dari teori ekologi adalah bahwa perkembangan manusia adalah produk dari interaksi antar organisme yang tumbuh dan berkembang dengan lingkungannya. Perilaku individu terus berevolusi sepanjang berubahnya lingkungan. Sejalan dengan prinsip teori Kurt Lewin, yang menegaskan bahwa perilaku terbentuk dari interaksi individu dengan lingkungan. Namun teori ekologi lebih menekankan pada berbagai aspek, utamanya sejarah kehidupan dan lapisan-lapisan lingkungan sosial yang menjadi inti proses perkembangan (Bronfenbrenner, 1979). Teori ekologi menerangkan bahwa dalam diri individu itu terdiri dari aspek personal yang dikelilingi oleh empat lapisan lingkungan yang saling beriteraksi satu sama lain. Lapisan yang paling dekat dengan individu pribadi adalah lapisan pertama yang disebut lapisan mikrosistem. Lapisan mikrosistem ini terdiri dari lingkungan orang-orang terdekat diantaranya orang tua, keluarga inti/saudara, teman bermain, dan sekolah. Sementara lapisan kedua disebut sebagai lapisan mesosistem yang terdiri dari lapisan mikrosistem namun saling melekat dengan lapisan ketiga, yaitu eksosistem. Lapisan eksosistem terdiri dari lingkungan sosial yang lebih luas lagi meliputi tetangga dan masyarakat umum yang dijumpai dalam interaksi sehari-hari. Sementara lapisan keempat yaitu lapisan makrosistem yang merupakan lapisan terluar namun memiliki banyak peran secara tidak langsung dalam perkembangan individu, terdiri dari ideologi dan budaya masyarakat di tempat individu tinggal. Aspek individual, mikrosistem hingga ke makrosistem akan terus berkembang sejalan dengan waktu dan berubahnya kondisi lingkungan yang dikenal dengan aspek kronosistem. Aspek ini bukan berupa lapisan tersendiri, namun menjadi aspek yang melingkupi semua lapisan-lapisan ekologi. Gambar 1. Teori Ekologi Bronfenbrenner (Sumber: http://www.citethisforme.com/topic-ideas/psychology/Bronfenbrenner-41456313) Aspek-aspek yang terdapat dalam rangkaian teori ekologi yang dikenal dengan lapisan-lapisan seperti yang telah dijelaskan diatas, saling memengaruhi satu sama lain. Model ekologis berjalan dengan menggunakan empat prinsip, yaitu proses, orang, konteks, dan waktu. Dijelaskan bahwa meskipun unsurunsur dalam lapisan tersebut semuanya hadir dalam lingkungan, jika prinsip proses, individu, konteks,


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 384 dan waktu tidak berjalan, maka perkembangan individu tidak berjalan maksimal. Karena prinsip-prinsip itulah yang menentukan terjadinya perkembangan secara psikologis (Bronfebrenner, 2001). Dalam teori ekologi dikemukakan unsur nilai dan budaya sebagai bagian dari lingkungan makrosistem yang secara tidak langsung akan berpengaruh pada internalisasi nilai-nilai yang diyakini dalam proses perkembangan individu. Teori ekologi ini kemudian dikembangkan secara lebih kompehensif oleh Bronfenbrenner (Tudge, dkk. 2016) dalam teori bioekologi yang lebih terstruktur dimana menekankan pada proses timbal balik individu dengan lingkungan, karakteristik individu, konteks area lingkungan, dan aspek waktu sebagai empat unsur penting dalam model teorinya. Komposisi yang lebih kompleks dalam teori ini semakin menunjukkan bahwa perkembangan individu sangat memperhitungkan lingkungan dan waktu. Berfokus pada Makrosistem sebagai lapisan yang berisi nilai budaya merupakan lapisan paling luar dalam teori ini. Makrosistem menjadi sangat berpengaruh ke dalam diri individu melalui lapisan mesosistem dengan melibatkan lapisan mikrosistem. Sehingga dapat dijelaskan bahwa pelibatan nilai budaya perlu melalui individu lain untuk sampai pada individu secara personal. Dalam topik perkembangan anak, internalisasi nilai budaya tidak serta merta langsung dipelajari oleh anak, namun melalui nilai yang dibentuk oleh orang tua dalam pengasuhan anak. Dalam lapisan mikrosistem inilah, orang tua inti yaitu ayah dan ibu yang paling banyak berperan dalam menginteraksikan anak dengan lapisan makrosistemnya (nilai budaya). Model terbaru dari modifikasi teori ekologi menjadi bioekologi memperluas pemahaman kita bahwa individu secara personal bukanlah makhluk yang pasif dikuasai oleh lingkungan, namun ada aspek biopsikologi yang berkembang dalam diri individu yang turut memberikan banyak pengaruh dalam membentuk perkembangan kogintif dan emosi individu. Sehingga, dalam proses individu memahami nilainilai sosial dan budaya membutuhkan proses internalisasi dari nilai yang dibawa oleh orang tua, hingga sampai pada tahap transmisi nilai. Yaitu adanya kesepahaman nilai yang diartikan oleh anak dengan nilai yang ditanamkan oleh orang tua (Bronfenbrenner & Morris, 2006). Poin penting yang perlu dijelaskan adalah, semua lapisan yang melingkupi diri anak dalam perkembangannya dimulai dari lapisan mikrosistem, yaitu orang tua dan keluarga terdekat. Perangkat keluarga terdekat ini yang akan menyaring lapisan lainnya dalam lingkungan anak. Lapisan mesosistem hingga makrosistem akan terbentuk dan berinteraksi dengan maksimal dan efektif ditentukan oleh keluarga yang berada pada lapisan mikrosistem. Lapisan makrosistem yang berisi nilai-nilai budaya penting untuk diperhitungkan oleh orang tua sebagai lingkungan terluar yang akan berhadapan dengan anak nantinya seiring perkembangan usianya. Diharapkan anak diajarkan untuk mengenal budaya tradisional sebelum mengenal budaya modern, atau dapat pula anak diberikan kesempatan mempelajari nilai modernisasi namun tetap menanamkan karakter nilai tradisional. Mengingat aspek emosional dan spiritual banyak dipelajari dari keterampilan sosial anak dalam lingkup interaksi langsung dengan orang lain. Model Determinan Pengasuhan Belsky Belsky memperkenalkan hasil penelitiannya mengenai pengasuhan orang tua yang memengaruhi perkembangan anak. Terdapat berbagai variabel yang diinteraksikan dalam model yang bangun oleh Belsky. Seperti sejarah perkembangan yang dimediasi oleh kepribadian, hubungan perkawinan orang tua, pekerjaan orang tua, jaringan sosial orang tua, dan karakteristik anak. Dalam teori ini kontribusi latar belakang orang tua memiliki pengaruh yang besar, begitupun dengan karakteristik anak, dan terdapatnya dukungan dari lingkungan terhadap perkembangan anak, yakni melalui pola pengasuhan.


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 385 Kolaborasi pengaruh dari karakterstik anak, latar belakang orang tua (melalui kualitas relasi perkawinan, sejarah perkembangan dan bentukan kepribadian), dan dukungan lingkungan (melalui jaringan sosial dan jenis pekerjaan), memberikan gambaran kompleksitas sumbangsih perkembangan anak dari berbagai aspek. Tidak hanya dilihat dari cara orang tua mengasuh anak, tapi lebih daripada itu dipengaruhi juga oleh dukungan dan sumber stres dari lingkungan serta bagaimana karakteristik bawaan dari anak (Belsky, 1984). Jika dipetakan, maka lingkungan terdekat anak memegang peranan dalam keberhasilan perkembangannya. Fokus utama adalah pada bagaimana orang tua membangun kepribadiannya dan mengontrol lingkungannya untuk memberikan pengasuhan terbaik pada anak. Sehingga berbagai hal yang bersinggungan dengan orang tua juga turut memegaruhi pola perkembangan anak. Hal ini sejalan dengan teori yang dikembangkan oleh Bronfenbrenner mengenai peran dari lapisan lingkungan pertama yaitu mikrosistem yang berisi orang tua dan lingkungan terdekat anak sebagai lapisan yang paling memengaruhi terbentuknya perilaku anak. Teori Belsky ini juga menekankan pada sejarah perkembangan individu sebagai salah satu variabel determinan pengasuhan anak. Ditarik ke konteks yang lebih luas, bahwa sejarah perkembangan sangat berkaitan dengan masa lalu orang tua dan riwayat pembentukan kepribadian orang tua melalui pengajaran nilai dan norma dalam lingkungannya dan dari orang tuanya. Faktor nilai dan norma dalam budaya menjadi satu penentu dalam membangun pondasi karakter anak (Andayani, 2004). Sistem nilai dan budaya dimana orang tua bertumbuh akan membentuk sistem nilai yang sama dalam membentuk cara pengasuhan oleh orang tua kepada anaknya. Sehingga pengaruh sejarah perkembangan orang tua menjadi realistis jika dikatakan berpengaruh pada pola pengasuhannya kelak. Dalam teori ini, sejarah perkembangan dimediasi oleh kepribadian orang tua. Sehingga pengaruh pengasuhan dipengaruhi langsung oleh kepribadian orang tua. Kualitas relasi perkawinan dan pekerjaan dari orang tua merupakan variabel yang turut memberikan sumbangsih dalam penentu pengasuhan anak. Hubungan yang baik dan harmonis dari orang tua dalam lingkup rumah tangga dan pekerjaan merupakan sumber stresor sekaligus sumber dukungan bagi orang tua dalam menjalankan perannya. Jika kualitas perkawinan baik, maka figur yang terbentuk sebagai orang tua juga turut berfungsi dengan baik (Day, 2010). Demikian juga dengan pekerjaan yang dijalankan. Jika pekerjaan dan pengasuhan saling mendukung, akan memberikan sumbangsih pada kestabilan emosi dan keseimbangan peran orang tua (Hand, 2006). Namun sebaliknya, jika pekerjaan memberikan banyak tuntutan dan relasi perkawinan tidak berjalan dengan baik, maka akan membawa stresor yang akan berdampak pada kualitas pengasuhan anak. Jika pengasuhan berjalan dengan stresor yang tidak terselesaikan, maka perkembangan anak tentu saja akan menjadi tidak maksimal terutama dalam hal perkembangan emosi. Relasi perkawinan dan pekerjaan juga memiliki pengaruh timbal balik dalam membentuk kepribadian orang tua yang merupakan mediator dari sejarah perkembangan orang tua.


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 386 Gambar 2. Model Determinan Pengasuhan Belsky. (Sumber: https://www.researchgate.net/publication/221769915_Predictors_of_Parenting_Stress_in_Patients_ with_Haematological_Cancer/figures?lo=1). Jaringan sosial dalam relasi orang tua dengan masyarakat juga menjadi variabel yang diperhitungkan dalam pengaruhnya pada pengasuhan anak. Besarnya pengaruh lingkungan orang tua membawa konsep pengasuhan banyak ditentukan oleh sejauh mana orang tua membentuk peran dan penyesuaian dalam masyarakat. Peran yang didapatkan dalam masyarakat membentuk nilai-nilai dan aturan yang diadaptasi oleh orang tua dalam membentuk perilaku. Nilai sosial yang didapatkan orang tua dari lingkungan masyarakat nantinya juga akan banyak memengaruhi nilai-nilai dan aturan yang akan ditetapkan oleh orang tua dalam pengasuhan anak. Sehingga anak akan banyak mendapatkan bentuk nilai yang diajarkan oleh orang tua berdasarkan referensi yang didapatkan dari lingkungan sosial atau masyarakat. Sejalan dengan variabel sejarah perkembangan orang tua, variabel jaringan sosial juga banyak memberikan asupan nilai sosial dan budaya kepada orang tua sehingga anak memiliki peluang besar menginternalisasi nilainilai sosial dan nilai buday dari ingkungan masyarakat tersebut melalui pengasuhan orang tua. Interaksi antara pengasuhan orang tua, hubungan sosial orang tua, kepribadian orang tua dan karakteristik anak dalam model teori Belsky ini memberikan gambaran penting bahwa kompleksitas peran orang tua harus diperhatikan dalam membentuk perilaku mengasuh anak. Tidak hanya secara langsung pribadi orang tua yang membentuk karakter anak, namun lebih luas dari itu terdapat peran unsur-unsur lain yang secara langsung memengaruhi kepribadian orang tua seperti sejarah perkembangan orang tua (masa lalu yang membentuk diri orang tua), hubungan dengan pasangan (relasi perkawinan), dan jenis serta kualitas pekerjaan orang tua menjadi unsur yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Demikian juga dengan unsur lingkungan lain berupa jaringan sosial dengan keluarga besar dan masyarakat juga menjadi penting karena menjadi sumber internalisasi nilai-nilai moral dan nilai budaya bagi orang tua. Semetara karakteristik anak menjadi unsur bawaan yang meeskipun terbawa oleh anak sejak lahir, namun jika pengaruh lingkungan sosial dan budaya memberikan pengaruh yang besar, maka karakteristik khas anak akan berproses dengan nilai-nilai yang didapatkan di lingkungan. Nilai sosial dan budaya yang disinggung dalam sejarah perkembangan dan jaringan sosial orang tua, mempertegas bahwa internalisasi nilai banyak diberikan oleh orang tua kepada anak melalui pengasuhan. Dengan kata lain, referensi utama nilai sosial dan budaya yang dipelajari oleh anak adalah dari internalisasi nilai yang didapatkan dari orang tua. Memosisikan teori ini dengan era modernisasi, peran orang tua dalam menjangkau penanaman nilai anak sangat besar. jika orang tua banyak mengambil alih dengan


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 387 menginternalisasikan nilai-nilai yang dipelajari dari ilngkungan masyarakat dan budaya, maka menjadi perisai bagi anak dalam menangkal dan menyeimbangkan masuknya nilai modern dalam lingkungannya. Namun, tentu saja orang tua harus punya bekal referensi nilai sosial dan budaya yang kuat yang terbentuk dari sejarah perkembangan dan relasi sosial orang tua sendiri. Model Ekokultural Berry & Geogras Berry (2007) mengungkapkan bahwa dalam lingkungan masyarakat terdapat tiga proses pengenalan dan penanaman nilai dalam diri individu, yaitu enkulturasi, sosialisasi, dan akulturasi. Ketiga proses itu terbentuk dari sumber yang datang dari dalam budaya itu sendiri maupun dari luar budaya tersebut. Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman nilai dan kebiasaan dan atau aturan yang berasal dari satu generasi menuju kepada generasi selanjutnya dalam lingkup komunitas atau bentuk masyarakat. Sosialisasi ini terbagi atas dua jenis, yaitu sosialisasi primer yang didapatkan dalam lingkup keluarga, dan sosialisasi sekunder yang diperoleh dari masyarakat (Wikipedia, 2014). Sementara Enkulturasi adalah proses mempelajari bentukan nilai-nilai maupun norma sebuah kebudayaan yang didapatkan individu selama proses hidupnya. Adamson menjelaskan bahwa proses enkulturasi merupakan keadaan dimana individu secara sadar ataupun tidak, memiliki kompetensi dalam budaya yang ada dilingkungannya dan terjadi proses internalisasi atas budaya tersebut. Proses enkulturasi akan menghasilkan identitas pribadi dalam sebuah kelompok. Dasar terbentuknya enkulturasi dimulai dari pendidikan nonformal yang berasal dari keluarga atau teman dekat (Wikipedia, 2017). Akulturasi adalah proses yang muncul ketika sebuah kelompok individu dan sebuah kebudayaan diinteraksikan dengan kebudayaan lainnya yang masih asing. Kebudayaan baru yang masih asing kemudian akan masuk dalam kebudayaan asli, diterima, dan pada akhirnya melebur kedalam budaya asli tersebut namun tidak menghilangkan unsur dasar dari kebudayaan aslinya. Kebudayaan asli dan asing menyatu sehingga menimbulkan sebuah harmonisasi bentukan budaya baru (Wikipedia, 2019). Proses sosialisasi dan enkulturasi merupakan tahap awal terjadinya akulturasi. Contoh proses akulturasi dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh Satrio (2019) dalam lingkungan masyarakat Padulungan di Jawa, dimana didapatkan gambaran bahwa masyarakat tersebut merupakan hasil percampuran antara etnis Madura dan Etnis Jawa. Perkembangan budaya di daerah tersebut memakai prinsip integrasi. Masyarakatnya tetap memgang teguh nilai-nilai dari budaya Madura yang merupakan budaya asal mereka, namun tetap mempelajari dan menginternalisasi nilai Jawa dimana mereka tinggal. Proses akulturasi pada prinsipnya akan terjadi ketika nilai budaya asli terbuka untuk menerima nilai budaya baru yang akan berakulturasi. Gambar 3. Teori Ekokultural (Berry & Geogras dalam Lestari, 2013)


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 388 Prinsip teori ekokultural sangat menekankan pada terjadinya proses internalisasi dan transmisi nilai primer yang berlangsung dalam keluarga. hal ini dapat dilihat pada gambar proses diatas, dimana tahapan sosialisasi dan enkulturasi yang merupakan kunci dari proses internalisasi nilai dasar yang didapatkan dari lingkungan orang tua, orang lain, dan teman sebaya. Arah vertikal menunjukkan bahwa terjadinya internalisasi dan transmisi nilai orang tua menyangkut keyakinan, motif, keterampilan hingga nilai budaya (Lestari, 2013). Konsep arah vertikal inilah yang paling mendasar, meskipun arah horizontal (internalisasi dan transmisi dari teman sebaya) dan miring (orang lain, lembaga) juga memiliki peranan dan pengaruh tersendiri. Selanjutnya tahap akulturasi lebih melibatkan lingkungan yang lebih luas yaitu teman sebaya dan orang lain atau masyarakat luas. Peran orang tua terlhat sudah tidak sampai pada tahapan ini. Dalam proses akulturasi antar budaya, sangat ditentukan sejauh mana kuatnya internalisasi nilai dari orang tua dan orang terdekat dalam menanamkan nilai-nilai dasar dan budaya. Karena akulturasi budaya mempertaruhkan budaya asli untuk diintegrasikan dengan budaya baru. Budaya baru lebih kuat, maka sejalan dengan perkembangan jaman bukan tidak mungkin budaya lama akan tergerus oleh budaya baru dan modern serta akan menghilangkan esensi dasar nilai budayanya. Teori ekokultural memosisikan antara nilai, budaya, dan unsur psikologis individu dalam membentuk nilai pribadi yang akan dibentuk dalam diri individu sebagai proses adaptasinya dengan lingkungan. Nilai yang dibangun adalah nilai individual yang merupakan dasar bentukan kepribadian, maupun nilai kolektif yang akan dipakai dalam interaksinya dengan masyarakat dalam lingkup kebudayaanya. Konsep ekokultural sendiri sangat berhubungan dengan teori ekologi Bronfenbrenner (yang dijelaskan sebelumnya). Hal ini dapat dilihat dari konsep utama mengenai faktor biologis yang berkembang dalam diri individu, dan budaya sebagai bagian penting dari lingkungan yang akan membentuk pengetahuan sosial dalam diri individu (Markus & Hamedani, 20017). Konsep dua teori ini saling bersinggungan dalam berbagai aspek. Disinggung dalam penjelasan teorinya, Berry dan Geogras (2009) menempatkan transmisi vertikal yang diperankan oleh orang tua sebagai tahapan pertama dalam proses internalisasi dan transmisi budaya dalam diri individu. Hal ini sejalan dengan konsep determinan pengasuhan Belsky yang menyebutkan bahwa pengasuhan adalah faktor penentu dalam perkembangan individu. Sehingga dalam konteks perkembangan, pengenalan nilai, penanaman nilai, dan pemahaman mengenai budaya dasar (asli) dimana anak hidup dan berkembang, memang selayaknya diperankan oleh orang tua selama proses pengasuhan anak sebelum anak mengenai nilai dan budaya yang lebih luas melalui proses akulturasi. Internalisasi dan transmisi vertikal membentuk interaksi antara reproduksi biologis dan kultural. Dengan kata lain, transmisi budaya yang diawali dengan internalisasi nilai budaya melalui orang tua semakin menegaskan mengenai kolerasi antara kualitas pengasuhan dengan keberhasilan proses internalisasi dan transmisi budaya. Teori ekokultural menawarkan pemikiran yang lebih luas mengenai diri individu dan lingkungan yang berisi nilai sosial dan budaya. Bagaimanapun, sepanjang kehidupan individu akan selalu dihadapkan pada perkembangan dan konteks sosial budaya (Albert & Trommsdorff, 2014). Aspek sosial menggambarkan penanaman nilai yang berasal dari orang tua, teman dekat, dan masyarakat lebih luas. Sementara aspek budaya tentu saja terlihat pada isi internalisasi dan transmisi dari interaksi individu dengan lingkungannya. Melalui teori ini, dapat disimpulkan bahwa dinamika perkembangan individu melingkupi perkembangan individu itu sendiri, interkasi individu dengan orang terdekatnya, yaitu orang tua melalui pengasuhan, relasi sosial individu secara lebih luas dengan teman dan masyarakat, serta nilai-nilai budaya setempat yang membingkai perkembagan sosial individu tersebut.


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 389 SIMPULAN Teori-teori yang dibahas diatas merupakan suatu upaya untuk menemukan benang merah mengenai aspek sosial dan budaya yang terkandung di dalam setiap teori. Pemilihan teori ekologi, teori determinan pengasuhan, dan teori ekokultural dilakukan dengan melalui proses analisis mengenai isi teori hingga sampai pada penemuan aspek yang saling berkaitan dan saling mendukung antar teori. Teori ekologi melalui lapisan lingkungan yang mengelilingi individu dilihat dari perspektif penekanannya pada aspek perkembangan individual yang tidak lepas dari kulitas interaksi dengan orang tua (pengasuhan) dan lingkungan yang menawarkan nilai sosial dan budaya. Hal ini berhubungan dengan teori determinan pengasuhan yang berfokus pada kualitas pengasuhan yang memengaruhi perkembangan individu. Didalamnya menekankan pada nilai pribadi, sosial, dan budaya yang dibawa oleh orang tua dan diinternalisasikan pada anak melalui pengasuhan. Sementara teori ekokultural yang sangat khas membahas mengenai perkembangan nilai budaya dalam diri individu, juga menyinggung relasi vertikal antara individu dengan orang tuanya sebagai tahapan pertama dan utama yang membentuk internalisasi dan transmisi nilai budaya. Teori ekokultural juga menekankan peran lingkungan yang lebih luas dalam membentuk nilai didalam diri individu pada tahapan selanjutnya. Hasil reviu ketiga teori tersebut kemudian dijelaskan dalam bentuk gambar dengan melakukan kolaborasi teori dan mengelaborasi konten dari teori-teori tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang lebih rinci dan sederhana mengenai aspek-aspek yang saling bersinggungan dan berkaitan antar teori. Sejalan dengan pemikiran penulis, didapatkan dalam beberapa referensi bahwa teori ekologi dan teori determinan pengasuhan memang memiliki aspek yang sejalan. Demikian pula dalam teori ekologi dan teori ekokultural yang juga oleh beberapa referensi membahas keterkaitan keduanya. Sehingga kajian teori ekologi, determinan pengasuhan, dan ekokultural dalam tulisan ini, merupakan hasil analisis penulis yang diriviu dari berbagai referensi. Gambar 4. Keterkaitan Teori Ekologi, Determinan Pengasuhan dan Ekokultural.


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 390 Lapisan lingkungan dalam teori ekologi Bronfenbrenner yang berisi kronosistem, makrosistem, eksosistem, dan mikrosistem saling berkaitan dengan variabel determinan dalam pengasuhan Belsky. Yaitu sejarah perkembangan orang tua, jaringan sosial orang tua, lingkungan dan jenis pekerjaan orang tua, karakteristik anak, dan relasi perkawinan orang tua. Lapisan kronosistem (waktu, sejarah) dan makrosistem (nilai budaya, ideologi) menggambarkan sejarah perkembangan individu yang membawa nilai-nilai sosial dan budaya dari lingkungan. Pada lapisan eksositem (lapisan penghubung antara mikrosistem dan makrosistem) berisi jaringan sosial dan lingkungan pekerjaan orang tua yang merupakan mediator yang mempengaruhi kualitas pengasuhan orang tua dalam mengajarkan anaknya tentang nilai. Jika pada lapisan makrosistem berisi nilai yang kuat, maka pada lapisan mesosistem hingga mikrosistem, orang tua akan banyak membawa nilai-nilai sosial dan budaya dalam pengasuhannya. Sementara pada lapisan mikrosistem (orangtua, keluarga dekat, teman, dll) merupakan lapisan terdekat yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian anak. Karakteristik anak dan relasi perkawinan serta komunikasi orang tua akan banyak mempengaruhi anak dalam membentuk nilai-nilai yang diyakini. Sementara keterkaitan antara teori ekologi dan teori ekokultural yang berisi tahap sosialisasi, enkulturasi dan akulturasi, tampak pada lapisan makrosistem dan mikrosistem. Pada lapisan makrosistem, akan terjadi proses sosialisasi, enkulturasi, dan akulturasi. Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan analisis teori diatas, bahwa proses sosialisasi terjadi dalam lingkungan keluarga, teman, dan lingkungan masyarakat. Sosialisasi merupakan proses awal individu akan menyeleksi nilai-nilai yang akan diinternalisasi dalam proses enkulturasi. Proses sosialisasi berlangsung dalam lapisan makrosistem dan mikrosistem. Sama halnya dengan sosialisasi, proses enkulturasi juga terjadi dalam lapisan makrosistem dan mikrosistem. Sementara tahap akulturasi lebih menekankan pada integrasi nilai dan budaya dasar yang dibangun dalam proses perkembangan, dengan nilai dan budaya baru yang akan masuk dalam lingkungan individu. Akulturasi ini menjadi tahapan yang membentuk budaya baru hasil dari internalisasi nilai budaya asli dengan budaya baru, sebagai contoh interaksi budaya trandisional (lokal) dan budaya modern (hasil perkembangan teknologi). Meleburnya budaya tradisional dan budaya modern akan tampak pada akulturasi budaya. Hal ini yang diharapkan dapat dibentuk dalam lingkungan anak di era digital. Akulturasi budaya tidak diartikan tergantikannya budaya lama yang orisinil dengan budaya baru yang lebih modern, namun lebih pada membentuk harmonisasi antara penemuan-pemenuan baru dalam budaya modern yang dapat memfasilitasi dipertahankannya budaya tradisional. Internalisasi nilai melalui pengenalan akulturasi budaya sangat penting karena anak perlu mempelajari, memiliki karakter sesuai bentukan budaya aslinya, namun tidak menutup diri mempelajari budaya modern yang memperluas pengetahuan anak tentang lingkungan dan dunia. Perkembangan karakter individu sangat ditentukan bagaimana individu memainkan peran sosialnya, mengenal dan mempertahankan esensi budayanya serta mengembangkan diri melalui fasilitas teknologi. DAFTAR PUSTAKA Afiatin, T., Dkk. (2018). Psikologi Perkawinan dan Keluarga: Penguatan Keluarga di Era Digital Berbasis Kearifan Lokal. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Albert, L. & Trommsdorff, G. (2014.) the role of cultural in socialdevelopment over the life span: An interpersonal relation approach. Online reading in psychology and culture, Vol 6(2). (diakses dari: https://doi.org/10.9707/2307-0919.1057. Pada 7 Agustus 2019).


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 391 Andayani, B. (2004). Tinjauan pendekatan ekologi tentang perilaku pengasuhan orang tua. Buletin Psikologi. Vol. 1: 44-58. Anderson, E.R. & Mayes, L.C. (2008). Ras/ethnicity and internalizing disorders in youth: A review. Clinical Psychology Review, Vol. 30: 338-348. doi:10.1016/j.cpr.2009.12.008. Barni, D., Ranieri, S., Scabini., & Rosnati, R. (2011). Value transmission in family: do adolescents accept the value their parents want to transmit?. Journal of Moral Education. Vol. 40(10: 105-121. doi: 10.1080/03057240.2011.553797. Barni, D., Knafo, A., Arieh, A.B., & Yahia, M.H. (2014). Parent-child value similarity across and within cultures. Journal of Cross-Cultural Psychology, Vol. 45(6): 853-867. DOI: 10.1177/0022022114530494 Belsky, J. (1984). The determinants of parenting: a process model. Child Development, Vol. 55: 98-96. doi: 36.72.214.231. Berry, J.W. (2007). Acculturation. Dalam J.E. Grusec & P.D. Hastings (Eds.), Handbook of socialization: Theory and research (2ndEd) (pp.533-558). New York: Guilford Press. Berry, J.W. & Georgras, J. (2009). An ecological perspective on cultural transmission. Dalam Schonpflug (Ed.). Cultural transmission psychological, developmental, social, and methodological aspects. (pp.218- 230). Cambridge: Cambridge University Press. Bronfenbrenner, U. (1975). The ecology of human development: experiments by nature and design. Cambridge: Harvard University Press. Bronfenbrenner, U. (2001). Human development, bioecological theory of. International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences. (Pp. 6963-6970). (diakses dari: https://doi.org/10.1016/B0-08- 043076-7/00359-4, pada 27 Agustus 2019). Bronfenbrenner, U., & Morris, P. A. (2006). The Bioecological Model of Human Development. Dalam R. M. Lerner & W. Damon (Eds.), Handbook of child psychology: Theoretical models of human development (pp. 793-828). Hoboken, NJ, US: John Wiley & Sons Inc. Boehnke, K. (2001). Parent-offspring value transmission in a social kontext: Suggestions for Utopian research design-with empirical underpinnings. Journal of Cross Cultural Psychology, Vol 32 (2): 241- 255. Chen, Z.Y., Liu, R.X., & Kaplan, H.B. (2008). Mediating mechanisms for the intergenerational transmission of constructive parenting. Journal of Family Issues, Vol. 29 (12): 1574-1599. DOI: 10.1177/0192513X08318968. Connolly, M. (1990) . Adrift in the city: A comparative study of street children in Bogota, Colombia and Guatemala City. Dalam N. Boxhill (Ed.), Homeless children: The watcher sand the waiters (pp. 129- 149). NewYork: HaworthPress.


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 392 Day, R.D. (2010). Introduction to Family Processes 5th ed. London: Routledge Taylor & Francis Group. Demirutku, K. (2007). Parenting Style, Internalization of Value, & the Self Concept. Thesis (Not Publised). Ankara: Social Sciences Department, Middle East Technical University. Gardiner, H.W. & Kosmitzi, C. (2011). Lives across culture 5th Ed. Boston: Allyn & Bacon. Hand, K. (2006). Mothers’ accounts of work and family decision-making in couple families: an analysis of the family and work decisions study. Familiy Matter. No. 75: 70-76. Heck, S. & Rogers, M. (2015). Are you ready for the resource revolution?. Mc.Kinsey Quarterly, Vol. 2: 32-45. Hoghughi, M., & Long, N. (2004). Handkbook of Parenting: Theory and Research for Practice. London: Sage Publication Ltd. Kildare, C.A. & Middlemiss, W. (2017). Impact of parents mobile device use on parent-child interaction: a literature review. Computer in Human Behavior. Vol 75: 579-593. Lestari, S. (2008). Pengasuhan Orang Tua dan Harga Diri Remaja: Studi Meta Analisis. Anima, Indonesian Psychological Journal. 24(1), 17-25. Lestari, S. (2013). Konsep dan Transmisi Nilai-Nilai Jujur, Rukun, dan Hormat. (Disertasi tidak dipublikasikan). Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Lieberman, Alicea. & Schroeder, J. (2019). Two social live: How differences between online and offline interaction influence social outcomes. Current Opinion in Psychology. Vol 31: 16-21. Litina, A., Moriconi, S. & Zanaj, S. (2016). The Cultural Transmission of Environmental Values: A Comparative Approach. World Development. Vol 84: 131-148. Diakses dari https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2016.03.016, pada tanggal 5 April 2019. Markus, H.R. & Hamedani, M.G. (2007). Sosiocultural psychology: the dynamic interdependence among self system and social systems. dalam Kitayama, S. & Cohen, D. Hanbook of cultural psychology. New York: The Guilford Press. Roblek, V., Mesko, M., & Krapez, A. (2016). A Complex View of Industry 4.0. SAGE Open: 1-11. Ruiz, K.R., Sanchez, L.E., Plata, J.P., Giraldo, S.V., Cardona, M.A., Avendano, C.H., Arias, A.V., & Piedrahita, L.B. (2017). Information and communication technologies impact on family relationship. Procedia-Social Behavioral Scieces, Vol. 237: 30-37. doi: 10.1016/j.sbspro.2017.02.007. Satrio, P. (2019). Transmisi Budaya dan Identitas Sosial pada Masyarakat Padulungan. Prosiding Seminar Nasional & Call For Paper Psikologi Sosial. Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang.


Naskah Prosiding Temilnas XI IPPI (Malang, 20-21 September 2019) ISBN : 978-60274420-7-8 393 Stattin, H & Kim, Y. (2018). Both Parents and Adolescents Project Their Own Value When Perceiving Each Other’s Value. International Journal of Behavioral Development. Vol. 42 (1): 106-115. doi: 10.1177/0165025417713728. Tam, K.P., Lee, S.L., Kim, Y.H., Li, Y. & Chao, M.M. (2012). Intersubjective Model of Value Transmission: Parents Using Perceived Norms as Reference When Socializing Children. Personality and Social Psychology Bulletin. Vol. 38(8): 1041-1052. doi: 10.1177/0146167212443896. Thalib, S.B. (2010). Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif. Jakarta: Penerbit Kencana. White, J.M. & Klein, D.M. (2008). Family Theories 3rd Ed. Los Angeles: Sage Publications, Inc. White, J.M., Klein, D.M., & Martin, T.F. (2015). Family theories 4th Ed. Los Angeles: Sage Publications, Inc. Wikipedia. (2014). Sosialisasi. (diakses dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisasi. Pada 4 Agustus 2019). Wikipedia. (2017). Enkulturasi. (Diakses dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Enkulturasi. Pada 4 Agustus 2019). Wikipedia. (2019). Akulturasi. (diakses dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi. Pada 4 Agustus 2019).


Click to View FlipBook Version