The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

media ini dapat digunakan untuk melakukan bimbingan dan penyuluhan diwilayah binaan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by desak.ersanidewiyanti, 2022-09-27 19:58:19

Makna dan filosofi tumpek wariga

media ini dapat digunakan untuk melakukan bimbingan dan penyuluhan diwilayah binaan.

Keywords: Tumpek Wariga

TUMPEK WARIGA

Makna dan Filosofi

Oleh
Desak Gede Ersani Dewi Yanti, S.Pd.H

2022

Makna dan Filosofi Tumpek Wariga

Tumpek Wariga (Pengatag) jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Wariga pada kalender Bali,
tepatnya 25 hari sebelum hari raya Galungan. Pada hari Tumpek Wariga ini umat Hindu Bali
menghaturkan sesajen kepada tumbuh-tumbuhan sebagai rasa syukur atas adanya tumbuh-
tumbuhan yang telah membantu kita di kehidupan ini. Karena tumbuhan telah memberikan kita
oksigen, menghasilkan buah yang bisa kita petik dan juga sayur yang bisa kita makan. Banyak
orang diluar agama Hindu yang salah menduga tentang maksud dari menghaturkan sesajen
kepada tumbuhan ini dianggap sebagai memuja tumbuh-tumbuhan, padahal agama Hindu sendiri
mengajarkan konsep hidup Tri Hita Karana (Tiga Penyebab Kebahagiaan) diantaranya :

 Hubungan manusia dengan Tuhan
 Hubungan manusia dengan Alam
 Hubungan Manusia dengan Manusia
Dimana kita sebagai manusia harus paham dengan konsep hidup ini dan menjaga hubungan baik
kita dengan Tuhan, Alam sekitar, dan juga sesama Manusia itu sendiri. Jadi yang di puja disini
bukanlah tumbuhannya, melainkan tuhan yang telah menciptakan tumbuhan sehingga manusia
bisa hidup tidak kekurangan oksigen dan gizi.
Makna dari Tumpek Wariga
Tumpek Wariga adalah sebagai bentuk pemujaan atau rasa syukur kita sebagai manusia
kepada Sanghyang Sangkara dimana, beliau merupakan manifestasi dari Ida Sanghyang
Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam menciptakan dan memelihara seluruh tumbuh-
tumbuhan yang ada di dunia. Dalam Dewata Nawa Sanga, Sang Hyang Sangkara menguasai
arah Barat Laut, Aksara suci beliau adalah "Si (Sing)" dan beliau digambarkan berwarna hijau,
senjata beliau bernama Angkus.

Dalam Kitab Sundarigama disebutkan:

“Wariga saniscara kliwon ngaran panguduh puja wali Sang Hyang Sangkara, apan sira
amrtaken sarwaning tumuwuh, kayu-kayu kunang widhi widhanya : Pras tulung, sesayut,
tumpeng, bubur mwang tumpengagung iwaknya guling bawi, itik wenang, saha raka, panyeneng
tetabuh. Kalinganya anguduh ikang awoh mwang godong dadya pamrtaning hurip ring manusa,
sesayut cakragni. Kalinganya anuduh kna adnyana sandhi”

Artinya :

Wuku wariga yakni pada hari Saniscara Kliwon disebutlah hari panguduh, suatu hari untuk
memuja Sanghyang Sangkara sebab beliaulah yang menciptakan segala tumbuh-tumbuhan
termasuk kayu-kayuan. Adapun upakaranya peras, tulung, sesayut, tumpeng bubur dan tumpeng
agung dengan daging babi atau itik diguling. Baik pula disertai raka-raka (jajan dan buah-
buahan) penyeneng, tetebus dan sesayut caleragni. Adapun bebanten tersebut diatas ialah :
mendoakan semoga atas rahmat Hyang Widhi maka segala tumbuh-tumbuhan dapat tumbuh
subur, lebat buahnya bersemi dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan manusia dalam
ketemtraman hati serta kesejahteraan lahir batin.

Upakara Yang Diperlukan Dalam Pelaksanaan Tumpek Wariga
Dalam kitab Sundarigama disebutkan upakara yang diperlukan dalam pelaksanaan Tumpek
Wariga adalah sebagai berikut :

1. Peras, Tulung Sayut
2. Tumpeng Agung
3. Bubur Sumsum
4. Babi guling/ Itik guling sebagai ulam (daging)
5. Penyeneng
6. Tetebus dan Penyayut Celeragni.

Upakara yang digunakan di setiap daerah mungkin berbeda-beda satu dan yang lainnya, ini
mengacu pada Desa Kalapatra di Desanya masing-masing.

Banten atau Upakara pada hari Tumpek Wariga dihaturkan menghadap ke arah Kaja
Kauh (Barat Laut) sesuai dengan arah Sanghyang Sangkara dalam Dewata Nawa Sanga. Lalu
di sasap dan gantungannya di diikatkan ke batang pohon dan dihaturkan bubur sumsum lalu
di "Atag" diketok-ketok 3 kali dengan pisau tumpul (tiuk puntul) sambil mengucapkan mantra :

“Kaki-kaki, dadong dija? Dadong jumah gelem kebus dingin ngetor. Ngetor ngeed-ngeed-
ngeeed-ngeeed, ngeed kaja, ngeed kelod, ngeed kangin, ngeed kauh, buin selae lemeng galungan
mebuah pang ngeeed”

Artinya : “Kakek-kakek, nenek dimana? Nenek dirumah sakit panas mengigil. Mengigil lebatt-
lebatt-lebattt-lebattt, lebat di utara, lebat di selatan, lebat di timur, lebat di barat, lagi dua puluh
lima hari hari raya galungan berbuahlah dengan lebat”

Mantra tersebut merupakan wujud pengharapan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas
segala berkah dan anugrah beliau dalam bentuk pohon atau tumbuh-tumbuhan yang berbatang
kokoh daun rindang dan berbuah lebat.

Pantangan Dalam Tumpek Wariga

Pada hari Tumpek Wariga ini umat Hindu Bali tidak diperkenankan untuk memotong
pohon, memetik buah, bunga serta daun. Justru sebaliknya mereka diharapkan pada hari
Tumpek Wariga ini sebaiknya menanam pohon. Maknanya dalam hal ini adalah diharapkan umat
Hindu menyelaraskan diri dengan alam baik itu dalam hal Upakara maupun Tindakan.

Makna Penggunaan Bubur Pada Hari Tumpek Wariga

Terkadang kita kurang mengerti tentang arti atau makna dari sebuah persembahan dan ujung-
ujungnya kalau di tanya sama orang lain atau generasi kita yang timbul hanyalah jawaban "Nak
dapet mule keto" oleh sebab itu pentingnya kita menanamkan rasa KEPO terhadap hal-hal yang
berhubungan dengan sejarah dan tradisi kita karena ini merupakan jati diri kita yang harus kita
lestarikan dan turunkan hingga ke anak cucu kita. Nah.. makna dari penggunaan Bubur
Sumsum pada hari Tumpek Wariga ini menurut bapak I Ketut Wiana dimana, beliau adalah
seorang penceramah Agama Hindu mengatakan bahwa bubur sumsum merupakan lambang
"Kesuburan". Dimana dalam perayaan hari Tumpek Wariga ini memang sebuah hari dimana kita
mengucap syukur kepada yang maha kuasa atas kesuburan yang telah diberikan sehingga segala
macam tumbuhan bisa tumbuh dengan baik dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup umat
manusia. Biasanya bubur yang dihaturkan berwarna merah dan putih. Warna merah
melambangkan Purusa dan warna putih melambangkan Pradana dimana, penyatuan kedua
unsur tersebut menyebabkan lahirnya kehidupan.

Nah itulah makna dari perayaan hari Tumpek Wariga yang telah kami rangkum dari berbagai
sumber semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua yang ingin mencari tahu tentang
makna dari sebuah Upakara maupun Hari Raya itu sendiri. Jika ada kekurangan atau masukan
bisa komen di bawah ini Suksma semoga kita selalu diberkati dengan pengetahuan dan bisa
tetap menjaga tradisi leluhur kita..

Makna Tumpek Wariga Hindu Bali - Kopi Cola

Source: https://www.kopicola.my.id/2020/02/makna-tumpek-wariga-hindu-bali.html


Click to View FlipBook Version