MAKALAH
Ilmu Yang Mendukung Perkembangan Teknologi Pendidikan
Dibuat untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Tekhnologi dan Media Pembelajaran
Dosen Pengampu: Dr. Agus Setiawan, M.Pd. I
Disusun oleh Kelompok II:
Gafirah Nur Fatimah 2111101010
Nur Agniy Kasyfiati 2111101023
Indah Nurul Hikmah 2111101010
Febian 2111101291
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN AJI MUHAMMAD
IDRIS SAMARINDA
TAHUN 2022
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.................................................................................................................................... i
A. PENDAHULUAN...................................................................................................................... 1
1. Latar Belakang ............................................................................................................................ 1
2. Rumusan Masalah ....................................................................................................................... 1
3. Tujuan Penelitian ........................................................................................................................ 1
B. PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 2
1. TP Sebagai Konstruk Teoritik, Bidang Garapan dan Profesi ..................................................... 2
2. Disiplin Ilmu yang Mendukung Perkembangan TP.................................................................... 5
3. Hakekat Teknologi pendidikan ................................................................................................... 6
PENUTUP..................................................................................................................................... 10
Kesimpulan ................................................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 11
i
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Teknologi merupakan bagian integral dalam setiap budaya. Makin
suatu budaya, semakin banyak yang semakin canggih teknologi yang
digunakan. Teknologi diterapkan di semua bidang kehidupan, diantaranya
bidang pendidikan. Teknologi pendidikan karena beroperasi di seluruh
bidang pendidikan secara integratif, yaitu secara rasional berkembang dan
terjalin dalam berbagai bidang pendidikan. 1
Menurut Menteri Pendidikan Daoed Joesoef yang dikutip oleh
Herman, Arif Anissa, Imam Mashudi dan beberapa penulis lainnya dalam
bukunya yang berjudul Teknologi Pengajaran mengatakan bahwa teknologi
diterapkan di semua bidang kehidupan, diantaranya bidang pendidikan.
Teknologi pendidikan ini beroperasi dalam seluruh bidang pendidikan secara
integratif, yaitu secara rasinal berkembang dan terjalin dalam berbagai bidang
pendidikan. 2
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana TP sebagai konstruk teoritik, bidang garapan dan profesi?
b. Bagaimana Disiplin ilmu yang mendukung perkembangan TP?
c. Bagaimana Hakekat Teknologi Pendidikan?
C. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui TP sebagai konstruk teoritik, bidang garapan dan profesi.
b. Untuk mengetahui disiplin ilmu yang mendukung perkembangan TP.
1 Yusufhadi Miarso, “Menyemai Benih Teknologi Pendidikan”, (Jakarta: Kencana, 2004), h.
142.
2 Herman, Arif Annisa, et.al., “Teknologi Pembelajaran”, (Sumatera Barat: PT Global
Eksekutif Global, 2022), h. 25.
1
c. Untuk mengetahui Hakekat Teknologi Pendidikan.
B. PEMBAHASAN
1. TP Sebagai Konstruk Teoritik, Bidang Garapan dan Profesi
Teknologi pendidikan sebagai konstruk teoritik, sebuah abstraksi
yang mencakup serangkaian ide dan prinsip tentang cara bagaimana
pendidikan dan pembelajaran harus dilaksanakan dengan menggunakan
teknologi. Teknologi pendidikan sebagai konstruk teori dapat didefinisikan
sebagai abstraksi yang menggabungkan kumpulan konsep dan prinsip
tentang bagaimana pendidikan dan pembelajaran harus dilakukan dengan
memanfaatkan teknologi. 3
Kata “teori”, yang dalam percakapan istilah-hari sebagai lawan kata
praktik, yang memiliki definisi jelas, yaitu serangkaian prinsip, fakta yang
menerangkan hubungan berbagai fakta dan memprediksi hasil baru
berdasarkan fakta tersebut. 4 Sedangkan menurut Whitehead yang dikutip
oleh Dinda dalam artikelnya memaparkan bahwa,
pengertian pendidikan teknologi yaitu praktek profesional yang tidak
terlepas dari pemahaman teoritis, atau sebaliknya, pertentangan terhadap
profesi ialah pelaksanaan tugas (pekerjaan) berdasarkan kebiasaan yang
berimbang. 5 Karakteristik teori ditandai sebagai berikut:
3 Budiharto, Triyono, Suparman, “Pengaruh Teknologi Pendidikan Pada Era Revolusi
Industri 4.0”, dalam Jurnal Ilmu-Ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan, edisi No. 2, Vol
6, 2019.
4 Andi Kristanto, “Aplikasi Teknologi Pendidikan di Sekolah” dalam Jurnal Tekpen, edisi
No. 1, Jil. 4, 2016.
5 Dinda, “TEP Sebagai Konstruk Teori dan Bidang Garapan”, scribd (Malang), 9 Desember
2014, diakses 5 september 2022. Https://www.scribd.com//249619678/TEP-Sebagai-Kontruk
-Teori-Dan-Bidang-Garapan.
2
a. Adanya gejala. Suatu teori harus memiliki beberapa gejala yang belum
dipahami sejelas mungkin berdasarkan pengetahuan saat ini.
b. Menjelaskan. Suatu teori menjelaskan mengapa dan bagaimana suatu
fenomena yang terjadi (dari pada hanya mengklaim bahwa suatu fenomena
ada).
c. Merangkum. Suatu teori memberikan ringkasan yang sudah diketahui
tentang hubungan antara sejumlah besar informasi empiris, konsep, dan
generalisasi.
d. Memberikan orientasi. Bertujuan untuk mengidentifikasi dan
mengklarifikasi fakta yang akan diselidiki (diinvestigasi) dan memberikan
orientasi untuk membedakan antara relevan dan data tidak relevan.
e. Mensistematikan. Menyediakan skema untuk mengatur,
mengklasifikasikan, dan menghubungkan semua gejala, asumsi, dan
proposisi yang kompatibel.
f. Mengidentifikasi kesenjangan. Dengan mencari area yang relevan tetapi
diabaikan atau belum terselesaikan dibawah penyelidikan saat ini atau
masa depan.
g. Melahirkan strategi untuk keperluan riset. Memberikan dasar untuk
membentuk hipotesis dan melakukan riset secara detail dari penjelasan itu.
h. Prediksi, yaitu teori yang mampu memprediksi atau mengungkapkan lebih
dari yang diketahui dengan didasarkan pada data empiris sehingga
memungkinkan untuk mengekstrapolasi dan memprediksi fakta dan
hipotesis baru yang belum diketahui pada saat ini. 6
Teknologi pendidikan dalam bidang garapan
6 Andi Kristanto, "Aplikasi Teknologi Pendidikan Di Sekolah", dalam Jurnal Tekpen, edisi
No. 1, Jil. 4, 2016.
3
Dalam bidang garapan, teknologi pendidikan terkadang disebut
sebagai profesi yang berkaitan dengan memfasilitasi proses pembelajaran di
berbagai jenjang pendidikan dan pelatihan. Memfasilitasi pembelajaran yang
dimaksudkan terjadi melalui proses penemuan, pengembangan dan
pembelajaran. Mengatur dan menggunakan sumber belajar secara sistematis.
Sedangkan menurut Prawiradilaga yang dikutip oleh Septy
Achyanadia menjelaskan pengertian teknologi pendidikan: bidang garapan
yang terlibat dalam penyiapan fasilitas belajar (manusia) melalui pengajaran,
pengembangan, pengorganisasian, dan penggunaan semua sumber belajar
secara sistematis. 7 Karakteristik bidang garapan diidentifikasi, yakni:
a. teknik intelektual, ialah proses berpikir secara internal sehingga
menemukan solusi dalam memecah masalah.
b. aplikasi praktis, ialah Upaya mewujudkan atau mengoperasionalkan
pemikiran, ide dan proses hingga melahirkan produk yang terlihat;
c. unik, ialah harus memiliki ciri khusus yang tidak ditemukan pada
bidang ilmu yang lain. 8
Teknologi pendidikan dalam bidang profesi.
Menurut Miarso dikutip oleh Yuberti dalam bukunya yang berjudul
Dinamika Teknologi Pendidikan mengemukakan teknologi pendidikan dalam
bidang profesi merupakan tenaga yang profesional atau berkompeten yang
membimbing siswa dengan mengintegrasikan secara sistematis
komponen-komponen lembaga pembelajaran, seperti manusia, isi mata
pelajaran, media dan bahan, peralatan, dan teknologi, serta lingkungan.
Adapun karakteristik bidang profesi sebagai berikut.
7 Septy Achyanadia, "Peran Teknologi Pendidikan Dalam Meningkatkan Kualitas Sdm",
dalam Jurnal Teknologi Pendidikan, edisi No. 1, Vol. 5, 2016.
8 Andi Kristanto, "Aplikasi Teknologi Pendidikan Di Sekolah", dalam Jurnal Tekpen, edisi
No. 1, Jil. 4, 2016.
4
a. suatu teknik intelektual.
b. penerapan teknik ini terkait dengan masalah praktis manusia.
c. pelatihan dengan jangka waktu yang lama.
d. perkumpulananggota profesi dalam satu komunitas
e. memiliki standar dan etika.
f. Pengembangan dan Penelitian Teori Intelektual terorganisir.
Keenam Karakteristik teknologi pendidikan tersebut harus memenuhi
standar, keterampilan intelektual, praktik terapan, pelatihan jangka panjang,
adanya serikat pekerja dan komunikasi antar anggota (organisasi profesi IPTI =
Institut Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia), kode etik serta teori intelektual
dan penelitian. 9
2. Disiplin Ilmu yang Mendukung Perkembangan TP
Disiplin ilmu yang mendukung perkembangan teknologi pendidikan
memiliki berbagai macam, diantaranya yaitu :
a. Ilmu perilaku, khususnya teori belajar, merupakan ilmu yang utama untuk
memperkembangkan teknologi pembelajaran. Bahkan Deterline
berpendapat bahwa teknologi pembelajaran merupakan aplikasi teknologi
perilaku, yaitu untuk menghasilkan perilaku tertentu secara sistematik
guna keperluan pembelajaran. 10
b. Ilmu komunikasi. Perkembangan ilmu komunikasi sekitar tahun 1950
sangat besar pengaruhnya sehingga timbul “Gerakan Audio Visual
Comunnication” yang menggeser “Audio Visual Education”, gerakan ini
9 Yuberti, “Dinamika Teknologi Pendidikan”, (Lampung: Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Kepada Masyarakat, 2015), h. 13.
10 Yusufhadi, Miarso, “Definisi Teknologi Pendidikan”, (Jakarta: CV. Rajawali,1986), h.
47.
5
menitikberatkan pandangan pada proses komunikasi. Edgar Dale
menyatakan bahwa teori komunikasi adalah suatu metode yang paling
berguna dalam usaha meningkatkan efektifitas bahan audiovisual. Pada
masa itu pendekatan dalam teknologi pendidikan masih condong ke
pendekatan media. Hoban juga berpendapat bahwa pendekatan yang
paling berguna untuk memahami dan meningkatkan efisiensi dibidang
audiovisual adalah melalui konsep komunikasi. Orientasi komunikasi ini
menyebabkan lebih diperhatikannya proses komunikasi informasi secara
menyeluruh. 11
c. Ilmu sosiologi. Dalam ilmu sosiologi, manusia merupakan makhluk sosial,
saling berinteraksi satu sama lain, sehingga jika dikaitkan dengan
teknologi pendidikan, ilmu sosiologi menyatakan bahwa teknologi bukan
hanya untuk masing-masing orang tetapi untuk semua orang. Pendidikan
sebagai gejala sosial dalam kehidupan mempunyai landasan individual,
sosial dan kultural. Dengan adanya individu dan kelompok yang
berbeda-beda diharapkan akan mendorong terjadinya perubahan
masyarakat dengan kebudayaannya secara progresif. 12
d. Ilmu filsafat. Socrates (470-399) antara lain dengan metode pembelajaran
yang di kenal dengan metode ”Mencari tahu” metode ini di laksanakan
dengan tanya jawab, dengan di mulai dari sesuatu yang sudah diketahui
oleh anak didiknya. Metode ini mempunyai pengaruh yang kuat dalam
penyusunan bahan pengajaran terprogram, termasuk program pengajaran
dengan komputer.
Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan
dan pemahaman khususnya bagi pendidik dalam melaksanakan setiap kegiatan
11 Yusufhadi, Miarso, “Teknologi Komunikasi Pendidikan”, (Jakarta: CV. Rajawali, 1984),
h. 11.
12 Setia jadi, “Teknologi Pendidikan”, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), h. 67.
6
pendidikan yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis, etis maupun
estetis. 13
3. Hakekat Teknologi pendidikan
Definisi teknologi pendidikan sudah mengalami beberapa kali
perubahan. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi pendidikan sebagai sebuah
disiplin ilmu terus berkembang dan dinamis. Perkembangannya ini dipengaruhi
dengan munculnya berbagai permasalahan yang ada dalam kegiatan belajar dan
pembelajaran pada manusia yang akan semakin kompleks dan menuntut
pemecahan yang efesien dan efektif.
Definisi pertama yang diklaim sebagai cikal akan ada lahirnya disiplin
ilmu teknologi pendidikan dikenalkan pada tahun 1963, oleh Departemen of
Audiovisual Instruction (DAVI) dari National Education Association (NEA).
Pada definisi pertama ini DAVI belum juga menggunakan istilah teknologi
pendidikan, tetapi menggunakan istilah audiovisual communications:
“Audiovisual communications is that branch of educational theory and
practice primarily concerned with the design and use of messages which
control the learning process. … These undertaking include the planning,
production, selection, management, and utilization of both components and
entire instructional systems” (Januszewski & Molenda, 2008; 260).
Berkaitan dengan definisi TP, maka pada tahun 1972, DAVI yang
merupakan salah satu divisi dari Association for Educational Communications
and Technology (AECT) kembali merumuskan definisi teknologi pendidikan
yang baru. Pada definisi kedua DAVI sudah menggunakan istilah teknologi
pendidikan. Dalam hal ini DAVI mendefinisikan:
13 Miarso, Yusufhadi, “Menyemai Benih Teknologi Pendidikan”, (Jakarta: CV. Rajawali,
2004), h.93.
7
Educational technology is a field involved in the facilitation of human
learning through the systematic identification, development, organization and
utilization of a full range of learning resources and through the management of
these processes. Dalam definisi kedua di samping sudah secara eksplisit
menggunakan konsep teknologi pendidikan,
DAVI juga menegaskan kembali bahwa teknologi pendidikan sebagai
sebuah bidang yang terlibat dalam upaya memfasilitasi pembelajaran. Upaya
fasilitasi meliputi, mengembangkan, mengorganisir, dan memanfaatkan secara
sistematis semua jenis sumber belajar. Penegasan untuk fokus pada proses
belajar pada manusia, diungkapkan kembali pada definisi ketiga yang
dirumuskan oleh AECT pada tahun 1977. (Januszewski & Molenda, 2008;
267).
Definisi keempat yang dikeluarkan oleh AECT pada tahun 1994 adalah
teknologi pendidikan yang memiliki pengaruh relatif kuat dalam kajian
akademik. Dalam hal ini AECT mendefinisikan “Instructional technology is
the theory and practice of design, development, utilization, management, and
evaluation of processes and resources for learning” (Januszewski & Molenda,
2008; 274).
Bidang garapan yang mencakup mendesain, mengembangkan,
memanfaatkan, mengelola, dan mengevaluasi, lebih dikenal dengan kawasan
teknologi pendidikan. Dari definisi ini AECT menegaskan bahwa kawasan
teknologi pendidikan itu sangat luas, baik itu teori maupun praktek mendesain,
mengembangkan, memanfaatkan, mengelola, mengevaluasi proses dan sumber
belajar.
Teknologi pendidikan juga sebagai salah satu ilmu yang selalu
berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi, dan flurtutan
manusia terhadap pendidikan juga berpengaruh kepada definisi dari berbagai
ahli. Beberapa definisi teknologi pendidikan tersebut dikutip dari Seels dan
8
Richey yang diterjemahkan Dewi S.Prawiradilaga (2000: 16-23), Warsita
(2008: 13-19), dan lain sebagainya.
Teknologi pendidikan dipandang sebagai sebuah ilmu, karena ia
memiliki obyek material dan obyek formal yang jelas. Meskipun obyek
materialnya sama dengan disiplin ilmu lainnya. Seperti ilmu pendidikan,
komunikasi, dan psikologi, yakni manusia, namun obyek formalnya berbeda
yaitu tentang belajar pada manusia.
Disamping itu, teknologi pendidikan juga memenuhi seluruh cabang
filsafat ilmu secara khas yang mencakup ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Ontologi dari teknologi pendidikan ialah “Belajar sepanjang hayat,
Kesempatan belajar terbatas, sumber tradisional terbatas, sumber yang ada dan
potensial yang belum digunakan, perlu usaha khusus, perlu pengelolaan dan
pendekatan baru”.
Sementara itu yang menjadi kawasan teknologi pendidikan ada lima
kawasan, yaitu kawasan desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan
penilaian. Bahkan Yusufhadi Miarso menambahkan satu kawasan, yaitu
kawasan penelitian. Masing-masing kawasan memiliki lingkup dan fokus yang
khas. 14
C. PENUTUP
Kesimpulan
1. Teknologi pendidikan dalam bidang Konstruk teori didefinisikan sebagai
Abstraksi yang menggabungkan kumpulan konsep dan prinsip tentang
bagaimana pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan dengan
memanfaatkan teknologi. Ditandai oleh; Pertama, Adanya gejala. Kedua,
14 Khaerudin, “Trend Penelitian Penyelesaian Studi Di Program Studi Teknologi Pendidikan
Universitas Negeri Jakarta”, dalam Jurnal Teknologi Pendidikan, edisi No. 2, Vol. 21, 2019.
9
Menjelaskan. Ketiga, Merangkum. Keempat, Memberikan orientasi.
Kelima, memsistematikan. Keenam, mengidentifikasi kesenjangan.
Kedelapan, melahirkan strategi untuk keperluan riset. Dan kesembilan
prediksi. Sedangkan Teknologi pendidikan dalam bidang garapan disebut
sebagai profesi yang berkaitan dengan memfasilitasi proses pembelajaran
di berbagai jenjang pendidikan dan pelatihan. Karakteristiknya, yakni:
pertama, teknik intelektual. Kedua, aplikasi praktis. Ketiga, unik.
Teknologi pendidikan dalam bidang profesi Menurut Miarso dikutip oleh
Yuberti dalam bukunya yang berjudul Dinamika Teknologi Pendidikan
mengemukakan teknologi pendidikan dalam bidang profesi merupakan
tenaga yang profesional atau berkompeten yang membimbing siswa dengan
mengintegrasikan secara sistematis.
Karakteristiknya, yakni: pertama, suatu teknik intelektual. Kedua,
Penerapan teknik ini terkait dengan masalah praktis manusia. Ketiga,
pelatihan dengan jangka waktu yang lama. Keempat, perkumpulan anggota
profesi dalam satu komunitas. Kelima, memiliki standar dan etika. Keenam,
pengembangan dan penelitian Teori Intelektual terorganisir.
2. Disiplin ilmu adalah ilmu atau pengetahuan yang kita dalami dan merupakan
keahlian utama kita yang sifatnya lebih detail atau spesifik bukan secara
umum. Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan
arahan dan pemahaman khususnya bagi pendidik dalam melaksanakan
setiap kegiatan pendidikan yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara
logis, etis maupun estetis.
3. Kawasan Teknologi Pendidikan ada lima kawasan, yaitu kawasan desain,
pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian. Bahkan
Yusufhadi Miarso menambahkan satu kawasan, yaitu kawasan penelitian.
Masing-masing kawasan memiliki lingkup dan fokus yang khas.
10
DAFTAR PUSTAKA
Suparman, Triyono, Budiharto, “Pengaruh Teknologi Pendidikan Pada Era
Revolusi Industri 4.0”, dalam Jurnal Ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya
dan Kependidikan, edisi No. 2, Vol. 6, 2019.
Kristanto, Andi "Aplikasi Teknologi Pendidikan di Sekolah", dalam Jurnal
Tekpen, edisi No. 1, Jil. 4, 2016.
Achyanadia, Septy, "Peran Teknologi Pendidikan Dalam Meningkatkan Kualitas
SDM", dalam Jurnal Teknologi Pendidikan, edisi No. 1, Vol. 5, 2016.
Yuberti, “Dinamika Teknologi Pendidikan”, Lampung: Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M), 2015, h. 13.
Dinda,TEP Sebagai Konstruk Teori Dan Bidang Garapan”, scribd, malang, 09
Desember 2014, diakses 5 September 2022. Https://www.scribd.com/
doc/249678/TEP-Sebagai-Kontruk-Teori-Dan-Bidang-Garapan.
Miarso, Yusufhadi, Definisi Teknologi Pendidikan, Jakarta: CV Rajawali, 1986, h.
47.
Miarso, Yusufhadi, Teknologi Komunikasi Pendidikan, Jakarta: CV Rajawali,
1984, h. 11.
Jadi Setia, Definisi Teknologi Pendidikan, Jakarta: CV Rajawali, 1986, h. 67.
Miarso, Yusufhadi, “Manyemai Benih Teknologi Pendidikan”, Jakarta: CV
Rajawali, h. 93.
Khaerudin, "Trend Penelitian Penyelesaian Studi di Program Studi Teknologi
Pendidikan Universitas Negeri Jakarta", dalam Jurnal Teknologi
Pendidikan, edisi No. 2, Vol. 21, 2019.
Annisa, Arif, Herman, et.al., “Teknologi Pembelajaran”, Sumatera Barat: PT
Global Eksekutif Global, 2022, h. 25.
11
MAKALAH
Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis
Aplikasi
Zoom, Google Meeting & Microsoft Team
Disusun Sebagai Salah Satu Bahan Kajian Pada Mata Kuliah Teknologi
Dan Media
Dosen Pengampu: Dr. Agus Setiawan, M.Pd.I
Di susun oleh: Kelompok 10
Fandy Ahmad (2111101246)
Putri Asri (2111101269)
Muhammad Yahya Muliyaji (2111101279)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UIN SULTAN AJI MUHAMMAD IDRIS SAMARINDA
TAHUN AJARAN
12
2022/2023
13
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI........................................................................................................................... i
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 1
C. Tujuan................................................................................................................. 2
PEMBAHASAN ................................................................................................................ 3
A. Pengertian Media Pembelajaran ....................................................................3
B. Pengembangan Produksi Media Pembelajaran Berbasis Zoom ................4
C. Pengembangan Produksi Media Pembelajaran Berbasis Google Meeting
............................................................................................................................ 6
D. Pengembangan Produksi Media Pembelajaran Berbasis Microsoft Team
............................................................................................................................ 7
PENUTUP................................................................................................................. 9
A. Kesimpulan .............................................................................................. 9
B. Daftar Pusaka ......................................................................................... 10
i
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Guru cukup berperan penting dalam upaya meningkatkan mutu
pendidikan. Tentu dalam hal ini guru harus mengajar dengan profesional, yang
mampu menyuguhkan suatu pengajaran yang menarik. Artinya, guru harus
mampu memilih metode pengajaran dan menentukan media dan sumber
belajarnya. Disampaikan oleh Fachrudin dan Ali Idrus bahwa, profesionalisme
guru kiranya yang merupakan pokok dari kelancaran dan kesuksesan sebuah
proses pembelajaran di sekolah. Karena yang bisa menciptakan situasi aktif
peserta didik ketika proses pembelajaran hanyalah guru.15
Dengan kemajuan teknologi seperti sekarang, guru dituntut untuk lebih
kreatif dalam menyampaikan materi pelajaran. Untuk itulah dibutuhkannya
teknologi pendidikan. Tuntutan masyarakat yang makin besar terhadap
pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat
pendidikan tidak mungkin lagi jika hanya dikelola dengan melalui pola
tradisional. Pemanfaatan teknologi pendidikan untuk kegiatan sebuah
pendidikan itu sangat perlu. Sudjana dan Rivai menyampaikan, bahwa proses
dan hasil belajar peserta didik menunjukkan perbedaan yaitu antara pengajaran
dengan menggunakan media dan pengajaran tanpa media.16
A. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Media pembelajaran?
2. Bagaimana pengembangan media pembelajaran berbasis Zoom?
15 Fachruddin Saudagar & Ali Idrus, “Pengembangan Profesionalitas Guru”, (Gaung Persada (GP Press) :
Jakarta, 2009), h. 51.
16 Nana Sudjana & Ahmad Rivai, “Media Pengajaran (Penggunaan & Pembuatannya), (Sinar Baru
Algensindo: Bandung, 2010), h. 3.
1
2
3. Bagaimana pengembangan media pembelajaran berbasis Google Meeting?
4. Bagaimana pengembangan media pembelajaran berbasis Microsoft Team?
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Media Pembelajaran.
2. Untuk mengetahui pengembangan media pembelajaran berbasis Zoom.
3. Untuk mengetahui pengembangan media pembelajaran berbasis Google
Meeting.
4. Untuk mengetahui pengembangan media pembelajaran berbasis Microsoft
Team.
2
3
PEMBAHASAN
A. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari
kata medium yang secara harfiah artinya “perantara” atau “pengantar” (Arief S.
Sadiman, dkk.,2006:6). Jadi secara bahasa media artinya pengantar pesan dari
pengirim kepada penerima pesan. Jika di lihat secara lebih khusus, pengenalan
media dalam proses belajar mengajar mendorong diartikan sebagai alat-alat
grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun
kembali informasi visual atau herbal (Azhar Arsyad, 1996:3).
AECT (Association of Education and Communication Technology)
memberi petasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang
digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Adapun National
Education Association (NEA) mengartikan media sebagai segala bentuk dan
saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Adapun
National Education Association (NEA) mengartikan media sebagai segala
benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan
beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut.
Fleming mengartikan media sebagai penyebab atau alat yang turut campur
tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator media
menunjukkan fungsi atau peranannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif
antara dua pihak utama dalam proses belajar peserta didik dan isi pelajaran. Di
samping itu, mediator dapat pula mencerminkan pengertian bahwa setiap
sistem pembelajaran yang melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampai
kepada peralatan yang paling canggih dapat disebut media. Ringkasnya media
adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pembelajaran
(Azhar Arsyad, 1996:4).
Sementara itu, menurut Anderson, media pembelajaran adalah media yang
memungkinkan terwujudnya hubungan langsung antara karya seseorang
3
4
pengembang mata pelajaran dengan para siswa. Secara umum wajarlah bila
peranan guru yang menggunakan media pembelajaran sangatlah berbeda dari
peranan seorang guru “biasa”.17
B. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Zoom
Pembelajaran melalui daring merupakan metode pembelajaran yang saat
ini aktif dikembangkan oleh setiap tenaga pengajar atau pendidik. Metode
pembelajaran ini menjadi sebuah solusi bagi terbatasnya kegiatan pembelajaran
dimasa pandemi Corona virus seperti saat ini. Pembelajaran daring dinilai
dapat mengefisienkan dan mengefektifkan kegiatan pembelajaran, meskipun
tidak dapat dikategorikan berbiaya murah namun pembelajaran daring ini
tergolong dapat menghemat biaya operasional lembaga pendidikan.
Efektifitas pembelajaran jarak jauh bertumpu pada kemampuan setiap
tenaga pengajar dalam menyampaikan materi pengajaran layaknya
compositions pembelajaran tatap muka. Model pembelajaran jarak jauh bagi
siswa sebisa mungkin disajikan secara interaktifitas antara pendidik dan peserta
didik sebagaimana yang disukai oleh siswa sekolah. Saat ini telah banyak
tersedia aplikasi yang menyediakan fasilitas video untuk membantu proses
pembelajaran sehingga antara pendidik dan mahasiswa tetap dapat di
laksanakan tatap muka meskipun berada ditempat yang berbeda. Aplikasi atau
media yang saat ini banyak digunakan oleh sekolah maupun universitas dan
aplikasi tersebut adalah aplikasi zoom.
Kemajuan teknologi di zaman sekarang memungkinkan siswa atau
mahasiswa untuk belajar sepenuhnya secara online atau daring sambil tetap
bersosialisasi dengan teman sekelas, dan berpartisipasi dalam diskusi khusus
mata pelajaran yang sedang berlangsung. Dengan cara via konferensi video,
dokumen, digital, dan yang lainya. Dengan begitu kegiatan pembelajaran pun
tetap berlangsung, belajar secara online atau daring pun bisa di akses dimana
saja dan di waktu yang telah ditentukan bersama.
Pemilihan media pembelajaran teknologi berbasis internet harus
benar-benar dipertimbangkan karena jika tidak tepat guna dapat memberikan
dampak negatif pada peserta didik. Dimana seorang tenaga pendidik harus
mampu memahami prinsip-prinsip dan faktor yang dapat mempengaruhi
efektivitas teknologi digital didalam proses pembelajaran. Salah satu
17 Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati, Media Pembelajaran Berbasis ICT, (Jakarta: Kencana, 2017), h. 62.
4
5
pembelajaran jarak jauh yang dapat diterapkan untuk siswa adalah dengan
menggunakan Zoom.
Pembelajaran melalui Zoom dapat menggantikan pembelajaran yang
biasanya dilakukan dengan tatap muka dikelas menjadi kegiatan tatap muka
secara virtual melalui bantuan aplikasi yang terkoneksi dengan jaringan
internet. Pemanfaatan video conference dalam pembelajaran jarak jauh dapat
membantu anak didik dan pendidik tetap melakukan interaksi tatap muka
meskipun saling berjauhan. Pembelajaran yang idealnya memiliki interaktifitas
antara pendidik dan peserta didik walaupun tidak dalam satu tempat yang
sama, dengan adanya Zoom akan membantu proses pembelajaran yang
dilakukan karena pendidik akan terlibat komunikasi secara langsung dengan
peserta didik.
Sekarang ini sudah banyak aplikasi yang menyediakan sarana video
conference salah satunya adalah aplikasi Zoom yang dapat digunakan untuk
memantu proses pendidikan sehingga antara pendidik serta siswa senantiasa
bisa melakukan tatap muka walaupun terletak ditempat yang berbeda.
Pendidikan jarak jauh ini secara tidak langsung mewajibkan para pengajar atau
mahasiswa untuk memakai teknologi semacam smartphone ataupun fitur lain
yang dapat mengakses jaringan internet.
Dalam menggunakan aplikasi Zoom Cloud Meeting ini juga akan
mendapat berbagai kemudahan karena aplikasi Zoom Cloud Meeting memiliki
fitur-fitur pendukung, seperti fitur video dan audio HD, alat kolaborasi bawaan,
keamanan, rekaman dan transkrip, fitur penjadwalan, obrolan tim. Fitur video
dan audio HD berfungsi untuk menampilkan gambar atau video dan suara dari
guru saat menjelaskan pembelajaran, sementara vitur audio berfungsi agar
dosen dan mahasiswa dapat berinteraksi dengan baik mengenai topik
pembelajaran yang sedang dibahas bersama yang menjadi keunggulan dalam
fitur ini adalah sudah didukung dengan kulitas high definition atau HD.
Alat kolaborasi bawaan memungkinkan peserta zoom untuk ikut menulis
catatan penting dari hasil rapat untuk pertemuan yang lebih interaktif dengan
alat kolaborasi bawaan. Contoh dari alat kolaborasi bawaan adalah Share
Screen yang berfungsi untuk membagikan tampilan layar pada seluruh siswa
berupa slide presentasi sehingga para mahasiswa dapat memperhatikan dengan
jelas apa yang dijelaskan oleh dosen. Selain itu seluruh mahasiswa juga dapat
merekam berlangsungnya penggunaan aplikasi Zoom, sehingga mahasiswa
dapat mendengar ulang mengulang pembelajaran tersebut. Sementara itu dosen
5
6
dapat memanfaatkan fitur ini untuk merekam aktivitas mahasiswa apakah
serius atau tidak selama mengikuti pembelajaran.18
C. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Google Meet
Google Meet merupakan salah satu Web course, yang mana dalam
pemakaiannya memerlukan koneksi internet, antara siswa dengan guru terpisah
secara keseluruhan sebab tidak dibutuhkan adanya pembelajaran langsung
(Haughey dalam dkk. 2020). Aplikasi ini memungkinkan siswa dan
guru untuk melakukan pembelajaran seperti biasa secara tatap maya, karena
dalam pelaksanaan kegiatannya siswa tidak perlu datang ke sekolah, cukup
menggunakan perangkat yang terhubung dengan internet maka mereka sudah
bisa melakukan pembelajaran. Kelebihan dari program ini antara lain:
1) penggunaan gratis;
2) video dengan kualitas HD;
3) dilengkapi fitur White Board;
4) mudah dalam penggunaan;
5) tersedia banyak tampilan yang menarik;
6) layananEnkripsi video (Aisyah and Sari, 2021).
Media ini dapat menumbuhkan kemandirian serta rasa percaya diri pada
siswa, sehingga memungkinkan bagi siswa introvert untuk berinteraksi lebih
bebas, menyediakan kesempatan kegiatan pembelajaran. Pemanfaatan
e-learningini diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang
positif bagi siswa guna lebih meningkatkan hasil belajarnya (Ritonga,
Azmi, dan Sunarno, 2020).
Penggunaan google meet sebagai media pembelajaran memudahkan siswa
maupun guru dalam proses pembelajaran. Manfaat yang diperoleh dengan
google meet yaitu dapat membantu siswa untuk fokus belajar
dengan lancar di mana saja, jika dibandingkan dengan e-learning
lainnya, melalui dukungan server terbaik (Romadhoni dkk, 2020).
Google meet memiliki berbagai fitur yang tidak dimiliki oleh
program sejenisnya, selain itu kemudahan yang diberikan
menjadikan pengguna tidak kesulitan dalam menggunakannya
(Sawitri, 2020).
18 Media Pembelajaran, Zoom, Covid-19, E-Learning dalam http://digilib.unimed.ac.id/43399/1/Fulltext.pdf
6
7
Program google meet memberi kemudahan kepada pengguna untuk dapat
bertatap maya kapan dan dimanapun mereka berada, sehingga mereka tidak
perlu khawatir akan tertinggal materi pelajaran selama pembelajaran daring
ini. Dengan adanya google meet menjadikan solusi dari kegiatan
pembelajaran jarak jauh dalam rangka menekan angka penyebaran Covid-19.
Google meet memberikan kemudahan dalam penggunaan, mendorong
siswa untuk mengikuti pembelajaran serta dapat menghilangkan
ketakutan siswa saat adanya pandemi (Al-Maroof dkk, 2020).
Adanya pemaparan materi dari guru saat pembelajaran dengan google
meet baik melalui slide presentasi, video maupun lainnya serta terjadi interaksi
antara siswa dan guru memberikan kesan seperti halnya pembelajaran dikelas
(konvensional), yang membedakan hanya pembelajaran dilakukan dari
rumah. Selain itu guru dapat mengawasi kegiatan siswa saat
pembelajaran dilakukan, karena google meet difasilitasi fitur rekam layar dan
kamera yang dapat digunakan. Namun dengan banyak kelebihan tentunya tidak
menutup kemungkinan bahwa google meet memiliki beberapa kekurangan
diantaranya:
1) tidak semua memiliki akses gratis;
2) perlunya jaringan atau signal stabil serta
3) belum adanya fitur hemat data sehingga memungkinkan penggunaan data
yang banyak (Aisyah and Sari, 2021).
4) Selain kendala tersebut,peneliti mengalami kendala lain yaitu tidak semua
siswa telah memiliki smartphone sendiri jadi siswa menggunakan PC
maupun smartphone orang tua.19
D. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Microsoft Team
Microsoft Teams adalah aplikasi kekinian berupa hub bagi sebuah tim,
baik di organisasi ber skala kecil ataupun ber skala besar yang memungkinkan
pengguna berkolaborasi dan berkomunikasi dengan mudah dimana pun berada.
Setiap pengguna dapat melakukan penyesuaian menambahkan catatan/aplikasi
lainnya menggunakan fitur conversation atau chat untuk berkomunikasi dengan
rekan kerjanya.
19 Siti Rahayu, Triesninda Pahlevi, “Pengaruh Media Pembelajaran E-Learning dengan Google Meet
Terhadap Hasil Belajar Siswa” dalam Jurnal Penelitian dan Pengembangan pendidikan, edisi No. 1, Vol. 5,
2021.
7
8
Selain itu pengguna dapat melakukan pengeditan pada sebuah dokumen
langsung secara bersamaan tanpa membuka aplikasi lain. Sehingga semua
terpusat dalam satu tempat. Microsoft Teams dalam dunia pendidikan dijadikan
sebagai alat untuk merancang kelas virtual yang memudahkan guru dan siswa,
antar guru/antar siswa berkomunikasi dan berkolaborasi menghasilkan
keluaran pembelajaran yang lebih baik.
Microsoft Teams adalah sebuah platform komunikasi dan kolaborasi
terpadu yang menggabungkan fitur percakapan kerja, rapat video,
penyimpanan berkas (termasuk kolaborasi pada berkas), dan
integrasi aplikasi. Aplikasi ini terintegrasi dengan langganan Office 365 dan
dapat di integrasikan dengan produk selain buatan Microsoft. Fitur-Fitur dalam
Microsoft Teams, antara lain:
1) Chat
Aplikasi Microsoft Teams memiliki fokus yang besar pada
obrolan. Pengguna dapat mengirim GIF, stiker, emoji, dan
teks standar melalui chatting secara personal atau obrolan grup.
Riwayat obrolan untuk saluran umum tetap ada, sehingga pengguna
dapat menggunakan channel sebagai ringkasan yang bisa merekam
berapa lama rapat berlangsung, mendokumentasikan perubahan, atau
menambahkan anggota tim baru dengan cepat.
2) Meeting Online dan Pembelajaran Virtual
Guru dapat menggunakan Microsoft Teams sebagai sarana belajar bersama
siswa. Guru tersebut dapat membuat grup di dalam microsoft Teaams
untuk pembagian kelas.
3) Berbagi Data dan File
Saat menggunakan Microsoft Teams, pilih seorang admin untuk suatu
chanel di dalam aplikasi. Chanel berfungsi sebagai layanan bagi seluruh
anggota tim untuk membahas topik tertentu seperti pelatihan dan penilaian
kinerja. Nantinya, setiap chanel memiliki folder file sendiri di mana fitur
tersebut dapat digunakan untuk berbagi file.
4) Kolaborasi dan Berbagai Konten Pembelajaran
Setiap grup dapat digunakan untuk menyimpan semua percakapan, file,
dan kolaborasi materi secara otomatis.
5) Live Events
Microsoft Teams juga memungkinkan pengguna untuk memperluas
konferensi. Dengan aplikasi Microsoft Teams pengguna dapat
mengadakan rapat secara live, rapat besar, webinar, acara diseluruh
perusahaan, dan presentasi sampai dengan 10.000 peserta di dalam atau di
8
9
luar organisasi. Pengguna dapat mengirimkan acara langsung dengan
membagikan konten dari dekstop atau webcam.
6) Integrasi Penuh dengan Office 365
Microsoft Teams dapat terhubung dengan mudah pada beberapa aplikasi
yang tersedia di Office 365 seperti Word, Excel, Powerpoint, dan
OneNote. Selain itu, Anda akan mendapatkan kapasitas penyimpanan
cloud di Office OneDrive sebesar ITB per pengguna. Integrasi Microsoft
Teams dengan Office 365 meliputi perpesanan dalam jendela Office 365,
sehingga pengguna tidak perlu bolak-balik membuka aplikasi ketika
sedang menggunakan Microsoft Teams. Seluruh aktivitas pengeditan dapat
dimonitor oleh siapa saja dengan mudah sehingga dapat mencapai
keputusan lebih cepat dan lebih efisien.20
PENUTUP
A. Kesimpulan
Media pembelajaran ialah alat dalam bentuk saluran yang digunakan dalam
proses pembelajaran. Media pembelajaran yang digunakan guru dalam proses
pembelajaran hendaknya dikembangkan lagi. Sebab mutu atau kualitas suatu
pendidikan ditentukan oleh seorang guru dalam mentransferkan ilmunya ke
peserta didik. Dan di era yang canggih seperti sekarang, telah banyak media
berbasis teknologi yang bisa di gunakan dalam proses pembelajaran, seperti
zoom, google meet, microsoft teams, dll.
20 Fatma Yuniarti, Dian Rakhmawati, Dwi Cahya Harsani, “SOSIALISASI PENGGUNAAN MICROSOFT TEAMS
SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DALAM JARINGAN (DARING)) dalam Jurnal Pengabdia Masyarakat, edisi
No. 1, Vol. 2, 2021
9
10
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati, Media Pembelajaran Berbasis ICT, (Jakarta:
Kencana, 2017), h. 62.
Fachruddin Saudagar & Ali Idrus, “Pengembangan Profesionalitas Guru”,
(Gaung Persada (GP Press) : Jakarta, 2009), h. 51.
Fatma Yuniarti, Dian Rakhmawati, Dwi Cahya Harsani, “SOSIALISASI
PENGGUNAAN MICROSOFT TEAMS SEBAGAI MEDIA
PEMBELAJARAN DALAM JARINGAN (DARING)) dalam Jurnal
Pengabdia Masyarakat, edisi No. 1, Vol. 2, 2021.
Nana Sudjana & Ahmad Rivai, “Media Pengajaran (Penggunaan &
Pembuatannya), (Sinar Baru Algensindo: Bandung, 2010), h. 3.
Siti Rahayu, Triesninda Pahlevi, “Pengaruh Media Pembelajaran E-Learning
dengan Google Meet Terhadap Hasil Belajar Siswa” dalam Jurnal
Penelitian dan Pengembangan pendidikan, edisi No. 1, Vol. 5, 2021.
Media Pembelajaran, Zoom, Covid-19, E-Learning dalam
http://digilib.unimed.ac.id/43399/1/Fulltext.pdf
MAKALAH
10
11
“Media Pembelajaran PAI berbasis Blended Learning
(tatap muka, offline, dan online)”
Diajukan untuk memenuhi Tugas kelompok mata kuliah:
Teknologi dan Media Pembelajaran
Dosen Pengampu : Dr. Agus Setiawan, M.Pd.I
Disusun oleh:
M. Mujid Borneo (2111101243)
Jessica Sesar Pratama (2111101263)
Sunatul Ulpah (2111101272)
Laras Kemala Bela Wankha (1911101241)
PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN AJI MUHAMMAD IDRIS
SAMARINDA
11
12
2022/2023
12
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.................................................................................................................................. i
A. PENDAHULUAN..................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang............................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah......................................................................................................... 2
C. Tujuan Masalah............................................................................................................. 2
B. PEMBAHASAN ....................................................................................................................... 2
A. Pengertian Model Pembelajaran Blended Learning ................................................. 2
B. Model-Model Pembelajaran Blended Learning........................................................ 3
C. Kekurangan Dan Kelebihan Model Pembelajaran Blended Learning ....................... 7
C. PENUTUP............................................................................................................................... 8
D. Kesimpulan................................................................................................................ 8
i
1
A. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Metode pembelajaran online atau e-learning telah menggeser pembelajaran secara
konvesional. Pada era revolusi industri 4.0 dimana IOT (Internet Of Things)
memegang peranan penting dalam segala hal. Dunia pendidikan harus mengikuti
perkembangan tersebut. Banyak manfaat yang didapatkan diantaranya adalah
pembelajaran tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dapat dilakukan dimana saja dan
kapan saja.
Pembelajaran jarak jauh adalah suatu pendekatan pembelajaran yang pada
pelaksanaannya tidak bertatap muka langsung dikelas. E-learning bisa digunakan
dalam kondisi yang mengharuskan menggunakan media, karena berbasis internet yang
berarti tidak perlu datang ke kelas, contoh beberapa alat yang bisa dipakai mulai dari
e-mail, blog, wikipedia, eportofolio, animasi, tautan video hingga jejaring sosial,
seperti Facebook, Twitter, Youtube, Google, Classroom, dan sebagainya. Karena itu,
E-learning semakin menjadi pilihan karena dapat menghemat biaya, waktu, dan lebih
fleksibel.
Ada beberapa klarifikasi tahap penggunaan teknologi telekomunikasi informasi
dalam pembelajaran kedalam empat tahap. Pertama emerging, ini tahap awal
menyadari pentingnya teknologi untuk pemelajaran. Kedua applyting, ini
pengaplikasian dari teknologi sebagai objek untuk dipelajari. Ketiga integrating,
pengintegrasian kedalam kurikulum. Keempat transforming, ini tahap paling ideal
karena teknologi informasi telah menjadi katalis bagi evolusi pendidikan. Metode ini
sudah berlangsung sejak dahulu dan masing dikembangkan hingga saat ini guna
memenuhi tujuan utama pengajaran dan pembelajaran. Seiringnya perkembangan
kebutuhan pembelajaran dimana peserta belajar semakin banyak dan terdistribusi
diberbagai daerah yang terpisah secara geografis, metode konvesional menghadapi
kendala yang berkaitan dengan keterbatasan tempat, lokasi, dan waktu
penyelenggaraan dengan semakin meningkatnya aktivitas pelajar dan pengajar.21
21 Lulus Solikah, M. Khairul Mutaqqin, Shokhibul Kahfi, “Blended Learningn dalam mata pelajaran pendidikan
agama islam masa covid 19 MTS WALISONGO BOJONEGORO”, Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, Vol.5 No.2,
September 2021, hlm. 80-91, https://journalfai.unisla.ac.id/index.php/kuttab/article/download/669/464 ,
diakses 12 September 2022
1
2
Disisi lain pergeseran paradigma sistem pengajaran juga muncul pada transfer
ilmu pengetahuan yang pada mulanya lebih menekankan pada proses mengajar
(teaching), berbasis pada isi (content base). Bersifat abstrak dan hanya untuk golongan
tertentu (pada proses ini pengajaran cenderung pasif), tetapi saat ini pendidikan mulai
bergeser pada proses belajar (learning), berbasis pada masalah (case base), bersifat
konteksual dan tidak terbatas hanya untuk golongan tertentu sehingga pelajar dituntut
lebih aktif mempelajari dan mengembangkan materi pelajaran dengan
mengoptimalkan sumber-sumber lain. Blended learning adalah sebuah model
pembelajaran yang menggabungkan antara pembelajaran tatap muka (face to face)
dengan e-learning. Blended learning merupakan konsep baru dalam pembelajaran
dimana penyampaian materi dapat dilakukan dikelas dan online.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu model pembelajaran blended learning?
2. Apa saja model pembelajar blended learning?
3. Apa saja kekurangan dan kelebihan pembelajaran blended learning?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui arti dari model pembelajaran blended learning
2. Untuk mengetahui isi dari model pembelajaran blended learning
3. Untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan pembelajaran blended learning
B. PEMBAHASAN
A. Pengertian Model Pembelajaran Blended Learning
Tentunya perubahan gaya belajar ini memunculkan berbagai macam effort dan
tantangan baru yang harus dihadapi. Salah satunya pemilihan motode pembelajaran
yang pas. Blended learning mungkin adalah salah satu metode yang patut dicoba
dalam fase awal penerapan pembelajaran daring. Blended learning adalah metode
pembelajaran yang dilakukan dengan cara menggabungkan, mencampurkan,
mengkombinasikan sistem pendidikan konvesional dengan sistem pendidikan
berbasis gital. Meskipun sering disamakan dengan sistem pembelajaran online penuh
2
3
namun metode blended learning tidak semua aktivitas belajar mengajar dilakukan
online.
Metode blended learning adalah bentuk penyempurnaan dari sistem e-learning,
dimana menggunakan metode ini, pembelajaran dilakukan dengan dua arah. Blended
learning merupakan penggabungan dua model pembelajaran yang terpisah,
pembelajaran yang berbasis teknologi komputer dengan penekanan yang digunakan
dalam pengertian diatas yaitu mengarah pada teknologi komputer yang dimaksud
disini adalah teknologi internet. Pembelajaran dengan menggunakan blended learning
dirasa lebih efektif, jika dibandingkan dengan pembelajaran yang hanya
menggunakan metode konvesional saja maupun sebaliknya.
Dengan demikian blended learning lebih menekankan kepada penggabungan
metode konvesional (face to face) dengan metode online, maka dari itu kesiapan
kedua nya adalah kunci utama keberhasilan dan kelancaran jalannya pembelajaran
daring.
B. Model-Model Pembelajaran Blended Learning
Apa saja model pembelajaran blended learning, Seperti yang kita ketahui blended
learning artinya adalah salah satu inovasi yang diterapkan di dalam dunia
pendidikan.¹ maka dari itu kami selaku pemakalah akan memaparkan kepada kalian
apa saja model pembelajaran blended learning.
1. Station Rotation Blended Learning
Station-Rotation blended learning adalah menggabungkan ketiga stasiun atau spot
dalam satu jam tatap muka dibagi menjadi tiga. Misalkan satu tatap muka terdiri atas
90 menit, maka waktu tatap muka 90 menit itu dibagi tiga waktu untuk masing-
masing tahapan dalam spot yang berbeda yaitu 30 menit. Ketiga spot tersebut terdiri
atas online instruction, Teacher-led instruction, dan Collaborative activities and
stations.¹
2. Lab Rotation Blended Learning
Model Lab Rotation Blended Learning mirip dengan Station Rotation, yaitu
memungkinkan mahasiswa mempunyai kesempatan untuk memutar stasiun melalui
jadwal yang telah ditetapkan namun dilakukan menggunakan laboratorium
komputer khusus yang memungkinkan dilakukan pengaturan jadwal yang fleksibel
dengan dosen. Dengan demikian diperlukan laboratorium komputer.
3. Remote Blended Learning atau Enriched Virtual
Dalam pembelajaran Remote Blended Learning, fokus mahasiswa adalah
menyelesaikan pembelajaran online, mereka melakukan pembelajaran tatap muka
dengan dosen hanya sesekali sesuai kebutuhan.
3
4
Pendekatan ini berbeda dari model Flipped Classroom dalam keseimbangan waktu
pengajaran tatap muka online. Dalam model pembelajaran Remote Blended
Learning, mahasiswa tidak akan belajar secara tatap muka dengan dosen setiap hari,
tetapi dalam pengaturan flipped. Siswa menyelesaikan tujuan pembelajaran secara
individu.
4. Flex Blended Learning
Model Flex merupakan salah satu model pembelajaran blended learning. Pada
model flex, sebagian besar pembelajaran dilakukan secara online tetapi tetap dilakukan
di sekolah.³ Adapun penjelasan yang lain yakni Blended Learning Flex Model yaitu
sebuah model pembelajaran yang memadukan antara jaringan internet dengan guru
daan murid secara secara face to face melalui jaringan internet dengan harapan tujuan
kegiatan pembelajaran tetap tercapai tanpa terbatas tempat dan waktu.³ Flex termasuk
dalam jenis model Blended Learning di mana pembelajaran online adalah inti atau
tulang punggung pembelajaran mahasiswa, namun masih didukung oleh aktivitas
pembelajaran offline. Mahasiswa melanjutkan pembelajaran yang dimulai di dalam
kelas nyata dengan jadwal yang fleksibel yang disesuaikan secara individual dalam
berbagai modalitas pembelajaran.
Sebagian besar mahasiswa masih belajar di kampus, kecuali untuk pekerjaan
rumah. Dosen memberikan dukungan pembelajaran tatap muka secara fleksibel dan
adaptif sesuai kebutuhan melalui kegiatan seperti pengajaran kelompok kecil, proyek
kelompok, dan bimbingan pribadi
5. The „Flipped Classroom‟ Blended Learning
Blended learning versi Flipped Classroom ini merupakan versi yang paling banyak
dikenal, Flipped Classroom dimulai dari pembelajaran mahasiswa yang dilakukan
secara online di luar kelas atau di rumah dengan konten-konten yang sudah disediakan
sebelumnya. Setelah melakukan proses pembelajaran online di luar kampus
mahasiswa kemudian memperdalam dan berlatih memecahkan soal-soal di kampus
bersama dosen dan / atau teman kelas. Dengan demikian bisa dianggap peran
pembelajaran tradisional di kelas menjadi “terbalik”. Model pembelajaran Flipped
Classroom ini hakikatnya merupakan salah satu metode penerapan blended learning
itu sendiri. 22Dengan pendekatan Flipped Classroom, sebagian aktivitas pembelajaran
yang biasanya diselesaikan di kelas, kini dapat diselesaikan di rumah terlebih dahulu
secara mandiri oleh siswa sebelum akhirnya melakukan pembelajaran tatap muka lagi
di kelas. Untuk menerapkan model pembelajaran ini pada konteks pembatasan
pembelajaran tatap muka di semester baru, ada 6 langkah umum yang dapat Bapak/Ibu
ikuti untuk memastikan pembelajaran tetap efektif. Pada dasarnya pembelajaran ini
masih mempertahankan format pembelajaran tardisional namun dijalankan dengan
konteks yang baru.
4
5
6. Individual Rotation Blended Learning
Tidak seperti model rotasi lainnya, mahasiswa tidak perlu berputar ke setiap
stasiun; mereka hanya berputar ke aktivitas yang dijadwalkan pada daftar putar
mereka.
Model-model blended learning kemungkinan masih akan terus berkembang dan
memiliki banyak varian. Setidaknya ada beberapa model yang sudah mulai banyak
digunakan di beberapa lembaga pendidikan, diantaranya adalah
1. Project-Based Blended Learning
Merupakan model pembelajaran menggunakan pembelajaran online maupun tatap
muka dan kolaborasi untuk merancang, mengulang, dan menyelesaikan tugas
pembelajaran berbasis proyek atau produk tertentu. Karakteristik utama pembelajaran
berbasis proyek atau produk tertentu. Karakteristik utama pembelajaran ini adalah
penggunaan sumber daya online untuk mendukung pembelajaran berbasis proyek.
2. Self-Directed Blended Learning
Mahasiswa menjalankan kombinasi pembelajaran online dan tatap muka dalam
pembelajaran inkuiri dan pencapaian tujuan pembelajaran formal. Mahasiswa
terhubung dengan dosen secara fisik dan digital. Salah satu yang menjadi tantangan
bagi dosen dalam pembelajaran ini adalah bagaimana menilai pembelajaran dan
keberhasilan pengalaman belajar mahasiswa tanpa menghilangkan autentikasi.
Sedangkan tantangan bagi mahasiswa yaitu bagaimana mencari model produk, proses
dan potensi yang bisa mendorong mereka untuk konsisten dalam pembelajaran.
Adapun tantangan yang lain, yang menjadi tantangan dosen dalam pembelajaran ini
adalah bagaimana ia menilai pembelajaran dan keberhasilan pengalaman belajar
mahasiswa tanpa menghilangkan autentifikasi. Sedangkan tantangan bagi mahasiswa
adalah bagaimana mencari model produk, proses, dan potensi yang dapat mendorong
mereka untuk konsisen dalam belajar. Selain itu mahasiswa harus memahami apa yang
berhasil dan mengapa, dan untuk membuat penyesuaian yang sesuai atas kondisi yang
tidak sesuai dengan harapan atau kondisi ideal. Beberapa mahasiswa tidak
membutuhkan bimbingan, sementara yang lain membutuhkan dukungan melalui jalur
yang sangat jelas sehingga mereka dapat menjalankan pembelajaran mereka mereka
sendiri secara otonom.
3. Blended Learning Inside-Out
5
6
Dalam blended learning Inside-Out, pembelajaran dirancang akan selesai atau
berakhir di luar kelas, dengan memadukan kelebihan-kelebihan tatap muka fisik dan
digital. Namun dalam model Luar-Dalam dan Dalam-Luar, masih menonjolkan
pembelajaran di kelas, sedangkan pembelajaran online berfungsi sebagai penguat.
Komponen pembelajaran online dapat berupa inkuiri mandiri atau eLearning formal.
Bila dilihat dari pola pembelajarannya maka blended learning berbasis proyek
merupakan salah satu contoh yang sangat baik dari model Inside-Out. Sama halnya
dengan Outside-In, model ini masih membutuhkan untuk bimbingan ahli, umpan balik
pembelajaran, pengajaran konten, dan dukungan psikologis dan moral dari interaksi
tatap muka setiap hari.
4. Outside-In Blended Learning
Dalam pembelajaran Outside-In Blended Learning, pembelajaran diawali dari lingkungan
fisik dan digital non-akademik yang biasa digunakan mahasiswa setiap hari yang kemudian
diakhiri di dalam ruang kelas. Dengan demikian pembelajaran di dalam kelas akan lebih dalam
dan kaya. Kelas tatap muka berpeluang menjadi ajang berbagi, berkreasi, berkolaborasi, dan
saling memberi umpan balik yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa.
Bila dirancang dengan baik, masing-masing “area” pembelajaran dapat memainkan peran
penting dari kekuatannya masing-masing yang saling melengkapi. Polanya pembelajaran ini
tetap masih kebutuhan bimbingan, pengajaran, dan dukungan dari interaksi tatap muka setiap
hari.
5. Supplemental Blended Learning
Dalam model ini, mahasiswa menyelesaikan pembelajaran online sepenuhnya
untuk melengkapi pembelajaran tatap muka mereka, atau pembelajaran tatap muka
sepenuhnya untuk melengkapi pembelajaran yang diperoleh secara online. Gagasan
besar di sini adalah “pelengkap”. Pencapaian tujuan pembelajaran pada intinya
dipenuhi sepenuhnya dalam satu “ruang” (tatap muka atau online) sementara “ruang”
lainnya memberikan pengalaman tambahan yang spesifik bagi mahasiswa.
Pengalaman tambahan ini tidak akan mereka dapatkan bila hanya menggunakan satu
“ruang” saja.
6. Mastery-Based Blended Learning
Pada model Mastery-Based Blended Learning mahasiswa melakukan pembelajaran
online dan pembelajaran tatap muka secara bergiliran. Penyelesaian tujuan
pembelajaran berbasis penguasaan. Desain dan proporsi pembelajaran online dan tatap
muka dibangun atas dasar penguasaan kompetensi tertentu. Desain asesmen sangat
penting dalam setiap pengalaman pembelajaran berbasis penguasaan. Kemampuan
untuk menggunakan alat asesmen tatap muka dan digital cukup rumit tergantung pada
pola pikir perancang pembelajaran.
6
7
Itulah 12 Jenis model pembelajaran blended learning yang bisa anda terapkan di
perkuliahan Anda. Apalagi saat ini metode pembelajaran blended learning ini
disarankan oleh Kemendikbud-Ristek untuk semua perguruan tinggi dalam situasi
pandemi. Semoga artikel ini dapat menjadi referensi model perkuliahan yang efektif.
C. Kekurangan Dan Kelebihan Model Pembelajaran
Blended Learning
Model Pembelajaran Blanded Learning mempunyai Kekurangan maupun
kelebihan yaitu :
1) Kelebihan
a. Siswa bukan Cuma belajar lebih banyak pada saat sesi onine yang perbanyak pada
pembelajaran tradisional, namun dapat mengembangkan interaksi dan kepuaan
siswa.
b. Siswa dapat dilengkapi dengan berbagai pilihan sebagai tambahan pembelajaran
dikelas, mengembangkan apa yang telah dipelajari, dan memberi kesempatan
untuk dapat mengakses ke tingkat pemelajaran yang lebih lanjut.23
c. Penyampaian data lebih cepat dan mudah di sampaikan pada siswa yang
pembelajarannya menggunakan e-learning.
d. Bukan hanya belajar satu arah yang berturut-turut, dengan blanded learning siswa
dapat mempunyai kesempatan untuk mempelajari materi yang diinginkan, dan
juga pengaturan jadwal maupun waktu yang fleksibel terhadap suatu mata
pelajaran.
e. Penggunaan biaya yang hemat bagi instansi maupun siswa.
f. Siswa bisa berkomunikasi ataupun berdiskusi dengan pendidik atau siswa lain
yang tidak harus dilakukan pada saat di kelas (tatap muka).24
23 Setia Utami, “Pengujian Validitas Blended Learning,” Pendidikan 1 (2012): 12–33.
24 Dkk Deklara Nanindya Wardani, “DAYA TARIK PEMBELAJARAN DI ERA 21 DENGAN BLENDED LEARNING” 1
(2018): 13–18.
7
8
g. Pendidik bisa mengelola dan mengontrol kegiatan pembelajaran yang dilakukan
siswa diluar jam pembelajaran siswa.25
h. Target pencapaian materi pembelajaran bias dicapai sesuai dengan target yang
telah di tentukan.
2) Kekurangan
a. Media yang diperlukan bermacam-acam, sehingga sulit melaksanakan apabila
sarana dan prasarana tidak mendukung.
b. Fasilitas siswa yang kurang mencukupi seperti computer, handphone dan jaringan
internet. Sedangkan, untuk pembelajaranblended learning membutuhkan akses
internet yang mencukupi dan apabila jaringan tidak memadai maka akan usah
untuk siswa engikuti pembelajaran online secara mandiri.26
c. Kurangnya pemahaman sumber daya pembelajaran baik pendidik, sisa maupun
orang tua terhadap penggunaan teknologi.27
d. Membutuhkan strategi pembelajaran yang benar untuk bisa mengembangkan
potensi dari blanded learning.28
C. PENUTUP
D. Kesimpulan
Metode blended learning adalah bentuk penyempurnaan dari sistem e-learning,
dimana menggunakan metode ini, pembelajaran dilakukan dengan dua arah. Blended
25 Dinik Afrianingsih, “Blended Learning” (2017).
26 Diah Putri Anggraeni, “IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BLENDED LEARNING PADA MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SMP KESATRIAN 1 SEMARANG” (2021).
27 Bagus Cahyanto Devi Widya Arisanti, Muhammad Sulistiono, “MODEL BLENDED LEARNING DALAM
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP WAHID HASYIM MALANG,” Pendidikan Islam 7 (2022).
28 H . N uthpaturhaman Fathurrahman, “Blended Learning” (2015).
8
9
learning merupakan penggabungan dua model pembelajaran yang terpisah,
pembelajaran yang berbasis teknologi komputer dengan penekanan yang digunakan
dalam pengertian diatas yaitu mengarah pada teknologi komputer yang dimaksud
disini adalah teknologi internet.
Adapun beberapa 6 macam model pembelajaran blended learning adalah sebagai
berikut:
1. Station Rotation Blended Learning adalah menggabungkan ketiga stasiun
atau spot dalam satu jam tatap muka dibagi menjadi tiga.
2. Model Lab Rotation Blended Learning mirip dengan Station Rotation, yaitu
memungkinkan mahasiswa mempunyai kesempatan untuk memutar stasiun
melalui jadwal yang telah ditetapkan namun dilakukan menggunakan
laboratorium komputer khusus yang memungkinkan dilakukan pengaturan
jadwal yang fleksibel dengan dosen. Dengan demikian diperlukan
laboratorium komputer.
3. Model Lab Rotation Blended Learning mirip dengan Station Rotation, yaitu
memungkinkan mahasiswa mempunyai kesempatan untuk memutar stasiun
melalui jadwal yang telah ditetapkan namun dilakukan menggunakan
laboratorium komputer khusus yang memungkinkan dilakukan pengaturan
jadwal yang fleksibel dengan dosen. Dengan demikian diperlukan
laboratorium komputer.
4. Model Flex merupakan salah satu model pembelajaran blended learning.
Pada model flex, sebagian besar pembelajaran dilakukan secara online tetapi
tetap dilakukan di sekolah.
5. Blended learning versi Flipped Classroom ini merupakan versi yang paling
banyak dikenal, Flipped Classroom dimulai dari pembelajaran mahasiswa
yang dilakukan secara online di luar kelas atau di rumah.
6. Pada model Mastery-Based Blended Learning mahasiswa melakukan
pembelajaran online dan pembelajaran tatap muka secara bergiliran.
Dan mengetahui apa saja kekurangan dan kelebihan pada model pembelajaran
blended learning, sepeti yang dijelaskan diatas. Salah satu contoh kelebihan pada
model pembelajaran yaitu, Siswa bukan Cuma belajar lebih banyak pada saat sesi
onine yang perbanyak pada pembelajaran tradisional, namun dapat mengembangkan
9
10
interaksi dan kepuaan siswa. Adapula kekurangan pada model pembelajaran blended
learning yaitu, Fasilitas siswa yang kurang mencukupi seperti computer, handphone
dan jaringan internet. Sedangkan, untuk pembelajaranblended learning membutuhkan
akses internet yang mencukupi dan apabila jaringan tidak memadai maka akan usah
untuk siswa engikuti pembelajaran online secara mandiri.
10
DAFTAR PUSTAKA
Solikah, Lulus, Mutaqqin, M. Khairul, Kahfi, Shokhibul, “Blended Learningn dalam mata
pelajaran pendidikan agama islam masa covid 19 MTS WALISONGO
BOJONEGORO”, Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, Vol.5 No.2, September 2021, hlm.
80-91, https://journalfai.unisla.ac.id/index.php/kuttab/article/download/669/464
Afrianingsih, Dinik. “Blended Learning” (2017).
Anggraeni, Diah Putri. “IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BLENDED LEARNING
PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SMP
KESATRIAN 1 SEMARANG” (2021).
Deklara Nanindya Wardani, Dkk. “DAYA TARIK PEMBELAJARAN DI ERA 21
DENGAN BLENDED LEARNING” 1 (2018): 13–18.
Devi Widya Arisanti, Muhammad Sulistiono, Bagus Cahyanto. “MODEL BLENDED
LEARNING DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI
SMP WAHID HASYIM MALANG.” Pendidikan Islam 7 (2022).
Fathurrahman, H . N uthpaturhaman. “Blended Learning” (2015).
Utami, Setia. “Pengujian Validitas Blended Learning.” Pendidikan 1 (2012): 12–33.
MAKALAH
PENGEMBANGAN PRODUKSI MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS
ICT (AUTOPLAY)
disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teknologi Dan Media Pembelajaran
Dosen Pengampu: Dr. Agus Setiawan M.Pd.I
1
Di Susun Oleh :
Kelompok 7
Mila Rosyiidatul Hasanah(2111101186)
Haidar Dzaki Abiyu (2111101191)
Siti Aulia Faiza (2111101200)
M. Fatih Jihad Nurhadi (2111101228)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN AJI MUHAMMAD IDRIS
SAMARINDA
2022-2023
2
KATA PENGANTAR
Assalamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahi robbil „alamin. Puji syukur atas ke hadirat Allah Yang Maha
Esa. Atas rahmat serta hidayah-Nya, dengan ini kami dapat menyelesaikan tugas
makalah yang berjudul “Pengembangan Produksi Media Pembelajaran Berbasis
ICT (Autoplay)” dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kami Mata Kuliah Teknologi
Dan Media Pembelajaran selain itu, makalah ini disusun dan dibuat bertujuan untuk
menambah wawasan serta ilmu pengetahuan bagi para pembaca khususnya dan
juga bagi kami selaku pembuat makalah ini.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bpk. Dr. Agus Setiawan
M.Pd.I selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Teknologi dan Media Pembelajaran
yang telah membimbing dan membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, kami hanya
bisa melakukan yang terbaik. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun
diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Wassalamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Samarinda, 12 September 2022
Penulis
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
I. 2
14
A. 2
B. 2
C. 3
II. 4
A. 4
B. 6
C. 7
D. 10
III. 13
A. 13
DAFTAR PUSTAKA
2
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi saat ini berkembang dengan pesat, termasuk
disekolah baik itu dari sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas dan juga
dibangku perkuliahan, teknologi ini sangat di butuhkan demi mengikuti
perkembangan zaman. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau sering
disebut Information Comunication Technology (ICT) sangat penting untuk
dikuasai dalam era globalisasi saat ini.
Salah satu komponen pendidikan adalah pengajar, pengajar adalah orang yang
mendidik yang misi utamanya adalah menyebar luaskan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada
masyarakat. Dan materi yang menarik yang di sampaikan oleh pengajar tidak
terlepas dari kemampuan TIK yang dimilikinya, Kemampuan TIK juga merupakan
kemampuan unik untuk memperoleh sumber informasi pendidikan dari berbagai
belahan dunia dengan menggunakan internet sebagai sumber informasi.29
Media yang dapat digunakan dalam aktifitas belajar mengajar adalah
Information and Comunication Technology (ICT) yang lebih dikenal dengan
Teknologi Informasi dan komunikasi (TIK), Teknologi Informasi dan Komunikasi
terdiri dari tiga kata. Pertama, kata teknologi berarti pengembangan dan penerapan
alat, mesin, bahan, dan proses yang membantu manusia memecahkan masalah.30
Komputer merupakan salah satu dari media yang digunakan dalam TIK karena
memiliki beberapa fungsi yang lumayan penting untuk menunjang pengembangan
pembelajaran berbasis ICT.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari pembelajaran berbasis ICT?
2. Pengembangan dan strategi bagaimana dalam pembelajaran berbasis ICT?
3. Apa saja jenis-jenis media yang dapat di gunakan dalam pembelajaran
berbasis ICT?
29 Suherman Priatna, Keterampilan Penggunaan ICT, Strategi Pembelajaran CTL dan
Motivasi Berprestasi Mahasiswa Jurusan PAI FTK IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten,
Jurnal Penelitian Manajemen Pendidikan (2016). h. 66.
30 Ibid, h. 68.
2
4. Bagaimana cara menerapkan media belajar berbsis ICT kepada
anak-anak?
C. Tujuan Makalah
1. Dapat mengetahui pengertian dari pembelajaran berbasis ICT.
2. Agar dapat mengetahui pengembangan dan strategi seperti apa yang ada
dalam pembelajaran berbasis ICT.
3. Agar dapat menyebutkan apa saja jenis-jenis media pembelajaran berbasis
ICT.
4. Agar mengetahui cara menerapkan media belajar itu kepada anak-anak.
3
II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Berbasis ICT
1. Pengertian ICT
Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) atau Information and
Communication Technologies (ICT) adalah teknologi yang mencakup seluruh
peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi, ICT mencakup
dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi, teknologi informasi
meliputi segala hal yang meliputi proses, penggunaan sebagai alat bantu,
manipulasi dan pengolaan informasi, sedangkan teknologi komunikasi adalah
segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan
mentransfer data dari satu perangkat ke lainnya.
Dengan demikian, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua
buah konsep yang tidak terpisahkan, teknologi komunikasi dan informasi
mengandung pengertian luas yaitu segala perbuatan yang berkaitan dengan
pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media, istilah
ICT atau TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik
perangkat keras maupun perangkat lunak).31
2. Pengertian ICT menurut para Pakar
Istilah teknologi informasi (TIK) muncul pertama kali pada akhir tahun 80-an
dan di susul pada tahun 1992 seiring munculnya penggunaan e-mail yang pertama
kali, istilah teknologi informasi berubah menjadi teknologi informasi dan
komunikasi (TIK), dengan lahirnya dua istilah TI yang berubah menjadi TIK,
timbulah berbagai macam definisi tentang TIK. Diantaranya :
1. Menurut United Nation (1999) TIK merupakan internet, telekomunikasi,
peralatan teknologi informasi, media dan penyiaran, perpustakaan dan pusat
dokumen dan berbagai peralatan lain yang berhubungan dengan aktivitas
komunikasi.
31 Hariesto Hadi Sutopo, Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan, (Jakarta:
Graha Ilmu, 2012), h .1.
4
2. Menurut Adeya (2002) TIK mengangkut elektronik yang diartikan sebagai
perhitungan, pemrosesan, penyimpanan dan desiminasi informasi.
3. Menurut Law et al (2003) menyatakan bahwa TIK merupakan multimedia,
internet atau web dapat digunakan sebagai perantara untuk menggantikan
media yang lainnya.
4. Menurut Slamin (2010) Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
adalah teknologi yang digunakan untuk menyimpan, menghasilkan,
mengolah, serta menyebarkan informasi. 32
Dari berbagai definisi tentang TIK maka dapat disimpulkan bahwa TIK tidak
hanya sekedar alat komunikasi, komputer atau hanya sebagian media saja, TIK
memiliki makna yang lebih luas dari itu. Menurut Victoria Tinio dalam bukunya
ICT in Education (2009) TIK di definisikan tujuan untuk berkomunikasi yang
dilengkapi oleh alat bantu pendukungnya untuk mengkreasi, desiminasi,
menyimpan informasi maupun mengaturnya, didalamnya termasuk komputer,
internet, penyiaran radio,televisi maupun telepon.
Tujuan penggunaan pendidikan berbasis ICT yaitu :
1. Mengembangkan ICT network untuk umum dan kampus seperti riset dan
pendidikan network di Indonesia.
2. Mempersiapkan suatu rancangan pengembangan sumber daya manusia
dalam mengaplikasikan ICT.
3. Mengembangkan dan meningkatkan kurikulum berbasis ICT.
4. Menggunakan ICT sebagai suatu bagian dari kurikulum pembelajaran di
sekolah, universitas, dan pusat-pusat pelatihan.
5. Mengadakan program yang berhubungan dengan pendidikan dengan
mengikut sertakan sekolah-sekolah dalam pembelajaran seluas-luasnya dan
menfasilitasi penggunaan internet dengan efisien dalam proses
pembelajaran.33
32Sutrisno, Pengantar pembelajaran Inovatif berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi,
(Jakarta: Gaung Persada, 2011). h. 57-58.
33 Ruman, Model model Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011). h. 286.
5
B. Pengembangan dan Strategi Pembelajaran Berbasis ICT
Konten pembelajaran adalah suatu sistem yang yang akan selalu mengalami
perkembangan yang sangat pesat di era teknologi, sehingga pembelajaran atau
konten di sekolah seringkali tertinggal dari perkembangan teknologi yang terjadi,
maka dari itu perlu adanya konten (bahan ajar) yang di kembangkan, hal yang dapat
dilakukan dalam pengembangan pembelajaran berbasis TIK adalah menentukan
strategi pembelajaran yang tepat, misra dan Sharma (2005) merujuk pada istilah ini.
Strategi pendidikan, dia menjelaskan bahwa pengajarannya harus terstruktur
dan berpusat pada siswa dengan menggunakan model pembelajaran berbasis
masalah (PBL). Diskusi (SCD) dan penciptaan lingkungan Siswa dapat mengambil
keuntungan dari banyak manfaat efek media, dengan kata lain, pendapat ini Strategi
pendidikannya adalah dilakukan dengan cara pembelajaran berbantuan ICT.34
Strategi pemanfaatan ICT dalam pembelajaran yaitu sebagai:35
1. ICT sebagai alat bantu pembelajran
Pendidikan ICT di mulai pada tahun 1960-an berbasis komputer, penggunaan
ICT dalam pembelajaran juga mendukung teori konstruktivis sosial bahwa siswa
mempunyai pengalaman belajar bersama temannya dan profesional lainya yang
menggunakan media komunikasi berbasis ICT, Pemanfaatan TIK sebagai media
pembelajaran dapat berupa file slide PowerPoint, Gambar, animasi, video, audio,
program CAI (Computer Aided Instruction), program simulasi, dan lain-lain.
2. ICT sebagai sarana tempat belajar
Di era teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini, kegiatan belajar
tidak hanya dapat dilakukan di dalam kelas atau perpustakaan, kemajuan dunia ICT
(khususnya Internet) telah memberikan kemungkinan membuat kelas maya (virtual
class) dalam bentuk e-learning, di mana seorang dosen/guru dapat mengelola
proses pembelajaran dan mahasiswa dapat melakukan aktivitas belajar
sebagaimana yang dilakukan di dalam kelas, dengan e-leraning, akativitas belajar
seperti membaca materi pembelajaran, mengerjakan soal-soal dan tugas, berdiskusi
34 Ahmad Suriyansyah, Pengembangan Pembelajaran Berbasis TIK (proses dan
permasalahnya), Jurnal pradigma, vol. 10, No. 2. (juli 2015). h. 3.
35 Sahid, Pengembangan Media Pembelajaran berbasis ICT. h. 6.
6
dengan sesama teman maupun dosen/guru, melakukan ekperimen semua dalam
bentuk simulasi,dan lain-lain.36
3. ICT sebagai sumber belajar
Perkembangan ICT tidak hanya dalam bentuk teknologi tetapi juga dalam
bentuk isi (content), di sisi lain para ahli mengembangkan teknologi para pakar
dalam bidangnyajuga menyumbangkan dan menyebarkan pengetahuannya melalui
berbagai media, contoh sumber ajar berbasis ICT yaitu Ensiklopedi Britanica,
MicrosoftEncarta, Wikipedia, dan Google.37
4. ICT sebagai sarana peningkatan profesional
Selain meningkatkan keterampilanya menggunakan ICT, para dosen juga dapat
meningkatkan wawasanya dan pengetahuanya baik di bidang ilmu yang paling
terkini, pengetahuan teori-teori metode pembelajaran terbaru, hasil penelitian
dalam bidang ilmunya maupun yang lain.
C. Jenis – Jenis Media Pembelajran Berbasis ICT
1. Tekhnologi komputer
Komputer adalah perangkat elektronik yang menerima masukan data,
mengelolah data dan memberikan hasil keluaran dalam bentuk informasi , baik
berupa gambar, teks atau video, yang di rancang untuk menjalankan aplikasi dan
menyediakan berbagai solusi melalui komponen perangkat keras dan perangkat
lunak yang terintegrasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah
menyebabkan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, komputer juga
dapat dimanfaatkan untuk mempermudah proses pencapaian tujuan pendidikan.38
Pembealajaran berbasis komputer adalah pengelolaan pembelajaran dengan
memanfaatkan perangkat baik perangkat keras (Hardware) Maupun perangkat
Lunak (SoftWare), pembelajaran berbasis komputer ini tentunya hanya akan
36 Ibid, 8.
37 Ibid, 9.
38 Imam Nasrulloh dan Ali ismail, Analisis kebutuhan pembelajaran berbasis ICT, Jurnal
Petik, Vol. 3 No.1. (2017). h. 28.
7