SanCorWarta Keluarga Santo Cornelius
Mengenal Yesus Edisi
sebagai Guru
dan Tuhan September II
WKC No:11/2021
2021
.SERBA-SERBI. .WAWANCARA. .SEKILAS INFO.
SEMARAK BKSN 2021 KALING SANTA ANNA INFO GEREJA
LIPUTAN DARI STASI SARADAN SUKOSARI HUP PASUTRI
KESAKSIAN SIE LITURGI PAROKI
.RENUNGAN.
Tema Bulan Kitab Suci Nasional 2021 Keuskupan Sura
baya mengacu pada kata-kata kunci: “Mengenal Yesus”.
Dimana kita diajak merefleksikan kisah tentang Yesus dari
Injil Markus yang dipandang sebagai Injil tertua. Ketika me-
nulis injil, Markus memilih pelbagai bahan dari banyak sum
ber, menata dan mengolahnya, untuk menyampaikan gam-
baran tentang Yesus dan tantangan menjadi murid Yesus.
Sebuah tema pendalaman Kitab Suci yang menarik
untuk direnungkan bersama para Keluarga. Selamat menja
lankan BKSN semoga berjalan lancar dan para keluarga
menjadi semakin mencintai sabda Allah.
.SERBA-SERBI. Sumber : Buku BKSN 2021-Keuskupan Surabaya
Guyup, BKSN Lingkungan SEMARAK BKSN 2021
Fransiskus Asisi-Winongo
Madiun, 7 September 2021
BKSN Pertemuan I diada
kan secara LURING dengan
tetap menjaga protokol ke
sehatan dirumah Bpk. Sad
Wahyono Jln Ronggolawe
Winongo & Pertemuan II.
BKSN di 4 KKU Lingkungan
St. Antonius Patihan
Madiun, 9 September 2021
Pertemuan I BKSN di Lingku
ngan St. Antonius Patihan di
adakan di empat KKU secara
LURING dengan tetap men-
jaga protokol kesehatan.
Yang hadir sebanyak 7-10
orang per KKU
Rindu BKSN di Lingkungan
Margareta Winongo
Madiun, 8 September 2021
BKSN Pertemuan I diadakan
dirumah Bpk. Ignatius Endro
Subiakto Jln. Tumapel No 8
Winongo. Yang datang seba-
nyak 10 lansia, 1 dewasa.
Semangat BKSN di
Lingkungan St. Cicilia
Taman
Madiun, Minggu I September 2021
Lingkungan St. Cicilia mulai
menjalankan BKSN Perte-
muan I diadakan secara ta-
tap muka. Semoga semakin
hari semakin bersemangat
dan mencintai Sabda Allah.
BKSN Pertemuan I di
Lingkungan St. Maria
Nambangan
Madiun, 7 September 2021
Oma-oma cinta Kitab Suci
hadir dalam pertemuan I
BKSN yang diadakan di ru-
mah Ibu Tutik Jln. Manyar
No 36 dimulai jam 18.00
WIB.
Lingkungan St. Gregorius
Nglames, siap ber- BKSN
Madiun, 11 September 2021
Sebanyak 12 Orang hadir
dalam pertemuan I BKSN
yang diadakan di rumah
Bpk. Gregorius Hariyanto -
Tawang Rejo.
LANJUTAN LIPUTAN DARI STASI SARADAN
BENTURAN KERAS YANG
MENYELAMATKAN
Oleh : Maria Goreti Madjiati
Pasutri Thomas Aquaino Widji Krismanto - Maria Goreti Madjiati
Mendidik anak-anak yang menginjak dewasa itu berat. Benturan
demi benturan sangat keras saya alami. Saat di tengah badai kami
terus mendekap Tuhan. Sekarang saya rasakan betapa indahnya
benturan itu dan Tuhan menyiapkan sesuatu, yang tidak saya
bayangkan. Kalau masalah ekonomi itu biasa, karena dari kecil saya
biasa hidup susah, terlebih saya ini keluarga broken home. Tapi
Tuhan itu baik punya angger-angger yaitu nikah hanya satu kali.
Susah, senang, sakit, sehat, enak tidak enak itu adalah anugerah, jadi
harus dihadapi berdua demikian Bu Widji mengawali ceritanya.
Saya lahir tahun 1950 dari keluarga Islam. Tinggal di Saradan kelas
tiga SD, ikut om. Anaknya om yang cewek sekolah di Wima Madiun,
tinggalnya di susteran Ursula. Sebulan sekali saya disuruh ngirim
beras, ya lauk, ya sambel kacang ke Madiun. Suatu saat dia bilang
“wis nginep kene wae”. Saya lihat disetiap pintu, dan kamar ada
salibnya, kalau mau makan, mau tidur berdoa. Terus lama–lama
saya di ceritain oleh bapak-ibuk. Selain itu saya lihat kehidupan
kakak saya baik-baik saja, akhirnya saat SMP saya mantab untuk di
saya di ceritain oleh bapak-ibuk. Selain itu saya lihat kehidupan
kakak saya baik-baik saja, akhirnya saat SMP saya mantab untuk di
baptis di Madiun.
Pak Wiji dulu guru SDN Sugihwaras Saradan. Kami sering ketemu,
kemudian tahun 1969 kami menikah. Tahun 1970 putri pertama
kami lahir namanya Maria Krispujaningwan, sekarang di lampung.
Tahun 1973 lahir anak kedua Theresia Dhina Widyanti. Tahun
1977 lahir anak ketiga Fransiska Esthi Wardani, sekarang di
Bandung. Yang ke empat Yohanes Bima Krissantono, laki satu-
satunya lahir tahun 1979, sekarang ada di Bali. Yang kelima itu
yang bontot, perempuan namanya Agnes Dayinta Mahanani lahir
1982. Puji Tuhan mereka sudah berkeluarga semua.
Anak-anaku yang terkasih, kamulah pelita hidupku
Anak saya semua dibaptis bayi, kami punya komitmen kalau nggak
dari bayi takutnya nanti mengsla-mengsle, karena kami dipercaya
Tuhan untuk menjaga mereka agar mereka tetep baik sampai
akhir hidupnya. Anak pertama menikah dengan orang Batak
(HKBP), diberkati di Gereja Katolik. Memang saya punya komit-
ment kepada anak-anak, kamu pacaran dengan siapa saja boleh,
tapi harus di berkati di Gereja Katolik. Itu sudah ngak bisa ditawar.
Memang menyakitkan tapi demi keselamatan jiwanya.
Benturan pertama kasus pada anak saya yang laki. Saat pulang
Benturan pertama kasus pada anak saya yang laki-laki. Saat
pulang layar dia bilang: “Bu aku mau main ke rumah cewek”.
Boleh main nanti jam sekian mesti sudah pulang. Setelah pulang,
terus saya tanya ceweknya siapa? Dia bilang “temen sekolah”. Dia
agamanya apa? “Islam” Jawabnya. Deg hati saya, kamu tahu aturan
keluarga kita. Sekarang ibu kasih waktu satu bulan, tanya dia
kalau mau ikut kamu,oke. Tapi kalau nggak dilepas saja, dari pada
nanti terlalu jauh. Saat itu ada kakaknya juga. Sebetulnya saya
kasihan, dalam hati Tuhan tolong, kalau saya sudah dipercaya saya
berusaha untuk patuh, tanpa bantuanmu saya nggak bisa. Kita
semua rangkulan nangis. Udah gini pokoknya ibuk tidak maksa
tapi kamu harus bisa! Kakaknya yang sulung bilang kepada adik-
adiknya: “Ingat Bapak-Ibu ya dik”. Kemudian dia pergi layar lagi
gelagatnya dia nggak seneng sama cewek nya itu. Terus dia bilang
“Bu aku gak sido”. Puji Tuhan..Tuhan itu baik
Yang serem lagi ini anak saya yang nomer tiga. Dia punya pacar
temen sekolah, di PT. PAL Sidoarjo, sudah sembilan tahun
pacaran. Dari dulu saya sudah pasang sein ke pacarnya. Kamu ikut
saya boleh, tidakpun juga nggak papa, tapi pemberkatan harus di
Gereja Katolik. Saya sudah katakan sejak awal, dia bilang ”Inggih
bu...inggih bu..”
Pada saat acara lamaran Romo Agus Sugianto bilang gini, ingat
sekali saya “He.. cincine sing masang aku jangan kamu, urung
karuan kalau dadi”. Tanda aneh lagi, kursi yang diduduki bu
Anton (alm), bu Mantri, bu Tutik, itu roboh, bruaak!!. Setelah
selesai saya berfikir alamat opo iki yo, kok Romo ngendikane gitu,
kursi’ne kok yo pokak, ya...semoga baik-baik saja.
Kurang dua bulan, saya sudah persiapan-persiapan, juga mencari
informasi ke Catatan Sipil, katanya kalau Katolik dengan Adven
nggak bisa. Saya cari informasi lagi di Sidoarjo, katanya bisa..ya ok.
Kemudian anak saya telpon, saya tanya, iki engko sidone di berkati
neng endi nduk? Wis deal lo yo neng Katolik lo yo. Terus dia bilang
gini:“Buk ketok’e aku diberkati neng grejo adven, ibuk piye?”
Wah..apa ini jalan Tuhan. Bapaknya marah: ”Wis kelangan ndok
sitok ae gak popo wis”. Saya bilang, ojok koyok ngono aku iki ibuk’e
sing ngandung toh nyowo. Tanyakan persyaratan pernikahan?
Saya tunggu satu jam, patung Bunda Maria ini saya dekap, saya
mohon padamu Bunda, tolong aku, suamiku marah, saya ingin
menyelamatkan anak saya. Setelah satu jam dia telpon: “Buk nek
ibuk gak sido mantu piye? Aduh rasanya seperti ketiban gunung
es. Sebentar kenapa nggak jadi? Permasalahanne opo? Kamu
mempermalukan ibuk? Dia bilang: “Nggak buk, ternyata aku
harus dipermandikan lagi, saya tidak mau”. Rasanya pak, saya
bersyukur berarti dia nggak mau. Berarti Tuhan telah menye
lamatkan anak saya. Bunda terimakasih, saya nangis sejadi-
jadinya, sampai tetangga dan simbah- nya bingung. Mbah aku gak
sido mantu! “Kenek opo nduk kok gak sido?” Wis gak popo sing
penting anakku slamet, mengko Gusti Yesus kan maringi sih luweh
apik. Saya percaya itu.
Setelah itu saya bilang ke Siska, sampaikan ke ibuknya calonmu,
kalau besok Bapak dan Ibuk akan ke Sidoarjo. Saya ini orangnya
kan temperamen, maka saya telpon Pak Yosef (ASIM) kami minta
untuk mendampingi di sana. Selama perjalanan saya nggak pernah
berhenti doa Salam Maria, jaga hati saya, jangan biarkan saya
disana nanti koyok Bolodewo. Bunda Maria jaga hatiku.
Ini benar terjadi disaat kita terjepit dan berdoa, Tuhan Yesus
mendengarkan. Disana saya ngomong enak nggak ada emosi,
nggak ada marah. Nggak ada yang salah, ini Tuhan belum
menentukan. Ibuknya menangis didampingi bapak Penatua dan
tokoh gerejanya ada empat atau lima orang. Mereka bercerita
tentang menantunya Katolik, sekarang ikut Adven. Saya tahan
aja pokoknya sekarang anak saya sudah ada digenggaman saya
lagi. Yang penting anak saya kembali puji Tuhan. Setelahnya,
saya bilang wis kung panjenengan selesaikan semua apa yang
kita jalanni, batalkan semua pesanan terop, elekton, rias dll
Sepulang dari calonnya itu, Siska saya ajak doa Novena sembilan
hari berturut-turut minta kekuatan Tuhan. Cuman itu saja nggak
ada yang lain, supaya hatinya dikuatkan, tidak ingat-ingat terus.
Dan benar mukjizat Tuhan itu nyata, setelah tiga bulan Siska
ketemu jodoh, temennya sendiri orang Katolik dari Madiun,
rumahnya di Tempursari.
Karena kami dipercaya oleh Tuhan untuk menjaga mereka agar
mereka tetep baik sampai akhir hidupnya. Maka kami berko
mitmen anak-anak harus baptis sejak bayi dan kalau menikah
harus diberkati di Gereja Katolik, nikah hanya satu kali, susah,
senang, sakit, sehat, adalah anugerah, harus dihadapi berdua. Itu
angger-angger, dari Tuhan. Memang menyakitkan tapi demi
keselamatan jiwanya. Terimakasih Tuhan Yesus.
PELAYAN-PELAYAN LITURGI DIMASA
PANDEMI
Oleh : Chatarina Dwi Novandari
Banyak sekali pengalaman yang kami dapatkan melayani di
Sie Liturgi di masa pandemi. Misa live streaming, tidak boleh
melibatkan banyak orang, sungguh bingung sekali. Terkadang saya
berfikir, apa yang Tuhan mau? Kenapa saya orang yang bodoh ini
Tuhan pakai? Sampai sekarang masih menjadi permenungan saya,
apa yang menjadi kehendak-Nya.
Chatarina Dwi Novandari & Cornelius Anjar (Ketua & Wakil Sie. Liturgi Paroki Cornelius i
Persis tanggal 2 Pebruari 2019 dalam misa bersama umat, saya
Chatarina Dwi Novandari, pertama kali dilantik menjadi
Koordinator Liturgi dengan partner mas Cornelius Anjar, yang
biasa kami panggil mas Lius. Terimaksih ya Tuhan atas berkat-Mu
ini. Tugas pertamaku adalah membantu Kevikepan Madiun
sosialisasi Ardas, gawe besar yang diadakan di aula kampus St.
Bernardus tanggal 9 Pebruari 2019 yang lalu.
Tanggal 6 Maret 2019 adalah Rabu Abu, kami mulai
menjalankan tugas liturgi saat hari-hari besar. Awal Maret kami
mulai dilibatkan dalam kepanitian Paskah. Segala rancangan telah
dipersiapkan untuk menyamput HR Paskah. Namun, semua
rancangan menjadi tidak berarti kerena tiba-tiba Corona datang,
mengoyak semua program yang ada.
Sabtu 21 Maret 2019, virus Covid 19 semakin mengganas,
Romo Kepala Paroki menyampaikan bahwa gereja akan ditutup,
sebagai gantinya Misa Streaming. Kami bersama team Komsos
diminta untuk mempersiapkannya. Jujur, mendengar istilah
"streaming" ya baru kali itu. Kami diberi tugas memper-
siapkannya, dengan pesan, tidak boleh melibatkan banyak orang.
Hanya ada satu Lektor, Pemazmur, Organis dan pengangkat lagu.
Sungguh suatu tugas yang berat. Kami tidak terbiasa berhadapan
dengan kamera, lampu-lampu yang menyilaukan. Tapi kami
harus
dengan kamera, lampu-lampu yang menyilaukan. Tapi kami
harus bisa bertugas dengan baik, demi Kemuliaan Tuhan dan
melayani umat.
Begitulah seterusnya, mulai Minggu, 22 Maret 2019 Gereja
Paroki St. Cornelius tidak ada misa off line. Gantinya setiap Sabtu
dan Minggu Gereja melaksanakan misa live streaming. Siapa
petugasnya? Lektornya saya sendiri, Pemazmur mas Lius; Organis
bergantian antara anak kami Tata dan Benni di Kapel Adorasi.
Karena masih ditengah masa pandemi akhirnya panitia
Paskah yang telah dilantik, urung bekerja. Dan tugas itu menjadi
tanggung jawab kami berdua sebagai sie Liturgi Paroki sampai
memasuki Pekan Suci. Kami duduk bersama dengan para Romo
untuk membahas petunjuk praktis dari Keuskupan tentang tata
cara misa tanpa umat selama Pekan Suci. Sungguh ini suatu
tantangan bagi kami menjadi panitia Paskah di misa off line saja
luar biasa sibuknya, apalagi di masa pandemi. Sama sekali tak
punya gambaran seperti apa jadinya nanti. Rasa was-was, sedih,
bahagia, entahlah ketika Romo memberi petunjuk, serasa ingin
menangis. Mampukah kami menyiapkan dan melaksanakan semua
rangkaian acara Pekan Suci itu dengan baik.
Biasanya banyak pihak membantu pada kegiatan Pekan Suci.
Tapi karena masih pandemi maka semua kegiatan menjadi tugas
kami, mulai persiapan sampai pelaksanaan misa dan iba-
dat selama Pekan Suci. Seperti memilih lagu sekaligus men-
yanyikannya, mempersiapkan dekorasi semua menjadi tugas
kami. Sung guh kami sangat bingung sekali. Hati ini berkecamuk
manakala Romo ngendikan, kami tidak boleh melibatkan banyak
orang di Pekan Suci, paling banyak 5 orang. Tuhan, mampukah
kami? Pertimbangan Romo Kepala Paroki karena kalau ada yang
positif, berarti lima orang itu harus diisolasi. Lalu kami ajukan
nama-nama petugas seperti Sr. Kristo, OSU untuk Organis, seka
ligus bisa minta bunga dari kebun biara untuk dekorasi Altar. Juga
suami saya sendiri pak Alex, beliau Ketua Bidang Kerasulan Awam
termasuk didalamnya ada team Komsos. Pak Alex membantu
menjadi pengangkat lagu, kemudian anak kami “Tata” membantu
organis. Tak lupa saya dan mas Lius sebagai Ketua dan Wakil Sie
Liturgi. Jawaban Romo Yan: “Yo wes bu, malah penak sak omah,
nek siji positif, isolasi ne sisan sak omah”.
Setiap hari kami berlatih menyanyi guna persiapan tugas misa
Team Liturgi Paskah 2021 dari kiri ke kanan : C Anjar, Tata , Sr. Kristo, Pak Alex dan Bu Rina i
Setiap hari kami berlatih menyanyi guna persiapan tugas
misa Pekan Suci. Organis Sr. Kristo, saya dan ndhuk Tata suara
satu, mas Lius dan pak Alex tennor. Sunģuh penyertaan Allah yang
luar biasa. Tuhan mudahkan kami berlatih nyanyi, mendekor.
Dulunya kami tidak terbiasa menata bunga di Panti Imam, kami
kerjakan dibantu pak Yasno, mbak Lucky. Bunga-bunga dari biara
Ursulin, kami bernafas lega. Puji Tuhan, misa kudus secara live
streaming di Pekan Suci siap meski dengan sederhana. Semua
berjalan puncaknya saat malam Vigili Paskah dapat kami
selesaikan. Lanjut besok misa Minggu Paskah juga berjalan baik
dan lancar. Puji Tuhan itu amazing, lewat kasih Nya Tuhan Yesus
mempersiapkan segalanya dengan baik.
Banyak sekali pengalaman yang kami dapatkan baik itu
dukungan, maupun kritik. Ternyata menjadi seksi liturgi dimasa
pandemi itu gampang- gampang susah. Tetapi yang jelas, saya
menemukan keluarga baru saat ini. Ada keterikatan batin diantara
kami. Selain itu, karena kami harus bertugas setiap kali misa
streaming berarti kami harus sehat jiwa raga kami. Untuk bisa
sehat, kami harus menjalin hubungan erat dengan Dia Sang
sehat, kami harus menjalin hubungan erat dengan Dia Sang
Empunya Hidup dan juga berusaha hidup sehat.
Sebagai manusia yang tidak sempurna, saya mohon maaf
kepada seluruh umat, saya belum bisa menjadi sie liturgi seperti
yang umat inginkan, belum bisa seperti yang diharapkan. Dan
ucapan terimaksih yang besar saya sampaikan kepada para
Lektor dan Pemazmur yang selalu siap bertugas kapanpun saya
tugasi. Semoga pelayanan tulus kita berkenan di hadapan Tuhan
dan sesama.
Pandemi memang belum usai, tugas kami sebagai sie liturgi
juga belum habis masanya. Harapan dan doa yang selalu kami
panjatkan kepada Dia, agar berkenan memperbolehkan bumi kita
semakin hari semakin sehat. Agar kerinduan umat untuk hidup
dengan lebih baik bisa segera dapat terwujud. Amin
. WAWANCARA .
SUNGGUH INDAH KARYA TUHAN
BAGI YANG SETIA
Madiun. 10 Agustus, Sie Keluaraga, wawancara di rumah Pasutri FX. Tjahjo Surjono-Julia Sri Handayani i
Pada tanggal 10 Agustus 2021, seksi keluarga berkunjung ke
rumah pasutri FX. Tjahjo Surjono-Julia Sri Handayani, di Jln. Sri
Widodo no 37A Sukosari Madiun (belakang puskesmas Oro-oro
Ombo). Pasutri ini adalah mantan penyiar radio Suzana Surabaya
tiga jaman. Kami ngobrol santai khas arek suroboyoan, blak-blak’an
di teras rumahnya, bercerita tentang hari tua, pelayanan,
perjalanan keluarga, dan anak-anak. Mari kita simak perjalanan
hidup yang menginspirasi ini
Bagaimana awalnya bapak dan ibu tinggal di Madiun?
Begini mas, menjelang pensiun kami membangun rumah ini, tahun
2010. Iki mbangune ngutang mas.. kan duite PNS dadi dientekne,
juga gaji yang dari radio Suzana. Setelah utang’e lunas 2013, terus
ke sini.
Jadi prosesnya pensiun atau gimana?
Mengundurkan diri. Kata bos :“Kamu ini masih diperlukan di
skianmi.”iJamwaasbikhuteWtaips sBiaorsa..anwdaikeradieoweSukzianwa,issettuieakp bhoasr.i mBuemFarnadnus
msiaernaimn proahlia:n“iK“aSmunigbaeirKdeuhaidinuippaenn”.yiar tiga jaman”. Sebenarnya dari
MSJauodzdaienwraaatmloa.auTupapudiinbaetkirnhi girrgenakyloadmkieaMnmdaiadsmiiuaunsniyhtautkmetbaaespkihesrisajaerardinniMgdaikdreiauSdnui,ordaSibuRazayadani?ao,
sIeytai.a.Jpamhareimmpeamt asnadmupsaiiarjanmrolihmanai s“iSaurnagna, ijKamehitduujuphanbalik berdua
terus siaran “Senandung Rindu”, lagu-lagu nostalgia. Jadi selama ini
saya bolak-balik Surabaya-Madiun. Waktu itu, St. Anna, ketua
lingkungannya masih Mas Yosef. Di Surabaya saya (Bu Frans)
masih sebagai bendahara di lingkungan St. Cicilia, serta juga aktif di
WK. Karena persyaratan menjadi penyiar Suzana itu harus aktifis.
Setelah bendahara lingkungan di Surabaya, saya carikan pengganti,
saya full di Madiun.
Sebenarnya Bu Frans itu aslinya dari mana ?
Saya lahir di Madiun, kemudian saya pindah ke Surabaya, jadi di
Surabaya sejak kecil. Dan ini adalah rumah nenek saya. Kalau Pak
Frans ini anak panti asuhan. Sejak kecil ibunya sudah meninggal,
Pak Frans ikut dari keluarga bapak. Karena mbah’e gak duwe bojo
akhirnya diambil oleh Romo Dibyo di taruh di Susteran di Blitar.
Ketemuanya Pak Frans di mana ?
Di Blitar saat liburan, Pak Frans sekolah di Akademi Maritim, saya
Ketemuanya Pak Frans di mana?
Di Blitar saat liburan, Pak Frans sekolah di Akademi Maritim, saya
mengajar di Mberu Wlingi Blitar. Kami menikah di berkati di Gereja
St. Cornelius Madiun, oleh Romo Rolando Siveri CM. Nunut
menikahlah ceritanya, karena orang tua saya kan di sini. Persiapan
pernikahannya di Paroki Kepanjen, karena saya tinggal di asrama
St. Yulia. Setelah menikah kami kontrak rumah pindah di tiga
Paroki, Kepanjen, Yohanes Pemandi terus yang terakhir di Santo
Yusuf Karang- Pilang
Di Jambangan melayani sebagai apa?
Pak Frans, menjadi seketarais wilayah Kring Barnabas., jadi Ketua
Lingkungan pernah, jadi berkecimpung di pelayanan ya sudah lama.
Dulu juga buat buletin barang di sana. Kalau di masyarakat Pak
Frans itu dulu jadi seketaris RW. Ada cerita unik, pas Rioyoan,
seketaris RT mudik ke Jember stempelnya kelalen di bawa. Terus
pas itu ada orang mati persis Rioyoan, apa nggak bingung, akhirnya
kita yang kepothok’an, untunge dibantu RT sebelah. Kalau pas
Rioyoan, kan yang bukan Islam jaga gawang, baik di RT, juga di
radio Suzana
Berapa putranya ?
Putra saya dua laki semua. Yang pertama lahir 20 September 1973.
Dan yang kedua 7 Oktober 1977. Kenapa kok jaraknya empat
tahun? Wis tak pikir, nanti kalau sekolah repot. Sing sitok’e masuk
SMA, sing adikn’e masuk SMP kan repot. Apane gak cekot-
cekot...makane di seling empat tahun.
Ada Gua Maria di depan rumah, apa harapanya?
Kami di hari tua ingin tenang berdoa. Dulu kami pagi kerja di Dinas
Pendapatan Daerah, sore sampai malam siaran dan terus menerus
begitu. Di rumah hanya untuk terminal. Maka saat tua ingin
mendekatkan diri dengan Tuhan, dengan membuat Goa Maria.
Sambutan dari lingkungan bagus, akhirnya ini di beri nama Gua
Maria Santa Anna, karena satu-satunya di lingkungan St. Anna
Pemberkatannya oleh Romo Dani, sekaligus pemberkatan rumah
ini. Kalau ada Doa Rosario njeber kloso disini nggak ungkep.
Madiun. 10 Agustus, Sie Keluaraga dan Pasutri FX. Tjahjo Surjono-Julia Sri Handayani di depan Gua Maris St. Anna i
Bagaimana, apakah anak-anak juga aktif melayani?
Anak-anakku niru mbok’e, anak saya yang mbarep jadi Ketua
Mudika, habis itu adik’e juga jadi Ketua Mudika. Ya puji Tuhan,
mantu saya kabeh Katolik, konco mudika semua. berkah Tuhan
AYepsaupsengalaman yang membahagiakan dari Bpk/Ibu Frans?
Rumah kami di Jambangan, Gunungsari Indah, di Madiun, semua
. di berkati. Yang di Jambangan di berkati oleh Uskup sendiri,
kemudian anak mbarep sunat, Bapak Uskup yo rawuh. Sampek
wong Paroki ngomong, “Pak, bu kalau menghadirkan Bapak Uskup
kudu lapor Paroki lo”. Dalam hati kapan aku menghadirkan
Monsinyur, la wong aku iki ngaturi mbah Kung’e ..he..he......
Demikian wawancara kami dengan Bpk/Ibu Frans yang dari
dulu sampai sekarang tetap setia melayani. Anak-anaknya, juga
diberkati dengan pasangan seiman. Sungguh indah karya Tuhan
bagi yang setia.
. SEKILAS INFO . Bebersih Gereja
Madiun, 28 Agustus 2021
Romo Leo bersama Seksi Litur-
gi, Team Komsos, Karyawan
Gereja melakukan kerja bakti
membersihkan di lingkungan
Gereja Katolik Santo Cornelius
Madiun guna menyambut Misa
tatap muka.
Pertemuan Romo Kevikepan
Madiun
Madiun, 30 Agustus 2021
Gedung baru Kevikepan Ma-
diun telah digunakan untuk
pertemuan Romo–Romo selu-
ruh Kevikepan Madiun. Anta
ra lain dari: Ngawi, Ngrambe,
Mater Dei, Cornelius, Ponoro-
go, Magetan & Klepu.
Sosialisasi BKSN 2021 Paroki
St.Cornelius Madiun
Madiun, 3 September 2021
Seksi Kerasulan Kitab Suci
mengadakan sosialisasi ba-
han BKSN tahun 2021 di balai
Parosi St. Cornelius. Dihadiri
seluruh Ketua Lingkungan
dan Stasi Paroki St Cornelis.
Ulang Tahun Imamat ke-22
Romo Agustinus Supriyadi
Madiun, 8 September 2021
Ndhèrèk bingah lan mangayu-
bagyo katur Romo Agus. Mugi
tansah pinaringan suko bi-
ngah makaryo minongko Ro-
mo ing Grejo Keuskupan Sura-
baya. (RD. Leo G.M)
Kamera Baru Komsos
Madiun, 11 September 2021
Terima kasih kepada Romo
dan BGKP yang telah me-
wujudkan usulan dari team
Komsos dan Liturgi, berupa
kamera baru. Semoga dapat
memberikan pelayanan ter-
baik kepada umat. Berkah
Dalem. (Alex)
o ..ULANG TAHUN PERNIKAHAN..
Periode : Tanggal 16– 30 September
SELAMAT ULANG TAHUN PERNIKAHAN BAGI PASUTRI:
Lingkungan PASUTRI HUP
St. Antonius, Patihan ALBERTUS EKO PUDJIONO - LAURENSIA WINARTI 30/09/1987
St. Anna, Sukosari FRANSISCUS XAVERIUS TURYANTO - MONICA KATINEM 26/09/1982
St. Ignatius, Oro-Oro Ombo LUIS ARIK - STEVANI SUKMADEWI SUSANTI 28/09/2014
St. Aloysius Pandean Vincentius Eka Sasangka Purnama - Bernadetha Agustina Inawati 25/09/1999
St. Aloysius Pandean Gregorius Hendro Gunawan - Erna Fangriani 21/09/2002
St. Aloysius Pandean Theodorus Hasta Tjandra Wibawa - Elizabeth Kurniati 18/09/1994
St. Carolus Boromeus Josenan YASINTA SOFIA SIMBOLON 23/09/1970
St. Carolus Boromeus Josenan STEFANUS ANDREAS SETYAWAN - PAULA JUSTINE SUSILO 17/09/2011
St. Johanes Nambangan Kidul Johanes Hary Anggoro - Maria Triviatiningsih 18/09/1995
St. Johanes Nambangan Kidul THERESIA SOETJIAMI 17/09/1960
St. Johanes Nambangan Kidul MARGARETHA SUWARTI SRI MARDIRINI 20/09/1969
St. Maria Nambangan Lor Johanes Kustono - Maria Laurensia Soeriani 21/09/1997
St. Paulus Nambangan Lor TIMOTHEUS ANDY SUGIYANTO - LEONILA MARIA SAD OMEGA KENCANAWATY 16/09/2000
St. Caecilia, Taman PETRUS MARUDIN SITANGGANG - SAVERIANA PAULINDA SIMAMORA 17/09/1996
St. Fransiskus Asisi Winongo YOHANES SAD WAHYONO - LIDWINA YULI RETNOWATI 17/09/1985
St. Fransiskus Asisi Winongo EMANUEL YANSEN - FRANSISCA HERI KUSWIDODO SRI HARUNI 17/09/1971
St. Lukas - Jiwan PAULUS NANANG - ANCILLA MARIA THIO FIFI 29/09/1991
St. Lukas - Jiwan MARIA SUKATMI 28/09/1963
St. Vinsentius , Pangongangan STEFANUS JUSWANTO SUBAGIO - AGNES MARIA RATNA KIEMAWATI 23/09/1983
St. Vinsentius , Pangongangan Andreas Agus Kunwahyudi - Sumini 16/09/1996
St. Vinsentius , Pangongangan SIRILIUS AGUNG TANDIEKO - KATHARINA TJANDRA NURIA 18/09/1983
St. Petrus, Jenangan SUPARTONO - THERESIA SUMARTINI 21/09/2013
St. Yohanes, Jenangan FRANSISKUS XAVERIUS AGUS DAMIYANTO - BRIGITTA YATINI EKA PRAMESTI 14/09/1997
St. Yohanes, Jenangan FRANSISKUS XAVERIUS SUDARTO - DWI LUWIDAWATI 21/09/2013
St. Maria, Jenangan YOHANES SUBARI - MELANIA NANIK SETJANINGSIH 29/09/1986
St. Maria, Jenangan ANDREAS MARDI SUCIPTO - KASIATI 21/09/2013
St. Anna, Caruban GREGORIUS ANTHONI SUSANTO - BEATRIX MEISYELINA WINALDY 16/09/2006
St. Anna, Caruban MIKAEL SONY SUPONO - LAURENSIA INEKE ANGRAENI KOESWORO 17/09/2011
St. Martinus, Caruban YOHANES KRISNADI - CHRISTINA WIJAYANTI 22/09/2009
St. Martinus, Caruban ANTONIUS DWI AGUNG GATOT RIANTO - YOSEFA ENDANG REPELITA 17/09/1995
St. Petrus, Caruban JULIUS YOSRI - THERESIA DWI RAHAYU 27/09/2014