KWealurtaarga Jalan A. Yani No.3
Edisi : Maret I, No 22/WKC/2022 TMealpd.i(u0n3M51)a4d5i2u2n4l7l6, (3081123134372896)121
.RENUNGAN. [email protected]
KELUARGA DIPANGGIL KE DALAM KEKUDUSAN
LEWAT SAKRAMEN BAPTIS
Oleh: RD. Agustinus Supriyadi
Saudara-saudariku yang terkasih, pada dasarnya bagi murid-
murid Kristus, baptisan merupakan syarat untuk masuk ke dalam
Kerajaan Allah. Berkat baptisan itu kita dilahirkan kembali secara
rohani untuk memasuki kehidupan yang baru yaitu wilayah keku-
dusan Allah. Baptisan sendiri dimaknai sebagai tanda dan sarana
kehadiran Allah atau sakramen. Berkat Sakramen Baptis itu, kita
bertumbuh dan berkembang dalam rahmat kekudusan dan kembali
kepada Allah dengan hati yang kudus pula.
Rahmat kekudusan itu perlu kita kembangkan, yaitu dengan
mengikuti teladan hidup Yesus Kristus. Artinya kita yang telah ter-
baptis perlu mengandalkan Tuhan Yesus dalam kehidupan sehari-
hari, hingga menghasilkan buah-buah kebaikan antara lain: rajin
berdoa, ikut merayakan Ekaristi, mengikuti pertemuan di Lingkung
an dan aktif dalam kegiatan menggereja dan berusaha untuk meng-
hasilkan buah-buah kasih terhadap sesama kita, mau menghargai
sesama kita, mau berjuang untuk menegakkan Kerajaan Allah, terli
bat dalam kegiatan-kegiatan sosial dan berusaha untuk memberi-
kan yang terbaik untuk tugas-tugas yang dipercayakan kepada kita,
kerukunan, persaudaraan dan lain-lain.
Saudara-saudari yang terkasih, berkat baptisan, kita tidak ha-
nya dikuduskan dari semua dosa, melainkan serentak menjadi cip-
taan baru (2Kor 5:17), kita diangkat menjadi anak Allah, serta me-
ngambil bagian dalam kodrat ilahi-Nya (2Ptr 1:4), dan menjadi ang-
gota Kristus dan menjadi ahli waris bersama Dia (Rm 8:17). Berkat
baptisan kita digabungkan bersama Kristus dan digabungkan dalam
panggilan imamat umum, yaitu: sebagai nabi (ikut serta dalam me-
wartakan kebaikan Allah), sebagai imam (dipanggil dalam kekudu-
san) dan sebagai raja (ikut serta membangun kesatuan/persekutu-
an). Dalam Kitab Hukum Kanonik, (Kan. 835 §4) dijelaskan bahwa
melalui baptisan kita diinkorporasikan (disatukan/digabungkan/ di-
leburkan) pada Kristus, dibentuk menjadi umat Allah dan sesuai
kedudukan masing-masing, kita dipanggil untuk menjalankan peru
tusan yang dipercayakan Allah untuk dilaksanakan di dunia. Hal ini
yang menjadi dasar bahwa berkat baptisan setiap keluarga Kristi-
ani dipanggil ke dalam kekudusan melalui kegiatannya, dengan me
ngebangkan tubuh Kristus, yaitu Gereja, terutama dalam keluarga
masing-masing.
Secara khusus keluarga-keluarga Kristiani dipanggil untuk
menghadirkan, menumbuhkan dan mengembangkan Gereja di tem
pat-tempat mereka dengan menjalani kehidupan secara konkret.
Justru karena anugerah baptisan yang telah diterima itu, keluarga-
keluarga dipanggil untuk menjadi saksi kekudusan bagi sesama
dengan tetap menjaga kesatuan diri dengan Kristus yang adalah
Kudus, terkhusus melalui usaha memelihara kasih dan persatuan
di antara anggota keluarga (suami-isteri dan anak-anak).
Kesatuan itu dapat dipelihara melalui sakramen Ekaristi, seba-
gai daya kekuatan rohani secara melimpah dan kasih Allah secara
tak terbatas bagi kehidupan manusia. Allah adalah kasih (Deus
Caritas Est). Melalui cinta kasih-Nya, Allah mencurahkan rahmat
kepada setiap keluarga Kristiani dan kepada kita semua, Rahmat
yang dicurahkan itu memampukan setiap orang "berbagi" dalam
kasih, yang perlu dihayati dalam semangat Sakramen Baptis dalam
kesatuan dengan Sakramen Ekaristi (bdk. LG art 42). Berkat Allah
semakin menguduskankeluarga-keluarga Kristiani. Amin
.SERBA-SERBI.
Anggota komunitas CSA Madiun (2013-2014) : Br. Yakobus, Br. Mathias, Br. Mikael, Br. Andreas , Br. Aleks,
Br. Bertus, Br. Dedi, Br. Neri, Br. Vincen
BRUDER CSA MEMBANGUN KAUM MUDA MENCINTAI
SAKRAMEN BAPTIS
Oleh: Br. Andreas CSA
Banyak keluarga, lingkungan, dan gereja sedang mengha-
dapi tantangan dalam mendampingi kaum muda. Mereka itu menu
rut para ahli masuk dalam Generasi Z. Yaitu generasi yang sangat
fasih memanfaatkan teknologi dalam berbagai sendi kehidupan-
nya dengan harapan yang melampaui batas. Ditengah tantangan
tersebut para Bruder CSA berkarya mendampingi Gen Z untuk
kembali mencintai sakramen gerejani, seperti doa hening (medi-
tasi), menghayati cinta kasih Tuhan yang rutin dilakukan di Panti
Asuhan St. Aloysius Madiun.
Bruder, CSA adalah biarawan Kongregasi Santo Aloysius (CSA)
yang didirikan oleh Pastor Willem Hellemons, O.Cist pada 1 Maret
tahun 1840 di Oudenbosch-Belanda. Bruder Yohanes Huybrechts,
O.Cist adalah Bruder CSA pertama yang merintis karya pendam-
pingan kaum muda yang mengalami krisis iman dan moral, setelah
perang Belgia-Belanda. Banyak pemuda menjadi apatis terhadap
kegiatan Gereja, tidak lagi menghormati sakramen Gerejani.
Kemudian karya misinya sampai di tanah Hindia Belanda
(Indonesia) dengan membuka karya pendidikan di Surabaya pada
28 Mei 1862, kemudian mengembangkan karyanya ke kota-kota
lain seperti Jakarta (1905), Semarang (1907), Bandung (1930),
Madiun (1934). Setelah melewati perjalanan panjang pada tahun
1999 kongregasi CSA di Indonesia mandiri. Karya Pendidikan, Panti
Asuhan semua dibiayai tarekat sendiri. Dengan menghayati sema-
ngat St. Aloysius Gonzaga para Bruder CSA terus berkarya dan bisa
ber- kembang sampai sekarang.
Konggregasi CSA berpusat di Semarang dan dipercaya Uskup
untuk mengelola dua yayasan besar, yaitu pendidikan dan sosial.
Untuk yayasan pendidikan dipercaya mengelola beberapa sekolah,
seperti Yayasan Theresiana, dan Bernardus dari TK sampai Poli-
tehnik, totalnya ada 33 sekolah. Juga Yayasan Soegyapranoto, yang
mempunyai karya sosial banyak seperti anak difabel, lansia, gelan-
dangan, semua diserahkan kepada para Bruder CSA.
Selain itu para Bruder, CSA juga membuka Wisma Lansia, yang
dulunya sekolah SMP kemudian tutup dan alih fungsikan menjadi
Wisma Lansia. Untuk Wisma Lansia ada kelas yang bagus, dan ada
yang nggak bayar. Yang berbayar ada Pavilyun dan VIP, dengan
fasilitas lengkap seperti AC, TV, semua kebutuhan harian makan,
minum di sediakan, ada dokter, perawat lengkap. Khusus untuk
Pavilyun, mereka yang bangun, kemudian dia tinggal di situ, bayar
biaya hidup sehari-hari ke Wisma.
Inilah karya kerasulan para Bruder, memang berbeda dengan
tugas Pastor. Pastor berkarya untuk Sakramen sedangkan Bruder
berkarya yang di luar Sakramen. Seperti mendampingi anak-anak
yang tinggal di Panti Asuhan, Sekolah, di Lingkungan agar kaum
muda kembali menghidupi sakramen baptis yang diterimanya
Anak Panti Asuhan St. Aloysius Madiun sedang berlatih Meditasi
Para Bruder CSA melewati pendidikan awal sebagai Novisiat
selama 2 tahun bisa diperpanjan setengah tahun. Sebelum masuk
Novisiat mereka sebagai Aspiran selama setengah sampai satu ta
hun, kemudian Postulan selama satu tahun, jadi total masa pra Novi
siat bisa satu setengah sampai dua tahun. Jadi urutanya Aspiran,
Postulan, Novisiat. Setelah Novisiat masuk “Kaul Pertama”,
selanjutnya bisa diutus ke medan karya, atau bisa studi tingkat
lanjut, tergantung kebutuhan tarekat. Para Bruder CSA dalam ber-
karya berpindah-pindah, tergantung petugasan dari dewan
pimpinan Konggregasi di Semarang.
Untuk karya kerasulan para Bruder CSA di Madiun sekarang ini
tinggal komunitas karya, seperti di bidang pendidikan berkarya di
RuBin Karya Ilahi ada tiga Bruder. Untuk di Panti Asuhan yang di
jalan A. Yani ada 4 Bruder. Sebenarnya kurang, ya semoga saja ada
anak muda yang terpanggil menjadi Bruder.
Demikian para Bruder CSA berkarya untuk membawa kaum
muda kembali mencintai Sakramen Gerejani.
Teriamaksih Tuhan Yesus memberkati.
PASUTRI P. MUDLIKAMTO–URSULA DYAH WAHYUNI
DIKUDUSKAN LEWAT SAKRAMEN BAPTIS
Pasutri Petrus Mudlikamto–Ursula Dyah Wahyuni telah diku-
duskan lewat sakramen Baptis sebelum menikah. Kemudian menjadi
murid Kristus, membangun Keluarga Katolik selama 50 Tahun dan
diberkati delapan cucu dari tiga putra-putrinya. Sekarang Bpk/Ibu
Kamto berdua saja menikmati masa pensiun dan tinggal di rumah
yang asri di Jln A. Yani GG Trubus no 9. Umat senior Lingkungan St.
Vincensiun Pangongangan ini senantiasa menghidupi nilai-nilai kris-
tiani, dengan rajin ke gereja, kadang digerakan suara hati untuk
berbagi dengan sesama, sebuah karya kecil yang membahagiakan.
Ibu Ursula Dyah Wahyuni adalah wong mediun asli lahir di
Pangongangan. Terlahir dari keluarga muslim, tapi ortunya menye-
kolahkannya dia di Bernadus mulai dari SD sampai SMP. Nilai-nilai
Kristiani telah tumbuh hingga akhirnya ketemu Pak Kamto anak
kost di dekat rumahnya. Mereka pacaran, saling mengenal lebih
dekat, kemudian sebelum menikah Bu Dyah dibaptis dengan nama
baptis Ursula. Semua dimudahkan karena pelajaran agama Katolik
sudah didapatkan waktu disekolah dulu, doa-doa juga banyak yang
dia sudah hafal. Tuhan mempersatukan mereka dalam Sakramen
perkawinan, tahuh 1972 diberkati oleh Romo Fornasari Sebastiano
di Gereja St. Cornelius Madiun. Setelahnya keluarga muda ini boyong
ke rumah dinas 12 tahun.
Pak Petrus Mudlikamto aslinya dari Prambanan, juga bukan
keluarga Katolik, tapi setelah ikut pendidikan di TNI AU, beliau
ketemu mas Yitno (Rohaniawan) kemudian dia dibimbing, akhirnya
dibaptis di Madiun oleh romo Dibyo Karyono pada tahun 1964.
Melihat foto-foto yang dipasang di rumahnya, banyak kena-
ngan seperti foto bersama dengan Pak Djoko Suyanto mantan
Menko Polhukan jaman SBY. Ada juga foto Pak Kamto dengan pak
Walikota Madiun sehabis pelantikan. Serta yang disebelah kanan
terpasang foto bersama para ASIM, bersama Mrg. Hadi Wikarto.
Pak Kamto sekarang berusia 80 tahun tapi kelihatan sehat,
resepnya apa? “Saya nggak pernah berfikir macem macem, bila hati
ingin melakukan apa ya saya dilakukan” Kata Pak Kamto. Seperti
saat Ulang Tahun yang lalu mereka berdua ingin berbagi 200 nasi
bungkus ke tukang becak. Sedangkan pas Ultah bu Kamto juga bagi
sembako ke Tukang Sampah. Semuanya ini dilakukannya karena
sadar telah menjadi Murid Kristus. “Saya sadar sudah usia segini ya
kami ingin berbagi, ya spontanitas saja” ujarnya.
Demikian yang bisa kami sampaikan dari hasil kunjungan ke
Pasutri Petrus Mudlikamto–Ursula Dyah Wahyuni umat lingkungan
St.Vincentius Pangongangan. Semoga nilai-nilai Kristiani yang terta-
nam dalam hati pasutri ini bisa mengispirasi banyak keluarga untuk
mau berbagi dengan sesama. Tuhan Memberkati.
PENSIUNAN KKO YANG DITANGKAP TUHAN
Bersama : Eustagius Ismoeni
Bapak Eustagius Ismoeni adalah pensiunan KKO yang telah
ditangkap Tuhan menjadi murid-Nya. Bapak kelahiran Madiun, yang
masa kecilnya tinggal di jalan Hayam Wuruk Mangunhardjo ini
berasal dari keluarga Muslim. Orangtuanya taat beribadah “ngaji”,
dan simbahnya adalah seorang Modin, tapi demi masa depan anak-
nya orang tua pak Ismoen menyekolahkan di sekolah Katolik yaitu
di SMPK St. Yusuf, yang akhirnya mengubah hidupnya.
Awal perjalanan baptis Pak Ismun dilakukan di Jayapura, “Saya
mantab jadi katolik dan dibaptis di Jayapura” Katanya dengan khas
gaya tentara. Kemudian dia menceritakan pengalaman hidupnya di
ambang batas hidup dan mati saat ditugaskan ke medan perang pa-
da tahun 1965, masa konfrontasi dengan Malaysia. Di tengah hutan
ada kontak dengan Pasukan Inggris (British Army). Disana bukan
tentara Malaysia tapi pasukan Gurka dan Inggris. Pas kontak dengan
tentara Inggris itu dia secara otomatis ambil Tanda Salib. “Mungkin
saya terpengaruh pada saat saya di SMP itu barangkali” Katanya
bersemangat, padahal waktu itu pak Ismoen masih Islam.
Keadaan mencekam berlanjut sampai pohon tempat perlindungan
roboh kena tembak, dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore terus dihujani
tembakan tentara Western dengan helikopter. Kemudian dia berfikir ka-
lau kembali ke pos takut kalau pos sudah diduduki, akhirnya dia berma-
lam di ketinggian, sambil berdoa Salam Maria, seperti kayak Rosario.
Teman-teman yang Islam Solat, tapi saya doa Salam Maria.
Terus keadaan terulang kembali pada tahun 1971 saat tugas bersa-
ma tim, terjadi kecelakan “Tank” yang tumpanginya tenggelam di Tu-
ban. Keadaan begitu mencekam itu dia secara otomatis berdoa pakai
Tanda Salib, dan Tuhan menyelamakannya. Setelah keadaan yang demi-
kian tersebut akhirya dia berfikir “Saya harus dibaptis menjadi Katolik,
saya harus katolik, saya harus Katolik” Katanya dengan mantab.
Suami bu Nictoriana Sri Purwaningsih ini masuk KKO tahun
1964, tamat tahun 1965, ditugaskan ke Kalimatan Utara saat konfrontasi
dengan Malaysia. Terus dia kembali ke Jawa sebentar, ditugaskan lagi ke
Biak ikut “Operasi Sadar” tahun 1967-1968. Kembali lagi ke Jawa Te-
ngah ditempatkan di Cilacap, nggak lama kembali lagi ke Madiun terus
tahun 1973 pindah ke Jayapura sampai tahun 2013. Kemudian keluarga
boyong ke Madiun karena pak Ismoen ada penyakit jantung dan syaraf
kecepit.
Nanti bulan April usia penikahannya masuk 50 tahun, apa resep
kesetiaannya? “Karena iman saja” katanya. Bila setiap ada godaan,
masalah atau apapun, dia selalu bawa dalam doa setiap malam. Se-
belum berdoa beliau mengadakan introspeksi diri. Katanya: “Saya
mengevaluasi diri mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur
kemudian saya bawa kedoa”. Inilah kekuatan Iman dan doa, resep
pasutri Ismoen-Sri Purwaningsih yang bisa menghadapi tantangan
Rumah Tanggal selama 50 tahun. Sungguh dasyat doa dijalankan
mereka berdua, yang menurut Romo Leo itu namanya Doa Examen
Extension ( pemeriksaan batin ).
Dalam praktek sehari-hari para tentara, melakukan instrospek
si terus doa. Maka tradisi ini telah menjadi bagian keluarga. Dalam
setiap perkara dia tidak pernah menyalahkan istrinya. Dia coba
salahkan diri sendiri, “Kenapa kok saya begini”.
Demikian sekilas tentang buah buah sakramen baptis yang di
terima Pasutri Ismoen- Sri Purwahyunisih, dalam setiap perkara dia
selalu merenungkan apa yang salah dalam diriku. Indahnya
pengampunan menjadi harapan kita para keluarga. Amin
.WAWANCARA .
BERSAMA ROMO LEO, MODERATOR SEKSI KELUARGA
PAROKI ST. CORNELIUS
Kunjungan Romo kali ini unik. Disaat kunjungan pada tanggal
17 Februari yang lalu di Lingkungan St Maria Nambangan Lor, eh
ternya malah Romo Leo yang diwawancarai. “Loh kok jadi saya
yang di wawancari” kata RD Leo Giovani Marcel. Bagaimana hasil
wawancaranya mari kita simak bersama :
Kenapa Romo Leo terpanggil menjadi Imam?
Sejak saya masih SD saya kan ikut misdinar, saya mulai tertarik
pribadi Romo, akhirnya ada keinginan. Ya namanya anak kecil ya
saat ditanya orang mau jadi Romo ya. Saya jawab.”Ya mau jadi
Romo gitu” Apalagi ada dukungan dari Orang tua juga. Panggilan itu
sudah sejak dari Misdinar. Panggilan itu menular, siapa yang di
kenal pertama kali ya begitu. Kalau mau jadi Romo kan harus
masuk seminari, saya masuk seminar di Garum Blitar. Setelah lulus
SMP langsung masuk Seminari. Dulu ada seminari kecil sekarang
sudah dihapus, kasiahan kan masih terlalu kecil. Sekarang seminari
menengah.
Kenapa masuk ke Seminari
Garum?
Itu lancar ya Romo ? Karena kota Rembang itu masuk
Keuskupan Surabaya. Sebenarnya
saya mau masuk Mertoyuda tapi
sama Romo Paroki dianjurkan di
Garum, “Kenapa tidak di Seminari
kita sendiri kita punya di Blitar”.
Terus saya masuk pendidikan se-
minari menengah 4 tahun kemu-
dian dilanjutkan Tahun Rohani 1
tahun, Seminari Tinggi Interdio-
sesan Malang 7 tahun. Jadi dari
seminari menengah hingga ditah-
biskan lamanya 12 Tahun .
Lancar karena pendidikan bisa sa ya dikuti dengan baik tidak per-
nah tinggal kelas. Kan tantangan awal adalah nilai-nilai akademis,
beberapa ni-
beberapa nilai harus diatas 6 seperti: Agama, bahasa Inggris dan
bahasa Latin. Itu yang pokok.
Romo terus tinggal di Paroki apakah tidak bosen?
Semua orang itu kan ya ada tingkat kebosanan, keluargapun juga
bosen. Ya bener, yang bikin semangat jadi Imam itu ya ketemu de-
ngan umat. Karena dengan ketemu umat itulah Imam melayani.
Untuk umat itulah saya ditahbiskan. Jadi sumber kekuatan Imam
Projo ya dari umat itu sendiri.
Jaman sekarang kan banyak godaan, bagaimana cara Romo
mengatasi?
Ya berdoa minta rahmad kesetiaan setiap hari. Nggak usah muluk-
muluk dalam arti: Dalam doa saya ingin setia sampai akhir. Dan
ketika saya mendapati diri saya setiap pagi bangun tidur masih
setia sebagai Imam saya sangat bersyukur. Jadi saya mohon rah-
mat
mat kesetiaan itu setiap hari dan setiap saat dalam hidup saya. Itu
saja saya sudah bahagia. Umat pasti mendukung, jadi Romo kan ya
sulit. Kan ada yang sudah jadi Romo saja juga bisa keluar, apalagi
masih Frater atau masih di Seminari. Makanya umat harus selalu
mendoakan para Imam. Bagi kaum muda jangan takut menjawab
panggilan Tuhan untuk jadi Imam. Justru panggilan menjadi imam
itu yang tidak tergantikan bahkan oleh artifisial/kecerdasan buatan
sekalipun. Imam akan selalu dibutuhkan terutama dalam rangka
Cura Animarum atau penyelamatan jiwa-jiwa. Ada kebahagiaan
tersendiri ketika mau di pakai Tuhan sebagai pelayan-pelayan-Nya.
Maksudnya jaman IT, kan banyak godaan bagaimana mengha-
dapi orang2 yang jahil begitu?
Ya paus sendiri bilang IT itu bisa bermagna positif dan negatif, ter-
gantung yang menggunakan. Untuk sarana pewartaan bisa menjadi
positif. Cuman untuk pendidikan belum boleh memegang HP. Di
beberapa seminari kalau masih frater tidak boleh pegang HP.
Oh begitu, bagaimana kalau mau menghubungi keluarga ?
Itu kan bisa telpon biasa, atau satu HP untuk satu komunitas.
Sekarang Romo usia berapa?
38 tahun. Saat tahbisan usia 27 tahun.
Berapa jumlah calon Imam yang seangkatan Romo, di Seminari
Garum Blitar?
Jadi saat di seminari Garum teman seminaris itu totalnya ada 48
yang jadi romo Cuma 3. Saya ditahbiskan di Gereja Katedral Sura-
baya tahun 2010 oleh Mrg. Sutikno Wicaksono. Saat ditahbiskan
kami berjumlah 8 orang terdiri dari tujuh imam Projo Keuskupan
Surabaya dan satu Imam Konggregasi Misi.
Demikian sekilas tentang perjalanan imamat Romo Leo Giova-
ni Marcel. Resepnya berdoa minta rahmad kesetiaan setiap hari.
Nggak usah muluk-muluk, dan ketika setiap pagi bangun dan masih
setia sebagai Imam, ia sangat bersyukur. Semoga para keluarga juga
diberi rahmad kesetiaan dan bersyukur setiap hari. Berkah dalem.
RUBRIK KATEKESE
“Warta Keluarga Cornelius” telah mem-
buka Rubrik Katekese, ruang tanya
jawab dengan Romo, seputar : Iman, Ki-
tab Suci & Perkawinan Katolik. Perta-
nyaan bisa di WA ke redaksi WKC :
081334372896
081556439468
RD Robertus Tri Budi Widyanto
Pertanyaan dari Bapak FX Hario umat dari Lingkungan St.
Petrus Taman.
Setibanya di rumah Petrus Yesuspun melihat ibu mertua Petrus
terbaring karena sakit demam (Mat 8:14)
Disini tertulis “ibu mertua” bukan “bekas ibu mertua” berarti
Petrus saat itu masih dalam ikatan perkawinan /mempunyai istri.
Pertanyaannya:
1. Mengapa Yesus mengajak Petrus menjadi muridNya (penjala
manusia) yg notabene msh punya istri ?
2. Apakah untuk menjadi biarawan/wati (termasuk jaman dulu)
ada syarat harus “belum”/tdk menikah ?
3. Mungkinkah suatu saat nanti ada orang yang mengaku “keturu-
nan” Petrus atau rasul lainnya ?(habib = islam)
Mohon penjelasan terimakasih Berkah Dalem.
Jawaban :
Bapak FX. Hario saya mencoba menjawab pertanyaan bapak.
1. Tentang status Petrus itu memang ada banyak pendapat dari
para ahli tafsir atau ekseget dan salah satunya mengatakan
bahwa status Petrus saat itu sudah duda.
21. Kalau tentang biarawan/biarawati, lembaga atau tarekat ini
muncul pada awal-awal kekristenan. Ketika kemartiran mu- lai
berkurang, banyak orang ingin menghayati kemartiran secara
tidak berdarah, yaitu dengan menjadi pertapa di padang gurun.
Ini yang menjadi cikal bakal hidup membiara. Bentuk
kemartirannya adalah dengan menghayati tiga nasi- hat Injil itu
dalam gaya hidup mereka yang salah satunya adalah dengan
menjalani hidup selibat.
32. Untuk kemungkinan adanya pengakuan sebagai keturunan
Petrus? Oo jangan kuatir. Yang mengaku keturunan Yesus saja
juga ada. Jadi hal-hal seperti ini kemungkinan bisa saja terjadi.
Tapi ya seperti biasa, isu semacam ini biasanya cepat hilang dan
sudah ditanggapi mereka yang ahli sejarah.
Ahli sejarah biasanya membuktikan bahwa keturunan Yesus,
misalnya, tidak pernah terbukti. Dan Soal keturunan rasul, tidak
pernah ada cerita sejauh ini. Isu-isu tentangnya juga tidak tam-
pak di media.
SEKILAS INFO Moleknya Gudang PSE
Madiun, 22 Februari 2022
Di belakang ada gudang PSE ke-
mudian Romo bersihkan dan
manfaatkan sesuai yang ada di
dalamnya yaitu lemari antik 2
dan dipan antik2. Romo format
jadi kamar dengan cara bersih-
kan bersama karyawan lalu pa-
sang keramik lantai & dinding
yang lembab serta pengecatan
dinding dan atap lalu plitur
mebel2 tua tadi. Jadi Indah.
Sosialisasi PI -APP 2022
Madiun, 24 Februari 2022
Seksi Katekese Paroki St. Corne-
lius Madiun sedang mengada-
kan sosialisasi Pendalaman Iman
Aksi Puasa Pembangunan 2022
di Jenangan, yang di hadiri oleh
para Kaling dan Seksi Pewarta
lingkungan seluruh Stasi dari
Caruban, Saradan dan Jenangan.
Kunjungan ke Lingkungan
St. Vincencius
Madiun, 17 Februari 2022
Romo Leo dan seksi Keluarga
kunjungan I ke Keluarga Bkp
Mudlkamto di Jln. A Yani Gang
Trubus no 18 Madiun. Umat
lingkungan St Vincentius.
Kunjungan ke Lingkungan
St. Maria Nambangan Lor
Madiun, 17 Februari 2022
Kemudian Kunjungan Romo
yang ke II adalah di keluarga
Bpk Ismoen di jln Merpati umat
lingkungan St Maria Nambangan
Lor
Kunjungan ke Lingkungan
Yudas Tadeus
Madiun, 17 Februari 2022
Kunjungan yang ke tiga adalah di
keluarga Finariawan di Jln Dr.
Soetomo diterima oleh Ibu Chate
rine dan putrinya Andrea. Umat
lingkungan St. Yudas Tadeus.
Misa HUP bulan Februari
Madiun, 27 Februari 2022
Misa HUP bulan Februari diada-
kan pada tanggal 27 Februari di-
ikuti sebanyak 5 pasutri dan sete
lah Misa, didoakan dan pem-
berkatan oleh Romo Agustinus
Supriyadi, dilanjutkan foto ber-
sama. Betapa indahnya keluarga
dalam kesatuan dengan Tuhan.
. .SELAMAT ULANG TAHUN PERNIKAHAN. .
Periode : Tanggal 1 - 15 Maret, bagi Pasutri :
Lingkungan PASUTRI HUP
St. Angela Merici, Prajuritan LUKAS HARTONO - MARIA ASTRIA SRI NGABEKTI 1/3/1983
St. Antonius, Patihan ANTONIUS SUDJIANTORO - CHRISTINA SUMIRAH 2/3/1978
St. Antonius, Patihan ANITA AGUSTINA 9/3/2009
St. Gregorius Agung, Nglames YOHANES ANANG SUPRIANTO - YOHANA SUIN SUSANTI 10/3/2002
St. Frans. Xaverius, Oro-Oro Ombo YUVENTIUS NOTO NINDITO - LUSIA SUYATI 3/3/2003
St. Ignatius, Oro-Oro Ombo ANTONIUS SUROTO - MARIA HARYATI 5/3/1972
St. Aloysius Pandean Thomas Aquino Sutikno 1/3/1979
St. Aloysius Pandean Aloysius Sutrisno - Theresia Sukasih 1/3/1974
St. Carolus Boromeus Josenan Monica Endang Winarsih 3/3/1980
St. Carolus Boromeus Josenan THOMAS DE VILLANOVA DJOKO MURDIANTO 12/3/1998
St. Johanes Nambangan Kidul Agnes Lily Juliastuti 2/3/2003
St. Paulus Nambangan Lor YOHANES MAMIK SLAMET RIYADI - MARIA MAGDALENA ATIEN HARIASTUTI 7/3/1981
St. Caecilia, Taman THOMAS TATANG ARIK PRASETYO - ALBERTA KRISTIANI 1/3/2008
St. Maria, Kejuron INDARSO SANDJOYO 14/03/1973
St. Maria, Kejuron VINCENTIUS HARIS KUNTADI - MARIA FRANSISKA FANNY FEBRIANTI 7/3/2007
St. Maria, Kejuron JOHANES BAMBANG SAKRI - VERONIKA WIE TJOE / NANIEK BUDHIARTI 1/3/2008
St. Fransiskus Asisi Winongo SULISMIYANTO - THERESIA RETNO WULANSARI 14/03/2011
St. Lukas - Jiwan Christiana Sutasmi 13/03/1965
St. Lukas - Jiwan IGNATIUS R. HERMAN SUSILO - YOHANA YOHANA TIEN R 9/3/2000
St. Margaretha, Winongo PHILIPUS NERI SUKOCO - MARGARETHA ANIK WIDYASTUTI 8/3/2013
St. Vinsentius , Pangongangan Bonaventura Soempono - Maria Magdalena Lukitaningsih 1/3/1968
St. Vinsentius , Pangongangan FRANCISCUS XAVERIUS MARJANA - ASTERIA PARWATI 5/3/1968
St. Martinus, Caruban PAULUS YULIANTO - MARIA MARGARETHA ISTININGSIH 10/3/1979
St. Martinus, Caruban KATARINA PARITI 3/3/1981