The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini hadir sebagai upaya untuk menelusuri catatan-catatan yang mencangkup berbagai aspek, termasuk sejarah Kota Tangerang Selatan, eografis, sarana transportasi, peristiwa bersejarah dan infratruktur masa lampau.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by iyusmanutomo22, 2023-07-01 10:43:29

Tapak Jejak Tangerang Selatan

Buku ini hadir sebagai upaya untuk menelusuri catatan-catatan yang mencangkup berbagai aspek, termasuk sejarah Kota Tangerang Selatan, eografis, sarana transportasi, peristiwa bersejarah dan infratruktur masa lampau.

Keywords: Tangerang Selatan,Sketsa,Ilustrasi

i Tapak Jejak Tangerang Selatan Iyusman Utomo


ii


iii Tapak Jejak Tangerang Selatan


iv Tapak Jejak Tangerang Selatan Cetakan Pertama, 2023 Ilustrasi Iyusman Utomo Penata Letak Iyusman Utomo Diterbitkan oleh : Universitas Mercu Buana Jl. Meruya Selatan No. 1 RT 004/RW 01 Telp. (021) 5840816 Jakarta 11650 Iyusman Utomo Mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Mercu Buana, 2023 58 hlm; 14,8 x 21 cm


v Pengantar Buku ini hadir sebagai upaya untuk menelusuri catatan-catatan yang mencangkup berbagai aspek, termasuk sejarah Kota Tangerang Selatan, geografis, sarana transportasi, peristiwa bersejarah dan infratruktur masa lampau. Buku ini juga mengajak kamu untuk mengunjungi lokasi secara langsung agar bisa menjelajahi setiap detail lokasi dan merasakan suasana secara langsung. Selain itu, Buku ini bisa menjadi jurnal untuk menceritakan tapak jejak kamu di Kota Tangerang Selatan dengan menulis, bahkan mengisinya dengan gambar atau menempelkan foto. Jika kamu sudah melengkapinya maka buku ini telah sepenuhnya menjadi buku tapak jejak kamu.


vi Melacak Sejarah Pemekaran Letak Geografis Sarana Transportasi Rekaman Peristiwa Infrastruktur Masa Lampau Tapak Jejak Kamu 1 13 21 27 35 48 vi Daftar Isi


1 Melacak Sejarah Pemekaran


2 Tangerang Selatan dan “Tangerang” Dahulu Tangerang Selatan (Tangsel) merupakan bagian dari Kabupaten Tangerang. Dalam laporan yang ditulis oleh Gubernur Hindia Belanda, Thomas Stamford Raffles, yang kemudian dibukukan menjadi The History of Java (1871) tertulis keberadaan Tangerang sebagai bagian dari distrik Banten. Saat itu, Tangerang disebut sebagai “Tangran”, yang digambarkan oleh Raffles sebagai wilayah yang menjadi batas antara Bantan (Banten) dengan Batavia yang dibelah oleh sungai Chidani (Cisadane) (Raffles, 1871, diterjemah dan diterbitkan ulang oleh Penerbit Narasi, 2008). Pada awal abad ke-17, Tangerang termasuk salah satu wilayah yang dilewati oleh Jalan Raya Pos dari Anyer di Banten sampai Panarukan di Jawa Timur. Dibangun selama dua tahun (1808-1810) oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels.


3 Pada penghujung abad ke-17, wilayah Tangerang menjadi jalur alternatif ke padalaman bagi kegiatan perdagangan dari pesisir, terutama ke daerah Buitenzorg (Bogor) dan sekitarnya, selain melewati jalur darat dari Sunda Kelapa di Batavia. Sejumlah jalur Transportasi ini digunakan untuk mengangkut berbagai jenis komoditas, baik yang diperdagangan secara domestik maupun untuk diekspor. Hal itu terbukti dari sejumlah laporan sejarah tentang Tangerang.


4 Suwir bambu menggunakan pisau Proses pewarnaan dengan pengapian “produk topi bambu dan pandan Tangerang sangat digemari di Eropa untuk semua kalangan. Nyonya dan nona cantik di Perancis di awal abad ke-20 kerajinan engenakan topi buatan Tangerang itu. Jutaan topi Tangerang diekspor ke Eropa setiap tahun pada masa jayanya” Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Pos Jalan Daendels yang dikutip oleh Laporan Penjelajahan Jurnalistik Kompas berjudul Ekspedisi Anjer-Panaroekan (2008) menulis : “


5 Menganyam Topi Bambu Menjemur topi


6 Pertanyaannya, dari mana sebutan kata “Tangerang” berasal? Pelacakan terhadap kata “Tangerang” dari beberapa sumber merujuk pada tradisi lisan yang menjadi pengetahuan masyarakat Tangran saat itu. Nama daerah Tangran dulu dikenal dengan sebutan Tanggeran yang berasal dari bahasa Sunda yaitu tengger dan perang. Kata “tengger” dalam bahasa Sunda memiliki arti “tanda” yaitu berupa tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC), sekitar pertengahan abad ke-17. Tugu dibangun oleh Pangeran Soegiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa. Sedangkan istilah “perang” menunjuk pengertian bahwa daerah tersebut dalam perjalanan Tugu


7 sejarah menjadi medan perang antara Kasultanan Banten dengan tentara VOC. Hal ini makin dibuktikan dengan adanya keberadaan benteng pertahanan Kasultanan Banten di sebelah barat Cisadane dan benteng pertahanan VOC di sebelah timur Cisadane. Keberadaan benteng tersebut juga menjadi dasar sebutan daerah sekitarnya (Tangerang) sebagai daerah Benteng. Sehingga selama masa pemerintahan kolonial, Tangerang lebih lazim disebut dengan istilah “Benteng”. Perubahan sebutan Tangeran menjadi Tangerang terjadi pada masa daerah Tangeran mulai dikuasi oleh VOC yaitu sejak ditandatangani perjanjian antara Sultan Haji dan VOC pada tanggal 17 April 1684. Sketsa aliran sungai Cisadane


8 Kota ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Tangerang. Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini termasuk ke dalam karesidenan Batavia dan kebanyakan terdiri dari karakteristik tiga etnis, yaitu Suku Sunda, Suku Betawi, dan Suku Tionghoa. Rumah suku Sunda Rumah suku Betawi Rumah suku Tionghoa Awal Pembentukan


9 Pergerakan masyarakat ini juga dimulai melalui lembaga (LSM) SPOT yang dibentuk spontan ketika itu. SPOT artinya titik atau fokus ke satu masalah, yaitu masalah otonomi daerah. Akan tetapi tidak menggunakan LSM untuk menghindari praduga orang lain bahwa lembaga ini didanai oleh pihak tertentu. Untuk memperkuat dan mempersatukan para aktivis yang ingin memperjuangkan pembentukan Kota Cipasera, maka dianggap perlu membentuk sebuah wadah. Kemudian disepakati membentuk komite bernama Komite Persiapan Pembentukan Daerah Otonomi Kota Cipasera (KPPDO-KC). Komite ini diketuai Basuki Rahardjo dengan sekretaris Hidayat berdasarkan hasil pemilihan voting one man one vote. Pembentukan wilayah ini sebagai kota otonom berawal dari keinginan warga di kawasan Tangerang Selatan untuk mensejahterakan masyarakat. Peranan organisasi masyarakat lokal dalam pembentukan Kota Tangerang Selatan dimulai dengan beberapa tokoh masyarakat mulai menulis artikel harian Radar Tangerang, Media Indonesia, dan Kompas untuk mempropagandakan wacana pemekaran daerah agar wilayah Cipasera dibentuk menjadi kota otonom yang terpisah dari Kabupaten Tangerang. Cipasera adalah akronim dari Ciputat, Pamulang, Serpong dan pondok Aren. Gagasan geografis Cipasera inilah yang kemudian menjadi bibit gagasan perlunya sebuah daerah otonom yang dari mengurusi berbagai persoalan yang muncul di wilayah itu.


10 Tanggal 31 maret 2002, KPPDO-KC menggelar deklarasi Cipasera di Gedung Pusdiklat Departemen Agama, Ciputat. Dihadiri oleh masyarakat dengan jumlah lebih dari 1000 orang. Deklarasi juga mendapat pengawalan pasukan garda FKKP (Forum Komunikasi Pemuda Pagedangan). Acara diliput oleh media cetak dan elektronik baik lokal maupun nasional. Tiga hari kemudian ketua KPPDO-KC juga menerbitkan buku: “Kajian awal, Pembentukan Daerah Otonom Kota Cipasera”, ditulis oleh Basuki Rahardjo dan Hidayat. Tahun 2004, jabatan sebagai ketua KPPDO-KC dilepas oleh Basuki berkaitan dengan terpilihnya ia menjadi anggota DPRD Kabupaten Tangerang.


11 Akan tetapi pada perkembangannya terdapat berbagai perubahan-perubahan, sehingga ormas format yang lebih banyak berperan. Dengan demikian terdapat peranan yang cukup besar dari organisasi-organisasi kemasyarakatan ini dalam pembentukan Kota Tangerang Selatan. Oleh karena itu pembentukan Kota Tangerang Selatan ini merupakan tidak lepas dari respon pemerintah Kabupaten Tangerang dengan masyarakat lokal, yang eksistensinya untuk mengajukan pemekaran dapat direpresentasikan dari keberadaan elit-elit lokal, ataupun dari berbagai bentuk organisasi kemasyarakatan. Pembentukan Kota Tangerang Selatan ini nampaknya menjadi bentuk aktualisasi politik masyarakat yang direpresentasikan dari keinginan masyarakat Tangerang Selatan yang diaspirasikan BPD, FKK dan berbagai ormasi yang kemudian menjadi aktualisasi politik karena telah disetujui oleh DPRD Kabupaten Tangerang, Pemerintah Kabupaten Tangerang, dan Pemerintah Provinsi Banten.


12 Akhirnya pada tanggal 29 Oktober 2008, melalui sidang paripurna Provinsi Banten di DPR, dengan pengesahan Undang-Undang No. 51 Tahun 2008 yang ditetapkan pada 26 November 2008. Dibentuknya Kota Tangerang Selatan ini kemudian memberikan identitas baru bagi warga masyarakat yang sebelumnya menjadi bagian Kabupaten Tangerang, saat ini telah berubah menjadi warga masyarakat Kota Tangerang Selatan.


13 Letak Geografis


14 Nama Ciputat (Tjipoetat) diketahui berasal dari bahasa sunda yang terdiri dari dua kosakata, yaitu Ci yang berarti air atau sungai, sedangkan Putat berarti pohon putat. Kemudian jadilah nama Ciputat yang berarti banyak pohon putat tumbuh disekitar sungai. Jika melihat kondisi geografis wilayah Ciputat, wilayah ini banyak dilewati oleh sungai-sungai dan situ, serta terdapat juga pohon putat. Namun sejauh ini, tidak ada yang tahu pasti kapan dan siapa yang pertama kali mencetuskan nama Ciputat. Tidak ada sumber lokal yang dapat menjelaskan tentang nama Ciputat itu berasal, akan tetapi Ciputat sudah ada sebelum datangnya bangsa Eropa. Karena nama Ciputat menggunakan bahasa lokal, tidak menggunakan bahasa asing. Hal tersebut menunjukkan bahwa sejak dahulu kemungkinan sudah ada orang dalam suatu desa/kampung yang menempati daerah Ciputat. Ciputat Pohon Putat


15 pemerintah kolonial Belanda mengutus orang-orang tepercaya mereka yang bekerja pada VOC Belanda untuk mengelola tanah, pertanian, dan perkebunan di sekitar daerah Kota Batavia. Berdasarkan hal tersebut, hasil bumi dari daerah-daerah luar Kota Batavia dapat dijual oleh VOC dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Oost-Indiën (“Old and New East-India”), sebuah buku tentang sejarah Dutch East India Company dan negara-negara timur jauh. Pada buku tersebut terdapat gambar peta yang menggambarkan wilayah Batavia dan sekitarnya, termasuk terdapat juga wilayah Ciputat (Tjipoetat). Berdasarkan peta tersebut, daerah Ciputat pertama kali tercatat yaitu pada tahun 1724. Orang-orang Eropa yang diyakini melakukan penjelajahan di sekitar Batavia mengetahui nama-nama daerah tersebut dari orang-orang pribumi yang menetap di daerahnya. Pada tahun 1700-an VOC (Vereenigde Ooostindische Compagnie) sudah berkuasa di Batavia, dimana mereka memperkerjakan orang-orang asing selain orang Eropa, yaitu orang-orang yang berasal dari Cina, Arab dan Pribumi. Demi menunjang kehidupan di Batavia, Daun Pohon Putat


16 Pondok Aren Pondok Aren adalah kecamatan terluas di Tangerang Selatan dengan luas wilayah yaitu 2.988 km² atau 20,30% dari luas keseluruhan Kota Tangerang Selatan. Kata “Aren” berasal dari nama pohon aren (Arenga pinnata) sejenis palem-paleman. Awal berdirinya Kecamatan Pondok Aren pada tahun 1982 hasil dari pemekaran Kecamatan Ciledug yang pada saat itu masih merupakan bagian dari Kabupaten Tangerang. Pada awal berdirinya, Kecamatan Pondok Aren melaksanakan kegiatan pelayanan di Desa Pondok Aren karena saat itu belum memiliki gedung, namun sejak tanggal 20 September 1983 kegiatan pelayanan dipusatkan di gedung yang telah di bangun dan diresmikan oleh Bapak Bupati Tangerang H. Tajus Sobirin yang di bangun di areal tanah eks perkebunan karet milik PTP XI yang pada saat itu masuk wilayah Desa Pondok Aren. Sejalan dengan perkembangan wilayah yang cukup pesat dan dalam rangka penataan wilayah, pada tahun 2003 Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang bekerja sama dengan pengembang yang ada di Kecamatan Pondok Aren yaitu PT. Jaya Real Property, Tbk, membangun sebuah kawasan Perkantoran Kecamatan Pondok Aren. Pohon Aren


17 Pada awal abad ke-18, wilayah Pamulang menjadi lokasi pertanian yang ditanami padi dan kelapa sawit oleh penduduk setempat. Namun, pada masa kolonialisme Belanda, sebagian besar tanah di Pamulang diambil alih oleh pemerintah Belanda dan dijadikan perkebunan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi Belanda. Setelah Indonesia merdeka, wilayah Pamulang mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama pada tahun 1980-an. Pemerintah mengembangkan wilayah Pamulang sebagai kawasan pemukiman dengan memberikan bantuan kepada masyarakat untuk membangun rumah. Saat itu, Pamulang masih berada di wilayah Kabupaten Tangerang. Pada tahun 1993, Pamulang dimekarkan menjadi kecamatan dan masuk ke dalam wilayah Kota Tangerang Selatan. Sekarang, Pamulang telah menjadi kawasan yang berkembang pesat. Pamulang


18 Serpong Sungai Cisadane Serpong pada masa administrasi kolonial Belanda sudah masuk dalam keresidenan Batavia (Regentschap Batavia en Ommelanden). Selain itu, Serpong juga telah masuk administrasi pemerintahan Hindia Belanda dalam tata letak peta yang dibuat pada 1883. Daerah Serpong dulunya merupakan desa mandiri atau otonom, tetapi sejak 2008 diubah menjadi bagian dari administrasi Kota Tangerang Selatan (Kelurahan Serpong). Kelurahan sendiri bersentral pada area stasiun kereta api yang meliputi: sebelah timur berbatasan dengan Rawa Buntu dan Ciater Barat, sebelah tenggara berbatasan dengan Kampung Cadas Mapar, sebelah selatan dengan Kademangan dan Buaran, sebelah barat dengan Sampora, Cisauk, dan sebelah utara dengan Cilenggang.


19 Halte Serpong Sawah Penduduk Serpong tumbuh dengan cepat meskipun sejak 1970 daerah ini menjadi pilot proyek Keluarga Berencana di Pedesaan Provinsi Jawa Barat. Pertumbuhan penduduk di Serpong yang cepat tersebut dampak dari migrasi yang dilakukan penduduk Jakarta baik akibat penggusuran maupun dengan sukarela memilih Serpong sebagai habitat tempat tinggalnya. Terlebih lagi sejak 1980-an maraknya izin lokasi yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk mendirikan perumahan di Serpong, hal ini terkait Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Serpong yang disahkan pada 1989 merupakan satu dari 10 RDTR tingkat kecamatan yang terbaik di Indonesia.


20 Setu Kecamatan setu merupakan pemekaran dari kecamatan Cisauk dengan batas sungai Cisadane, sebelah barat sungai Cisadane masuk kecamatan Cisauk dan sebalah Timur masuk Kecamatan Setu. Sejak terbentuknya Kota Tangerang Selatan, Kecamatan Setu mengalami perkembangan pesat dalam berbagai aspek kehidupan. Wilayah ini mengalami peningkatan dalam sektor perumahan, industri, perdagangan, dan infrastruktur. Banyak perusahaan dan pusat perbelanjaan besar yang dibangun di kawasan ini, sehingga memberikan kontribusi signifikan dalam perekonomian daerah. Di Kecamatan inilah terletak kantor DPRD Tangsel dan wilayah ini terdapat Taman Tekno BSD yang merupakan salah satu kawasan insustri dan pergudangan.


21 Sarana Transportasi


22 Pada abad ke-19 jalur sungai merupakan transportasi dagang dan lalu lintas orang dan barang yang utama. Jalur navigasi perairan yang menghubungkan antara Tangerang dan Bogor adalah melalui navigasi sungai Cisadane. Hal ini tentunya sangat memungkinkan semua mobilitas warga dapat terbangun di seputaran aliran sungai Cisadane sampai ke hulu Ci durian Bogor. Getek Jalur Perairan


23 “ Selain jalur air, sarana transportasi yang digunakan pada masa lampau juga jalur darat. Ada beberapa transportasi darat yang digunakan. Hal ini dibuktikan oleh percakapan Pak Zakarsih. “Dahulu seingat saya, di Ciputat orang yang pertama kali punya mobil itu orang Tionghoa, dia satu-satunya orang yang punya mobil. Pada masa itu orang-orang kita yang tidak punya kendaraan bermotor, lebih sering menggunakan delman, sepeda, atau paling wajarnya ya jalan kaki jika ingin menuju suatu tempat yang cukup jauh” Delman Sepeda Jalur Darat Pak Zakarsih


24 Pada awal Kolonial Belanda masuk ke wilayah Serpong dimulai dengan pembangunan jalur rel kereta api pada 1892 dari Batavia ke Serpong dan dari Rangkasbitung ke Serang. Kepentingan mereka adalah untuk mengangkut bahan galian seperti pasir, batu, dan kapur guna pembangunan di Batavia. Sebagai tempat pertengahan sekaligus untuk menyimpan barang yang akan diangkut, maka dibutuhkan pos (stasiun) yang lumayan luas. Pihak Belanda melalui tokoh adat Serpong berunding untuk minta izin menggunakan lahan. Perizinan menggunakan tanah adat (tanah desa) cukup alot lantaran bersamaan dengan rencana pembangunan jalur yang menuju Rangkasbitung, cukup alot juga dikarenakan jalur tersebut melintasi area keramat yang membelah antara Keramat Bingbin dan Keramat Sumur Tujuh karena tadinya jalan tersebut terencana di bagian selatan dinding Bingbin namun pihak Belanda kesulitan untuk membangun jembatan yang membentang terlalu jauh. Sebetulnya tanah adat (tanah bengkok desa, tanah titisara, dan tanah penggembalaan ternak) tidak diperjualbelikan, tetapi kerena pada saat itu pemerintah Hindia Belanda membutuhkan untuk membangun fasilitas umum maka tanah adat diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda dengan suatu proses perjanjian desa dan dipergunakan selama masih difungsikan serta diserahkan kepengurusannya pada onderdistrict dan Perusahaan Jawatan Kereta Api. Akhirnya, rembukan kesepakatan kedua belah pihak terjadi, sebagai ucapan terimakasih, pemerintah Hindia Belanda memberi 24


25 kenang-kenangan berupa segunung tambang kapal dan segulung kain karena pada saat itu barang tersebut sangatlah berharga. Pada 1891 dimulailah pembangunan jalur kereta Halte Serpong dan dioperasikan pada 1899/1900 beserta jalur yang menuju kebun kelapa sebagai tempat pembakaran kapur dan penggalian pasir.


26 bangunan nya karena Jepang sudah dengan cepat menguasai daerah Pabayoran. Maka pengerjaan untuk membuat bangunan pendukung lapangan terbang Pondok Cabe dihentikan. Pengerjaan lapangan terbang Pondok Cabe lalu dilanjutkan oleh Tentara Jepang. Jalur Udara Pada tahun 1940 Pemerintah Hindia Belanda sedang mempersiapkan wilayahnya khususnya pulau Jawa untuk mengantisipasi pecahnya Perang Dunia ke-2. Persiapan yang dilakukan yaitu dengan membangun landasan pacu untuk pesawat terbang buatan Belanda yang paling dekat dengan Ciputat yaitu di Pondok Cabe. Ketika lapangan terbang Cililitan dan Bekasi sudah rampung akhir 1941, Pemerintah Hindia Belanda membuat lapangan terbang Pondok Cabe untuk keperluan militer dan evakuasi warganya jika Jepang sudah memasuki Ibu Kota. Lapangan terbang Pondok Cabe dibuat pada awal Februari 1942 oleh Belanda ketika mereka tahu bahwa Jepang melakukan Invasi ke Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda pada saat itu. Pada akhir bulan Februari 1942, Belanda sudah merampungkan pembuatan landasan pacunya, tetapi tidak sempat membuat


27 Rekaman Peristiwa


28 Pada Jumat, 25 Januari 1946. Mayor Daan Mogot atau Daniel Mogot memimpin operasi untuk melucuti senjata tentara Jepang di markasnya, Lengkong Wetan, Serpong, Tangerang. Dua Perwira militer yang berangkat yaitu Letu Subianto Djojohadikusumo (Polisi Tentara Resimen IV), dan Lettu Soetopo (Polisi Tentara Resimen IV), serta 70 Taruna Akademi Militer Tangerang. Ketika perundingan antara Daan Mogot dan pihak Jepang yang saat itu dipimpin Kapten Abbe sedang berlangsung tiba-tiba suara tembakan meletus dan seketika itu Mayor Daan Mogot langsung berlari keluar dari tempat perundingan. Peperangan pun pecah tanpa diketahui penyebab pemicu meletusnya senjata itu. Para Prajurit Jepang kembali mengambil senjata yang telah dilucuti dan menembaki para taruna yang sedang dalam posisi terdesak. Dalam pertempuran tersebut Mayor Daan Mogot gugur bersama puluhan taruna, mereka dimakamkan di tempat itu juga oleh para tawanan Jepang pada saat itu. Namun, setelah perundingan jasad para pejuang tersebut kembali digali dan dipindahkan ke Tangerang. Peristiwa Lengkong 1946 Mayor Daan Mogot


29 Tentara Jepang


30 Ibu aisyah biasa dipanggil mak isah lahir sekitar tahun 40’an, mak isah tidak ingat tanggal dan tahun kapan dia dilahirkan, akan tetapi ingatan masa kecilnya masih dapat diingat hingga saat ini. Mak Isah berkisah tentang suatu daerah tidak jauh dari stasiun Sudimara, yaitu Kali-mati, asal muasal nama Kalimati diambil karena kali tersebut sudah tidak ada aliran airnya, yang dimana alirannya dahulu ada di sepanjang stasiun Sudimara sampai perumahan Villa Gunung Lestari (sekarang tersambung ke kali deker), akan tetapi bentuk dari kali tersebut masih tersisa pada tahun 1940-1950. Warga setempat Kalimati juga berkata dahulu sekitar kali tersebut banyak dikelilingi oleh pohon bambu. Terdapat semacam lobang seperti gua kecil yang terbentuk dari semak belukar dan digunakan warga sebagai jalan menuju Kalimati untuk bersembunyi dari tentara Belanda. Kalimati dalam ingatan Mak Isah


31 “ Ketika masa pendudukan Belanda tahun 1946-1949, mak Isah masih ingat ketika tentara Belanda suara letusan senjata atau patroli disekitar stasiun Sudimara, warga langsung berkata: “Ada NICA…!! Ada NICA…!!”. Para warga yang melihat tentara Belanda langsung berlari dan juga bersembunyi. Salah satu warga yang bersembunyi yaitu ibu dari mak Isah dan mak Isah sendiri di Kalimati tersebut. “Ibu buruan…!! kita harus bersembunyi, itu ada tentara Belanda, kalo tidak nanti kita ditembak bu!”, ibu dari mak Isah langsung bergegas turun ke Kalimati dan masuk ke persembunyiaan dengan menarik tangan mak Isah sambil berlari. Suasana begitu tegang ketika tentara Belanda mencari warga yang berlarian dan bersembunyi sambil menembakan senjata ke udara. Dengan rasa takut yang mencekam, mereka hanya berharap tidak ditemukan oleh tentara NICA Belanda. “ssttttt…diam, jangan bersuara yah, itu tentara Belanda deket sama kita”, kata salah satu nenek yang ikut bersembunyi. Setelah beberapa menit berlalu, saat tentara Belanda yang sedang mencari warga untuk diculik paksa sudah menjauh dari tempat persembunyiaan, barulah para warga keluar secara perlahan serta kembali kerumah masing-masing. Mak Isah


32 presiden Soeharto di Depok dengan luas sekitar 312 hektar (75 hektar di wilayah Jakarta). Hingga saat ini tidak ada yang mengetahui kenapa pembangunan kampus UI di Ciputat tidak dilanjutkan kembali setelah peristiwa G30S selesai, padahal Presiden Soekarno sudah meletakan batu pertama untuk pembangunan. Banyak kemungkinan dan opini yang dipaparkan oleh beberapa orang, ada yang mengatakan hal ini disebabkan oleh adanya peristiwa G30S, namun ada juga yang mengatakan bahwa masa pemerintahan Presiden Soekarno sudah selesai, juga ada yang berkata bahwa menghabiskan anggaran negara saja, karena negara sedang dilanda krisis, dan ada juga yang berpendapat bahwa ini karena masalah politik. Pada 28 September 1965, Presiden berpidato di daerah Ciputat di mana kampus UI akan didirikan, dalam pidato tersebut presiden Soekarno menginginkan para pemuda dan pemudi Indonesia membangun Indonesia dengan keahlian mereka, dengan lahirnya orangorang pintar maka bangsa ini akan besar, diakhir pidato Presiden Soekarno berkata akan meletakan batu pertama untuk pembangunan kampus Universitas Indonesia di Ciputat. Akan tetapi, dua hari kemudian semua kabar tentang hal tersebut hilang begitu saja bertepatan dengan peristiwa Gerakan 30 September. Setelah kejadian pengkhianatan G30S tidak ada kabar atau kelanjutan mengenai pembangunan kampus UI di Ciputat. Pada akhirnya 5 September 1984 kampus UI diresmikan oleh Universitas Indonesia di Ciputat 1965


33 Batu pertama Universitas Indonesia


34 Berdasarkan peta tahun 1888 terdapat letak Landhuis (tempat tinggal tuan tanah) di daerah Ciputat. Tuan tanahnya berasal dari keturunan Arab, bernama Tuan Saleem/Salim. Walaupun sebagai tuan tanah di Ciputat, Tuan Salim tetap berada dibawah pemerintahan daerah Bogor (Buitenzorg). Pada peta terlihat terdapat beberapa bangunan permanen di sekitar tempat tinggal tuan tanah Ciputat. Sekitar 1888, terlihat tempat tinggal tuan tanah masih dikelilingi pepohonan yang rimbun dengan ditandai warna hijau serta bentuk garis-garis kotak sebagai tanda lahan persawahan. Jalan raya utama Ciputat yang sering kita lalui baik dari arah Ciputat-Pamulang merupakan jalan yang sudah ada sejak 1888. Jalan utama tersebut merupakan akses orang-orang dahulu kala untuk ke arah Kota Batavia dengan tujuan berdagang, menjual hasil bumi. Catatan pada 1888 Landhuis


35 Infrastruktur Masa Lampau


36 Bangunan masjid yang berada di Nusantara memiliki perbedaan dalam arsitekturnya dibandingkan dengan bangunan masjid yang berada di Timur Tengah. Masjid-masjid yang menggunakan atap kubah mulai mendapat pengaruh dari orang-orang yang berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekkah, lalu oleh orang-orang Belanda dimana semua desain mereka dipengaruhi oleh gaya Moghul, India dan Turki Utsmani serta masih banyak pengaruh yang membawa perubahan pada bentuk atap masjid di Indonesia. Masjid Ciputat pada masa lalu itu denahnya persegi empat serta masih menggunakan atap tumpang atau bertingkat dua. Masjid Al Jihad Ciputat pada masa lalu tergolong masjid kuno karena masih memakai konsep lokal, yaitu atap tumpang. Masjid Al Jihad Ciputat mengalami renovasi pertama sekitar 1950-an. Pada masa itu, Ciputat masih menjadi bagian dari Provinsi DKI Jakarta, kemudian pada 1970 masjid mendapatkan renovasi keduanya dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat serta Bupati Tangerang. Setelah itu, masjid ini mendapatkan renovasi yang ketiga dengan konsep berupa pendopo agar menyerupai Masjid Agung Banten. Konsep tersebut untuk menyelaraskan identitas daerah setelah Ciputat tidak menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. Masjid Agung Al Jihad 1922 Dua pintu gerbang yang disebut gapura


37 Atapnya bertumpang atau bertingkat Denah persegi


38 Pada 1909 terdapat peningkatan status Serpong, persekutuan desa-desa adat di Serpong yang otonom dan wilayahnya berhimpitan dengan wilayah Onderdistrict Serpong sebagai administrasi Hindia Belanda (di bawah kendali Asistent Wedana) menjadi dasar untuk penetapan wilayah administrative Onderdistrict Serpong dalam wilayah Distrik Tangerang. Distrik Tangerang adalah merupakan bagian wilayah Regentschap Batavia en Ommelanden (persekutuan wilayah wilayah otonom sekitar Batavia). Pada waktu itu Onderdistrict Serpong terdiri wilayah Serpong dan Legok. Luasnya 40 km2. Distrik Tangerang menjadi unit yang terintegrasi dengan Regenschap Bataviaatau menjadi bagian Residentie Batavia. Wilayah Resindentie seputar Batavia yang merupakan unit terintegrasi pada 1886 terdiri dari Stad Batavia (Jakarta), Kantor Kewedanaan


39 Stad Meester-Cornelis (Jatinegara) sebagai Ibu Kota Ommelanden, Tangerang, Buitenzorg (Bogor), dan Karawang (Purwakarta). dari wilayah Otonom disini bebas atau merdeka, tetapi substansinya tergantung pada sifatnya, semakin bersifat rural maka administrasi Hindia Belanda tidak banyak intervensi dan dibiarkan otonom penuh. Semakin menjadi kota seperti Stad Tangerang atau Ibu Kota Distrik Tangerang, maka intervensi administrasi pemerintah Hindia Belanda semakin meningkat. Daerah rural pendesaan yang ada perkebunan asing maka otonomi perkebunannya secara penuh.


40 Permasalahan air telah dimulai sejak tahun tahun 1848 ketika terjadi kekeringan di beberapa daerah pulau Jawa yang menimbulkan bencana kelaparan. Pada masa pemerintahan Gubernur Jendral J.J. Rochussen, beliau memberikan usulan kepada kerajaan Belanda untuk membuat sistem pengairan agar kebutuhan pangan tercukupi. Usulan tersebut ditanggapi dengan dibentuknya Burgelijke Openbare Werken (BOW) pada tahun 1855. Departemen BOW merencanakan dan melaksanakan proyek irigasi secara besar-besaran untuk mengantisipasi permasalahan air pada musim kemarau dan musim hujan. Situ yang berada di daerah Ciputat sangat bermanfaat kala itu untuk menampung air sebelum memasuki kawasan Kota Batavia (Jakarta). Belanda membangun situ-situ di luar Jakarta dengan beberapa tujuan, selain untuk irigrasi Situ Gintung 1930


41 pertanian di daerah tersebut juga untuk menangkal banjir terhadap Kota Batavia. Bendungan Situ Gintung di bangun 1930 dan selesai pada 1933 dengan ketinggian 16 m dan luas area diperkirakan sekitar 31 hektar. Pembangunan tersebut sesuai dengan Gementee Batavia (Kota Praja Batavia) dimana banyak pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk menunjang kehidupan masyarakat di Batavia, walaupun Ciputat masuk ke dalam Gemente Meester Cornelis, akan tetapi daerah Meester Cornelis nantinya akan diambil oleh Batavia setelah tahun 1938.


42 Pabrik pengolahan karet terbesar di Serpong adalah PTP XI (sebelumnya, unit usaha PT Perkebunan Nusantara VIII) yang berada di Cilenggang dan berdiri pada 1920. Pabrik yang memperkerjakan masyarakat Serpong dan sekitarnya tersebut masih beroperasi dan berproduksi sampai 1980- an. Kebijakan Cultuurstelsel yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda pada saat itu di mana mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami tanaman ekspor berupa teh, tebu, kopi, karet, dan sebagainya sudah dilakukan sejak 1830 pada pemerintahan Jenderal Van den Bosch. Untuk penguasaan area perkebunan di daerah lain sudah beberapa kali penguasaan, dari VOC Hindia Belanda kemudian diserahkan kepada masing-masing Gubernur Jenderal dan terakhir kepada Daendels (1808). Pabrik Pengolahan Karet


43 Pengoperasian pabrik karet tersebut baru beroperasi sekitar 1932 setelah jalur dan infrastruktur penunjang lainnya terbentuk. Sarana dan faktor penunjang beroperasinya industri tersebut adalah akses jalan sebagai alat untuk mengangkut serta mendistribusikan hasil produksi perkebunan. Dalam pembangunan sarana penunjang produksi bahan karet membutuhkan air, maka dibangunlah parit yang membentang dari daerah Pelayangan sampai bangunan PTP. Pembendungan Pelayangan II di Cilenggang pada 1920 dilakukan sebagai sarana pengairan untuk pencucian lum (karet mentah) walau Sungai Cisadane cukup dekat, namun pihak Belanda lebih memilih air yang mengalir tanpa menggunakan alat untuk memompa air. Penyadap karet


44 Pembangunan pasar-pasar tradisional di Jakarta dimulai sejak 1926 - 1927 berdasar pada kebijaksanaan otonomi daerah yang tertuang dalam Stad Gemeente Ordonantie tahun 1926. Pemerintah Kota Praja Batavia (pada waktu itu) membangun 37 pasar yang disebut Pasar Gemeente (termasuk pasar Ciputat dan Jombang), sebagai pengganti pasar yang sudah tidak layak (Jaarboek van Batavia en omstreken 1927). Pembangunan daerah-daerah tersebut berlangsung antara tahun 1929-1939, hampir bersamaan dengan pembangunan prasarana di daerah lainnya. Ternyata, pasar Ciputat yang kita kenal sekarang sudah berdiri dari sejak zaman kolonial Belanda. Tidak ada catatan kapan persis beridirnya pasar Ciputat, akan tetapi sesuai dengan gementee Meester Cornelis (Kota Praja Jatinegara), pasar Ciputat dengan bangunan yang megah didirikan sejak tahun 1926, akan tetapi sebelum bangunan megah tersebut berdiri pasar Ciputat sudah lebih dulu ada, mungkin pasar Ciputat masih sangat sederhana. Pasar-pasar tradisonal yang sudah mendapatkan pembaharuan khususnya berada di Batavia (Jakarta) umumnya didirikan dengan menggunakan tiangtiang yang terbuat dari cor semen dengan los-los pada bagian dalamnya, sedangkan pasar Ciputat menurut kesaksian para warga terbuat dari besi tiang-tiang dengan tinggi lantai sekitar 60 cm dari permukaan tanah disekitarnya. Berdasarkan kesaksian mereka, pasar Ciputat begitu bersih serta nyaman, tidak ada preman atau pencuri di pasar tersebut pada sekitar tahun 1950-an. Pasar Ciputat 1926


Click to View FlipBook Version