The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Nama : Anindi Putri Safira Wulandari
NIM : 1401421468
Presensi : 41
Prodi : PGSD / Rombel J

Sesuai dengan judul buku, bahwa buku ini memuat cerita anak-anak yang bertemakan persahabatan dan petualangan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by safirawulandari30, 2023-04-30 11:26:48

Kumpulan Cerita Anak-Anak

Nama : Anindi Putri Safira Wulandari
NIM : 1401421468
Presensi : 41
Prodi : PGSD / Rombel J

Sesuai dengan judul buku, bahwa buku ini memuat cerita anak-anak yang bertemakan persahabatan dan petualangan.

Keywords: Cerita Anak

Kumpulan Cerita Anak-Anak Karya : Anindi Putri Safira Wulandari


SEPATU USANG 1


Di sebuah desa yang jauh dari kota, hiduplah sebuah keluarga sederhana. Keluarga yang selalu menciptakan suasana hangat didalamnya walapun mempunyai perekonomian yang kurang mencukupi kesehariannya. Mereka adalah keluarga Pak Budi, dan istrinya Ibu Ani serta seorang putra yang bernama Dodo. Pada suatu hari menjelang fajar, terlihat Dodo yang masih nyaman memejamkan mata di atas kasurnya. "Do..Dodo.. Bangun Do, sudah jam 5 pagi, cepat ambil air wudhu dan sholat subuh dulu." Kata ibu "Eunghhh...Ibu, sebentar bu Dodo ingin meluruskan kaki dulu." 2


Kemudian Dodo pun keluar kamar dan segera mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat subuh. Usai sholat subuh Dodo melihat piring di atas meja dengan sedikit sisa makanannya. Dodo sudah tau pasti itu milik Ayahnya. Ya, Ayah Dodo selalu bangun pagi sekali untuk berangkat bekerja mencari nafkah sebagai petani di ladang Pak Suhar, kepala desa kami. "Do cepatlah makan nasi goreng yang ibu siapkan di atas meja, mumpung masih hangat. Kamu harus sarapan dulu sebelum berangkat sekolah." Ujar Ibunya Dodo yang sudah mandi dan rapi dengan seragam putih merahnya, lalu berjalan mendekati meja makan dan duduk di kursi. Dodo melahap nasi goreng, sambil memperhatikan ibunya yang sedang merapikan gorengan untuk ia jual ke sekolah. "Bu, apakah Ayah masih menggarap ladang milik Pak Suhar? Karena kemarin sore, Dodo melihat Ayah di pasar sedang memikul barangbarang di toko sembako." Ibu yang sedang menyiapkan gorengan, seketika terdiam setelah mendengar pertanyaan dari putranya itu. Kemudian Ibu pun menjawab, "Ayahmu masih menggarap ladang milik Pak Suhar kok do, tetapi karena bayarannya terkadang kurang untuk mencukupi kebutuhan harian kita, maka Ayah memutuskan untuk bekerja sampingan menjadi kuli di Toko sembako." 3


4 Mendengar hal itu, Dodo mengamati perubahan ekspresi Ibunya yang terlihat sedih menjadi tersenyum samar sambil tetap merapikan berbagai macam gorengan ke dalam kotak. Dodo paham semuanya. "Dodo sudah selesai sarapan, sebentar ya bu Dodo mau mengambil tas sekolah dulu di dalam kamar." "Jangan lupa bawa kotak gorengan yang sudah ibu siapkan di atas meja itu Do." Pinta Ibunya. "Baik bu, ini saja kan Bu? Atau masih ada lagi? Untuk kue-kue apa Ibu tidak membuatnya? "Hari ini Ibu tidak membuatnya, uang yang kita punya hanya cukup untuk membeli bahan gorengan saja." "Tidak apa-apa Bu, teman-teman Dodo juga menyukai gorengan buatan Ibu loh. Pasti nanti akan habis terjual." Yakin Dodo kepada Ibunya "Aamiin. Semoga dagangan kita laris manis ya Do, tunggu sebentar biar Ibu yang akan mengambilkan sepatu sekolahmu. Sepatunya sudah Ibu cuci kemarin." Ibu Ani kemudian melangkah menuju samping rumah, dan mengambil sepatu Dodo yang sudah kering setelah di jemur.


"Maafkan Ibu Do. Bahkan sepatu usang seperti ini pun masih Dodo pakai dengan senang hati tanpa meminta sepatu baru pada Ayah dan Ibu." Kata Ibu di dalam hati sambil mengusap sepatu Dodo yang sudah usang dan bertambal-tambal. "Ini Do sepatumu, cepatlah pakai dan berangkat supaya tidak terlambat." Terlihat Dodo yang baru saja mengeluarkan sepedanya dari rumah, langsung duduk dan memakai sepatunya. Setelah selesai memakai sepatu, Dodo pun segera berpamitan pada Ibunya dengan mencium tangannya. "Bu Dodo berangkat dulu ya, Ibu hati-hati dirumah jangan lupa mengunci pintu. Dadah Ibu assalamualaikum." Pamit Dodo pada Ibunya. "Waalaikumsalam, Dodo juga hati-hati naik sepedanya ya nak. Jangan terlalu ke tengah jalan, bahaya takut ada kendaraan lewat." Ucap Ibunya mengingatkan. "Siap bu. Dadah Ibu!" Dodo pun mulai mengayuh sepedanya, sambil menenteng sekotak gorengan yang akan ia jual nanti. Jarak sekolah Dodo lumayan jauh dari rumah, makanya Ayah Dodo membelikan sepeda untuk Dodo bersekolah. Walaupun hanya sebatas sepeda bekas, namun Dodo sangat senang dan bersyukur atas pemberian dari Ayahnya itu. 5


Rumah demi rumah dan sawah demi sawah sudah Dodo lewati. Sesampainya di sekolah, Dodo segera menuju ke tempat parkir sepeda dan meletakan sepedanya di sana. Lalu berjalan melewati koridor sekolah, sambil membawa sekotak gorengan Ibunya. Dodo masih duduk dibangku kelas 6 SD, ketika Dodo sampai di dalam kelas ternyata ia sudah di tunggu oleh teman-temannya. "Wah Dodo, lama sekali si Do. Aku sudah sangat lapar." Kata teman Dodo yang bernama Rian. Dito yang melihat Dodo sudah datang pun langsung berlari sambil membawa kotak nasinya. Ia pun berkata, "Dodo cepat buka kotak gorengannnya, aku ingin sarapan nih Do." Dodo sangat senang melihat teman-temannya yang tidak sabar ingin membeli gorengan milik ibunya. 6


"Iya iya, ayo baris biar nanti tidak ada yang terlewat untuk membayar. Jangan seperti Roni, iya gak Ron?" Dodo melirik Roni yang baris paling depan. Roni pun tertawa dan tersipu malu. "Hehe...iya Do iya...Besok pasti akan ku bayar utangnya kok Do. Hari ini aku janji terakhir ngutang deh Do. Serius Do aku lupa belum sarapan, kasih satu kesempatan lagi ya Do?" "Yah Roni..Roni.., kesempatan kok ngutang." Kata Feri yang baris persis di belakang Roni. Dodo pun tertawa dengan apa yang dikatakan oleh Feri. "Hahaha, iya Ron. Santai saja, aku cuma bercanda kok. Kamu kan sudah ku anggap sebagai sahabatku." Selanjutnya mereka pun bergiliran membeli gorengan Dodo. Sudah biasa di pagi hari, teman-teman menunggunya datang agar bisa sarapan dengan gorengan. Mereka biasanya hanya membawa sekotak nasi, yang nanti akan dipadukan dengan gorengan. "Do, kue nya mana? Kok hanya gorengan saja? " tanya Miya, ia adalah salah satu teman perempuan di kelas Dodo. "Maaf Miya, hari ini Ibuku tidak membuat kue. Mungkin besok ibu akan membuatnya." 7


8 "Yahh... Dodo... Padahal aku ingin sekali memakan kue donat buatan Ibumu, aku bahkan sudah membawa uang jajan lebih agar bisa membeli banyak dan berencana kan ku bawa pulang untuk di makan dirumah sambil belajar nanti." Kata Miya dengan ekspresi mukanya yang terlihat sedih. "Iya Miya, besok aku bilang Ibu ya untuk membuatkan donat yang banyak untukmu." Ucap Dodo untuk menangkan suasana hati Miya yang sedih karena tidak bisa memakan donat hari ini. Dia memang penggemar donat Ibunya, Miya lah yang selalu paling banyak membelidonat sampai teman-teman yang lain tidak kebagian. Tak lama kemudian bel tanda masuk pun berbunyi, Dodo segera merapikan dagangannya yang masih tersisa sedikit untuk ia jual kembali nanti ketika jam istirahat.


9 Singkat cerita materi belajar sudah diterangkan oleh Pak guru di papan tulis, selanjutnya soal demi soal harus dikerjakan oleh para siswa. Semua mengerjakan latihan dengan tenang. Lalu Dodo pun maju ke depan untuk mengumpulkan hasil latihannya. Tak butuh waktu lama bagi Dodo dalam mengerjakan latihan soal. Ia memang dikenal sebagai murid yang pandai, dan merupakan murid berprestasi yang menyandang sebagai juara paralel di sekolahnya. Dodo juga anaknya sederhana, tidak sombong dengan kepandaian yang ia miliki dan juga suka membantu sesama. Tak heran jika Dodo mempunyai banyak teman di sekolahnya. "Bagus Dodo. Seperti biasa jawabanmu betul semua, semoga kamu tetap bisa mempertahankan ranking paralelmu ya." Puji Pak guru kepada Dodo. Diam-diam pak guru juga kagum dengan semangat Dodo dalam menuntut ilmu. Walaupun terlahir dari keluarga yang memiliki tingkatperekonomian rendah, namun Dodo membuktikan bahwa ia sama dengan siswa lainnya. Bahkan lebih unggul dengan kecerdasanyang ia miliki. Pak guru juga mengetahui, bahwa Dodo setiap hari berjualan gorengan dan aneka kue di sekolah. Setelah melaksanakan pembelajaran selama 2 jam, bel istirahat pun berbunyi. Suasana kelas menjadi ramai kembali, ada yang ke kantin, ada juga yang hanya bermaindi kelas. Sedangkan Dodo sedang duduk di bangku kelasnya sambil melihat teman-temannya bermain. Tiba-tiba Dito mengagetkan seisi kelas.


"Woi sepatu Roni baru, sepatu Roni baru. Ayo kenalan!" Seru Rian. "Wah mana mana? Parah si Roni, beli sepatu bisa. Tapi bayar utang gorengannya Dodo tidak bisa." Kata Dito sambil tertawa Seisi kelas pun tertawa dengan ucapan Dito barusan. Mereka berkumpul bercanda bersama Roni dengan menginjak sepatu barunya sebagai bentuk perkenalan. Sepatu Nike Air Jordan berwarna hitam dan putih yang pasti mahal harganya. Dodo melihat sepatu Roni, bagus sekali ucapnya di dalam hati. Ia pun bertanya-tanya kapan ia bisa membeli sepatu baru yang bagus seperti itu juga. Walaupun ia sendiri juga tidak pernah meminta kepada orang tuanya. Tidak perlu mahal, yang penting bisa dipakai untuk mengganti sepatunya yang sudah usang dan berlubang. 10 "Dodo, aku mau beli gorengan dong!" Kata Fira yang datang tibatiba mengagetkan Dodo. "Wah fira, iya fir sebentar aku buka kotaknya dulu." Jawab Dodo sambil membuka kotak gorengannya. Fira melihat perubahan ekspresi Dodo. Tadi Dodo sedang melihat sepatu baru Roni, dan sesekali melihat sepatunya sendiri. Fira paham, Dodo pasti ingin sepatu baru.


11 Singkat cerita bel pulang sekolah pun berbunyi. Para siswa berhamburan keluar kelas menuju parkiran sekolah untuk segera pulang. Dodo senang sekali, karena seperti biasa gorengannya habis terjual. Ia segera berkemas dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ia segera menemui ibunya dan memberikan uang hasil jualannya. "Assalamualaikum Ibu, Bu? Ibu? Dodo sudah pulang Bu." Ucap Dodo saat memasuki rumahTak lama kemudian munculah Ibu dari arah dapur. "Waalaikumsalam Dodo, sudah pulang ya. Ayo makan dulu, pasti kamu lapar." "Lihat bu, gorengan kita habis. Apa kan aku bilang, kalau gorengan buatan ibu itu memang tidakada tandingannya." Kata Dodopada Ibunya dengan gembira. "Wahh iya habis. Alhamdullilah ya Do, uangnya bisa kita tabung untuk membeli sepatu baru buat Dodo. Bagaimana kamu pasti senang kan?" Dodo kaget dengan perkataan ibunya, dia pun menjawab, "Tidak usah bu, lebih baik uangnya kita tabung saja untuk keperluan sehari-hari. Sepatu lama Dodo masih bisa dipakai kok Bu." "Tapi Do, ibu tidak tega melihatmu memakai sepatu yang bahkan sudah tidak layak pakai itu. Ibu tahu kamu pasti malu dengan teman-temanmu." Lirih Ibunya "Bu, Dodo tidak malu. Teman-teman juga tidak pernah mengejek sepatu Dodo. Sudah ya bu, Ibu simpan uang ini untuk keperluan kita saja."


Ayah Dodo yang juga sudah pulang pun tak sengaja mendengar perkataan dari putranya itu. Dia sedih dan terharu, dia juga bersyukur mempunyai anak yang sabar dan pengertian seperti Dodo. Dodo yang tidak pernah meminta macam-macam pada orang tuanya. "Dodo Ayah janji Do. Ayah akan membelikan sepatu baru untukmu. Maafkan ayah ya Do, maafkan Ayahmu ini yang tidak bisa menjadi Ayah yang baik, yang memenuhi kebutuhan Dodo dan apa yang Dodo mau." Dodo menjadi sedih mendengar perkataan Ayahnya, Ayah adalah sosok yang paling kuat di mata Dodo. Tapi kali ini, ia melihat Ayahnya yang begitu sedih sambil menundukan kepala membuat Dodo langsung ingin memeluknya. "Ayah adalah ayah terbaik di dunia. Percaya sama Dodo, Dodo bangga punya Ayah, Dodo juga bangga punya Ibu." 12


13 Sedangkan di tempat lain, yaitu di lapangan tepatnya di pondok main. Teman-teman Dodo berkumpul. Tadi sebelum sepulang sekolah, Fira menyuruh teman-teman kelasnya untuk berkumpul di lapangan untuk membahas tentang sepatu Dodo. Dia berniat ingin membelikan sepatu baru untuk Dodo dengan mengajak teman-teman yang lain. "Oke, karena sekarang teman-teman sudah datang semua. Ayo kita bahas ajakan ku tadi tentang sepatu Dodo." Kata Fira memulai pembicaraan. "Aku setuju denganmu Fir, sebenarnya aku juga kasian dengan Dodo. Dia masih saja memakai sepatu yang sudah buruk itu." Ucap Dito menanggapi Fira. Tak lama kemudian,Roni pun ikut angkat bicara. "Bagaimana jika kita mengumpulkan uang dengan cara iuran saja, nanti uangnya kita gunakan untuk membeli sepatu barunya Dodo." "Ya setuju!" Jawab anak-anak dengan serempak yang merupakan teman satu kelas Dodo. Mereka pun memulai iuran dengan masing-masing anak memberikan uang sebesar 10 ribu. Kemudian Dito dengan ditemani oleh Rian, mereka yang bertugas ke pasar membelikan sepatu untuk Dodo. Sedangkan teman- teman yang lain menunggu di pondok bermain, sambil menyiapkan kertas kado untuk menghias kotak sepatu Dodo nanti.


Singkat cerita di pagi hari yang cerah, seperti biasa Dodo dengan membawa kotak jualannya datang ke sekolah menggunakan sepeda. Feri yang menunggu Dodo datang kemudian memberitahu teman-teman sekelasnya bahwa Dodo sedang menuju ke kelas. "Woi woi woi, Dodo datang Dodo datang. Cepat siap siap!" Teman-teman yang lain kemudian bersiap-siap, ada yang bersembunyi di balik kursi, ada juga yang bersembunyi di balik pintu. Dodo sudah semakin dekat dengan kelasnya. "Loh teman-teman kemana?" Ucap Dodo bertanya-tanya. "Dorrr!!!! Hahaha kamu kaget ya do." Kata teman-temannya dengan serempak. Mereka semua tertawa melihat wajah Dodo yang kebingungan berubah menjadi syok karena kaget. "Wah kalian,jahil sekali. Ada apa pagi-pagi sudah mengerjaiku?" Kemudian Fira pun menjawab, sambil mengulurkan kotak bingkisan yang cantik, "Nih Do, kitaada sesuatu buat kamu." 14


Dodo pun menerima kotak bingkisan itu, di atasnya terdapat sebuah kertas dengan bertuliskan 'Dari kami untuk sahabat terbaik Dodo '. "Tapi hari ini aku sedang tidak berulang tahun. Bahkan ulang tahunku masih 5 bulan lagi." "Hahaha... Dodo Dodo, begini lo Do. Kita semua memang sengaja berencana memberikan kejutan untukmu, kamu tidak perlu harus ulang tahun dulu." Kata Roni "Ayo buka Do, jangan hanya dilihat saja." Seru Dito yang tidak sabar ingin melihat ekspresi Dodo nanti. "Oke aku buka ya teman-teman " kata Dodo dengan antusias. Robekan demi robekan kertas, yang perlahan memperlihatkan sebuah kotak bertuliskan Nike. Dodo sempat terdiam setelah membaca tulisan di kotak itu. Ia tahu nike merupakan merk sebuah sepatu. "Teman-teman kalian tidak sedang bercanda kan?" Tanya Dodo. "Tidak dong Do, ayo cepat buka." Seru Fira tidak sabar. Ketika Dodo membuka kotaknya. Betapa terkejutnya ia, melihat sepatu bertali berwarna biru dan garis putih di tepinya. 15


16 "Sepatunya bagus banget, serius ini untuk Dodo?" Tanya Dodo kepada teman-temannya. "Tentu saja Do, itu untukmu dari kita semua." Ujar Feri Dodo tertunduk sambil menggenggam erat kotak sepatu tersebut dan tanpa sadar ia meneteskan air mata, karena terharu dengan pemberian dari teman-temannya. "Terima kasih teman-teman, kalian sangat baik. Aku tidak tau harus berbicara apa lagi, sepatu ini sangat bagus." Ucap Dodo dengan nada yang sedikit bergetar. Rian pun merangkul Dodo dan berkata, "Iya Do sama-sama. Kami juga senang sekali akhirnya kamu punya sepatu baru. Bagaimana Do? Itu pilihan aku sama Dito loh, bagus kan model sepatunya?" "Ya, ini sangat bagus. Pasti mahal ya harganya?" Tanya Dodo penasaran "Sudah Do, tidak usah memikirkan harga. Yang penting kamu suka dengan pemberian kita semua." Sambung Miya. "Sekali lagi, terimakasih teman-teman. Dodo beruntung memiliki teman seperti kalian." Melihat senyum Dodo yang terukir ketika sedang mencoba sepatu barunya. Ia terlihat sangat bahagia. Itulah persahabatan kami, seperti halnya mata dan tangan. Saat mata menangis tangan akan mengusap,dan saat tangan terluka mata juga akan menangis.


17 CAMPING


18 Pada suatu hari di sebuah taman bermain, terlihat anak-anak yang sedang berkumpul sambil mengobrol. Mereka berjumlah empat anak yaitu Luki, Bagas, Dimas dan Edo. Mereka merupakan anak-anak dari komplek sebelah yang biasa bermain bersama-sama. Mereka juga teman satu kelas yang masih duduk dibangku kelas 1 SMP.


19 "Bagaimana jika besok kita pergi bercamping di dekat sungai?" Ajak Luki dengan antusias. "Hmm...Ide bagus, kita juga bisa memancing ikan di sungai. Pas banget nih, aku baru saja membeli sebuah pancingan baru." Sambung Dimas "Nah ide bagus Dim, besok aku akan membawa kompor lapangan yah. Jadi kita bisa sekalian memasak ikan hasil mancingnya." Ucap Bagas dengan semangat. "Bagaimana denganmu Do? Setuju tidak?" Tanya Luki kepada Edo, karena dia hanya diam saja dari tadi. "Kalau aku si ikut aja Luk, besok mau jam berapa?" Kata Edo yang balik bertanya kepada teman-temannya. "Besok kita kan libur,bagaimana jika kita berangkat pagi jam delapan? Sekalian sarapan bersama-sama di tepi sungai. Pasti sejuk sekali udaranya." Jawab Luki. "Setuju!" Ucap teman-teman yang lain dengan serempak. Karena hari sudah mulai sore, dan kesepakatan untuk camping bersama juga sudah dibahas. Mereka pun segera pulang ke rumah masing-masing dan mengemas barang-barang yang akan dibawa besok untuk bercamping.


20 Singkat cerita di rumah Luki, Ibunya sedari tadi mengamati putranya dibalik pintu kamar. Melihat Luki yang berjalan kesana kemari sambil mencari barang, yang kemudian akan ia masukkan ke dalam tasnya. Ketika Luki berbalik badan, ia terkejut melihat ibunya sudah berada di ambang pintu kamarnya. "Huh Ibu, mengagetkan Luki saja." "Luki mau kemana malam-malam menyiapkan tas besar seperti itu?" Tanya Ibunya kepada Luki. "Luki tidak mau kemana mana kok Bu. Luki hanya sedang menyiapkan barang-barang untuk Luki bawa besok. Oh iya, Luki lupa belum memberitahu Ibu. Bahwa besok kan Luki libur sekolah, jadi besok pagi Luki mau pergi camping bersama dengan teman-teman. Boleh ya Bu?" "Camping? Dimana? Sama siapa Luk?" Tanya Ibunya yang mulai cemas "Biasa Bu. Luki pergi camping sama Dimas, Bagas dan Edo. Campingnya di dekat sungai Bu, kita juga berniat akan sekalian memancing di sana. Terus nanti Dimas juga akan membawa perlengkapan masak.Asik pokoknya Bu, boleh ya Luki ikut? Bujuk Luki kepada Ibunya. "Hmm.. Ibu khawatir Luk, Ibu takut terjadi sesuatu sama Luki. Terlebih lagi campingnya berlokasi di dekat sungai." Ucap Ibu Luki yang terlihat cemas. Tiba-tiba Ayah Luki masuk ke kamar Luki dan bertanya, "Ayah boleh ikut Luk?" "Ayah? Ayah mau ikut Luki camping besok?" Tanya Luki yang terkejut dengan kedatangan Ayahnya secaratiba-tiba.


"Iya Luki, boleh tidak? Biar nanti Ayah bisa jagain Luki sama temanteman Luki jika terjadi sesuatu." Kata Ayah Luki, yang sebenarnya hanya ingin menghabiskan waktu bersama putranya. Ia sudah sibuk bekerja di kantor dan jarang sekali mempunyai waktu bersama keluarganya di rumah. "Ibu akan mengizinkan Luki camping, tapi Ayah ikut ya. Jadi Ibu tidak khawatir lagi, kan sudah ada Ayah." Sambung Ibunya dengan sebuah syarat. "Emm... Baik, Ayah boleh ikut. Tapi Ayah janji harus bangun pagi. Karena besok Luki dan teman-teman mau sarapan bersama-sama di tepi sungai." Akhirnya Luki diizinkan ikut camping besok, dengan syarat bahwa Ayahnya harus ikut. Luki tidak keberatan dengan syarat tersebut, karena perkataan dari Ibunya ada benarnya. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Ayah akan siap menjaga dan melindungi kami. Pada keesokan harinya. Luki dan Ayahnya bersiap-siap menuju sungai. Tempatnya tidak terlalu jauh, namun karenamembawa barang-barang perlengkapan camping jadi mereka memutuskan untuk mengendarai sepeda motor. 21


Ketika di perjalanan, Ayah Luki berhenti dan menghampiri penjual bubur ayam. "Ayah kenapa berhenti? Kan sungainya masih ada di depan." Tanya Luki kebingungan. "Luki lupa ya? Katanya kita mau sarapan bersama di tepi sungai. Jadi Ayah mau membelikan bubur ayam buat kita nanti, dan buat temanteman Luki juga." Ucap Ayah menerangkan. "Oh iya sarapan, hehe Luki lupa Ayah. Makasih ya Ayah." Sesampainya di lokasi camping,terlihat teman-teman Luki sudah berada di sana. Ada Dimas, Bagas, dan juga Edo. Mereka bahkan sudah mulai memasang tenda. "Wah liat, si Luki kok sama Ayahnya ya? Apa dia tidak diperbolehkan ikut camping dengan kita?" Ucap Bagas kebingungan. "Waduh iya nih, eh bentar tapi kok Ayah Luki juga bawa tas ya. Jangan-jangan... " ucap Edo menggantung sambil bertatapan dengan kedua temannya. "Wah wah wah. Kalian sudah sampai ya." Sapa Ayah Luki. "Halo Om Andre, iya nih om. Kami baru saja sampai." Jawab Dimas dengan sopan. "Emm Om Andre mau ikut camping ya sama kami?" Tanya Edo penasaran. "Betul sekali Edo. Boleh kan Om ikut camping bersama kalian?" "Boleh Om, boleh banget malah ya kan gas?" Tanya Edo kepada Bagas dengan menyikut lengannya. "Eh iya Om, boleh boleh." Ucap Bagas gugup. 22


23 Kemudian Ayah Luki pun turut membantu mendirikan tenda, bahkan lebih cepat dari pada Dimas. Dimas merupakan anggota club pecinta alam di sekolah, jadi ia juga sudah terbiasa dengan hal itu. Setelah selesai memasang tenda. Selanjutnya mereka semua sarapan bersama di tepi sungai, dengan bubur ayam yang tadi di belikan oleh Ayah Luki. "Tadi Om beli bubur ayam loh. Nih ambil satu-satu. Kita sarapan dulu." Ucap Om Andre sambil memberikan sekotak bubur ayam. "Wah terima kasih banyak Om, pas banget kami juga merasa lapar hehehe." Kata Bagas sambil menerima kotak bubur ayam. "Om Andre libur ya? Biasanya kan Om sibuk di kantor." Tanya Edo pada Ayah Luki "Iya do, Om libur. Nah besok baru Om Andre sibuk lagi di kantor. Makanya Om ingin ikut camping bersama kalian. Jadi Om punya waktu bersantai dan pikiran Om juga jadi lebih fresh." Ucap Ayah Luki menerangkan. Sarapan pun selesai. Mereka kemudian membuang sampahnya di kantong plastik yang sudah mereka siapkan. Jika tidak, nanti bisa menimbulkan sampah berserakan di area sungai. Dan itu dapat menyebabkan banjir. "Kegiatan kita apa lagi ya?" Tanya Ayah Luki pada anak-anak. "Kami mau memancing Om, nanti ikannya akan kami bakar untuk makan malam." JawabEdo.


24 "Wah seru sekali, ayo kita ambil pancingnya. Luki tolong sekalian ambil pancingan milik Ayah ya." Kata Ayahnya kepada Luki "Siap yah. Sebentar Luki ambil dulu." Mereka pun kemudian memancing di sungai. Sungai yang jernih dan masih terjaga kebersihannya. Di setiap tepi sungai terdapat berbagai jenis pohon, sehingga udaranya terasa sejuk. Sesekali mereka tertawa dengan lelucon yang di ucapkan oleh Bagas. Hingga tak terasa hari mulai petang. Mereka mendapatkan ikan yang jumlahnya lumayan banyak. Kemudian mereka pun menyiapkan alat-alat memasak untuk menggoreng ikannya. "Teman-teman, ini sudah ku bawakan peralatan masaknya. Pokoknya lengkap!" Seru Dimas. "Wah Dimas hebat, tapi apakah Dimas juga sudah membawa bumbu ikannya? Jika tidak dibumbui nanti ikannya terasa kurang gurih dan enak." Ucap Ayah Luki. "Tenang saja Om Andre, Edo sudah membawa bumbunya kok." Sambung Edo sambil mengulurkan bumbu ikannya. "Nah bagus, ayo kita bagi tugas. Dimas kamu menyusun alat masaknya ya, Edo dan Bagas kalian bersihkan sisik ikannya, kemudian nanti aku yang akan memberi bumbunya." Perintah Luki kepada temantemannya. "Lalu Ayah kebagian apa Luk?" Tanya Ayahnya kepada Luki. "Em.. Om Andre istirahat saja ya, tadi juga ketika sedang memancing Om Andre lah yang paling banyak mendapatkan ikan. Sekarang gilirankami saja yang memasaknya." Kata Dimas.


25 "Wah kalian baik sekali. Om istirahat dulu ya. Nanti jika sudah mulai menggoreng ikannya, akan Om bantu. Gini-gini juga Om pandai memasak loh." Ujar Ayah Luki "Iya Om, Bagas juga tidak bisa memasak hehehe." Ucap Bagas menanggapi perkataan Ayah Luki. "Bagas bisanya cuma makan Om." Sambung Edo mengundang gelak tawa. Akhirnya ketika peralatan masak dan ikannya sudah siap. Mereka pun segera melangsungkan kegiatan menggoreng ikan. Yang dipimpin oleh Ayah Luki, memang benar jika dilihat dari cara Ayah Luki memasak beliau sepertinya rajin membantu Ibu Luki di dapur. Tak lama kemudian, ikannya pun matang. Mereka segera menyantapnya sampai habis dan hanya menyisakan tulang ikan. "Aku kenyang sekali, ikannya juga sangat enak dan dagingnya juga manis." Ujar Bagas sambil mengelus perutnya. "Bener gas, ikannya enak banget. Om Andre mantap masaknya." Puji Edo kepada Ayah Luki. "Siapa dulu dong, Ayah Luki!" Seru Luki yang bangga dengan kemampuan masak Ayahnya. "Kalian bisa saja. Dagingnya terasa manis itu karena ikannya masih segar. " Kata Ayah Luki menerangkan. "Terimakasih ya Om, beruntung banget Om bisa bergabung dengan kami. Mungkin jika tidak ada Om Andre, ikannyatidak akan seenak ini. Karena kami juga tidak terlalupandai memasak." Kata Edo.


26 "Iya iya, sama-sama. Ya sudah ayo kita bereskan alat masaknya, dan jangan lupa buang sisa tulang ikannya di plastik ya. Besok saat pulang, plastik yang berisi sampah bisa dibuang ditempat sampah." Ucap Ayah Luki. Setelah melahap habis ikan hasil memancing di sungai dan membereskan peralatan masaknya. Kemudian mereka pun segera pergi tidur di tenda masing-masing. Luki tidur di tenda bersama Ayahnya. Sedangkan Bagas, Dimas dan Edo tidur dalam satu tenda. Tenda yang dimiliki oleh Dimas berukuram cukup besar sehingga dapat menampung tiga orang. Keesokan paginya, mereka pun bangun di pagi hari dengan disambut oleh sunrise yang indah. Sinar matahari yang belum sepenuhnya terpancar, terlihat memantulkan cahayanya di air seperti cermin yang sangat indah. Perpaduan warna jingga kemerahan dengan biru ya begitu memukau. Sebelum berkemas pulang, kami terlebih dahulu menikmati suasana pagi yang indah ini. Udara yang sejuk dan masih terasa sedikit dingin. Ketika hari mulai cerah dan matahari sudah memancarkan sinarnya. Sekitar pukul 09.00 WIB kami sudah selesai berkemas dan siap untuk pulang. Memastikan tidak ada sampah yang tertinggal. Karena saat kami datang ke tempat camping, area sungai dalam keadaan bersih. Maka dari itu ketika kami akan meninggalkan sungai juga harus dalam keadaan bersih.


27 "Teman-teman terimakasih ya, sudah mau menghabiskan waktu denganku dan juga Ayahku." Kata Luki kepada teman-temannya. "Tidak perlu berterima kasih Luk, kami semua juga sangat senang menghabiskan waktu di sini bersamamu dan Om Andre. Sudah lama sekali aku juga tidak pernah bercamping, kalau tidak salah terakhir bercamping itu ketika aku masih kelas 5 SD. Itupun karena aku ikut pramuka." Sambung Dimas, karena ia dari dulu sangat menyukai kegiatan yang berbau alam. "Bagaimana jika kita kapan-kapan bercamping lagi? Ayolah pasti sangat seru. Kita cari lokasi yang bagus. Om Andre juga ikut yah?" Sambung Bagas dengan semangat. "Jika Om tidak ada pekerjaan di kantor, Om pasti akan ikut. Menyenangkan sekali bisa menghabiskan waktu dengan anak-anak yang baik seperti kalian." Ujar Ayah Luki. "Nah ya sudah teman-teman, kita berpisah di sini. Besok kita harus bersekolah kembali. Rasanya hari libur begitu cepat berlalu." Kata Edo. "Kalian hati-hati ya pulangnya." Ucap Ayah Luki perhatian. "Iya Om siap. Baik kalau begitu, kami pulang dulu ya Om. Dadah Om Andre, bye Luki!" Pamit Dimas dan teman-teman yang lain. Luki dan Ayahnyapun segera pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda motor. Sepanjang jalan Luki hanya diam sambil mengingat kembali kesenangan yang baru saja ialakukan bersama teman-teman dan juga Ayahnya.


28 Dengan teman-teman, Luki tidak pernah merasa bosan. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang membuat kenangan. Yang mereka tahu hanya bersenang-senang. Seiring bertambahnya usia, hal terbesar yang akan kita ingat adalah saat-saat yang kita habiskan bersama temanteman.


29 ULANG TAHUNKU


30 Pagi telah tiba, sinar matahari mulai memasuki jendela. Terlihat seorang wanita sedang membangunkan anak kecil yang masih memejamkan matanya. Seraya duduk di tepi tempat tidur dan mengusap wajah sang anak, ia pun berkata, "Naura, bangun nak hari sudah pagi nanti kamu terlambat ke sekolah." Naura mulai terbangun karena sentuhan lembut tangan ibunya. Ia pun segera membuka matanya, dan melihat sosok wanita yang sangat ia cintai yaitu ibunya. Tanpa berlama-lama, Naura bergegas menuju kamar mandi yang terletak di pojok kanan kamarnya.


31 Diruang makan, ibu sedang menunggu Naura sambil menyiapkan makanan untuk sang ayah. Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, Naura muncul dengan seragam merah putihnya yang sudah rapi melekat di tubuhnya. Kemudian mereka pun sarapan bersama. Seperti biasa Naura pergi ke sekolah dengan diantar oleh ayahnya, karena kantor ayah juga searah dengan sekolah Naura. Sesampainya di sekolah, Naura berpamitan pada ayahnya dan segera menuju kelasnya. Naura duduk di kelas 5 SD bersama dengan 30 siswa lainnya. Naura anak yang mudah bergaul, jadi dia mempunyai banyak teman. "Pagi Tania.Kamu cepat sekali sampai sekolahnya. Bangunnya jam berapa si?" Tanya Naura dengan semangat kepada Tania, teman sebangkunya. Namun bukannya menjawab, Tania malah diam dan berdiri pergi menjauhi Naura. Naura merasa bingung dengan sikap Tania, tidak seperti biasanya dia begitu. Lalu bel pun berbunyi, tanda akan dimulainya pembelajaran. Selama kelas berlangsung, Tania tetap diam saat Naura mengajaknya berbicara. Hingga tiba waktunya istirahat, Naura pun memutuskan untuk mengajak temannya yang lain pergi ke kantin. Sayangnya respon teman-teman sama seperti Tania, mereka juga menjauhinya. Naura merasa sedih, dia berpikir apakah dia telah berbuat salah pada teman-temannya. Apa alasan mereka menjauhinya seperti ini.


Tak terasa, bel pulang berbunyi. Naura keluar menuju gerbang sekolah dengan muka yang masam. Ia sama sekali tidak mempunyai teman hari ini. Sembari menunggu ayah menjemputnya, ia melihat Tania dan teman-temannya sedang berlari tergesa-gesa. Mereka bergegas pulang tanpa menghiraukan Naura yang sedang menatapnya. Naura kembali sedih, apakah dia benar-benar akan kehilangan teman-temannya tanpa alasan yang jelas. Ditengah kesedihannya, klakson mobil berbunyi memperlihatkan ayahnya yang berada di dalam mobil sambil melambaikan tangan ke arah Naura. Dan Naura pulang bersama ayahnya. Entah kenapa saat diperjalanan pulang, ayah mengendarai mobil dengan sangat pelan. Naura pun bertanya, "Ada apa ayah? Apa yang sedang ayah pikirkan? Kenapa mengemudinya pelan sekali, padahal ini tidak macet kok" Tanya Naura dengan raut wajah bingung. "Tidak ada masalah apa-apa nak. Walaupun tidak macet, kita kan harus selalu berhati-hati." Terang sang ayah. 32


Sedikit membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke rumah. Naura yang memang sedang sedih, langsung membuka pintu rumahnya. Tak disangka ia dikejutkan oleh ibu dan teman-temannya, yang tiba-tiba muncul sambil menyanyikan lagu Happy Birthday bersama. "Selamat ulang tahun Naura!" ucap teman-temannya serempak. "Teman-teman, kenapa kalian ada di sini. Bukannya kalian sedang marah ya padaku?" Tanya Naura. "Kapan kita marah Nau? Dan kenapa kita harus marah padamu." Kata Tania dengan tersenyum. "Jadi begini Nau, tadi di sekolah kita bersikap cuek ke kamu karena kita mau ngasih kejutan ulang tahun untukmu hihihi." Kata Mona dengan tertawa kecil. "Benarkah kalian tidak marah padaku? Aku sungguh mengira kalau kalian tidak mau berteman lagi denganku." "Naura, Naura…Kamu itu lucu sekali yah, apakah kamu tidak ingat dengan hari ulang tahunmu sendiri?" Kata andi dengan senyum jahilnya. 33


34 Naura kaget, dan baru sadar bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ibu pun mendekat, memeluk erat Naura yang disusul oleh pelukan hangat ayahnya juga. "Naura sayang, selamat ulang tahun ya. Lihat ibu sudah membuatkan kue coklat kesukaanmu. Kita makan sama-sama ya " Kata ibu menatap anaknya itu. "Ya tentu saja bu, terima kasih aku sangat menyanyangi ibu. Ayo teman-teman kita potong kuenya!" Seru Naura dengan gembira. "Ayo potong…potong…potong!" Seru teman-teman tak kalah hebohnya. Naura sangat senang, dia tidak jadi kehilangan teman-temannya. Justru dia mendapatkan teman yang sangat baik dan ingat dengan hari ulang tahunnya. Naura juga sangat bersyukur, mempunyai orang tua yang sangat menyanyanginya. Mereka adalah harta Naura yang paling berharga di dunia, yaitu ayah dan ibu. Genap sudah usia Naura menginjak 10 tahun, dia berharap dia akan menjadi anak yang lebih baik lagi.


35 BIOGRAFI PENULIS Anindi Putri Safira Wulandari NIM 1401421468 Mahasiswa PGSD UNNES Rombel J Lahir di Kota Banjarnegara pada tanggal 30 Desember 2002. Penulis telah menamatkan pendidikan di TK PGRI II Danaraja, SDN 04 Danaraja, SMP N 1 Mandiraja, dan SMA N 1 Bawang. Saat ini penulis sedang menempuh kuliah S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Negeri Semarang.


Buku berjudul "Kumpulan Cerita Anak-Anak" ini mengisahkan tentang berbagai macam peristiwa yang di alami oleh anak-anak. Terdiri dari beberapa tema yang berbeda-beda, membuat buku ini sangat direkomendasikan bagi anak-anak. Selain tidak mudah bosan, buku ini juga menampilkan gambar-gambar yang dapat menarik perhatian anak agar mereka mau membaca. Pada cerita pertama, dikisahkan seorang anak bernama Dodo yang sangat menginginkan sepatu baru. Namun perekonomian keluarga, membuat Dodo mengurungkan keinginannya dan lebih memilih berjualan gorengan di sekolah guna membantu keuangan keluarganya. Selanjutnya pada cerita kedua, menceritakan sebuah persahabatan yang terdiri dari 4 anak. Mereka berencana untuk menghabiskan waktu bersama dengan mengadakan camping di sungai. Banyak kegiatan menyenangkan yang mereka lakukan di sana. Beralih pada cerita ketiga, yakni mengisahkan seorang anak perempuan bernama Naura. Naura mempunyai banyak teman, namun tibatiba ia dijauhi oleh teman-temannya tanpa alasan. Hal itu membuatnya sedih, apa yang sebenarnya terjadi? Ayo baca bukunya untuk mengetahui kelanjutan kisahnya.


Click to View FlipBook Version