i
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN
NGAWI
TAHUN 2021
Kisah
Sunan Ampel
Oleh :
Mariya Ulfa S.Pd.
i
ii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT
karena E Book ini telah selesai disusun. E Book ini disusun untuk membantu para
pembaca khususnya para pelajar dalam mengenal dan mempelajari sejarah tokoh-
tokoh yang berjasa dalam perkembangan kemajuan Negara Republik Indonesia.
Dan dengan E Book ini penulis berharap para pembaca dapat meneladani dari sifat-
sifat terpuji dan semangat yang dimiliki oleh para tokoh-tokoh terbaik bangsa ini.
Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan E Book ini, sehingga dapat terselesaikan dengan baik
dan tepat waktu
Penulis menyadari apabila dalam penyusunan E Book ini terdapat
kekurangan, guna penyempurnaan E Book ini maka kritik dan saran dari pembaca
sangat penulis nantikan.
Akhir kata penulis berharap E Book ini dapat memberikan manfaat sekecil
apapun bagi para pembaca.
Ngawi, 24 Februari 2021
Penulis
ii
iii
DAFTAR ISI
Halaman Judul …………………………………………………………….. i
Kata Pengantar …………………………………………………………….. ii
Daftar Isi …………………………………………………………………….. iii
Riwayat Sunan Ampel ……………………………………………………. 1
Metode Dakwah Sunan Ampel ……………………………………. 4
Karomah dan Keteladanan Sunan Ampel …………….……. 7
Peninggalan dan Karya Sunan Ampel ……………………….…. 9
Daftar Pustaka ……………………………………………………………. 15
Biodata Penulis ……………………………………………………………. 16
iii
1
Riwayat Sunan Ampel
1. Masa Awal Riwayat Sunan Ampel
Sunan Ampel merupakan salah satu walisongo penyebar Agama Islam
di pula Jawa. Beliau bernama asli Raden Mohammad Ali Rahmatullah, Lahir
dari Rahim seorang ratu dari Kerajaan Champa pada tahun 1401, Sunan
Ampel tidak dididik sebagai putra mahkota yang manja. Bahkan pada
akhirnya beliau tidak menjadi raja, menggantikan ayahnya.
Di usianya yang masih sangat muda, yakni 20 tahun, Raden Rahmat,
nama panggilan Sunan Ampel, memutuskan untuk hijrah atau pindah ke
Indonesia. Tempat yang beliau pilih adalah Surabaya, Jawa Timur. Menurut
sejarah, nama lain Sunan Ampel ini juga diambil dari nama China, yakni
Bong Swi Hoo.
Di usia yang sangat muda pemahaman ilmu agama yang dimiliki
Raden Rahmat bahkan sudah sangat mumpuni. Maka dari itulah beliau
langsung dipercaya oleh Raja Brawijaya, maharaja Majapahit saat itu, untuk
menyebarkan ajaran agama Islam di seluruh wilayah Ampel Denta (yang
sekarang adalah Surabaya).
Kemudian Sunan Ampel mendapatkan 12 hektar tanah di Ampel
denta untuk dijadikan sebagai pusat dakwah. Karena inilah, maka Raden
Rahmat kemudin dikenal sebagai Sunan Ampel.
Hubungan yang baik Sunan Ampel dengan Kerajaan Majapahit
memudahkan Sunan Ampel masuk ke Tanah Jawa untuk menyebarkan
Agama Islam di Ampel Denta atau Surabaya yang mana masih dalam wilayah
2
kekuasaan Majapahit ini adalah karena memang raja Majapahit, Prabu
Kertawijaya pernah menikah dengan seorang putri dari Kekaisaran Champa.
Dikisahkan bahwa Ibrahim Al-Asmar atau ayah dari Sunan Ampel ini
adalah seorang pemuda asli Arab yang datang ke Kekaisaran Champa.
Kebaikan hati dan kepandaiannya dalam membawa diri ternyata menarik
perhatian kakek Sunan Ampel atau ayah dari Putri Candrawulan.
Bahkan Raja Kunthara, ayah Putri Candrawulan, pun berhasil
menjadi mu’alaf tanpa paksaan dari Ibrahim karena beliau merasa
tercerahkan dengan ajaran Agama Islam yang dibawa oleh Ibrahim. Raja pun
juga membangun sebuah masjid, yang menjadi masjid pertama, yang
didirikan di atas Tanah Champa.
Raja sangat mendukung kegiatan dakwah Ibrahim, sehingga semakin
banyak penduduk Champa yang mu’alaf. Singkat cerita, kebahagiaan
Ibrahim pun lengkap dengan keputusan Raja Kunthara yang
menikahkannya dengan putrinya.
Dari Raja Kunthara inilah yang pernah menjadi istri Raja Kertawijaya
dari Majapahit, yakni Ratu Martaningrum, putri bungsu Raja Kunthara.
2. Riwayat Keluarga Sunan Ampel
Sunan Ampel atau Raden Rahmat mempunyai dua istri yaitu Dewi
Condrowati atau Nyai Ageng Manila yang merupakan putri dari adipati
Tuban yaitu Arya Teja. Dari pernikahannya ini beliau mempunyai putra dan
putri, Maulana Makhdum Ibarahim (Sunan Bonang), Raden Qasim (Sunan
Derajat), Siti Syari’ah atau Nyai Ageng Maloka, Siti Mutma’innah dan Siti
Hafsah.
3
Sedangkan pernikahannya yang kedua dengan Dewi Karomah binti Ki
Kembang Kuning. Dari pernikahannya ini beliau mempunyai putra-putri
Dewi Murtasiyah (istri dari sunan Giri), Dewi Murtasimah (istri Raden
Fattah), Raden Husamuddin (Sunan Lamongan), Raden Zaenal Abidin
(Sunan Demak), Pangeran Tumapel dan Raden Faqih (Sunan Ampel 2).
3. Wafatnya Sunan Ampel
Sunan Ampel tutup usia di usia kurang lebih 80 tahun, yakni pada
tahun 1481. Beliau meninggalkan berbagai pelajaran hidup yang berharga,
bukan hanya masalah cara beriman tetapi juga cara hidup bersosial.
Sunan Ampel dimakamkan di kawasan Ampel Denta, tepatnya di
depan masjid Ampel sebelah kanan. Makam Sunan Ampel ini banyak
dikunjungi oleh peziarah dari dalam maupun luar negeri.
4
Metode Dakwah Sunan Ampel
Tergeraknya hati Sunan Ampel untuk melakukan dakwah di Surabaya
adalah ketika melihat warga masyarakat yang sangat miskin moral pada saat itu.
Layaknya jaman jahiliyyah, di mana-mana ada perjudian, sabung ayam, dan
segala macam ritual sesaji masih digelar, karena kepercayaan yang masih
animisme.
Metode yang digunakan adalah melalui diskusi dengan metode dakwah
yang dipilih oleh Sunan Ampel ini bisa dibilang sangat berbeda dengan cara
dakwah wali-wali lainnya, yakni dengan pendekatan seni budaya. Di mana Sunan
Ampel sering mengadakan berbagi ilmu pengetahuan dengan masyarakat sekitar.
Kepada masyarakat kelas bawah, beliau lebih mengarahkan dan berbagi ilmu
baru.
Dan untuk penanganan kepada masyarakat kelas atas metode yang
digunakan berbeda, yang mana Sunan Ampel lebih mengedepankan diskusi
ilmiah yang full pengetahuan. Jadi, bsia dikatakan metode dakwah Sunan Ampel
ini kondisional, disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Meskipun dengan
metode yang berbeda, Sunan Ampel tetap mengedepankan tujuan yang sama
walaupun beda pendekatan diskusi saat berbaur dengan masyarakat kelas bawah
dan kelas atas.
“Moh Limo” adalah nama metode dakwah Sunan Ampel yang sangat
terkenal, yang berasal dari dua kata dalam Bahasa Jawa, yakni kata “moh” yang
artinya “tidak atau tidak mau” dan kata “ limo” yang merupakan istilah bilangan
“lima”. Jadi artinya adalah tidak mau melakukan 5 hal yang dilarang agama.
“Moh Limo “ ini berisi “Moh Wadon” artinya nggak mau main wanita; “
Moh Mabok “ atau nggak mau mabuk-mabukan atau minum-minuman keras
5
yang haram; “Moh Main” atau tidak mau bermain, dalam hal ini maknanya tidak
mau main judi; “ Moh Maling” yang artinya tidak mau mencuri atau jadi maling;
dan “ Moh Madat” atau tidak mau mengonsumsi obat-obatan terlarang atau
segala macam narkoba.
Kelima metode dakwah Sunan Ampel tersebutlah yang dikenal sebagai
ajaran Sunan Ampel yang sangat dikenal dan dijadikan pegangan masyarakat
yang akhirnya mu’alaf.
Dalam berdakwah, Sunan Ampel tidak menggunakan media apapun,
namun ada juga sumber sejarah yang menyatakan bahwa di awal perjalanan
dakwahnya, yakni tepatnya saat melewati Desa Kembang Kuning, Krian, dan
Wonokromo. Medianya sangat sederhana, yaitu sebuah kipas rotan.
Sebuah media yang sangat unik, karena kipas tersebut bukan kipas yang
biasa kalian pakai lho. Penduduk setempat bisa mendapatkan kipas dari
anyaman rotan cantik tersebut dengan cuma-cuma tanpa harus membayar, tapi
ada syarat yang unik.
Yang mana penduduk harus mengucapkan lafal syahadat, barulah bisa
mendapatkan kipas cantik buatan tangan Sunan Ampel tersebut. Ternyata cara
tersebut sukses mengundang banyak penduduk untuk bertemu Sunan Ampel
dan bersedia mendengarkan dakwahnya.
Dan dari metode tersebut semakin banyak penduduk yang masuk Islam,
salah satunya adalah Mbah Sholeh yang mengikrarkan dirinya untuk menjadi
murid Sunan Ampel. Mbah Sholeh kemudian menjadi marbot masjid yang
sangat menjaga kebersihan, sehingga tidak ada setitik debu pun di masjid Sunan
Ampel.
6
Sunan Ampel merupakan salah satu personil Wali Songo yang telah
berjasa menyebarkan ajaran Agama Islam di Tanah Jawa yang ternyata bukan
orang Indonesia. Beliau adalah wali Allah yang keturunan Kamboja dan Arab.
7
Karomah dan Keteladanan Sunan Ampel
Karomah adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada para wali.
Keunikan karomah yang ada pada jaman Sunan Ampel ini tidak hanya terdapat
dari kekuatan atau kelebihan Sunan Ampel itu saja, melainkan dari peninggalan-
peninggalannya. Salah satunya adalah karomah dari Masjid Ampel yang mana
tidak ada kerusakan sedikitpun saat ada pasukan penjajah yang menyerang
Surabaya kala itu.
Karomah yang dimiliki oleh masjid Sunan Ampel ini mendatangkan
ribuan jama’ah di bulan Ramadhan. Para jama’ah datang dari berbagai penjuru
negeri untuk merasakan ketenangan dalam menjalankan ibadah puasa dan
ibadah lain di bulan Ramadhan.
Selain itu, ada karomah lain dari Sunan Ampel yakni tentang ucapannya
yang mujarab terhadap salah satu muridnya, yakni Mbah Sholeh. Beliau
mengatakan bahwa Mbah Sholeh dapat hidup sebanyak 9 kali.
Suatu hari Mbah Sholeh pun dipanggil menghadap Allah SWT dan
makamnya persis berada di depan masjid Ampel. Karena Mbah Sholeh yang
rajin, masjid Sunan Ampel selalu terjaga kebersihannya sehingga ketika dia sudah
meninggal tidak ada yang bisa membersihkan masjid sebersih yang dilakukan
Mbah Sholeh.
Benar saja, karomah terjadi. Sunan Ampel tidak sengaja mengatakan kalau
seandainya Mbah Sholeh masih hidup, pasti masjid akan sangat bersih seperti
saat Mbah Sholeh yang jadi marbot. Allahu alam, Mbah Sholeh hidup lagi dan
kembali membersihkan masjid seperti kegiatan rutinannya. Semua orang
terheran-heran.
8
Terulang lagi perkataan Sunan Ampel seperti sebelumnya ketika Mbah
Sholeh meninggal lagi, dan tiba-tiba Mbah Sholeh sudah ada di takmir masjid
dan membawa alat untuk bersih-bersih masjid. Begitulah seterusnya hingga 9 kali
jumlahnya.
Sehingga ada 9 makam Mbah Sholeh yang ada di kompleks masjid Ampel
ini karena setiap kali hidup lagi dan ketika meninggal dibuatkan makam baru.
Selain dari Mbah Sholeh, karomah lain juga berasal dari murid Raden
Rahmat yang bisa melihat Ka’bah langsung dari masjid Ampel. Dia adalah Mbah
Bolong.
Sunan Ampel juga menjadi pemimpin dari para wali yang tergabung
dalam Wali Songo. Di mana beliau memiliki kepribadian yang spesial dengan
metode dakwah yang bisa memadukan antara religion, social, dan knowledge.
Sedangkan keteladan yang bisa kita contoh adalah kepribadian yang alim
dan bijaksana menempel kuat dalam diri Sunan Ampel. Banyak orang yang
menyukai beliau, karena pembawaannya yang berwibawa, kalem, dan baik hati.
9
Peninggalan dan Karya Sunan Ampel
1. Masjid Sunan Ampel
Peninggalan Sunan Ampel yang menjadi masjid tertua ketiga di
Indonesia ini sangat terkenal dan banyak dijadikan sebagai salah satu dari tempat
penting yang wajib dikunjungi saat melakukan wisata religi, seperti para
rombongan ziarah wali.
Letaknya di ibukota Jawa Timur, yakni Surabaya yang mana jadi satu
dengan kompleks makam Sunan Ampel. Alamat lengkapnya adalah di Jalan
Ampel Suci No. 45, Desa Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya, Jawa Timur.
Tepatnya pada tahun 1421 M masjid ini dibangun oleh Sunan Ampel
yang dibantu oleh para santri-santrinya serta sahabat-sahabatnya, yakni Mbah
Sonhaji dan Mbah Saleh. Mereka saling bahu membahu membangun tempat
ibadah yang memiliki luas 180 m x 120 m ini.
Arsitektur masjid ini sangat khas, karena ada campuran gaya Jawa dan
Arab ditambah dengan kemasan ukiran khas Hindu-Buddha. Semua tema
berbaur menjadi satu dan menghasilkan keindahan tersendiri bagi masjid Ampel
ini.
10
Pemilihan bahan-bahan bangunannya pun nggak sembarangan. Di mana
bahan-bahan bangunannya pun tidak hanya diambil dari barang lokal saja ( di
dalam wilayah Ampel ), melainkan juga didatangkan dari berbagai kota di Jawa
Timur.
Masjid peninggalan Sunan Ampel ini bukan hanya dikenal di dalam
negeri saja, melainan juga terkenal hingga manca negara. Terbukti banyak
wisatawan dari berbagai negara sering datang, yakni dari Brunei Darussalam,
Malaysia, Belanda, Filipina, Saudi Arabia, Korea, Jepang, Selandia Baru, Yunani,
China, Prancis, Italia, Jerman, dan banyak lagi yang lainnya.
2. Masjid Rahmat Kembang Kemuning
Ternyata bukan hanya Masjid Ampel saja yang menjadi peninggalan
Sunan Ampel, melainkan juga Majid Rahmat Kembang Kemuning. Ini adalah
masjid yang juga didirikan oleh Sunan Ampel untuk mendukung kegiatan
dakwahnya.
Awalnya bukan masjid besar, melainkan hanya mushola atau semacam
surau, karena Sunan Ampel harus membuka lahan hutan untuk membangun
masjid ini.
11
3. Makam Sunan Ampel
Jejak wisata rohani ke Masjid Ampel harus dilengkapi dengan
menziarahi makam Sunan Ampel yang letaknya persisi di sebelah barat masjid.
Makam Raden Rahmat atau Sunan Ampel ini tidak sendirian,
melainkan berjajar dengan istrinya. Ada juga lima makam lainnya yang ada di
dalam satu pagar dengan makam beliau.
Yang membedakan makam Sunan Ampel dengan makam lainnya
adalah bahwa di sekitar makam beliau ada pasir putih.
4. Pesantren Sunan Ampel
Selain membangun masjid, Sunan Ampel juga membangun sebuah
pesantren yang sangat terkenal hingga kini. Sama pentingnya dengan masjid
Sunan Ampel, pesantren Sunan Ampel ini juga wajib dikunjungi saat
melakukan perjalanan wisata religi.
12
Pesantren ini dibangun bersamaan dengan pembangunan masjid. Jadi
lokasinya nggak jauh dari kompleks masjid.
5. Sumur
Air dalam sumur ini dipercaya mirip dengan air zam-zam yang ada di
Tanah Suci. Namun sayangnya sudah tidak bsia dilihat karena ditutupi dengan
penutup besi.
Tapi tenang, walau tak bisa melihat secara langsung, tetapi kalian
masih bisa merasakan airnya yang segar. Telah disediakan gentong atau tempat
penampungan air dari tanah liat yang sudah berisi air dari sumur tersebut
sehingga para peziarah bisa mencicipi air untuk diminum, dibawa pulang, cuci
muka, atau lainnya.
13
6. Kampung Arab
Wilayah Ampel ini dikenal penduduknya keturunan Arab dimana
sebagian besar profesinya sebagai pedagang. Populasi mereka hampir tersebar
di sekitar masjid Sunan Ampel, sehingga bisa dimanfaatkan untuk berbelanja
di kawasan ini. Oleh karena itu akhirnya kawasan ini mendapat sebutan
dengan Kampung Arab.
Suasana Timur Tengahnya Indonesia sangat cocok disematkan pada
Kampung Arab di sini karena dalam sekali berkunjung, bisa beribadah di
masjid Ampel, ziarah makam Sunan Ampel, dan belanja.
Pakaian, makanan, dan minuman yang dijajakan di Pasar Arab di
Ampel ini pun khas Timur Tengah. Jadi tidak perlu jauh-jauh berbelanja
barang khas Arab ke Arab Saudi.
7. Nadzir
Peninggalan yang satu ini bisa dibilang unik, karena berupa pengurus
masjid Ampel. Di mana perkumpulan belum lama dibentuk, yakni mulai
tahun 1970.
14
Tugas nadzir ini adalah mengurusi semua hal tentang situs sejarah
Islam ini, sehingga bukan hanya masjid saja, melainkan juga makam Sunan
Ampel.
Almarhum Kyai haji Muhammad bin Yusuf menjadi nadzir pertama
untuk Masjid Ampel ini. Kemudian diteruskan Kyai Haji Nawai Muhammad.
Sampai pada tahun 1998, tidak ada lagi nadzir masjid Ampel. Bukan
berarti Masjid Ampel tidak ada yang mengurusi lagi, tetapi sekarang yang
menjadi nadzir Masjid Ampel adalah Kyai Haji Ubaidillah.
15
DAFTAR PUSTAKA
Purwadi, Babad Tanah Jawi, Yogyakarta: Pustaka Alif, 2001
Sunyoto, Agus, Sunan Ampel Raja Surabaya: Membaca Kembali
Dinamika Perjuangan Dakwah Islam Di Jawa Abad XIV-XV M.,
Surabaya: Diantama, 2004.
Sunyoto, Agus, Sejarah Perjuangan Sunan Ampel: Taktik dan Strategi
Dakwah Islam di Jawa Abad 14-15, Surabaya: LPLI Sunan Ampel,
1990.
_____________, Sekitar Wali Songo, Kudus: Menara Kudus, 1982
16
BIOGRAFI PENULIS
Nama Mariya Ulfa, S.Pd. Lahir di Ngawi
tanggal 17 April 1980, merupakan anak kedua dari
5 bersaudara dengan ayah yang bernama Hartoyo
dan ibu Samini. Dan sekarang menikah dengan
Endro Prabowo, S.Kom yang merupakan seorang
guru di SMPN 1 Paron dan telah memiliki 2 orang
anak
Pernah menempuh pendidikan S1 di dua Perguruan Tinggi yang
pertama menempuh pendidikan di STKIP PGRI Ngawi yang lulus pada
tahun 2004 dengan mengambil jurusan PBS Bahasa Inggris dan yang
kedua pernah menempuh pendidikan di Universitas PGRI Madiun Fakultas
PGSD yang lulus pada tahun 2017.
Riwayat pekerjaan pernah menjadi GTT di SMP Ma’arif Ngawi dari
tahun 2000 – 2007. Dan pada tahun 2008 Alhamdulillah diangkat menjadi
PNS di SMPN 3 Pitu sampai dengan tahun 2011. Kemudian pada tahun
2012 dipindah tugaskan di SDN Pitu 3 sekaligus merangkap di SDN
Dumplengan 2, sebagai guru Mulok Bahasa Inggris. Dan satu tahun
kemudian tepatnya tahun 2013 dipindah tugaskan lagi di SDN Pitu 2
sampai dengan sekarang sebagai guru kelas.
E Book ini merupakan karya kedua dari penulis, dimana penulis
berharap semoga E Book ini dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama
untuk para pelajar yang sekarang harus belajar melalui Daring karena masih
dalam masa Pademi.