The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nur indah wati, 2021-02-26 23:58:58

E BOOK KARTINI PDF

E BOOK KARTINI PDF

i

KATA PENGANTAR

Banyak anak jaman sekarang yang dikatakan sebagai anak
zaman milenial kurang mungkin sudah tidak peduli dengan sejarah
bangsanya. Bagaimana bangsanya berjuang sampai bisa merasakan
kemerdekaan saat ini.Mungkin sedikit dari mereka mengenal
tokoh-tokoh pahlawan yang sebetulnya mempunyai jasa yang
sangat besar dalam membangun bangsanya.Kemungkinan,
kurangnya minat membaca karena sudah asyik mengikuti kemajuan
jaman yang isinya kurang dalam mengungkap pahlawan-pahlawan
nasional.

Berlatar belakang hal tersebut, penulis mencoba menulis
sedikit sejarah tentang perjuangan R.A Kartini yang penulis
bukukan dalam E-Book, yang bisa di jangkau dengan android yang
sekarang menjadi alat modern yang banyak digunakan.

E-Book ini disusun agar dapat membantu siswa ataupun
akademisi lain dalam mempelajari sebagian kecil salah satu
sejarah pahlawan nasional yang bisa dijadikan sumber bahan
belajar.

Penulis pun menyadari jika didalam penyusunan buku ini
mempunyai kekurangan, namun penulis meyakini sepenuhnya bahwa
sekecil apapun buku ini tetap akan memberikan sebuah manfaat
bagi pembaca.

Akhir kata untuk penyempurnaan buku ini, maka kritik dan
saran dari pembaca sangatlah berguna untuk penulis kedepannya.

Ngawi, Februari 2021

Penulis

ii

DAFTAR ISI

Halaman Judul........................................................................................... i
Kata Pengantar........................................................................................... ii
Daftar Isi ..................................................................................................... iii
Sosok R.A Kartni ....................................................................................... 1
Kartini Belajar ............................................................................................ 2
Kartini Berpendapat ................................................................................... 4
Perjuangan Kartini .................................................................................... 7
Kartini Menikah dan Terus Berjuang ....................................................... 10
Meninggalnya Kartini dan Kenangannya ............................................. 11
Daftar Pustaka............................................................................................ 13
Biografi Penulis ..........................................................................................

iii

iv

Sosok R.A Kartini

Sosok salah satu pencetus emansipasi wanita yang banyak dikenang
dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam menjajah pemerintahan
kolonial Belanda adalah Raden Ajeng Kartini. Beliau dilahirkan di Desa
Mayong,Kabupaten Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879.Raden Mas
Adipati Ario Sosroningrat adalah ayahnya yang dimasa itu menjabat
sebagai Bupati Jepara, sedangkan ibunya bernama Ngasirah .

Kedua orang tuanya adalah keturunan bangsawan jawa yang masih
taat pada adat istiadat.yang dikala itu aturannya adalah seorang wanita
dikodratkan nantinya harus menjadi seorang ibu rumah tangga yang
harus di rumah saja untuk mengurus keperluan rumah tangganya.

Kartini merupakan anak kelima dari 11 orang saudara
kandungnya. Kakek Kartini bernama Pangeran Ario Tjondronegoro IV
Yang juga merupakan seorang Bupati Demak kala itu. Beliau mempunyai
pikiran maju dalam dunia pendidikan. Beliau mendatangkan seorang
guru pribadi berkebangsaan Belanda untuk mengajar anak-anaknya
karena waktu itu pemerintahan Belanda membatasi gerak pendidikan
kaum bumiputera. Dengan kepintaran dan kemajuan berpikir seorang
kakek Kartini tidak heran semua anak-anaknya termasuk ayah Kartini
semua menjabat sebagai bupati di masa itu. Dan kepintaran itu juga
diturunkan kepada Kartini. Sehingga tidak heran Kartini memiliki
pendidikan dan pemikiran yang maju dalam dunia pendidikan.

1

Kartini belajar

Awal pendidikan Kartini dimulai dari Pendidikan Sekolah Dasar
pada tahun 1886 di usia tujuh tahun. Beliau bersekolah di Sekolah Dasar
Sekolah Kelas Dua Belanda di kota Jepara,Yang semua siswanya adalah
harus dari keluarga pribumi bangsawan dan Belanda asli. Dan Kartini
menamatkan sekolah dasarnya di usia 12 tahun. Selain itu ayahnya juga
mengajarkan pendidikan agama islam dengan mendatangkan seorang
guru khusus untuk mengajar Kartini dan saudara-saudaranya belajar
huruf Arab dan Al Qur’an.

Kartini merasa senang bersekolah karena dia bisa memiliki banyak
teman, sahabat untuk dia belajar dan bermain bersama. Dia banyak
memiliki teman orang Hindia Belanda.Sehingga tidak heran Kartini bisa
berkomunikasi dengan bahasa Belanda.

Namun kesenangan bermain dan bergaul dengan banyak teman
hanya sebatas bisa dia rasakan hanya sampai di Sekolah Dasar. Karena
setelah tamat Sekolah Dasar, dia tidak diperbolehkan untuk melanjutkan
ke jenjang berikutnya, karena berdasarkan kebiasaan dan adat istiadat
yang berlaku saat itu, hanyalah kaum pria yang bisa melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sedangakn seorang wanita setelah
tamat di SD dia harus tinggal di rumah.

Setelah lulus dari Sekolah Dasar dia menjalani masa pingitan. Dia
harus selalu tinggal di rumah,tidak boleh kemana mana,tidak boleh bergaul
dengan orang luar. Dia akan diajari bagaimana cara bertata karma ketika

2

berumah tangga nantinya, Bagaimana dia bersikap dan berbuat ketika
melayani suami dan anak-anaknya dan juga diajari berbagai macam
pekerjaan rumah tangga. Hal ini akana terus berlangsung sampai
waktunya dia dinikahkan dengan laki-laki pilihan orang tuanya.

Sebenarnya dia ingin berontak, dia merasa seperti dipenjara. tapi
apalah daya dia sudah terkekang pada aturan jamannya di waktu itu.
Kalaupun dia berontak,dia takut dianggap sebagai anak durhaka dengan
tidak mematuhi peraturan yang ada dan juga dia ingin menjaga nama
besar ayahnya sebagai seorang anak bangsawan, seorang bupati yng
harus menjadi contoh rakyatnya

Walaupun dia tidak bisa sekolah, Kartini tetap belajar di rumah, Dia
yakin bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya didapat di sekolah,tetapi bisa
dilakukan dimana saja termasuk di rumah. Dia banyak belajar dengan
kakak laki-lakinya. Kakaknya banyak memberikan buku sehingga selain
belajar mengurus rumah tangga, Kartini muda melakukan kegiatan
membaca buku dan sumber bacaan lainnya.Dia juga mengumpulkan
banyak buku dan membaca akhirnya menjadi kebiasaan sehari-harinya.

Dia banyak membaca buku tentang tokoh-tokoh wanita di eropa yang
saat itu bisa bersekolah sampai jenjang berapapun dan juga mrmbaca buku
tentang kemajuan perempuan yang bisa berkarya seperti laki-laki seperti
karya Multatuli,Max Havelaar. Dengan kebiasaan memebacanya, Kartini
termotivasi untuk mengubah adat istiadat waktu itu dengan ingin
memajukan pendidikan bagi kaum wanita. Selain membaca, Kartini muda
juga mempunyai hobi menulis, dia menulis beberapa buku dalam masa
pingitannya.

3

Kartini Berpendapat

Dalam masa pingitannya, Kartini terus belajar baik itu membaca,
menulis dan tentu masih belajar tentang urusan rumah tangga. Kartini
terus berkarya dan belajar,mendapatkan ilmu dan informasi dari buku
yang dibacanya.

Dia banyak membaca buku tentang perjuangan utamanya
perjuangan seorang wanita di luar negeri. Salah satu buku yang menjadi
inspirasinya adalah buku De Vrou en Socialisme ( Wanita dan Sosialisme )
karangan August Bebel yang menyadarkan Kartini akan kodrat yang
sama antara perempuan dan pria sebagai mausia.Hal ini semakin
menggerakkan keinginan Kartini untuk merubah pola piker kebanyakan
masyarakat waktu itu yaitu walaupun terlahir sebagai seorag wanita,
wanita memiliki derajat dan kedudukan yang bisa sama dengan pria.

Namun hal itu bertolak belakang dengan pendapat salah satu
kakaknya yang tertua, yaitu Raden Mas Sosroningrat yang tidak setuju
dengan keinginan Kartini. Menurutnya, perempuan itu tidak sama derajat
dan kedudukannya dengan pria,seorang wanita sudah ditakdirkan untuk
mengurus rumah tangga dan melayani anak dan suami.Seorang
perempuan tidak perlu sekolah untuk menambah pengetahuannya.Kartini
tidak setuju dengan pendapat kakanya,sehingga diantara mereka selalu
terjadi perdebatan.

Beruntung Kartini masih memiliki ayahnya yang masih mau
mendengar keinginan Kartini. Kartini diberi kesempatan masih bisa
berhubungan dengan teman Belandanya melalui berkirim surat

4

untuk,menambah pengetahuan dan agar lebih bisa memperlancar bahasa
Belandanya.Namun Kartini n masih harus terus menjalani masa
pingitannya.

Setelah dia menginjak umur yang cukup dewasa , pada waktu itu
Kartini berusia 16 tahun. Ayahnya memperbolehkan Kartini dan saudara
perempuannya yaitu Rukmini dan Kardinah yang nantinya 3 orang
wanita ini dikenal dengan tiga serangkai. Mereka memiliki pandangan
dan cita-cita yang sama tentang kemajuan perempuan, sehingga mereka
sangat erat dan akrab dibandingkan dengan saudara-saudara lainnya.

Kartini dan kedua saudara perempuannya mulai mengenal dunia
luar lagi,mereka pergi jalan-jalan, pergi ke pesta, ke taman, dan bermain
deng an teman-temannya. Namun Kartini menginginkan lebih dari itu,ia
ingin memiliki kebebasan untuk menuntut ilmu lebih tinggi dan
meneruskan sekolah ke pendidikan yang lebih tinggi.Seperti yang dikutip
dalam salah satu surat dalam buku Door Duiternis Tot Licht (Habis Gelap
Ter bitlah Terang), “ Tetapi saya belum puas! Sama sekali belum puas.
Saya menginginkan lebih jauh. Bukan perayaan, bukan bersenang-
senang, yang menjadi tujuan saya akan kebebasan. Saya ingin bebas agar
bisa mandiri, tidak perlu tergantung pada orang lain, agar …..tidak
menikah. Akan tetapi kami harus menikah.Tidak menikah merupakan

5

dosa besar gagi seorang wanita islam”. Disini kita bisa melihat Kartini
walaupun dia bercita-cita sangat tinggi bahkan menyamai kedudukan
seorang pria, namun Kartini tetaplah seorang wanita yang paham akan
kodratnya.Walaupun apa yang dilakukan Kartini banyak mendapatkan
anggapan miring, namun dia tidak peduli akan hal itu.

6

Perjuangan Kartini

Kartini berjuang bukan dengan mengangkat senjata, Dia berjuang
dengan menggunakan pena yang ia tuangkan dalam surat-surat. Kartini
berjuang dalam penyetaraan derajat dan kedudukan antara wanita dan
pria.

Kartini memiliki banyak teman beberapa diantara warga Belanda
yang menyetujui keinginan Kartini, Salah satu diantaranya adalah
Direktur Pengajaran Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon dan Nyonya
Abendanon yang berkunjung ke Jepara. Mereka banyak memberikan ilmu,
pengetahuan, dan pengalaman kepada Kartini dan Adik-adiknya. Kartini
semakin banyak membaca, Kartini berpikir bahwa perkembangan
perempuan di Negara lain berbeda jauh dengan di negaranya. Mereka bebas
berprofesi sedangakn perempuan di Indonesia setelah ckup umur mereka
harus menikah .Dan Kartini terus dan menulis banyak buku, majalah, dan
surat kabar.

Kartini banyak menerima bukudari teman-teman Belandanya.
Diantaranya H.H Van Kol, Van Kol seorang sosialis demokrat mengirim
buku. Setelah membaca buku dari teman-teman Belandanya, Kartini
semakin tergerak hatinya untuk semakin mewujudkan cita-citanya,untuk
meningkatkan pendidikan bagi kaum perempuan, baik dari kalangan
miskin ataupun atas,serta reformasi system perkawinan. Ia menolak
poligami yang ia anggap merendahkan perempuan.

Dengan semakin banyaknya aktivitas membaca dan menulis,
semakin mengobarkan semangat Kartini untuk bersekolah di negeri
Belanda atau ke Batavia untuk masuk ke sekolah doctor STOVIA.Namun

7

keinginan tersebut tidak dapat diwujudkan. Keinginan Kartini tidak
berhenti sampai disitu saja, dengan gagalnya dia belajar di STOVIA, dia
dengan saran Mr. Abendanon mengirim surat permohonan ke pemerintah
Hindia Belanda agar diberi izin untuk belajar di sekolah guru. Namun
keinginan tersebut gagal lagi

Dengan kegagalan tersebut, Mr. Abendanon member saran kepada
Kartini untuk mendirikan sekolah, dan akhirnya Kartini mendirikan
sekolah Kartini yang pertama di Indonesia khusus untuk anak perempuan.
Di sekolah Kartini memberikan pelajaran-pelajaran yang khusus untuk
perempuan.

Para siswa belajar menulis, membaca, menjahit, merenda, dan
sebagainya. Kartini sangat memperhatikan pendidikan. Dia banyak
menulis surat kepada pemerintahan Hindia Belanda, dalam isi suratnya
Kartini menyebut bahwa pemerintah Hindia Belanda kurang
memperhatikan masalah pendidikan, terutama pendidikan untuk kaum
pribumi. Dalam suratnya yang lain Kartini mengusulkan ke pemerintah
Hindia Belanda agar mengirim pemuda-pemudi Indonesia belajar di Eropa
dengan biaya yang ditanggung pemerintah.

Kartini menyatakan bahwa jika ingin memajukan peradaban,
kecerdasan dan budi pekerti harus sama-sama dimajukan.Pendidikan budi
pekerti memegang peranan yang penting. Orang yang tertidik namun
tidak berbudi pekerti tidak akan dapat menyumbangkan tenaganya untuk
masyarakat. Oleh karena itu, Kartini menekankan agar perempuan harus
mendapat pendidikan karena mereka akan langsung mendidik anak-
anaknya kelak.

8

Banyak sekali surat Kartini juga menganjurkan anak-anak diberi
pendidikan modern.Namun, pendidikan modern itu bukan berarti
menjadikan orang Indonesia menjadi orang Eropa. Pembelajaranlah yang
mengacu pada system modern yang nantinya dicampur dengan kebiasaan
dan adat istiadat yang baik yang ada di Indonesia.

Keinginan Kartini untuk melanjutkan pendidikan harus pupus
karena Kartini dinikahkan dengan laki-laki pilihan orang tuanya yaitu
dengan Raden Adipati Joyodiningrat,yang saat itu menjabat Bupati
Rembang.Pada tanggal 8 November 1903 Kartini menikah

9

Kartini Menikah dan terus berjuang

Setelah menikah, Kartini ikut suaminya ke Rembang. Cita- cita
Kartini tidak menjadi surut setelah menikah, Beruntung suaminya paham
akan keinginan Kartini.

Raden Adipati Djojoadiningrat merupakan sosok seorang bupati dan
suami yang baik hati, penyayang, berbudi, dan pikirannya jernih.Ia
sangat mendukung keinginan dan cita-cita Kartini.Bentuk
dukungannya antara lain dengan memberikan kesempatan pada Kartni
untuk mendirikan sekolah di Rembang dengan mengirimkan permohonan
bantuan dan subsidi ke pemerintah Hindia Belanda untuk sekolah
Kartini.Akhirnya lahirlah sekolah khusus perempuan di rumhnya sendiri
yang dipimpin oleh seorang guru berkebangsaan Belanda.

Selain itu Kartini dan suaminya mempunyai cita-cita untuk
mendidrikan sekolah pertukangan untuk laki-laki.Kartini mengumpulkan
para seniman ukir untuk menjadi guru dan pemimpin di
sekolahnya.Kartini menganjurkan mereka untuk membuat peti-peti
jahitan,kotak rokok,meja kursi, dan sebagainya.

Setelah selesai dikerjakan barang barang tersebut dijual ke kota kota
besar seperti Semarang dan Jakarta. Dari awal tersebut ukiran Jepara
banyak dikenal sampai sekarang, bahkan terkenal sampai luar
negeri.Nama Kartini sebagai pendidik seniman ukir menjadi terkenal pula

10

Meninggalnya Kartini dan Kenangannya

Usia pekawinan Kartini tidak berlangsung lama, Pada tanggal
17 September 1904, setelah melahirkan anak pertamanya yang bernama
Raden Mas Susalit. Ketika itu Kartini meninggal dalam usia 25
tahun.Jenazahnya dikebumikan di desa Bulu, Rembang, Jawa Tengah.

Karena perjuangannya yang begitu besar terhadap sejarah dan
perkembangan pendidikan Indonesia,nama Kartini banyak dikenang
dengan menjadikan nama Kartini sebagai nama jalan. Selain itu Kartini
juga dikenal di Belanda, sehingga, nama beliau juga dijadikan sebagai
nama jalan di beberapa kota yaitu di kota Utrecht,Venio,Amsterdam dan
Harleem.

Setelah Kartini wafat, Tuan Abendanon mengumpulkan dan
membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada
teman-temannya di Eropa. Kumpulan surat tersebut diterjemahkan dalam
bahasa Belanda dan banyak disambut hangat oleh warga disana.

Pengarang terkenal Indonesia yang bernama Armijn Pane
menerjemahkan kumpulan-kumpulan surat kartini dalam bahasa
Indonesia, Buku tersebut berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Raden
Sosrosugondo seorang pengarang Jawa menerjemahkan buku tersebut ke
dalam bahasa Jawa.Dan pada tahun 1950 buku tersebut diterjemahkan
dalam bahasa Inggris oleh Agnes Louise Symmers judulnya Letters of a
Jvanese princess ( Surat-Surat dari putri Bangsawan Jawa ).

11

Untuk mengenang jasa-jasa beliau pada tanggal 2 Mei 1964
Presiden Soekarno atas nama pemerintah Indonesia resmi mengangkat
Kartini sebagai pahlawan kemerdekaan Nasional.Dan setiap tanggal 21
April kita memperingati hari Kartini. Namanya juga dikenang dengan
memberi nama sebuah pantai di kabupaten Rembang dengan nama pantai
Kartini. Banyak kegiatan masyarakat untuk mengingat jasa Kartini,
salah satunya lagi di dunia seni, seorang sutradara terkenal di Indonesia
Hanung Bramantyo mengangkat cerita R.A Kartini ke dalam sebuah film.

https://youtu.be/7Bbm_zUv4aA

12

DAFTAR PUSTAKA
B.A. Saleh.2007.Raden Ajeng Kartini.Bandung:CV Citra Praya
Mirnawati.2013.Kumpulan Pahlawan Indonesia.Jakarta:Swadaya

grup.
Praptanto, Eko.2010.Sejarah Indonesia,Zaman Kebangkitan

Nasional. Jakarta: PT Sumber Daya MIPA.
R.A. Kartini.2011. Door Duiternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah

Terang)Kumpulan Surat R.A Kartini.Jakarta:PT Buku Seru.

13

Biografi Penulis

Nama Nur Indahwati,S.Pd. Lahir di Ngawi,10 April 1980. Merupakan
anak ke enam dari enam bersaudara dengan Ayah bernama Suparto dan
Ibu Suratun.Memiliki 1 anak laki laki yang bernama Alkhalifi Rangga
Anarghya hasil pernikahan dengan Heri Purwanto.

Mulai menempuh pendidikan formal di SDN Beran 3 Ngawi, SMP
Negeri 1 Ngawi, SMA Negeri 1 Ngawi. Selanjutnya menempuh pendidikan
tinggi S1 di IKIP PGRI Madiun dengan mengambil Jurusan Pendidikan
Bahasa Inggris dan Juga menempuh Pendidikan Guru Sekolah Dasar di
UNIPMA Madiun

Riwayat pekerjaan,Mulai mengabdikan kesarjanaan sebagai guru
Tetap Yayasan di SMP Ma’arif Ngawi mengajar Bahasa Inggris mulai
tahun 2002 – 2007.Di Tahun 2008, suatu keberkahan yang sangat besar
sekali, dapat menerima SK sebagai PNS di lingkup pemerintahan
Kabupaten Ngawi dan ditempatkan di SMP Negeri 3 Paron sampai dengan
tahun 2012. Tahun 2013 dipindah tugaskan di SDN Negeri Ngancar 1 Pitu
sebagai guru kelas sampai sekarang.

Dengan sedikit tulisan dalam E-Book ini tentang salah satu
pahlawan nasional Indonesia, penulis berharap pembaca dapat memperoleh
informasi yang dapat digunakan untuk menambah pengetahuan tentang
sejarah bangsa Indonesia.

14


Click to View FlipBook Version