The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul Praktikum Perekatan Kayu Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mayanguthari, 2022-09-19 01:54:55

Modul Praktikum Perekatan Kayu

Modul Praktikum Perekatan Kayu Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura

1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa maka penyusunan Modul
Praktikum mata kuliah Perekatan Kayu yang meliputi pengenalan alat, perekatan spesifik dan
mekanik, pembuatan perekat pati, pembuatan perekat polistirena, pengujian sifat perekat, dan
pengujian sifat delaminasi.
Modul praktikum ini dilakukan sebagai pedoman pelaksanaan praktikum Fakultas Kehutanan
Universitas Tanjungpura dalam menjalankan mata kuliah Perekatan Kayu. Modul praktikum ini
masih perlu banyak dibenahi. Oleh karena itu, kiritik dan saran serta masukkan sangat diharapkan
untuk sempurnanya modul praktikum ini. Semoga modul praktikum Perekatan Kayu ini
bermanfaat untuk kegiatan belajar mengajar.

Pontianak, September 2022
Tim Penyusun

2

TATA CARA PENULISAN LAPORAN

Laporan praktikum dibuat untuk masing-masing acara praktikum dan dikumpulkan sesuai dengan
hari yang telah ditentukan oleh Dosen atau Asisten Praktikum. Laporan dipresentasikan untuk
setiap acara praktikum. Laporan praktikum bersifat individual atau kelompok.

Laporan dibuat dengan diketik dan disusun sebagai berikut:

SISTEMATIKA LAPORAN
Cover
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Lampiran
I. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan praktikum
II. Metode praktikum
2.1. Alat
2.2. Bahan
2.3. Langkah kerja (sertakan dokumentasi)
III.Tinjauan Pustaka (sesuaikan dengan isi)
IV.Hasil dan pembahasan
4.1. Hasil
4.2. Pembahasan
V. Kesimpulan
Daftar pustaka (minimal 5 literatur/pustaka)
Lampiran (jadwal kegiatan praktikum dari pembuatan perekat hingga pengujian delaminasi)

3

MODUL PRAKTIKUM
PEREKATAN KAYU

PROGRAM STUDI KEHUTANAN, FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA

I. Deskripsi Kegiatan Praktikum

Acara ke :1

Pertemuan :1

Pokok Bahasan : Pengenalan Alat

Tujuan Instruktusional Umum (TIU) :

Setelah menyelesaikan praktikum mata ajaran ini, mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan

dan keterampilan praktis tentang analisa perekat dan perekatan kayu guna mendukung

pengembangan teknologi dan proses produksi produk-produk biokomposit.

Tujuan Instruktusional Khusus (TIK) :

Setelah mengikuti praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat mengidentifikasi komponen dan

fungsi alat-alat analisis serta dapat menggunakan alat ukur dan alat uji dengan baik dan benar.

II. Pengantar Praktikum
Perekat adalah suatu zat atau bahan atau substan yang memiliki kemampuan untuk
menggabungkan bahan lain (sejenis atau tidak sejenis) melalui katan permukaan (Blomquist
et al. 1983). Dalam proses perekatan kayu, perlu untuk mengenal dan mengidentifikasi alat
ukur dan alat uji perekatan kayu yang dapat menunjang keberhasilan suatu produk komposit.
Perekatan kayu adalah proses penggabungan kayu atau bahan lainnya sebagai sirekat dengan
perekat untuk menghasilkan produk komposit. Mahasiswa mempelajari alat ukur dan alat uji
pada proses perekatan kayu dan mampu menerangkan kembalu nama, fungsi, komponen, dan
cara penggunaan.

III. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah kamera atau handphone, dan alat tulis.

IV. Prosedur Praktikum
a. Pemberian materi pengenalan praktikum oleh dosen atau asisten.

4

b. Identifikasi alat ukur dan alat uji oleh mahasiswa.

Alat ukur dalam perekatan kayu

1. Gelas Ukur dan Tabung Reaksi

Gambar Alat Fungsi :

Komponen:

Satuan Skala:

Ketelitian:

Cara Kerja:

2. Timbangan Analitik Fungsi :
Gambar Alat Komponen:
Satuan Skala:
Cara Kerja: Ketelitian:

5

3. Piknometer Fungsi :
Gambar Alat Komponen:
Satuan Skala:
Cara Kerja: Ketelitian:

4. Oven Fungsi :
Gambar Alat Komponen:
Satuan Skala:
Cara Kerja: Ketelitian:

6

5. Desikator Fungsi :
Gambar Alat Komponen:
Satuan Skala:
Cara Kerja: Ketelitian:

6. Kaca Preparat dan gelas objek Fungsi :
Gambar Alat Komponen:
Satuan Skala:
Cara Kerja: Ketelitian:

7

7. Cawan Abu Fungsi :
Gambar Alat Komponen:
Satuan Skala:
Cara Kerja: Ketelitian:

8. Cawan Petri Fungsi :
Gambar Alat Komponen:
Satuan Skala:
Cara Kerja: Ketelitian:

8

9. Waterbath Fungsi :
Gambar Alat Komponen:
Satuan Skala:
Cara Kerja: Ketelitian:

10. Viscometer Fungsi :
Gambar Alat Komponen:
Satuan Skala:
Cara Kerja: Ketelitian:

9

MODUL PRAKTIKUM
PEREKATAN KAYU

PROGRAM STUDI KEHUTANAN, FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA

I. Deskripsi Kegiatan Praktikum

Acara ke :2

Pertemuan :2

Pokok Bahasan : Perekatan Mekanis Dan Perekatan Spesifik

Tujuan Instruktusional Umum (TIU) :

Setelah menyelesaikan praktikum mata ajaran ini, mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan

dan keterampilan praktis tentang membandingkan perekatan mekanis dan perekatan spesifik.

Tujuan Instruktusional Khusus (TIK) :

Setelah mengikuti praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat membedakan perekatan

mekanis dan perekatan spesifik.

II. Pengantar Praktikum
Pada proses perekatan kayu, terdapat dua teori perekatan yang menjadi fenomena dari dasar
perekatan yaitu teori perekatan mekanik (mechanical entanglement/ interlocking theory) dan
teori perekatan spesifik (specific adhesion theory). Pada perekatan mekanik, mekanisme dari
aksi bersikunci perekat yang mengeras, secara mekanik dan fisik ke dalam ketidak-teraturan
makro dan mikro permukaan subtrat merupakan faktor utama dalam perekatan. Teori adhesi
spesifik disebut juga teori adsorpsi, yaitu keadaan dimana perekat akan menempel ke substrat
karena adanya gaya intermolekul dan gaya interatom antara atom dan molekul dari kedua
material (Ruhendi et al. 2007). Teori perekatan tersebut dipengaruhi juga oleh porositas bahan
baku. Dalam proses perekatan, aspek pengempaan merupakan faktor penting yang
mempengaruhi hasil akhir perekatan. Selain itu, jumlah berat labur perekat juga mempengaruhi
kualitas suatu perekatan. Pada proses pengempaan, garis perekatan yang dihasilkan harus
setipis mungkin karena kekuatan perekatan akan semakin berkurang dengan meningkatnya
ketebalan garis rekat (Oka 2005). Menurut Marra (1992), dalam pembentukan ikatan perekat
yang kuat, perekat harus melauli beberapa tahap secara sempurna antara lain:

10

1. Flow (pengaliran), yaitu ketika perekat mengalir ke seluruh permukaan kayu yang direkat
secara merata dan membentuk lapisan film yang kontinu.

2. Transfer (pemindahan), yaitu berpindahnya perekat dari bagian yang terlabur ke bagian
yang tidak terlaburi perekat.

3. Penetration (penetrasi), yaitu penembusan perekat ke dalam kayu yang akan direkat.
4. Wetting (pembasahan), pembasahan kayu oleh pelarut perekat.
5. Solidification (pengerasan), yaitu pengerasan perekat menjadi wujud yang solid dan kuat.
Kemampuan perekat melewati tahap-tahap tersebut sangat dipengaruhi oleh mobilitas (sifat
alir) bahan perekat, tipe perekat, dan kondisi permukaan kayu. Pada acara ini, mahasiswa
mempelajari fenomena proses perekatan kayu yang terjadi pada bahan poros dan non poros
untuk lebih memahami teori dari perekatan mekanik dan spesifik.

III. Alat dan Bahan
Alat yang disiapkan adalah kamera atau handphone, dan alat tulis. Bahan yang digunakan
adalah bahan berporos (kayu dan bahan non poros (plastik mika bening tebal) berukuran 10
cm x 5 cm x 1 cm, lem glukol, dan lem fox.

IV. Prosedur kerja
1. Persiapan sirekat
a. Siapkan sirekat yaitu kayu dan plastik tebal; sebanyak 2 buah.
b. Lakukan pengukuran dimensi (p x l x t).
c. Lakukan pengukuran kadar air untuk kayu dengan moisture meter.
d. Khusus pada kayu, simpan dalam kantong plastik, tutup, dan simpan.
2. Persiapan perekat
a. Penentuan kebutuhan perekat
Hitung luas rata-rata bidang rekat untuk setiap pasangan bahan.
b. Pelaburan dan assembly time
• Permukaan bidang sirekat dibersihkan dari segala kotoran dan debu.
• Sirekat atau kayu dioven pada suhu 60±3 oC hingga mencapai kadar air ±10%.
• Timbang berat sirekat dan catat beratnya.

11

• Tambahkan perekat sesuai kebutuhan perekat yang telah dihitung sebelumnya.
• Angkat sirekat dari atas timbangan, lalu ratakan perekat yang telah ditambahkan

tadi dengan kuas.
• Cek kembali berat labur yang diinginkan dengan cara menimbang sirekat yang telah

dilaburi perekat. Jika beratnya masih di bawah perhitungan berat labur yang
diinginkan, maka perekat ditambahkan kembali.
• Langkah tersebut diulangi hingga memperoleh berat labur yang sesuai.
• Sirekat yang telah dilaburi perekat dibiarkan dalam kondisi terbuka selama
beberapa saat sampai perekat lebih lengket atau pekat, lalu catat waktunya (open
assembly time).
c. Perakitan dan pengkondisian
- Gabungkan pasangan sirekat dengan benar (tepat muka bidang rekat).
- Biarkan beberapa saat setelah digabungkan, catat waktunya (close assembly time).
- Tempatkan hasil rakitan tersebut pada alat kempa atau diklem atau ditimpa barang
berat.
- Pertahankan kondisi tersebut selama 24 jam
- Buka klem atau lepaskan barang berat sebagai penimpa dan keluarkan hasil rakitan
sirekat.
- Simpan sirekat tersebut dalam kantong plastik tertutup agar kadar airnya tidak
berubah dan diamati rekatan yang terjadi.
- Bandingkan langkah pengerasan perekatan yang terjadi (flow, transfer, penetration,
wetting, dan solidification) pada kayu dan bahan non kayu yang dibuat dalam
bentuk laporan.

12

MODUL PRAKTIKUM
PEREKATAN KAYU

PROGRAM STUDI KEHUTANAN, FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA

I. Deskripsi Kegiatan Praktikum

Acara ke :3

Pertemuan : 3-5

Pokok Bahasan : Pembuatan Perekat Pati

Tujuan Instruktusional Umum (TIU) :

Setelah menyelesaikan praktikum mata ajaran ini, mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan

dan keterampilan praktis tentang analisa perekat dan perekatan kayu untuk mendukung

pengembangan proses produksi produk-produk komposit.

Tujuan Instruktusional Khusus (TIK) :

Setelah mengikuti praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat mebuat perekat alami pati dari

berbagai macam bahan seperti tapioka, terigu, dan maizena.

II. Pengantar Praktikum
Perekat pati merupakan perekat yang bersal dari naabati atau tumbuhan. Perekat pati dapat
dibuat dengan cara mendidihkan tepung pati dengan air atau dengan lebih modern yaitu berupa
produk degradasinya. Bahan pati sebagai perekat dapat diperoleh dari kentang, tapioka, terigu,
maizena, dan lainnya. Sifat pati dipengaruhi oleh bahan baku pembentuknya. Pada suhu 55–
72oC dinding sel butiran pati secara bertahap terhidrolisa, dimana amilosa terbebaskan serta
terbentuk larutan koloid dan pasta. Hal ini dikenal dengan proses gelatinasi, dimana
temperatur gelatinasi tergantung dari bahan baku pembentuknya (Ruhendi et al. 2007). Pada
acara ini, mahasiswa mempelajari proses pembuatan perekat dari pati, sifat-sifat dari perekat
pati, dan kekuatan rekat kayu dengan menggunakan perekat pati.

13

III. Alat dan Bahan
Alat yang disiapkan adalah pengaduk, kamera atau handphone dan alat tulis. Bahan yang
digunakan adalah tapioka, terigu, maizena, cuka, lem fox, kertas karton tebal, sampel kayu
berukuran 10 cm x 5 cm x 1 cm sebanyak 6 buah.

IV. Prosedur Praktikum

Proses Pembuatan Perekat Pati

a. Proses pembuatan perekat dengan perbandingan rasio tepung dan air 1:2, 1:3 dan 1:4

(tapioka/terigu/maizena dan air). Contoh untuk perbandingan 1:3 berarti 20 gr kanji, air

yang diperlukan 60 ml.

b. Melarutkan tepung kedalam air sampai rata.

c. Setelah larut, masak dengan api kecil. Catat waktu saat pertama dimasak sampai adonan

mengental (waktu mengental (1))

d.

Persiapan Pelaburan Perekat Pada Kayu

a. Penentuan kebutuhan perekat

Hitung luas rata-rata bidang rekat untuk setiap pasangan bahan. Teknik pelaburan yang

digunakan yaitu single spread dan double spread.

Contoh perhitungan kebutuhan perekat yang dilabur pada kayu dengan berat labur 300

g/m2 dan ukuran kayu atau bahan 10 cm x 5 cm x 1 cm, sebagai berikut:

• Kebutuhan perekat (g) single spread untuk luas kayu berukuran 10 cm x 5 cm adalah

Jumlah perekat = !"#$ &'()"*##+ × -'(#. /#-"( (1/)3)
56666

= (56 7) 8 9 7)) × :66 1/)3
56666

= 1,5 g per satu pasang kayu

• Kebutuhan perekat (g) double spread untuk luas kayu berukuran 10 cm x 5 cm adalah

Jumlah perekat = !"#$ &'()"*##+ × -'(#. /#-"( (1/)3)
56666

= (56 7) 8 9 7)) × :66 1/)3
56666

= 1,5 g

Jumlah perekat yang dibutuhkan untuk double spread yaitu:

14

==;'"())/"#*<# =#'+( '**##>." = 5,9 = 0,75 gr per kayu
@

b. Pelaburan dan assembly time

• Permukaan bidang sirekat dibersihkan dari segala kotoran dan debu.

• Sirekat atau kayu dioven pada suhu 60±3 oC hingga mencapai kadar air ±10%.

• Timbang berat sirekat dan catat beratnya.

• Tambahkan perekat sesuai kebutuhan perekat yang telah dihitung sebelumnya.

• Angkat sirekat dari atas timbangan, lalu ratakan perekat yang telah ditambahkan tadi

dengan kuas.

• Cek kembali berat labur yang diinginkan dengan cara menimbang sirekat yang telah

dilaburi perekat. Jika beratnya masih di bawah perhitungan berat labur yang diinginkan,

maka perekat ditambahkan kembali.

• Langkah tersebut diulangi hingga memperoleh berat labur yang sesuai.

• Sirekat yang telah dilaburi perekat dibiarkan dalam kondisi terbuka selama beberapa

saat sampai perekat lebih lengket atau pekat, lalu catat waktunya agar perekat lebih

lengket atau pekat (open assembly time).

c. Perakitan dan pengkondisian

• Gabungkan pasangan sirekat dengan benar (tepat muka bidang rekat).

• Biarkan beberapa saat setelah digabungkan, catat waktunya (close assembly time).

• Tempatkan hasil rakitan tersebut pada alat kempa atau diklem atau ditimpa barang

berat.

• Pertahankan kondisi tersebut selama 24 jam

• Buka klem atau lepaskan barang berat sebagai penimpa dan keluarkan hasil rakitan

sirekat.

• Simpan sirekat tersebut dalam plastik tertutup agar kadar airnya tidak berubah.

15

MODUL PRAKTIKUM
PEREKATAN KAYU

PROGRAM STUDI KEHUTANAN, FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA

I. Deskripsi Kegiatan Praktikum

Acara ke :4

Pertemuan : 6-7

Pokok Bahasan : Pembuatan Perekat Polistirena

Tujuan Instruktusional Umum (TIU) :

Setelah menyelesaikan praktikum mata ajaran ini, mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan

dan keterampilan praktis tentang analisa perekat dan perekatan kayu untuk mendukung

pengembangan proses produksi produk-produk komposit.

Tujuan Instruktusional Khusus (TIK) :

Setelah mengikuti praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat mebuat perekat polistirena dari

styrofoam.

II. Pengantar Praktikum
Polistirena merupakan polimer tinggi dengan massa molekul besar yang terdapat di alam
(benda hidup, hewan/tumbuhan) atau disintesis di laboratorium. Polystirena merupakan
makromolekul, yaitu molekul besar yang dibangun oleh pengulangan kesatuan kimia yang
kecil dan sederhana (monomer). Polystirena rata-rata berat molekulnya mendekati 300.000.
Stirena adalah bahan kimia pembentuk polimer hidokarbon jenuh dengan rumus kimia
C6H5CH=CH. polystirena bersifat resin termoplastis yang transparan, tidak berwarna dalam
bentuk larutan atau emulsi yang encer. Larutan polystirena akan mengeras pada suhu ruangan
dan contact pressure biasa cukup untuk perekatan (Ruhendi et al. 2007). Pada acara ini,
mahasiswa mempelajari proses pembuatan perekat polistirena, sifat-sifat dari perekat pati, dan
kekuatan rekat kayu dengan menggunakan perekat polistirena.

16

III.Alat dan Bahan
Alat yang disiapkan adalah timbangan, pengaduk kaca, gelas ukur, kamera atau handphone,
dan alat tulis. Bahan yang digunakan adalah bensin, styrofoam, thinner, sampel kayu
berukuran 10 cm x 5 cm x 1 cm sebanyak 6 buah.

IV. Prosedur Praktikum

Proses Pembuatan Perekat Polistirena

a. Siapkan styrofoam menjadi potongan-potongan kecil.

b. Timbang potongan-potongan styrofoam tersebut sebanyak ± 200 g untuk setiap kelompok.

c. Secara bertahap dalam berat yang sama, tuangkan bensin ke dalam wadah yang berisi

potongan-potongan kecil styrofoam, sambil diaduk atau diremas.

d. Tuangkan thinner ke dalam campuran styrofoam dan bensin dengan perbandingan

styrofoam : bensin : thiner = 2: 2: 1.

e. Panaskan gelas yang berisi perekat dengan pemanas listrik agar pencampuran antara

styrofoam, bensin, dan thinner lebih cepat dan merata.

Persiapan Pelaburan Perekat Pada Kayu

a. Penentuan kebutuhan perekat

Hitung luas rata-rata bidang rekat untuk setiap pasangan bahan. Teknik pelaburan yang

digunakan yaitu single spread dan double spread.

Contoh perhitungan kebutuhan perekat yang dilabur pada kayu dengan berat labur 300

g/m2 dan ukuran kayu atau bahan 10 cm x 5 cm x 1 cm, sebagai berikut:

• Kebutuhan perekat (g) single spread untuk luas kayu berukuran 10 cm x 5 cm adalah

Jumlah perekat = !"#$ &'()"*##+ × -'(#. /#-"( (1/)3)
56666

= (56 7) 8 9 7)) × :66 1/)3
56666

= 1,5 g per satu pasang kayu

• Kebutuhan perekat (g) double spread untuk luas kayu berukuran 10 cm x 5 cm adalah

Jumlah perekat = !"#$ &'()"*##+ × -'(#. /#-"( (1/)3)
56666

= (56 7) 8 9 7)) × :66 1/)3
56666

= 1,5 g

17

Jumlah perekat yang dibutuhkan untuk double spread yaitu:

==;'"())/"#*<# =#'+( '**##>." = 5,9 = 0,75 gr per kayu
@

b. Pelaburan dan assembly time
• Permukaan bidang sirekat dibersihkan dari segala kotoran dan debu.
• Sirekat atau kayu dioven pada suhu 60±3 oC hingga mencapai kadar air ±10%.
• Timbang berat sirekat dan catat beratnya.
• Tambahkan perekat sesuai kebutuhan perekat yang telah dihitung sebelumnya.
• Angkat sirekat dari atas timbangan, lalu ratakan perekat yang telah ditambahkan tadi
dengan kuas.
• Cek kembali berat labur yang diinginkan dengan cara menimbang sirekat yang telah
dilaburi perekat. Jika beratnya masih di bawah perhitungan berat labur yang diinginkan,
maka perekat ditambahkan kembali.
• Langkah tersebut diulangi hingga memperoleh berat labur yang sesuai.
• Sirekat yang telah dilaburi perekat dibiarkan dalam kondisi terbuka selama beberapa
saat sampai perekat lebih lengket atau pekat, lalu catat waktunya agar perekat lebih
lengket atau pekat (open assembly time).

c. Perakitan dan pengkondisian
• Gabungkan pasangan sirekat dengan benar (tepat muka bidang rekat).
• Biarkan beberapa saat setelah digabungkan, catat waktunya (close assembly time).
• Tempatkan hasil rakitan tersebut pada alat kempa atau diklem atau ditimpa barang
berat.
• Pertahankan kondisi tersebut selama 24 jam
• Buka klem atau lepaskan barang berat sebagai penimpa dan keluarkan hasil rakitan
sirekat.
• Simpan sirekat tersebut dalam plastik tertutup agar kadar airnya tidak berubah.

18

MODUL PRAKTIKUM
PEREKATAN KAYU

PROGRAM STUDI KEHUTANAN, FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA

I. Deskripsi Kegiatan Praktikum

Acara ke :5

Pertemuan : 8-9

Pokok Bahasan : Pengujian Sifat Perekat

Tujuan Instruktusional Umum (TIU) :

Setelah menyelesaikan praktikum mata ajaran ini, mahasiswa dapat menerapkan keterampilan

praktis tentang analisa perekat dan perekatan kayu pada pengembangan teknologi dan proses

produksi produksi biokomposit.

Tujuan Instruktusional Khusus (TIK) :

Setelah mengikuti praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami pengujian sifat-sifat

perekatan kayu.

II. Pengantar Praktikum
Perekat merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kualitas dari kekuatan rekat
kayu. Kualitas dari perekatan ditentukan oleh kualitas perekat, kualitas sirekat, proses
perekatan, dan kondisi penggunaan produk hasil perekatan. Oleh karena itu, kualitas dari suatu
perekat yang digunakan juga perlu diketahui dengan menguji sifat dari perekat. Beberapa
pengujian tersebut antara lain uji kenampakan perekat dilakukan untuk mengetahui pengaruh
terhadap produk yang dihasilkan, uji keasaman (pH) untuk mengetahui banyaknya konsentrasi
ion H+ pada perekat. Semakin rendah nilai pH suatu perekat, akan memperpanjang umur
simpan perekat tersebut karena bakteri tidak dapat hidup dalam suasana yang asam (Sulistyanto
et al. 2015). Selanjutnya, masa gelatinasi yang menunjukkan waktu perekat hingga mengental
atau menjadi gel pada suhu tertentu sehingga siap direkatkan. Masa gelatinasi yang tinggi akan
memperpanjang umur simpan perekat (Ruhendi et al. 2007). Pada acara praktikum ini,
mahasiswa mempelajari pengujian sifat perekat dan mampu menganalisis sifat kenampakan,

19

keasaman, kekentalan, dan sifat perekat lainnya berdasarkan metode pengujian yang telah
dijelaskan.

III.Alat dan Bahan
Alat yang disiapkan adalah gelas objek, pengaduk, tisu, indikator pH, gelas ukur, viscotester,
timbangan, tabung reaksi, waterbath atau penangas air, oven, kamera atau handphone, dan alat
tulis. Bahan yang digunakan adalah perekat pati, perekat polistirena, perekat urea
formaldehyde (UF), perekat phenol formaldehyde (PF) dan lem fox.

IV. Prosedur Praktikum
Uji Kenampakan
a. Persiapkan alat dan bahan.
b. Bersihkan dan keringkan gelas obyek.
c. Tuang perekat cair di atas permukaan gelas obyek.
d. Ratakan perekat hingga membentuk lapisan tipis.
e. Amati secara visual adanya butiran padat, debu, dan benda lain yang merugikan perekatan

Uji Keasaman
a. Persiapkan alat dan bahan.
b. Masukkan perekat dalam gelas ukur atau wadah.
c. Celupkan indikator pH ke dalam perekat.
d. Amati perubahan warna pada pH indikator yang selanjutnya dibandingkan dengan standar

pH, kemudian tetapkan pH perekat.

Uji Sisa Penguapan
a. Persiapkan alat dan bahan
b. Timbanglah perekat sebanyak ± 1,5 g (W1) dalam cawan abu.
c. Cawan abu tersebut dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam.
d. Keluarkan cawan abu dari oven, dan masukkan ke dalam desikator sampai mencapai suhu

kamar, lalu timbang dengan teliti.

20

e. Ulangi langkah pada butir 3 (pengovenan selama 3 jam) dan langkah pada butir 4 sampai

didapatkan berat konstan (W2).

f. Hitunglah sisa penguapan (S %) dengan rumus sebagai berikut :

(%) = @ × 100
5

Uji Gelatinasi

a. Timbang perekat sebanyak ± 10 g, lalu masukkan ke dalam tabung reaksi.

b. Panaskan di dalam penangas air pada suhu 100 0C dengan kondisi permukaan perekat

berada 2 cm di bawah permukaan air.

c. Amati dan catat waktu yang dibutuhkan perekat untuk tergelatinasi. Perekat yang sudah

tergelatinasi ditandai dengan tidak mengalirnya perekat tersebut ketika tabung reaksi

dimiringkan.

Uji Kekentalan
Cek kekentalan perekat perekat tersebut dengan cara mengaduk dan menariknya dengan
sendok/ kayu (cek sangat kental,kental,encer).

Pot life
Masukkan kurang lebih 1 sendok makan perekat ke dalam wadah kecil, dan amati berapa lama
waktu sampai perekat yang kalian buat mengeras dan tidak bisa digunakan lagi.

21

MODUL PRAKTIKUM
PEREKATAN KAYU

PROGRAM STUDI KEHUTANAN, FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA

I. Deskripsi Kegiatan Praktikum

Acara ke :6

Pertemuan : 10-12

Pokok Bahasan : Pengujian Sifat Delaminasi

Tujuan Instruktusional Umum (TIU) :

Setelah menyelesaikan praktikum mata ajaran ini, mahasiswa dapat menerapkan keterampilan

praktis tentang analisa perekat dan perekatan kayu pada pengembangan teknologi dan ptoses

produksi produksi biokomposit.

Tujuan Instruktusional Khusus (TIK) :

Setelah mengikuti praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami pengujian sifat

delaminasi perekat.

II. Pengantar Praktikum
Teknik perekatan kayu dapat meningkatkan kayu berkualitas rendah dengan menghasilkan
produk komposit kayu. Kualitas perekatan ditentukan oleh kualitas sirekat, kualitas perekat,
dan teknik perekatan. Dari sifat dasar kayu, sifat anatomi merupakan sifat yang penting dalam
keberhasilan penerapan suatu proses pengolahan karena dipengaruhi oleh struktur anatomi sel-
sel penyusun kayu (Bosoi et al. 2010). Keberhasilan perekatan kayu juga dipengaruhi oleh
kadar air dan kerapatan bahan baku. Dalam menentukan kualitas perekatan kayu dapat
digunakan cara salah satunya adalah uji delaminasi. Delaminasi merupakan lepasnya ikatan
antara perekat dengan bahan yang direkat dan digunakan untuk menguji kemampuan perekat
dalam menyatukan bahan (Wulandari et al.). Vick (1999) menyatakan bahwa pengujian
delaminasi dilakukan untuk menentukan faktor ketahanan perekat terhadap adanya tekanan
pengembangan dan penyusutan akibat adanya kelembaban dan panas yang tinggi. Delaminasi
juga mencirikan kualitas perekat yang digunakan. Pada acara praktikum ini, mahasiswa
mempelajari hasil pengujian sifat perekat pada kayu.

22

III.Alat dan Bahan
Alat yang disiapkan adalah wadah, kamera atau handphone dan alat tulis. Bahan yang
digunakan adalah sampel kayu dan plastik yang telah dibuat pada acara ke 4 dan 5.

IV. Prosedur Praktikum

a. Sampel diukur panjang garis rekat yang direkat (dimensi)

b. Sampel direndam dalam air selama 6 jam dengan suhu 25 ±2 oC selanjutnya dioven pada

suhu 40 oC selama 18 jam.

c. Ukur panjang garis rekat yang terlepas.

d. Perhitungan delaminasi didapatkan dari persamaan berikut:

(%) = ( ) 100
( )

e. Hasil dibuat dalam bentuk laporan sesuai dengan format laporan.

f. Hasil praktikum perekatan dipresentasikan pada pertemuan ke 12.

23

Daftar Pustaka
Blomquist, R.F. 1983. Fundamentals of Adhesion. In: Blomquist, R.F., Christiansen, A.W.,

Gillespie, R.H. and Myers, G.E. (Eds.) ; Adhesive Bonding of Wood and Other Structural
Materials. Forest Product Technology USDA Forest Service and The University of Wisconsin.
Chap. 1.
Bosoi FP, Sofiiatti M, Boeger RT. 2010. Ecological Wood Anatomy of Miconiasellowiana
(Melastomataceae) in Three Vegetation Types of Paraná State, Brazil. IAWA Journal 31(2):
179—190.
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 1998. Fenol Formaldehida Cair untuk Perekat Kayu Lapis.
SNI 06-4567. Jakarta (ID): Badan Standarisasi Nasional.
Hendrik J, Hadi YS, Massijaya MY, Santoso A. 2016. Properties of Laminated Composite Panels
Made from Fast-Growing Species Glued with Mangium Tannin Adhesive. Bioresources
11(3):5949-5960.
Marra AA. 1992. Technology of Wood Bonding: Principles in Practice. New York (US): Van
Nostrand Reinhold.
Ruhendi S, Koroh DN, Syamani FA, Yanti H, Nurhaida, Saad S, Sucipto T. Analisis Perekatan
Kayu. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan IPB.
Sucipto T, Ruhendi S. 2012. Analisis Kualitas Perekatan Kayu Laminasi Mangium dengan Perekat
Polistirena. Indonesian Journal of Forestry 1 (1): 19-24.
Sulistyanto EP, Darmanto YS, Amalia U. 2015. Karakteristik Lem Ikan dari tiga Jenis Ikan Laut
yang Berbeda. Ilmu dan Kelautan Tropis, 7(1):23-32.
Vick CB. 1999. Adhesive Bonding of Wood Materials. In: Wood Hand Book, Wood as an
Engineering Material. Madison: Forest Products Society.
Wulandari PR, Hakim L, Sucipto T. 2015. Kualitas Laminasi Bambu Betung (Dendrocalamus
asper) pada Berbagai Perlakuan Ukuran Sortimen dan Buku Bambu. Peronema Forestry 1-7.

24


Click to View FlipBook Version