-Theresa Paramita-
KATA PENGANTAR
Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih
kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga novel ini dapat diselesaikan
dengan baik. Saya juga ingin berterima kasih kepada
keluarga dan sahabat-sahabat saya atas dukungan
yang telah diberikan.
Tidak lupa, saya juga ingin berterimakasih kepada
Bu Yuni yang juga mendorong kami sebagai murid
SMAK BPK Penabur Bandar Lampung untuk
menulis novel. Terima kasih atas dorongan dan
motivasinya Bu. Berkat ibu, saya jadi lebih berani
dalam menyampaikan ide-ide abstrak saya menjadi
suatu karya yang saya juga tidak yakin awalnya akan
selesai.
Sekali lagi, terima kasih kepada semua pihak yang
terlibat dalam proses pembuatan novel ini, termasuk
diri saya sendiri.
Selamat membaca!
Hormat saya,
Theresa Paramita
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................. i
PROLOG.................................................................. 1
KENALAN .............................................................. 3
BAB 1: DUNIA BARU ........................................... 6
BAB 2: PERMULAAN ......................................... 21
BAB 3: PETUNJUK .............................................. 41
BAB 4: PAKAIAN BARU .................................... 73
BAB 5: PETUALANGAN PERTAMA ................ 89
BAB 6: KELUARGA BARU .............................. 108
BAB 7: BERDUA ................................................ 123
BAB 8: SAMPAI ................................................. 137
EPILOG #1 .......................................................... 178
EPILOG #2, FAKTA-FAKTA ............................ 184
EPILOG #3 .......................................................... 186
PROFIL PENULIS.................................................. iv
ii
PROLOG
“Cantik sekali.” Itu pikirku saat melihat gelang
pemberian ayah tadi siang.
Sekarang, gelang itu sedang berada di atas meja
belajarku, tidak jauh dari kasur yang sedang aku
tiduri sekarang, maklum, saya kaum rebahan.
1
“Kak, papa punya hadiah untuk kelulusan kakak
nih!” Kata Papa tadi siang.
Ternyata, papa menghadiahkan sebuah gelang
berantai emas dengan batuan safir biru berkilauan
Aku berdiri dan berjalan ke arah meja belajarku dan
mengambilnya. Aku memakainya dan melihat
pantulan diriku dari cermin.
Tidak lama kemudian, cahaya lampu kamar yang
dipantulkan ke diriku melalui cermin didepanku
membuat tubuhku seperti bercahaya, terutama pada
bagian gelang pemberian ayah tadi.
Rasanya, aku seperti ditarik ke belakang oleh
kekuatan yang sangat kuat, melewati berbagai
dimensi dan waktu. Sepersekian detik setelahnya,
tibalah aku disini, di desa baru dengan segala
keindahannya.
2
KENALAN
Sebelum lanjut ke cerita utamanya, kita kenalan dulu
yuk!
Perkenalkan, namaku Vega Kirana dan biasa
dipanggil Rara.
Ibuku sangat menyukai astronomi, terutama yang
berkaitan dengan bintang. Oleh karena itu, namaku
juga diambil dari nama salah satu bintang yang
paling terang dari konstelasi Lyra; bintang Vega.
Ibuku adalah pecinta bintang, makanya namaku
masih erat hubungannya dengan bintang.
Nama “kirana” sendiri dipilihkan oleh papaku saat ia
sedang membaca buku kumpulan nama anak-anak.
Ia memilih nama “Kirana” yang berasal dari bahasa
Jawa yang berarti sinar, molek, cantik, dan elok.
Papa berharap, selain cantik di luar, aku juga dapat
cantik hatinya. Selain itu papa juga berharap agar
aku dapat bersinar, menyinari sekelilingku,
membawa kebahagiaan bagi lingkungan sekitarku.
Kalau nama kalian artinya apa? Aku juga penasaran
nih! Bolehlah isi jawabannya di link ini ya!
https://bit.ly/3LjonED
Terima kasih! :)
3
Lanjut, sebagai tambahan, aku adalah anak pertama
dari tiga bersaudara. Aku punya dua adik laki-laki
kembar yang sangat usil bernama Gala Theodore
dan Gilang Theodore. Aku lebih sering menyingkat
nama mereka menjadi Ga-Gi saat memanggil
mereka berdua, terlebih saat mengomeli mereka.
“Ga-Gi!!! Kok buku kakak jadi item semua gini
hahhhh?!!” Teriakku kala mereka menumpahkan cat
hitam di buku diariku.
“Hihihi, maaf kak!” Jawab mereka kompak.
Meskipun begitu, mereka berdua tetap merupakan
adik-adik yang sangat peduli dengan kakaknya. Di
balik kenakalan mereka, mereka mempunyai level
kepedulian dan rasa sayang yang tinggi kepadaku.
<3.
4
Biodata
nama : Vega Kirana (Rara)
tanggal, tempat lahir : 21 April 2004, Bandar
Lampung
umur : 18 tahun
makanan favorit : Pempek
minuman favorit : Air mineral
hobi : Berinteraksi dengan orang
lain, belajar, membaca novel
keterangan : 1) Anak pertama dari tiga
bersaudara,
2) Memiliki dua adik laki-
laki kembar
quote favorit : Kegagalan bukanlah suatu
kegagalan ketika kita belajar
dari nya dan mau bertumbuh
berkatnya.
5
BAB 1: DUNIA BARU
Sumber: https://bit.ly/3HuYf7u
POV Rara
Bukan teriakan, bukan juga tangisan. Hal pertama
yang keluar dari mulutku adalah…
“GILA, KEREN BANGETTT!!!”
Daripada merasa takut karena berada di tempat asing
secara mendadak, rasa gembiraku memuncak saat
melihat pemandangan disini. Aku disuguhkan oleh
pemandangan malam tanpa bintang, tapi diterangi
oleh berbagai tumbuhan dan hewan yang bercahaya
yang membuatku takjub akannya.
6
Di sekelilingku ada banyak jamur raksasa yang
bercahaya, lebih bercahaya dari jamur Panellus
stipticus yang ada di dunia kita. Tingginya bervariasi
dari 0,5 meter sampai 3 meter.
Jamur-jamur tersebut dikelilingi oleh hewan mirip
lalat dan kunang-kunang yang sepertinya sedang
membuat tempat hunian dengan bunyi-bunyian yang
cukup mengganggu-mirip seperti bunyi lalat dekat
tumpukan sampah.
“Woahh, indah sekali sungainya.”
Entah ini mimpi atau bukan, di sisi lain hutan jamur
tadi, ada sungai yang juga memancarkan warna-
warna yang berkilau bak aurora. Hijau, biru, merah
muda, ungu, semuanya bercampur.
Sangkin terpesonanya dengan ukiran-ukiran indah
yang ada di depanku, aku tidak menyadari bahwa
ternyata ada segerombolan kucing raksasa yang
berlari ke arahku--ya, sepertinya hampir semua
makhluk disini itu raksasa.
“Salam, Maaf menganggu lamunannya. Bolehkah
Anda memberitahu apa yang Anda lakukan di sini?”
Tanya seseorang yang menunggangi seekor kucing
raksasa berwarna biru gelap berkilau.
Merasa terpanggil, akupun menoleh.
7
“E-eh, Ada yang memanggil saya?” tanyaku sambil
memutar badan, mencari sumber lokasi suara itu
berasal.
“Wo-woah, besar sekali.” Lanjutku.
Ketika aku menoleh, aku tercengang melihat delapan
kucing raksasa dengan masing-masing satu
penunggang diatasnya.
Kawanan itu sepertinya dipimpin oleh seorang
kucing raksasa yang ditunggangi seorang pria
berjubah cahaya, wajahnya tidak terlalu terlihat
jelas.
Kucing pemimpin itu berwarna biru gelap, namun
berkilau. Setiap rambutnya memancarkan kilau yang
belum pernah aku lihat sebelumnya. Dengan tinggi
sekitar tiga meter dan lebar dua meter, sungguh ini
adalah kucing terbesar yang pernah kulihat.
“Tentu saja engkau yang Ola panggil. Huftt dasar.”
Saut seorang pemuda penunggang kucing raksasa
juga dengan nada yang kasar.
Kucing pemuda ini memiliki ukuran tubuh lebih
kecil dari kucing raksasa yang sebelumnya aku
ceritakan. Tingginya sekitar 2 meter dengan lebar
sekitar 1 meter.
8
“Jangan terlalu kasar begitu bicaranya Egor.”
Pemuda yang pertama mengingatkan.
“O-oh saya ternyata. Maaf lama merespon. Jujur,
saya pun kebingungan kenapa bisa ada disini. Tadi
saat saya sedang memcoba memakai gelang di
kamar saya, tiba-tiba whushhhh, sampai ke sini.
Tidak tahu bagaimana caranya.” Ucapku sambil
mengangkat bahuku, tanda akupun bingung.
“Saya juga sedang mencari cara untuk pulang, tapi
tidak tahu kemana. Hmmm, Kalau boleh tau,
sekarang saya ada dimana ya?” Lanjutku kepada
orang yang dipanggil Ola tadi-si penunggang kucing
raksasa berwarna biru.
“Sekarang anda ada di desa gelap GeJaRang, Gelap
Jamur Terang. Kalau memang begitu, siapa nama
Anda dan dari desa manakah Anda berasal? Gelap
atau Terang?” Si Ola menjawab.
Sungguh, nama si desa GeJaRang ini sangat aneh,
belum pernah sekalipun aku menemukannya atau
sekedar tahu bahwa ada desa seperti ini di duniaku.
“Perkenalkan, saya Vega Kirana, seorang pelajar
dari kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung.
Kalau untuk nama desanya, jujur saya kurang tahu,
9
yang jelas bukan desa gelap ataupun terang. Hehe.”
Jawabku dengan jujur.
“Hmm maaf, tapi di sini, semua desa terbagi atas
desa gelap atau terang. Desa gelap diisi oleh
kegelapan sepanjang hari tanpa adanya cahaya
matahari. Di sisi sebaliknya, penduduk desa terang
menjalani harinya dalam terang.” Jelas pemuda
pertama,
“Wah, kalau di tempatku tidak ada pembagian desa
gelap atau terang. Semua punya porsi gelap-terang
sama.” Lanjutku dengan lugas.
Jujurly, aku tidak yakin juga bila mereka akrab
dengan nama kota tempat aku berasal.
“Baik. Ijn memperkenalkan diri, saya Ola Jagiya,
pemimpin patroli hari ini dari desa GeJaRang. Tadi
Anda bilang berasal dari Kota Bandar Lampung ya?
Jujur setahu saya tidak ada nama kota Bandar
Lampung di sini.”
“Iya, benar. Waduh, benar tidak ada ya?”
“Kira-kira suasananya seperti apa di sana?”
“Hmmm, tempatnya jelas berbeda dengan
pemandangan alam disini. Dibandingkan dengan
10
dipenuhi dengan banyak jamur yang berkilau,
banyak gedung tinggi memenuhi kota.” Ujarku.
“Jumlah pepohonan mulai menipis karena dialihkan
menjadi perumahan-perumahan kota. Kendaraan
yang dipakai juga bukan hewan. Umumnya kami
menggunakan mobil atau motor, semacam alat yang
dipenuhi oleh mesin sehingga dapat berjalan gitu.”
Lanjutku sambil mengingat-ingat bagaimana
keadaan kota tempat tinggalku.
“Heh, mana ada desa kayak begitu di sini. Bohong
ya lu? Udah La, jangan percaya, ngibul* pasti dia
ini.” Ucap pemuda kedua yang bernama Egor.
*ngibul=bohong
“Egor, jangan begitu. Ingat kemampuanku kan? Ai
don si eni bet motifesien from her, okay? So plis
belif in mi for this. Ail hendel it.” Jawab pemuda
pertama menggunakan bahasa yang aku kurang
mengerti.
(Aku tidak melihat adanya motivasi buruk darinya,
oke? Jadi, tolong percaya padaku. Aku akan
mengurusnya.)
“Hahhh, iya, iya. Ai anderstan. Huftt padahal
harusnya sudah bisa pulang ini. Ngantuk banget.”
Balas Egor.
11
(Aku mengerti.)
“ Hmm. Kalau boleh jujur, saya kurang tahu dimana
tepatnya lokasi kota anda. Namun, sepertinya saya
memang pernah mendengar cerita tentang tempat
seperti itu dari nenek saya. Beliau adalah ketua desa
di sini. Mungkin saja beliau punya petunjuk. Apakah
Anda keberatan bila kami bawa bertemu nenek?”
Tanya Ola.
“Hmmm daripada berdiam diri di tempat asing
tanpa menemukan apapun. Mungkin lebih baik bila
aku ikuti saja mereka, kelihatannya mereka juga
cukup baik.” Pikirku dalam hati.
“Apakah jauh tempatnya, Ola?”
“Sekitar satu jam perjalanan.”
“Oh, oke, saya bersedia kalau begitu.”
Di perjalanan menuju rumah ketua desa, aku
menumpangi kucing Ola karena hanya kucingnya
yang muat untuk ditunggangi berdua. Jujur, susah
sekali bagiku untuk naik ke atasnya mengingat
tinggi dari kucing ini. Mari aku jelaskan kronologi
usahaku sampai bisa naik ke atas kucing ini.
Pertama, kucingnya harus „merendah‟ terlebih
dahulu.
12
Kedua, aku harus menginjak pijakan yang ada pada
kucing tersebut, mirip seperti pijakan pada kuda
yang sering dijumpai, dan mencoba naik ke atasnya.
Namun, 10 menit berlalu, berkali-kali ku coba dan
masih saja gagal.
“Hahahahha, naik begitu aja susah banget!” Ledek si
Egor.
Jujur ya, ini orang kayaknya sensi banget deh sama
gue. Apa aja yang diriku lakukan bisa dijadikan
bahan ejekannya.
Untungnya, tidak seperti si Egor yang meledek tanpa
membantu, Ola memegang tanganku dan
menariknya untuk membantuku naik di percobaan
terakhir, entah karena memang baik atau karena
memang sudah lelah menungguku naik sendiri.
“Mau saya bantu?” Ucapnya menawarkan bantuan.
“Mau banget hehe. Terima kasih Ola.”
Aku duduk di belakang Ola dan memegangi ujung
jubah belakangnya karena takut jatuh, tidak ada
maksud lain.
13
Jika tadi aku tidak dapat melihatnya dengan jelas,
berkat penerangan dari jubahnya yang terang,
sekarang aku dapat melihat dengan lumayan jelas
tampak Ola.
“Oke, semuanya kita berangkat ya.” Tegasnya
sambil memimpin jalan.
Dia lebih tinggi dariku, sepertinya sekitar 1,9 meter
(?) Kontras sekali jika dia berdiri di sampingku yang
166 cm ini, apalagi kalo di depan altar pelaminan-
eh, bercanda :).
Kulitnya yang putih kekuningan ditambah dengan
warna rambutnya yang hitam pekat, memeberikan
kesan menawan yang sulit untuk dilupakan.
Hidungnya lumayan mancung, rahangnya juga
cukup tegas, berasa banget lagi memandangi suatu
karya yang amat indahnya. Jujur deh, siapapun yang
ada di dekatnya seperti ini pasti akan langsung
merasa terberkati, jadi kayak punya idol dadakan aja
gitu.
Yakin banget kalo dia mau masuk SM
Entertainment, kujamin 99,99% lolos. Eh sabar,
semakin lama dilihat, sepertinya aku tahu dia mirip
siapa deh!
14
Ola ini mirip banget sama Song Weilong! Ada yang
tahu?
Song Weilong ini merupakan salah satu aktor yang
akan membintangi film yang sama dengan Sehun
EXO di film Catman. Coba deh kalo lagi gabut gitu
kan, cari Song Weilong di Google, kurang lebih Ola
itu mirip dia.
Sumber: https://bit.ly/3g6ISWL
Lanjut, daripada membahas si bang tampan yang ada
di depan saya terus-menerus, lebih baik kita
membahas yang lain. Sekarang, coba kita bahas
alam yang ada di sekitarku sekarang.
15
Dari pengalamanku selama 15 menit di atas kucing
raksasa ini, aku dapat menyimpulkan bahwa
setidaknya dikawasan ini, tidak ada yang namanya
pohon. Alamnya dibentangi oleh ribuan, bahkan
jutaan jamur yang berkilau di tengah gelapnya
langit.
Mungkin itulah sebabnya desa ini disebut Desa
Gelap Jamur Terang. Selain dari jamur, hewan, dan
jubah yang bercahaya disini, aku belum sekalipun
menemukan sumber cahaya yang lain, bintang tidak
bersinar, bulan pun tidak ada, apalagi matahari.
Meskipun begitu, cahaya dari berbagai makhluk
yang ada disini sudah cukup untuk memberi
penerangan untuk melihat apa yang ada di sekitar
kita.
“Kalau boleh tahu, biasanya Anda dipanggil apa?”
Tanya Ola secara tiba-tiba, kaget saya.
“Oh, biasanya saya dipanggil Rara. Kalau Anda
dipanggil Ola ya?” Tanyaku yang sok tahu.
“Iya benar. Nanti kalau Rara ada merasa tidak
nyaman selama perjalanan, bilang saja ya.”
“Baik.”
16
Tidak terasa bahwa satu jam telah berlalu. Di depan
sana sudah banyak pasukan yang membawa tombak
yang ujungnya bercahaya menghampiri kami.
Mungkin mereka adalah para penjaga gerbang
pemukiman.
Mereka memberi hormat kepada Ola, bertanya
siapakah aku yang rombongan penunggang kucing
raksasa ini bawa. Ola menjelaskannya secara singkat
dan kami langsung diberi ijin masuk tanpa basa-basi
apapun lagi.
POV Ola
Jadwal patroli ku hampir selesai, namun tiba-tiba
Lumen, teman kucing raksasa yang aku tunggangi,
mengeong dengan eongan yang jarang sekali
kudengar sebelumnya.
“Meowwww”
Tidak lama setelah mengeong demikian, ia
menajamkan penglihatannya, membuat matanya
jauh lebih bercahaya dari biasanya. Ia menoleh ke
arah timur laut, tempat sungai warna berada.
17
“Teman-teman, sepertinya Lumen melihat sesuatu di
dekat Sungai Warna, mari kita tinjau sebentar.”
Ucapku memberi komando di patroli kali ini.
“Baik, laksanakan.”
Patroli kali ini terdiri dari delapan orang dengan
masing-masing satu kucing raksasa yang mereka
tunggangi. Salah satunya adalah Egor, sepupuku
dengan Leon, kucingnya.
Ketika sampai di dekat sungai warna, benar saja,
terlihat dari sisi sampingnya bahwa ada sosok gadis
asing yang sedang melongo menatapi keindahan
sungai warna. Tidak mengherankan memang,
pemandangan disini memang indahnya bukan main.
Aku yang sering kesini saja tidak pernah bosan
mengagumi keindahannya. Namun, sayang sekali
aku harus menginterupsi rasa terpesonanya itu demi
keamanan bersama.
“Salam, Maaf menganggu lamunannya. Bolehkah
Anda memberitahu apa yang Anda lakukan di sini?”
Tanyaku dengan nada yang sopan.
Ia merupakan gadis yang belum pernah sekalipun
kulihat di Desa GeJaRang. Penampilannya pun
cukup aneh, ia tidak menggunakan pakaian yang
bercahaya. Hal yang meneranginya hanyalah gelang
18
yang dipakai di tangan kanannya, dan juga matanya
yang bersinar itu. Entah mengapa ia bisa memiliki
mata yang bersinar, padahal itu adalah kemampuan
yang cukup langka di masyarakat kami.
“Ada yang memanggil saya?”
Ia menoleh sepenuhnya ke arahku. Wah, sekarang
aku bisa melihat dengan jelas matanya. Setelah
kuperhatikan sebentar, ternyata hanya akulah yang
bisa melihat cahaya dari matanya karena
kekuatannya itu telah disegel sehingga tidak nampak
di permukaan. Untunglah aku diberkati oleh mata
terang, yang bisa melihat kemampuan tersembunyi
seseorang serta maksud tersembunyi orang tersebut.
Selama berbincang dengannya, ternyata ia berasal
dari tempat lain dan sedang tersesat. Suatu tempat
yang asing bagi kami, dimana terang dan gelap
mengisi hari dengan porsi yang sama, sungguh aneh.
Seingatku, nenek memang pernah sempat bercerita
tentang tempat yang demikian. Maka dari itu, aku
tawarkan dia untuk menemui nenek, siapa tahu
nenek punya petunjuk untuknya pulang. Lagipula,
sampai sejauh ini aku tidak ada intensi jahat yang
dipancarkan oleh matanya.
19
Biodata
nama : Ola Jagiya (Ola)
tanggal, tempat lahir : 16 Desember 2002, Desa
GeJaRang
umur : 20 tahun
makanan favorit : Kekuduh
minuman favorit : Semua yang dibuat nenek
hobi : Berkucing (menunggangi
kucing raksasanya),
membantu orang lain
keterangan : Cucu pertama ketua desa
quote favorit : Hidup tiada arti bila kita
tidak berdampak baik
terhadap hidup orang lain.
20
BAB 2: PERMULAAN
POV Rara
“Salam. Nek, maaf menganggu, ini ada tamu
bernama Rara. Tadi kami bertemu saat Ola sedang
berpatroli di dekat sungai warna dan ternyata ia
tersesat.” Hormat Ola terlebih dahulu kepada
neneknya-si ketua Desa, Adira Jagiya.
“Salam. Selamat datang di Desa GeJaRang Rara.
Perkenalkan, saya Adira Jagiya selaku ketua desa
dan nenek dari Ola.” Jawab nenek Adira.
“Sa-salam juga nek.” Kataku dengan sedikit kaku
mengingat ini merupakan pertama kalinya aku
memberi salam dalam budaya mereka.
“Salam juga Rara. Boleh tahu kamu berasal dari
desa mana?”
21
“Rara dari Kota Bandar Lampung nek, namun tadi
Ola bekata bahwa tidak ada kota Bandar Lampung
di sini.” Ucapku.
“Hmm, kota Bandar Lampung ya? Di gelap atau
terang Ra ?” Tanyanya sambil melihat peta yang ada
di meja kerjanya dengan lampu kekuningan yang
menyinari.
Beliau melihat peta itu dengan raut yang cukup
serius, mencari dimanakah kota Bandar Lampung
berada sambil duduk di kursi kerjanya.
Di sini hanya ada aku, Ola, dan nenek Adira Jagiya.
Semua teman patroli Ola, termasuk si menyebalkan
Egor, pamit untuk beristirahat.
“Di sana tidak ada pembagian gelap dan terang nek,
semua mendapatkan durasi terang dan gelap yang
sama. ketika pagi, siang, dan sore, semuanya terang.
Ketika malam, umumnya, semuanya gelap.” Jelasku.
“Baik. Memang sepertinya aku pernah membaca
tentang tempat yang memiliki terang dan gelap yang
sama di suatu gulungan dan menceritakannya ke
Ola. Akan tetapi, aku lupa menaruhnya dimana,
haduh.” Terang nenek Adira, sambil mencari dan
sedikit “membongkar” buku-buku dan gulungan-
22
gulang kertas di meja kerjanya untuk menemukan
gulungan yang ia maksud.
“Haduh, sudah banyak lupa nenek ini. Maaf, faktor
„U‟ hehe. Coba nanti nenek minta bantuan Zamrud
(asisten Adira Jagiya) untuk mencarinya ya.
Kemungkinan besar ada di gudang buku.”
Lanjutnya.
“Siap, baik nek. Terima kasih.” Ucapku sembari
membungkukkan badan, memberi hormat.
“Iya, maaf ya. Nenek belum bisa janji kapan
gulungan itu ditemukan, namun nenek akan
berusaha secepatnya. Selama itu, silahkan nikmati
makanan dan hiburan di desa GeJaRang nak. Nanti
Ola bisa temani ya?” Ucap nenek Adira sembari
meminta tolong kepada Ola.
“Baik nek.” Jawab Ola.
“Oia Ra. Kalau boleh tahu, apakah kamu dapat
akrab dengan anak kecil sekitar umur delapn
tahunan?” Tanya nenek Adira antusias.
“Lumayan nek. Saya punya banyak sepupu yang
berumur delapan tahun dan memang biasanya anak-
anak kecil juga akrab dengan saya. Kalau boleh
tahu, kenapa ya nek?”
23
“Oo, nanti kalau memang sampai menginap berhari-
hari disini, kalau kamu temani cucu saya yang lain,
adik perempuannya Ola, mau? Sudah lama sekali dia
mau ada kakak perempuan untuk diajak bermain
hehe. Jika kamu berkenan saja.”
“Ooo, boleh banget nek. Nanti coba saya usahakan
ya.”
“Siap, terima kasih banyak Rara. Selamat menikmati
Desa GeJaRang. Ola, nanti kamu ajak Rara ketemu
Esa juga ya!”
“Baik nek. kalau begitu kami permisi dulu ya nek.”
Ucap Ola yang aku ikuti.
Kami keluar dari ruangan nenek Adira Jagiya, pergi
menuju lorong-lorong kamar.
“Rara lapar?” Tanya Ola saat kami sedang berjalan
bersama di tengah lorong.
“Umhh, sedikit si, hehe.” Jawabku jujur.
Jika mengikuti jadwal makanku di dunia biasanya,
seharusnya aku sudah makan malam 30 menit yang
lalu.
“Oke, kita ke dapur sebentar ya, baru ke kamar Esa.”
“Baik.”
24
Lokasi dapur tidak jauh dari ruangan nenek Adira
tadi. Kami hanya perlu lurus mengikuti lorong, lalu
berbelok ke kiri dan sampai.
“Aku buatkan nasi dan telur goreng mau?” Tanya
Ola menawarkan makanan.
“Mau.” Semoga telur goreng yang ia maksud sama
dengan telur goreng yang ada diduniaku.
Tidak sampai 10 menit, Ola datang dengan dua
piring berisi nasi dan telur goreng diatasnya.
“Terima kasih Ola, maaf merepotkan.” Ucapku
berterima kasih.
Kami duduk saling berhadapan satu sama lain dan
menikmati masing-masing makanan di depan kami.
Tidak ada satupun yang berbicara.
Aku sedang sibuk mengagumi kelezatan makanan
ini di dalam hati. Sedangkan Ola, sepertinya ia
sudah sangat lelah sehabis berpatroli, terlihat dari
lingkaran bawah matanya yang mulai menggelap,
mungkin kekurangan tidur. Teman-temannya tadi
pun sudah izin untuk beristirahat, jadi kemungkinan
besar mereka semua memang sudah lelah. Aku jadi
merasa bersalah merepotkan dia seperti ini.
25
“Gimana telurnya Ra? Ada yang kurang?” Tanyanya
di tengah waktu makan kami.
“Enak La. Sangat pas di lidahku, terima kasih
banyak ya!” Jawabku.
“Syukur kalau kamu suka.”
Setelah kami selesai menghabiskan makanan tadi,
Ola mencuci peralatan makan tadi. Ola tidak
membiarkan aku membantu karena aku tamu
alasannya. Setelah itu, kami langsung pergi ke
kamar Esa, adik perempuan Ola.
Tok tok tok…
Kami mengetuk pintu kamar Esa.
Jegrek
“Wah, ada kak Ola!!!” Girang seorang perempuan
kecil, langsung meminta Ola untuk digendong.
“Wah, ada Esa juga hehe.” Balas Ola sembari
mengusap-usap kepala Esa di dalam gendongannya.
“Oia, kakak bawa teman baru untuk Esa nih! Coba
liat ke sini.”
“Hai Esa! Kenalin, nama kakak, Rara. Salam kenal!”
Aku memperkenalkan diri dengan riang.
26
“Halo kakak cantik. Aku Greesa Jagiya, biasa
dipanggil Esa. Salam kenal juga kak!” Jawab Esa
dengan tidak kalah semangat.
Kamar Esa bertema merah muda, hampir semua
perabotan dan barang berwarna merah muda.
Lemari, kasur, pintu, bahkan warna dinding,
semuanya berwarna merah muda.
“Oke, hari ini Esa ditemani Kak Rara dulu yaaa. Kak
Ola mau istirahat sebentar sehabis patroli. Esa harus
sopan dan baik sama Kak Rara okeii?”
“Okei!” Jawab Esa sembari menautkan
kelingkingnya ke kelingking Ola sebagai tanda
perjanjian.
Setelah Ola keluar kamar Esa, aku dan Esa saling
memperkenalkan diri lagi dengan lebih spesifik.
“Kak Rara, kalau boleh tahu, kakak sekarang umur
berapa?” Tanyanya.
“Kakak tahun ini berumur 18 tahun Esa. Kalau Esa
gimana?” Tanyaku balik sambil tersenyum.
“Aku tahun ini umur 8 tahun kak. Kalau hobi kakak
apa?”
“Ada belajar, baca novel, mendengar musik, ada
banyak hehe.”
27
“Ooooo, aku juga suka baca kak! Baca dongeng tapi.
Ini ada dongeng yang aku karang, mau aku bacakan
kah?”
“Mau banget Esaaa.”
Esa mengambil buku berisi dongeng karangannya. Ia
membawanya dan juga mengajakku untuk duduk di
atas kasurnya. Esa membacakan dongeng
karangannya yang ternyata sangat menarik dan rapi.
Konflik nya tidak terlalu kompleks, namun pesan
yang dapat diambil dijelaskan dengan sangat jelas.
Untuk anak-anak seusianya, Esa sudah memulai
langkah yang sangat bagus bila ia memang ingin
menjadi pendongeng ataupun penulis, keren!
“Kak Rara, kalau selain novel, kakak suka baca
buku apa lagi?” Tanya Esa setelah selesai
membacakan karangan dongengnya.
“Selain membaca novel, kakak suka baca komik
digital juga. Esa tau apa itu komik digital?
“Oooo, apa itu kak?”
“Komik digital itu komik yang ga pakai kertas lagi
sayang. Jadi bacanya dari suatu alat gitu, bentuknya
mirip kayak hemmm, nah mirip sama kotak pensil
Esa ini nih. Balok gitu bentuknya, tapi tipisss. Jadi
28
bacanya tinggal sentuh dan geser saja layar di
baloknya. Kalo disini, ada juga alat seperti gitu
kah?”
“Hemmm, Esa ga tau kakk. Kalo di rumah nenek ini
sih kayaknya belum ada, Esa belum pernah liat. Tapi
kalo di luar mungkin aja ada. Akan tetapi, Esa aja
tidak dibolehkan keluar sama nenek, harus di rumah
terus, huffttt.”
Setelah lelah bercerita bersama, aku dan Esa tertidur.
Dari cerita dan gerak-gerik yang Esa sampaikan, aku
dapat mengetahui bahwa Esa adalah anak yang
cerdas, namun juga kesepian.
Entah mengapa ia tidak boleh keluar dari rumah
neneknya, mungkin saja karena ia memiliki sakit
atau alergi tertentu (?) aku juga tidak tahu. Selain
itu, mungkin saja si Ola sangat sibuk sampai-sampai
jarang bisa meneman Esa, dasar kakaknya itu.
Esok paginya, saat Esa masih belum terbangun, Ola
dan Egor menghampiriku.
“Pagi Rara, hari ini mau ikut keluar melihat-lihat
Desa Gejarang?” Ola menyapa.
“Oh, boleh aja, tapi ini Esa ditinggal sendiri
gapapa?”
29
“Gapapa Esa mah, nanti bisa panggil mbak Asti buat
jagain Esa.” Kata Egor.
Nah sepertinya aku tahu alasan Esa kesepian. Dua
kakaknya ini sering meninggalkannya sendirian
seperti ini, dasar.
“Okedeh, kalo gitu ayo aja!” Berhubung saya
memang penasaran keadaan di luar, aku iyakan saja
ajakan mereka, maaf Esa hehe.
Kali ini, kami berjalan kaki menyusuri desa, tidak
mengendarai kucing raksasa seperti sebelumnya.
Semua kucing raksasa yang tadi mereka kendarai
sedang beristirahat di halaman belakang rumah
nenek.
Kami menghampiri salah satu tempat yang
sepertinya adalah rumah makan khas daerah mereka.
Ada banyak sekali jenis makanan yang disajikan:
makanan pokok, makanan camilan, dan berbagai
jenis minuman.
“Ra, mau coba makanan khas desa kami ga?” Tanya
Ola.
“Bolehh. Namanya apa Ola?”
“Kekuduh Ra. Makanannya terbuat dari jamur
diberi campuran tepung khas GeJaRang, lalu
30
digoreng. Teksturnya cukup renyah dan cocok sekali
dijadikan camilan.”
“Wah, kekuduh ya? Di Lampung juga ada makanan
yang disebut geguduh La, mirip ya namanya? hehe.”
“Wahh, mirip banget namanya!” Jawab Ola.
“Nah, kalau geguduh itu terbuat dari pisang yang
dihaluskan dulu, lalu diadon ke tepung, baru deh
digoreng. Enak banget rasanya La!”
“Wah, proses pembuatannya juga lumayan mirip ya.
Semoga rasanya juga sama enaknya ya! Egor mau
makan apa?” Kata Ola.
“Kolek jamur aja La, minumannya air mineral.”
Terang Egor yang sepertinya dalam keadaan bad
mood. Entah apa yang membuatnya demikian.
“Siap. Rara mau air mineral juga?” Tanya Ola.
“Boleh.” Jawabku.
“Salam. Kak, kami pesan 2 kolek jamur, 1 kekuduh,
dan 3 air mineral ya, terima kasih.” Pesan Ola
kepada salah satu pegawai di rumah makan ini.
Setelah memesan makanan, kami pergi ke ruang atas
yang merupakan ruangan khusus dan hanya boleh
dipakai oleh keluarga kepala desa.
31
Tempatnya cukup luas, terdapat 6 meja besar yang
masing-masing dapat digunakan oleh 6--8 orang.
Berada di dalam ruangan tertutup, sama halnya saat
berada di rumah nenek Adira Jagiya, sebagian besar
cahaya yang kami dapat berasal dari lampu minyak
dan kumpulan hewan mirip kunang-kunang di dunia
kita. Satu lampu besar di tengah dinding langit, dan
ada lima lampu kecil di setiap sisi dindingnya.
Sisanya adalah penerangan dari kunang-kunang
yang „dikurung‟ di dalam suatu sangkar.
“Gor, tumben banget kamu diam. Ada apa?” Tanya
Ola ke Egor.
“Biasa, habis diceramahi sama paman tadi. Tahu kan
tentang apa?”
“Tentang perjodohan lagi ya?”
“Iya. Heran, suka banget menjodohkan orang lain.
Sudah dibilang berkali-kali bahwa gue mau
meningkatkan skill pedang dulu, banyakin
pengalaman, eksplor banyak hal dulu.” Jelas Egor.
“Yang lebih parah lagi La, gue bener-bener belum
pernah sekalipun ketemu sama perempuannya, ya
gue tolak lah langsung. Tentunya gue juga diomelin
lagi, dan kesalnya lagi, beliau bawa-bawa nama
papa-mama.” Lanjutnya.
32
“Beliau bilang „papa-mama mu juga pasti mau
anaknya menikahi gadis ini, mereka pasti senang.
Padahal kan kita juga tidak tahu apa yang papa-
mama rasain sekarang di sana.”
Raut wajahnya berubah drastis saat menyebut papa-
mamanya sudah meninggal sejak ia berumur 5
tahun. Sejak saat itu, sepupu Ola ini dirawat oleh
nenek Adira Jagiya yang merupakan ibu dari ayah
Egor, serta pamannya yang merupakan kakak dari
ibunya Egor.
Aku yang mendengarnya saja sudah pusing duluan.
Sama pusingnya saat melihat limit yang
digabungkan dengan logaritma ditambah akar.
Terlihat dari raut wajahnya bahwa Egor sangat kesal
dan frustasi mengenai hal tersebut, poor Egor :).
"Mau kubantu bujuk paman Gor?" Inisiatif Ola
untuk membantu Egor.
"Huftt… ga usah La, nanti coba gue aja yang
ngobrol sama paman lagi. Semoga nanti beliau
mengerti."
“Oke, semangat Gor!”
“Semangat juga Egor!” Teriakku.
33
“Eh, ngapain lu ikut campur segala?” Egor tidak
terima.
“Hah? Niat aku padahal baik loh, menyemangati
gitu.”
hening
Tidak ada satupun dari kami yang bersuara sampai
suara pelayan memecahkan keheningan kami.
“Salam.” Salam pelayan yang sedang mengantarkan
pesanan kami.
“Salam.” Ucap kami secara bersamaan.
“Pesanannya sudah lengkap diantar ya tuan, silahkan
dinikmati.”
“Terima kasih, salam.” Ucap Ola.
Setelah itu kami makan bersama, semua fokus
kepada makanan yang ada di depan kami. Rasanya
memang begitu lezat, membuatku tersenyum
merasakan kenikmatannya.
“Enak, Ra?” Tanya Ola.
“Enak banget La kekuduhnya! Garing, namun tidak
terlalu keras juga. Kapan-kapan makan ini lagi ya?”
Ucapku dengan bersemangat.
34
“Boleh banget! Nanti di rumah nenek, kalo kamu
mau, aku juga bisa buatkan. Yah, walaupun
mungkin memang tak selezat yang ada sekarang.
Kamu mau coba?” Terang Ola.
“Wah, merendah aja Ola itu, Ra. Sekedar informasi
saja, kalau dia yang masak di rumah nenek, pasti
banyak yang mengantre untuk mencicipi
masakannya.” Terang Egor.
“Wah mau banget La kalo kamu ga keberatan.”
Mumpung dapet makanan gratis, plus katanya enak,
ya tidak ada alasan untuk menolak kan?
Yah, semoga aja ga beracun wkwkwkwk.
“Oke, nanti aku masakin ya.”
Setelah menyelesaikan santapan kami tadi, kami
berkeliling di sepanjang jalanan Desa Gejarang. Ada
banyak yang berjualan jajanan makanan ringan, ada
juga yang menjual berbagai model pakaian yang
bercahaya.
Omong-omong, semenjak aku datang di tempat ini,
sepertinya hanya aku yang belum memakai pakaian
bercahaya. Untungnya gelang yang aku pakai tadi
bercahaya, jadi seenggaknya aku mendapatkan
cahaya lebih dari gelang itu.
35
Ola membelikan aku dua jubah bercahaya. Satu
untuk langsung dipakai, satunya lagi untuk
disimpan. Ola bilang “Siapa tahu kamu akan lama
disini. Maka yang satunya dapat dipakai bila yang
kamu pakai sekarang sedang rusak.”
Okelah, karena kita yang dibelikan, maka kita manut
aja.
Di sepanjang jalan yang telah kami lalui, ada banyak
tempat yang menjual berbagai aksesoris yang lucu.
Aku meminta kepada Ola dan Egor untuk singgah
bentar disana karena melihat ada jepitan yang sangat
imut dan mungkin cocok untuk Esa, adik Ola.
“Salam, ijin bertanya, harga jepitan ini berapa ya
kak?” Tanyaku kepada penjual aksesoris tersebut.
“Salam, harganya 1 koin 20 sen.”
“Hmmm, kalau beli ini untuk Esa, cocok tidak ya?”
Tanyaku kepada Ola dan Egor.
Niat awalku ingin membelikan jepitan tersebut
untuk Esa. Namun, aku lupa kalau belum punya
uang disini. Tadi pun yang membayarkan makanan
dan pakaian adalah Ola, aku jadi kaum misqueen
disini, Huffttt…
36
“Ra, sadar please. Emang lu punya uang? Asal aja
mau beli.” Terang Egor menyadarkanku.
“Oh iya, hehe. Maaf, lupa.” Jawabku sambil nyengir
dan mengembalikan jepitan tadi ke tempatnya.
“Mumpung jepitannya memang bagus dan karena
gue sekarang lagi berbaik hati, nih. Bilang apa?”
Kata Egor sambil memberikan sebagian uangnya
kepadaku.
Wah tumben baik. Tadi galak pol, ini tiba-tiba jadi
baik. Takut juga kalau ada udang dibalik batu nih
hahaha. Ya, mumpung dikasih uang lebih (5 koin 50
sen), padahal harga jepitannya 1 koin 20 sen, tidak
mungkin aku menolaknya di waktu kepepet begini.
Ya kan?
“Siap, terima kasih banyak Sultan!”
“Nah gitu, kalau akur dikit kan enak liatnya.” Ola
memberikan tanggapan.
“Ya. Maaf juga ya Ra, belakangan gue kasar banget
sama lu.”
Setelah selesai berbelanja dan bersenang-senang di
sepanjang jalan Desa Gejarang tadi, kami pulang ke
rumah nenek.
37
Baru saja aku masuk ke dalam rumah nenek, terlihat
Esa yang sudah bangun langsung memelukku ketika
tahu aku sampai di rumah. Aku berikan jepitan tadi
kepadanya.
Esa terlihat sangat menggemaskan saat memakainya.
Untung saja ia menyukainya juga.
“Makasih banyak kakak cantik!!! Aku suka banget
sama jepitannya!”
“Sama-sama Esa sayang!”
“Cihh, baru kenal bentar aja udah sksd (sok kenal
sok dekat) banget gitu, dasar. Emangnya lu apain
Esa si sampai dia luluh gitu? Sama gue yang udah
kenal lama aja masih ga mau peluk.” Sinis Egor
kembali lagi.
“Yeee si bapak iri ya ga dipeluk Esa?” Balasku
dengan meledeknya lagi.
“Iri? Sama lu? Yakin? Dih, Ogah banget gue.”
“Sudah, sudah. Egor, jangan buat masalah di depan
sini, oke? Esa, yuk peluk juga Kak Egornya, kasian
tuh dia sedih.” Kata Ola, menengahi perdebatan
kami.
“Nggak mau ah kak. Kak Egor sering isengin aku
sih, gamau aku bwekkk.” Jawab Esa.
38
“Tuh, Esa itu memang nggak mau dipeluk sama
kamu karena kamu nya iseng. Makanya, dikurangin
isengnya ya bos, haha.” Ledekku kembali
memancing api.
“Ishh lu ini ya!--”
Belum selesai Egor menyelesaikan ucapannya, kami
bertiga dipanggil oleh salah satu bawahan nenek
untuk pergi ke ruangannya.
39
Biodata
nama : Egor Jagiya (Egor)
tanggal, tempat lahir : 22 Desember 2002, Desa
GeJaRang
umur : 20 tahun
makanan favorit : Semua makanan manis
minuman favorit : Semua minuman
hobi : Berlatih pedang
keterangan : 1) Sepupu Ola,
2) Anak tunggal,
3) Yatim piatu sejak
berumur 5 tahun
quote favorit : Berani untuk jadi dirimu
sendiri.
40
BAB 3: PETUNJUK
“Salam nek.” Sapa kami bertiga saat memasuki
ruangan kerja nenek Adira Jagiya.
“Salam. Bagaimana dua hari ini di Desa GeJaRang,
Rara? Sudah ke mana saja?” Tanya nenek Adira
kepadaku.
“Menyenangkan nek. Tadi sudah keliling pasar,
mencoba kekuduh, membeli pakaian yang ini, dan
sempat mampir membeli jepitan untuk Esa hehe.
Seru!” Terangku.
“Baik, senang juga nenek mendengarnya. Oh iya,
terkait gulungan yang nenek beri tahu tempo hari,
barusan Zamrud menemukannya di gudang buku.
Hanya saja, beberapa kata tidak terlihat begitu jelas
disini karena kepekatan tinta nya sudah memudar.”
41
Ujarnya sembari menyerahkan gulungan itu
kepadaku.
Aku buka gulungan itu secara perlahan dan
menemukan tulisan yang sepertinya sudah ditulis
lama sekali karena tintanya sudah sangat memudar.
Ratusan tahun yang lalu, ada seorang penjelajah
dari tempat yang aneh.
Penjelajah yang bera--- dari tempat dengan pro-----
i gelap dan --rang yang sama.
Ia munc-- pertama di atas b---t --h---.
Ia pergi ke selatan, menjelajahi desa gelap.
Lalu, ia bosan, dan pergi mengelili ---desa terang.
Tibalah ia pada penantian hidupnya,
bertemu dengan kekasih hidupnya di salah satu desa
terang,
D-sa Tera-- Pa--.
*Keterangan: tanda (-) menunjukkan bahwa abjad
tersebut tidak terlihat dengan jelas.*
“Disini dijelaskan bahwa memang penjelajah itu
berasal dari desa dengan proposisi (?) gelap dan
terang yang sama, Kemungkinan besar itu memang
adalah dunia tempat saya berasal nek.” Jelasku.
“Iya. Di sini memang tidak dijelaskan secara
eksplisit cara untuk pulang ke duniamu Ra. Namun,
42
sepertinya ada kaitannya dengan tempat si
penjelajah ini muncul. Hanya saja sampai sekarang
nenek masih bingung nama tempatnya apa. B---t --h-
--. Itu tempat apa ya?” Tanya nenek.
“Hmm, membingungkan.
“Oh, disini juga dijelaskan bahwa penjelalajah itu
bertemu dengan kekasihnya di Desa Terang Padi.
Bisa saja ia menetap di dan membuat keturunan di
sana dan kita menanyakan petunjuk kepada
turunannya tersebut.” Jelas nenek Adira memberikan
opininya.
“Namun bagaimana kalau mereka ternyata kembali
ke dunia tempat si penjelajah berasal nek? Tanya
Egor dengan sangat masuk akal.\
“Bisa jadi lebih baik. Kita bisa tanya bagaimana
mereka dapat pulang ke dunia asal si penjelajah.”
“Siap nek.” Jawab Egor.
“Oh iya, nenek jadi teringat sesuatu saat pagi tadi,
Esa menunjukkan buku „penyihir yang hilang‟. Di
sana dijelaskan bahwa ada leluhur kita yang pergi ke
dunia lain menggunakan portal saat perpecahan
penyihir gelap. Mungkin juga bisa menjadi petunjuk
bagi kamu, Ra.”
43
“Baik nek. Nanti coba Rara baca bukunya ya.”
ucapku.
“Oke. Kalau begitu, kira-kira kapan kamu mau pergi
ke Desa Terang Padi Ra?” Tanya nenek Adira
mengingatkan.
“Hmm, kalau boleh tahu, Desa Terang Padi itu
dimana ya?” Tanyaku penasaran.
“Desa Terang Padi berada di sebelah utara kita Ra.
Kurang lebih seminggu sampai dua minggu baru
sampai ke sana.” Kata Ola.
“Wah, lama juga ya.” Ucapku sambil menggaruk
leher belakangku.
“Ya, lumayan Ra hehe. Soalnya, untuk ke sana, kita
butuh ke Desa Gelap Kaktus dan melewati bukit
cahaya untuk sampai ke desa Terang Padi.
Sebenarnya kalau tidak berhenti, kita dapat sampai
dalam sekitar seminggu. Namun, pastinya kita dan
para kucing juga butuh istirahat kan.” Jawab Ola
yang memang lebih ahli dalam hal ini.
Sempat ada rasa pesimis bahwa aku tidak akan bisa
kembali lagi ke rumah, bertemu papa, mama, duo
Ga-Gi (adik laki-laki kembarku) huft…
44
Tapi aku tidak boleh patah semangat. “ayo optimis
lagi Ra!” Ucapku dalam hati.
“Nanti kalau Rara mau, nenek bisa kirimkan satu
sampai dua orang nenek menemanimu kesana,
bagaimana?” Tawar nenek Adira dengan sangat baik
hati.
“Wah, benarkah nek??” Raut wajahku kembali
bersemangat.
“Benar. Ola percaya denganmu. Satu hal tersebut
sudah cukup membuat nenek untuk juga percaya
denganmu. Ola mempunyai kekuatan untuk dapat
melihat intensi baik atau jahat dari seseorang dan
sampai sekarang, Ola yakin bahwa intensimu
memang baik. Oleh karena itu, nenekpun akan
percaya denganmu dan membantumu sebisa nenek.”
Terang nenek yang membuatku terbang ke langit-
langit.
Rasanya pujian tersebut terlalu berlebihan untukku
yang biasa-biasa saja ini.
“Hmm nek, apa boleh Ola yang menemani Rara
untuk ke Desa Terang Padi? Jadwal patroli Ola
sudah selesai kemarin. Semua pekerjaan untuk
sebulan kedepan pun sudah Ola cicil sehingga sudah
selesai juga.” Kata Ola.
45
“Ola yang membawa Rara ke sini, maka Ola juga
yang akan menemani Rara untuk pulang.
Bolehkah?” Lanjut Ola yang menawarkan dirinya
menemaniku.
“Kamu yakin Ola?” Tanya nenek.
“Yakin lu, La?” Tanya Egor juga yang sedari tadi
tidak banyak bicara..
“Ya nek, Gor. Ola juga pernah ke sana beberapa
tahun yang lalu. Oleh karena itu, tolong ijinkan Ola
menemani Rara ya?”
Jujur, sebenarnya aku tidak enak sampai merepotkan
orang lain begini. Apalagi, aku jadi teringat curhatan
Esa (adik Ola) yang berkata bahwa kakaknya ini
jarang menemaninya di rumah.
“Eitss, selain lu, mashi ada gue juga kali La. Kan
gue juga nemenin perjalanan ke sana beberapa tahun
lalu.”
“Baiklah, jadi dua-duanya mau menemani Rara nih?
Wah, sepertinya nenek melihat persaingan disini ya
haha.” Tanggap nenek Adira.
“Baiklah, semua keputusan nenek serahkan kembali
ke kalian. Nenek hanya ingin berpesan, siapapun
46
yang nanti ikut menemani Rara, Raranya juga harus
nyaman sama orangnya, oke?” Lanjut nenek Adira
berpesan.
“Baik nek.” Jawab Ola dan Egor.
Setelah perbincangan tadi, kami keluar dari ruangan
nenek dan pergi ke ruang keluarga, melanjutkan
pembahasan mengenai siapa yang ikut mengantar
diriku ke Desa Terang Padi.
“Jadi kamu mau ikut mengantar Rara, Gor?” Tanya
Ola yang baru saja duduk di sofa.
“Selama lu ikut, gue juga ikut. Hitung-hitung untuk
mengulur waktu perjodohan lainnya dari paman.”
Kata Egor.
“Di sini kalo ga ada lu juga gue bingung mau
ngapain, sepi bro.” Lanjut Egor.
“Kan masih ada Esa Gor?” Kata Ola.
“Benar, tapi dia saja nggak mau deket-deket sama
gue La, sedih tau, hoammm.” Ucap Egor yang
diakhiri dengan menguap.
“Jangan iseng makanya Egor.” Ledekku kepadanya.
47