TENTARA NASIONAL INDONESIA AU - 4.20 - 05 MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA AU - 06.15 - 06 PETUNJUK PELAKSANAAN TNI AU TENTANG STANDARDISASI GUDANG SENJATA DAN MUNISI TAHUN 2017 PENGESAHAN: BERLAKU EFEKTIF: KEPUTUSAN KEPALA STAF ANGKATAN UDARA TANGGAL 15 DESEMBER 2017 NOMOR KEP/915/XII/2017 TANGGAL 15 DESEMBER 2017
TENTARA NASIONAL INDONESIA MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA KEPUTUSAN KEPALA STAF ANGKATAN UDARA Nomor Kep/915/XII/2017 tentang PETUNJUK PELAKSANAAN TNI AU TENTANG STANDARDISASI GUDANG SENJATA DAN MUNISI KEPALA STAF ANGKATAN UDARA Menimbang : Bahwa Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Skep/435/XII/2004 tentang Standardisasi Gudang Senjata dan Munisi sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan organisasi TNI Angkatan Udara, sehingga perlu diganti dan disusun dan ditata serta ditetapkan kembali dengan keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Tentang Standardisasi Gudang Senjata dan Munisi. Mengingat : 1. Keputusan Presiden Nomor 2/TNI/Tahun 2017 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Staf Angkatan Udara. 2. Keputusan Panglima Tentara Nasional Indonesia Nomor Kep/75/I/2016 tentang Pemberhentian Dari dan Pengangkatan Dalam Jabatan di Lingkungan Tentara Nasional Indonesia. 3. Peraturan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Perkasau/164/XII/ 2011 tentang Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur Staf Logistik TNI Angkatan Udara (Slogau). 4. Peraturan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Perkasau/86/X/ 2010 tentang Buku Petunjuk Induk TNI AU Tentang Logistik.
2 MEMUTUSKAN Menetapkan : 1. Petunjuk Pelaksanaan TNI AU Tentang Standardisasi Gudang Senjata dan Munisi, sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini. 2. Petunjuk pelaksanaan TNI AU sebagaimana dimaksud angka 1 keputusan ini, digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan standardisasi gudang senjata dan munisi di lingkungan TNI AU. 3. Petunjuk pelaksanaan TNI AU dimaksud angka 1 keputusan ini, dapat ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan organisasi. 4. Dengan berlakunya keputusan ini, maka Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Skep/435/XII/2004 tentang Standardisasi Gudang Senjata dan Munisi, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 5. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 15 Desember 2017 a.n. Kepala Staf Angkatan Udara Asisten Logistik, Cap/ttd Yadi Husyadi Marsekal Muda TNI Waaslog Kasau : Kadiskumau : Kasetumau : Paban III/Aero : Auten tikasi Kepala Sekretariat Umum Angkatan Udara, Ahmad Dachlan Sukardjo, S.E., M.M. Kolonel Adm NRP 515583
DAFTAR LAMPIRAN 1. Lampiran A .............................................................................................. 1 - 2 2. Lampiran B .............................................................................................. 1 - 3 3. Lampiran C .............................................................................................. 1 - 2 4. Lampiran D .............................................................................................. 1- 6, 9, 10, 11, 12, 13, 14 5. Lampiran E .............................................................................................. 1 - 2 6. Lampiran F .............................................................................................. 1 - 3
DAFTAR PENGERTIAN 1. Aboveground Magazine. Aboveground magazine adalah bangunan yang digunakan untuk menyimpan bahan eksplosif. Terdapat dua tipe magazines, yakni igloo (earth covered) dan aboveground (no earth covering). Aboveground magazine adalah sebuah fasilitas penyimpanan bahan peledak tanpa ditimbun tanah. 2. Amunisi. Amunisi adalah sejumlah bahan peledak dengan komposisi bahan satu jenis atau lebih yang dimasukkan dalam sistem wadah tertentu, sehingga cukup aman disimpan, diangkut, dan ditembakkan. 3. Bar. Bar adalah satuan tekanan barometer pada permukaan laut. Satu bar = 14,5 psi, 3 bar = 45 psi, 7 bar = 100 psi. 4. Barricade/Tanggul. Barricade/tanggul adalah pembatas (natural atau buatan) dengan tipe, ukuran, dan konstruksinya didesain untuk menghalangi fragmentasi yang berkecepatan tinggi, dengan tujuan mengurangi sebanyak mungkin akibat dari ledakan tersebut. 5. Compability. Compability adalah ammunition & explosives (AE) atau golongan bahan peledak yang boleh/aman untuk disimpan dalam satu gudang atau diangkut bersamaan dengan bahan peledak jenis lain. 6. Compability Group (CG). Compability group adalah bagian yang menyatakan bahwa bahan peledak jenis satu boleh/aman disimpan atau diangkut bersamaan dengan bahan peledak jenis yang lain. Dengan pertimbangan bila terjadi suatu ledakan, besarnya ledakan tidak melebihi besarnya ledakan yang ditimbulkan oleh satu jenis bahan peledak dengan jumlah berat yang sama. Contoh, besarnya ledakan bahan A + B + C sejumlah P ton akan lebih kecil atau sama dengan besarnya ledakan bahan A sejumlah P ton, atau B sejumlah P ton atau C sejumlah P ton. 7. Deflagrasi. Deflagrasi ialah suatu proses perubahan komposisi kimiawi dengan kecepatan reaksi relatif rendah (kurang dari 3.000 meter/detik) yang terjadi pada sejumlah massa bahan peledak tertentu, dengan menimbulkan panas tinggi serta tekanan gas cukup besar, sehingga meskipun belum sampai berakibat penghancuran terpusat, namun sudah menimbulkan kebakaran (burning) dan daya dorong (thrust). Bahan peledak yang dapat menimbulkan deflagrasi disebut low explosive. 8. Detonasi. Detonasi adalah suatu proses perubahan komposisi kimiawi dengan kecepatan reaksi tinggi (antara 3.000 s.d. 9.000 meter/detik) yang terjadi pada sejumlah massa bahan peledak tertentu, dengan menimbulkan panas serta tekanan yang tinggi sehingga berakibat penghancuran terpusat. Bahan peledak yang dapat menimbulkan detonasi disebut high explosive. 9. Earth-Covered Magazine (ECM). Earth-covered magazine adalah gudang bahan peledak yang bagian luarnya tertutup tanah, dengan ketebalan sesuai dengan standardisasi yang dipersyaratkan. ECM memiliki tiga jenis kekuatan yakni 7-bar, 3-bar atau tidak ditentukan. Kekuatan dinding dan pintu dari gudang ECM disesuaikan dengan jenis bahan peledak yang disimpan.
2 10. Electro Explosive Devices. Bahan peledak yang dapat terinisiasi oleh listrik atau gelombang elektromagnetik. 11. Explosive. Explosive adalah suatu komposisi kimiawi tertentu yang apabila mendapat rangsangan dari luar antara lain berupa geseran, panas, listrik, api, pukulan, getaran, dan lain-lain akan menimbulkan ledakan (perubahan persenyawaan kimiawi dengan kecepatan reaksi yang tinggi, sehingga menimbulkan tekanan dan temperatur tinggi). Catatan: Bila barang tersebut telah mengalami perubahan kimiawi (misalnya karena pengaruh dalam penyimpanan), maka tanpa adanya rangsangan dari luar dapat timbul ledakan (self ignition). 12. Explosives Safety. Explosives safety adalah tercapainya suatu kondisi di mana kegiatan operasional yang melibatkan personel, fasilitas, dan lingkungan telah terlindungi dari risiko jika terjadi ledakan. 13. Explosive Safety Distance (Quantity-Distance/ Q-D). Explosive safety distance adalah sebuah tabel quantity versus distance, yang menyatakan jarak aman ledakan terhadap berat explosive yang berbeda-beda. 14. Explosive Site Plan. Explosive site plan adalah sebuah data yang berisi seluruh informasi untuk memenuhi explosives safety standard dari sebuah pergudangan bahan peledak. Data yang paling utama adalah quantity-distance yang ideal. 15. Exposed Site (ES). Exposed site adalah tempat/lokasi dimana jika terjadi ledakan pada potential explosion site masih terkena blast, fragmentasi atau gelombang panas. 16. Intermagazine Distance (IMD). Intermagazine distance adalah jarak yang harus dipenuhi antara dua gudang munisi. 17. Intraline Distance (ILD). Intraline distance adalah jarak yang harus dipenuhi antara dua gudang munisi terkait bangunan lain yang berhubungan dengan operasional. 18. Jarak Aman ke Dalam. Jarak aman ke dalam adalah jarak minimal yang diizinkan antara gudang persenjataan/bahan peledak atau tempat penimbunan terbuka, dengan bangunan sejenisnya atau dengan bangunan-bangunan lain, yang masih berada di dalam daerah explosive. 19. Munisi. Munisi adalah bahan peledak, kimia, biologi, dan radio aktif yang dapat menghancurkan sasaran-sasaran manusia, bangunan, kendaraan, dan benda-benda lainnya dengan cara dilemparkan, ditempatkan, disemprotkan, dan lain sebagainya. 20. Net Explosive Weight (NEW). Net explosive weight adalah total berat explosive yang berada dalam setiap materiel explosive atau pyrotechnic atau peluru, yang dinyatakan dalam pounds. 21. Net Explosive Quantity (NEQ). Net explosive quantity adalah NEW dalam satuan Kg.
3 22. Piroteknik. Piroteknik adalah sejumlah bahan peledak dengan komposisi bahan satu jenis atau lebih yang dimasukkan dalam sistem wadah tertentu, sehingga tenaga ledak atau tenaga dorongnya memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai tenaga penyala atau penggerak suatu sistem tertentu. Contoh piroteknik antara lain fuse, detonator, pyrocartridge dan CAD PAD. 23. Public Traffic Route Distance (PTRD). Public traffic route distance atau jarak aman ke luar adalah jarak minimal yang diizinkan antara daerah explosive dengan bangunan lain misalnya objek vital, daerah pemukiman dan aktivitas penduduk (sekolah, tempat ibadah, pasar, rel KA, jalan raya, dan sebagainya). 24. Potential Explosion Site (PES). Potential explosion site adalah lokasi di mana masih terkena blast, fragmentasi atau gelombang panas jika terjadi ledakan. 25. Standardisasi. Standarisasi adalah penentuan penggolongan secara khusus mengenai jenis/tipe materiel yang memenuhi syarat-syarat tertentu dan terbaik, ditinjau dari sudut pemakaian, pemeliharaan dan masalah logistik pada umumnya atau menyeragamkan, menyamakan, mempersatukan jenis, tipe, kaliber, model, dan sebagainya.
TENTARA NASIONAL INDONESIA MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA PETUNJUK PELAKSANAAN TNI AU TENTANG STANDARDISASI GUDANG SENJATA DAN MUNISI BAB I PENDAHULUAN 1. Umum. a. TNI Angkatan Udara sebagai bagian integral dari TNI, memiliki tugas menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah udara yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi. Dalam melaksanakan tugas tersebut, TNI AU melaksanakan pembinaan dan menyiapkan alutsista. Salah satu bagian dari alutsista tersebut adalah senjata dan munisi yang menjadi bagian penting dalam operasi militer untuk menghancurkan sasaran yang telah ditetapkan. b. Agar senjata dan munisi tersebut dapat berfungsi sesuai dengan tujuan penggunaannya, diperlukan pengamanan dan penyimpanan yang baik sehingga dapat dicapai tingkat kesiapan yang efektif, efisien, dan keselamatan yang tinggi. Di samping itu senjata dan munisi juga memiliki potensi bahaya yang tinggi baik bagi personel, alutsista, maupun infrastruktur/bangunan di sekitarnya, sehingga diperlukan suatu kondisi penyimpanan yang optimal untuk mencegah terjadinya kecelakaan/kejadian yang tidak diharapkan. c. Guna terjaminnya kondisi penyimpanan yang optimal, diperlukan Petunjuk Pelaksanaan TNI AU Tentang Standardisasi Gudang Senjata dan Munisi. 2. Maksud dan Tujuan. a. Maksud. Maksud penyusunan Petunjuk Pelaksanaan TNI AU Tentang Standardisasi Gudang Senjata dan Munisi untuk digunakan sebagai pedoman dalam penetapan standardisasi pergudangan senjata dan munisi TNI AU. b. Tujuan. Tujuan penyusunan Petunjuk Pelaksanaan TNI AU Tentang Standardisasi Gudang Senjata dan Munisi ini agar penyelenggaraan standardidasi gudang senjata dan munisi di lingkungan TNI AU memiliki persamaan persepsi, efektif, dan optimal. 3. Ruang Lingkup dan Tata Urut. Ruang lingkup petunjuk ini meliputi kegiatan penentuan standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU yang disusun dengan tata urut sebagai berikut: a. Bab I Pendahuluan. b. Bab II Ketentuan Umum. Lampiran Keputusan Kasau Nomor Kep/915/XII/2017 Tanggal 15 Desember 2017
2 c. Bab III Pokok-Pokok Standardisasi Gudang Senjata dan Munisi. d. Bab IV Pelaksanaan Standardisasi Gudang Senjata dan Munisi. e. Bab V Tataran Kewenangan. f. Bab VI Penutup. 4. Landasan. Landasan yang digunakan dalam menyusun Petunjuk Pelaksanaan TNI AU Tentang Standardisasi Gudang Senjata dan Munisi TNI AU ini sebagai berikut: a. Peraturan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Perkasau/86/X/2010 tentang Buku Petunjuk Induk TNI Angkatan Udara Tentang Logistik. b. Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Juklak/03A/III/1979 tentang Persyaratan Pergudangan Persenjataan. c. Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Skep/435/XII/2004 tentang Standardisasi Gudang Senjata dan Munisi. d. Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Kep/705/XI/2016 tentang Standardisasi Senjata Darat Organik TNI AU. e. Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Kep/972/XII/2016 tentang Standardisasi Munisi TNI AU. 5. Kedudukan. Petunjuk Pelaksanaan TNI AU Tentang Standardisasi Gudang Senjata dan Munisi ini berkedudukan satu tingkat di bawah Petunjuk Induk TNI AU Tentang Logistik. 6. Pengertian. Untuk memperoleh persepsi yang sama terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam keputusan ini, disusun pengertian sebagaimana tercantum dalam daftar pengertian. BAB II KETENTUAN UMUM 7. Umum. Standardisasi gudang senjata dan munisi di lingkungan TNI AU secara umum ditujukan pada upaya penyeragaman dalam penyelenggaraan standardisasi gudang senjata dan munisi di satuan jajaran TNI AU, agar hal tersebut dapat dicapai maka perlu memperhatikan ketentuan umum yang meliputi tujuan, sasaran, kebijakan dasar, dan asas-asas. 8. Tujuan. Tujuan pelaksanaan standardisasi gudang senjata dan munisi di lingkungan TNI AU adalah tercapainya suatu bentuk pembinaan logistik, khususnya pergudangan senjata dan munisi, sehingga diharapkan tercapainya optimalisasi penggunaan kekuatan senjata dan munisi oleh satuan jajaran TNI AU.
3 9. Sasaran. Sasaran pelaksanaan standardisasi gudang senjata dan munisi di lingkungan TNI AU adalah terwujudnya pergudangan senjata dan munisi yang memenuhi kaidah safety, sehingga kesiapan operasional dari unsur-unsur kekuatan TNI AU dapat lebih optimal. 10. Kebijakan Dasar. Kebijakan dasar dalam pelaksanaan standardisasi gudang senjata dan munisi yaitu mempertimbangkan perkembangan faktor keamanan dalam penyelenggaraan pergudangan senjata dan munisi, sehingga aman bagi personel, bangunan lain dan lingkungan sekitar. 11. Asas-Asas. Asas-asas dalam pelaksanaan standardisasi gudang senjata dan munisi di lingkungan TNI AU sebagai berikut: a. Tujuan. Penyelenggaraan standardisasi gudang senjata dan munisi berpegang pada tujuan yang telah ditetapkan berdasarkan kebutuhan organisasi. b. Daya Guna. Standardisasi gudang senjata dan munisi dititikberatkan pada upaya tercapainya zero accident dan menjaga kesiapan senjata dan munisi sehingga siap pakai. c. Efektif. Segala aktifitas yang dilakukan dalam penyelenggaraan standardisasi ini harus senantiasa diorientasikan untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi. d. Efisien. Setiap kegiatan penyelenggaraan standardisasi gudang senjata dan munisi ini harus selalu memperhatikan dan menerapkan pertimbangan seefisien mungkin dalam hal materiel dan waktu. e. Modern. Pelaksanaan standardisasi gudang senjata dan munisi harus mengikuti perkembangan teknologi pergudangan senjata dan munisi. f. Pengamanan. Penggunaan gudang senjata dan munisi dilaksanakan dengan mengutamakan safety. BAB III POKOK-POKOK STANDARDISASI GUDANG SENJATA DAN MUNISI 12. Umum. Bangunan gudang senjata dan munisi merupakan fasilitas untuk penyimpanan, pemeriksaan, dan perawatan dengan persyaratan tertentu. Persyaratan ini sangat dipengaruhi oleh jenis senjata dan munisi yang tersimpan dalam bangunan tersebut. 13. Persyaratan Lokasi Pergudangan. Pemilihan lokasi pergudangan harus memperhatikan kondisi sebagai berikut: a. Status Lahan. Lahan/tanah yang digunakan untuk membangun gudang/komplek pergudangan senjata dan munisi harus tanah milik negara/TNI AU yang tidak bermasalah/sengketa kepemilikan baik dengan instansi pemerintah lainnya, dengan pemerintah daerah maupun dengan masyarakat setempat.
4 b. Lokasi Pergudangan. Lokasi gudang/komplek pergudangan senjata dan munisi diupayakan sedapat mungkin cukup terisolasi, cukup jauh dari pemukiman, dan aktifitas penduduk serta aktifitas penerbangan berdasarkan perhitungan quantity distance (QD). c. Kondisi Tanah. Area untuk gudang/komplek pergudangan senjata dan munisi diupayakan semaksimal mungkin memiliki kondisi tanah yang stabil, keras dan kering sehingga terhindar dari risiko bencana alam seperti tanah longsor, banjir, dan gempa bumi. Untuk mendapatkan kondisi ini diperlukan sebuah survei yang memadai. d. Keamanan Wilayah. Lokasi area pergudangan senjata dan munisi harus terletak di wilayah yang aman/stabil dari aspek kerawanan sosial. Di samping itu harus cukup aman terhadap ancaman penyusupan/infiltrasi. 14. Fasilitas di Lokasi Pergudangan. Terdapat beberapa fasilitas yang perlu ada di lokasi pergudangan senjata/munisi, fasilitas ini tergantung dari barang yang tersimpan semakin tinggi tingkat risiko semakin komplek fasilitas yang dibutuhkan, antara lain: a. Pagar. Pagar berfungsi untuk melindungi gudang senjata/munisi dari potensi pencurian, penyusupan, dan sabotase. Bentuk/desain pagar disesuaikan dengan kondisi lingkungan pergudangan. Kondisi tersebut secara umum dibagi dua yaitu: 1) Komplek Pergudangan Kecil. Komplek pergudangan kecil adalah satu atau beberapa gudang yang terletak dalam satu lokasi. Pergudangan ini umumnya berada di dalam area pangkalan udara. Pada komplek pergudangan ini dapat dipilih desain pagar sebagai berikut: a) Pagar Tunggal Kawat Berduri. Pagar ini terbuat dari kawat ditempatkan mengelilingi area pergudangan senjata dan munisi dengan ketentuan terbuat dari kawat berduri dengan ketinggian 3 m. Di bagian atas pagar ini dilengkapi dengan kawat berduri yang saling bertolak belakang. b) Pagar Tunggal Beton. Pagar ini terbuat dari beton ditempatkan mengelilingi area pergudangan senjata dan munisi dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Pagar terbuat dari dinding tembok dengan ketebalan 215 mm atau 150 mm dinding cor atau batako dengan ketebalan 280 mm. Di bagian atas pagar tembok dilengkapi dengan kawat berduri yang saling berhadapan. (2) Pada bagian atas pagar dalam dilengkapi dengan kawat berduri yang saling bertolak belakang. (3) Pagar ditempatkan pada jarak yang memadai/aman dari tanggul terdekat. 2) Komplek Pergudangan Besar. Komplek pergudangan ini terdiri atas banyak gudang senjata/munisi yang terdapat dalam satu area pergudangan. Komplek pergudangan ini merupakan pusat pembekalan senjata/munisi.
5 Pemilihan desain pagar yang sama berlaku bagi komplek pergudangan kecil yang berada di luar area pangkalan udara. Desain pagar yang dapat digunakan adalah: a) Pagar Kawat/Besi. Pagar ini terbuat dari kawat atau besi ditempatkan mengelilingi area pergudangan senjata dan munisi dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Tinggi pagar 3 m, terdiri dari dua pagar yaitu pagar luar dan pagar dalam dengan posisi saling bertolak belakang. (2) Jarak pagar luar dan pagar dalam adalah 2 meter dan atau setidaknya dapat dilewati patroli dengan jalan kaki. (3) Pagar dilengkapi dengan pintu utama sebagai akses masuk dan keluar untuk patroli dan pemeliharaan serta pintu darurat yang diletakkan pada titik-titik yang dianggap perlu dengan posisi pintu pada bagian pagar dalam. (4) Pagar ditempatkan pada jarak yang memadai/aman dari tanggul terdekat. b) Pagar Tembok Beton dan Kawat. Pagar yang merupakan perpaduan antara pagar tembok dan pagar kawat, dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Pagar terdiri dari dua bagian, sisi luar dibangun pagar dari tembok dan sisi dalam yaitu pagar dari kawat dengan tinggi 3 meter. (2) Pagar terbuat dari dinding tembok dengan ketebalan 215 mm atau 150 mm dinding cor atau batako dengan ketebalan 280 mm. Di bagian atas pagar tembok dilengkapi dengan kawat berduri yang saling bertolak belakang. (3) Pada bagian atas pagar dalam dilengkapi dengan kawat berduri yang saling berhadapan. (4) Jarak pagar luar dan pagar dalam adalah 5 meter atau setidaknya dapat dilewati kendaraan patroli. (5) Pagar dilengkapi dengan pintu utama sebagai akses masuk dan keluar untuk patroli dan pemeliharaan serta pintu darurat yang diletakkan pada titik-titik yang dianggap perlu dengan posisi pintu pada bagian pagar dalam. (6) Pagar ditempatkan pada jarak yang memadai/aman dari tanggul terdekat. b. Penjagaan. Pos penjagaan terletak di pintu masuk area pergudangan sebelah dalam. Petugas jaga bertugas mengamankan area pergudangan dari bahaya yang datang dari dalam maupun dari luar. Petugas jaga berkewajiban
6 melaksanakan patroli di area sekeliling pergudangan serta melaksanakan pemeriksaan terhadap setiap orang dan kendaraan yang masuk dan keluar area pergudangan. Jika diperlukan petugas jaga dapat dilengkapi dengan kendaraan patroli berupa kendaraan roda empat atau kendaraan roda dua disesuaikan dengan kondisi area pergudangan. c. Kamera Pengamat. Area pergudangan perlu dilengkapi dengan kamera pengamat (CCTV) dengan jumlah yang memadai dengan layar monitor yang terletak pada ruang monitor di pos penjagaan. Sistem pengamatan ini harus dilengkapi dengan sarana penyimpanan data yang mampu menyimpan data pengamatan selama 30 hari dan dapat ditayangkan ulang. Penempatan kamera ini harus diatur dengan baik dengan pertimbangan: 1) Seluruh bagian pagar terawasi dengan baik. 2) Bagian-bagian tertentu yang dianggap penting untuk dipantau dapat terawasi dengan baik. d. Jalan. Akses jalan menuju area pergudangan haruslah mudah dilalui oleh kendaraan pengangkut senjata dan munisi, sedangkan jalan di dalam area pergudangan diatur sebagai berikut: 1) Lebar. Jalan di area pergudangan harus memiliki lebar badan jalan yang memadai sehingga mampu digunakan oleh kendaraan yang berpapasan tanpa gangguan. 2) Kekuatan. Jalan di area pergudangan harus mampu menahan beban kendaraan maksimal yang mungkin memasuki area pergudangan tersebut. 3) Bahu Jalan. Jalan di area pergudangan harus memiliki bahu jalan yang dapat digunakan untuk memarkir kendaraan yang mengalami keadaan darurat tanpa mengganggu aktifitas kendaraan lain. 4) Drainase. Di sisi kiri dan kanan jalan harus dilengkapi dengan drainase untuk mencegah timbulnya genangan air. 5) Jalan Buntu. Tidak diizinkan adanya jalan buntu di area pergudangan. e. Pintu. Pintu di area pergudangan diatur sebagai berikut: 1) Pintu Utama. Area pergudangan dilengkapi dengan satu pintu utama untuk keperluan keluar masuk personel dan kendaraan. Pintu ini dilengkapi dengan portal. Selama jam kerja pintu selalu dalam keadaan terbuka dan portal dalam keadaan tertutup. Portal hanya dibuka jika ada kendaraan yang akan keluar atau masuk. Di luar jam kerja pintu dan portal harus dalam keadaan tertutup. Pintu dan portal hanya dibuka jika ada aktivitas yang sudah mendapat izin dari komandan setempat. 2) Pintu Darurat. Jika diperlukan area perudangan dapat dilengkapi dengan pintu darurat. Pintu darurat ini harus dalam keadaan tertutup sepanjang waktu. Pintu darurat hanya dibuka/digunakan dalam keadaan darurat dan atas izin komandan setempat.
7 f. Tanaman. Tanaman/pepohonan lokasi gudang senjata dan munisi diatur sebagai berikut: 1) Disekitar gudang hanya diizinkan tanaman hanya jenis rumput terutama di permukaan tanggul untuk mencegah terjadinya erosi. 2) Rumput di area pergudangan harus dipelihara sampai jarak minimum 20 meter dengan ketinggian 10 cm. 3) Di komplek pergudangan diizinkan tanaman jenis tanaman keras dengan jarak yang diatur sedemikian rupa sehingga jika roboh tidak menimpa gudang. 4) Di komplek pergudangan dilarang ditanami segala jenis pertanian yang diusahakan oleh penduduk. g. Listrik. Area pergudangan perlu dilengkapi dengan listrik yang memadai untuk penerangan. Listrik di area pergudangan diatur sebagai berikut: 1) Di area pergudangan listrik yang diizinkan adalah listrik tegangan tinggi dengan tegangan maksimum 650V. Listrik tegangan sangat tinggi (sejenis sutet) tidak diizinkan melintasi area pergudangan. 2) Penyaluran listrik dapat menggunakan kabel udara maupun kabel bawah tanah. 3) Tiang listrik yang ada di area pergudangan tidak boleh lebih tinggi dari pada jarak tiang ke gudang. h. Instalasi Air. Pergudangan senjata dan munisi harus dilengkapi sumber air dan instalasinya, untuk keperluan pemeliharaan dan pemadam kebakaran. Instalasi air harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga dapat mencapai seluruh area pergudangan. 15. Bangunan. Di komplek pergudangan dimungkinkan terdapat bangunan sebagai gudang penyimpanan, gedung perkantoran, bengkel pemeliharaan senjata dan munisi laboratorium maupun gudang transit. Bangunan tempat penyimpanan bahan peledak merupakan bangunan yang berpotensi menimbulkan bahaya ledakan (potential explosive site/PES). Pemilihan bentuk dan desain gudang sangat tergantung pada jenis, jumlah senjata/munisi yang akan disimpan, tingkat perlindungan yang diharapkan dan potensi risiko yang ada. Bangunan lain yang tidak digunakan sebagai tempat penyimpanan/pemrosesan bahan peledak merupakan bangunan yang terekspos bahaya ledakan (exposed site/ES). Bangunan-bangunan tersebut dijelaskan sebagai berikut: a. Light Frangible Structure/Bangunan Ringan (Rapuh). Bangunan ini terbuat dari material yang ringan dan rapuh yang tidak menghasilkan serpihan yang berbahaya. Di samping itu jika bangunan ini terkena dampak ledakan maka bangunan ini akan runtuh tanpa menghasilkan pecahan yang membahayakan bagi personel. Bangunan ini memiliki perlindungan yang rendah dari bahaya ledakan maupun serpihan. Umumnya bangunan ini terdiri atas satu lantai yang terbuat dari rangka baja dengan dinding besi ringan atau alumunium atau bahan lainnya dengan kekuatan yang setara. Untuk mendapatkan perlindungan yang memadai dan menurunkan QD diperlukan tanggul pengaman.
8 b. Medium Walled Building. Bangunan ini terbuat dari dinding tembok dengan ketebalan 215 mm atau 150 mm dinding cor atau batako dengan ketebalan 280 mm dan atap dari konstruksi cor dengan ketebalan 150 mm. Bangunan seperti ini didesain bukan untuk menahan bahaya ledakan yang besar, bangunan ini akan roboh dan akan merusak barang-barang yang ada di dalamnya. Pecahan yang ditimbulkan sangat tergantung pada jumlah bahan peledak yang ada di dalamnya serta tidak didesain untuk menahan pecahan yang dihasilkan oleh ledakan bahan didalamnya maupun pecahan dari luar sehingga berpotensi untuk menginisiasi ledakan di gudang penyimpanan disekitarnya serta menimbulkan cedera personel sehingga dibutuhkan tanggul penahan untuk mengurangi QD. c. Heavy Walled Building With/Without Protective Roof. Bangunan ini memiliki dinding bata setebal 680 mm atau cor 450 mm dan atap cor dengan ketebalan minimal 150 mm. Bangunan seperti ini dapat mencegah inisiasi bahan peledak yang ada di dalamnya yang disebabkan oleh ledakan pada gudang yang ada di sekitarnya. Bangunan ini juga dapat mencegah terlemparnya serpihan berkecepatan tinggi serta efektif meredam dampak kebakaran. Bagian pintu merupakan bagian terlemah dari bangunan ini sehingga diperlukan tanggul di depan pintu. d. Earth Covered Building/ Magazine. Bangunan ini memiliki timbunan tanah yang menutupi atap dengan ketebalan minimum 600 mm. Karakter bangunan ini sama dengan heavy walled building/magazine. Tanggul dibutuhkan untuk menghalangi fragmentasi yang keluar dari pintu. e. Igloo. Bangunan ini didesain untuk mampu menahan blast dan pecahan berkecepatan tinggi sehingga bahan peledak yang ada di dalamnya relatif aman dan tidak akan terinisiasi oleh ledakan yang ada disekitarnya. Umumnya bangunan ini terbuat dari baja atau beton cor selanjutnya ditutup menggunakan tanah dengan ketebalan minimum 600 mm. Bangunan ini tidak membutuhkan perlindungan tambahan berupa tanggul. Kelemahan desain ini membutuhkan jarak aman yang tinggi terhadap pemukiman, sedangkan keuntungannya adalah memerlukan jarak aman yang rendah terhadap bangunan pergudangan yang lain, sehingga dibutuhkan luasan tanah yang lebih kecil untuk membangun sebuah komplek pergudangan igloo. f. Process Building. Bangunan ini merupakan bangunan yang digunakan sebagai tempat memproses munisi dan bahan peledak meliputi gudang transit, bengkel pemeliharaan peluru kendali atau laboratorium. Untuk mengurangi risiko, dapat dikombinasikan antara bentuk bangunan tanggul sehingga ledakan dan fragmentasi dalam arah 0 - 70 derajat dapat ditahan oleh tanggul. Pengurangan risiko lebih difokuskan pada personel sehingga perlu adanya pembatasan jumlah personel yang bekerja pada process building. g. Bangunan Berpenghuni Tetap (perumahan). Bangunan ini didefinisikan sebagai bangunan yang ditempati oleh masyarakat umum, bangunan perkantoran yang tidak menangani bahan peledak dan bangunan lain di dalam komplek militer. Bangunan ini tidak didesain untuk menahan dampak ledakan. h. Konstruksi yang Rentan/Vurnerable Construction. Kriteria bangunan yang dikelompokkan dalam bangunan rentan adalah:
9 1) Bangunan dengan banyak dinding terbuat dari kaca atau material lemah lainnya dengan luas 1.5 m² atau memiliki permukaan kaca/material lemah lebih dari 50%. 2) Bangunan yang memiliki tiga lantai atau lebih atau ketinggian lebih dari 12 meter yang memiliki luas dinding dari kaca lebih dari 1.5 m² atau secara total lebih dari 50%. Tipikal seperti ini juga berlaku bagi bangunan besar dan tinggi. 3) Bangunan yang memiliki atap kaca atau material lemah lainnya dengan luas permukaan total lebih dari 400 m² atau luas per-panel 1.5 m² atau luas atau seluas 50% dari luas total. Bangunan jenis ini biasanya berupa supermarket, mall, shopping center, dan pergudangan retail. 4) Bangunan sensitif merupakan bangunan yang berpotensi roboh tanpa ada beban besar/pengaruh besar dari luar, semata-mata disebabkan struktur bangunan yang rapuh. i. Bangunan Tidak Berpenghuni. Bangunan tidak berpenghuni adalah bangunan yang dalam keadaan normal tidak ditempati oleh manusia namun sewaktu-waktu sangat mungkin ada manusia di dalam bangunan tersebut seperti rumah pompa, tower air, gardu induk, dan lain-lain. j. Jalan Transportasi Publik (Public Transportasion Road/PTR). Yang dimaksud dengan PTR adalah jalan baik dengan pengerasan ataupun tidak yang secara terus menerus digunakan oleh masyarakat sebagai sarana transportasi. 16. Tanggul/Traverse/Barricade. Tanggul memiliki fungsi dan bentuk sebagai berikut: a. Fungsi Tanggul. Tanggul/traverse/barricade dapat berfungsi sebagai: 1) Receptor Traverse. Fungsi tanggul ini adalah untuk melindungi barang/bahan peledak yang ada di dalam gudang dari blast dan fragmentasi secara langsung dari ledakan gudang yang ada di sekitarnya. Tanggul ini digunakan di area pergudangan yang menyimpan bahan peledak dalam jumlah sangat besar. Tanggul ini harus ditempatkan sedekat mungkin dengan gudang yang dilindunginya. 2) Interceptor Traverse. Fungsi dari tanggul ini adalah untuk mencegah terlemparnya fragmentasi atau blast secara langsung mengenai gudang/bangunan lain yang ada di sekitarnya sehingga ledakan tersebut hanya merusak tanggul dan tidak merusak gudang. 3) Container Traverse. Fungsi dari tanggul ini adalah untuk menahan fragmentasi dari ledakan yang berasal dari dalam gudang sehingga dapat melindungi personel, bangunan atau gudang penyimpanan lainnya dari efek ledakan. 4) Screening Traverse. Fungsi dari tanggul ini adalah untuk melindungi bangunan-bangungan berpenghuni tetap (rumah dsb.) dari ledakan dan fragmentasi. Tanggul ini didesain khusus untuk menahan pecahan dengan sudut sampai dengan 40° dan cukup kokoh sehingga tetap berdiri setelah ledakan.
10 b. Bentuk Tanggul. Terdapat beberapa jenis tanggul yang dapat digunakan di lokasi pergudangan senjata/munisi. Pemilihan bentuk tanggul disesuaikan dengan jenis senjata/munisi yang tersimpan, tingkat perlindungan yang diharapkan, ketersediaan lahan yang tersedia. Bentuk tanggul tersebut adalah: 1) Type I, Standard Double Slope. Tipe tanggul ini dibuat dari tanah dengan ketentuan sebagai berikut: a) Tinggi tanggul minimal 0,6 m lebih tinggi dari tumpukan tertinggi munisi dan bahan peledak yang ada di dalam gudang. b) Kemiringan tanggul adalah sebesar 36˚ baik sisi luar maupun dalam. c) Jarak tanggul dan gudang 0,6-1 m dihitung dari bangunan terluar gudang dan tanggul bagian dalam. d) Tebal tanggul yang sejajar dengan tumpukan tertinggi munisi dan bahan peledak minimal 2,4 m. e) Lebar bagian atas tanggul adalah minimal 1 m. f) Tanggul jenis ini digunakan untuk gudang munisi dan bahan peledak dengan nett explosive weight maksimal sebanyak 70.000 kg. 2) Type II, Single Slope Vertical Face. Tipe tanggul ini dibuat dari tanah dengan tembok beton vertikal pada bagian sisi dalam, dengan ketentuan sebagai berikut: a) Tinggi tanggul minimal 0,6 m lebih tinggi dari tumpukan tertinggi munisi dan bahan peledak. b) Kemiringan tanggul sebesar 36˚ di sebelah sisi luar. c) Jarak tanggul dan gudang 0,6-1 m dihitung dari bangunan terluar gudang dan tanggul bagian dalam. d) Tebal tanggul yang sejajar dengan tumpukan tertinggi munisi dan bahan peledak minimal 2,4 m. e) Tanggul jenis ini digunakan untuk gudang munisi dan bahan peledak dengan nett explosive weight maksimal sebanyak 18.000 kg. 3) Type III, Steep Double Slope. Tipe tanggul ini dibuat dari tumpukan tanah dengan sisi bagian dalam dan luar dilapisi tembok, dengan ketentuan sebagai berikut: a) Tinggi tanggul minimal 0,6 m lebih tinggi dari tumpukan tertinggi munisi dan bahan peledak. b) Kemiringan tanggul sebesar 75˚ baik sisi luar maupun dalam.
11 c) Jarak tanggul dan gudang 0,6-1 m dihitung dari bangunan terluar gudang dan tanggul bagian dalam. d) Tebal tanggul yang sejajar dengan tumpukan tertinggi munisi dan bahan peledak minimal 2,4 m. e) Tanggul jenis ini digunakan untuk gudang munisi dan bahan peledak dengan nett explosive weight maksimal sebanyak 18.000 kg. 4) Type IV, Bunker Building or Below Ground. Tipe tanggul ini bagian dalam terbuat dari beton dan bagian luar ditutupi tanah, dengan ketentuan sebagai berikut: a) Tanggul berbentuk bunker menutupi gudang munisi dan bahan peledak, bagian dalam terbuat dari beton yang sekaligus sebagai dinding gudang. b) Tebal tanggul yang sejajar dengan tumpukan tertinggi munisi dan bahan peledak minimal 2,4 m. c) Tinggi dinding vertikal minimal 0,6 m lebih tinggi dari pada tumpukan tertinggi munisi dan bahan peledak. d) Tebal tanggul/tanah yang menutupi puncak bunker minimal 0,6 m dihitung dari lapisan beton teratas. e) Tanggul jenis ini digunakan untuk gudang munisi dan bahan peledak dengan nett explosive weight maksimal sebanyak 70.000 kg. 5) Type V, Wall Traverse. Tipe tanggul ini untuk bangunan terbuat dari beton bertulang (reinforce concrete), dengan ketentuan sebagai berikut: a) Tebal dinding beton tanggul antara 0,45 sampai 0,7 m. b) Jarak dinding beton tanggul dan gudang 0,6 – 1 m. c) Tinggi dinding beton minimal 0,6 m lebih tinggi dari tumpukan tertinggi munisi dan bahan peledak. 17. Persyaratan Fasilitas Bangunan Gudang Senjata dan Munisi. Fasilitas yang perlu disediakan pada atau di sekitar gudang penyimpanan sangat tergantung pada karakteristik senjata/munisi yang disimpan di dalam gudang. Fasilitas tersebut antara lain: a. Bahan Konstruksi. Dalam pemilihan bahan konstruksi untuk bangunan gudang senjata/munisi, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut: 1) Struktur harus terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar. 2) Pada gudang penyimpanan munisi, hindari penggunaan bahan bangunan yang bersifat mudah menyerap uap dan debu. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya penumpukan debu atau uap bahan peledak pada konstruksi bangunan. Untuk meminimalisasi kemungkinan bahan bangunan
12 dapat menyerap uap dan debu explosive maka dinding bangunan perlu dilapisi dengan cat. 3) Jika diperlukan penggunaan bahan kayu dalam pembangunan gudang maka perlu dilaksanakan threatment untuk menciptakan sifat tahan api (lambat terbakar). Kayu keras relatif lebih tahan terhadap api sehingga tidak perlu threatment namun kebakaran pada kayu keras akan lebih sulit untuk dipadamkan. b. Lantai. Persyaratan yang harus dipenuhi dalam mendesain lantai gudang senjata/munisi adalah: 1) Seluruh lantai pergudangan senjata dan munisi haruslah lantai yang terbuat dari beton bertulang (hard reinforce concrete). 2) Lantai gudang untuk menyimpan bahan peledak harus yang bersifat anti debu. Hal ini diperlukan untuk mencegah terperangkapnya debu explosive di lantai. 3) Gudang yang berisi explosive yang diaktifkan dengan elektrik (electro explosive devices/EED) seperti peluru dengan electric priming, rocket, missiles harus memiliki lantai yang bersifat konduktif (tahanan 0 s/d 50 000 Ohm) atau lantai yang bersifat anti elektro statis (50.000 s/d 5 juta Ohm). Jika lantai yang digunakan bersifat anti elektro statis maka personel yang bekerja di gudang tersebut harus dilengkapi dengan peralatan pelindung kejutan listrik. c. Penangkal Petir. Penangkal petir harus mampu melindungi bangunan dari bahaya petir yang ada dengan coverage mencakup seluruh sisi bangunan. Nilai resisten penangkal petir berkisar antara 1-10 Ohm. d. Grounding. Grounding berfungsi untuk menghilangkan elektro statis yang ada pada manusia. Dengan adanya grounding maka potensi risiko ledakan akibat terpaparnya bahan peledak oleh elektrostatis dapat diminimalisasi. Gudang munisi harus dilengkapi dengan grounding (touch pad) yang berada di pintu masuk gudang. Touch pad ini harus terhubung dengan plat/kawat tembaga yang mengelilingi dinding bagian dalam gudang. e. Pintu. Pintu gudang senjata/munisi diatur sebagai berikut: 1) Pintu utama terdiri dari dua pintu, bagian luar terbuat dari plat baja dan bagian dalam terbuat dari tralis besi. 2) Jumlah pintu utama setiap gudang senjata dan munisi maksimal berjumlah dua. 3) Bahan yang diizinkan untuk bahan pintu adalah plat baja dengan rangka penguat. 4) Fasilitas pemeliharaan senjata dan munisi harus dilengkapi dengan escape door yaitu pintu berukuran lebih kecil yang berada sembarang gedung. Pintu ini merupakan pintu emergency apabila terjadi bahaya. Desain pintu ini
13 harus membuka ke arah luar dan harus selalu dalam keadaan terbuka jika terdapat personel yang melaksanakan pemeliharaan. 5) Kekuatan pintu. Ditinjau dari kekuatannya, jenis pintu gudang terbagi atas: a) Three Bars Doors. Pintu ini memiliki kekuatan yang mampu menahan ledakan/tekanan sebesar 3 bar. b) Seven Bars Door. Pintu ini mampu menahan tekanan/ledakan sebesar 7 bar. 6) Kunci. Setiap gudang senjata dan munisi harus memiliki kunci gembok dengan standardisasi keamanan tertentu. 7) Segel. Di samping dilengkapi dengan kunci gembok, gudang senjata dan munisi harus dilengkapi dengan segel yang harus dipasang setiap menutup pintu gudang. f. Jendela. Penggunaan jendela tidak diizinkan pada gudang penyimpanan munisi namun diperbolehkan pada gudang senjata, bengkel pemeliharaan, laboratorium dan gudang transit. Jika pada gudang munisi jendela sangat diperlukan jendela, maka jendela yang digunakan harus jenis fix (permanen) yang tidak dapat dibuka tutup dan dilindungi oleh jeruji besi. Jendela harus diberi kaca susu untuk mencegah masuknya sinar matahari langsung yang dapat meningkatkan suhu ruangan. Untuk meminimalisasi masuknya cahaya matahari maka jendela diupayakan menghadap utara atau selatan. g. Pengatur Suhu dan Kelembaban. Bahan peledak/munisi merupakan bahan yang memiliki kerentanan terhadap suhu dan kelembapan. Penyimpanan pada suhu dan kelembapan yang tidak sesuai akan berdampak pada penurunan usia pakai munisi tersebut sehingga diperlukan pengaturan suhu/kelembapan ruangan gudang penyimpanan. Pengaturan suhu/kelembapan pada gudang senjata/munisi sangat ditentukan oleh jenis dan karakteristik barang yang tersimpan di dalamnya. Batasan dan metode pengaturan suhu gudang senjata/munisi diatur sebagai berikut: 1) Batasan. Batasan yang digunakan dalam menentukan cara pengaturan suhu/kelembapan adalah kondisi di dalam gudang mencapai suhu/kelembapan tersebut. Nilai didapatkan melalui pengamatan terhadap alat ukur suhu/kelembapan ruangan secara terus menerus. Batasan suhu yang diperbolehkan sebagai tersebut: a) Batas Suhu 38° C. Batasan ini digunakan untuk bahan peledak dengan jenis: (1) Berbagai jenis safety fuze. (2) Munisi yang mengandung white phosphor dan smoke agent. (3) Bahan beledak berbasis TNT dan demolition charge.
14 (4) Proyektil yang berisi HE. (5) Triple base propellant. b) Batas Suhu 32° C. Batasan ini digunakan untuk bahan peledak dengan jenis: (1) Single base propellant. (2) Double base propellant, munisi shot gun, mortar. (3) Non safety fuze. (4) Detonator. (5) Roket motor. 2) Metode. Untuk mencapai kondisi di atas metode pengaturan suhu dan kelembaban ruangan gudang penyimpanan senjata/munisi yang dapat dilakukan dengan menggunakan: a) Ventilasi. Ventilasi berguna untuk sirkulasi udara di ruangan gudang. Ventilasi dapat berada pada bagian atas maupun bagian bawah dinding gudang dengan kemiringan plat kisi-kisi 80 derajat. b) Exhaust Blower. Exhaust blower digunakan jika ventilasi tidak mampu menjamin suhu/kelembapan ruangan memenuhi batasan yang telah ditentukan. Exhaust blower berfungsi untuk mengeluarkan udara panas dan uap air yang terperangkap di dalam gudang. c) Air Conditioner dan Dehumidifier. Air conditioner berfungsi menjaga ruangan pada suhu yang stabil. Sedangkan dehumidifier berfungsi menjaga udara ruangan pada kelembapan yang stabil. AC dan dehumidifier digunakan jika penggunaan ventilasi dan exhaust blower tidak mampu menjamin kondisi ruangan pada batas yang telah ditentukan. Jika AC/dehumidifier digunakan pada gudang penyimpanan maka ventilasi dan exhaust blower harus ditiadakan. h. Listrik. Bahan peledak memiliki risiko teraktif tanpa sengaja oleh pengaruh listrik. Di samping itu untuk memenuhi kebutuhan operasional dalam penyimpanan dibutuhkan instalasi listrik di dalam gudang penyimpanan diantaranya untuk penerangan dan pengaturan suhu dan kelembapan ruangan jika diperlukan. Untuk mengakomodasi hal tersebut maka listrik di dalam gudang penyimpanan diatur sebagai berikut: 1) Listrik untuk gudang penyimpanan bahan peledak harus dialirkan melalui kabel bawah tanah. 2) Jarak tiang ke gudang harus lebih besar dari pada tinggi gudang (idealnya 1.5 kali tinggi tiang), dengan asumsi jika tiang tersebut roboh maka tiang tidak akan menimpa gudang.
15 3) Tidak ada listrik bertegangan tinggi yang masuk ke bangunan gudang. Batas tegangan yang diizinkan dipasang di gudang bahan peledak adalah 450VAC, 3 phase, 50/60 Hz. 4) Suplai listrik ke gudang dapat dikontrol dengan satu atau lebih main switch. Jika terdapat lebih dari satu main switch maka fungsi dari setiap main switch harus tertera/tertulis dengan jelas pada setiap main switch tersebut (MCB box). Posisi MCB box ini harus saling berdekatan. 5) MCB box yang digunakan harus tahan terhadap panas kebakaran minimal setengah jam. 6) Main switch untuk suplai listrik terus menerus seperti pendingin ruangan dan dehumidifier harus dipisahkan dengan main switch untuk penggunaan secara temporer seperti penerangan dan lain-lain. 7) Seluruh main switch berada di luar gedung. 8) Fungsi listrik secara parsial (penyalaan masing-masing lampu dan lainlain) dapat menggunakan switch yang berada di dalam gudang. Switch ini harus mampu memutus arus secara total pada sistem yang disuplai oleh switch tersebut. 9) Dilarang menggunakan kabel single solid core atau single insulation pada instalasi listrik di dalam gudang bahan peledak. Jenis kabel yang dapat digunakan adalah: a) Syntehetic rubber insulated atau PVC insulated. b) Mineral insulated metal covered (MMIC). c) XLPE or PVC insulated multi-core armoured cables. d) Thermo-plastic insulated lead sheathed cables with protective covering of thermo-plastic material. e) Thermosetting insulated cables in screwed steel conduit. f) Cross section seluruh kabel power tidak kurang dari 1,5 mm². 10) Soket yang digunakan minimal harus memenuhi standardisasi keselamatan yang tinggi. 11) Dilarang menggunakan multi point adapter. 12) Untuk mencegah timbulnya electric shock terhadap personel gudang/ bangunan dapat dilengkapi ground fault interrupter atau residual current device. Peralatan yang dipasang harus memenuhi standardisasi keselamatan yang tinggi.
16 13) Jika dibutuhkan peralatan listrik maka peralatan yang digunakan harus memenuhi setidaknya standardisasi keselamatan euro certification (CE marked). 14) Seluruh jaringan listrik yang ada di gudang dilindungi dengan pipa yang tahan ledakan (pipa besi atau pipa lain yang bersertifikat explosive proof) dan seluruh jaringan listrik terlindungi dari kemungkinan masuknya bahan padat (debu) bahan cair (air) atau bahan gas berupa uap air. 15) Instalasi listrik harus terlindungi dari dampak interferensi gelombang elektromagnetik. 16) Seluruh jaringan listrik harus terlindung dari potensi kebakaran baik dari dalam maupun dari luar. 17) Peralatan yang digunakan haruslah spark free. 18) Penggunaan lampu untuk penerangan diperbolehkan dengan persyaratan dilarang menggunakan lampu tanpa perlindungan tambahan berupa kaca atau bahan lainnya sehingga jika lampu pecah tidak menghasilkan percikan langsung yang dapat membahayakan bahan peledak. 19) Saat gudang ditinggalkan tanpa pengawasan, hanya listrik yang bersifat esensial yang boleh dibiarkan menyala (pengatur suhu ruangan dan dehumidifier). Listrik yang tidak esensial (lampu dan lain-lain) harus dimatikan. i. Pemadam Kebakaran. Bahan peledak merupakan bahan yang berpotensi risiko tinggi jika terpapar oleh api sehingga perlu perlindungan yang baik dari ancaman bahaya api. Untuk dapat memberikan perlindungan terbaik maka penataan pemadam kebakaran didasarkan pada prinsip pemadam kebakaran pada bahan peledak, upaya pencegahan bahaya api dan pemenuhan peralatan pemadam kebakaran. 1) Prinsip. Api merupakan salah satu bentuk energi yang timbul karena adanya interaksi antara fuel, oksidizer yang diinisiasi oleh panas. Upaya umum yang dilakukan dalam mencegah dan memadamkan api adalah dengan menghilangkan fuel, dan atau mencegah oksidizer mencapai fuel serta menurunkan suhu sehingga reaksi pembakaran tidak terjadi. Pada bahan peledak, fuel dan oksidizer berada dalam komposisi bahan peledak tersebut sehingga langkah menghilangkan fuel dan mencegah oksidizer mencapai fuel tidak dapat dilakukan. Upaya yang dapat dilakukan adalah mencegah bahan peledak dari paparan suhu yang tinggi. 2) Upaya Penanganan Bahaya Api. Dalam pencegahan bahaya api terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan secara terintegrasi. Upaya tersebut adalah: a) Mencegah Timbulnya Api. Pencegahan timbulnya api ini dapat dilakukan dengan: (1) Larangan merokok di sekitar gudang.
17 (2) Melarang pembawaan korek api. (3) Melarang pembakaran sampah di sekitar gudang. (4) Memelihara tanaman disekitar gudang. b) Peringatan Adanya Api. Peringatan adanya bahaya api berupa sirine diperlukan untuk mengingatkan personel tentang bahaya api sehingga dapat melakukan tindakan pemadaman segera. Peringatan ini dapat berupa alarm otomatis menggunakan alat pendeteksi api/panas ataupun yang dioperasikan secara manual. c) Memadamkan Api di Luar Gudang. Api dari luar gudang dapat disebabkan oleh pembuangan puting rokok secara sembarangan, kebakaran alami rumput kering disekitar gudang karena suhu lingkungan yang tinggi dan sebagainya. Api yang masih yang berada di luar gudang baik kecil ataupun besar harus dipadamkan dengan segala upaya yang dapat dilakukan. d) Mencegah Api Masuk ke Gudang. Pencegahan api memasuki gudang dapat dilakukan dengan: (1) Menjaga kebersihan sekitar gudang. (2) Membuat lantai pembatas antara kaki tanggul dengan dinding gudang. (3) Memadamkan api yang memasuki gudang dengan menggunakan water sprinkle yang bekerja secara otomatis atau dengan alat pemadam kebakaran besar. e) Memadamkan Api yang Ada di Dalam Gudang. Mengingat karakteristik bahan peledak sebagaimana yang dijelaskan di atas, maka pemadaman api yang ada di dalam gudang sedapat mungkin tanpa melibatkan personel. Sistem pemadaman api yang ada di dalam gudang dilaksanakan dengan pemadam api otomatis. f) Alpeka tradisional. 3) Alat Pemadam Kebakaran. Alat pemadam kebakaran dapat terdiri dari: a) Hydrant. b) Water sprinkle. c) Alpeka portable. d) Alpeka otomatis. e) Kendaraan pemadam kebakaran.
18 4) Penggunaan Alpeka Besar. Penggunaan alpeka besar dalam menanggulangi bahaya api diatur sebagai berikut: a) Pemadaman Api Gudang Nonexplosive. Pemadaman api pada gudang nonexplosive harus diupayakan semaksimal mungkin tanpa adanya batasan waktu dan besarnya, kegiatan pemadaman api sama dengan pemadaman api pada gedung perkantoran. b) Pemadaman Api Pada Gudang Munisi Dengan HD 1.1. dan HD 1.2. Pemadaman dilakukan dengan tujuan utama mendinginkan suhu gudang dalam rangka menghindari terjadinya inisiasi ledakan oleh panas. Pada gudang bahan peledak dengan HD 1.1 dan HD 1.2 pemadaman dilakukan dari belakang tanggul. Pemadaman dilaksanakan dengan batasan waktu maksimal 30 menit atau saat terjadi ledakan kecil pertama. Jika telah terjadi ledakan kecil pertama segera tinggalkan lokasi kebakaran. Hal ini perlu dipegang teguh mengingat setelah ledakan kecil pertama terjadi akan diikuti oleh ledakan berikutnya yang semakin besar. c) Pemadaman Api Pada Gudang Munisi Dengan HD 1.3. Pemadaman dilakukan dengan tujuan utama mendinginkan suhu gudang dalam rangka menghindari terjadinya inisiasi ledakan dan pembakaran bahan peledak oleh panas. Pada gudang bahan peledak dengan HD 1.3 pemadaman dilakukan dari belakang tanggul. Pemadaman dilaksanakan dengan batasan waktu maksimal 15 menit atau saat terjadi lontaran api pertama. Jika telah terjadi lontaran pertama segera tinggalkan lokasi kebakaran. Hal ini perlu dipegang teguh mengingat setelah lontaran api pertama terjadi akan diikuti oleh lontaran berikutnya yang semakin besar dan intensitas semakin tinggi. d) Pemadaman Api Pada Gudang Munisi Dengan HD Selain 1.1, HD 1.2 dan HD 1.3. Upaya pemadaman api harus dilaksanakan semaksimal mungkin tanpa ada batasan waktu dan indikasi ledakan. Pemadaman dilakukan dengan tujuan utama mendinginkan suhu gudang dan memadamkan api tersebut. Pada gudang bahan peledak dengan HD selain HD 1.1, HD 1.2 dan HD 1.3 pemadaman dapat dilakukan dari segala arah. Tidak ada risiko terjadi ledakan besar, terlemparnya fragment atau lontaran bunga api yang membahayakan. Ledakan yang terjadi akan berupa letupan kecil yang tidak membahayakan. j. Marking. Untuk memudahkan dalam mengidentifikasi isi gudang, pencegahan dan penanganan bahaya, maka gudang perlu dilengkapi dengan tanda-tanda setidaknya: 1) Nomor gudang pada dinding gudang. 2) Simbol hazard divison pada dinding gudang dan plakat pada jalan masuk menuju gudang. 3) Simbol larangan penyalaan api berupa larangan membakar dan larangan merokok.
19 4) Simbol larangan penggunaan alat komunikasi pada gudang dengan karakteristik barang tertentu. 5) Simbol kewajiban melaksanakan grounding pada gudang dengan karakteristik barang tertentu. BAB IV PELAKSANAAN STANDARDISASI GUDANG SENJATA DAN MUNISI 18. Umum. Pergudangan senjata dan munisi mempersyaratkan pemenuhan aspek baik aspek safety maupun aspek security. Standardisasi pergudangan munisi khususnya munisi live juga mempersyaratkan banyak ketentuan seperti jenis munisi yang disimpan berdasarkan pembagian hazard division (HD) serta berat explosive (nett explosive weight). Dalam pembangunan pergudangan munisi live harus memperhitungkan jarak aman jika terjadi ledakan baik jarak antar gudang munisi, jarak gudang munisi dengan perkantoran maupun jarak gudang munisi dengan fasilitas umum di sekitarnya. 19. Standardisasi Gudang Senjata. Senjata merupakan komoditi barang yang dikategorikan dalam material super control item, yang membutuhkan penanganan khusus karena memiliki tingkat kerawanan tinggi (pencurian/penggunaan oleh pihak tidak bertanggung jawab) sehingga penyimpanannya harus berada dalam satu kawasan pergudangan di bawah tanggung jawab pejabat pengelolanya serta harus mengutamakan safety dalam setiap pemakaian/penggunaanya. 20. Penggolongan Senjata. Materiel senjata dibagi menjadi beberapa golongan/ kelompok sebagai berikut: a. Senjata Darat: 1) Senjata genggam. 2) Senjata mitraliur. 3) Senjata laras panjang. 4) Senjata runduk. 5) Senjata mesin. 6) Mortir. 7) Senjata anti kendaraan lapis baja. 8) Senjata artileri pertahanan udara. 9) Senjata pelontar granat. 10) Senjata khusus.
20 b. Senjata Udara: 1) Cannon. 2) External store. c. Peluru Kendali Pertahanan Udara (MANPADS): 1) QW-3. 2) Chiron. d. Perlengkapan Senjata: 1) Perlengkapan senjata darat. 2) Perlengkapan senjata udara. 3) Perlengkapan MANPADS. 4) Perlengkapan pasukan/perorangan. 21. Standardisasi Bangunan Gudang Senjata. Untuk menjamin keamanan penyimpanan materiel senjata beserta kelengkapan, pergudangan senjata harus memenuhi persyaratan standardisasi bangunan, agar materiel yang berada di gudang penyimpanan maupun personel yang menangani dapat terjamin keamanannya. a. Gudang Senjata Nonexplosive. Gudang senjata nonexplosive harus memenuhi standardisasi sebagai berikut: 1) Bangunan. Bangunan untuk gudang ini adalah medium walled building. 2) Atap. Bangunan ini tidak memerlukan perkuatan pada langit-langit (nonreinforce roof) namun perlu dilengkapi dengan teralis untuk mencegah aksi pencurian. 3) Pintu. Pintu bangunan ini tidak membutuhkan bar standar karena tidak diperuntukkan untuk menahan ledakan namun harus cukup kokoh untuk menjamin faktor keamanan dari pencurian. 4) Jendela. Jendela seminimal mungkin untuk menghindari masuknya debu dan menghindari pencurian. Jika dibutuhkan jendela pada bangunan ini maka jendela perlu dilengkapi dengan teralis untuk meningkatkan keamanan barangbarang yang tersimpan. 5) Tanggul. Pada dasarnya bangunan ini tidak membutuhkan tanggul. 6) Lantai. Lantai harus cukup kuat untuk menahan beroperasinya alat angkut dan alat pergudangan. 7) Listrik. Listrik dapat digunakan dalam bangunan ini dengan standar instalasi perkantoran.
21 8) Pengatur suhu dan kelembapan. Suhu dan kelembapan diatur dengan memberi ventilasi pada dinding bagian bawah bangunan. 9) Alat pemadam kebakaran. Alpeka diperlukan untuk mencegah api memasuki gudang maupun api yang telah masuk ke gudang. 10) Grounding. Tidak diperlukan. 11) Penangkal petir. Penangkal petir diperlukan dengan standardisasi bangunan perkantoran. b. Gudang Senjata yang Mengandung Explosive. Gudang senjata yang mengandung explosive harus memenuhi standar yang disesuaikan dengan komoditi tiap-tiap senjata yang berisikan explosive sesuai hazard division (HD) masingmasing. Contoh senjata ini adalah rudal MANPADS QW-3, chiron, senjata lawan tank (SLT) dan lain-lain. 22. Standardisasi Gudang Munisi. Standardisasi gudang dan fasilitas yang ada yang diperlukan disesuaikan dengan jenis atau karakteristik bahan yang disimpan/hazard division. Dalam praktik penyimpanan akan terjadi penggabungan dua atau lebih jenis munisi. Penggabungan ini akan memengaruhi perlakuan terhadap barang-barang tersebut. Penggabungan ini juga akan berdampak pada jarak aman/quantity distance (QD). 23. Hazard Division. Untuk menjamin keselamatan dalam penyimpanan dan pengangkutan, secara internasional seluruh bahan berbahaya dikelompokkan menjadi sembilan kelompok (kelas 1 sampai dengan 9). Penggolongan berdasarkan hazard division (HD) ini ditujukan untuk menentukan tingkat perlindungan dan penanganan/ handling yang dibutuhkan sehingga personel, alutsista dan materiel lain yang berada disekitarnya tetap dalam keadaan aman saat terjadi kecelakaan/accident/unexpected explosion/burning. HD dari setiap bahan peledak dapat dilihat pada label kemasan bahan peledak tersebut. Guna dari pembagian dalam HD ini adalah untuk menyederhanakan penyusunan regulasi terkait keselamatan dalam penyimpanan dan transportasi. Personel diharapkan mengerti pembagian kelompok HD, khususnya HD kelas 1 dan penggabungan munisi yang berbeda kelas HD. a. Pembagian Hazard Division. Pembagian HD sebagai berikut: 1) HD 1.1. Bahan peledak yang termasuk dalam H.D 1.1 adalah bahan yang memiliki bahaya berupa mass explosion dan menghasilkan luncuran partikel berkecepatan tinggi maupun rendah. Yang dimaksud dengan mass explosion adalah ledakan yang dihasilkan dapat menginisiasi/meledakkan bahan peledak lain yang ada di dalam gudang. Dampak dari ledakan akan sangat tergantung dari jumlah bahan peledak tersebut. Di samping itu juga terdapat risiko luncuran puing-puing bekas runtuhan bangunan. Adapun yang termasuk HD 1.1 antara lain bulk high explosive (seperti TNT Block, C-4 Block), bomb live/high explosive, bomb cluster, senjata lawan tank (SLT) nonguided, RBR-90, mortar 81 mm, detonator, granat HE, maverick missile. 2) HD 1.2. Bahan peledak yang termasuk dalam HD 1.2 adalah bahan yang memiliki bahaya berupa luncuran partikel berkecepatan tinggi tetapi tidak menimbulkan mass explosion. Ledakan jenis ini akan menghasilkan benda-
22 benda yang terbakar sedikit demi sedikit disamping itu masih terus meledak. Selain itu, fragmentasi, bara api dan benda yang belum meledak dapat terlempar dalam jumlah yang cukup besar, beberapa di antaranya dapat meledak ketika terjadi tumbukan selanjutnya menimbulkan api atau lebih banyak ledakan. Efek ledakan terbatas pada lingkungan yang terpapar secara langsung. QD bagi hazard division ini tergantung kemungkinan jarak dari fragmentasi item yang lebih berbahaya yaitu bahan peledak dengan NEQ diatas 0,73 kg. Contoh munisi yang termasuk HD 1.2 antara lain warhead HE roket FFAR, warhead rudal, munisi kaliber besar yang mengandung high explosive, peluru 35 mm AHEAD Oerlikon, peluru 30 mm HE/HEI DEFA/ADEN. 3) HD 1.3. Bahan peledak yang termasuk dalam HD 1.3 adalah bahan peledak yang memiliki bahaya api dan bahaya ledakan dalam level yang rendah atau bahaya lontaran fragmentasi dalam level rendah atau keduanya namun tidak menimbulkan bahaya mass explosion. Bahan ini dapat berupa bahan yang dapat menimbulkan sambaran api yang sangat besar dan panas yang sangat tinggi serta radiasi yang tinggi atau bahan yang dapat terbakar secara sporadis. Bahan ini biasanya dapat meledak tanpa menimbulkan fragment yang berbahaya namun menghasilkan bara api yang dapat terlempar. Adapun yang termasuk HD 1.3 antara lain chaff dan flare, motor rocket. 4) HD 1.4. Bahan peledak yang termasuk dalam HD 1.4 adalah bahan yang apabila terbakar mengakibatkan kebakaran namun, tidak terjadi efak blast atau fragmentasi. Jika ada lontaran fragmentasi maka radius lontaran tersebut relatif pendek, api yang ditimbulkan tidak menyebabkan mass explosion. Contoh munisi yang termasuk HD 1.4 antara lain munisi kaliber kecil, munisi kaliber besar practice, bomb fuze, CAD PAD, sumbu ledak, sumbu api. 5) HD 1.5. Bahan peledak yang termasuk dalam HD 1.5 adalah bahan yang tidak sensitif namun dapat menghasilkan mass explosion. Sangat kecil kemungkinan bahan ini meledak meskipun terbakar dalam waktu yang lama. Untuk tujuan penyimpanan HD 1.5 diperlakukan seperti HD 1.1 karena tipe bahaya yang ditimbulkan sama. Adapun yang termasuk HD 1.5 antara lain bomb yang berisi main charge insensitive (PBXN-109). 6) HD 1.6. Bahan peledak yang termasuk dalam HD 1.6 adalah bahan yang sangat tidak sensitif dan tidak menghasilkan mass explosion. Kemungkinan bahan ini terinisiasi atau terpropagasi sangat rendah sampai tingkat yang dapat diabaikan. Adapun yang termasuk HD1.6 antara lain fuze yang tidak mengandung explosive. b. Penggabungan Hazard Division. Penggabungan bahan peledak yang memiliki HD berbeda dapat mengakibatkan perubahan karakter dari karakter bahanbahan yang digabungkan. Ketika dua bahan dengan HD yang berbeda digabungkan maka bahan gabungan tersebut harus diidentifikasi dengan HD yang baru. Perubahan HD tersebut dapat dilihat pada lampiran. 24. Compatibility Group. Keamanan bahan peledak dalam penyimpanan atau transportasi akan lebih terjamin jika setiap kelompok ditempatkan secara terpisah. Namun hal ini tidak selalu dapat diterapkan sehingga perlu ada keseimbangan antara tingkat keamanan yang ingin dicapai dan kepraktisan dalam operasional. Bahan peledak dianggap kompatibel jika dapat disimpan/diangkut secara bersamaan atau dalam jumlah
23 tertentu tanpa adanya peningkatan risiko kecelakaan secara signifikan. Bahan peledak dianggap tidak kompatibel jika penyimpanan/pengangkutan secara bersamaan akan meningkatkan risiko kecelakaan yang signifikan. Compatibility group dari setiap bahan peledak dapat dilihat pada kemasan atau dokumen barang dari pabrikan (material safety data sheet/MSDS). Kompatibilitas bahan peledak dapat dilihat pada tabel, sedangkan pengertian kompatibilitas tiap group sebagai berikut: a. Kelompok A. Bahan peledak yang digolongkan ke dalam kelompok A adalah bahan peledak yang untuk isian pertama dalam explosive train atau primer. Bahan tersebut sangat peka terhadap gesekan, panas, pukulan/perkusi atau listrik namun memiliki efek ledakan yang relatif kecil. b. Kelompok B. Bahan peledak yang digolongkan ke dalam kelompok B adalah bahan peledak primer yang tidak memiliki dua atau lebih fitur pengaman. Partikel mengandung zat peledak primer dan tidak mengandung dua atau lebih fitur pelindung. Termasuk kelompok ini antara lain detonator electric, blasting cap, small arm primary, sumbu ledak. c. Kelompok C. Bahan peledak yang digolongkan ke dalam kelompok C adalah bahan peledak jenis propellant atau bahan peledak deflagrasi lain, atau partikel yang mengandung zat peledak tersebut. Termasuk kelompok ini antara lain single, double, triple base dan composite propellant, rocket motor (solid propellant). d. Kelompok D. Bahan peledak yang tergolong dalam kelompok D adalah bahan peledak berupa detonator sekunder atau bubuk hitam (black powder) atau partikel yang mengandung bahan peledak detonator sekunder, masing-masing tanpa alat pembakaran dan pendorong proyektil bawaan, atau partikel yang mengandung bahan peledak primer tanpa dua atau lebih fitur pelindung yang efektif. Termasuk golongan ini adalah munisi yang berisi HE tanpa isian pendorong, black powder, wet RDX atau PETN, bomb, proyektil, dan CBU’s. e. Kelompok E. Bahan peledak yang tergolong dalam kelompok E adalah bahan peledak yang mengandung detonator sekunder, tanpa alat pembakaran bawaan, namun dengan pendorong proyektil (selain dari yang mengandung cairan mudah terbakar atau gel atau cairan hypergolic). Termasuk golongan ini adalah munisi yang berisi HE dengan isian pendorong. f. Kelompok F. Bahan peledak yang tergolong dalam kelompok F adalah bahan peledak yang mengandung detonator sekunder dengan alat pembakaran bawaan dan dengan pendorong proyektil (selain dari yang mengandung cairan mudah terbakar atau gel atau cairan hypergolic) atau tanpa pendorong proyektil, hand grenade dan rifle grenade. g. Kelompok G. Bahan peledak yang tergolong dalam kelompok G piroteknik, atau bahan yang mengandung zat piroteknik, atau partikel yang mengandung bahan peledak ditambah bahan yang menghasilkan cahaya, menghasilkan api, incendiary atau menimbulkan asap (selain partikel yang aktif ketika terkena air atau yang mengandung fosfor putih, fosfida, zat piroforik, cairan atau gel yang mudah terbakar, atau cairan hipergolik). Termasuk golongan ini adalah illuminating, incendiary, smoke, tear grenades.
24 h. Kelompok H. Bahan peledak yang tergolong dalam kelompok H adalah bahan yang mengandung bahan peledak dan fosfor putih, contohnya adalah munisi yang berisi bahan ledak dan white phosphorus atau pyrophoric yang lain. i. Kelompok J. Bahan peledak yang tergolong dalam kelompok J adalah bahan yang mengandung bahan peledak serta cairan atau gel yang mudah terbakar. j. Kelompok K. Bahan peledak yang tergolong dalam kelompok K adalah bahan yang mengandung bahan peledak dan bahan kimia beracun. Adapun contoh kelompok K antara lain fuel air explosive device dan liquid fueled missiles, mortar, grenade, rocket dan bom yang berisi cairan kimia. k. Kelompok L. Bahan peledak yang tergolong dalam kelompok L bahan peledak yang mengandung bahan peledak dan mengakibatkan risiko khusus (misalnya aktif ketika terkena air atau adanya cairan hipergolik, fosfida atau zat piroforik) dan membutuhkan isolasi untuk masing-masing jenisnya. Contohnya adalah water activated devices, prepackage hypergolic liquid fueled rocket engine, fuel air explosive (FAE) device dan TEA (triethyl aluminium). l. Kelompok N. Bahan peledak yang tergolong dalam kelompok N adalah bahan yang mengandung bahan peledak yang sangat tidak sensitif dan menunjukkan probabilitas teraktifkan atau propagasi tak disengaja yang sangat kecil/dapat diabaikan. m. Kelompok S. Bahan peledak yang tergolong dalam kelompok S adalah bahan yang sangat tidak sensitif atau dirancang sedemikian rupa sehingga kecil kemungkinan akan teraktif dengan tidak sengaja. Jika teraktif bahan ini tidak menimbulkan efek ledakan atau lontaran fragmentasi yang membahayakan dan tidak menyulitkan dalam pemadaman api. Contohnya adalah thermal batteries dan explosive switches or valve. 25. Nett Explosive Quantity (NEQ). Pada dasarnya NEQ adalah massa/berat total satu jenis bahan peledak. Berat/massa total ini didapatkan dengan mengalikan berat bahan peledak salah satu unit/butir/ea dengan jumlah satuan. Jika terjadi penggabungan dua atau lebih jenis bahan peledak maka penghitungan didasarkan pada jumlah total dengan mengacu pada referensi aturan penggabungan. 26. Quantity Distance (QD). Dalam istilah umum dikenal dengan safety distance. Istilah safety distance dapat menimbulkan kesalahan persepsi bahwa jarak tersebut merupakan jarak yang aman. Namun dalam praktiknya tidak ada jaminan bahwa personel, bangunan dan alutsista yang berada pada jarak yang telah dihitung akan benarbenar aman. Dengan demikian QD bukanlah jarak aman namun jarak di mana risiko/bahaya yang ditimbulkan oleh ledakan berada pada tingkat yang dapat ditolerir dihadapkan pada tuntutan operasional. QD hanya ditujukan bagi explosive dengan hazard division 1.1, 1.2 dan 1.3 dan tidak berlaku bagi bahan peledak dengan HD selain itu. Perhitungan QD merupakan kombinasi antara bentuk bangunan/gudang penyimpanan, bangunan/fasilitas yang terekspos bahaya ledakan, tanggul dan berat bahan peledak (nett explosive weight/NEW) yang tersimpan. Gunakan tabel pada lampiran untuk menghitung QD.
25 27. Penggolongan Gudang Berdasarkan Karakteristik Bahan. Berdasarkan karakteristik barang yang tersimpan di dalamnya gudang senjata dan munisi digolongkan sebagai berikut: a. Gudang Munisi Nonexplosive. Gudang ini berisi barang-barang yang sama sekali tidak mengandung bahan peledak dan tidak memiliki risiko ledakan. Barangbarang yang tersimpan di dalam gudang ini berupa bomb dummy/latih beserta kelengkapannya. b. Gudang Munisi Explosive. Adapun Gudang Munisi Explosive meliputi sebagai berikut: 1) Gudang munisi dengan H.D 1.1 dan HD 1.2. 2) Gudang munisi dengan H.D 1.3. 3) Gudang munisi dengan HD 1.4. 4) Gudang munisi dengan HD 1.5 dan HD 1.6. 5) Gudang munisi dengan selain tersebut di atas. 28. Standardisasi Gudang. Standardisasi gudang dan fasilitas yang ada yang diperlukan disesuaikan dengan jenis atau karakteristik bahan yang disimpan. Gudanggudang tersebut harus memenuhi standardisasi sebagai berikut: a. Gudang Munisi Nonexplosive. Gudang munisi nonexplosive harus memenuhi standar sebagai berikut: 1) Bangunan. Bangunan untuk gudang ini adalah medium walled building atau open storage. 2) Atap. Bangunan ini tidak memerlukan perkuatan pada langit-langit (nonreinforce roof) namun perlu dilengkapi dengan teralis untuk mencegah aksi pencurian. 3) Pintu. Pintu bangunan ini tidak membutuhkan bar standar karena tidak diperuntukkan untuk menahan ledakan namun harus cukup kokoh untuk menjamin faktor keamanan dari pencurian. 4) Jendela. Jendela seminimal mungkin untuk menghindari masuknya debu, menghindari pencurian. Jika dibutuhkan jendela pada bangunan ini maka jendela perlu dilengkapi dengan teralis untuk meningkatkan keamanan barang-barang yang tersimpan. 5) Tanggul. Pada dasarnya bangunan ini tidak membutuhkan tanggul. 6) Lantai. Bangunan ini tidak mempersyaratkan lantai anti elektrostatik atau konduktifitas. Lantai harus cukup kuat untuk menahan beroperasinya alat angkut dan alat pergudangan dengan kekuatan beton K-350.
26 7) Listrik. Listrik dapat digunakan dalam bangunan ini dengan standardisasi instalasi perkantoran. 8) Pengatur Suhu dan Kelembapan. Suhu dan kelembapan ruangan bangunan ini tidak perlu diatur dengan alat tambahan. Suhu dan kelembapan diatur dengan memberi ventilasi pada dinding bagian bawah bangunan. 9) Alat Pemadam Kebakaran. Alpeka diperlukan untuk mencegah api memasuki gudang maupun api yang telah masuk ke gudang. 10) Grounding. Tidak diperlukan. 11) Penangkal Petir. Penangkal petir diperlukan dengan standardisasi bangunan perkantoran. b. Gudang munisi dengan bahan peledak H.D 1.1 dan H.D 1.2. Gudang ini harus memenuhi standardisasi sebagai berikut: 1) Bangunan. Bangunan untuk gudang ini adalah: a) Heavy walled building dengan tanggul di depan pintu. b) Earth covered building dan igloo dengan tanggul berada di depan pintu. c) Light frangible dan medium walled building meskipun tidak dilarang namun diupayakan untuk tidak digunakan mengingat tingginya tingkat risiko dan besar jarak yang dibutuhkan untuk QD. Jika jenis bangunan ini terpaksa digunakan diupayakan semaksimal mungkin untuk dilengkapi dengan tanggul. Maksimum NEW yang diizinkan adalah 18.000 kg dan harus dilengkapi dengan tanggul sekeliling bangunan. 2) Pintu. Pintu bangunan ini harus memenuhi standardisasi seven bars door. 3) Jendela. Jendela tidak diizinkan pada setiap bangunan penyimpanan bahan peledak. 4) Lantai. Bangunan ini tidak mempersyaratkan lantai anti elektrostatik atau konduktifitas. Lantai harus cukup kuat untuk menahan beban, beroperasinya alat angkut dan alat pergudangan. 5) Listrik. Instalasi listrik dalam bangunan ini harus memenuhi persyaratan pada paragraf 14h. 6) Pemadam Kebakaran. Sistem pemadam kebakaran yang harus dipenuhi oleh bangunan ini periksa paragraf 16i. 7) Grounding. Grounding diperlukan minimal berada di pintu masuk bangunan berupa touch pad.
27 8) Pengatur suhu dan kelembapan. Pengaturan suhu dan kelembapan ruangan gudang jenis ini disesuaikan dengan paragraf 13g. 9) Penangkal petir. Penangkal petir pada bangunan ini harus memenuhi standardisasi pada paragraf 12c. c. Gudang munisi dengan bahan peledak H.D 1.3. Gudang ini harus memenuhi standardisasi sebagai berikut: 1) Bangunan. Bangunan untuk gudang ini adalah: a) Medium walled building dengan ketentuan harus dilengkapi dengan tanggul sekeliling bangunan. b) Heavy walled building, earth covered building dan igloo dengan ketentuan tanggul di depan pintu. c) Light frangible building meskipun tidak dilarang namun sedapat mungkin untuk tidak digunakan mengingat tingginya tingkat resiko dan besarnya QD yang dipersyaratkan. 2) Pintu. Pintu bangunan ini harus memenuhi standar setidaknya three bars door. 3) Jendela. Jendela tidak diizinkan pada setiap bangunan penyimpanan bahan peledak. 4) Lantai. Bangunan ini tidak mempersyaratkan lantai anti elektrostatik atau konduktifitas. Lantai harus cukup kuat untuk menahan beban, beroperasinya alat angkut dan alat pergudangan. 5) Listrik. Instalasi listrik dalam bangunan ini harus memenuhi persyaratan pada paragraf 14h. 6) Pemadam Kebakaran. Sistem pemadam kebakaran yang harus dipenuhi oleh bangunan ini periksa paragraf 16i. 7) Grounding. Grounding diperlukan minimal berada di pintu masuk bangunan berupa touch pad. 8) Pengatur suhu dan kelembapan. Pengaturan suhu dan kelembapan ruangan gudang jenis ini disesuaikan dengan paragrap 13g. 9) Penangkal petir. Penangkal petir pada bangunan ini harus memenuhi standar pada paragraf 12c. d. Gudang munisi dengan bahan peledak H.D 1.4. Gudang ini harus memenuhi standardisasi sebagai berikut: 1) Bangunan. Bangunan untuk gudang ini dapat berupa medium walled building, heavy walled building, earth covered building atau igloo.
28 2) Pintu. Pintu bangunan ini tidak mempersyaratkan pintu dengan bars standardisasi namun untuk pertimbangan keamanan diperlukan pintu yang cukup kuat. 3) Jendela. Jendela tidak diizinkan pada bangunan ini. 4) Lantai. Bangunan ini tidak mempersyaratkan lantai anti elektrostatik atau konduktifitas. Lantai harus cukup kuat untuk menahan beban, beroperasinya alat angkut dan alat pergudangan. 5) Listrik. Instalasi listrik dalam bangunan ini harus memenuhi persyaratan pada paragraf 14h. 6) Tanggul. Bangunan ini tidak mempersyaratkan adanya tanggul. 7) Pemadam kebakaran. Sistem pemadam kebakaran yang harus dipenuhi oleh bangunan ini periksa paragraf 16i. 8) Grounding. Grounding diperlukan minimal berada di pintu masuk bangunan berupa touch pad. 9) Pengatur suhu dan kelembapan. Pengaturan suhu dan kelembapan ruangan gudang jenis ini disesuaikan dengan paragraf 13g. 10) Penangkal petir. Penangkal petir pada bangunan ini harus memenuhi standardisasi pada paragraf 12c. e. Gudang munisi dengan bahan peledak HD 1.5 dan HD 1.6. Gudang ini harus memenuhi standardisasi sebagai berikut: 1) Bangunan. Semua jenis bangunan dapat digunakan untuk gudang ini meliputi light frangible building atau open storage, medium walled building, heavy walled building, earth covered building dan igloo. 2) Pintu. Pintu bangunan ini tidak mempersyaratkan pintu dengan bars standar namun untuk pertimbangan keamanan diperlukan pintu yang cukup kuat. 3) Jendela. Jendela tidak diizinkan pada bangunan ini. 4) Lantai. Bangunan ini tidak mempersyaratkan lantai anti elektrostatik atau konduktifitas. Lantai harus cukup kuat untuk menahan beban, beroperasinya alat angkut dan alat pergudangan. 5) Listrik. Instalasi listrik dalam bangunan ini harus memenuhi persyaratan pada paragraf 14h. 6) Tanggul. Bangunan ini tidak mempersyaratkan adanya tanggul. 7) Pemadam kebakaran. Sistem pemadam kebakaran yang harus dipenuhi oleh bangunan ini periksa paragraf 16i.
29 8) Grounding. Grounding tidak diperlukan. 9) Pengatur suhu dan kelembapan. Pengaturan suhu dan kelembapan ruangan tidak diperlukan pada gudang jenis ini. 10) Penangkal petir. Penangkal petir pada bangunan ini harus memenuhi standardisasi pada paragraf 12c. f. Gudang munisi dengan bahan peledak HD 1.1, HD 1.2 dan HD 1.3 dengan karakteristik Electro Explosive Devices. Persyaratan gudang untuk jenis ini mengikuti HD yang menyertainya dengan tambahan: 1) Lantai. Lantai bangunan mempersyaratkan lantai anti electrostatic atau conductivity floor. 2) Grounding. Di samping grounding yang ada di pintu masuk gudang dibutuhkan grounding di dalam ruangan sebagai grounding kemasan barang tersebut. g. Gedung perbengkelan munisi. Bengkel munisi dapat berupa ruang pengujian rocket motor dan missiles. 1) Bangunan. Bangunan untuk bengkel ini adalah medium walled building. 2) Atap. Bangunan ini tidak memerlukan perkuatan pada langit-langit (nonreinforce roof). 3) Pintu. Pintu bangunan ini harus memenuhi standardisasi seven bars door. Di samping pintu utama dipersyaratkan escape door yang dengan pembukaan ke arah luar. Saat ada pekerjaan di bengkel, maka pintu harus dalam keadaan terbuka. 4) Jendela. Bangunan ini dapat dilengkapi dengan jendela berteralis besi. 5) Tanggul. Bangunan ini tidak membutuhkan tanggul. 6) Lantai. Bangunan ini mempersyaratkan lantai anti elektrostatik atau konduktifitas. 7) Listrik. Instalasi listrik pada bangunan ini harus memenuhi standardisasi pada paragraf 14h. 8) Pengatur Suhu dan kelembapan. Suhu dan kelembapan ruangan bangunan ini tidak perlu diatur dengan alat tambahan. 9) Alat Pemadam Kebakaran. Alat pemadam kebakaran pada bangunan ini cukup dengan alat pemadam kebakaran standardisasi bangunan perkantoran. 10) Grounding. Grounding diperlukan pada pintu masuk dan area pelaksanaan pekerjaan.
30 11) Penangkal petir. Penangkal petir diperlukan dengan standardisasi sesuai paragraf 12c. BAB V TATARAN KEWENANGAN 29. Umum. Agar penyelenggaraan standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU dapat dilaksanakan dengan tertib dan teratur, maka perlu ditentukan wewenang dan tanggung jawab berdasarkan penahapan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pengawasan. 30. Wewenang dan Tanggung Jawab. Wewenang dan tanggung jawab standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU terdiri atas: a. Perencanaan. Wewenang dan tanggung jawab pejabat terkait dalam perencanaan terdiri atas: 1) Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau). Kasau menentukan kebijakan umum tentang perencanaan standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU. 2) Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Staf Angkatan Udara (Asrena Kasau). Asrena Kasau merumuskan kebijakan perencanaan anggaran dalam rangka standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU. 3) Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Udara (Asops Kasau). Asops Kasau merumuskan kebijakan perencanaan penggunaan standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU. 4) Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Udara (Aslog Kasau). Aslog Kasau merumuskan perencanaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU. 5) Kepala Dinas Fasilitas dan Konstruksi Angkatan Udara (Kadisfaskonau). Kadisfaskonau merumuskan, menyiapkan, dan menyusun rencana program kerja dan anggaran serta mengoordinasikan dengan instansi terkait perencanaan teknis penyelenggaraan standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU. b. Pelaksanaan. Pejabat yang berwenang terhadap pelaksanaan standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU, sebagai berikut: 1) Aspam Kasau, Pangkohanudnas, Pangkoopsau I, Pangkoopsau II, Dankodiklatau, Dankoharmatau, Danseskoau, Gubernur AAU, Dankorpaskhas, Danpuspomau, Kadislambangjaau dan Dandenma Mabesau, melaksanakan pembinaan dan pengendalian standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU di satuan kerja, dengan melaksanakan tanggung jawab dan wewenang sebagai berikut:
31 a) Melaksanakan tugas dan tanggung jawab pembinaan dan pengendalian standardisasi gudang senjata dan munisi di satuan kerjanya, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b) Mengajukan saran dan pertimbangan kepada Kasau Up. Aslog Kasau mengenai kebijakan pelaksanaan standardisasi gudang senjata dan munisi. 2) Kepala Dinas Fasilitas dan Konstruksi Angkatan Udara (Kadisfaskonau). Kadisfaskonau melaksanakan proses perencanaan pembuatan gudang senjata dan munisi sesuai dengan aturan yang dipersyaratkan. 3) Kepala Dinas Materiil Angkatan Udara (Kadismatau). Kadismatau melaksanakan proses administrasi pengendalian persediaan, melaksanakan penyimpanan senjata dan munisi sesuai dengan aturan yang dipersyaratkan. 4) Danlanud/Kasatker. Danlanud/kasatker sebagai pelaksana standardisasi gudang senjata dan munisi di jajarannya melaksanakan tanggung jawab dan wewenangnya sebagai berikut: a) Melaksanakan tugas dan tanggung jawab pembinaan dan pengendalian standardisasi gudang senjata dan munisi di satuan kerjanya, sesuai dengan kebijakan kotama. b) Mengajukan saran dan pertimbangan kepada pangkotama mengenai kebijakan pelaksanaan standardisasi gudang senjata dan munisi. c. Pengendalian dan Pengawasan. Pejabat yang berwenang terhadap pengendalian dan pengawasan standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU dapat dijabarkan sebagai berikut: 1) Inspektur Jenderal dan Perbendaharaan Angkatan Udara (Irjenau). Irjenau melaksanakan fungsi pengawasan dan pemeriksaan terhadap pembinaan dan pelaksanaan standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU. 2) Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Udara (Asops Kasau). Asops Kasau melaksanakan fungsi pengendalian penggunaan terhadap standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU. 3) Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Udara (Aslog Kasau). Aslog Kasau mengawasi dan mengevaluasi terhadap pelaksanaan standardisasi gudang senjata dan munisi TNI AU.
32 BAB VI PENUTUP 31. Demikian Petunjuk Pelaksanaan TNI AU Tentang Standardisasi Gudang Senjata dan Munisi ini disusun untuk dijadikan pedoman, agar penyimpanan senjata dan munisi di jajaran TNI AU dapat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar. a.n. Kepala Staf Angkatan Udara Asisten Logistik, Cap/ttd Yadi Husyadi Marsekal Muda TNI Autentik asi Kepala Sekretariat Umum Angkatan Udara, Ahmad Dachlan Sukardjo, S.E., M.M. Kolonel Adm NRP 515583
TENTARA NASIONAL INDONESIA MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA ATURAN PENGGABUNGAN HAZARD DIVISION/JENIS BAHAN PELEDAK DALAM SATU TEMPAT PENYIMPANAN Hazard Division 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.2 1.1 1.2 1.1 1.2 1.1 1.1 1.3 1.1 1.1 1.3 1.3 1.1 1.1 1.4 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.5 1.1 1.1 1.1 1.5 1.5 1.1 1.6 1.1 1.1 1.1 1.6 1.1 1.1 Tabel 1: Aturan Penggabungan HD dan Perubahan Saat Pengabungan Catatan: 1. Ketika terdapat lebih dari satu HD dalam gudang penyimpanan yang sama, maka perlakuan penyimpanan jenis HD yang berbeda-beda tersebut ditentukan sesuai dengan tabel di atas di mana menitik beratkan pada bahaya yang dihasilkan. Contoh : pengabungan HD 1.2 dengan HD 1.1 dalam satu gudang yang sama maka perlakuan terhadap keseluruhan HD di dalam gudang adalah seperti halnya HD 1.1. 2. HD 1.4 apabila disimpan dengan HD yang lain dalam gudang yang sama maka perlakuan penyimpanan terhadap keseluruhan HD dalam gudang akan tetap sama dengan HD yang lain tersebut, contoh HD 1.4 disimpan bersamaan dengan HD 1.1 dalam gudang yang sama maka perlakuan terhadap keseluruhan HD dalam penyimpanan tetap yaitu HD 1.1, demikian pula apabila HD 1.4 disimpan dengan HD 1.2 maka perlakuan terhadap keseluruhan HD dalam penyimpanan tetap HD 1.2 dan seterusnya. 3. Penyimpanan HD 1.2 dengan HD 1.3 dalam satu gudang yang sama biasanya akan diperlakukan sebagai HD 1.2 atau 1.3. Namun dalam kondisi tertentu pengabungan penyimpanan HD 1.2 dengan HD 1.3 dapat memiliki perlakuan penyimpanan seperti halnya HD 1.1, hal ini disebabkan adanya campuran tertentu sehingga perlakuan penyimpanan menjadi HD 1.1. Adapun campuran penyimpanan tersebut karena adanya: a. Adanya ahaped charge 1.2. b. Adanya propelan berenergi tinggi, misalnya seperti yang digunakan dalam beberapa aplikasi tank gun, yaitu: 1) Adanya 1.3 dalam kondisi heavy confinement (penyimpanan sangat padat). Lampiran A Keputusan Kasau Nomor Kep/915/XII/2017 Tanggal 15 Desember 2017
2) Adanya barang 1.2 yang memiliki NEQ individu > 5 kg. Dalam penjelasan di atas mengenai pengabungan penyimpanan HD 1.2 dengan HD 1.3 guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dan demi keamanan maka setiap penyimpanan HD 1.2 dengan HD 1.3 dalam satu gudang maka perlakuan keseluruhannya menjadi seperti halnya HD 1.1. a.n. Kepala Staf Angkatan Udara Asisten Logistik, Cap/ttd Yadi Husyadi Marsekal Muda TNI Autentikasi Kepala Sekretariat Umum Angkatan Udara, Ahmad Dachlan Sukardjo, S.E., M.M. Kolonel Adm NRP 515583 2 Waaslog Kasau : Kadiskumau : Kasetumau : Paban III/Aero :
TENTARA NASIONAL INDONESIA MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA ATURAN PENGGABUNGAN KELOMPOK KOMPATIBILITAS BAHAN PELEDAK DALAM SATU TEMPAT PENYIMPANAN Tabel 2. Tabel Penggabungan Penyimpanan Kelompok Kompatibilitas untuk Bahan peledak Keterangan angka di dalam kurung pada tabel menunjukan kelas bahan peledak, di mana kelas bahan peledak terdiri dari 9 kelas. Catatan untuk interpretasi tabel penggabungan kelompok kompatibilitas (X) = Penggabungan yang diizinkan. Penjelasan tabel : 1. Penjelasan ini berlaku untuk bahan peledak dari Kelompok B : a. Detonator dari grup B dapat disimpan dengan bahan peledak dari grup C, D, E dan F sampai NEQ total 1,5 kg, dimana harus disimpan dalam kotak yang berstandar dan antar kelompok harus dipisahkan oleh sebuah traverse (tanggul pembatas antara bahan peledak lain dalam satu gudang biasanya terbuat dari tumpukan kaleng amunisi yang diberi isian pasir) dengan ketinggian yang cukup untuk menutupi semua garis pandang, kecuali bahwa detonator memiliki berat hingga 0,2 kg NEQ maka detonator dapat disimpan dalam kotak yang telah berstandardisasi tanpa traverse, jarak antardetonator/bahan peldak yang berlainan setidaknya 1m. Lampiran B Keputusan Kasau Nomor Kep/915/XII/2017 Tanggal 15 Desember 2017
b. Bahan peledak dari Kelompok B (selain detonator) dapat disimpan bersama bahan peledak dari kelompok C, D, E dan F selama bahan peledak dari kelompok B terpisah dari kelompok lain oleh traverse(tanggul pembatas antara bahan peledak lain dalam satu gudang biasanya terbuat dari tumpukan kaleng amunisi yang diberi isian pasir) dengan ketingian yang cukup untuk secara efektif menutupi semua garis pandang, untuk mencegah propagasi secara instan. Total NEQ dari kelompok B yang diizinkan untuk penyimpanan di bawah kondisi ini dapat bervariasi tergantung pada dimensi traverse (tinggi dan tebal). 2. Bahan peledak dari kelompok F dapat disimpan dengan bahan peledak dari kelompok B, C, D, E dan G dengan ketentuan kelas sesuai tertera di tabel dan dipisahkan oleh traverse dengan ketentuan dimensi menutupi semua garis pandang untuk mencegah propagasi instan. NEQ total dari bahan peledak kelompok F yang diizinkan untuk penyimpanan pengabungan ini dapat bervariasi tergantung pada dimensi traverse. 3. Kondisi berikut ini berlaku untuk bahan peledak kelompok G: a. Bahan peledak dari kelompok G yang tidak mungkin menyebabkan ceceran bubuk (loose powder) dapat disimpan bersama dengan bahan peledak dari kelompok C, D, E, dan F. b. Zat/bahan dari kelompok C, D dan G yang tidak menimbulkan ceceran bubuk dan yang kurang sensitif terhadap rangsangan mekanik dibandingkan dengan RDX kering dapat dicampur dalam penyimpanan. Item yang dikemas sesuai dengan kemasan yang telah diotorisasi dalam DEOP 200,001-022 daftar senjata peledak dan komponen terkait lainnya - kemasan dan data klasifikasi bahaya. 4. Bahan peledak dari kelompok G dan H dapat disimpan di tempat yang sama tetapi harus dipisahkan dengan jarak 230 mm dari dinding bata (atau dinding lain dengan fire rating yang setara). 5. Bahan peledak dari kelompok K penyimpanannya terpisah dari semua kelompok yang lain dan penyimpanannya juga terpisah sesama kelompok K. 6. Bahan peledak dari kelompok L penyimpanannya terpisah dari semua kelompok lain termasuk juga sesama kelompok L. Namun, otoritas perijinan dapat menyetujui penggabungan jenis kelompok L tertentu jika penilaian terhadap bahaya dari setiap jenis menunjukkan tingkat bahaya yang masuk akal. Misalnya, berbagai jenis rudal yang menggunakan kombinasi bahan bakar dan oksidan yang sama dapat disimpan di gedung yang sama. 7. Bahan peledak kelompok N dapat disimpan dengan bahan peledak dari kelompok C, D dan E. Ketika disimpan dengan cara ini, bahan peledak kelompok N harus dianggap memiliki karakteristik bahan peledak dari kelompok D untuk tujuan penggabungan lebih lanjut. 8. Bahan peledak dari HD 1.4 kelompok kompatibilitas B, C, D, E, F dan G dapat dicampur dalam penyimpanan dengan bahan peledak dari kelompok B, C, D, E, F atau G dalam HD lainnya. 2
9. Bahan peledak dari kelompok S dan bahan peledak latih, inert filled, drill (latihan), dan instruksional dapat disimpan dengan bahan peledak atau zat dari setiap kelompok kecuali kelompok A, K dan L. Item latih/training, filled inert, dan lain-lain dapat disimpan di sebuah bangunan dengan item yang telah diisi tapi bukan dari jenis yang sama. 10. Bahan peledak yang sama dan komponen lain dalam kesatuan besar amunisi dapat disimpan di tempat yang sama dengan amunisinya. Ketika disimpan dengan cara itu, kelompok kompatibilitasnya adalah kelompok kompatibilitas pengabungan campuran. 11. Item dari bahan peledak yang lengkap atau tidak lengkap, dengan atau tanpa bahan peledak dapat disimpan dengan item bahan peledak terkait, asalkan kompatibel. Misalnya, proyektil mengandung fosfor putih tetapi tanpa arus ledakan (bursting charge) dapat disimpan dengan proyektil fosfor putih yang mengandung bahan peledak. a.n. Kepala Staf Angkatan Udara Asisten Logistik, Cap/ttd Yadi Husyadi Marsekal Muda TNI Autentikasi Kepala Sekretariat Umum Angkatan Udara, Ahmad Dachlan Sukardjo, S.E., M.M. Kolonel Adm NRP 515583 3 Waaslog Kasau : Kadiskumau : Kasetumau : Paban III/Aero :
TENTARA NASIONAL INDONESIA MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA KODE WARNA AMUNISI DALAM PENGIDENTIFIKASIAN FUNGSI DAN BAHAYA Warna NATO Penjelasan Ekuivalen Warna Inggris 1 2 3 Kode Warna Amunisi 20mm ke atas Kuning Amunisi HE atau menunjukkan adanya bahan ledakan tinggi Golden Yellow No 356 Cokelat Low Explosive atau menunjukkan adanya bahan peledak berdaya rendah Middle Brown No 411 Abu-abu Amunisi yang mengandung bahan kimia beracun atau zat pelumpuh Light Grey No 631 Merah Tua Amunisi untuk pengendali kerusuhan (gas air mata dll.) Cherry Red No 538 Hijau Tua Amunisi yang berisikan bahan kimia beracun Deep Chrome Green No 267 atau Light Brunswick Green No 225 Ungu Tua Amunisi yang mengandung zat /bahan kimia pelumpuh Dark Violet No 796 Hitam Amunisi penembus baja /armourdefeating ammunition Black Silver/Alumunium Countermeasure/Pernika (radar echo, leaflet, dll.) Silver Hijau Muda Amunisi penghasil tabir atau asap penanda Eau-de-nil No 216 Merah Muda Amunisi pembakar atau menunjukkan adanya bahan yang sangat mudah terbakar (cairan, gel, padatan) yang dirancang untuk menghasilkan api Signal Red No 537 Putih Illuminating atau amunisi yang menghasilkan cahaya berwarna White Biru Muda Amunisi latihan yang digunakan di tempat yang setara dengan medan tempur Deep Saxe Blue No 113 Biru Tua Amunisi latihan/drill, terkecuali cartridge, charge, dan komponen tertentu Oxford Blue No 105 Ungu Tua Amunisi eksperimental. Biasanya dibubuhkan dengan bentuk garisgaris memanjang diatas warna keseluruhan yang ada Dark Violet No 796 Orange Muda Amunisi nuklir atau menunjukkan adanya bahan radioaktif Light Orange No 557 Pink Peluru kendali versi pelatihan akuisisi tertentu Shell Pink No 453 Pale Roundel Red No 454 Lampiran C Keputusan Kasau Nomor Kep/915/XII/2017 Tanggal 15 Desember 2017
1 2 3 Kode Warna Amunisi 20 mm ke bawah Hitam Penembus Baja / Armor Piercing Black Silver Pembakar Penembus Baja/ Armor Piercing Incendiary Silver Biru Pembakar/Incediary Light French Blue No 175 Kuning Observing/Pengamatan Golden Yellow No 356 Merah Tracer/Pelacak Cherry Red No 538 Tak Berwarna Ball Tak Berwarna a.n. Kepala Staf Angkatan Udara Asisten Logistik, Cap/ttd Yadi Husyadi Marsekal Muda TNI Autentikasi Kepala Sekretariat Umum Angkatan Udara, Ahmad Dachlan Sukardjo, S.E., M.M. Kolonel Adm NRP 515583 2 Waaslog Kasau : Kadiskumau : Kasetumau : Paban III/Aero :
TENTARA NASIONAL INDONESIA MARKAS BESAR ANGKATAN UDARA QUANTITY DISTANCE 1. Simbol Untuk Potential Explosion Sites. a. Gambar dan penjelasan di bawah berfungsi memudahkan dalam memahami macam-macam PES yang ditampilkan pada tabel QD. ES diasumsikan berada disebelah kiri dari masing-masing simbol. b. Earth-covered building. Jenis bangunan yang tertutup tanah yang berfungsi sebagai penahan ledakan. Arah ledakan melalui pintu dan dinding adalah: 1) Menuju ES dari arah depan PES. 2) Menuju ES dari arah belakang PES. 3) Mengarah tegak lurus dari PES. c. Heavy-walled Building. Bangunan dengan konstruksi tidak mudah terbakar dengan ketebalan tertentu sebagai penahan ledakan bahan peledak, konstruksi dinding terbuat dari batu bata atau beton bertulang: 1) Dengan atap pelindung beton lebih dari 150 mm. 2) Dengan atap pelindung beton lebih dari 150 mm. Pintu menghadap ES. 3) Tanpa atap pelindung. d. Medium-walled Building. 1) Tanpa tanggul 2) Bertanggul e. Tumpukan terbuka, Bangunan Struktur Ringan, Truk atau Trailer. 1) Tanpa tanggul 2) Bertanggul Lampiran D Keputusan Kasau Nomor Kep/915/XII/2017 Tanggal 15 Desember 2017
2. Penjelasan Besaran Sudut Ledakan Pada Bagian Depan dan Belakang untuk Earth Covered Building. a. Sudut Ledakan Bangunan Dengan Isian (HD) 1.1 dan 1.3. Arah ledakan untuk isian HD 1.1 atau HD 1.3 dari bangunan lihat gambar 1, dengan penjelasan sebagai berikut: 1) Pada arah pintu dan dinding bagian depan gudang/bangunan ditarik sudut sebesar 150°. 2) Pada bagian belakang gudang/bangunan ditarik sudut sebesar 135°. 3) Daerah yang lokasinya jauh dengan PES tidak terpengaruh dalam penjelasan di atas, di mana penjelasan besaran sudut hanya berlaku pada area yang berdekatan dengan PES. Dalam penjelasan tersebut ES berada pada jarak tertentu sehingga QD yang lebih besar harus diterapkan, mengingat isian dari bangunan adalah HD 1.1 atau HD 1.3. Gambar 1: Earth Covered Building berisi HD 1.1 atau HD 1.3 sebagai PES b. Sudut Ledakan Bangunan Dengan Isian HD 1.2. HD 1.2 yang disimpan pada bangunan earth cover building yang telah memenuhi desain bangunan penyimpanan bahan peledak HD 1.2 , secara garis besar apabila mengalami ledakan maka bagian depan dari bangunan yang berpotensi untuk rusak dengan besaran sudut 100o ditarik dari bagian depan bangunan. Gambar 2: Earth Covered Building berisi HD 1.2 sebagai PES 2
3. Simbol untuk Lokasi Atau Bangunan yang Dianggap Explosed Sites. a. Gambar dan penjelasan di bawah berfungsi memudahkan dalam memahami macam-macam ES yang ditampilkan dalam Tabel QD. PES diasumsi ada di sebelah kanan setiap gambar. b. Earth Covered Building yang Didesain Dengan 7 Bar. Earth covered building yang didesain sesuai dengan kekuatan 7 bar antara lain: 1) Mengarah pada bagian depan ES. 2) Mengarah pada bagian belakang ES. 3) Mengarah tegak lurus menuju ES. c. Earth Covered Building yang Didesain Dengan 3 Bar. Earth covered building yang didesain sesuai dengan kekuatan 3 bar antara lain: 1) Mengarah pada bagian depan ES. 2) Mengarah pada bagian belakang ES. 3) Mengarah tegak lurus menuju ES. d. Earth Covered Building yang lain. Earth cover building lain yang digunakan untuk penyimpanan EO, antara lain: 1) Dengan dinding depan dan pintu yang tahan proyeksi pantulan proyektil dan pintu menuju ES. 2) Dengan pintu berpalang menuju ES. 3) Mengarah pada bagian belakang ES. 4) Mengarah tegak lurus menuju ES. 5) Mengarah pada bagian depan ES tanpa penahan depan. e. Heavy Walled Building. 1) Atap pelindung beton lebih dari 150 mm dengan penahan. Simbol ini berlaku bila dinding diberi palang/ tanggul searah/mengadap PES. 2) Tanpa atap pelindung. Simbol ini berlaku bila dinding diberi palang/tanggul yang menghadap PES. 3
f. Medium Walled Building. 1) Atap pelindung dari beton lebih 150 mm dengan penahan dan palang/tanggul. 2) Atap pelindung dari beton lebih 150 mm dengan penahan tanpa palang/tanggul. g. Tumpukan Terbuka, Bangunan Struktur Ringan, Truk atau Trailer. 1) Dengan palang. 2) Tanpa palang. h. Bangunan Pemrosesan. 1) Dengan atap pelindung dan dengan palang/tanggul. 2) Tanpa atap pelindung dan dengan palang/tanggul. 3) Dengan atau tanpa atap pelindung dan tanpa palang. i. Rute Lalu Lintas Umum. 1) Dengan kepadatan lalu lintas rendah. 2) Dengan kepadatan lalu lintas menengah. 3) Dengan kepadatan lalu lintas tinggi. j. Bangunan Berpenghuni dan Tempat Berkumpul. 4