The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by dinamiriasari95, 2022-11-01 01:22:04

JALUR REMPAH

JALUR REMPAH

JALUR REMPAH

1. Pengertian jalur rempah

Jalur rempah adalah sebutan suatu jalur khusus yang ditujukan sebagai bentuk
penggambaran dan juga untuk melacak kembali rute lintas benua. Dalam rute ini telah terbentuk
dan hidup berkat perdagangan sebagai penggerak aktivitas utamanya. Dari kisah di sepanjang rute
atau jalur rempah ini memiliki nilai penting dalam komunikasi dan pertautan antarbangsa selama
berabad –abad di berbagai belahan dunia. Berdasarkan ahli dari peneliti pusat arkeologi nasional
istilah rempah pada jalur ini bukan tanpa dasar. Spice Island yang dicari orang Eropa pada saat itu
merupakan wilayah yang unik, dikatakan unik Karena menjadi sebuah wilayah maritime sejak
berlalunya zaman glasiasi.

Kisah jalur rempah sesungguhnya merupakan sebuah pemahaman terhadap jalinan
hubungan niaga, antara wilayah sumber asal komoditas dan wilayah pasar konsumennya.
Hubungan itu merupakan mata rantai distribusi jarak dekat atau jauh, yang ditandai aliran barang.
Dalam perjalanan sejarah, rempah pernah menjadi komoditas yang istimewa bahkan setara emas.
Namun, barang berharga bukan satu-satunya hal yang dipertukarkan para pedagang baik dalam
negeri maupun dari luar Nusantara. Lebih dari itu adalah pertukaran pengetahuan, pengetahuan
baru tentang bangsa dan agama mereka, bahasa, seni, dan keterampilan ilmiah. Pelabuhan di
sepanjang rute rempah bertindak sebagai wadah peleburide dan informasi. Melalui setiap kapal
yang sarat dengan muatan berharga di kapal, pengetahuan baru dibawa melintasi lautan ke
pelabuhan.

2. Latar belakang jalur rempah

Jauh sebelum bangsa Eropa datang ke Nusantara, ribuan tahun lalu, Jalur Rempah adalah
rute nenek moyang kita menjalin hubungan antarpulau, suku, bangsa, dengan membawa rempah
sebagai nilai untuk membangun persahabatan yang membentuk asimilasi budaya dan diplomasi di
setiap pesinggahan. Jalur inilah yang akhirnya menghubungkan Nusantara dan dunia. Datangnya
penutur bahasa Austronesia ke Nusantara sekitar 4.500 tahun lalu dengan perahu menjadi awal
pertukaran rempah dan komoditas lain antarpulau di Indonesia Timur. Budaya mereka inilah yang
menjadi cikal bakal lahirnya budaya bahari yang melayarkan rempah hingga ke Asia Selatan
sampai Afrika Timur.

Jejak kayu gaharu ditemukan di India. Cengkih dan kayu manis dari Indonesia timur sudah
ada di Mesir dan Laut Merah. Nenek moyang kita juga membawa rempah ke Asia Tenggara,
hingga ke Campa, Kamboja, sehingga terjadi persebaran budaya logam dari Dongson (Vietnam)
hingga ke Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua. Sejak awal Masehi, Jalur Rempah telah
menghubungkan India dan Tiongkok. Tercatat, sudah ada pelaut Jawa yang mendarat di Tiongkok
pada abad ke-2 Masehi. Kapal-kapal Nusantara digunakan para biarawan dari Tiongkok untuk
pergi belajar agama Buddha di Suvarnadvipa atau Sriwijaya dan di India. Kerajaan besar Sriwijaya,
Mataram Hindu, Singasari, dan Majapahit menjadikan perdagangan rempah sebagai jalur interaksi
utama yang menghubungkan Nusantara dengan Asia Tenggara, Tiongkok, Asia Selatan, Asia
Barat, hingga ke Afrika Timur. Karena itu tak dapat dipungkiri, bahwa jauh sebelum bangsa Eropa
melakukan aktivitas perdagangan di Asia Tenggara, para pedagang Nusantara telah turut aktif
dalam jaringan perdagangan dunia. Rempah Nusantara dan Asia telah terkenal di Eropa jauh
sebelum mereka dikenal di kawasan Nusantara dan Asia. Posisi strategis yang menghubungkan
Samudra Hindia dan Laut Tiongkok Selatan, menghubungkan Asia Timur dengan Asia Barat
hingga Timur Tengah, Afrika dan Eropa menjadikan Nusantara sebagai hub penghubung jaringan
perdagangan dunia. Jack Turner menulis dalam bukunya Spice, The History of a
Temptation (2005):

“Tidak ada rempah-rempah yang menempuh perjalanan lebih jauh ataupun lebih
eksotis daripada cengkih, pala, dan bunga pala Maluku. Setelah panen di hutan pala di
Banda atau di bawah bayangan gunung vulkanik Ternate dan Tidore. Selanjutnya
kemungkinan besar, rempah tersebut dimuat dalam salah satu cadik yang masih
melintasi pulau-pulau di Nusantara. Rempah bisa juga dibawa oleh pedagang China
yang diketahui telah mengunjungi Maluku dari sejak abad ke-13. Bergerak ke barat
melewati Sulawesi, Borneo, dan Jawa melalui Selat Malaka, rempah-rempah tersebut
lalu dikapalkan menuju India dan pasar rempah di Malabar. Selanjutnya komoditas itu
dikirim dengan kapal Arab menyeberangi Samudera Hindia menuju Teluk Persia atau
Laut Merah. Di salah satu dari sekian banyak pelabuhan tua, Basra, Jeddah, Muskat
atau Aqaba, rempah lalu dialihkan ke dalam karavan besar menyusuri gurun pasir
menuju pasar-pasar jazirah Arab dan Alexandria dan Levant. Baru setelah mencapai
perairan Mediterania, rempah-rempah akhirnya tiba di tangan bangsa Eropa.”

Tergiur tingginya harga rempah di pasaran dunia, sejak abad 15 Masehi bangsa-bangsa
Eropa mulai tergerak mencari wilayah kepulauan penghasil rempah-rempah, hingga kemudian
mencapai wilayah Nusantara. Dalam usaha mencari rempah-rempah itu, mereka berinteraksi dan

berkompetisi dengan berbagai bangsa di dunia dalam suatu jaringan perdagangan global. Pada abad
ini, lahir sistem pelayaran modern yang dipicu oleh persaingan menemukan rempah yang masyhur
di Eropa meski belum diketahui persis dari mana asalnya. Aroma wangi rempah Nusantara yang
dikatakan turut mengubah wajah Eropa dari sistem monarki feodal menjadi negara modern,
semakin menggerakkan persaingan pelayaran dunia. Wilayah Nusantara mulai terpetakan dengan
jelas dalam jaringan perdagangan dunia. Sejumlah catatan para pelawat dunia yang sempat singgah
di Nusantara memberi kesaksian wanginya aroma Rempah Nusantara di tengah kegiatan
perdagangan dunia yang tercipta di wilayah Nusantara.

Sebuah gambar yang menunjukan mengenai figur seorang pedagang Melayu (D), Asia Selatan
(Keling) (E), dan seorang perempuan yang berasal dari Gujarat (F) yang berada di Banten pada
sekitar tahun 1596 (Rouffaer dan Ijzerman, 1915 (Deerste Boek):120-121).

3. Jenis-jenis rempah sebagai komoditas perdagangan masa lalu
Setidaknya ada tujuh jenis rempah-rempah yang menjadi kekayaan Indonesia dan

mengundang banyak orang datang untuk memilikinya, yakni lada, kayu manis, pala, vanilla,
cengkih, kunyit, dan jahe.

a. Lada
Di Indonesia tanaman lada banyak terbsebar di Aceh, Jambi, Kalimantan Barat

Kalimantan Timur, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan. Kemudian
Sulawesi Tenggara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pada 2016, lada menjadi komoditas rempah utama Indonesia.

b. Cengkih
Cengkih merupakan tanaman asli Indonesia dari Kepulauan Maluku, cengkih pernah

menjadi rempah populer dan mahal di masa awal ekspansi Portugis. Waktu itu harganya
sama dengan sebatang emas. Di Indonesia cengkeh ada disejumlah wilayah, yakni Jambi,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku. Kemudian ada di NTT, Papua, Riau,
Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, dan DIY.
c. Kayu Manis

Kayu manis merupakan rempah yang memiliki aroma halus dan rasanya yang khas.
Itu membuat kayu manis biasa dipakai sebagai pelengkap kue atau minuman. Kayu manis
tersebar di sejumlah wilayah, yakni Jambi, Sumatera Barat dan DIY. Pada 2016, kayu
manismenjadi komoditas besar kedua setelah lada.
d. Pala

Pala merupakan tanaman khas Banda dan Maluku. Tapi Penyebarannya di sejumlah
wilayah, yakni Bengkulu, Maluku, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan
Sulawesi Utara. Selain berfungsi sebagai rempah-rempah, pala juga menjadi komoditas
penghasil minyak atsiri. Pada 2016, menjadi komoditas terbesar ketiga.
e. Vanila

Sebenarnya vanila merupakan rempah bukan khas Indonesia tapi Meksiko. Namun,
di Indonesia banyak dibudidayakan disejumlah wilayah, seperti Jawa Timur, Lampung,
NTT, Jawa Tengah, dan DIY.
f. Jahe

Jahe menjadi salah satu komoditas rempah ungggulan Indonesia. Jahe memiliki
khasiat bagi kesehatan terutama digunakan sebagai bahan obat herbal.
g. Kunyit

Kunyit merupakan tanaman yang dipakai untuk pengobatan. Di Asia Tenggara,
kunyit tidak hanya digunakan untuk bumbu utama tetapi juga sebagai komponen upacara
religious.

4. Persebaran rempah-rempah di Indonesia

5. Pengaruh jalur rempah pada masa lalu dan masa kini
Apabila ditinjau berdasarkan Pengaruhnya jalur rempah ini memiliki berbagai pengaruh yang
dapat diuraikan sebagai berikut.

a. Jalur rempah sebagai jalur budaya
Dalam perdagangan perdagangan rempah di Nusantara meninggalkan jejak peradaban

berupa peninggalan situs sejarah, situa budaya, hingga melahirkan beragam produk budaya yang
terinspirasi dari alam nusantara yang kaya

b. Jalur rempah sebagai rujukan diplomasi budaya
Sejarah jalur rempah dari masa ke masa merupakan contoh nyata bahwa diplomasi budaya

telah dipraktikkan di segala lini oleh individu, komunitas masyarakat, hingga tingkatan negara-
bangsa. Belajar dari dinamika jalur rempah di masa lalu, kiranya sangat relevan bila jalur rempah
menjadi rujukan dalam mencari warna diplomasi Indonesia yang mengkedepankan interaksi dan
kehangatan dialog di berbagai bidang dan lapisan masyarakat

c. Jalur rempah untuk kesejahteraan masa depan
Menjadikan jalur rempah sebagai warisan dunia dan rujukan kekuatan diplomasibudaya

untuk meneguhkan Indonesia sebagai poros maritime dunia adalah sesuatu yang
membanggakan,namun tidak cukup dengan itu. Tujuan lain menghidupkan jalurrempah
adalah untuk mengingatkan kembali kepada generasi muda tentang bagaimana jalur
rempah membentuk bangsa, negara dan peradaban Indonesia


Click to View FlipBook Version