1
i KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat-Nya dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga dengan rahmat Allah tersebut penulis bisa menyusun buku ini yang berjudul “Kisah Inspiratif " (The Miracle Of Life) Buku ini Dibuat untuk melengkapi tugas mata kuliah Manajemen Dakwah berbasis IT. Tidak lupa shalawat serta salam kita ucapkan buat junjungan Nabi Muhammad SAW. Risalah beliaulah yang bermanfaat bagi kita semua sebagai petunjuk menjalani kehidupan. Penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah mendukung serta membantu menyelesaikan makalah ini. Penulis juga berharap agar isi buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Jika ada kata-kata yang kurang dalam penulisan buku ini,saya atas nama penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya karena penulis masih dalam proses belajar, dan penulis berharap agar diberi kritikan dan saran yang mendukung demi kesempurnaan buku ini. Bengkalis, 12 Juni 2023 Penulis
ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .............................................................................................................i DAFTAR ISI............................................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................iii Penuis.......................................................................................................................................1 Opinion Leader ........................................................................................................................ 3 BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................................5 Kisah Ustadz Jeffry Al-buchori mantan pecandu yang menjadi ustadz terkenal..................... 7 Gadis tuna rungu yang menjadi model dan mendapat beasiswa ............................................. 19 Kisah perjuangan terbentuknya KFC....................................................................................... 21 Kisah Abu Bakar dan nenek tua............................................................................................... 22 Kesabaran ibu yang memiliki anak authis ............................................................................... 24 Kasih dari sang maha pengasih................................................................................................ 25 Kisah Seorang penjual kerupuk buta dengan hati yang begitu Ikhlas .....................................27 Karma.......................................................................................................................................28 Taubat nya Malik dinar............................................................................................................ 35 Rasa kasih terlihat dalam mata ............................................................................................... 40 Asal-usul kematian ................................................................................................................. 43 Tidur dan kematian .................................................................................................................. 46 Kalung anisa ............................................................................................................................ 49 Tegakkan Sholat PHK di dapat................................................................................................ 52 Nasehat yang jitu ..................................................................................................................... 54 Nasehat bagi penguasa ............................................................................................................. 58 Abu Nawas dan terompah ajaib ............................................................................................... 62 Wanita pemerah susu dan anak gadisnya ................................................................................ 65 Harta titipan Bani Umayyah ...................................................................................................67 Ziyad bin Abu Sufyan ............................................................................................................ 70 Abu Hanifah dan tetangga nya .................................................................................................72 Mulailah bicara ....................................................................................................................... 74 Alhamdulillah .......................................................................................................................... 74 Tukang bekam bersama Al-hajj ............................................................................................... 75 Albaikhi dan si burung pincang .............................................................................................. 77 Rasyid bin Zubair dan wanita kairo ........................................................................................ 79
iii Percakapan Musa dengan Tuhannya ...................................................................................... 80 Ghasilil malaikat ................................................................................................................... 82 Penjual minyak wangi dan seuntai kalung .............................................................................. 100 BAB III PENUTUP............................................................................................................................101 Kesimpulan ...........................................................................................................................................100 Saran .....................................................................................................................................................102 DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................................103
4 BAB I PENULIS Segala puji bagi ALLAH yang memberikan Taufiq dan hidayah serta syukur atas segala nikmat nya. Sholawat serta salam senantiasa terlimpah kepada Rasulullah Saw, keluarga, dan para sahabatnya. Untuk hidup bahagia ternyata kita tidak harus menunggu apa yang kita cita-citakan tercapai, meskipun sebagian besar orang akan berfikir saya akan bahagia apabila sudah memiliki ini dan itu, atau sudah mencapai karir yang didambakan. Hidup bahagia tanpa syarat sudah bisa kita dapatkan sejak saat ini tanpa perlu menunggu apapun capaian yang akan kita peroleh. Inilah pola mindset dan sikap mental yang harus kita miliki kapanpun dan di manapun, serta mulai saat ini. Berikut ini merupakan tips supaya kita hidup bahagia tanpa syarat yang bisa anda praktekkan dalam keseharian dengan mudah, semoga anda semua hidup bahagia dan penuh berkah. Semoga penulisan buku ini menjadi wasilah bagi saya untuk mendapatkan asbabul futuh dalam mencari ilmu, keridhaan guru, keridhaan orang tua, dan keridhaan Allah SWT. Semoga pahalanya terlimpah kepada guru - guru, orang tua, saya sendiri, dan teman teman sekalian. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Selamat membaca dan mengamalkan nya. Bengkalis, 12 Juni 2023 Ririn Harti Saputri
5 OPINION LEADER Suka duka, Canda tawa, kesedihan dan kebahagiaan adalah seni kehidupan. Setiap orang, pastilah memiliki masalah dalam menjalani kehidupan sehari-hari, entah itu masalah pekerjaan atau masalah lainnya. Mereka bingung jika menghadapi masalah, terlebih jika masalah yang dihadapi adalah masalah besar. Hancurnya kebahagiaan kebanyakan orang bukan karena kecelakaan besar atau kesalahan fatal melainkan karena hal-hal kecil yang membahayakan yang datangnya berulang- ulang, Dalam buku ini terdapat sebuah petuah tentang kehidupan bagaimana kita menghadapi masalah tersebut. Dengan membacanya setidaknya bisa menjadi nasehat dan inspirasi untuk diri sendiri dalam menghadapi kehidupan. Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada para pembaca yang budiman: Banyak yang bisa menasehati orang lain dengan bijak, tapi tidak tahu apa yang dilakukan untuk dirinya sendiri. hanis Kita sering bersemangat menasehan orang lain, padahal din kita sebenamya orang yang paling butuh untuk mengamal- kan nasehat itu. Mari instropeksi, muhasabah diri sendiri dengan membaca petuah inspiratif di buku ini. Ingat! cara untuk bahagia adalah: dengan membuat orang lain bahagia.
6 BAB II PEMBAHASAN Bagian 1 "KISAH USTADZ JEFRI AL- BUCHORI, MANTAN PECANDU YANG MENJADI USTADZ TERKENAL" Perjalanan hidup Jeffry Al- Buchori sungguh dahsyat. Penuh gejolak dan tikungan tajam. Proses pergulatan yang luar biasa ia alami sampai ia menemukan kehidupan yang tenang dan menenteramkan. Simak kisahnya yang sangat memikat ini. Sebetulnya aku tidak ingin bercerita banyak tentang masa laluku. Maklum, masa laluku sangat kelam. Namun, setelah kupikir, siapa tahu perjalanan hidupku ini bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Baiklah, aku bersedia membagi pengalaman hidupku pada para pembaca. Insya Allah, ada gunanya. Aku lahir dengan nama Jeffry Al-Buchori Modal, pada 12 April 1973 di Jakarta. Waktu aku lahir, keluargaku memang sudah menetap di Jakarta. Aku lahir sebagai anak tengah, maksudku anak ke-3 dari lima bersaudara. Tiga saudara kandungku laki-laki, dan si bungsu adalah perempuan. Layaknya bersaudara, hubungan kami berlima cukup dekat. Sekadar bertengkar, sih, wajar saja. Apalagi, jarak usia kami tidak berjauhan. Apih (panggilan Jefri untuk ayahnya, Red.), M. Ismail Modal, adalah pria bertubuh tinggi besar asli Ambon, sedangkan Umi, begitu aku biasa memanggil ibu, Tatu Mulyana asli Banten. Apih mendidik kami berlima dengan sangat keras. Tapi, kalau tidak begitu, aku tidak akan merasakan manfaat seperti sekarang. Kalau kami sampai lupa sholat atau mengaji, wah, jangan ditanya hukuman yang akan diberikan Apih. Dalam hal agama, Apih dan Umi memang mendidik kami secara ketat.
7 Namun, sebetulnya Umi adalah seorang ibu yang amat sabar dan lembut dalam menghadapi anak- anaknya. Apih pun orang yang selalu bersikap obyektif. Dia akan membela keluarganya mati-matian bila memang keluarganya yang benar. Sebaliknya dia tidak segan- segan menyalahkan kami bila memang berbuat salah. Berada di lingkungan keluarga yang taat agama membuatku menyukai pelajaran agama. Sewaktu kelas 5 SD, aku pernah ikut kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. Selain agama, pelajaran yang juga kusukai adalah kesenian. Entah mengapa, aku suka sekali tampil di depan orang banyak. Oh ya, setelah kenaikan kelas, dari kelas 3 aku langsung melompat ke kelas 5. Jadilah aku sekelas dengan kakakku yang kedua. Berkepribadian Ganda Lulus SD, Apih memasukkanku dan kedua kakakku ke sebuah pesantren modem di Balaraja, Tangerang. Beliau ingin kami mendalami pelajaran agama. Rupanya tidak semua keinginannya bersambut, semua ini karena kenakalanku. Orang bilang, anak tengah biasanya agak nakal Aku tidak tahu ungkapan itu benar atau tidak. Yang jelas hal itu berlaku padaku. Sebagai anak tengah, aku sering membuat orang tua kesal. Di pesantren, aku sering berulah. Salah satu kenalakanku, di saat yang lain sholat, aku diam-diam tidur. Kenakalan lain, kabur dari pesantren untuk main atau nonton di bioskop adalah hal biasa. Sebagai hukumannya, kepalaku sering di botaki. Tapi, tetap saja aku tak jera. Tampaknya aku seperti punya kepribadian ganda, ya. Di satu sisi aku nakal, di sisi lain keinginan untuk melantunkan ayat-ayat suci begitu kuat. Tiap ada kegiatan keagamaan, aku selalu terlibat. Bersama kedua kakakku, aku juga pernah membuat drama tanpa naskah berjudul "Kembali Ke Jalan Allah" yang diperlombakan di pesantren. Ternyata karya kami itu dinilai sebagai drama terbaik se-pesantren. Bahkan, aku juga juara lomba adzan, lomba MTQ, dan qasidah. Akan tetapi, entah kenapa, aku juga tak pernah ketinggalan dalam kenakalan. Tinggal dalam lingkungan pesantren,
8 kelakuan burukku bukannya berkurang, malah makin menjadi. Puncaknya, aku sudah bosan bersekolah di pesantren. Akhirnya, hanya empat tahun aku di pesantren. Dua tahun sebelum menamatkan pelajaran, aku keluar. Lalu, Apih memasukkanku ke sekolah Aliyah (setingkat SMA), Rupanya keluar dari pesantren tidak membuatku lebih baik. Aku yang mulai beranjak remaja justru jadi makin nakal. Kenal Dunia Malam Memang, sih, tiap ada acara keagamaan aku tak pernah ketinggalan. Namun, aku juga selalu mau bila ada teman mengajak ke kantin sekolah. Bukan untuk jajan, tapi memakai narkoba! Aku juga sering kabur dan pergi tanpa tujuan yang jelas. Ya, aku seperti burung lepas dari sangkar, terbang tak terkendali. Masa SMA memang suram bagiku. Masa yang tak pernah lengkap. Maksudnya, aku tak punya teman sebaya. Kenapa? Ya, meski usiaku masih 15 tahun, aku bergaul dengan pemuda berusia 20 tahunan. Pacaran pun dengan yang lebih tua. Di sekolah ini aku hanya bertahan setahun. Pindah ke SMA lain, keseharianku tak jauh berbeda. Malah makin parah. Dari perkenalan dengan beberapa teman, aku mengenal petualangan baru. Umur 16 tahun, aku mulai kenal dunia malam. Aku masuk sekolah hanya saat ujian. Buatku, yang penting lulus. Aku lebih suka mendatangi diskotik untuk menari. Terus terang, aku memang tertarik pada tarian di diskotik. Tiap ke sana, diam-diam aku selalu mempelajari gerakan orang-orang yang nge-dance. Lalu kutirukan. Aku jadi seorang penari, bertualang dari satu diskotik ke diskotik lain, tenggelam dalam dunia malam. Saat ada lomba dance, aku mencoba ikut. Usahaku tak sia-sia. Beberapa kali aku berhasil memboyong piala ke rumah sebagai the best dancer. Selain itu, aku juga berhasil jadi penari di Dufan pada tahun 1990, meski hanya selama setahun. Sampai sekarang masih banyak temanku yang jadi penari di sana.
9 Aku juga pernah jadi foto model, bahkan ikut fashion show di diskotik. Mungkin waktu itu aku merasa sangat cakep, ya. Tapi menurutku, kegiatan- kegiatan itu masih positif, meski terkadang aku suka minum. Dengan segala kebengalanku, tahun 1990 aku berhasil lulus SMA. Main Sinetron Aku mengalami masa yang menurutku paling dahsyat setelah tamat SMA. Ceritanya salah seorang teman penari, memperkenalkanku pada Aditya Gumai yang saat itu aktif di dunia seni peran. Dari Aditya aku mengenal dunia akting. Waktu itu, kami masih latihan menari di Taman Isma'il Marzuki. Saat latihan pindah ke Gedung Pemuda di Senayan, mulailah aku main sinetron. Mulanya aku hanya mengamati para pemain yang sedang syuting, sambil diam-diam belajar. Aku memang suka mencuri ilmu. Waktu tidur di kos salah satu temanku di dekat kampus Institut Kesenian Jakarta, aku sering mencuri ilmu juga dari para mahasiswa. Kalau mereka sedang kuliah atau praktik, aku sering mengamati mereka. Nah, ketika para pemain sinetron sedang latihan, terkadang aku menggantikan salah satunya. Ternyata aku ditertawakan. Karena pada dasarnya aku orang yang enggak suka diperlakukan seperti itu, aku malah jadi terpacu. Aku makin giat berlatih akting secara otodidak. Akhirnya, saat yang senior belum juga dapat giliran main, aku sudah mendapat peran. Aku diajak Aditya main sinetron. Waktu dikasting, aku berhasil mendapat peran. Tahun 1990, aku main sinetron "Pendekar Halilintar". Saat itu, sinetron masih dipandang sebelah mata oleh bintang film. Namun, Apih mati-matian menentangku. Kenapa? Rupanya Apih tahu persis seperti apa lingkungan dunia film. Dulu, beliau juga pernah main film action, antara lain "Macan Terbang" dan "Pukulan Berantai". Dari beliaulah aku menuruni darah seni. Ditentang Apih tak membuat langkahku surut. Mungkin jalan hidupku memang harus begini. Tak satu pun larangan Apih yang mampir ke otakku untuk kujadikan bahan pikiran. Nasehat Apih tak lagi kudengarkan. Tawaran untuk main sinetron yang berdatangan membuatku makin yakin, inilah yang kucari. Aku tak mau menuruti keinginan orang tua karena merasa diriku benar. Akhirnya konflik antara aku dan orang tuaku pecah.
10 Sebagai bentuk perlawananku pada orang tua, aku tak pernah pulang ke rumah. Tidur berpindah-pindah di rumah teman. Rambut juga kupanjangkan. Aku seperti tak punya orang tua. Bahkan, tak pernah terlintas dalam benakku bahwa suatu hari mereka akan pulang ke haribaan. Yang kupikirkan hanya kesenangan dan egoku semata. Pada saat bersamaan, karierku di dunia seni peran terus melaju. Aku semakin mendapatkan keasyikan. Setelah itu, aku mendapat peran dalam sinetron drama "Sayap Patah" yang juga dibintangi Dien Novita, Ratu Tria, dan almarhum WD Mochtar. Aku semakin merasa pilihanku tak salah setelah dinobatkan sebagai Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang diadakan TVRI tahun 1991. Aku bangga bukan main, karena merasa menang dari orang tua. Kesombonganku makin menjadi. Aku makin merasa inilah yang terbaik buatku, ketimbang pilihan orangtuaku, "DI KABAH, KUMINTA AMPUNAN ALLAH" Tawaran main sinetron berdatangan menghampiri Jeffry. Seiring dengan itu, ia makin tenggelam dalam dunianya yang kelam. Sejak kenal sinetron, aku makin menyukai dunia akting. Aku tak peduli meski Apih menentangku. Namun, belakangan aku paham, di balik ketidaksetujuannya, sebetulnya orang menyimpan rasa bangga. Orang tua cerita, mereka sedang ke Tanah Suci membawa rombongan ibadah haji saat sinetron "Sayap Patah" yang kumainkan ditayangkan. Ternyata, mereka nonton sinetronku. Komentar mereka membanggakanku. Mereka mengakui, ternyata aku bisa berprestasi. Setelah itu, aku mendapat berbagai tawaran main, antara lain sinetron "Sebening Kasih, Opera Tiga Jaman", dan "Kerinduan". Selain namaku makin mencuat, rezeki juga terus mengalir. Namun, aku malah jadi lupa diri. Ketenaran tidak penting buatku. Yang penting menikmati hidup. Dunia malam terus kugeluti. Kalau ke diskotik, aku tak lupa mengonsumsi narkoba. Bahkan, untuk urusan yang satu ini, aku bisa dibilang tamak. Biasanya, aku meminum satu pil dulu. Kalau kurasa belum "on", kuminum satu lagi. Begitu seterusnya.
11 Akhirnya, aku jadi sangat mabuk. Pandanganku sambil pun jadi kabur. Mau melihat arloji di tangan saja, aku harus mendekatkannya ke wajahku, menggoyang-goyangkan kepala dan membelalakkan mata, supaya bisa melihat dengan lebih jelas. Parah, ya? Begitulah kebandelanku terus berlangsung. Kecanduan Kian Parah Suatu hari di tahun 1992, Apih meninggal karena sakit. Aku menyesal bukan main karena selama ini selalu mengabaikan nasehat Apih. Menjelang kepergiannya, aku berdiri di samping tempat tidurny di rumah sakit sambil menangis. Melihatku seperti itu Apih mengatakan, lakilaki tak boleh menangis. Laki- laki pantang keluar air mata. Bayangkan, bahkan di saa saat-saat terakhirnya pun Apih tetap menunjukkan sikapnya yang penuh kasih padaku yang durhaka ini. Sore itu aku dimintanya pulang ke rumah dan beliau memberiku ongkos. Aku menurut. Begitu aku pulang, Allah mengambilnya. Aku syok berat. Saat Apih dimakamkan, aku turun ke liang lahat dan memeluk jasadnya. Aku tak mau beranjak meski makam akan ditutup. Aku tak mau melepas kepergiannya. Aku menyesali perbuatanku. Selama Apih masih hidup, aku tak pernah mau mendengarkan ucapannya. Sejak itu, Umi membesarkan kami berlima. Hidupku terus berjalan. Bukan ke arah yang baik, namun aku kembali ke masa seperti dulu. Penyesalan yang sebelumnya begitu menghantuku karena ditinggal Apih, seolah lenyap. Kebandelanku bahkan makin menjadi sepeninggal Apih. Kesombonganku juga lebih besar dari sebelumnya karena merasa berprestasi dan punya uang banyak. Tak seorang pun kudengarkan lagi nasehatnya. Ketika temanku menasehati, aku mencibir. Siapa dia sampai aku harus mendengarkan ucapannya? Ucapan orang tua saja tak kugubris. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri dan jadi pecandu narkoba. Waktu itu, aku beralasan karena ada masalah di rumah. Padahal, sebetulnya alasan apapun, termasuk broken home atau teman, tidak bisa dijadikan alasan. Diri sendirilah alasannya, karena bagaimana pun, kita lah yang menentukan semua yang terjadi pada diri kita.
12 Jadi, tidak perlu membawa-bawa orang lain atau keadaan. Namun, kesadaran seperti ini mana mungkin muncul pada diriku yang waktu itu sangat arogant? Aku makin jauh dari Tuhan. Padahal, sebelah rumahku ada masjid. Ketika orang berpuasa di bulan Ramadan pun, aku tetap melakukan kemaksiatan. Lalu, saat lebaran tiba dan orang-orang sibuk bertakbir, aku malah sibuk mencari celah waktu dan tempat di mana aku bisa berbuat maksiat. Semua ilmu agama yang pernah kupelajari dan kemampuan membaca al-Qur'an seperti hilang. Akal sehatku seperti hilang. Kecanduanku pada narkoba juga makin parah, bahkan sampai mengalami over dosis dan aku hampir mati. Kejahatan demi kejahatan moral terus kulakukan. Nama Dicoret Tak perlu aku menceritakan detail tentang kejahatan yang kulakukan. Yang jelas, suatu hari aku merasa menderita karena ketakutan setelah melakukan sebuah perbuatan. Aku benar- benar ketakutan!, Aku jadi gampang curiga pada siapa saja. Aku selalu berburuk sangka pada apapun. Kesombonganku pada uang dan prestasi lenyap digantikan ketakutan. Yang kulakukan setiap hari adalah berdiam diri di kamar, dengan selalu berpikiran bahwa setiap orang yang datang akan membunuhku Aku sibuk mengintip dari bawah pintu, siapa tahu ada orang datang untuk membunuhku. Telingaku jadi sangat sensitif. Aku sering merasa mendengar ada orang sedang berjalan di atap rumah ingin membunuhku. Aku tersiksa selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Orang- orang mengatakan, aku sudah gila. Pada saat bersamaan, kecanduanku pada narkoba membuatku termasuk dalam daftar hitam dunia sinetron. Namaku dicoret. Tak ada lagi yang mau memakaiku sebagai pemain. Selain itu, cewek-cewek yang ada di dekatku juga menjauh. Dalu aku termasuk playboy. Di saat aku sendiri, ada Umi yang selama ini sudah sangat sering kusakiti hatinya. Umi tetap menyayangiku dengan cintanya yang besar. Seburuk apapun orang berkomentar tentang
13 aku, hati Umi tetap baik dan sabar. Air matanya tak pernah kering untuk mendo'akan anak- anaknya, terutama aku agar berubah jadi lebih baik. Do'a tulus Umi dikabulkan Allah. Sungguh luar biasa, Allah menunjukkan kebaikan-Nya padaku, Allah memberiku kesempatan untuk bertobat. Kesadaran ini muncul lewat suatu proses yang begitu mencekamku. Diajak Umi Umrah Sungguh, aku merasa sangat ketakutan ketika suatu hari bermimpi melihat jasadku sendiri dalam kain kafan. Antara sadar dan tidak, aku terpana sambil bertanya pada diri sendiri. Benarkah itu jasadku? Aku juga disiksa habis-habisan. Begitulah, setiap tidur aku selalu bermimpi kejadian yang menyeramkan. Dalam tidur, yang kudapat hanya penderitaan. Aku jadi takut tidur. Aku takut mimpi-mimpi itu datang lagi. Aku juga jadi takut mati. Padahal dulu aku sempat menantang maut. Meminta mati datang karena aku tak sanggup lagi bertahan saat ada masalah dengan seorang cewek. Sebetulnya sepele, kan? Tapi masalah itu kuberat beratkan sendiri. Rasa takut mati akhirnya membuatku sadar bahwa ada yang tidak meninggalkanku dalam keadaan seperti ini, yaitu Allah. Aku teringat kembali pada-Nya dan menyesali semua perbuatanku selama ini. Pelan- pelan, keadaanku membaik. Kesadaran-kesadaran itu datang kembali. Aku menemui Umi, bersimpuh meminta maaf semua dosa yang kulakukan. Umi memang Betapa pun sudah kukecewakan demikian rupa, beliau tetap menyayangi dan memaafkanku. Umi lalu mengajakku berumrah. Dengan kondisiku yang masih labil dan rapuh, kami berangkat ke Tanah Suci. Kali ini aku berniat sembuh dan kembali ke jalan Allah. Di sana, aku mengalami beberapa peristiwa yang membuat ku sadar pada dosa-dosaku sebelumnya. Usai salat Jum'at di Madinah, Umi mengajakku ke Raudhoh. Aku tak tahu apa itu Raudhoh, tapi kuikuti saja. Umi terus meminta ampunan pada Allah.
14 Aku lalu keluar, berjalan menuju makam Nabi Muhammad. Aku bersholawat. Begitu keluar dari Pintu masjid, rasanya seperti ada yang menarikku. Aku mencoba berjalan sekuat tenaga, tapi tak bisa. Kekuatan itu rasanya sangat besar. Aku lalu bersandar pada tembok. Air mataku yang dulu tak pernah keluar, kini mengalir deras. Aku menyesali dosa-dosaku, dan berjanji tak akan melakukan lagi semua itu. Bagaisebuah film yang sedang diputar, semua dosa yang pernah kulakukan terbayang jelas di pelipuk mataku silih berganti, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Tiba-tiba dari mulutku keluar kalimat permintaan ampunan pada Allah. Di Mekkah, di hadapan Ka'bah, aku merapatkan badan pada dindingnya. Aku bersandar, menengadahkan tangan memohon ampun karena terlalu banyak dosa yang kulakukan. Seandainya sepulang dari Tanah Suci ini melakukan dosa lagi, aku minta pada Allah untuk mencabut saja nyawaku. Namun, seandainya punya manfaat untuk orang lain, aku minta disembuhkan. Aku yang dulu angkuh, sekarang tak berdaya. Setelah pulang beribadah, aku membaik. Aku mencoba bertahan dalam kondisi bertobat itu, tapi ternyata sulit luar biasa. BIDADARI CANTIK JADI PEMBANGKIT HIDUP Setelah berkali-kali jatuh-bangun, akhirnya Jeffry kembali dekat pada agama. Kasih sayang kekasih yang akhirnya menjadi istri, ikut menjadi pembangkit semangatnya. Perjuangannya menjadi ustadz cukup berat sampai akhirnya ia sukses jadi penceramah. Sepulang umrah, aku mencoba hidup lurus. Namun, lagi-lagi aku tergoda. Suatu malam, aku dan teman- teman berencana nonton jazz di Ancol. Aku memperingatkan mereka untuk tidak bawa narkoba, karena kami sudah sepakat untuk berhenti memakai. Ternyata, salah satu temanku masih saja membawa cimeng. Apesnya, kami dirazia polisi di depan Hailai." Teman-temanku yang lain kabur. Tinggallah aku, temanku yang membawa cimeng, dan satu teman lain. Aku sulit kabur karena mobil yang kami pakai adalah mobilku Akhirnya kami bertiga dibawa ke kantor polisi dan ditahan. Aku dilepas karena tak terbukti membawa. Kucoba telepon Umi untuk menjelaskan masalah ini, tapi Umi tak mau menerima teleponku. ,
15 Si penerima telepon malah diminta Umi untuk mengatakan, beliau tak punya anak bernama Jeffry, Hatiku tercabik-cabik. Pedih rasanya tak diakui sebagai anak oleh Umi. Kuakui, pastilah hati Umi sudah sedemikian sakitnya. Bayangkan, aku yang sebelumnya sudah mengaku bertobat, malah kembali memilih jalan yang salah. Meski aku sudah bersumpah demi Tuhan tidak memakai narkoba lagi, Umi tak percaya lagi. Itulah puncak kemarahan Umi. Sungguh bersyukur, Allah masih berkenan menolongku. Datang seorang gadis cantik dalam hidupku. Ia mau menerimaku apa adanya. Sebelumnya, banyak gadis meninggalkanku sehingga aku merasa sebatang kara dalam cinta. Gadis bernama Pipik Dian Irawati ini seorang model sampul sebuah majalah remaja tahun 1995, asal Semarang. Cuek Saat Pacaran (Berikut ini adalah penuturan Pipik: Aku pertama kali melihatnya sedang makan nasi goreng di Menteng sekitar tahun 1996-1997. Rambutnya gondrong Waktu itu, aku bersama Gugun Gondrong, Setahuku, Jeffry adalah pemain sinetron Kerinduan, karena aku mengikuti ceritanya. Aku ingin berkenalan dengannya, tapi Gugun melarangku. Tak tahunya, waktu buka puasa bersama di rumah Pontjo Sutowo, aku bertemu lagi dengannya. Rambutnya sudah dipotong pendek. Aku nekat berkenalan. Kami mulai dekat dan saling menelepon. Aku tidak tahu kapan kami resmi pacaran, karena tidak pernah "jadian". Dia juga tak pernah menyatakan cinta. Waktu pacaran, dia cuek setengah mati. Awalnya, semangatnya boleh juga. Pertama kami pergi bareng, dia datang ke rumah di Kebon Jeruk, di tengah hujan deras dari rumahnya di Mangga Dua. Jeffry naik taksi dengan memakai jins dan sepatu bot. Ia yang hanya bawa uang Rp. 50 ribu, mengajakku nonton di Mal Taman Anggrek. Di dalam bioskop, kami seperti nonton sendiri-sendiri. Dia diam saja selama nonton. Sejak itu, kami sering jalan bareng, karena kami memang hobi nonton dan makan. Semakin dekat dengannya, aku makin tahu ternyata dia pemakai narkoba kelas berat. Teman-temanku mulai bertanya.
16 mengapa aku mau berpacaran dengannya. Aku sendiri tak tahu persis alasannya. Mungkin rasa sayang yang sudah terlanjur muncul dalam hati yang membuatku mau bertahan. Hatiku terenyuh dan tak mau meninggalkan dia sendin. Tentu saja keluargaku tak ada yang tahu, karena sengaja kusembunyikan. Mungkin mereka baru tahu sekarang, setelah membaca kisah hidupnya di berbagai media. Sementara itu aku sibuk untuk keluar kota sebaga model, sehingga kami sering tak ketemu. Akhirnya kami putus. Waktu akhimya ketemu lagi, ternyata sudah punya pacar lagi. Karena masih sayang. membawakannya hadiah dan memberi perhatian. Setelah Jeffry putus dari pacarnya. bersatu) aku sering kami kembal Jualan Kue Pipik sangat berarti buatku. Dia mengerti, peduli dan perhatian padaku. Padahal, aku sempat hampir menikah dengan orang lain. Ternyata Allah sayang yang padaku. Allah menunjukkan, wanita yang nyaris kunikahi itu bukan untukku. Pipik bagai bidadari datang dengan cinta yang besar. Ia memberi keyakinan, menikah dengannya akan membawa perubahan besar dalam hidupku. Aku mendatangi Umi dan minta izin untuk menikah. Luar biasa, Umi tetap menerimaku dengan segala kasih sayangnya. Sambil menangis, Umi mengizinkanku menikah. Aku sendiri terbilang nekat Sebab, waktu itu aku tak punya apa-apa. Badan pun kurus kering, dengan mata belok, dan penyakit paranoid yang kuderita tak kunjung sembuh. Bahkan, pekerjaan pun aku tak punya. Untuk menghindari maksiat, kami menikah di bawah tangan pada tahun 1999. Teman-temanku yang sekarang sudah meninggal karena over dosis, sempat menghadiri pernikahanku. Setelah itu, kami tinggal di rumah Umi. Sekitar 4-5 bulan setelah itu, kami menikah secara resmi di Semarang. Namun, menikah rupanya tak cukup menghentikan kebandelanku. Istriku pun merasakan getahnya. Aku pernah memakai narkoba di depannya, dan menggunakan uangnya untuk membeli barang haram tersebut.
17 Kesulitan lain, aku dan Pipik sama-sama menganggur. Pernah kami mencoba berdagang kue. Malam hari kami menggoreng kacang, esok paginya bikin kue isi kacang dan susu. Lalu kami titipkan ke toko kue. Tapi mungkin rezeki kami bukan di situ. Kue yang kami buat hanya laku beberapa buah. Dalam sehari kami hanya membawa pulang Rp. 200-300. Akhirnya kami berhenti berjualan kue. Kehidupan kami selanjutnya kami jalani dengan penuh perjuangan sekaligus kesabaran. Makan Sepiring Berdua pernah, karena Kesetiaan Pipik begitu luar biasa. Simak renungannya berikut ini. (Perasaan sayang yang sang kuat membuatku mantap menikah dengannya. Aku tak peduli lagi meski dia pecandu, bahkan mengalami over dosis dan hampir gila karena paranoidnya. Aku banyak mengalami hal-hal luar biasa dengannya. Kalau tidak sabar, mungkin aku sudah tidak bersamanya lagi. Awal menikah, kami tinggal di rumah Umi. Meski hidup seadanya, beliaulah yang membiayai hidup kami. Aku dan Jeffry tak jarang makan sepiring berdua, karena memang benar-benar tak ada yang bisa dimakan. Berat rasanya jadi istri dari suami penganggur, apalagi setelah menikah aku tidak lagi bekerja. Tapi aku yakin, Allah tidak mungkin memberikan cobaan pada umat-Nya melebihi kemampuannya. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang akan diberikan Allah padaku. Beruntung, Umi sangat sayang padaku. Aku sendiri tak jera memberi masukan padanya untuk mengubah hidup. Kami sama-sama saling belajar menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Pelan-pelan, hidupnya mulai berubah menjadi lebih baik, terutama setelah aku hamil. Mungkin dia sendiri sudah capek dengan kehidupannya yang seperti itu). Hidup di Jalan Allah Pelan-pelan, aku Jeffry) kembali dekat pada agama. Perubahan besar jadi dalam hidupku pada tahun 2000. Kala itu, Fathul hayat, kakak keduaku yang setengah tahun silam meninggal karena kanker otak, memintaku menggantikannya memberi khotbah Jum'at di Mangga Dua. Pada waktu bersamaan, dia diminta menjadi imam besar di Singapura.
18 Fathul memang seorang pendakwah. Selama dia di Singapura, semua jadwal ceramahnya diberikan padaku. Pertama kali ceramah, aku mendapat honor, Rp. 35 ribu. Uang dalam amplop itu kuserahkan pada Pipik. Kukatakan padanya, ini uang halal i pertama yang bisa kuberikan padanya. Kami berpelukan sambil bertangisan. Selanjutnya, kakakku memintaku untuk mulai menjadi ustadz. Inilah jalan hidup yang kemudian kupilih. Betapa indah hidup di jalan Allah. Aku mulai berceramah dan diundang ke acara seminar narkoba di berbagai tempat. Namun, perjuanganku tak semudah membalik telapak tangan. Tak semua orang mau mendengarkan ceramahku karena aku mantan pemakai narkoba. Tapi aku mencoba sabar. Alhamdulillah, makin lama ceramahku makin bisa diterima banyak orang. Bahkan sekarang, aku banyak diundang untuk ceramah di mana-mana, termasuk di luar kota dan stasiun tv. Aku bersyukur bisa diterima Semua Kalangan. Aku pun ingin berdakwah untuk siapa saja. Aku ingin punya majelis taklim yang jemaahnya waria. Mereka, kan jaga punya hak untuk mendapatkan dakwah. Kebahagiaan kami bertambah ketika tahun 2000 itu lahir anak pertama kami, Adiba Kanza Az- Zahra. Dua tahun kemudian, anak kedua Mohammad Abidzan Al-Ghifari juga hadir di tengah kami. Mereka, juga istriku adalah inspirasi dan kekuatan dakwahku. Kehidupan kami makin lengkap rasanya. Sampai sekarang, aku masih terus. berusaha menjadi orang yang lebih baik. Semoga kisahku ini bisa jadi bahan pertimbangan yang baik untuk menjalani hidup. Pesanku, cintailah Tuhan dan orangtuamu, serta pilihlah teman yang baik. Wallahu'alam bishshawab... Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah.... Wabillahu Taufik Wal Hidayah... Salam Terkasih.. Dari Sahabat Untuk Sahabat..... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci.
19 Ustadz Jeffry menulis di twitter, pada 13 April 2013, sehari setelah ulang tahunnya "Pada akhimya Semua akan menemukan yang namanya titik jenuh.. Dan pada saat itu. Kembali adalah yang terbaik... Kembali Pada siapa...??? kepada 'DIA' pastinya... Bismila Allahumma ahya wa amuut..." Mungkin ustadz Jeffry Al-buchori hanya mengingatkan para pengikutnya di akun Twitter untuk selalu ingat kepada sang pencipta. Namun, siapa sangka tweet terakhirnya justru menjadi salah satu tanda ustadz yang akrab dipanggil Uje ini meninggal dalam kecelakaan. Ustadz yang akrab di panggil Uje ini meninggal dunia dalam kecelakaan pada hari Jum'at, 26 Apri 2013 .Selamat jalan ustadz Uje. Semoga Kita berada di tempat yang tenang di alam sana. Aamiin) Bagian 2 "GADIS TUNA RUNGU YANG MENJADI MODEL DAN MENDAPAT BEASISWA" Keterbatasan pendengaran karena menyandang tuna rungu tak membuat Siti Nur Lathifah patah semangat mengejar mimpi. Dengan penuh kerja keras, ia melewati masa-masa kritis akibat minder dengan pendengarannya itu, sampai akhirnya meraih beasiswa Bidikmisi. Berkat prestasinya, ia bisa bertemu langsung menteri dan presiden. Siti Nur Lathifah adalah satu dari sekian banyak kisah menarik dan inspiratif yang diceritakan dalam buku "Kebangkitan Kaum Dhu'afa" pada acara silaturahim Bidikmisi di Jakarta. Buku itu diserahkan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, kepada Presiden Susilo Yudhoyono. Sepintas, penampilan gadis setinggi 166 cm yang berkerudung itu tak berbeda dengan perempuan lainnya. Wajahnya terlihat tak kurang satu apa pun. Perbedaan baru terlihat ketika
20 dia berbicara. Tidak hanya bibirnya yang bergerak, kedua tangannya pun ikut serta menerjemahkan tiap detail kata-katanya, Mahasiswi Jurusan Seni Rupa di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, itu mengalami keterbatasan dalam pendengaran. Tetapi, keterbatasan fisik tersebut tak lantas membuat mahasiswi angkatan 2011 ini berhenti berprestasi. Perempuan asal Semarang yang lahir dari pasangan Mulyono dan Munawaroh ini sangat menggemari dunia model. Dari dunia inilah ia banyak mendulang prestasi. Ia sebenarnya lahir seperti bayi normal pada umumnya. Pendengarannya mengalami gangguan ketika berumur tujuh tahun. Dia mengalami kecelakaan ketika bermain sepeda. "Akibatnya, saya tidak bisa mendengar", ujar Lathifah, panggilan akrab mahasiswi ini. Saat kecil, Lathifah sering ditinggal orangtuanya untuk mencari nafkah. Bapaknya bekerja sebagai tukang bangunan, sementara ibunya menjadi buruh toko sablon. Praktis, ia bermain tanpa pengawasan. Sejak kecelakaan dan akibatnya itu, Lathifah selalu berupaya menerima keterbatasan dirinya. Hanya saja, dia mengungkapkan, pernah pada suatu masa dirinya sangat merasa minder. Puncaknya terjadi ketika dia menginjak kelas X. "Saya sangat minder, tidak percaya diri, karena sering diejek teman-teman yang normal", tutur Lathifah. Lantaran sering mendapat ejekan, Lathifah mengaku sempat marah dan kecewa kepada Tuhan. Tetapi, banyak orang di sekelilingnya yang menguatkan dan memotivasinya. Kepala sekolahnya pun sering mengajaknya mengikuti berbagai seminar motivasi. Sampai akhirnya, sejak kelas XI, Lathifah lambat laun sadar dan bisa menerima keadaan. Dia tak lagi fokus pada keterbatasan dirinya, tetapi mulai menyibukkan diri dengan hobi, yaitu fesyen dan tata rias.
21 Lathifah mulai banyak mengikuti dan memenangi lomba-lomba. Satu demi satu prestasi diraihnya. Secara bertahap, kepercayaan dirinya bahkan kian menguat. " Saya semakin mensyukuri anugerah Tuhan yang di titipkan yang di titipkan kepada diri saya. Meskipun saya memiliki keterbatasan, tapi saya bisa berprestasi", tuturnya. Semoga bisa menginspirasi kita semua, Aamiin Bagian 3 "KISAH PERJUANGAN TERBENTUKNYA KFC" Cerita yang pertama berasal dari restoran makanan cepat saji yang sampai saat ini mudah kalian temukan yaitu KFC. Dibalik keberhasilan KFC hingga saat ini tersimpan sebuah cerita yang bisa menjadi inspirasi kita semua. Restoran makanan cepat saji seperti KFC tidak akan muncul jika saja kolonel Sanders menyerah dalam hidupnya. Ya kolonel Sanders adalah orang yang menemukan resep renyah ayam goreng milik KFC yang sampai saat ini bisa kalian nikmati dengan mudah. Pada tahun 1955 ada seorang purna wirawan tentara yang hidup dengan uang pensiunannya. Namun dengan uang pensiunan yang didapatkan oleh kolonel Sanders tersebut tidak akan cukup untuk kehidupannya sehari-hari. Kolonel Sanders mulai berfikir apakah ada suatu hal yang bisa dijual tanpa mengeluarkan modal kecil bahkan terbilang gratis. Lalu teman kolonel Sanders berkata jika dirinya memiliki sebuah resep ayam goreng yang begitu lezat ketika dinikmati. Lalu kolonel Sanders mengambil langkah awalnya dengan meninggalkan rumahnya dan mulai menawarkan resep yang ia miliki. Dalam perjalanan usaha menawarkan resep ayam goreng yang dimiliki oleh kolonel Sanders tak selalu memiliki kemudahan tanpa hambatan. Banyak restoran yang menolaknya, bahkan ada sekitar 1009 restoran menolah resep ayam goreng milik kolonel Sanders. Banyak pemilik restoran memberikan komentar pedas terhadap kolonel Sanders terkait dengan resep yang dimilikinya.
22 Mereka berkomentar jika resep kolonel Sanders mudah dibuat seperti mencampurkan ayam dengan tepung dan garam. Para pemilik restoran yang menolak resep ayam goreng milik kolonel Sanders juga berkata jika ayam goreng bisa dibuat oleh semua orang. Meski mendapatkan penolakan demi penolakan tak membuat kolonel Sanders menyerah begitu saja sehingga ada satu restoran memberinya kesempatan. Mulai saat itulah ayam goreng milik kolonel Sanders lebih dikenal luas bahkan hingga saat ini. Pesan dari kisah kolonel Sanders adalah pantang menyerah dan sealu berusaha. penuh keyakinan adalah kunci. Semua akan ada jalan jika kita berusaha, pantang menyerah, yakin dan berdoa. Namun semua akan berhenti tak akan ada jalan jika kita menyerah terhadap keadaan. Kegigihan kolonel Sanders patut diacungi jempol. Meskipun tidak terlahir dari keluarga pebisnis, atau memiliki keahlian bisnis. Dengan semangat dan strategi yang tepat maka KFC bisa besar seperti ini. Tips untuk jadi gila namun menuai kesuksesan ini bisa Grameds intip di “Bego tapi Bejo Buku Gila Sukses Usaha Tanpa Ijazah” yang memaparkan tips perencanaan bisnis hingga membuat lembar SOP untuk karyawan. Bagian 4 "KISAH ABU BAKAR DAN NENEK TUA" Siapa yang tidak mengenal sahabat Nabi Abu bakar Ash-Shiddiq, ia merupakan salah satu orang sangat dicintai oleh Nabi. Hidupnya dihabiskan untuk selalu menemani Rasulullah dalam menyampaikan dakwah kepada umat manusia. Setelah Nabi meninggal dunia ia sebagai khalifah pertama yang menggantikannya. Begitu banyak kisah-kisah kebaikan yang telah dilakukan oleh Abu bakar, bahkan ia tak segan untuk memberikan semua hartanya untuk di belanjakan di jalan Allah. Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhuma merupakan sahabat nabi yang sangat gemar dalam bersaing untuk melakukan hal-hal kebaikan. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan mendapatkan pahala yang besar di akhirat kelak.
23 Ketika Umar bin khattab mengawasi apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, Lalu ia melakukan amalan tersebut melebihi apa yang dilakukan oleh Abu bakar sehingga ia mendapatkan kebaikan dan berbuat lebih apa yang dari Abu Bakar lakukan. Sesuatu hal telah menarik perhatian Umar, sehingga pada suatu pagi Umar ingin mengawasi Abu Bakar. Ia mengikuti Abu bakar pergi ke pinggiran kota madinah setelah selesai melaksanakan sholat subuh. Abu Bakar pergi ke pinggiran kota madinah untuk mendatangi sebuah gubuk kecil, Umar hanya melihat apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Kemudian setelah beberapa saat Abu bakar pun pergi meninggalkan gubug tersebut. Umar mengetahui segala kebaikan yang dilakukan oleh Abu bakar kecuali apa yang ia lakukan di dalam gubuk kecil tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, Umar pun semakin penasaran dengan apa yang dilakukan sahabatnya di dalam gubuk tersebut. Ia kembali mengikuti Abu bakar pergi ke pinggiran kota madinah tersebut. Ia ingin menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya apa yang dilakukan oleh sahabatnya di dalam gubuk kecil tersebut. Setelah Abu bakar pulang, ia segera masuk ke dalam tempat tersebut. ketika sang Umar masuk ke dalam tempat tersebut, ia mendapatkan seorang nenek tua yang terbaring lemah tanpa bisa melakukan aktivitas. Nenek tersebut juga buta kedua matanya sehingga ia tidak bisa melihat. Umar melihat tidak ada sesuatu apapun di dalam gubuk kecil tersebut. Umar pun heran dengan apa yang ia lihat, ia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di rumah nenek tua buta tersebut. Umarpun bertanya kepada sang nenek , “Apa yang dilakukan orang tersebut di sini?” Nenek itu menjawab, “Demi Allah, Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku dan menyapunya, kemudian ia menyiapkan makanan untukku, kemudian ia pergi tanpa berbicara apapun denganku.” mendengar apa yang dikatakan oleh nenek tersebut, Umar pun menangis. Ia kagum dengan dengan amalan yang dilakukan oleh sahabatnya, seorang khalifah islam rela memberikan makan dan membersihkan rumah nenek tua setiap pagi. Dari kisah di atas dapat kita simpulkan bahwa seorang pemimpin besar pun harus memperhatikan orang lain, kepemimpinannya tidak menghambat ia untuk berlaku baik kepada
24 orang lain. Semua amal kebaikan yang ia lakukan merupakan bentuk kecintaannya kepada Allah dan rasulnya. Bagian 5 "KESABARAN IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTHIS" Putriku, sebuah surat kabar memuat kisah tentang perjuangan seorang ibu yang anaknya menderita penyakit Autis. Autis adalah gangguan perkembangan khususnya yang ter jadi pada masa anak-anak. Anak autis membuatnya tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah- olah hidup dalam dunianya sendiri. Mengetahui anaknya menderita autis, sang ibu merasa sedih, frustasi, dan kecewa. Namun, din segera sadar bahwa apa yang dilakukannya itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kemudian din mulai mempelajari masalah-masalah yang terkait dengan penyakit Autis. Dengan penuh kegigihan, dia membawa anaknya itu ke Australia. Sang ibu terus menimba ilmu. Salah satunya melalui Internet. Ia berkonsultasi dengan pakar Autis di luar negeri. Berbagai terapi telah di jalani untuk anaknya. Karena keseriusannya ini, die juga berhasil meraih gelar Master Health Counseling dari Curtin University dan berhasil menulis tiga buah buku tentang Autis. Kejadian itu juga membuatnya untuk lebih dekat dengan anaknya dan juga mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya. Ilmu yang didapatnya menyebutkan bahwa anak Autis memiliki kelemahan dalam pendengaran, tetapi memiliki kelebihan dalam penglihatan. Sang ibu kemudian membangkitkan kelebihan tadi. Bersama suami, ia memperkenalkan berbagai prof esi berdasarkan kelebihan dalam penglihatan. Di kelas enam, anaknya yang menderita Autis mulai menekuni dunia fotografi. Kelak, ia ingin men jadi seorang fotografer. Anaknya kini juga sudah mahir berbahasa Inggris. Putriku tersayang, jika kamu mau bersabar, belajar, dan berjuang sekuat tenaga datum mewujudkan cita-citamu, Insya Allah kamu akan berhasil mendapatkannya. Semangat kamu dalam menuntut ilmu hari ini akan menentukan masa depan kamu kelak.
25 Bagian 6 "KASIH DARI SANG MAHA PENGASIH" Kemana truk Papa yang dulu hampir berjumlah dua puluh itu ? Sederhana daja : dijual satu persatu. Mengapa? Untuk apa? Ketika usahanya berhasil, Papa tak pernah berpaling sedikit pun dari teman-temannya. Maka ketika hari berlalu dan satu per satu teman Papa muncul di rumah kami dengan wajah keruh dan pias, satu demi satu truk dari usaha transportasi Papa pun digadaikan. Hasil penggadaian itu dipinjamkan Papa pada mereka untuk membuka usaha yang lebih menjanjikan. Tahun demi tahun berlalu. Truk Papa semakin sedikit, sementara uang Papa yang dipinjam hampir tak ada yang kembali. Ujung-ujungnya tak satu truk pun tersisa. Usaha transportasi Papa habis sudah. “Papa ingin berbuat baik. Papa berharap dan berdoa, semoga dimana pun anak-anak Papa nanti berada, orang akan memperlakukan kalian seperti Papa memperlakukan mereka,” ujar Papa padaku sambil tersenyum, sewaktu aku beranjak remaja. Aku berumur 26 tahun dan telah menikah, ketika Papa meninggal, tahun 1976. banyak sekali orang yang dating melayat. Aku tak mungkin melupakan mata basah teman-teman Papa, wajah para tetangga, para bekas pegawai Papa. Lalu tangis para tukang kue, hansip, tukang sampah, tukang loak, tukang roti, dan entah siapa yang memenuhi halaman rumah kami. “ Ketika akan memberhentikan saya karena usahanya bangkrut, Bapak memberikan sepedanya pada saya. Katanya untuk modal …,” suara serak seorang lelaki berkulit gelap, bekas pegawai Papa dulu. “ Bapak selalu memanggil kalau saya lewat di depan rumah ini. Ia memberikan pajangan, baju, barang-barang apa saja agar saya bisa menjualnya dan mendapatkan uang untuk makan sehari-hari. Bapak bilang saya boleh menggantinya kapan-kapan…,” kata tukang loak yang hampir tiap hari lewat di depan rumah kami, sambil terisak-isak.
26 Mama menatap mereka semua dengan mata berkaca-kaca. Ya, Mama bukannya tidak tahu ketika Papa secara sembunyi-sembunyi memberikan sesuatu pada orang yang membutuhkannya. Tetapi kelembutan dan ketulusan hati Papa membuatnya hanya mamapu terdiam. Ya, kelembutan hati Papa sangatlah menggetarkan dan membekas dalam. Ketika aku menikah dengan seorang pria Aceh, kelembutannya pula yang membawanya dan Mama untuk menerima kami, menerima keislamanku. Padahal kami adalah keluarga Katolik yang taat. Kemudian aku pindah ke Jakarta. Saat itu Papa yang menetap di Bandung, mulai sering control ke rumah sakit karena komplikasi liver, diabetes, dan jantung. Namun ia masih sering memaksakan diri menjenguk anak-anakku sambil membawa balon-balon warna-warni, yang didalamnya berisi pasir-pasir halus. “Mana pasturnya?” suara Mama mengejutkanku. Hening. Angina mendesir, menerobos masuk melalui pintu dan jendela rumah yang terbuka, menembus seluruh ventilasi, menyisakan dingin. Secara bersamaan kami menatap sosok pucat yang terbaring tenang dalam peti mati, tak jauh di hadapan kami. Tiba-tiba, tiga orang pelayat, dengan langkah cepat menghampiri Mama. Pak RT, seorang tetangga, dan … “ Jangan panggil pastur, Bu!” seru mereka hampir berbarengan. “ Bapak telah menjadi Muslim enam bulan yang lalu!” seru tetangga kami yang kemudian kuketahui sebagai Ketua Badan Takmir Masjid. Orang-orang bergumam. Mama terpaku. Tangisku pecah. “ A……… apa buktinya?” Tanya Mama kemudian dengan terbata-bata. “ Bapak menyimpan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an di bawah bantalnya, Bu. Begitu kata Bapak kepada saya.” Kami bergegas menuju kamar Papa. Beberapa carik kertas bertuliskan syahadat, Al Fatihah, ayat kursi dan yang lainnya kami temukan di dalam sarung bantal yang dikenakan Papa selama ini. Di antara kertas Koran berbahasa Cina, yang terlipat dua.
27 Kami tertegun. Mama dan saudara-saudaraku yang lain berkata memang akhir-akhir ini sering melihat Papa membaca Koran lusuh berbahasa Cina…, ternyata dibaliknya terdapat ayat-ayat ini. Mungkin ia mencoba menghafalkannya. Meski Mama tampak terpukul dengan kenyataan ini, penyelenggaraan jenazah Papa dilakukan secara Islami. Bagaimanapun aku tiada hentinya bersyukur. Alhamdulillah, hidayah itu datang. Subhanallah, Allah telah memberikan akhir yang baik kepada Papa. Rasa kasih yang selama ini Papa tujukan pada sesama, menjadi lebih berarti lagi. Kuusap air mataku dan tersenyum, kala mengingat betapa menjelang akhir hayatnya, Papa tak mempunyai apa-apa. Ia bahkan hanya memeiliki dua potong celana panjang dan beberapa helai piyama. Satu-satunya peninggalan Papa yang paling banyak hanyalah sapu tangan. Sampai hari ini, saat mengunjungi kuburan Papa, aku masih sering menahan haru. Aku pun bisa berlama-lama duduk di sisi makam, sambil menatap nama “Leo Arifin” yang terukir di batu nisan dengan rasa bangga yang tak putus-putus. Di sini terbaring seorang laki-laki pengasih yang dikasihi banyak hati, dan mendapat kasih sejati dari Sang Maha Pengasih. Bagian 7 "KISAH SEORANG PENJUAL KERUPUK BUTA DENGAN HATI YANG BEGITU IKHLAS" Pada suatu hari ada seorang penjual kerupuk dengan keterbatasan fisik. Penjual kerupuk tersebut memiliki keadaan buta pada matanya. Meski begitu ia tetap mencoba menjalani hidup layaknya orang normal lainnya dengan berjualan kerupuk.
28 Selang beberapa waktu ada seorang pemuda yang hendak membeli kerupuk dari penjual tadi. Pemuda tersebut lalu memberikan pertanyaan jika saja dirinya tidak membayar namun meminta kembalian kepada penjual buta tadi. Lalu ia menanyakan bagaimana tanggapan sang penjual kerupuk dengan kondisi buta. Seketika penjual kerupuk menjawab dengan nada rendah “nak, rezeki sudah Allah atur, saya cuma berusaha. Jika memang rezeki tersebut adalah milik saya maka tak akan tertukar. Begitu pun sebaliknya,” kata si penjual kerupuk dengan kondisi buta. Seketika setelah mendengar jawaban dari penjual kerupuk tadi, anak muda langsung bergetar hatinya. Ia kemudian memberikan uang kepada penjual kerupuk tadi dengan jumlah yang lebih. Pemuda tersebut percaya jika Allah menitipkan rezeki penjual tersebut lewat tangannya. Dari cerita tersebut kita bisa mendapatkan pesan moral jika rezeki dari Allah tidak akan pernah tertukar alamat. Apa pun itu jika kita percaya akan Allah, maka jalan yang diberikan menjadi lebih mudah. Bahkan dalam segi pekerjaan sekalipun. Percaya saja jika Allah akan memberikan yang terbaik untuk hambanya. Jikapun tidak rejekinya, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Besar kecil tetap disyukuri. Bagian 8 "KARMA"
29 Tidak ada yang salah dari sosok laki-laki berusia tiga puluhan itu. Hidupnya cukup sukses untuk laki-laki seusianya. Ia memiliki jabatan penting di perusahaannya. Bahkan ia sosok yang nyaris sempurna dengan predikatnya yang juga sebagai seorang da’i. Maha Pemurah Allah yang telah memberinya kemudahan-kemudahan hidup. Sungguh Maha Suci Allah yang telah memberinya putri-putri yang begitu membanggakan! Setiap kali kejuaraan digelar, setiap kali ranking kelas diumumkan, pasti putri-putrinya yang mendapat perdikat-predikat terbaik. Belum lagi, istrinya yang memiliki kedudukan sosial yang cukup terhormat sebagai salah satu staf pengajar di perguruan tinggi negeri di kotaku. Pak Sukarma. Tidak ada yang salah dengan laki-laki itu, ia begitu terhormat di mata pegawai- pegawainya, pantas dikagumi di kalangan rekan kerjanya, kecuali lidahnya yang tajam. Demi Allah tidak ada yang salah dengan sosok dirinya kecuali lidahnya. Lidah Pak Karma telah melibas belasan bahkan mungkin puluhan kali harga diri, martabat, bahkan kehormatan orang lain. Ini bukan semata-mata ketersinggungan. Bukan semata-mata harga diriku sebagai seorang laki-laki diinjak-injak, tidak! Lebih dari itu. Lidah Pak Sukarma sudah merobek-robek persaudaraan, kehangatan, dan manisnya kasih sesame muslim, bahkan boleh jadi lidah Pak Sukarma sudah melecehkan kejujuran, kebenaran, yang konsekuensinya adalah berhadapan dengan Sang Pemilik Kebenaran. Terbayang sosoknya yang tinggi besar dengan mulut dan lidahnya berbusa-busa menjelaskan dan mentafsiri ayat-ayat Al-Qur’an dengan mata terbeliak dan kerut merut di dahi menandakan kesungguhan. Sementara saat itu juga aku merasakan hawa busuk kebohongan karena lidahnya yang merah tanpa tulang itu pula yang menari-nari kesana kemari menebar kebencian. Tiba-tiba aku merasa muak.
30 *** “ Lho, Sri, kenapa?” tanyaku keheranan. Kulihat Sri tertelungkup di meja dekat toilet kantor. Bahunya terguncang-guncang seperti sedang menangis hebat. “ Pak Kar…ma….., Mas….” Sahutnya lirih disela isak tangisnya. Aku terdiam. Janganjangan lidah laki-laki itu berulah lagi. “ Sri tahu … Sri tidak pantas menolak pria yang disodorkan Pak Karma untuk jadi suami Sri … ta … ta…pi….tapi…tapi…,” Sri meledakkan tangisnya. Aku semakin mematung. Kucoba menghela nafas panjang. Tapi ya Allah … berat sekali. Pak Karma memang pernah ingin menjodohkan Sri – salah seorang pegawainya – dengan seorang laki-laki yang menurut Pak Karma pantas mendampingi Sri. Kata beliau, laki-laki itu jujur, sopan, seorang dai yang tangguh Tapi Sri menolaknya. Dan bagi Pak Karma ini bukan sesuatu yang wajar untuk diterima. Maka lidahnya sering beraksi, mengolok-olok, merendahkan bahkan terkesan menghina Sri. Hanya karena Sri menolak laki-laki pilihannya. *** “ Yaaaaaaa…. Memang tabiatnya begitu, Mas………. Mau bagaimana lagi ?” begitu selalu kata Watik, istriku. “ Tapi seharusnya beliau sebagai atasan kan harus bisa menjaga perasaan pegawai- pegawainya tik , sanggahku. “Ya…. Idealnya memang begitu….. “ sahut Watik sambil terus memijit kakiku yang salah urat
31 tadi pagi. Kupejamkan mataku menikmati pijatan jemari istriku yang panjang dan lentik. Butiran air mata sebesar-besar biji jagung berwarna bening berloncatan dari keningku lalu mengaliri pelipis dan sebagian meleleh, mencair terasa asin dalam mulutku. Aku mengerang ketika Watik memijit uratku. “ Wong beliau itu kan pemimpin, atasan…. Seharusnya bisa ngayomi …..” Tiba-tiba terdengar suara tangis. Si kecil Nuha terjaga dari tidurnya. Serentak Watik bangun dan tergopoh-gopoh menuju kamar si Kecil. Tinggal aku sendiri di kamar menggantung kata- kataku, menyesalkan Pak Karma. *** Si Hasno juga pernah terkena si pahit lidah -- itu julukan Watik untuk Pak Karma -- . Ketika Hasno sudah hamper tiga tahun lebih menikah, dan belum-belum juga dikarunia anak. Lidah Pak Karma pun tanpa susah payah menjadikan hal itu sebagai bahan olok-olokan. “Wah, bagaimana ini …… kamu ndak niat punya anak ya Has ? Jangan-jangan, ndak tau caranyaaaaaa gimana perlu diajari to ……? Oala….. Has……Has…… Hahahaha….” Darahku mendidih saat itu, apalagi Hasno. Kulihat kedalam relung matanya yang hitam, ada gelombang kemarahan yang dahsyat, sekaligus kesedihan yang dingin seperti bongkahan es. Hasno saat itu hanya melirik Pak Karma tajam. Lalu pergi meninggalkannya tanpa suara, tanpa rasa hormat. Yang tinggal kini di ruagan itu hanya aku dan seringai Pak Karma dengan lidahnya yang bagi penciumanku berbau busuk., lebih busuk dari bangkai. Tidak seorangpun menginginkan kemandulan. Tidak seorang pun yang tidak menginginkan keturunan.
32 Kemandulan dan ketidakmampuan memiliki keturunan bukan pilihan siapapun. Ia hanya mendatangkan rasa duka, masgul dan ketidaktenangan seprti menunggu-nunggu sesuatu yang tidak pasti, ia ibarat luka yang menganga karena diabetes, yang tak pernah kering itu. Pedih, ngilu sampai ke tulang sumsum. Bagiku kata-kata Pak Karma pada Hasno seperti menggarami luka yang menganag itu. *** Ku tatap Watik yang masih seibuk dengan mesik ketik tua kami. Jemarinya lentik menari-nari di atas tuts mesin ketik tua itu, sementara matanya yang jernih indah itu terus menatap kertas yang terselip pada mesin itu, seolah-olah jari jemari istriku itu memiliki sepasang mata masing- masing. Tanpa kusadari jemartiku mencorat-coret kertas dihadapanku, memindahkan lekuk lentik wajah istriku di atas kertas. Mula-mula dahinya yang sempit dan datar, lalu tonjolan lembut alis matanya yang tebal, bulu matanya yang panjang dan matanya yang hitam serta bagian putihnya yang jernih seperti mata Nuha anakku, terus kutelusuri wajah istriku, hidungnya, lekuk bibirnya, dagunya, dan hitam kelam rambutnya. Ku sodorkan coretan itu persisi dihadapan Watik. Ia terbelalak. Lalu matanya melotot, dan jemarinya menyerbu syaraf-syaraf pinggangku. Aku tergelak-gelak dan baru bisa berhenti Ketika kudengar tangisan Nuha. Watik tersenyum dengan rambut berantakan , dia berdiri, lalu lari mendekap Nuha. Meninggalkanku bersama kelenggangan. Watik, ia sosok istri sebagaimana istri-istri yang lain. Biasa. Sederhana. Tapi punya sesuatu yang barangkali tidak dimiliki istri-istri lain. Ketikan jemarinya di atas tulis mesin ketik mampu
33 membantuku mempertahankan asap dapur agar tetap bisa menngepul. Ia bisa mengetik kapan saja, melamun kapan saja, kadang kerut merut di dahinya bertambah satu jika ia sedang merancang sebuah cerita atau menulis sebuah syair. Ia selalu bersama segelas kopi dan sebuah cermin. Kopi untuk mengganjal mata, cermin untuk merenung, begitu katanya. Aku tidak pernah paham dunia pengarang, ia ibarat dunia antah berantah yang jauh jaraknya seperti permukaan bumi dan langit tanpa batas. Karena pekerjaanku adalah pekerjaan membumi, mengkalkulasi, menambah, mengurangi, membagi, mengali, menghitung uang yang bukan uangku. Sedangkan pekerjaan Watik adalah pekerjaan melangit yang membutuhkan cermin untuk merenung, sedangkan aku cukup membutuhkan kalkulator atau paling tidak simpoa. Aku cinta Watik. Meskipun kadang-kadang ia seperti gelombang yang membadai tak terukur. Ia bergejolak tanpa permisi, menggulung, dan mengaduk-aduk pantai. Menyeret segala macam benda yang berada di tepian, kemarahan, kesedihan, kejengkelan. Tapi bagaimanapun aku cinta Watik. Ia segala-galanya bagiku setelah Allah dan Rasul-Nya. Watik menjulukiku si karet gelang. Katanya aku seperti karet gelang yang dipakainya untuk mengikat rambut. Aku memang meregang, menghindar, bersembunyi tiap kali aku marah, Sedih atau kecewa. Tapi aku siap memantul kembali manakala aku selesai dengan masalahku. Ketika aku memantul aku akan memeluk dua orang wanita kekasihku, hangat. Aku akan memamerkan cintaku seperti seorang wiraniaga memamerkan barang dagangannya. “ Kemarin Nur Khasanah menangis mengiba-iba disini, Mas …..” kata Watik sambil lalu. Ia sibuk mengorek-ngorek lubang kecil di dinding kamar kami. Aku yakin lubang itu akan
34 semakin membesar beberapa tahun lagi, karena Watik tidak pernah lupa mengorek-ngoreknya tiap malam. “Kenapa ?” tanyaku sambil menatap langit kamar. Memperhatikan sepasang cicak yang sedang berkejaran. “ Mas kan tau….., si Nur itu tidak cantik, dan ia menikah dengan Is yang gagah dan tampan Iya, lalu kenapa ?” aku tak sabar. “ Kemarin ketika Pak Karma berkunjung ke rumah mereka bersama dengan teman-teman sekantor … “Pak Karma menghinanya ?? Wuah…. kenapa tidak dibalas hina saja ?!” teriakku emosional, jemariku mengepal seperti menahan uap kemarahan agar tidak keluar dari pori-pori kulitku. “ Kata Pak Karma begini Mas….’Gimana Is….kapan ngambil istri lagi ? Apa menunggu peraturan perusahaan membolehkan karyawannya beristri lagi ….? Hahahaha…’” Tenggorokanku mendadak kering. Memangnya si Nur dengar ?” tanyaku memastikan. “ Lha wong si Nur-nya ada disitu juga Mas…. celetuk Watik. Sungguh, aku mengerti jika aku tidak boleh berat sebelah. Kebaikan dan kedermawanan Pak Karma memang tiada tandingannya. Tapi, sungguh, demi Allah aku sangat membenci lidahnya! Bahkan aku pun pernah menjadi korbannya. Ketika itu Watik baru saja melahirkan Nuha, setelah kami berjuang hampir empat tahun tanpa kepastian. Menunggu-nunggu dengan doa yang selalu terurai panjang diantara sujud-sujud dan air mata harap kami, dan sujud panjang permohonan ampun kami, bayi kecil yang akan menjadi pelita hidup kami tak kunjung datang.
35 Dan setelah empat tahun puji syukur kepada Allah, alhamdulillah ! Rupanya akhirnya allah menganggap kami siap mengemban amanah, Nuha kecil lahir dengan selamat. Tapi lidah Pak Karma menyambutnya dengan canda yang menurutku sangat keterlaluan. “Haha…. Ini dia….., ternyata bisa menghamili juga kamu Wan ?! hahahaha… kukira……,hahahaha….” Pluk?! Telapak tangan mungil Watik nemplok di pipiku. Darah memuncrat membasahi lekuk pipiku,Watik menghapusnya dengan sapu tangannya, seekor nyamuk dengan perut gendut berisi darahku dipungutnya dengan telunjuk dari ibu jarinya. Melamun sampai begitu, Maassss…, nanti kalau darahnya habis bagaimana?” ledek Watik. Aku cuma mesem. Makasih ya sayang……, kamu cantik deh !” rayuku. Alah, gombal!!!!” tepis Watik, menyembunyikan rasa senangnya. Malam ini kami bahagia, ini serius, tidak gombal. *** Kriiiing…………., kriiiiiiing…………, kriiiiiing. “Mas…., telepon!!!” suara Watik nyaring. “Kamu aja. Aku tanggung nih !” teriakku, sambil terus menyiramkan air di kandang siJlitheng, burung jalak kesayangan kami berdua. Kusenandungkan Dandang Gulo, tembang kesenangan Jlitheng, biasanya setelah mendengar tembang yang satu ini ia pasti mengoceh riang.
36 Ruang tamu senyap. Tadi masih kudengar suara Watik meneripa telepon. Tapi sekarang senyap. Aneh. Ini tidak biasa! Terburu-buru aku letakkan kandang Jlitheng ke tempatnya. Kulongok ruang tamu. Kutemui wajah Watik pias. Ia masih menggendong Nuha dengan tangan kiri dan tangan kanannya memegang gagang telepon yang menempel ketat di telinga kanannya. Mata Watik menatap kosong, alisnya berkerut, mulutnya sedikit terbuka. Karma menyambutnya dengan canda yang menurutku sangat keterlaluan. “Haha…. Ini dia….., ternyata bisa menghamili juga kamu Wan ?! hahahaha… kukira……, hahahaha….” Cepat-cepat kuraih gagang telepon dari tangan Watik, lalu kutempelkan di telingaku sendiri.Hanya suara dengung yang kudapatkan. Watik masih terlongo-longo. Kutepuk pipi Watik perlahan. Ia menoleh, menatapku, mata beningnya mengerjap beberapa kali, lalu ia menghambur kepelukanku, ia menangis hebat! Watik terluka. Ia begitu lembut, ia seperti sutra. Sekarang ia koyak. Dan siapapun yang mengoyaknya, pasti akan mendapat balasannya !!! Sejak peristiwa penelponan itu Watik tidak pernah mau menerima telepon. Jika kebetulan aku tidak ada, ia pasti mengecilkan volume dering telepon. Ia trauma. Watik tidak pernah menceritakan kepadaku apa yang didengarnya lewat telepon sehingga ia begitu terguncang. Yang jelas, aku bisa merasakan kagetnya dia, betapa terluka perasaannya, betapa dalam sedihnya. Ia menjadi pendiam.
37 Ia tidak lagi menyentuh mesin ketik tua milik kami, aku tidak pernah lagi menemuinya bersanding dengan segelas kopi dan cermin. Ia lebih suka berlama-lama membelai Nuha, dan tersentak kaget manakala telepon berdering. Sejak itu pula, setiap kali selesai sholat. Aku selalu berdoa memohon kepada Allah untuk mengampuni orang yang telah berbuat keji itu, dan mengembalikan Watikku yang dulu, mengembalikan keceriaannya, kemanjaannya, senyumnya yang semanis gula. Semula aku ingin mendoakan agar kebusukannya diadzab Allah, ia di luar sana yang telah mengoyak-ngoyak perasaan dan jiwa Watik, tetapi bukankan memaafkan itu lebih baik dan lebih mulia, meski getar amarak itu rasanya tak terbendung. Aku tahu pasti Allah Maha Membalas semua perbuatan. Biarlah Allah saja yang menghakiminya. *** Tiga tahun telah berlalu, msiteri penelponan itu tetap tidak terkuak. Watik masih tidak mau menerima telepon, meski sekarang ia mulai mau menulis lagi. Tapi ia tidak pernah mengirimkannya ke majalah. Ia hanya menyimpan begitu saja syair-syair dan cerpen-cerpennya. Sampai saat ini aku tidak mengerti. Aku sudah tidak bekerja lagi di perusahaan milik Pak Karma. Aku tidak tahan lagi dengan lidahnya, selain itu aku ingin mencoba usaha sendiri, yah itung-itung belajar menjadi pengusaha kecil-kecilan. “Assalamu’alaikum….,” sebuah suara memecah keheningan senja. Aku dan Watik meoleh serempak. “Subhanallah, Hasno ?! !Wah…..mari-mari…..angin apa yang membawa kamu kemari ? Ayo- ayo…..kita duduk di luar saja ya ?”
38 “Dibawa angin ribut, Mas…..,” senyum Hasno melebar. Watik beringsut masuk. Menyiapkan minuman. Kami, aku dan Hasno asyik berbincang. Hidup betul-betul seperti roda, kadang bagian yang di atas harus bergulir ke bawah. Kata Hasno, perusahaan Pak Karma nyaris gulung tikar, karyawannya banyak yang di PHK termasuk Hasno, dan kedatangannya untuk meminta tolong agar bisa bekerja padaku, aku sih setuju-setuju saja kebetulan tenaga penjualan masih kurang. Watik keluar membawa minuman dan menyuguhkannya pada kami. “Apa kabarnya Pak Karma, Ha?” “Kasihan Pak Karma, Mas…., nasibnya betul-betul lagi apes. Tapi alhamdulilah syukur kepada Allah, setelah perusahaannya nyaris gulung tikar, lidahnya mulai bisa diatur Mas, ia tidak lagi suka bercanda kelewat batas yang menyakitkan orang lain, waaah pokoknya betul- betul lain Mas! Barangkali ia kelanggar sesuatu atau setelah perusahaannya hampir morat-marit itu ia berusaha introspeksi diri, ya Mas?” tutur Hasno panjang lebar. Kriiiing………., suara dering telepon memutus kalimat Hasno. Spontan aku menengok ke ruang tamu melirik telepon di sudut ruangan. Lho??!! Tumben Watik mau mengangkat gagang telepon? Lho ?! Ia tertawa-tawa, bercerita panjang lebar dengan seseorang di telepon ? Watik ??! Begitu ceria ??! Seperti dulu lagi ??! Aku tidak lagi mendengan cerita Hasno sepenuhnya. Sesekali mataku melirik Watik di ruang tamu, yang begitu santai dengan telepon di genggamannya. Tiba-tiba mata kami berdua bersirobok, Watik tersenyum lebar kepadaku. Senyumnya semanis gula.
39 Bagian 9 "TAUBATNYA MALIK BIN DINAR" Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab sebab dia bertaubat, maka dia berkata : "Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr, kemudian aku beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya. Ketika dia mulai bisa berjalan, maka cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya dibajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini. Ketika malam dipertengahan bulan Sya'ban dan itu di malam Jum'at, aku meneguk khamr lalu tidur dan belum shalat isya'. Maka aku bermimpi seakan-akan qiyamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka,kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku. Ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru biruan membuka mulutnya menuju kearahku,maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan, Ditengah jalan kutemui seorang syaikh yang berpakaian putih dengan wangi
40 yang semerbak, maka aku ucapkan selamat atasnya, dia pun menjawabnya, maka aku berkata: "Wahai syaikh ! Tolong lindungilah aku dari ular ini semoga Allah melindungimu". Maka syaikh itu menangis dan berkata padaku : "Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, akan tetapi bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu", Maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebingitu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takut kupada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggilku, "Kembalilah, engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!", aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku itu juga kembali.Aku datang isya ikhdana ku katakan, "Wahai syaikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa". Menangislah syaikh itu seraya berkata, "Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu" Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun- daun pintu dari emas dan disetiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera.
41 Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena kutemui ular besar lagi. Maka tatkala ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak:"Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu Pintu nya dan mendaki lah kesana!"Mudah mudahan dia punya barang titipan disana yang Dapat melindunginya dari musuhnya (ular). Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajah berseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku, maka aku kebingungan,berteriak lah anak-anak itu : "Celakalah kamu sekalian!, Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya".Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata: "Ayahku, demi Allah!" Kemudian dia melompat bak anak panah menuju padaku, kemudian diaulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan kanan nya keular itu, namun binatang tersebut lari. Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannya untuk menghelai jenggotku dan berkata : "Wahai ayahku! Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah".(QS.Al-Hadid:16) Maka aku menangis dan berkata : "Wahai anakku!, Kalian semua faham tentang Al-Qur'an", maka dia berkata:
42 "Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al-Qur'an darimu", aku berkata : "Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku", dia menjawab: "Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka itu akan memasukkan mu kedalam api Neraka", aku berkata: "Ceritakanlah tentang Syaikh yang berjalan di jalanku itu", dia menjawab : "Wahai ayahku, itulah amal shaleh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu", aku berkata: "Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?", dia menjawab : "Kami adalah anak-anak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafa'at pada kalian". (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635). Berkata Malik : "Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan ku pecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubat ku pada Allah". Bagian 10 “RASA KASIH TERLIHAT DALAM MATA” Sore itu adalah sore yang sangat dingin di Virginia bagian utara, berpuluh-puluh tahun yanglalu. Janggut si orang tua dilapisi es musim dingin selagi ia menunggu tumpangan menyeberangi sungai. Penantiannya seakan tak berakhir. Tubuhnya menjadi mati rasa dan kaku akibat angin utara yang dingin.
43 Samar-samar ia mendengar irama teratur hentakan kaki kuda yang berlari mendekat di atasjalan yang beku itu. Dengan gelisah iamengawasi beberapa penunggang kuda memutari tikungan. Ia membiarkan beberapa kuda lewat, tanpa berusaha untuk menarik perhatian. Lalu, satu lagi lewat, dan satu lagi. Akhirnya, penunggang kuda yang terakhir mendekati tempat si orang tua yang duduk seperti patung salju. Saat yang satu ini mendekat, si orang tua menangkap mata si penunggang...dan ia pun berkata,"Tuan, maukah anda memberi kan tumpangan pada orang tua ini ke seberang? Kelihatannya tak ada jalan untuk berjalan kaki." Sambil menghentikan kudanya, si penunggang menjawab, "Tentu. Naiklah." Melihat si orangtua tak mampu mengangkat tubuhnya yang setengah membeku dari atas tanah, si penunggang kuda turun dan menolongnya naik ke atas kuda. Si penunggang membawa si orang tua itu bukan hanya ke seberang sungai, tapi terus ketempat tujuannya, yang hanya berjarak beberapa kilometer. Selagi mereka mendekati pondok kecil yang nyaman, rasa ingin tahu si penunggang kuda atas sesuatu, mendorongnya untuk bertanya, "Pak, saya lihat tadi bapak membiarkan penunggang 2 kuda lain lewat, tanpa berusaha meminta tumpangan. Saya ingin tahu kenapa pada malam musim dingin seperti ini Bapak mau menunggu dan minta tolong pada penunggang terakhir. Bagaimana kalau saya tadi menolak dan meninggalkan bapak disana?"
44 Si orang tua menurunkan tubuhnya perlahan dari kuda, memandang langsung mata si penunggang kuda dan menjawab, "Saya sudah lama tinggal di daerah ini. Saya rasa saya cukup kenal dengan orang." Si orang tua melanjutkan, "Saya memandang mata penunggang yang lain, dan langsung tahu bahwa di situ tidak ada perhatian pada keadaan saya. Pasti percuma saja saya minta tumpangan. Tapi waktu saya melihat matamu, kebaikan hati dan rasa kasihmu terasa jelas ada pada dirimu. Saya tahu saat itu juga bahwa jiwamu yang lembut akan menyambut kesempatan untuk memberi saya pertolongan pada saat saya membutuhkannya." Komentar yang menghangatkan hati itu menyentuh si penunggang kuda dengan dalam. "Saya berterima kasih sekali atas perkataan bapak", ia berkata pada si orang tua. "Mudah-mudahan saya tidak akan terlalu sibuk mengurus masalah saya sendiri hingga saya gagal menanggapi kebutuhan orang lain. Seraya berkata demikian, Thomas Jefferson, si penunggang kuda itu, memutar kudanya dan melanjutkan perjalanannya menuju ke Gedung Putih. The Sower's Seeds- Brian Cavanaugh. Kau tak akan pernah tahu kapan kau akan memerlukan orang lain, atau kapan seseorang memerlukanmu. Kebijakan dari seluruh hidupmu melukis sebuah citra di matamu, yang membantu orang lain melihat, menemukan pertolongan yang ia butuhkan, dan bahwa masih ada keutamaan lain di dunia. Ini dari pada sekedar peduli dengan dirimu sendiri, yaitu kepedulian mu pada orang lain, sahabat mu atau benar-benar oranglain.
45 Maka bila ada sahabat atau seseorang memerlukan perhatian atau bantuanmu, atau meminta maaf atas satu kesalahan, itu karena ia menghormati dan menghargai kebaikan yang pasti ada dalam jiwamu. Kau dapat menghormati juga permintaan itu, atau kau meninggalkannya di tengah jalan sendirian.
46 Bagian 11 “ASAL-USUL KUMANDANG ADZAN” Seiring dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit, bukan nya semakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus dihadapi untuk menegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah. Kebenaran memang tidak dapat di musnahkan. Semakin hari semakin bertambah banyak saja orang-orang yang menjadi penganutnya. Demikian pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat penyebaranagama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar dari penduduk yang ada di kota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya. Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, tidak lah sulit bagi mereka untuk bisa berkumpul bersama-sama untuk menunaikan sholat berjamaah. Kini, hal itu tidak mudah lagi mengingat setiap penduduk tentu mempunyai ragam kesibukan yang tidak sama. Kesibukan yang tinggi pada setiap orang tentu mempunyai potensi terhadap kealpaan ataupun kelalaian pada masing-masing orang untuk menunaikan sholat pada waktunya. Dan tentunya, kalau hal ini dapat terjadi dan kemudian terus-menerus berulang, maka bisadipikirkan bagaimana jadinya para pemeluk Islam. Ini adalah satu persoalan yang cukup beratyangperlu segera dicarikanjalankeluarnya.
47 Pada masa itu, memang belum ada cara yang tepat untuk memanggil orang sholat. Orang-orang biasanya berkumpul dimasjid masing -masing menurut waktu dan kesempatan yang dimilikinya. Bila sudah banyak terkumpul orang, baru lah sholat jama`ah di mulai. Atas timbulnya dinamika pemikiran diatas, maka timbul kebutuhan untuk mencari suatu carayang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan dan memanggil orang-orang untuksholattepatpadawaktunya tiba. Ada banyak pemikiran yang diusulkan. Ada sahabat yang menyarankan bahwa mana kala waktu sholat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ketempat itu, atau setidak-tidaknya asapnya bisa dil ihat orang walaupun ia berada ditempat yang jauh. Ada yang menyarankan untuk membunyikan lonceng. Ada juga yang mengusulkan untuk meniup tanduk kambing. Pendeknya ada banyak saran yang timbul.
48 Saran-saran di atas memang cukup representatif. Tapi banyak sahabat juga yang kurang setuju bahkan ada yang terang-terangan menolaknya. Alasannya sederhana saja : itu adalah; cara-cara lama yang biasanya telah dipraktekkan oleh kaum Yahudi. Rupanya banyak sahabat yang mengkhawatirkan image yang bisa timbul bila cara-cara dari kaum kafir digunakan. Maka di sepakati lah untuk mencari cara-cara lain. Lantas, ada usul dari Umar r.a jikalau di tunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk sholat pada setiap masuknya waktu sholat. Saran ini agaknya bisa diterima oleh semua orang, Rasulullah SAW juga menyetujuinya. Sekarang yang menjadi persoalan bagaimana itu bisa dilakukan? Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid r. a meriwayatkan sbb: "Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk sholat di musyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja. Orang tersebut malah bertanya, "Untuk apa? Aku menjawabnya,"Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan sholat." Orang itu berkata lagi,"Maukah kau ku ajari cara yang lebih baik?"Dan aku menjawab"Ya!" Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang,"Allahu Akbar, Allahu Akbar."
49 Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi itu kepada beliau. Dan beliau berkata,"Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang." Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal." Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar r.a, ia juga menceritakannya kepada RasulullahSAW. Nabi SAW bersyukur kepada Allah SWT atas semua ini. Bab 12 ” TIDUR DAN KEMATIAN” Namaku Arthur Alison, seorang profesor yang menjabat Kepala Jurusan Teknik Elektro Universitas London. Sebagai orang eksak, bagiku semua hal bisa di katakan benar jika masuk akal dan sesuai rasio. Karena itulah, pada awalnya agama bagiku tak lebih dari objek studi. Sampai akhirnya aku menemukan bahwa AlQuran, mampu menjangkau pemikiran manusia. Bahkan lebih dari itu. Maka aku pun memeluk Islam. Itu bermula saat aku diminta tampil untuk berbicara tentang metode kedokteran spiritual. Undangan itu sampai kepadaku karena selama beberapa tahun, aku mengetuai Kelompok Studi Spiritual dan Psikologis Inggris. Saat itu, aku sebenarnya telah mengenal Islam melalui sejumlah studi tentang agama-agama.