The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by YAYASAN SETARA SEMARANG, 2023-11-22 04:17:07

DRAFT BULLETIN DISPO 2023

DRAFT BULLETIN DISPO 2023

DISIPLINPOSITIFMendidik Tanpa Kekerasan SEJARAH SINGKAT, LATAR BELAKANG & SEKILAS TENTANG DISIPLIN POSITIF MENGHENTIKAN PERUNDUNGAN, KEKERASAN SEKSUAL DAN INTOLERANSI DENGAN DISIPLIN POSITIF BERSAMA KEMENDIKBUDRISTEK KUTIPAN GURU, PENGAWAS & SISWA SELAMA BERLANGSUNGNYA KEGIATAN DISIPLIN POSITIF 15 Juni 2023 https://yayasansetara.org/


Daftar Isi STRUKTUR PENGELOLA PENANGGUNG JAWAB PEMIMPIN REDAKSI REDAKTUR PELAKSANA DESAIN DAN TATA LETAK HENING BUDIYAWATI ODI SHALAHUDDIN YULI SULISTYANTO BINTANG AL HUDA NAELI NIHAYAH ANNISA RACHMA TEANA SRI PUNDATI 4 4 SEJARAH SINGKAT : DISIPLIN POSITIF 5 LATAR BELAKANG : DISIPLIN POSITIF 6 SEKILAS : TENTANG DISIPLIN POSITIF 7 DUKUNGAN PROGRAM DARIUNICEF 10 INFOGRAFIS KUTIPAN DARI PARA GURU& PENGAWAS DI SMP & SMA CERITA SERU: PELAJAR PASCA KEGIATAN DISIPLIN POSITIF CERITA SERU: PARA GURUPASCA KEGIATAN DISIPLIN POSITIF CERITA SERU: TENAGA PENDIDIK PASCA KEGIATAN DISIPLIN POSITIF KUTIPAN DARI KONSULTAN UNICEF INDONESIA TERKAIT KEGIATAN DISIPLIN POSITIF CERITA DARI YAYASAN SETARA TERKAIT TENTANG DISIPLIN POSITIF NARASI DARI DIREKTORAT SMP NARASI DARI KEMENDIKBUDRISTEK PROGRAM KEGIATAN DISIPLIN POSITIF YANG TELAH DILAKUKAN KUTIPAN DARI KOORDINATOR PROGRAM DISIPLIN POSITIF DI YAYASAN SETARA 11 13 14 19 20 21 22 25 26 27


Salam disiplin positif untuk mewujudkan profil pelajar pancasila! Alhamdulillah wa syukurillah, Dengan rasa syukur kami memanjatkan segala puja-puji hanya kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Dengan ijin dan kehendak-Nya, Buletin Disiplin Positif ini bisa tersaji di hadapan Anda, para pembaca budiman. Di penghujung Program Kemitraan bersama UNICEF, Yayasan SETARA selaku mitra pelaksana program Disiplin Positif untuk Merdeka Belajar dapat menerbitkan dokumentasi kegiatan program yang sudah dilaksanakan dari bulan September 2023 – Juni 2023 ini, dalam semangat mengemban pelatihan dan praktik – praktik terkait pelaksanaan program Disiplin Positif di 34 provinsi di Indonesia memberikan informasi banyak yang dapat kita tulis dalam buletin ini. Dialog - dialog komunikasi dengan kelompok guru, siswa, pemangku kebijakan dan tim yang profesional sebagai upaya menyatukan pemikiran dan langkah antara pemerintah dan masyarakat untuk mendukung kelancaran proses program berjalan dengan baik. Edisi I buletin ini mendokumentasikan praktik - praktik baik sekolah yang telah menjalankan program, serta pelibatan murid dan warga sekolah dalam pelaksanaan Disiplin Positif sehingga mendapatkan hasil - hasil capaiannya sehingga mendapat apresiasi pemerintah setempat dan respon baik sekolah - sekolah pelaksana program Disiplin Positif. Namun juga kiprah dan upaya - upaya bersama guru, murid serta masyarakat beserta hasil - hasil praktik baik menjadi bahan evaluasi sekaligus penyemangat tim dan pelaksana dala pengembangan program baik tingkat SMP, SMA maupun nantinya ke sekolah dasar. Berbagai informasi tentang dokumentasi program ikut tersaji untuk pembaca. Selamat membaca. Tak ada kesempurnaan kecuali milik Tuhan. Kekurangan dan kesalahan selalu ada pada manusia. Demi perbaikan, kebaikan dan kemajuan, dengan kerendahan hati masukan pembaca kami nantian. DariRedaksi JL. SAMPANGAN BARU BLOK A, NO. 14 SAMPANGAN SEMARANG, INDONESIA YAYASAN SETARA Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh @YAYASANSETARA [email protected] HTTPS://YAYASANSETARA.ORG/ SETARA CHANNEL 024-8318464; 08122538369 “MARI, KITA CIPTAKAN LINGKUNGAN YANG AMAN, NYAMAN DAN RAMAH ANAK DI DUNIA PENDIDIKAN” Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh


SEJARAH SINGKAT : DISIPLIN POSITIF Disiplin positif merupakan program yang dikembangkan oleh Jane Nelson untuk mengajarkan anak untuk menjadi bertanggungjawab serta hormat pada komunitasnya. Melalui bukunya "Positive Discipline" yang diterbitkan pada tahun 1987, Jane Nelson menjelaskan bagaimana disiplin positif mengubah kehidupan keluarganya berdasarkan perjalanan hidupnya sebagai seorang ibu bagi tujuh anak dan bagaimana disiplin positif membantunya sebagai terapis keluarga. Pendekatan disiplin positif Jane Nelson ini dilandasi oleh ajaran psikiater Alfred Adler (1920) dan Rudolf Dreikurs (1930) mengenai pembelajaran disiplin diri, tanggung jawab, kerja sama dan kualitas yang diperlukan untuk pemecahan masalah bagi seseorang/anak dalam upayanya untuk merasa berharga, bernilai dan berarti buat orang lain Tahun 2016 - 2017, pendekatan disiplin positif tersebut diadopsi dan dikembangkan oleh Yayasan Nusantara Sejati dengan dukungan UNICEF dalam mendukung program literasi kelas awal pada kurang lebih 200 SD pada 6 Kabupaten/Kota di Papua dan Papua Barat. SEJARAH SINGKAT 4 Pendekatan disiplin positif diadaptasi sesuai budaya dan kondisi di Indonesia serta dielaborasikan juga dengan pemikiran dan gagasan Ki Hajar Dewantara (1922) tentang pendidikan yang memerdekakan bahwa "Mendidik dan mengajar adalah proses memanusiakan manusia, sehingga harus memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental, jasmani dan rohani."


LATAR BELAKANG : DISIPLIN POSITIF Dalam Permendikbudristek Nomer 16 tahun 2022 tentang Standar Proses pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, di Bagian Keempat pada Pelaksanaan Pembelajaran dalam Suasana Belajar yang Menyenangkan, terdapat pada pasal 12, perihal; 1) Pelaksanaan pembelajaran dalam suasana belajar yang menyenangkan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat 1 huruf c dirancang agar peserta didik mengalami proses belajar sebagai pengalaman yang menimbulkan emosi positif. 2) Pelaksanaan pembelajaran dalam suasana belajar yang sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan dengan cara: a. Menciptakan suasana belajar yang gembira, menarik, aman dan bebas dari perundungan. b. Menggunakan berbagai variasi metode dengan mempertimbangkan aspirasi dari peserta didik, serta tidak terbatas hanya di dalam kelas. c. Mengakomodasi keberagaman gender, budaya, bahasa daerah setempat, agama atau kepercayaan, karakteristik dan kebutuhan setiap peserta didik. 3 LATAR BELAKANG 5 MARI CIPTAKAN LINGKUNGAN POSITIF! DISIPLIN POSITF, YES!


SEKILAS : TENTANG DISIPLIN POSITIF Berdasarkan kondisi terkini pendidikan di Indonesia, maka dibutuhkan suatu pendekatan komprehensif serta ramah anak untuk menumbuhkembangkan pemikiran dan perilaku positif peserta didik, tentunya pendekatan ini juga bisa dilakukan oleh para pendidik di sekolah maupun orangtua di rumah. Salah satu pendekatan yang bisa diterapkan adalah pendekatan disiplin positif yang bisa dilaksanakan dalam satuan pendidikan, dan tentunya mendukung pembentukan Profil Pelajar Pancasila yang membangun kualitas pembelajaran di lingkungan satuan pendidikan. 3 SEKILAS 3 3 6 Pendekatan disiplin positif merupakan pendidikan mendidik dan membina yang bertumpu pada upaya membangun pemikiran dan perilaku positif peserta didik. Sehingga, peserta didik dapat mengontrol perilakunya sendiri karena pemahaman dan kesadarannya, serta bertanggungjawab atas pilihan tindakan dan perilakunya sebagai perwujudan menghormati diri sendiri dan orang lain. Pendekatan disiplin positif secara tidak langsung ‘berbicara’ tentang peserta didik. Pendekatan ini lebih fokus pada diri orang dewasa dalam persepsi mengenai caranya dalam mendidik dan membina pemikiran serta perilaku positif peserta didik. Penerapan pendekatan disiplin positif di sekolah harus menjadi gerakan bersama semua warga sekolah dalam mendidik dan membina peserta didik di sekolah. Harapannya, peserta didik tidak mendapatkan perbedaan perlakuan para pendidik/tenaga kependdiikan di sekolah. Terakhir, melalui pendekatan disiplin positif, satuan pendidikan dapat menjadi ekosistem yang aman, nyaman, menyenangkan dan inklusif. Peserta didik akan merasa didukung dan dihargai dalam setiap aspek kehidupan sekolah, sehingga mereka dpaat tumbuh dan berkembang secara holistik.


Dimulai Bersama dari Orang Dewasa, untuk Masa Depan Setiap Anak Bangsa Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan. (Dorothy Law Nolte) 3 3 DUKUNGAN PROGRAM DARI UNICEF 7 Dunia yang damai adalah impian dari semua orang. Cita-cita untuk menjadikan sekolah seperti taman belajar bagi para peserta didik seperti yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara merupakan tulisan yang diharapkan bisa menjadi kenyataan. Guru yang bersikap ramah pada peserta didiknya, peserta didik yang percaya pada gurunya, merupakan momen yang indah dan mulai jarang ditemui di masa kini. Kenyataannya, berbagai kasus perundungan, kekerasan seksual dan intoleransi di dunia pendidikan masih terus terjadi. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan dan kebijakan yang memperkuat sistem perlindungan anak di satuan pendidikan. DUKUNGAN PROGRAM DARI UNICEF UNICEF dalam mandatnya untuk menegakkan hak anak dan mendukung pemerintah Indonesia dalam memastikan setiap anak terlindungi, telah mengembangkan program Disiplin Positif sejak tahun 2016. Disiplin Positif bertujuan untuk melatih pendidik tentang bagaimana mengajarkan disiplin kepada peserta didik tanpa menggunakan unsur kekerasan, baik itu fisik maupun verbal. Berbagai riset membuktikan bahwa penggunaan kekerasan dalam proses pendisiplinan nyatanya tidak efektif dan dapat menimbulkan efek negatif dalam jangka panjang pada anak-anak.


3 3 Sasaran program Disiplin Positif ini adalah untuk Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru atau orang dewasa yang diharapkan dapat menjadi teladan dan penentu terciptanya lingkungan yang aman, nyaman dan menyenangkan untuk belajar. Pada tahun 2016, UNICEF mengimplementasikan program Disiplin Positif ini kepada 80 SD di Papua dan 40 SD di Papua Barat, termasuk didalamnya 490 guru dan 7,200 peserta didik. Pada tahun 2019, melalui Universitas Muhammadiyah Sorong dan Universitas Negeri Makassar, modul ini diadaptasi untuk menjadi materi wajib dalam diklat guru. Salah satu temuan yang mengejutkan dari Survei Lingkungan Belajar di tahun 2021 adalah bahwa 24,4 persen peserta didik berpotensi mengalami insiden perundungan dalam satu tahun terakhir. Selain perundungan, sebanyak 22,4 persen peserta didik juga berpotensi mengalami insiden kekerasan seksual. Dalam rangka meningkatkan kondisi lingkungan belajar, survei juga menunjukkan bahwa 68 persen satuan pendidikan memerlukan penguatan dan peningkatan sikap kebhinekaan. Hasil survei ini tentu menjadi perhatian kita bersama karena dampaknya yang besar kepada anak-anak kita. Namun demikian, survei juga menunjukkan bahwa semakin pendidik atau kepala satuan pendidikan dalam satu sekolah paham tentang konsep perundungan dan kekerasan,, serta mempunyai program-program pencegahan serta mekanisme jelas dalam penanganan kekerasan, semakin berkurang insiden yang terjadi. Seiring berjalannya waktu, berbagai tantangan baru muncul dalam upaya perlindungan anak di satuan pendidikan. Pandemi COVID-19 yang menuntut adanya adaptasi dalam kehidupan sehari hari ternyata berpengaruh pada angka kekerasan di satuan pendidikan. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi melalui Rapor Pendidikan membuat cara baru untuk mengetahui realita dalam skala nasional maupun di level sekolah itu sendiri. DUKUNGAN PROGRAM DARI UNICEF 8


3 Merespon adanya kebutuhan penting untuk meningkatkan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi teladan bagi para peserta didik, UNICEF Indonesia dan Direktorat Sekolah Menengah Pertama dan Direktorat Sekolah Menengah Atas, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia bersama Yayasan Setara selaku mitra UNICEF, melaksanakan implementasi Program Disiplin Positif di skala nasional sejak tahun 2022. Di tahun pertama, perwakilan dari 60 SMA dan 235 SMP dari 34 provinsi mengikuti pelatihan disiplin positif yang terdiri dari unsur pengawas, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan guru Bimbingan Konseling. Tak berhenti hanya pada pelaksanaan kegiatan, kolaborasi ini juga terus mengawal pelaksanaan di sekolah. Berbagai cerita praktik baik tersampaikan lewat kisah kisah para guru yang menangani perilaku peserta didik yang tidak tepat dalam bulletin ini. Komitmen untuk meningkatkan iklim keamanan dan kebhinekaan di satuan pendidikan terus dilanjutkan di tahun 2023. Di tahun ini, 80 SMA dari berbagai daerah afirmasi juga mulai melakukan penerapan disiplin positif di sekolahnya. Tak lama lagi, di bulan Agustus 2023, juga telah direncanakan pelaksanaan penerapan disiplin positif untuk 140 SMP di provinsi-provinsi di Pulau Jawa. Tentu saja, perlindungan anak memerlukan keterlibatan banyak pihak, mulai dari lingkaran terkecil yaitu keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah sebagai penentu kebijakan. UNICEF berkomitmen untuk terus mendorong setiap pihak dalam memenuhi hak anak terhadap perlindungan di Indonesia. Bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, UNICEF berharap dapat memastikan pendidik dan tenaga kependidikan menggunakan pendekatan disiplin positif sebagai alternatif untuk mendisiplinkan peserta didik yang berperilaku tidak tepat, agar kekerasan terhadap anak tidak diwarisi ke generasi selanjutnya dan lingkungan aman, nyaman dan menyenangkan dapat diwujudkan di lingkungan belajar. 9 DUKUNGAN PROGRAM DARI UNICEF


INFOGRAFIS Pelatihan Disiplin Positif bagi Wakasis dan Guru BK yang sukses menjangkau 238 sekolah di 36 provinsi dan 140 kabupaten, yang terdiri dari 128 pria dan 163 wanita Webinar Disiplin Positif untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang telah menjangkau 176 sekolah di 18 provinsi dan 87 kabupaten, yang terdiri dari 68 pria dan 148 wanita Monitoring dan Evaluasi Disiplin Positif yang telah menjangkau 113 sekolah di 33 provinsi dan 87 kabupaten, yang terdiri dari 43 pria dan 76 wanita Berikut beberapa program Disiplin Positif pada jenjang SMP yang telah dilaksanakan : 1. 2. 3. 3 3 10 DISIPLIN POSITIF Pelatihan Daring Disiplin Positif yang telah berhasil menjangkau 114 sekolah di 36 provinsi dan 75 kabupaten/kota, dengan total 117 orang peserta yang terdiri dari 73 pria dan 44 wanita Monitoring dan Evaluasi Disiplin Positif yang telah menjangkau 39 sekolah di 21 provinsi dan 31 kabupaten/kota, dengan total 40 orang peserta yang terdiri dari 21 pria dan 19 wanita Sedangkan pada jenjang SMA, program Disiplin Positif yang telah dilaksanakan, yaitu : 1. 2. INFOGRAFIS


dengan adanya disiplin positif ini menyebabkan : adanya kenyamanan dan ketenangan dari kedua belah pihak (guru dan siswa), agak terkendali dan terkontrol secara emosional, serta menyadari dengan sepenuh hati bahwa semua peristiwa akan berproses untuk langkah selanjutnya 3 manfaat dengan diadakannya kegiatan disiplin positif di sekolah, yaitu : menjadi efektif dan efisien dalam menggunakan waktu, membetuk pola kebiasaan yang baik, serta menjadi terbiasa mengerjakan tanggung jawab dengan baik Ludovika Haeni Intarti, guru BK di SMP Negeri 1 Panggang, Gunungkidul, DIY KUTIPAN DARI GURU & WAKASIS DI SMP Guru BK di SMP Negeri 1 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Muhammad Fauzie, S.Pd. kegiatan disiplin positif di sekolah membuat segala hal menjadi lebih enjoy. Santai. Pikiran dan badan terasa lebih enteng dibanding sebelumnya. Pikiran tegang karena emosi, nafas jnaik turun karna marah sudah jarang terjadi Aloysia Two Ratih Sukmawati, Wakasek Kesiswaan SMP N 3 Pasarkemis, Tangerang, Banten seorang siswa merasa dirinya lebih siap daripada teman lainnya. Sehingga otomatis rasa percaya dirinya juga akan bertambah. Rasa percaya diri ini membuat siswa bisa mengerjakan ulangan dan ujian dengan lebih tenang, sehingga hasilnya jadi optimal Kepala Sekolah SMP Pratama 2, Lampung Selatan, Lampung, Sumbiesan Roganda Hutasoit 11 KUTIPAN DARI PARA GURU DAN PENGAWAS


3 hal positif setelah mengikuti rangkaian kegiatan disiplin positif, yaitu : kesadaran siswa dalam pentingnya mengatur waktu, tanggung jawab atas setiap perbuatan yang dilakukan serta pentingnya disiplin dalam sekolah setelah mengikuti kegiatan disiplin positif tersebut ternyata anak bisa hadir tepat waktu, mengikuti kegiatan belajar dengan lebih baik, kondisi kelas semakin kondusif, serta guru yang mengajar pun semakin nyaman dan tenang I Nyoman Ngardika, selaku Pengawas dari SMA Negeri 1 Tabanan, Bali KUTIPAN DARI GURU & PENGAWAS DI SMA Andi Arman Rosali,S.Pd, selaku guru di SMA Negeri 2 Nunukan, Kalimantan Timur siswa melihat sendiri aksi tidak tepatnya dan dengan nasehat dari BK dan wali kelas, mereka berjanji tidak akan mengulang lagi perilaku tidak tepatnya Darmawati, guru SMAN 7 Sarolangu, Jambi siswa merasa merdeka dan diterima atas keunikan perilaku yang muncul pada fase remaja, dan merasa didampingi dan dibimbing melewati fase sulit itu Pengawas di SMA 1 Solok, Solok, Sumatera Barat, Yonelita Johan 12 KUTIPAN DARI PARA GURU DAN PENGAWAS


Merasa senang ketika mendapatkan sosialisasi tentang disiplin positif yang memiliki manfaat bisa mendisipilinkan diri sendiri. Dengan adanya disiplin positif ini membuat kita sebagai siswa menyadari akan perilaku tidak tepat yang kita lakukan dan di sekolah saya ketika ada siswa yang melakukan pelanggaran terlambat masuk sekolah, CERITA SERU DARI PELAJAR PASCA MENGIKUTI KEGIATAN DISIPLIN POSITIF 13 ~ Ratu Berham ~ SMP N 36 Bandung CERITA SERU DARI PELAJAR "Adanya disiplin positif ini membuat kita sebagai siswa menyadari akan perilaku tidak tepat yang kita lakukan dan di sekolah" Nama siswa tersebut akan dicatat. Setelah itu anak yang melakukan pelanggaran dikumpulkan dan kemudian diajak berdialog mengapa mereka melakukan perbuatan tersebut. Itulah contoh penerapan disiplin positif yang sudah diterapkan di sekolah saya dan harapannya agar disiplin positif ini tidak hanya diterapkan di sekolah saya saja, tetapi juga ada di sekolah lainnya.


Setelah mendapatkan pelatihan disiplin positif dan mensosialisasikan ke sekolah, yang pertama kali saya rasakan yaitu mendapatkan penolakan dari para guru dengan alasan yang klise, karena mereka sudah terbiasa melakukan hal tersebut. Namun setelah melalui beberapa tahapan, disiplin positif ini dapat merubah mindset para guru walaupun belum seratus persen. Cerita menarik yang pernah saya alami ketika menghadapi siswa yang melakukan perilaku tidak tepat seperti tidak menggunakan atribut sekolah dengan lengkap, disini saya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara berdialog dan mencari solusi dari adanya permasalahan tersebut. Kemudian setelah dilakukan pendekatan disiplin positif, para peserta didik mulai memahami tentang mematuhi peraturan sekolah dengan kesadaran dirinya sendiri, bukan karena takut, Harapan saya agar program disiplin positif ini secara massif menjadi gerakan di sekolah dengan meningkatkan kapasitas guru agar sama dengan dilakukan adanya bimtek yang ditujukkan kepada seluruh stakeholder sekolah dan kami sedang mendorong pimpinan agar program tersebut dapat menjadi program sekolah. CERITA SERU DARI PARA GURU SMP PASCA MENGIKUTI KEGIATAN DISPILIN POSITIF Sabarina Nur Sarah, M.Pd SMPN 36 Bandung 14 CERITA SERU DARI PARA GURU "DISIPLIN POSITIF INI DAPAT MERUBAH MINDSET PARA GURU"


Akhirnya setelah memberikan penjelasan, mereka pun mencoba memahami kondisi temannya itu. Setelah beberapa waktu, ternyata teman yang selalu melakukan perilaku tidak tepat tersebut meninggal dunia karena sakitnya dan akhirnya temanteman yang lain merasa sangat kehilangan bahkan di saat pemakaman temannya itu. Dari cerita tersebut menunjukkan bahwa dalam penerapan disiplin positif dengan melakukan dialog itu sangat efektif dalam memberikan solusi pemecahan masalah terhadap perilaku tidak tepat yang dilakukan oleh peserta didik dan harapan saya semoga disiplin positif ini lebih digaungkan lagi ke seluruh sekolah lainnya, serta adanya bahan bacaan seperti modul agar disiplin positif ini dapat dipelajari oleh semua guru. CERITA SERU DARI PARA GURU SMP PASCA MENGIKUTI KEGIATAN DISPILIN POSITIF 15 CERITA SERU DARI PARA GURU "SEMOGA DISIPLIN POSITIF INI LEBIH DIGAUNGKAN LAGI KE SELURUH SEKOLAH" Cerita menarik yang saya alami ketika menerapkan disiplin positif pada peserta didik, waktu itu ada salah satu siswa yang selalu melakukan perilaku tidak tepat dan membuat teman-temannya merasa terganggu. Setelah saya ajak berdialog, ternyata anak tersebut memiliki suatu penyakit dan akhirnya saya ajak berdialog pula kepada teman-teman lain bahwa temannya melakukan hal tersebut karena memiliki kekurangan. Fauzi, SMP 1 Banjarbaru Kalimantan Selatan


Saya merasa mendapatkan ilmu baru yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya, yaitu menjadi tahu bagaimana cara mendidik anak dengan hati. Manfaat yang saya rasakan setelah mendapat pelatihan disiplin positif sebagai pendidik yaitu dapat menerapkannya dalam mendidik anak ketika mereka melakukan perilaku tidak tepat. Cerita menarik selama saya menangani salah satu perilaku tidak tepat yang dilakukan anak, saat itu si anak membawa miras ke sekolah. Namun setelah saya ajak berdialog, ia mulai menunjukkan perubahan baik. Harapan saya terhadap disiplin positif ini agar bisa terus dilanjutkan, mungkin bisa diwujudkan melalui pertemuan secara offline bersama para fasilitator dari UNICEF maupun Yayasan Setara dan benar benar didampingi dalam proses pelaksanaanya, sehingga dengan adanya program ini dapat memberikan dampak positif pada sekolah kami. Pujiyatmi W, S.Kep., M.Psi., CWCCA SMP Muhammadiyah 11 Kedawung Sragen CERITA SERU DARI PARA GURU SMP PASCA MENGIKUTI KEGIATAN DISPILIN POSITIF 16 CERITA SERU DARI PARA GURU "ADANYA PROGRAM INI DAPAT MEMBERIKAN DAMPAK POSITIF PADA SEKOLAH KAMI"


Yang saya rasakan setelah menerapkan disiplin positif, adanya perbedaan suasana ketika menangani perilaku tidak tepat siswa yang sebelumnya menggunakan hukuman kekerasan, saat ini kami menggunakan pendekatan dengan berdialog dan terjadi perubahan yang signifikan. Manfaat disiplin positif memberikan nilai positif bagi diri saya sendiri dan manfaat disiplin positif untuk siswa sebagai investasi masa depan, dimana nilai disiplin positif tersebut sangat bermanfaat bagi mereka dimasa depan, ketika mereka nantinya menjadi seorang pemimpin. Dan ketika pengimplementasian disiplin positif ini pada awalnya banyak teman sejawat saya yang ragu akan penerapannya, karena stigma masa lalu ketika melakukan suatu perilaku tidak tepat maka akan dihukum, Namun seiring berjalannya waktu, teman sejawat saya mulai memahami nilai positif dari disiplin positif ini. Harapan saya ke depan terkait disiplin positif ini harus dilanjutkan dan diterapkan pada lingkungan pendidikan di seluruh Indonesia karena nilai disiplin positif ini juga merupakan salah satu budaya Indonesia yang santun. FERDA FRANS S., S.Th. M.Pd. SMAN 6 Gorontalo CERITA SERU DARI PARA GURU SMA PASCA MENGIKUTI KEGIATAN DISPILIN POSITIF 17 CERITA SERU DARI PARA GURU "DISIPLIN POSITIF MEMBERIKAN NILAI POSITIF BAGI DIRI SAYA SENDIRI DAN SEBAGAI INVESTASI MASA DEPAN SISWA"


Ada cerita menarik ketika menerapkan disiplin positif ini di sekolah, ada peserta didik yang menanyakan mengapa saya tidak marah ketika ada siswa yang melakukan perilaku tidak tepat dan hal tersebut membuat siswa saya sedikit terkejut. Saya pun kemudian memberikan sedikit penjelasan mengenai disiplin positif ini kepada siswa tersebut, bahwasanya dalam menyelesaikan permasalahan perilaku tidak tepat tidak harus selalu menggunakan kekerasan. Harapan saya kedepannya mengenai disiplin positif ini agar dapat diterapkan di seluruh sekolah yang ada di Indonesia, bukan hanya ditempat kami saja. Sehingga peserta didik dalam menaati peraturan bukan karena takut, tetapi memiliki kesadaran terhadap dirinya sendiri. CERITA SERU DARI PARA GURU SMA PASCA MENGIKUTI KEGIATAN DISPILIN POSITIF 18 CERITA SERU DARI PARA GURU "Peserta didik bertanya mengapa saya tidak marah ketika ada siswa yang melakukan perilaku tidak tepat ?" Setelah mendapatkan pelatihan dan mensosialisasikan tentang displin positif, kami mendapatkan sambutan baik dari para guru, walaupun secara real belum dapat diterapkan seratus persen. Akan tetapi terjadi perubahan pada guru dalam menanggani perilaku tidak tepat yang dilakukan oleh peserta didik dan terjadi perubahan positif diantara para guru dan peserta didik. Zuhri, S. Pd., M.M. SMAN 1 Meureudu, Aceh


CERITA SERU DARI TENAGA PENDIDIK DI SMA PASCA MENGIKUTI KEGIATAN DISPILIN POSITIF Dalam menerapkan disiplin positif ini tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan, butuh proses secara bertahap. Dan salah satu cara menerapkan disiplin positif yang telah saya lakukan yaitu dengan cara membuat kesepakatan bersama dengan peserta didik, dimana kesepakatan bersama ini dibuat untuk tidak dilanggar. Dengan cara seperti itu, dapat sedikit merubah perilaku siswa dan harapan saya terkait disiplin positif ini agar diterapkan ke jenjang sekolah dasar tidak hanya di SMA atau SMP saja. Sehingga karakter peserta didik dapat terbentuk dengan baik sejak di jenjang sekolah dasar, yang nantinya dapat membentuk karakter baik yang dapat mempermudah ketika mereka masuk ke jenjang sekolah berikutnya Jerianson, S. Th, Wakasis SMAN 1 Kuala Kurun Kalimantan Tengah 19 CERITA SERU DARI TENAGA PENDIDIK Merasa lega dan bahagia ketika mendapatkan pelatihan disiplin positif ini, serta merasa senang karena tidak harus menggunakan kekerasan saat menghadapi perilaku tidak tepat yang dilakukan siswa. "MERASA LEGA DAN BAHAGIA KETIKA MENDAPATKAN PELATIHAN DISIPLIN POSITIF"


20 Awalnya saya merasa cukup sulit untuk memastikan semua orang yang terlibat dalam program ini memiliki pemahaman yang sama tentang bagaimana Disiplin Positif bisa menjadi salah satu pilihan cara untuk menciptakan sistem perlindungan anak di satuan pendidikan. Walau masih jauh dari sempurna, kolaborasi ini sudah berjalan jauh dari titik awal dimulai dan perlahan banyak kisah tentang perubahan yang hasilnya demi kebaikan bersama. Saya semakin yakin bahwa perjuangan untuk pemenuhan hak anak itu sangat mungkin diwujudnyatakan, apalagi jika semakin banyak pihak yang peduli dan mau berubah bersama. KUTIPAN DARI KONSULTAN UNICEF INDONESIA Arika Maria UNICEF Indonesia KUTIPAN DARI KONSULTAN UNICEF


21 Gerakan disiplin positif telah kami (Yayasan Setara) kembangkan dari tahun 2017. Butuh konsistensi dalam perjuangan untuk menyebarkan informasi pendekatan Disiplin Positif, karena di dalam Disiplin Positif mencoba membedah presepsi pendidik dalam merespon semua siswa secara positif, tanpa adanya kekerasan dan hukuman. Disiplin Positif sangat relevan dengan prinsip Ki Hajar Dewantara bahwa "guru harus mampu memahami dan menghargai siswa sebagai individu yang unik. Dengan kebutuhan, minat dan potensi yang berbeda-beda. Guru juga harus memahami latar belakang sosial, budaya dan lingkungan siswa. Sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif." Mari bergerak bersama untuk perubahan yang lebih baik di dunia pendidikan. panjang umur perjuangan. KUTIPAN KOORDINATOR PROGRAM DISIPLIN POSITIF YAYASAN SETARA Bintang Al Huda Koordinator Program Disiplin Positif Yayasan Setara KUTIPAN DARI KOORDINATOR PROGRAM


22 SEKOLAH MENYENANGKAN DENGAN PENDEKATAN DISIPLIN POSITIF Sekolah merupakan salah satu institusi di luar keluarga yang berperan dalam mendidik dan membentuk karakter peserta didik. Elemen yang tidak dapat dilepaskan adalah hubungan antara pendidik dan peserta didik. Peran pendidik sangat penting dalam membentuk karakter peserta didik dan menginternalisasikan nilai-nilai moral pada peserta didik. Seperti halnya orang tua, pendidik di sekolah selain bertugas untuk mengajar, juga memiliki peran yang hampir sama dengan orang tua, yaitu mendidik peserta didik untuk menjadi pribadi yang baik (Gui et al., 2020:52-59). Sekolah seharusnya dapat menjadi tempat yang nyaman, aman, inklusif, dan memberikan ruang partisipasi bagi semua peserta didik, namun masih banyak sekolah dalam mendidik peserta didiknya (terutama dalam hal disiplin) memperlakukan peserta didik dengan kasar sehingga mengakibatkan terjadinya tindak kekerasan terhadap peserta didik. Sekolah merupakan salah satu lembaga di luar keluarga yang berperan dalam mendidik dan membentuk karakter peserta didik. Unsur yang tidak dapat dipisahkan adalah adanya hubungan antara pendidik dan peserta didik. Peran pendidik sangat penting dalam membentuk karakter peserta didik dan menginternalisasi nilai moral pada peserta didik. Seperti halnya orang tua, pendidik di sekolah memiliki tugas dan fungsi tidak hanya mengajar melainkan juga memiliki peran yang hampir sama dengan orang tua, yaitu mendidik peserta didik menjadi pribadi yang baik. Sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, inklusif, dan memberikan ruang partisipasi bagi semua peserta didik, namun dalam kenyataannya masih banyak pendidik dalam mendidik peserta didiknya (terutama dalam hal kedisiplinan) memperlakukan peserta didik dengan kasar sehingga terjadi tindakan kekerasan terhadap peserta didik (Yoon et.al., 2016: 91-113). Hal ini dibuktikan dengan berbagai data yang menunjukkan bahwa kekerasan terhadap peserta didik di institusi pendidikan masih sering terjadi. CERITA DARI YAYASAN SETARA


23 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mencatat bahwa dalam kurun waktu 9 tahun, dari 2011 sampai 2019, ada 37.381 pengaduan kekerasan terhadap peserta didik. Kasus bullying baik di pendidikan maupun di sosial media angkanya mencapai 2.473 laporan dan trennya terus meningkat (KPAI, 2020}. Selanjutnya, hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Peserta didik dan Remaja (SNPHAR) 2021 yang dirilis oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Peserta didik (Kemen PPPA) menunjukkan bahwa 3 dari 10 peserta didik laki-laki (34%) dan 4 dari 10 peserta didik perempuan usia 13-17 tahun (41.05%) pernah mengalami kekerasan dalam bentuk apapun di sepanjang hidupnya. Survey ini dilakukan di 33 Provinsi, 188 Kabupaten/Kota, 236 Kecamatan dengan jumlah sampel 14.160 rumah tangga yang tersebar di 1.416 Blok sensus (Kemen PPPA, 2021). Merespon hal tersebut, kita dapat melihat ada langkah-langkah strategis di lingkungan pendidikan melalui perubahan-perubahan kebijakan Pendidikan yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan juga penciptaan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, sehingga berkontribusi bagi upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak di lingkungan satuan pendidikan. Salah satu terobosan yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir ini adalah lahirnya kebijakan “Merdeka Belajar” yang diluncurkan pada tahun 2019 oleh Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kebijakan ini seakan menjadi tonggak baru bagi perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan nasional.Kebijakan Merdeka Belajar berfokus pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing, berkarakter mulia, dan punya penalaran tingkat tinggi, dengan mengedepankan suasana dan kondisi belajar yang menyenangkan bagi anak didik dan bagi pendidik / tenaga kependidikan. Kebijakan ini disusul oleh peluncuran Profil Pelajar Pancasila pada tahun 2020, yang didasari oleh Agenda Nawacita No 8 yaitu “Penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter anak didik sebagai bagian dari revolusi mental”, dan menjadi kebijakan strategis Kemendikbudristek melalui Visi Pendidikan Indonesia “Mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global” sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia Tahun 2020-2024. CERITA DARI YAYASAN SETARA


24 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga telah mengadopsi program Roots (sejak 2017) dan pendekatan disiplin positif untuk mencegah kekerasan di institusi Pendidikan (sejak 2016). Fokus dari program roots adalah mengatasi perundungan di sekolah dengan melibatkan teman sebaya (peer group), dengan memilih peserta didik yang memiliki pengaruh terhadap teman-teman untuk menjadi agen perubahan, dan melalui pengaruh mereka diharapkan dapat membawa dampak positif terhadap berkurangnya tindak perundungan. Sedangkan fokus dari program Disiplin Positif adalah melatih para pendidik mengenai pendisiplinan tanpa menggunakan unsur kekerasan. Secara konsep, disiplin positif merupakan sebuah pendekatan untuk mendisiplinkan, bahkan membangun karakter anak tanpa menghukum. Walau tanpa pemberian hukuman, pendekatan disiplin psoitif bukan pendekatan yang membiarkan atau memberikan kebebasan tanpa batas kepada anak, karena dalam pendekatan disiplin positif ada kebebasan namun ada pula pembatasan. Perkembangan program disiplin positif yang tengah dijalankan, telah dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan pendekatan, termasuk pula menyesuaikan dengan kebijakan pendidikan “Merdeka Pelajar” dan “Profil Pelajar Pancasila”. Yayasan setara di dukung oleh unicef Indonesia telah berkomitmen untuk mencegah prakti-praktik hukuman dan kekerasan sejak tahun 2017. Dari berbagai diskusi Bersama sekolah yang telah menerapkan disiplin positif menunjukan bahwa angka kekerasan di sekolah menurun di bandingkan sebelum menerapkan disiplin positif. CERITA DARI YAYASAN SETARA


25 PERAN DAN HARAPAN DIREKTORAT SMP DALAM PENERAPAN PENDEKATAN DISIPLIN POSITIF DI JENJANG SMP Peran Direktorat SMP dalam Penerapan Pendekatan Disiplin Positif di jenjang SMP adalah dengan memberikan pemahaman dan pengetahuan terkait pendekatan disiplin positif dalam upaya membentuk Profil Pelajar Pancasila. Salah satu Peran Direktorat Sekolah Menengah Pertama dalam Penerapan Pendekatan Disiplin Positif yaitu dengan menggelar acara Talk Show Aksi Bergizi dalam Kerangka Penguatan Profil Pelajar Pancasila “Pelajar Pancasila: Beraksi dari Diri, Penuhi Gizi, Bangun Negeri” yang didalamnya terdapat materi Disiplin Positif. Selain itu juga Direktorat SMP bekerja sama dengan UNICEF mengadakan Pelatihan Disiplin Positif di 2 Region yaitu Jabodetabek dan Jawa Timur, serta Jawa Tengah dan Jojgakarta. Direktorat SMP mengharapkan agar materi Pendekatan Disiplin Positif dapat diimplementasikan di sekolah sehingga dapat mendukung mutu dan relevansi pembelajaran di sekolah. Melalui pendekatan disiplin positif diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan kepemimpinan instruksional di sekolah. Dengan Pendekatan Disiplin Positif, Bapak/Ibu guru maupun kepala sekolah sebagai pemimpin pelajaran di kelas dan sekolah harus mampu menunjukkan kepemimpinan instruksional. Melalui Pendekatan Disiplin Positif diharapkan dapat tercipta kondisi proses pembelajaran yang aman, nyaman, dan menyenangkan; terhindarnya semua warga sekolah dari unsur-unsur atau tindakan kekerasan; dan menumbuhkan kehidupan pergaulan yang harmonis dan kebersamaan antar peserta didik atau antara peserta didik dengan pendidik, tenaga kependidikan, dan orangtua serta masyarakat baik dalam satu satuan pendidikan maupun antar satuan pendidikan. NARASI DARI DIREKTORAT SMP


26 NARASI DARI KEMENDIKBUDRISTEK


17.03.2023 Jum'at Disiplin PositifUntuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila Yayasan Setara MerilisBuku Bacaan Disiplin Positif UJI KETERBACAAN BUKU : Semarang, pada bulan November 2022, Kemendikbudristek Direktorat SMP bersama Yaysan Setara didukung oleh UNICEF mengadakan TOT Fasilitator Displin Positif dengan peseerta berjumlah 250 SMP yang tersebar di 34 provinsi yang terdiri dari perwakilan Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan dan guru BK. Dalam rangka memperkuat materi Disiplin Positif untuk "Mewujudkan Profiul Pelajar Pancasila" dan mendiskusikan tantangan, serta rekomendasi dalam penerapannya. Dari hasil rekomendasi tersebut, kami membuat Buku Bacaan Disiplin Positif yang bisa digunakan sebagai pedoman. Untuk itu, kami bermaksud mengadakan "Pertemuan Uji Keterbacaan Buku Disiplin Positif untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila". 27 PROGRAM KEGIATAN DISIPLIN POSITIF


27.01.2023 Monitoring dan Evaluasi Disiplin PositifUntuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Fasilitator Pelatihan Disiplin PositifUntuk MerdekaBelajar Zoom Meeting, pada bulan November 2022, Kemendikbudristek Direktorat SMP Bersama Yayasan setara didukung oleh UNICEF mengadakan TOT Fasilitator disiplin positif dengan peserta 250 SMP yang tersebar di 34 provinsi yang terdiri dari perwakilan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan guru BK. Dalam rangka memperkuat materi disiplin positif untuk mewujudkan profil pelajar pancasila dan mendiskusikan tantangan serta rekomendasi dalam penerapannya, maka diadakan kegiatan Pertemuan Fasilitator Disiplin Positif Untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Zoom Meeting, pada bulan November 2022, Kemendikbudristek Direktorat SMA bersama Yayasan Setara didukung oleh UNICEF Indonesia mengadakan TOT Fasilitator disiplin positif dengan peserta 60 SMA yang tersebar di 34 provinsi yang terdiri dari perwakilan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan pengawas satuan pendidikan. Dalam rangka memperkuat materi disiplin positif untuk merdeka belajar dan mendiskusikan tantangan dan rekomendasi dalam penerapannya maka Yayasan Setara mengadakan kegiatan Pertemuan Evaluasi Disiplin Positif untuk Merdeka Belajar. 19.01.2023 Kamis 28 Jum'at PROGRAM KEGIATAN DISIPLIN POSITIF


17.11.2022 - 20.11.2022 Kamis - Minggu Training Of Trainer (TOT) Fasilitator Nasional Disiplin Positif Untuk MerdekaBelajar Bogor, dalam rangka "Mewujudkan Lingkungan Aman, Nyaman, Menyenangkan dan Iknlusif" Yayasan Setara bersama Direktorat SMA didukung oleh UNICEF Indonesia melaksanakan Kegiatan TOT Fasilitator Nasional Disiplin Positif Merdeka Belajar Jenjang SMA. Kegiatan ini diikuti oleh Perwakilan Pengawas dan Wakasis dari 141 Kab/Kota di Indonesia. 29 Kegiatan ini difasilitasi oleh beberapa fasilitator diantaranya Kak Bintang serta Kak Siti Utami serta turut dihadiri oleh Ibu Hening, Bapak Odi, Bapak Yuli, Bu Hida dari Yayasan Setara. Kegiatan ini merupakan kerjasama Yayasan Setara dengan Direktorat SMA didukung penuh oleh UNICEF Indonesia. PROGRAM KEGIATAN DISIPLIN POSITIF


10.10.2022 Senin Koordinasi dengan Direktorat SMP terkait Persiapan Pelaksanaan Pelatihan Disiplin Positif Koordinasi dengan Direktorat SMA terkait Persiapan Pelaksanaan Pelatihan Disiplin Positif Jakarta, Yayasan Setara yang diwakili oleh Kak Bintang, selaku Koordinator Program Disiplin Positif didampingi oleh Kak Siti Utami beserta Bapak Subagyo serta Perwakilan dari UNICEF Indonesia Kak Arika Maria melakukan Koordinasi dengan pihak Direktorat SMP mengenai Program Disiplin Positif. Hal ini dilakukan karena dalam pelaksanaan program dispo ini juga akan melibatkan sekolah sekolah menegah pertama yang ada di Indonesia untuk itu sebagai langkah awal dalam pelaksanaan program disiplin positif ini maka dilakukan koordinasi dengan direktorat SMP. 10.11.2022 Kamis Jakarta, telah dilakukan kegiatan koordinasi dengan direktorat SMA terkait pelaksanaan kegiatan pelatihan disiplin positif yang akan melibatkan sebanyak 120 peserta yang terdiri dari Wakil Kepala Sekolah beserta Pengawas SMA 60 Kab/Kota di 34 Provinsi di Indonesia Kegiatan Pelatihan Disiplin Positif ini sebagai awal dilakukanya program Disiplin Positif untuk Merdeka Belajar dengan judul kegiatan Training Of Trainer (TOT) Fasilitator Nasional Disiplin Positif Merdeka Belajar jenjang SMA yang rencanya kegiatan ini akan dilaksanakan di kota bogor pada tanggal 17-20 November 2022. Dalam Rangka Mewujudkan Lingkungan Aman, Nyaman, Menyenangkan dan Inklusif. 30 PROGRAM KEGIATAN DISIPLIN POSITIF


DISIPLIN POSITIF UNTUK MERDEKA BELAJAR (STRATEGI PENERAPAN PADA JENJANG SMA).UNICEF INDONESIA. NOVEMBER 2022 PERUNDUNGAN DI INDONESIA. UNICEF INDONESIA, FEBRUARI 2020 DISIPLIN POSITIFUNTUK MERDEKA BELAJAR, 2022 HTTPS://WWW.KOMPASIANA.COM/SYAHRIALSYAHRI AL0585/6482C6B64D498A34FC2D4502/MENCIPTAKA N-EKOSISTEM-BELAJAR-AMAN-DAN-INKLUSIFDENGAN-DISIPLIN-POSITIF SUMBER


Click to View FlipBook Version