TUGAS BAHASA INDONESIA
“ Membuat Teks Tanggapan’’
DISUSUN OLEH :
Nama : Christina Melani
Kelas : IX.8
No. : 10
Tugas ini diajukan untuk memenuhi mata pelajaran
Bahasa Indonesia
Pramoedya Ananta Toer dan Kesusastraan
Judul Buku : Bumi Manusia
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantera
Konteks Tahun Terbit : 16 Oktober 2010
Tebal Buku : 535 Halaman
Konteks Pramoedya Ananta Toer atau lebih popular dikenal
Pengarang Pram dianggap sebagai salah satu penulis terbaik yang
dan Indonesia miliki. Dia sudah menulis lebih dari 50 buku
Karyanya fiksi maupun non-fiksi, tidak heran bahwa dirinya memang
pantas disebut sebagai sastrawan terbaik Indonesia.
Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi
antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa
secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga
semi-otobiografi, di mana ia menceritakan pengalamannya
sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis.
Ia memperoleh banyak penghargaan seperti Ramon
Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni
Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan
untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah
Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian
Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra
dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada
1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas
Michigan.
Deskripsi Sejarah mencatat, Pram berada di posisi yang kalah
Pengarang dalam pertarungan kekuasaan pada 1960-an. Pramoedya
dan juga pernah bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat
Karyanya (TKR). Pada 1965 ia ditangkap pemerintah Orde Baru atas
keterlibatannya di Lembaga Kebudayaan Jakarta (Lekra).
Lekra dianggap terlibat dengan Partai Komunis Indonesia
(PKI).
Deskripsi Koleksi buku-buku dan catatan arsipnya, termasuk
Pengarang manuskrip novel-novel yang belum terbit, dibakar tentara.
dan Pram juga dibuang ke Pulau Buru, di kepulauan Maluku,
Karyanya selama sepuluh tahun dari 1969-1979. Hanya bermodalkan
ingatan, Pram menyusun cerita novel di pulau tersebut.
Deskripsi Cerita semula ia susun secara lisan dan dikisahkan pada
Karya sesama tahanan. Baru pada 1980, setelah mengumpulkan
catatan yang berserakan yang diam-diam diselundupkan
keluar Buru, novel pertama Bumi Manusia terbit.
Setelah enam bulan edar Bumi Manusia jadi bacaan
terlarang. Pemerintahan Soeharto menuding novelnya
mengandung ajaran Marxisme dan Leninisme. Namun dari
situ Pram dan karyanya malah melegenda di dalam dan
luar negeri.
Di mata aktivis penentang orde baru, buku-buku
Pram jadi simbol perlawanan. Sedang, di luar negeri ia
contoh nyata korban pelanggaran HAM sebuah rezim anti-
demokrasi.
Namun salah besar bila menganggap Bumi
Manusia dan tiga novel Buru lainnya besar karena cerita di
balik penulisannya. Semua cerita seru itu takkan berguna
bila karyanya sendiri amatiran.
Koran New York Times memuji Bumi Manusia
sebagai contoh karya sastra yang indah dari Indonesia.
Sedang koran Washington Post memujinya sebagai salah
satu karya seni terbesar abad ke-20.
Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi
Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali
diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980. Buku ini
menceritakan perjalanan seorang pribumi bernama Minke
yang bersekolah di HBS. Dia sangat pandai dalam menulis.
Bahkan tulisannya pun banyak dimuat dalam koran-koran
Belanda pada waktu itu. Minke digambarkan sebagai
seorang Revolusioner di buku ini. Dia berani melawan
ketidakadilan. Novel ini mengambil setting di masa
Deskripsi kolonialisme Belanda. Inilah yang menjadikan novel ini
Karya cukup menarik untuk dibaca, karena kita akan lebih banyak
tahu tentang seluk beluk kehidupan di jaman kolonialisme.
Suatu hari, Minke diajak oleh Robert Suurhof ,
temannya di Sekolah Belanda H.B.S. Surabaya, untuk
memenuhi undangan Robert Mellema di Wonokromo,
tepatnya di rumah Boerderij Buitenzorg (Perusahaan
Pertanian Buitenzorg). Minke bertemu dengan Annelies
Mellema, adik Robert Mellema, yang memiliki kecantikan
luar biasa. Ketika kedua Robert sedang asyik berdiskusi
tentang bola, Minke dan Annelies yang tidak menyukai
bola memisahkan diri untuk mengerjakan hal lain. Minke
berkenalan dengan Nyai Ontosoroh, ibu Annelies.
Seharian itu mereka berdua mengerjakan tugas
mandor di pabrik raksasa itu. Dua Robert asyik berburu.
Saat pulang, Nyai Ontosoroh menawarkan Minke untuk
berkunjung lagi karena nampaknya Annelies senang
memiliki teman, serta menyukainya.
Kisah berlanjut, Minke jadi sering dijemput oleh
Darsam (penjaga rumah Nyai Ontosoroh) untuk berkunjung
ke rumah, bahkan lama-kelamaan jadi tinggal disana karena
Annelies tidak bisa berada jauh-jauh dari Minke.
Berbagai masalah datang, mulai dari teman-
temannya yang mulai menjauh, pikiran barunya mengenai
perjuangan hak asasi manusia bagi pribumi, ancaman
pembunuhan, sidang pembunuhan, dikeluarkan dari
sekolah, dan lain-lain. Dalam perjalanannya Minke selalu
berbagi cerita dengan Jean Marais, seorang seniman dari
Prancis, Juffrouw Magda Peters, guru Bahasa dan Sastra
Belanda, serta Ibunya. Akhir cerita, Annelies dibawa paksa
ke Netherland, setelah menikah enam bulan dengan Minke.
Kelebihan Dalam buku ini, Pram banyak memberi penggambaran yang
dan sangat jelas tentang masalah-masalah yang timbul dalam
Kekurangan kehidupan manusia di jaman kolonialisme. Alur ceritanya
Buku begitu menarik untuk di ikuti, keadaan masyarakat pada
masa pemerintahan Hindia Belanda ia gambarkan dengan
Penilaian begitu jelas. Berbagai permasalahan ia tuliskan dengan jelas
Terhadap hampir tanpa celah.
Karya
Namun, buku ini menggunakan bahasa yang cukup sulit
untuk dimengerti. Bahasa yang dipakai terkadang terlalu
puitis sehingga mungkin kurang banyak digemari oleh kaum
milenial.
Menurut saya novel Bumi Manusia ini, sangat cocok untuk
dibca oleh orang berbagai kalangan. Manfaat yang bisa kita
dapatkan setelah membaca buku ini adalah bahwa dalam
buku ini, Pramoedya menunjukkan betapa pentingnya
belajar, dengan belajar, dapat mengubah nasib, seperti
dalam buku ini, Nyai yang tidak bersekolah, dapat menjadi
seorang guru yang hebat bagi siswa H.B.S Minke. Bahkan
pengetahuan si Nyai yang didapat dari pengalaman, dari
buku-buku dan dari kehidupan sehari-hari, ternyata lebih
luas dari guru-guru sekolah H.B.S. Sehingga kita tahu
bahwa belajar itu tidak merugikan melainkan
menguntungkan.
“Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya
begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata
elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu
lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat
menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan;
pengetahuanmu tentang manusia takkan bisa kemput.”
(Nyai Ontosoroh)
“Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil
sudah sejak dalam pikiran , apalagi dalam perbuatan.”
(Jean Marais)