The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by pedro dwi, 2023-11-14 13:12:43

BUKU BOOKLET SEJARAH

BAHAN AJAR PESERTA DIDIK

O L E H : P E D R O D W I S E P T O N U G R O H O KERAJAAN HINDU-BUDDHA DI JAWA TIMUR R A N G K U M A N M A T E R I S E J A R A H K E R A J A A N H I N D U - B U D D H A Y O U R G U I D E T O


P a g e 1 Sejarah Indonesia tak lepas dari zaman prasejarah, zaman kerajaan Hindu-Buddha, kerajaan islam, era kolonialisme hingga masa kemerdekaan. Di Jawa Timur banyak kerajaan yang pernah berdiri, bahkan pengaruhya ada yang mencakup nusantara waktu itu. Temuan sejumlah prasasti yang ada di Jawa Timur menjadi bagian dari catatan sejarah perkemban mmgan peradaban yang ada di indonesia. Prasasti tersebut menunjukan eksistensi dari kerajaan yang ada di Jawa Timur. Secara teori kerajaan, era kerajaan Hindu-Buddha mulai terdengar sejak awal masehi hingga abad 16. CANDI CETHO, SALAH SATU PRASASTI DAN CANDI PENINGGALAN KERAJAAN MAJAPAHIT (FOTO: ISTOCKPHOTO/BENITO_ANU) CANDI CETHO TERLETAK DI DUSUN CETO, DESA GUMENG, KECAMATAN JENAWI, KARANGANYAR, JAWA TENGAH. MENURUT PERKIRAAN PARA SEJARAWAN, CANDI CETHO INI BERASAL DARI AKHIR KERUNTUHAN KERAJAAN MAJAPAHIT DI SEKITAR ABAD KE-15 MASEHI.CANDI INI BARU DITEMUKAN PADA TAHUN 1842 KARENA TULISAN DARI SEORANG ARKEOLOG BELANDA YAKNI VAN DE VLIES.


P a g e 2 1 . K E R A J A A N K A N J U R U H A M Kerajaan Kanjuruhan adalah kerajaan bercorak Hindu yang berpusat di Desa Kejuron, dekat Kota Malang sekarang. Kerajaan yang berdiri pada abad ke-8 masehi ini diyakini sebagai kerajaan pertama di Jawa Timur. Sumber sejarah Kerajaan Kanjuruhan didapatkan dari Prasasti Dinoyo yang ditemukan di Malang. Dalam prasasti tersebut, disebutkan bahwa raja Kerajaan Kanjuruhan yang paling terkenal adalah Gajayana. Sejarah berdirinya Kerajaan Kanjuruhan Para ahli menduga bahwa Kerajaan Kanjuruhan erat hubungannya dengan Kerajaan Kalingga (Holing) yang ada di Jawa Tengah. Menurut berita dari Tiongkok, sekitar tahun 742-755 masehi, Raja Kiyen yang saat itu berkuasa memindahkan ibu kota Holing ke Jawa Timur. Munculnya Kerajaan Kanjuruhan diketahui dari Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 masehi. Prasasti ini bertuliskan huruf Kawi dengan bahasa Sanskerta. Di dalam Prasasti Dinoyo diceritakan bahwa Kerajaan Kanjuruan diperintah oleh Raja Dewashimha. Setelah meninggal, ia kemudian digantikan putranya, Limwa, yang dikenal sebagai Gajayana. Raja Gajayana juga membuat sebuah tempat suci pemujaan yang sangat bagus untuk memuliakan Resi Agastya. Selain itu, dibangun pula arca sang Resi Agastya dari batu hitam yang sangat elok. Bersamaan dengan pentasbihan bangunan suci tersebut, Gajayana menganugerahkan sebidang tanah, sapi, kerbau, serta budak laki-laki dan perempuan sebagai penjaga kepada para pendeta. Runtuhnya Kerajaan Kanjuruhan Keberadaan Kerajaan Kanjuruhan tidak bertahan lama. Pada awal abad ke-10, ketika Rakai Watukura dari Mataram Kuno berkuasa, Kerajaan Kanjuruhan berada dalam kekuasaannya. Para penguasa Kerajaan Kanjuruhan menjadi raja bawahan dengan gelar Rakyan Kanuruhan. Masa Kejayaan Kerajaan Kanjuruhan Dari Prasasti Dinoyo diketahui bahwa Raja Gajayana yang beragama Siwa memerintah dengan adil dan dicintai rakyatnya. Di bawah kekuasaannya, Kerajaan Kanjuruhan mencapai puncak keemasan. Kerajaan Kanjuruhan mengalami perkembangan pesat dalam bidang pemerintahan, sosial, ekonomi, ataupun seni budaya. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah Malang, lereng timur dan barat Gunung Kawi, dan ke utara hingga pesisir laut Jawa. Selama masa pemerintahan Gajayana, jarang terjadi peperangan, pencurian, dan perampokan karena raja selalu bertindak tegas sesuai hukum. CANDI BADUT PENINGGALAN KERAJAAN KANJURUHAN DI MALANG(WIKIMEDIA COMMONS/ANANDAJOTI BHIKKHUPA) PRASASTI DINOYO YANG TERSIMPAN DI MUSEUM NASIONAL, JAKARTA.(KEMDIKBUD)


P a g e 3 Kerajaan Mataram Kuno adalah kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri di Jawa Tengah bagian selatan pada abad ke-8, kemudian pindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Di Jawa Tengah, letak Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan terletak di Bhumi Mataram (sebutan lama untuk Yogyakarta). Pusat kerajaan ini kemudian mengalami beberapa kali perpindahan hingga sampai ke Jawa Timur. Kerajaan Mataram Kuno juga sering disebut sebagai Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan Medang. Pendiri Kerajaan Mataram Kuno adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya yang berkuasa antara 732-760 masehi. Selama hampir tiga abad berkuasa, terdapat tiga dinasti yang memerintah, yaitu Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra (di Jawa Tengah), serta Dinasti Isyana (di Jawa Timur). Pada pertengahan abad ke-8, Raja Sanjaya wafat dan digantikan oleh putranya, Rakai Panangkaran. Setelah Rakai Panangkaran wafat, Kerajaan Mataram Kuno terpecah menjadi dua. Dinasti Sanjaya memerintah Kerajaan Mataram Kuno bercorak Hindu di Jawa Tengah bagian utara. Sementara Dinasti Syailendra memerintah Kerajaan Mataram Kuno bercorak Buddha di Jawa Tengah bagian selatan. 2 . K E R A J A A N M A T A R A M K U N O CANDI PRAMBANAN, SALAH SATU PENINGGALAN KERAJAAN MATARAM KUNO(WIKIMEDIA COMMONS) Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Kuno Dinasti Syailendra muncul pada akhir abad ke-8, dan periode kepemimpinannya menjadi masa keemasan Kerajaan Mataram Kuno. Perkembangan terjadi di berbagai bidang, seperti politik, ilmu pengetahuan, budaya, kesenian, dan sosial. Raja pertama Kerajaan Mataram Kuno dari Dinasti Syailendra adalah Sri Dharmatungga. Pada masa pemerintahannya, konon wilayah kekuasaannya mencapai Semenanjung Malaka. Setiap berganti raja, keadaan Kerajaan Mataram Kuno semakin gemilang dan termasyur. Sri Dharmatungga digantikan oleh Indra (Syailendra), yang berhasil menaklukkan Chenla (Kamboja). Setelah itu, Kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh Samaratungga. Pada periode ini, ilmu seni sangat berkembang dan dibangunlah Candi Borobudur. Kerajaan Mataram Kuno akhirnya bersatu kembali setelah perkawinan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya dan Pramodhawardani dari Wangsa Syailendra.


P a g e 4 Dipindahkan ke Jawa Timur Pada 929 masehi, ibu kota Mataram Kuno dipindahkan oleh Mpu Sindok ke Jawa Timur dengan pusat pemerintahan di antara Gunung Semeru dan Gunung Wilis. Terdapat beberapa alasan yang diperkirakan menjadi sebab perpindahan ini, seperti faktor bencana alam, politik, dan adanya ancaman dari kerajaan lain. Setelah pindah ke Jawa Timur, kerajaan ini disebut sebagai Kerajaan Medang dengan lokasi berada di sekitar Jombang. Mpu Sindok kemudian dinobatkan sebagai raja pertama dari Dinasti Isyana. Masa kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur tidak berlangsung lama. Raja-raja penerus Mpu Sindok juga sangat peling mewariskan bukti peninggalan sehingga namanya seakan tenggelam dalam sejarah. Prasasti Canggal Prasasti Kalasan Prasasti Mantyasih Prasasti Klurak Candi Bima Candi Arjuna Candi Kalasan Candi Plaosan Candi Prambanan Candi Sewu Candi Mendut Candi Borobudur Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno Ketika berdiri di Jawa Tengah, Kerajaan Mataram Kuno mewariskan cukup banyak peninggalan berupa prasasti dan candi yang dapat ditemui hingga sekarang. Prasasti Kerajaan Mataram Kuno Candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno PRASASTI CANGGAL MERUPAKAN PRASASTI PENINGGALAN DARI MATARAM KUNO(KEMENDIKBUD)


P a g e 5 Kerajaan Kediri merupakan kerajaan dari masa HinduBuddha yang berdiri dari tahun 1045 hingga 1222. Letak Kerajaan Kediri berada di Dahanapura, sekarang di sekitar Kota Kediri, Jawa Timur. Sri Samarawijaya, putra dari Raja Airlangga, merupakan nama raja yang mendirikan Kerajaan Kediri atau Kerajaan Panjalu. 3 . K E R A J A A N K E D I R I Latar belakang Kerajaan Kediri Latar belakang munculnya Kerajaan Kediri adalah adanya pembagian Kerajaan Kahuripan oleh Raja Airlangga pada abad ke-11. Raja Airlangga adalah pendiri sekaligus raja terakhir dari Kerajaan Kahuripan yang pernah berdiri di Jawa Timur pada abad ke-11. Peristiwa pembagian kekuasaan ini terjadi pada tahun 1045, menandai akhir dari pemerintahan Kerajaan Kahuripan sekaligus berdirinya Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu. Setelah terbagi, Kerajaan Jenggala dan Kediri ternyata tetap berselisih hingga timbul peperangan karena Samarawijaya dan Mapanji sama-sama merasa berhak atas seluruh kekuasaan Airlangga. Peperangan di antara keduanya terus terjadi selama beberapa dekade hingga Kerajaan Janggala mengalami kekalahan dari Kerajaan Panjalu. Kerajaan Panjalu dengan pusat pemerintahan di Kediri, Jawa Timur, ini pada akhirnya lebih dikenal sebagai Kerajaan Kediri. CANDI PENATARAN YANG MERUPAKAN SALAH SATU PENINGGALAN KERAJAAN KEDIRI.(BLITARKAB.GO.ID)


Masa Kejayaan Kerajaan Kediri Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Sri Jayabaya, yang disebut juga sebagai raja bijaksana. Sri Jayabaya berkuasa di Kerajaan Kediri antara 1135- 1159 M. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri mencapai seluruh Pulau Jawa, sebagian Sumatera, pantai Kalimanatan, dan Kerajaan Ternate. Dengan wilayah yang sangat luas, dapat dipastikan bahwa Kerajaan Kediri memiliki armada laut yang sangat kuat. Kerajaan Kediri juga terkenal hingga ke Tiongkok. Hal tersebut dibuktikn dengan tulisan saudagar bernama Khou Ku Fei yang menjelaskan mengenai karakteristik masyarakat pada zaman Kerajaan Kediri. Pada masa Sri Jayabaya, pemerintahan sudah teratur, sedangkan hukum diterapkan secara adil dan tegas. P a g e 6 ILUSTRASI RAJA KERAJAAN KEDIRI, PRABU JAYABAYA, DAN RAMALANNYA. MASA KEJAYAAN KERAJAAN KEDIRI DI BAWAH KEPEMIMPINAN RAJA JAYABAYA.(TRIBUNNEWS) Sri Samarawijaya (1042-1044) Sri Bameswara (1117-1135) Sri Jayabaya (1135-1159) Sri Sarweswara (1159-1169) Sri Aryyeswara (1169-1181) Sri Gandra (1181-1184) Sri Kameswara (1184-1194) Sri Kertajaya (1194-1222) Raja Kerajaan Kediri PRASASTI NGANTANG ATAU PRASASTI HANTANG PENINGGALAN KERAJAAN KEDIRI YANG DISIMPAN DI MUSEUM NASIONAL INDONESIA DI JAKARTA.(KOMPAS/WIDYA LESTARI NINGSIH) Prasasti Ngantang atau Prasasti Hantang adalah peninggalan Kerajaan Kediri yang berasal dari abad ke-12. Prasasti Ngantang dikeluarkan oleh Raja Jayabaya, penguasa Kerajaan Kediri atau Panjalu periode 1135-1159, setelah mengalahkan Kerajaan Jenggala. Prasasti ini ditemukan di Desa Ngantang, Malang, Jawa Timur.


P a g e 7 Penyebab runtuhnya Kerajaan Kediri berawal dari terjadinya konflik antara Kertajaya dan kaum Brahmana. Konflik tersebut dipicu oleh ambisi Kertajaya yang ingin disembah oleh para Brahmana Hindu dan Buddha di Kerajaan Kediri. Akan tetapi, ambisi tersebut menuai penolakan dari para Brahmana. Pada perkembangannya, penolakan dari kaum brahmana menjadi penyebab Kertajaya marah dan akhirnya melakukan berbagai tindakan buruk terhadap kaum brahmana. Untuk menghadapi ancaman dari Kertajaya, kaum brahmana memutuskan kabur dari pusat kerajaan Kediri menuju ke daerah Tumapel untuk meminta perlindungan kepada Ken Arok. Candi Penataran. Prasasti Sirah Keting. Candi Tondowongso. Kitab Smaradahana. Prasasti Kamulan. Kitab Kakawin Bharatayudha. Prasasti Ngantang. 7 Peninggalan Kerajaan Kediri


P a g e 8 Berdirinya Kerajaan Singasari tidak lepas dari kisah pendirinya, Ken Arok. Ken Arok awalnya hanya seorang pengawal Tunggul Ametung, seorang akuwu (camat) di Tumapel. Ken Arok kemudian membunuh Tunggul Ametung dan menikahi istrinya yang bernama Ken Dedes. Setelah menjadi Akuwu Tumapel, Ken Arok bersekutu dengan para Brahmana untuk menaklukkan Kerajaan Kediri. Serangannya pun berhasil hingga memaksa Raja Kertajaya menyerahkan kekuasaan kepada Ken Arok dan kerajaan dipindah ke Singasari. Ken Arok kemudian mendirikan Kerajaan Tumapel yang pada akhirnya lebih dikenal sebagai Kerajaan Singasari. 4 . K E R A J A A N S I N G A S A R I CANDI SINGASARI(WIKIMEDIA COMMONS/GOMBANG Ken Arok (1222-1227 M) Anusapati (1227-1248 M) Tohjaya (1248 M) Wisnuwardhana (1248-1272 M) Kertanegara (1272-1292 M) Silsilah Kerajaan Singasari


Berdirinya Kerajaan Singasari tidak lepas dari kisah pendirinya, Ken Arok. Ken Arok awalnya hanya seorang pengawal Tunggul Ametung, seorang akuwu (camat) di Tumapel. Ken Arok kemudian membunuh Tunggul Ametung dan menikahi istrinya yang bernama Ken Dedes. Setelah menjadi Akuwu Tumapel, Ken Arok bersekutu dengan para Brahmana untuk menaklukkan Kerajaan Kediri. Serangannya pun berhasil hingga memaksa Raja Kertajaya menyerahkan kekuasaan kepada Ken Arok dan kerajaan dipindah ke Singasari. Ken Arok kemudian mendirikan Kerajaan Tumapel yang pada akhirnya lebih dikenal sebagai Kerajaan Singasari. P a g e 9 Masa kejayaan Kerajaan Singasari Kertanegara adalah pemimpin terakhir sekaligus raja yang berhasil membawa Kerajaan Singasari mencapai puncak kejayaan. Di bawah pemerintahannya, kekuasaan Singasari meliputi seluruh Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Melayu, dan Semenanjung Malayu. Kertanegara terkenal dengan gagasannya untuk menyatukan kerajaan-kerajaan di nusantara di bawah payung kekuasaan Singasari. Cita-citanya ini dikenal sebagai Wawasan Nusantara I, dan untuk mencapainya berikut beberapa upaya yang dilakukan oleh Kertanegara. Perluasan daerah dan hubungan dengan luar negeri Pengiriman ekspedisi ke Sumatera yang terkenal dengan ekspedisi Pamalayu (1275 M) Memantapkan struktur pemerintahan Singasari Agama Hindu dan Buddha sama-sama berkembang Pada masa pemerintahan Raja Kertanegara pula sektor perdagangan dan pelayaran Singasari berkembang pesat. Komoditas yang diperdagangkan adalah beras, emas, kayu cendana, dan rempah-rempah. Pada periode ini, Singasari berhasil menguasai jalur perdagangan dari Selat Malaka hingga Kepulauan Maluku. Runtuhnya Kerajaan Singasari Selain membawa Singasari menuju puncak kejayaan, pada periode pemerintahan Raja Kertajaya juga kerajaan ini runtuh. Salah satu faktor runtuhnya Kerajaan Singasari adalah lemahnya pertahanan karena raja dan jajarannya sibuk melakukan ekspansi ke luar Jawa. Saat tentara Singasari dikirim keluar daerah dalam rangka perluasan wilayah, Kertanegara diserang oleh Jayakatwang, seorang adipati di Kediri. Raja Kertajaya wafat pada serangan ini dan Kerajaan Singasari akhirnya runtuh. Candi Kidal Candi Singasari Candi Jago Candi Katang Lumbang Candi Kangenan Prasasti Singasari Prasasti Malurung Peninggalan Kerajaan Singasari


P a g e 1 0 5 . K E R A J A A N M A J A P A H I T CANDI BRAHU DI DESA BEJIJONG, KECAMATAN TROWULAN, KABUPATEN MOJOKERTO, JAWA TIMUR Sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit bermula dari permohonan Raden Jayawijaya kepada Jayakatwang untuk membuka hutan di daerah Tarik. Jayakatwang merupakan raja Kerajaan Gelanggelang. Ia adalah sosok yang berpengaruh terhadap keruntuhan Kerajaan Singasari. Kertanegara, pemimpin Singasari yang juga mertua Raden Jayawijaya, gugur akibat serbuan tentara Gelanggelang yang dikirim Jayakatwang. Istana Singasari pun telah diduduki. Hal tersebut membuat Raden Wijaya bersama istrinya dan sejumlah pasukan yang tersisa, meninggalkan Singasari untuk menuju Madura. Mereka hendak menemui Adipati Wiraraja. Asal-usul penamaan Majapahit adalah saat para pekerja mulai membuka hutan Tarik, banyak ditemukan buah maja (wilwa) dan saat dimakan terasa pahit (tikta). Kerajaan Majapahit mengalami masa keemasan ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk. Cucu Raden Wijaya ini memerintah pada 1350 M hingga 1389 M. Saat memimpin, ia didampingi Patih Gajah Mada. Masa kejayaan Kerajaan Majapahit disebut tak terlepas dari peran Gajah Mada. Dia diangkat sebagai patih amangku bhumi pada 1336 M atau sewaktu Tribhuwana Tunggadewi berkuasa. Saat penobatannya, Gajah Mada bersumpah untuk menyatukan Nusantara di bawah panji Majapahit. Sumpah itu dinamakan Amukti Palapa atau dikenal dengan Sumpah Palapa.


Adapun isi Sumpah Palapa berbunyi: “Lamun huwus kalah Nuswantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti palap. Artinya: "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikian saya (baru akan) melepaskan puasa." ILUSTRASI GAJAH MADA DALAM GAME CIVILIZATION V(CIVILIZATION V) Meninggalnya Gajah Mada Gajah Mada merupakan mahapatih yang memiliki peran penting dalam kejayaan dan perluasan wilayah Kerajaan Majapahit. Melalui Sumpah Palapa, Gajah Mada berjanji akan membawa Kerajaan Majapahit menguasai seluruh wilayah Nusantara. Meninggalnya Hayam Wuruk Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya ketika diperintah oleh Raja Hayam Wuruk, yang didampingi oleh Gajah Mada. Sekitar 25 tahun setelah kematian Gajah Mada, Raja Hayam Wuruk meninggal pada 1389. Perebutan takhta Setelah kematian Hayam Wuruk, internal Majapahit mengalami gejolak akibat adanya perebutan kekuasaan atas jabatan raja. Adapun perebutan kekuasaan atas takhta kerajaan ini melibatkan Bhre Wirabhumi, yang merupakan anak dari selir Hayam Wuruk, melawan Wikramawardhana, menantu Hayam Wuruk. Konflik perebutan kekuasaan atas takhta kerajaan ini pada akhirnya menimbulkan perpecahan dalam keluarga dan bangsawan Majapahit. Perang Paregreg Perpecahan dalam keluarga kerajaan semakin membesar hingga menjadi perang saudara. Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana pada akhirnya berebut kekuasaan dengan cara peperangan, yang kemudian dikenal dengan nama Perang Paregreg. Berdirinya Kerajaan Demak Munculnya Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah juga menjadi salah satu penyebab runtuhnya Kerajaan Majapahit. Pengaruh Islam Pengaruh Islam mulai berkembang secara pesat di Jawa pada abad ke-15, di masamasa terpuruk Majapahit. P a g e 1 1


P a g e 1 2 6 . K E R A J A A N B L A M B A N G A N PETA LETAK KERAJAAN BLAMBANGAN.(WIKIMEDIA COMMONS) Kerajaan Blambangan adalah kerajaan bercorak Hindu terakhir di Pulau Jawa yang terletak di Banyuwangi. Kerajaan ini diperkirakan telah ada pada akhir era Kerajaan Majapahit dan berdiri hingga abad ke-18. Selain menjadi vasal (kerajaan bawahan) Majapahit, Blambangan juga pernah berada di bawah kekuasaan kerajaan di Bali. Sejarah awal Catatan sejarah mengenai kemunculan Kerajaan Blambangan memang kurang jelas. Akan tetapi, diketahui bahwa Kerajaan Blambangan dulunya merupakan vasal Majapahit dan menjadi tempat pelarian bagi Bhre Wirabhumi, yang tersingkir saat terjadi perebutan takhta di Majapahit. Pada 1478, giliran keluarga Kertabhumi yang melarikan diri ke Blambangan, dipimpin oleh Lembu Miruda. Setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15, Blambangan berdiri sendiri sebagai satu-satunya kerajaan Hindu di Jawa. Menurut Babad Sembar, Lembu Miruda kemudian mendirikan pertapaan Watuputih di hutan Blambangan dan berdoa agar putranya menjadi raja di ujung timur Pulau Jawa. Doanya pun terkabul, menjelang awal abad ke-16, cucu Lembu Miruda yang bernama Bima Koncar telah meneguhkan dirinya sebagai raja Blambangan. Masa kejayaan Dari laporan Tome Pires, diketahui bahwa Bima Koncar memiliki putra bernama Menak Pentor (Pati Pentor) yang berhasil memperluas wilayah Blambangan. Kala itu, wilayahnya meliputi penghujung timur Jawa Timur hingga Lumajang di bagian selatan dan Panarukan di utara. Letaknya pun cukup strategis, karena dikelilingi oleh lautan di ketiga sisinya, sehingga banyak memiliki pelabuhan. Salah satu pelabuhan di pesisir utara Blambangan yang paling terkenal adalah Panarukan, yang menjadi salah satu persinggahan terpenting bagi kapal-kapal yang hendak melanjutkan pelayaran ke Maluku untuk berdagang rempah-rempah. Di bawah kekuasaan Menak Pentor, Blambangan menjadi kerajaan yang kuat, kaya, dan makmur. Jumlah penduduknya yang banyak tetap hidup makmur karena panen yang dihasilkan sangat melimpah. Selain itu, Blambangan juga banyak menghasilkan kuda beserta budak.


P a g e 1 3 Tembok Rejo Siti Hinggil Kolam dan sumur kuno di sekitar Pura Agung Blambangan Keruntuhan Pada akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18, Blambangan kembali diperebutkan oleh Bali (Buleleng dan Mengwi), Mataram, dan VOC. Dalam perebutan itu, VOC muncul sebagai pihak yang mendapatkan kemenangan dan menanamkan kekuasaannya di Blambangan. Salah seorang cabang anggota keluarga raja Blambangan bernama Mas Alit, kemudian diangkat oleh Belanda menjadi bupati dengan gelar Tumenggung Banyuwangi I (1773-1782). Pusat pemerintahannya yang semula berada di Pampang, kemudian dipindahkan ke Banyuwangi. Peninggalan


Prasetyo, Deni. (2009). Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara. Yogyakarta: Pustaka Widyatama. Saputro, Sutarto. (2019). Mengenal Kerajaan-Kerajaan di Nusantara. Sukoharjo: Graha Printama Selaras. - Penelusuran Google. (2019). Srinansy dan Harry Rachadian. (2010). Ensiklopedia Kerajaan-Kerajaan Nusantara. Bandung: Multi Kreasi Satu Delapan. Pare Eni, Sri dan Hidayah Tsabit, Adjeng. (2017). Arsitektur Kuno KerajaanKerajaan Kediri, Singasari, & Majapahit di Jawa Timur Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers. Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto (Eds). (2008). Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka. - Penelusuran Google. (2023). Mardiyono, Peri. (2020). Sejarah Kelam Majapahit. Yogyakarta: Penerbit Araska. Taniputera, Ivan. (2017). Ensiklopedi Kerajaan-Kerajaan Nusantara: Hikayat dan Sejarah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media D A F T A R P U S T A K A : P a g e 1 4


Click to View FlipBook Version