IS THIS FATE ???
BY:FITRIA RAMADANI
PROLOG
Aku terbangun dan mendapati diriku terbaring di atas Kasur, aku
melihat ke sekeliling ku semuanya berwarna putih aku tidak tahu dimana
aku sebenarnya aku melihat ada seorang pria yang menggunakan jas
berwarna putih sedang berdiri disamping kiri tempat tidur ku orang itu
terlihat seperti seorang dokter dan juga ada pria lagi tapi sedang duduk
di kursi orang itu menggunakan baju berwarna coklat sepertinya orang
itu seorang polisi. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan itu benar atau
tidak.
“Dimana aku?” Tanyaku kepada seorang yang tengah berdiri
disamping kasur ku
“Akhirnya kau sadar. Kau sekarang berada di rumah sakit.” Kata
pria yang menggunakan jas berwarna putih tersebut..
“Rumah sakit?, tapi apa yang aku lakukan disini ?” Tanya ku lagi
karena masih merasa penasaran.
“Kami menemukanmu pingsan didalam rumah mu.” Jelas pak
polisi tersebut
“Dan juga kalau tidak keberatan bisa sebutkan nama dan umur
anda ?” Tanya pak polisi tersebut pada ku.
“Nama? Umur? Maaf tapi saya tidak bisa ingat apa-apa? Dan tadi
yang pak polisi katakan tentang saya pingsan saya juga tidak dapat
mengingatnya?” jawabku dengan raut wajah yang kebingungan.
“Apa kau hilang ingatan?.” Tanya pak polis itu pada ku
“Sepertinya begitu, saya juga tidak ingat dengan nama ataupun
keluarga saya.” Jelas ku kepada pak polisi
“Begitu yah, jadi kau tidak ingat apa-apa tentang kejadian kemarin
malam?.” ujar pak polisi dengan singkat.
“Tidak sama sekali.”
Setelah aku mengatakan bahwa aku tidak ingat apa-apa dokter
langsung memeriksaku dan juga mengajukan beberapa pertanyaan
seperti contohnya “kapan aku lahir”, “dimana aku lahir”, “dimana aku
tinggal”, “siapa orang tuaku”, dan berbagai macam pertanyaan lain yang
masih berputar dikepalaku dan pada akhirnya dokter mendiagnosis
bahwa aku mengalami amnesia mungkin dikarenakan shock. Saat aku
bertanya kenapa aku bisa mengalami shock, pak polisi mengatakan
bahwa mungkin sebelum aku pingsan aku telah melihat jasad dari kedua
orang tuaku yang telah meninggal dan aku ditemukan pingsan didekat
jasad mereka berdua, saat pihak telah tiba dan menyadari bahwa aku
masih hidup mereka langsung membawa ku kerumah sakit. Dan pada
akhirnya setelah aku sadar dari pingsan ku dan mendapati bahwa aku
telah kehilangan semua ingatanku.
Satu bulan telah berlalu aku sudah diperbolehkan keluar dari
rumah sakit oleh pihak rumah sakit. Tapi, tetap saja aku masih harus
meminum obat ku yang telah diberikan oleh dokter untuk berjaga-jaga
kalau aku mengalami serangan panic. Setelah keluar dari rumah sakit
aku dibawa oleh pak polisi menuju ke tempat panti asuhan yang
bernama ST.MARIE.
“untuk seterusnya kau akan tinggal disini.” Ujar pak polisi tersebut
sambil tersenyum pada ku.
“Panti asuhan ST.MARIE.” baca ku setelah aku melihat papan
yang bertuliskan kata-kata tersebut.
Pak polisi tersebut langsung mengajakku untuk masuk kedalam.
Didalam sana kami bertemu dengan salah satu biarawati disana,
biarawati tersebut bernama sister Abigail. Pak polisi tersebut dan sister
Abigail pergi untuk berbicara sebentar. Sedangkan aku diminta untuk
jalan-jalan atau melihat-lihat panti asuhan ini. Aku lebih memilih
melihat-lihat panti asuhan ini.
Sedangkan itu pak polisi dan juga sister Abigail sedang
membicarakan tentang gadis kecil tersebut.
“Jadi itu gadis kecil itu yang anda bicarakan itu?” Tanya sister
Abigail untuk memastikan.
“yah benar dialah anak itu. Tapi sayangnya dia terkena amnesia
mungkin dia shock di sebabkan oleh kematian kedua orang tuanya, dan
sampai sekarang dia masih belum bisa mengingat apapun.” Ujar pak
polisi tersebut.
“begitu ya, benar-benar gadis yang malang. Bukan hanya
kehilangan kedua orang tuanya saja tapi dia juga kehilangan ingatan
yang telah melekat lama pada otaknya.” Ujar sister Abigail mengasihani
gadis kecil tersebut.
“Dan juga bisa anda memberikan nama padanya dia tidak
mengingat nama dan juga tetntang dirinya yang lain, jadi bisakah anda
memberikan nama pada gadis kecil itu?” ujar pak polisi sambil
memohon.
“Tentu, dan juga saya sudah menemukan nama yang bagus untuk
dirinya. Dan juga saya akan merawatnya juga di panti asuhan ini.” Ujar
sister Abigail.
“Terima kasih atas bantuan anda.” Ujar pak polisi sambil
tersenyum.
“Sama-sama”
Setelah mereka berbincang-bincang mereka memutuskan untuk
menemui gadis tersebut. Mereka mendapati gadis kecil tersebut disuatu
ruangan. Ruangan tersebut dipenuhi oleh berbagai lukisan yang sangat
unik.
“Lukisan yang indah.” Ujar gadis kecil itu dengan sangat kagum.
“Kau suka dengan semua lukisan ini” Tanya sister Abigail kepada
gadis kecil itu.
“Yah, mereka benar-benar sangat indah dan juga sangat berwarna.”
Ujar gadis kecil itu dengan mata berbinar-binar.
“Kalau kau mau saya bisa mengajarkanmu.” Tawar sister Abigail.
“Dengan senang hati.” Terima gadis kecil tersebut sambil
tersenyum.
“Boleh saya tahu siapa namamu?” tanya sister Abigail pada gadis
kecil itu.
“Saya tidak tau siapa namaku. Itu karna semua ingatan ku telah
hilang.” Jawab ku dengan kecil hati.
“Tenang saja aku sudah menemukan nama yang cocok dan pas
untuk mu gadis kecil.” Ucap sister Abigail sambal mengedipkan
matanya.
“Oh ya! Apa itu aku ingin mendengarnya?” tanya ku dengan
sangat pensaran.
“Leena! Nama yang cocok untuk gadis yang baik hati, dan periang
seperti mu. Kau suka?” Ucap sister Abigail sambil tersenyum.
“Suka!! Terima kasih.” Ucap leena dengan sangat gembira.
1
4 tahun kemudian.
Namaku Leena aku adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti
asuhan ST.MARIE. aku sudah tinggal disana sejak aku berumur 5 tahun,
kenapa aku tinggal disini tentu saja karena aku telah kehilangan kedua
orang tuaku, bukan itu saja aku juga kehilangan ingatan ku dan sampai
sekarang tidak ada yang bisa aku ingat termasuk tentang diriku maupun
kedua orang tuaku. Aku diberitahu oleh pihak polisi bahwa aku
ditemukan rumah lama ku tepatnya disamping jasad kedua orang tua ku.
Kedua orang tua ku di bunuh oleh seseorang dan pihak polisi
mengatakan bahwa pelakunya masih blm ditemukan sampai sekarang.
Aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh polisi itu benar atau tidak, tapi
yang aku tahu sekarang adalah kenyataan bahwa sekarang aku tidak
punya orang tua sama sekali.
Aku sudah 4 tahun tinggal disini dan sekarang aku sudah berumur
9 tahun. Hari ini adalah hari untuk merayakan berdirinya panti asuhan
ST.MARIE ini jadi para anak-anak yang lainnya dan juga para sister
sedang mengadakan pesta dilantai bawah, tapi tidak dengan ku aku
lebih suka menghabis kan waktu sendiri dari pada keramaian aku lebih
suka menghabiskan waktu sendiri dan melukis di ruangan yang sepi jauh
dari keramaian. Tapi saat aku sedang asyik melukis aku menyadari ada
sebuah mobil yang datang dan keluar dua orang dari dalam mobil
tersebut seorang perempuan dan laki-laki dewasa mereka terlihat seperti
sepasang suami istri aku hanya menatap mereka dari balik jendela
ruangan tempat aku berada, tapi aku tak dapat melihat kedua wajah
orang itu. Tapi karna aku tidak mengenal mereka yah mau bagaimana
lagi aku langsung kembali melakukan kegiatanku yang baru saja
tinggalkan yaitu kembali melukis.
Kedua orang itu langsung masuk untuk menemui salah satu sister
yang berada didalam situ.
“Halo, apa ada yang bisa saya bantu?” Tanya salah satu sister yang
berada disana.
“Oh! Halo, kami ingin mengadopsi salah satu anak dari panti
asuhan ini. Oh iyah nama saya Jade Glammer dan ini suami saya Justine
Glammer.” Ujar Jade sambil mengenalkan diri beserta dengan suaminya
juga.
“Halo, perkenalkan nama saya Justine Glammer suami dari Jade
Glammer.” Sapa Justine sambil memperkenalkan diri juga.
“Halo, nama saya Abigail saya pimpinan dari panti asuhan ini.”
Ujar Sister Abigail sambil memperkenalkan diri.
“Oh iyah, kalian bilang kalau kalian ingin mengadopsi anak kan?
Kebetulan sekali sekarang kami sedang merayakan hari berdirinya panti
asuhan ini dan juga semua anak-anak yang lainnya sedang diruangan
sebelah untuk mengadakan pesta. Jika kalian mau kalian bisa ikut
bergabung.” Tawar Sister Abigail.
“Tentu, dengan senang hati kami akan ikut. Benarkan Justine?”
jawab Jade menerima tawaran dari Sister Abigail.
“Oh yah tentu dengan senang hati. Um… boleh aku ke toilet
sebentar?” ujar Justine.
“tentu” jawab Jade dengan singkat.
Justine segera pergi meninggalkan mereka berdua. Saat ingin
berjalan menuju toilet tiba tiba Justine mendengar suara nyanyian,
nyanyian yang sangat indah dengan suara yang sangat merdu. Nyayian
itu terdengar dari ruangan yang berada tepat di depannya. Justine
langsung mengintip ke ruangan itu melalui celah pintu yang terbuka dan
dari situ Justine melihat seorang anak kecil perempuan yang sedang
bernyanyi sambil diikuti gerakan tangannya yang sedang melukis diatas
kanvas. Karna Justine tidak ingin mengganggu dia langsung mulai
beranjak pergi dari ruangan itu tapi tiba-tiba….
“Halo”. Ujar gadis kecil itu
Mendengar sapaan dari gadis kecil dia Justine langsung terkejut.
Ternyata gadis kecil itu menyadari kedatangan Justine yang dari tadi
sudah mengintipnya dari balik pintu. Karna merasa sudah ketahuan,
Justine memutuskan untuk masuk keruangan tersebut untuk menyapa
gadis kecil tersebut.
“Kenapa kau bisa tahu kalau saya ada di depan pintu?” Tanya
Justine pada gadis kecil tersebut.
“Cuma perasaan saja dan bagaimana dengan anda apa yang anda
lakukan didepan pintu sambil mengintip seorang gadis kecil seperti saya
ini?” Tanya nya sang gadis kecil tersebut.
“Ah tidak, saya hanya mendengar suara nyanyian lagu yang sangat
indah dan saya lihat ternyata kau penyanyi tersebut suara mu benar-
benar sangat bagus, Nak.” Jawab Justine sambil memuji gadis tersebut.
“Terima kasih atas pujiannya. Oh yah namaku Leena, dan kau…?”
jawab Leena sambil memperkenalkan namanya.
“Nama yang indah. Nama saya Justine, Justine Glammer” puji
Justine sambil memperkenalkan dirinya juga.
“Terima kasih lagi atas pujiannya. Saya juga sangat menyukai
nama ini juga, Nama ini diberikan oleh sister Abigail pada saya saat saya
berumur 5 tahun.” Ujar Leena dengan senang.
“Saat kau berumur 5 tahun. Tunggu, kau belum berada disini sejak
kau lahir?” Tanya Justine dengan nada penasaran.
“Tidak, saya dibawa kesini oleh seorang polisi setelah saya keluar
dari rumah sakit” ujar Leena sambil menjelaskan.
“Tunggu, kau bilang rumah sakit apa kau mengidap suatu penyakit
dan juga polisi sebernanya apa yang terjadi dan ah maaf saya terlalu
banyak bicara” ucap Justine dengan merasa bersalah.
“Tidak, tidak apa. Sejujurnya saya benar-benar tidak ingat dengan
apa yang terjadi sebenarnya kata dokter bilang bahwa saya terkena
amnesia dan dari yang saya dengar dari polisi amnesia saya mungkin
diakibatkan oleh kecelakaan 4 tahun yang lalu yang telah merenggut
nyawa kedua orang tua saya” ujar Leena sambil menjelaskan.
“Saya turut berduka cita dan juga maaf karna saya telah
mengungkit nya” ujar Justine dengan nada menyesal.
“sudah saya bilang tidak apa dan lagi pula saat saya terbangun di
rumah sakit saya benar-benar tidak ingat apa sebenarnya yang terjadi
dan lagi pula bukan hanya kejadian dimana kecelakaan itu saja yang
terjadi saya juga tidak ingat dengan umur, tanggal lahir, nama dan yang
lainnya seakan didalam kepala saya benar-benar kosong tidak ada Sesutu
yang tertinggal. Itu sebabnya karna saya lupa dengan nama saya pihak
panti asuhan ini memberikan ku nama Leena. Tapi untunglah ulang
tahun dan umur saya bisa diketahui berkat data-data yang ditemukan
oleh pihak polisi” ujar Leena panjang lebar.
Selain itu Jade yang berada diruang pesta mulai mengkhawatirkan
suaminya yang belum kembali sejak dia pergi ke toilet. Karena merasa
cemas akan suaminya yang belum kembali Jade meminta Sister Abigail
untuk membantu nya mencari suaminya. Saat sedang mencari Sister
Abigail mendapati Justine sedang asyik mengobrol dengan Leena.
Setelah kemudian itu akhirnya Jade menemukan dimana Justine berada.
Tiba-tiba jade masuk dan…
“Haii!!!.” Ucap Jade pada Leena.
“Hai??.” Jawab Leena dengan kebingungan.
“Oh! Maaf saya lupa untuk memperkenalkan diri. Nama saya Jade,
Jade Glammer saya istri dari Justine Glammer.” Jelas Jade pada Leena.
“Salam kenal nama ku Leena senang bertemu dengan anda.” Ucap
Leena sambil memperkenal kan diri pada Jade.
Jade seketika tersenyum pada gadis itu, tapi pandangan nya
seketika teralihkan ke sebuah lembaran kertas, dan diatas kertas itu
terpampang sebuah lukisan diatas nya.
“apa ini kau yang melukisnya?.” Tanya Jade pada Leena.
“Iya, apa kau menyukainya?.” Tanya Leena.
“Ini benar-benar sangat indah dan juga sangat unik.” Puji Jade
pada Leena.
“Terima kasih atas pujiannya. Dan lagi pula saya lebih banyak
berlatih dari pada harus ikut berpesta.” Ujar Leena dengan berterus
terang.
“Kenapa bukannya jika bersama anak-anak yang lain dan ikut
bersenang-senang Bersama yang lain pasti menyenangkan.” Jelas Jade.
“Entah lah mungin saya pikir saya berbeda dari yang lain.” Jawab
Leena.
“Tidak ada salahnya untuk menjadi sesuatu yang berbeda dari yang
lain.” Ucap Jade yang berterus terang.
Setelah percakapan yang lama akhirnya Jade dan Justine keluar
dari ruangan tersebut.
Saat di ruangan Sister Abigail, Jade mengatakan bahwa ia ingin
mengadopsi Leena dan Justine juga setuju dengan perkataan istri nya,
bahkan sister Abigail juga karna dia merasa bahwa Leena sangat terbuka
pada mereka terutama pada Jade. Dan akhirnya sister Abigail
menceritakan kepada mereka tentang kejadian yang menimpa Leena
sebelum dia dititipkan di panti asuhan ini. Tapi itu tidak akan bisa
merubah pikiran mereka. Dan keesokan harinya Leena resmi menjadi
anak angkat mereka.
2
Setelah diasuh oleh kedua orang tua ku yang baru aku benar-
benar merasakan apa itu keluarga. Walaupun aku adalah anak
angkat mereka, tapi mereka menggap ku seperti anak dari darah
mereka sendiri. Dan sekarang aku mendapatkan tempat tinggal
dan keluarga yang aku pikir mustahil bisa aku dapatkan.
Yang aku ketahui sekarang tentang mereka berdua hanya lah,
mereka tidak memiliki anak satu pun, mereka tinggal di rumah
yang besar dan juga luas. Aku di berikan satu kamar yang bisa
dibilang sangat luas menurut ku disana terdapat satu tempat
tidur, satu meja belajar, rak buku dan segala macam yang di
dalam nya dan tidak lupa juga disana terdapat berbagai kanvas,
kuas dan juga cat.
“ini?” tanya ku dengan terkejut.
“kau suka sayang” ujar jade yang sekarang sudah berdiri di
belakang ku sambil memegangi Pundak ku.
“hm, aku sangat menyukainya….tapi kenapa?”tanya ku dengan
nada yang tapi tentu saja dengan perasaan yang sangat Bahagia
karna mendapatkan barang-barang seperti ini.
“kami pikir kau sangat menyukai melukis, itu sebabnya kami
membeli perlengkapan ini” jelas Justine dengan senyum yang
merekah di wajah nya.
“leena, sekarang kau bukanlah orang asing dirumah ini kau
adalah anak kami sekarang, jadi kalau kau ingin membutuh kan
sesuatu kau bisa mengatakannya pada kami” ujar jade yang
sekarang bukanlah orang asing melainkan ibunya sekarang.
Setelah mendengar ucapan itu tanpa sadar sudah ada air yang
jatuh di sekitar peluk matanya leena, saat itu juga dia baru sadar
kalau sekarang dia tidak sendiri lagi melainkan sudah ada
keluarga yang menemaninya sekarang.
“makasi aku benar-benar tidak tahu ingin mengatakan apa
sekarang. Keluarga yang sudah 4 tahun aku impikan sekarang
sudah menjadi kenyataan berkat kalian berdua. Terima kasih
banyak.” Ujar leena dengan Panjang lebar.
“tidak kami juga sangat berterima kasih juga berkat mu kami
memiliki anak yang sangat kami impikan sekarang.” Ujar jade
dengan terharu.
“yang dikatakan jade benar sekarang kita adalah keluarga jadi
kau tidak perlu ragu seperti. Kami juga akan sangat senang
kalau kau bisa mambagakan kami berdua dengan hobi mu ini”
ujar Justine dengan memberikan dukungan pada leena akan
hobinya itu.
“iyah terima kasih banyak ummm……” seketika perkataan yang
ingin di katakan oleh leena menjadi gantung yang membuat jade
dan Justine termenung seketika.
“ayah dan ibu…..” sambung leena dengan nada yang sangat
malu.
Mendengar panggilan tersebut leena benar-benar membuat hati
mereka sangat senang. Seakan di hadapan mereka adalah anak
kandung mereka sendiri.
“sama-sama Leena” jawab mereka berdua dengan senyum yang
merekah di wajah mereka.
Setelah percakapan Panjang tersebut leena memutuskan untuk
merapikan barang-barang nya untuk di taruh di kamar baru nya.
Oh iyah jika kalian ingin tahu kamar leena memiliki ukuran 3x3
dengan cat dinding yang berwarna biru campuran ungu yang
menggambarkan galaksi. Dan juga terdapat rak buku di pojok
ruangan dan beberapa funitur lainnya. Leena membereskan
ruangannya dengan hati yang sangat Bahagia sekali.
Sampai tak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat sekali.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 yang menandakan sudah
waktunya untuk makan malam.
Setelah beberes kamar dan membersihkan badan leena Kembali
ke kamar untuk berganti baju yang telah di siap kan oleh orang
tua nya itu. Sampai dia mendengar terikan ibunya dari lantai
satu yang mengatakan kalau maka malam sudah siap.
“leena cepat turun makan malam sudah siap.” Ujar ibu dari
lantai 1.
“baik bu, leena segera turun” jawab leena kepada ibu nya.
Saat turun leena di jamu oleh banyak oleh banyak nya makanan,
yang mungkin beberapa di antaranya masih belum ada yang
pernah masuk ke perut leena itu sendiri.
“ ayo duduk ibu sudah masak banyak makanan kau pasti sangat
suka”
“wow banyak sekali makanan”
“ tentu saja, anggap saja ini sebagai perayaan untuk mu leena”
“untuk ku ?”
“yah, untuk mu leena karna mulai sekarang kau adalah putri
kami”
Setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh kedua orang
tuanya itu, entah mengapa membuat perasaan leena sangat
senang seolah telah menemukan sesuatu yang telah hilang kian
lamanya.
“ ah!! Dan juga ayah sudah mendaftarkan mu kesekolah di
sekitar sini. Besok kamu sudah mulai masuk sekolah, dan ayah
juga sudah membeli perlengkapan dan baju sekolah mu, kamu
pakai yah.”
“baik, terima kasih ayah ibu”
“ sama-sama”
Setelah pembicaran tentang sekolah mereka melanjutkan makan
malam dengan perasaan senang dan juga bahagia terutama untuk
leena. Mengingat dia sudah mendapatkan keluarga, tempat
tinggal, dan juga sekolah baru. Sekarang yang berada di benak
leena sekarang hanyalah dia benar-benar tidak sabar untuk
menanti esok lusa memulai sekolah pertamanya sebagai Leena
Glammer.
Seusainya mereka makan malam leena membantu ibu nya untuk
merapikan sisa peralatan makan yang tadi mereka gunakan.
Selepas itu leena Kembali keatas untuk gosok gigi dan pergi
tidur.
Setelahnya sampai dikamar leena berpikir tentang orang tua
barunya itu.
“ mereka benar-benar baik dengan ku. Aku tidak boleh
mengecewakan mereka sama sekali. Aku akan berusaha untuk
menbanggakan mereka.” Pikir leena sebelum tidur. Dan pada
akhirnya leena pergi tidur menanti datangnya esok.
3
Keesokan hari nya, leena terbangun oleh cahaya matahari
yang sudah mengintip nya dari luar kamarnya sendiri. Leena
berkali-kali mengerjap mata nya mencoba untuk