The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku yang berjudul Mengenal Sastrawan Perempuan Era Reformasi ini terdiri atas cerita empat sastrawan perempuan dari era reformasi. Empat sastrawan perempuan tersebut yaitu Justina Ayu Utami, Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, dan Oka Rusmini. Keempat sastrawan tersebut merupakan sastrawan era reformasi yang lebih banyak mengangkat tema tentang perempuan atau feminisme.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by septirahmad192, 2023-06-11 05:17:06

Mengenal Sastrawan Perempuan Era Reformasi

Buku yang berjudul Mengenal Sastrawan Perempuan Era Reformasi ini terdiri atas cerita empat sastrawan perempuan dari era reformasi. Empat sastrawan perempuan tersebut yaitu Justina Ayu Utami, Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, dan Oka Rusmini. Keempat sastrawan tersebut merupakan sastrawan era reformasi yang lebih banyak mengangkat tema tentang perempuan atau feminisme.

Keywords: e-book Mengenal Sastrawan Perempuan Ea Reformasi

1


ii MENGENAL SASTRAWAN PEREMPUAN INDONESIA ERA REFORMASI Bacaan untuk SMP


iii MENGENAL SASTRAWAN PEREMPUAN INDONESIA ERA REFORMASI Copyright © 2023 Penulis: Septi Rahma Dewi Penyunting: Septi Rahma Dewi Penata Letak: Septi Rahma Dewi Desain Cover: Septi Rahma Dewi Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Penerbit KEMBANG PUSTAKA Jl. Samirono CT 6, No. 292 Caturtunggal, Depok, Sleman Yogyakarta


iv UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 Tentang Hak Cipta Pasal 113 1. Setiap orang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf i untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). 2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). 3. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). 4. Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).


v KATA PENGANTAR Sastrawan merupakan salah satu orang yang berperan penting dalam perkembangan kepenulisan dalam hal karya sastra baik puisi, cerita pendek, novel, dan lain sebagainya. Kepenulisan karya sastra khususnya karya-karya puisi, cerita pendek, dan novel semakin berkembang. Perkembangan kepenulisan tentunya berpengaruh pada berbagai hal. Hal tersebut juga berpengaruh pada sastrawan yang awalnya lebih dominan dilakukan oleh laki-laki, sekarang mulai bermunculan sastrawansatrawan perempuan. Perubahan-perubahan dan perkembangan-perkembangan yang terjadi timbulah kebebasan dalam menulis dan mulai bermunculan sastrawan perempuan. Sastrawan perempuan yang awalnya di pandang sebelah mata mulai membuktikan dan mulai banyak


vi bermuunculan di era-era setelah kemerdekaan atau era-era reformasi. Melalui buku ini akan adanya pembahasan mengenai satrawan perempuan Indonesia di era reformasi. Era reformasi itu yang mana setelah kemerdekaan mulai bermunculan sastrawan-sastrawan perempuan yang menuangkan imajinasinya ataupun isi hatinya dengan cara penulisan yang cenderung vulgar dan dibebaskan. Dalam kepustakaan Indonesia dewasa ini memang sudah ada beberapa buku yang membicarakan terkait sastrawan-sastrawan di Indonesia dari berbagai macam era atau angkatan. Namun, karena sastrawan-sastrawan di Indonesia begitu banyak dari berbagai era dan karakteristiknya yang lebih cenderung atau lebih banyak sastrawan laki-laki secara keseluruhannya dan secara umum, maka dilihat dari hal tersebut ditulislah buku yang


vii berisi tentang sastrawan perempuan era reformasi. Buku yang berjudul Mengenal Sastrawan Perempuan Era Reformasi ini terdiri atas cerita empat sastrawan perempuan dari era reformasi. Empat sastrawan perempuan tersebut yaitu Justina Ayu Utami, Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, dan Oka Rusmini. Keempat sastrawan tersebut merupakan sastrawan era reformasi yang lebih banyak mengangkat tema tentang perempuan atau feminisme. Buku ini ditujukan untuk siswa Sekolah Menengah Pertama. Buku ini berisi tentang biografi keempat sastrawan mulai dari latar belakangnya, kehidupan masa mudanya, pendidikannya, karirnya, karya-karyanya, dan ciri dalam kepenulisannya. Selain itu, buku ini juga menceritakan salah satu isi dari karya keempat sastrawan. Melalui buku ini akan mengetahui


viii perbedaan proses kreatif dalam proses menulis Justina Ayu Utami, Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, dan Oka Rusmini. Hadirnya buku ini diharapkan dapat dijadikan sebagai buku pendamping dan dapat melengkapi buku-buku yang telah ada. Semoga dengan penulisan buku ini memberikan banyak manfaat untuk semuanya terutama untuk pelajar-pelajar menengah sebagai langkah awal untuk mengenal sastrawan-sastrawan perempuan Indonesia di era reformasi. Kepada rekan-rekan dan semua pihak yang terlibat dan memberikan andil secara sukarela dalam penulisan buku ini, memberikan support dan semangat, saya mengucapkan banyak terima kasih. Yogyakarta, 10 Juni 2023


ix PRAKATA Alhamdulillah, atas segala curahan rahmat dan puji syukur, penulis dapat menyelesaikan penulisan buku ini dengan lancar. Setelah menghabiskan waktu yang cukup panjang dan bergelut dengan kata-kata, akhirnya penulis dapat mengeluarkan gagasan-gagasan yang telah dipikirkannya dalam bentuk tulisan. Buku yang jauh dari kata sempurna ini akhirnya bisa dikeluarkan dan disajikan kepada para pembaca. Buku ini ditujukan untuk siswa Sekolah Menengah Pertama sebagai tambahan ilmu pengetahuan terkait sastrawan perempuan Indonesia era reformasi. Buku ini mengenalkan empat sastrawan perempuan yang karyakaryanya cenderung mengangkat tema terkait perempuan atau feminisme. Empat sastrawan perempuan tersebut yaitu Justina Ayu Utami,


x Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, dan Oka Rusmini. Buku ini terbagi menjadi empat bagian. Masing-masing bagian menceritakan satu sastrawan. Berisi biografi, kisah masa muda, perjuangan hidup, ciri dalam karyanya, menceritakan salah satu karya yang ditulisnya. Penulisan buku ini tentunya melibatkan banyak pihak. Penulis mengucapkan terima kasih sebesar besarnya kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunianya. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Dr. Esti Swatika Sari, S.Pd., M.Hum. dan teman-teman yang telah memberikan kritik, saran, masukan, semangat dan motivasi sehingga penulisan buku ini bisa selesai. Buku ini jauh dari kata sempurna dan masih terdapat kekurangan. Kekurangan buku


xi ini murni karena kedangkalan ilmu pengetahuan dari penulis. Sehingga penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Penulis hanya berharap semoga buku ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca. Yogyakarta, 10 Juni 2023


xii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ~ v PRAKATA ~ ix DAFTAR ISI ~ xii 1. Coretan Pena Kebebasan (Belajar kepada Justina Ayu Utami) ~ 1 2. Menulis sebagai Bentuk Imajinasi (Belajar kepada Dewi Lestari) ~ 15 3. Menulis dengan Keterbukaan Bebas (Belajar kepada Djenar Maesa Ayu) ~ 31 4. Menulis sebagai Pembela Kaum Perempuan (Belajar kepada Oka Rusmini) ~ 47 Sumber Tulisan ~ 67 Sumber Gambar ~ 71 Glosarium ~ 72 Indeks ~ 74 Profil Penulis ~ 77


1 Justina Ayu Utami: Coretan Pena Kebebasan Sastrawan kali ini adalah sosok sastrawan perempuan yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Ia disebut sebagai sastrawan yang kurang produktif dalam menghasilkan karya. Namun, dari tangannya terlahir puluhan karya yang elok dan menarik. Karyanya yang saat ini sudah banyak dikenal dan dibaca, walaupun pernah menjadi kontroversi


2 besar di dunia sastra. Namanya Justina Ayu Utami atau sering dikenal dan disebut dengan nama Ayu Utami. Ayu Utami merupakan sosok sastrawan perempuan Indonesia yang lahir di Bogor pada tanggal 21 November 1968. Ia adalah seorang novelis di Indonesia. Ia lahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya bernama Johanes Hadi Sutaryo dan ibunya bernama Bernadeta Suhartinah. Ayu Utami termasuk sebagai orang yang berhasil dalam dunia pendidikan. Ia berhasil menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi di Indonesia dan di luar negeri. Ia mulai sekolah tahun 1981 di SD Regina Pacis yang berada di kota Bogor. Setelah lulus dari jenjang SD, ia melanjutkan pendidikan tingkat SMP di SMP Tarakanita 1 Jakarta. Setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun di SMP, Ayu Utami


3 melanjutkan pendidikan di SMA Tarakanita 1 Jakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan di jenjang sekolah menengah, ia melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Ia berkuliah di perguruan tinggi ternama yaitu Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan Sastra Rusia, Fakultas Sastra. Setelah lulus di Universitas Indonesia, ia kembali belajar di Advanced Journalism, Thomson Foundation, Cardiff, UK pada tahun 1995. Selanjutnya, pada tahun 1999 menempuh pendidikan di Asian Leadership Fellow Program, Tokyo, Japan. Tidak hanya dikenal sebagai novelis, Ayu Utami juga dikenal sebagai seorang jurnalis. Sudah banyak kegiatan-kegiatan yang dijalaninya di dunia jurnalistik. Ayu Utami pernah menjadi wartawan Forum Keadilan, wartawan lepas Matra, wartawan D&R, menjadi anggota Sidang Redaksi Kalam, dan Kurator Teater Utan Kayu. Selain itu. Ayu Utami juga


4 sebagai pendiri dan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Pada tahun 1994, Ayu Utami mengikuti kegiatan yang besar yaitu ikut menandatangani Deklarasi Sinargalih. Penandatanganan tersebut membuat Ayu Utami berpindah posisi dari redaksi ke bidang pemasaran di majalah Forum. Ayu Utami yang memiliki kegiatan di bidang penulisan tentunya sudah menulis berbagai karya. Karyanya lebih cenderung pada sastra genre novel. Novel-novelnya sudah banyak diterbitkan dan memiliki peminat yang banyak. Karya Ayu Utami antara lain, novel Saman, Larung (2002), Bilangan Fu (2008), kumpulan Esai Si Parasit Lajang (2003), Manjali dan Cakrabirawa (2010), Cerita Cinta Enrico (2012), Soegija: 100% Indonesia (2012), Lalita (2012), Pengakuan: Eks Parasit Lajang (2013), Maya (Seri Bilangan Fu) (2013), Anatomi Rasa (2019), dan masih banyak lainnya.


5 Melalui tulisannya, Ayu Utami banyak dikenal orang. Selain itu, berkat karyanya ia mendapat penghargaan. Penghargaan yang didapat, seperti mendapat penghargaan Roman terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998, mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund di Den Haag, dan mendapat penghargaan Khatulistiwa Literary Award kategori prosa (2008). Kehidupan Masa Muda Masa muda Ayu Utami dihabiskan di beberapa kota yang berbeda. Ayu Utami pernah menghabiskan masa mudanya atau di usia SMP dan SMA di Jakarta. Selanjutnya ia berkeinginan pindah kembali ke tanah kelahirannya yaitu di Bogor. Keinginan untuk pindah dilakukan sebagai upaya meneruskan hobi dan cita-citanya. Namun, hal itu tidak disetujui oleh orang tuanya yang berprofesi sebagai jaksa dan guru


6 matematika. Orang tuanya lebih memilih dan mengharapkan Ayu Utami melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Ayu Utami yang sejak kecil menyukai dan memiliki keterampilan melukis. Kemampuan melukis yang dimilikinya banyak dimanfaatkan oleh teman-temannya. Teman-temannya menyukai dan tertarik dengan hasil lukisannya. Lukisan yang dihasilkan Ayu Utami memiliki nilai yang tinggi dengan apresiasi dari temantemannya. Ayu Utami mendapatkan banyak pujian atas lukisannya yang bagus dan indah dipandang. Keindahan lukisan yang dibuat, membuat Ayu Utami banyak mendapat pesanan lukisan dari teman-temannya. Hal itu membuat Ayu Utami memiliki keinginan untuk mengembangkan bakat melukisnya. Ia ingin melanjutkan pendidikan di ITB dengan mengambil jurusan Seni Rupa. Namun, keinginannya tidak disetujui oleh orang tuanya.


7 Ayu Utami yang sejak kecil juga gemar membaca dan menulis, ia kembali memikirkan jurusan yang akan ditempuhnya. Ia gemar membaca alkitab karena ia terlahir dari keluarga yang kental dengan agama. Ia juga gemar membaca buku karya Budi Darma dan Michael Ondaatje. Kegemarannya membaca alkitab membuatnya mulai tidak percaya agama saat usianya masih 20-an tahun. Menurutnya agama memiliki mudarat, patriakal, dan banyak terjadi perselisihan agama. Selain memiliki kegemaran membaca, Ayu Utami juga gemar menulis. Sejak usia muda, ia sudah mulai menulis-nulis di buku catatannya. Ayu Utami lebih gemar dalam menulis sastra bentuk fiksi. Salah satu tulisannya yang berbentuk cerpen pernah di muat di majalah kota.


8 Ayu Utami merasa bahwa seorang penulis bukan cita-citanya. Ia lebih tertarik pada bidang seni lukis. Hal itu yang membuatnya ingin melanjutkan kuliah di jurusan Seni Rupa. Namun, karena tidak mendapat persetujuan dari orang tuanya, ia akhirnya memilih untuk kuliah Sastra Rusia di Universitas Indonesia. Jurusan itu dipilihnya hanya sebagai pelarian saja. Ayu Utami menjalankan dunia perkuliah dengan tidak semangat dan bermalas-malasan. Ia juga menjalankan perkuliahan sembari bekerja sampingan. Hal itu sebenarnya dilarang oleh keluarganya karena kebiasaan keluarganya tidak bekerja saat kuliah. Tidak hanya itu, Ayu Utami juga mengambil berbagai bidang pekerjaan lainnya. Ia bekerja sampingan sebagai purel hotel dan model majalah. Ayu Utami yang masih menjalankan perkuliahannya juga aktif menulis. Ia menulis


9 sebuah cerpen yang berhasil memenangkan penghargaan di Majalah Humor. Sejak cerpennya berhasil menang, akhirnya ia tertarik terjun dalam dunia jurnalistik. Ia menjalankan pekerjaan sebagai wartawan di Majalah Humor. Ayu Utami juga bekerja di Forum Keadilan dan D&R. Sejak bekerja, ia mulai mengenal dunia aktivis dan mulai tumbuh jiwa aktivisnya. Tahun 1993-1994, Ayu terlibat dalam bentuk memperjuangkan kemerdekaan pers pada masa orde baru. Kebebasan Ayu Utami Ayu Utami termasuk dalam sosok sastrawan perempuan Indonesia yang produktif dalam menulis sebuah karya sastra. Karya-karya yang telah ditulisnya memiliki kecenderungan terhadap realita sosial dalam masyarakat. Ayu menghubungkan kondisi sosial masyarakat dengan kepenulisan sastranya. Kondisi sosial


10 menjadi salah satu inspirasinya dalam menulis sebuah karya sastra. Ayu menulis sebagai bentuk kebebasan berpendapat dan berimajinasi. Pendapat-pendapatnya dituangkan dalam bentuktulisan yang indah dan penuh lambang. Ayu Utami mendapat kebebasan dalam menulis. Kebebasan Ayu dalam menulis dapat dilihat dari tema yang diangkatnya. Ia lebih banyak mengambil tema-tema yang berbeda dengan lainnya. Bahkan mengambil tema yang dianggap kontroversial dalam masyarakat. Tema-tema yang diangkatnya banyak mendapat perlawanan di berbagai pihak dan masyarakat. Ia lebih banyak mengangkat tema yang berhubungan dengan masalah politik, agama, dan bahkan masalah seksualitas. Ayu mengangkat berbagai masalah tersebut dengan cara terbuka dan terang-terangan.


11 Kebebasan Ayu Utami dalam menulis pendapat-pendapatnya dalam sebuah karya sastra dituangkan dengan pendeskripsian melalui sebuah tokoh. Masalah-masalah yang diangkat dideskripsikan secara terang-terangan oleh Ayu. Namun, Ayu menulis permasalahan yang diangkatnya dengan memperhatikan kaidah dalam kepenulisan sastra. Salah satu karya Ayu yang memiliki keterbukaan dan secara terang-terangan dalam mengupas suatu masalah sosial yaitu novel Saman. Novel Saman merupakan novel karya Ayu Utami yang sangat populer dan dikenal banyak orang. Novel ini sudah pernah diterjemahkan ke bahasa Belanda dan kembali diterbitkan. Novel Saman itu juga telah mendapat sebuah penghargaan besar dari Dewan Kesenian Jakarta dan Pusat Bahasa. Novel Saman merupakan novel yang lahir pada tahun 1998 setelah era reformasi dan berakhirnya pemerintahan


12 Presiden Soeharto. Novel Saman termasuk novel yang mengangkat sebuah permasalahan sosial. Ayu mengangkat tema yang berkaitan dengan masalah agama, politik, dan seks dalam novelnya. Dalam novelnya, ia mendeskripsikan secara terang-terangan dan dengan keterbukaan. Novel Saman mengangkat tema seksualitas dari pandangan perempuan yang masih tabu di masyarakat pada masa itu. Ayu Utami mengambil latar belakang kondisi masyarakat Indonesia tahun 80-an hingga 90-an. Masa dimana masih dalam pemerintahan Soeharto era Orde Baru. Ayu menggambarkan tokoh dalam novel dengan menghubungkan sebuah kondisi sosial, budaya, dan politik Indonesia masa itu. Novel Saman berkisah tentang empat orang perempuan yang mengalami kegelisahan seksual dalam masyarakat. Empat orang tersebut


13 digambarkan Ayu melalui tokoh Laila Gagarina, Yasmin Moningka, Cokorda Gita Magaresa, dan Shakuntala. Keempat tokoh tersebut digambarkan telah menjalin persahabatan sejak di bangku SD. Ayu menggambarkan kondisi keempat tokoh dengan keadaan yang menyimpang kebiasaan dan kebudayaan sosial masyarakat. Adanya penggambaran kisah kehidupan seksualitas secara terang-terangan. Melalui novel Saman yang telah diciptakan, Ayu Utami mendapat kritikankritikan besar dari sastrawan ternama lainnya. Karyanya tersebut mendapatkan komentar yang pro dan kontra. Ayu dianggap mengangkat tema yang menimbulkan kontroversi dalam masyarakat khususnya kesusastraan. Namun, Ayu juga dianggap berhasil menciptakan pergerakan dunia sastra yang baru. Pergerakan sastra yang dilakukan oleh Ayu disebut sebagai


14 sastra wangi. Hal tersebut membuat penulis perempuan lainnya mengikuti jejak Ayu Utami.


15 Dewi Lestari: Menulis sebagai Bentuk Imajinasi Sastrawan kali ini adalah sosok sastrawan perempun Indonesia yang namanya sudah banyak dikenal. Coretan tangannya sudah banyak menghasilkan karya-karya yang elok dan teratur. Tulisannya dihasilkan dengan rapi dan memperhatikan kata-kata yang digunakan. Namanya Dewi Lestari Simangunsong atau lebih kerap dipanggil Dee.


16 Dewi Lestari merupakan sosok sastrawan perempuan Indonesia yang lahir di Bandung pada tanggal 20 Januari 1976. Ia sebagai anak keempat dari pasangan Yohan Simangunson dan Turlan br Siagian. Dee memiliki 4 saudara yang mahir dalam bermain musik. Ia lahir dalam keluarga yang sederhana dan harus pintar dalam mengatur keuangan keluarga. Ia besar dari keluarga yang memiliki latar belakang seni. Ayahnya seorang anggota TNI yang pandai bermain piano. Saudara-saudaranya sebagai pemain piano yang professional dan menjadi guru piano profesional. Dee mengenyam pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Dee memiliki gelar yang tinggi yaitu sebagai seorang sarjana. Ia mengenyam pendidikan jenjang sekolah menengah di kota Bandung. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan jenjang sekolah menengah di SMU 2 Bandung. Setelah


17 menyelesaikan pendidikan di SMU, Dee melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Ia menempuh pendidikan di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Dee mengambil jurusan Hubungan Internasional di Fisip. Pada tahun 1999, Dee berhasil menyelesaikan pendidikannya di Universitas Katolik Parahyangan dan memperoleh gelar sarjana. Dewi Lestari yang terlahir dari keluarga dengan latar belakang seni dari ayah dan saudara-saudaranya, ia juga mengikuti perjalanan dari keluarganya. Tidak hanya menekuni dunia penulisan, Dewi Lestari juga menekuni dunia seni tarik suara. Dee dikenal sebagai penyanyi yang memiliki suara merdu dan indah. Ia sebagai penyanyi grup atau trio dengan genre pop. Dewi Lestari dalam dunia penulisan juga tak kalah terkenal seperti di dunia tarik suara.


18 Dee dalam dunia penulisan sudah menghasilkan banyak karya. Karyanya itu sudah banyak di terbitkan di berbagai penerbitan di Indonesia. Dee dalam dunia penulisan lebih dikenal sebagai seorang penulis dengan hasil karya novel. Hal itu, ia dikenal sebagai seorang novelis. Sudah banyak novel yang ia tulis dan banyak dikenal oleh masyarakat terutama yang suka membaca. Karya-karyanya antara lain novel Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (2001), Supernova: Akar (2002), kelompok prosa dan puisi “Filosofi Kopi” (2003), Supernova: Petir (2005), kelompok kisah Rectoverso (2008), Perahu Kertas (2009), kelompok kisah Madre (2011), Supernova: Partikel (2012), Supernova: Gelombang (2014), Supernova: Intelegensi Embun Pagi (2016), Kepingan Supernova (2017), Aroma Karsa (2018), Rapijali 1: Mencari (2021), Rapijali 2: Menjadi(2021), Rapijali 3: Kembali(2021), dan masih ada lainnya. Selain sebagai penulis fiksi,


19 Dee juga menulis buku nonfiksi. Tulisan dalam bentuk nonfiksi bisa dihitung dengan hitungan jari. Tulisan nonfiksinya antara lain Di Balik Tirai Aroma Karsa (2019) dan Rantai Tak Putus (2020). Dee lebih banyak menulis dalam bentuk fiksi. Melalui tulisannya itu, Dewi Lestari banyak mendapatkan penghargaan dan pengakuan dalam bidang literasi. Penghargaan dan pengakuan yang sudah didapat, seperti penghargaan terhadap novel Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh sebagai 5 besar Khatulistiwa Literary Award 2001, 6 besar Khatulistiwa Literary Award 2003 pada novel Supernova: Akar, penghargaan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa 2006 sebagai karya sastra terbaik – Filosofi Kopi, Karya sastra terbaik 2006 pada kaya Filosofi Kopi, penghargaan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa 2012 – Mandre, Anugerah


20 Pembaca Indonesia 2015 untuk kategori “Buku Fiksi Terfavorit” pada novel Supernova: Gelombang, IKAPI Award 2016 untuk kategori “Book of The Year 2016” pada novel Supernova: Intelegensi Embun Pagi, dan IKAPI Award 2018 untuk kategori “Book of The Year 2018” pada novel Aroma Karsa. Kehidupan Masa Muda Dewi Lestari merupakan sosok sastrawan perempuan yang memiliki penampilan yang sederhana. Ia sejak kecil hingga masa mudanya hidup dengan kesederhanaan. Tidak hanya itu, ia juga dituntut untuk bisa mengatur keuangan demi perekonomian keluarganya. Namun, dengan perekonomian yang serba keterbatasan, ia berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang perguruan tinggi. Ia berhasil menyabet gelar sarjana dengan jurusan Hubungan


21 Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan. Kehidupan masa mudanya selain berhasil mendapat gelar sarjana, ia juga berhasil dikenal banyak orang melalui karir penyanyinya. Terlahir dari keluarga yang memiliki kelebihan dalam bidang seni musik dan tarik suara. Ketekunan keluarganya dalam dunia seni musik dan tarik suara membuatnya ikut menekuni bidang seni tersebut. Dewi Lestari mulai tertarik pada bidang seni musik dan tarik suara karena ayah dan saudaranya. Hobi dan kegemaran dalam musik menurun kepada diri Dee. Dee semasa mudanya juga menekuni dunia musik. Ia berlatih memainkan alat musik secara autodidak dan juga berlatih dengan saudaranya. Alat musik pertama yang ia tekuni yaitu piano. Hal tersebut karena saudaranya sebagai guru professional piano yang mahir


22 dalam bermain piano. Ketekunannya dalam dunia musik itu mengantarkannya dalam karir dunia entertainment. Dee dengan kemampuannya memainkan alat musik piano, ia mencoba untuk menulis sebuah lirik-lirik lagu. Ia berhasil menjadi seorang pencipta atau penulis lagu Indonesia. Berhasil menulis berbagai lagu-lagu yang elok dan menarik. Lagu-lagu yang berhasil ia ciptakan dinyanyikan oleh berbagai penyanyi. Keberhasilan itu membuatnya banyak dikenal oleh banyak orang. Dewi Lestari semasa mudanya juga menekuni dunia tarik suara. Melalui keindahan suara yang dimilikinya, membuatnya banyak dilirik oleh orang. Pada bulan Mei 1994, Dee yang masih menginjak usia muda berhasil tergabung dalam Trio RSD (Rida Sita Dewi). Trio RSD yang terbentuk atas dukungan Ajie Soetama dan Adi


23 Ardian. Grup trio yang lebih cenderung memainkan genre musik pop. Nama grup tersebut berupa Trio RSD diambil dari namanama anggotanya. Anggotanya terdiri dari Rida Farida, Indah Sita Nur Santi, dan Dewi Lestari. Selain sebagai penyanyi trio, Dee juga pernah menjadi backing vokal penyanyi-penyanyi terkenal di masa itu. Dee pernah menjadi backing vokal penyanyi Iwa K, Java Jive, dan Chrisye. Tidak hanya berhasil dalam karir seorang penyanyi, Dewi Lestari juga berhasil dalam dunia kepenulisan. Sejak kecil, ia sudah gemar membaca berbagai buku. Selain itu, ia juga menggemari dunia kepenulisan. Dee mulai menekuni dunia kepenulisan buku sejak usianya masih muda. Ia lebih menekuni kepenulisan buku sastra. Tulisan pertamanya berupa fiksi genre cerpen Indonesia.


24 Setelah berhasil menulis cerpen pertamanya, ia kembali menulis sebuah novel. Novel pertamanya berhasil diterbitkan dan banyak diminati. Melalui tulisannya itu, ia yang masih berusia muda berhasil mengikuti jajaran penulis ternama. Namanya mulai dikenal sebagai penulis Indonesia. Dalam masa mudanya yang menekuni dunia penulisan, ia pernah mengalami gangguan pada dirinya. Ia merasa ada yang salah terkait pemahaman religi di tengan masyarakat. Sejak itu, ia mulai belajar dan membaca-baca terkait ajaran berbagai agama di Indonesia, seperti ajaran Islam, Budha, dan Hindu. Dee mengalami masa-masa di mana ia suka berdiam diri dan merenung. Ia selama berbulan-bulan mengalami gangguan dalam tidurnya. Dee hanya bisa tertidur beberapa jam saja. Hanya bisa tidur jam delapan pagi hingga jam dua siang. Ia juga rutin


25 melakukan kegiatan bersama RSD selama dua kali dalam seminggu. Perlawanan Menulis Dewi Lestari Dewi Lestari atau yang dikenal dengan sebutan Dee merupakan salah satu sastrawan perempuan yang mengikuti jejak Ayu Utami. Dee termasuk salah satu sastrawan Indonesia yang produktif dalam menulis. Hal itu terbukti dengan sudah banyaknya karya-karya yang telah diterbitkan di berbagai penerbitan Indonesia. Dewi Lestari termasuk salah satu penulis yang menuangkan idenya dengan cara yang berbeda. Ia lebih memilih mengembangkan kemampuan menulisnya dengan cara sederhana dan memiliki ciri yang khas. Dee dalam kepenulisannya menggunakan cara berupa penjelasan yang lebih luas. Hal tersebut mengarahkan pembaca pada pemahamanpemahaman yang lebih mudah dan dapat


26 dipahami secara jelas makna dan maksud dari tulisannya. Dee dalam bidang kepenulisannya lebih cenderung menulis bidang kesastraan. Ia lebih tertarik untuk menulis novel. Novel yang ia tulis memiliki ciri khas sendiri dari penulis-penulis lainnya. Ia bercerita dengan menghubungkan antara realita dan imajinasi dalam dirinya. Realita yang menjadi salah satu inspirasinya yaitu tentang kehidupan sosial masyarakat. Dee juga menghubungkan imajinasinya dengan kebudayaan dan agama di dalam masyarakat Indonesia. Dewi Lestari melakukan perlawanan dalam dunia kesusastraan. Ia banyak mengangkat tema yang menimbulkan pro dan kontra dari penulis ternama lainnya. Dee mengangkat tema yang berbeda dengan kebanyakan penulis di Indonesia. Terkadang


27 tema yang ia pilih banyak dianggap keluar dari keumuman masyarakat. Ia dianggap mengangkat tema yang tidak biasa. Dee berani mengangkat tema yang melawan arus kesusastraan. Selain dari segi tema, ia juga melawan arus dalam hal kepenulisannya. Perlawanan tersebut dilakukan sebagai bentuk upaya pembeda dengan penulis pada umumnya. Perlawanan menulis Dewi Lestari dengan adanya perbedaan arus. Perbedaan tersebut terkadang mendapat kritikan yang pedas dari para pembaca dan penulis lain. Hal itu juga menjadi kontroversi dalam masyarakat dan beberapa pihak. Salah satu karyanya yang menjadi kontroversi besar yaitu novel serial Supernova. Supernova merupakan novel serial pertama yang ditulis oleh Dewi Lestari. Supernova termasuk dalam novel fiksi ilmiah.


28 Melalui novel tersebut Dee berhasil menyatukan penyuka novel populer dan sastra. Hal tersebut karena Dee bercerita dengan model penulisan novel populer dan dihubungkan dengan sastra. Serial Supernova pertamanya dimulai dari Supernova 1: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Seri Supernova pertamanya itu diterbitkan pada tahun 2001. Supernova pertamanya merupakan bentuk perwujudan kebudayaan Indonesia yang diguncang oleh tidak adanya makna yang bisa menjadi pegangan. Dee menulis novel tersebut dengan menggunakan kebahasaan yang cukup sulit namun tetap sederhana. Ia banyak menggunakan istilah-istilah sains yang dicampuri dengan percintaan. Novel tersebut menjadi novel yang banyak diminati dan termasuk novel terlaris di Indonesia. Seri pertama Supernova yang ia tulis telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Hal tersebut sebagai bentuk upaya Dee untuk


29 menembus pasar internasional. Melalui seri pertamanya, Dee berhasil mendapatkan penghargaan dalam ajang Khatulistiwa Literary Award (KLA). Setelah berhasil menulis seri pertama Supernova, Dewi Lestari kembali melanjutkan kepenulisannya di seri kedua. Pada tanggal 16 Oktober 2002, Dee mengeluarkan seri kedua Supernova yang diberi judul Akar. Dee mengangkat tema yang berhubungan dengan keagamaan dalam novel keduanya. Pemilihan tema tersebut menimbulkan kontroversi yang sangat besar. Hal tersebut karena Dee mencantumkan lambang suci dalam agama Hindu. Lambang tersebut dikenal lambang omkara. Lambang itu adalah lambang aksara suci Brahman dalam agama Hindu. Dee mencantumkan lambang omkara sebagai sampul dalam bukunya. Umat Hindu merasa dilecehkan adanya penggunaan lambang tersebut. Namun,


30 kontroversi tersebut mulai mereda karena adanya kesepakatan antara umat Hindu dan Dee. Akhirnya Dee memutuskan untuk tidak mencamtumkan lambang omkara dalam tulisannya. Pada Januari 2005, Dee kembali melanjutkan penulisannya ke seri Supernova yang ketiga. Seri ketiga Supernova diberi judul Petir. Dalam seri ketiganya, Dee masih mengaitkan cerita dengan dua seri Supernova sebelumnya. Seri ketiganya lebih menceritakan sebuah perjuangan seorang anak mencari ayahnya. Dee bercerita dengan begitu apik dan menarik. Menghidupkan alur cerita yang bisa sampai kepada pembacanya. Dee menuangkan kisah petualangan yang dipenuhi rasa senang, kesedihan, dan balutan rasa cinta.


31 Djenar Maesa Ayu: Menulis dengan Keterbukaan Bebas Sastrawan yang satu ini adalah sosok sastrawan Indonesia yang masih asing bagi sebagian besar orang. Ia adalah sosok sastrawan yang berbakat dalam bidang kepenulisan. Dari tangannya, sudah lahir banyak tulisan yang elok dan menarik. Hasil coretan tangannya itu banyak menghasilkan penghargaan dalam bidang kepenulisan. Djenar Maesa Ayu adalah nama lengkap sosok sastrawan Indonesia tersebut.


32 Djenar Maesa Ayu sering disapa dengan sebutan Nai. Djenar Maesa Ayu atau Nai adalah seorang sastrawan perempuan Indonesia yang lahir di Jakarta pada tanggal 14 Januari 1973. Ia lahir dari pasangan yang memiliki darah kesenian. Lahir dari keluarga penulis skenario dan seorang sutradarah. Ayahnya bernama Sjuman Djaya dan ibunya bernama Tutie Kirana. Ayahnya adalah seorang sutradara film, sedangkan ibunya sebagai seorang aktris pada era 1970-an. Darah seni yang lahir dari keluarganya menurun ke Nai yang juga memiliki kedekatan dengan seni. Tidak hanya berkecimung di dunia penulisan, Nai juga menekuni dunia perfilman seperti kedua orang tuanya. Nai pernah menekuni dunia perfilman dengan menulis sebuah skenario film. Ia juga pernah menjadi


33 pemain film di berbagai judul film di Indonesia. Selain itu, ia juga sempat menempatkan dirinya sebagai seorang sutradara film di Indonesia. Dalam perfilman, ia kebanyakan sebagai pemain dan sutradara di film yang telah ditulisnya. Berbagai judul film sudah ia perankan dan sutradarainya. Judul fim diantaranya yaitu Boneka dari Indiana (1990), Koper (2006), AnakAnak Borobudur (2007), Mereka Bilang, Saya Monyet (2008) sebagai penulis naskah, sutradara, dan produser, Cinta Setaman (2008), SAIA (2009) sebagai penulis naskah, sutradara, dan produser, Dikejar Setan (2009), Ai Lop Yu Pul (2009) sebagai penulis, Melodi (2010), Purple Love (2011), Parts of the Heart (2012), Nay (2015) sebagai penulis naskah, sutradara, dan produser, hUSh (2016) sebagai penulis naskah, sutradara, dan produser eksekutif, dan masih banyak yang lainnya.


34 Dalam bidang penulisan sastra, Nai juga sudah banyak mengeluarkan karya yang diterbitkan di berbagai penerbit di Indonesia. Hasil tulisannya tersebut antara lain Mereka Bilang, Saya Monyet! (2002), Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu) (2004), Nayla (2005), Cerita Pendek Tentang Cerita Pendek (2006), 1 Perempuan 14 Laki-Laki (2011), A Travers Les Glaces: Nouvelles (2011), T(w)itit (2012), Saia (2014), Jentayu- Numero 6 – Amours et Sensualites (2017), Nayla (Edisi Bahasa Inggris) (2018), dan masih banyak lainnya. Melalui tulisannya dan perannya dalam perfilman, Nai banyak medapatkan berbagai penghargaan. Penghargaan tersebut membuatnya banyak dikenal oleh banyak orang. Penghargaan yang ia dapatkan, seperti Piala Citra untuk Sutradarah Terbaik dalam film Mereka Bilang, Saya Monyet!, Sepuluh besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003 untuk buku


35 yang berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet!, Cerpen Terbaik Kompas tahun 2003 untuk cerpen yang berjudul “Waktu Nayla”, Cerpen Terbaik tahun 2003 versi Jurnal Perempuan untuk cerpen yang berjudul “Menyusu Ayah”, dan Lima besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2004 untuk kumpulan cerpen yang berjudul Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu). Kehidupan Masa Muda Djenar Maesa Ayu merupakan sosok perempuan yang lahir dari keluarga yang memiliki latar belakan seni. Kedua orang tuanya merupakan orang yang terkenal di mana-mana. Orang tuanya berkarir dalam dunia perfilman. Dengan latar belakang orang tuanya itu, Nai juga mendapatkan dampaknya. Ia juga menjadi banyak dikenal oleh orang-orang. Selain itu, ia juga menjadi sosok perempuan yang beruntung karena lahir dari keluarga yang berkecukupan.


36 Beruntung tidak seperti sebagian orang yang terkadang masih kesulitan dalam hal ekonomi. Kehidupan Nai sejak kecil hingga masa mudanya berjalan dengan melalui banyaknya persoalan dalam keluarganya maupun dari lingkungan sosialnya. Nai harus melewati masamasa dimana harus menyaksikan orang tuanya melakukan perselingkuhan dalam ikatan perkawinan di depan matanya. Melewati situasi perceraian orang tuanya. Masa-masa itu dijalankan Nai dengan hati yang harus ikhlas dan menerimanya. Persoalan besar yang telah dilewatinya itu dijadikan sebagai bentuk pembelajaran. Oleh karena itu, Nai di usianya yang masih muda dikenalkan dengan pengetahuan terkait keterbukaan oleh ibunya. Ia dikenalkan terkait organ reproduksi yang ada dalam tubuh seorang perempuan. Ibunya juga memberikan kebebasan


37 dalam menjalankan kehidupan yang berkaitan dengan kesadaran diri tentang apa yang dimilikinya. Pengenalan tersebut dilakukan ibunya untuk kesadaran diri Nai dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terkait perempuan. Nai mengungkapkan bahwa didikan ibunya berhasil. Ia mendapat keberuntungan berupa kekayaan dalam pengetahuan terkait seksualitas. Ia lebih beruntung dari teman-temannya yang masih banyak tidak mengetahui persoalan terkait seksualitas. Keberuntungan Nai tidak berjalan mulus dalam kehidupannya. Nai semasa kecil hingga diusia muda dan dewasa kerap mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakan dalam lingkungan masyarakatnya. Ia dimusuhi banyak orang karena pribadinya yang dianggap terlalu bebas, jorok, dan vulgar. Banyak yang berangapan bahwa pribadi Nai tersebut


38 terbentuk karena adanya permasalahan keluarganya. Nai harus menghadapi situasi perceraian orang tuanya di usianya yang masih muda bahkan masih kecil. Sehingga keluarganya banyak mendapat gunjingan karena terlalu terbuka dalam berbagai hal. Semasa Nai masih duduk di bangku sekolah, ia tidak disukai banyak guru. Gurugurunya menganggap Nai sebagai perempuan yang berbeda atau tidak seperti anak perempuan pada umumnya. Nai memiliki pribadi yang cenderung berani dan bebas. Nai dimata guru dan masyarakat sebagai bentuk ancaman besar. Selain itu, Nai juga semasa mudanya hanya memiliki sedikit teman karena banyak orang tua teman-temannya melarang untuk berteman dengannya. Oleh karena itu, Nai banyak menghabiskan masa mudanya untuk menulis sebuah karya sastra dan bermain peran seperti orang tuanya dulu.


Click to View FlipBook Version