Taman
Sansevieria
Diya Prastiti
STeakmoalanh
Jam dinding ruang makan menunjukkan pukul 06.00 WIB. Gadis cilik berkepang dua
telah selesai sarapan bersama ayah dan ibunya. Ya, ia adalah Salma. Murid kelas V
sekolah dasar ini sudah siap berangkat ke sekolah.
“Ayah, Ibu, Salma pamit berangkat sekolah, ya?”, izin Salma kepada orang tuanya sambil
mencium tangan mereka.
“Iya, Salma, hati-hati jika bersepeda menuju sekolah”, pesan ayah.
“Baik, Ayah. Hari ini Salma berangkat bersama Farah. Sebentar lagi ia menjemput Salma”,
cerita Salma.
Ibu lalu mengantar Salma menuju halaman rumah untuk menemani Salma menunggu
Farah. Mereka duduk di kursi taman. Tempat ini menjadi favorit Salma, karena begitu
sejuk dan rindang. Di taman itu ditanami pohon kelengkeng dan mangga oleh ayah Salma.
Tak hanya itu, berbagai jenis bunga koleksi ibu Salma tumbuh subur dan terawat. Ibu dan
Salma memang senang berkebun. Mereka menata pot-pot bunga dengan rapi sehingga
sedap dipandang.
Tak lama kemudian, muncullah gadis manis berhijab mengayuh sepeda biru menuju rumah
Salma.
Kriingg… kriiiingg… kriiiiinggggg.
Begitu nyaring bunyi bel sepeda Farah. Gadis berlesung pipit ini memberikan senyum
termanis ketika mengetahui sahabatnya sudah menunggu di halaman rumah. Segera ia
turun dari sepedanya.
“Assalamualaikum, Tante”, sapa Farah kepada ibu Salma.
“Waalaikumsalam, Farah”, jawab ibu Salma.
“Hai, Salma, sudah lama menunggu, ya?”, sapa Farah.
“Enggak, kok, baru saja. Ayo kita berangkat. Ini kan hari senin. Kita harus datang lebih
awal karena hari ini upacara bendera”, jawab Salma.
Setelah berpamitan kepada ibu, kedua sahabat ini berangkat ke sekolah dengan
mengendarai sepeda masing-masing. Ibu berpesan agar mereka tidak ngebut dan
mematuhi rambu lalu lintas.
Salma dan Farah bersekolah di SD Lestari, sebuah sekolah dasar yang berjarak sekitar dua
kilometer dari rumah Salma. Mereka harus melewati jalan yang lumayan ramai, karena
sekolah mereka berada di pinggir jalan raya.
Uuhhkk… uuuhhkk.. uuhk.
Tiba-tiba Salma terbatuk-batuk.
“Kamu sakit, Salma?” tanya Farah.
“Enggak, ini karena asap kendaraan yang lewat itu, sangat mengganggu dan mencemari
udara, jadi aku terbatuk-batuk, dech”, jawab Salma.
Memang benar apa yang dikatakan Salma. Meskipun mereka tinggal di kota kecil, tetapi
udara kota ini kurang sehat. Hal ini disebabkan banyaknya asap kendaraan yang berlalu-
lalang, ditambah pula kurangnya penghijauan di sepanjang jalan. Banyak pohon yang
tumbang pada musim hujan lalu. Sepanjang jalan terasa panas karena kurangnya pohon
peneduh dan tanaman untuk penghijauan. Apalagi saat ini sudah memasuki musim
kemarau. Sinar matahari panas menyengat siapa pun yang lewat.
Waktu telah menunjukkan pukul 06.30. Salma dan Farah telah sampai di sekolah. Setelah
memarkir sepedanya, mereka menuju kelas untuk meletakkan tas. Suasana di kelas
sudah ramai, sebagian besar teman-teman sudah sampai. Ada yang masih bertugas piket
membersihkan kelas dan halaman, ada juga yang membaca buku di pojok baca kelas
mereka.
Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Itu tandanya seluruh murid harus berada di
halaman sekolah untuk mengikuti upacara bendera. Mereka berbaris rapi berdasarkan
kelas masing-masing. Salma dan Farah juga sudah berada dalam barisan. Upacara pun
segera dimulai.
Hari Senin ini, Bu Rahma, wali kelas V bertindak sebagai pembina upacara. Beliau
memberikan nasehat-nasehat kepada seluruh murid. Bu Rahma berpesan agar seluruh
murid menjaga kebersihan lingkungan sekolah, selalu menerapkan pola hidup bersih, dan
merawat tanaman yang ada di taman sekolah. Bu Rahma juga memberi pengumuman
bahwa akan diadakan kegiatan kerja bakti pada hari Sabtu.
Upacara pun telah usai, semua murid masuk ke kelas masing-masing dan siap mengikuti
pelajaran. Di dalam kelas V, Salma dan teman-teman membicarakan tentang kegiatan
kerja bakti. Tiba-tiba Bu Rahma masuk kelas.
“Assalamualaikum anak-anak, selamat pagi”, sapa Bu Rahma.
Salam dan teman-teman dengan penuh semangat menjawab salam dari Bu Rahma. Mereka
mengawali kegiatan di kelas dengan doa. Setelah berdoa, Bu Rahma mengajak kelas V
berdiskusi terkait kegiatan kerja bakti hari Sabtu.
Bu Rahma menjelaskan bahwa Salma dan teman-teman akan mengisi taman depan kelas
dengan tanaman-tanaman baru. Taman di depan kelas V terlihat gersang. Bu Rahma akan
mengajak murid kelas V untuk menanam tanaman Sansevieria. Selain itu, tanaman
Sansevieria ini akan menjadi hiasan di dalam kelas dan teras kelas. Murid kelas V sangat
antusias berdiskusi terkait kegiatan ini.
Farah terlihat bingung dengan nama tanaman yang disebutkan Bu Rahma tadi.
“Bu, apakah tanaman Sansevieria itu? Namanya terdengar aneh. Saya baru
mendengarnya kali ini”, tanya Farah.
Bu Rahma lalu menjelaskan kepada anak-anak, apa itu tanaman Sanseviera. Sansevieria
atau lidah mertua adalah tanaman hias yang cukup populer sebagai penghias bagian
dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi yang sedikit air dan cahaya
matahari. Sansevieria memiliki daun keras, tegak, dengan ujung meruncing. Sanseviera
dikenal dengan sebutan tanaman lidah mertua karena bentuknya yang tajam.
Tumbuhan ini berdaun tebal dan memiliki kandungan air, sehingga tahan kekeringan.
Namun dalam kondisi lembap atau basah, sansiviera bisa tumbuh subur.
Warna daun Sansevieria beragam, mulai hijau tua, hijau muda, hijau abu-abu, perak, dan
warna kombinasi putih kuning atau hijau kuning. Motif alur atau garis-garis yang
terdapat pada helai daun juga bervariasi, ada yang mengikuti arah serat daun, tidak
beraturan, dan ada juga yang zig-zag.
“Waaahh, ternyata bagus ya tanaman Sansevieria ini jika ditanam di taman kelas dan
sebagai hiasan pot dalam kelas”, kata Salma.
“Benar sekali, Salma, selain itu, tanaman ini mudah tumbuh dan mudah didapat. Kita
tidak perlu membeli bunga yang mahal sebagai hiasan kelas dan pengisi taman depan
kelas”, jawab Bu Rahma.
“Bu, apa lagi kelebihan dari tanaman Sansevieria ini?”, tanya Aldo, sang ketua kelas.
“Aldo, masih banyak kelebihan tanaman Sansevieria ini. Sanseviera tak hanya sebagai
tanaman hias, tetapi juga dapat mengurangi polusi”, jawan Bu Rahma.
Ya, memang benar. Ada beberapa keistimewaan dari tanaman ini, sehingga Bu Rahma
menganjurkan anak-anak untuk menanamnya di taman depan kelas. Keistimewaan lidah
mertua adalah memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. Peneliti NASA
bekerja sama dengan ALCA telah menemukan bukti-bukti bahwa tanaman ini secara alami
mampu mengurangi polusi.
Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh NASA Amerika Serikat, menunjukkan bahwa
Sansevieria mampu menyerap lebih dari 107 unsur polutan berbahaya yang ada di udara.
Menurut NASA, polusi udara menyebabkan penyakit yang dikenal dengan nama sick
building syndrome, yaitu suatu keadaan akut dari polusi udara yang terdapat dalam
ruangan (indoor) yang terjadi dalam lingkungan rumah atau perkantoran dalam kondisi
tertutup atau minim ventilasi. Kondisi tersebut menyebabkan mata dan hidung panas
seperti terbakar, tenggorokan panas dan kering, kelelahan kronis, menurunkan
kemampuan konsentrasi, gemetar, mual, otot kram, kulit kasar dan kering, sakit kepala,
hati berdebar, batuk, pilek, dan napas tersengal.
Penyerapan gas polutan oleh tanaman Sansevieria mempunyai kemampuan memberikan
kesegaran udara pada ruangan yang terkena polusi gas beracun seperti karbon
monoksida (CO), yang dikeluarkan oleh asap rokok. Keistimewaan lain sansevieria adalah
mampu menyerap bahan-bahan beracun, seperti karbon dioksida (CO2), benzene,
formaldehyde, dan trichloroethylene.
Di Jepang tanaman ini dimanfaatkan masyarakat untuk menghilangkan bau dari
perabotan rumah tangga. Korea juga memanfaatkan tanaman ini sebagai penghalau
polusi hingga radiasi. Sedangkan di Thailand, ekstrak Sansevieria dikembangkan untuk
menjadi obat kanker. Bahkan Sansevieria juga menjadi obyek penelitian Badan Antariksa
Amerika Serikat (NASA) untuk penyaring dan pembersih udara di stasiun angkasa luar.
NASA merekomendasikan untuk menempatkan sekitar 15-18 tanaman dalam wadah
berdiameter 6–8 inch di setiap 1.800 kaki persegi ruangan atau rumah.
Anak-anak sangat puas mendengar penjelasan dari Bu Rahma. Mereka sepakat untuk
menanam tanaman Sansevieria. Tidak hanya di taman depan kelas, tetapi meletakkannya
di dalam pot di kelas, teras kelas, dan semua bagian di lingkungan sekolah.
Hari Sabtu telah tiba, seluruh murid telah membawa peralatan kerja bakti, berbagai jenis
tanaman, serta pot bunga. Tak ketinggalan juga semua murid kelas V. Mereka telah
menyiapkan peralatan kerja bakti dan menanam bunga. Tak lupa mereka membawa
tanaman Sansevieria untuk ditanam di pot-pot dan taman sekolah.
Jam dinding kelas V menunjukkan pukul 11.00 WIB. Kegiatan kerja bakti dan menanam
bunga telah selesai. Aldo, Salma, Farah, dan teman-teman yang lain sudah merasa
lelah. Meski merasa lelah, mereka sangat puas dengan hasil kerja bakti hari ini.
Lingkungan sekolah menjadi bersih, taman-taman terlihat indah dan rindang, ruang
kelas juga sejuk karena telah dihiasi oleh tanaman Sansevieria dalam pot.
Bu Rahma memberikan pujian atas kerja sama yang dilakukan seluruh murid. Berkat
kerja sama ini, tugas kerja bakti cepat selesai dan terasa ringan. Bu Rahma bangga
kepada murid-uridnya, karena upaya melestarikan lingkungan dengan tanaman
Sansevieria telah berhasil. Harapan beliau, anak-anak selalu menjaga kebersihan
lingkungan dan menyayangi tanaman. Tak lupa beliau berpesan untuk menjaga
tanaman Sansevieria yang telah ditanam agar tetap lestari.
TERIMA
KASIH