Tugas Terstruktur Dosen Pengampu
PAI dalam Pendidkan Kelurga dan Dr. Abdul Basir, M.Ag
Masyarakat
KEWAJIBAN ORANG TUA TERHADAP KESEJAHTERAAN
SOSIAL, EKONOMI, DAN KESEJAHTERAAN KELUARGA
KEWAJIBAN MASYARAKAT MENCIPTAKAN
LINGKUNGAN SOSIAL YANG KONDUSIF
TERHADAP PENDIDIKAN
OLEH
AKHMAD NAWFI ANWARI
NIM. 210211020030
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ANTASARI
PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BANJARMASIN
2022
KEWAJIBAN ORANG TUA TERHADAP KESEJAHTERAAN SOSIAL,
EKONOMI, DAN KESEJAHTERAAN KELUARGA, KEWAJIBAN
MASYARAKAT MENCIPTAKAN LINGKUNGAN SOSIAL YANG
KONDUSIF TERHADAP PENDIDIKAN
A. Pendahuluan
Bangsa yang berkualitas lahir dan dibentuk dari didikan keluarga yang
ideal. Keluarga khususnya orang tua sebagai pilar utama dalam pendidikan
memiliki peran besar dalam membentik pribadi dan jadi diri anak. Setiap orang
tua memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang harus diberikan kepada anak
terutama dalam menanamkan pendidikan semenjak dini khususnya pendidikan
agama kepada anak sehingga anak dapat memperoleh haknya sebagai individu
yang sejahtera lahir dan batin.1
Kalau kita berbicara mengenai fungsi orang tua dalam keluarga, sangat
kompleks. Karena begitu banyaknya beban yang harus dilaksanakan oleh para
orang tua untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Di samping memenuhi
kebutuhan pokok, seperti pakaian dan makanan, maka orang tua berkewajiban
pula untuk memberi bimbingan dan contoh atau teladan yang baik pada anak-anak
agar dapat menjadi orang yang berpendidikan menurut ajaran yang telah diberikan
oleh orang tuanya.2 Fungsi pokok orang tua ada tiga bagian yaitu “fungsi
ketuhanan, fungsi sosial dan fungsi ekonomi”3
Apabila pendidikan dan tanggung jawab orang tua telah dijalankan dengan
baik maka akan sangat berpengaruh pada kondisi anak baik secara fisik maupun
mental untuk menyiapkan anak menjadi generasi emas yang akan melanjutkan
tongkat estafet pembangunan bangsa yang berkeadaban dan memegang teguh
nilai-nilai Islam.
1 La Adi, “Pendidikan Keluarga Dalam Perspektif Islam,” JURNAL PENDIDIKAN AR-
RASYID 7, no. 1 (1 April 2022): 8.
2 Evi Fatimatur Rusydiyah, “Pendidikan Islam Dan Kesetaraan Gender: Konsepsi Sosial
Tentang Keadilan Berpendidikan Dalam Keluarga,” Jurnal Pendidikan Agama Islam 4, no. 1 (Mei
2016): 34.
3 Soetari Imam Bernadib, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Yogyakata : Fakultas Psikologi
UGM, 1986), h. 86.
2
B. Metode Penelitian
Penelitian ini mengguankan metode telaah pustaka (library research) yang
bertujuan untuk menjelaskan secara teoritis mengenai Kewajiban orang tua dalam
mensejahterakan anak termasuk peran keluarga dalam mengenalkan anak terhadap
pendidikan di masyarakat sehingga menciptakan pendidikan yang kondusif di
lingkungan masyarakat. Sumber yang diperoleh dalam penelitian ini yakni melalui
buku, dan jurnal artikel ilmiah yang relevan dengan penelitian. Setelah semua
terkumpul selanjutnnya dilakukan analisis sehingga mendapatkan hasil yang
akurat.
C. Pembahasan
a. Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang di antaranya
ialah adanya hubungan antara orang tua-anak. Aktivitas berupa hubungan
yang baik antara orang tua dengan anak dapat meningkatkan intensitas
kesejahteraan bagi anak. Aktivitas Bersama orang tua-anak penting untuk
perkembangan anak, yaitu merangsang stimulus perkembangan anak,
media belajar, menstimulasi kemampuan sensori-motorik, kognitif, sosial-
emosional dan bahasa anak.4
Kesejahteraan sosial bagi anak tidak hanya sekadar perlindungan
fisik dari orang tuanya. Orang tua juga perlu menanamkan ilmu agama
kepada anak semenjak dini serta keterampilan hidup lainnya sehingga anak
dapat membentengi dirinya di masa mendatang, menyalurkan bakat serta
mencegah mereka terjerumus dalam pergaulan yang salah.5
4 Vivi Irzalinda, Herien Puspitawati, dan Istiqlaliyah Muflikhati, “Aktivitas Bersama
Orang Tua-Anak Dan Perlindungan Anak Meningkatkan Kesejahteraan Subjektif Anak,” Jurnal
Ilmu Keluarga & Konsumen 7, no. 1 (1 Januari 2014): 45,
https://doi.org/10.24156/jikk.2014.7.1.40.
5 Nuraeni Nuraeni, “Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini,” Jurnal Paedagogy 3, no.
2 (20 Oktober 2020): 69, https://doi.org/10.33394/jp.v3i2.3039.
3
Pola asuh dan pendidikan orang tua memiiki kontribusi besar untuk
mensejahterakan anak.6 Pendidikan dengan pola yang kasar dengan
menyiksa fisik anak ketika anak melakukan suatu kesalahan jika
diterapkan dapat menyisakan luka yang akan berdampak buruk bagi anak
khususnya pada perkembangan emosi yang akan berlanjut bahkan hingga
anak dewasa.7
b. Kesejahteraan ekonomi
Status sosial memiliki arti suatu kedudukan atau posisi yang diatur
secara sosial dan menempatkan seseorang pada posisi tertentu dalam
struktur sosial masyarakat. Pada Sebagian masyarakat status sosial
dianggap memiliki kaitan yang erat dengan kedudukan seseorang dan
stratifikasi sosialnya dalam masyarakat.8 Ketika berbicara mengenai
stratifikasi sosial Sebagian orang cenderung memberi perhatian pada posisi
yang tidak sederajat dari individu di dalam masyarakat. Seringkali
penghasilan, pendidikan, dan pekerjaan digunakan untuk mengukur status
sosial seseorang.9
Status sosial ekonomi orang tua berhubungan di dalam
perkembangan seorang anak. Tinggi rendahnya status sosial ekonomi
orang tua akan berpengaruh kepada fasilitas-fasilitas, akses, dan pergaulan
yang menunjang perkembangan anak.10 Selain itu Status sosial ekonomi
yang stabil dari sebuah keluarga membawa kenyamanan, sikap positif dan
6 Atik Cimi, Neka Erlyani, dan Devi Rahmayanti, “Pola Asuh Orang Tua dengan
Kepercayaan Diri Anak,” Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan 1, no. 1 (16
September 2016): 58, https://doi.org/10.20527/dk.v1i1.1654.
7 Ni Gusti Ayu Putu Suryani, “Kekerasan Anak dalam Sudut Pandang Agama dan
Psikologi,” UPT-PPKB Universitas Udayana, 2016, 24.
8 Sriyono Sriyono dan Ayu Megawati, “Pengaruh Status Ekonomi Orang Tua Dan
Sosialisasi Dalam Keluarga Terhadap Prestasi Belajar,” Jurnal Educatio FKIP UNMA 7, no. 3 (20
Agustus 2021): 1155, https://doi.org/10.31949/educatio.v7i3.1374.
9 Livia Astuti, “Pendidikan Anak Dalam Keluarga Dipengaruhi Status Sosial Ekonomi,”
JP3M: Jurnal Pendidikan, Pembelajaran Dan Pemberdayaan Masyarakat 1, no. 2 (2019): 71.
10 Aisyah Nur Atika dan Harun Rasyid, “Dampak Status Sosial Ekonomi Orang Tua
Terhadap Keterampilan Sosial Anak:,” Pedagogia : Jurnal Pendidikan 7, no. 2 (31 Agustus 2018):
112, https://doi.org/10.21070/pedagogia.v7i2.1601.
4
lingkungan yang sehat dapat mengarah ke prestasi akademik yang dimiliki
oleh anak.
Fungsi ekonomi adalah suatu keharusan orang tua untuk
menjadikan anak-anaknya mempunyai keterampilan agar nanti ia menjadi
orang yang kreatif dan berproduktif.
Maksudnya sejak kecil anak telah diberi pengetahuan dan
ketrampilan sebagai bekalnya nanti. Dengan demikian ia tidak lagi
tergantung pada orang tua melainkan memenuhi kebutuhannya sendiri
dengan berbekalkan ketrampilan yang ia miliki.11
Menurut ajaran Islam, seorang anak berhak mendapatkan nafkah,
yakni pemenuhan kebutuhan pokok. Nafkah terhadap anak bertujuan untuk
kelangsungan hidup dan pemeliharaan kesejahteraannya. Dengan
demikian, anak terhindar dari kesengsaraan hidup di dunia, karena
mendapatkan kasih sayang orang tuanya berdasarkan firman Allah SWT :
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para
ibu dengan cara yang baik (alBaqarah /2: 233).12
Selain hak mendapatkan nafkah, seorang anak juga berhak
memperoleh gizi yang baik dari orang tuanya. Gizi mempunyai peran yang
sangat besar dalam membina dan mempertahankan kesehatan seseorang.
Ini adalah kewajiban setiap manusia untuk memelihara kesehatan baik
kesehatan fisik maupun kesehatan mentalnya.13
c. Kesejahteraan Keluarga
Konsep kesejahteraan keluarga adalah suatu keadaan keluarga yang
terpenuhi kebutuhan dasar, sosial maupun kebutuhan untuk pengembangan
secara optimal.
11 Zahrotul Uyun, “Peran Orangtua Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi,” 1 Juni
2013, 364, http://publikasiilmiah.ums.ac.id/handle/11617/3963.
12 Ibnu Rozali, “Konsep Memberi Nafkah Bagi Keluarga Dalam Islam,” Jurnal
Intelektualita: Keislaman, Sosial Dan Sains 6, no. 2 (18 Desember 2017): 193,
https://doi.org/10.19109/intelektualita.v6i2.1605.
13 Iim Fahimah, “Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak Dalam Perspektif Islam,” Jurnal
Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender Dan Anak 1, no. 1 (1 Juni 2019): 40,
https://doi.org/10.29300/hawapsga.v1i1.2228.
5
Kesejahteraan keluarga dikatakan kurang sejahtera apabila belum
mampu memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal yaitu pangan,
sandang, perumahan, kesehatan maupun pendidikan. Kesejahteraan
keluarga dikatakan sejahtera apabila telah mampu memenuhi seluruh
kebutuhan dasarnya, kebutuhan sosial psikologis dan kebutuhan
pengembangannya, namun belum dapat memberikan sumbangan
(kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat seperti secara teratur
memberikan sumbangan dalam bentuk material dan keuangan untuk
kepentingan sosial kemasyarakatan serta secara aktif dengan menjadi
pengurus lembaga kemasyarakatan atau yayasan-yayasan sosial,
keagamaan, kesenian, olahraga, pendidikan dan sebagainya.
Adapun Kesejahteraan keluarga dikatakan sangat sejahtera apabila
telah mampu memenuhi seluruh kebutuhan dasarnya, kebutuhan sosial
psikologis dan kebutuhan pengembangannya, serta telah dapat
memberikan sumbangan (kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat
seperti secara teratur memberikan sumbangan dalam bentuk material dan
keuangan untuk kepentingan sosial kemasyarakatan serta secara aktif
dengan menjadi pengurus lembaga kemasyarakatan atau yayasan-yayasan
sosial, keagamaan, kesenian, olahraga, pendidikan dan sebagainya. 14
d. Kewajiban Masyarakat Menciptakan Lingkungan Sosial Yang
Kundosif Terhadap Pendidikan
Pendidikan dan masyarakat saling keterkaitan, untuk
mengembangkan pendidikan diperlukan partisipasi dari masyarakat, untuk
selalu peduli akan berpengaruh pendidikan terhadap kehidupan
masyarakat. Masyarakat dalam konteks ini berperan sebagai subjek atau
pelaku pendidikan, tanpa adanya kesadaran masyarakat akan pendidikan,
maka negara tidak akan berkembang, kita akan tergantung pada orang
atau negara lain yang jauh lebih berkembang dari kita, maka dari itu
14 Hasti Santoso, “Pengaruh Peran Ganda Wanita Dan Kesejahteraan Keluarga Terhadap
Pendidikan Formal,” Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi 3, no. 2 (2009): 71,
https://doi.org/10.21831/dimensia.v3i2.3420.
6
peranan masyarakat terhadap pendidikan sangat berpengaruh untuk
perkembangan wilayah atau negaranya sendiri, melalui pendidikan
masyarakat dapat memperoleh ilmu yang dapat ia manfaatkan di dalam
kehidupan untuk kesejahteraan bersama.15
Walaupun tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan belum
jelas, akan tetapi masyarakat harus berperan aktif dalam pendidikan,
karena masyarakat merupakan lembaga pendidikan yang ketiga setelah
lingkungan keluarga dan sekolah. Olehnya itu untuk memperoleh kualitas
yang baik terhadap pendidikan, maka kualitas masyarakat pun harus baik,
agar saling menunjang antara satu dan lainnya, jika kualitas pendidikannya
baik maka akan menghasilkan keluarga keluaran atau hasil didik yang baik
pula secara keseluruhan.16
Meningkatkan peran serta masyarakat memang sangat erat berkait
dengan pengubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan. Ini
tentu saja bukan hal yang mudah untuk dilakukan.Akan tetapi, bila tidak
sekarang dilakukan dan dimulai, kapan rasa memiliki, kepedulian,
keterlibatan, dan peran serta aktif masyarakat dengan tingkatan maksimal
dapat diperoleh dunia pendidikan.
Ada 7 tingkatan peran serta masyarakat (dirinci dari tingkat
partisipasi terendah ke tinggi), yaitu:
1. Peran serta dengan menggunakan jasa pelayanan yang tersedia.
Jenis ini adalah jenis yang paling umum Pada tingkatan ini
masyarakat hanya memanfaatkan jasa sekolah untuk mendidik
anak-anak mereka.
2. Peran serta dengan memberikan kontribusi dana, bahan, dan
tenaga.
15 Normina Normina, “Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan,” ITTIHAD 14, no. 26
(29 Desember 2016): 80, https://doi.org/10.18592/ittihad.v14i26.874.
16 Husaini Husaini, “Kajian Ayat-Ayat Manajemen: Isyarat Al-Qur’an Tentang
Lingkungan Pendidikan,” Idarah (Jurnal Pendidikan Dan Kependidikan) 5, no. 2 (2021): 217–18.
7
Pada jenis ini masyarakat berpar-tisipasi dalam perawatan dan
pembangunan fisik sekolah dengan menyumbangkan dana,
barang, atau tenaga.
3. Peran serta secara pasif.
Masyarakat dalam tingkatan ini menyetujui dan menerima apa
yang diputuskan pihak sekolah (komite sekolah), misalnya
komite sekolah memutuskan agar orang tua membayar iuran
bagi anaknya yang bersekolah dan orang tua menerima
keputusan itu dengan mematuhinya.
4. Peran serta melalui adanya konsultasi.
Pada tingkatan ini, orang tua datang ke sekolah untuk
berkonsultasi tentang masalah pembelajaran yang dialami
anaknya.
5. Peran serta dalam pelayanan.
Orang tua/masyakarat terlibat dalam kegiatan sekolah,
misalnya orang tua ikut membantu sekolah ketika ada studi tur,
pramuka, kegiatan keagamaan, dsb.
6. Peran serta sebagai pelaksana kegiatan.
Misalnya sekolah meminta orang tua/masyarakat untuk
memberikan penyuluhan pentingnya pendidikan, masalah
jender, gizi, dsb. Dapat pula misalnya, berpartisipasi dalam
mencatat anak usia sekolah di lingkungannya agar sekolah
dapat menampungnya, menjadi nara sumber, guru bantu, dsb.
7. Peran serta dalam pengambilan keputusan.
Orang tua/masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah
pendidikan baik akademis maupun non akademis, dan ikut
dalam proses pengambilan keputusan dalam Rencana
Pengembangan Sekolah.17
17 I. Nyoman Temon Astawa, “Memahami Peran Masyarakat Dan Pemerintah Dalam
Kemajuan Mutu Pendidikan Di Indonesia,” Jurnal Penjaminan Mutu 3, no. 02 (2017): 200,
https://doi.org/10.25078/jpm.v3i2.200.
8
Simpulan
Kewajiban orang tua terhadap anak lebih dari sekadar pemenuhan
sandang, pangan, dan papan. Orang tua memiliki kewajiban dan tanggung jawab
besar dalam memberikan pendidikan terbaik terhadap anak-anaknya terutama
dalam hal menanamkan nilai-nilai keagamaan yang penting sebagai pondasi bagi
anak dalam mengarungi kehidupannya.
Kesejahteraan sosial dan ekonomi orang tua memang sedikit banyak juga
berpengaruh terhadap prestasi belajar dan pendidikan anak. Akan tetapi, jauh
lebih lanjut agama akan membimbing jalan anak agar dapat hidup sejahtera dan
selamat tidak hanya di dunia bahkan juga hingga ke akhirat.
9
DAFTAR PUSTAKA
Adi, La. “Pendidikan Keluarga Dalam Perspektif Islam.” JURNAL PENDIDIKAN
AR-RASYID 7, no. 1 (1 April 2022): 1–9.
Astawa, I. Nyoman Temon. “Memahami Peran Masyarakat Dan Pemerintah
Dalam Kemajuan Mutu Pendidikan Di Indonesia.” Jurnal Penjaminan
Mutu 3, no. 02 (2017): 197–205. https://doi.org/10.25078/jpm.v3i2.200.
Astuti, Livia. “Pendidikan Anak Dalam Keluarga Dipengaruhi Status Sosial
Ekonomi.” JP3M: Jurnal Pendidikan, Pembelajaran Dan Pemberdayaan
Masyarakat 1, no. 2 (2019): 63–75.
Atika, Aisyah Nur, dan Harun Rasyid. “Dampak Status Sosial Ekonomi Orang
Tua Terhadap Keterampilan Sosial Anak:” Pedagogia : Jurnal Pendidikan
7, no. 2 (31 Agustus 2018): 111–20.
https://doi.org/10.21070/pedagogia.v7i2.1601.
Cimi, Atik, Neka Erlyani, dan Devi Rahmayanti. “Pola Asuh Orang Tua dengan
Kepercayaan Diri Anak.” Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan
Kesehatan 1, no. 1 (16 September 2016): 57–63.
https://doi.org/10.20527/dk.v1i1.1654.
Fahimah, Iim. “Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak Dalam Perspektif Islam.”
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender Dan Anak 1, no. 1 (1 Juni
2019). https://doi.org/10.29300/hawapsga.v1i1.2228.
Husaini, Husaini. “Kajian Ayat-Ayat Manajemen: Isyarat Al-Qur’an Tentang
Lingkungan Pendidikan.” Idarah (Jurnal Pendidikan Dan Kependidikan)
5, no. 2 (2021): 203–20.
Irzalinda, Vivi, Herien Puspitawati, dan Istiqlaliyah Muflikhati. “Aktivitas
Bersama Orang Tua-Anak Dan Perlindungan Anak Meningkatkan
Kesejahteraan Subjektif Anak.” Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen 7, no.
1 (1 Januari 2014): 40–47. https://doi.org/10.24156/jikk.2014.7.1.40.
Normina, Normina. “Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan.” ITTIHAD 14, no.
26 (29 Desember 2016). https://doi.org/10.18592/ittihad.v14i26.874.
Nuraeni, Nuraeni. “Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini.” Jurnal
Paedagogy 3, no. 2 (20 Oktober 2020): 65–73.
https://doi.org/10.33394/jp.v3i2.3039.
Rozali, Ibnu. “Konsep Memberi Nafkah Bagi Keluarga Dalam Islam.” Jurnal
Intelektualita: Keislaman, Sosial Dan Sains 6, no. 2 (18 Desember 2017):
189–202. https://doi.org/10.19109/intelektualita.v6i2.1605.
Rusydiyah, Evi Fatimatur. “Pendidikan Islam Dan Kesetaraan Gender: Konsepsi
Sosial Tentang Keadilan Berpendidikan Dalam Keluarga.” Jurnal
Pendidikan Agama Islam 4, no. 1 (Mei 2016): 20–43.
Santoso, Hasti. “Pengaruh Peran Ganda Wanita Dan Kesejahteraan Keluarga
Terhadap Pendidikan Formal.” Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi 3, no. 2
(2009). https://doi.org/10.21831/dimensia.v3i2.3420.
Sriyono, Sriyono, dan Ayu Megawati. “Pengaruh Status Ekonomi Orang Tua Dan
Sosialisasi Dalam Keluarga Terhadap Prestasi Belajar.” Jurnal Educatio
10
FKIP UNMA 7, no. 3 (20 Agustus 2021): 1154–62.
https://doi.org/10.31949/educatio.v7i3.1374.
Suryani, Ni Gusti Ayu Putu. “Kekerasan Anak dalam Sudut Pandang Agama dan
Psikologi.” UPT-PPKB Universitas Udayana, 2016.
Uyun, Zahrotul. “Peran Orangtua Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi,” 1
Juni 2013. http://publikasiilmiah.ums.ac.id/handle/11617/3963.
11