The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Antologi Cerita Inspirasi : Sepasang Sepatu Usang

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Pahoa, 2022-08-03 02:58:40

Antologi Cerita Inspirasi : Sepasang Sepatu Usang

Antologi Cerita Inspirasi : Sepasang Sepatu Usang

Keywords: Cerita Inspirasi,Antologi Cerita

Antologi Cerita Inspirasi

SEPASANG SEPATU USANG

Ariston Toni, dkk.



Antologi Cerita Inspirasi

SEPASANG SEPATU USANG

Ariston Toni, dkk.

Editor:
Dali Santun Naga
Maria Birgita Natalia Suwarli
Tantrini Andang

Penerbit Sekolah Terpadu Pahoa
iii

Antologi Cerita Inspirasi - “Sepasang Sepatu Usang”

Oleh: Ariston Toni, dkk.
Copyright ©Sekolah Terpadu Pahoa

Penerbit Sekolah Terpadu Pahoa

Jl. Ki Hajar Dewantara No.1 Summarecon Serpong, Tan-
gerang 15810

Penyunting : Perpustakaan Sekolah Terpadu Pahoa

Ketua : Afiyon Kristiyan

Editor : 1. Dali Santun Naga

2. Maria Birgita Natalia Suwarli

3. Tantrini Andang

Layout & Cover : Agung Priambodo

Penulis : Ariston Toni, dkk.

Ilustrasi : Ariston Toni, dkk.

Cetakan Pertama : Mei 2022

Hak cipta dilindungi oleh unddang-undang. Dilarang meng-
utip, memperbanyak atau menyalin-balik secara menyeluruh
maupun sebagian-dalam bentuk elektronik, cetak, dan lain se-
bagainya tanpa izin tertulis dari penerbit.

iv

DAFTAR ISI

PENGANTAR KEPALA UNIT PERPUSTAKAAN............ vi
Afiyon Kristiyan
SAMBUTAN WAKIL KEPALA BAGIAN BP4-NON 3M... viii
Anik Pamungkas
Ulat dan Pohon Jeruk...................................................... 1
Stephanie Cindy
Bapak................................................................................ 3
Euprosinha S Martini
Senandung Riang Penjaga Bola....................................... 7
Jenny Gichara
Sepotong Es Lilin dan Amarah Bapak............................. 12
Eka Zuliati
Kaos Olahraga dan Es Lilin.............................................. 15
Hastri Eva Febriantari
Sepasang Sepatu Usang................................................... 19
Ariston Toni
Asa untuk Rangga............................................................ 22
Wining Rohani

v

PENGANTAR

KEPALA UNIT PERPUSTAKAAN
Afiyon Kristiyan

“Cerita yang tidak pernah dibaca, maka hanyalah sebuah
goresan tinta hitam yang tertuang di lembaran kertas.”

Profesi guru adalah panggilan mulia seseorang untuk
mengabdikan dirinya dalam mendidik generasi bangsa menjadi
manusia hebat. Membentuk manusia hebat tidak hanya sekedar
pintar dan cerdas, namun juga dapat bermanfaat untuk sekitarnya.
Bersyukur bahwa kali ini sekolah Pahoa telah menerbitkan buku
kisah inspirasi yang ditulis oleh para guru dari jenjang TK hingga
SMA.

Buku kisah inspirasi ini merupakan hasil pelatihan menulis
kreatif yang diadakan oleh perpustakaan dan kasie Bahasa Indonesia
(BP4) selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi
covid-19. Setiap kisah yang dituliskan oleh guru ini merupakan kisah
nyata yang di alami guru, baik kisah pribadi maupun kisah orang lain

vi

yang mereka ingat.
Saya mengucapkan selamat untuk para guru yang naskah

ceritanya telah diterbitkan ini. Kalian telah mengukir cerita abadi
melalui kumpulan cerita singkat dan penuh makna. Selalu berkarya
dan menjadi guru yang menginspirasi.

Menulis untuk pencerahan dunia.
Serpong, 30 Mei 2022

vii

SAMBUTAN

WAKIL KEPALA BAGIAN BP4-NON 3M
Anik Pamungkas

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pemurah karena berkat
dan rahmat-Nya, buku kisah inspiratif ini bisa menemui pembaca.
Setelah melalui proses yang cukup panjang, mulai dari pelatihan
menulis, pemberian motivasi para guru dan karyawan untuk
menuliskan kisah inspiratif hingga proses editing, akhirnya purnalah
buku kisah inspiratif ini.

Buku ini menyajikan berbagai kisah inspiratif dengan berbagai
tema, yaitu persahabatan, perjuangan, kesetiaan, pengorbanan, dan
kebersamaan. Buku ini ditulis oleh para guru dan karyawan dengan
cara masing-masing sehingga menampilkan berbagai gaya menulis
yang tentunya unik dan berbeda. Membaca kisah-kisah di dalam
buku ini seperti melihat pengalaman penulis yang beragam dan
bukan kisah fiktif semata. Amat menarik membaca pengalaman
hidup seseorang, bagaimana ia mengalami pengalaman terbaik,
dan menjadi pribadi versi terbaiknya.

Tentunya buku ini bisa menemui pembaca karena dedikasi
berbagai pihak. Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Bapak
Dali Santun Naga, Ibu Maria Birgita, Bapak Afiyon, dan Ibu Tantrini
Andang yang berkenan meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran
untuk membaca dan memberi masukan pada tulisan para penulis.

viii

Semoga pembaca menikmatinya.
Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada para

pembaca yang telah tertarik dan memilih buku ini untuk dibaca.
Semoga kisah-kisah ini juga menginspirasi dan memotivasi
pembaca untuk senantiasa melakukan yang terbaik.

Akhir kata, saya sampaikan selamat membaca. Suatu
karya tidak akan sempurna tanpa masukan dan kritik dari
pembaca sekalian. Saya menyambut baik segala masukan demi
penyempurnaan buku ini.

Salam literasi. Serpong, 30 Mei 2022

ix

x

ULAT DAN POHON JERUK

Stephanie Cindy

 

Hewan kecil itu bergerak perlahan di salah satu daun pohon
jeruk kesayanganku. Pohon jeruk yang kutanam tahun lalu kini
sudah bertambah tinggi dan bertambah lebat daunnya. Suatu sore
saat menyiram pohon jerukku, aku mengamati semakin banyak
daun yang berlubang dan kutemukan hewan kecil itu, si ulat.

Melihat ulat itu berjalan membuatku merinding. Aku jijik
melihat ulat itu. Apalagi ulat itu merusak pohon jerukku. Aku
memutuskan untuk menggunting helai daun yang disinggahi oleh
si ulat itu. Setelah itu aku berencana untuk membuangnya. Saat
hendak memotong helai daun itu, seorang anak, tetanggaku,
menghampiriku.

“Ulatnya mau diapakan? Jangan digunting, kasihan nanti gak
bisa jadi kupu-kupu,” ujarnya polos.

Celoteh singkat anak itu membuatku tiba-tiba ingin mencari
tahu apakah ulat ini benar bisa menjadi seekor kupu-kupu atau
tidak. Aku menunda niatku untuk menggunting daun tempat ulat
itu singgah dan bergegas kembali ke dalam rumah. Aku meraih
gawaiku dan mulai mencari di internet tentang ulat di pohon jeruk.

Ternyata benar, ulat yang hidup di pohon jeruk dapat
menjadi seekor kupu-kupu dan disebut sebagai ulat jeruk. Artikel
yang kutemukan mengenai ulat jeruk itu juga menjelaskan proses
perubahan si ulat hingga menjadi kupu-kupu. Ada satu bagian dalam
proses perubahan si ulat menjadi kupu-kupu yang membuatku
penasaran: kepompong. Aku penasaran dengan tahap ulat menjadi
kepompong. Apa yang dilakukan ulat itu di dalam sana?

1

Rasa penasaran itu mendorongku untuk mencari artikel lain
yang menjelaskan lebih banyak mengenai kepompong. Ternyata
baru aku ketahui bahwa di dalam sebuah kepompong, ulat kecil itu
sedang bekerja keras. Ulat itu akan mencerna tubuhnya sendiri dan
menyisakan bagian tubuh yang penting untuk menjadi kupu-kupu.
Setelah berubah sepenuhnya menjadi kupu-kupu, ia masih harus
bergumul dengan dirinya sendiri untuk dapat keluar dari kantung
kecil yang dibuatnya itu. Setelah berhasil, barulah ia dapat terbang
tinggi melihat dunia dengan bentuk tubuh yang berbeda.

Anehnya, setelah membaca artikel tentang kepompong, aku
mengurungkan niatku untuk membasmi hama kecil itu dari pohon
jerukku. Ulat kecil itu memberikanku satu pelajaran yang penting.
Dalam kehidupan ini, seekor ulat pun harus melalui suatu proses
yang panjang dan menyakitkan untuk berubah menjadi seekor
kupu-kupu yang cantik. Aku memutuskan untuk memindahkan
pohon jerukku ke taman milik kompleks perumahanku. Setidaknya
tanamanku yang lain dapat tetap terjaga dari ulat. Si ulat kecil ini
dapat tetap berada di pohon jeruk dengan aman. Aku harap suatu
saat aku dapat melihat ulat kecil itu lagi dalam bentuk lain. Ya,
kuharap ia dapat segera berubah menjadi seekor kupu-kupu yang
cantik.

2

BAPAK

Euprosinha S Martini

Ada seseorang yang bau keringatnya kusukai. Ia adalah
bapakku. Telapak tangannya juga kasar karena hampir setiap hari
ia mencangkul. Bapak selalu bangun pagi lalu pergi ke sawah. Bapak
memeriksa ataupun mengerjakan sesuatu di sawah sejak pagi
hari. Sebelum jam 7 bapak sudah sampai di rumah untuk sarapan
lalu siap pergi ke sekolah untuk mengajar. Bapak seorang guru di
Sekolah Dasar tak jauh dari rumah.

Aku tidak pernah mendengar keluhan keluar dari mulutnya.
Semuanya dilakukan dengan sepenuh hati dan penuh semangat.
Sepulang dari sekolah, bapak makan siang dan segera pergi ke sawah
hingga sore hari. Sekujur tubuhnya lebih sering basah oleh keringat
dalam kesehariannya. Sampai-sampai aku hafal bau keringat bapak.
Kecuali mau pergi ke sekolah dan sehabis mandi sore, bapak selalu
berkeringat.

Sebagai petani di desa, bapak mengajarkan anak-anaknya
terlibat dalam kegiatan di sawah. Kami anak-anaknya memang
tidak setiap hari pergi ke sawah. Tapi pada saat-saat tertentu, pada
pekerjaan yang memungkinkan kami lakukan, Bapak pasti mengajak
kami, seperti menanam buncis, memetik tomat, dan mengirim
makanan untuk pekerja sawah. Bapak lebih banyak mengambil
bagian dalam pekerjaan sawah. Sedangkan anak-anaknya diberi
tugas untuk sekolah dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah.

Pagi itu hari Minggu dan bapak ingin menanam buncis
di sawah. Kami dilibatkan untuk bisa membantunya. Bapak
membangunkan kami pagi-pagi sekali sebelum matahari bersinar.
Kami sekeluarga berangkat ke sawah meski sebenarnya kami masih
merasa mengantuk. Bekal makanan dan minuman kami bawa dan
simpan di gubuk.

3

4

Sesampainya di sawah, bapak dan kakak tertuaku membuat
lubang-lubang tempat benih. Kami bertugas memasukkan dua biji
benih buncis itu di setiap lubang lalu menutup kembali dengan
tanah. Satu petak sawah yang cukup luas akan ditanami buncis.
Begitulah kami, anak-anaknya, membantu orang tua di sawah.

Tetapi kami tidak memiliki kekuatan untuk bertahan dari terik
matahari seperti halnya bapak. Adikku hanya sebentar membantu
menanam. Ia lebih senang bermain mengejar kadal, belalang, dan
kodok kecil. Setelah matahari bersinar dengan cerahnya dan peluh
mulai bercucuran, aku pun meminta izin untuk berteduh di gubuk
pojok sawah.

Pekerjaan belum selesai, tetapi kami sudah meninggalkan
bapak dan kakak tertua. Di gubuk kami mulai membuka bekal
makanan dan minuman lalu menikmatinya. Selesai makan dan
minum, masih kulihat bapak terus melakukan pekerjaannya. Bapak
melubangi tanah, memasukkan benih, dan lalu menutup kembali.
Aku hanya memandangnya dari jauh. Duduk di bawah pohon yang
tumbuh di samping gubuk terasa jauh lebih nikmat daripada berada
di tengah sawah terkena terik matahari dan menanam buncis.

Waktu terus berlalu dan bapak tak kunjung berteduh maka
aku berteriak,

“Pak, sini. Di sini adem.”

“Ya, sebentar lagi,” jawab bapak dari jauh sambil terus
melakukan pekerjaannya.

Aku pun asyik kembali memetik dan mengumpulkan bunga-
bunga kecil yang tumbuh di sekitar gubuk. Setelah lama kutunggu,
bapak masih belum juga berteduh. Aku memanggilnya lagi, tetapi
bapak masih terus melanjutkan pekerjaannya. Aku merasa heran
melihat bapak. Sudah sejak tadi kaos bapak basah oleh keringat.
Matahari juga terus bersinar dan semakin panas.

Mengapa bapak tidak mau istirahat, ya? tanyaku dalam hati.

Bunga-bunga yang kupetik sudah banyak. Hewan-hewan

5

kecil juga sudah banyak yang kutangkap. Aku mulai bosan, lalu aku
pun mendekati bapak yang masih terus bekerja.

“Pak, kaos sudah basah, panas sekali, capek, kok Bapak tidak
mau berhenti dan duduk di gubuk saja?” tanyaku ingin tahu. Bapak
berhenti dari aktivitasnya, menoleh kepadaku, lalu tersenyum dan
berkata,

“Ya beginilah orang bekerja, tidak berhenti hanya karena
keringat sudah keluar dan sinar matahari malah membuat badan
bapak sehat, kok!”.

Bapak terus melakukan pekerjaan itu hingga selesai. Akhirnya,
jawaban bapak membuatku kembali membantunya sambil terus
memikirkan kata-katanya. Aku tidak tahu maksud bapak saat itu.
Aku hanya merasa aku melakukan sesuatu yang salah dengan
meninggalkannya terus bekerja, sementara aku bermain di gubuk.
Aku hanya tahu bapak akan terus bekerja demi kami sekeluarga,
sampai selesai. Setelah berpuluh-puluh tahun, aku baru mengerti
apa maksud bapak saat aku sudah bekerja.

Kasihnya yang besar pada keluarga, membuatnya memiliki
kegigihan, kekuatan, ketangguhan dalam mengerjakan setiap
pekerjaannya hingga akhir. Bapak, aku ucapkan terima kasih.
Caramu, kata-katamu, teladan iman, harapan kasihmu menjadi
warisan yang luhur dan indah bagiku. Aku ingin sepertimu.

6

SENANDUNG RIANG
PENJAGA BOLA

Jenny Gichara

Aku masih kecil saat melakukan pekerjaan itu yakni sebagai
penjaga bola di lapangan tenis di kompleks rumahku. Tepatnya
waktu itu aku duduk di kelas III SD di penghujung tahun 1977–an di
Sumatera Utara. Abang dan adikku kuajak serta demi mendapatkan
penghasilan tambahan untuk keluarga besarku. Bagaimana pun,
nasib keluarga kami harus diperjuangkan, setidaknya untuk urusan
makan sehari-hari.

Aku punya tujuh saudara. Aku anak yang kedua. Mamaku
seorang ibu rumah tangga biasa dan bapakku pegawai negeri yang
terkadang hidupnya juga ngeri. Walaupun penghasilan pas-pasan,
bapakku tetap saja memaksakan diri menyekolahkan kami di sekolah
swasta. Katanya agar pendidikannya lebih berkualitas. Entah hal itu
benar atau tidak. Aku saja yang waktu itu tak memahaminya.

Alhasil mama sering menombok uang sekolah karena harus
membayar sekaligus tiga orang, sementara penghasilan bapak
sangat pas-pasan. Terlebih lagi ketika bapak dipindahkan ke luar
daerah sementara kami anak-anaknya masih tinggal di kota. Kata
bapak, tanggung untuk pindah. Mungkin juga karena kami belum
siap pindah semua ke daerah terpencil dengan kondisi yang masih
miris.

Jadi hal yang bisa kami lakukan hanyalah menunggu sambil
bersiap diri. Bapak dikirim ke pelosok daerah yang saat itu tanpa
kehadiran listrik dan televisi. Hanya siaran radio yang terdengar
sayup-sayup ditelan gelombang. Tentu saja bapakku semakin
tidak tega melihat anaknya seperti itu. Hanya dua orang anak yang
dibawanya ke daerah. Sisanya enam orang masih di bawah asuhan
mama. Bapak pulang sekali tiga bulan dan itu rasanya lama sekali.

7

8

Uang belanja dan uang sekolah sering diutangi ke tetangga. Setelah
bapak datang, barulah mama membayarnya. Itu pun setelah diteror
si peminjam dengan sindiran pedas dan caci-maki. Rasanya hidup
ini tak adil bagiku saat itu.

Tetapi untunglah ide brilian tiba. Saat itu, para bos dari kantor
bapakku setiap sore bermain tenis di kompleks perumahan. Aha!
Ini peluang pikirku. Aku ingin membuat mama tersenyum. Diam-
diam aku mengajak abangku untuk memungut bola yang keluar dari
lapangan saat para bos bermain. Para bos setuju saja. Karena bertiga,
kami mendapat uang sebesar Rp250,00. Itu jumlah yang sangat
besar bagi anak-anak waktu itu. Anak-anak biasanya mengincar
posisi strategis di lapangan tenis yaitu di tengah lapangan, persis
dekat net karena banyak bola yang tersangkut di sana. Rupanya
tingkat kelelahan diperhitungkan dalam memungut bola. Daerah
kering biasanya di belakang lapangan karena hanya menunggu bola
out saja.

Penjaga bagian tengah biasanya dihargai seratus rupiah,
sedangkan yang lain antara Rp25,00 sampai Rp50,00, tergantung
tingkat keramaian. Semakin banyak anak menjaga sebenarnya akan
semakin tipis pendapatan. Anak-anak kompleks sering ikut menjaga,
tetapi upahnya dipakai untuk jajan belaka. Mereka bukan seperti
kami yang bertujuan untuk mendapat penghasilan tambahan.

Pekerjaan itu kami lakukan hampir selama dua tahun sampai
akhirnya tiba-tiba anak–anak bos merajai lapangan sehingga kami
pun mulai tersisih tanpa daya. Anak para bos menjadi penguasa
lapangan dan menganggap kami hanya perusak kebahagiaan
mereka. Bila diprotes, mereka akan marah dan biasanya terjadi
keributan. Tak apalah, kami harus bersabar walaupun tanpa
mendapat uang tambahan secara rutin lagi. Tuhan pasti bertindak
adil.

Dua tahun kemudian, terjadi pergantian kepala klub tenis yang
kebetulan memperhatikan keriangan anak saat orang tua bermain

9

tenis. Namanya Pak Bambang. Aku mengenal Pak Bambang karena
ia juga teman akrab bapakku. Mereka pernah kuliah bersama-sama.

Pak Bambang mulai memperhatikan anak-anak yang sungguh-
sungguh bekerja atau sekadar bermain-main dan hanya minta uang
jajan. Abang, adik, dan aku dipanggilnya untuk menjaga bola di
bagian tengah lapangan. Hatiku sungguh riang tak tertahankan. Yes!
Aku melompat ke lapangan dan mulai asyik dengan pekerjaan yang
sempat tertunda. Ini berbeda dengan sebelumnya. Dahulu dalam
seminggu, kami hanya mendapat giliran satu kali menjaga bola. Kini
hampir tiap sore kami diizinkan menjaga bola, paling tidak, berdua
dengan abangku. Uang yang tadinya mulai menipis, perlahan-lahan
kembali menebal dalam celengan ayam kami. Celengan itu akan
dibuka saat keadaan darurat di rumah.

Tak terasa tahun demi tahun berlalu. Suatu ketika, mama
mulai mengintip tabungan kami di celengan ayam. Sungguh
mencengangkan! Mamaku takjub melihat hasilnya. Dia hitung
jumlahnya dengan mata yang masih tak percaya. Air matanya
tumpah ruah.

“Bapakmu pasti bangga melihat anak-anak seperti kalian.
Masih kecil tetapi sudah mau memikirkan keluarga,” tepuk mama
di pundak kami sambil mencium dan memeluk kami satu per satu.

“Aku tak ingin Mama dicaci-maki Bu Rosa tetangga kita
setiap hari, Ma,” ucapku.

“Iya, Ma. Itu menyakitkan bagi kami. Mendengar suara
cemprengnya tiap pagi bernyanyi sangat merusak hari-hari kami,”
timpal abangku pula.

“Pokoknya hatiku senang. Aku bisa bantu Mama. Hatiku
sangat riang, hore...,” bisik adikku di pelukannya.

Setahun setelah pergantian kepala klub tenis, bapakku
pulang dengan berita gembira. Keluarga kami akan segera diboyong
ke daerah karena bapak menjadi bos di kantornya. Katanya bapak
mendapat promosi karena prestasi kerjanya bagus. Itu berarti posisi

10

bapak kini serupa dengan para bos pemain tenis yang bola tenis
mereka kami pungut setiap sore untuk melanjutkan kehidupan.
Selalu ada buah bagi setiap kesabaran. Terpujilah Tuhan.

“Hore, kita masih bisa memungut bola saat Bapak bermain
tenis nanti,” teriak adikku dengan riang sambal mendendangkan
lagu kesukaannya.

11

SEPOTONG ES LILIN DAN
AMARAH BAPAK

Eka Zuliati

Saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, ada banyak
pedagang jajanan kaki lima yang berjualan di dekat sekolahku pada
jam pulang sekolah. Hari itu, seperti biasa, aku berjalan kaki dengan
teman-temanku saat pulang dari sekolah dan melewati para penjual
jajanan itu. Di antara banyak pedagang di sana, ada seorang kakek
tua pedagang es lilin.

Hampir setiap hari aku membeli es lilin di sana. Karena hari
itu aku tidak mendekat ke lapaknya, kakek tua penjual es lilin itu
kemudian menawariku dagangannya dan aku bilang kalau aku tidak
punya uang. Aku sudah kehabisan uang saku karena hari itu ada
pelajaran olahraga dan uang sakuku telah kuhabiskan saat istirahat
untuk membeli makanan di kantin sekolah.

Ia pun berkata, “Bayar saja besok, saya, kan setiap hari
berjualan di sini.”

Aku dan temanku yang saat itu baru berumur enam tahun
pun tergoda dengan tawaran menarik itu. Bayangkan memakan
sebatang es lilin rasa kacang hijau yang dingin pada hari yang panas
saat perjalanan pulang sekolah. Sebuah godaan yang tak bisa
ditolak. Itulah utang pertama yang kulakukan di usiaku yang baru
enam tahun.

Setelah sampai di rumah, aku baru ingat kalau aku harus
pergi ke rumah temanku yang rumahnya di belakang sekolah
untuk mengerjakan PR dan bermain bersama. Aku pun berganti
pakaian dan bersiap pergi ke rumah temanku. Untuk menuju rumah
temanku, aku harus melewati pedagang es lilin itu. Kemudian, aku
pun berpikir daripada aku membayar es lilin itu besok siang, lebih
baik aku meminta uang kepada bapak untuk membayar es lilin

12

13

tersebut. Aku pun mencari bapakku dan meminta uang. Bapak
kemudian bertanya untuk apa uang itu. Kemudian, kuceritakan
kejadian hari itu kepada bapak.

Bukannya uang yang diberikan oleh bapak, aku malah
dimarahi habis-habisan. Pertama kalinya dalam hidupku aku
melihat bapak memarahiku. Aku menangis keras sekali waktu itu.

“Jangan pernah menginginkan sesuatu kalau kamu tidak
mampu. Kalau menginginkan sesuatu dan kamu belum punya,
kamu harus sabar dan berusaha.” Yang kutahu saat itu usaha yang
bisa aku lakukan adalah membantu bapak atau ibu supaya bisa
memperoleh uang saku. “Jangan pernah menginginkan sesuatu di
luar kemampuanmu,” lanjut bapak dengan bahasa sederhana yang
saat itu bisa kumengerti.

Bapak memarahiku sebagai peringatan kalau aku tidak boleh
melakukan hal itu lagi. Meskipun pada akhirnya hari itu bapak
memberikan uang padaku untuk membayar es lilin yang kumakan,
nasihat dalam amarahnya menjadi pengingat sepanjang hidupku.
Ketika aku menginginkan sesuatu, aku harus berusaha keras dan
tidak mengambil jalan pintas yang pada akhirnya bisa merugikan
diriku sendiri. Sejak saat itu, aku selalu bekerja keras jika aku
menginginkan sesuatu.

14

KAOS OLAHRAGA
DAN ES LILIN

Hastri Eva Febriantari

Aku berasal dari keluarga sederhana. Ayahku bekerja sebagai
guru dan ibuku sebagai ibu rumah tangga. Saat duduk di kelas IV
SD, sekolah mengumumkan bahwa siswa harus membeli seragam
olahraga. Mendengar pengumuman itu, aku sangat senang karena
pasti ayah dan ibu akan membelikannya untukku. Aku sangat
senang karena dari kelas I sampai kelas III aku belum pernah
membeli seragam olahraga dengan alasan masih kecil, tidak perlu
kaos olahraga.

Sesampainya di rumah aku memberitahukannya kepada
ibu. Aku merasa sepertinya kali ini lagi-lagi aku tidak bisa membeli
seragam olahraga. Itu membuat aku sedih karena setiap olahraga
aku selalu berbeda dengan teman-temanku. Ayah pun pulang dan
aku menyampaikannya. Ayah mengatakan tidak perlu membeli
kaos olahraga. Aku pun sedih mendengarnya, tetapi kali ini ayah
menjelaskan alasan tidak perlu membelinya. Ayah mengatakan
bahwa ada kebutuhan mendesak. Aku pun menerima alasan itu.

Dalam hatiku aku bertanya-tanya, mengapa aku tidak bisa
seperti teman lainnya. Mau membeli kaos olahraga saja susah,
padahal teman-temanku yang lain,yang orang tuanya bukan guru
bisa membelinya. Mengapa aku anak guru tetapi tidak bisa membeli
kaos olahraga. Jujur aku malu dengan teman-temanku. Namun, ya,
sudahlah aku hanya seorang anak yang menuruti orang tua.

Suatu hari di rumah, ibu membuat es lilin dan es batu
untuk dijual. Pada saat itu, belum banyak orang yang menjual es
sehingga es lilin yang dibuat ibu selalu habis. Aku senang karena

15

16

bisa menambah pendapatan ayahku dan tentunya nanti aku bisa
membeli kaos olahraga. Namun, itu tak berlangsung lama. Banyak
tetanggaku dan orang-orang lain yang menjual es. Karena semakin
banyak saingan, akhirnya ibuku memintaku untuk berjualan es
lilin. Saat itu, aku sangat kaget. Aku merasa malu kalau aku harus
berjualan es dan aku mengatakan tidak mau. Akhirnya, ibuku
meminta bantuan warung di sekolahku untuk menjualkan es
lilin buatan ibuku. Ternyata di warung sekolahku, anak-anak SD
menyukainya dan selalu habis. Teman-temanku pun akhirnya tahu
kalau es lilin itu adalah buatan ibuku.

Suatu pagi saat aku akan berangkat sekolah, ibuku meminta
bantuanku untuk membawa termos yang berisi es lilin karena orang
yang biasanya mengambilnya sakit. Aku malu dan menolaknya,
lalu ibuku memberi aku penjelasan. Kalau aku tidak mau, aku tidak
diberi uang jajan. Akhirnya, aku pun mau melakukannya. Sepanjang
jalan dari rumah ke sekolah, aku mengayuh sepedaku dengan
cepat karena aku tidak mau kalau teman-teman dan kakak kelas
mengetahuinya. Termos berisi es lilin aku berikan kepada Bu Aini
dan aku segera masuk ke kelas. Dalam hatiku berharap, semoga
esok hari aku tidak diminta ibu untuk membantunya lagi.

Malam pun tiba, aku mendengar suara ayah dan ibu sedang
mendiskusikan uang. Aku mendengarkan pembicaraan mereka.
Mendengar pembicaraan mereka aku sedih. Aku mendengar bahwa
mereka memang tidak memiliki banyak uang dan bisa dibilang pas-
pasan. Saat itu juga aku berpikir dan memutuskan untuk membantu
ibu berjualan es lilin.

Mulai saat itu, setiap pagi aku membantu ibu membawakan
termos berisi es lilin dan pulang sekolah aku mengambil termos itu.
Uang hasil penjualan es selalu aku berikan kepada ibuku. Aku sangat
senang ketika ibu memberiku uang tambahan sebanyak Rp500,00.
Makanya aku senang kalau es terjual habis karena aku mendapat
uang tambahan dari ibu untuk kutabung. Dari hasil penjualan es
lilin itu, akhirnya aku bisa membeli kaos olahraga walaupun aku

17

mendapatnya saat aku sudah naik ke kelas V. Inilah kisahku saat
aku masih duduk di SD yang hingga saat ini akan menjadi cerita
perjuangan yang tak akan pernah kulupakan dan selalu menjadi
motivasiku untuk maju hingga saat ini.

18

SEPASANG SEPATU USANG

Ariston Toni

Maret 2017 adalah awal aku bertemu dengan seorang
murid laki-laki bernama Ruslan. Remaja berusia 15 tahun ini selalu
mengusik batinku untuk mengenalnya lebih jauh. Ia murid paling
pintar di kelas tetapi tak banyak bergaul bersama teman sekelasnya.
Ruslan anak yang pendiam tetapi sangat sopan.

Saat itu aku sedang merampungkan pendidikanku di semester
akhir untuk bidang studi PKL (Praktik Kerja Lapangan) atau sering
disebut KKN (Kuliah kerja Nyata). Sekitar dua bulan lamanya aku
mengajar di sekolah itu. Banyak hal yang aku dapatkan selama
mengajar, terutama dari kehidupan Ruslan. Ia banyak mengajarku
tentang arti sebuah perjuangan hidup. Perjuangan Ruslan tak
mudah dilewatinya demi menggapai sebuah cita-cita dan harapan.

Aku perhatikan setiap pagi saat Ruslan tiba di sekolah, ia
selalu mengeluarkan sepasang sepatunya yang sudah lusuh dan
usang dari kantong plastik. Ia baru mengenakan sepatu ketika
hendak masuk ke dalam kelas. Hal ini menambah rasa penasaranku
pada kehidupannya. Terlebih suatu hari aku melihatnya menghapus
percikan darah yang keluar dari mata kaki kanannya dengan selembar
kertas yang disobeknya dari salah satu bukunya. Ia menyematkan
kertas itu di jari kakinya dan memasukannya ke dalam sepatu.

Siang itu ketika pulang sekolah, aku mengajak Ruslan
berbincang mengenai kebiasaannya menggunakan sepatu di kelas.
Mengapa ia seolah sangat menjaga sepasang sepatu usang itu?

“Ruslan, mengapa kamu tidak pernah mengenakan sepatumu
dari rumah?” tanyaku ingin tahu.

Awalnya ia tak mau menjawab pertanyaanku. Ia diam sambil

19

20

menghela napas. Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Ruslan
meneteskan air mata.

“Ini adalah sepatuku satu-satunya. Aku harus menjaganya
agar tidak semakin rusak. Rumahku sangat jauh dari sini jadi aku tak
memakainya dari rumah. Itulah sebabnya aku memakainya setiba
di depan kelas. Ayahku sudah lama meninggal karena kecelakaan
saat berjualan es.”

Ayah Ruslan meninggal saat berjualan es di pinggir jalan dan
tertabrak mobil pengangkut pasir. Ruslan sekarang tinggal serumah
bersama ibunya yang bekerja sebagai penjual rujak keliling. Ia harus
hemat dan tak mau menambah beban ibunya karena sepatunya
rusak. Kini aku paham penyebab kakinya luka karena ia harus
berjalan tanpa alas kaki.

Perjuangan ini tak mudah bagi Ruslan demi menggapai cita-
citanya. Ia melakukan usaha yang terbaik demi dirinya. Ia belajar
dan menuntut ilmu setinggi-tingginya, tak peduli betapa sakitnya
ketika kaki terantuk batu dan berdarah. Ia yakin suatu hari nanti
semua pengorbanannya tak akan sia-sia.

Tak terasa hari terakhirku mengajar di sekolah itu tiba dan
aku harus berpisah dengan anak hebat itu. Dengan berat hati aku
berpisah dengannya. Aku berpesan pada anak hebat itu.

“Ruslan, teruskan perjuanganmu sampai kau meraih semua
impianmu. Tak ada perjuangan yang sia-sia selama kau tak pernah
berhenti untuk meraihnya.”

21

ASA UNTUK RANGGA

Wining Rohani

Saat pengumuman kelulusan SMP, 100 % anak merasa
senang sekaligus lega. Namun bagi Rangga, hal itu justru sebaliknya.
Ia sangat sedih karena semalam papanya mengatakan bahwa tahun
ini ia tidak bisa melanjutkan sekolah. Rangga masih terngiang-
ngiang akan perkataan papanya itu.

“Papa minta maaf. Kondisi keuangan Papa makin terpuruk.
Vincent, Koko kamu juga belum bisa kuliah. Jadi Papa memutuskan
untuk menunda dulu rencanamu melanjutkan pelajaran ke SMA.
Saat ini Papa hanya bisa membiayai Nathan yang mau naik ke kelas
XII,” kata papa Rangga.

Di saat teman-temannya sibuk memperbincangkan rencana-
rencana masuk SMA, Rangga lebih banyak berdiam dengan wajah
muram. Hal ini langsung diketahui oleh teman-teman dekatnya.
Sebab Rangga biasanya selalu bersemangat jika diajak bicara
tentang urusan sekolah.

”Rangga, kamu enggak enak badan ya?” tanya Adrian.
“Nggak,” jawab Rangga singkat sambil menggelengkan
kepala.
“Kalau begitu, nanti sore bisa ikutan kumpul di rumah
Michele, kan?” sahut Devon.
“ Ok, aku pasti datang,” sahut Rangga.
Rangga, Adrian, Devon, Michele, dan Diandra adalah teman-
teman yang membuat hidupnya berwarna. Mereka tak hanya
berinteraksi ketika mengerjakan tugas-tugas di sekolah. Namun,
mereka juga memiliki minat yang berbeda dan saling melengkapi
satu sama lain. Rangga, Devon, dan Adrian memiliki hobi basket

22

23

dan bersepeda. Mereka sering mengajak Michele dan Diandra yang
pada masa sekolah SD menjadi anak rumah, untuk bersepeda dan
berlatih basket. Setelah beraktivitas bersama, mereka biasanya
langsung berkumpul di rumah Michele. Rangga merasakan keempat
sahabat ini adalah tempat aman untuk mencurahkan isi hatinya.
Apalagi sebagian mereka sudah bersahabat sejak di SD.

Perkataan Rangga yang tidak akan melanjutkan pendidikan
ke SMA tahun ini, membuat mereka terkejut dan sekaligus sedih.
Sore itu Rangga mencurahkan seluruh kegalauan hatinya. Mereka
berdiskusi panjang dan mencoba membantu Rangga. Rencananya,
Rangga akan belajar menggunakan buku kokonya yang saat ini
duduk di kelas XII dan selanjutnya Rangga masuk Paket C. Namun
supaya kualitas pendidikan Rangga terjaga maka diputuskan bahwa
setiap anak secara bergantian mengulang pelajaran sekolah dan
belajar bersama Rangga. Rangga pun pulang ke rumah dengan hati
yang riang.

Awal tahun pelajaran pun tiba. Rangga mulai membaca
buku-buku SMA kelas X. Sore harinya teman-teman Rangga
menceritakan apa yang dipelajari hari itu. Jika ada tugas-tugas,
kadang mereka berdiskusi bersama. Melalui proses ini, Rangga
akhirnya menyadari kekayaan dari persahabatan yang dijalani
selama ini. Ia tak menyangka bahwa persahabatan yang dimilikinya
sangat bermakna. Rangga bersyukur memiliki sahabat-sahabat
yang sangat memperhatikannya. Tidak ada yang lebih bernilai dari
rasa empati yang besar yang dimiliki para sahabatnya itu hingga
membuat hidupnya lebih terasa ringan. Bukan hanya itu tetapi ada
secercah harapan yang ada dalam genggamannya untuk menggapai
masa depan yang lebih cerah.

24






Click to View FlipBook Version