TAJUK:PEMAHAMAN PELAJAR TERHADAP KONSEP NIAT
NAMA PENSYARAH: ABDUL FATTAH BIN HAMDEN
NAMA AHLI KUMPULAN:
NAMA KAD MATRIK
31DUP21F1029
NURUL NATASHA BINTI
NURDIN 31DUP21F1032
FARAH ANISSA BINTI
ABDUL FATA
ISI KANDUNGAN
BIL PERKARA MUKA SURAT
1.0 NAMA AHLI 01
KUMPULAN
2.0 PENGENALAN 2
3.0 HADITH 3
4.0 7 PERKARA NIAT 4-9
5.0 PENGAJARAN 10
6.0 RUJUKAN 11
PENGENALAN:
Niat adalah amalan hati (amaliyah qolbiyah) sehingga
hanya Allah SWT dan pribadi masing-masing yang tahu
soal niat atau motif seseorang dalam berbuat, beramal,
atau beribadah. Secara bahasa (Arab), niat ( )نيةadalah
keinginan dalam hati untuk melakukan suatu tindakan.
Orang Arab menggunakan kata-kata niat dalam arti
"sengaja".Terkadang niat juga digunakan dalam
pengertian sesuatu yang dimaksudkan atau
disengajakan.Secara istilah, tidak terdapat definisi khusus
untuk niat. Karena itu, banyak ulama yang memberikan
makna niat secara bahasa, semisal Imam Nawawi yang
mengatakan niat adalah bermaksud untuk melakukan
sesuatu dan bertekad bulat untuk mengerjakannya.”
Mengacu kepada hadits shahih, niat adalah motivasi,
maksud, atau tujuan di balik sebuah perbuatan. Rasulullah
Saw menyatakan, niat menjadi penentu pahala sebuah
perbuatan. Jika niatnya karena Allah, maka pahalanya dari
Allah. Jika niatnya bukan karena Allah, atau disertai motif
lain, maka Allah tidak akan menerima amalan itu sebagai
ibadah.
وإنما لكل امرئ ما نوى،إنما الأ عمال بالنيات
"Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan
seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia
niatkan" (HR Bukhari & Muslim).Hadits selengkapnya
mengisahkan tentang niat seseorang dalam berhijrah.
Hijrah termasuk ibadah karena ia perintah Allah SWT.
Namun, jika dalam berhijrah ada niat lain, maka hijrah
tidak menjadi sebuah ibadah.
HADITH:
إنماا ألأَ أع َمال بِال ِنيَّ ِة َو ِلك ِل ا أم ِرئ َما َن َوى فَ َم أن َكا َن أت ِه أج َرته ِإلَى ّل َّل ِا َو َرسو ِله
فَ ِه أج َرته ِإ َلى ّل َّل ِا َو َرسو ِل ِه َو َم أن َكانَ أت ِه أج َرته لد أن َيا ي ِصيب َها أَ ِو ا أم َرأَة يَتَ َز َّوج َها
َف ِه أج َرته ِإلَى َما َها َج َر ِإ َل أي ِه
"Sesungguhnya amal-amal itu bergantung kepada niatnya.
Dan setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang ia
niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah
dan Rasul-Nnya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-
Nnya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang
dikejarnya atau wanita yang hendak ia nikahi, maka
hijrahnya kepada apa yang ia (niatkan) hijrah kepada nya."
(HR. Bukhari-Muslim).Imam Bukhari menyebutkan hadits
ini di awal kitab shahihnya (Shahih Bukhari) sebagai
mukaddimah kitabnya. Di sana tersirat bahwa setiap
amalan yang tidak diniatkan karena mengharap Allah SWT
adalah sia-sia.
7 PERKARA NIAT:
1. Hakikat niat
- Dalam kitab Al-Iqna’, Al-Khatib As-Syirbini mengatakan,
َو َح ِق أي َقت َها ل َغة ا ألقَ أصد َو َش أرعا قَ أصد ال َّش أي ِء م أقتَ ِرنا ِب ِف أع ِل ِه
Artinya, “Hakikat niat, secara bahasa artinya menyengaja,
sedangkan secara istilah syar’i artinya menyengaja sesuatu
bertepatan dengan perbuatannya.”Niat dalam pengertian
syar’i, haruslah bersamaan antara menghadirkan
kesengajaan di dalam hati dengan dimulainya perbuatan
tersebut. Karena bila tidak berbarengan, maka tidak
dinamakan niat oleh para Fuqaha.Semisal seseorang yang
sejak di rumah telah bertekad dan berniat untuk
melaksanakan shalat di masjid, namun setibanya di sana,
ketika mulai takbiratul ihram ia tidak menghadirkan niat
shalat.Niatan seperti ini tidak dinamakan niat di dalam
ilmu fiqh, karena antara niat dan perbuatan tidak terjadi
secara berbarengan, contoh di atas yakni niat lebih dahulu
hadir ketimbang perbuatan dinamakan dengan azam.
2.FUNGSI NIAT
- Fungsi niat berbeda-beda sesuai tergantung disiplin ilmu
yang di bahas. Dalam ilmu fiqh, niat berfungsi sebagai
pembeda antara ibadah dan yang bukan ibadah, serta
membedakan antara tingkatan ibadah yang satu dengan
ibadah yang lainnya.
Dalam kitab Al-Iqna’ disebutkan,
تَ ْميِ ْي ُز ا ْل ِع َبا َدا ُِت َع ِنُ ا ْلعَا َدا ُِت َكا ْلجل ْو ِسُ فِي ا ْل َم ْس ِج ِدُ ِل ْْ ِل ْع ِت َكا ِفُ تَا َرُة
َو ِل ْْ ِل ْستِ َرا َح ُِة أ ْخ َرى أَ ُو تَ ْميِ ُْي ُز رتْبَ ِت َهُا َكال َّصَْل ُِة تَك ْونُ ِل ْل َف ْر ِ ُض تَا َرةُ َو ِل ْلنَ ْف ُِل أ ْخ َر ُى
Artinya, “Membedakan ibadah dari adat kebiasaan, seperti
duduk-duduk di masjid, terkadang niatnya untuk I’tikaf
terkadang untuk istirahat. Atau untuk membedakan
tingkatan ibadah, seperti shalat, terkadang niatnya untuk
shalat fardhu terkadang untuk shalat sunnah.”Sedangkan
niat bila difungsikan sebagai pembeda antara perbuatan
yang ikhlas karena Allah dengan yang tidak, maka bukan
menjadi pembahsan ilmu fiqh, melainkan di bahas dalam
ilmu tasawwuf atau tazkiyatun nafs.
3. Hukum niat
Secara umum dalam berbagai amalan, hukum niat adalah
wajib.Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,
ِإنَّ َما اْلأَ ْع َمالُ ِبالنِّيَّا ُِت َوإِنَّ َما ِلك ُِّل ا ْم ِرئُ َمُا َن َو ُى
artinya, “Sesungguhnya seluruh amalan itu tergantung
niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia
niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Yakni, seluruh ibadah
yang nampak seperti adat kebiasaan, semisal mandi,
I’tikaf, puasa, begitu juga ibadah yang serupa dengan
ibadah lainnya, seperti shalat, baik yang wajib maupun
yang sunnah gerakannya serupa, maka kedua jenis ibadah
ini wajib disertai dengan niat. Selain ibadah, ungkapan-
ungkapan kinayah (tidak secara eksplisit) yang digunakan
dalam bermuamalah, seperti ungkapan seseorang yang
mentalak istrinya “pulanglah ke rumah orangtuamu!”,
ungkapan seperti ini bila disertai dengan niat talak maka
jatuh talak, namun bila tidak disertai niat maka tidak jatuh
talak.Dalam madzhab Syafi’i, ada beberapa amalan yang
tidak wajib disertai dengan niat, yaitu:Dalam hal menjauhi
atau meninggalkan larangan agama.Seperti menjauhi zina,
mabuk-mabukan, menggunjing, menfitnah, mencuri, maka
tidak dibutuhkan niat ketika meninggalkannya atau
menjauhinya. Sekedar tidak terjatuh dalam dosa-dosa tadi
walau tidak disertai niat, maka tidak menimbulkan dosa,
hanya saja tidak bernilai pahala.Dibutuhkan niat agar
perilaku menjauhi maksiat bernilai pahala, yaitu niat
mentaati perintah dan larangan agama. Sesuai dengan
kaidah fiqh yang mengatakan,
َلُ ثَ َوا َبُ إِ َّلُ ِبنِيَّ ُة
artinya,"Tidak ada pahala kecuali dengan niat"
Yakni, amal perbuatan hanya bernilai pahala bila disertai
dengan niat.Ketika memandikan jenazah.Memandikan
jenazah kaum muslimin hukumnya adalah fardhu kifayah.
Namun, bagi orang yang memandikan jenazah, tidak
diwajibkan berniat memandikan jenazah agar
menggugurkan kewajiban tersebut.Karena, tujuan
memandikan jenazah adalah untuk kebersihan semata,
bukan untuk mengangkat hadats.Namun, dalam rangka
keluar dari khilaf antara pendapat yang tidak
mewajibkannya dan yang mewajibkannya, disunnahkan
untuk tetap berniat, karena keluar dari khilaf hukumnya
sunnah.Wajibnya membayar dam karena haji
tamattu’.Orang yang melakukan umrah di bulan haram,
kemudian melakukan haji di tahun yang sama, walaupun
sebelumnya ketika umrah tidak pernah terbesit dalam
niatan untuk melaksanakan haji, maka sudah terhitung
tamattu, walaupun sebelumnya tidak berniat haji tamattu’,
wajib hukumnya membayar dam.Ungkapan talak yang
sharih (jelas).Orang yang mentalak atau mencerai istrinya
dengan ungkapan yang jelas, seperti “kamu saya cerai,”
atau “kamu saya talak,” maka secara otomatis cerainya
sah walaupun tidak disertai dengan niat.
4. Syarat-syarat niat
Niat hukumnya wajib, bahkan ia menjadi rukun pertama di
sebagian besar amal ibadah. Agar niat menjadi sah, ada
beberapa syarat yang harus terpenuhi:Islam.Niat adalah
ibadah yang tempatnya di dalam hati, bila hati belum
beriman kepada Allah maka niat yang muncul bukanlah
sebuah ibadah. Oleh karena itu, orang yang tidak beriman
tidak sah niatnya.Tamyiz.Yakni berakal dan mampu
membedakan mana yang baik dan buruk. Oleh karena itu,
orang gila, anak kecil yang belum mumayyiz (belum bisa
makan dan cebok sendiri), tidak dikatakan bisa berniat
apalagi dihitung sah niatnya.Tahu ibadah apa yang akan
dilakukan.Karena niat adalah menyengaja suatu
perbuatan, dalam konteks ini adalah menyengaja
melakukan ibadah, bila seseorang tidak mengetahui
ibadah yang akan dilakukannya atau tata cara
pelaksanaannya, lalu bagaimana ia sanggup menyengaja
suatu perbuatan yang ia tidak ketahui seperti apa
perbuatan itu? Seseorang dinamakan sengaja bila ia sadar
dan tahu apa yang dilakukannya.Tidak melakukan hal-hal
yang membatalkan niat.Semisal ragu untuk melanjutkan
ibadah, atau berniat menghentikan ibadah, maka dengan
munculnya hal itu otomatis niat menjadi batal. Karena, niat
hanya bisa sah bila dilakukan dengan keyakinan penuh
dan tidak ada hal yang kemudian membatalkannya.
5. Tempat berniat
Niat tempatnya di dalam hati. Dalam perkara ibadah
seperti bersuci, shalat, dan puasa, para Ulama
menganjurkan agar niat diucapkan dengan lisan. Hal ini
mengingat keadaan hati yang mudah lalai dan terdistraksi
dengan hal-hal di luar ibadah. Oleh karena itu, dengan
diucapkannya niat diharapkan dapat membantu hati lebih
fokus untuk berniat.Niat sejatinya berada di dalam hati,
maka sekedar mengucapkan niat dengan lisan tanpa
kehadirannya di dalam hati adalah tidak sah.Bila apa yang
dilafalkan dengan lisan berbeda dengan apa yang
diniatkan dalam hati, maka yang dijadikan pegangan
adalah apa yang muncul di dalam hati, sekali lagi ini
berkaitan dengan ibadah, bukan hal lain semisal akad atau
sumpah, karena dalam hal itu yang dijadikan dasar adalah
ucapan, bukan niat dari ucapan.
6. Waktu niat
Secara umum waktu wajibnya berniat adalah di awal
ibadah, semisal saat membasuh wajah pada wudhu, atau
saat takbiratul ihram pada shalat, namun ada sebagian
ibadah yang boleh untuk mendahulukan waktu niat dari
waktu awal perbuatannya.kebolehan ini sebagai bagian
dari keringanan menjalankan agama, seperti niat puasa,
akan sangat sulit membersamai masuknya waktu fajar
dengan niat, maka niat boleh dilakukan sebelum masuk
waktu fajar, begitu juga halnya dengan zakat dan
berkurban.
7. Tata cara berniat
Tatacara niat berbeda dari satu ibadah dengan ibadah
yang lain. Dalam hal shalat misalnya, untuk niat fardhu
zhuhur ada tiga hal yang harus diniatkan:Perbuatannya,
yaitu shalat.Hukum shalatnya, yaitu fardhu.Jenis shalatnya,
yaitu zhuhur.Belum lagi kalau dilakukan sebagai makmum,
maka wajib niat sebagai makmum.Niat yang berbeda bila
shalat yang dilakukan shalat dhuha misalnya, cukup
berniat:Perbuatannya, yaitu shalat.Jenis shalatnya, yaitu
dhuha.Bahkan bila shalat yang dilakukan adalah shalat
sunnah mutlak, maka ia cukup berniat shalat saja.
PENGAJARAN
Niat adalah teras segala amalan. Amalan yang buruk atau
amalan yang baik tetapi dijalankan tidak mengikut aturan
syara',tidak membawa apa-apa faedah walaupun dilakukan
dengan niat yang baik. Demikian juga amalan baik jika
diniatkan bukan kerana Allah, seumpama kerana riak,
menunjuk-nunjuk atau kerana sesuatu tujuan
duniawi,maka ia tidak memberikan apa-apa faedah.