The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by 99 Almadela A Putri, 2022-02-17 22:55:32

KELOMPOK 9 ENTOMOLOGI FLIPBOOK

KELOMPOK 9 ENTOMOLOGI FLIPBOOK

i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmat-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan flipbook Mata kuliah Entomologi ini yang berjudul
“Anatomi Serangga” sebagaimana mestinya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah
Entomologi yaitu Dr. H. Uus Toharudin, M. Pd., Ida Yayu Nurul Hizqiyah, S.Pd., M.Si.,
Saiman Rosamsi, S.Pd., M.Pd.yang telah membimbing serta memberi wawasan ilmu
pengetahuan dan teman-teman yang membantu dalam kelancaran pembuatan flipbook
Anatomi Serangga ini.

Penyusun menyadari bahwa flipbook ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan
demi kesempurnaan makalah ini. Semoga flipbook ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca.

Bandung, 15 Februari 2022

Penyusun

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1

A. Latar Belakang ................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 2
C. Tujuan ............................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................. 3
1. Bagian Toraks .................................................................................................... 3
2. Tipe Kaki Serangga .......................................................................................... 4
3. Struktur Sayap Venasi ..................................................................................... 7
4. Bagian Abdomen ............................................................................................ 11
BAB III PENUTUP................................................................................................... 12
A. Kesimpulan..................................................................................................... 12
B. Saran............................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Serangga merupakan kelompok hewan yang dominan di muka bumi dengan

jumlah spesies hampir 80 persen dari jumlah total hewan di bumi. Dari 751.000
spesies golongan serangga, sekitar 250.000 spesies terdapat di Indonesia. Serangga
di bidang pertanian banyak dikenal sebagai hama. Sebagian bersifat sebagai
predator, parasitoid, atau musuh alami. Kebanyakan spesies serangga bermanfaat
bagi manusia. Sebanyak 1.413.000 spesies telah berhasil diidentifikasi dan dikenal,
lebih dari 7.000 spesies baru di temukan hampir setiap tahun. Karena alasan ini
membuat serangga berhasil dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya
pada habitat yang bervariasi, kapasitas reproduksi yang tinggi, kemampuan
memakan jenis makanan yang berbeda, dan kemampuan menyelamatkan diri dari
musuhnya.

Gambar 1.1. Anatomi umum serangga, dicontohkan dengan belalang (Orthoptera)
(a) Kepala, (b) Toraks, (c) Abdomen, (d) Antena, (e) Mata, (f) Tarsus,

(g) Koksa, (h) Trokhanter, (i) Timpanum, (j) Spirakel, (k) Femur, (l) Tibia
(m) Ovipositor, (n) Serkus (Hadi, 2007)

Serangga merupakan Filum Arthropoda (termasuk pada kelas insekta).
Filum Arthropoda (dalam bahasa latin, Arthra = ruas , buku, segmen ; podos =
kaki) merupakan hewan yang memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau
bersegmen. Segmen tersebut juga terdapat pada tubuhnya. Tubuh Arthropoda
merupakan simetri bilateral dan tergolong tripoblastik selomata. Arthropoda
adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan mencakup serangga,
laba-laba, udang, lipan dan hewan mirip lainnya. Arthropoda adalah nama lain

1

hewan berbuku-buku.
Arthropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan

udara, serta termasuk berbagai bentuk simbiotis dan parasit. Hampir dari 90%
dari seluruh jenis hewan yang diketahui orang adalah Arthropoda. Arthropoda
dianggap berkerabat dekat dengan Annelida, contohnya adalah Peripetus di
Afrika Selatan. Filum Arthropoda sebagian berperan sebagai mangsa dari
sejumlah hewan predator yang terdiri atas arthropoda lain dan spesies bukan
arthropoda.
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana bagian thorax serangga?
2. Bagaimana tipe kaki serangga?
3. Bagaimana struktur venasi sayap?
4. Bagaimana bagian abdomen serangga?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagian thorax serangga
2. Untuk mengetahui tipe kaki serangga
3. Untuk mengetahui struktur venasi sayap
4. Untuk mengetahui bagian abdomen serangga

2

BAB II PEMBAHASAN

1. Bagian Toraks

Toraks adalah bagian yang menghubungkan antara caput dan abdomen. Torak
juga merupakan daerah lokomotor pada serangga dewasa karena pada torak terdapat
tiga pasang kaki dan dua atau satu pasang sayap (kecuali ordo Thysanura tidak
bersayap). Torak bagian dorsal disebut notum (Jumar, 2000).

Dada (thorax) terdiri atas 3 segmen yaitu prothorax (anterior): adalah bagian
depan dari thoraks dan sebagai tempat atau dudukan bagi sepasang tungkai depan,
mesothorax (tengah) bagian tengah dari thorax dan sebagai tempat atau dudukan
bagi sepasang tungkai tengah dan sepasang sayap depan dan metathorax (posterior)
bagian belakang dari thorax dan sebagai tempat atau dudukan bagi sepasang tungkai
belakang dan sepasang sayap belakang. Tiap-tiap segmen tertutup oleh eksokeleton,
di bagian dorsal disebut tergum, disisi lateral disebut pleura, dan di bagan ventral
disebut sternum (Jumar, 2000). Pada mesothorax dan metathorax masing-masing
terdapat sepasang sayap.

Menurut Borror et al (1992), toraks merupakan tagma (segmen) lokomotor tubuh
dan toraks mangandung tungkai-tungkai dan sayap- sayap. Toraks terdiri atas tiga
ruas, bagian anterior protoraks, mesotoraks, dan bagian posterior metatoraks.
Diantara serangga-serangga memiliki dua pasang spirakel terbuka pada toraks.
Spirakel yang satu berkaitan dengan mesotoraks dan yang lain berkaitan dengan
metatoraks. Meso dan metahoraks mengalami beberapa perubahan yang berkaitan
dengan penerbangan.

Gambar 1.2 Struktur Toraks Insekta (Elzinga, 1978)

3

2. Tipe Kaki Serangga
Tungkai atau kaki merupakan salah satu embelan pada toraks serangga selain

sayap. Tungkai serangga terdiri atas beberapa ruas (segmen). Ruas pertama disebut
koksa (coxa), merupakan bagian melekat langsung pada toraks. Ruas kedua disebut
trokhanter (trochanter), berukuran lebih pendek daripada koksa dan sebagian bersatu
dengan ruas ketiga. Ruas ketiga disebut femur, merupakan ruas yang terbesar.
Selanjutnya, ruas keempat disebut tibia, biasanya lebih ramping tetapi kira-kira sama
panjangnya dengan femur. Pada ujung tibia ini biasanya terdapat duri-duri atau taji.
Ruas terakhir disebut tarsus. Tarsus ini biasanya terdiri atas 1-5 ruas.

Di ujung ruas terakhir tarsus terdapat pretarsus yang terdiri dari sepasang kuku
tarsus. Kuku tarsus ini disebut claw. Bentuk kaki serangga dewasa juga sangat
bervariasi berdasarkan pada fungsinya. Kaki yang digunakan untuk meloncat disebut
saltatorial, menggali disebut fosorial, berlari disebut kursorial, berjalan disebut
gresorial, menangkap mangsa disebut raptorial, dan berenang disebut natatorial.

Gambar 1.3 Tungkai Serangga Secara Umum (Borror, dkk,. 1992)
Menurut Jumar (2000), tungkai-tungkai serangga mengalami modifikasi. Sejumlah
modifikasi tersebut adalah:

1) Tipe cursorial, memiliki tungkai yang panjang dan ramping tungkai
yang digunakan untuk berjalan dan berlari. Contohnya pada lipas
(Periplaneta sp) dan kumbang.

4

2) Tipe fossarial, adalah tungkai yang digunakan untuk menggali,
ditandai dengan bentuk tibia kaki depan lebih besar dari kaki
belakang dan kuku depan yang keras. Contohnya tungkai depan
orong-orong Gryllotalpa sp.

3) Tipe saltatorial, adalah tungkai yang berfungsi untuk meloncat,
ditandai dengan pembesaran femur tungkai belakang. Contohnya
pada belalang.

4) Tipe raptorial, adalah sepasang kaki depan yang mengalami
modifikasi seperti lengan yang berfungsi untuk menangkap dan
mencengkram mangsa, ditandai dengan pembesaran femur tungkai
depan. Kaki ini khas pada spesies Mantis religiosa. Contohnya kaki
depan belalang sembah (Mantis religiosa).

5

5) Tipe natatorial, adalah tungkai yang berfungsi untuk berenang,
ditandai dengan bentuk yang pipih serta adanya sekelompok
"rambut-rambut renang" kasar yang panjang. Contohnya,
Hydrophilus triangularis, Kumbang tanduk (Xylotrupes gideon)

6) Tipe ambulatorial, adalah tungkai yang berfungsi untuk berjalan
ditandai dengan femur dan tibia yang lebih panjang dari bagian
tungkai lainnya. tungkai ini merupakan bentuk umum tungkai
serangga. Tipe kaki ini terdapat pada Periplaneta americana.

7) Tipe korbikulum, tipe kaki ini mengalami modifikasi pada bagian
tungkainya dan berfungsi membawa tepung sari. Contohnya, Apis
cerana. Pada abdomen juga terdapat lubang-lubang berpasangan pada
kedua sisi yang disebut spirakel (spiracle), berfungsi dalam proses
pernapasan (respiratory system).
6

3. Struktur Sayap Venasi
Pada beberapa serangga yang sangat kecil, venasi mungkin sangat

berkurang. Pada tawon chalcidoid , misalnya, hanya subkosta dan sebagian jari -
jari yang ada. Sebaliknya, peningkatan venasi dapat terjadi oleh percabangan vena
yang ada untuk menghasilkan vena aksesori atau dengan pengembangan vena
interkalar tambahan antara yang asli, seperti pada sayap Orthoptera (belalang dan
jangkrik). Sejumlah besar urat silang terdapat pada beberapa serangga, dan
mereka dapat membentuk retikulum seperti pada sayap Odonata (capung dan
damselflies) dan di dasar sayap depan Tettigonioidea dan Acridoidea (masing-
masing katydids dan belalang).

Archedictyon adalah nama yang diberikan untuk skema hipotetis venasi
sayap yang diusulkan untuk serangga bersayap pertama. Ini didasarkan pada
kombinasi spekulasi dan data fosil. Karena semua serangga bersayap diyakini
telah berevolusi dari nenek moyang yang sama, archedictyon mewakili "templat"
yang telah dimodifikasi (dan disederhanakan) oleh seleksi alam selama 200 juta
tahun. Menurut dogma saat ini, archedictyon berisi 6-8 urat longitudinal. Vena-
vena ini (dan cabang-cabangnya) diberi nama sesuai dengan sistem yang
dirancang oleh John Comstock dan George Needham-sistem Comstock-Needham.

Gambar 1.4 Venasi sayap serangga, berdasarkan sistem
Comstock-Needham

7

• Costa (C) : ujung tombak sayap
• Subcosta (Sc) : vena longitudinal kedua (di belakang costa), biasanya tidak

bercabang
• Radius (R) : vena longitudinal ketiga, satu hingga lima cabang mencapai

margin sayap
• Media (M) : vena longitudinal keempat, satu hingga empat cabang mencapai

margin sayap
• Cubitus (Cu) : vena longitudinal kelima, satu hingga tiga cabang mencapai

margin sayap
• Vena anal (A1, A2, A3) : vena tidak bercabang di belakang cub itus.

Kosta (C) adalah vena marginal utama pada sebagian besar serangga.
Kadang-kadang, ada vena kecil di atas costa yang disebut precosta, meskipun di
hampir semua serangga yang masih ada, precosta menyatu dengan costa. Kosta
jarang bercabang karena berada di tepi terdepan, yang pada dasarnya berhubungan
dengan lempeng humerus. Trakea vena kosta mungkin merupakan cabang dari
trakea subkostal. Terletak setelah costa adalah vena ketiga, subcosta, yang
bercabang menjadi dua vena yang terpisah: anterior dan posterior.

Basis subkosta dikaitkan dengan ujung distal leher aksila pertama (lihat
bagian di bawah). Vena keempat adalah radius (R), yang bercabang menjadi lima
vena yang terpisah. Jari-jari umumnya merupakan vena terkuat dari sayap.
Menjelang tengah sayap, ia bercabang menjadi cabang pertama yang tidak terbagi
(R1) dan cabang kedua, yang disebut sektor radial (Ra), yang membagi secara
dikotomis menjadi empat cabang distal (R2, R3, R4, R5). Pada dasarnya, Vena
kelima sayap adalah media. Dalam pola arketipe (A), media bercabang menjadi
dua cabang utama: media anterior (MA), yang terbagi menjadi dua cabang distal
(MA1, MA2), dan sektor median, atau media posterior (MP), yang memiliki
empat cabang. cabang terminal (M1, M2, M3, M4).

Pada kebanyakan serangga modern, media anterior telah hilang, dan
"media" yang biasa adalah media posterior bercabang empat dengan batang basal
umum. Di Ephemerida, menurut interpretasi sekarang tentang venasi sayap, kedua
cabang media dipertahankan, sedangkan di Odonata media yang bertahan adalah
cabang anterior primitif. Batang media sering bersatu dengan jari-jari, tetapi
ketika muncul sebagai vena yang berbeda, dasarnya berhubungan dengan

8

lempeng median distal (m') atau terus mengalami sklerotisasi dengan yang

terakhir. kubitus, vena keenam sayap, terutama bercabang dua.

Percabangan utama terjadi di dekat pangkal sayap, membentuk dua cabang

utama (Cu1, Cu2). Cabang anterior dapat pecah menjadi beberapa cabang

sekunder, tetapi biasanya bercabang menjadi dua cabang distal. Cabang kedua

cubitus (Cu2) di Hymenoptera, Trichoptera, dan Lepidoptera disalahartikan oleh

Comstock dan Needham sebagai anal pertama.

Di bagian proksimal batang utama cubitus berhubungan dengan pelat

median distal (m') dari dasar sayap. Trichoptera, dan Lepidoptera disalahartikan

oleh Comstock dan Needham sebagai anal pertama. Di bagian proksimal batang

utama cubitus berhubungan dengan pelat median distal (m') dari dasar sayap.

Trichoptera, dan Lepidoptera disalahartikan oleh Comstock dan Needham sebagai

anal pertama. Di bagian proksimal batang utama cubitus berhubungan dengan

pelat median distal (m') dari dasar sayap.

Postcubitus (Pcu) adalah anal pertama dari sistem Comstock -Needham.

Postcubitus, bagaimanapun, memiliki status vena sayap independen dan harus

diakui seperti itu. Pada sayap nimfa, trakeanya muncul di antara trakea cubiti dan

kelompok trakea vannal. Pada sayap dewasa dari serangga yang lebih umum,

Postcubitus selalu berhubungan secara proksimal dengan kubitus dan tidak pernah

berhubungan erat dengan fleksor sklerit (3Ax) dari dasar sayap. Di Neuroptera,

Mecoptera, dan Trichoptera postcubitus mungkin lebih erat terkait dengan vena

vannal, tetapi dasarnya selalu bebas dari yang terakhir.

Postcubitus biasanya tidak bercabang; itu secara primitif bercabang dua.

Vena vannal (lV sampai nV) adalah vena anal yang langsung berhubungan

dengan aksila ketiga, dan yang secara langsung dipengaruhi oleh gerakan sklerit

ini yang menyebabkan fleksi sayap. Dalam jumlah vena vannal bervariasi. dari 1

hingga 12, sesuai dengan perluasan area vannal sayap.

Trakea vannal biasanya muncul dari batang trakea umum pada serangga

nimfa, dan vena dianggap sebagai cabang dari vena anal tunggal. Distal vena

vannal baik sederhana atau bercabang. Vena Jugal (J) dari lobus jugal sayap

sering ditempati oleh jaringan vena tidak teratur, atau mungkin seluruhnya

membran; tetapi kadang-kadang mengandung satu atau dua vena kecil yang

berbeda, vena jugal pertama, atau vena arcuata, dan vena jugal kedua, atau vena

cardinalis (2J).

9

• C-Sc lintas vena : berjalan antara costa dan subcosta

• R cross-vein : berjalan di antara cabang-cabang radius yang berdekatan

• RM cross-vena : lari di antara radius dan media

• Vena silang M-Cu : berjalan di antara media dan cubitus

Semua urat sayap tunduk pada percabangan sekunder dan penyatuan oleh

urat silang. Pada beberapa ordo serangga, urat-silang begitu banyak sehingga

seluruh pola urat menjadi jaringan yang erat dari urat-urat bercabang dan urat-

silang. Biasanya, bagaimanapun, ada sejumlah vena silang yang memiliki lokasi

tertentu. Vena-silang yang lebih konstan adalah vena-silang humerus (h) antara

kosta dan subkosta, vena-silang radial (r) antara R dan garpu pertama Rs, vena-
sektoral (s) antara dua garpu R8, median cross-vein (m–m) antara M2 dan M3,

dan mediocubital cross-vein (m-cu) antara media dan cubitus.

Vena sayap serangga dicirikan oleh penempatan cembung-cekung, seperti

yang terlihat pada lalat capung (yaitu, cekung adalah "bawah" dan cembung

adalah "atas") yang bergantian secara teratur dan dengan tipe percabangan

triadiknya; setiap kali vena bercabang selalu ada vena interpolasi dari posisi

berlawanan antara dua cabang.

Vena cekung akan bercabang menjadi dua vena cekung (dengan v ena

interpolasi menjadi cembung) dan perubahan reguler vena dipertahankan. Urat -

urat sayap tampak jatuh ke dalam pola bergelombang sesuai dengan apakah

mereka memiliki kecenderungan untuk melipat ke atas atau ke bawah ketika

sayap rileks. Batang basal vena berbentuk cembung, tetapi masing-masing vena

bercabang di distal menjadi cabang cembung anterior dan cabang cekung

posterior.

Dengan demikian costa dan subcosta dianggap sebagai cabang cembung

dan cekung dari vena pertama primer, Rs adalah cabang cekung jari-jari, media

posterior cabang cekung media, Cu1 dan Cu2 masing-masing cembung dan

cekung, sedangkan Postcubitus primitif dan vannal pertama masing-masing

memiliki cabang cembung anterior dan cabang cekung posterior. Sif at cembung

atau cekung dari pembuluh darah telah digunakan sebagai bukti dalam

menentukan identitas cabang distal yang bertahan dari pembuluh darah serangga

modern.

10

4. Bagian Abdomen
Abdomen serangga merupakan bagian tubuh yang memuat alat

pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Abdomen serangga terdiri dari beberapa
ruas, rata-rata 9-10 ruas. Bagian dorsal dan ventral mengalami sklerotisasi
sedangkan bagian yang menghubungkannya berupa membran. Bagian dorsal yang
mengalami sklerotisasi disebut tergit, bagian ventral disebut sternit, dan
bagian ventral berupa membran disebut pleura. Perkembangan evolusi
serangga menunjukkan adanya tanda-tanda bahwa evolusi menuju kepengurangan
banyaknya ruas abdomen. Serangga betina dewasa yang tergolong apterygota,
seperti Thysanura, memiliki ovipositor yang primitive dimana bentuknya terdiri
dari dua pasang embelan yang terdapat pada bagian bawah ruas abdome n
kedelapan dan kesembilan. Sesungguhnya, terdapat sejumlah serangga yang tidak
memiliki ovipositor, dengan demikian serangga ini menggunakan cara lain untuk
meletakkan telurnya. Pada abdomen juga terdapat lubang-lubang berpasangan
pada kedua sisi yang disebut spirakel (spiracle), berfungsi dalam proses
pernapasan (respiratory system).

Jenis serangga tersebut terdapat dalam ordo Thysanoptera, Mecoptera,
Lepidoptera, Coleoptera, dan Diptera. Serangga ini biasanya akan menggunakan
abdomennya sebagai ovipositor. Beberapa spesies serangga dapat memanfaatkan
abdomennya yang menyerupai teleskop sewaktu meletakkan telur- telurnya
(Jumar, 2000).

11

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan dari flipbook ini, pada bagian toraks merupakan bagian yang

menghubungkan antara caput dan abdomen. Dada (thorax) terdiri atas 3 segmen
yaitu prothorax (anterior): adalah bagian depan dari thoraks dan sebagai tempat
atau dudukan bagi sepasang tungkai depan, mesothorax (tengah) bagian tengah
dari thorax dan sebagai tempat atau dudukan bagi sepasang tungkai tengah dan
sepasang sayap depan dan metathorax (posterior) bagian belakang dari thorax dan
sebagai tempat atau dudukan bagi sepasang tungkai belakang dan sepasang sayap
belakang.

Tungkai atau kaki merupakan salah satu embelan pada toraks serangga
selain sayap. Tungkai serangga terdiri atas beberapa ruas (segmen). Beberapa
macam tipe-tipe tungkai atau kaki pada serangga yaitu ada tipe cursorial, tipe
fassorial, tippe saltatorial, tipe raptorial, tipe natatorial, tipe ambolatorial.

Vena sayap serangga dicirikan oleh penempatan cembung-cekung, seperti
yang terlihat pada lalat capung (yaitu, cekung adalah "bawah" dan cembung
adalah "atas") yang bergantian secara teratur dan dengan tipe percabangan
triadiknya; setiap kali vena bercabang selalu ada vena interpolasi dari posisi
berlawanan antara dua cabang.

Abdomen serangga merupakan bagian tubuh yang memuat alat
pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Abdomen serangga terdiri dari beberapa
ruas, rata-rata 9-10 ruas. Pada abdomen juga terdapat lubang-lubang berpasangan
pada kedua sisi yang disebut spirakel (spiracle), berfungsi dalam proses
pernapasan (respiratory system).

B. Saran
Penulis sadar masih banyak kekurangan dalam pembuatan flipbook ini

baik tulisan maupun bahasan yang disajikan. Oleh karena itu saran dan kritik yang
membangun sangat diperlukan agar dapat lebih baik lagi. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita semua dan menjadi wawasan bagi kita semua.

12

DAFTAR PUSTAKA

Ariesta Ririn Kurniati. 2014. Inventarisasi Jenis- Jenis Serangga Pada Bunga Kelapa Sawit di
Perkebunan Kelapa Sawit PT Agri Andalas (Persero) Pasar Ngalam Kecamatan Air
Periukan Kabupaten Seluma dan Implementasinya Pembelajaran Biologi SMA 3
Seluma Kelas XB. Jurnal Pendidikan Biologi. Bengkulu.

Borror, D. J: C. A. Triplehorn and N. F. Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga.
Gajah Mada University Press.

Chapman, RF (1998). Serangga: Struktur dan Fungsi (Edisi ke-4). Cambridge, New York:
Cambridge University Press.

Gullan, PJ; Cranston, PS (2004). Serangga: garis besar entomologi . Inggris: Penerbitan
Blackwell. P.

Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta.

Triharso. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Untung K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press.

Meyer, John R. (5 Januari 2007). "Anatomi Eksternal: SAYAP". Departemen Entomologi,
Universitas Negeri Carolina Utara.

Snodgrass, RE (Desember 1993). Prinsip Morfologi Serangga . Cornell Univ Press.

Spieth, HT (1932). "Metode Baru Mempelajari Urat Sayap Lalat Capung dan Beberapa Hasil
Darinya (Ephemerida)". Berita Entomologi.

Deskripsi Serangga Serangga. http://etheses.uin-

malang.ac.id/1013/7/09620039%20BAB%20II.pdf. Diakses 13 Februari 2022.


Click to View FlipBook Version