Merajut Asa Aura Yasmin
Merajut Asa Aura Yasmin Editor: Aura Yasmin Desain creator: Aura Yasmin Distributor: SMPN 3 Batam
Setelah ditinggal oleh ayahnya, Jihan pun harus bertahan hidup dengan ibunya. Jihan selalu bersemangat untuk membantu ibunya. Setiap pulang sekolah, Jihan langsung bergegas menuju rumahnya untuk membantu sang ibu berjualan. Di sebuah kota yang dipenuhi oleh tuturan yang tak pernah berhenti, hiduplah seorang anak bernama Jihan Arumi. Dia adalah anak tunggal yang ditinggal ayahnya sejak dia berumur 8 tahun. Jihan harus menghadapi kenyataan yang sangat perih, karena dia harus terlahir tanpa mempunyai sebelah kakinya. Sesampainya dirumah, “Ibuuu, aku sudah sampai. Apakah semuanya sudah siap?”. Tanya Jihan sambil berteriak. 1 “Sudah naaakk”. Jawab sang ibu.
Setelah selesai berjualan, Jihan pun langsung pulang untuk beristirahat. "Assalamualaikum buuu". Sapa Jihan yang baru saja sampai di rumah. "Waalaikumsalam nak. Mandi dulu yaaa, baru istirahat". Jawab sang ibu. “Okee ibuuu”. Jawab Jihan dengan girang. “Aku pergi dulu ya buu”. Sembari menyalami tangan sang ibu. Tak terasa 10 tahun berlalu, sekarang Jihan pun telah berada di bangku kelas 3 SMA. Setelah semua masa sulit yang ia hadapi, akhirnya Jihan pun akan mengakhiri masa sekolahnya selama 12 tahun yang selalu ditemani oleh tongkat kruknya. 2 **** “Hati-hati ya nak!”. Jawab sang ibu yang merasa khawatir.
Seperti hari-hari biasanya, setelah Jihan pulang sekolah, dia langsung pergi untuk berjualan. Namun, sekarang Jihan sudah mempunyai toko sendiri. Sehingga, Jihan dan ibunya tak perlu lagi berkeliling untuk berjualan. Walaupun toko milik Jihan hanyalah toko kecil, tetapi dia tetap senang dan bersemangat untuk berjualan. Setelah sampai di toko, Jihan pun terkejut melihat ibunya yang sudah tergeletak tak berdaya. "Ibuu, ibu kenapa?". Tanya Jihan yang sedang menahan tangisannya. Karena ibunya tak kunjung bangun, Jihan pun membawa ibunya ke rumah sakit. Setelah sampai dirumah sakit, ibunya pun langsung diperiksa oleh dokter. Setelah selesai diperiksa oleh dokter, Jihan pun langsung menghampiri dokter tersebut. "Ibu saya kenapa dok?". Tanya Jihan yang terlihat panik. 3
4 Dokternya pun menjawab "Sepertinya ada tumor yang tumbuh di otak pasien, kami harus memeriksa lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang lebih pasti". Setelah mendengar perkataan dokter, Jihan pun langsung menangis tersedu-sedu. Setelah diperiksa lebih lanjut, dokter yang memeriksa ibu Jihan pun menghampiri Jihan. Ternyata dugaan dokter tersebut benar, hal itu membuat Jihan terpaku lemas dan tak berdaya. Lagi-lagi Jihan harus mengalami hal pahit dalam hidupnya, setelah ditinggal oleh sang ayah selama bertahun-tahun. Kini, dia harus bersiap untuk ditinggal oleh ibunya. Sekarang, Jihan harus mengerjakan segala hal sendiri, mulai dari menyiapkan segala kebutuhan toko, menyelesaikan pekerjaan rumah, dan lain-lain. Jihan masih belum terbiasa dengan keadaan ini. Karena, biasanya
5 Jihan hanya perlu membantu ibunya untuk berjualan, segala sesuatu yang Jihan perlukan juga pasti sudah disiapkan oleh ibunya. Jihan sekarang juga menjadi sangat sibuk, dia harus belajar untuk UAS, berjualan, dan juga mengunjungi ibunya yang berada di rumah sakit. **** Akhirnya hari terakhir ujian tiba, setelah Jihan selesai ujian dan ingin pulang untuk menemui ibunya, dia mendengar suara handphone nya yang berdering. Ternyata, yang menelpon Jihan adalah tetangga Jihan yang membantu merawat ibunya Jihan. Dia pun mengangkat teleponnya, "Haloo, kenapa mbak?". Tanya Jihan. Mbak pun menjawab sambil menahan isakannya, " Ibu meninggal Haann". Seketika, Jihan pun langsung terdiam dan tanpa sadar mengeluarkan air matanya.
6 Jihan langsung bergegas menuju ke rumah sakit dengan air matanya yang masih mengalir deras. Setelah sampai di rumah sakit, Jihan langsung pergi untuk menemui ibunya. "Ibuuuuu". Teriak Jihan sambil menangis. Jihan masih tak percaya bahwa orang yang paling dia sayangi sudah pergi meninggalkan Jihan untuk selama-lamanya. **** Selama Liburan setelah selesai ujian, Jihan hanya mengurung dirinya dikamar. Dia terus mencoba untuk mengingat kenangan-kenangan indah dirinya bersama sang ibu yang sekarang telah meninggalkannya. Dan, Jihan pun teringat oleh satu pesan yang pernah disampaikan ibunya. Sebagai manusia, kita harus bisa menjadi seseorang yang bermanfaat untuk banyak orang. Setelah mengingat kata-kata itu, Jihan pun langsung sadar.
7 Dia harus menjadi seseorang yang bisa berguna untuk orang banyak. Mengingat sang ibu yang terbaring tak berdaya, dan Jihan juga hanya bisa membantu membayar untuk pengobatan ibunya, dia memutuskan citacitanya untuk menjadi dokter. Menurut Jihan, dia memang tidak bisa mengobati ibunya. Tetapi, dia harus bisa mengobati setiap orang yang berharga bagi keluarganya, baik itu ibu, ayah, anak, atau siapapun itu. Sekarang Jihan sudah mulai memasuki semester genap. Dia mulai serius belajar untuk masuk universitas impiannya. Setiap harinya, dia tetap semangat untuk berjualan, dan belajar setiap ada waktu senggang. Dia juga harus menabung untuk memasuki universitas impiannya. Jadi, sekarang dia juga menitipkan keu dari tokonya ke toko lain untuk menambahkan uang tabungannya.
8 Hari terakhir ujian pun tiba. Seperti ujian pada hari sebelumnya, Jihan selalu berusaha untuk fokus dan tenang saat mengerjakan ujian. Setelah ujian selesai, Jihan bersama kawankawannya pergi untuk menghilangkan rasa penat mereka. Saat sedang berjalan, Jihan melihat ada sebuah hal yang sangat ia impikan, yaitu kaki palsu. Selama ini, Jihan merasa dia selalu menjadi pusat perhatian saat sedang berada di luar. Karena, dia berjalan hanya dengan bantuan tongkat kruk kesayangannya. Akhirnya Jihan pun sampai di rumah setelah pergi bersama kawan-kawannya. Jihan langsung pergi ke kamarnya untuk melihat uang tabungannya. Ternyata uang yang dikumpulkan Jihan selama semester genap ini sudah cukup banyak. Dia juga memikirkan untuk memasangkan kaki palsu untuk dirinya. Cukup lama baginya untuk memikirkan hal tersebut. Pada akhirnya dia memutuskan untuk memasangkan kaki palsu untuk dirinya.
9 Hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh oleh Jihan akhirnya pun tiba. Jihan sangat senang, karena akhirnya dia sudah memiliki sepasang kaki seperti orang-orang pada umumnya, walaupun sebelah kakinya hanyalah kaki palsu. **** Sekarang Jihan hanya fokus untuk belajar agar dia bisa diterima di kampus impiannya. Toko Jihan pun sekarang makin ramai, karena jihan mulai mempromosikan toko kuenya di media sosial. Sekarang Jihan juga sudah mempunyai 2 karyawan yang membantu Jihan untuk membuat kue dan menjaga tokonya saat Jihan sedang pergi. Tak terasa 7 bulan telah berlalu sejak kematian ibunya, Jihan pun berniat untuk mengunjungi makam sang ibu. Sesampainya di makam
10 sang ibu, Jihan langsung membacakan doa untuk ibunya. Setelah itu Jihan langsung menceritakan semua hal yang dialaminya semenjak ibunya pergi. “Ibu, akhirnya kita ketemu juga yaaa, kepergian ibu emang buat aku jadi sedih, tapi karena ibu juga aku bisa jadi Jihan yang lebih tangguh, kuat, dan pantang menyerah. Oohh iyaaa bu, sekarang aku juga udah punya kaki baru looo. Ibu jangan lupa doain aku yaaa. Aku selalu doain ibu loohh disini. Aku pergi dulu yaa buuu. Aku janji bakalan jadi orang yang berguna buat banyak orang, karena kata-kata itu yang buat aku jadi Jihan yang sekarang”. Curhat Jihan kepada ibunya yang telah tiada. **** Hari ini adalah hari yang membuat Jihan merasa sangat berdebar. Karena, hari ini adalah hari penentuan bagi Jihan untuk masuk ke universitas impiannya.
11 Jihan pun masuk ke ruang ujiannya. Sebelum memulai ujiannya, Jihan berdoa supaya ujiannya kali ini dilancarkan. Jihan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengerjakan ujiannya. Setelah selesai ujian, Jihan langsung keluar dari ruangan ujian sambil tak henti-hentinya berdoa. Sebelum pulang ke rumah, Jihan mampir ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Selama beberapa hari menunggu hasil dari ujian yang telah dikerjakan Jihan untuk memasuki universitas impiannya, hari yang ditunggu-tunggu Jihan pun tiba. Jihan masih sangat takut untuk membuka hasil ujian yang baru saja dikirimkan. Karena tak sanggup untuk membuka pengumuman tersebut, Jihan pun meminta bantuan dari salah satu karyawannya untuk membukakan hasil pengumuman tersebut. “Kaaakk, tolongin akuu dooonngg”. Panggil Jihan sambil tersenyum.
12 “Tolong apa Haan?”. Jawab kakak. Jihan pun menjawab sambil menyengir “Bukain ini dong kak, aku takuuutt. Hihihihihi". "Emang isinya apaan sih, sampe takut banget kayaknyaa?". Kata kakak yang terheran-heran. Kakak pun membuka hasil ujian tersebut. Lalu kakak mengembalikan handphone nya ke Jihan. Betapa terkejutnya Jihan setelah melihat hasil dari pengumuman tersebut. Ternyata dia berhasil masuk ke universitas impiannya. "Yeeeeyyyyy". Teriak Jihan sampai membuat kakak terkejut. **** Hari ini adalah hari pertama Jihan kuliah. Sampai sekarang, dia masih belum percaya bahwa dia bisa diterima di universitas impiannya. Jihan sudah menyiapkan semua yang dibutuhkannya dari lama, karena dia sudah tidak sabar untuk memulai kuliahnya.
13 Jihan pun menghabiskan waktu selama 4 tahun untuk mendapatkan gelar dokter nya. Walaupun sibuk dengan kuliahnya, Jihan masih tetap bersemangat untuk berjualan dan terus mengembangkan toko kuenya. Sekarang Jihan juga sudah mempunyai 1 cabang toko kuenya yang berada dekat dengan tempat kuliah Jihan. Setelah selesai menghadapi susah senang nya menjadi anak kedokteran. Akhirnya, hari kelulusan pun tiba. Jihan mulai bersiap-siap dari pagi, setelah selesai bersiap Jihan langsung pergi ke tempat kelulusannya. Jihan lulus dengan nilai IPK 3,8. Jihan sangat bangga kepada dirinya, karena dia bisa menepati janjinya kepada sang ibu. Jihan tahu bahwa perjalanan dia untuk menjadi dokter masih sangat panjang. Mulai dari koas, dan mengambil spesialis, itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Namun, itu semua tidak akan mematahkan semangat Jihan.
14 Waktu terus berlalu, setelah menjalani koas selama 2 tahun dan mengambil spesialis selama 5 tahun, akhirnya Jihan resmi menjadi dokter dengan gelar Sp.OT. Jihan masih sering memandangi jas dokternya yang tertulis nama dia dengan gelarnya. Jihan merasa sangat senang saat melihat jas dokternya yang dia dapatkan dengan bersusah payah selama bertahun-tahun. Jihan merasa, mungkin jika dia tidak kehilangan ibu nya yang terkena penyakit, dia tidak akan menjadi Jihan yang sukses seperti sekarang.
Halooo semuanyaaa, kenalin yaaa, nama aku Yasmin. Buat yang baca buku ini, aku mau say thank you buat kalian semua, karena udah mau luangin waktunya buat baca buku aku. Sorry ya kalau bukunya masih banyak kurangnya. Jujur aja niihh, sebenernya aku males banget sih mau bikin buku ini. Cuma, karena ini buat nilai aku sendiri jadi aku mau ngasih yang terbaik buat aku sendiri. Makasih buat kawankawan aku yang udah mau ngasih idenya ke aku. Makasih juga buat guru Bahasa Indonesia aku yang tercinta. Sebenarnya, aku gak mau buat si Jihan jadi dokter, cuma karena cita-cita aku jadi dokter, jadinya aku samain aja deeehhh. Doain aku yaaaa, mudah-mudahan aku juga bisa jadi dokter yang sukses kayak Jihan. Nama: Aura Yasmin Kelas: 9.4 Lahir: Batam, 10 Mei 2009 Hobby: Main voli, scroll tiktok, nonton drakor, suka sama orang ganteng yang lewat di fyp, co shopee setiap tanggal kembar, tidur, dan main sama kucing. Oohhh iya guys, kalau misalnya kalian mau buat buku, jangan copy paste punya orang lain yaaa. Kalian boleh jadiin itu inspirasi, tapi sebisa mungkin jangan di salin plakketiplak ya man-teman. Aku cuma mau ngasih tau aja niiiihh, ini cerita aku buat dari ide aku sendiri yaaa, emang ada bantuan dari kawan-kawan aku, tapi aku gk nyari dari mbah google loh yaaaa... Profil Penulis 15
Buku ini menceritakan tentang kehidupan seorang anak yang memiliki keterbatasan yang bernama Jihan. Dia berumur 8 tahun dan baru saja ditinggalkan oleh ayahnya. Namun, Jihan memiliki ibu yang sangat hebat, sehingga Jihan merasa kasih sayang dia tetap terpenuhi walau dia harus melanjutkan hidupnya tanpa seorang ayah. Setelah beranjak dewasa, Jihan akhirnya mengetahui bahwa sang ibu terkena penyakit yang mengerikan. Apa yang akan terjadi dengan kehidup Jihan setelah dia mengetahui bahwa ibu nya mengidap penyakit tersebut? Merajut Asa