The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alifanurulfitrah, 2022-09-25 08:41:00

Hitung jenis leukosit

Hitung jenis leukosit

E-MODUL

HITUNG JENIS
LEUKOSIT

ALIFA NURUL FITRAH
PO714203211006

Introduction

Hitung jenis leukosit merupakan pemeriksaan
yang dilakukan dengan menghitung leukosit
berdasarkan ciri morfologi tiap jenis leukosit di
sediaan apus darah tepi (SADT)

Ciri morfologi jenis leukosit
didasarkan pada ukuran sel,
bentuk inti sel, kromatin, dan
sitoplasma serta unsur yang
terdapat didalam sitoplasma.

Hitung jenis leukosit biasanya dilakukan dalam
100 sel leukosit dan dilaporkan dalam bentuk
persentase. Selain itu, hitung jenis leukosit dapat
juga dilaporkan sebagai nilai absolut.

Penghitungan jenis leukosit dapat dilakukan secara
mikroskopik, yaitu dengan mengenali dan menghitung jenis
sel leukosit menggunakan mikroskop.

Selain itu penghitungan juga dapat dilakukan dengan
menggunakan alat otomatisasi (Hematology Analyzer).
Jenis sel leukosit yang dilakukan hitung jenis adalah
basophil, eosinophil, neutrophil batang, neutrophil segmen,
limfosit dan monosit

TUJUAN PEMERIKSAAN HITUNG JENIS
LEUKOSIT

1. Untuk dapat membedakan berbagai jenis

leukosit

2. Mengetahui jenis leukosit yang

menyebabkan kenaikan jumlah leukosit

3. Mendiagnosa masalah kesehatan dari jenis

leukosit yang meningkat

JENIS LEUKOSIT

MORFOLOGI LEUKOSIT

BASOFIL Sitoplasma berwarna
EOSINOFIL ungu lavender nukleus
biru muda sampai biru
tua keunguan, granula
biru tua dan menutupi
inti.

Inti sel memiliki 2–3
lobus yang

dihubungkan dengan
benang filamen,

sitoplasma dipenuhi
dengan granula besar
dan berwarna jingga.

NEUTROFIL Sitoplasma merah
BATANG muda, inti sel tidak
bersegmen melainkan
NEUTROFIL hanya memiliki 1 lobus
SEGMEN dengan batang
mempunyai lekukan
LIMFOSIT melebihi setengah
diameter inti sel.

Memiliki inti satu
dengan 2 – 5 lobus,
didalam sitoplasmanya
terdapat granula halus
dalam jumlah banyak
berwarna ungu muda

Nukleus bulat dengan
kromatin padat
berwarna biru-ungu
tua, mengisi sebagian
besar sel dan hanya
sedikit bagian
sitoplasma

MONOSIT Inti tidak beraturan,
sitoplasma berwarna
keabu-abuan, terdapat
vakuola dan
pesudopodi

CARA MEMBUAT SEDIAAN ADT

ALAT & BAHAN Kaca Objek

Darah EDTA / Syarat mutlak kaca
Darah Kapiler objek untuk membuat

Darah vena dan kapiler ADT adalah bersih,
dapat digunakan, jika kering dan jernih.
menggunakan darah Perhatikan lemak dan
vena, maka pembuatan detergen yang dapat
menyebabkan apusan
sediaan ADT harus berlubang – lubang.
dilakukan sebelum 1

jam sejak sampel
ditampung dan

disimpan di suhu 18-
25ºC

Spreader

Bila tidak ada spreader dapat menggunakan
kaca objek. Bagian tepi spreader harus diusap

secara hati-hati sebelum atau setelah
digunakan, dan selama bagian tepi tidak rusak

spreader dapat digunakan

CARA MEMBUAT SEDIAAN ADT

Letakkan satu tetes kecil darah, ±
2-3 mm dari ujung kaca objek

Letakkan spreader dengan sudut
30-45 derajat kaca objek didepan

tetes darah

Tarik spreader ke belakang sehingga
menyentuh tetes darah, tunggu sampai darah
menyebar pada sudut tersebut.

Segera dorong spreader ke depan dengan
cepat dan tekanan yang cukup. Biarkan
hapusan mengering di udara. Tuliskan
identitas pasien pada bagian tebal hapusan
dengan pensil

MORFOLOGI APUSAN DARAH TEPI

1. Kepala 2. Badan
Bagian tempat darah Bagian yang berada
diteteskan sebelum diantara kepala
dilakukan apusan dengan ekor

3. EKOR
BAGIAN UJUNG
PREPARAT ATAU
AKHIR APUSAN

DAERAH BACA APUSAN DARAH TEPI

APUSAN DARAH TEPI YANG
BAIK SECARA VISUAL

Ketebalannya gradual, paling tebal di
daerah kepala, makin menipis ke arah
ekor.
Apusan tidak melampaui atau
menyentuh pinggir kaca objek
Tidak bergelombang atau terputus-
putus
Tidak berlubang-lubang
Bagian ekornya tidak membentuk
“bendera robek”
Panjang apusan kira-kira ⅔ Panjang
kaca objek

SEBAB AKIBAT APUSAN DARAH TEPI TIDAK
LAYAK DIPERIKSA

Pemeriksaan ditunda setelah sampel berhasil diambil :
Distorsi atau kerusakan sel – sel darah
Lambat melakukan apusan setelah darah diteteskan
pada kaca objek : Terjadi disproporsi sel-sel yang
berukuran besar seperti monosit dan neutrophil pada
“feather edge”
Kaca Objek : Kotor Bintik – bintik pada apusan
Tetesan terlalu banyak atau terlalu sedikit : Apusan
terlalu tebal dan Panjang , atau terlalu tipis dan pendek

Sudut geseran terlalu besar atau terlalu kecil :Bila
sudut terlalu besar, maka apusan terlalu tebal, dan bila
sudut terlalu kecil, maka apusan menjadi terlalu
panjang
Geseran terlalu lambat : Penyebaran sel tidak baik
Tekanan spreader pada kaca objek tidak akurat :
Tekanan yang terlalu kuat menyebabkan apusan terlalu
tipis
Kelembapan ruang : Kelembapan yang tinggi
menyebabkan apusan lama menjadi kering.
Pengeringan yang lama mengakibatkan eritrosit rusak

CARA MEWARNAI SEDIAAN ADT

PEWARNAAN SADT

Pewarnaan yang dipakai untuk evaluasi
SADT yaitu pewarnaan dengan prinsip
Romanowsky seperti Wright, Giemsa, May
Grunwald-Giemsa, Jenner, dan Leishman.

Dasar dari pewarnaan Romanowsky adalah
penggunaan dua zat warna yang berbeda,
yaitu Azure B (Trimetiltionin) yang bersifat
basa dan Eosin Y (Tetrabromofluorescein)
yang bersifat asam.

Azure B akan mewarnai komponen sel
yang bersifat asam seperti kromatin,
DNA dan RNA, sedangkan Eosin Y akan
mewarnai komponen sel yang bersifat
basa seperti granula eosinophil dan
hemoglobin.

Zat warna yang dibuat oleh perusahaan yang berbeda sering
mengandung zat warna lain seperti Azure A, Azure C, Metil
Violet dll yang menyebabkan hasil pewarnaan berbeda
beda.

Ikatan Eosin Y pada Azure B yang beragregasi dapat
menimbulkan warna ungu dan keadaan ini dikenal sebagai
efek Romanowsky Giemsa.

ICSH menganjurkan penggunaan zat warna yang berisi
Azure B dan Eosin Y, sehingga akan memberikan hasil
pewarnaan yang sama

PEWARNAAN WRIGHT
Letakkan preparat pada rak pewarnaan
Fiksasi preparat dengan Metanol dengan mencelupkan
atau menggenangi selama 5 menit
Genangi SADT dengan zat warna Wright, biarkan selama
10 menit.
Tambahkan Buffer pH 7 dalam jumlah yang sama
dengan zat warna. Usahakan agar buffer tercampur rata
dengan zat warna. Biarkan selama 10 menit.

Azure B akan mewarnai komponen sel yang bersifat
asam seperti kromatin, DNA dan RNA, sedangkan
Eosin Y akan mewarnai komponen sel yang bersifat
basa seperti granula eosinophil dan hemoglobin.

Zat warna yang dibuat oleh perusahaan yang berbeda sering
mengandung zat warna lain seperti Azure A, Azure C, Metil
Violet dll yang menyebabkan hasil pewarnaan berbeda
beda.

Ikatan Eosin Y pada Azure B yang beragregasi dapat
menimbulkan warna ungu dan keadaan ini dikenal sebagai
efek Romanowsky Giemsa.

ICSH menganjurkan penggunaan zat warna yang berisi
Azure B dan Eosin Y, sehingga akan memberikan hasil
pewarnaan yang sama

PEWARNAAN WRIGHT
Letakkan preparat pada rak pewarnaan
Fiksasi preparat dengan Metanol dengan mencelupkan
atau menggenangi selama 5 menit
Genangi SADT dengan zat warna Wright, biarkan selama
10 menit.
Tambahkan Buffer pH 7 dalam jumlah yang sama
dengan zat warna. Usahakan agar buffer tercampur rata
dengan zat warna. Biarkan selama 10 menit.

Bilas dengan air mengalir, mula – mula dengan aliran
lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan
menghilangkan semua kelebihan zat warna. Letakkan
SADT dalam rak dalam posisi tegak dan biarkan
mengering.

PEWARNAAN GIEMSA

Letakkan preparat pada rak pewarnaan
Fiksasi preparat dengan Metanol dengan mencelupkan
atau menggenangi selama 5 menit
Genangi zat warna giemsa yang sudah diencerkan
dengan buffer 1:9 (1 ml giemsa : 9 ml buffer) selama 30
menit atau 1:3 (1 ml giemsa : 3 ml buffer) selama 15 menit
Bilas dengan air mengalir, mula – mula dengan aliran
lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan
menghilangkan semua kelebihan zat warna. Letakkan
SADT dalam rak dalam posisi tegak dan biarkan
mengering.

PEWARNAAN MAY GRUNWALD - GIEMSA

Letakkan preparat pada rak pewarnaan
Fiksasi preparat dengan Metanol dengan mencelupkan
atau menggenangi selama 5 menit
Genangi SADT dengan zat warna May Grunwald yang
sudah diencerkan dengan buffer pH 6,4 dengan
perbandingan 1:1 selama 2 menit
Bilas dengan air mengalir

Genangi dengan larutan giemsa 5% (larutan giemsa 1 ml +
buffer pH 6,4 19 ml) biarkan selama 30 menit
Bilas dengan air mengalir, mula – mula dengan aliran
lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan
menghilangkan semua kelebihan zat warna. Letakkan
SADT dalam rak dalam posisi tegak dan biarkan
mengering.

PROSEDUR PEMERIKSAAN HITUNG JENIS
LEUKOSIT

PENILAIAN JENIS LEUKOSIT

Bagian SADT

Cara Membaca
SADT

Morfologi sel
darah

PERHITUNGAN JENIS LEUKOSIT
Hitung jenis leukosit dapat dilaporkan dalam bentuk
persentase dari tiap jenis leukosit dan dalam nilai absolut.
Pelaporan hasil dalam bentuk persentase, dapat dilakukan
menggunakan differential counter atau dapat ditulis
menggunakan tabel.

Hasil dilaporkan sebagai berikut : Limfosit : 31 % (20-
Basofil : 1 % (0-1%) 40%)
Eosinofil : 3 % (1-3%) Monosit : 6 % (2-8%)
Neutrofil Batang : 5 % (2-6%)
Neutrofil Segmen : 54 % (50-
70%)

Selain persentase, hitung jenis leukosit juga dapat
dilaporkan dalam bentuk nilai absolut.
Perhitungannya adalah sebagai berikut :




H i t u n g J e n i s L e u k o s i t A
b s o l u t :





100

Contoh :
Hasil hitung jenis sel neutrophil segmen : 54%
Hitung jumlah leukosit : 6000 sel/mm3

Hitung Neutrofil Segmen Absolut :

Nilai normal jenis leukosit absolut :
Basofil : 0 – 50 sel/mm3
Eosinofil : 40 – 300 sel/mm3
Neutrofil Stab : 80 – 600 sel/mm3
Neutrofil Segmen : 2000 – 7000
sel/mm3
Limfosit : 800 – 4000
sel/mm3
Monosit : 80 – 800 sel/mm3





100




5 4 6 0 0 0
3 2 4 . 0 0 0

100 100
= 3240 sel/mm3

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PEMERIKSAAN HITUNG JENIS LEUKOSIT

Faktor-faktor yang memengaruhi pemeriksaan hitung
jenis leukosit dapat berasal dari faktor mekanik, yaitu
pengumpulan sampel darah, proses pembuatan dan
proses pewarnaan SADT

1. PENGUMPULAN
SAMPEL DARAH

Rasio antara darah dan antikoagulan harus sesuai
Jika menggunakan darah kapiler, pastikan kerusakan jaringan
minimal karena akan memengaruhi distribusi sel
Stabilitas sampel darah tidak lebih dari 1 jam karena dapat
mengakibatkan perubahan pada morfologi sel leukosit sehingga
sulit teridentifikasi
Homogenisasi dapat memengaruhi distribusi maupun jumlah
leukosit di SADT

2. PEMBUATAN SADT
Sudut spreader saat mendorong dan kecepatan
menggeser menentukan hasil akhir apusan darah
Viskositas darah dapat memengaruhi panjang
SADT dan area hitung
Kelembaban udara yang tinggi menyebabkan
proses pengeringan SADT tdk terlalu baik
akibatnya dapat timbul zona pucat dibagian
tengah sel sehingga akan mempersulit
pengamatan pada sel eritrosit hipokrom
Slide yang terlalu tipis atau penggunaan
spreader dengan bagian tepi kasar dapat
memengaruhi sebaran leukosit yang
terakumulasi dibagian ekor SADT

3. FIKSASI

Proses fiksasi yang tidak baik dapat membuat tampilan sel darah
tidak sesuai dan gambaran eritrosit menjadi krenasi (burr cell)
Fiksasi yang dilakukan sebelum SADT kering, komponen didalam
inti sel akan keluar ke sitoplasma
Fiksasi dengan konsentrasi metanol yang tidak sesuai, dengan
kandungan air yang lebih banyak, akan menghasilkan morfologi
eritrosit yang terlihat seperti hipokrom
Penundaan proses fiksasi dalam jangka waktu lama dapat
menyebabkan perubahan karakteristik zat warna yang terlihat
pada SADT

4. PEWARNAAN SADT

Baik atau buruknya kualitas pewarnaan SADT sangat
dipengaruhi oleh konsentrasi zat warna dan berapa lama zat
warna kontak dengan SADT
Pewarnaan harus menggunakan pH larutan yang sesuai, jika pH
larutan terlalu rendah komponen sel basofil tidak akan
terwarnai dengan baik. Selain itu warna leukosit secara
keseluruhan menjadi pucat. Jika pH larutan terlalu tinggi, zat
warna dasar yaitu Azure B yang berwarna biru akan diserap
berlebih oleh sel akibatnya sitoplasma sel akan terlihat kebiruan
menyerupai sel leukosit abnormal seperti granulasi toksik pada
sel neutrofil
Zat warna yang tidak disaring dapat menimbulkan endapan
pada SADT yang akan mengganggu proses penghitungan

5. PENGHITUNGAN SADT

Area baca/lapang pandang dapat memengaruhi tampilan sel
leukosit
Bagian kepala SADT harus dihindari sebagai area hitung jenis
leukosit maupun pengamatan morfologi, karena warna sel
menjadi dua kali lipat lebih pekat dibandingkan bagian ekor
SADT
Penyebaran sel leukosit dapat menjadi faktor inakurasi hitung
jenis leukosit
Sel neutrophil umumnya berada dibagian ekor SDAT,
sedangkan sel limfosit lebih banyak berada dibagian badan
SADT

6. KETERAMPILAN PETUGAS

Selain faktor mekanik, keterampilan petugas laboratorium
dalam mengenali jenis sel leukosit merupakan faktor penting
pada hitung jenis leukosit metode manual. Petugas
laboratorium yang tidak professional dan berpengalaman dapat
salah dalam mengidentifikasi jenis sel leukosit. Sebagai contoh,
sel monosit dapat sulit dibedakan dari sel limfosit besar


Click to View FlipBook Version