The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by handikaandryana82, 2022-10-07 09:15:32

Ragam Jenis Musik Tradisional

Bahan Ajar

BAHAN AJAR

MUSIK TRADISIONAL BALI
(Judul Materi Ajar)

Mata Pelajaran/Tema/Subtema : Seni Budaya (Musik)
Kelas/Semester : X/I
Tahun Pelajaran : 2022/2023

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat :
• Menjelaskan ragam jenis alat music tradisional dengan baik
• Menjelaskan fungsi alat musik tradisional dengan baik
• Membandingkan teknik bermain alat-alat music tradisional dengan benar

B. Uraian Materi

Musik tradisional adalah jenis musik yang lahir dan berkembang dari
kebudayaan suatu daerah, kemudian diwariskan secara turun temurun. Musik
tradisional juga bisa diartikan sebagai musik asli suatu daerah yang terkena
pengaruh adat istiadat, kepercayaan, serta agama, sehingga mempunyai ciri
khasnya sendiri.

Indonesia terkenal dengan kebudayaan dan kearifan lokalnya, tidak
dipungkiri bahwa di Indonesia terdapat banyak sekali music tradisional di setiap
daerah. Bali salah satunya, music tradisional Bali atau bisa dikatakan karawitan
Bali terdapat banyak sekali ragam jenisnya. Karawaitan bali merupakan seni
suara dan instrumental yang memiliki laras pelog dan slendro. Terdapat 7 nada
dasar dalam music tradisional Bali (karawitan Bali) dengan notasi ding-dong.
Notasi ding-dong adalah notasi yang biasa digunakan dalam karawitan Bali.
Adapun nada dan symbol notasinya sebagai berikut.

Berdasarkan cara memainkannya alat musik dapat dibedakan menjadi :
a. Dipukul
Teknik yang digunakan dengan memukul bagian alat musik menggunakan
alat pemukul yang terbuat kayu yang dilapisi kain atau karet, kayu tanpa
pelapis, dan juga menggunakan tangan telanjang. Alat musik yang cara
memainkannya dengan dipukul adalah alat musik idiophone dan
membranophone, contoh: tifa dari Papua, rebana dari sumatra. Bonang,
saron, kendang dari Jawa, dan lain-lain.

b. Dipetik
Dawai-dawai pada alat musik chordophone akan menghasilkan bunyi
ketika di petik, cara memetik dawai dengan bisa dengan jari jari tangan dan
dengan menambahkan alat bantu berupa pick dari logam atau plastik untuk
menghasilkan bunyi yang lebih nyaring, contoh : gambus dari Riau, kecapi
dari Jawa Barat, sape dari Kalimantan, Sasando dari Rote NTT dll.

c. Digesek
Selain dengan cara dipetik, terdapat alat musik chordophone yang cara
memainkannya dengan digesek. Dawai alat musik digesek menggunakan
bow yang terbuat dari rambut kuda atau bahan sintetis dan stik kayu,
contohnya : tehyan dari Betawi/DKI, rebab dari Yogyakarta. keso keso dari
Sulawesi Selatan dll.

d. Ditiup
Memainkan alat musik tiup, membutuhkan teknik dan latihan yang cukup,
tidak semua orang mampu menghasilkan bunyi yang baik pada saat
meniupkan udara pada bagian alat musik yang biasanya berupa lubang
kecil. Tekanan udara harus sesuai dengan intensitas nada yang dimainkan,
nada tinggi membutuhkan tekanan udara yang lebih banyak dibandingan
pada saat meniup untuk nada rendah. Contoh : Saluang dari Sumatra Barat,
Serangkodari Jambi, Foy doa dari Flores dll.

e. Ditepuk
Yaitu alat musik yang dimainkan dengan menggunakan telapak tangan
langsung terutama pada alat-alat yang berbahan kulit atau membran.
Contoh seperti kendang, tifa, gendang, rebana, dan lain-lain.

f. Digoyang
Alat musik yang dimainkan dengan digoyang seperti angklung

Ragam Jenis Alat Musik Tradisional Bali
Di bali terdapat banyak sekali alat music tradisional, ada yang terbuat dari
bambu, kulit sapi, perunggu, senar/dawai, dll. Berikut ini adalah beberapa alat
music tradisional Bali :
❖ Jegog

Jegog adalah ansambel musik tradisional khas Kabupaten Jembrana, Bali
yang terbuat dari bambu. Dalam beberapa tulisan disebutkan, bahwa pada
awalnya kesenian ini sebagai hiburan pengisi waktu pada saat petani
menghalau burung di sawah. Alat musik jegog juga difungsikan sebagai alat
untuk mengumpulkan masyarakat sebagai pertanda dimulainya kegiatan
kemasyarakatan seperti gotong royong dan lain sebagainya. Pada
perkembangan berikutnya Jegog dikembangkan sebagai ensambel
/barungan gambelan oleh seorang seniman yang bernama Kiang Gliduh dari
Dusun Sebual Desa Dangintukadaya sekitar Tahun 1912. Diantara
gambelan Bali yang terbuat dari bambu, maka Jegog inilah yang
mempunyai ukuran paling besar terutama bagian instrumennya yang paling
belakang biasa disebut Jegogan. Beberapa sumber mengatakan bahwa
bentuk gambelan jegog yang angkuh dan terkesan sombong ini, merupakan
bentuk perlawanan secara kultural kepada penguasa pada saat itu, karena
seperti kita ketahui, bahwa cikal bakal penduduk jembrana, merupakan
tahanan politik yang dibuang ke jimbarwana nama lain dari Jembrana pada
masa kerajaan. Kesenian jegog disamping disajikan secara instrumentalia,
juga berfungsi mengiringi tari khas daerah Jembrana yang bernama Tari
Jegog. Gerak-gerak tari jegog banyak diangkat dari Pencak Silat. Akan
tetapi yang paling khas dari pementasan kesenian ini, adalah Jegog
Mebarung; yaitu dua group crew jegog menyajikan tabuh jegog secara
bersamaan. Ada ciri khas cara menabuh/ memukul instrumennya yang
berukuran terbesar, dimana penabuhnya jongkok bertengger diatas bagian
belakang gambelannya. Tiap-tiap instrumen mempunyai jumlah nada yang
sama, yaitu delapan buah atau dua oktaf. Larasnya adalah laras selendro,
tetapi hanya memakai empat nada hingga memberi nada selendro dengan
warna yang khas. Satu barung gambelan Jegog terdiri dari tiga tungguh
Barangan, tiga tungguh Kancilan, tiga tungguh Suir, dua tungguh Kuntung,
dua tungguh Undir, dan satu Jegogan. Jegog tersebar hampir diseluruh desa
di Kabupaten Jembrana. Sebagai kesenian profan/upah-upahan eksistensi
kesenian jegog sangat bergantung kepada minat pengupahnya. Oleh
karenanya jumlah kesenian ini terkadang fluktuatif. Dari data yang ada
kesenian jegog saat ini masih tersisa 85 group/sekaa. Kini gambelan Jegog
sangat populer di luar negeri terutama Negeri Sakura Jepang. Hampir tiap
tahun ada saja group kesenian dari Jembrana yang melakukan pementasan
di Jepang. Beberapa Event juga pernah mengundang Kesenian Jegog
sebagai pengisi acara seperti pembukaan World Cup di Prancis Tahun 1998.
Terakhir Kesenian Jegog dipelajari oleh group Sekar Jaya di California
Amerika Serikat, dan akan tampil pada ajang Pesta Kesenian Bali 2017 di
Denpasar.

Gambar 1. Jegog

Gambar 2. Pementasan Jegog

Teknik bermain gamelan jegog adalah menggunakan 2 panggul dengan
posisi berdiri. Instrument baris 1, 2 & 3 menggunakan panggul yang terbuat
dari kayu. Untuk baris ke 4 atau yang paling belakang (jegogan)
menggunakan panggul yang terbuat dari karet atau ban bekas dan posisi
pemain (penabuh) dengan cara duduk di atas instrument itu sendiri.

❖ Gong kebyar
Gong Kebyar adalah barungan gamelan Bali sebagai perkembangan terakhir
dari Gong Gede, memakai laras pelog lima nada, yaitu : nding, ndong,
ndeng, ndung, ndang. Gong kebyar terbuat dari perunggu atau kuningan
yang diolah berbentuk bilahan-bilhan. Bilahan dalam gamelan gong kebyar
terdiri dari 10 bilahan yang memiliki 5 nada sama namun dengan frekuensi
rendah dan frekusensi tinggi. Yang awal mulanya tidak mempergunakan
instrumen terompong. Selanjutnya Gong Kebyar dapat diartikan suatu
barungan gamelan gong yang didalam permainannya sangat mengutamakan
kekompakan suara, dinamika, melodi dan tempo. Ketrampilan mengolah
melodi dengan berbagai variasi permainan dinamika yang dinamis dan
permainan tempo yang diatur sedemikian rupa serta didukung oleh teknik
permainan yang cukup tinggi sehingga dapat membedakan style Gong
Kebyar yang satu dengan yang lainnya.

Gambar 3. Gong Kebyar

Gambar 4. Pementasan Gong Kebyar

Dalam tulisan-tulisan mengenai gamelan bali terdahulu secara umum telah
dikemukakan oleh masing-masing penulisnya bahwa gamelan gong kebyar
ini baru muncul pada permulaan abad XX, yang pertama kali diperkirakan
muncul di daerah Bali Utara tepatnya sekitar tahun 1915 di desa Jagaraga.
Teknik bermain gamelan gong kebyar adalah dengan posisi duduk. Tangan
kanan memegang panggul kemudian tangan kiri memegang bilahan
gamelan setelah dipukul oleh tangan kanan itu sendiri. Misalnya tangan
kanan memukul nada 1, setelah itu ke nada 2, maka nada 1 itu dipegang oleh
tangan kiri bersamaan dengan memukul nada 2 yang menggunakan tangan
kanan. Supaya suara nadanya menjadi jelas dan tidak bergemuruh.

❖ Preret
Preret merupakan alat music tiup yang berbentuk mirip seperti terompet.
berbeda dengan alat music lainnya. Dalam meniup alat music ini,
membutuhkan stamina yang kuat dan selalu rutin berlatih. Dengan suara
khas yang mendayu-dayu, menjadikan alat music tiup ini memiliki
karakterisik tersendiri yang berbeda dengan sulih atau terompet. Teknik
bermainnya hampir sama dengan suling bali yang memiliki 6 lobang namun
memiliki nada slendro (nada yang oktafnya hamper sama). Biasanya pemain
suling ini mengekplorasi nada dasarnya saat memainkan preret sehingga

memuncul keunikan seperti nada-nada yang eksploratis. Suaranya pun
terdengar magis dan menyayat hati. Bahkan menurut cerita orang tua,
alunan nada dari preret ini bisa memikat hati para wanita. Konon jika ada
pria yang ingin memikat hati seorang wanita, cukup memainkan alat tiup ini
dari plataran rumah mereka bisa memikat hati lawan jenis. Bahkan sampai
akan mencari (tertarik) asal suara preret tersebut. Alunan preret yang cukup
keras walaupun tanpa pengeras suara, terdengar sayup-sayup sampai 1 km.
alat music terbuat dari bamboo-bambu kecil yang disambung dengan
ukuran tak sama. Di bagian tubuh bamboo memiliki 7 lubang dengan suara
khas yang menyayat hati.

Gambar 5. Pemain Preret

❖ Gender wayang

Gender adalah nama dari sebuah tungguhan gamelan yang berbentuk bilah

(metalophone). Kata gender biasanya dirangkaikan dengan

kata rambat dan wayang yang mempunyai bentuk, laras, dan fungsi yang

berbeda. Gender Wayang adalah nama dari salah satu tungguhan

gender yang berbilah sepuluh dan berlaras selendro. Spesifikasi Gender

Wayang adalah sebuah tungguhan gender yang dipakai untuk mengiringi

pertunjukan wayang. Gender wayang merupakan sebuah gamelan yang

masuk pada klasifikasi golongan gamelan tua, di Bali gambelan Gender

Wayang diduga telah ada pada abad ke 14 . Tunggguhan gender atau yang

lebih dikenal dengan gamelan Gender Wayang keberadaannya menyebar

hampir diseluruh penjuru pulau Bali. Gender Wayang adalah sebuah

instrument yang digunakan untuk mengiringi upacara keagamaan di Bali

seperti pada upacara Dewa Yadnya untuk mengiringi pertunjukan Wayang

Gedog (wayang lemah) dan pada upacara Manusa Yadnya mengiringi prosesi

potong gigi (mepandes). Begitu luas manfaat dan fungsi dari

keberadaan gamelan Gender Wayang tersebut bagi kehidupan ritual religius

dari masyarakat Bali, namun semua itu masih terbatas dari segi konteks fungsi

dari unsur musikalnya, apabila dilihat dari tinjauan etnomusikologi banyak

elemen-elemen yang belum terungkap yang memberikan dampak dan

pengaruh dalam perkembangan gamelan Gender Wayang khususnya. Di sini

pendekatan etnomusikologi digunakan bukan hanya untuk mengulas unsur

musikalnya saja, akan tetapi digunakan untuk membedah faktor-faktor lain

diluar unsur musikal. Seperti bagaimana hubungannya dengan lingkungan

masyarakat pendukung, letak geografis, bentuk topografi, bahasa,

kebudayaaan, dan agama dari sebuah tempat hidup berkembangnya gamelan
Gender Wayang.

Gambar 6. Gender wayang

Gambar 7. Pementasan gender wayang
Gamelan Gender Wayang jika dilihat dari sudut etnomusikologi, banyak aspek
yang muncul bagaikan tiada bertepi, begitu luasnya pengungkapan hal-hal
yang sebelumnya belum pernah terungkap namun lewat pendekatan
etnomusikologi sebagai sebuah pisau bedah diharapkan mampu
menghadirkan hubungan-hubungan, kaitan-kaitan baru yang terkait dengan
sumber atau pokok permasalahan. Di sini gamelan Gender Wayang hadir
tidak saja sebagai sebuah bagian dari kesenian, namun Bali sebagai daerah
tempat lahir dan berkembangnya juga sebagai bagian dari kajian karena Bali
merupakan warisan budaya (heritage culture), filasafat, dan agama dari hidup
berkembangnya Gender Wayang. Dari sudut budaya, karakteristik
masyarakat pendukung sangat mempengaruhi style atau gaya kedaerahan
dari Gender Wayang, terbukti adanya tiga laras slendro dalam
kategori saih atau tinggi rendahnya Tuning. Disamping itu juga berpengaruh
pada bentuk repertoar gending, jenis tungguhan, dan sistem
permainan/pola tetabuhan. Teknik bermain gamelan ini adalah menggunakan
2 tangan dengan panggul yang dijepit di antara jari telunjuk dan jari tengan.
kkkkkkkkk

❖ Kendang mebarung

Kendang Mebarung adalah salah satu jenis gamelan Bali yang
termasuk barungan (Ensemble musik) langka yang terdapat di
daerah Jembrana, daerah asal gamelan Jegog dan Gebyog. Ada yang
berpendapat bahwa Kendang Mabarung adalah gamelan angklung yang
memakai kendang besar atau kendang barung. Akan tetapi karena peranan
kendang besar sangat menonjol dalam pertunjukan, maka penamaan
terhadap barungan ini menjadi terfokus kepada kendang. Kendang
Mabarung menggunakan kendang tradisional yang berukuran sangat besar,
yaitu garis tengahnya bisa sampai 80 cm hingga 82 cm dengan panjang
badan kendang tersebut mencapai 2,25 meter. Musik yang ditimbulkan
cenderung berkesan ritmis, karena pukulan kendang itu sendiri mempunyai
pola ritme yang bermacam-macam. Pembawa melodi dalam barungan ini
adalah instrumen angklung yang berlaras pelog empat nada sama seperti
laras Jegog. Penabuh Kendang Mabarung adalah 2 orang, masing-masing
memukul 1 sisi kendang dengan alat pemukul. Teknik pukulannya adalah
kotekan yang dilakukan secara imbal. Kendang Mabarung sering
ditampilkan untuk mengiringi perlombaan Mekepung, kadang kala untuk
mengiringi upacara Manusa Yadnya dan Dewa Yadnya. Teknik bermain
gamelan ini adalah menggunakan panggul yang terbuat dari karet.

Gambar 8. Kendang Mebarung

Fungsi alat music tradisional
Sebagai bagian penting budaya dari sebuah komunitas masyarakat alat music
memainkan peran dalam sejuumlah aspek kehidupan. Meski begitu, beberapa
fungsi alat music tradisional bisa jadi sudah mulai berubah seiring perubahan gaya
hidup masyarakat dan penetrasi teknologi. Berikut merupakan enam fungsi alat
musik tradisional.

1. Sarana Komunikasi
Pada masrayakat tradisional Indonesia, beberapa alat music dimainkan
sebagai media untuk berkomunikasi secara masal. Bunyi yang dihasilkan
dari alat music memberikan pertanda khusus yang oleh masyarakat

pendengarnya dapat dipahami sebagai sebuah pesan atau isyarat tertentu.
Khususnya di lingkungan masyarakat pedesaan, fungsi ini tampaknya masih
relevan di era sekarang.
Contohnya saat waktu sore hari bedug dibunyikan dengan ritme tertentu
untuk memberikan tanda waktu shalat maghrib telah tiba. Begitu juga saat
warga memukul kentongan dengan irama yang keras, menandakan sedang
ada bencana atau pengumuman penting.

2. Sarana Hiburan
Kemampuan alat music tradisional untuk menghasilkan bunyi yang
harmonis akan memberikan kenyamanan bagi pendengarnya. Dalam
konteks masyarakat tradisional maupun modern, music sering kali jadi
pilihan hiburan untuk menghilangkan penat. Dalam sejumlah penelitian,
bermain alat music dapat melatih focus dan kerja otak sehingga dapat
merangsang kemampuan kognitif seseorang.
Selain itu, sebagai sarana hiburan alat music tradisional bukan hanya
dimainkan sebagai instrument tunggal. Biasanya alat music dipakai untuk
mengiringi tarian pesta atau acara tertentu yang merupakan sumber hiburan
bagi masyarakat.

3. Sarana Berekspresi
Fungsi ini terutama dilakukan oleh para senimanuntuk mengaktualisasikan
diri dan gagasan mereka lewat permainan alat music yang mereka mainkan.
Bagi seniman, kemampuan untuk menyampaikan pesan lewat karya seni
terutama permainan alat music adalah tujuan yang paling penting. Seniman
mampu mengekspresikan gagasannya tentang asmara, keluarga, ketuhanan,
kesakitan dan pesan moral lainnya lewat karya seni music. Terlebih pada
alat music tradisional juga sangat lekat dengan hal-hal yang sifatnya tidak
nampak namun diyakini keberadaannya.

4. Sarana Pengiring Pertunjukkan
Ini adalah fungsi paling umum dari alat music tradisional. Umumnta tari-
tari tradisional atau seni pertunjukkan peran (lakon) yang ada di Indonesia
pasti memiliki pengiring music yang tentunya menggunakan instrument alat
music tradisional.
Kehadiran alat music dalam penggung pertunjukkan memberi tambahan
daya tari. Pesan yang ingin disampaikan dalam setiap gerakan tarian atau
adegan dalam pertunjukkan peran, bisa tersampaikan dengan baik kepada
penonton juga berkat bantuan music. Karena itu, tidak berlebihan jika
menyebut permainan alat music menjadi bumbu pelengkap dalam
penampilan seni.
Seperti contohnya, dalam pertunjukkan wayang terdapat berbagai untuk
yang saling mendukung seperti dalang, wayang, dan gamelan untuk
menyampaikan sebuah pesan yang ingin disampaikan.

5. Sarana Upacara Adat dan Budaya
Dalam konteks budaya masyarakat tertentu, bunyi-bunyian yang dihasilkan
dari alat music diyakini mampu memberikan energi khusus yang sifatnya
immaterial dan mistis. Karena itu, alat music juga sering kali difungsikan
sebagai pelengkap dalam rangkaian ritual kebudayaan. Seperti pada gong
luwang dalam instrument gamelan Bali yang dianggap sacral dan umumnya
dimainkan hanya dalam acara adat tertentu.
Bukan hanya itu, beberapa fungsi lain dari alat music tradisional dalam
kaitannya dengan aktivitas budaya bisa juga sebagai pengiring dalam acara
pernikahan, pesta rakyat dan kenegaraan atau juga festival budaya di era
modern seperti sekarang. Contohnya pada instrument gamelan yang
biasanya dimainkan dalam beberapa acara pemerintahan di Keraton
Yogyakarta.

6. Sarana Ekonomi
Alat music juga memberikan dampak yang signifikan bagi beberapa
kelompok masyarakat dalam hal pendapatan ekonomi. Menjadi pegiat alat
music tradisional bukan hanya dipandang sebagai aksi heroic untuk
melestarikan kebudayaan melainkan sekaligus menjadi lading mata
pencaharian lewat pentas-pentas seni. Terlebih di tengah gempuran
beragam alat music modern, memiliki kemampuan pada alat music
tradisional merupakan keunikan yang tidak banyak dimiliki orang lain.

C. Latihan dan Kunci Jawaban/Rubrik
1. Soal Uraian
Perhatikan gambar berikut ini

Analisis kedua alat music tersebut berdasarkan bahan, teknik bermain, nada dan
jumlah instrumennya!

2. soal pilihan ganda

1. Dibawah ini yang tidak termasuk dalam music tradisional Bali.
a) Jegog
b) Gender wayang
c) Sasando
d) Gong kebyar
e) Preret

2. Ndong, ndeng, ndung, ndang, nding itu termasuk dalam notasi…..?
a) Balok
b) Angka
c) Ding-dong
d) Music
e) Barat

3. Alat music tradisional Bali yang terbuat dari bamboo berukuran besar adalah…
a) Preret
b) Jegog
c) Gong kebyar
d) Gender wayang
e) Kendang mebarung

4. Analisis gambar berikut

Bagaimanakah perbedaan teknik bermain dari alat music diatas?
a) Menggunakan 2 panggul yang dipegang oleh tangan kanan dan kiri,
digoyangkan
b) Menggunakan 1 panggul yang dipegang hanya dengan tangan kanan,
dipunggul menggunakan 2 pangul
c) Digesek dibagian bilahan bambunya, digoyangkan
d) Menggunakan 1 panggul yang dipegang hanya dengan tangan kanan dan
tangan kiri memegang bilahannya agar tidak bergema, ditiup
e) Dengan cara duduk bersila menggunakan 1 panggul saja, dipetik

5. Berikut perbedaan dari 2 alat music tradisional, kecuali..

a) Terbuat dari bambu
b) Teknik permaian
c) Asal alat music
d) Nada
e) Jumlah pemain
6. Musik Tradisional saat ini banyak dimainkan oleh orang tua, bahkan ada yang

sudah jarang dimainkan, musik tradisional akan mengalami kepunahan jika …
a) Dipadukan dengan musik modern
b) Digunakan dalam pementasan pementasan modern
c) Disimpan di museum agar tidak hilang
d) Dipelajari dan di modifikasi
e) Tidak dilestarikan

7. Perhatikan gambar berikut.

Alat music diatas memiliki …. Nada ?
a) 1
b) 2
c) 3
d) 4
e) 5

8. Dibawah ini alat music tradisional yang berfungsi sebagai sarana sakral atau
upacara adat…
a) Jegog
b) Kendang mebarung
c) Angklung
d) Gender wayang
e) Rindik

9. Perhatikan alat musik dibawah

Pernyataan yang kurang tepat untuk alat music diatas adalah?
a) Alat music tradisi yang sama-sama berasal dari Bali
b) Perbedaan alat music tersebut dilihat dari bahannya
c) Cara memainkannya ditiup
d) Memerlukan stamina yang kuat
e) Termasuk dalam aerophone

10. Berikut jenis-jenis alaat music tradisional Bali yang terbuat dari bambu,
kecuali
a) Jegog
b) Suling
c) Preret
d) Angklung
e) Rindik

Kunci jawaban pilihan ganda
1. C. Sasando
2. C. Ding-dong
3. B. Jegog
4. A. Menggunakan 2 panggul yang dipegang oleh tangan
kanan dan kiri
5. A. Terbuat dari bamboo
6. E. Tidak dilestarikan

7. E. 5
8. D. Gender wayang
9. A. Alat music tradisi sama-sama berasal dari Bali
10. D. Angklung

D. Daftar Pustaka

Rai, S I Wayan. 2001. Gong Antologi Pemikiran. Bali Metangi

Seni Budaya Edisi Revisi 2016 SMA/MA/SMK/MAK Kelas X Semester 1.Jakarta.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Seni Budaya SMA/ MA/ SMK/MAK Kelas X . Jakarta: Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, edisi revisi 2018


Click to View FlipBook Version