The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Mase POLOSH, 2023-02-27 20:25:47

Modul Dasar-Dasar Pro. Keahlian Teknik Tekstil

Modul kelas X (Sepuluh) Teknik Tekstil

i KELAS X ( SEPULUH ) Semester Gasal 2022 MODUL PEMBELAJARAN DASAR-DASAR PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK TEKSTIL UNTUNG MARDIYANTO, ST SMK NEGERI 2 KARANGANYAR


ii MODUL PEMBELAJARAN DASAR-DASAR PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK TEKSTIL UNTUNG MARDIYANTO, ST SMK NEGERI 2 KARANGANYAR 2022


iii PENGESAHAN Telah disyahkan Modul Dasar-Dasar Program Keahlian Teknik Tekstil Kelas Sepuluh Semeser Gasal untuk Program Keahlian Teknik Tekstil dan semoga modul ini bermanfaat bagi siswa maupun guru pengampu program keahlian Teknik Tekstil serta dapat menambah koleksi buku Teknik Tekstil yang masih sangat kurang. Karanganyar, Juni 2022 Mengesahkan Kepala SMKN2 Karanganyar Penulis Drs. Soetanto, MT Untung Mardiyanto, ST NIP.19661029 199802 1 002 NIP.19750121 200801 1 009


iv MODUL DASAR-DASAR PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK TEKSTIL MEMAHAMI PROSES PEMBUATAN KAIN MEMPRESENTASIKAN PROSES PEMBUATAN KAIN


v PETA KONSEP Proses Pembuatan Kain Memahami Macam-Macam Peralatan Proses Pembuatan Kain Memahami Gerakan Proses Pembuatan Kain Memahami Fungsi BagianBagian Peralatan Pembuatan kain


vi GLOSARIUM Benang lusi : benang yang searah dengan panjang kain Benang pakan : benang yang arahnya melintang dengan kain Gedogan : adalah alat tenun yang sederhana, yang cara penggunaannya dengan cara memangku atau menggendong alatnya sambil penenun duduk di lantai. ATBM : merupakan alat yang terbuat dari kayu yang dipasangi beberapa perlengkapan sehingga menjadi satu kesatuan unit. Boom kain : peralatan untuk menggulung kain yang sudah ditenun Gun : digunakan untuk membagi benang-benang lusi menjadi dua bagian dengan cara menarik benang-benang lusi ke atas dan kebawah sehingga terbentuk rongga lusi atau mulut lusi


vii DAFTAR ISI Halaman Judul ........................................................................... i Peta Konsep ........................................................................... iii Glosarium ........................................................................... iv Daftar isi ........................................................................... v Pedahuluan ........................................................................... 1 Identitas modul ........................................................................... 1 Kompetensi Dasar Modul ........................................................................... 1 Diskripsi Singkat ........................................................................... 1 Petunjuk Penggunaan Modul ........................................................................... 1 Materi Pembelajaran ........................................................................... 2 Kegiatan Pembelajaran 1 ........................................................................... 3 KD. 3.7. ........................................................................... 3 Tujuan Pembelajaran ........................................................................... 3 Uraian Materi ........................................................................... 3 Alat Tenun Gedogan ........................................................................... 3 ATBM ........................................................................... 7 ATM ........................................................................... 8 Latihan Soal 1 ........................................................................... 10 Kegiatan Pembelajaran 2 ........................................................................... 13 KD.4.7 ........................................................................... 13 Tujuan Pembelajaran ........................................................................... 13 Uraian Materi ........................................................................... 13 Penghanian ........................................................................... 13 Memasang Benang Lusi Pada Bum Benang Lusi ..................................................... ........................................................................... 14 Proses Pencucukan ........................................................................... 14 Proses Pembuatan Kain ........................................................................... 16 Penyetelan Alat Tenun ........................................................................... 17 Latihan Soal 2 ........................................................................... 18 Daftar Pustaka ........................................................................... 21 Kunci Jawaban ........................................................................... 22


1 PENDAHULUAN A. Identitas Modul Mata Pelajaran : Dasar-Dasar Program Keahlian Teknik Tekstil Kelas : X ( sepuluh ) Alokasi Waktu : 5 x 45 menit Judul : Proses Pembuatan Kain B. Kompetensi Dasar 3.7. Memahami proses pembuatan kain 4.7. Mempresentasikan proses pembuatan kain C. Diskripsi Singkat Selamat kepada kakak-kakak yang telah menyelesaikan materi tentang persiapan pembuatan kain, harapannya kalian sudah memahami dahulu bagaimana proses persiapan pembuatan kain tersebut. Dari masing-masing proses tersebut kalian mengetahui bagaimana perlakuan terhadap benang lusi dan benang pakan sebelum masuk pada proses pembuatan kain. Harapan kepada kakak-kakak semua dengan adanya mudul ini , kalian akan lebih mudah memahami mata pelajaran Dasar-Dasar Program Keahlian Teknik Tekstil dengan baik. Proses pembuatan kain adalah merupakan proses lanjutan dari Proses Persiapan Pembuatan Kain. Pada proses ini benang lusi dan benang pakan akan masuk pada proses weaving atau pertenunan. Proses weaving atau pertenuan adalan proses menganyam benang lusi dan benang pakan agar terbentuk anyaman dengan menyilangkan antara benang lusi dan benang pakan secara berulang-ulang. D. Petunjuk Penggunaan Modul Supaya belajar kalian dapat bermakna maka yang perlu kalian lakukan adalah : 1. Pastikan kalian mengerti target kompetensi yang akan dicapai 2. Mulailah dengan membaca materi. 3. Kerjakan soal latihannya 4. Jika sudah lengkap mengerjakan soal latihan, cobalah buka kunci jawaban yang ada pada bagian akhir dari modul ini. Hitunglah skor yang kalian peroleh Jika skor masih dibawah 70, cobalah baca kembali materinya, usahakan jangan mengerjakan ulang


2 soal yang salah sebelum kalian membaca ulang materinya jika skor kalian sudah minimal tujuh puluh, kalian bisa melanjutkan ke pembelajaran berikutnya. 5. Cocokkanlah jawaban kalian dengan kunci jawaban latihan soal/ evaluasi yang terdapat di bagian akhir kegiatan pembelajaran dan akhir evaluasi. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan kalian terhadap materi. E. Materi Pembelajaran Modul ini terbagi menjadi 2 kegiatan pembelajaran dan di dalamnya terdapat uraian materi, contoh soal, soal latihan dan soal evaluasi. Pertama : Mengidentifikasi proses pembuatan kain. Kedua : Mempresentasikan proses pembuatan kain. Modul ini sangat bermanfaat sehingga kalian dapat memahami proses pembuatan kain. Semoga kalian lebih mengetahui dan memahami proses pembuatan kain. Diharapkan kalian dapat mengikuti proses belajar dengan baik sehingga kalian dapat memahami dan mengtahui proses pembuatan kain secara baik. Apabila masih ada kata-kata atau istilah yang tidak dipahami, kalian dapat mencermati glosarium untuk memperjelas makna. Kalian pasti bisa. Nilai Konversi Penugasan 90 – 100% = baik sekali 80 – 89 = baik 70 – 79 = cukup < 70 % = kurang


3 KEGIATAN PEMBELAJARAN 3.7. Memahami Proses Pembuatan Kain A. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, diharapkan kalian mampu mengidentifikasi proses pembuatan kain dengan baik dan benar dan memiliki pemahaman tentang macam-macam peralatan dalam proses pembuatan kain. B. Uraian Materi Kain tenun merupakan salah satu kain tradisional yang mempunyai nilai budaya yang sangat tinggi. Memang kain tenun belum sepopuler batik, tetapi keindahan dan filosofi budaya yang terdapat didalam kain tenun tidak kalah dengan batik. Menemukan kain tenun memang tidak semudah menemukan kain batik, padahal hampir disetiap daerah mempunyai jenis, sejarah, motif dan corak, serta ciri khas setiap masing-masing daerah. Kain tenun dibuat dengan cara memadukan benang secara vertikal dan horizontal atau benang lusi dan benang pakan secara bergantian dengan menggunakan teknik yang menyerupai menganyam. Benang yang digunakan untuk menenun sebelumnya sudah dicelup dengan berbagai warna alami sehingga membentuk corak dan ragam hias yang mempunyai makna dan filosofi yang tinggi yang merepresentasikan adat-isitiadat dan budaya daerah setempat. Menenun adalah menganyam benang-benang pakan (benang yang sejajar dengan lebar kain) pada benang-benang lusi (benang yang sejajar dengan panjang kain). Untuk menjalin benang-benang menjadi sehelai kain tenun yang indah dan benilai seni yang tinggi, digunakan alat tenun. Jenis-Jenis Alat Tenun 1. Alat tenun tradisional (Gedogan) Alat tenun tradisional adalah alat tenun yang sangat umum digunakan di berbagai daearah. Alat tenun tradisional ini sudah ada dan digunakan untu menenun sejak zaman prasejarah. Hal ini terbukti dengan ditemukannya benda prasejarah dan relief yang menggambarkan alat tenun yang masih sangat sederhana. Gedogan adalah nama alat untuk menenun. Selain gedogan, terdapat seperangkat alat lainnya yang diperlukan yang di antaranya adalah: pajal, kluntungan benang, undar


4 jantra, pamanen, dan teropong. Keseluruhan alat tersebut merupakan satu rangkaian alat menenun yang tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya. Ragam alat menenun tersebut di atas memiliki fungsi sebagai berikut: Pajal, alat ini terbuat dari bambu, fungsinya untuk menggulung benang dari undar jantra melalui proses nglerek. Undar, alat ini terbuat dari bambu, kayu, dan benang, biasanya dibuat sendiri oleh pengrajinnya. Undar merupakan pasangan jantra. Undar jantra berfungsi untuk nglerek. Jantra, alat ini terbuat dari kayu dan roda. Jantra merupakan pasangan undar. Undar jantra berfungsi untuk nglerek. Pamanen, fungsinya untuk menggulung benang dari kluntungan. Lebar benang yang digulung sesuai ukuran kain yang diinginkan. Alat ini biasanya dibuat oleh tukang kayu. Kluntungan benang. Teropong, berfungsi untuk memasukkan benang yang ada di pajal pada saat menenun. Gedogan, alat untuk menenun. Gambar Jantra (Dok. BPNB Jabar)


5 Gambar Undar (Dok. BPNB Jabar) Gendongan


6 Menenun Dengan Alat Tenun Gedongan Alat tenun tradisional (gedogan) terbuat dari bambu dan kayu, yang fungsinya hanya untuk mengaitkan benang lusi saja. Terdapat dua ujung bilah kayu dan bambu pada alat ini. Ujuang pertama dikaitkan pada tiang atau pondasi rumah, sedangkan ujung satunya diikat pada badan penenun. Pada saat menenun, posisi penenun duduk dilantai kemudian mulailah penenun menenun dengan meletakan benang lusi dan pakan secara bergantian. Menenun dengan menggunakan alat tenun tradisional atau gedogan tidak hanya menghasilkan sehelai kain tenun yang indah tetapi juga menghasilkan kain tenun yang berkualitas tinggi karena dikerjakan dengan sangat cermat dan teliti sehingga memakan waktu yang lama. Dibutuhkan waktu hingga berbulan-bulan untuk menghasilkan sehelai kain tenun yang indah. Tak heran jika kain tenun ini mempunyai nilai jual yang sangat fantastis. Tetapi jangan khawatir, harga mahal terbayar dengan kualitas kain dan keindahan kain tenun yang didapat. Gedogan adalah alat tenun yang relatif sederhana, yang cara penggunaannya dengan cara memangku atau menggendong alatnya sambil penenun duduk di lantai. Pengrajin


7 tenun biasanya mendapatkan gedogan dari warisan orang tuanya. Hanya saja gedogan tersebut biasanya sudah tanpa bagian cacak karena bagian ini mudah rusak. Cacak harus dibuatkan ulang oleh tukang kayu. Gedogan terdiri atas beberapa bagian yang tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya. Bagian-bagian tersebut adalah: a. Por, alat yang berfungsi sebagai penahan pinggang penenun. Bahannya terbuat dari kayu dan tali rami atau tali tambang. b. Suri, bentuknya menyerupai sisir, fungsinya untuk memisahkan lusi atas dan lusi bawah. c. Dayan (papan), gunanya untuk menarik benang. d. Apit, alat untuk menggulung tenunan yang sudah jadi, letaknya di depan perut penenun. 2. Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Pada prinsipnya cara kerja ATBM ini hampir sama dengan Gedogan yaitu penenun menenun dengan posisi duduk. ATBM merupakan alat yang terbuat dari kayu yang dipasangi beberapa perlengkapan sehingga menjadi satu kesatuan unit. Alat Tenun Bukan Mesin ( ATBM ) ATBM terdiri dari beberapa alat yang mempunyai fungsi yang berbeda, antara lain Boom Lusi atau Boom Tenun yang digunakan untuk menggulung benang lusi; Boom kain digunakan untuk menggulung kain yang sudah ditenun


8 Gun digunakan untuk membagi benang-benang lusi menjadi dua bagian dengan cara menarik benang-benang lusi ke atas dan kebawah sehingga terbentuk rongga lusi dengan tujuan agar sekoci dapat masuk di sela-sela benang lusi. Dalam sekoci ini terdapat benang pakan yang disisipkan di dalam rongga lusi atau mulut lusi. Injakan gun digunakan untuk mengatur gun Sisir tenun digunakan untuk mengatur kerapatan benang lusi dan digunakan untuk merapatkan benang pakan Pemberat gulungan benang lusi digunakan untuk menjaga kekencangan benang agar tetap stabil. ATBM digerakkan secara manual dengan menggunakan kaki dan tangan. Cara kerja ATBM adalah penenun duduk dikursi dengan kaki mengayun pedal dan tangan menarik pengungkit. Gerakan kaki berfungsi untuk mengatur naik turunnya benang lungsi pada waktu keluar masuk benang pakan. Menenun dengan menggunakan ATBM lebih mudah jika dibandingkan dengan menenun menggunakan gedogan, walaupun waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sehelai kain tidak jauh berbeda. Tentu saja kualitas kain yang dihasilkan dari ATBM lebih rendah jika dibandingkan dengan kain tenun dari alat gedogan, hal ini terjadi karena apabila ada benang yang putus maka akan tampak pada kain yang dihasilkan. Permukaan kain akan tampak lebih kasar karena sambungan dari benang yang putus. selain itu untuk mengoperasikan alat ini membutuhkan tenanga yang cukup besar, sehingga agak menyulitkan penenun wanita yang sudah berusia lanjut. 3. Alat Tenun Mesin (ATM) Karena banyaknya permintaan pasar akan kain tenun sementara proses pengerjaan kain tenun yang memakan waktu yang sangat lama tidak memungkin untuk memenuhi permintaan pasar, membuat penenun harus melakukan inovasi agar mampu memproduksi kain tenun dalam waktu yang lebih singkat. Pengerajin pun mulai beralih menenun dengan menggunakan alat tenu mesin atau yang dikenal dengan ATM. Alat tenun mesin ini dilengkapi dengan motor penggerak sehingga untuk menghasilkan sehelai kain tenun, proses pengerjaanya sepenuhnya dikerjakan oleh mesin.


9 Mesin Tenun Teropong Mesin Tenun Rapier dengan peralatan Dobby


10 Mesin Tenun Jet Tentu saja produktivitas kain tenun meningkat dan pengerjaan kain tenun menjadi lebih singkat. Sehingga permintaan masyarakat akan kain tenun dapat terpenuhi. Tetapi tidak berarti alat tenun mesin ini tidak mempunyai kekurangan. Kain tenun yang dihasilkan dari alat tenun mesin tidak dapat menyamai kualitas kain tenun yang dihasilkan baik dari alat tenun tradisional maupun dari alat tenun bukan mesin (ATBM). Meskipun kualitas kain lebih rendah tetapi harga jual kain tenun yang dihasilkan oleh alat tenun mesin lebih murah. Hal ini tentu saja membahayakan eksistensi penenun tradisional. Walaupun kualitas kain yang mereka hasilkan jauh lebih baik tetapi mereka tidak mampu bersaing dengan pengerajin yang menggunakan alat tenun mesin. Meskipun hasil tenunan dari ketiga jenis alat ini berbeda, tetapi masyarakat tidak bisa membedakan karena corak, motif dan warna yang dihasilkan sama. Selain membahayakan pengerajin tenun tradisional, kain tenun yang dihasilkan dari alat tenun mesin juga dapat merugikan masyarakat karena mereka tidak bisa membedakan mana kain tenun yang dibuat dengan alat tradisional dan kain tenun yang dibuat oleh


11 alat tenun mesin. Salah satu tips untuk dapat membedakan kain tenun hasil dari alat tradisioanal dan kain tenun dari alat tenun mesin adalah dengan membandingkan tekstur dan kerapatan benang. Kain yang dihasilkan oleh alat tenun mesin memiliki tekstur atau kerapatan benang yang sama persis karena kestabilan tenaga mesin. Sedangkan kain tenun yang dibuat secara manual tanpa mesin tekstur kain dan kerapatannya tidak sama persis karena dipengaruhi oleh tenaga manusia. Memang penggunanaan alat tenun mesin mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak postifnya adalah kain tenun dapat dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat karena harga yang ditawarkan terjangkau oleh berbagai kalangan masyarakat. Hal ini membuat posisi kain tenun sejajar dengan kain tradisional lainnya. Tetapi alat tenun mesin juga berpotensi mematikan keberadaan penenun tradisional yang notabene membantu melestarikan warisan budaya. Saat ini semakin sedikitnya penenun tradisional merupakan salah satu hambatan perkembangan kain tenun di Indonesia, selain kurangnya minat generasi muda untuk membudayakan menenun dengan cara tradisional.


12 LATIHAN SOAL 1 1. Benang yang digunakan dalam pembuatan kain dengan arah sepanjang kain disebut dengan benang ... A. Lusi B. Pakan C. Jahit D. Rajut E. Gintir 2. Benang yang digunakan dalam proses pembuatan kain serah lebar kain disebut benang ... A. Lusi B. Pakan C. Jahit D. Rajut E. Gintir 3. Benang yang dirangkap dan diberi puntiran atau twist biasa disebut dengan benang .... A. Lusi B. Pakan C. Jahit D. Rajut E. Gintir 4. Untuk mendapatkan benang yang lebih kuat, membuat benang yang mempunyai sifat tertentu, mendapatkan benang dengan diameter yang lebih besar, membuat benang hias, dan untuk mendapatkan benang yang lebih rata , maka dilakukan proses ... A. Penggintiran B. Pengelosan C. Penyambungan D. Pemberian twist E. penganjian 5. Benang yang tersusun dari serat pendek/stapel, yang dibuat dengan cara menarik seratserat tersebut sedikit demi sedikit, kemudian diberi antihan/pilinan sehingga menjadi suatu untaian yang bersambungan disebut dengan ... A. Benang rajut B. Benang pintal C. Benang lusi D. Benang obras E. Benang pakan 6. Pada pembuatan benang pintal selalu dilakukan pemberian antihan atau pilinan pada serat dengan maksud agar serat-serat menjadi satu kesatuan yang kompak sehingga memberikan kekuatan pada benang. Jumlah antihan pada benang pintal biasanya dinyatakan dalam ... A. Gulungan B. Cone C. Antihan ( Twist per Inch) D. Bobbin


13 E. Beam 7. Kain tenun merupakan silang menyilang benang anatara .... A. Benang jahit B. Benang lusi C. Benang pakan D. Benang lusi dan benang pakan E. Benang rajut dan benang jahi 8. Silang menyilang benang pada kain tenun akan membentuk ... A. Anyaman B. Desain C. Struktur D. Rajutan E. Benang 9. Benang yang digunakan dalam membuat kain tenun adalah ... A. Benang rajut B. Benang lusi C. Benang pakan D. Benang lusi dan benang pakan E. Benang jahit


14 KEGIATAN PEMBELAJARAN 4.7. Mempresentasikan Proses Pembuatan Kain A. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, diharapkan kalian mampu mempresentasikan proses pembuatan kain dengan baik dan benar dan memiliki pemahaman tentang macam-macam peralatan dalam proses pembuatan kain. B. Uraian Materi Sebelum masuk pada proses pembuatan kain, benang lusi akan mengalami proses persiapan sebelum masuk proses pertenunan. Sebelum proses menenun , benang lusi akan masuk pada tahapan proses persiapan. Kita tidak akan membahas kembali proses persiapan, karena proses tersebut sudah kita bahas pada kegiatan sebelumnya. Disini kita akan memulai dengan proses penghanian dan pencucukan. 1. Penghanian ( Warping ) Tahap awal dalam proses pembuatan kain tenun adalah menghani. Menghani adalah memilah helai demi helai benang-benang untuk kemudian menjadi lusi yang di letakkan pada alat hani. Berikut ini adalah tahapan proses menghani: a. Sebelumnya harus tahu berapa ukuran kain tenun yang akan di buat. Kemudian di sesuaikan dengan panjang lusi yang akan di buat benang-benang di letakkan di alat hani helai demi helai. b. Tahap selanjutnya adalah benang lusi di sesuaikan dengan panjang pada pola ukuran dan jumlah benang lusinya. Jangan lupa benang lusi juga di silangkan. c. Setelah di susun rapi, setiap 10 benang lungsi di ikat sesuai keinginan disesuaikan dengan pola. Selain itu juga memudahkan penghitungan benang. d. Jika benang lusinya panjang maka harus di gulung terlebih dahulu dengan menjalin menjadi jalinan agar tidak kusut dan acak-acakan.


15 Gambar Peralatan Menghani Untuk ATBM Gambar Benang Lusi Yang Terpasang Pada Rak Benang Pada Proses Menghani 2. Memasang Benang Lusi Pada Bum Benang Lusi Setelah di lakukannya menghani tahapan selanjutnya adalah memasang benang lusi pada alat tenun (ATBM). Helai demi helai benang di pasangkan ke alat tenun dengan salat teliti dan sabar. Berikut ini adalah tahapan memasang benang lungsi pada bum benang lungsi: a. Membagi benang lusi menjadi dua bagian dan sama banyak. b. Siapkan Bum benang lusi, kemudian putar engkel sampai semua tali terurai. Tarik keatas dan letakkan kayu bentangan pada rangkaian bum benang lungsi serta letakkan pada rangka mesin tenun. c. Benang lungsi di letakkan pada bagian tengah ke kanan. Bagian tengah ke kiri kemudian jangan lupa diselingi tali pada bentangan kayu. Pilah-pilah benang hingga lusi lebih rata. d. Pasang dua buah kayu untuk silangan benang lusi jangan sampai terlepas. Posisi ini sangat penting dan menentukan pencucukan memasukkan benang lusi pada mata gun dan sisir.


16 e. Pisahkan benang lusi pada alat melewati raddle sesuai lebar tenunan. Kemudian rapikan benang-benangnya f. Tahap terakhir adalah menggulung benang lusi pada bum benang lungsi. Jangan lupa sisakan pajang benang sampai batas sisir. 3. Proses Pencucukan Proses pencucukan adalah proses memasukkan benang-benang lusi ke dalam lubang dropper, gun dan sisir tenun sesuai dengan corak tenun atau jenis anyaman yang akan dibuat. Tahapan proses pencucukan ke dalam lubang mata dropper dan gun sebagai berikut : a. Tahap pertama adalah masukkan benang lusi ke mata gun dari tengah ke kanan atau dari tengah ke kiri atau sebaliknya. b. Masukkan mata gun sesuai dengan corak atau pola anyaman. c. Setiap 10 benang helai di ikat hasil cucukan agar tidak lepas setelah benang masuk ke mata gun. d. Masukkan benang lungsi satu persatu di sisir dimulai dari tengah ke kaan atau tangah ke kiri. Tahapan selanjutnya adalah pencucukan pada sisir. Proses ini memasukkan benang lusi ke sisir sesuai dengan corak dan pola kain tenun. Berikut ini adalah langkah pencucukan pada sisir: a. Pertama masukkan satu persatu benang lungsi ke sisir di mulai dari tengah ke kanan atau tengah ke kiri dan sebaliknya. b. Setiap helai 10 benang di ikat kemudian di masukkan satu demi satu ke dalam sisir. Proses pencucukan yang dilakukan operator


17 4. Proses Pertenunan ( Pembuatan Kain ) Sebelum kita membahas proses pembuatan kain, kita lihat selembaran kain dan perhatikan. Pada kain tersebut terdiri daridua macam benang yang searah panjang kain dan searah lebar kain. Untuk benang yang searah panjang kain disebut dengan benang lusi dan benang yang melintang disebut dengan benang pakan. Prinsip kerjanya adalah menyilangkan antara benang lusi dan benang pakan secara terus menerus. Proses silang menyilang antara benang lusi dan benang pakan secara terus menerus akan mengakibatkan terjadinya anyaman, maka silang menyilang ini adalah proses membuat kain. Pada proses pembuatan kain terdapat 5 gerakan pokok yang terjadi selama proses berlangsungnya proses menenun. 5 gerakan pokok tersebut antara lain : a. Proses Pembukaan Mulut Lusi Proses ini biasa disebut dengan shedding. Pembuakaan mulut lusi ini adalah proses membagi benang-benang lusi menjadi 2 bagian dengan cara menarik benang-benang lusi tersebut keatas dan kebawah sehingga terjadi rongga lusi. Proses menarik benang-benang lusi ini keatas dan kebawah karena tarikan gun. b. Proses Penyisipan Benang Pakan Proses penyisipan benang pakan disebut juga dengan Picking adalah proses memasukkan benang pakan kedalam mulut lusi atau rongga lusi dengan bantuan teropong. Peluncuran teropong dari kotak teropong sebelah kiri kanan diatas datar luncur melalui mulut lusi masuk kedalam kotak teropong sebelah kanan kiri dan sebaliknya sambil meletakkan benang pakan didalam mulut lusi. c. Proses Pengetekan Benang Pakan Proses pengetekan disebut juga dengan Beating adalah proses merapatkan benang pakan oleh sisir tenun yang sudah disisipkan didalam mulut lusi dengan benang pakan yang sudah mengalami proses sebelumnya. Pengetekan sisir tenun, terjadi segera setelah gerakan kedua tersebut diatas untuk merapatkan setiap benang pakan satu dengan yang lainya setelah ditinggalkan teropong. d. Proses Penguluran Benang Lusi Proses penguluran benang lusi dilakukan agar tegangan benang lusi terjaga., penguluran benang lusi ini seimbang dengan hasil kain yang sudah diproses. Proses ini disebut juga dengan Let Off.


18 e. Proses Penggulungan Kain Proses penggulungan kain disebut juga dengan Take Up. Proses ini adalah menggulung kain yang sudah dihasilkan dari proses menyilangkan antara benang lusi dan benang pakan.dari gerakan pembukaan mulut lusi, penyisipan benang pakan dan pengetekan. 5. Penyetelan Alat Tenun Proses pertenunan Alat Tenun Mesin (ATM) maupun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) pada dasarnya sama, yaitu menggunakan tiga gerakan utama yaitu: pembentukan benang lusi, pemasukan benang pakan, dan pengetekan benang pakan atau sisir tenun. Hasil dari tiga gerakan tersebut adalah lembaran kain. Proses pertenunan dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) setelah pencucukan pada gun dan sisir tenun selesai, agar bisa mulai menenun maka diadakan penyetelan terlebih dahulu. Cara penyetelan adalah sebagi berikut: Ikatkan gun pada stang gun sama tingginya dan horizontal. Masukkan stang pada tempatnya. Pasang pengereman boom lusi. Setel tegangan lusi agar sama dan ikatkan dengan boom kain. Setelah itu setel kedudukan gun dengan injakan Penyetelan tersebut antara lain : Mulut lusi dibuka, perhatikan agar lusi bagian atas tidak menyentuh sisir. Demikian dilakukan terhadap pembukaan mulut lusi berikutnya. Mulut lusi harus bersih atau sama besar untuk kedua pembukaan. Pada saat mulut tertutup, tinggi lusi kurang lebih sepertiga tinggi sisir terhadap lade. Pada saat peluncuran, teropong tidak boleh menyentuh lusi bagian atas. Setelah proses penyetelan sudah dilaksanakan, maka penenun dapat duduk dibelakang mesin tenun yaitu pada arah benang lusi bergerak. Proses menenun dilaksanakan sebagai berikut: Mulut lusi dibuka dengan injak-injakan. Pakan diluncurkan dengan mendorong lade ke depan. Pengetekan dilakukan dengan menarik lade. Apabila jarak antara lade dengan kain sudah terlalu dekat maka kain harus digulung. Lakukan sampai kain jadi.


19 Proses pertenunan dengan Alat Tenun Bukan Mesin ATBM tentu saja hasilnya tidak sebaik dari Alat Tenun Mesin ATM, karena pengerjaannya masih menggunkan alat yang sederhana dan dijalankan oleh manusia, sehingga hasil kain tenun tergantung dengan kondisi manusia. Mengingat manusia mempunyai tenaga terbatas, yang bisa sakit dan jenuh. Tetapi hasil dari Alat Tenun Bukan Mesin ATBM mempunyai karakteristik tersendiri yang tidak dapat dimunculkan oleh Alat Tenun Mesin ATM.


20 SOAL LATIHAN 2 1. Benang yang akan dibuat kain melalui proses persiapan terlebih dahulu, berikut persiapan untuk benang pakan…. A. Penghanian. B. Penganjian. C. Pencucukan. D. Pemaletan. E. Penggulungan. 2. Persiapan pertenunan dimana merubah gulungan cone kedalam gulungan beam lusi, adalah… A. Penghanian. B. Penganjian. C. Pencucukan. D. Pemaletan. E. Penggulungan. 3. Proses memasukkan benang lusi kedalam lubang droper, gun dan sisir sesuai konstruksi kain, disebut sebagai proses… A. Pemaletan. B. Pencucukan. C. Penghanian. D. Pengulungan. E. Persiapan. 4. Agar benang lusi cotton memiliki sifat kukuh dan kuat dalam proses pertenunan maka perlu mendapatkan proses berikut… A. Penguatan. B. Puntiran. C. Penggulungan. D. Penganjian. E. Penarikan. 5. Proses persilangan benang lusi dan benang pakan hingga terjadi anyaman, terjadi pada proses berikut… A. Penggintiran. B. Perajutan. C. Pertenunan. D. Penyambungan. E. Persiapan pertenunan


21 6. Gerakan utama dalam proses pertenunan yang merapatkan benang pakan hingga terjadi anyaman yang rapi, dilakukan oleh.. A. Gun. B. Sisir tenun. C. Beam hani. D. Teropong. E. Palet. 7. Pada proses pertenunan agar dapat terjadi anyaman yang kuat dan rapi, berikut gerakan - gerakan pokoknya, kecuali… A. Penggulungan kain. B. Penguluran lusi. C. Pembukaan mulut lusi. D. Peluncuran benang lusi. E. Perapatan anyaman.


22 DAFTAR PUSTAKA https://www.griyatenun.com/blog/inilah-8-tahapan-tahapan-dalam-proses-pembuatankain-tenun-yang-perlu-anda-ketahui https://www.jalakapas.com/?p=305 https://pdfcoffee.com/laporan-tennun-atmdocx-pdf-free.html http://doninovalinda.blogspot.com/2012/03/proses-pembuatan-kain-tenun-motif.html http://tenunkainblogspot.blogspot.com/2017/10/cara-pembuatan-kain-tenuntroso_27.html


23 KUNCI JAWABAN Latihan Soal 1 1. A 2. B 3. E 4. A 5. B 6. C 7. D 8. A 9. D Latihan Soal 2 1. D 2. A 3. B 4. D 5. C 6. B 7. D


Click to View FlipBook Version