The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Mata Kuliah Zoologi Vertebrata
Kelas C
Kelompok 7

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nisarhyn, 2021-12-11 23:52:47

Aves 2 Kelompok 7, Kelas C, Zoologi Vertebrata

Mata Kuliah Zoologi Vertebrata
Kelas C
Kelompok 7

Aves
ORDO PSITACIFORMES
ORDO CUCULIFORMES
ORDO CORACIIFORMES
ORDO PICIFORMES
ORDO APODIFORMES
ORDO CAPRIMULGIFORMES
ORDO PASSERIFORMES
ORDO SRIGIFORMES
ORDO FALCONIFORMES

KELOMPOK 7 M. HAEKAL T. AL GIFARY
KELAS C UGI HERMAWATI
AGNATUL MARDHIAH
NISA ROHAYANI
FUZA CAHYANI

ZOOLOGI VERTEBRATA

Pengertian Bentuk morfologi
Sejarah dan anatomi pada

Karakteristik aves

Sistem Pencernaan

Sistem Pernapasan

Sistem Peredaran
darah

Sistem Reproduksi

Sistem Ekskresi

Sistem Gerak

Sistem Saraf
Aves

Ordo Psitaciformes

Ordo Cuculiformes

Ordo Coraciiformes

Ordo Piciformes

Sistem Klasifikasi Ordo Apodiformes

Peranan dalam Ordo
kehidupan Caprimulgiformes
manusiP
Ordo
Passeriformes

Ordo Srigiformes

Ordo
Falconiformes

2.1 Pengertian Aves

Aves adalah hewan yang terspesialisasi untuk terbang jauh, dengan perkecualian pada
beberapa jenis yang dikelompokkan dalam aves/burung primitif. Tubuhnya ditutupi oleh bulu
kecuali pada beberapa bagian tubuh. Bulu-bulu tersebut tersusun sedemikian rupa sehingga
mampu menolak air dan memelihara tubuh burung tetap hangat di tengah udara dingin.

2.2 Sejarah Perkembangan Aves
Klasifikasi pertama burung dikembangkan oleh Francis Willughby dan John Ray dalam

Ornithologiae Volume 1676. Carolus Linnaeus menyempurnakannya pada tahun 1758 dengan
merancang sistem klasifikasi taksonomi yang digunakan saat ini. Burung secara biologis
dimasukkan dalam kelas Aves (dalam taksonomi Linnaean). Sedangkan Aves berdasar
penggolongan/taksonomi filogenetik masukdalam clade dinosaurus Theropoda. Aves dan
kelompok yang masih bersaudara, clade Crocodilia, bersama-sama masuk dalam clade reptil
Archosauria. Secara phylogenetical, Aves secara umum didefinisikan sebagai semua
keturunan terbaru dari nenek moyang bangsa burung modern dan Archaeopteryx
lithographica.

Archaeopteryx, dari zaman Tithonian Jurasik Akhir (sekitar 150-145 juta tahun yang
lalu), diketahui sebagai burung paling awal yang masuk dalam definisi ini. Lainnya, termasuk
Jacques Gauthier dan penganut sistem Phylocode, menetapkan Aves hanyalah penyebutan
untuk kelompok burung modern, kelompok mahkota. Hal ini dilakukan dengan
mengecualikan kebanyakan kelompok hewan yang hanya diketahui dari fosilnya, yang
dimasukkan sebagai kelompok Avialae untuk menghindari ketidakpastian penempatan
Archaeopteryx dalam kaitannya dengan hewan yang secara tradisional dianggap sebagai
theropoda dinosaurus.

Semua burung modern masuk dalam subclass Neornithes, yang memiliki dua subdivisi:
Palaeognathae, berisi sebagian besar burung terbang seperti burung unta, dan beragam
Neognathae liar, yang berisi semua burung lain. Kedua subdivisi sering diberi sebutan
Superorder, meskipun Livezey dan Zusi memasukkan mereka dalam sebutan “kohort”. Hal

itu tergantung pada sudut pandang taksonomi jumlah spesies burung yang diketahui hidup
saat ini yang berjumlah antara 9.800 hingga 10.050.

Berdasarkan bukti fosil dan biologis, sebagian besar ilmuwan menerima bahwa burung
adalah sub-grup khusus dari theropoda dinosaurus. Lebih khusus, mereka adalah anggota dari
Maniraptora, sekelompok theropoda yang mencakup dromaeosaurs dan oviraptorids. Ketika
para ilmuwan menemukan lebih banyak non-unggas theropoda yang terkait erat dengan
burung, dan mengaburkan perbedaan antara non-burung dan burung-burung yang sebenarnya
yang semula sudah jelas. Penemuan-penemuan terbaru di Provinsi Liaoning di timur laut Cina,
menunjukkan bahwa banyak dinosaurus theropoda kecil memiliki bulu.

Konsensus paleontologi kontemporer berpandangan bahwa burung-burung, Aves,
adalah kerabat terdekat dari deinonychosaurs, yang meliputi dromaeosaurids dan troodontids.
Bersama-sama, ketiganya membentuk kelompok yang disebut Paraves. Basal dromaeosaur
Microraptor memiliki fitur yang mungkin telah memungkinkannya untuk meluncur atau
terbang. Deinonychosaurs yang paling basal sangat kecil. Bukti ini meningkatkan
kemungkinan bahwa nenek moyang paravians hidup di pepohonan, dan/atau mungkin telah
mampu meluncur.

Archaeopteryx Masa Jurasik Akhir dikenal sebagai salah satu fosil transisional yang
pernah ditemukan dan memberikan dukungan bagi teori evolusi pada akhir abad ke-19.
Archaeopteryx memiliki karakteristik reptil yang jelas: gigi, jari bercakar, dan panjang seperti
kadal berekor, tetapi memiliki sayap yang dibungkus dengan bulu–bulu halus untuk terbang
yang identik dengan burung modern. Hal ini tidak dianggap sebagai nenek moyang langsung
dari burung modern, tetapi adalah binatang anggota Aves atau Avialae yang tertua dan paling
primitif yang pernah diketahui, dan ini mungkin terkait erat dengan nenek moyang yang
sebenarnya.

2.3 Karakteristik Aves
2.3.1 Bentuk Morfologi dan Anatomi pada Aves

Kelas aves adalah kelompok hewan vertebarata dengan ciri hampir semua tubuhnya
tertutup oleh bulu. Topografi luar atau ciri morfologi aves secara umum yakni seluruh tubuh
ditutupi oleh bulu dengan ukuran yang berbeda antara yang di kepala, tubuh dan sayap serta
ekor.

Dengan mengetahui ciri-ciri morfologi, maka dapat mempermudah identifikasi suatu
jenis burung. Karakter morfologi burung dapat dibedakan atas: paruh, kepala, leher, badan,
sayap, tungkai dan ekor. Bagian-bagian utama dari morfologi pada kelas aves dibedakan atas
empat bagian, yaitu:
1. Kepala (Caput)

Kepala aves terdapat beberapa organ, yaitu:
a) Lubang hidung atau nares, terletak di paruh bagian atas
b) Sera (cere) adalah pangkal paruh atas yang tidak berbulu, tempat terdapatnya
lubang hidung yang berupa tonjolan kulit
c) Mata yang dikelilingi oleh kulit berbulu halus.
d) Membrana niktitans di sudut mata yang dapat ditarik hingga menutupi mata
e) Lubang telinga atau porus akustikus eksternus, tidak ada daun telinga terletak
dorsokaudal mata dan di dalam ada membrana timpani
f) Paruh (rostrum), terdiri atas bagian bawah dan atas, bahan pembentuknya berupa
tanduk.

Gambar 2. 1 Morfologi Kepala Burung

2. Paruh
Bentuk paruh pada aves menunjukkan jenis makananya. Adapaun ciri-ciri morfologi paruh
pada aves antara lain:
a) Panjang apabila ukurannya lebih panjang dari kepala.
b) Pendek apabila ukurannya lebih pendek dari kepala.
c) Berkait apabila bagian atas lebih panjang serta melengkung menutup bagian bawah.
kadang-kadang dikatakan berkait, bila ujungnya melengkung.
d) Pipih datar apabila paruh itu lebih mendatar dari pada meninggi.

e) Lurus apabila garis antara bagian atas dan bagian bawah lurus dari pangkal sampai
ujung paruh.

f) Bergerigi apabila tepi paruh bagian atas bergerigi.
g) Berkantung lebar apabila dagu dan tenggorokan melebar membentuk kantung.

Gambar 2. 2 Macam Bentuk Paruh pada Aves

3. Badan (Truncus)
Badan berbentuk lonjong ditutupi bulu-bulu yang bermacam-macam. Morfologi bulu
dijelaskan di bawah.

4. Ekor (cauda)
Ekor aves memiliki bulu-bulu yang berperan sebagai kemudi. Pengertian ekor adalah bulu-
bulu ekor (Rectriches). Panjang pendeknya rectriches pada tepi posterior ekor berbeda-
beda dan memiliki ciri yang spesifik. Beberapa ciri ekor pada burung yakni:
a) Panjang apabila ukurannya lebih panjang dari badan.
b) Pendek apabila ukurannya lebih pendek atau sama dengan panjang badan
c) Rata apabila semua bulu sama panjang
d) Bulat apabila bulu tengah jauh lebih panjang, makin ke tepi berangsurmemendek.
e) Runcing apabila bulu tengah jauh lebih panjang dari pada bulu yang lain berbentuk.

5. Ekstremitas
Ektremitas atau anggota gerak pada kelas aves terdiri dari:
a) Ekstremitas kranialis atau membrum superior merupakan sayap yang ditutupi bulu.
Ciri-ciri sayap burung antara lain:
• Panjang: bila ukuran dari bengkokan kedua sampai ke ujung, lebih panjang
dari pada badan.
• Pendek: bila bagian itu lebih pendek dari pada badan.

• Bulat: bila primarius bagian tengah merupakan yang paling bulu-bulu
panjang, sisinya berangsur-angsur memendek berpangkal dan ke ujung
sayap.

• Runcing: bila primarius paling ujung merupakan bulu-bulu yang panjang

b) Ekstremitas kaudalis atau membrum inferior sebagai kaki, bagian atas tertutup bulu
dan bawah tertutup sisik. berikut adalah ciri-ciri kaki aves:
Ciri-ciri sisik kaki aves yakni:
• Scutellata adalah apabila sisik tersusun saling menutup.
• Reticullata adalah bila sisik tidak teratur.
• Serrata apabila bila sisik pada tepi posterior tersusun berigi.rigi.
• Boated adalah bila tarsusus tidak bersisik.

c) Ciri-ciri jari aves yakni:
• Rata (datar): hallux (jari pertama) melekat pada ujung tarsus seperti jari jari
yang lain.
• Terangkat: hallux (jari pertama) melekat pada bagian yang lebih tinggi di
atas perlekatan jari-jari yang lain.

d) Ciri-ciri cakar aves yakni:
• Runcing: cakar melengkung dan runcing
• Obtuse: cakar agak melengkung, ujung tumpul

e) Tipe-tipe kaki pada aves:
• Tipe bertengger, dibedakan atas beberapa macam, misalnya: (a) passerine:
hallux melekat datar dengan jari-jari lain. (b) zygodactyla: 2 jari-jari
kedepan, 2 yang lain ke belakang 2.
• Tipe berjalan: hallux terangkat, sehingga kedudukannya lebih tinggi dari
pada yang lain 3.
• Tipe berenang: dibedakan atas beberapa macam misalnya (a) palmata: 3 jari
depan dihubungkan oleh selaput jari ke-1 bebas. (b) totipalmata: keempat
jari dihubungkan oleh selaput yang halus.

Gambar 2. 3 Tipe Kaki Aves

Gambar 2. 4 Tipe Selaput Kaki pada Aves

6. Morfologi Bulu Aves
Tubuh Aves hampir seluruh tubuhnya tertutup oleh bulu-bulu. Bulu pada kelas aves
dibedakan atas dua macam:

Gambar 2. 5 Bagian-Bagian Bulu

a) Bulu lengkap (plumae), bulu ini tersusun atas: batang bulu dan lembaran bulu.
Susunan batang bulu terdiri atas: calamus dan rachis. Lembaran bulu, tersusun atas
deretan barbae, diantara barbae terdapat barbulae berkait.

b) Bulu tak lengkap dibedakan atas (a). Plumulae, dengan bagian-
bagian: calamus (pendek), barbae (tidak membentuk lembaran bulu), barbulae (tak

berkait). (b) Filoplumae, dengan bagian-bagian: calamus dan rachis (batas tak
jelas), berbae (pada bagian ujung). Pada bulu ini tidak dijumpai adanya barbulae.

Gambar 2. 6 Bulu Lengkap dan Tidak Lengkap

2.3.2 Sistem Pencernaan pada Aves
1. Sistem pencernaan Aves di bedakan menjadi 3 yaitu:
1) Sistem pencernaan secara mekanik
Sistem pencernaan secara mekanis pada burung terjadi di rongga mulut dengan
bantuan lidah yang membantu mendorong makanan menuju kerongkongan. Dari
kerongkongan kemudian ke tembolok dan menuju ke empedal, didalam empedal
makanan mengalami pengecilan partikel sehingga mudah cepat diserap.
2) Sistem pencernaan secara enzimatis
Sistem pencernaan secara enzimatis terjadi di mulut dengan bantuan enzim ptialin,
didalam lambung dengan bantuan HCl didalam usus halus dengan bantuan enzim
yang dihasilkan oleh pankreas.
3) Sistem pencernaan secara biologis
Sistem pencernaan secara biologis dibantu dengan bakteri sehingga disebut
pencernaan mikrobiologi. Proses pencernaan ini terjadi di dalam usus besar.
2. Urutan proses pernapasan pada Aves
1) Rongga mulut
2) Tembolok
3) Lambung
4) Ampela (Gizzarat)
5) Usus halus

6) Usus besar
7) Kloaka

Gambar 2. 7 Sistem Pencernaan Aves

2.3.3 Sistem Pernapasan pada Aves
1. Alat pernapasan pada Aves
1) Lubang hidung
2) Celah tekak
3) Trakea
4) Siring (alat suara)
5) Paru-paru
2. Proses pernapasan pada Aves
1) Pernapasan saat istirahat
• Proses inspirasi tulang rusuk mengembang keluar sehingga rongga dada
membesar → tekanan udara dalam paru-paru mengecil → udara luar masuk ke
dalam paru-paru dan sebagian ke kantong-kantong udara posterior melalui hidung,
celah tekak, trakea, siring dan paru-paru → udara akan masuk ke dalam
parabronkus → terjadi pertukaran pertukaran O2 dan CO2.
• Proses ekspirasi tulang rusuk mengempis ke dalam sehingga rongga dada
mengecil → tekanan udara dalam paru-paru meningkat → udara keluar dari paru-
paru dan kantong udara. Saat udara melewati paru-paru, akan terjadi difusi O2 dan
CO2 lagi.
2) Pernapasan saat terbang
• Proses inspirasi burung mengepakkan sayap (terangkat) → kantong udara yang
berada di antara tulang korakoid terjepit, tetapi kantong udara yang terletak di

bawah ketiak mengembang → udara masuk ke dalam kantong udara di bawah
ketiak → terjadi difusi O2 dan CO2 di dalam paru-paru
• Proses ekspirasi burung menurunkan sayap → kantong udara di bawah ketiak
menjadi terjepit sedangkan kantong udara di antara tulang korakoid →
mengembang → udara masuk ke kantong udara di antara tulang korakoid terjadi
difusi O2 dan CO2.

Gambar 2. 8 Sistem Pernapasan pada Aves

2.3.4 Sistem Peredaran Darah pada Aves
Pada dasarnya sistem peredaran darah pada kelas Aves hampir mirip dengan sistem

peredaran darah pada kerja jantung kelas Mamalia ( manusia ). Sistem peredaran darah pada
kelas Aves juga menggunakan peredaran darah ganda dan sistem peredaran darah tertutup.
Oleh karena itu, dalam satu kali darah mengalir, darah melewati jantung sebanyak dua kali
yaitu saat peredaran darah kecil ( jantung — paru – paru — jantung ) dan pereradan darah
besar ( jantung – seluruh tubuh – jantung ).

Bagian – bagian pada jantung( cardio ) kelas Aves mirip dengan jantung kelas Mamalia
yaitu jantung memiliki empat ruang seperti atrium kanan, atrium kiri, bilik kanan, dan bilik
kiri diantara ruang – ruang pada jantung juga terdapa sekat ( septum) yang bentuknya sudah
sempurna sehingga darah yang kaya akan oksigen ( O2 ) dan karbon dioksida ( CO2) tidak
akan tercampur.

• Proses peredaran darah padah kelas Aves adalah sebagai berikut:

1. Darah yang kaya akan karbon dioksida (CO2) yang berasal dari seluruh tubuh
mengalir ke jantung, pada atrium kanan lalu ke ventrikel kanan .

2. Dari ventrikel kanan darah dipompa menuju paru-paru melalui arteri pulmonalis

3. Dari paru – paru darah yang kaya oksigen (O2) mengalir menuju ke atrium kiri
melalui ventrium kiri untuk dipompa melalui Aorta

4. Dari Aorta darah kaya oksigen (O2) akan diedarkan ke seluruh tubuh
5. Darah mengandung karbon dioksida ( CO2)dari kapiler jaringan tubuh akan

dialirkan kembali ke atrium kanan jantung
Peredaran darah kecil pada aves yaitu berawal dari darah mengalir yang berasal dari
seluruh tubuh ke ventrikel kanan. Kandungan karbon dioksida pada jantung dipompa menuju
paru – paru melalui arteri pulmonalis untuk melepaskan kandungan karbon dioksida (CO2)
pada darah dan mengikat oksigen ( O2). Darah tersebut akan mengalir dan masuk ke atrium
kiri,dan akhirnya darah ke ventrikel kiri.
Peredaran darah besar pada kelas Aves sama dengan peredaran darah kecil hanya saja
sitambah dengan proses selanjutnya yaitu darah kaya oksigen ( O2 )yang berasal dari
ventrikel kiri diedarkan menuju ke seluruh tubuh tepatnya sel – sel tubuh. Pada sel- sel tubuh
ini kandungan oksigen ( O2) dalam darah akan dilepaskan dan karbondioksida (CO2) diikat
sebagai sisa metabolism sel tubuh. Kelmudian darah yang banyak mengandung karbon
dioksida (CO) akan dialirkan kembali menuju jantung tepatnya pada atrium kiri.

Gambar 2. 9 Sistem Peredaran Darah pada Aves

2.3.5 Sistem Reproduksi pada Aves
• Sistem reproduksi jantan
Pada jantan kedua testis melekat didekat ginjal dan vas deferens yang bergulung-
gulung dari masing-masing mengarah kembali paralel ke ureter. Banyak burung memiliki
vesikuler seminalis tempat vas deferens memasuki kloaka, dan beberapa burung (bebek
dan burung unta )memiliki penis median di kloaka. Testis membesar selama musim kawin
dan sperma di vasikuler seminalis dimasukkan ke dalam kloaka betina pada saat kawin.
• Sistem reproduksi betina

Sistem reproduksi betina biasa terjadi disebelah kiri, bagian kanan yang rundimeter
dapat berfungsi jika bagian kiri dihilangkan. Ovarium berada di dekat ginjal kiri dekat
dengan corong besar yang mengangkut ovum matang ke oviduk dan kemudian ke kloaka.
Ovarium dan oviduk berukuran kecil pada betina yang tidak bertelur, tetapi pada musim
bertelur keduanya membesar seiring dengan bertambahnya jumlah ovum.

Ketika ovum matang, ia menerima kuning telur di ovarium sebelum dilepaskan ke
selom dan diambil oleh corong. Fertilisasi kemungkinan berlangsung di bagian atas
oviduk. Albumen (putih telur) ditambahkan oleh kelenjar di bagian tengah, dan cangkang
serta membran cangkang diesekresikan di bagian posterior.
• Proses fertilisasi

Pada burung betina hanya ada satu ovarium, yaitu ovarium kiri. Ovarium kanan
tidak tumbuh sempurna dan tetap kecil yang disebut rudimenter. Ovarium dilekati oleh
suatu corong penerima ovum yang dilanjutkan oleh oviduk. Ujung oviduk membesar
menjadi uterus yang bermuara pada kloaka. Pada burung jantan terdapat sepasang testis
yang berhimpit dengan ureter dan bermuara di kloaka.Fertilisasi akan berlangsung di
daerah ujung oviduk pada saat sperma masuk ke dalam oviduk. Ovum yang telah dibuahi.

Gambar 2. 10 Alat Reproduksi Burung

2.3.6 Sistem Ekskresi pada Aves
Alat-alat pengeluaran aves (burung) terdiri atas ginjal, dan paru-paru. Ginjal burung

berjumlah dua buah dan berwarna coklat. Ginjal memiliki saluran ginjal yang bersama-sama
dengan saluran dan kelenjar kelamin serta saluran pencernaan bermuara di kloaka. Burung
tidak memiliki kelenjar keringat, tetapi memiliki kelenjar minyak di bagian tungging.

Gambar 2. 11 Sistem Ekskresi pada Aves

Kelenjar ini menghasilkan minyak yang berfungsi melumasi bulu-bulunya agar tetap
licin. Zat sisa metabolisme burung umumnya berupa limbah nitrogen yang dikeluarkan dan
tubuh dalam bentuk asam urat. Asam urat dikeluarkan dan kloaka dalam bentuk semisolid
atau setengah padat bersama-sama dengan kotoran. Asam urat menyebabkan warna putih
pada kotoran burung. Paru-paru burung berfungsi sama dengan paru-paru pada hewan
bertulang belakang yang lain. Pada proses pernapasan, paru-paru berfungsi sebagai alat
untuk mengeluarkan karbon dioksida dan uap air yang nerupakan hasil oksidasi dalam tubuh
burung.

2.3.7 Sistem Gerak pada Aves
Aves atau burung merupakan vertebrata berdarah panas yang bergerak dengan cara

mengepakkan sayapnya sehingga dapat terbang di udara. Aves memiliki otot otot terbang
yang berguna untuk mengendalikan sayap pada saat terbang. Aves berbgerak dengan cara
mengepakkan sayap dari atas ke bawah sehingga tubuh aves akan terdorong ke atas.

Gambar 2. 12 Kerangka pada Aves

2.3.8 Sistem Saraf pada Aves
Susunan saraf pada burung serupa dengan susunan saraf pada manusia dan hewan

menyusui. Segala kegiatan saraf di atur oleh susunan saraf pusat. Susunan saraf pusat terdiri
dari otak dan sumsum belakang. Otak burung juga terdiri atas empat bagian ,otak besar,otak
tengah,otak kecil dan sum-sum lanjutan.

Selain otak kecil maka otak besar pada burung juga bisa tumbuh dengan baik. Otak
besar burung berbeda dengan otak besar pada manusia. Permukaan otak besar pada burung
tidak berlipat-lipat,sehingga jumlah neuron padda burung berkembang dengan membentuk
dua gelembung.Perkembangan ini berhubungan dengan fungsi penglihatanya.

Otak kecil pada burung mempunyai lipatan-lipatan yang memperluas permukaan
sehingga dapat menampung sejumlah neuron yang cukup banyak.Perkembangan Otak kecil
ini berguna bagi pengaturan keseimbangan burung di waktu terbang.

Pada retina mata burung ada dua macam sel indra penerima rangsang cahaya, yaitu sel
batang dan sel kerucut. Sel batang peka terhadap rangsang cahaya lemah sedangkan sel
kerucut peka terhadap cahaya yang kuat. Burung malam memiliki retina yang banyak
mengandung sel batang. Burung siang memiliki banyak sel kerucut. Lensa mata pada burung
mempunyai akomodasi yang baik.

Gambar 2. 13 Sistem Saraf pada Aves

2.4 Sistem Klasifikasi Ordo pada Aves
2.4.1 Ordo Psittaciformes

Ordo Psittaciformes adalah ordo dari aves dengan ciri-ciri sayap berkembang baik;
tidak memiliki gigi pada rahang; memiliki pygostylus; tulang sternum memiliki carina sterni;
paruh pendek, sempit, tepinya tajam dan ujungnya berkait; paruh bagian atas memiliki sendi
dengan tengkorak sehingga dapat bergerak; memiliki bulu berwarna hijau, kuning, atau biru;

tipe kaki zygodactylus (dua jari kearah depan dan dua jari kearah belakang); jari bagian luar
bersifat irreversible (tidak dapat dibalikkan ke depan). Contoh spesies ordo Psittaciformes:

• Chalcopsitta sintillata (Nuri Aru)
• Lorius lory (Kasturi Kepala-hitam)
• Cacatua sulphurea (Kakatua Jambul-kuning)
• Tanygnathus sumatranus (Betet-kelapa Punggung-biru)
• Loriculus pusillus (Serindit Jawa)

Gambar 2. 14 Cacatua sulphurea (Kakatua Jambul-kuning)

2.4.2 Ordo Cuculiformes
Cuculidae merupakan famili burung dari ordo Cuculiformes yang tersebar di Dunia

Lama dan Australasia. Beberapa jenis Cuculidae diketahui memiliki perilaku berbiak yang
merugikan burung lainnya, famili burung ini kerap menempatkan telurnya pada sarang
burung lain. Pemilik sarang akan menetaskan telur tersebut dan mengasuhnya.

Ukuran tubuh Cuculidae memiliki ukuran tubuh yang beragam, dari yang kecil seperti
kedasi telinga-hitam hingga yang besar seperti karakalo australia. Famili ini memiliki bulu
yang pesolek, tubuh memanjang, kebanyakan dengan ekor yang panjang membulat atau
bercabang dua, dan sayap yang membulat atau meruncing. Kebanyakan paruhnya
melengkung yang khas dengan beragam ukuran. Tungkainya zigodaktil, dua jari kedepan
dan dua jari kebelakang; berbentuk pendek untuk jenis arboreal serta panjang dan kuat untuk
jenis terestrial. Contoh spesies ordo cuculiformes:

• Cuculus crassirostris (Kangkok Sulawesi)
• Cacomantis sonneratii (Wiwik Lurik)
• Chrysococcyx xanthorhynchus (Kedasi Ungu)
• Centropus rectunguis (Bubut Hutan)

Gambar 2. 15 Centropus rectunguis (Bubut Hutan)

2.4.3 Ordo Coraciiformes
Burung-burung dalam urutan ini berukuran kecil hingga sedang dan memiliki kepala

besar dan kaki kecil dengan tiga jari kaki depan yang bergabung setidaknya sebagian dari
panjangnya! Banyak spesies dalam ordo ini sangat berwarna dan memiliki paruh yang unik.

Mereka bersarang di rongga pohon atau di liang tanah dan memakan buah-buahan,
vertebrata, dan invertebrata. Pasangan jantan dan betina kawin selama lebih dari satu musim
di sebagian besar spesies. Sebagian besar spesies dalam ordo ini ditemukan di Afrika, Asia,

Australia, dan Eropa, ada beberapa spesies yang ditemukan di Amerika Utara dan Selatan.
Coraciiformes terdiri atas burung raja udang, roller, hupo (hudhud), kirik-kirik, dan

rangkong. Sebagian besar kelompok burung ini memiliki warna bulu yang cerah dengan
paruh besar. Contoh spesies ordo coraciiformes:

• Alcedo atthis (Raja udang)
• Ceyx erithaca (Udang Api)
• Lacedo pulchella (Cekakak Batu)

2.4.4 Ordo Piciformes

Gambar 2. 16 Alcedo atthis (Raja udang)

Piciformes merupakan salah satu dari 26 ordo dalam kelompok burung. Ordo ini
tersusun dari enam familia burung arboreal, dengan familia yang paling terkenal adalah

Picidae, yang mencakup burung Pelatuk dan kerabat dekatnya, misalnya burung Tukan. Ada
sekitar 67 genera dalam enam familia dan kurang lebih 400 spesies.

Piciformes adalah satu order burung belatuk yang terdiri dari 9
kumpulan keluarga. Piciformesmengandungi kira-kira 67 generayang masih hidup dengan
sekitar lebih 400 spesies, dimana Picidae(burung belatuk dan saudaranya) adalah separuh
darinya. Piciformes adalah pemakan serangga, walau bagaimanapun spesies
seperti burungtakurdan toucankebanyakannya memakan buah-buahan dan musuh
lebahadalah unik dari kalangan burung di sebabkan kemampuannya untuk
mencerna beeswax (bagaimanapun pemakanan diet berasaskan serangga adalah makanan
utamanya). Hampir kesemua Piciformesmemiliki kaki zygodactylseperti parrot, satu
kebaikan yang jelas bagi burung yangmenghabiskan masa di batang pokok. Terdapat sedikit
kekecualian bagi beberapa speseis burung belatuk yang mempunyai tiga jari. Piciformes
berbeda dari segi saiz bermula dengan PiculetRufousyang bersaiz 8 sm panjang dan berat 7
gram, sehingga ke Toucan Tocodengan 63 sm panjang dan berat 680 gram. Kesemua
sarangnya adalah di dalam lubang pokok danmempunyai altricialmuda.

Karakteristik Ordo Piciformes adalah bulu ekor kaku, paruh kuat, lidah kasar, hidup di
hutan, membuat lubang dalam kayu untukmencari insekta dan larva, memakan cambium
batang pohon. Menimbun makanan dalam lubangkayu. Contoh: Dryocopus javensis (Pelatuk
Ayam). Ciri utama ordo Piciformes adalah kelompok burung dengan ciri-ciri memiliki paruh
kuat; bulu di bagian ekor kaku dan ujungnya runcing; ujung lidah kasar serta dapat dapat
dijulurkan).

Contoh Ordo Piciformes adalah Burung Pelatuk ialah burung dari ordo Piciformes.
Ditemukan di seluruh dunia dan termasuk sejumlah spesies, biasanya berjumlah 218.
Beberapa burung pelatuk dalam ordo Piciformes memiliki kaki zigodaktil, dengan 2
jari kaki mengarah ke depan, dan 2 lainnya ke belakang. Contoh spesies ordo
Piciformes:

• Psilopogon pyrolophus (Takur Api)
• Megalaima haemacephala (Takur Ungkut-ungkut)
• Indicator archipelagicus (Pemandu lebah Asia)
• Dendrocopos canicapillus (Caladi Belacan)
• Picus vittatus (Pelatuk Hijau)

Gambar 2. 17 Picus vittatus (Pelatuk Hijau)

2.4.5 Ordo Apodiformes
Adalah kelompok burung yang memiliki ciri-ciri bertubuh kecil; ukurantungkai sangat

kecil; bentuk sayap runcing; ukuran paruh kecil serta lunak dan ada yang langsingdengan
lidah berbentuk bulu panjang. Ciri-ciri sama yang lain adalah sayap yang panjang dengan
tulang humerus pendek dan gempal (Hyman 1992). Ciri-ciri evolusi pada sayap ini memberi
burung madu sayap yang ideal untuk mengapung.

Apodiformes adalah satu order dalam kelas burung yang terdiri dari tiga keluarga yang
masih hidup yaitu burung laying-layang (Apodidae), Layang-layang
Jambul (Hemiprocnidae), dan burung Madu (Trochilidae). Ordo ini
membentuk superorder Apodimorphae di mana burung madu diasingkan dan membentuk
order baru, Trochiliformes. Hampir 450 spesies telah dikenalpasti setakat ini, dan menjadi
order yang mempunyai kepelbagaian spesies burung yang kedua banyak selepas
order passerine.

Apodiformes (bahasa Latin bermakna ("tiada kaki"), burung ini memiliki kaki yang
kecil dan fungsi yang terhad selain dari bertenggek. Kakinya ditutupi dengan kulit licin
bukannya sisik sepertimana burung-burung lain.
Contoh lain spesies ordo Apodiformes :

• Collocalia vanikorensis (Walet Polos)
• Hirundapus caudacutus (Kapinis jarum Asia)
• Hemiprocne longipennis (Tepekong Jambul)
• N. jugularis (Burung Madu Tekak Delima)

Gambar 2. 18 Burung madu tekak delima (N. jugularis)

2.4.6 Ordo Caprimulgiformes
Ordo Caprimulgiformes merupakan kelompok burung bersayap panjang dan paruh

lebar seperti cabak dan paruh kodok.
Menurut Kindersley (2010) beradaptasi dengan banyak hidup di udara, bahkan

sebagian besar tidak dapat berjalan atau melompat. Berburu saat senja, fajar, adan malam
hari. Menangkap serangga saat terbang, dan bertengger tidak bergerak di pohon atau
ditanah pada siang hari.

Caprimulgiformes memiliki ciri anatomi bertubuh bulat, dengan kepala besar dan
berleher pendek. Memiliki mulit sangat lebar, dan dapat menganga lebar untuk menangkap
serangga. Kebanyakan mempunyai ekor dan sayap yang panjang, ideal untuk terbang cepat
dengan perubahan arah mendadak saat mengejar mangsa. Kecuali cabak-burung hantu,
burung ini bertungkai pendek dan lemah, kakinya kecil dan tidak cocok untuk berjalan.
Burung pada kelompok ini biasanya mempunyai bulu berwarna coklat atau abu-abu dengan
pola tidak mencolok (Burnie, 2008).

Ordo Caprimulgiformes di Indonesia terdapat 3 famili yaitu Podargidae,
Aegothelidae, Caprimulgidae. Famili Podargidae terbagi menjadi 2 genus yaitu Podargus
dan Batrachostomus, contoh spesiesnya adalah paruh-kodok bintang (Batrachostomus
stellatus). Famili Aegothelidae terdapat 1 genus yaitu aegotheles contoh spesiesnya atoko
Maluku (Aegotheles crinifrons). Famili Caprimulgidae terbagi menjadi 2 genus yaitu
Eurostopodus dan Caprimulgus, contoh spesiesnya adalah cabak kota (Caprimulgus ainis)
(Sukmantoro et. al, 2007).
1) Famili Podargidae

Famili Podargidae merupakan famili burung malam yang meliputi burung paruh-kodok
yang berkerabat dengan burung cabak, tetapi lebih teradaptasi hidup di dalam hutan.

Burung paruh-kodok mampu membuka mulutnya sangat lebar yang berguna dalam
menangkap serangga di dasar hutan dan di antara cabang pohon. Semua jenis memiliki
bulu dengan pola berbintik sebagai kamuflase. Memiliki sarang berbentuk seperti
mangkuk pada ranting pohon (MacKinnon dkk., 2010).
2) Famili Aegothelidae
Merupakan famili yang di Indonesia terdiri dari enam spesies, yang meliputi burung
atoko (Sukmantoro dkk., 2007).
3) Famili Caprimulgidae
Merupakan famili yang meliputi burung cabak dan taktarau, burung pemakan serangga
nokturnal. Memiliki oran misai untuk menangkap serangga. Burung-burung ini
beristirahat di atas tanah pada siang hari karena tidak memiliki sarang, sedangkan telur
diletakkan di atas tanah yang telah dikorek oleh indukan (MacKinnon dkk., 2010)
Contoh spesies ordo caprimulgiformes :
- Batrachostomus stellatus (Paruh kodok Bintang)
- Eurostopodus mystacalis (Taktarau Kumis)
- Caprimulgus indicus (Cabak Kelabu)

Gambar 2. 19 Batrachostomus stellatus (Paruh kodok
Bintang)

2.4.7 Ordo Passeriformes
Ordo Passeriformes merupakan kelompok burung passerine atau biasa disebut

burung petengger.
Menurut Kindersley (2010) memiliki jenis kaki khas sehingga dapat

mencengkeram dahan yang licin sekalipun. ciri lain burung petengger adalah suara atau
kicauan yang rumit yang dihasilkan oleh banyak spesies. Suara ini diproduksi oleh organ
suara yang disebut siring (juga dimiliki burung lain). Kebanyakan hidup disemak dan
pohon. Beberapa spesies beradaptasi untuk hidup ditanah, lainnya (seperti burung layang-

layang) hampir sepanjang waktu hidup diudara. Burung petengger ditemukan diseluruh

dunia, di semua habitat, dari gurun kering hingga hutan hujan tropis. Banyak spesies kerap

telihat disekitar bangunan dan taman.

Kelompok burung passerine secara anatomi memiliki kaki yang khusus untuk

bertengger dan kotak ssuara yang terbentuk baik merupakan ciri khas passerine. Di luar

ciri itu, anggota kelompok ini sangat bervariasi. Meski banyak diantara mereka memiliki

warna suram, banyak juga yang berbulu mencolok dan aneh, seperti burung cendrawasih

serta tanager dan finch yang beraneka warna. Dibanding betina, jantan biasanya berwarna

lebih cerah dan berpola. Ukuran mereka bervariasi, tapi kebanyakan kecil: gagak memiliki

panjng hingga 65 cm, sedangkan tyrant pygmy ekor pendek hanya 7 cm. variasi ciri lainnya

adalah ukuran paruh, yang bisanya mengindikasi jenis makanan favorit (Burnie, 2008).

Ordo Passeriformes di Indonesia terdapat 44 famili yaitu :

1) Famili Eurylaimidae 20) Famili Pomatostomidae

2) Famili Pittidae 21) Famili Monarchidae

3) Famili Alaudidae 22) Famili Riphiduridae

4) Famili Hirundinidae 23) Famili Petroicidae

5) Famili Motacillidae 24) Famili Pachycephalidae

6) Famili Campephagidae 25) Famili Aegithalidae

7) Famili Aegithinidae 26) Famili Paridae

8) Famili Chloropseidae 27) Famili Sittidae

9) Famili Pycnonotidae 28) Famili Climacteridae

10) Famili Irenidae 29) Famili Dicaeidae

11) Famili Laniidae 30) Famili Nectariniidae

12) Famili Turdidae 31) Famili Zosteropidae

13) Famili Orthonychidae 32) Famili Meliphagidae

14) Famili Timaliidae 33) Famili Fringillidae

15) Famili Sylviidae 34) Famili Estrildidae

16) Famili Muscicapidae 35) Famili Ploceidae

17) Famili Maluridae 36) Famili Sturnidae

18) Famili Acanthizidae 37) Famili Oriolidae

19) Famili Platysteiridae 38) Famili Dicruridae

39) Famili Grallinidae 42) Famili Ptilonorhynchidae
40) Famili Artamidae 43) Famili Paradiseidae
41) Famili Cracticidae 44) Famili Corvidae
Contoh spesies ordo Passeriformes :
- Corydon sumatranus (Madi Kelam)
- Mirafra javanica (Branjangan Jawa)
- Hirundo rustica (Layang-layang Asia)
- Coracina fortis (Kepudang sungu Buru)
- Pycnonotus zeylanicus (Cucak Rawa)
- Pycnonotus aurigaster (Cucak Kutilang)
- Zoothera interpres (Anis Kembang)
- Cettia vulcania (Ceret Gunung)
- Rhinomyias gularis (Sikatan rimba Gunung)

2.4.8 Ordo Strigiformes
Ordo Strigiformes merupakan kelompok burung hantu atau burung pemangsa yang

berburu di malam hari. Ordo Strigiformes di Indonesia terdapat 2 famili yaitu Tytonidae
dan Strigidae. Tytonidae terbagi menjadi 2 genus yaitu Tyto dan phodilus. Strigidae terbagi
menjadi 7 genus yaitu Otus, Bubo, Ketupa, Glaucidium, Uroglaux, Ninox dan Stix. Salah
satu contoh spesiesnya adalah Serak jawa (Tyto alba) dan Celepuk reban (Otus lempiji)
(Sukmantoro et. al, 2007). Menurut Kindersley (2010) mereka mirip dengan burung
predator pada siang hari (Diurnal), seperti elang dan alap-alap, dengan cakar dan paruh 39
melengkung untuk menangkap dan menguasai mangsa. Namun, pada ordo Strigiformes
ada beberapa adaptasi yang membantu mereka berburu dalam gelap. Mata sangat lebar
untuk mengumpulkan cahaya yang tersedia. Tatapan lurus ke depan membantu mereka
memprediksi jarak, pendengaran sangat tajam.

Order Strigiformes adalah kelompok burung yang memiliki ciri-ciri ukuran kepala
besar dan bulat; memiliki mata besar serta menghadap ke depan, tubuh dikelilingi oleh
bulu-bulu yang tersusun secra radial (menjari); memiliki lubang telinga yang lebar namun
seringkali tertutupi oleh lipatan kulit; ukuran paruh pendek; jari kaki memiliki cakar yang

22

tajam untuk mengcengkeram; termasuk burung yang aktif pada waktu malam (nocturnal);
bersifat predator. Contoh spesies ordo Strigiformes:

• Tyto alba (Burung Hantu / Serak)
• Otus sagittatus (Celepuk Besar)
• Ninox rufa (Pungguk Merah)

Gambar 2. 20 Ninox rufa (Pungguk Merah)

2.4.9 Ordo Falconiformes
Ordo Falconiformes adalah ordo dari aves dengan ciri-ciri sayap berkembang baik;

tidak memiliki gigi pada rahang; memiliki pygostylus; tulang sternum memiliki carina sterni;
paruh pendek, melengkung, dan tepinya tajam; kaki memiliki cakar yang tajam dan runcing
untuk memangsa. Mampu terbang dengan cepat serta dapat melakukan manuver. Contoh
spesies ordo Falconiformes:

• Microhierax fringillarius (Alap-alap Capung)
• Falco cenchroides (Alap-alap Layang)
• Falco severus (Alap-alap Macan)

Gambar 2. 21 Falco severus (Alap-alap Macan)

24

2.5 Peranan Aves dalam Kehidupan Manusia
Aves memiliki peranan dengan banyak keuntungan dalam manfaat bagi kehidupan

manusia. Peranan Aves adalah sebagai berikut.

• Sebagai bahan industri, misalnya bulu entok yang digunakan untuk membuat kok

(Shuttlecock) dan pengisi bantal. Bulu ayam untuk membuat kemoceng.

• Sebagai bahan membuat obat, misalnya sarang burung walet dan telur itik.
• Predator alamiah, memangsaulat dan serangga
• Sebagai hiburan, misalnya pada burung suaranya yang merdu dan burung yang dapat

dilatih dalam permainan sirkus

• Telur dan dagingnya dapat dikonsumsi dan kaya akan protein.

25


Click to View FlipBook Version