REKAYASA IDE
PENGANTAR BISNIS
Dosen pengampu : Dr. KUSTORO BUDIARTA, ME.
Disusun oleh :
Salsabila Rahmadania
7213520053
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
T.A 2022
Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat dan karunia yang dilimpahkan-Nya kepada penulis, sehingga dapat
menyelesaikan tugas ini.
Adapun yang menjadi judul tugas saya adalah “Rekayasa Ide” . Tugas Rekayasa
Ide ini disusun dengan harapan dapat menambah pengetahuan dan wawasan kita
semua.
Jika dalam penulisan makalah saya terdapat berbagai kesalahan dan kekurangan dalam
penulisannya, maka kepada para pembaca, penulis memohon maaf sebesar-besarnya
atas koreksi-koreksi yang telah dilakukan. Hal tersebut semata-mata agar menjadi suatu
evaluasi dalam pembuatan tugas ini.
Mudah-mudahan dengan adanya pembuatan tugas ini dapat memberikan
manfaat berupa ilmu pengetahuan yang baik bagi penulis maupun bagi para pembaca.
Medan, 23 Mei 2022
Salsabila rahmadania
Daftar isi
Kata Pengantar……………………………………………………………………….….….i
Daftar isi…………………………………………………………………………..…..…… ii
I. Pendahuluan……………………………………………….…………….......1
1.1 Latar Belakang………………………………………………………….1
II. 1.2 Rumusan Masalah.……………………………………………………...1
1.3 Tujuan Penulisan ..………………………….……………………….….1
III. Pembahasan…………………………………………………….….…….…..2
IV. 2.1 Human Capital……………………………………………………….….2
2.2 Organizational Capital…………………………………………………4
2.3 Social Capital……………………………………………………..……6
Penutup……………………………………………………………………..9
3.1 Kesimpulan……………………………………….………………….…9
Daftar Pusaka……………………………………………………………….10
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Intellectual Capital pertama kali dicetuskan oleh Galbaraith pada tahun
1969. Intellectual Capital merupakan istilah lain dari intangible assets. Banyak
definisi menganai intellectual capital yang diungkapkan oleh peneliti sebelumnya.
Stewart (1997), seperti dikutip oleh Pouraghajan et al (2013), mendefinisikan
intellectual capital sebagai “new capital og organization that intellectual
resources like knowledge, information and experience are as instrument for
creating the capital.” Kemudian , Kamel et al. (2011), seperti dikutip oleh
Pouraghajan et al (2013), mendefinisikan intellectual capital sebagai “ net value
added to firm assets.”
1.2 Rumusan Maslah
1. Apa pengertian Human Capital?
2. Apa itu Organizational Capital?
3. Mengapa Modal Social Penting?
1.3 Untuk mengetahui bagaimana cara membuat rancangan bisnis sederhana sebelum
kita ingin memulai sebuah usaha
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Human Capital
human capital adalah suatu modal yang berbentuk sumber daya manusia. Dalam
dunia bisnis, human capital adalah aset tidak berwujud milik perusahaan. Human
capital ini tidak bisa dicantumkan ke dalam neraca perusahaan.Walaupun begitu,
pemilihan dalam human capital yang tepat juga sebenarnya bisa dianggap sebagai
suatu aset yang sangat berharga untuk suatu perusahaan.Human capital pun
mempunyai nilai ekonomi yang dilihat dari pengalaman dan juga kemampuan kerja.
Di dalamnya juga termasuk jenjang pendidikan, tingkat kecerdasan, pelatihan,
kesehatan, dan keterampilan.Teori human capital adalah teori yang menjelaskan
tentang sangat mungkin perusahaan dalam mengukur nilai investasi karyawan,
pemberian kerja, dan masyarakat secara menyeluruh. Berdasarkan teori human
capital, investasi yang cukup untuk manusia akan mampu menghasilkan ekonomi
yang tumbuh.
Jenis- Jenis Human Capital
· General Human Capital Management
Jenis human capital ini berfokus pada pengembangan kompetensi manajerial,
kepemimpinan,kemampuan pengambilan keputusan, kompetensi manajerial dan
keahlian fungsional. Human capital jenis ini cocok dikembangkan dalam sumber
daya manusia dengan tingkat manajemen eksekutif maupun tingkat lain yang lebih
tinggi.
· Strategic Human Capital
Jenis human capital ini berfokus pada pengembangan keahlian dan keterampilan
stategis yang didapatkan dari pengalaman menghadapi situasi tertentu.
Keterampilan yang dikembangkan pada umumnya berupa kemampuan strategis
untuk mengelola finansial terkait pemotongan anggaran agar lebih efisien karena
terdapat kondisi keuangan yang kurang menguntungkan.
· Industry Human Capital
Jenis human capital ini terkait erat dengan berbagai pengetahuan tentang aspek
industri, terutama dalam konteks supplier, teknis, dan regulasi.
· Relationship Human Capital
Jenis Human capital ini berfokus pada pengembangan kecerdasan sumber daya
manusia dalam hal komunikasi dan penciptaan interaksi yang efektif dan baik
dengan orang lain sehingga pelaksanaan tugas menjadi lebih lancar dan performa
serta kinerja karyawan ikut berkembang.
· Company Specific Human Capital
Human capital jenis ini terkait erat dengan struktur dan budaya kerja dari sebuah
perusahaan. Karyawan dituntut untuk cepat beradaptasi terhadap segala hal yang
termasuk dalam ketentuan internal dari perusahaan sehingga karyawan dapat
bertanggung jawab menjalankan tugas dengan visi dan misi perusahaan.
Studi Kasus
seperti beberapa negara yang menawarkan setiap penduduknya untuk menempuh
pendidikan perguruan tinggi secara gratis karena sadar bahwa penduduk yang
mempunyai pendidikan yang lebih tinggi mampu memperoleh penghasilan yang
lebih banyak dan akan membelanjakan lebih banyak, sehingga mampu membantu
peningkatan ekonomi negara. Dalam sisi administrasi bisnis, teori human capital
adalah suatu perluasan yang berasal dari manajemen sumber daya manusia. Ide
dalam teori human capital sering kali dihubungkan dengan bapak pendiri ekonomi
modern yang bernama Adam Smith di tahun 1776. Dirinya menjelaskan bahwa
kemampuan akan didapat dan akan berguna untuk semua penduduk atau anggota
masyarakat pada umumnya. Adam smith juga menyarankan bahwa tingkat
perbedaan upah yang dibayar akan berdasarkan pada kemudahan ataupun kesulitan
yang relatif dalam melakukan pekerjaannya masing-masing. Selain itu, beragam hal
lainnya yang dihargai oleh perusahaan selaku pihak pemberi kerja yang juga
diperhitungkan, contohnya adalah loyalitas dan bagaimana karyawan menghargai
waktu kerjanya.
2.2 Organizational Capital
Organizational capital adalah pengetahuan yang telah dimiliki oleh organisasi, yang
diimplementasikan dalam sebuah basis data, manual, dll. Berikut ini merupakan
ilustrasi yang menunjukkan ketiga aspek tersebut menyusun human capital agar
dapat menjadi modal yang mendukung kesuksesan organisasi.
Organisasi nasional kapital dalam istilah bahasa Indonesia disebut modalitas
organisasi perusahaan bisnis maupun itu apapun itu sangat membutuhkan konsep
bagaimana membangun modal organisasi perusahaan tersebut seperti halnya dalam
modalitas orang modalitas modal organisasi perusahaan itu pun tidaklah harus
berupa aset harta atau uang justru yang paling utama dalam modalitas perusahaan
itu memiliki para pekerja atau karyawan yang loyal yang saling membantu bekerja
sama satu dengan lainnya dalam mewujudkan tujuan perusahaan.
Apa itu Organizational Capital?
Organisasi suatu perusahaan itu merupakan wadah kumpulan orang-orang yang
bekerja sama satu sama lain dalam mewujudkan visi misi dan tujuan perusahaan
tersebut demi merealisasikan kebutuhan masing-masing orang tersebut. Bentuk
perusahaan dalam manajemen pengelolaannya setidaknya ada dua model sistem:
KEPEMIMPINAN DAN PENGURUSAN. Struktur organisasi perusahaan
kepemimpinan itu bersifat instruksi dari atas. sementara perusahaan yang
menerapkan 'kepengurusan' seluruh instruksi dan gagasan ide perusahaan hanya
dari seorang owner atau pemilik perusahaan saja.
Apa saja faktor yang menjadi modalitas organisasi perusahaan atau Capital
organizational itu. Setidaknya unsur berikut ini yang menjadi ukurannya :
1. Culture/kebiasaan,adat budaya kerja
2. Leadership/ kepemimpinan
3. Collaboration / Kerja sama
Perusahaan yang mempunyai modalitas besar dalam konsep bisnis ini, yang
memiliki kultur budaya lingkungan kerja yang dikelola dengan baik titik kemudian
mempunyai sistem kepemimpinan yang terorganisir dipatuhi oleh semua personalia
atau karyawan dan juga perusahaan itu punya sistem kerjasama di dalam dan ke
luar perusahaan dengan baik dan dapat dipercaya oleh siapapun atau organisasi luar
manapun.
STUDI KASUS INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT DI DAERAH
ISTIMEWA YOGYAKARTA
Kontribusi pendapatan instalasi farmasi rumah sakit (IFRS) terhadap rumah sakit
mencapai 40-60%, menjadi salah satu pusat pendapatan rumah sakit. Namun
pelayanan kefarmasian di Indonesia masih memiliki banyak kelemahan, seperti
kemampuan apoteker, kemampuan manajemen rumah sakit, kebijakan manajemen
rumah sakit dan kurangnya pengetahuan tentang pelayanan kefarmasian rumah
sakit. Kondisi seperti itu harus menjadi upaya perubahan, dengan menggunakan
Balanced Score Card (BSC) melalui evaluasi perspektif pembelajaran dan
pertumbuhan, karena faktor-faktor tersebut (modal manusia, modal informasi dan
modal organisasi) dan manajemen yang efektif merupakan sumber keunggulan
kompetitif yang berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
kondisi umum perspektif pembelajaran dan pertumbuhan terutama difokuskan pada
modal organisasi di IFRS Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jenis penelitian ini
adalah deskriptif non-eksperimental. Alat penelitian adalah kuesioner yang berisi
indikator-indikator modal organisasi. Subjek penelitian adalah ketua IFRS di DIY.
Hasil yang diperoleh dari perhitungan statistik menunjukkan bahwa kondisi umum
modal organisasi di IFRS DIY tergolong tinggi. Sebagian besar IFRS telah
memiliki budaya organisasi yang baik, kepemimpinan yang baik, menerapkan
kerjasama tim, dan memahami arti keselarasan organisasi dalam mencapai tujuan
IFRS.
2.3 Social Capital
Pengertian modal sosial menurut Putnam (1995) adalah jaringan, norma dan
kepercayaan sosial yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama untuk saling
menguntungkan. Sedangkan Hasbullah (2006) mendefinisikan modal sosial sebagai
sumberdaya yang dapat dipandang sebagai investasi untuk mendapatkan
sumberdaya baru. Lebihlanjut Hasbullah menyatakan bahwa modal social
mencakup potensi kelompok dan pola-polahubungan antar individu dalam suatu
kelompok dan antar kelompok dengan ruang perhatian pada jaringan sosial, norma
dan nilai serta kepercayaan antar sesama yang lahir dari anggota kelompok dan
menjadi norma kelompok. Modal sosial adalah konsep yang digunakan untuk
mengukur kualitas hubungan dalam komunitas,organisasi dan masyarakat
(Wibisono & Daewanto, 2015). Pendapat lain menyebutkan bahwa modal sosial
adalah modal yang dimiliki oleh masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat
(Shaoling Fu,et.al,(2018). Berzina (2011), berpendapat bahwa modal sosial
merupakan kemampuan masyarakat utk melakukan asosiasi satu sama lain dan
selanjutnya menjadi kekuatan bagi kehidupan ekonomi dan aspek eksistensi
sosialnya. Kesimpulannya modal sosial merupakan modal yang ada dalam diri
individu ataupun masyarakat untuk berasosiasi dan bekerjasama membangun
jaringan berdasarkan kepercayaan dan ditopang oleh norma dan nilai sosial guna
mencapai suatu tujuan. Modal sosial menjadi dasar bagi orang yang bekerjasama
untuk tujuan bersama dalam kelompok. Setiap pola hubungan yang terjadi diikat
oleh kepercayaan (trust), kesaling pengertian (mutual understanding) dan nilai-nilai
bersama (shared value) yang mengikat anggota kelompok untuk membuat ke-
mungkinan aksi bersama dapat dilakukan secara efisien dan efektif. Modal sosial
akan memungkinkan manusia bekerjasama untuk menghasilkan sesuatu yang
besar.
Norma sosial merupakan perangkat yang disepakati untuk mengontrol perilaku seluruh
anggota dalam suatu komunitas. Norma sosial senantiasa terjadi bersamaan dengan
adanya interaksi manusia di dalam kelompok. Dengan kata lain, norma sosial adalah
hasil dari interaksi sosial antar anggota suatu kelompok. Karenanya norma sosial tidak
akan timbul dengan sendirinya tetapi terbentuk di dalam interaksi sosial antar individu
di dalam kelompok. Norma sosial juga merupakan patokan-patokan umum mengenai
tingkah laku dan sikap individu anggota kelompok yang dikehendaki oleh kelompok
mengenai bermacam-macam hal yang berhubungan dengan kehidupan kelompok yang
melahirkan norma-norma tingkah laku dan sikap-sikap mengenai segala situasi yang
dihadapi oleh anggota-anggota kelompok.
Modal sosial akan kuat tergantung pada kapasitas yang ada dalam kelompok masyarakat
untuk membangun sejumlah asosiasi berikut membangun jaringannya. Salah satu kunci
keberhasilan membangun modal sosial terletak pula pada kemampuan sekelompok
orang dalam suatu asosiasi atau perkumpulan dalam melibatkan diri dalam suatu
jaringan hubungan sosial. Modal Sosial akan kuat tergantung pada kapasitas yang ada
dalam kelompok masyarakat untuk membangun sejumlah asosiasi berikut membangun
jaringannya. Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut di atas, maka hipotesis dalam
penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : Kepercayaan, norma sosial dan jaringan
kerja berpengaruh terhadap pemberdayaan kelompok tani markisa Utara baik secara
simultan maupun parsial.
MODAL SOSIAL DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PETANI
MARKISA DI SUMATERA UTARA
Perkembangan produk dan produksi pertanian buah markisa menunjukkan bahwa setiap
minggunya rata-rata mencapai 20,901 ton. Data ini menunjukkan peningkatan
dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Namun bila dibandingkan dengan kebutuhan
produksi olahan buah markisa ternyata jumlah tersebut masih belum dapat memenuhi
kebutuhan buah markisa sebagai bahan baku perusahaan. Hasil studi di lapangan
menunjukkan bahwa pasokan buah markisa dari petani markisa di Sumatera Utara
masih sangat kurang, setiap minggunya tidak lebih dari 50 ton sementara kebutuhan
bisa mencapai 120 ton per minggu, sehingga terkadang kontinuitas produksi sangat
terganggu.Meskipun pangsa pasar buah markisa jelas dan sangat besar peluangnya
namun terdapat beberapa hal yang menyebabkan turunnya produktivitas petani markisa.
Hasil penelitian di lapangan mengindikasikan bahwa minat petani untuk lebih
membudidayakan buah markisa makin menurun dan tetap saja rendah. Hal ini
disebabkan oleh berbagai permasalahan yang dihadapi petani dalam mengelola
pertanian. Rendahnya minat petani tersebut menunjukkan bahwa permasalahan yang
dihadapi petani diselesaikan secara individual karenanya perlu adanya program
kemitraan petani melalui pemberdayaan kelompok tani. Setelah kelompok tani dibangun
selanjutnya dipacu dengan mengintrodusir modal sosial dalam kelompok tani tersebut
agar berbagai permasalahan yang dihadapi dapat segera diselesaikan.Berdasarkan hasil
penelitian, modal sosial yang diukur dengan kepercayaan, norma sosial dan jaringan
kerja berpengaruh terhadap perilaku petani markisa di Propinsi Sumatera Utara. Hasil
pengujian statistik menunjukkan bahwa variabel kepercayaan, norma sosial dan jaringan
kerja secara simultan dan parsial berpengaruh positifdan signifikan terhadap perilaku
usaha. Model yang terbentuk dari hasil regresi adalah sebagai berikut: Y = 27,552 +
0,224 X1 + 0,188X2 + 0,263X3 + e, artinya meningkatnya perlakuan terhadap
kepercayaan, norma sosial dan jaringan kerja akan menyebabkan kenaikan perilaku
petani, begitu juga sebaliknya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Prinsip utama dari penelitian ini adalah untuk memberikan bukti bahwa dengan
intellectual capital yang dimiliki oleh perusahaan akan menjadi faktor kompetitif untuk
mencapai peningkatan keuntungan finansial perusahaan. Perusahaan, terutama di
industri yang knowledge intense, perlu mengetahui pentingnya intellectual capital, dan
pengetahuan yang menjadi faktor penting yang mempengaruhi kemampuan perusahaan
untuk tetap kompetitif di pasar global yang baru (Tan et al., 2007).
BAB V
DAFTAR PUSAKA
https://doi.org/10.24114/niaga.v10i1.23482
https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/niagawan
http://www.jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/PHARMACY/article/v
iew/804
https://accurate.id/marketing-manajemen/human-capital-adalah/
https://www.aswanblog.com/2020/12/mengulas-arti-human-capital-
dan.html?m=1