The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

BAHAN BACAAN REKON.docx

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ra Swastihayu, 2024-03-12 15:30:58

TEKS REKON

BAHAN BACAAN REKON.docx

MODUL PEMBELAJARAN SMA BAHASA INDONESIA Penyusun Revivalindra Anandari Swastihayu TEKS REKON KELAS X


Elemen dan Capaian Pembelajaran Elemen Capaian Pembelajaran Menyimak Peserta didik mampu mengevaluasi dan mengkreasi informasi berupa gagasan, pikiran, perasaan, pandangan, arahan atau pesan yang akurat dari menyimak berbagai jenis teks (nonfiksi dan fiksi) dalam bentuk monolog, dialog, dan gelar wicara. Menulis Peserta didik mampu menulis gagasan, pikiran, pandangan, arahan atau pesan tertulis untuk berbagai tujuan secara logis, kritis, dan kreatif dalam bentuk teks informasional dan/atau fiksi. Peserta didik mampu menulis teks eksposisi hasil penelitian dan teks fungsional dunia kerja. Peserta didik mampu mengalihwahanakan satu teks ke teks lainnya untuk tujuan ekonomi kreatif. Peserta didik mampu menerbitkan hasil tulisan di media cetak maupun digital. Tujuan Pembelajaran 1. Setelah menganalisis teks rekon, peserta didik mampu menguraikan struktur dan unsur C A B dari sebuah teks eksplanasi dengan baik secara berkelompok. D 2. Setelah menguraikan struktur dan unsur teks rekon, peserta didik dapat mempresentasikan C A B hasil diskusi dengan percaya diri. D


TEKS REKON Seperti yang diketahui, teks rekon berfungsi menuliskan hal di masa lalu berdasarkan urutan peristiwanya. Oleh sebab itu, satu kejadian di masa lalu akan dikisahkan berdasarkan urutan sebab hingga akibatnya. Teks rekon adalah teks yang menceritakan kembali suatu peristiwa, kegiatan, kejadian, pengalaman masa lalu yang telah dilakukan atau diamati secara kronologis dengan tujuan untuk memberi informasi, atau menghibur pembacanya, atau bisa keduanya. A. CONTOH TEKS REKON Rekon Pribadi: Aku memiliki seorang sahabat yang setia denganku sejak aku kecil, namanya Gita sedangkan namaku Gina sehingga teman-teman sering memanggil kami berdua dengan sebutan Gigi. Sejak kecil kami selalu bersama karena kami juga bertetangga dekat. Aku seperti anak bagi orang tuanya dan dia seperti anak bagi orang tuaku. Saat kami berdua masuk kuliah di kampus yang sama, tidak ada satu pun dari kami yang bisa mengendarai sepeda motor. Saat itu ayahku bilang kalau salah satu dari aku dan Gita tidak bisa menghendaki sepeda motor dalam dua pekan, maka berangkat dan pulang kuliah harus naik angkot, tidak boleh antar jemput. Begitu pun dengan apa yang dikatakan orang tua Gita. Padahal, akan sangat ribet jika ke kampus pakai angkot karena jarak rumah ke sekolah cukup nanggung, agak dekat tetapi juga agak jauh. Maka, setelah diberi ultimatum itu, setelah pulang kuliah, kami mulai latihan naik motor di lapangan belakang rumah diajari oleh kakak Gita yang bernama Kak Gito. Sebelumnya aku sudah bisa menaiki sepeda roda dua jadi saat itu aku sangat yakin dan percaya diri bahwa aku bisa mengendarai sepeda motor dengan mudah. Sementara sahabatku, Gita, tidak bisa sepeda sama sekali. Namun ternyata untuk melakukannya tidak semudah yang aku pikirkan. Di hari pertama kami belajar sepeda motor, ternyata aku jatuh berkali-kali, apalagi Gita. Untung saja kami pakai motor butut milik ayah Gita yang sangat jarang dipakai. Kami latihan gantian. Ayah dan ibuku hanya melihat kami belajar sepeda motor dari kejauhan. Keesokan harinya adalah hari libur, jadi aku dan Gita sangat bersemangat untuk latihan sepeda motor dari pagi hari. Di hari kedua latihan sepeda motor, ternyata Ayah turun tangan membantuku ikut naik motor denganku, jadi aku tinggal mengikuti instruksinya saja. Namun ketika ayah melepasku sendiri, aku terjatuh lagi dan lagi. Gita hanya


mentertawakanku, padahal dia juga belum bisa. Meskipun begitu kami tidak menyerah dan terus semangat. Bahkan kami latihan sepeda hampir seharian lupa makan. Kami berlanjut belajar di hari-hari selanjutnya tanpa didampingi. Tepat di hari ketiga, aku ada peningkatan karena sudah mulai bisa menjaga keseimbangan. Meski cuaca panas, aku dan Gita tetap bersemangat dan latihan sambil tertawa riang. Aku sangat bahagia dan langsung memberitahu kedua orang tuaku bahwa aku sudah bisa menaiki sepeda motor. Rekon faktual: Ir. H. Joko Widodo yang lahir di Surakarta, 21 Juni 1961 lebih dikenal dengan nama julukan Jokowi adalah pengusaha mebel dan Beliau merupakan Walikota Surakarta (Solo) selama dua kali masa bakti 2005-2015. Dalam masa jabatannya, ia diwakili F.X. Hadi Rudyatmo sebagai wakil walikota. Ketika itu, dia dicalonkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Tahun 2012 ini, Beliau bersama dengan Ir. Basuki Tjahaja Purnama. M.M. (Ahok) maju sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Gubernur baru DKI Jakarta Joko Widodo memiliki kisah masa kecil yang unik. Jokowi kecil sempat merasakan pahitnya kehidupan saat rumahnya tergusur. Masa kecil Jokowi diwarnai canda dan tawa, ngan sesekali diselingi tangisan. Rumah petak sekaligus tempat usaha kayu ayahnya di daerah Cinderejo Lor, digusur dan dijadikan pusat jasa travel. Sang bunda menuturkan bahwa Jokowi kecil adalah sosok pendiam, namun pandai bergaul. Banyak yang mengenal Jokowi sebagai orang yang selalu mengalah, untuk menghindari pertengkaran. Sikap tersebut diwarisi Jokowi dari kedua orangtuanya yang selalu mengajarkan makna ikhlas dan bertanggung jawab. Berbeda dengan anak-anak kebanyakan, Jokowi selalu berjalan kaki menuju sekolahnya, disaat yang lain memamerkan sepeda ontel terbaru. Menurut Jokowi kala itu, sekolah tidak terlalu jauh dari rumah, sehingga berjalan kaki pun tidak menjadi masalah. Bakti kepada orangtua ditunjukkan Jokowi tak hanya lewat sikap, namun juga sejumlah prestasi. Saat itu menjadi Walikota Solo hingga menjadi Gubernur DKI Jakarta, orang-orang yang mengenalnya tidak pernah menyangka perjalanan hidup Joko kecil. Sosok Jokowi sangat dicintai rakyatnya. Dukungan warga Solo tak pupus, termasuk saat Jokowi maju menjadi Gubernur DKI Jakarta. Anak tukang kayu itu pun, kini menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta. Jokowi kecil adalah anak seorang "tukang kayu". Setelah Beliau lulus dari SMA, kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Kehutanan Unuversitas Gajah Mada. Setelah lulus kuliah


tahun 1985, dirinya merantau ke Aceh dan bekerja di salah satu BUMN. Kemudian ia kembali ke Solo dan bekerja di Perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan, CV. Roda Jati. Setelah merasa cukup, pada tahun 1998, dirinya berhenti bekerja di CV tersebut dan memulai berbisnis sendiri bermodal dari pengalaman yang pernah ia miliki. Dengan kerja keras, ketekunan dan keuletan, akhirnya Jokowi berhasil mengembangkan bisnisnya dan menjadi seorang eksportir mebel. Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini bahkan hingga saat ia terpilih. Pada tahun 2005, Pak Jokowi memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Walikota Solo dengan partai politik PDI Perjuangan sebagai kendaraan politiknya. Akhirnya Beliau pun terpilih meniadi Walikota Solo, Selama kepemimpinannya, Solo Solo banyak mengalami kemajuan. Setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnis. Rekon imajinatif: Dahulu, terdapat kerajaan bernama Prambanan yang dipimpin oleh Prabu Baka. Ia memiliki putri bernama Roro Jonggrang. Rakyat merasa sejahtera di bawah kerajaan tersebut. Berbeda dengan Kerajaan Prambanan, Kerajaan Pengging memiliki raja yang buruk. Ia suka berperang dan memperluas wilayah kekuasaannya. Raja Pengging pun memiliki ksatria bernama Bandung Bondowoso. Tak hanya kuat, ia juga sakti. Suatu hari ia diperintahkan untuk menaklukkan Kerajaan Prambanan. Usaha penaklukan pun berhasil dilakukan. Raja Baka tewas, Kerajaan Prambanan pun jatuh pada Kerajaan Pengging. Tersisa Roro Jonggrang yang ternyata disukai oleh Bandung Bondowoso. Usai kalah, ia malah dipinang oleh Bandung Bondowoso untuk jadi pramaisurinya. Roro Jonggrang sebenarnya tak mau menerima, tapi di sisi lain kasihan dengan rakyat Kerajaan Prambanan. Alhasil, Roro Jonggrang memberikan syarat untuk dibuatkan 1.000 candi dan 2 sumur dalam semalam. Ternyata, Bandung Bondowoso menyanggupi. Dengan pasukannya, ia nyaris berhasil membangun candi dalam semalam. Tapi, ia gagal membangun ke-1.000 karena pasukannya mengira hari sudah pagi usai mendengar bunyi ayam berkokok. Rupanya, usaha Bandung digagalkan oleh Roro Jonggrang. Mengetahui Roro Jonggrang yang mencuranginya, alhasil putri raja itu akhirnya dikutuk menjadi candi yang ke-1.000.


B. PENGERTIAN REKON Secara umum, Teks rekon adalah teks yang menceritakan kembali suatu peristiwa, kegiatan, kejadian, pengalaman masa lalu yang telah dilakukan atau diamati secara kronologis dengan tujuan untuk memberi informasi, atau menghibur pembacanya, atau bisa keduanya. Dadang (2008: 13) menyatakan bahwa rekon adalah sebuah cerita yang membawa pendengar atau pembaca ke sebuah perjalanan melewati berbagai rentetan kejadian. Singkatnya, rekon adalah teks yang menceritakan kembali suatu peristiwa yang terjadi di waktu lampau. C. STRUKTUR TEKS REKON Struktur teks adalah gambaran cara tulisan tersebut dibangun. Ada tiga bagian struktur penulisan teks rekon, yaitu: 1. Orientasi: Bagian pengenalan atau pembuka dari sebuah teks. Gambaran umum tentang peristiwa yang terjadi, tempat kejadian, waktu, dan keadaan. 2. Urutan peristiwa: Rekaman peristiwa yang terjadi, yang biasanya disampaikan dalam urutan kronologis. Bagian ini merupakan inti dari teks rekon. 3. Reorientasi: Pembahasan ulang peristiwa dan biasanya disertai komentar pribadi penulis tentang peristiwa atau kejadian yang diceritakan. Bagian ini merupakan tahapan yang bersifat pilihan, artinya boleh saja bagian ini tidak disajikan oleh penulis. D. FUNGSI REKON Teks rekon menceritakan peristiwa di masa lalu secara urutan atau kronologis. Teks rekon atau teks cerita ulang memiliki beberapa tiga fungsi sosial, yaitu: 1. Menceritakan pengalaman atau peristiwa yang diamati. 2. Menceritakan sesuatu secara runtut. 3. Mengandung nilai moral agar pembaca atau pendengar tidak mengalami kejadian serupa. E. CIRI-CIRI TEKS REKON Rekon memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut. 1. Menggunakan referensi untuk menguatkan informasi yang disampaikan. 2. Menggunakan kata kerja sifat dan kata kerja aksi.


3. Memasukkan kata-kata yang menunjukkan waktu dan tempat dalam rangkaian peristiwa. 4. Menciptakan kalimat sederhana yang menggambarkan satu situasi, peristiwa, atau aksi. 5. Menggunakan konjungsi temporal untuk membuat urutan peristiwa terlihat lebih runtut dan terstruktur. F. JENIS-JENIS TEKS REKON Teks rekon terdiri dari tiga jenis, yaitu rekon pribadi, rekon faktual (informasional), dan rekon imajinatif (Marista, Utomo, dan Trianto, 2021: 229). Berikut pengertian masingmasing jenis teks rekon. 1. Rekon pribadi adalah cerita ulang yang memuat kejadian ketika penulisnya terlibat secara langsung. 2. Rekon faktual (informasional) adalah cerita ulang yang memuat kejadian faktual seperti eksperimen ilmiah, laporan polisi, dan lain-lain. 3. Rekon imajinatif adalah cerita ulang yang memuat cerita imajinatif dengan lebih detail. G. UNSUR-UNSUR TEKS REKON 1. Tema. Sebuah teks rekon harus memiliki tema cerita. Hal ini karena tema menjadi unsur utama yang ingin disampaikan penulis pada kisah ceritanya. Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita, yang berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya (Aminuddin, 1995). 2. Alur atau Plot. Alur atau plot merupakan urutan peristiwa atau jalan cerita pada sebuah rekon. Pada umumnya alur pada anekdot diawali dengan perkenalan, konflik masalah, lalu penyelesaian. Namun ada beberapa jenis alur cerita yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran. 3. Setting. Setting merupakan penjelasan mengenai latar atau tempat, waktu, dan suasana yang terjadi dalam rekon tersebut. 4. Tokoh. Tokoh merupakan pemeran yang diceritakan dalam sebuah rekon. Tokoh terdiri dari pemeran utama dan pemeran pendukung. 5. Nilai-nilai dalam kehidupan. Nilai kehidupan biasanya bisa ditemukan pada sebuah cerita atau teks rekon.


6. Sudut pandang atau point of view. Sudut pandang merupakan cara pandang pengarang saat menceritakan kisah pada sebuah rekon. Sudut pandang dibagi menjadi dua bentuk yaitu sudut pandang orang pertama yang terdiri dari pelaku utama (“aku” merupakan tokoh utama) dan pelaku sampingan (“aku menceritakan orang lain). Sedangkan sudut pandang orang ketiga terdiri dari serba tahu (“dia” menjadi tokoh utama) dan pengamat (“dia” menceritakan orang lain). 7. Amanat. Amanat merupakan pesan moral atau pelajaran yang disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Pesan moral yang disampaikan biasanya dalam bentuk tersirat maupun tersurat. H. KAIDAH KEBAHASAAN TEKS REKON Teks rekon atau teks cerita ulang memiliki ciri-ciri kebahasaan yang dapat membedakannya dengan jenis teks cerita yang lain. Berikut adalah ciri-ciri kebahasaan teks rekon. 1. Penceritaan waktu lampau. Contoh: pada masa itu, pada tanggal, beberapa tahun lalu, dan lain-lain. 2. Penggunaan kata-kata yang menunjukkan urutan peristiwa/kronologis. Contoh: setelah, selanjutnya, sesudah, dan lain-lain. 3. Penggunaan kata yang menunjukkan siapa (partisipan: aku, kami, mereka, dia, dan sebagainya), apa, kapan, di mana, dan bagaimana. Contoh: Ir. Soekarno (siapa), menyenangkan (bagaimana), di rumah (di mana), dan lain-lain. 4. Penggunaan kata-kata yang menunjukkan nama tempat dan waktu. Contoh: kota Bandung pada tanggal 24 Maret 2000. 5. Penggunaan kata kerja aksi. Contoh: meledakkan, mengendarai, mendorong, membakar, dan lain-lain. 6. Penggunaan kata sifat. Contoh: baik, kacau, rumit, dan lain-lain.


DAFTAR PUSTAKA Aminudin. (1995). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Biru. Dadang, A. (2008). Be Smart Bahasa Inggris. Bandung: Grafindo Media Tama. Marista, Dhelfi, Padi Utomo, dan Agus Trianto. (2021). “Analisis Teks Rekon (Recount) di Surat Kabar”. Jurnal Ilmiah Korpus, 5 (2), hal. 227-234, GLOSARIUM Konsisten : stabil, tidak berubah, selaras Kronologis : urutan waktu Lampau : masa lalu Rekonstruksi : orang yang mempunyai rasa humor Rentetan : deretan, urutan


Click to View FlipBook Version